Anda di halaman 1dari 6

Seri Khutbah Jum’at Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) Wilayah DIY

Edisi 1, Jum’at 1 Januari 2016

KALENDER HIJRIYYAH IDENTITAS UMAT ISLAM


Oleh: Ust. Achmad Dahlan, Lc. MA.
(Wakil Ketua, PW IKADI DIY)

Khutbah Pertama:

ُ ُ َ ُ َ َ َ َ ‫ﱠ‬ ‫ ا ْﻟ ـ َـﻔـ ْـﺮد اﻟ ﱠ‬،‫َا ْ ـ َ ـ ْـﻤـ ُـﺪ ﻟـ ﱠـﻠ ــﮫ ا ْﻟ ـ َـﻮاﺣــﺪ ْ َ َﺣــﺪ‬
‫ اﻟ ـ ِـﺬ ْي ﻟ ـ ْـﻢ َﻳ ـ ِـﻠـ ْـﺪ َوﻟ ـ ْـﻢ ُﻳ ـ ْـﻮﻟـ ْـﺪ َوﻟـ ْـﻢ َﻳــﻜ ـ ْـﻦ ﻟ ـ ُـﮫ ﻛ ــﻔ ـ ًـﻮا‬،‫ـﺼـ َـﻤ ــﺪ‬ ِ ِ ِ ِ ِ
ََ ْ ‫ُ َ ُّ ﱠ‬ َ ْ ْ َ َ َ ‫ﱠ‬ َ َ ْ َ ْ َ ً
‫ ﻣ ــﻜ ـ ِـﻮر اﻟ ـﻠ ــﻴ ـ ِـﻞ ﻋ ـ ـ‬،‫ اﻟ ـ َـﻮا ِﺣ ـ ِـﺪ اﻟ ــﻘ ـ ﱠ ــﺎر‬،‫ أﺷ ـ َ ـ ُـﺪ أن ﻻ ِاﻟ ـ َـﮫ إﻻ ﷲ َو ْﺣ ـ َـﺪ ُﻩ ﻻ ﺷ ـ ِـﺮ ْ ـ َـﻚ ﻟ ــﮫ‬. ‫أ َﺣ ﺪ‬
ّ َ ‫ ا ﱠﻟ ـﻠ ـ ُ ـ ﱠـﻢ‬،‫ َﺳ ّـﻴ َـﺪ اﻟ ﱡـﺮ ُـﺳــﻞ َوإ َﻣــﺎ ُم ْ َ ْﺑـ َـﺮار‬،‫ َو َأ ْﺷـ َ ُـﺪ َأ ﱠن ُﻣ َـﺤ ﱠـﻤ ًـﺪا َﻋ ْـﺒ ُـﺪ ُﻩ َو َر ُﺳـﻮ ُﻟ ُـﮫ‬،‫اﻟـ ﱠ ـ َ ـﺎر‬
ْ ‫ﺻـ ِ ّـﻞ َو َﺳـ ِـﻠ ـﻢ‬ ِ ِ ِ َ
َ ْ َ ْ َ ْ ََ َ َ
: ‫ أﻣـﺎ ـﻌــﺪ‬، ‫َﻋـ ـ ُﻣ َـﺤ ﱠـﻤ ٍـﺪ َو َﻋـ ـ آ ِﻟ ِـﮫ وأ ـ ـﺎ ِﺑ ِـﮫ ﻃـ ـﺎر‬
ْ ‫ﱠ‬ َ

