Anda di halaman 1dari 17

NCP PADA KASUS PNEUMONIA

DI

Oleh :

Kelompok 4 DIV Gizi Regular A

Cut Nabila Sadrina

Maulika

Mentari Elvi

Munawar

Nuri Nirwana

Nurul Munziah

Siti Arniati

Via Aprilla Sari

POLTEKKES KEMENKES ACEH

JURUSAN GIZI

TAHUN AJARAN 2019/2020


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut WHO upaya untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat dapat


dilakukan dengan cara memelihara kesehatan.Upaya kesehatan masyarakat meliputi :
peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), dan penyembuhan
(kuratif) guna mencapai derajat masyarakat yang optimal. Hal ini diperlukan kesiapan
ketrampilan tenaga kesehatan dan di dukung peran serta dari masyarakat. Sarana dan
prasarana pelayanan kesehatan yang mempertahankan hidup sehat harus dapat dilakukan
sedini mungkin. Khususnya bagi orang tua yang harus menjaga kondisi kesehatan anaknya,
yang dapat menyebabkan berbagai masalah yang dapat menganggu pada sistem organ tubuh
manusia, salah satunya sistem pernafasan. Jika diabaikan akan mengakitbatkan keadaan yang
dapat menyebabkan kematian balita (Riyadi, 2010)

Pneumonia adalah infeksi yang menyebabkan paru-paru meradang. Kantung-kantung


kemampuan menyerap oksigen menjadi kurang. Kekurangan oksigen membuat sel-sel tubuh
tidak bisa bekerja. Karena inilah, selain penyebaran infeksi, dengan sumber utama bakteri,
virus, mikroplasma, jamur, berbagai senyawa kimia maupun partikel. Pneumonia merupakan
masalah kesehatan didunia karena angka kematiannya tinggi, tidak saja di negara
berkembang tetapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan negara-negara
seperti Eropa (Misnadiarly, 2008). Menurut WHO pneumonia adalah penyebab kematian
terbesar pada anak di seluruh dunia. Pneumonia membunuh 1,4 juta anak di bawah usia lima
tahun. Pneumonia membunuh lebih banyak anak di banding penyakit lain di dunia. WHO
memperkirakan angka kejadian pneumonia di negara berkembang dengan angka kematian
bayi 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15 % - 20% per tahun pada golongan usia balita.
Kejadian di Indonesia pada balita diperkirakan antara 10% - 20% per tahun. Menurut
perkiraan bahwa 10% dari penderita pneumonia akan meninggal bila tidak diberi pengobatan,
bila hal ini di benarkan maka ada sekitar 250.000 kematian akibat pneumonia setiap
tahunnya. Pneumonia menyebabkan 2 juta kematian (1 kematian tiap 15 detik) dari 9 juta
kematian setiap tahunnya pada usia tersebut (WHO, 2012).

Presentase pneumonia di Indonesia pada tahun 2008 meningkat hingga mencapai


49,45%. Tahun 2009 sebanyak 49,23% dan tahun 2010 menurun hingga mencapai 39,38%
dari jumlah balita di Indonesia (Depkes RI, 2012). Di Jawa Tengah, cakupan penumuan kasus
pneumonia balita setiap tahun mengalami penurunan dari target nasiaonal. Pada tahun 2009
penemuan kasus pneumonia menjadi 25,69% dan target penemuan kasus pneumonia nasional
sebesar 86% (Dinkes Jateng, 2009). Pneumonia di Indonesia juga terkait erat dengan status
gizi, status imunisasi, lama pemberian ASI dan lingkungan tempat tinggal (polusi di dalam
dan luar ruangan), ventilasi, kepadatan hunian, jenis bahan bakar yang di pakai, dan
kebiasaan merokok (Kementrian Kesehatan RI, 2010). Serta lantai dan kondisi dinding rumah
dan tingkat klembaban (Yuwono, 2008). Berdasarkan data yang penulis dapatkan khususnya
di Ruang Khantil RSUD Banyumas menunjukan bahwa angka kejadian pneumonia pada
bulan Februari–April 2017 adalah : Bulan Februari presentase penderita pneumonia sebesar
14 pasien dari 85 pasien, pada bulan Maret presentase penderita pneumonia adalah 14 pasien
dari 98 pasien, pada bulan April presentase penderita pneumonia adalah 6 dari 100 pasien.
Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwapenderita pneumonia paling tinggi pada
bulan Februari dan Maret. Bahaya dari pneumonia itu sendiri adalah bisa terjadinya efusi
pleura ketika penumpukan cairan dan dahak memunuhi lapisan dinding dada, endokartitis
adalah infeksi lapisan dalam jantung, kegagalan pernafasan kondisi ini terjadi ketika ada
peradangan parah pada dinding paru-paru menyebabkan aliran udara ke seluruh tubuh
terhambat. Penulis akan melaporkan hasil pemberian asuhan keperawatan secara
komprehensif pada pasien pneumonia khususnya pada An. V diruang Kanthil Rumah Sakit
Umum daerah Banyumas yang dilakukan mulai tanggal 23-24 Mei 2017 dimulai dari
pengkajian sampai dengan evaluasi.

