Anda di halaman 1dari 21

Nilai Paraf

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II

“Pengujian Aktivitas Hemostatika”

Disusun oleh :

Gina Brielyana Sopia Astuti


Nia Risnawati Yenira Nur Oktavi
Rian Triyana

Kelas :D

Kelompok : 1 Shift 1

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS GARUT
2019
A. Tujuan Percobaan
1. Mengetahui kerja obat hemostatik dalam menghentikan perdarahan
2. Memiliki keterampilan dalam melakukan pengujian hemostatik
3. Mengetahui definisi serta mekanisme kerja hemostatic

B. Dasar Teori

Dalam tubuh kita terdapat banyak aliran darah yang sering kita sebut
dengan pembuluh darah. Bila pembuluh darah dipotong atau dirobek, sangat
penting untuk menghentikan keluarnya darah dari sistem sebelum berakhir
dengan kematian. Dari sudut mekanisme pendarahan dapat berhenti jika tekanan
darah dalam pembuluh darah lebih kecil dari pada tekanan diluar pembulu darah,
keadaan tersebut dapat terjadi jika banyak darah yang tergenang disekitar
pembulu darah yang robek terjadi penurunan tekanan darah secara menyeluruh
kemudian bila ada sumbat yang dapat menyumbat lubang pembuluh darah yang
robek. Pembentukan sumbat hemostatis dari komponen-komponen darah
merupakan mekanisme yang penting dalam hemostasis alamiah. Adanya
gangguan terhadap homeostasis alamiah mengakibatkan pendarahan agak sukar
dikendalikan seperti halnya pada hemofilia. Sumbat hemostatis mula-mula
terbentuk dari agresi trombosit tetapi kemudian fibrin akan terbentuk. Fibrin
yang merupakan serat-serat panjang akan membentuk jendolan lewat penjeratan
sel darah merah dan sel darah putih, jendolan tadi disebut koagulum. Pemadatan
atau lebih dikenal dengan pembekuan darah mampu menghentikan semua
pendarahan kecuali pada pembuluh darah yang rusak, keping darah melekat pada
permukaan dalam dinding pembuluh darah tersebut. Dinding rombosit bersifat
sangat rapuh dan cenderung untuk melekat pada permukaan kasar seperti pada
pembuluh darah yang robek.
Pembuluh darah dan sel-sel rusak di daerah ini melepaskan bahan bersifat
lemak yang diaktifkan oleh protein-protein tertentu (faktor pembekuan) di dalam
darah membentuk ”tromboplastin”. Dengan adanya ion kalsium (Ca++.) dan
faktor pembeku tambahan dalam plasma, tromboplastin mengkatalisis perubahan
protombin (suatu globulin serum yang dibuat terus menerus oleh hati) menjadi
trombin. Trombin adalah suatu enzim yang mengkatalisis perubahan fibrinogen
protein plasma yagn dapat larut menjadi fibrin, protein yang tak dapat larut.
Fibrin secara berangsur membentuk suatu lubang tempat sel-sel darah tertanam.
Dengan segera dibangun suatu bendungan (pembekuan) yang menghentikan
keluarnya darah dari pembuluh darah yang pecah.

