Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)

PELAYANAN KEBIDANAN DI KOMUNITAS

(KB)

Disusun Oleh :

Dahlia Nalarati Sikueng

711540114007

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MANADO

JURUSAN KEBIDANAN

PRODI D-III

Maret 2017
TINJAUAN TEORI

1. Pengertian KB
Keluarga berencana merupakan usaha suami istri untuk mengukur jumlah dan jarak
anak yang di inginkan (Purwoastuti dan Walyani, 2015). Prinsip dasar metode
kontrasepsi adalah mencegah sperma laki-laki mencapai dan membuahi telur wanita
(fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk berimplantasi (melekat) dan
berkembang di dalam rahim.

2. Tujuan KB
Menurut purwoastuti dan walyani, 2015 Tujuan KB yaitu :
a. Tujuan Umum : Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka
mewujudkan NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia sejahtera) yang menjadi dasar
terwujudnya masyarakat yang sejahtera dengan mengendalikan kelahiran sekaligus
menjamin terkendalinya pertambahan penduduk.
b. Tujuan Khusus : Meningkatkan penggunaan alat kontrasepsi dan kesehatan keluarga
berencana dengan cara pengaturan jarak kelahiran.

3. Jenis-jenis Alat Kontrasepsi


Jenis kontrasepsi yang banyak digunakan di indonesia yaitu :
a. Spermisida
Spermisida adalah alat kontrasepsi yang mengandung bahan kimia (non oksinol-
9) yang digunakan untuk membunuh sperma. Jenis spermisida diantaranya aerosol
(busa), tablet vagina suppositoria atau dissolvable film, krim (Purwoastuti dan
Walyani, 2015).
b. Servical Cap
Merupakan kontrasepsi wanita, terbuat dari bahan latex, yang dimasukan
kedalam liang kemaluan dan menutupi leher rahim (serviks). Efek sedotan
menyebabkan cap tetap menempel di leher rahim. Cervical cap berfungsi sebagai
barier (penghalang) agar sperma tidak masuk kedalam rahim sehingga tidak terjadi
kehamilan. Setelah berhubungan cap tidak boleh dibuka minimal selama 8 jam. Agar
efektif cap biasanya dicampur dengan jeli spermisidal (pembunuh sperma)
(Purwoastuti dan Walyani, 2015).
c. Suntik
Suntikan kontrasepsi diberikan setiap 3 bulan sekali. Suntikan kontrasepsi
mengandung hormon progesteron yang menyerupai hormon progesteron yang
diproduksi oleh wanita selama 2 minggu pada setiap awal siklus menstruasi. Hormon
tersebut mencegah wanita untuk melepaskan sel telur sehingga memberikan efek
kontrasepsi (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
d. Kontrasepsi Darurat IUD
Alat kontrasepsi intrauterin device (IUD) dinilai efektif 100% untuk kontrasepsi
darurat. Hal itu tergambar dalam sebuah studi yang melibatkan sekitar 2.000 wanita
china yang memakai alat ini 5 hari setelah melakukan hubungan intim tanpa
pelindung. Alat yang disebut Copper T380A, atau Copper T bahkan terus efektif
dalam mencegah kehamilan setahun setelah alat ini ditanamkan dalam rahim
(Purwoastuti dan Walyani, 2015).
e. Implan
Implan merupakan alat kontrasepsi yang berbentuk batang dengan panjang
sekitar 4 cm yang di dalamnya terdapat hormon progesteron. Implan ini kemudian
dimasukan kedalam kulit dibagian lengan atas. Hormon tersebut kemudian akan
dilepaskan secara perlahan dan implan ini dapat efektif sebagai alat kontrasepsi
selama 3 tahun (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
f. Metode Amenorea Laktasi (MAL)
Lactational Amenorea Method (LAM) adalah metode kontrasepsi sementara
yang mengandalkan pemeberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya
diberikan ASI saja tanpa tanbahan makanan dan minuman lainnya. Metode ini dapat
dikatakan sebagai metode keluarga berencana alamiah atau natural family palnning,
apabila tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain (Purwoastuti dan
Walyani, 2015).
g. IUD dan IUS
IUD (Intra Uterin device) merupakan alat kecil berbentuk seperti huruf T yang
lentur dan diletakan di dalam rahim untuk mencegah kehamilan, efek kontrasepsi
didapatkan dari lilitan tembaga yang ada di badan IUD. IUD merupakan salah satu
kontrasepsi yang paling banyak digunakan di dunia. Efektivitas IUD sangat tinggi
sekitar 99,2-99,9 %. Tetapi IUD tidak memberikan perlindungan bagi penularan
penyakit menular seksual (PMS) (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
Saat ini sudah ada modifikasi lain dari IUD yang disebut dengan IUS (intra
