Anda di halaman 1dari 19

PEDOMAN PELAYANAN DI UNIT PELAYANAN FARMASI

1
UNIT PELAYANAN FARMASI

UPT PUSKESMAS BLOOTO

TAHUN 2018
LEMBAR PENGESAHAN
PEDOMAN INTERNAL UPT PUSKESMAS BLOOTO :
PEDOMAN UNIT PELAYANAN FARMASI

Yang bertandatangan di bawah ini :


Nama : dr. FARIDA MARIANA
NIP : 19781104 200501 2 014
Jabatan : KEPALA UPT PUSKESMAS BLOOTO

Mengesahkan/meyetujui berlakunya Pedoman Unit Pelayanan Farmasi Puskesmas


Blooto tahun 2018

Mojokerto,
KEPALA UPT PUSKESMAS BLOOTO

dr. Farida Mariana


Pembina
NIP. 19781104 200501 2 014

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa yang telah
melimpahkan berkah dan rahmat-Nya sehingga Upt Puskasmas Blooto kota mojokerto
pada tahun 2017 ini mendapat kesempatan untuk melaksanakan akreditasi.

Akreditasi bagi UPT Puskesmas Blooto kota mojokerto sangatlah penting untuk
meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan bagi pasien serta masyarakat. Untuk
menunjang pelaksanaan akreditasi di upt puskesmas blooto kota mojokerto maka
diperlukan pedoman pelayanan di Upt Puskesmas Blooto.

Harapan kami mudah mudahan pedoman pelayanan ini dapat member manfaat
dan bagi Upt Puskesmas Blooto, sehingga akreditasi di Upt Puskesmas Blooto kota
mojokerto berjalan lancer dan menjadi upt puskesmas yang lebih baik.

Mojokerto, 1 September 2018

Penulis

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Puskesmas adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
Secara nasional standar wilayah kerja Puskesmas adalah satu kecamatan. Apabila di
satu kecamatan terdapat lebih dari satu Puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja
dibagi antar Puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah yaitu desa/
kelurahan atau dusun/rukun warga (RW).
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas adalah
tercapainya kecamatan sehat. Kecamatan sehat mencakup 4 indikator utama, yaitu
lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu dan
derajat kesehatan penduduk. Misi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan
Puskesmas adalah mendukung tercapainya misi pembangunan kesehatan nasional
dalam rangka mewujudkan masyarakat mandiri dalam hidup sehat. Untuk mencapai visi
tersebut, Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat. Dalam menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan
upaya kesehatan masyarakat, Puskesmas perlu ditunjang dengan pelayanan
kefarmasian yang bermutu.
Pelayanan kefarmasian pada saat ini telah berubah paradigmanya dari orientasi
obat kepada pasien yang mengacu pada asuhan kefarmasian (Pharmaceutical Care).
Sebagai konsekuensi perubahan orientasi tersebut, apoteker/asisten apoteker sebagai
tenaga farmasi dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perilaku agar
dapat berinteraksi langsung dengan pasien.
Pelayanan kefarmasian meliputi pengelolaan sumber daya (SDM, sarana prasarana,
sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan serta administrasi) dan pelayanan farmasi
klinik (penerimaan resep, peracikan obat, penyerahan obat, informasi obat dan
pencatatan/penyimpanan resep) dengan memanfaatkan tenaga, dana, prasarana, sarana
dan metode tatalaksana yang sesuai dalam upaya mencapai tujuan yang ditetapkan.

