Anda di halaman 1dari 8

TUGAS 10

Mohammad Ilham Daradjat-1606904964


1. Jelaskan jenis baja tahan karat yang saudara ketahui dan perbedaan masingmasing. Tunjukkan
lokasi baja tersebut di dalam diagram Schaefler.

Stainless Steel atau baja tahan karat, adalah jenis baja yang tahan terhadap korosi karena
memiliki kandungan Cr yang tinggi diatas 10%. Hal ini berguna untuk menimbulkan
lapisan pasif yang bisa mencegah reaksi antara permukaan baja dengan oksigen. Jenis-jenis
SS berdasarkan fasa yang terbentuk, dapat dilihat menggunakan diagram Schaeffeler
dibawah ini :

Berdasarkan diagram diatas, maka dapat dilihat beberapa jenis SS yaitu :

Jenis baja tahan karat Sifat-sifat

Austenitik (Ni > 7 %) Paling mudah dilas


Paling umum dipakai SS304
Cacat yang mungkin: solidification cracking,
liquation cracking, weld decay
Feritik SS 430 (16-18% Cr) dan 407 (10-12%Cr)
Masalah yang biasa terjadi :
 pengkasaran butir dan ketangguhan HAZ
rendah karena laju difusi Fe tinggi  HI turun
 kemungkinan terbentuk martensit dari austenit
(keras dan getas)  retak  preheating
 Sensitasi: pembentukan endapan karbida
/nitrida akibat proses pemanasan  PWHT
(750-850 oC for 30-60 menit)
Feritik – austenitik Terdiri dari dua fasa : austenit dan ferit
(duplex) Perbandingan fasa ideal 50:50
Problem dan penanggulangan:
 sulit mendapat austenit 50 % sehingga perlu
ditambah nickel (over matching)
 kemungkinan pertumbuhan butir grain growth)
dari full-ferit pada HAZ low-toughness),
sehingga masukan panas perlu dikontrol
 low arc energy menyebabkan kandungan ferit
meningkat sedang sebaliknya akan terbentuk
fasa sigma
Martensitik (hi-carbon) Martensitic SS (AISI 400/UNS S 40000 series)
paling sukar di las (12 Cr low carbon grades 403,
410, 414,416,420 and high carbon grades 431)
Aplikasinya untuk material tahan aus
Problem dan penanggulangan :
 retak las  preheating
 PWHT  untuk menaikan sifat mekanis dan
mengurangi tegangan sisa
 kandungan hidrogen harus rendah
Kemampulasan (weldability) adalah kemampuan suatu material untuk disambung dengan
metode pengelasan tertentu sehingga dihasilkan hasil lasan yang bagus. Material dengan
kemampulasan yang tinggi dapat dilas di bawah kondisi perakitan khusus sehingga dapat
menghasilkan hasil las sesuai dengan desain struktur dan dapat menunjukan performa
memuaskan di lapangan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampulasan adalah:

 Desain dari lasan.


 Kondisi lapangan (services).
 Pemilihan proses pengelasan.
 Sifat-sifat material, antara lain: temperatur titik lebur dan titik uap, sifat listrik dan panas,
afinitas lasan terhaap O, N, dan H, keberadaaan lapisan film di permukaan logam induk.

2. Jelaskan weldability dari baja tahan karat. Dan sebutkan urutan tertinggi hingga terendah
dalam hal kemampulasannya.

Weldability dari baja tahan karat adalah baja tahan karat mudah di las dalam berbagai metode.
Dan struktur serta sifat yang terbentuk dari hasil pengelasan sangat bergantung kepada
komposisi kimia hasil lasan. Jenis struktur ditentukan diagram schaeffler & De long.

Urutan weldabilitynya dari yang paling mudah :Austenitik-ferritic-duplex-martensitic

3. Jelaskan mekanisme terjadinya weld decay (korosi batas butir) dan bagaimana cara
pencegahannya.

Mekanisme terjadinya weld decay (korosi batas butir) :


SS pada suhu
Lack of Cr Zone
500-8000C

Terbentuk
Weld Decay
endapan Cr23C6

Cara mengatasinya :

a. Menggunakan jenis 321 (Ti stabilised) : T = 5 x % C atau 347 (Nb stabilised) : Nb


= 10 x % C

b. Penghilangan endapan karbida dengan solution treatment pada temp 1050 C yang
diikuti oleh pendinginan cepat

c. Menggunakan ” L ” grades (low carbon)

4. Jelaskan mekanisme terjadinya solidification cracking dan bagaimana cara pencegahannya.

Solidification Cracking
 Mekanisme terjadinya solidification craking: logam las membeku sebagai fasa tunggal
gamma (γ) yaitu Crek /Niek <1.5
o Hal ini karena solidifikasi SS saat mengelas pertama kali yaitu Austenit, sehingga
ketangguhan berkurang. Kemudian baru delta ferrit nya.
 Cara mengatasinya: menciptakan 5-10 % ferrite pada logam las melalui pemilihan kawat
las yang tepat
5. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat feritik.

