Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

AIR GAP TECHNIQUE DAN MAKRORADIOGRAFI

NAMA : Fajar Fitriansyah

INSTRUKTUR : Muhammad Rizqi, SST

PROGRAM DIPLOMA IV

JURUSAN TEKNIK RADIODIAGNOSTIK DAN RADIOTERAPI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II

2018
AIR GAP TECHNIQUE

I. LANDASAN TEORI

Air Gap Technique yaitu teknik yang digunakan sebagai alternatif dari penggunaan
grid radiografi. Teknik ini merupakan metode lain untuk mengurangi radiasi hambur
sehingga dapat meningkatkan kontras gambar.

Air Gap Technique tidak terlalu efektif jika menggunakan faktor eksposi diatas 90
kV, karena arah radiasinya yang lebih terarah. Apabila faktor eksposi di bawah 90
kV,arah radiasi hambur akan lebih menyebar, sehingga Air Gap Technique akan lebih
efektif.

Saat air gap teknik digunakan, image receptor dijauhkan 10 cm – 15 cm dari


pasien. Sebagian dari radiasi hambur yang dihasilkan akan tersebar jauh dari image
receptor dan tidak terdeteksi. Karena radiasi hambur sedikit berinteraksi dengan image
receptor menyebabkan kontras gambaran mengalami kenaikan.

Biasanya ketika teknik ini digunakan, mAs akan meningkat sekitar 10% untuk setiap
centimeter dari celah udara .
II. ALAT & BAHAN

No. ALAT JUMLAH No. BAHAN JUMLAH


1. Pesawat 1 1. Kaset 18x24 2
 L Allengers
2. a Hanger 2 2. Film 18x24 2
n 18x24
3. Phantom cranium 1

A. Langkah-langkah kerja tanpa air gap technique:

1. Siapkan alat dan bahan


2. Masukan film 18x24 kedalam kaset 18x24
3. Letakan kaset film di meja pesawat Allengers
4. Posisikan tube ke arah kaset dengan tegak lurus horizontal
5. Posisikan phantom cranium dengan posisi lateral dengan posisi
kanan cranium berdekatan dengan kaset dan tidak ada jarak antara
phantom cranium dengan kaset,
6. Atur CP pada bagian temporal cranium.
7. Atur faktor eksposisi dengan tegangan 65kV dan 12 mAs
8. Tekan tombol eksposi setengah tahan sampai alat siap
9. Tekan tombol eksposi sepenuhnya saat alat telah siap

B. Langkah-langkah kerja dengan air gap technique:

1. Siapkan alat dan bahan


2. Masukan film 18x24 kedalam kaset 18x24
3. Letakan kaset film di meja pesawat Allengers
4. Posisikan tube ke arah kaset dengan tegak lurus horizontal
5. Posisikan phantom cranium dengan posisi lateral dengan posisi
kanan cranium berdekatan dengan kaset dan beri jarak 15 cm
antara phantom cranium dengan kaset.
6. Atur CP pada bagian temporal cranium.
7. Atur faktor eksposisi dengan tegangan 65kV dan 12 mAs
8. Tekan tombol eksposi setengah tahan sampai alat siap
9. Tekan tombol eksposi sepenuhnya saat alat telah siap
III. HASIL DAN KESIMPULAN

A. Hasil

Tidak menggunakan air gap technique Menggunakan air gap technique

B. Kesimpulan

Dari kedua gambar di atas dapat disimpulkan bahwa hasil


gambaran yang menggunakan air gap technique memiliki hasil
gambaran yang lebih bagus dibandingkan dengan yang tidak
menggunakan air gap technique. Hal tersebut dapat terjadi karena
dengan adanya jarak antara objek dan kaset di air gap technique dapat
mengurangi radiasi hambur yang mengenai image detector sehingga
resolusi kontras citra gambaran yang dihasilkan dapat ditingkatkan.
Akan tetapi hasil gambar diatas ( Cranial ) secara keseluruhan tidak
semua terlihat jelas karena pengaturan kolimasi yang kurang tepat.
Khusus untuk gambar pertama terlihat kekaburan gambar yang
disebabkan oleh pengaturan faktor eksposi yang kurang tepat.
MAKRORADIOGRAFI

I. LANDASAN TEORI

Makroradiografi adalah teknik radiografi yang digunakan untuk


memperoleh gambaran yang diperbesar dari gambaran
awalnya/gambaran yang sebenarnya.
Tujuannya adalah Untuk memperoleh informasi yang lebih jelas, yang
tidak diperoleh dari hasil radiograf biasa diakibatkan oleh ukuran dari
bagian – bagian tersebut yang teramat kecil misalnya tulang yang
berukuran kecil, saluran- saluran, dan sebagainya.
Teknik makroradiografi menggunakan prinsip magnifikasi atau
pembesaran ukuran objek dari ukuran sebenarnya dengan cara
meletakkan objek pada jarak tertentu dari film.
Teknik makroradiografi dapat dilakukan dalam dua cara yaitu :
•Mengubah FFD tanpa mengubah OFD
•Mengubah FOD tanpa mengubah FFD

Pembesaran objek yang dihasilkan dapat diukur menggunakan rumus :


FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH

1. Faktor Pembesaran
•Jarak OFD = FOD maka objek terletak diantara 2 focus.
•Pembesaran bertambah bila OFD ditambah atau diperbesar
Pemilihan ukuran focus berkaitan dengan adanya Unsharpness
Geometric (Ug). Ukuran focus yang semakin kecil akan memperkecil
ketidaktajaman geometri.

