Anda di halaman 1dari 63

1.

M5 ( METHODE )

a. Penentuan metode keperawatan sesuai kebutuhan

Ada beberapa pendekatan tentang metode pembagian tugas menurut

Nursalam (2015), salah satu diantaranya adalah metode TIM.

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang

berbeda-beda dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap

sekelompok klien. Perawat ruangan dibagi menjadi 2 – 3 tim yang

terdiri dari tenaga profesional, teknikal, dan pembantu dalam satu tim

kecil yang saling membantu. Pembagian tugas di dalam kelompok atau

grup dilakukan oleh ketua kelompok. Selain itu, ketua tim bertanggung

jawab dalam mengarahkan anggota tim sebelum tugas dan menerima

laporan kemajuan pelayanan perawatan klien, serta membantu anggota

tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan,

selanjutnya ketua tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang

kemajuan pelayanan/asuhan keperawatan terhadap klien.

1) Keuntungan

a) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.

b) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.

c) Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah

diatasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim.


2) Kelemahan

Komunikasi antara anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk

konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit

untuk melaksanakan pada waktu-waktu sibuk.

3) Konsep metode tim

a) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu

menggunakan berbagai tehnik kepemimpinan.

b) Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas rencana

terjamin.

c) Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua tim.

d) Peran kepala ruangan penting dalam metode tim.

4) Tugas dan Fungsi pihak – pihak dalam metode TIM

a) Fungsi kepala ruangan

i. Menentukan standar pelaksanaan kerja.

ii. Memberi pengarahan kepada ketua dan anggota tim.

iii. Supervisi dan evaluasi tugas staf.

b) Tugas kepala ruangan

 Perencanaan:

 Menunjuk ketua tim yang bertugas di kamar masing-

masing.

 Mengikuti serah terima pasien dari shift sebelumnya.

 Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien.


 Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan

berdasarkan aktifitas dan kebutuhan pasien.

 Merencanakan metode penugasan dan penjadwalan staf.

 Merencanakan `strategi pelaksanaan asuhan

keperawatan.

 Merencanakan kebutuhan logistik dan fasilitas ruangan

kelolaan.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian

 Pengorganisasian dan ketenagaan :

 Merumuskan metode penugasan keperawatan.

 Merumuskan tujuan dari metode penugasan keperawatan.

 Merumuskan rincian tugas ketua tim dan anggota tim

secara jelas.

 Membuat rentang kendali diruang rawat.

 Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan, misal:

membuat roster dinas, mengatur tenaga yang ada setiap

hari sesuai dengan jumlah dan kondisi pasien.

 Mengatur dan mengendalikan pelaksanaan

asuhan keparawatan dalam bentuk diskusi, bimbingan dan

penyampaian informasi.

 Mengatur dan mengendalikan logistik dan fasilitas

ruangan

 Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktek.


 Mendelegasikan tugas kepada ketua tim.

 Melakukan koordinasi dengan tim kesehatan lain.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian.

 Pengarahan:

 Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua tim.

 Memberikan pengarahan kepada ketua tim tentang

pelaksanaan asuhan keperawatan dan fungsi-fungsi

manajemen.

 Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan

berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien.

 Memberikan motivasi dalam meningkatkan pengetahuan,

keterampilan dan sikap.

 Melalui supervisi:

 Supervisi langsung terhadap pelaksanaan asuhan

keperawatan melalui pengamatan sendiri atau laporan

langsung secara lisan dari ketua tim.

 Supervisi tidak langsung dengan cara mengecek,

membaca dan memeriksa rencana keperawatan serta

catatan yang dibuat selama dan sesudah proses

keperawatan dilaksanakan.

 Memperbaiki, mengatasi kelemahan atau kendala yang

terjadi pada saat itu juga.


 Membimbing bawahan yang kesulitan dalam

melaksanakan tugasnya.

 Memberi pujian kepada bawahan yang melaksanakan

tugas dengan baik.

 Memberi teguran kepada bawahan yang membuat

kesalahan.

 Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian.

 Pengawasan:

 Melalui komunikasi: mengawasi dan berkomunikasi

langsung dengan ketua tim maupun anggota tim/

pelaksana mengenai asuhan keperawatan yang diberikan

secara langsung kepada pasien.

 Melalui evaluasi: mengevaluasi upaya/ kerja ketua tim

dan anggota tim/ pelaksana dan membandingkan dengan

peran masing-masing serta dengan rencana keperawatan

yang telah disusun.

 Memberi umpan balik kepada ketua tim.

 Mengatasi masalah dan menetapkan upaya tindak lanjut.

 Pengendalian logistik dan fasilitas ruangan.

 Memperhatikan aspek etik dan legal dalam pelayanan

keperawatan.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian.


5) Tugas dan Fungsi Ketua Tim

a) Fungsi Ketua Tim

i. Membuat perencanaan berdasarkan tugas dan

kewenangannya yang didelegasikan oleh kepala ruangan.

ii. Membuat penugasan, supervisi dan evaluasi kinerja

anggota tim/pelaksana.

iii. Mengetahui kondisi pasien dan dapat menilai kebutuhan

pasien.

iv. Mengembangkan kemampuan anggota tim/pelaksana

v. Menyelenggarakan konferensi

b) Tugas Ketua Tim

 Perencanaan:

 Mengikuti serah terima pasien dari shift sebelumnya

bersama kepala ruangan.

 Bersama kepala ruangan melakukan pembagian tugas

untuk anggota tim/pelaksana.

 Menyusun rencana asuhan keperawatan.

 Menyiapkan keperluan untuk pelaksanaan asuhan

keperawatan.

 Memberi pertolongan segera pada pasien dengan masalah

kedaruratan.

 Melakukan ronde keperawatan bersama kepala ruangan.

 Mengorientasikan pasien baru.


 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian

 Pengorganisasian dan ketenagaan:

 Merumuskan tujuan dari metode penugasan keperawatan

tim.

 Bersama kepala ruangan membuat rincian tugas untuk

anggota tim/pelaksana sesuai dengan perencanaan

terhadap pasien yang menjadi tanggung jawabnya dalam

pemberian asuhan keperawatan.

 Melakukan pembagian kerja anggota tim/ pelaksana sesuai

dengan tingkat ketergantungan pasien.

 Melakukan koordinasi pekerjaan dengan tim kesehatan

lain.

 Mengatur waktu istirahat untuk anggota tim/ /pelaksana.

 Mendelegasikan tugas pelaksanaan proses keperawatan

kepada anggota tim/pelaksana.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian.

 Pengarahan:

 Memberi pengarahan tentang tugas setiap anggota tim/

pelaksana.

 Memberikan informasi kepada anggota tim/ pelaksana

yang berhubungan dengan asuhan keperawatan.

 Melakukan bimbingan kepada anggota tim/ pelaksana

yang berhubungan dengan asuhan keperawatan.


 Memberi pujian kepada anggota tim/ pelaksana yang

melaksanakan tugasnya dengan baik, tepat waktu,

berdasarkan prinsip, rasional dan kebutuhan pasien.

 Memberi teguran kepada anggota tim/pelaksana yang

melalaikan tugas atau membuat kesalahan.

 Memberi motivasi kepada anggota tim/pelaksana.

 Melibatkan anggota tim/ pelaksana dari awal sampai

dengan akhir kegiatan.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian.

 Pengawasan:

 Melalui komunikasi: mengawasi dan berkomunikasi

langsung dengan anggota tim/ pelaksana asuhan

keperawatan kepada pasien.

 Melalui supervisi: melihat/ mengawasi pelaksanaan

asuhan keperawatan dan catatan keperawatan yang dibuat

oleh anggota tim/ pelaksana serta menerima/ mendengar

laporan secara lisan dari anggota tim/pelaksana tentang

tugas yang dilakukan.

 Memperbaiki, mengatasi kelemahan atau kendala yang

terjadi pada saat itu juga.

 Melalui evaluasi:

 Mengevaluasi kinerja dan laporan anggota tim/

pelaksana dan membandingkan dengan peran masing-


masing serta dengan rencana keperawatan yang telah

disusun.

 Penampilan kerja anggota tim/ pelaksana dalam

melaksanakan tugas.

 Upaya peningkatan kemampuan, keterampilan dan

sikap.

 Memberi umpan balik kepada anggota tim/ pelaksana.

 Mengatasi masalah dan menetapkan upaya tindak lanjut.

