Anda di halaman 1dari 6

WAWANCARA KODE ETIK PSIKOLOGI KEPADA

MAHASISWA YANG SUDAH LULUS MATA KULIAH


KODE ETIK PSIKOLOGI
Dosen Pengampu : Drs. TA. Prapanca Hary, M.Si

Disusun oleh:
Rista Arningsih
2016011081

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2019
I. IDENTITAS
Nama Inisial : SED
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Angkatan Tahun : 2015

II. PELAKSANAAN
Hari : Rabu
Tanggal : 3 April 2019
Jam : 19.30 WIB
Tempat : Rumah Subyek, Gabusan, Jalan Parangtritis
Sifat : Wawancara Kelompok

III. PEDOMAN WAWANCARA


1. Bagaimana upaya yang dilakukan dalam menerapkan kode etik
psikologi?
2. Bagaimana cara menyikapi apabila terjadi pelanggaran kode etik
psikologi?
3. Bagaimana cara menjaga sikap professional dengan sesama ilmuwan
psikologi?
4. Bagaimana upaya yang dilakukan untuk menjaga kerahasiaan hasil
pemeriksaan psikologi apabila memiliki lembaga layanan psikologi?
5. Bagaimana sikap yang seharusnya dilakukan psikolog ketika membuat
pernyataan publik?
6. Bagaimana cara menerapkan kode etik bagi mahasiswa yang mengikuti
mata kuliah tersebut?
7. Apa yang dilakukan apabila mengetahui pelanggaran kode etik di
lingkungan fakultas psikologi UST ?
8. Mengapa mahasiswa psikologi harus memahami kode etik psikologi ?
9. Apa alasan mahasiswa psikologi harus menaati kode etik psikologi ?
10. Bagaimana dengan mahasiswa psikologi yang mengabaikan kode etik ?