2. Faktor Ketidaktajaman Geometri


•Ug berbanding lurus dengan ukuran focus yang digunakan.
•Ug berbanding terbalik dengan FOD.
•Ug berbanding lurus dengan OFD.

3. Faktor Ketidaktajaman Gerakan


•Gunakan peralatan fiksasi untuk mengurangi gerakan pasien.
•Pergerakan pasien dapat menimbulkan Unsharpness Movement (Um).

4. Faktor Eksposi
•Pemilihan faktor eksposi dipengaruhi oleh adanya air gap antara objek
dan film.
•Semakin besar air gap maka faktor eksposi yang digunakan akan makin
besar.

5. Faktor Posisi
•Tabung sinar–x harus diatur tegak lurus terhadap film dan objek.
•Bidang objek dan film diatur sejajar.
•Adanya kemiringan dari objek dapat mengakibatkan terjadinya distorsi
gambar.
II. ALAT & BAHAN

No. ALAT JUMLAH No. BAHAN JUMLAH


1. Pesawat 1 1. Kaset 18x24 2
 L Allengers
2. Hanger
a 18x24 2 2. Film 18x24 2
3. n Box film 12 3. Phantom manus 1
 kosong

III. DATA PRAKTIK

Langkah-langkah kerja pertama:


1. Siapkan alat dan bahan
2. Masukan film 18x24 kedalam kaset 18x24
3. Letakan kaset film di meja pesawat Allengers
4. Posisikan tube ke arah kaset dengan tegak lurus vertical
5. Posisikan phantom manus dengan posisi lateral PA dan tidak ada
jarak antara phantom dengan kaset.
6. Atur CP pada bagian karpalia digiti tertier
7. Atur faktor eksposisi dengan tegangan 45kV dan 2,4 mAs
8. Tekan tombol eksposi setengah tahan sampai alat siap
9. Tekan tombol eksposi sepenuhnya saat alat telah siap

Langkah-langkah kerja kedua:


1. Siapkan alat dan bahan
2. Masukan film 18x24 kedalam kaset 18x24
3. Letakan kaset film di meja pesawat Allengers
4. Posisikan tube ke arah kaset dengan tegak lurus vertical
5. Posisikan phantom manus dengan posisi lateral PA dan beri jarak
antara phantom dengan kaset dengan menggunakan 2 box film
kosong yang ditumpuk sehingga menghasilkan OFD 5 cm.
6. Atur CP pada bagian karpalia digiti tertier
7. Atur faktor eksposisi dengan tegangan 45kV dan 2,4 mAs
8. Tekan tombol eksposi setengah tahan sampai alat siap
9. Tekan tombol eksposi sepenuhnya saat alat telah siap
Langkah-langkah kerja ketiga:
1. Siapkan alat dan bahan
2. Masukan film 18x24 kedalam kaset 18x24
3. Letakan kaset film di meja pesawat Allengers
4. Posisikan tube ke arah kaset dengan tegak lurus vertical
5. Posisikan phantom manus dengan posisi lateral PA dan beri jarak
antara phantom dengan kaset dengan menggunakan 4 box film
kosong yang ditumpuk sehingga menghasilkan OFD 11.5 cm.
6. Atur CP pada bagian karpalia digiti tertier
7. Atur faktor eksposisi dengan tegangan 45kV dan 2,4 mAs
8. Tekan tombol eksposi setengah tahan sampai alat siap
9. Tekan tombol eksposi sepenuhnya saat alat telah siap

Langkah-langkah kerja keempat:


1. Siapkan alat dan bahan
2. Masukan film 18x24 kedalam kaset 18x24
3. Letakan kaset film di meja pesawat Allengers
4. Posisikan tube ke arah kaset dengan tegak lurus vertical
5. Posisikan phantom manus dengan posisi lateral PA dan beri jarak
antara phantom dengan kaset dengan menggunakan 6 box film
kosong yang ditumpuk sehingga menghasilkan OFD 17 cm.
6. Atur CP pada bagian karpalia digiti tertier
7. Atur faktor eksposisi dengan tegangan 45kV dan 2,4 mAs
8. Tekan tombol eksposi setengah tahan sampai alat siap
9. Tekan tombol eksposi sepenuhnya saat alat telah siap

FFD (cm) FOD (cm) OFD (cm)


Tanpa box 90 90 0
2 box 90 85 5
4 box 90 78,5 11,5
6 box 90 73 17
IV. HASIL DAN KESIMPULAN
A. Hasil

Tanpa Box 2 Box

4 box 6 Box
B. Kesimpulan

Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan


bahwa hasil gambaran jika OFD nya semakin besar maka semakin
besar juga gambaran yang dihasilkan. Sedangkan gambaran yang jarak
OFD nya 0 tidak mengalami pembesaran gambar.

Hasil gambaran yang menggunakan 2 box mengalami pembesaran


sebesar 1,05 yang didapatkan dari:
FFD 90
MF = = = 1,05
FOD 85

Hasil gambaran yang menggunakan 4 box mengalami pembesaran


sebesar 1,14 yang didapatkan dari:
FFD 90
MF = FOD = 78.5 = 1,14

Hasil gambaran yang menggunakan 6 box mengalami pembesaran


sebesar 1,23 yang didapatkan dari:
FFD 90
MF = FOD = 73 = 1,23