Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU TERNAK UNGGAS

Disusun oleh :
Helga Audia Putri
16/394466/PT/07139
Kelompok XIV

Asisten : Yulia Sintia Putri

LABORATORIUM ILMU TERNAK UNGGAS


DEPARTEMEN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017

i
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan praktikum Ilmu Ternak Unggas ini disusun untuk memenuhi


syarat yang diperlukan dalam mata kuliah Ilmu Ternak Unggas di Fakultas
Peternakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Laporan ini telah disetujui dan disahkan oleh asisten pendamping
pada tanggal November 2017

Yogyakarta, November 2017


Asisten Pendamping,

Yulia Sintia Putri

ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN............................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ........................................................................... v
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................ vi
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................... 1
BAB II. MATERI METODE ................................................................ 4
Materi ................................................................................ 4
Metode .............................................................................. 4
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 6
Sistem Digesti Ayam ......................................................... 6
Sistem Reproduksi Ayam Betina ....................................... 11
Sistem Reproduksi Ayam Jantan ...................................... 14
Tingkah Laku Ayam .......................................................... 16
BAB IV. KESIMPULAN ..................................................................... 20
BAB V. DAFTAR PUSTAKA ............................................................. 21

iii
DAFTAR TABEL
TABEL Halaman
1. Data Pengukuran Organ Digesti Ayam .......................................... 6
2. Data Pengukuran Organ Reproduksi Ayam Betina ...................... 12
3. Data Literatur Organ Reproduksi Ayam Jantan ........................... 15
4. Data Presentase Tingkah Laku Ayam .......................................... 16

iv
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR Halaman
1. Sistem Digesti Ayam ........................................................................ 11
2. Sistem Reproduksi Ayam Betina...................................................... 14
3. Sistem Reproduksi Ayam Jantan ..................................................... 16
4. Grafik PresentaseTingkah Laku Litter .............................................. 19
5. Grafik PresentaseTingkah Laku Wire .............................................. 19

v
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN Halaman
1. Lembar Kerja ................................................................................... 23
2. Kartu Praktikum ............................................................................... 26

vi
BAB I.
PENDAHULUAN
Ayam termasuk hewan homoiterm dengan tingkat metabolisme yang
tinggi, termasuk hewan yang dapat menjaga dan mengatur suhu tubuhnya
agar tetap normal melalui proses homeostatis. Hal ini dikarenakan adanya
reseptor dalam otak, yaitu hipotalamus untuk mengatur suhu tubuh. Ayam
memiliki sistem reproduksi yang berbeda yaitu pada organ kopulasi yaitu
papilla. Sistem pencernaan ayam memiliki perbedaan pada sekum yang
berkembang. Ayam memiliki tingkah laku yang khas dari ternak lainnya
yaitu walking, preening, foraging, feeding dan drinking.
Sistem pencernaan merupakan rangkaian proses yang terjadi di
dalam saluran pencernaan ayam untuk memanfaatkan nutrien dari pakan
atau bahan pakan yang diperlukan tubuh untuk hidup, beraktivitas,
berproduksi dan bereproduksi. Saluran pencernaan pada ayam terdiri dari
berbagai organ yang berfungsi untuk memecah pakan atau bahan pakan
yang masuk ke saluran pencernaan, menyerap zat gizi yang dibutuhkan
dan membuang sisa yang tidak dapat dicerna. Proses pencernaan meliputi
mekanik, enzimatis dan mikrobiologis yang terbentang dari mulut sampai
ke usus besar dan kloaka. Organ pencernaan pada unggas meliputi mulut,
oesophagus, crop, proventriculus, gizzard, usus halus, coecum, usus besar
dan kloaka.
Kompiang (2009), menambahkan sistem pencernaan berperan vital
dalam ekstraksi nutrien dari pakan dan penyerapannya untuk dapat
digunakan oleh sel tubuh. Kunci utama yang terjadi dalam sistem
pencernaan adalah kemampuannya untuk mencerna pakan yang
memungkinkan nutrien tersebut diserap tubuh. Makanan masuk melalui
paruh dan melalui oesophagus. Makanan ditampung dalam crop, lalu
dilanjutkan melewati proventriculus yang merupakan lambung sejati pada
ayam dan tempat pencernaan enzimatik. Gizzard merupakan tempat
pencernaan mekanik pada unggas, tempat dimana makanan dilumatkan
dengan bantuan grit. Usus halus berfungsi dalam absorbsi nutrien. Coecum