4
B. TUJUAN PEDOMAN
1. Tujuan Umum
Terlaksananya pelayanan kefarmasian yang bermutu di Puskesmas.
2. Tujuan Khusus
a) Sebagai acuan bagi petugas unit pelayanan farmasi dan pelaksana pembantu
pelayanan untuk melaksanakan pelayanan kefarmasian di Puskesmas Blooto
b) Sebagai salah satu bahan pertimbangan bagi Dinas Kesehatan Kota Mojokerto
dalam pembinaan pelayanan kefarmasian di Puskesmas Blooto

C. SARARAN PEDOMAN
Sasaran pedoman pelayanan kefarmasian adalah petugas pelayanan di unit
pelayanan farmasi

D. RUANG LINGKUP
Pelayanan kefarmasian di Puskesmas meliputi 3 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan
yang bersifat manajerial berupa pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai,kegiatan pelayanan farmasi klinik dan kegiatan konseling dengan Apoteker.
Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia dan sarana dan prasarana
yang memadai.
E. BATASAN OPERASIONAL
Batasan Operasional pedoman ini meliputi batasan pelaksanaan standar
pelayanan kefarmasian di Puskesmas Blooto
Pelayanan kefarmasian di puskesmas meliputi kegiatan pelayanan di dalam dan
diluar gedung.

a. Pelayanan didalam gedung meliputi:


1. Perencanaan pengadaan Obat
2. Pengadaan Obat
3. Penyimpanan di Gudang Obat Puskesmas
4. Pencatatan, pelaporan dan Pemusnahan obat kadaluarsa dan obat rusak
5. Pendistribusian obat ke unit pelayanan Internal dan Puskesmas pembantu
6. Pengkajian resep,

5
7. Peracikan obat
8. Penyerahan obat,
9. Pemberian informasi obat
10. Pelayanan informasi obat (PIO)
11. Pemantauan dan pelaporan efek samping obat
12. Pemantauan terapi obat
13. Evaluasi penggunaan obat
14. Kegiatan koseling obat di ruang kosultasi Apoteker
b. Pelayanan diluar gedung :
1. Distribusi obat ke PKD/Pustu
2. Pemantauan penggunaan obat di PKD/Pustu

6
BAB II
STANDAR KETENAGAAN

A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA


Kegiatan kefarmasian di Puskesmas Blooto dilaksanakan oleh satu orang Apoteker
dengan dibantu oleh 3 tenaga teknis kefarmasian dan 1 orang adminsitrasi.Pengaturan
dan penjadwalan pelaksanaan pelayanan kefarmasian dikoordinir oleh penanggungjawab
pelayanan kefarmasian sesuai dengan kesepakatan.
Berikut ini kualifikasi Sumber daya manusia dan realisasi tenaga upaya kesehatan
gigi masyarakat yang ada di Puskesmas Blooto :
JENIS KOMPETENSI KOMPETENSI TAMBAHAN
NO JML
KETENENAGAAN (IJAZAH) (PELATIHAN)

1 Fungsional Apoteker Pelatihan farmasi klinik di 1


Apoteker puskesmas
Pelatihan pengawas makanan
Pelatihan obat tradisional

2 Fungsional
Tenaga Teknis D III Farmasi Pelatihan manajemen farmasi 3
Kefarmasian
3 Tenaga
SMA - 1
Administrasi

A. DISTRIBUSI KETENAGAAN
Petugas di Unit Pelayanan Farmasi berjumlah 5 (tiga) orang dengan standar
minimal sudah melaksanakan pelatihan mtbs / mtbm, dengan kategori :

1. 1 Orang Apoteker
2. 3 Orang Tenaga Teknis Kefarmasian
3. 1 Orang tenaga administrasi