َ َ ُ َ َ ُ َْ ‫ﱠ‬ ُ َ َ َُ َ ‫ ا ﱠﺗ ُـﻘـﻮا‬،‫َﻓ َـﻴـﺎ َﻋ َـﺒـﺎ َد ﷲ‬


: ‫ﷲ َـﻌـﺎ‬ ‫ ﻗـﺎل‬،‫ َوﻻ ﺗـ ُـﻤـﻮﺗ ﱠـﻦ ِإﻻ َوأﻧـﺘ ْـﻢ ُﻣ ْـﺴ ِـﻠ ُـﻤـﻮن‬،‫ﷲ َﺣ ﱠـﻖ ﺗـﻘـﺎ ِﺗ ِـﮫ‬ ِ
َ َ
ُْ ‫َ َ ُ ﱠ‬ َُ ‫ﱠ‬ ُ‫ُ ﱠ‬ ‫ﱠ‬ َ
(( ‫)) َﻳـﺎ أ ﱡ ـ َ ـﺎ اﻟ ِـﺬﻳ َـﻦ آ َﻣـﻨـﻮا اﺗـﻘـﻮا اﻟـﻠ َـﮫ َﺣ ﱠـﻖ ﺗـﻘـﺎ ِﺗ ِـﮫ َوﻻ ﺗ ُـﻤـﻮﺗ ﱠـﻦ ِإﻻ َوأﻧـﺘ ْـﻢ ُﻣ ْـﺴ ِـﻠ ُـﻤـﻮن‬
ْ‫س ا ﱠﺗ ُـﻘـﻮا َر ﱠ ُـﻜ ْـﻢ َوا ْﺧ َـﺸ ْـﻮا َﻳ ْـﻮ ًﻣـﺎ َﻻ َﻳ ْـﺠـﺰي َواﻟ ٌـﺪ َﻋ ْـﻦ َو َﻟـﺪﻩ َو َﻻ َﻣ ْـﻮ ُﻟـﻮ ٌد ُ َـﻮ َﺟــﺎز َﻋــﻦ‬ ُ ‫َ َﱡَ ﱠ‬
ٍ ِِ ِ ِ ‫))ﻳـﺎ أ ـ ـﺎ اﻟـﻨـﺎ‬
َ ْ ‫ﱠ‬ ُ ‫ﱠ‬ ُ َ ْ ُ ْ ُ ‫ﱠ‬ ُ َ َ َ ‫ﱠ‬ َ
(( ‫َوا ِﻟ ِـﺪ ِﻩ ﺷـ ْ ًـﺌـﺎ ِإ ﱠن َو ْﻋ َـﺪ اﻟـﻠ ِـﮫ َﺣ ﱞـﻖ ﻓـﻼ ـﻐ ﱠـﺮﻧـﻜ ُـﻢ ا ـ َ َـﻴـﺎة اﻟ ﱡـﺪﻧ َـﻴـﺎ َوﻻ َ ـﻐ ﱠـﺮﻧـﻜ ْـﻢ ِﺑﺎﻟﻠ ِﮫ اﻟﻐ ُﺮو ُر‬

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah


Pada setiap pergantian tahun baru, di hampir seluruh belahan dunia -- termasuk
di negeri-negeri Islam -- umat manusia membanjiri pusat-pusat keramaian untuk
merayakan pergantian tahun masehi. Mereka bernyanyi, menari, dan berpesta ria untuk
mengisi menit-menit terakhir menuju tahun yang baru. Tua, muda, laki-laki, dan
perempuan; semuanya larut dalam kegembiraan sembari menyaksikan bunga api yang
beterbangan di langit. Sebuah pemandangan tahunan yang selalu berulang.
Akan tetapi, yang mengherankan adalah mengapa kebanyakan umat Islam, ketika
terjadi pergantian tahun hijriyah, seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi. Bahkan
mungkin sebagian umat Islam tidak mengetahui bahwa tahun Islam sudah berganti.
Tidak ada perayaan, tidak ada kegembiraan, dan tidak ada pemandangan yang kita lihat
sebagaimana pada pergantian tahun masehi.