B. Tujuan Penulisan :

Tujuan Umum :

 Menerapkan asuhan keperawatan pada klien dengan pneumonia secara komprehensif.

Tujuan Khusus :
a. Melakukan pengkajian pada klien dengan pneumonia.
b. Melakukan analisa data hasil pengkajian dan menetapkan diagnosa gizi pada klien dengan
pneumonia.
c. Menerapkan rencana diet pada klien dengan pneumonia.
d. Melakukan implementasi asuhan gizi pada klien dengan pneumonia.
e. Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan asuhan gizi yang telah dilakukan pada klien
dengan pneumonia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pneumonia
2.1.1 Definisi
Pneumonia adalah peradangan akut pada parenkim paru, bronkiolus respiratorius dan
alveoli, menimbulkan konsolidasi jaringan paru sehingga dapat mengganggu pertukaran
oksigen dan karbon dioksida di paru-paru.3 Pada perkembangannya , berdasarkan tempat
terjadinya infeksi, dikenal dua bentuk pneumonia, yaitu pneumonia-masyarakat (community-
acquired pneumonia/CAP), apabila infeksinya terjadi di masyarakat; dan pneumonia-RS atau
pneumonia nosokomial (hospital-acquired pneumonia/HAP), bila infeksinya didapat di
rumah sakit.
Pneumonia-masyarakat (community-acquired pneumonia) adalahpneumonia yang
terjadi akibat infeksi diluar rumah sakit , sedangkan pneumonia nosokomial adalah
pneumonia yang terjadi >48 jam atau lebih setelah dirawat di rumah sakit, baik di ruang
rawat umum ataupun di ICU tetapi tidak sedang menggunakan ventilator. Pneumonia
berhubungan dengan penggunaan ventilator (ventilator-acquired pneumonia/VAP) adalah
pneumonia yang terjadi setelah 48- 72 jam atau lebih setelah intubasi tracheal. Pneumonia
yang didapat di pusat perawatan kesehatan (healthcare-associated pneumonia) adalah pasien
yang dirawat oleh perawatan akut di rumah sakit selama 2 hari atau lebih dalam waktu 90
hari dari proses infeksi, tinggal dirumah perawatan (nursing home atau longterm care
facility), mendapatkan antibiotik intravena, kemoterapi, atau perawatan luka dalam waktu 30
hari proses infeksi ataupun datang ke klinik rumah sakit atau klinik hemodialisa.