1
merupakan tempat pencernaan secara mikrobiologis dengan adanya
bantuan dari mikrobia didalamnya. Usus besar merupakan tempat absorbsi
air paling besar. Kloaka adalah saluran terakhir pada pencernaan ayam
yang merupakan organ pembuangan. Makanan yang tercerna akan keluar
bersama asam urat, yang menyebabkan sisa digesti pada unggas
berbentuk cair (Priyanto dan Lestari, 2009).
Reproduksi merupakan peristiwa penting dalam mendapatkan
keturunan. Sistem reproduksi ini dibagi menjadi dua yakni sistem reproduksi
betina dan sistem reproduksi jantan. Sistem reproduksi betina tersusun atas
organ-organ yang kompleks antara lain yaitu ovarium (primer) dan oviduct
(sekunder). Ovarium memiliki fungsi yakni sebagai penghasil sel ovum.
Ovarium terletak diujung cranial ginjal dan agak ke kiri dari garis tengah
daerah sublumbal cavum abdominalis. Oviduct ini dapat dibagi menjadi
beberapa bagian yakni infundibulum, magnum, isthmus, uterus, dan vagina.
Uterus merupakan bagian belakang oviduct yang melebar yang menerima
transport telur dari isthmus. Vagina yaitu tempat keluarnya telur terakhir
yang nantinya akan dierami. (Toelihere, 2000). Sistem reproduksi ayam
betina yang berkembang dan berfungsi secara normal adalah organ
sebelah kiri, sedangkan organ sebelah kanan mengalami rudimenter.
Sistem reproduksi jantan terdiri dari testis, vas deferens, dan
papillae. Testis pada unggas berjumlah sepasang dan terletak di dalam
rongga perut. Fungsi utamanya adalah memproduksi spermatozoa,
seminal plasma, dan hormone testosteron. Testis berbentuk lonjong,
berwarna kuning pucat, dan memiliki anyaman pembuluh darah dan
berwarna merah dipermukaan. Vas Deferens didalamnya terdapat
sepasang yang menghubungkan bagian epididimis dengan penis yang
berfungsi untuk menyalurkan sperma. Penis pada unggas biasanya disebut
papillae yang pada ternak unggas tidak bekembang seperi halnya pada
ternak lainnya. Bentuknya hanya seperti papilla dan agak berkembang pada
saat kopulasi ke dalam alat reproduksi betina saat terjadi perkawinan.

2
Tingkah laku dapat diartikan sebagai ekspresi seekor hewan yang
dituangkan dalam bentuk gerakan-gerakan akibat pengaruh rangsangan.
Rangsangan terbagi dua, yaitu rangsangan luar dan rangsangan dalam.
Rangsangan luar dapat berbentuk suara, pandangan, tenaga mekanis
(cahaya, suhu, dan kelembaban) dan rangsangan kimiawi (hormon dan
saraf). (Rokhman, 2013). Tingkah laku ayam meliputi walking, feeding and
drinking, resting, foraging, dan preening.
Tujuan praktikum dari praktikum Ilmu Ternak Unggas adalah untuk
mengetahui efek perbedaan panjang dan berat organ terhadap fungsi dan
performa ayam, serta mengetahui pengaruh lingkungan terhadap tingkah
laku ayam. Manfaat dari praktikum Ilmu Ternak Unggas yaitu dapat
mengetahui kekurangan dan kelebihan panjang dan berat terhadap fungsi
dan performa ayam.

3
BAB II.
MATERI DAN METODE
Materi
Sistem Digesti Ayam
Alat. Alat yang digunakan dalam praktikum sistem pencernaan
unggas antara lain adalah pisau scalpel, plastik ukuran 1x1 m, timbangan
listrik, trashbag, pita ukur,dan lembar kerja.
Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum sistem pencernaan
unggas adalah ayam layer umur 72 minggu dengan berat 1500 gram.

Sistem Reproduksi Ayam


Alat. Alat yang digunakan pada praktikum sistem reproduksi unggas
antara lain adalah pisau scalpel, kaca, plastik ukuran 1x1 m, timbangan
listrik, trashbag, pita ukur, dan gunting.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum sistem reproduksi
unggas adalah ayam layer umur 72 minggu dengan berat 1600 gram.

Tingkah Laku Ayam


Alat. Alat yang digunakan saat praktikum tingkah laku ayam adalah
stopwatch, dan buku kerja.
Bahan. Bahan yang digunakan saat praktikum tingkah laku ayam
adalah seekor ayam dalam kandang.

Metode
Sistem Digesti Ayam
Metode yang digunakan dalam praktikum sistem pencernaan
unggas yaitu ayam layer betina dipotong dan dikeluarkan organ
pencernaannya. Organ pencernaan disusun sesuai dengan urutannya lalu
diukur panjang dan ditimbang beratnya.

4
Sistem Reproduksi Ayam
Metode yang digunakan dalam praktikum sistem reproduks unggas
yaitu ayam layer betina dibedah dan dikeluarkan seluruh organ pencernaan
dan reproduksinya. Organ reproduksi betina kemudian diletakkan diatas
alas kaca dan disusun sesuai dengan urutannya. Organ reproduksi
kemudian ditimbang beratnya serta diukur panjang tiap bagiannya.
Tingkah Laku Ayam
Metode yang dilakukan pada praktikum pengamatan tingkah laku
ayam adalah pertama ayam yang akan digunakan disiapkan dalam
kandang. Sebelum memulai pengamatan dicatat waktu pengamatan, suhu
kandang, dan kelembaban kandang. Ketiganya menjadi faktor penting yang
mempengaruhi tingkah laku ayam. Setelah mencatat ketiga hal tersebut,
praktikan kemudian membagi tugas untuk pengamatan lama ayam walking,
feeding dan drinking, resting, foraging, serta preening. Pengamatan hanya
berfokus pada seekor ayam. Stopwatch digunakan sebagai pengukur waktu
lamanya ayam melakukan kebiasaannya. Setelah dilakukan pengamatan
selama satu jam, masing-masing tingkah laku ayam kemudian di catat pada
buku kerja.