1
Tentunya bukan perayaan dan foya-foya serta melakukan segala jenis
kemaksiatan yang kita inginkan dalam menyambut tahun baru hijriyah. Tapi, kita ingin
melihat umat Islam mempunyai kebanggaan dengan identitas mereka, atas sesuatu yang
membedakan mereka dengan budaya dan peradaban lainnya. Tahun Hijriyah adalah
salah satu syiar dan kebanggaan umat Islam. Ia adalah identitas kita dan kekhususan
bagi umat Islam.
Setiap agama, bangsa dan peradaban mempunyai kalender mereka sendiri.
Kalender itu mereka buat untuk menandai tonggak kebangkitan peradaban mereka, atau
merepresentasikan peristiwa besar dalam sejarah perjalanan hidup mereka sebagai
sebuah bangsa. Maka kita melihat peradaban Yunani dan Romawi mempunyai kalender
mereka sendiri; peradaban China, India, suku Maya, Yahudi, Kristen, Budha, Hindu, dan
semua peradaban dan agama mempunyai kalender mereka sendiri. Setiap peradaban
menentukan awal kalender mereka dengan merujuk kepada sebuah peristiwa besar yang
terjadi dalam sejarah mereka.
Bagi ummat Islam, kalender hijriyah dimulai dari momen hijrah Nabi Muhammad
saw dari Makkah ke Madinah. Sebelum Islam datang, orang Arab tidak mempunyai
kalender untuk menghitung tahun-tahun yang mereka lewati. Mereka sudah mengenal
nama-nama bulan yang berjumlah 12 sesuai dengan hitungan peredaran bulan, tetapi
mereka tidak mengenal hitungan tahun. Oleh karena itu mereka biasa menghitung tahun
dengan berpatokan pada peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah mereka. Misalnya;
peristiwa usaha perobohan Ka’bah oleh raja Abrahah. Tahun tersebut mereka namai
dengan tahun gajah karena Abrahah membawa pasukan yang mengendarai gajah. Maka,
mereka kemudian mencatat sejarah mereka dengan berpatokan pada tahun tersebut dan
mengatakan: dua tahun setelah tahun gajah, atau tiga sebelum tahun gajah dan
seterusnya. Barulah pada tahun 17 Hijriyah, tepatnya pada tanggal 20 Jumadil Akhir,
Khalifah Umar bin Khattab membuat kalender umat Islam setelah bermusyawarah
dengan para shahabat. Peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah kemudian
dijadikan tonggak awal penghitungan kalender hijriyah tersebut.
Sedangkan untuk nama-nama bulan, umat Islam menggunakan nama yang sudah
ada di kalangan orang Arab sebelum Islam, karena al Qur’an sendiri menggunakan nama
-nama tersebut, seperti dalam firman Allah:

2
َ
‫س َو َ ـ ِّ ــﻨ ــﺎ ٍت ِﻣ ـ َـﻦ‬ ‫ـﺎ‬ ‫ـ‬
‫ﱠ‬
‫ـﻨ‬‫ـ‬ ‫ﻠ‬ ‫ـ‬ ‫ﻟ‬ ‫ى‬ ‫ـﺪ‬ً ‫ـﻀ ــﺎ َن ا ﱠﻟ ــﺬي ُأ ْﻧ ــﺰ َل ﻓ ـﻴ ــﮫ ا ْﻟ ـ ُـﻘ ـ ْـﺮآ ُن ُ ـ‬
َ ‫َﺷ ـ ْ ـ ُـﺮ َ َﻣ‬
ِ ِ ِ ِ ِ ِ ‫ر‬
ْ َ َ
ُ ‫ا ْﻟـ ُ َـﺪى َواﻟ ُـﻔ ْـﺮﻗـﺎن ﻓ َـﻤ ْـﻦ َﺷـ َـﺪ ﻣ ْـﻨ ُـﻜ ُـﻢ اﻟ ﱠـﺸـ ْ َـﺮ ﻓـﻠ َـﻴ‬
َ ْ
‫ـﺼ ْـﻤ ُـﮫ‬ ِ ِ ِ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa.”(Q.S. Al Baqarah: 183)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah


Sebagai ummat Islam kita seharusnya bangga dengan kalender kita sendiri, yaitu
kalender hijriyah. Seharusnya kita menggunakannya sebagai patokan dalam aktifitas kita
sehari-hari. Karena sekali lagi, ia merupakan identitas dan kekhususan kita sebagai
sebuah umat.
Mungkin sebagian kita bertanya, apa urgensinya kita menggunakan kalender
hijriyah jika kebanyakan manusia di dunia menggunakan kalender masehi saat ini?
Maka, jawaban untuk pertanyaan itu adalah sebagai berikut.
Pertama, kalender hijriyah adalah syariat Allah subhanahu wata’ala. Mengapa
demikian? Karena Allah telah menentukan bahwa umat Islam harus menggunakan
kalender yang berpatokan pada peredaran bulan untuk menghitung hari. Dan, kalender
hijriyah memenuhi kriteria tersebut. Allah berfirman:
ْ ‫َ ْ َُ َ َ َ َْ ﱠ ُ ْ َ َ َ ُ ﱠ‬
... ّ ِ َ ‫ﺎس َوا‬
ِ ‫ﺴﺄﻟﻮﻧﻚ ﻋ ِﻦ ِ ﻠ ِﺔ ﻗﻞ ِ ﻣﻮا ِﻗﻴﺖ ِﻟ‬
‫ﻠﻨ‬
Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah:
"Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi
ibadat) haji.” (Q.S. Al Baqarah: 183)

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

ََ ‫ﱠ‬ َ َ َ َ َ َْ ‫َْ ﱠ‬ ‫ﱠ ﱠَ ﱡ‬
‫ﺎب اﻟﻠ ِﮫ َﻳ ْﻮ َم ﺧﻠ َﻖ‬‫ﺘ‬
ِ ِ ِ‫ﻛ‬ ‫ا‬
‫ﺮ‬ ً ْ ‫ﺷ‬ ‫ﺮ‬ ‫ﺸ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﺎ‬‫ﻨ‬ ‫اﺛ‬ ‫ﮫ‬
ِ ‫اﻟﻠ‬ ‫ﺪ‬ ‫ﻨ‬ ‫ﻋ‬ ‫ﻮر‬
ِ ِ ُ ‫اﻟﺸ‬ ‫ِإن ِﻋﺪة‬
ٌ َ َ
َ ‫اﻟﺴ َﻤ َﺎوات َو ْ ْر‬
...‫ض ِﻣ ْ َ ﺎ أ ْرَ َﻌﺔ ُﺣ ُﺮ ٌم‬ ِ ‫ﱠ‬
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua
belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan
bumi, di antaranya empat bulan haram.” (Q.S. At-Taubah: 36)