IV. RANGKUMAN HASIL WAWANCARA


P : “Selamat malam Mas S*****a.”
N : Iya Mas-mas dan Mbak-mbak semuanya selamat malam.”
P : “Mas seperti yang kita janjikan sebelumnya, karena waktu untuk
bertemu kita susah, dan ini hari terakhir sebelum mengumpulkan
tugas ini, mohon maaf kalau malam-malam harus mengganggu
waktunya.”
N : “Oh tidak apa-apa Mas. Jadi apa yang bisa saya bantu?”
P : “Begini Mas, kan kami ada tugas untuk UTS, mata kuliah Kode
Etik, mewawancara mahasiswa yang sudah lulus matakuliah Kode
Etik begitu. Nha ini kami memilih Mas S****a untuk jadi
narasumber kami.”
N : “Oh begitu, boleh boleh. Jadi saya mau ditanyai apa ini? Hahaha”
P : “Oke langsung to the point aja ya Mas. Menurut Mas S****a
kode etik psikologi itu apa sih Mas?”
N : “Kode etik Psikologi itu menurut saya, jadi gini Mas Mbak
semuanya, saya pribadi memandang bahwa kode etik itu kalau
didalam wujudnya buku itu serem Mas Mbak. Jadi semacam
KUHP begitu. Kayak hukum untuk psikolog gitu. Iya to? Disana
ada pasal-pasalnya dan segala macem. Nha, tapi saya menggaris
bawahi bahwa Kode Etik Psikologi, Psikologi ya saya tekankan.
Kode Etik Psikologi itu diciptakan bukan untuk menghukumi
psikolog untuk berbuat ini dan itu secara sistematis dan segala
macemnya. Karena jika untuk seperti itu, maka proses-proses
konseling, intervensi, terapi dan sebagainya itu akan sulit Mas.
Tidak luwes gitu lho jadinya. Maka kalau saya sendiri memandang
Kode Etik Psikologi itu justru untuk sebagai acuan dasar saja, bagi
psikolog awal atau ilmuwan psikologi begitu. Bagi yang sudah
expert nanti Kode Etik Psikologi itu sudah mendampingi mengalir
begitu saja tanpa harus memperhatikan pasal per pasal. Gitu Mas,
Mbak.”
P : “Pandangannya unik juga ya mas. Oke menarik. Lalu kemudian,
kalau Mas sendiri, bagaimana ta atau apa ta yang sudah dilakukan
yang itu mematuhi Kode etik Psikologi?”
N : “Di salah satu pasalnya bagian intervensi itu menyatat tentang
konseling psikologi. Sederhana saja, ketika dulu praktek konseling
sama adek tingkat saya, saya menyebut subyek sebagai klien dan
saya sendiri sebagai konselor. Itu sudah salah satu penerapan kode
etik psikologi mas mbak.”
P : “Cuman seperti itu aja Mas? Hahaha.”
N : “Lha kalian mau nyari yang gampang apa yang susah? hahaha”
P : “Iya Mas, yang gampang-gampang saja dulu.”
N : “Sebenernya masih ada lagi, tapi sedikit saja ya. Disana
disinggung berkaitan professional. Sikap professional apa ya kalau
di buku itu. Ya itu pokoknya. Kan itu bagaimana kita bisa
menghindarkan atau bertanggungjawab atas dampak apa yang
muncul akibat konseling. Ya saya berniat untuk sepenuhnya
bertanggungjawab. Namun bersyukur karena memang tidak ada
akibat yang menonjol. Jadi ya saya aman-aman saja. Kemudian
saya juga katakana bahwa saya masih mahasiswa belum ahlinya
ahli. Tapi justru dia malah bilang nyaman karena sama-sama
mahasiswa.”
P : “Oke Mas, good lah. Kemudian nih Mas udah pernah mengetahui
ada pelanggaran kode etik belum?”
N : “Pelanggaran sejauh ini sih belum.”
P : “Nha kalau menurut Mas S****a jika Mas menemui pelanggaran
kode etik Psikologi, apa yang mau dilakukan?”
N : “Karena saya belum pernah menemui ya, jadi saya bayangannya
agak belum dapet. Tapi pada intinya yak arena saya juga masih
mahasiswa ya, jadi mungkin saya ingatkan dulu. Saya ajak diskusi,
bagaimana yang benar sesuai KEP gitu aja sih. Belum terlalu
frontal untuk mengatakan ini salah ini benar, karena saya juga
masih belajar.”
P : “Siap Mas, sama-sama belajar ya. Oke kemudian ini Mas, kalau
Mas ketemu sesame ilmuwan Psikologi ni, gimana ta menjaga
profesionalisme nya?
N : “Maksud pertanyaannya gimana nih?”
P : “Maksudnya gini lho Mas, pasti kan setiap praktisi ataupun
ikmuwan psikologi punya klien atau sebagainya kan, nah itu tu
gimana menjaga profesionalismenya kalau ketemu sesame orang
psikologi?”
N : “Oh itu, ya simple sih. Kalau sharing gak usah sebut nama atau
identitas. Cuma gini aja, Eh kemarin aku punya klien dia gini-gini-
gini. Udah gitu aja. Lalu dengan sharing seperti itu kan kita jadi
