Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Berfikir merupakan suatu proses yang berjalan secara berkesenambungan mencakup


interaksi dari suatu rangkaian pikiran dan persepsi. Sedangkan berfikir kritis merupakan
konsep dasar yang terdiri dari konsep berfikir yang berhubungan dengan proses belajar dan
kritis itu sendiri berbagai sudut pandang selain itu juga membahas tentang
komponen berfikir kritis dalam keperawatan yang didalamnya dipelajari defenisi,elemen berfi
kirkritis, model berfikir kritis, analisa berfikir kritis, berfikir logis dan kreatif, krakteristik
berfikir kritis, pemecahan masalah dan langka-langka pemecahan masalah, proses
pengambilan keputusan, fungsi berfikir kritis, model penggunaan atribut, proses intuisi,
indikator, dan prinsip utama .

Bidan sebagai bagian dari pemberi layanan kesehatan, yaitu memberi asuhan
kebidanan dengan menggunakan proses kebidanan akan selalu dituntut untuk berfikir kritis
dalam berbagai situasi. Penerapan berfikir kritis dalam proses kebidanan dengan kasus nyata
yang akan memberikan gambaran kepada bidan tentang pemberian asuhan kebidanan yang
komprehensif dan bermutu. Seseorang yang berfikir dengan cara kreatif akan melihat setiap
masalah dengan sudut yang selalu berbeda meskipun obyeknya sama, sehingga dapat
dikatakan, dengan tersedianya pengetahuan baru, seseorang profesional harus selalu
melakukan sesuatu dan mencari apa yang selalu efektif dan ilmia dan memberikan hasil yang
lebih baik untuk kesejateraan diri maupun orang lain.

Proses berfikir ini dilakukan sepenjang waktu sejalan dengan keterlibatan kita dalam
pengalaman baru dan menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita jadi lebih mampu untuk
membentuk asumsi, ide-ide dan membuat simpulan yang valid. Semua proses tersebut tidak
terlepas dari sebuah proses berfikir dan belajar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi Critical Thinking?
2. Apa saja komponen critical thinking?
3. Apa saja dasar nilai intelektual universal pada critical thinking?
4. Apa saja model dari critical thinking?
5. Bagaimana membentuk pribadi bidan dengan critical thinking?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi critical thinking
2. Mengetahui komponen critical thinking
3. Mengetahui dasar nilai intelektual universal pada critical thinking
4. Mengetahui model dari critical thinking
5. Mengetahui cara membentuk pribadi bidan dengan critical thinking
BAB II
PEMBAHASAN