Dalam dua ayat tersebut Allah menegaskan bahwa hitungan hari dalam setahun

3
adalah dengan berpatokan pada peredaran bulan, bukan pada peredaran matahari.
Kedua, banyak sekali ibadah dan muamalah dalam syariat Islam yang tidak bisa
diketahui, kecuali dengan berpatokan pada kalender hijriyah. Misalnya bulan
Ramadhan, kita tidak bisa melaksanakan kewajiban puasa pada bulan Ramadhan jika
tidak mengetahui kapan bulan Ramadhan tiba. Demikian juga ibadah haji yang
dilaksanakan pada bulan Zulhijjah. Kita tidak bisa melaksanakannya tanpa mengetahui
kapan bulan Zulhijjah menjelang. Juga ibadah-ibadah lain dalam Islam, seperti hari raya
Idul Fithri, Idul Qurban, iddah bagi wanita yang suaminya meninggal, dan lain-lain.
Ketiga, karena kalender hijriyah berhubungan dengan aqidah seorang muslim.
Sebagaimana sudah disinggung sebelumnya, setiap umat dan agama menghitung
kalender mereka diawali dari peristiwa yang menurut mereka agung. Maka, kalender
masehi di kalangan orang Kristen, diawali dengan kelahiran Nabi Isa, karena mereka
mengagungkan hari kelahirannya. Orang Yahudi memulai kalender mereka dari zaman
Nabi Musa, karena mereka mengagungkannya. Demikian juga kaum Muslimin memulai
kalender hijriyah dari peristiwa agung yang menjadi tonggak kebangkitan dan
penyebaran umat Islam, yaitu hijrah Nabi Muhammad saw. Ini menunjukkan, bahwa
penggunaan kalender berhubungan dengan aqidah, karena berhubungan dengan
pengagungan terhadap sebuah peristiwa dalam agama tertentu.
Keempat, peradaban Islam dan khazanah Islam semuanya ditulis dan direkam
dengan berpatokan pada kalender hijriyah. Jika umat Islam tidak menggunakan kalender
hijriyah, maka mereka akan melupakan sejarah peradaban mereka sendiri dan tidak
memahami khazanah keilmuan yang dihasilkan para ulama dan ilmuwan mereka.
Kelima, penggunaan kalender hijriyah menunjukkan kebanggaan dan
independensi Umat Islam. Umat ini mempunyai identitas sendiri dan tidak perlu
membebek pada nilai, budaya, aqidah, serta kebanggan agama lain.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah


Maka marilah kita kembali menjadikan kalender hijriyah sebagai kalender
aktifitas kita sehari-hari. Mari kita bangga dengan identitas kita sebagai seorang Muslim
dengan tidak menjadi umat yang imma’ah, yang hanya mengekor pada peradaban dan
kebudayaan bangsa dan agama lain. Mari kita selalu menyertakan tanggal hijriyah dalam
surat-surat resmi kita, sehingga kaum Muslimin kembali sadar bahwa mereka

4
‫‪mempunyai kalender sendiri. Juga agar memudahkan kita untuk mengingat peristiwa‬‬
‫‪penting dalam sejarah umat Islam, seperti kelahiran Nabi Muhammad, Isra’ Mi’raj,‬‬
‫‪hijrah, dan Nuzulul Qur’an. Juga agar kita mempunyai kesadaran untuk melakukan‬‬
‫‪ibadah-ibadah yang berhubungan dengan waktu-waktu tertentu, seperti puasa Asyura,‬‬
‫‪puasa Arafah, puasa Syawwal, dan puasa Ayyamul bidh.‬‬
‫‪Mari kita menjadi umat yang bangga dengan sejarah dan peradaban yang‬‬
‫‪dibangun oleh para tokoh, ulama, dan ilmuwan kita di masa lalu.‬‬

‫َُ‬ ‫َ َ َ ُ ْ ََ ُ ْ ُْ ْ ْ َ ْ َََ َ َ ﱠ ُ ْ َ ْ َ ْ َ َ ّ ْ ْ‬
‫اﻟﺬﻛ ِﺮ اﻟ َـﺤ ِﻜ ْﻴﻢ‪ ،‬أﻗﻮ ُل َﻣﺎ‬ ‫ﺑﺎرك ﷲ ِ وﻟﻜﻢ ِﺑﺎﻟﻘﺮ ِآن اﻟﻜ ِﺮ ﻢ‪ ،‬وﻧﻔﻌ ِ و ِإﻳﺎﻛﻢ ِﺑﻤﺎ ِﻓﻴ ِﮫ ِﻣﻦ ﻳ ِ‬
‫ﺎت و ِ‬
‫ْ‬ ‫ﱠ‬ ‫ُ‬ ‫َ ْ َ ْ ُْ ﱠ ُ ُ َ ْ َُ‬ ‫َ ْ َ ُ ن ََ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ْ َ ْ ََ ُ ْ ْ ُ ّ َْ‬
‫ﻮر‬ ‫و‬
‫ﺴﻤﻌﻮ ‪ ،‬وأﺳﺘﻐ ِﻔﺮ ﷲ اﻟﻌ ِﻈﻴﻢ ِ وﻟﻜﻢ ِﻣﻦ ِﻞ ذﻧ ٍﺐ‪ ،‬ﻓﺎﺳﺘﻐ ِﻔﺮ ﻩ‪ِ ،‬إﻧﮫ ﻮ اﻟﻐﻔ اﻟﺮ ِﺣﻴﻢ‬