2.1.2 Etiologi
a. Bakteri
Pneumonia bakterial dibagi menjadi dua bakteri penyebabnya yaitu
1. Typical organisme
Penyebab pneumonia berasal dari gram positif berupa :
- Streptococcus pneumonia : merupakan bakteri anaerob facultatif.7 Bakteri patogen ini di
temukan pneumonia komunitas rawat inap di luar ICU sebanyak 20-60%, sedangkan pada
pneumonia komunitas rawat inap di ICU sebanyak 33%.
- Staphylococcus aureus : bakteri anaerob fakultatif. Pada pasien yang diberikan obat secara
intravena (intravena drug abusers) memungkan infeksi kuman ini menyebar secara
hematogen dari kontaminasi injeksi awal menuju ke paru-paru. 7 Kuman ini memiliki daya
taman paling kuat, apabila suatu organ telah terinfeksi kuman ini akan timbul tanda khas,
yaitu peradangan, nekrosis dan pembentukan abses.8 Methicillin-resistant S. Aureus (MRSA)
memiliki dampak yang besar dalam pemilihan antibiotik dimana kuman ini resisten terhadap
beberapa antibiotik.
- Enterococcus (E. faecalis, E faecium) : organisme streptococcus grup D yang merupakan
flora normal usus. Penyebab pneumonia berasal dari gram negatif sering menyerang pada
pasien defisiensi imun (immunocompromised) atau pasien yang di rawat di rumah sakit, di
rawat di rumah sakit dalam waktu yang lama dan dilakukan pemasangan endotracheal tube.
contoh bakteri gram negatif dibawah adalah :
- Pseudomonas aeruginosa : bakteri anaerob, bentuk batang dan memiliki bau yang sangat
khas.
- Klebsiella pneumonia : bakteri anaerob fakultatif, bentuk batang tidak berkapsul. Pada
pasien alkoholisme kronik, diabetes atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dapat
meningkatkan resiko terserang kuman ini.
- Haemophilus influenza : bakteri bentuk batang anaerob dengan berkapsul atau tidak
berkapsul. Jenis kuman ini yang memiliki virulensi tinggu yaitu encapsulated type B (HiB).

2. Atipikal organisme
Bakteri yang termasuk atipikal ada alah Mycoplasma sp. , chlamedia sp. , Legionella
sp.

b. Virus
Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui droplet9, biasanya
menyerang pada pasien dengan imunodefisiensi.7 Diduga virus penyebabnya adalah
cytomegalivirus9, herpes simplex virus, varicella zooster virus.

c. Fungi
Infeksi pneumonia akibat jamur biasanya disebabkan oleh jamur oportunistik, dimana
spora jamur masuk kedalam tubuh saat menghirup udara. Organisme yang menyerang adalah
Candida sp. , Aspergillus sp. , Cryptococcus neoformans.

2.1.3 Patofisiologi
Patogen yang sampai ke trakea berasal dari aspirasi bahan yang ada di orofaring,
kebocoran melalui mulut saluran endotrakeal, inhalasi dan sumber patogen yang mengalami
kolonisasi di pipa endotrakeal. Faktor risiko pada inang dan terapi yaitu pemberian antibiotik,
penyakit penyerta yang berat, dan tindakan invansif pada saluran nafas.3Faktor resiko kritis
adalah ventilasi mekanik >48jam,
lama perawatan di ICU. Faktor predisposisi lain seperti pada pasien dengan imunodefisien
menyebabkan tidak adanya pertahanan terhadap kuman patogen akibatnya terjadi kolonisasi
di paru dan menyebabkan infeksi.11Proses infeksi dimana patogen tersebut masuk ke saluran
nafas bagian bawah setelah dapat melewati mekanisme pertahanan inang berupa daya tahan
mekanik ( epitel,cilia,
dan mukosa), pertahanan humoral (antibodi dan komplemen) dan seluler (leukosit, makrofag,
limfosit dan sitokinin).3 Kemudian infeksi menyebabkan peradangan membran paru ( bagian
dari sawar-udara alveoli) sehingga cairan plasma dan sel darah merah dari kapiler masuk. Hal
ini menyebabkan rasio ventilasi perfusi menurun, saturasi oksigen menurun.11 Pada
pemeriksaan dapat diketahui bahwa paru-paru akan dipenuhi sel radang dan cairan , dimana
sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk membunuh patogen, akan tetapi dengan adanya
dahak dan fungsi paru menurun akan mengakibatkan kesulitan bernafas12, dapat terjadi
sianosis, asidosis respiratorik dan kematian.