CRITICAL THINKING

A. DEFINISI CRITICAL THINKING


Terdapat berbagai pengertian berpikir kritis. Beyer (1995) menawarkan
definisi yang paling sederhana: “Berpikir kritis berarti membuat penilaian-penilaian
yang masuk akal”. Beyer memandang berpikir kritis sebagai menggunakan criteria
untuk menilai kualitas sesuatu, dari kegiatan yang paling sederhana seperti kegiatan
normal sehari-hari sampai menyusun kesimpulan dari sebuah tulisan yang digunakan
seseorang untuk mengevaluasi validitas sesuatu (pernyataan-pernyataan, ide-ide,
argumen-argumen, penelitian, dan lain-lain). Facione (2006) menyatakan bahwa
berpikir kritis sebagai pengaturan diri dalam memutuskan (judging) sesuatu yang
menghasilkan interpretasi, analisis, evaluasi, dan inferensi, maupun pemaparan
menggunakan suatu bukti, konsep, metodologi, kriteria, atau pertimbangan
kontekstual yang menjadi dasar dibuatnya keputusan. Berpikir kritis penting sebagai
alat inkuiri. Berpikir kritis merupakan suatu kekuatan serta sumber tenaga dalam
kehidupan bermasyarakat dan personal seseorang.
Filsaime (2008) mengutip beberapa definisi berpikir kritis dari beberapa ahli
berikut. Scriven dan Paul (1996) dan Angelo (1995) memandang berpikir kritis
sebagai proses disiplin cerdas dari konseptualisasi, penerapan, analisis, sintesis, dan
evaluasi aktif dan berketerampilan yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh,
observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai sebuah penuntun
menuju kepercayaan dan aksi. Selain itu, berpikir kritis juga telah didefinisikan
sebagai “berpikir yang memiliki maksud, masuk akal, dan berorientasi tujuan” dan
“kecakapan untuk menganalisis sesuatu informasi dan ide-ide secara hati-hati dan
logis dari berbagai macam perspektif” (Silverman dan Smith, 2002). Secara umum
nampak bahwa berpikir kritis yaitu proses intelektual yang aktif dan penuh dengan
keterampilan dalam membuat pengertian atau konsep, mengaplikasikan, menganalisis,
membuat sistesis, dan mengevaluasi. Semua kegiatan tersebut berdasarkan hasil
observasi, pengalaman, pemikiran, pertimbangan, dan komunikasi, yang akan
membimbing dalam menentukan sikap dan tindakan.
Masih banyak lagi definisi berpikir kritis seperti disalin dari Wahidin (2008)
berikut. Costa (1985) menggambarkan bahwa berpikir kritis adalah: "using basic
thinking processes to analyze arguments and generate insight into particular meanings
and interpretation; also known as directed thinking".
Matindas (1996) 3 menyatakan bahwa: "Berpikir kritis adalah aktivitas mental
yang dilakukan untuk mengevaluasi kebenaran sebuah pernyataan. Umumnya
evaluasi berakhir dengan putusan untuk menerima, menyangkal, atau meragukan
kebenaran pernyataan yang bersangkutan". Matindas juga mengungkapkan bahwa
banyak orang yang tidak terlalu membedakan antara berpikir kritis dan berpikir logis
padahal ada perbedaan besar antara keduanya yakni bahwa berpikir kritis dilakukan
untuk membuat keputusan sedangkan berpikir logis hanya dibutuhkan untuk membuat
kesimpulan. Pada dasarnya pemikiran kritis menyangkut pula pemikiran logis yang
diteruskan dengan pengambilan keputusan.
Dewey mengartikan berpikir kritis sebagai "... essentially problem solving ";
Ennis (dalam Costa, 1985): "the process of reasonably deciding what to believe"; atau
juga dapat didefinisikan sebagai: "... a search for meaning, not the acquisition of
knowledge" (Arends,1977). Ennis (dalam Costa,1985) dalam bentuk working
definition menggambarkan bahwa: "critical thinking is reasonable, reflective thinking
that is focused on deciding what to believe". Gega (1977) menyatakan bahwa orang
yang berpikir kritis adalah ".... who base sugesstion and conclusions on evidence..."
yang ditandai dengan: menggunakan bukti untuk mengukur kebenaran kesimpulan,
menunjukkan pendapat yang kadang kontradiktif dan mau mengubah pendapat jika
ternyata ada bukti kuat yang bertentangan dengan pendapatnya. Senada dengan apa
yang dikemukakan Gega, The Statewide History-social science Assesment Advisory
commitee (USA) mendefinisikan berpikir kritis sebagai " ... those behaviors
associated with deciding what to believe and do". Dari pendapat-pendapat tersebut
dapat dikatakan bahwa berpikir kritis itu melipuri dua langkah besar yakni melakukan
proses berpikir nalar (reasoning) yang diikuti dengan pengambilan keputusan atau
pemecahan masalah (deciding/problem solving). Dengan demikian dapat pula
diartikan bahwa tanpa kemampuan yang memadai dalam hal berpikir nalar (deduktif,
induktif dan reflektif), seseorang tidak dapat melakukan proses berpikir kritis secara
benar.
Definini berpikir kritis yang lain adalah berikut ini.
“Critical thinking is the intellectually disciplined process of actively and
skillfully conceptualizing, applying, synthesizing, and/or evaluating information
gathered from, or generated by, observation, experience, reflection, reasoning, or
communication as a guide to belief and action. In its exemplary form, it is based on
universal intellectual values that trancend subject matter divisions: clarity, accuracy,
precision, consistancy, relevance, sound evidence, good reasons, depth, breadth, and
fairness. It entails the examination of those structures or elements of thought implicit
in all reasoning: purpose, problem, or questionate-issue, assumptions, concepts,
empirical grounding; reasoning leading to conclusions, implication and consequences,
objection from alternative viewpoints, and frame of reference” (Jenicek, 2006).
Pengertian tersebut menunjukkan bahwa berpikir kritis dapat diartikan sebagai proses
juga sebagai suatu kemampuan. Proses dan kemampuan tersebut digunakan untuk
memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang
didapat atau informasi yang dihasilkan. Tidak semua informasi yang diterima dapat
dijadikan pengetahuan yang diyakini kebenarannya untuk dijadikan panduan dalam
tindakan. Demikian halnya dengan informasi yang dihasilkan tidak selalu merupakan
informasi yang benar. Informasi tersebut perlu dilakukan pengkajian melalui berbagai
kriteria seperti kejelasan, ketelitian, ketepatan, reliabilitas, kemamputerapan, bukti-
bukti lain yang mendukung, argumentasi yang digunakan dalam menyusun
kesimpulan, kedalaman, keluasan, serta dipertimbangkan kewajarannya.
Ennis (1985) dalam Goals for a Critical Thinking Curiculum, berpikir kritis
meliputi karakter (disposition) dan keterampilan (ability). Karakter dan keterampilan
merupakan dua hal yang tidak terpisah dalam diri seseorang. Dari perspektif psikologi
perkembangan, karakter dan keterampilan saling menguatkan, karena itu keduanya
harus secara eksplisit diajarkan bersama-sama. Karakter (disposition) tampak dalam
diri seseorang sebagai pemberani, penakut, pantang menyerah, mudah putus asa, dan
lain sebagainya. John Dewey menggambarkan aspek karakter dari berpikir sebagai
“atribut personal”. Suatu karakter (disposisi) manusia merupakan motivasi internal
yang konsisten dalam diri seseorang untuk bertindak, merespon seseorang, peristiwa,
atau situasi biasa. Berbagai pengalaman memperkuat teori karakter (disposisi)
manusia yang ditandai sebagai kecenderungan yang tampak, yang dapat dengan
mudah dideskripsikan, dievaluasi, dan dibandingkan oleh dirinya sendiri dan orang
lain. Mengetahui karakter (disposisi) seseorang memungkinkan kita memperkirakan,
bagaimana seseorang cenderung bertindak atau bereaksi dalam berbagai situasi.
Berbeda dengan karakter, keterampilan dimanifestasikan dalam bentuk perbuatan.
Seseorang dengan keterampilan yang baik cenderung mampu memperlihatkan sedikit
kesalahan dalam mengerjakan tugas-tugas sedangkan orang yang kurang terampil
membuat kesalahan yang lebih banyak bila diberikan sejumlah tugas yang sama.

