Anda di halaman 1dari 18

PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN (BTP) PADA

PENGOLAHAN MAKANAN INDUSTRI RUMAH TANGGA DI


KECAMATAN PAYAKUMBUH BARAT
KOTA PAYAKUMBUH

F. FADHILLA
NIM: 1202150/2012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA


JURUSAN ILMU KESEJAHTERAAN KELUARGA
FAKULTAS PARIWISATA DAN PERHOTELAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017

i
ii
Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pada Pengolahan Makanan
Industri Rumah Tangga Di Kecamatan Payakumbuh Barat
Kota Payakumbuh

F.Fadhilla1, Anni Faridah2, Wiwik Gusnita2


Program Studi Ilmu Kesejahteraan Keluarga
FPP Universitas Negeri Padang
Email: Fahmilfadhilla@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan penggunaan bahan tambahan pangan


(BTP) pada pengolahan makanan industri rumah tangga di Kecamatan Payakumbuh
Barat Kota Payakumbuh, khususnya pewarna, perasa, pemanis dan pengawet. Jenis
penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode deskriptif dengan
teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi. Kemudian untuk
pemeriksaan keabsahan data peneliti melakukan uji kredibilitas dengan melakukan
perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, tringulasi dengan teman sejawat
dan analisis kasus negatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya pelaku usaha
menggunakan BTP alami dan BTP sintetis. Jenis BTP sintetis yang yaitu pewarna
sintetis kuning, merah dan hijau, penyedap MSG dan pemanis sintetis sakarine.
Produk olahan industri rumah tangga sanjai balado merah, hijau, karak kaliang,
lento, roda gandiang, sanjai lidi, dan ganepo. Jumlah dan takaran yang digunakan
oleh pelaku usaha belum berdasarkan tetapkan oleh Permenkes RI.
Kata kunci: BTP, Industri Rumah Tangga, Kecamatan Payakumbuh Barat,
Pengolahan Makanan.
Abstract

This study aimed to describe the use of food additives in the food processing
industry in the District of West Payakumbuh, Pespecially for dyes, flavorings,
sweeteners and preservatives. This research uses a qualitative approach by using a
descriptive method with data collection techniques of observation, interviews and
documentation. Then for checking the validity of the data, the researchers did the test
of credibility by doing the renewal observations, increased persistence, tringulasi with
peers and negative case analysis. The results of the research showed that the
entrepreneur using both natural and synthetic food additives. Synthetic food
additives types which used are yellow, red and green synthetic dyes, flavoring MSG,
and sakarine artificial sweeteners. Processed products of home industry are sanjai
balado merah, hijau, karak kaliang, lento, roda gandiang, sanjai lidi, and ganepo.
The amount and dosage used are not based on the regulation of Ministry of Health
Republic of Indonesia
Keyword: Food Additives, Home Industry, District of West Payakumbuh, Food
Processing

1
A. Pendahuluan

Industri rumah tangga merupakan usaha dalam skala kecil dengan alat dan

tenaga kerja yang terbatas. Sebagaimana menurut Badan Pengawasan Obat dan

Makanan tahun 2015 mengatakan: “Industri rumah tangga sebagai suatu

perusahaan pangan yang memiliki tempat usaha ditempat tinggal dengan

peralatan pengolahan pangan manual hingga semi otomatis”. Industri rumah

tangga memperkerjakan seseorang untuk memproduksi usahanya, sehingga

industri rumah tangga berperan dalam mengatasi pengangguran.

Usaha rumah tangga yang bermunculan memproduksi beraneka jenis

cemilan khususnya karak kaliang, sanjai, dan ganepo. Sesama pengusaha atau

produsen terjadinya persaingan dalam memasarkan produknya. Kecenderungan

konsumen memilih produk dengan warna yang cerah, rasa yang gurih dan manis

serta tahan lama, menuntut produsen lebih kreatif dalam memproduksi hasil

produknya.

Cara yang dilakukan produsen agar hasil produknya tetap laku dengan

menambahkan Bahan Tambahan Pangan (BTP) ke dalam hasil produknya. BTP

adalah menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88

dijelaskan bahwa bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan

biasanya bukan merupakan bahan khas pangan, mempunyai atau tidak

mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam pangan untuk

maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan,

2
pengepakan, pengemasan, penyimpanan atau pengangkutan pangan untuk

menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas pangan tersebut.