2.1.4 Manifestasi Klinik


Gejala khas adalah demam, menggigil, berkeringat, batuk (baik non produktif atau
produktif atau menghasilkan sputum berlendir, purulen, atau bercak darah), sakit dada karena
pleuritis dan sesak. Gejala umum lainnya adalah pasien lebih suka berbaring pada sisi yang
sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada.Pemeriksaan fisik didapatkan retraksi atau
penarikan dinding dada bagian bawah saat pernafas14, takipneu, kenaikan atau penurunan
taktil fremitus, perkusi redup sampai pekak menggambarkan konsolidasi atau terdapat cairan
pleura, ronki, suara pernafasan bronkial, pleural friction rub.

2.1.5 Klasifikasi
Klasifikasi pneumonia berdasarkan letak terjadinya2 :
1) Community-Acquired Pneumonia15
Pneumonia komunitas merupakan salah satu penyakit infeksius ini sering di sebabkan oleh
bakteri yaitu Streptococcus pneumonia (Penicillin sensitive and resistant strains ),
Haemophilus influenza (ampicillin sensitive and resistant strains) and Moraxella catarrhalis
(all strains penicillin resistant). Ketiga bakteri tersebut dijumpai hampir 85% kasus CAP.
CAP biasanya menular karena masuk melalui inhalasi atau aspirasi organisme patogen ke
segmen paru atau lobus paru-paru. Pada pemeriksaan fisik sputum yang purulen merupakan
karakteristik penyebab dari tipikal bakteri, jarang terjadi mengenai lobus atau segmen paru.
Tetapi apabila terjadi konsolidasi akan terjadi peningkatan taktil fremitus, nafas bronkial.
Komplikasi berupa efusi pleura yang dapat terjadi akibat infeksi H. Influenza , emphyema
terjadi akibat infeksi Klebsiella , Streptococcus grup A, S. Pneumonia . Angka kesakitan dan
kematian infeksi CAP tertinggi pada lanjut usia dan pasien dengan imunokompromis. Resiko
kematian akan meningkat pada CAP apabila ditemukan faktor komorbid berupa peningkatan
respiratory rate, hipotensi, demam, multilobar involvement, anemia dan hipoksia.

2) Hospital-Acquired Pneumonia
Berdasarkan America Thoracic Society (ATS) , pneumonia nosokomial ( lebih dikenal
sebagai Hospital-acquired pneumonia atau Health care-associated pneumonia ) didefinisikan
sebagai pneumonia yang muncul setelah lebih dari 48 jam di rawat di rumah sakit tanpa
pemberian intubasi endotrakeal . Terjadinya pneumonia nosokomial akibat tidak
seimbangnya pertahanan inang
dan kemampuan kolonisasi bakteri sehingga menginvasi traktus respiratorius bagian bawah.
Bakteria yang berperan dalam pneumonia nosokomial adalah P. Aeruginosa , Klebsiella sp,
S. Aureus, S.pneumonia. Penyakit ini secara signifikan akan mempengaruhi biaya rawat di
rumah sakit dan lama rawat di rumah sakit. ATS membagi pneumonia nosokomial menjadi
early onset (biasanya muncul selama 4 hari perawatan di rumah sakit) dan late onset
(biasanya muncul setelah lebih dari 5 hari perawatan di rumah sakit). Pada early onset
pneumonia nosokomial memili prognosis baik dibandingkan late onset pneumonia
nosokomial; hal ini dipengaruhi pada multidrug-resistant organism sehingga mempengaruhi
peningkatan mortalitas. Pada banyak kasus, diagnosis pneumonia nosokomial dapat diketahui
secara klinis, serta dibantu dengan kultur bakteri; termasuk kultur semikuantitatif dari sample
bronchoalveolar lavange (BAL).

3) Ventilator-Acquired pneumonia
Pneumonia berhubungan dengan ventilator merupakan pneumonia yang terjadi setelah
48-72 jam atau lebih setelah intubasi trakea.17 Ventilator adalah alat yang dimasukan melalui
mulut atau hidung, atau melalu lubang di depan leher. Infeksi dapat muncul jika bakteri
masuk melalui lubang intubasi dan masuk ke paru-paru.