B. KOMPONEN DARI BERPIKIR KRITIS


Terdapat 5 komponen berpikir kritis, yaitu pengetahuan dasar, pengalaman,
kompetensi berpikir kritis (dengan penekanan pada proses keperawatan), perilaku,
dan standar.
1. Pengetahuan dasar spesifik
Komponen pertama dari model pemikiran kritis adalah pengetahuan dasar spesifik
perawat. Pengetahuan ini bervariasi bergantung pada pengalaman pendidikan,
termasuk pendidikan dasar keperawatan, kursus pendidikan berkelanjutan, dan kuliah
tambahan. Sebagai tambahan, dibutuhkan inisiatif perawat untuk membaca literature
keperawatan sehingga dapat mengikuti perkembangan terakhir dalam ilmu
keperawatan. Sebagai perawat, pengetahuan dasar Anda meliputi informasi dan teori
dari ilmu dasar, rasa kemanusiaan,ilmu perilaku, dan keperawatan.
2. Pengalaman
Keperawatan merupakan sebuah disiplin ilmu yang menerapkan praktik. Pengalaman
belajar klinis diperlukan untuk memenuhi keterampilan membuat keputusan klinis
(Roche, 2002). Pada situasi klinis, anda akan belajar mulai dari mengobservasi,
merasakan, berbicara pada klien keluarga, serta merefleksikannya secara aktif dengan
pengalaman yang telah anda dapat. Pengalaman klinis adalah laboratorium untuk
menguji pengetahuan keperawatan anda. Dengan pengalaman, anda akan mengerti
situasi klinis, mengenali pola kesehatan klien, dan menilai apakah pola tersebut
berhubungan atau tidak dengan kesehatan klien.
3. Kompetensi proses keperawatan
Kataoka-Yohiro dan Saylor (1994) menggambarkan kompetesi berpikir sebagai
proses kognitif yang digunakan perawat untuk membuat penilaian terhadap perawatan
klinis klien. Hal ini meliputi pemikiran kritis umum, pemikiran kritis spesifik pada
keperawatan.
4. Perilaku dalam pemikiran kritis
Komponen keempat dalam model pemikiran kritis adalah perilaku. Terdapat 11
perilaku yang merupakan gambaran utama seorang pemikir kritis (Paul, 1993) yaitu
percaya diri, berpikir independen, keadilan, tanggung jawab dari otoritas, mau
mengambil resiko, disiplin, persisten, kreatif, rasa ingin tahu, integritas, dan rendah
hati. Perilaku tersebut menggambarkan bagaimana pendekatan seorang pemikir kritis
yang berhasil dalam menyelesaikan sebuah masalah.
5. Standar untuk berpikir kritis
Komponen kelima dari model pemikiran kritis meliputi standar intelektual dan
standar professional (Kataoka-Yahiro)
a. Standar intelektual
Standar intelektual merupakan petunjuk atau prinsip untuk berpikir rasional.
Paul (1993) menemukan 14 standar intelektual yang diperlukan dalam berpikir kritis
yaitu jelas, tepat, spesifik, akurat, relavan, beralasan, konsisten, logis, dalam, luas,
lengkap, signifikan, tercukupi, dan adil.
b. Standar professional
Standar professional untuk pemikiran kritis merujuk pada criteria etik untuk
penilaian keperawatan, criteria berdasarkan bukti untuk evaluasi dan criteria untuk
tanggung jawab professional (Paul, 1993). Penerapan standar professional
memerlukan penggunaan pemikiran kritis baik secara individual maupun kelompok
(Kataoka-Yahiro dan Saylor 1994). Standar professional meningkatkan kualitas
perawatan klien.

Menurut Kowiyah, ada 6 unsur indikator kemampuan berpikir kritis adalah:


1) Menginterpretasikan, yaitu mengkategorikan dan mengklasifikasi.
2) Menganalisis, menguji dan mengidentifikasi.
3) Mengevaluasi, yaitu mempertimbangkan dan menyimpulkan.
4) Menarik kesimpulan, yaitu menyaksikan data dan menjelaskan kesimpulan.
5) Penjelasan, yaitu menuliskan hasil dan menghadirkan argumen.
6) Kemandirian, yaitu melakukan koreksi dan melakukan pengujian.
Karakter individu yang mendukung agar seseorang dapat berpikir kritis seperti yang
dikutip oleh Duldt-Battey antara lain:
a. Truth seeking,
Selalu ingin menemukan kebenaran dari masalah yang sedang dihadapi, berani
mengajukan pertanyaan, jujur dan memberikan pandangan secara objektif meskipun
penemuan tersebut tidak mendukung kepentingan atau pendapatnya.
b. Open-mindness,
Bertenggang rasa terhadap perbedaan pandangan dan bisa menerima jika dirinya
mengetahui adanya penyimpangan dari pandangannya.
c. Analyticity,
Selalu memberikan alasan melalui bukti-bukti dalam memecahkan masalah, serta
memberikan perkiraan kemungkinan adanya penyulit dalam menerapkan konsep dan
secara konsisten siap untuk berpartisipasi jika dibutuhkan.
d. systematicity,
Teratur, terorganisir, memusatkan perhatian, dan rajin meninjau ulang.
e. self-confidence,
Percaya diri terhadap keputusannya secara positif dan mempengaruhi orang lain untuk
memecahkan masalah secara rasional.
f. Inquisitiveness/ sceptical
Tidak mudah percaya secara intelektual dan mempunyai kemauan untuk belajar.
g. Maturity
Melihat masalah, mengkaji, dan mengambil keputusan dengan pemahaman yang
mendalam bahwa suatu masalah memungkinkan untuk dapat ditangani dengan lebih
dari 1 solusi yang rasional, dan berkali-kali melakukan pertimbangan sesuai standar,
konteks, serta melihat bukti-bukti sebelum memastikan.