Pada waktu darah membeku, sebetulnya fibrin pada saat itu adalah
anyaman fibrin yang menjerat sel-sel darah. Fibrin yang baru dibentuk bersifat
sangat lekat, sehingga fibrin saling melekat. Selain itu, sel-sel darah, jaringan-
jaringan dan benda-benda asing tertentu akan melekat pada fibrin. Sifat lekat ini
sangat efektif bagi darah yang membeku. Pada darah yang baru membeku,
koagulum yang baru terbentuk itu masih merupakan masa yang lunak seperti
selei. Tetapi lamam kelamaan koagulum akan mengkerut sampai 40% dari
volume semula dan cairan akan dibebaskan. Cairan yang dibebaskan dari
koagulum tersebut disebut serum. Serum merupakan plasma tanpa fibrinogen dan
faktor-faktor lain yang terlibat dalam proses pembekuan darah. Koagulum
akhirnya akan bersifat agak keras, lebih padat. Kenyal dan lebih efesien sebagai
sumbat. Pengerutan koagulum terjadi kurang sempurna kalau trombosit secara
percobaaan diambil atau pada keadaan dimana jumlah trombosit menurun.
Koagulum yang terbentuk akan segera lenyap bila pemyembuhan luka telah
terjadi. Pross pemecahan atau penguraian koagoulum disebut fibrinolisis (
Wulangi, 1993).
Koagulasi adalah proses pembubuhan bahan kimia (koagulan) ke dalam air
yang akan dioIah. Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan
membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak
lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan,
pendinginan dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit,
pencampuran koloid yang berbeda muatan (Anonim a 2009). Penggumpalan
darah atau pembekuan darah, atau disebut juga dengan koagulasi darah terjadi
apabila darah ditampung dan dibiarkan begitu saja. Menurut Anonim b (2009),
waktu koagulasi adalah waktu mulai darah mulai keluar sampai keluarnya
benang fibrin. Sedangkan menurut Guyton (1983), waktu koagulasi adalah waktu
yang dibutuhkan darah untuk menggumpal dimana bervariasi untuk berbagai
spesies. Mekanisme koagulasi atau proses koagulasi (penggumpalan darah)
terjadi lewat mekanisme kompleks yang diakhiri dengan pembentukan fibrin
(protein dalam plasma darah yang diubah oleh trombin/enzim pembeku darah
dalam proses pembekuan darah). Mekanisme ini terjadi jika ada cedera di dalam
maupun di permukaan tubuh. Kondisi darah mudah menggumpal bisa terjadi
karena faktor keturunan maupun didapat misalnya akibat infeksi maupun
tingginya antibodi antikardiolipid (ACA) akibat gangguan autonium (Anonim c,
2009).

Waktu koagulasi normal pada manusia yaitu 15 detik sampai 2 menit dan
berakhir dalam waktu 5 menit. Sedangkan waktu koagulasi pada ternak seperti
sapi 6,5 menit, kambing 2,5 menit, ayam 4,5 menit, kuda 11,5 menit, babi 3,5
menit, domba 2,5 menit dan anjing 2,5 menit (Frandson, 1992).

Antikoagulan adalah suatu zat atau obat yang digunakan untuk mencegah
pembekuan darah dengan jalan menghambat pembentukan atau menghambat
fungsi beberapa faktor pembekuan darah. Atas dasar ini antikoagulan diperlukan
untuk mencegah terbentuk dan meluasnya trombus dan emboli, maupun untuk
mencegah bekunya darah diluar tubuh pada pemeriksaan laboratorium atau
transfusi (Anonim c, 2009).

Dalam proses pembekuan darah, saat ini dikenal 13 faktor yang berperan,
(faktor 1 sampai 13). Faktor pembekuan darah tersebut yang sangat berperan,
diantaranya yaitu faktor 13 : fibrinase. Suatu proses penghancuran fibrin yang
gunanya supaya pembekuan darah tidak berlebihan. Secara alamiah dan dalam
keadaan normal sebenarnya selalu terjadi pembekuan darah dan fibrinolisis
dalam perbandingan tertentu. Disatu pihat suapaya jangan terjadi trombosis yang
dapat merugikan, dipihak lain supaya jangan terjadi perdarahan, proses ini
dinamakan / disebut Fibrinolisis.

Faktor pembekuan darah yang mempermudah terjadinya pembekuan


disebut pro koagulan Zat yang mempengaruhi pembekuan darah yang bersifat
menghambat pembekuan darah disebut anti koagulan Obat/kemasan untuk
mencegah terjadinya pembekuan darah disebut antikoagulansia Suatu keadaan
dimana terjadi kelainan pembekuan darah karena difisiensi fibrinogen disebut a-
hipfibrinogenemia. (Anonim d, 2009).

Pembekuan darah disebut juga koagulasi darah. Faktor yang diperlukan


dalam penggumpalan darah adalah garam kalsium sel yang luka yang
membebaskan trompokinase, trombin dari protombin dan fibrin yang terbentuk
dari fibrinogen. Mekanisme pembekuan darah adalah sebagai berikut setelah
trombosit meninggalkan pembuluh darah dan pecah, maka trombosit akan
mengeluarkan tromboplastin. Bersama-sama dengan ion Ca tromboplastin
mengaktifkan protrombin menjadi trombin (Evelyn, 1989).