 Memperhatikan aspek etik dan legal dalam pelaksanaan

asuhan keperawatan.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian.

6) Tugas dan Fungsi Perawat Pelaksana

 Perencanaan:

 Bersama kepala ruang dan ketua tim mengadakan serah

terima tugas.

 Menerima pembagian tugas dari ketua tim.

 Bersama ketua tim menyiapkan keperluan untuk pelaksanaan

asuhan keperawatan.

 Mengikuti ronde keperawatan bersama kepala ruangan.

 Menerima pasien baru.

 Melakukan pelaporan dan pendokumentasian

 Pengorganisasian dan ketenagaan:


 Menerima penjelasan tujuan dari metode penugasan

keperawatan tim.

 Menerima rincian tugas dari ketua tim sesuai dengan

perencanaan terhadap pasien yang menjadi tanggung

jawabnya dalam pemberian asuhan keperawatan.

 Melaksanakan tugas yang diberikan oleh ketua tim.

 Melaksanakan koordinasi pekerjaan dengan tim kesehatan

lain.

 Menyesuaikan waktu istirahat dengan anggota tim/ pelaksana

lainnya.

 Melaksanakan asuhan keperawatan.

 Menunjang pelaporan dan pendokumentasian tindakan

keperawatan yang dilakukan.

 Pengarahan:

 Menerima pengarahan dan bimbingan dari ketua tim tentang

tugas setiap anggota tim/ pelaksana.

 Menerima informasi dari ketua tim berhubungan dengan

asuhan keperawatan.

 Menerima pujian dari ketua tim.

 Dapat menerima teguran dari ketua tim apabila melalaikan

tugas atau membuat kesalahan.

 Mempunyai motivasi terhadap upaya perbaikan.

 Terlibat aktif dari awal sampai dengan akhir kegiatan.


 Menunjang pelaporan dan pendokumentasian.

 Pengawasan:

 Menyiapkan dan menunjukkan bahan yang diperlukan untuk

proses evaluasi serta terlibat aktif dalam mengevaluasi

kondisi pasien.

 Menunjang pelaporan dan pendokumentasian

Hasil Kajian

Berdasarkan hasil observasi dan pengamatan pada tanggal 19

February 2019, didapatkan bahwa yang diterapkan di ruang Cikuray 1

adalah metode TIM seperti kepala ruangan, ketua tim dan perawat

pelaksana. Untuk seluruh pihak yang terdapat dalam tim Jumlah

perawat di ruangan Cikuray 1 ada 21 perawat termasuk 1 karu, 1 wakil

karu, 2 case manager, dan 2 CI (Clinical Instruktur). Ruang Cikuray 1

belum terdapat struktur organisasi yang jelas

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Ruangan pada tanggal

20 february 2019 metode yang ditetapkan di ruang Cikuray 1 adalah

metode TIM dimana seorang Karu membawahi Katim dan Katim

membawahi beberapa perawat pelaksana. Akan tetapi pada

pelaksanaannya setiap perawat masih memegang wing A dan wing B

tidak terfokus terhadap setiap wing nya, dikarenakan pasien di ruang

Cikuray 1 itu multikasus serta jumlah SDM/tenaga perawat di ruangan

kurang terutama pada shift siang dan malam, karena pada shift siang
dan malam hanya ada 3-4 perawat yang bertugas yang terdiri dari 1

Kepala Shift, 1 perawat pelaksana Tim A dan 1 perawat pelaksana Tim

B.

Kesimpulan :

Metode Tim di ruang cikuray 1 sudah optimal tetapi pada

pelaksanaannya setiap perawat masih memegang wing A dan wing

B tidak terfokus terhadap setiap wing nya, dikarenakan pasien di

ruang Cikuray 1 itu multikasus serta jumlah SDM/tenaga perawat

di ruangan kurang terutama pada shift siang dan malam.

b. Efektifitas dokumentasi keperawatan yang digunakan

1) Dokumentasi Standar Keperawatan

Dokumentasi merupakan catatan otentik dalam penerapan

manajamen asuhan keperawatan profesional. Ners profesional

diharapkan dapat menghadapi tuntutan tanggung jawab dan

tanggung gugat terhadap segala tindakan yang dilaksanakan.

Kesadaran masyarakat terhadap hukum semakin meningkat

sehingga dokumentasi yang lengkap dan jelas sangat dibutuhkan

(Ali, 2010). Di ruangan Cikuray 1 pendokumentasian status pasien

didokumentasikan oleh perawat penanggung jawab kamar dari

tiap shift. Berdasarkan hasil studi dokumentasi pada tanggal 18-21

februari 2019 didapatkan hasil sebagai berikut:

a) Pengkajian Keperawatan
Format pengkajian sudah tersedia dari pihak rumah sakit

sehingga mempermudah perawat dalam melakukan

pengkajian pada pasien. Pengkajian format dokumentasi

dilakukan secara observasi, studi dokumentasi dan wawancara

kepada perawat. Pengkajian pasien dilakukan sesuai format

yang telah disediakan rumah sakit dan pengkajian fisik

dilakukan oleh perawat.

b) Diagnosa Keperawatan

Hasil observasi dan studi dokumentasi di ruangan Cikuray

1 dalam status pasien terdapat diagnosa dan rencana asuhan

keperawatan yang ditentukan langsung setelah dilakukan

pengkajian pasien.

c) Rencana Keperawatan

Hasil dari observasi dan studi dokumentasi dalam status

pasien rencana asuhan keperawatan langsung dicantumkan

setelah penentuan diagnosa keperawatan hasil dari pengkajian.

Lembar rencana asuhan keperawatan sudah tersedia di ruangan

Cikuray 1 berupa lembar isi yang ditulis secara manual dengan

kolom : tanggal, no. dx, pengkajian, diagnosa, tujuan dan

intervensi, tanda tangan dan nama perawat. Namun tidak

disertai oleh daftar check list tindakan yang sudah dilakukan

sesuai dengan masalah keperawatan.

d) Implementasi
Hasil observasi dan studi dokumentasi implementasi sudah

tersedia di format ruangan dengan format lembaran :

tanggal/waktu, pengkajian (assessment), instruksi dan

pelaksanaan (order and implementation) dan nama jelas dan

tanda tangan petugas.

e) Evaluasi dan Catatan Perkembangan

Hasil observasi dan studi dokumentasi dalam status pasien

implementasi yang dilakukan di Ruang Cikuray 1

menggunakan format SOAP dan dituliskan dalam status pasien

setelah rencana keperawatan di implementasikan kepada

pasien. Format catatan perkembangan berisi : tanggal, jam,

perkembangan pasien, nama jelas dan tanda tangan perawat.

Hasil Kajian

Berdasarkan hasil analisa data format Standar Asuhan Keperawatan

(Dokumentasi Keperawatan) dari 20 buku status pasien setiap lembar

dokumentasi terisi lengkap. Kelengkapan format dokumentasi asuhan

keperawatan ruangan disesuaikan dengan standar Instrumen A DepKes

(1995) dengan hasil :


Nomor Rekam Medik
00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00 00
No Aspek yang dinilai 57 16 14 54 57 00 01 45 21 56 57 02 12 06 18 16 57 48 16 17 Ket.
65 41 52 04 66 17 90 93 73 99 42 15 23 62 49 41 42 67 83 31
87 64 34 77 46 77 26 82 55 48 95 09 11 72 24 64 95 37 48 37
1. Pengkajian √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Mencatat data yang dikaji
sesuai dengan pedoman √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
pengkajian
Data dikelompokkan (bio,
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
psiko, sosial, spiritual)
Data dikaji sejak pasien
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
masuk sampai pulang
Masalah dirumuskan
berdasarkan kesenjangan
antara status kesehatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
dengan norma dan pola
fungsi kehidupan
2. Diagnosa Keperawatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Diagnosa keperawatan
berdasarkan masalah yang √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
telah dirumuskan.
Diagnosa keperawatan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
mencerminkan PE / PES.
Merumuskan diagnosa
keperawatan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
aktual/potensial.
3 Perencanaan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Berdasarkan diagnosa
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
keperawatan.
Disusun menurut urutan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
prioritas
Rumusan tujuan
mengandung komponen
pasien/subyek, perubahan, √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Rperilaku, kondisi pasien
dan atau kriteria.
Rencana tindakan
mengacu pada tujuan
dengan kalimat perintah,
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
terinci dan jelas atau
melibatkan
pasien/keluarga.
Rencana tindakan
menggambarkan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
keterlibatan
pasien/keluarga
Rencana tindakan
menggambarkan kerja
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
sama dengan tim
kesehatan lain
4. Implementasi √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Tindakan dilaksanakan
mengacu pada rencana √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
perawatan
Perawat mengobservasi
respon pasien terhadap √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
tindakan keperawatan
Revisi tindakan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
berdasarkan hasil evaluasi.
Semua tindakan yang telah
dilaksanakan dicatat √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
ringkas dan jelas.
5. Evaluasi √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Evaluasi mengacu pada
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
tujuan
Hasil evaluasi dicatat √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
6. Catatan Asuhan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
Keperawatan.
Menulis pada format yang
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
baku.
Pencatatan dilakukan
sesuai dengan tindakan √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
yang dilaksanakan
Pencatatan ditulis dengan
jelas, ringkas, istilah yang √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
baku dan benar.
Setiap melakukan
tindakan/kegiatan perawat
mencantumkan paraf/nama √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
jelas, dan tanggal jam
dilakukannya tindakan.
Berkas catatan
keperawatan disimpan
√ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √
sesuai dengan ketentuan
yang berlaku
Persentasi 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100%