5
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Sistem Digesti
Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan saat praktikum
dengan preparat ayam jenis layer dengan umur 72 minggu dan berat 1500
gram, diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 1. Data pengukuran panjang dan berat organ pencernaan
Data Praktikum Data Literatur
Organ Panjang Berat Panjang Berat Literatur
(cm) (gram) (cm) (gram)
Oesophagus 13 2 20-25 5-7,5 (Neil, 1991)
Crop 9 3 7 8-12 (Neil, 1991)
Proventriculus 12 9 6 7,5 (Neil, 1991)
Gizzard 5 25 5,75 5-30 (Neil, 1991)
Usus halus :
Duodenum 29 7 24 4 (Hamsah,
2013)
Jejunum 86 16 58-87 17,4 (Hamsah,
2013)
Ileum 84 17 32 15 (Usman,
2010)
Coecum 42 9 20 6-8 ( Neil, 1991)
Usus besar 15 5 9 4-6 (Akoso,
1998)
Kloaka 5 9 3 6 (Neil, 1991)
Organ tambahan
Hati 10 35 9 45 (Neil, 1991)
Pankreas 14,5 4 11 2-4,5 (Noferdiman,
2012)
Limfa 3 4 2 2-4,5 (Suprijatna
et al., 2005)
Berdasarkan praktikum pengukuran sistem digesti ayam layer yang
telah dilakukan dapat diketahui bahwa beberapa organ yang menunjukkan
kesamaan dengan literatur antara lain pada oesophagus, proventriculus,
gizzard, duodenum, jejuneum, pankreas, dan limfa. Sistem pencernaan
unggas berbeda dari sistem pencernaan mamalia karena unggas tidak
mempunyai gigi untuk memecah makanan secara fisik. Unggas mengambil
makanannya dengan paruh, kemudian ditelan. Makanan tersebut disimpan
dalam crop untuk dilunakkan dan dicampur dengan getah pencernaan
proventriculus dan kemudian digiling dalam empedal.

6
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diketahui
panjang oesophagus ayam adalah 13 cm dengan berat 2 gram.
Oesophagus membentang disepanjang leher dan thorax, kemudian
berakhir di proventriculus, merupakan penghubung antara dasar mulut
dengan crop dan ventriculus. Panjang oesophagus antara 20 sampai 25 cm
dan berat antara 5 sampai 7,5 gram. Panjang oesophagus ayam tersebut
berada di bawah kisaran normal. Perbedaan yang terjadi dikarenakan
oesophagus dalam kepala tidak ikut diukur atau masih menempel didalam
sehingga tidak dapat dikeluarkan (Neil, 1991). Hal tersebut juga sesuai
dengan pendapat Sarwono (1998) bahwa faktor yang mempengaruhi
adanya perbedaan dari panjang oesophagus kedua ayam adalah jumlah
pakan yang dikonsumsi, jenis pakan, umur dan jenis kelamin.
Panjang crop ayam sesuai dengan data saat praktikum
adalah 9 cm dengan berat 3 gram. Neil (1991) menyatakan bahwa
berat crop ayam berkisar antara 8 sampai 12 gram. Berdasarkan data yang
diperoleh, panjang crop berada dalam kisaran normal. Berat crop berada
dibawah kisaran normal, perbedaan tersebut dapat terjadi karena
perbedaan jumlah atau jenis pakan yang dikonsumsi, penyakit, umur, dan
jenis unggas. Crop unggas mampu menampung 250 gram pakan.
Proventriculus ayam berdasarkan data yang diperoleh memiliki
panjang 12 cm dan juga berat 9 gram. Data yang diperoleh untuk ayam
termasuk dalam kisaran normal, namun panjang proventiculus lebih
panjang, dikarenakan adanya perbedaan spesies dan varietas ayam
sehingga terjadi perbedaan morfologi. Proventriculus adalah suatu
peleburan dari kerongkongan sebelum berhubungan dengan gizzard
(empedal). Biasanya disebut glandula stomach atau true stomach, tempat
gastric juice diproduksi. Pepsin, suatu enzim untuk membantu pencernaan
protein, dan hydrochloric acid disekresi oleh glandular cell, oleh karena
pakan berlalu cepat melalui proventriculus maka tidak ada pencernaan
material pakan disini, akan tetapi sekresi enzim mengalir ke dalam gizzard
sehingga dapat bekerja disini (Muljowati, 1999).

7
Gizzard ayam yang didapatkan dari praktikum memiliki panjang 5
cm dan berat 25 gram. Neil (1991) menyatakan bahwa panjang gizzard
5,75 cm dengan berat antara 5 sampai 30 gram. Pada unggas yang hidup
secara berkeliaran, gizzard lebih kuat daripada ayam yang dipelihara
secara terkurung dengan pakan yang diberikan. Arista (2012) menyatakan
bahwa konsumsi ransum yang meningkat mengakibatkan penebalan pada
urat daging gizzard, sehingga memperbesar ukuran gizzard. Penjelasan
tersebut juga didukung oleh Sulistyoningsih (2004) yang menyatakan
bahwa ukuran gizzard dipengaruhi oleh aktivitasnya. Noferdiman (2012)
menyatakan bahwa peningkatan bobot gizzard berpengaruh terhadap
peningkatan kontraksi gizzard dalam mencerna serat kasar. Perbesaran
volume gizzard dipengaruhi oleh jumlah dan bentuk pakan yang
dikonsumsi. Serat kasar yang tinggi dalam ransum menyebabkan kontraksi
gizzard akan meningkat dan akibatnya bobot gizzard juga meningkat.
Duodenum berdasarkan data yang diperoleh pada praktikum
diketahui bahwa panjang duodenum yaitu 29 cm dengan berat 7 gram. Hasil
tersebut berbeda jika dibandingkan data literatur dari Usman (2010) yang
menjelaskan bahwa panjang duodenum yaitu 24 cm dan beratnya yaitu
4,03 gram. Berdasarkan hal tersebut panjang dan berat dari duodenum
tidak sesuai dengan literatur. Hamsah (2013) menjelaskan bahwa salah
satu faktor yang mempengaruhi berat duodenum adalah jumlah sel dan
ketinggian villinya.
Jejunum dan ileum merupakan kelanjutan dari duodenum, pada
bagian ini terjadi proses penyerapan zat makananan yang belum
deselesaikan di bagian duodenum. Berdasarkan data yang diperoleh pada
praktikum diketahui bahwa panjang jejunum yaitu 86 cm dengan berat 16
gram. Hamsah (2013) menjelaskan bahwa panjang jejunum yaitu 58
sampai 87 cm dan berat jejunum 17,4 gram. Berdasarkan hal tersebut
panjang jejunum berada dalam kisaran normal, sedangkan beranya tidak
sesuai. Hasil tersebut terjadi karena beberapa faktor yaitu berat pada
jejunum ayam yang lebih cepat mendapatkan makanan daripada ayam