Trombin adalah enzim yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin


inilah yang berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau
menggumpal (Poedjiadi, 1994). Kisaran waktu terjadinya koagulasi darah adalah
15 detik sampai 2 menit dan umumnya akan berakhir dalam waktu 5 menit.
Gumpalan darah normal akan mengkerlit menjadi sekitar 40% dari volume
semula dalam waktu 24 jam (Frandson, 1992). Koagulasi dapat dicegah dengan
penambahan kalium sitrat atau natrium sitrat yang menghilangkan garam kalsium
(Schmidt, 1997).

FAKTOR PEMBEKUAN DARAH

1. Fibrinogen : precursor fibrin (protein terpolimerisasi)


2. Protrombin : precursor enzim proteolitik thrombin dan mungkin
akselerator lain dan konversi protrombin
3. Tromboplastin : activator lipoprotein jaringan pada protrombin
4. Kalsium : diperlukan untuk aktivasi protrombin dan pembentukan fibrin
5. Akselerator plasma globulin : suatu faktor plasma yang mempercepat
konversi protrombin menjadi thrombin
6. Akselerator konversi protrombin serum : suatu faktor serum yang
mempercepat konversi protrombin
7. Globulin antihemofilik (AHG) : suatu faktor plasma yang berkaitan dengan
faktor ke III trombosit dan faktor chrismas (IX) : mengaktivasi protrombin
8. Faktor Crismas : faktor serum yang berkaitan dengan faktor-faktor
trombosit III dan VIII mengaktivasi protrombin
9. Faktor Stuart-Prower : suatu faktor plasma dan serum ; akselerator konversi
protrombin
10. Pendahulu tromboplastin plasma (PTA) : suatu faktor plasma yang
diaktivasi oleh faktor Hageman (XII); akselerator pembentukan thrombin
11. Faktor Hageman : suatu faktor plasma ; mengaktivasi PTA (XI)
12. Faktor penstabil fibrin : faktor plasma ; menghasilkan bekuan fibrin yang
lebih kuat yang tidak larut di dalam urea
13. Faktor Fletcher (prakalikrein); faktor pengaktivasi – kontak
14. Faktor Fitzgerald (kininogen berat-molekul-tinggi) ; faktor pengaktivasi-
kontak
C. Alat , Bahan dan Hewan Uji
ALAT BAHAN HEWAN UJI
- Alat suntik 1 mL - Aspirin Mencit putih jantan
- Sonde oral mencit - Asam dengan berat badan
- Stopwatch traneksamat antara 20-25 gram.
- Timbangan mencit
- Bejana Silinder

D. Prosedur Kerja
a) Pengukuran Waktu Perdarahan
- Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 3-5 ekor mencit
untuk tiap kelompok.
- Kelompok 1 kontrol negatif hewan hanya diberi air suling atau agen
pensuspensi, kelompok 2 kontrol positif diberikan air suling atau agen
pensuspensi dan induktor, kelompok 3, 4, 5 diberikan obat uji dengan
induktor.
- Pengujian diawali dengan pemberian obat induktor yaitu aspirin dosis
13 mg/kgBB kemudian 30 menit kemudian diikuti dengan pemberian
sediaan uji berupa air suling atau agen pensuspensi untuk kelompok
kontrol positif dan negatif serta asam traneksamat dosis 32,5
mg/kgBB, 65 mg/kgBB dan 130 mg/kgBB, 60 menit kemudian
dilakukan pengujian waktu perdarahan.
- Pengujian waktu perdarahan dilakukan dengan cara melukai ujung
ekor mencit dan darah yang keluar diserap dengan kertas penyerap
tanpa melakukan tekanan pada luka.
- Lamanya waktu perdarahan dihitung dari mulai timbulnya tetesan
pertama sampai darah berhenti mengalir atau tidak ada bercak darah
pada kertas penyerap.
- Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik untuk melihat
perbedaan pada waktu perdarahan antar kelompok.

