Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

ALIRAN FLUIDA

Nama : Silvi Nofita Sari


NIM : 011700020
Program Studi : D-IV Teknokimia Nuklir
Kelompok :D
Rekan Kerja : 1. Agalio Yosef
2. Ilhami Ariyanti
3. Niki Fidiarini
Tanggal Praktikum : 27 November 2018
Pembimbing : Harum Azizah, MT

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2018
ALIRAN FLUIDA

I. TUJUAN
1. Menentukan head pompa (W) serta melihat hubungannya dengan debit fluida.
2. Menentukan panjang ekivalen (Le) dan melihat hubungannya dengan derajad pembukaan
kran.
3. Menentukan Coefficient of discharge (Co) pada aliran fluida serta melihat hubungannya
dengan bilangan Reynold.
4. Menentukan hubungan debit aliran fluida dengan tinggi float.
II. Dasar Teori
Aliran fluida atau zat cair (termasuk uap air dan gas) dibedakan dari benda padat karena
kemampuannya untuk mengalir. Fluida lebih mudah mengalir karena ikatan molekul dalam
fluida jauh lebih kecil dari ikatan molekul dalam zat padat, akibatnya fluida mempunyai
hambatan yang relatif kecil pada perubahan bentuk karena gesekan. Zat padat
mempertahankan suatu bentuk dan ukuran yang tetap, sekalipun suatu gaya yang besar
diberikan pada zat padat tersebut, zat padat tidak mudah berubah bentuk maupun volumenya,
sedangkan zat cair dan gas, zat cair tidak mempertahankan bentuk yang tetap, zat cair
mengikuti bentuk wadahnya dan volumenya dapat diubah hanya jika diberikan padanya gaya
yang sangat besar.
Gas tidak mempunyai bentuk maupun volume yang tetap,gas akan berkembang mengisi
seluruh wadah. Karena fase cair dan gas tidak mempertahankan suatu bentuk yang tetap,
keduanya mempunyai kemampuan untuk mengalir. Dengan demikian kedua – duanya sering
secara kolektif disebut sebagai fluida (Olson, 1990).
Untuk mengerti aliran fluida maka harus mengetahui beberapa sifat dasar fluida. Adapun
sifat – sifat dasar fluida yaitu: kerapatan (density) ρ, (specific gravity) (s.g), tekanan (pressure)
P, kekentalan (viscosity) µ.
Tipe-tipe aliran dibedakan menjadi dua yaitu :
a) Aliran Laminar
Aliran laminar didefinisikan sebagai aliran dengan fluida yang bergerak dalam lapisan–
lapisan atau lamina–lamina dengan satu lapisan meluncur secara lancar. Aliran laminar ini
mempunyai nilai bilangan Reynoldsnya kurang dari 2300 (Re < 2300).
Gamabar 1. Aliran laminar
b) Aliran transisi
Merupakan aliran peralihan dari aliran laminer ke aliran turbulen. Keadaan peralihan ini
tergantung pada viskositas fluida, kecepatan dan lain-lain yang menyangkut geometri
aliran dimana nilai bilangan Reynoldsnya antara 2300 sampai dengan 4000
(2300<Re4000).

Gambar 2. Aliran Transisi


c) Aliran Turbulen
Aliran turbulen didefinisikan sebagai aliran yang dimana pergerakan dari partikel-partikel fluida
sangat tidak menentu karena mengalami percampuran serta putaran partikel antar lapisan, yang
14 mengakibatkan saling tukar momentum dari satu bagian fluida ke bagian fluida yang lain
dalam skala yang besar. Dimana nilai bilangan Renoldsnya lebih besar dari 4000 (Re>4000).