8
yang mengalami pemuasaan hingga 48 jam setelah menetas. Hasil ini
disebabkan oleh pertumbuhan usus halus lebih cepat pada ayam yang
mendapatkan makanan terlebih dahulu serta jumlah sel pada usus
halusnya lebih banyak dan ukuran villi sampai villi ususnya lebih lebar
daripada ayam yang mengalami penundaan pemberian pakan.
Ileum berdasarkan data yang diperoleh pada praktikum diketahui
bahwa panjang ileum yaitu 84 cm dengan berat 17 gram. Hasiil tersebut
tidak sesuai dengan literatur dari Usman (2010) yang menjelaskan bahwa
panjang ileum 32 cm dan beratnya 15 gram. Arista (2012) menjelaskan
bahwa ileum merupakan bagian usus halus setelah jejunum, ileum memiliki
peranan sebagai pengabsorpsi partikelsampaipartikel kecil nutrien. Bobot,
panjang relatif dan tebal ileum berdasarkan hasil sidik ragam yang telah
dilakukan, pemberian kombinasi pakan kedalam ransum komersial sebagai
ransum sinbiotik tidak memberikan pengaruh terhadap perkembangan
ileum. Perkembangan bagian jejunum lebih banyak melakukan proses
penyerapan zat sampai zat makanan jika dibandingkan ileum.
Panjang dan berat coecum ayam yang didapatkan saat praktikum
adalah 42 cm dan berat 9 gram. Neil (1991) menyatakan bahwa
berat coecum berkisar antara 6 sampai 8 gram. Ayam memiliki
berat coecum diatas kisaran normal. Hal ini dapat disebabkan oleh
perbedaan individu serta pakan
yang dikonsumsi. Semakin tinggi pakan mengandung serat kasar tinggi,
maka ceca akan berkembang karena ceca berfungsi untuk mencerna serat
kasar.
Usus besar merupakan organ digesti yang berfungsi mengatur kadar
air sisa makanan. Hasil praktikum menunjukkan perbedaan pada panjang
dan berat pada coecum serta panjang pada usus besar (colon).
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan panjang usus besar 15 cm dan
berat 5 gram. Menurut Akoso (1998), berat normal rektum adalah 4 sampai
6 gram. Perbedaan ukuran tersebut mungkin disebabkan perbedaan dalam
pemberian pakan, penyakit, umur dan jenis unggas.

9
Panjang dan berat kloaka ayam yaitu panjang 5 cm dan berat 9
gram. Neil (1991) menyatakan bahwa panjang kloaka adalah 1,5 cm sampai
3 cm dengan berat 6 gram sampai 8 gram. Perbedaan ini disebabkan
adanya perbedaan pertumbuan dan performa ayam (Neil, 1991). Kloaka
merupakan penghubung usus besar dan anus, dan muara bagi sisa hasil
metabolisme dalam bentuk materi feses dari usus besar, telur dari oviduct
dan urin dari ureter.
Organ Pencernaan Tambahan
Sistem pencernaan memiliki beberapa organ tambahan yang
membantu sistem digesti yaitu, hati, pankreas dan limfa. Tuli (2014)
menyatakan bahwa perbedaan tersebut dikarenakan hati berfungsi
menawarkan dan menetralisir racun, sirkulasi hormon, serta mengeluarkan
getah empedu yang berfungsi sebagai pengemulsi lemak. Hati berkerja
sebagai filter zat makanan yang telah diserap yang kemudian masuk ke
dalam sirkulasi darah serta mendetoks racun. Fungsi utama hati dalam
pencernaan dan absorpsi adalah produksi empedu. Pankreas
mensekresikan insulin dan getah pankeras yang berfungsi dalam
pencernaan pati, lemak, dan protein. Berdasarkan praktikum yang
dilakukan diketahui panjang dan berat pankreas ayam adalah 14,5 cm dan
4 gram. Pankreas adalah sebuah glandula tubule alveolar yang memiliki
bagian endokrin dan eksokrin. Bagian endokrin dari pankreas
menghasilkan hormon insulin (sel beta) dan glukagon (sel alfa). Bagian
eksokrin menghasilkan getah pencernaan yang menghasilkan enzim
pepsinogen, dan tripsinogen (Frandson, 1992).