C. DASAR NILAI INTELEKTUAL UNIVERSAL PADA CRITICAL THINKING


Universal intelectual standars adalah standardisasi yang harus diaplikasikan
dalam berpikir yang digunakan untuk mengecek kualitas pemikiran dalam
merumuskan permasalahan, isu-isu, atau situasi-situasi tertentu. Berpikir kritis harus
selalu mengacu dan berdasar kepada standar tersebut. Berikut ini akan dijelaskan
aspek-aspek tersebut.
a. Kejelasan (Clarity)
Mampu mengelaborasi masalah, mampu dengan cepat menemukan jalan
keluarnya, mampu memberikan ilustrasi, mampu memberikan contoh.
Kejelasan merujuk kepada pertanyaan: "Dapatkah permasalahan yang rumit
dirinci sampai tuntas?"; "Dapatkah dijelaskan permasalahan itu dengan cara yang
lain?"; "Berikanlah ilustrasi dan contoh-contoh!". Kejelasan merupakan pondasi
standardisasi. Jika pernyataan tidak jelas, kita tidak dapat membedakan apakah
sesuatu itu akurat atau relevan. Apabila terdapat pernyataan yang demikian, maka
kita tidak akan dapat berbicara apapun, sebab kita tidak memahami pernyataan
tersebut. Contoh, pertanyaan berikut tidak jelas: "Apa yang harus dikerjakan
pendidik dalam sistem pendidikan di Indonesia?" Agar pertanyaan itu menjadi
jelas, maka kita harus memahami betul apa yang dipikirkan dalam masalah itu.
Agar menjadi jelas, pertanyaan itu harus diubah menjadi, "Apa yang harus
dikerjakan oleh pendidik untuk memastikan bahwa siswanya benar-benar telah
mempelajari berbagai keterampilan dan kemampuan untuk membantu berbagai
hal agar mereka berhasil dalam pekerjaannya dan mampu membuat keputusan
dalam kehidupan sehari-hari?".
b. Keakuratan (Accuracy)
Accuracy (keakuratan, ketelitian, kesaksamaan) Ketelitian atau kesaksamaan
sebuah pernyataan dapat ditelusuri melalui pertanyaan: "Apakah pernyataan itu
kebenarannya dapat dipertanggungjawab-kan?"; "Bagaimana cara mengecek
kebenarannya?"; "Bagaimana menemukan kebenaran tersebut?" Pernyataan dapat
saja jelas, tetapi tidak akurat, seperti dalam penyataan berikut, "Pada umumnya
anjing berbobot lebih dari 300 pon".
c. Ketepatan (Precision)
Mampu memberikan informasi yang detail, mampu memberkan informasi yang
lebih spesifik. Ketepatan mengacu kepada perincian data-data pendukung yang
sangat mendetail. Pertanyaan ini dapat dijadikan panduan untuk mengecek
ketepatan sebuah pernyataan. "Apakah pernyataan yang diungkapkan sudah
sangat terurai?"; "Apakah pernyataan itu telah cukup spesifik?". Sebuah
pernyataan dapat saja mempunyai kejelasan dan ketelitian, tetapi tidak tepat,
misalnya "Aming sangat berat" (kita tidak mengetahui berapa berat Aming,
apakah satu pon atau 500 pon!)
d. Relevansi (Relevance)
Relevansi bermakna bahwa pernyataan atau jawaban yang dikemukakan
berhubungan dengan pertanyaan yang diajukan. Penelusuran keterkaitan dapat
diungkap dengan mengajukan pertanyaan berikut: "Bagaimana menghubungkan
pernyataan atau respon dengan pertanyaan?"; "Bagaimana hal yang diungkapkan
itu menunjang permasalahan?". Permasalahan dapat saja jelas, teliti, dan tepat,
tetapi tidak relevan dengan permasalahan. Contohnya: siswa sering berpikir, usaha
apa yang harus dilakukan dalam belajar untuk meningkatkan kemampuannya.
Bagaimana pun usaha tidak dapat mengukur kualitas belajar siswa dan kapan hal
tersebut terjadi, usaha tidak relevan dengan ketepatan mereka dalam
meningkatkan kemampuannya.
e. Bermakna (Significance)
Informasi apa yang dibutuhkan lebih signifikan dalam isu tersebut ?
Bagaimana menentukan faktor yang pentingdalam suatu konteks ?
Pertanyaan yang mana yang lebih signifikan ?
Mana yang lebih penting dan signifikan dalamide atau konsep ?
f. Alasan yang logis (Logicalness)
Logika terkait dengan hal-hal berikut: Apakah pengertian telah disusun dengan
konsep yang benar?; Apakah pernyataan yang diungkapkan mempunyai tindak
lanjutnya? Bagaimana tindak lanjutnya? Sebelum apa yang dikatakan dan
sesudahnya, bagaimana kedua hal tersebut benar adanya? Ketika kita berpikir, kita
akan dibawa kepada bermacam-macam pemikiran satu sama lain. Ketika kita
berpikir dengan berbagai kombinasi, satu sama lain saling menunjang dan
mendukung perumusan pernyataan dengan benar, maka kita berpikir logis. Ketika
berpikir dengan berbagai kombinasi dan satu sama lain tidak saling mendukung
atau bertolak belakang, maka hal tersebut tidak logis.
g. Kedalaman (Depth)
Makna kedalaman diartikan sebagai jawaban yang dirumuskan tertuju kepada
pertanyaan dengan kompleks, Apakah permasalahan dalam pertanyaan diuraikan
sedemikian rupa? Apakah telah dihubungkan dengan faktor-faktor yang signifikan
terhadap pemecahan masalah? Sebuah pernyataan dapat saja memenuhi
persyaratan kejelasan, ketelitian, ketepatan, relevansi, tetapi jawaban sangat
dangkal (kebalikan dari dalam). Misalnya terdapat ungkapan, "Katakan tidak".
Ungkapan tersebut biasa digunakan para remaja dalam rangka penolakan terhadap
obat-obatan terlarang (narkoba). Pernyataan tersebut cukup jelas, akurat, tepat,
relevan, tetapi sangat dangkal, sebab ungkapan tersebut dapat ditafsirkan dengan
bermacam-macam.
h. Keluasan (Breadth)
Keluasan sebuah pernyataan dapat ditelusuri dengan pertanyaan berikut ini.
Apakah pernyataan itu telah ditinjau dari berbagai sudut pandang?; Apakah
memerlukan tinjauan atau teori lain dalam merespon pernyataan yang
dirumuskan?; Menurut pandangan..; Seperti apakah pernyataan tersebut menurut...
Pernyataan yang diungkapkan dapat memenuhi persyaratan kejelasan, ketelitian,
ketepatan, relevansi, kedalaman, tetapi tidak cukup luas. Seperti halnya kita
mengajukan sebuah pendapat atau argumen menurut pandangan seseorang tetapi
hanya menyinggung salah satu saja dalam pertanyaan yang diajukan.
i. Keadilan (Fairness)
Ketika mahasiswa berpikir terhadap problemdan berpikir membenarkan suatu
problemharus wajar dalam konteks memberikan alasandengan menggunakan
standar intelektual.Dibutuhkan suatu informasi relevan dansignifikan, akan
menjadi tidak wajar dan tidak benar bila menghadapi suatu problem berdasarkan
assumsi.

D. MODEL CRITICAL THINKING


Model Berpikir Kritis Dalam Keperawatan
Dalam penerapan pembelajaran pemikiran kritis di pendidikan keperawatan, dapat
digunakan tiga model, yaitu: feeling, vision model, dan examine model yaitu sebagai
berikut:
1. Feling Model
Model ini menerapkan pada rasa, kesan, dan data atau fakta yang ditemukan. Pemikir
kritis mencoba mengedepankan perasaan dalam melakukan pengamatan, kepekaan
dalam melakukan aktifitas keperawatan dan perhatian. Misalnya terhadap aktifitas
dalam pemeriksaan tanda vital, perawat merasakan gejala, petunjuk dan perhatian
kepada pernyataan serta pikiran klien.

2. Vision model
Model ini dingunakan untuk membangkitkan pola pikir, mengorganisasi dan
menerjemahkan perasaan untuk merumuskan hipotesis, analisis, dugaan dan ide
tentang permasalahan perawatan kesehatan klien, beberapa kritis ini digunakan untuk
mencari prinsip-prinsip pengertian dan peran sebagai pedoman yang tepat untuk
merespon ekspresi.

3. Exsamine model
Model ini dungunakan untuk merefleksi ide, pengertian dan visi. Perawat menguji ide
dengan bantuan kriteria yang relevan. Model ini digunakan untuk mencari peran yang
tepat untuk analisis, mencari, meguji, melihat konfirmasi, kolaborasi, menjelaskan
dan menentukan sesuatu yang berkaitan dengan ide.