2.1.6 Pencegahan

Pencegahan pneumonia selain menghindarkan atau mengurangi faktor resiko, dapat


juga dengan pendekatan di komunitas dengan meningkatkan pendidikan kesehatan, perbaikan
gizi, pelatihan petugas kesehatan dalam diagnosis dan penatalaksanaan yang benar dan
efektif. Upaya pencegahan merupakan komponen strategis pemberantasan pneumonia pada
anak terdiri dari pencegahan melalui imunisasi dan nonimunisasi. Imunisasi terhadap patogen
yang bertanggung jawab terhadap pneumonia merupakan strategi pencegahan spesifik
(Kartasasmita, 2010).
Dari beberapa studi vaksin (vaccine probe) diperkirakan vaksin pneumokokus
konjungasi dapat mencegah penyakit dan kematian kasus pneumonia pneumokokus 20-35%
dan vaksin Hib mencegah penyakit dan kematian kasus pneumonia Hib 15-30%. Sekarang ini
di negara berkembang direkomendasikan vaksin Hib untuk diintegrasikan ke dalam program
imunisasi rutin dan vaksin pneumokokus konjugasi direkomendasikan sebagai vaksin yang
dianjurkan (Said, 2010). Pemberian zink dapat mencegah terjadinya pneumonia pada anak,
meskipun apabila digunakan untuk terapi zink kurang bermanfaat. Pemberian zink 20 mg/hari
pada anak pneumonia efektif terhadap pemulihan demam, sesak nafas dan laju pernafasan
(Marni, 2014).

Pencegahan non imunisasi sebagai upaya pencegahan nonspesifik merupakan


komponen yang masih sangat strategis. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan misalnya
pendidikan kesehatan kepada berbagai komponen masyarakat, terutama pada ibu anak balita
tentang besarnya masalah pneumonia dan pengaruhnya terhadap kematian anak, perilaku
preventif sederhana misalnya kebiasaan mencuci tangan dan hidup bersih, perbaikan gizi
dengan pola maka nan sehat; penurunan faktor risiko lain seperti mencegah berat badan lahir
rendah, menerapkan ASI eksklusif, mencegah polusi udara dalam ruang yang berasal dari
bahan bakar rumah tangga dan perokok pasif di lingkungan rumah (Said, 2010).

2.1.7 Penanganan

Pemberian antibiotika segera pada anak yang terinfeksi pneumonia dapat mencegah
kematian. Antibiotik yang dianjurkan untuk pneumonia adalah antibiotik sederhana, tidak
mahal seperti kotrimoksazol atau amoksisilin yang diberikan secara oral. Dosis amoksisilin
25 mg/kg BB dan kotrimoksazol (4 mg trimetoprim: 20 mg sulfometoksazol) /kgBB.
Penerapan Pedoman Tatalaksana Baku Pneumonia termasuk pemberian antibiotik oral
sesegera mungkin dapat menurunkan 13-55% mortalitas pneumonia (20% mortalitas bayi dan
24% mortalitas anak balita).

2.1.8 Faktor Risiko

Menurut Kartasasmita (2010), faktor risiko adalah faktor atau keadaan yang
mengakibatkan seorang anak rentan menjadi sakit atau sakitnya menjadi berat. Dari faktor
risiko ini diharapkan dapat dijadikan dasar dalam menentukan tindakan pencegahan dan
penanggulangan kasus. Faktor risiko menurut WHO adalah karakteristik, tanda atau
kumpulan gejala pada penyakit yang diderita individu dan secara statistik berhubungan
dengan peningkatan kejadian kasus baru berikutnya. Faktor risiko yang dicurigai merupakan
faktor risiko yang belum mendapatkan dukungan sepenuhnya dari hasil penelitian dan faktor
risiko yang ditegakkan merupakan faktor risiko yang telah mendapatkan bukti dari hasil
penelitian. Faktor risiko dapat digunakan untuk memprediksi, memperjelas penyebab dan
mendiagnosa kejadian penyakit.