10
Gambar 1. Organ pencernaan ayam
Sistem Imun
Limfa berfungsi membantu memecah sel darah merah dan sel darah
putih.Berdasarkan praktikum yang dilakukan diketahui berat limpa ayam
adalah 4 gram. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan morfologi
ayam. Limfa juga termasuk dalam sistem imun dari unggas bersama
dengan kelenjar thymus, bursa fabricious. Limfa berfungsi untuk
menghasilka sel darah putih dan regenerasi sel darah merah, kelejar
thymus menghasilkan limfosit T yang berfungsi sebagai sistem pertahanan
tubuh yang pertama pada ayam terletak pada oesophagus. Bursa fabricious
akan menghasilkan limfosit B yang fungsinya sebagai sel memori, agar
suatu unggas dapat mengingat virus yang pernah menginfeksinya.
2. Sistem Reproduksi
A. Sistem Reproduksi Betina
Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan pada praktikum
sistem reproduksi betina dengan jenis ayam layer umur 72 minggu dengan
bobot 1600 gram diperoleh data sebagai berikut:

11
Tabel 2. Data pengukuran panjang dan berat organ reproduksi betina
Data Praktikum Data Literatur
Nama Organ Panjang Berat Panjang Berat Literatur
(cm) (gram) (cm) (gram)
Ovarium + 5 19 7 40-60 (Sidadolog, 2001)
ovum
Infundibulum 14 2 9 3 (Fadillah, 2004)

Magnum 45 26 31,97 26,42 (Horhoruw, 2012)


Isthmus 11 3 10 6,81 (Horhoruw 2012 dan
Afiati et al., 2013)
Uterus 7 1 8 18,48 (Udjianto dan Denny
2004 dan Horhoruw
2012)
Vagina 11 20 10 4,28 (Afiati et al., 2013 dan
Horhoruw 2012)
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan panjang
besar 5 cm dengan berat 19 gram. Sidadolog (2001) menyatakan bahwa
berat ovarium unggas dewasa adalah antara 40 sampai 60 gram. Hasil
pengamatan ovarium lebih kecil yaitu 19 gram. Perbedaan tersebut dapat
disebabkan oleh umur folikel yang masih muda dan baru saja terjadi ovulasi
sehingga beratnya menurun. Selang et al (2015) menyatakan bahwa faktor
yang menyebabkan sedikit perbedaan antara ayam disebabkan karena
tingkat produktivitas yang berbeda.
Infundibulum merupakan tempat terjadinya pembuahan.
Berdasarkan praktikum didapatkan panjang infundibulum sebear 14 cm dan
berat sebesar 2 gram. Fadillah (2004) menjelaskan bahwa, infundibulum
memiliki panjang 9 cm. Hasil pengamatan menunjukkan panjang serta berat
infundibulum ayam adalah 8 cm dan 1 gram. Perbedaan ini disebabkan
adanya perbedaan jenis makanan, penyakit, umur, dan jenis unggas
(Horhoruw, 2012). Suprijatna dan Natawihardja (2005) menyatakan bahwa
panjang dan berat oviduct dipengaruhi oleh pemberian kadar protein dalam
pakan selama periode pertumbuhan umur 12 sampai 20 minggu. Sutiyono
(2011) menjelaskan bahwa ukuran infundibulum berpengaruh terhadap
proses penangkapn ovum saat ovulasi dan berpengaruh terhadap

12
pembungkusan sel telur bersama kuning telur dengan albumin yang
pertama.
Magnum merupakan bagian terpanjang oviduct yang berfungsi untuk
mensekresikan albumen serta pembentukan challazae Berdasarkan
praktikum yang telah dilakukan, diperoleh panjang magnum adalah 45 cm
sementara beratnya adalah 26 gram. Horhoruw (2012) menyatakan bahwa
panjang magnum adalah 31,97 cm dan berat magnum adalah 26,42 gram.
Berdasarkan literatur yang di dapat, maka dapat disimpulkan bahwa
panjang dan berat magnum mendekati dari kisaran normal. Sidadolog
(2001) menyatakan bahwa perbedaan ukuran terjadi karena hormon
reproduksi yang dihasilkan karena pengaruh faktor pakan dan cahaya.
Isthmus berfungsi menghasilkan kerabang tipis dalam waktu 1 hingga
1,5 jam. Isthmus yang berdekatan dengan magnum berwarna putih dan
yang terakhir berwarna merah karena banyak mengandung pembuluh
darah. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh panjang 11
cm dan berat 3 gram. Horhoruw (2012) menyatakan bahwa berat isthmus
adalah 6,81 gram. Afiati et al., (2013) menjelaskan bahwa, isthmus memiliki
panjang 10 cm Berdasarkan literatur, dapat disimpulkan bahwa berat
isthmus selisih jauh dengan kisaran normal dan panjang isthmus mendekati
kisaran normal. Melviyanti et al. (2013) menyatakan bahwa efek perbedaan
ukuran isthmus akan mempengaruhi pembentukan kerabang tipis pada
telur.
Uterus berfungsi untuk pembentukan kerabang telur sehingga
prosesnya paling lama yaitu 21 jam. Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan didapat panjang uterus 7 dengan berat 1 gram. Udjianto dan
Denny (2004) menyatakan bahwa uterus atau shell gland yang mempunyai
panjang 8 cm sementara menurut Horhoruw (2012) berat uterus adalah
18,45 gram. Berdasarkan literatur tersebut dapat disimpulkan bahwa
panjang dan berat hasil pengukuran tidak berada dalam kisaran normal. Hal
ini dapat disebabkan oleh faktor umur, genetik dan tingkat produksi telur.