Kategori Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Rumus :

Total

Presentasi = Jumlah berkas x Jumlah X 100% = Hasil

aspek yang dinilai

Hasil :

20

Presentasi = 20 X 100% = 100%

24

Berdasarkan table tersebut diketahui bahwa dari 20 status pasien, diperoleh

hasil catatan perkembangan 100%

Keterangan :

Tanda ceklis (√) : Lengkap = bernilai 10

Tanda silang (x) : Tidak lengkap = bernilai 0


Dokumentasi
Asuhan Keperawatan
catatan perkembangan

120

100
100 100 100 100 100
80

60

40

20

0
pengkajian diagnosa perencanaan implementasi evaluasi
keperawatan

Kesimpulan:

Dari diagram di atas didapatkan hasil bahwa dokumentasi

pada ruang Cikuray 1 sudah optimal dimana semua asuhan

keperawatan tercatatat lengkap (100%).

2) Discharge Planning

Discharge planning (perencanaan pulang) adalah serangkaian

keputusan dan aktivitas-aktivitas yang terlibat dalam pemberian asuhan

keperawatan yang berkelanjutan dan terkoordinasi ketika pasien

dipulangkan dari lembaga pelayanan kesehatan (Potter & Perry, 2005).

The Royal Marsden Hospital (2014) menyatakan bahwa

discharge planning merupakan proses mengidentifikasi kebutuhan


pasien dan perencanaannya dituliskan untuk memfasilitasi kelanjutan

suatu pelayanan kesehatan dari suatu lingkungan ke lingkungan lain.

Discharge planning dilakukan sejak pasien diterima di suatu pelayanan

kesehatan di rumah sakit dimana rentang waktu pasien untuk menginap

semakin diperpendek (Sommerfeld, 2001).

a) Tujuan Discharge Planning

Menurut The Royal Marsden Hospital (2004) dalam Siahaan (2009)

menyatakan bahwa tujuan dilaksanakannya discharge planning

adalah :

i. Untuk mempersiapkan pasien dan keluarga secara fisik dan

psikologis untuk di transfer ke rumah atau ke suatu lingkungan

yang dapat disetujui.

ii. Menyediakan informasi tertulis dan verbal kepada pasien dan

pelayanan kesehatan untuk mempertemukan kebutuhan

mereka dalam proses pemulangan.

iii. Memfasilitasi proses perpindahan yang nyaman dengan

memastikan semua fasilitas pelayanan kesehatan yang

diperlukan telah dipersiapkan untuk menerima pasien.

iv. Mempromosikan tahap kemandirian yang tertinggi kepada

pasien dan keluarga dengan menyediakan serta memandirikan

aktifitas perawatan diri


b) Manfaat Discharge Planning

Menurut Spath (2003) dalam Nursalam & Efendi (2008),

perencanaan pulang mempunyai manfaat sebagai berikut :

i. Dapat memberikan kesempatan untuk memperkuat pengajaran

kepada pasien yang dimulai dari Rumah Sakit

ii. Dapat memberikan tindak lanjut secara sistematis yang

digunakan untuk mrenjamin kontinuitas perawatan pasien

iii. Mengevaluasi pengaruh dari intervensi yang terencana pada

penyembuhan pasien dan mengidentifikasi kekambuhan atau

kebutuhan perawat baru

iv. Membantu kemandirian dan kesiapan pasien dalam

melakukan perawatan di rumah.

Hasil Kajian

Berdasarkan hasil wawancara pada 19 Februari 2019 dengan

salah satu pasien yang akan pulang tentang penyampaian discharge

planning sebelum pasien pulang, pasien mengatakan perawat hanya

menginformasikan untuk melanjutkan pengobatan dan memberikan

resep obat tapi tidak memberikan informasi lain terkait pencegahan serta

perawatan yg dapat dilakukan dirumah agar tidak terjadi kekambuhan

penyakit.
Sementara berdasarkan hasil wawancara dengan kepala

ruangan pada tanggal 20 Februari 2019 di ruang Cikuray 1, mengatakan

bahwa perawat di Ruang Cikuray 1 selalu melakukan discharge planning

setiap pasien mulai masuk ke ruangan sampai akan pulang, Discharge

planning dilakukan meliputi catatan pemberian informasi dan edukasi

(Asuhan Keperawatan, Pencegahan dan pengendalian infeksi,

perencanaan dan informasi sarana dan prasarana ruangan), Assesment

discharge planning yang diisi selama perawatan pasien dan Checlist

Kepulangan (Nasehat untuk melanjutkan pengobatan, resep, melepas

infus/tube/kateter, barang pribadi dan dokumen) dengan adanya nama

dan ttd perawat yang sudah melakukan pengkajian di lembar edukasi

kebutuhan pasien pulang.

Kesimpulan :

Discharge planning yang dilakukan oleh perawat di ruang

cikuray 1 sudah optimal, Perawat ruangan pun tidak lupa untuk

mendokumentasikan secara tertulis.

c. Efektifitas komunikasi trapeutik

1) Timbang Terima (Operan)

Nursalam (2008), menyatakan timbang terima adalah suatu

acara dalam menyampaikan suatu (laporan) yang berkaitan dengan

keadaan klien. Handover adalah waktu di mana terjadi perpindahan


atau transfer tanggung jawab tentang pasien dari perawat yang satu

ke perawat yang lain.

Tujuan dari handover adalah menyediakan waktu, informasi

yang akurat tentang rencana perawatan pasien, terapi, kondisi

terbaru, dan perubahan yang akan terjadi dan antisipasinya. Tujuan

dari timbang terima

a) Menyampaikan masalah, kondisi, dan keadaan klien (data

fokus).

b) Menyampaikan hal-hal yang sudah atau belum dilakukan dalam

asuhan keperawatan kepada klien.

c) Menyampaikan hal-hal penting yang perlu segera

ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya.

d) Menyusun rencana kerja untuk dinas berikutnya.

Timbang terima (handover) memiliki tujuan untuk

mengakurasi, mereliabilisasi komunikasi tentang perpindahan

informasi yang relefan yang digunakan untuk kesinambungan

dalam keselamatan dan keefektifan dalam bekerja.

Timbang terima (handover) memiliki 2 fungsi utama, yaitu :

a) Sebagai forum diskusi untuk bertukar pendapat dan

menginspirasikan perasaan perawat.

b) Sebagai sumber informasi yang akan menjadi dasar dalam

penetapan keputusan dan tindakan keperawatan.


Langkah-Langkah dalam timbang terima

a) Kedua kelompok shift dalam keadaan sudah siap.

b) Shift yang akan menyerahkan perlu menyiapkan hal-hal yang

akan di sampaikan.

c) Perawat primer menyampaikan kepada perawat penanggung

jawab shift selanjutnya meliputi :

i. Kondisi atau keadaan pasien secara umum

ii. Tindak lanjut untuk dinas yang menerima operan

iii. Rencana kerja untuk dinas yang menerima laporan

d) Penyampaian timbang terima di atas harus dilakukan secara jelas

dan tidak terburu-buru

e) Perawat primer dan anggota kedua shift bersama-sama secara

langsung melihat keadaan pasien. (Nursalam, 2002).