BTP yang umum digunakan Pada pengolahan makanan industri

dimasyarakat khususnya di Kecamatan Payakumbuh Barat adalah BTP sintetis,

yang memiliki banyak keuntungan bagi produsen olahan makanan, akan tetapi

kurang menguntungkan bagi konsumen. BTP sintetis dapat merusak organ tubuh,

baik secara langsung atau dalam rentan waktu yang lama. Kasus yang penulis

temui pada kawasan penjualan sentral oleh-oleh sanjai di Kota Payakumbuh,

salah satu pelanggan pernah mengalami muntah-muntah dan pusing setelah

mengkonsumsi produk sanjai yang menggunakan BTP berlebihan, sehingga perlu

penanganan dari pihak medis kepada korban. kasus lain yang penulis temui yaitu

adanya masyarakat sekitar penjualan sentral olahan kripik singkong yang

melapor, tubuhnya mengalami alergi dan gatal-gatal pada sekujur tubuh setelah

mengkonsumsi salah satu olahan sanjai, yang menggunakan BTP yang begitu

mencolok.

Berdasarkan observasi pendahuluan, ditemukan fakta bahwa, banyaknya

ditemukan produsen industri rumah tangga menggunakan BTP sintetis pada

pengolahan produknya seperti pewarna, penyedap, pemanis dan pengawet.

Tujuan produsen menggunakan BTP sintetis agar tampilan produk lebih bagus,

berwarna cerah, gurih dan manis. Penggunaan BTP sintetis juga dapat menghemat

ongkos produksi dan menghemat waktu, sedangkan penggunaan BTP sintetis

3
yang tidak berdasarkan takaran atau jumlah yang seharusnya dapat

membahayakan kesehatan.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI tentang bahan tambahan pangan

No.772/Menkes/Per/IX/88No.1168/Menkes/PER/X/1999 adalah bahan yang

biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan

komponen khas makanan, mempunyai atau tidak menpunyai nilai gizi yang

dengan sengaja ditambahkan kedalam makanan untuk maksud teknologi pada

pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan dan

penyimpanan. Sedangkan menurut Cahyadi (2009:2) “Adalah dapat

meningkatkan atau mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan,

membuat bahan panagan lebih mudah dihidangkan, serta lebih mudah preparasi

bahan pangan”.

Menurut Badan Pengawasan Obat dan Makanan mendefinisikan industri

rumah tangga sebagai suatu perusahaan pangan yang memiliki tempat usaha

ditempat tinggal dengan peralatan pengolahan pangan manual hingga semi

otomais. Industri rumah tangga merupakan industri yang paling mudah untuk

dijalankan karna sudah tersedianya tempat untuk menjalankan sebuah industri

kecil.

Jenis jenis bahan tambahan pangan (BTP) yang digunakan pelaku industri

rumah tangga adalah:

4
1. Pewarna

Warna dari sebuah produk merupakan penentu daya tarik suatu

produk. Menurut Riandini (2008:17) mengatakan: “Pewarna makanan dan

minuman merupakan bahan tambahan pangan yang dapat memperbaiki

penampakan makanan agar menarik, menyeragamkan dan menstabilkan

warna, serta menutupi perubahan warna akibat proses pengolahan dan

penyimpanan”. Pewarna terdiri dari dua jenis alami dan sintetis. Batas

penggunaan pewarna yang diizinkan berdasarkan tabel berikut:

Tabel 1. Bahan Pewarna Sintetis yang diizinkan di Indonesia

Pewarna Nomor indeks Batas maksimum


Warna penggunaan
(C.I.No.)
Amaran Amaranth: CI Food 16185 Mg/kg berat badan
Red 9
Biru berlian Brilliant blue FCF: CI 42090 Mg/kg berat badan
Food red 2
Eritrosin Erithrosin: CI 45430 Mg/kg berat badan
Food red 14 Fast
Hijau FCF Green FCF : CI 42053 Mg/kg berat badan
Food green S : CI.
Hijau S Food 44090 Mg/kg berat badan
Green 4
Indigotin Indigotin : CI.Food 73015 Mg/kg berat badan
Blue I
Ponceau 4R Ponceau 4R : CI 16255 Mg/kg berat badan
Food red 7
Kuning Quineline yellow 74005 Mg/kg berat badan
Kuinelin CI. Food yellow 13 15980 Mg/kg berat badan
Sunset yellow FCF CI.
Kuning FCF Food yellow 3 Mg/kg berat badan
Riboflavin
Sumber: Peraturan menkes RI nomor 033 tahun 2012