‫‪Khutbah Kedua:‬‬

‫َﻋـ َ ـ إ ْﺣ َـﺴـﺎﻧـﮫ‪َ ،‬واﻟ ﱡـﺸـ ْـﻜـ ُـﺮ َﻟـ ُـﮫ َﻋ ـ َ ـ َﺗـ ْـﻮﻓـ ْـﻴــﻘــﮫ َوا ْﻣ ـﺘـ َـﻨــﺎﻧــﮫ‪َ ،‬و َأﺷ ـ َ ـ ُـﺪ َأن ﻻ إ َﻟـ َـﮫ إﻻ اﻟـ ﱠـﻠــﮫُ‬ ‫ـﺪ‬‫َا ْ ـ َ ْـﻤ ُ‬
‫ِ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬
‫ﱠ‬ ‫َ ُ ﱠ َ ﱠَ ُ ﱠ ً َ ُ ُ ََ ُ ُ ُ َ‬ ‫َ ْ َ ُ َ َ َِ ُ َ ْ ْ ً َ ْ‬
‫وﺣـﺪﻩ ﻻ ﺷ ِـﺮ ـﻚ ﻟـﮫ ـﻌ ِـﻈـﻴـﻤـﺎ ِﻟـﺸـﺄ ِﻧـﮫ‪ ،‬وأﺷـ ـﺪ أن ﻧـ ِـﺒ ـ ــﻨــﺎ ﻣ ـﺤــﻤــﺪا ﻋ ـﺒــﺪﻩ ورﺳــﻮﻟــﮫ اﻟــﺪا ِ ـ ِإ ـ‬
‫َ‬
‫ﺿ َـﻮا ِﻧـﮫ‪ ،‬أ ﱠﻣـﺎ َ ْـﻌ ُـﺪ ‪:‬‬‫ْ‬
‫ِر‬
‫ﱠ ُْ‬‫َ‬ ‫َ َ ُ‬ ‫َُ‬ ‫َﻓ َـﻴـﺎ َﻋ َـﺒـﺎ َد ﷲ‪ ،‬ا ﱠﺗ ُـﻘـﻮا َ‬
‫ﷲ َﺣ ﱠـﻖ ﺗـﻘـﺎ ِﺗ ِـﮫ‪َ ،‬وﻻ ﺗـ ُـﻤـﻮﺗ ﱠـﻦ ِإﻻ َوأﻧـﺘ ْـﻢ ُﻣ ْـﺴ ِـﻠ ُـﻤـﻮن ‪:‬‬ ‫ِ‬
‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬
‫ﺻﺎﺣ َﺐ اﻟـﻔ ْ‬ ‫ّ ُ َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬
‫ﺻ ﱡﻠﻮا َو َﺳ ّﻠ ُﻤﻮا َﻋ اﻟ َ ﺎدي اﻟ َ ﺸ ْ ‪َ ،‬و ّ‬
‫ْ‬ ‫ُﺛ ﱠﻢ َ‬
‫ـﻀ ِـﻞ اﻟــﻜـ ِـﺒ ـ ْ ـ ‪.‬‬ ‫َ‬ ‫ُ ْ‬
‫اﻟﺴ َﺮ ِاج اﻟ ــﻤ ِﻨ ‪ ،‬ﻧ ِﺒ ِ ﻨﺎ ﻣﺤ ﱠﻤ ٍﺪ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬
‫ُ‬ ‫ﱠ‬ ‫َ‬ ‫ﱠ‬ ‫ﱠ ﱠ َ َََ َ َ ُ ُ َﱡ َ َ‬ ‫َ‬ ‫ََ ْ َ َ ُ َ َ‬
‫ـﺼــﻠــﻮن َﻋ ـ ـ اﻟــﻨ ـ ِ ـ ّ ِ َﻳــﺎ أ ﱡ ـ َ ــﺎ اﻟـ ِـﺬﻳـ َـﻦ آ َﻣــﻨــﻮا‬ ‫ﷲ َﻌﺎ ِ ِﻛﺘ ِﺎﺑ ِﮫ‪ِ ) :‬إن اﻟــﻠــﮫ وﻣــﻼ ِﺋــﻜــﺘــﮫ ﻳ‬ ‫ﻓﻘﺪ ﻗﺎل‬
‫ً‬ ‫َ‬ ‫ّ‬ ‫َ‬ ‫َﱡ‬
‫ﺻـﻠـﻮا َﻋـﻠ ْـﻴ ِـﮫ َو َﺳ ِـﻠ ُـﻤـﻮا ْـﺴ ِـﻠـﻴـﻤـﺎ (‬