Gambar 3. Aliran Turbulen

Salah satu prinsip yang digunakan untuk menyelesaikan masalah aliran fluida adalah
kontinyuitas. Kontinyuitas ini diperoleh dengan melihat bahwa di dalam cairan yang mengalir
tidak berbentuk rongga.
Persamaan kontinyuitas adalah :
............. (1)
Dengan :
Q : debit
A : luas penampang
V : kecepatan linier rata-rata
ρQ : kecepatan massa
ρ : densitas

untuk fluida incompressible (densitas tetap) persamaan menjadi:

................ (2)
Setiap fluida yang mengalir di dalam pipa memiliki tenaga. Selama aliran mengalir terjadi
perpindahan tenaga dari fluida ke sekeliling. Tenaga yang dimiliki fluida dapat digolongkan
menjadi :
Tenaga yang dibawa
1. Internal energi (mE), adalah tenaga gerak yang dipengaruhi oleh temperatur dan molekul-
molekul.
2. Potensial energi, merupakan tenaga yang dimiliki oleh fluida karena tempat kedudukan dan
adanya pengaruh gravitasi bumi.
3. Tenaga kinetik, merupakan tenaga yang diperlukan agar fluida dapat mengalir.
4. Pressure enegy, adalah tenaga yang dibutuhkan untuk memasukkan fluida ke dalam sistem
tanpa adanya perubahan volume.

Tenaga yang ditransfer


1. Tenaga panas, panas yang dihasilkan oleh sistem. Ini meliputi panas yang diakibatkan oleh
adanya gesekan secara konvensional.
2. Kerja poros (Ws), Tenaga yang masuk sama dengan tenaga yang keluar, sehingga didapat
:

.... (3)
Jadi persamaan umum Bernoulli :

. . . . . . . . . . . (4)
Jika sistem berlaku untuk U = 0, berarti ada gesekan dan proses alirannya adiabatis, maka Q = 0
dan proses isotermal, maka E = 0

............ (5)
Dengan :

: pressure head
: potensial head

: velocity head
ΣF : friction head
Ws : kerja poros yang dinyatakan dalam head

Friksi adalah gesekan antara fluida dengan dinding pipa, persamaan umumnya adalah :

............................. (6)
Dengan :
F : friksi
f : faktor friksi
L : panjang pipa
V : kecepatan aliran fluida
gc : gravitasi bumi
D : diameter pipa

Bila zat cairnya incompressible, aliran tidak adiabatis dan non isothermal serta U = 0.

....... (7)

ALAT-ALAT ALIRAN FLUIDA

Kran
Adalah satu jenis fitting yang digunakan untuk mengatur aliran, mengontrol aliran, dan
membuka serta menutup aliran. Pemilihan terhadap jenis kran yang digunakan tergantung jumlah
aliran fluida dan jenis zat yang mengalir. Untuk memenuhi tujuan jenis kran yang panjang
ekivalennya besar yaitu globe, valve, gate valve, dan needle valve. Sedangkan untuk mengontrol
aliran digunakan : swing check valve, angle check valve, dan ball check valve. Panjang ekivalen
kran adalah panjang pipa yang memberikan friksi sama dengan friksi yang diberikan oleh kran
tersebut. Panjang ekivalen kran (Le) merupakan fungsi derajad pembukaan kran.

Gambar 4. Kran Pada Alat Aliran Fluida


Persamaan Bernoulli :
Bila
Δz : 0 (tidak ada beda tinggi)
ΔV2
: 0 (diameter sama)
W : 0 (tidak ada kerja)

Maka persamaan menjadi :

.............. (8)

Alat ini digunakan untuk menentukan kehilangan tekanan dari aliran fluida melalui pipa yang
dinyatakan terhadap panjang ekivalen.

Pompa
Adalah suatu alat yang digunakan untuk mengalirkan fluida dari suatu tempat ke tempat
lain. Aliran fluida pada pompa disebabkan oleh adanya gaya sentrifugal, perpindahan momentum,
dan gaya gravitasi. Dalam persamaan aliran, jumlah kerja yang diberikan pompa dinyatakan
dengan simbol W, dan menurut jenisnya pompa digolongkan menjadi pompa centrifugal, pompa
recriprocating dan pompa rotary.