b) Pengukuran Waktu Koagulasi


- Mencit dibagi menjadi 5 kelompok yang terdiri dari 3-5 ekor mencit
untuk tiap kelompok.
- Kelompok 1 kontrol negative hewan hanya diberi air suling atau agen
pensuspensi, kelompok 2 kontrol positif diberikan air suling atau agen
pensuspensi dan induktor, kelompok 3, 4, 5 diberikan obat uji dengan
induktor.
- Pengujian diawali dengan pemberian obat induktor yaitu aspirin dosis
13 mg/kgBB kemudian 30 menit kemudian diikuti dengan pemberian
sediaan uji berupa air suling atau agen pensuspensi untuk kelompok
control positif dan negatif serta asam traneksamat dosis 32,5
mg/kgBB, 65 mg/kgBB dan 130 mg/kgBB, 60 menit kemudian
dilakukan pengujian waktu koagulasi.
- Pengujian waktu koagulasi dilakukan dengan cara melukai ujung ekor
mencit dan darah yang keluar diteteskan diatas kaca objek sebanyak 2-
4 tetes.
- Kemudian dengan menggunakan jarum diamati pembentukkan benang
fibrin dengan interval 15 detik.
- Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik untuk melihat
perbedaan pada waktu koagulasi antar kelompok.
E. Hasil Pengamatan

No Waktu Perdarahan Waktu Koagulasi


Kelompok
Hewan (detik) (detik)
A1 162 62
A2 174 49
Kontrol (-) A3 63 9
X 133 40
SD 60.92 27.62
B1 60 38
B2 37 80
Kontrol (+) B3 152 124
X 83 80.67
SD 60.85 43.00
C1 47 25
C2 49 120
Uji 1 C3 79 20
X 58.33 55
SD 17.93 56.35
D1 75 11
D2 70 28
Uji 2 D3 66 16
X 70.33 18.33
SD 4.51 8.74
E1 58 5
E2 9 96
Uji 3 E3 80 12
X 49 37.67
SD 36.35 50.64
KETERANGAN

A : KONTROL NEGATIF (TRAGAKAN 1%)

B : KONTROL POSITIF (TRAGAKAN 1%)

C : UJI 1 (ASAM TRANEKSAMAT 32,5 mg/KgBB)

D : UJI 2 (ASAM TRANEKSAMAT 65 mg/KgBB)

E : UJI 3 (ASAM TRANEKSAMAT 130 mg/KgBB)

INDUKTOR : ASPIRIN 13 mg/KgBB

F. Data Perhitungan

𝐴1 = Kontrol Negatif : Tragakan 1%


𝑀𝑒𝑛𝑐𝑖𝑡 1
Tragakan 1% dosis 1gr dalam 100ml

Standar volume pemberian = 0,2 ml

𝐵1 = Kontrol Positif : Aspirin


𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑡 2 = 21gr
𝐵𝐵
Volume pemberian = × 0,2 ml
𝐵𝐵
21
= × 0,2 ml
20

= 0,21 𝑚𝑙 ⁄21𝑘𝑔𝐵𝐵
𝐶1 = Uji 1 + Aspirin
𝑚𝑒𝑛𝑐𝑖𝑡 3 ∶ 24𝑔𝑟
𝐵𝐵
Volume pemberin = × 0,2 ml
𝐵𝐵

24
= × 0,2 ml
20

= 0,24 𝑚𝑙 ⁄24 𝑘𝑔𝐵𝐵

 Dosis untuk 20gr mencit = Fk × dosis

= 0,0026 × 32,5

= 0,0845

 Dosis untuk 24gr mencit


20gr = 0,0845
24gr = ×
0,0845 × 24
× =
20
= 0,1014

G. Data Analisis
 ANOVA WAKTU PENDARAHAN
ANOVA
ANOVA

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Between Groups 12733,333 4 3183,333 1,747 ,216


Within Groups 18224,000 10 1822,400
Total 30957,333 14

Multiple Comparisons
Dependent Variable: ANOVA
LSD
Mean Difference 95% Confidence Interval

(I) KELOMPOK (J) KELOMPOK (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound

KONTROL (-) KONTROL (+) 47,333 34,856 ,204 -30,33 125,00

UJI 1 74,667 34,856 ,058 -3,00 152,33

UJI 2 62,667 34,856 ,102 -15,00 140,33

UJI 3 82,000* 34,856 ,040 4,34 159,66


KONTROL (+) KONTROL (-) -47,333 34,856 ,204 -125,00 30,33
UJI 1 27,333 34,856 ,451 -50,33 105,00
UJI 2 15,333 34,856 ,669 -62,33 93,00
UJI 3 34,667 34,856 ,343 -43,00 112,33
UJI 1 KONTROL (-) -74,667 34,856 ,058 -152,33 3,00
KONTROL (+) -27,333 34,856 ,451 -105,00 50,33
UJI 2 -12,000 34,856 ,738 -89,66 65,66
UJI 3 7,333 34,856 ,838 -70,33 85,00
UJI 2 KONTROL (-) -62,667 34,856 ,102 -140,33 15,00
KONTROL (+) -15,333 34,856 ,669 -93,00 62,33
UJI 1 12,000 34,856 ,738 -65,66 89,66
UJI 3 19,333 34,856 ,591 -58,33 97,00
UJI 3 KONTROL (-) -82,000* 34,856 ,040 -159,66 -4,34

KONTROL (+) -34,667 34,856 ,343 -112,33 43,00

UJI 1 -7,333 34,856 ,838 -85,00 70,33

UJI 2 -19,333 34,856 ,591 -97,00 58,33

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.


Dari output pertama One-way ANOVA dihasilkan Fhitung = 1,747dan Sig. 0,216.
Nilai Sig. 0,216 > α = 0,05 artinya pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara waktu pendarahan mencit yang
diberi perlakuan sediaan yang berbeda. Tetapi nilai Sig. 0,216 > α = 0,01 artinya
pada tingkat kepercayaan 99% tidak menunjukkan adanya perbedaan yang sangat
signifikan.
Dari Output kedua Post Hoc Test; tanda * menunjukkan kelompok yang berbeda
secara signifikan. Dari tabel di atas terdapat dua tanda *.
a. 82,000* menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara waktu
pendarahan mencit yang diberi perlakuan kontrol (-) dengan uji 3.
b. -82,000* menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara waktu
pendarahan mencit yang diberi perlakuan uji 3 dengan kontrol (-).
Sedangkan kelompok lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang
signifikan.

 ANOVA WAKTU KOAGULASI

ANOVA
ANOVA

Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

Between Groups 6459,333 4 1614,833 ,958 ,471


Within Groups 16856,000 10 1685,600
Total 23315,333 14

Multiple Comparisons
Dependent Variable: ANOVA
LSD

Mean Difference 95% Confidence Interval

(I) KELOMPOK (J) KELOMPOK (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound

KONTROL (-) KONTROL (+) -40,667 33,522 ,253 -115,36 34,03

UJI 1 -15,000 33,522 ,664 -89,69 59,69

UJI 2 21,667 33,522 ,533 -53,03 96,36

UJI 3 2,333 33,522 ,946 -72,36 77,03


KONTROL (+) KONTROL (-) 40,667 33,522 ,253 -34,03 115,36
UJI 1 25,667 33,522 ,462 -49,03 100,36
UJI 2 62,333 33,522 ,093 -12,36 137,03
UJI 3 43,000 33,522 ,229 -31,69 117,69
UJI 1 KONTROL (-) 15,000 33,522 ,664 -59,69 89,69
KONTROL (+) -25,667 33,522 ,462 -100,36 49,03
UJI 2 36,667 33,522 ,300 -38,03 111,36
UJI 3 17,333 33,522 ,616 -57,36 92,03
UJI 2 KONTROL (-) -21,667 33,522 ,533 -96,36 53,03
KONTROL (+) -62,333 33,522 ,093 -137,03 12,36
UJI 1 -36,667 33,522 ,300 -111,36 38,03
UJI 3 -19,333 33,522 ,577 -94,03 55,36
UJI 3 KONTROL (-) -2,333 33,522 ,946 -77,03 72,36