Pada saat operan antara perawat, diperlukan suatu komunikasi

yang jelas tentang kebutuhan pasien, intervensi yang sudah dan yang

belum dilaksanakan, serta respon yang terjadi pada pasien

(Nursalam, 2011).

Komunikasi yang efektif dalam lingkungan perawatan kesehatan

membutuhkan pengetahuan, keterampilan dan empati. Untuk itu

diperlukan pendekatan sistematik untuk memperbaiki komunikasi

tersebut salah satunya dengan cara komunikasi teknik SBAR.

Komunikasi SBAR adalah komunikasi dengan menggunakan alat


yang logis untuk mengatur informasi sehingga dapat ditransfer

kepada orang lain secara akurat dan efisien (Nursalam, 2008).

Menurut Nursalam (2008), konsep SBAR yaitu :

1) S (Situation). Merupakan kondisi terkini yang sedang terjadi

pada pasien.

a) Mengidentifikasi diri, unit, pasien, dan nomor kamar.

b) Nyatakan masalah secara singkat : apa, kapan dimulai, dan

tingkat keparahan.

2) B (Background).

Sediakan informasi latar belakang yang sesuai dengan situasi,

meliputi:

a) Daftar pasien

b) Nomor medical record

c) Membuat diagnosa dan tanggal pendiagnosaan

d) Daftar obat terkini, alergi, dan hasil laboratorium

e) Hasil terbaru TTV pasien

f) Hasil laboratorium dengan tanggal dan waktu pengambilan

serta hasil dari tes laboratorium sebagai pembanding

g) Informasi klinik lainnya

Background merupakan informasi penting tentang apa yang

berhubungan dengan kondisi pasien terkini.


3) A (Assessment/pengkajian)

Assesment merupakan hasil pengkajian dari kondisi pasien yang

terkini.

4) R (Recommendation)

Recommendation merupakan apa saja hal yang perlu dilakukan

untuk mengatasi masalah pasien pada saat ini.

Hasil Kajian

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan yang

dilakukan di ruang Cikuray 1 pada tanggal 20 Februari 2019, timbang

terima (operan) sudah dilakukan pada setiap pergantian shift dari malam

ke pagi, lalu pagi ke siang dan malam, timbang terima (operan) dilakukan

dengan menemui pasien di mulai dari kamar 1a-9a sampai dengan 1b-

4b, dengan penggunaan komunikasi SBAR. Isi timbang terima meliputi

nama, ruang pasien, diagnosa medis, kondisi pasien, intervensi yang

telah dan belum dilakukan, terapi yang diberikan. Dan timbang terima di

tulis di kertas masing-masing agar setiap perawat mempunyai catatan

timbang terima.

Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 20 Februari 2019

hanya beberapa perawat di ruangan yang melakukan timbang terima

antara shift malam dengan shift pagi. Pada saat operan penggunaan

komunikasi dengan cara SBAR belum optimal hal ini atas hasil observasi
oleh perawat pelaksana. Dan tidak memperkenalkan perawat yang akan

berdinas selanjutnya.

Per tanggal 20-21 Februari 2019, pada hari kerja didapatkan

hasil bahwa kegiatan timbang terima dilakukan di nurse station dan juga

di ruangan pasien dengan melibatkan semua perawat jaga. Isi timbang

terima meliputi nama, ruang pasien, diagnosa medis, kondisi pasien,

intervensi yang telah dan belum dilakukan, terapi yang diberikan. Dan

timbang terima di tulis di kertas masing-masing agar setiap perawat

mempunyai catatan timbang terima. Dan tidak memperkenalkan perawat

yang akan berdinas selanjutnya.

Kesimpulan :

Timbang terima yang di lakukan oleh perawat di ruangan

Cikuray 1 dengan mengunjungi pasien dengan keseluruhan tim

serta menanyakan kondisi pasien saat ini secara langsung.

Penggunaan SBAR sudah cukup baik tapi terkadang penulisan

SBAR tidak secara menyeluruh pada bagian B (Background) dan A

(Assesment) kadang tidak terkaji dan pada saat timbang terima

dilakukan tidak memperkenalkan perawat yang akan berdinas

selanjutnya.
2) Pre Conference dan Post Conference

Pre Conference

Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana

setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut

yang dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim. Isi pre

conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian), dan

tambahan rencana dari katim dan PJ tim.

1) Tujuan :

a) Membantu untuk mengidentifikasi masalah-masalah pasien,

merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi hasil

b) Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di lapangan

c) Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan

pasien

2) Kegiatan :

a) Ketua tim atau PJ tim membuka acara

b) Ketua tim atau PJ tim menanyakan rencana harian masing-

masing perawat pelaksana

c) Ketua tim atau PJ tim memberikan masukan dan tindakan

lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu

d) Ketua tim atau PJ tim memberikan reinforcement

e) Ketua tim atau PJ tim menutup acara

(Modul MPKP, 2006).


Post Conference

Post conference adalah komunikasi katim dan perawat

pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan

kepada shift berikutnya. Isi post conference adalah hasil asuhan

keperawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post

conference dipimpin oleh katim atau PJ tim.

1) Tujuan

Untuk memberikan kesempatan mendiskusikan penyelesaian

masalah dan membandingkan masalah yang dijumpai.

2) Kegiatan :

a) Ketua tim atau PJ tim membuka acara

b) Ketua tim atau PJ tim menanyakan kendala dalam asuhan

yang telah diberikan

c) Ketua tim atau PJ tim yang menanyakan tindak lanjut asuhan

keperawatan keperawatan yang harus dioperkan kepada

perawat shift berikutnya.

d) Ketua tim atau PJ tim menutup acara

(Modul MPKP, 2006)


Hasil Kajian

Berdasarkan observasi pada tanggal 19 Februari 2019 di

ruangan Cikuray 1 sudah dilakukan pre dan post conference dimana

perawat merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada pasien

dan merencanakan intervensi untuk yang dinas selanjutnya di nurse

station. Pada pergantian shift malam ke pagi dilakukan pre

conference dan post conference pada dinas selanjutnya.

Hasil konfirmasi kepala ruangan pada tanggal 21 Februari 2019

untuk tindakan pre dan post conference dilakukan dengan cara yang

tidak begitu formal, dimana pre dan post conference dilakukan

selama dinas dan melakukan tindakan.

Kesimpulan :

Pre conference dan post conference dilakukan oleh perawat

di ruangan Cikuray 1 sudah dilakukan tetapi belum optimal,

tidak secara formal dan tidak sesuai tata cara pre conference

dan post conference yang sebagaimana mestinya.

3) Ronde Keperawatan

Ronde keperawatan adalah kegiatan yang bertujuan untuk

mengatasi masalah keperawatan pasien yang dilaksanakan oleh

perawat disamping melibatkan pasien untuk membahas dan

melaksanakan asuhan keperawatan. Pada kasus tertentu harus


dilakukan oleh perawat primer atau konselor, kepala ruangan,

perawat associate, yang perlu juga melibatkan seluruh anggota TIM

(Nursalam, 2007). Dalam ronde keperawatan metode yang

digunakan adalah dengan cara diskusi, adapun alat bantu yang

digunakan yaitu sarana diskusi : buku, pulpen, status/dokumentasi

keperawatan pasien, materi yang disampaikan secara lisan.

a. Karakteristik pasien yang dapat dilakukan ronde keperawatan :

1) Pasien dilibatkan secara langsung

2) Pasien merupakan focus kegiatan

3) PA, PP, dan konselor melakukan diskusi pertama

4) Konselor memfasilitasi kreatifitas

5) Konselor membantu mengembangakan kemampuan PA

dan PP dalam meningkatkan kemampuan mengatasi

masalah.

b. Tujuan Ronde Keperawatan

1) Menyelesaikan masalah pasien melalui pendekatan berfikir

kritis

2) Menumbuhkan cara berfikir kritis dan sistematis

3) Menignkatkan kemampuan validasi data pasien

4) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnose

keperawatan
5) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan

yang berorinetasi pada masalah pasien

6) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan

keperawatan

7) Meningkatkan kemampuan justifikasi

8) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja

c. Manfaat Ronde Keperawatan

1) Masalah pasien dapat teratasi

2) Kebutuhan pasien dapat teratasi

3) Terciptanya komunikasi keprawatan yang professional

4) Terjalinnya kerjasam antar tim kesehatan

5) Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan

denagan tepat dan benar.

d. Pasien yang dipilih untuk melakukan ronde keperawatan adalah

pasien yang memiliki kriteria sebagai berikut :

1) Mempunyai masalah keperawatn yang belum teratasi

meskipun sudah dilakukan tindakan keperawatan

2) Pasien dengan kasus baru atau langka.

e. Kegiatan Ronde

1) Pra Ronde

a) Menentukan kasus dan topic (masalah yang tiak

teratasi dan masalah yang langka)


b) Menentukan tim ronde

c) Mencari sumber atau literature

d) Membuat proposal

e) Mempersiapkan pasien : informed concent dan

pengkajian

f) Diskusi : apa diagnosis keperawatan, apa data yang

mendukung, bagaimana intervensi yang sudah

dilakukan, dan apa hambatan yang ditemukan selama

perawatan

2) Pelaksanaan Ronde

a) Penjelasan tentang pasien oleh perawat primer yang

difokuskan kepada masalah keperawatan dan rencana

tindakan yang akan dilaksanakan dan atau telah

dilaksanakan serta memilih prioritas yang perlu

didiskusikan.

b) Diskusikan antar anggota tim tentang kasus tersebut

c) Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau

konselor atau kepala ruangan tentang masalah pasien

serta rencana tindakan yang akan dilakukan.