13
Vagina merupakan tempat terjadinya pembentukan kutikula dan tidak
terdapat sekresi pembentukan telur. Telur melewati vagina selama 3
sampai 5 menit, kemudia dikeluarkan dan 30 menit setelahnya akan terjadi
ovulasi kembali. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan
panjang vagina 11 cm dengan berat 20 gram. Afiati et al., (2013)
menambahkan bahwa, vagina memiliki panjang 10 cm. Horhoruw (2012)
mengatakan bahwa panjang vagina adalah 10 cm dan berat vagina adalah
4,28 gram. Berdasarkan literatur tersebut dapat disimpulkan bahwa ukuran
dan berat vagina tidak sesuai kisaran normal. Hal ini disebabkan
perkembangan dari panjang vagina dipengaruhi oleh hormon esterogen
yang dihasilkan oleh ovarium.

Gambar 2. Organ Reproduksi Betina

B. Sistem Reproduksi Jantan


Berdasarkan literatur yang didapatkan diperoleh data sebagai
berikut:

14
Tabel 3. Data literatur panjang dan berat organ reproduksi jantan
Data Literatur
Nama Organ Panjang Literatur
Berat (gram)
(cm)
Testis 1,6 1,8 (Bahmid, 2015)

Vas deferens 11,5 1,36 (Bath dan Chaudhari, 2002)


Papillae 0,2-0,4 0,05 (Bath dan Chaudhari, 2002)

Testis ayam jantan terletak di rongga badan dekat tulang belakang,


melekat pada bagian dorsal dari rongga abdomen dan dibatasi oleh
ligamentum mesorchium, berdekatan dengan aorta dan vena cavar, atau di
belakang paru-paru bagian depan dari ginjal. Fungsi dari testis adalah
sekresi hormon androgen dan menghasilkan sel gamet jantan yaitu
spermatozoa. Bahmid (2015) menyatakan bahwa ukuran testis ayam
memiliki panjang 1,6 cm dan memiliki berat 1,8 gram.
Vas deferens adalah bagian reproduksi jantan berfungsi untuk
penyimpanan sperma. Duktus deferens ayam jantan muda kelihatan lurus,
sedangkan pada ayam jantan tua tampak berkelok-kelok. Letaknya ke arah
kaudal, menyilang ureter, dan bermuara pada kloaka sebelah lateral
urodeum (Afiati et al., 2013). Bath dan Chaudhari (2002) menyatakan
bahwa panjang dan berat vas deferens ayam adalah 11,5 cm dan 1,36
gram.
Alat kopulasi pada ayam berupa papila (penis) yang mengalami
rudimenter. Penis ayam tidak berkembang bentuknya hanya papilla
berfungsi sebagai alat kopulasi saat perkawinan (Sutiyono, 2001).
Greenacre dan Morishita (2015) menyebutkan bahwa panjang papila
adalah 2 sampai 4 mm sementara beratnya 0,5 gram.

15
Gambar 3. Organ Reproduksi Jantan

3. Tingkah laku ayam


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan saat praktikum
diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4. Data Presentase Tingkah Laku Ayam
Parameter Tingkah Laku Ayam (%) Suhu Kelem
Preening Feeding Resting Walking Foraging
(o) baban
and
drinking (%)
Litter 18,58 24,44 0 4,83 1,36 26,2 54
Wire 0,218 0,144 0,495 0,045 0,0068 26,2 54
Tingkah laku hewan merupakan suatu kondisi penyesuaian hewan
terhadap lingkungannya dan pada banyak kasus merupakan hasil seleksi
alam seperti terbentuknya struktur fisik. Setiap hewan akan belajar tingkah
lakunya sendiri untuk beradaptasi dengan lingkungan tertentu. Satwa liar
yang didomestikasi akan mengalami perubahan tingkah laku, yaitu
berkurangnya sifat liar dan agresif, musim kawin yang lebih panjang dan
kehilangan sifat berpasangan. (Rokhman, 2013). Aktivitas ayam tersbut
memiliki faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan disetiap ayam seperti

16
suhu, kelembaban, perkandangan, dan manajemen pemeliharaan
(Sulistyoningsih, 2004).
Walking dilakukan ayam ketika makan, minum, bertelur dan
membuat sarang. Puspani et al. (2008) menyatakan bahwa kondisi terbuka
ayam mampu berjalan sekitar 100 sampai 2600 langkah. Unggas terutama
ayam melakukan itngkah laku tersebut untuk terhindar dari cekaman. Hasil
praktikum tingkah laku walking adalah 4,83% pada ayam di kandang litter
dan 4,5% pada ayam di kandang wire dari 1 jam pengamatan. Menurut
Sulistiyoningsih (2004), menyatakan bahwa tingkah laku walking pada
ayam lebih sering terlihat pada kandang litter tebal dan kandang bebas.
Aktivitas berjalan bervariasi antar strain, yang bekisar mulai dari 100 – 2600
langkah sebelum bertelur.
Preening merupakan cara ayam untuk menjaga bulunya tetap indah.
Ayam melakukan preening dengan membasahi bulu dengan lemak dari
kelenjar uropigeal, cairan dari kelenjar uropigeal membantu agar bulunya
dalam kondisi baik (Tandiabang, 2014). Perilaku preening atau menelisik
bulu dapat dikategorikan sebagai ekspresi kenyamanan ayam dalam
kandang. Hasil praktikum tingkah laku preening pada ayam di kandang litter
adalah 18,58% dan 21,8% pada ayam yang berada di kandang wire dari 1
jam pengamatan. Iskandar (2009) menyatakan bahwa perilaku ayam
berupa preening (menelisik bulu) adalah 13,66%. Perbedaan hasil dan
literatur dapat disebabkan oleh kepadatan kandang.
Resting atau tingkah laku istirahat pada ayam ditunjukan dengan
berdiri atau berbaring. Ayam yang berdiri termaksud dalam tingkah laku
resting. Ayam yang berdiri tidak memerlukan energy yang banyak. Peilaku
berdiri dilakukan untuk merenggangkan ruang untuk memperbesar ventilasi
disela-sela tubuh ayam sebagai bentuk termoregulasi (Iskandar,2009).
Berdasarkan praktikum yang dilakukan didapatkan presentase 0% pada
ayam yang berada di kandang litter dan 49,5% pada ayam di kandang wire.
Mishra et al., (2005) menyatakan bahwa ayam bisa melakukan istirahat
pada keadaan sepi dan biasanya lebih dari 2 menit.