Ada empat alasan berpikir kritis yaitu: deduktif, induktif, aktifitas informal,
aktivitas tiap hari, dan praktek. Untuk menjelaskan lebih mendalam tentang defenisi
tersebut, alasan berpikir kritis adalah untuk mengenalisis penggunaan bahasa,
perumusan masalah, penjelasan, dan ketegasan asumsi, kuatnya bukti-bukti,menilai
kesimpulan, membedakan antara baik dan buruknya argumen serta mencari kebenaran
fakta dan nilai dari hasil yang diyakini benar serta tindakan yang dilakukan.

Banyak klasifikasi berpikir yang ditemukan di literature. Menurut Costa and


Colleagues klasifikasi berpikir dikenal sebagai “The Six Rs” yaitu :
a. Remembering (Mengingat)
b. Repeating (Mengulang)
c. Reasoning (Memberi Alasan/rasional)
d. Reorganizing (Reorganisasi)
e. Relating (Berhubungan)
f. Reflecting (Memantulkan/merenungkan)

Lima Model Berfikir Kritis

Meskipun The Six Rs sangat berguna namun tidak semuanya cocok dengan dalam
keperawatan. Kemudian Perkumpulan Keperawatan mencoba mengembangkan gambaran
berpikir dan mengklasifikasikan menjadi 5 model disebut T.H.I.N.K. yaitu: Total Recall,
Habits, Inquiry, New Ideas and Creativity, Knowing How You Think.
Sebelum mempelajari lebih jauh tentang Model T.H.I.N.K., kita perlu untuk
mempelajari asumsi yang menggaris bawahi pendekatan lima model tersebut. Asumsi
berpikir kritis adalah komponen dasar yang meliputi pikiran, perasaan dan berkerja bersama
dengan keperawatan. Ada beberapa asumsi tentang berpikir kritis, yaitu sebagai berikut.

Asumsi pertama adalah berpikir, merasa, dan keahlian mengerjakan seluruh komponen
esensial dalam keperawatan dengan bekerja sama dan saling berhubungan. Berfikir kritis
melibatkan pikiran, perasaan, dan bekerja yang ketiganya merupakan keseluruhan komponen
penting bagi perawat profesional yang berkerja bersama-sama berpikir tanpa bekerja adalah
sia-sia, bekerja tanpa perasaan adalah hal yang sangat tidak mungkin, pengenalan nilai-nilai
keterkaitan antara pikiran, perasaan, dan berkerja merupakan tahap penting dalam memulai
praktik profesional.

Berpikir tanpa mengerjakan adalah suatu kesia-siaan. Mengerjakan sesuatu tanpa


berpikir adalah membahayakan. Dan berpikir atau mengerjakan sesuatu tanpa perasaan
adalah sesuatu yang tidak mungkin. Perasaan, diketahui sebagai status afektive yang
mempengaruhi berpikir dan mengerjakan dan harus dipertimbangkan saat belajar berpikir dan
menyimpulkan sesuatu. Pengakuan atas 3 hal (Thinking, Feeling, and Doing) mengawali
langkah praktek profesional ke depan.

Asumsi yang kedua mengakui bahwa berpikir, merasakan, dan mengerjakan tidak
bisa dipisahkan dari kenyataan praktek keperawatan. Hal ini dapat dipelajari dengan
mendiskusikan secara terpisah mengenai ketiga hal tersebut. Meliputi belajar
mengidentifikasi, menilai dan mempercepat kekuatan perkembangan dalam berpikir, merasa
dan mengerjakan sesuai praktek keperawatan.

Berpikir kritis memerlukan pengetahuan, walaupun pikiran, perasaan, dan bekerja


adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam keadaan nyata pada praktek
keperawatan, tetapi dapat dipisahkan menjadi bagian-bagian untuk proses pembelajaran.

Asumsi yang ketiga bahwa perawat dan perawat pelajar bukan papan kosong, mereka dalam
dunia keperawatan dengan berbagai macam keahlian berpikir. Model yang membuat berpikir
kritis dalam keperawatan meningkat. Oleh karena itu bukan merupakan suatu kesungguhan
yang asing jika mereka menggunakan model sama yang digunakan setiap hari. Berpikir kritis
dalam keperawatan bukan sesuatu yang asing, karena sebenarnya terjadi dalam kehidupan
sehari-hari.

Asumsi yang keempat yang mempertinggi berpikir adalah sengaja berbuat sesuai dengan
pikiran dan yang sudah dipelajari. Berpikir kritis dapat dipelajari melalui bacaan. Para
pembaca dapat belajar bagaimana cara meningkatkan kemampuan berpikirnya.

Asumsi yang kelima bahwa pelajar dan perawat menemukan kesulitan untuk mengambarkan
keahlian mereka berpikir. Sebagian orang jarang bertanya “bagaimana pelajar dan perawat
berpikir”, selalu yang ditanyakan adalah “apa yang kamu pikirkan”. Berpikir kritis adalah
cara berpikir secara sistematis dan efektif.

Asumsi yang keenam bahwa berpikir kritis dalam keperawatan merupakan gabungan dari
beberapa aktivitas berpikir yang bersatu dalam konteks situasi dimana berpikir dituangkan.
Berpikir kritis dalam keperawatan adalah campuran dari beberapa aktifitas berpikir yang
berhubungan dengan konteks dan situasi dimana proses berpikir itu terjadi.

5 model T H I N K

1. Total Recall (T)

Total Recall berarti mengingat fakta atau mengingat dimana dan bagaimana untuk
mendapatkan fakta/data ketika diperlukan. Data keperawatan bisa dikumpulkan dari banyak
sumber, yaitu pembelajaran di dalam kelas, informasi dari buku, segala sesuatu yang perawat
peroleh dari klien atau orang lain, data klien dikumpulkan dari perasaan klien, instrument
(darah, urine, feses, dll), dsb.

Total recall juga membutuhkan kemampuan untuk mengakses pengetahuan, dengan


adanya pengetahuan akan menjadikan sesuatu dipelajari dan dipertahankan dalam pikiran.
Masing-masing individu mempunyai pengetahuan yang berbeda-beda dalam pikiran mereka.
Ada sekelompok yang mempunyai pengetahuan sangat luas dan ada yang sebaliknya.
Keperawatan diawali dengan pengetahuan yang minimal tetapi kemudian secara pesat meluas
seiring dengan adanya sekolah-sekolah keperawatan.