3) Pasca Ronde

a) Evaluasi, revisi, dan perbaikan


b) Kesimpulan dan rekomendasi penengakan diagnosis,

itervensi keperawatan selanjutnya.

Hasil Kajian

Hasil dari wawancara pada perawat yang berdinas pada

tanggal 19 Februari 2019, diketahui bahwa ruangan tidak pernah

melakukan ronde keperawatan, dikarenakan pasien yang datang di

ruang Cikuray 1 hanya beberapa hari dan tidak ada kasus yang berat

di ruang Cikuray 1. Hasil konfirmasi Kepala Ruangan pada tanggal

21 Februari 2019 ronde keperawatan memang belum pernah

dilaksanakan, tetapi dengan cara yang bersifat konsul dengan DPJP,

untuk secara rapat bersama merencanakan ronde keperawatan belum

ada. Jika dilihat dari kesesuain pelaksanaan ronde keperawatan

memang belum terlaksana secara optimal pada ruangan.

Kesimpulan :

Di ruang cikuray 1 tidak pernah dilakukan Ronde

Keperawatan karena pasien yang berada di ruang Cikuray 1

tidak terdapat kasus yang berat.

4) Supervisi

Supervisi adalah kegiatan-kegiatan yang terencana seorang

manager melalui aktifitas bimbingan, pengarahan, observasi,


motivasi dan evaluasi pada stafnya dalam melaksanakan kegiatan

atau tugas sehari-hari (Arwani, 2006).

a) Manfaat dan Tujuan Supervisi

Apabila supervise dapat dilakukan dengan baik, akan diperoleh

banyak manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah sebagai

berikut (Suarli & Bachtiar, 2010):

i) Supervisi dapat meningkatkan efektifitas kerja. Peningkatan

efektifitas kerja ini erat hubungannya dengan peningkatan

pengetahuan dan keterampilan bawahan, serta makin

terbinanya hubungan dan suasana kerja yang lebih harmonis

antara atasan dan bawahan.

ii) Supervisi dapat lebih meningkatkan efisiensi kerja.

Peningkatan efisiensi kerja ini erat kaitannya dengan makin

berkurangnya kesalahan yang dilakukan bawahan, sehingga

pemakaian sumber daya (tenaga, harta, dan sarana) yang sia-

sia akan dapat dicegah.

b) Tujuan utama supervisi ialah untuk lebih meningkatkan kinerja

bawahan, bukan untuk mencari kesalahan. Sejalan dengan tujuan

utama yang ingin dicapai, staf supervise harus edukatif dan

suportif, bukan otoriter. Supervisi harus dilakukan secara teratur

atau berkala. Supervisi harus dapat dilaksanakan sedemikian rupa


sehingga terjalin kerja sama yang baik antara atasan dan

bawahan, terutama saat proses penyelesaian masalah, dan untuk

lebih mengutamakan kepentingan bawahan. Strategi dan tata cara

supervisi yang akan dilaksanakan harus sesuai dengan kebutuhan

masing-masing bawahan secara individu. Supervisi harus

dilaksanakan secara fleksibel dan selalu disesuaikan dengan

perkembangan.

c) Pelaksana supervisi

Menurut Bachtiar dan Suarly (2010), yang bertanggung jawab

dalam smelaksanakan supervisi adalah atasan yang memiliki

kelebihan dalam organisasi. Idealnya kelebihan tersebut tidak

hanya aspek status dan kedudukan, tetapi juga pengetahuan dan

keterampilan.

Hasil Analisa :

Pada saat observasi pada tanggal 19-21 Februari 2019 supervisi

rumah sakit mengontrol ke ruangan dan disampaikan kepada kepala

ruangan. Hal-hal yang disupervisikan antara lain jumlah pasien dan

perawat yang bertugas, prosedur asuhan keperawatan, dokumentasi

keperawatan serta kendala-kendala yang dialami selama melakukan

asuhan keperawatan. Di ruangan Cikuray 1 setiap hari melakukan


supervisi dari perawat kepada pasien dan terdapat supervisi RS yang

memantau untuk ruangan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan pada

tanggal 21 Februari 2019, supervisi dilakukan setiap hari setiap

pergantian shift yaitu pagi ke siang dan malam ke pagi.

Kesimpulan :

Supervisi yang dilakukan sudah baik dengan melakukan

pendataan setiap ruangan dan sudah sesuai dengan tugas

pokoknya.

d. Efektifitas universal perchation

Menurut WHO dalam Nasronudin (2007), universal precautions

merupakan suatu pedoman yang ditetapkan oleh the Centers for Disease

Control and Prevention CDC Atlanta dan the Occupational Safety and

Health Administration (OSHA), untuk mencegah transmisi dari berbagai

penyakit yang ditularkan melalui darah di lingkungan fasilitas pelayanan

kesehatan. Sementara itu menurut Kurniawati dan Nursalam (2007),

kewaspadaan Universal (KU) atau Universal Precautions (UP) adalah

suatu cara untuk mencegah penularan penyakit dari cairan tubuh, baik

dari pasien ke petugas kesehatan dan sebaliknya juga dari pasien ke

pasien lainnya.
Kurniawati dan Nursalam (2007), menyebutkan bahwa

Universal precautions perlu diterapkan dengan tujuan :

a. Mengendalikan infeksi secara konsisten

Universal precautions merupakan upaya pengendalian infeksi

yang harus diterapkan dalam pelayanan kesehatan kepada semua

pasien, setiap waktu, untuk mengurangi risiko infeksi yang

ditularkan melalui darah.

b. Memastikan standar adekuat bagi mereka yang tidak didiagnosis

atau tidak terlihat seperti berisiko

Prinsip universal precautions diharapkan akan mendapat

perlindungan maksimal dari infeksi yang ditularkan melalui darah

maupun cairan tubuh yang lain baik infeksi yang telah diagnosis

maupun yang belum diketahui.

c. Mengurangi risiko bagi petugas kesehatan dan pasien

Universal precautions tersebut bertujuan tidak hanya

melindungi petugas dari risiko terpajan oleh infeksi HIV namun

juga melindungi klien yang mempunyai kecenderungan rentan

terhadap segala infeksi yang mungkin terbawa oleh petugas.

d. Asumsi bahwa risiko atau infeksi berbahaya

Universal precautions ini juga sangat diperlukan untuk

mencegah infeksi lain yang bersifat nosokomial terutama untuk

infeksi yang ditularkan melalui darah / cairan tubuh.


Adapun macam – macam atau jenis dari universal perchation

diantaranya :

1) Hand Hygiene ( Cuci Tangan )

Perilaku hand hygiene perawat merupakan salah satu faktor

yang mempunyai pengaruh besar terhadap pencegahan terjadinya

infeksi nosokomial (INOS) di rumh sakit. Tenaga kesehatan yang

paling rentan dalam penularan infeksi adalah perawat, karena selama

24 jam mendampingi pesien maka diasumsikan ikut mengambil

peran yang cukup besar dalam memberikan kontribusi terhadap

pencegahan infeksi nosokomial.

