Anda di halaman 1dari 2

Setelah teman-teman membaca artikel "Leasing dan perlindungan Konsumen" ,

diskusikan pernyataan dibawah ini:


Keberadaan lembaga pembiayaan atau leasing merupakan suatu kebutuhan yang
sangat diharapkan bagi masyarakat Indonesia. Dari satu sisi, kehadirannya
mampu membantu usaha dan mengangkat taraf hidup namun di sisi lain,
merupakan momok yang menakutkan sebab masyarakat selaku konsumen selalu
berada di posisi yang lemah.
Menuruut pendapat anda mengapa konsumen selalu pada posisi yang lemah?
Silahkan berdiskusi!
Catatan : Mohon dalam diskusi ini tidak dikirimkan dalam bentuk file (.doc. .pdf dan .
txt) dengan tujuan untuk mempermudah teman lainya dalam memberi pernyataan
dalam berdiskusi dan memudahkan tuton dalam memberikan penilian. trimakasih dan
mohon maaf.

Jawab :

Leasing adalah perjanjian/kontrak antara dua pihak, yaitu pihak lessor yang menyediakan aset
untuk dipakai oleh pihak lain (lesse) dalam jangka waktu tertentu sebagai imbalan atas
pembayaran sejumlah tertentu.
Pihak-pihak yang terkait secara langsung dalam perjanjian leasing adalah lessor (perusahaan
leasing), lesse (penyewa) dan supplier (pemasok barang modal yang disewa), sedangkan pihak-
pihak yang terkait secara tidak langsung adalah bank dan asuransi.
Melalui lembaga pembiayaan (leasing) konsumen, masyarakat yang tadinya kesulitan untuk
membeli barang secara tunai, akan dapat teratasi dengan mudah dan cepat. Kemudahan yang
diberikan oleh lembaga pembiayaan konsumen melebihi kemudahan yang diberikan oleh bank.
Lembaga pembiayaan konsumen memberikan kemudahan, keringanan, pelayanan yang cepat,
waktu yang singkat, prosedur yang tidak birokratis dan tidak berbelit-belit. Kondisi tersebut
sangat disukai oleh masyarakat, dan rentan terhadap resiko. Seperti isi dalam surat perjanjian
(kontrak) antara leasing dengan konsumen.

Perjanjian leasing adalah sebuah badan usaha yang diluar bank dan lembaga keuangan bukan
bank yang dilakukan oleh lembaga pembiayaan. Adapun yang menjadi alas hukum dari leasing
yaitu Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Perindustrian, dan Perdagangan Nomor:
KEP- 122/MK/IV/2/1974, Nomor: 32/M/SK/2/1974 dan Nomor: 30/KPB/I/1974 tentang
Perizinan Usaha Leasing. Akan tetapi lembaga leasing ini dalam prakeknya menggunakan
bentukperjanjian baku yang dimana dalam perjanjian tersebut pihak pelaku usaha/lessor telah
menyiapkan perjanjiannya, sedangkan pihak lesse hanya tinggal medatanginya saja. Posisi
konsumen dalam hal ini sangatlah lemah apabila mereka tidak mensetujui syarat-syarat yang
diajukan maka mereka harus meninggalkan atau tidak mengadakan perjanjian dengan pelaku
usaha tersebut (take at or leave it contract).
Contoh lainnya seperti tingginya biaya yang ditanggung konsumen, sehingga ketika konsumen
terlambat membayar karena suatu hal, leasing langsung saja bertindak sebelah pihak. Padahal
belum tentu konsumen tidak niat membayar, keterlambatan yang terjadi mungkin saja
disebabkan kerena beberpa hal yang tidak terduga. Seharusnya leasing dapat mempertimbangkan
alasan keterlambatan konsumen, jangan bertindak sebelah pihak. Apalagi kontrak tersebut di
buat secara sepihak oleh pihak leasing, sehingga bisa di bilang konsumen 'terpaksa' untuk
menerima kontrak tersebut bila ingin menerima kredit.

Agar leasing tidak merugikan konsumen harus dibuat perjanjian yang adil antara pihak leasing
dan konsumen. Selain itu kita harus menjadi konsumen yang cerdas, seperti :
1. Mempelajari dan mereview seluruh kontrak perjanjian dengan pelaku usaha jasa keuangan
(PUJK), baik kontrak pembiayaan, simpanan, maupun fasilitas alat pembayaran
menggunakan kartu (APMK). Apabila dirasakan ada klausul perjanjian yang kurang adil dan
berat sebelah maka konsumen wajib melaporkan kepada OJK;
2. Bertanya kepada pegawai lembaga keuangan terkait profil, karakteristik dan risiko produk
jasa keuangan yang hendak dikonsumsi dan merekam pernyataannya sebagai dokumen bukti
apabila dibutuhkan suatu saat;
3. Jangan mudah tergiur dengan keuntungan dari fasilitas pembiayaan dan fasilitas lain yang
ditawarkan, fokuslah pada risiko yang mungkin timbul dikemudian hari;
4. Jangan pernah memalsukan data dan informasi pribadi meskipun ditawari oleh tenaga
pemasar lembaga keuangan terkait;
5. Selalu berdiskusi dengan keluarga perihal produk keuangan yang akan dikonsumsi;
6. Pahami mekanisme dan alur penyelesaian sengketa konsumen, mulai dari proses bipartite,
tripartite hingga alur persidangan;
7. Selalu beritikad baik dalam melakukan transaksi dengan PUJK dan konsekuensi terhadap
hak dan kewajiban yang disepakati.

Sumber :

 BMP Bank dan Lembaga Non Bank


 https://oto.detik.com/berita/d-1133800/konsumen-dirugikan-kontrak-lembaga-pembiayaan

 http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/40495

 https://ylki.or.id/2017/02/lampu-kuning-financial-services/