5
2. Penyedap rasa dan aroma, penguat rasa

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/ Menkes /

Per/IX/88 tentang bahan tambahan pangan, penyedap rasa dan aroma dan

penguat rasa didefinisikan sebagai bahan tambahan pangan yang dapat

memberikan, menambah atau mempertegas rasa dan aroma. Penyedap rasa

merupakan gabungan dari semua perasaan dari dalam mulut, termasuk

mouthfeel. Suatu pangan mempunyai rasa asin, manis, asam, atau pahit

dengan aroma yang khas. Penyedap terdiri dari penyedap alami dan penyedap

sintetis. Batas penggunaan penyedap berdasarkan tabel berikut:

Table II. Batas Maksimum penggunaan Penyedap Rasa dan Aroma Sesuai
Acceptable Daily IntakeI (ADI)
Kode Nama Bahan Dosis Maksimum/Kg
Berat Badan
620 L-Asam Glutamat 0-120 mg
621 Mono Sodium Glutamat 0-120 mg
622 Mono Potassium Glutamat -
623 Kalsium dihidrogen di-L-Glutamat 0-120 mg
627 Sodium Guanilat Tidak ditentukan
631 Sodium 5’- Inosiat Tidak ditentukan
635 Sodium 5’-ribonukleotida Tidak ditentukan
636 Maltol 0-1 mg
637 Ethyl Maltol 0-2 mg
Sumber: Cahyadi (2009:106)

3. Pemanis

Pemanis merupakan zat yang dapat menimbulkan rasa manis atau

dapat membantu mempertajam penerimaan terhadap rasa manis terhadap

suatu pangan, tujuan penambahan pemanis pada pengolahan suatu pangan

yaitu untuk mempertajam rasa manis terhadap olahan pangan tersebut.

6
Menurut Eriawan R. dalam Cahyadi, (2009:76) mengatakan bahwa: “Pemanis

merupakan senyawa kimia yang sering ditambahkan dan digunakan untuk

keperluan produk olahan pangan, industri, serta minuman dan makanan

kesehatan”.

Bahan pemanis juga terdiri dari alami dan buatan (sintetis) bahan

pemanis alami adalah menurut peraturan Mentri Kesehatan tahun 2012 yaitu,

Pemanis alami (natural sweetener) adalah pemanis yang dapat ditemukan

dalam bahan alam meskipun prosesnya secara sintetik ataupun fermentasi,

sedangkan pemanis sintesis yaitu, pemanis sintetis (africal sweetener) adalah

pemanis yang diproses secara kimiawi, dan senyawa tersebut tidak terdapat

dialam.

Tabel III. Bahan Pemanis Sintetis Yang Diizinkan Sesuai Peraturan


Nama ADI Jenis Bahan Makanan Batas Maksimal
Pemanis Penggunaan
Sintetis
Aspartame 0-40 - -
mg
Sakarin 0-2,5 Makanan berkalori rendah:
(serta mg a. Permen karet 50 mg/kg (sakarin)
garam b. Permen 100 mg/kg (Na-sakarin)
natrium) c. Saus 300 mg/kg (Na-sakarin)
d. Es lilin 300 mg/kg (Na-sakarin)
e. Jam dan jeli 200 mg/kg (Na-sakarin)
f. Minuman ringan 300 mg/kg (Na-sakarin)
g. Minuman youghurt
300 mg/kg (Na-sakarin)
h. Es krim dan sejenisnya
i. Minuman ringan 200 mg/kg (Na-sakarin)
terfermentasi 50 mg/kg (sakarinn)
Sumber:Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 208/Menkes/Per/IV/1985

7
4. Pengawet

Pengawet makanan merupakan suatu upaya untuk menahan

pertumbuhan mikroorganisme pada bahan makanan. Sebagaimana menurut

Peraturan Menteri Kesehatan Tahun 2012 pengawet adalah bahan tambahan

pangan untuk mencegah atau menghambat fermentasi, pengasaman,

penguraian, dan perusakan lainya terhadap pangan yang disebabkan oleh

mikroorganisme. Zat pengawet terdiri dari senyawa organik dan anorganik

dalam bentuk asam dan garamnya. Aktivitas-aktivitas bahan pengawet

tidaklah sama, misalnya ada yang efektif terhadap bakteri, khamir ataupun

kapang.