7
B. JADUAL PELAYANAN
Jam buka pelayanan : setiap hari kerja :

o Senin – Jum’at : 07.30 – 20.00


o Sabtu : 07.30 – 13.30

8
BAB III

STANDAR FASILITAS

A. DENAH RUANG

a. Ruang Pelayanan Farmasi

c. Gudang Obat

9
B. STANDAR FASILITAS
Sesuai Permenkes No. 30 tahun 2014 sarana yang diperlukan untuk
penunjang pelayanan kefarmasian di Puskesmas,meliputi sarana yang memiliki
fungsi :
a. Ruang penerimaan Resep
Ruang penerimaan resep meliputi tempat penerimaan resep konter
penyerahan Obat dan kursi,satu set computer, ruang penerimaan resep
dtempatkan pada bagian paling depan dan mudah terlihat oleh pasien
b. Ruang pelayanan resep dan peracikan
Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas
meliputi rak Obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan
disediakan peralatan peracikan, timbangan Obat, air minum (air mineral) untuk
pengencer, sendok Obat, bahan pengemas Obat, lemari pendingin,
termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label Obat, buku catatan
pelayanan resep, buku-buku referensi/standar sesuai kebutuhan, serta alat
tulis secukupnya. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya dan sirkulasi
udara yang cukup. Jika memungkinkan disediakan pendingin ruangan (air
conditioner) sesuai kebutuhan.
c. Ruang penyerahan Obat
Ruang penyerahan Obat meliputi konter penyerahan Obat, buku pencatatan
penyerahan dan pengeluaran Obat. Ruang penyerahan Obat dapat
digabungkan dengan ruang penerimaan resep.
d. Ruang Konseling
Ruang konseling meliputi satu set meja dan kursi konseling, lemari buku, buku-
buku referensi sesuai kebutuhan, leaflet, poster, alat bantu konseling, buku
catatan konseling, formulir jadwal konsumsi Obat (lampiran), formulir catatan
pengobatan pasien (lampiran), dan lemari arsip (filling cabinet), serta 1 (satu)
set komputer, jika memungkinkan.
e. Ruang penyimpanan obat dan BMHP
Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur,
kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan

10
keamanan petugas. Selain itu juga memungkinkan masuknya cahaya yang
cukup.Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapi dengan rak/lemari Obat,
pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus
narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan Obat khusus, pengukur suhu,
dan kartu suhu.

f. Ruang Arsip
Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan
pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dan Pelayanan Kefarmasian
dalam jangka waktu tertentu. Ruang arsip memerlukan ruangan khusus yang
memadai dan aman untuk memelihara dan menyimpan dokumen dalam
rangka untuk menjamin penyimpanan sesuai hukum, aturan, persyaratan, dan
teknik manajemen yang baik.
Istilah ‘ruang’ di sini tidak harus diartikan sebagai wujud ‘ruangan’ secara fisik,
namun lebih kepada fungsi yang dilakukan. Bila memungkinkan, setiap fungsi
tersebut disediakan ruangan secara tersendiri. Jika tidak, maka dapat
digabungkan lebih dari 1 (satu) fungsi, namun harus terdapat pemisahan yang
jelas antar fungsi

11
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup Kegiatan

Kegiatan dalam Pelayanan Farmasi Mencakup :

1. Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

2. Pelayanan Farmasi Klinik

B. Langkah Kegiatan

Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Pakai

Pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan salah satu kegiatan
pelayanan kefarmasian, yiatan pelayanan kefarmasian, yang dimulai dari perencanaan,
permintaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan dan
pelaporan serta pemantauan dan evaluasi.

Kegiatan pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi:

1. Perencanaan

Perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi Obat dan Bahan Medis Habis
Pakai untuk menentukan jenis dan jumlah Obat dalam rangka pemenuhan
kebutuhan Puskesmas.

Tujuan perencanaan adalah untuk mendapatkan:

a. Perkiraan jenis dan jumlah Obat dan Bahan Medis Habis Pakai yang
mendekati kebutuhan;

b. Meningkatkan penggunaan Obat secara rasional; dan

c. Meningkatkan efisiensi penggunaan Obat

Proses seleksi Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan dengan
mempertimbangkan pola penyakit, pola konsumsi Obat periode sebelumnya, dan
mutasi Obat, dan rencana pengem-bangan.

2. Permintaan

Tujuan permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai adalah memenuhi
kebutuhan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas, sesuai dengan
perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas

12
Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan dan kebijakan pemerintah daerah setempat.

Selain permintaan ke Dinas Kesehatan, Puskesmas menyediakan obat dan


BMHP melalui pembelian dengan sumber dana BLUD.