Contoh pertanyaan Total Recall:

a. Berapa nomor telepon STIKIM?


b. Dimana alamat STIKIM?
c. Berapa Hemoglobin Tn A 2 jam post operasi?
d. Berapa Trombosit Tn. B dengan DHF?

Yang perlu dipelajari :

a. Bagaimana menjawab pertanyaan tersebut dengan tepat dan cepat?


b. Bagaimana data tersebut dapat kita ungkapkan setiap saat?
c. Berapa banyak data yang bisa kita simpan?
d. Bagaimana rumus/kunci menghafal untuk meningkatkan memori?

2. Habit/Kebiasaan (H)
Habits merupakan pendekatan berpikir ditinjau dari tindakan yang diulang
berkali-kali sehingga menjadi kebiasaan yang alami. Mereka menerima apa yang
mereka kerjakan menghemat waktu dan mudah untuk dilakukan. Manusia selalu
menggambarkan sesuatu yang mereka kerjakan sebagai kebiasaan seperti “saya
mengerjakan sesuatu di luar pikiran”. Hal ini bukan kebiasaan dalam keperawatan
karena tindakan yang dilakukan tidak menggunakan proses berpikir. Hal ini terjadi
jika proses berpikir sudah berakar dalam diri mereka dalam melihat sesuatu atau
kemungkinan yang terjadi, di bawah sadar.
Habits mengikuti sesuatu yang dikerjakan diluar metode baru setiap waktu.
Contoh : pernahkah kita mengendarai kendaraan dan apakah pernah kita ingat
pepohonan yang pernah kita lewati? Yang kita pikirkan dan harapkan adalah supaya
kita terhindar dari kecelakaan.
Cardipulmonary Resuscitation (CPR) adalah suatu kebiasaan yang sangat
penting dalam keperawatan. Ketika seseorang menjelang ajal, sebuah solusi yang
cepat yang dibutuhkan disini adalah melakukan pijat jantung (CPR), memberikan
injeksi, mempertahankan suhu tubuh, memasang kateter, dan aktivitas lainnya. Hal
tersebut merupakan suatu kebiasaan yang alami terjadi dan dilakukan oleh perawat.
Yang perlu dipelajari :
a. Bagaimana sesuatu menjadi sesuatu kebiasaan?
b. Mengapa suatu aktivitas berguna?
c. Cara apa yang terbaik untuk mengembangkan kebiasaan?
3. Inquiry/Penyelidikan/menanyakan keterangan (I)
Inquiry merupakan latihan mempelajari suatu masalah secara mendalam dan
mengajukan pertanyaan yang mendekati kenyataan. Jika kita berada di tingkat
pertanyaan ini dalam situasi social, kita akan disebut “Mendesak”. Hal ini meliputi
penggalian data dan pertanyaan, khususnya pendapat dalam situasi tertentu. Ini berarti
tidak menilai dari raut wajah, mencari factor-faktor yang menyebabkan, keragu-
raguan pada kesan pertama, dan mengecek segalanya, tidak ada masalah bagaimana
memperlihatkan ketidaksesuaian.
Inquiry merupakan kebutuhan primer dalam berpikir yang digunakan untuk
menyimpulkan sesuatu. Kesimpulan tidak dapat diambil jika tanpa inquiry, tetapi
kesimpulan akan lebih akurat jika menggunakan inquiry.
Inquiry bisa diwujudkan melalui :
a. Melihat sesuatu (menerima informasi)
b. Mendapatkan kesimpulan awal
c. Mengakui keterbatasan pengetahuan yang dimiliki
d. Mengumpulkan data atau informasi mendekati masalah utama
e. Membandingkan informasi baru dengan yang sudah diketahui
f. Menggunakan pertanyaan netral
g. Menemukan satu atau lebih kesimpulan
h. Memvalidasi kesimpulan utama dan alternative untuk mendapatkan informasi
lebih banyak lagi.
Contoh :
Pukul 3 pagi, perawat melihat lampu kamar Tn. X masih menyala. Kemudian
perawat mendekati pasien dan menanyakan “Selamat pagi Tn.X, saya melihat
lampu kamar anda masih menyala, apa yang anda lakukan? ada yang bisa saya
bantu?” Tn. X tersenyum dan menjawab “saya baik-baik saja.” Perawat
mengobservasi dan menemukan tissue di lantai dan melihat bahwa mata Tn.X
merah dan bengkak.
Dari kasus tersebut bisa kita dapatkan kesimpulan sementara (sedikitnya 4
kesimpulan), yaitu :
a. Klien baik-baik saja, memang normal klien bangun pada jam tersebut dan
mata klien merah mungkin karena klien menggosok matanya akibat alergi
b. Klien baik-baik saja tetapi tidak bisa tidur siang sebentar karena rasa bosan.
Sehingga mata terlihat merah dan bengkak
c. Klien tidak dalam keadaan baik tetapi tidak ingin berbicara kepada siapapun
tentang masalahnya
d. Klien dalam keadaan tidak baik tetapi tidak tahu bagaimana untuk minta
bantuan kepada orang lain