uterin system), bila pada IUD efek kontrasepsi berasal dari lilitan tembaga dan dapat
efektif selama 12 tahun maka pada IUS efek kontrasepsi di dapat melalui pelepasan
hormon progesteron dan efektif selama 5 tahun. Baik IUD dan IUS mempunyai
benag plastik yang menempel pada bagian bawah alat, benag tersebut dapat teraba
oleh jari di dalam vagina tetapi tidak terlihat dari luar vagina (Purwoastuti dan
Walyani, 2015).
h. Kontrasepsi Darurat Hormonal
Morning after pil adalah hormonal tingkat tinggi yang di minum untuk
mengontrol kehamilan sesaat aetelah melakukan hubungan seks yang berisiko. Pada
prinsipnya pil tersebut bekerja dengan cara mengahalangi sperma berenang
memasuki sel telur dan memperkecil terjadinya pembuahan (Purwoastuti dan
Walyani, 2015).
i. Pil Kontrasepsi
Pil kontrasepsi dapat berupa pil kombinasi (berisi hormon estrogen dan
progesteron) ataupun hanya berisi progesteron saja. Pil kontrasepsi bekerja dengan
cara mencegah terjadinya ovulasi dan mencegah terjadinya penebalan dinding rahim.
Apabila pil kontrasepsi ini digunakan secara tepat maka angka kejadian
kehamilannya hanya 3 dari 1000 wanita. Disarankan penggunaan kontrasepsi lain
(kondom) pada minggu pertama pemakaian pil kontrasepsi (Purwoastuti dan
Walyani, 2015).
j. Kontrasepsi Sterilisasi
Kontrasepsi mantap pada wanita atau MOW (metode operasi wanita) atau
tubektomi, yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan saluran telur agar sel telur
tidak dapat dibuahi oleh sperma. Kontrasepsi mantap pada pria atau MOP (metode
operasi pria) atau vasektomi, yaitu tindakan pengikatan dan pemotongan saluran
benih agar sperma tidak keluar dari buah zakar (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
k. Kondom
Kondom merupakan jenis kontrasepsi penghalang mekanik. Kondom mencegah
kehamilan dan infeksi penyakit kelamin dengan cara menghentikan sperma untuk
masuk kedalam vagina. Kondom pria dapat terbuat dari bahan latex (karet),
polyurethane (plastik), sedangkan kondom wanita terbuat dari polyurethane.
Efektifitas kondom pria antara 85-98% sedangkan efektivitas kondom wanita antara
79-95 % (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
4. Keuntungan dan Kerugian Kontrasepsi
a. Spermisida
Keuntungan :
1) Efektif seketika (busa dan krim)
2) Tidak mengganggu produksi ASI
3) Sebagai pendukung metode lain
4) Tidak mengganggu kesehatan klien
5) Tidak mempunyai penaruh sistematik
6) Mudah digunakan
7) Tidak memerlukan resep ataupun pemeriksaan medik
8) Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual
Kerugian :
1) Iritasi vagina atau iritasi penis dan tidak nyaman
2) Ganguan rasa panas di vagina
Tablet busa vagina tidak larut dengan baik (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
b. Servical Cap
Keuntungan :
1) Bisa dipakai jauh sebelum berhubungan
2) Mudah dibawa dan nyaman
3) Tidak mempengaruhi siklus haid
4) Tidak mempengaruhi kesuburan (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Tidak melindungi dari HIV/AIDS
2) Butuh fitting sebelumnya
3) Ada wanita yang gak bisa muat (fitted)
4) Kadang pemakainan dan membukanya agak sulit
5) Bisa copot saat berhubungan
6) Kemungkinan reaksi alergi (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
c. Suntik Kontrasepsi
Keuntungan :
1) Dapat digunakan oleh ibu yang menyusui
2) Tidak perlu dikonsumsi setiap hari atau dipakai sebelum melakukan hubungan
seksual
3) Darah menstruasi menjadi lebih sedikit dan membantu mengatasi kram saat
menstruasi (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Dapat memengaruhi siklus menstuasi
2) Kekurangan suntik kontrasepsi /KB suntik dapat menyebabkan kenaikan berat
badan pada beberapa wanita
3) Tidak melindungi terhadap penyakit menular seksual
4) Harus mengunjungi dokter/klinik setiap 3 bulan sekali untuk mendapatkan
suntikan berikutnya (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
d. Kontrasepsi Darurat IUD
Keuntungan :
1) IUD/AKDR hanya perlu dipasang setiap 5-10 tahun sekali, tergantung dari tipe
alat yang digunakan.
Kerugian :
1) Perdarahan dan rasa nyeri, kadang kala IUD/AKDR dapat terlepas.
e. Implan
Keuntungan :
1) Dapat mencegah terjadinya kehamilan dalam jangka waktu 3 tahun
2) Tidak perlu dikonsumsi setiap hari atau dipakai sebelum melakukan hubungan