17
Feeding and drinking merupakan tingkah laku tenak untuk
memenuhi kebutuhan pakan dan minum. Feeding adalah tingkah laku
makan ayam, yang berkaitan erat dengan tingkah laku foraging (mematuk).
Drinking adalah tingkah laku minum pada ayam yang biasanya dilakukan
sambil menenggelamkan paruh kedalam tempat minum, kemudian dalam
selang beberapa detik ketika ayam meminum air biasanya ayam tersebut
mengangkat kepala sambil membuka paruhnya (Mishra et al., 2005). Hasil
praktikum diperoleh tingkah laku feeding dan drinking pada kandang litter
adalah 24,44% dan 14,5% pada kandang wire. Faktor yang mempengaruhi
perbedaan konsumsi air minum meliputi suhu lingkungan, suhu air, tingkat
konsumsi pakan, dan bobot badan ayam. Wandoyo (1997) mengemukakan
bahwa konsumsi air minum meningkat pada suhu lingkungan lebih tinggi.
Pemberian pakan yang terbatas dan pemberian air minum ad libitum juga
dapat menyebabkan peningkatan frekuensi minum pada unggas (Savory
et al., 1992)
Foraging berfungsi untuk mendapatkan makanan melalui akftivitas
merumput. Hasil praktikum foraging ayam adalah 1,36% pada kandang litter
dan 0,686% pada kandang wire. Iskandar (2009) menjelaskan bahwa,
kegiatan mematuk pada ayam seharusnya sejalan atau berbanding lurus
dengan kegiatan makan. Aktivitas foraging tergantung pada jenis, ukuran
tubuh, jenis kelamin, dan jenis pakan ayam. Persentase ayam yang
mematuk benda-benda di sekitar kandang sangat berhubungan erat
dengan tingkat aktivitas pencaharian pakan atau mengisi waktu luang
dalam upaya pengalihan perilaku makan saat kebutuhan pakan sudah
terpenuhi (Sahroni, 2001). Perilaku mematuk boleh dikatakan sebagai pra
perilaku pengamatan terhadap benda-benda yang akan dimakan dan/atau
diminum (Soesanto, 2000).
Presentase data tingkah laku ayam di kandang litter dan kandang
wire adalah sebagai berikut :

18
Litter

walking
feeding and drinking
resting
foraging
preening

Gambar 4. Grafik presentase tingkah laku ayam di kandang liter

Wire

walking
feeding and drinking
resting
foraging
preening

Gambar 5. Grafik presentase tingkah laku ayam di kandang wire

19
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum sistem pencernaan ayam dapat disimpulkan
bahwa terdapat beberapa perbedaan ukuran panjang dan berat organ
digesti ayam dengan literatur. Perbedaan dipengaruhi oleh umur, jenis,
pakan, kesehatan, bangsa. Perbedaan yang ada dapat menurunkan
ataupun menaikan performa ayam tersebut.
Berdasarkan praktikum sistem reproduksi ayam dapat disimpulkan
bahwa terdapat perbadaan ukuran panjang dan berat masing – masing
organ reproduksi ayam dengan literatur yang ada. Perbedaan tersebut
dapat dipengaruhi oleh umur, morfologi ayam, pakan yang dikonsumsi, dan
kondisi kesehatan ayam. Efek dari perbedaan ukuran organ memberikan
pengaruh pada produktivitas, berupa penambahan pola konsumsi pakan
ternak, bobot tubuh, dan bobot telur.
Berdasarkan praktikum tingkah laku ayam dapat disimpulkan bahwa
tingkah laku ayam diantaranya meliputi preening, feeding and drinking,
foraging, resting dan walking. Tingkah laku ayam tersebut dapat
dipengaruhi oleh faktor lingkungan eksternal seperti suhu, kelembaban,
kepadatan kandang, nutrisi dalam pakan, pencahayaan, serta faktor
lingkungan internal seperti status fisiologis seperti usia, jenis kelamin, dan
kesehatan. Intensitas cahaya sangat berpengaruh terhadap aktivitas dan
tingkah laku ayam, intensitas cahaya yang tinggi akan meningkatkan
aktivitas dan produktivitas ayam, sedangkan intensitas pencahayaan yang
rendah akan mengurangi aktivitas dan prooduktivitas ayam.