Tujuan dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan penggunaan BTP Pada

Pengolahan Makanan Industri Rumah Tangga Di Kecamatan Payakumbuh Barat

Kota Payakumbuh khususnya pewarna, penyedap, pemanis dan pengawet.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif dengan

menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang mengungkapkan mengenai

suatu objek yang akan diteliti secara menyeluruh, luas, dan mendalam. Lokasi

penelitian di pengolahan industri makanan rumah tangga di Kecamatan

Payakumbuh Barat, Kota Payakumbuh. Instrumen dalam penelitian ini adalah

peneliti itu sendiri.

Sumber data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan

teknik snowball sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti

8
observasi, wawancara, dan dokumentasi. untuk menguji keabsahan data hasil

penelitian kualitatif yaitu dengan uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap

data hasil penelitian, uji transferability, uji dependability dan uji confirmability

teknik analisa data terdapat pada gambar I berikut:

Teknik Analisa Data

Pengumpulan Data Penyajian Data

Kesimpulan dan
Reduksi Data
Veritifikasi

Gambar 1. Komponen Analisa Data


Sumber: Sugiyono (2012:247)

C. Hasil dan Pembahasan

1. Hasil Penelitian

a. Pewarna

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, jenis pewarna yang

digunakan pada pengolahan industri rumah tangga di Kecamatan

Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh yaitu produk makanan yang

menggunakan pewarna sintetis maupun alami yaitu, karak kaliang, sanjai

lidi, lento, ganepo, roda gandiang, pewarna alami dari kunyit berjumlah

5 kg dan pewarna sintetis kuning (red bell) berjumlah 1 botol (masa 250

9
gram), merah jumlah penggunaan 5 botol, dan hijau jumlah penggunaan

7 botol.

b. Penyedap

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, jenis dan jumlah bahan

tambahan pangan penyedap yang digunakan pada pengolahan makanan

industri rumah tangga di Kecamatan Payakumbuh Barat Kota

Payakumbuh berdasarkan produk sanjai balado hijau yang terdiri dari 200

kg ubi kayu menggunakan penyedap alami bawang putih 3 kg, garam 3

kg, tepung susu 1 kg, cuka 1 botol dan penyedap sintetis (royco) 250 gram

sedangkan sanjai balado merah menggunakan 4 kg bawang putih, dan 250

gram masako. Sedangkan pada pengolahan lento menggunakan udang

saia 1 kg. Pengolahan karak kaliang menggunakan daun kunyit 1 kg dan

daun ubi sck. Pengolahan sanjai lidi, ganepo dan roda gandiang,

menggunakan penyedap sintetis miwon sebanyak 250 gram, masako 250

gram, perisa jagung 1 kg, cuka 1botol.

c. Pemanis

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, jenis dan jumlah bahan

tambahan pangan pemanis yang digunakan pada pengolahan makanan

industri rumah tangga di Kecamatan Payakumbuh Barat Kota

Payakumbuh. Pengolahan sanjai balado hijau dalam 200 kg ubi kayu

menggunakan gula pasir sebanyak 20 kg dan gula sintetis natrium

siklamat sebanyak ¼ kg, dan babako (glukosa) sebanyak 20 kg, sedangkan

10
sanjai balado merah dalam 100 kg ubi kayu menggunakan 14 kg gula pasir

dan ditambahkan ¼ kg pemanis sintetis sakarine.

d. Pengawet

Berdasarkan hasil pengamatan penulis, jenis bahan tambahan

pangan pemanis yang digunakan pada pengolahan makanan industri

rumah tangga di Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh, tidak

ditemukan informan menggunakan pengawet sintetis. pangan pengawet

yang digunakan pada pengolahan makanan industri rumah tangga di

Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh. Khususnya sanjai

balado hijau dan sanjai balado merah terdiri dari pengawet alami yaitu

seperti cuka dan gula pasir.