Disini peran perawat adalah memvalidasi : “Anda bicara kalau anda baik-baik
saja, tetapi saya melihat mata anda merah dan bengkak” Kemudian
bandingkan dengan informasi yang diperoleh teman kita.
Yang perlu dipelajari :
Apakah kita mendapat jawaban yang sebenarnya dari pertanyaan kita?
Kapan kita membandingkan jawaban yang kita peroleh dengan jawaban teman
kita apakah ada perbedaan?
4. New Ideas and Creativity (N)
Ide baru dan kreativitas terdiri dari model berpikir unik dan bervariasi yang
khusus bagi individu. Kekhususan dalam berpikir ini akan selalu dibawa individu
selama hidupnya dan biasanya membentuk kembali norma. Seperti Inquiry, model ini
membawa kita sesuai ide dari literature. Berpikir kreatif merupakan kebalikan dan
akhir dari Habits Model (kebiasaan). Dari kalimat “melakukan sesuatu seperti
biasanya” menjadi “Mari mencoba cara baru”. Berpikir kreatif tidak untuk menjadi
pengecut, tetapi salah satu kadang-kadang akan terlihat bodoh dan tidak sesuai dengan
ketentuan yang ada. Pemikir kreatif menghargai kesalahan yang mereka lakukan
untuk mempelajari nilai.
Ide baru dan kreativitas sangat penting dalam keperawatan karena merupakan
dasar dalam merawat pelanggan atau klien. Banyak hal yang harus dipelajari perawat
untuk menjadi cocok, terpadu, dan bekerja menyesuaikan keunikan klien. Perawat
mempunyai standart pendekatan untuk menghemat waktu perawatan dan secara
keseluruhan bekerja dengan baik, tetapi cara kerja perawat berbeda satu sama lain.
Contoh : Yudi yang tinggal di rumah perawatan menghabiskan sisa harinya di
atas kursi roda, keluar-masuk ke ruangan yang sama tiap harinya. Dia tidak pernah
berkata kepada seorangpun meskipun perawat mengulangi kata-kata yang sama dan
sudah memahami cara berkomunikasi.
Ketika dalam komunikasi kita berpikir, kebanyakan orang berpikiran bahwa
berbicara kepada orang lain merupakan cara standar untuk membesarkan hati melalui
komunikasi. Jadi hal tersebut yang sebagian perawat lakukan, kecuali Ella (contoh).
Suatu hari Ella berlutut di depan kursi roda Yudi dan merangkulnya. Memandang
Yudi dan dengan senyum yang lebar mengajaknya bernyanyi. Apa yang terjadi? Yudi
menyanyi. Tidak hanya menyanyi tetapi juga mempunyai suara seperti penyanyi
bangsa Irlandia.
Sekarang apa yang dapat kita pikirkan dari cerita tersebut? Kebanyakan
perawat memahami komunikasi terapeutik yang mereka pelajari dari buku.
Pendekatan verbal untuk komunikasi terapeutik bisa dilakukan dengan kebanyakan
klien. Ella, meskipun mengembangkan komunikasi dengan cara sentuhan dan
menyanyi hal tersebut kreativitas yang dimiliki yang tidak disebutkan dalam
literature.
Yang perlu dipelajari :
a. Bagaimana perasaan anda jika mempunyai ide baru atau kreativitas baru?
b. Berapa lama dalam sehari anda berkreativitas?
c. Berapa lama dalam seminggu?
d. Apa yang membuat berbahaya dari bertindak kreatif?

E. Knowing How You Think/Mengetahui apa yang kamu fikirkan? (K)


Knowing How You Think merupakan yang terakhir tetapi bukannya yang
paling tidak dihiraukan dari model T.H.I.N.K. yang berarti berpikir tentang apa yang
kita pikirkan. Berpikir tentang berpikir disebut “metacognition”. Meta berarti
“diantara atau pertengahan” dan cognition berarti “Proses mengetahui”. Jika kita
berada di antara proses mengetahui, kita akan dapat mengetahui bagaimana kita
berpikir.
Yang perlu dipelajari :
a. Apakah hal ini sulit dilakukan? (untuk semua orang)
b. Mengapa hal ini sulit untuk dikerjakan?
c. Satu alasan mengapa hal ini sulit dilakukan adalah karena ada kosakata special
dari akhir analisis yang perlu menggambarkan BAGAIMANA berpikir.

F. CARA MEMBENTUK PRIBADI BIDAN DENGAN CRITICAL THINKING


Asuhan kebidanan merupakan penerapan fungsi dan kegiatan yang menjadi
tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada klien yang mempunyai
kebutuhan ataupun masalah dalam bidang kesehatan ibu hamil, masa persalinan,
masa nifas, bayi setelah lahir serta keluarga berencana.
Definisi lain menjelaskan bahwa asuhan kebidanan adalah bantuan yang
diberikan oleh bidan kepada individu atau klien yang pelaksanaannya dilakukan
secara bertahap dan sistematis, melalui suatu proses yang disebut manajemen
kebidanan.
Manajemen kebidanan (Varney, 1997) merupakan suatu proses pemecahan
masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan
tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan keterampilan dalam
rangkaian atau tahapan yang logis, dan berfokus pada klien. Langkah-langkah dari
asuhan kebidanan yaitu:
a) Pengumpulan data dasar;
b) interpretasi data untuk mengidentifikasi diagnosa atau masalah;
c) identifikasi diagnosa atau masalah potensial dan mengantisipasi
penanganannya;
d) menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, konsultasi, kolaborasi
dengan tenaga kesehatan lain serta rujukan berdasakan kondisi klien;
e) menyusun rencana asuhan secara menyeluruh dengan tepat dan rasional
berdasarkan keputusan yang dibuat pada langkah- langkah sebelumnya;
f) pelaksanaan langsung asuhan secara efesien dan aman;
g) mengevaluasi keefektifan asuhan yang dilakukan, dan mengulang kembali
manajemen proses untuk aspek-aspek asuhan yang tidak efektif.

Asuhan kebidanan pada ibu hamil adalah asuhan yang diberikan bidan pada ibu hamil
untuk mengetahui kesehatan ibu dan janin serta untuk mencegah dan menangani secara dini
kegawatdaruratan yang terjadi pada saat kehamilan, yang pelaksanaannya dilakukan
berdasarkan manajemen kebidanan.