Karakteristik pompa terdiri dari :


1. Kapasitas, yaitu jumlah/banyaknya fluida yang dipindahkan tiap satuan waktu
2. Head, adalah tenaga yang diberikan pompa tiap satu satuan berat zat cair yang dipindahkan.
3. Power, adalah tenaga yang dibutuhkan pompa tiap satuan waktu.
4. Effisiensi, adalah perbandingan antara tenaga yang diberikan pompa dan energi yang
dibutuhkan.
Gambar 5. Pompa Pada Aliran Fluida

Bila fluida yang dialirkan adalah incompressible dan tidak terjadi aliran lagi, maka persamaan
neraca energinya adalah :

.......... (9)

Oleh karena :
ΔZ = 0 (Z1 = Z2), ΔV = 0, ΣF = 0,
maka :

Pada titik a :

Pada titik b :

Karena tekanan di titik a dan tekanan di titik b sama, maka Pa = Pb, dan Zd = Ze, serta Zb = Za,
maka :

Jika dianggap g/gc = 1, maka :

....................... (10)
Dengan :
Δh : beda tinggi manometer
ρ Hg : densitas air raksa
ρ : densitas fluida
W : head pompa

Untuk mengetahui karakteristik pompa dibuat grafik hubungan antara head pompa (W) dan debit
(Q).
Orificemeter
Adalah alat untuk mengukur/menentukan kecepatan linear rata-rata aliran fluida di dalam
pipa. Jenis hubungan orificemeter adalah dengan vena contracta. Vena contracta merupakan suatu
tempat dimana flow areanya minimum dan kecepatannya maksimum, sehingga pipanya
maksimum.

Gambar 6. Orifacemeter
Persamaan Bernoulli jika dirangkaikan dengan persamaan kontinyuitas, dengan anggapan –W = 0
dan Z = Z dan aliran fluida dianggap incompressible, maka didapat :
1 2

ΣF = tenaga yang hilang dalam meter tersebut selama fluida melaluinya. Harga ini sukar ditentukan
sehingga didekati dengan :

Sehingga didapatkan :

............... (11)
Dengan :
Co : koefisien discharge dari orificemeter
Do : diameter orificemeter
D1 : diameter pipa
W : kecepatan aliran massa

Rotometer
Alat terdiri dari gelas yang berbentuk kerucut dan di dalamnya terdapat pengapung (float)
yang bergerak naik turun sesuai dengan besar kecilnya kecepatan aliran. Alat ini untuk mengukur
debit aliran. Persamaan kesetimbangan gaya-gaya pada float adalah :
................. (12)
Dengan :
Vf : volume float
Pf : densitas float
Af : luas penampang maksimum float

Substitusi persamaan tersebut ke dalam persamaan orificemeter dan dengan anggapan


bahwa adalah sangat kecil, maka didapat :

.............. (13)
Dengan :
W : kecepatan aliran massa
Cr : koefisien discharge
Ao : luas orifice
gc : gaya gravitasi
ρ f : densitas float
ρ : densitas fluida
v f : volume float
A f : luas penampang maksimum float

III. Alat dan Bahan


a) Alat
1. Rangkaian alat percobaan
2. Gelas ukur
3. Stop watch
4. Alat gelas lainnya

Gambar 7. Rangkaian Alat


Keterangan :
1. Bak penampung
2. Pompa
3. Kran
4. Orificemeter
5. Rotometer
6. Manometer

IV. Langkah kerja


1. Diukur diameter pipa dan diameter orificemeter.
2. Dikur sifat fisis cairan (densitas, viskositas).
3. Cairan dimasukan ke dalam tangki, pompa dijalankan dan kran dibuka dengan sudut
putar tertentu, kemudian diamati tinggi air raksa pada kaki manometer kiri dan kanan
pompa, kran orificemeter, dan kedudukan float pada rotometer.
4. Diukur debit aliran (air yang keluar ditampung dengan gelas ukur setiap waktu
tertentu).
5. Kran diputar kembali dan percobaan diulangi seperti di atas sampai sudut putar kran
mencapai sudut maksimal.
V. Data pengamatan
A. Data Persiapan
1. Massa piknometer kosong = 14,88 gr
2. Massa piknometer + aquadest = 39,80 gr
3. Massa piknometer + air kran = 39,77 gr
4. Massa aquadest = 24,92 gr
5. Massa air kran = 24,89 gr
6. Volume piknometer = 25 ml
7. T air kran = 30 °C
8. T aquadest = 30 °C
9. Diameter Pipa = 1,270 cm
10. Diameter Orifice Meter = 0,635 cm
11. t aquadest = 0,79 s; 0,79 s; 0,72 s = 0,77 s
12. t air kran = 0,92 s; 0,99 s; 0,85 s = 0,92 s
13. g = 980 cm/s2
14. µ aquadest pada T 30 °C = 0,000798 kg/m.s
15. 𝜌𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡 = 13,5460 gr/ml