3. Penerimaan

Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai adalah suatu kegiatan dalam
menerima Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dari Instalasi Farmasi
Kabupaten/Kota sesuai dengan permintaan yang telah diajukan.

Tujuannya adalah agar Obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan


berdasarkan permintaan yang diajukan oleh puskesmas.

4. Penyimpanan

Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan
pengaturan terhadap Obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari
kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin, sesuai dengan
persyaratan yang ditetapkan dapat dipertahankan sesuai dengan persyaratan
yang ditetapkan.

Beberapa sistem yang umum dalam penatalaksanaan obat selama penyimpanan


:

a. Alfabetis Berdasarkan Sumber Anggaran

Obat disimpan berdasarkan urutan alfabet Sesuai Sumber Anggaran. Saat


menggunakan sistem ini, pelabelan harus diubah ketika daftar obat esensial
direvisi atau diperbaharui.

b. Kategori terapetik atau farmakologi

Obat disimpan berdasarkan indikasi terapetik dan kelas farmakologinya.

c. Bentuk sediaan

Obat mempunyai bentuk sediaan yang berbeda-beda, seperti sirup, tablet,


injeksi, salep atau krim. Dalam sistem ini, obat disimpan berdasarkan bentuk

13
sediaannya. Selanjutnya metode-metode pengelompokan lain dapat
digunakan untuk mengatur obat secara rinci.

d. Frekuensi penggunaan.

Untuk obat yang sering digunakan (fast moving) seharusnya disimpan pada
ruangan yang dekat dengan tempat penyiapan obat.

e. Kondisi Penyimpanan Khusus

Beberapa obat perlu disimpan pada tempat khusus untuk memudahkan


pengawasan, yaitu:

1) Obat golongan narkotika dan psikotropika masing-masing disimpan dalam


lemari khusus dan terkunci.

2) Untuk obat keras tertentu dan prekursor disimpan dalam lemari khusus
(terpisah)

3) Obat-obat seperti vaksin dan supositoria harus disimpan dalam lemari


pendingin untuk menjamin stabilitas sediaan.

4) Beberapa cairan mudah terbakar seperti aseton, eter dan alkohol


disimpan dalam lemari yang berventilasi baik, jauh dari bahan yang mudah
terbakar dan peralatan elektronik. Cairan ini disimpan terpisah dari obat-
obatan.

14
BAB V

LOGISTIK

Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang menyangkut aspek


perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat yang dikelola secara
optimal untuk menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan farmasi dan
alat kesehatan

1. Perencanaan
Perencanaan di buat setiap tahun dalam bentuk rencana kebutuhan obat yang
akan di serahkan ke dinas kesehatan kota mojokerto
2. Pengadaan
Pengadaan obat dan bmhp dilakukan oleh dinas kesehatan kota mojokerto dan
didistribusikan ke puskesmas melalui Gudang Farmasi Kesehatan Kota.
3. Penyimpanan
Penyimpanan obat di puskesmas blooto di lakukan di Gudang obat puskesmas
4. Pendistribusian
Pendistribusian obat di lakukan oleh Gudang obat puskesmas ke unit,puskesmas
pembantu

15
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan Pasien ( Patient Safety ) Merupakan Suatu Sistem Dimana Rumah Sakit
Membuat Asuhan Pasien Lebih Aman. Hal Ini Termasuk Asesmen Resiko, Identifikasi
Dan Pengelolaan Hal Yang Berhubungan Dengan Resiko Pasien, Pelaporan Dan Analisis
Insiden, Kemampuan Belajar Dari Insiden Dan Tindak Lanjutnya, Implementasi Solusi
Untuk Meminimalkan Timbulnya Risiko. Sistem Ini Mencegah Terjadinya Cedera Yang
Disebabkan Oleh Kesalahan Akibat Melaksanakan Suatu Tindakan Atau Tidak
Mengambil Tindakan Yang Seharusnya Diambil.