bisa bertukar pikiran dan masalah agar bisa menjadi terang jika
buntu ketika berhadapan dengan klien. Endingnya semakin
professional kan, semakin baik kualitasnya gitu.”
P : “Oh ya punya lembaga psikologi nggak Mas?”
N : “Lhah lembaga apaan, lha wong saya aja belum lulus kok.
Hahaha.”
P : “Lha disini ada informasi yang digali soal itu j, nek missal ada
cara merahasiakan hasil pemeriksaan psikologi gimana gitu. Tapi
gandeng tidak punya, ya gimana caranya Mas itu dulu kan pernah
kan ngetes pakai alat tes apa aja yang diajarkan. Cara
merahasiakannya gimana?”
N : “Kalau soal itu sih, dulu ketika saya sudah selesai tes dan sudah
dianalisis hasilnya, saya berikan kepada yang bersangkutan
hasilnya. Lalu untuk bahan mentahnya saya amankan di kamar
saya buat kenang-kenangan.”
P : “Oke, terakhir ini Mas. Menurut Mas S****a itu kalau psikolog
menyampaikan pendapat ke publik gimana sih harusnya?”
N : “Ya tentu saja berdasarkan hasil tes yang akurat apabila itu soal
tes, kalau menyangkut teori ya disinggung sedikit, jadi agar publik
sedikit memahami psikologi. Karena sampai saat ini tentu temen-
temen juga merasa bahwa psikologi masih dipandang ilmu trawang
menerawang.”
P : “Lalu kalau Mas sendiri, bagaimana cara menerapkan kode etik
psikologi ?”
N : “Di salah satu pasalnya bagian intervensi itu menyatat tentang
konseling psikologi. Sederhana saja, ketika dulu praktek konseling
sama adek tingkat saya, saya menyebut subyek sebagai klien dan
saya sendiri sebagai konselor. Itu sudah salah satu penerapan kode
etik psikologi mas mbak.”
P : “oh gitu, oke oke. Lanjut lagi ya mas, menurut mas apa yang
dilakukan apabila mengetahui pelanggaran kode etik di lingkungan
fakultas psikologi UST”
N : “kalau sudah profesi mungkin harus di tindak tegas ya, tapi jika
masih mahasiswa mungkin bisa di bicarakan dan di beritahu secara
baik- baik tetapi tergantung pelanggaran yang seperti apa jika perlu
dosen pengampu matakuliah yang memproses masalahnya dengan
mahasiswa yang bersangkutan”
P : “sip oke mas, kemudian mengapa mahasiswa psikologi harus
memahami kode etik psikologi ?”
N : “ Harus, ya karena kode etik itu dibuat sendiri oleh psikolog. Dalam
kode etik diatur bagaimana caranya, siapa yg harus tanda tangan, apa
hak dan kewajiban, semuanya itu ada dalam kode etik psikolog, Jadi
saat kita melangkah ada kompas atau pedomannya sebagai
mahasiswa, lulusan S1 ataupun yang yang menjadi profesi .”
P : “luar biasa ini jawabanya walaupun sudah petang tetap bisa fokus
ya mas mantapp jiwa. Kemudian apa alasan mahasiswa psikologi
harus menaati kode etik psikologi ?”
N : “ ya untuk menghindari penyimpangan maka Psikolog dan
Kelompok Ilmuwan Psikologi harus memiliki tanggungjawab
khusus yang mewajibkan mereka bertindak sesuai kode etik
psikologi”
P : “oke mas, bagaimana dengan mahasiswa psikologi yang
mengabaikan kode etik ?”
N : “ lah tergantung individunya si, mengabaikan yang seperti apa ?
P : “ya jadi dia tidak menerapkan kode etik secara menurut dia masih
mahasiswa jadi belum terlalu penting untuk menerapkan kode etik,
mahasiswa kan ada beberapa juga yang berpikir misal : ah masih
mahasiswa S1 belum jadi profesi kok ga mau ribet mempelajari kode
etik gitu mas?
N : “oh kalo gitu sii wajar ya mahasiswa gitu, haha tapi gimana pun
mahasiswa psikolog ya harus paham point- point penting nya dalam
kode etik, karna tidaak bisa di pungkiri kode etik itu memang
penting harus di pahami walaupun kita masih mahasiswa atau hanya
sebagai lulusan S1 ”
P : “Baik Mas, kami rasa itu cukup. Terimakasih banyak sudah mau
direpotkan. Informasi yang Mas berikan akan sangat berharga
untuk kami.”
V. SIMPULAN
Berdasarkan hasil wawancara dengan pedoman wawancara diatas
maka pemahaman kode etik nasumber sudah cukup memadai namun tetap
perlu di tingkatkan pengetahuan dalam kode etik psikologi karena walaupun
sebagai mahasiswa ilmu kode etik itu sangat di perlukan karna menjadi
pedoman untuk melaksanakan praktikum dan menjaga kepercayaan subjek
ataupun dalam menyapampaikan informasi atau ilmu yang berkaitan dengan
psikologi.

Anda mungkin juga menyukai