Problem umum pengelasan Ferritic Duplex :

Masalah Cara Mengatasi

Terjadi pengkasaran butir dan Heat input perlu diturunkan


ketangguhan HAZ rendah karena laju
difusi Fe tinggi

Kemungkinan terbentuk martensit dari Sebelum dilakukan welding, perlu


austenit (keras dan getas) yang dapat dilakukan preheating
menyebabkan retak

Sensitasi = pembentukan endapan Post Weld Heat Treatment (PWHT) pada


karbida/nitrida akibat proses pemanasan 750-850 oC selama 30-60 menit

6. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat dupleks.
=

Problem umum pengelasan baja Duplex SS:


 Fase Austenit susah untuk didapat sehingga perlu penambahan Ni
 Kemungkinan terjadi pertumbuhan butir (dari full-ferit pada HAZ low-toughness),
sehingga masukan panas perlu dikontrol
 low arc energy menyebabkan kandungan ferit meningkat, high arc energy
menyebabkan terbentuknya fasa sigma.

7. Jelaskan problem yang umumnya terjadi pada pengelasan baja tahan karat martensitik.

Problem umum pengelasan Martensitik SS :

a. Retak Las akibar terbentuknya struktur yang keras dan rapuh (martensit) di HAZ

b. Terdapat tegangan sisa karena pada saat pengelasan mencapai suhu martensit

8. Proses finishing apa yang dilakukan pada pengelasan baja tahan karat austenitik, apa yang
terjadi bila hal tersebut tidak dilakukan.

Apabila tidak dilakukan maka akan terjadi proses korosi karena disebabkan adanya besi
oksida dipermukaan yang meningkatkan terjadinya resiko korosi

9. Jelaskan metoda pengelasan ”dissimilar metal” antara baja karbon AISI 1030 dan baja tahan
karat austenitic AISI 304. Jelaskan pengaruh kawat las bila a) kawat las tidak diberikan (tanpa
filler metal/autogeneous) dan b) bila kawat las diberikan dengan menggunakan ER390.
Gunakan gambar skematis di diagram schaeffler dibawah.

=
Untuk melakukan pengelasan beda logam antara baja karbon dengan baja tahan austenitik
maka digunakan proses pengelasan SMAW dengan arus sebesar 60 amper. Masukan panas
dijaga rendah untuk menghindari crack atau embrittlement. Elektroda yang dapat
digunakan antara lain (tergantung jenis baja) E 304 and R 990.
a) Kawat Las Tidak Diberikan Filler Metal
Penggunaan kawat las akan berpengaruh terhadap besarnya daerah dilusi. Dilusi adalah
perbandingan daerah base metal yang berfusi dibagi seluruh daerah kampuh las.
Berikut merupakan diagram Schaeffler untuk pengelasan dissimiliar baja tahan karat
austenitik dengan baja karbon tanpa filler.

b) Kawat Las E309


Berikut merupakan diagram Schaeffler untuk pengelasan dissimilar baja tahan karat
austenitik dengan baja karbon menggunakan kawat las E309 :
10. Apa yang dimaksud dengan dillution dalam pengelasan dissimilar metal. Sebutkan sarat sarat
dalam mengelas dissimilar metal agar dicapai struktur mikro dan kekuatan yang baik.
Ambil kasus 9 b diatas.

ER 309

AISI 304

AISI 1030

=
Dilusi pada dissimilar metal adalah perbandingan daerah base metal yang berfusi dibagi
dengan seluruh daerah kampuh las. Dilusi dapat dihitung menggunakan persamaan berikut
ini:

Syarat-syarat dalam mengelas dissimilar metal agar dicapai struktur mikro dankekuatan yang
baik antara lain
 Pemilihan Jenis filler elektroda yang tepat: analisis diagram Schaffler menunjukkan bahwa
penggunaan elektroda jenis E 308 sudah memenuhi syarat untukmenyambung bahan
dissimilar metal antara baja stainless SUS 304 dengan baja karbonrendah.
 Heat input yang tepat : Masukan panas dijaga rendah untuk menghindari crack atau
embrittlement