Tujuan Penerapan Keselamatan Paisen Adalah Terciptanya Budaya Keselamtan


Pasien, Meningkatkan Akuntabilitas Puskesmas Terhadap Pasien Dan Masyarakat,
Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) Di Puskesmas, Terlaksananya Program-
Program Pencegahan Sehingga Tidak Terjadi Pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan.

Puskesmas Blooto Wajib Menerapkan Standar Keselamtan Pasien Yang Meliputi :

1. Membuat Kebijakan Tentang Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien

2. Membuat Program Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien

3. Menetapkan Indikator Mutu Klinis Dan Keselamatan Pasien Bekerja Sama


Dengan Petugas Pelayanan Klinis Dan melaksanakan sosialisasi

4. Melakukan monitoring terhadap indikator mutu klinis dan keselamatan pasien


yang sudah tetapkan

5. Melakukan tindak lanjut terhadap indikator mutu klinis dan keselamatan


pasien yang telah di monitoring

6. Melakukan Identifikasi Resiko Pasien

7. Melakukan Pelaporan Dan Analisa Insiden

16
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk menciptakan suasana kerja


yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di perusahaan yang
bersangkutan.
Keselamatan kerja sebagai salah satu aspek penting operasional Puskesmas harus
memenuhi nilai standar yang natinya akan menjadi acuan akreditasi. Poin-poin standar
akreditasi Puskesmas meliputi :
1. Keselamatan dan keamanan
2. Bahan berbahaya dan beracun
3. Kesiapan menghadapi bencana
4. Pengamanan kebakaran
5. Alat medis
6. Sistem utilitas
Kecelakaan kerja di Puskesmas dapat menyebabkan pekerja atau pasien mengalami luka
ringan, berat hingga meninggal. Dari sisi material kecelakaan kerja dapat menyebabkan
kerusakan peralatan medis tau non medis, serta kerugian jam kerja akibat adanya waktu
yang hilang akibat evakuasi kecelakaan kerja. Tipe kecelakaan kerja ada bermacam -
macam di antaranya terbentur, terpukul, tertangkap dalam atau diantara benda, jatuh
pada ketinggian yang sama, jatuh pada ketinggian yang berbeda, tergelincir, terpapar,
dan tersentuh aliran listrik. Kecelakaan kerja juga bisa diakibatkan oleh kondisi berbahaya
seperti pengamanan yang tidak sempurna, peralatan/bahan yang tidak seharusnya,
kecacatan/ketidaksempurnaan, prosedur yang tidak aman, penerangan tidak sempurna,
iklim kerja yang tidak aman, tekanan udara yang tidak aman, getaran yang berbahaya,
APD yang tidak lengkap. Kecelakaan kerja juga bisa disebabkan oleh tindakan berbahaya
seperti melakukan pekerjaan tanpa wewenang, bekerja dengan kecepatan berbahaya,
memakai alat peralatan yang tidak aman, melakukan pekerjan dengan tidak aman,
bekerja pada obyek yang berbahaya, mengalihkan perhatian dan bersikap sembrono.

17
BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Indikator mutu yang digunakan di Unit Pelayanan Farmasi Puskesmas blooto


dalam memberikan pelayanan adalah

Uraian target
Ketersediaan formularium 100 %
Waktu tunggu pelayanan obat racikan puyer 90%
kurang dari 40 menit
Tidak adanya kejadian kesalahan pemberian 100%
obat
Kepuasan pasien di unit farmasi 100%

Indikator tersebut sebagai standard pengendali mutu di unit pelayanan farmasi


puskesmas blooto

18
BAB IX

PENUTUP

Demikian pedoman penyelenggaraan pelayanan Unit Pelayanan Farmasi ini dibuat


sebagai acuan pelayanan bagi petugas di puskesmas Blooto, Mudah - mudahan dengan
adanya pedoman pelayanan ini, dapat lebih memudahkan semua pihak yang terkait
dengan penyelenggaraan kegiatan dan pelayanan internal maupun eksternal.

19

Anda mungkin juga menyukai