B. Data Praktikum
1. Variasi Tegangan
Voltase Debit Pompa Kran Orificemeter
(Volt) t(s) V Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri
(ml) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm)
100 5 160 2,5 2,3 0 0 0,7 0,7
105 5 210 4,2 3,9 0 0 1,3 1,2
110 5 340 5,2 5,0 0 0 0,4 1,6
115 5 370 7,0 6,7 0 0 2,4 1,9
120 5 420 8,2 8,0 0 0 2,7 2,6

2. Variasi Bukaan Kran


Sudut Debit Pompa Kran Orificemeter
Bukaan t(s) V Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri
(ml) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm) (cm)
1 5 350 7,4 7,4 0 0 2,0 2,0
2 5 360 7,6 7,5 0 0 1,8 1,7
3 5 370 8,3 8,0 0 0 2,0 1,9
4 5 365 7,4 7,5 0 0 1,9 1,8
5 5 350 7,7 7,5 0 0 1,8 1,8

VI. Perhitungan
A. Perhitungan Densitas
1. Densitas Aquadest
𝑚
𝜌𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡 =
𝑉
24,92 𝑔𝑟𝑎𝑚
𝜌𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡 = 25 𝑚𝑙

= 0,9968 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑚𝑙

2. Densitas Air Kran


𝑚
𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑘𝑟𝑎𝑛 =
𝑉
24,89 𝑔𝑟
𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑘𝑟𝑎𝑛 = = 0,9956 𝑔𝑟/𝑚𝑙
25 𝑚𝑙
B. Perhitungan Viskositas
1. Viskositas Aquadest
Berdasarkan tabel buku Geankoplis, Viskositas aquadest pada suhu 30 °C adalah
sebesar 0,000798 kg/m.s.
µ𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡 = 𝜌 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡 𝑥 𝑡 𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
𝑔𝑟𝑎𝑚
= 0,9968 𝑚𝑙 𝑥 0,77 𝑠
= 0,7675 𝑐𝑝
2. Viskositas Air Kran
𝑡 𝑎𝑖𝑟 𝑘𝑟𝑎𝑛 𝑥 𝜌 𝑎𝑖𝑟 𝑘𝑟𝑎𝑛
µ𝑎𝑖𝑟 𝑘𝑟𝑎𝑛 = 𝑥 µ𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
𝑡𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡 𝑥 𝜌𝑎𝑞𝑢𝑎𝑑𝑒𝑠𝑡
0,92 s 𝑥 0,9956 𝑔𝑟/𝑚𝑙
µ𝑎𝑖𝑟 𝑘𝑟𝑎𝑛 = 𝑥 0,7675 cp
0,77 s 𝑥 0,9968 gr/ml
µ𝑎𝑖𝑟 𝑘𝑟𝑎𝑛 = 0,9160 𝑐𝑝

C. Menentukan Head Pompa


1. Variasi Tegangan
𝛥𝐻 𝑀𝑎𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑃𝑜𝑚𝑝𝑎 𝑥 (𝜌𝐻𝑔 − 𝜌𝑎𝑖𝑟 )
𝑊=
𝜌𝑎𝑖𝑟
4,8 𝑐𝑚 𝑥 (13,5460 − 0,9956)𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝑊100 𝑉𝑜𝑙𝑡 = = 60,5081 𝑐𝑚
0,9956 𝑔𝑟/𝑚𝑙
Dengan cara yang sama diperoleh hasil sebagai berikut :
Voltase t(s) V (ml) H Manometer Pompa (cm) Debit Head
(ml/s) Pompa
(Volt) Kanan Kiri ΔH W (cm)
100 5 160 2,5 2,3 4,8 32,0 60,5804
105 5 210 4,2 3,9 8,1 42,0 102,2294
110 5 340 5,2 5,0 10,2 68,0 128,7333
115 5 370 7,0 6,7 13,7 74,0 172,9065
120 5 420 8,2 8,0 16,2 84,0 204,4588
Grafik Debit Vs Head Pompa
250
y = 35.861x + 26.216
200
Head Pompa (cm)
R² = 0.9955