‫ﱠ‬ ‫َ‬ ‫ُ َ ﱠ َ َ َﱠ َ َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َاﻟ ﱠـﻠـ ُ ﱠـﻢ َ‬


‫ﺻـﻠ ْـﻴـﺖ َﻋ ـ ـ ِإ ْﺑـ َـﺮا ِ ـ ْـﻴـ َـﻢ َو َﻋ ـ ـ آ ِل ِإ ْﺑـ َـﺮا ِ ـ ْـﻴـ َـﻢ إﻧـ َـﻚ‬ ‫ﺻ ِ ّـﻞ َﻋـ ـ ُﻣ َـﺤ ﱠـﻤ ٍـﺪ َو َﻋـ ـ آ ِل ﻣـﺤـﻤ ٍـﺪ ﻛـﻤـﺎ‬
‫ْ َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ْ ََُ‬ ‫َ ٌْ َ ْ َ ْ َ ﱠ‬
‫ض اﻟـﻠـ ُ ﱠـﻢ َﻋ ِـﻦ اﻟــﺨـﻠـﻔـﺎ ِء اﻟ ﱠـﺮا ِﺷ ِـﺪ ْﻳـﻦ‪ ،‬أ ِ ْـﻲ َﺑـﻜـ ٍـﺮ َو ُﻋـ َـﻤـ َـﺮ َو ُﻋــﺜـ َـﻤــﺎن َو َﻋ ـ ِ ـ ّ ‪َ ،‬و َﻋـ ِـﻦ‬ ‫ﺣ ِـﻤـﻴـﺪ ﻣـ ِـﺠـﻴـﺪ‪ ،‬وار‬
‫ْ ْ‬ ‫َ‬ ‫َْ‬ ‫ّ َ‬ ‫ﱠ‬ ‫َ‬
‫اﻟـ ﱠ ـ َ ـﺎ َﺑ ِـﺔ أ ْﺟ َـﻤ َـﻌـ ْ ـن‪َ ،‬و َﻋـﻨـﺎ َﻣ َـﻌـ ُ ْـﻢ ِﺑ َـﻤـﻨ ِـ َـﻚ َوﻛ ِـﺮ ِﻣ َـﻚ َﻳـﺎ أﻛ َـﺮ َم ﻛ َـﺮ ِﻣـ ْ ـن ‪.‬‬
‫ْ ْ‬ ‫ّ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫ﱠ َ ْ َ‬
‫اﻟـﻠـ ُ ﱠـﻢ أ ِﻋ ﱠـﺰ َﺳـﻼ َم َواﻟـ ُـﻤ ْـﺴ ِـﻠ ِـﻤـ ْ ـن َوأ ِذ ﱠل اﻟ ِـﺸ ْـﺮ َك َواﻟـ ُـﻤـﺸ ِـﺮ ِﻛـ ْ ـن ‪.‬‬
‫ََ ُ َ‬ ‫َْ َ َ ََ ْ َ ََ‬ ‫ﱠ‬ ‫ﱠ‬
‫ﺻـ ِ ـ ْ أ ِﺋ ﱠـﻤـﺘـﻨـﺎ َو ُوﻻة أ ُﻣـﻮ ِرﻧـﺎ‪،‬‬ ‫اﻟـﻠـ ُ ﱠـﻢ آ ِﻣـﻨـﺎ ِ ـ أوﻃـﺎ ِﻧـﻨـﺎ ‪ ،‬وأ‬