Dalam proses pemberian asuhan, bidan diharapkan mampu menentukan kebutuhan


akan pengumpulan data dasar berdasarkan keluhan klien, dan mampu menginterpretasikan
data-data tersebut dengan tepat sehingga diagnosis yang ditetapkan sesuai dengan keadaan
klien. Kemudian dalam menatalaksana kasus, asuhan-asuhan yang diberikan bidan harus
sesuai dengan bukti ilmiah yang terpercaya. Dalam proses ini, dibutuhkan keahlian bidan
dalam berfikir kritis. Di bawah ini dijelaskan lebih rinci tentang keterkaitan antara proses
berfikir kritis (critical thinking), penilaian klinis (clinical judgment) dan asuhan berdasarkan
bukti (evidence based).
1. Critical Thinking (Berfikir Kritis) dalam Asuhan Kebidanan
Berpikir kritis adalah cara berpikir tentang subjek, konten, atau masalah yang
dilakukan oleh pemikir secara aktif dan terampil secara konseptual dan memaksakan
standar yang tinggi atas intelektualitas mereka. Dapat juga diartikan sebagai proses
berfikir secara aktif dalam menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi
informasi yang dikumpulkan dan atau dihasilkan melalui observasi, pengalaman,
refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai acuan dalam meyakini suatu konsep dan
atau dalam melakukan tindakan. Dalam pelaksanaannya, hal ini didasarkan pada nilai-
nilai universal intelektual yang melampaui cabang suatu ilmu yang meliputi:
kejelasan, akurasi, presisi, konsistensi, relevansi, bukti suara, alasan yang baik,
kedalaman, luasnya ilmu, dan keadilan.
Dengan adanya proses berfikir kritis diharapkan dapat:
a. Menimbulkan pertanyaan penting terkait topik/masalah yang sedang difikirkan,
kemudian dapat merumuskan masalah dengan jelas dan tepat
b. Mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan, menggunakan ide-ide
abstrak untuk menafsirkan secara efektif terkait kesimpulan yang beralasan dan
solusi pemecahan masalah, menguji alternatif pemecahan masalah terhadap
kriteria dan standar yang relevan
c. Berpikir terbuka dalam sistem pemikiran alternatif, mampu mengakui dan menilai
setiap permasalahan dengan asumsi yang beralasan, dapat menimbulkan
implikasi, dan konsekuensi praktis
d. Berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam mencari tahu solusi untuk
masalah yang kompleks.

Proses berfikir kritis memerlukan komunikasi yang efektif dan kemampuan


pemecahan masalah serta komitmen untuk mengatasi sikap egois dan tertutup,
dengan prosedur:

a. Mengenali masalah untuk menemukan cara-cara yang bisa diterapkan guna


memecahkan masalah tersebut
b. Memahami pentingnya prioritas dan urutan prioritas dalam pemecahan masalah
c. Mengumpulkan dan menyusun informasi yang terkait (relevan)
d. Mengenali asumsi yang tak tertulis dan nilai-nilai
e. Memahami dan menggunakan bahasa dengan akurat, jelas, dan tajam
f. Menafsirkan data untuk menilai bukti dan mengevaluasi argument/ pendapat
g. Menyadari keberadaan hubungan logis antara proposisi
h. Menarik kesimpulan dan generalisasi yang dibenarkan
i. Menguji kesimpulan dan generalisasi masalah
j. Merekonstruksi pola yang telah diyakini atas dasar pengalaman yang lebih luas
k. Memberikan penilaian yang akurat tentang hal-hal tertentu dan kualitas dalam
kehidupan sehari-hari.

Singkatnya, tiga kunci utama untuk dapat berfikir kritis: RED (Recognize
assumptions, Evaluate arguments dan Draw conclusions) = mengenali masalah, menilai
beberapa pendapat, dan menarik kesimpulan. Dalam menyimpulkan hasil pemikiran kritis,
diperlukan upaya gigih untuk memeriksa setiap keyakinan atau pemahaman akan
pengetahuan berdasarkan dukungan bukti ilmiah (evidence based) yang mendukung
kecenderungan pengambilan kesimpulan tersebut.

Proses berfikir kritis merupakan kerangka dasar bidan dalam memberikan asuhan
kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan. Sehingga, apabila bidan memberikan
asuhan kebidanan kepada klien dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen kebidanan
dengan sistematis dan terpola, maka bidan tersebut telah menerapkan proses berfikir kritis.
Penerapan dalam asuhan kebidanan ibu hamil adalah dengan melaksanakan antenatal care
sesuai dengan program yang telah disepakati sebagai upaya pencegahan dan penanganan
secara dini penyulit dan kegawatdaruratan yang mungkin terjadi pada saat kehamilan, dengan
menerapkan manajemen kebidanan, sehingga diharapkan proses kehamilan dapat berjalan
dengan baik, ibu dapat melahirkan bayinya dengan sehat dan selamat.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berpikir kritis adalah suatu aktifitas kognitif yang berkaitab dengan


penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan
proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan
menilai/memutuskan.
Kemampuan dalam berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam
berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu
dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir
kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah / pencarian solusi, dan
pengelolaan proyek.
Pengembangan kemampuan berpikir kritis merupakan integrasi beberapa bagian
pengembangan kemampuan, seperti pengamatan (observasi), analisis,
penalaran, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi. Semakin baik
pengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka kita akan semakin dapat
mengatasi masalah-masalah/proyek komplek dan dengan hasil yang memuaskan.

B. Kritik & Saran

Kami merasa pada makalah ini kami banyak kekurangan, karena kurangnya
referensidan pengetahuan pada saat pembuatan makalah ini, kami sebagai penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun pada pembaca agar kami dapat membuat
makalah yang lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Troy E. Smith⁎ , Paul S. Rama, Joel R. Helms.2018.Teaching critical thinking in a


GE class: A flipped model. Brigham Young University at Hawaii, United States

Wikipedia (2009). Critical thinking. www.en.wikipedia.org/wiki/Critical_thinking

Dr. Bhisma Murti, MPH, MSc, PhD . 2010. Berpikir Kritis (Critical Thinking).
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Siti Zubaidah,2010.Berpikir Kritis: Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi yang Dapat


Dikembangkan melalui Pembelajaran Sains. Universitas Negeri Surabaya

Esti Eva Nurdina, Annastasia Ediati, 2017. Pengalaman Bidan Membantu Persalinan
Yang Kritis: Studi Interpretative Phenomenological Analysis. Fakultas Psikologi Universitas
Diponegoro; Semarang

Aldina Ayunda Insani, Ayu Nurdiyan, Yulizawati, Lusiana Elsinta B, Detty Iryani,
Fitrayeni, 2016. “Berpikir Kritis” Dasar Bidan Dalam Manajemen Asuhan
Kebidanan.Padang ;Prodi S1 Kebidanan FK-UNAND

Anonim. (2014). Evidence based health care and systematic


review. http://community.cochrane.org/about-us/evidence-based-health-care. Florida State
University.

Elder,Linda.(2007). Critical Thinking. http://www.criticalthinking.org/pages/defining-


critical-thinking/766.

Tomales,CA.SlawsonDC,ShaughnessyAF,2005.Teaching evidence-based medicine :


should we be teaching information management instead? Acad Med.Jul;80(7):685-9.

Sackett DL, Strauss SE, Richardson WS,et al, 2000. Evidence-based medicine: how to
practice and teach EBM. London: Churchill-Livingstone.

Anda mungkin juga menyukai