Menurut Notoadmodjo (2010), faktor risiko dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor
risiko ekstrinsik (faktor yang berasal dari lingkungan yang memudahkan orang terjangkit
penyakit) dan faktor risiko intrinsik (faktor risiko yang berasal dari dalam organisme sendiri).
Berbagai faktor risiko yang meningkatkan kejadian, beratnya penyakit dan kematian karena
pneumonia, yaitu status gizi (gizi kurang dan gizi buruk memperbesar risiko), pemberian ASI
( ASI eksklusif mengurangi risiko), suplementasi vitamin A (mengurangi risiko),
suplementasi zinc (mengurangi risiko), bayi berat badan lahir rendah (meningkatkan risiko),
vaksinasi (mengurangi risiko), dan polusi udara dalam kamar terutama asap rokok dan asap
bakaran dari dapur (meningkatkan risiko).

Maryunani (2010), menyebutkan terjadinya pneumonia di pengaruhi 3 faktor yitu


faktor lingkungan meliputi : pencemaran udara dalam rumah, fentilasi rumah, kepadatan
hunian ; faktor resiko anak meliputi : umur, BBLR, status gizi, pemberian vitamin A, status
imunisasi dan faktor perilaku meliputi : perilaku pencegahan dan penanggulangan penyakit
pneumonia. Faktor resiko meningkatnya angka kejadian dan keparahan penyakit antara lain :
prematuritas, malnutrisi, status sosial ekonomi rendah, terkena asap secara pasif, dititipkan di
penitipan anak, tinggal dirumah yang terlalu padat, mempunyai riwayat pneumonia (Lalani
dan Schneeweiss, 2012).
BAB III

ISI

FORM NUTRITION CARE PROCESS (NCP)

1. ASSESMENT NUTRITION
a. CLINICAL HISTORY

1. Nama : ILYAS
2. Jenis Kelamin: Laki-laki
3. Umur : 01-07-1950 ( 68 tahun 9 bulan 3 hari)
4. BBSMRS : 80 Kg
5. BB : 55 Kg
6. TB : 178 cm
7. Alamat : Dusun Seuneubuk Aceh
8. Kel/Desa : Meunasah Mee
9. Kec : Muara Dua
10. Kab/Kota : Kota Lhokseumawe
11. Suku : Aceh
12. Pendidikan : Tamat SD
13. Pekerjaan : Petani
14. Agama : Islam
15. Status Perkawinan : Kawin

Ruang : Ruang Shafa

Tanggal Rawat : 04/04/2019

Diagnosa Medis: Pneumonia, unspecified organism

Peran Dalam Keluarga : Tulang punggung keluarga

B. FOOD HISTORY

1. Riwayat Gizi Makanan


Sebelum masuk RS :
Sebelum sakit, pasien biasa makan nasi 2-3 kali/hari, dengan lauk yang sering dikonsumsi
telur, ikan asin, ikan, tahu dan tempe. Pasien suka mengkonsumsi pir dan anggur, pasien
hanya menyukai sayur kangkung daan bayam.
Sesudah masuk RS :
Pada saat sakit, pasien makan seperti biasa, tetapi karena banyak makanan yang tidak
dapat dimakan pasien mengalami penurunan berat badan. Pasien yang saat dulu sangat
menyukai buah pir dan anggur sekarang tidak dapat lagi mengkosumsi buah-buahan
tersebut.

Recall 24 Jam

Makan pagi :
 Nasi
 Ayam
 Sayur bening ( bayam dan kentang )
 tempe

Snack Pagi :
 Bubur kacang hijau

Makan Siang:
 Nasi
 Ikan
 Sayur bening ( brokoli dan wortel )
 Tempe

Snack Sore:
 roti

Makan Malam :
 Nasi
 Ikan
 Sayur bening ( bayam, labu dan wortel )
 Tahu

Snack Malam
-

2. Data Biokimia

Hb : 11 gr/dl

Penilaian :
Pasien mengalami anemia.
3. Antropometri :

BB : 55 Kg

TB : 178 cm

BBI :70,2 kg

IMT : 17,40 Kg/m2 (Underweight)