Hand hygiene (kebersihan tangan) merupakan teknik dasar yang

paling penting dalam pencegahan dan pengendalian infeksi (Potter &

Perry, 2003) dalam (Zulpahiyana, 2013). Menurut Van dan Enk

(2006) dalam Zulpahiyana (2013), hand hygiene adalah cara yang

paling efektif untuk mencegah infeksi nosokomial. Tujuan hand

hygiene untuk membuang kotoran dan organisme yang menempel

ditangan dan untuk mengurangi jumlah mikroba total pada saat itu.

Pada tahun 2009, WHO mencetuskan global Patient Safety a

World Alliance for Safer Health Caredengan Save Lives Clean You

Hands, yaitu merumuskan inovasi strategi penerapan Hand Hygiene

untuk petugas kesehatan dengan My Five Moment for Hand Hygiene

adalah melakukan cuci tangan:sebelum bersentuhan dengan pasien,


sebelum melakukan prosedur bersih/steril, setelah bersentuhan

dengan cairan tubuh pasien resiko tinggi, setelah bersentuhan dengan

pasien, setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien (WHO,

2009).

Hasil Kajian

Berdasarkan hasil observasi tanggal 19-21 Februari 2019

perawat di ruang Cikuray 1 dari 21 perawat hanya 80% perawat yang

sudah melakukan kebersihan tangan menurut 6 langkah dari WHO

menggunakan desinfektan berbasis air mengalir dengan sabun dan

handrub cuci tangan dilakukan di setiap melakukan tindakan aseptik,

namun kepatuhan perawat dalam melakukan handhygiene 5 moment

belum sepenuhnya terlaksana. Kebanyakan perawat hanya melakukan

cuci tangan pada saat setelah melakukan tindakan terutama tindakan

invasif.

Kesimpulan :

Kepatuhan cuci tangan perawat sudah cukup maksimal

dengan 6 langkah tetapi perawat ruang Cikuray 1 belum

melaksanakan 5 moment dengan optimal. Dimana yang sering

dilakukan oleh perawat pada 5 moment yaitu setelah melakukan

tindakan aseptik, setelah kontak dengan pasien dan setelah terpapar

dengan lingkungan pasien.


2) Alat Pelindung Diri ( APD )

Alat Pelindung Diri (APD) adalah peralatan keselamatan yang

harus digunakan oleh personil apabila berada pada suatu tempat kerja

yang berbahaya. Menurut Suma’mur (2009) alat pelindung diri

adalah suatu alat yang dipakai untuk melindungi diri atau tubuh

terhadap bahaya-bahaya kecelakaan kerja. Jadi alat pelindung diri

adalah merupakan salah satu cara untuk mencegah kecelakaan dan

secara teknis APD tidaklah sempurna dapat melindungi tubuh akan

tetapi dapat mengurangi tingkat keparahan kecelakaan kerja yang

terjadi.

Hasil Kajian

Dari hasil pengamatan selama beberapa hari dari tanggal 19-21

Februari 2019 didapatkan hasil bahwa perawat pelaksana sudah

melakukan tindakan pencegahan infeksi atau patuh menggunakan APD

sesuai prosedur. Dari 21 orang jumlah perawat semuanya sudah

menggunakan APD sesuai prosedur dalam melakukan tindakan invasif.

Pertanggal 20 Februari 2019 didapatkan perawat melakukan

tindakan invasif (pengambilan darah) menggunakan alat pelindung diri

(handscoon). Dari hasil konfirmasi kepala ruangan pada tanggal 21

Februari 2018 diketahui bahwa APD diruangan sudah lengkap dan

semua perawat sadar dan patuh dalam penggunaannya.


Kesimpulan :

Dari hasil survey pencegahan dan pengendalian infeksi di

ruang Cikuray 1 didapatkan hasil bahwa tenaga kesehatan yang

berada di ruang Cikuray 1 sudah cukup dalam kepedulian safety

menggunakan APD sesuai situasi yang diperlukan.

3) Pengelolaan limbah

Pengelolaan limbah merupakan salah satu upaya kegiatan PPI

(Penularan Penyakit Infeksius) berupa pengelolaan limbah rumah

sakit atau fasilitas kesehatan lainnya, baik limbah yang

terkontaminasi maupun yang tidak terkontaminasi (Kemenkes RI,

2011).

Hasil Kajian

Berdasarkan observasi pada tanggal 19-21 Februari 2019 di

ruang Cikuray 1 pengelolaan sampah dan linen belum sesuai dengan

ketentuan yang ditetapkan oleh PPI (Penularan Penyakit Infeksius).

Hanya terdapat beberapa seperti terdapat 3 tempat sampah yaitu

kuning untuk sampah infeksius dan hitam untuk sampah non-

infeksius, tidak terdapat limbah farmasi, terdapat safety box untuk

jarum sekali pakai, sedangkan untuk linennya belum dipisahkan

antara linen yang terdapat cairan tubuh pasien dan linen kering.
Kesimpulan :

Pengelolaan limbah ruang Cikuray 1 masih belum sesuai

dengan ketentuan yang di tetapkan oleh PPI, dimana belum

terdapat limbah farmasi dan pemisahan linen yang terdapat

cairan tubuh pasien dan linen kering.

e. Efektifitas patient dan staff safety

1) Sentralisasi Obat

Sentralisasi obat adalah pengelolaan seluruh obat yang

seluruhnya dilakukan oleh perawat untuk administrasi ke pasien.

Proses sentralisasi obat meliputi pembuatan strategi persiapan

sentralisasi obat, persiapan sarana yang dibutuhkan, membuat

petunjuk teknis penyelenggaraan sentralisasi obat, dan

pendokumentasian hasil pelaksanaan (Nursalam, 2015).

Pelaksanaan sentralisasi obat secara optimal, dengan

kepemimpinan kepala ruangan, serta pengetahuan perawat dapat

mempengaruhi proses ketepatan pemberian obat oleh perawat

dengan prinsip 6 T (tepat pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat rute,

tepat waktu dan tepat dokumentasi) dan 1 W (waspada efek

samping), sehingga diharapkan tidak terjadi kesalahan pemberian

obat selama proses perawatan pasien (Kee & Hayes, 1996; Elliott &

Liu, 2010).
Kontroling terhadap penggunanan dan konsumsi obat sebagai

salah satu peran perawat perlu dilakukan dalam asuhan pola dan alur

yang sistematis sehingga penggunaan obat benar-benar dapat

dikontrol oleh perawat sehingga resiko kerugian baik secara material

maupun secara non material dapat diminimalisir. Format sentralisasi

obat berisi nama, nomor register, umur, ruangan (Nursalam, 2014).

Hasil Kajian

Dari hasil wawancara dan pengamatan tanggal 19 Februari

2019, dapat disimpulkan bahwa persiapan obat injeksi sudah

dilakukan ditempat sentralisasi obat, dengan klasifikasi pasien masuk

lalu dilakukan visit dokter, dokter menulis di kartu obat pasien, lalu

diterima oleh farmasi, selanjutnya diterima oleh perawat ruangan,

selanjutnya perawat memberikan obat kepada pasien sesuai dengan

anjuran dan waktu yang ditentukan. Dalam pelaksanaan

daripemberian obat rata-rata perawat tidak melakukan identifikasi

pasien sebelum memberikan obat, namun hanya sebagian perawat

menanyakan nama saja ke pasien.

Saat pemberian injeksi, spuit yang dipakai hanya diberi identitas

seperti nama pasien saja, jenis obat yang akan diberikan tidak diberi

lebel atau tidak dituliskan pada spuit. Cairan infus diletakkan di

lemari penyimpanan obat, namun pelebelan plabot rata-rata tidak


dicantumkan identitas pasien, jam pemberian, obat yang dicampur,

tetesan obat serta ttd perawat yang menggantinya. Saat pemberian

obat injeksi ataupun oral diberikan sesuai jadwal dan obat disimpan

di baki dan dibawa dengan menggunakan trolly tindakan.

Hasil observasi pada tanggal 19-21 Februari 2019 yang

dilakukan pada setiap tindakan pemberian obat dan keperawatan

yang dilakukan ditemukan bahwa prinsip 6 benar belum dilakukan

secara sempurna oleh masing-masing perawat yang melakukan

tindakan, namun kendala yang ada adalah perawat hanya melakukan

identifikasi pasien meliputi nama saja dan belum disertai tanggal

lahir pasien atau nomor rekam medik dalam setiap pemberian obat.

Sehinggai skp identifikasi pasien yang diterapkan belum sempurna.