150

100

50

0
0 1 2 3 4 5 6
Debit (ml/s)

2. Variasi Bukaan Kran


𝛥𝐻 𝑀𝑎𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑃𝑜𝑚𝑝𝑎 𝑥 (𝜌𝐻𝑔 − 𝜌𝑎𝑖𝑟 )
𝑊=
𝜌𝑎𝑖𝑟
14,8 𝑐𝑚 𝑥 (13,5460 − 0,9945)𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝑊100 𝑉𝑜𝑙𝑡 = = 186,7895 𝑐𝑚
0,9945 𝑔𝑟/𝑚𝑙
Dengan cara yang sama diperoleh hasil sebagai berikut :
H Manometer Pompa Head
Sudut Debit
t(s) V (ml) (cm) Pompa
(ml/s)
Bukaan Kanan Kiri ΔH W (cm)
1 5 350 7,4 7,4 14,8 70,0 186,7895
2 5 360 7,6 7,5 15,1 72,0 190,5758
3 5 370 8,3 8,0 16,3 74,0 205,7209
4 5 365 7,4 7,5 14,9 73,0 188,0516
5 5 350 7,7 7,5 15,2 70,0 191,8379
Grafik Debit Vs Head Pompa
210

205

Head Pompa (cm) 200

195 y = 0.7573x + 190.32


R² = 0.0248
190

185
0 1 2 3 4 5 6
Debit (ml/s)

D. Menentukan Panjang Ekivalen (Le)


1. Variasi Tegangan
Pada V = 100 Volt
1
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 (𝐴) = 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2
4
1
= 𝑥 3,14 𝑥 (1,27 𝑐𝑚)2 = 1,2661 𝑐𝑚2
4

𝑄
𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐿𝑖𝑛𝑖𝑒𝑟 (𝑉) =
𝐴
32 𝑐𝑚3 /𝑠
= 1,2661 𝑐𝑚2 = 25, 2745 𝑐𝑚/𝑠
𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝐷 𝑥 𝑉
𝐵𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑅𝑒𝑦𝑛𝑜𝑙𝑑 (𝑅𝑒) =
µ
0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 𝑥 1,27 𝑐𝑚 𝑥 25, 2745 𝑐𝑚/𝑠
=
9,523 𝑥 10−4 kg/m. s
= 33558,1026
Karena fluida memiliki jenis aliran turbulen, maka rumus factor friksi yang
digunakan adalah :

0,316
𝐹𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑓𝑟𝑖𝑘𝑠𝑖 (𝑓) =
𝑅𝑒 0,25
0,316
=
33521,02550,25
= 0,0267
2𝑥𝑔𝑥𝐷𝑥𝐻 (𝜌𝐻𝑔 − 𝜌𝑎𝑖𝑟 )
𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐸𝑘𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛 (𝐿𝑒) = 𝑥
𝑓 𝑥 𝑉2 𝜌𝑎𝑖𝑟

𝑐𝑚
2 𝑥 980
𝑥 1,27 𝑐𝑚 𝑥 0 𝑐𝑚 (13,5460 − 0,9945)𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝐿𝑒 = 𝑠2 𝑥
𝑐𝑚 0,9945 𝑔𝑟/𝑚𝑙
0,0234 𝑥 (25, 2745 𝑠 )2
𝐿𝑒 = 0 𝑐𝑚
Dengan cara yang sama diperoleh hasil sebagai berikut :
Voltase t(s) V H Manometer Kran (cm) Debit V Re f Le (cm)
(ml) (ml/s)
(Volt) Kanan Kiri ΔH (cm/s)
100 5 160 0 0 0 32,0 25,2745 33.520,9790 0,0234 0
105 5 210 0 0 0 42,0 33,1727 43.996,2849 0,0218 0
110 5 340 0 0 0 68,0 53,7082 71.232,0803 0,0193 0
115 5 370 0 0 0 74,0 58,4472 77.517,2639 0,0189 0
120 5 420 0 0 0 84,0 66,3455 87.992,5698 0,0183 0