KONTROL (+) -43,000 33,522 ,229 -117,69 31,69

UJI 1 -17,333 33,522 ,616 -92,03 57,36

UJI 2 19,333 33,522 ,577 -55,36 94,03


Dari output pertama One-way ANOVA dihasilkan Fhitung = 0,958 dan Sig. 0,471.
Nilai Sig. 0,471 > α = 0,05 artinya pada tingkat kepercayaan 95% menunjukkan
tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara waktu koagulasi darah mencit
yang diberi perlakuan sediaan yang berbeda. Tetapi nilai Sig. 0,471 > α = 0,01
artinya pada tingkat kepercayaan 99% tidak menunjukkan adanya perbedaan
yang sangat signifikan.
Dari Output kedua Post Hoc Test; tanda * menunjukkan kelompok yang berbeda
secara signifikan. Dari tabel di atas tidak terdapat tanda *.

H. Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan pengujian aktivitas Hemostatis terhadap


hewan mencit dengan rentang berat badan mencit yaitu 20 – 25 gr. Hemostasis
merupakan suatu mekanisme alami yang dilakukan oleh tubuh untuk
menghentikan perdarahan agar tidak kehilangan darah yang berlebihan.
Hemostasis dapat terjadi karena melibatkan 3 mekanisme utama yang sangat
penting, diantaranya 1). Spasme pembuluh darah dimana saat terjadi luka, maka
jaringan luka tersebut akan mengalami vasokontriksi atau terjadi penyempitan
pembuluh darah agar darah yang keluar tidak banyak. 2). Pembentukan Agregat
platelet dimana setelah terjadi vasokontriksi, trombosit akan pecah dan langsung
menuju sumber luka yaitu menempel dengan jaringan subendotel, maka terjadi
ikatan antara reseptor kolagen dari trombosit dengan serat kolagen pada matriks
subendotel, sehingga trombosit akan mengeluarkan granul-granul (ADP, dan
tromboksan) untuk memberi rangsangan ke trombosit yang lain agar menempel
dan membentuk agregat atau sumbat trombosit. Agregasi platelet ini termasuk ke
dalam klasifikasi hemostasis primer yaitu penghentian perdarahan sementara
dengan dibentuknya agregasi platelet tersebut. 3). Koagulasi darah, yaitu
hemostasis sekunder atau penghentian perdarahan secara permanen. Dimana
setelah terjadi pembentukan agregat, trombosit mengeluatkan enzim
trombokinase untuk mengubah protombin menjadi thrombin dengan bantuan
Ca2+ dan vit. K. kemudian, thrombin akan mengubah fibrinogen menjadi fibrin
sampai terus terbentuk benang benang fibrin yang stabil atau tebentuknya sumbat
hemostasis sampai luka sembuh. Setelah luka sembuh, benang benang fibrin
yang sudah tidak dibutuhkan akan dihancurkan yang disebut proses fibrinolisis.
Namun, jika terjadi fibrinolisis yang berlebihan maka pada percobaan kali ini
kami menggunakan asam traneksamat (obat uji).

Asam traneksamat bekerja untuk menghambat aktivasi plasminogen


menjadi plasmin dimana plasmin ini berperan untuk menghancurkan fibrinogen,
fibrin dan faktor pembekuan darah lain. Sehingga, asam traneksamat ini dapat
mengatasi perdarahan akibat fibrinolisis yang berlebihan. Selanjutnya ada aspirin
(induktor) yang bekerja sebagai pengencer darah karena dosis yang digunakan <
325 mg. dimana sesuai teori bahwa aspirin bekerja sebagai obat antiplatelet atau
pengencer darah adalah pada dosis 325 mg ke bawah. Sedangkan 325 mg ke atas
sebagai analgetik. Aspirin sebagai antiplatelet bekerja dengan menghambat
sintesis tromboksan A2 ( TX A2 ) sehingga terjadi penurunan produksi TX A2
yang berperan sebagai vasokontriktor dan agregator platelet. Jika terjadi
penurunan maka tidak terjadi pembekuan darah.

Tujuan dari dilakukannya pengujian aktivitas hemostatis ini adalah untuk


mengukur waktu pendarahan dan waktu koagulasi darah pada hewan uji (mencit)
dengan menggunakan tragakan 1% sebagai agen pensuspensi, Aspirin sebagai
induktor dan Asam traneksamat sebagai obat uji.