Dari hasil wawancara dengan wakil karu pada tanggal 22

Februari 2019 bahwa pada saat memberikan obat para perawat

terkadang melakukan double check dengan menanyakan nama

pasien dan langsung melihat ke gelang pasien.

Kesimpulan :

Dalam melakukan pemberian obat untuk ruangan Cikuray

1 masih belum optimal di karenakan untuk double cek obat pada

pasien belum terlaksana, seperti menanyakan nama dan tanggal

lahirnya kembali.
2) Keselamatan Pasien (Patient Safety) dan Staf Safety

Patient safety adalah prinsip dasar dari perawatan kesehatan

(WHO). Keselamatan pasien menurut Sunaryo (2009) adalah ada

tidak adanya kesalahan atau bebas dari cidera karena kecelakaan.

Keselamatan pasien di rumah sakit adalah suatu sistem dimana

rumah sakit membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi

assesment risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan

dengan risiko pasien pelaporan dan analisis insiden. Kemampuan

belajar dari insiden dan tindak lanjut serta implementasi solusi untuk

meminimalkan timbulnya risiko dan pencegahan terjadiya cidera

yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan

atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Depkes RI,

2011).

Adapun tujuan dari keselamatan pasien di rumah sakit yaitu

(Depkes RI, 2011) :

a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit

b. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan

masyarakat

c. Menurunnya kejadian tidak diharapkan (KTD) di rumah sakit

d. Terlaksananya program–program pencegahan sehingga tidak

terjadi pengulangan kejadian tidak diharapkan (KTD)


Selain dari standar keselamatan, ada lagi yang menjadi poin

penting dalam pelaksanaan keselamatan pasien yaitu sasaran

keselamat pasien atau Patient Safety Goals. Sasaran keselamatan

pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua rumah sakit yang

diakreditasi oleh komisi akreditasi rumah sakit. Penyusunan sasaran

ini mengacu kepada Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari

WHO Patient Safety (2007) yang digunakan juga oleh komite

Keselamatan Pasien Rumah Sakit PERSI (KKPRSI), dan Joint

Commission International (JCI).

Menurut Joint Commission International (2013) terdapat enam

sasaran keselamatan pasien yaitu:

a. Identifikasi pasien dengan benar

b. Meningkatkan komunikasi yang efektif

c. Meningkatkan keamanan obat yang perlu diwaspadai

d. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi

e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

f. Pengurangan risiko pasien jatuh.

Hasil analisa dari observasi selama 3 hari pada tanggal 19-21

Februari 2019 mengenai keselamatan pasien yang dilakukan di

Ruang Cikuray 1, rata-rata perawat belum menerapkan IPSG secara

efektif berdasarkan tabel berikut:


Dilakukan Perawat
IPSG Kesimpulan
Ya Tidak
Ketepatan identifikasi pasien Belum
- Nama pasien √ sempurna
- Tanggal lahir pasien √
- Nomor rekam medik pasien. √
Peningkatan komunikasi yang efektif Cukup baik
- Memakai teknik SBAR √
- Memakai teknik TBAK √
Peningkatan keamanan obat yang Belum
perlu diwaspadai (high alert) cek Sempurna
NORUM
- Nama √
- Obat √ √
- Rupa √
- Ucapan √
- Mirip
Pengurangan resiko infeksi terkait
pelayanan kesehatan Belum
- Penggunaan APD √ Sempurna
- Membersihkan tangan 6 langkah √
- Pengelolaan limbah sampah √

Pengurangan resiko jatuh Belum


- Dengan penggunaan gelang Sempurna
khusus atau papan resiko jatuh √
berwarna kuning
- Memasangkan bed plang setelah √
meninggalkan pasien

Kesimpulan :

Dari hasil tabel diatas dalam prosedur sudah cukup dilakukan dengan

baik, namun pada pelaksanaanya belum sesuai karena pada saat akan

memberikan obat dari hasil observasi pada tanggal 19-21 Februari 2019 masih

ada yang belum sesuai pada patient safety terutama pada identifikasi pasien,

hanya pemberian nama, ketika di pasiennya pun tidak diidentifikasi lagi

terhadap tanggal lahir, nomer medrek dan obat yang akan diberi serta tidak

dibeikan label hanya menanyakan nama saja dan terkadang melihat ke gelang

pasien.

f. Standar Operasional Prosedur (SOP)

Standar Prosedur Operasional (SPO) adalah sistem yang disusun untuk

memudahkan, merapihkan dan menertibkan pekerjaan. Sistem ini berisi urutan

proses melakukan pekerjaan dari awal sampai akhir. Sailendra, (2015:11)

menyatakan “Standard Operating Procedure (SOP) merupakan panduan yang

digunakan untuk memastikan kegiatan operasional organisasi atau perusahaan

berjalan dengan lancar”. Menurut Hartatik (2014:35) Standard Operating

Procedure (SOP) adalah satu set instruksi tertulis yang digunakan untuk

kegiatan rutin atau aktivitas yang berulang kali dilakukan oleh sebuah
organisasi. Sedangkan Budihardjo (2014:7) menyatakan “Standard Operating

Procedure (SOP) adalah suatu perangkat lunak pengatur, yang mengatur

tahapan suatu proses kerja atau prosedur kerja tertentu.”

Hasil Kajian

Dari hasil pengamatan dan observasi per tanggal 19 Februari 2019,

didapatkan hasil bahwa ruangan memiliki 15 SOP tetapi hanya beberapa

mengenai tindakan keperawatan, akan tetapi setelah dikonfirmasi kepada

kepala ruangan dikatakan bahwa ruangan lebih menitik beratkan pada SOP

pelayanan. Untuk pembaharuan SOP dilakukan 3 tahun yang lalu.

Kesimpulan :

Ruang Cikuray 1 memiliki 15 SOP dan hanya beberapa mengenai

tindakan keperawatan serta ruang cikuray 1 lebih menitik beratkan pada

SOP pelayanan.

g. Satuan Acara Keperawatan (SAK)

Standar Asuhan Keperawatan adalah uraian pernyataan tingkat kinerja

yang diinginkan, sehingga kualitas struktur, proses dan hasil dapat dinilai.

Standar asuhan keperawatan berarti pernyataan kualitas yang didinginkan dan

dapat dinilai pemberian asuhan keperawatan terhadap pasien/klien. Hubungan

antara kualitas dan standar menjadi dua hal yang saling terkait erat, karena
melalui standar dapat dikuantifikasi sebagai bukti pelayanan meningkat dan

memburuk (Wilkinson, 2006).

Tujuan dan manfaat standar asuhan keperawatan pada dasarnya

mengukur kualitas asuhan kinerja perawat dan efektifitas manajemen

organisasi. Dalam pengembangan standar menggunakan pendekatan dan

kerangka kerja yang lazim sehingga dapat ditata siapa yang bertanggung jawab

mengembangkan standar bagaimana proses pengembangan tersebut. Standar

asuhan berfokus pada hasil pasien, standar praktik berorientasi pada kinerja

perawat professional untuk memberdayakan proses keperawatan. Standar

finansial juga harus dikembangkan dalam pengelolaan keperawatan sehingga

dapat bermanfaat bagi pasien, profesi perawat dan organisasi pelayanan

(Kawonal, 2000).

Setiap hari perawat bekerja sesuai standar – standar yang ada seperti

merancang kebutuhan dan jumlah tenaga berdasarkan volume kerja, standar

pemerataan dan distribusi pasien dalam unit khusus, standar pendidikan bagi

perawat professional sebagai persyaratan agar dapat masuk dan praktek dalam

tatanan pelayanan keperawatan professional (Suparti, 2005).

Hasil Kajian

Berdasarkan hasil wawancara oleh pembimbing klinik di ruangan

cikuray 1 pada tanggal 19-20 Februari 2019 didapatkan keterangan mengenai

Standar Asuhan Keperawatan sudah sesuai dengan penerapan yang ada di


ruangan. Jumlah SAK yang ada di ruangan cikuray 1 sebanyak 10 Standar

Asuhan Keperawatan. Tetapi masih dalam proses pembaharuan.

Berdasarkan hasil Observasi di lapangan pada tanggal 19-20 Februari

2019 didapatkan hasil di ruang cikuray 1 standar asuhan keperawatan yaitu

yang paling sering digunkan yaitu Hipertermi, Resiko Kekurangan Cairan,

Nyeri, dan Gangguan pemenuhan nutrisi dalam pelaksanaan asuhan

keperawatan sudah sesui dengan standar asuhan keperawatan.