20
DAFTAR PUSTAKA
Afiati, Fifi., Herdis, dan S. Said. 2013. Pembibitan Ternak dengan
Inseminasi Buatan. Jakarta. Niaga Swadaya.
Akoso, B. T. 1998. Kesehatan Unggas. Percetakan Kanisius. Yogyakarta.
Amrullah, I. K. 2004. Nutrisi ayam broiler. Lembaga Satu Gunung Budi. IPB
Press. Bogor.
Arista, D. 2012. Pengaruh pemberian tepung ubi jalar merah ditambah ragi
tape terhadap performa dan organ pencernaan ayam broiler. Institut
Pertanian Bogor.
Bahmid, N. A. 2015. Studi morfologi dan histomorfometrik testis ayam usia
1 bulan sampai 4 bulan. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Bath, G.S. dan S.U.R Chaudhari. 2002. Sperm reserves and its relationship
to parameters of the testis. Epididymis and vas deferens of local cocks
in the sahel region of nigeria. International Journal of Agriculture and
Biology. Vol. 4(4):561.
Frandson, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada
University Press,
Hamsah. 2013. Respon usus dan karakteristik karkas pada ayam ras
pedaging dengan berat badan awal berbeda yang dipuasakan setelah
menetas. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Horhoruw, Wiesje Martha. 2012. Ukuran saluran reproduksi ayam petelur
fase pullet yang diberi pakan dengan campuran rumput laut
(Gracillaria edulis). Jurnal Ilmu Ternak dan Tanaman. Vol 2 No 2.
Iskandar, S., S.D. Setyaningrum , Y. Amanda, dan Iman Rahayu H. S. 2009.
Pengaruh kepadatan kandang terhadap pertumbuhan dan perilaku
ayam Wareng –Tanggerang dara. JITV Vol. 1: 19-24
Kompiang, Putu I. 2009. Pemanfaatan Mikroorganisme Sebagai Probiotik
untuk Meningkatkan Produksi Ternak Ungags di Indonesia. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Mishra, A., P. Kaone, W. Schouten, B. Sprujit, P. Van Beek, and J. H.
M. Metz, 2005. Temporal and Sequential Structure of Behaviour and
Facility Usage of Laying Hens in an Enriched Environment. Poult. Sci.
84:979-991.
Muljowati, S. 1999. Dasar Ternak Unggas. Unsoed.Purwokerto.
Melviyanti, M.T., N. Iriyanti, dan Roesdiyanto. 2013. Penggunaan pakan
fungsional mengandung omega 3, probiotik dan isolat antihistamin N3
terhadap bobot dan indeks telur ayam kampong. Jurnal Ilmiah
Peternakan 1(2) 677 – 683
Neil, A. C. 1991. Biology 2nd edition.The Benjamin Coming Publishing
Company Inc. Pec Wood City.
Noferdiman. 2012. Efek penggunaan Azzola Michrophila fermentasi
sebagai pengganti bungki kedelai dalam ransum terhadap bobot

21
organ digesti ayam broiler. Jurnal penelitian Universitas Jambi. Seri
Sains .Vol.14. No.1.49-56.
Priyanto, A. dan S. Lestari. 2009. Endoskopi Gastrointestinal 86. Salemba
Medika. Jakarta.
Puspani, Eny., Nuryasa I.M. Putra A.A.P. DAN Candrawati D.P.M.A. 2008.
Pengaruh tipe lantai kandang dan kepadatan ternak terhadap tabiat
makan ayam pedaging umur 2 sampai 6 minggu. J. Ilmiah Peternakan.
Vol. 11 No. 1.
Rokhman, A. 2013. Respon tingkah laku ayam broiler pada suhu kandang
yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Sahroni. 2001. Perilaku dan performa ayam pedaging dengan perbedaan
tingkat kepadatan dalam kandang system litter. Skripsi. Fakultas
Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Salang, F., L. Wahyudi, E. De Queldjoe, dan D.Y. Katili. 2015. Kapasitas
ovarium ayam petelur aktif. Jurnal MIPA Vol. 4 (1) 99-102.
Sarwono.1998. Fisiologi Reproduksi Pada Mamalia dan Unggas. UGM
Press Yogyakarta. Yogyakarta.
Savory, C. J., E. Seawright, & A. Watson. 1992. Stereotyped behaviour in
broiler breeders in relation to husbandry and opioid receptor
blockade. In: Appleby, M. C. Poultry Behavior and Welfare. CABI
Publishing
Sidadolog J.P.H. 2001. Manajemen Ternak Unggas. Fakultas Peternakan
UGM. Yogyakarta.
Sulistyoningsih, M. 2004. Pespon fisiologis dan tingkah laku ayam broiler
periode starter akibat cekaman temperatur dan awal pemberian pakan
yang berbeda. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.
Semarang.
Sutiyono. 2001. Pengenalan Organ Reproduksi Ayam. Universitas
Diponegoro.
Tandiabang, B. 2014. Tingkah laku ayam ras petelur fase layer yang
dipelihara dengan system free-ranger pada musim kemarau.Fakultas
Peternakan Universitas Hasanuddin. Makasar.
Toelihere, M.R.F. 1995. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa.
Bandung.
Tuli, N., F.J. Nangoy., E.S. Tangkere., dan L.M.S. Tangkau. 2014. The
addition efectivenes of Curcuma xanthorrhiza roxb and Curcuma
zedoria rosc flours in ration on High Density Lipoprotein (HDL), Low
Density Lipoprotein (LDL) and the viscera of broiler. Jurnal zootek vol
34. Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi. Jakarta.
Usman dan A. N. Ramdani. 2010. Pertumbuhan ayam broiler (melalui
sistem pencernaannya) yang diberi pakan nabati dan komersial
dengan penambahan Dysapro. Institute Pertanian Bogor Press.
Bogor.
Wandoyo, S. 1997. Pemberian air minum pada ayam. Poultry Indonesia
No 210. Jakarta. Hal: 11-12.

22
23
24
25
26
27
28