2. Pembahasan

a. Pewarna

Jenis pewarna yang digunakan yaitu pewarna kuning jenis food red

7 74005, hijau S Food green 3 green S: CI. Food 44090, hijau FCF food

red 14 fast green FCF:CI 42053. Jumlah penggunaan Pewarna perwarna

sintetis oleh pelaku usaha tidak sesuai anjuran dari Permenkes RI. Pelaku

usaha memakai pewarna sintetis dilihat dari ketajaman warna yang

diinginkan. Padahal jumlah pewarna yang tidak dibatasi penggunaannya

akan menggangu kesehatan. Sebagaimana pendapat dari Nuraini,

(2007:43) mengatakan bahawa: “Penggunaan pewarna sintetis untuk

makanan harus dibatasi jumlahnya karena kan mengganggu kesehatan

11
tubuh, hal ini dikarenakan pada saat proses pembuatannya menggunakan

bahan kimia asam sulfat atau asam sitrat yang sering terkontaminasi arsen

atau logam berat lainya sehingga membahayakan kesehatan”. Dampak

penggunaan pewarna sintetis terhadap kesehatan terjadi apabila

dikonsumsi secara terus menerus. Ataupun dikonsumsi dalam jumlah yang

banyak. Sebagaimana menurut pendapat Azmiyawati, (2007:8)

mengatakan bahwa: “Dampak negatif dari penggunaan pewarna sintetis

apabila bahan tersebut dimakan dalam jumlah kecil, namun berulang,

dimakan dalam jangka waktu lama, digunakan secara berlebihan, dan

penyimpanannya tidak memenuhi persyaratan”. Pewarna sintetis memang

memiliki beberapa keuntungan akan tetapi pewarna sintetis juga

membahayakan kesehatan.

b. Penyedap

Jenis penyedap yang digunakan yaitu penyedap sejenis mono

sodium glutamat (MSG). Sehingga dengan penggunaan MSG kedalam

masakan hasil dari makanan yang didapat akan terasa lebih baik.

Sebagaimana pendapat Azmiyawati, (2007:27) mengatakan bahwa:

“Mekanisme kerja MSG sebagai flavor intensifier yaitu dapat

menyedapkan rasa daging. Karena adanya hidrolis protein dalam mulut,

dapat meningkatkan cita rasa dengan mengurangi rasa yang tidak

diinginkan seperti rasa bawang putih yang tajam, rasa sayuran yang

mentah dan rasa pahit dari sayuran”.

12
c. Pemanis

Pemanis yang digunakan oleh pelaku industri olahan kripik

singkong menggunakan pemanis alami gula pasir, dan dicampur dengan

pemanis sintetis yaitu, natrium siklamat, galaktosa, dan sakarine yang

dijual dipasaran. Jumlah yang digunakan pada pengolahan kripik

singkong khususnya, pada pengolahan sanjai balado merah dan hijau

belum berdasarkan jumlah yang diatur oleh Permenkes RI.

Dampak dari penggunaan bahan pemanis sintetis, yang tidak

berdasarkan jumlah dan takaran yang seharusnya, dapat menyebabkan

kerusakan pada tubuh seperti menurut pendapat Nuraini (2007:38)

menyatakan bahwa: “Kerusakan gigi adalah salah satu efek yang

ditimbulkan oleh rasa manis, efek lain yang ditimbulkan dari konsumsi

gula yang berlebihan adalah kegemukan (obesitas) Selain itu dampak dari

mengkonsumsi pemanis buatan adalah sakit kepala, iritasi, asma,

hipertensi kanker dan lain lain”.

d. Pengawet

Berdasarkan hasil observasi awal, tidak ditemukan pelaku usaha

menggunakan pengawet sintetis. Dikarenakan proses pengolahan kripik

singkong umunya dengan teknik menggoreng dengan menggunakan

minyak banyak. Sehingga kadar air pada singkong sudah menurun dan

kripik singkong kering.

13
Pengawet yang digunakan oleh pelaku industri olahan kripik

singkong, ditemukan kripik balado hijau dan kripik balado merah

menggunakan pengawet alami seperti gula pasir, cuka dan garam. Bahan

ini berfungsi ganda sebagai perasa dan penyedap pada sebuah olahan

kripik singkong.