Percobaan ini dimulai dari ditimbangnya mencit dan mencit dibagi


menjadi 5 kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari 3 mencit.
Kelompok 1 (kontrol negatif) diberi tragakan 1%, Kelompok 2 (kontrol positif)
diberi tragakan 1%, setelah 30 menit diberi aspirin 13 mg/Kgbb, dan kelompok
3, 4, dan 5 (uji 1, 2, dan 3) secara berurutan diberi Asam traneksamat 32,5
mg/Kgbb, 65 mg/Kgbb, dan 130 mg/Kgbb. Setelah 30 menit, masing-masing
kelompok uji diberi aspirin 13 mg/Kgbb. Kemudian ditunggu sampai 60 menit
untuk selanjutnya dilakukan pengukuran waktu perdarahan dan pengukuran
waktu koagulasi.

Setelah 60 menit, pengujian yang pertama dilakukan adalah pengukuran


waktu perdarahan terlebih dahulu karena lamanya waktu perdarahan itu dimulai
dari tetesan darah pertama sampai darah berhenti mengalir tanpa ada tekanan
apapun atau yang ditandai dengan tidak adanya darah pada penyerap (tissue).
Dimana ekor mencit dilukai (dipotong sedikit ujung ekor mencit) darah yang
keluar diserap oleh tissue sampai darah berhenti, kemudian diamati hasilnya dan
dianalisis. Selanjutnya, pengujian waktu koagulasi yaitu dengan diteteskannya
darah ke kaca objek sebanyak 2-4 tetes dari mencit yang sudah dilukai,
kemudiian diamati dengan menggunakan jarum sampai terbentuknya benang
fibrin (interval waktu 15 detik). Data yang diperoleh dari kedua percobaan ini di
analisis dengan statistik yang bertujuan untuk melihat perbedaan pada waktu
perdarahan antar kelompok dan waktu koagulasi antar kelompok.

Berdasarkan hasil pengamatan, setelah dilakukan pengukuran waktu


perdarahan dan waktu koagulasi, dilihat dari hasil pengamatan waktu perdarahan
kelompok negatif lebih lama dibandingkan dengan kelompok kontrol positif,
seharusnya waktu pendarahan kontrol positif lebih lama dibandingkan kontrol
negatif karena pada kontrol positif diberi aspirin yang bekerja sebagai pengencer
darah. Kemudian, pada kelompok uji satu dan uji dua seharusnya kelompok uji
dua lebih cepat berhenti perdarahannya karena pemberian dosis asam
traneksamat pada uji dua lebih besar dibandingkan pada uji satu. Dan ini tidak
sesuai dengan teori, seharusnya semakin banyak dosis yang diberikan maka
penghentian perdarahan semakin cepat. Karena asam traneksamat merupakan
penghambat plasminogen menjadi plasmin. Sehingga dapat membantu
mengatasi perdarahan berat akibat fibrinolisis. Kesalahan-kesalahan di atas dapat
terjadi diakibatkan karena pada saat penyerapan darah dari ekor mencit
mungkin tidak sengaja darah yang keluar tertekan oleh jari yang memegang ekor
mencit. Selain itu, mungkin saja kemampuan dari setiap mencit yang berbeda
dalam melakukan regulasi hemostatik ataupun dari pemotongan ekor mencit
yang berbeda ukuran. Sedangkan pada pengukuran waktu koagulasi terjadi
ketidaksesuaian antara kelompok uji 2 dengan uji 3 dimana hasil pengamatan
dinyatakan bahwa kelompok uji 2 lebih cepat mengkoagulasi. Karena,
seharusnya uji 3 yang lebih cepat mengkoagulasi, yang disebabkan oleh
pemberian asam traneksamat yang lebih tinggi.

Berdasarkan dari data yang sudah dianalisis statistic dengan one-way


ANOVA pada waktu perdarahan di output pertama tidak terjadi perbedaan yang
signifikan antara waktu perdarahan dengan hewan mencit yang diberi perlakuan
yang berbeda pada kepercayaan 95% karena nilai sig. 0,216 > α = 0,05 dan
Fhitung = 1,747 dan tidak terjadi prbedaan yang sangat signifikan pada
kepercayaan 99% dengan nilai sig. yang sama. Sedangkan pada output kedua
terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok kontol negative dengan uji 3.