Grafik hubungan antara


Voltase vs Panjang Ekivalen (Le)
1
1
Panjang Ekivalen (cm)

1
1
1
1
0
0
0
y=0
0
R² = #N/A
-
95 100 105 110 115 120 125
Voltase (Volt)

2. Variasi Bukaan Kran


Pada sudut bukaan 1
1
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 (𝐴) = 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2
4
1
= 𝑥 3,14 𝑥 (1,27 𝑐𝑚)2 = 1,2661 𝑐𝑚2
4
𝑄
𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐿𝑖𝑛𝑖𝑒𝑟 (𝑉) =
𝐴
70 𝑐𝑚3 /𝑠
= 1,2661 𝑐𝑚2 = 55, 2879 𝑐𝑚/𝑠

𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝐷 𝑥 𝑉
𝐵𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑅𝑒𝑦𝑛𝑜𝑙𝑑 (𝑅𝑒) =
µ
0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 𝑥 1,27 𝑐𝑚 𝑥 55, 2879 𝑐𝑚/𝑠
=
9,523 𝑥 10−4 kg/m. s
= 73408,2581
Karena fluida memiliki jenis aliran turbulen, maka rumus factor friksi yang
digunakan adalah :
0,316
𝐹𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟 𝑓𝑟𝑖𝑘𝑠𝑖 (𝑓) =
𝑅𝑒 0,25
0,316
=
73408,25810,25
= 0,0192

2𝑥𝑔𝑥𝐷𝑥𝐻 (𝜌𝐻𝑔 − 𝜌𝑎𝑖𝑟 )


𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝐸𝑘𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛 (𝐿𝑒) = 𝑥
𝑓 𝑥 𝑉2 𝜌𝑎𝑖𝑟

𝑐𝑚
2 𝑥 980 𝑥 1,27 𝑐𝑚 𝑥 0 𝑐𝑚 (13,5460 − 0,9945)𝑔𝑟/𝑚𝑙
𝐿𝑒 = 𝑠2 𝑥
𝑐𝑚 0,9945 𝑔𝑟/𝑚𝑙
0,0192𝑥 (55, 2879 𝑠 )2

𝐿𝑒 = 0 𝑐𝑚
Dengan cara yang sama diperoleh hasil sebagai berikut :
Voltase t(s) V H Manometer Kran (cm) Debit V Re f Le (cm)
(ml) (ml/s)
(Volt) Kanan Kiri ΔH (cm/s)
100 5 350 0 0 0 70,0 55,2879 73.327,1415 0,0192 0
105 5 360 0 0 0 72,0 56,8675 75.422,2027 0,0191 0
110 5 370 0 0 0 74,0 58,4472 77.517,2639 0,0189 0
115 5 365 0 0 0 73,0 57,6574 76.469,7333 0,0190 0
120 5 350 0 0 0 70,0 55,2879 73.327,1415 0,0192 0
Grafik hubungan antara
Bukaan Kran vs Panjang Ekivalen (Le)
1

Panjang Ekivalen (cm)


1
1
0
0 y=0
R² = #N/A
-
0 1 2 3 4 5 6
Sudut Bukaan

E. Menentukan Coefficient of discharge (Co)


1. Variasi Tegangan
Untuk tegangan 100 Volt
− 𝛥𝑃 = 𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝑔 𝑥 𝛥𝐻 𝑀𝑎𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑂𝑟𝑖𝑓𝑖𝑐𝑒𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝑔𝑟 𝑐𝑚
− 𝛥𝑃 = 0,9956 𝑥 980 2 𝑥 1,4 𝑐𝑚
𝑚𝑙 𝑠
𝑔𝑟
− 𝛥𝑃 = 1.365,9632
𝑐𝑚. 𝑠 2