Kesimpulan :

Jumlah SAK yang ada di ruangan cikuray 1 sebanyak 10 Standar Asuhan

Keperawatan. Tetapi masih dalam proses pembaharuan.

h. Visi dan misi ruangan

Berdasarkan pendapat dari Wibisono (2006, p. 43), Visi merupakan

rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita atau impian sebuah organisasi

atau perusahaan yang ingin dicapai di masa depan. Atau dapat dikatakan bahwa

visi merupakan pernyataan want to be dari organisasi atau perusahaan.

Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus

dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Visi adalah suatu gambaran

yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan oleh organisasi.

Menurut Wibisono (2006,p.46) Misi merupakan rangkaian kalimat

yang menyatakan tujuan atau alasan eksistensi organisasi, yang memuat apa

yang disediakan oleh perusahaan kepada masyarakat, baik berupa produk


ataupun jasa. Pengertian misi adalah tujuan dan alasan yang memberikan arah

sekaligus batasan proses pencapaian tujuan. Misi pada dasarnya hanya bukan

usaha formal untuk memperjelas apa yang dikehendaki, namun misi merupakan

tahapan aksi yang akan dilaksanakan dari visi yang telah ada, guna mencapai

suatu tujuan.

Hasil Kajian

Dari hasil pengamatan dan konfirmasi kepada kepala ruangan pada

tanggal 19 Februari 2019 didapatkan hasil bahwa ruangan belum memiliki visi

dan misi ruangan tersendiri. Ruangan hanya memiliki visi dan misi dari rumah

sakit yang tertera di lorong ruangan dekat nurse station.

Kesimpulan :

Visi misi ruang cikuray 1 masih sama dengan visi misi rumah sakit.

Struktur Organisasi

Hasil Kajian

Dari hasil observasi dan pengamatan pada tanggal 19 februari 2019,

belum terdapat bentuk fisik struktur organisasi di dalam ruangan Cikuray 1.

Berdasarkan hasil konfirmasi kepada Kepala ruangan Cikuray 1 pada

tanggal 20 februari 2019 didapatkan hasil bahwa struktur organisasi masih

dalam proses pembuatan secara bentuk fisik.


i. Instruksi Kerja Alat

Hasil Kajian

Dari hasil pengamatan pada tanggal 19 Februari 2019 di setiap alat yang

tersedia di ruangan cikuray 1 hanya beberapa yang memiliki instruksi kerja alat

yaitu syringe pump dan infus pump. Hasil konfirmasi dengan kepala ruangan

pada tanggal 21 Februari 2019 pada kepala ruangan instruksi kerja alat

merupakan tanggung jawab Bag. Penunjang Medis. Dan di ruangan tidak

tersedia.

Kesimpulan :

Intruksi kerja alat di ruang cikuray 1 belum tertera pada setiap

alat, dikarenakan intruksi alat tersebut merupakan tugas Bag. Penunjang

Medis.

j. Alur (pasien masuk, pasien pulang, pasien meninggal, sensus harian)

Hasil Kajian

Dari hasil wawancara dengan pembimbing klinik pada tanggal 19 Februari

2019 alur (pasien masuk, pasien pulang, pasien meninggal, dan sensus harian)

di ruangan Cikuray 1.
 Pasien masuk – pasien pulang

Poli UGD 24 Jam/

khusus kegawatdaruratan

Booking ruangan (ruangan multikasus/semua kasus dan termasuk anak & ruangan

dinas TNI/PNS/Keluarga/Anak/Istri Dokter)

ada tempat tidak ada tempat

kirim alihkan ke ruang

lain sesuai kelas

dan penyakit

menempati ruang sesuai wing

menunggu visit dokter

administrasi selesai

pasien pulang
 Pasien meninggal

Perawat melakukan RJP/menelepon dokter DPJP/Dokter melakukan

RJP

Estimasi waktu RJP 15-20 menit

Apabila pasien meninggal dokter/perawat melapor ke bagian controlle

Bagian controlle membuat askem (asuhan kematian)

Kemudian dari ruangan menelpon ke rumah duka

Kemudian tim rumah duka menjemput ke ruangan untuk dibawa ke rumah duka
Analisa SWOT

M3 METHODE Bobot rating Bobot x


Kekuatan ( S ) rating
1. Discharge planning sudah 0,2 3 0,9 S–W
dilakukan dengan baik pada saat 2,8-1,8
pasien masuk, rawat inap, sampai =1
pasien pulang
2. Metode tim sudah dilakukan secara 0,2 3 0,3
optimal
3. Pelaksanaan pre dan post conference 0,1 3 0,3
sudah dilakukan secara efektif
dengan cara non formal
4. Supervisi sudah dilakukan ke setiap 0,1 1 0,1
ruangan pada waktu tertentu secara
efektif dijalankan
5. Penerapan SBAR pada dokumen 0,2 3 0,6
pasien sudah tercantum dibuku
status pasien dan sudah diterapkan.
6. Penggunaan APD saat melakukan 0,1 2 0,2
tindakan sudah dilakukan secara
efektif
7. SAK diruangan sudah sesuai 0,1 2 0,4
dengan tindakan yang dilakukan
TOTAL 1 2,8
Kelemahan ( W )
1. Timbang terima belum dilakukan 0,3 3 0,9
secara optimal dimana timbang
terima tidak dilakukan langsung di
ruang masing-masing tim, tapi
seluruh tim ikut berkeliling
keseluruh ruang perawatan.
2. Kepatuhan perawat dalam 0,2 2 0,4
melakukan handhygiene 5 moment
belum sepenuhnya terlaksana. Dari
21 perawat hanya 80% melakukan
cuci tangan pada saat setelah kontak
dengan pasien, setelah melakukan
tindakan aseptic, dan setelah
terpapar dengan lingkungan pasien.
3. Rata–rata perawat belum 0,2 1 0,2
menerapkan IPSG dengan baik salah
satunya mengenai Identifikasi
pasien yang belum sempurna
dilakukan oleh perawat, misalnya
pada saat melakukan tindakan hanya
memvalidasi nama saja dan
terkadang langsung melihat ke
gelang pasien.
4. Ronde Keperawatan belum pernah 0,3 1 0,3
dilaksanakan
TOTAL 1 1,8
Peluang ( O )
1. Kepercayaan pasien dan masyarakat 0,3 2 0.6 O-T =
pada perawat diruang Cikuray 1 2,4-1 =
sangat baik 1,4
2. Adanya kebijakan dari rumah sakit 0,4 3 1.2
untuk melanjutkan pendidikan
3. Adanya sosialisasi proses belajar 0,3 2 0,6
anatara mahasiswa dengan perawat
ruangan
TOTAL 1 2.4
Ancaman ( T )
1. Resiko terjadinya cedera pada 1 1 1
pasien

TOTAL 1 1
POA (Planning Of Action)

No Masalah Sasaran Kegiatan Waktu PJ

Timbang terima (hand


over) belum dilakukan
secara maksimal dimana
timbang terima tidak  Katim Role play timbang
1
dilakukan langsung di  Perawat terima 26 Februari-14 Maret Eka Yuliana
Pelaksana
ruang masing-masing tim,
tapi seluruh tim ikut
berkeliling keseluruh
ruangan perawatan.
Kepatuhan perawat dalam
melakukan handhygiene 5
2 moment belum Perawat Mengingatkan 5
Vena Soleha
sepenuhnya terlaksana. Pelaksana moment sebelum
Dari 21 perawat terdapat tindakan yang
26 Februari-14 Maret
80% melakukan cuci dilakukan oleh
tangan pada saat setelah perawat
kontak dengan pasien,
setelah melakukan
tindakan aseptic, dan
setelah terpapar dengan
lingkungan pasien
Rata–rata perawat belum
menerapkan IPSG dengan
baik salah satunya
mengenai Identifikasi
pasien yang belum Mengingatkan

3 sempurna dilakukan oleh  Perawat penerapan IPSG pada 26 Februari-14 Maret Azka Fadilla
perawat, misalnya pada pelaksana saat melakukan
saat melakukan tindakan tindakan
hanya memvalidasi nama
saja dan terkadang
langsung melihat ke gelang
pasien.
Struktur organisasi di

4 ruang cikuray 1 masih  Kepala Membuat struktur 26 Februari-14 Maret Eka yuliana
dalam proses dan belum ruangan organisasi
terdapat bukti fisik