‫َرﱠ َـﻨـﺎ َﻇ َـﻠ ْـﻤ َـﻨـﺎ َأ ْﻧ ُـﻔ َـﺴ َـﻨـﺎ َوإ ْن َﻟ ْـﻢ َ ْـﻐـﻔ ْـﺮ َﻟ َـﻨـﺎ َو َﺗ ْـﺮ َﺣ ْـﻤ َـﻨـﺎ َﻟ َـﻨ ُـﻜـﻮ َﻧ ﱠـﻦ ﻣ َـﻦ ا ْ ـ َ ـﺎـﺳـﺮ ـﻦَ‬
‫ِ ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬
‫َرﱠ َـﻨـﺎ َﺗ َـﻘ ﱠـﺒ ْـﻞ ﻣ ﱠـﻨـﺎ إ ﱠﻧ َـﻚ َأ ْﻧ َـﺖ اﻟ ﱠـﺴـﻤـﻴ ُـﻊ اﻟ َـﻌـﻠـﻴ ُـﻢ َوﺗ ْـﺐ َﻋـﻠ ْـﻴـﻨـﺎ إ ﱠﻧ َـﻚ أﻧ َـﺖ اﻟ ﱠـﺘ ﱠـﻮا ُب اﻟ ﱠـﺮﺣـﻴـﻢُ‬
‫ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬
‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ِ‬
‫َ‬ ‫ﱠ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ََ‬ ‫َ‬
‫َرﱠ ـﻨـﺎ َ ْـﺐ ﻟـﻨـﺎ ِﻣـﻦ أزوا ِﺟـﻨـﺎ وذ ِّر ـﺎ ِﺗـﻨـﺎ ﻗ ﱠـﺮة أﻋـ ٍـن واﺟـﻌـﻠـﻨـﺎ ِﻟـﻠ ُـﻤـﺘ ِـﻘـ ـن ِإﻣـﺎ ًﻣ ﺎ‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫ْ‬ ‫ﱠ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬

‫‪5‬‬
‫ْ َ َ‬ ‫ﱠ‬ ‫ْ‬ ‫ﱠ‬ ‫ًَ َ َ‬ ‫ْ‬ ‫ًَ‬ ‫ْ‬ ‫َ َ‬
‫َرﱠ ـﻨـﺎ آ ِﺗـﻨـﺎ ِ ـ اﻟ ﱡـﺪﻧ َـﻴـﺎ َﺣ َـﺴـﻨـﺔ َو ِ ـ ِﺧ َـﺮ ِة َﺣ َـﺴـﻨـﺔ َو ِﻗـﻨـﺎ َﻋـﺬا َب اﻟـﻨـﺎ ِر ‪ .‬وا ـ َ ْـﻤ ُـﺪ ِﻟـﻠـ ِـﮫ َر ِ ّب اﻟـ َـﻌــﺎ ِﳌ ـ ــن‪،‬‬
‫ﱠَ‬ ‫َ‬
‫ـﺼـﻼة ‪...‬‬ ‫أ ِﻗ ْـﻴ ُـﻤـﻮا اﻟ‬

‫‪6‬‬