1
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 (𝐴) = 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2
4
1
= 𝑥 3,14 𝑥 (0,635 𝑐𝑚)2 = 0,3165 𝑐𝑚2
4

𝑄
𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐿𝑖𝑛𝑖𝑒𝑟 (𝑉) =
𝐴
32 𝑐𝑚3 /𝑠
= = 101, 1058 𝑐𝑚/𝑠
0,3165 𝑐𝑚2

𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝐷 𝑥 𝑉
𝐵𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑅𝑒𝑦𝑛𝑜𝑙𝑑 (𝑅𝑒) =
µ
0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 𝑥 0,635 𝑐𝑚 𝑥 101, 1058 𝑐𝑚/𝑠
=
9,523 𝑥 10−4 kg/m. s
= 67121,3834
𝛥𝐻 𝑀𝑎𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑂𝑟𝑖𝑓𝑖𝑐𝑒 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑥 (𝜌𝐻𝑔 − 𝜌𝑎𝑖𝑟 )
𝐻𝑒𝑎𝑑 𝑃𝑜𝑚𝑝𝑎 (𝑊) =
𝜌𝑎𝑖𝑟
1,4 𝑐𝑚 𝑥 (13,5460 − 0,9956) 𝑔𝑟/𝑐𝑚3
𝑊= = 17,6482 𝑐𝑚
0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3

Coefficient of Discharge
W
𝐶0 =
2 𝑔 𝜌𝑎𝑖𝑟 (−𝛥𝑃)
𝐴0 √ 𝐷
1 − ( 𝐷0 )4
1

17,6482 cm
𝐶0 =
𝑐𝑚 𝑔𝑟
2𝑥980 𝑥0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 𝑥1.365,9632
𝑠2 𝑐𝑚. 𝑠 2
0,3165 𝑐𝑚2 √ 0,635 𝑐𝑚
1 − ( 1,27 𝑐𝑚 )4

𝐶0 = 0,0331
Dengan cara yang sama diperoleh data sebagai berikut :
Voltase t(s) V H Manometer Debit V Re f Le (cm) -ΔP W C
(ml) Orificemeter (cm) (ml/s)
(Volt) Kanan Kiri ΔH (cm/s) (cm)
100 5 160 0,7 0,7 1,4 32,0 101,1058 67.047,2535 0,0196 109,547965 1.364,4540 17,6693 0,0
105 5 210 1,3 1,2 2,5 42,0 132,7014 87.999,5202 0,0183 121,546509 2.436,5250 31,5523 0,0
110 5 340 0,4 1,6 2,0 68,0 214,8499 142.475,4137 0,0163 41,843513 1.949,2200 25,2418 0,0
115 5 370 2,4 1,9 4,3 74,0 233,8073 155.046,7738 0,0159 77,589273 4.190,8230 54,2699 0,0
120 5 420 2,7 2,6 5,3 84,0 265,4028 175.999,0405 0,0154 76,608306 5.165,4330 66,8908 0,0

Bilangan Reynold (Re) vs Coefficient Discharge (Co)


0.07
Coefficient Discharge (Co)

0.06 y = 2E-07x + 0.0185


R² = 0.688
0.05
0.04
0.03
0.02
0.01
0
0 20000 40000 60000 80000 100000 120000 140000 160000 180000 200000
Bilangan Reynold (Re)

3. Variasi Bukaan Kran


Pada sudut bukaan 1
− 𝛥𝑃 = 𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝑔 𝑥 𝛥𝐻 𝑀𝑎𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑂𝑟𝑖𝑓𝑖𝑐𝑒𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟
𝑔𝑟 𝑐𝑚
− 𝛥𝑃 = 0,9956 𝑥 980 2 𝑥 4 𝑐𝑚
𝑚𝑙 𝑠
𝑔𝑟
− 𝛥𝑃 = 3.902,752
𝑐𝑚. 𝑠 2

1
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 (𝐴) = 𝑥 𝜋 𝑥 𝐷2
4
1
= 𝑥 3,14 𝑥 (0,635 𝑐𝑚)2 = 0,3165 𝑐𝑚2
4