Sebagai mana pendapat Riandini (2008:26) menyatakan bahwa “

Jenis zat pengawet ada 2 yaitu GRAS (generally regozined as safe), zat ini

aman dan tidak berefek toksik misalnya garam, gula, lada dan asam cuka.

Sedangkan jenis lainnya yaitu ADI (Acceptable Daily Intake), jenis ini

selalu ditetapkan batas penggunaan harianya demi menjaga atau

melindungi kesehatan”. Pengawet makanan yang digunakan oleh pelaku

usaha tersebut aman bagi kesehatan.

D. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Bahan tambahan pangan adalah Bahan tambahan pada olahan pangan

dan bukan merupakan bahan pokok suatu makanan, yang sengaja

ditambahkan kedalam makanan yang mengalami kerusakan akibat proses

pengolahan. Jenis jenis bahan tambahan pangan (BTP) yang digunakan pada

pengolahan makanan industri rumah tangga adalah BTP alami dan sintetis,

dari pewarna, penyedap, pemanis dan pengawet.

Pelaku usaha menggunakan BTP alami seperti, kunyit, cabe merah,

cabe hijau, bawang putih, jahe, susu bubuk, udang saia (rebon), daun kunyit,

14
cuka, dan gula pasir. Sedangkan jenis BTP sintetis yang digunakan, food red

7 74005, hijau S Food green 3 green S: CI. Food 44090, hijau FCF food red

14 fast green FCF:CI 42053, MSG, natrium siklamat, galaktosa, dan sakarine

untuk pengolahan aneka jenis produk sanjai, karak kaliang, sanjai balado

merah, sanjai balado hijau, sanjai lidi, lento, ganepo dan roda gandiang,

sedangkan jumlah atau takaran yang digunakan oleh pelaku usaha belum

berdasarkan jumlah yang ditetapkan oleh Permenkes RI.

2. Saran

Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh, maka dapat

diberikan saran sebagai berikut:

1. Sebaiknya pelaku industri agar menggunakan BTP alami, karena BTP

alami tidak menganggu kesehatan akan tetapi sebagai pengganti herbal

yang sehat dan alami.

2. Gunakan BTP sintetis seperti pewarna, penyedap, pemanis dan pengawet

kedalam olahan pangan secukupnya, berdasarkan aturan dan takaran yang

telah ditetapkan oleh Permenkes RI.

3. Bagi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) perlu sekali

berperan aktif dalam memberikan penyuluhan terhadap masyarakat.

tentang BTP yang aman digunakan dalam pengolahan makanan.

15
4. Kepada masyarakat hendaknya konsumen lebih teliti lagi dalam membeli

olahan pangan, cari lah informasi sebanyak-banyaknya untuk pangan yang

aman dikonsumi dan tidak menggangu kesehatan.

5. Kepada peneliti selanjutnya agar meneliti hygiene dan sanitasi dalam

pengolahan makanan industri rumah tangga di Kecamatan Payakumbuh

Barat Kota Payakumbuh.

E. Daftar Rujukan

Azmiyati, Choiril. 2007. Zat Kimia Berbahaya Dalam Makanan dan Minuman.
Jakarta Selatan:PT Sunda Kelapa Pustaka.

Cahyadi, Wisnu. 2009. Analisis & Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
Jakarta: PT Bumi Aksara.

Depkes, Permenkes RI Nomor 033 Tahun 2012, Bahan Tambahan Pangan.

Depkes, Permenkes RI, No. 722/Menkes/Per/X/1999, Bahan Tambahan Pangan


(Jakarta : Depkes RI. 1999)

__________________, No. 722/Menkes/Per/X/1999, Bahan Tambahan Pangan


(Jakarta : Depkes RI. 1988)

Riandini, Nursanti. Bahan Kimia Dalam Makanan dan Minuman. Bandung:


Shakti Adiluhung.

Persantunan: artikel ini diolah dari skripsi F.Fadhilla dengan Judul Penggunaan
Bahan Tambahan Pangan (BTP) Pada Pengolahan Makanan Industri Rumah Tangga
Di Kecamatan Payakumbuh Barat Kota Payakumbuh dan ucapan terima kasih
kepadapembimbing I Dr.Ir.Anni Faridah, M.Si dan pembimbing II Wiwik Gusnita,
S.Pd, M.Si.

16