seksual
3) Sama seperti suntik, dapat digunakan oleh wanita yang menyusui (Purwoastuti
dan Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Sama seperti kekurangan kontrasepsi suntik, implan dapat memengaruhi siklus
menstruasi
2) Dapat menyebabkan kenaikan berat badan pada beberapa wanita
3) Tidak melindungi terhadap penyakit menular seksual (Purwoastuti dan Walyani,
2015).
f. Metode Amenorea Laktasi
Keuntungan :
1) Efektivitas tinggi (98% apabila digunakan selama enam bulan pertama setelah
melahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif
2) Dapat segera dimulai setelah melahirkan
3) Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat
4) Tidak memerlukan perawatan medis
5) Tidak mengganggu senggama
6) Mudah digunakan
7) Tidak menimbulkan efek samping yang sistematik
Kerugian :
1) Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan
2) Metode hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan, belum
mendapat haid dan menyusui secara eksklusif
3) Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk hepatitis B ataupun
HIV/AIDS
4) Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui
5) Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif (Purwoastuti
dan Walyani, 2015).
g. IUD/IUS
Keuntungan :
1) Merupakan metode kontraspesi yang sangat efektif
2) Bagi wanita yang tidak tahan terhadap hormon dapat menggunakan IUD dengan
lilitan tembaga
3) IUS dapat membuat menstruasi menjadi lebih sedikit (sesuai untuk yang sering
mengalami menstruasi hebat) (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Pada 4 bulan pertama pemakaian dapat terjadi resiko infeksi
2) Kekurangan IUD/IUS alatnya dapat keluar tanpa disadari
3) Tembaga pada IUD dapat meningkatkan darah menstruasi dan kram menstruasi
(Purwoastuti dan Walyani, 2015).
h. Kontrasepsi Darurat Hormonal
Keuntungan :
1) Memengaruhi hormon
2) Digunakan paling lama 72 jam setelah terjadi hubungan seksual tanpa kontrasepsi
(Purwoastuti dan Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Mual dan muntah
i. Pil Kontrasepsi
Keuntungan :
1) Mengurangi resiko terkena kangker endometrium
2) Mengurangi darah menstruasi dan kram saat menstruasi
3) Dapat mengontrol waktu untuk terjadinya menstruasi
4) Untuk pil tertentu dapat mengurangi timbulnya jerawat (Purwoastuti dan
Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Tidak melindungi terhadap penyakit menular seksual
2) Harus rutin diminum setiap hari
3) Saat pertama pemakaian dapat timbul pusing dan spotting
4) Efek samping yang mungkin dirasakan adalah sakit kepala, deperesi, letih,
penurunan nafsu seksual (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
j. Sterilisasi
Keuntungan :
1) Lebih aman karena keluhan lebih sedikit dibandingkan dengan cara kontrasepsi
lain
2) Lebih praktis, karena hanya memerlukan satu kali tindakan saja
3) Lebih efektif karena tingkat kegagalannya sangat kecil dan merupakan cara
kontrasepsi yang permanen
4) Lebih ekonomis karena hanya memerlukan biaya untuk satu kali tidakan saja
(Purwoastuti dan Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Tubektomi : rasa sakit atau ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah
tindakan, ada kemungkinan mengalami risiko pembedahan.
2) Vasektomi : tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin memiliki anak,
harus ada tindakan pembedahan minor (Purwoastuti dan Walyani, 2015).
k. Kondom
Keuntungan :
1) Bila digunakan secara tepat maka dapat digunakan untuk mencegah kehamilan
dan penularan penyakit menular seksual (PMS).
2) Kondom tidak mempengaruhi kesuburan jika digunakan dalam jangka panjang.
3) Kondom mudah didapat dan tersedia dengan harga yang terjangkau (Purwoastuti
dan Walyani, 2015).
Kerugian :
1) Karena sangat tipis maka kondom dapat robek bila tidak digunakan atau disimpan
sesuai aturan.
2) Beberapa pria tidak dapat memepertahankan ereksinya saat menggunakan
kondom.
3) Setelah terjadi ejakulasi, pria harus menarik penisnya dari vagina karena dapat
terjadi resiko kehamilan atau penularan penyakit menular seksual
4) Kondom yang terbuat dari latex dapat menimbulkan elergi bagi beberapa orang
(Purwoastuti dan Walyani, 2015).
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Hari / Tanggal : Minggu, 19 Maret 2017