𝑄
𝐾𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐿𝑖𝑛𝑖𝑒𝑟 (𝑉) =
𝐴
70 𝑐𝑚3 /𝑠
= 0,3165 𝑐𝑚2 = 221, 1690 𝑐𝑚/𝑠

𝜌𝑎𝑖𝑟 𝑥 𝐷 𝑥 𝑉
𝐵𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑅𝑒𝑦𝑛𝑜𝑙𝑑 (𝑅𝑒) =
µ
0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 𝑥 0,635 𝑐𝑚 𝑥 221, 1690 𝑐𝑚/𝑠
=
9,523 𝑥 10−4 kg/m. s
= 1,4683 𝑥10−3
𝛥𝐻 𝑀𝑎𝑛𝑜𝑚𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑂𝑟𝑖𝑓𝑖𝑐𝑒 𝑀𝑒𝑡𝑒𝑟 𝑥 (𝜌𝐻𝑔 − 𝜌𝑎𝑖𝑟 )
𝐻𝑒𝑎𝑑 𝑃𝑜𝑚𝑝𝑎 (𝑊) =
𝜌𝑎𝑖𝑟
4 𝑐𝑚 𝑥 (13,5460 − 0,9956) 𝑔𝑟/𝑐𝑚3
𝑊= = 50,4234𝑐𝑚
0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3

Coefficient of Discharge
W
𝐶0 =
2 𝑔 𝜌𝑎𝑖𝑟 (−𝛥𝑃)
𝐴0 √ 𝐷
1 − ( 𝐷0 )4
1

50,4234 cm
𝐶0 =
𝑐𝑚 𝑔𝑟
2𝑥980 𝑥0,9956 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 𝑥3.902,752
𝑠2 𝑐𝑚. 𝑠 2
0,3165 𝑐𝑚2 √ 0,635 𝑐𝑚
1 − ( 1,27 𝑐𝑚 )4

𝐶0 = 0,0559

Dengan cara yang sama diperoleh data sebagai berikut :


Sudut t(s) V H Manometer Debit V Re f Le (cm) -ΔP W Co
(ml) Orificemeter (cm) (ml/s)
Bukaan Kanan Kiri Δ H (cm/s) (cm)
1 5 350 2,0 2,0 4,0 70,0 221,1690 146.665,8671 0,0161 79,547615 3.898,4400 50,4837 0,05603
2 5 360 1,8 1,7 3,5 72,0 227,4882 150.856,3204 0,0160 66,255954 3.411,1350 44,1732 0,05240
3 5 370 2,0 1,9 3,9 74,0 233,8073 155.046,7738 0,0159 70,371667 3.800,9790 49,2216 0,05532
4 5 365 1,9 1,8 3,7 73,0 230,6477 152.951,5471 0,0160 68,371555 3.606,0570 46,6974 0,05388
5 5 350 1,8 1,8 3,6 70,0 221,1690 146.665,8671 0,0161 71,592853 3.508,5960 45,4353 0,05315

Grafik hubungan antara


Bilangan Reynold (Re) vs Coefficient Discharge (Co)
0.0570
Coefficient Discharge Pompa (Co)

0.0560
0.0550
y = 1E-08x + 0.0524
0.0540 R² = 0.0009
0.0530
0.0520
146,000.00 147,000.00 148,000.00 149,000.00 150,000.00 151,000.00 152,000.00 153,000.00 154,000.00 155,000.00 156,000.00
Bilangan Reynold (Re)

VII. Pembahasan
Praktikum ini adalah bertujuan menentukan head pompa (W) serta melihat hubungannya
dengan debit fluida, menentukan panjang ekivalen (Le) dan melihat hubungannya dengan
derajad pembukaan kran, menentukan coefficient of discharge (Co) pada aliran fluida serta
melihat hubungannya dengan bilangan Reynold dan menentukan hubungan debit aliran fluida
dengan tinggi float.
Pembacaan beda tekanan menggunakanmanometer.

VIII. Kesimpulan

IX. Daftar pustaka