Pada waktu koagulasi dengan nilai sig. 0,471 > α = 0,05 dan Fhitung =
0,958 artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kepercayaan
95% dan tudak terjadi perbedaan yang sangat signifikan pada tingkat
kepercayaan 99%. Begitupun pada output kedua tidak terdapat tanda * yang
menjadi tanda terjadinya perbedaan antar kelompok.
I. Kesimpulan

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Dapat memahami kerja obat hemostatik, aspirin yang bertujuan untuk


memperpanjang waktu perdarahan.
2. Hemostasis adalah mekanisme untuk menghentikan dan mencegah
perdarahan. Bilamana terdapat luka pada pembuluh darah, segera akan
terjadi vasokonstrinsik pembuluh darah sehingga aliran darah ke pembuluh
darah yang terluka berkurang, kemudian trombosit akan berkumpul dan
melekat pada bagian pembuluh darah yang terluka untuk membentuk
sumbat trombosit.

J. Jawaban dan Pertanyaan


1. Bagaimana mekanisme kerja asam traneksamat
Jawab :
Yaitu memblok ikatan plasminogen dan plasmin terhadap fibrin
inhibisi terhadap plasma ini sangat terbatas pada tingkat tertentu, asam
traneksamat secara kompetitif menghambat aktivasi plaminogen, sehingga
mengurangi konversi plasminogen menjadi plasmin (fibrinolisin), enzim
yang meng degradasi pembekuan fibrin, fibrinogen, dan protein plasma
lainnya. Termasuk faktor-faktor koagulan V dan VII, asam traneksamat
juga menghambat aktivitas plasmin, tetapi dosis yang lebih tinggi
diperlukan daripada yang dibutuhkan untuk mengurangi pembentukan
plasmin. Maka dapat mengatasi pendarahan berat akibat fibrinosis yang
berlebihan
2. Mengapa aspirin dijadikan sebagai indikator, jelaskan mekanisme
kerjanya
Jawab :
Karena aspirin merupakan salah satu obat yang mampu menghambat
agregan ptotein yaitu txa2 (tromboksan A2) sehingga membantu
menhentikan pendarahan yang disebabkan oleh luka, atau peradangan
Mekanisme kerja
Bekerja menghambat sintesis prostaglandin, yang merupakan suatu
senyawa didalam tubuh sebagai media rasa nyeri, radang yang terbentuk
dari senyawa arakidonat dengan bantuan enzim siklooksigenasi (cox)
dengan penghambatan pada enzim cox maka prostaglandin yg terbentuk
dan nyeri/ radang akibat lukapun reda

3. Apa hubungannya parameter uji kurva waktu pendarahan dan


koagulasi dengan efek hemostatis
Jawab :
Waktu pendarahan : waktu mulai timbulnya tetes darah dari pembuluh
darah yang luka sampai darah berhenti mengalir
Waktu koagulasi. : Dari mulainya darah keluar sampai terbentuk benang
fibrin
Hubungannya, uji yang dilakukan untuk menentukan lamanya tubuh
menghentikan pendarahan akibat luka.
LAMPIRAN

DIAGRAM HASIL PERCOBAAN

RATA-RATA WAKTU PENDARAHAN


140

120
waktu pendarahan (detik)

100

80

60

40

20

0
kontrol (-) kontrol (+) uji 1 uji 2 uji 3

RATA-RATA WAKTU KOAGULASI


90
80
waktu koagulalsi (detik)

70
60
50
40
30
20
10
0
kontrol (-) kontrol (+) uji 1 uji 2 uji 3
K. Daftar pustaka
Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Guyton dan Hall
Ganiswarna, S. G., 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi 4, Gaya Baru : Jakarta
Gunawan, Sulistia Gan. 2012. Farmakologi dan Terapi edisi 5. FKUI : Jakarta.
Rahajunungsih D. Setiabudy. Hemostasis dan Trombosis. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia edisi Kelima, 2012, hal. 23-32.