Waktu : 07.00 WITA

Pokok Bahasan : KB

Sasaran : PUS

Penyuluh : Dahlia N. Sikueng

Tempat : Balai Jaga IV Desa Tombatu Tiga

I. Tujuan Instruksional Umum


Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan tentang KB diharapkan memahami tentang
pentingnya menggunakan KB
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, PUS dapat :
1. Memahami pentingnya menggunakan KB
2. Mengetahui jenis-jenis KB serta kelebihan dan kekurangannya
III. Materi
1. Pengertian KB
2. Metode-metode KB
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode KB
IV. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
V. Media
Leaflet
VI. Kegiatan
Proses Penyuluhan KB
No Tahapan Kegiatan Waktu
1 Pembukaan 1. Mengucapkan salam dan
menjelaskan tujuan
penyuluhan
2. Menyampaikan waktu /
kontrak yang akan digunakan
dan akan mendiskusikannya 10 menit
dengan peserta pada pertemuan
kali ini
3. Memberikan sedikit gambaran
mengenai informasi yang akan
disampaikan pada hari ini
2 Inti Isi materi penyuluhan
1. Menjelaskan tentang Keluarga
Berencana
2. Memberikan kesempatan pada
PUS untuk bertanya
3. Menjawab pertanyaan yang
diberikan 30 Menit
4. Meminta PUS untuk
mengulangi materi yang sudah
disampaikan
5. Peserta mengerti seluruh
materi penyuluhan yang telah
diberikan
3 Penutup 1. Pembicara mengucapkan
terima kasih atas perhatian
PUS 5 Menit
2. Memberikan kesimpulan
3. Mengucapkan salam penutup
DOKUMENTASI