Penilaian :
Berdasarkan IMT, pasien memiliki status gizi BB Kurang (17,40 kg/m2), karena
batasan BB Kurang yaitu <18,5 kg/m2, menggunakan WHO WPR/IASO/IOTF dalam the
Asia Pacific Perspective : Redefining Obesity and its Treatment, dengan kategori :
<18,5 kg/m2 : BB kurang
18,5-22,9 kg/m2 : normal,
≥ 23 : BB lebih
23-24,9 kg/m2 : at risk (dengan resiko)
25-29,9 kg/m2 : obese I,
≥30 kg/m2 : obese II

4. Fisik dan klinis

Pemeriksaan fisik :Pasien sadar, secara fisik pasien tampak kurus, lemah,
Pemeriksaan klinik :

KU : sedang

TD : 110/80 MmHg ( Normal : 120/80 mmHg)

Nadi : 80x/menit (normal :80-100x/menit)

RR : 28x/menit ( normal : 19-36 x/menit)

Suhu : 37,3’C (normal : 36-37,2 0C)


SPO2 : 97% dengan O2 21 pm

Kesadaran : CM

Penilaian :
secara fisik terdapat tanda-tanda malnutrisi (pasien tampak kurus, dan lemah).
5. Riwayat personal

 Riwayat obat  Meropenem 1gr/12


 Ranitidin 1gr/12
 Ketorolac 1gr/8
 Mehlpred 2ml/8 jam
 CPG 1x1
 ISDN 3x1
 Bisolfon
 Bisopropol 1x½
 Laxadine
 Drip. Aminophile 2ap
 Codein 3x1
 Sucralfate 3x1 c

 Social budaya Ekonomi menengah ke bawah


Tinggal berdua bersama istri

 Riwayat penyakit Dahulu :


 Nyeri dada ±2 bulan
 Nyeri hilang timbul durasi ±5
menit
 Nyeri tidak ada menjalar
 Batuk (+) ±2 bulan, batuk
berdahak, dahak warna putih
 Demam (+) naik turun
sebelumnya
 Suara menghilang ± 2 bulan
 Pasien perokok aktif, rokok yang
dikonsumsi (rokok daun)
 Riwayat hati tidak ada
 Riwayat DM tidak ada

Sekarang :
Pneumonia

 Data umum pasien  Laki-laki


 Usia 68 tahun
 Pekerjaan Petani
 Tinggal bersama istri
6. Skrining

No. Indikator
1. Perubahan berat badan +
2. Nafsu makan kurang -
3. Kesulitan Menelan -
4. Mual-muntah -
5. Diare/konstipasi -
6. Alergi -
7. Diet Khusus +
8. Oedema -
9. Enteral/Parenteral -

B. NUTRITIONAL DIAGNOSIS
Domain asupan
Problem Etiologi Tanda
NI.5.5.zat gizi tidak Rasa tidak nyaman Asupan makanan kurang
seimbang akibat rasa sakit dan
tidak nafsu makan

Domain Klinis
Problem Etiologi Tanda
NC.2.2.
perubahan nilai Gangguan fungsi Kadar hb 11 gr/dl (rendah)
lab yang terkait endokrin
gizi
NC.3.1. Berat Nafsu makan menurun IMT: 17,40 Kg/m2
badan kurang Karena rasa nyeri yang (Underweight)
di rasakan

Domain Perilaku
Problem Etiologi Tanda
NB.2.5. kualitas Karena kurangnya Pasien perokok aktif, dan rokok
hidup yang buruk pengetahuan tentang yang dikonsumsi (rokok daun)
hidup sehat
C. Intervention
1. Intervensi
a. Penatalaksanaan Diet

 Tujuan :
 memberikan makanan yang adekuat sesuai kebutuhan masing-masing individu
 meningkatkan berat badan hingga status gizi normal
 memberikan makanan dengan gizi seimbang
 membantu proses penyembuhan penyakit
 meningkatkan intake makanan serta meningkatkan daya tahan tubuh

 Jenis Diet : TETP (Tinggi Energi Tinggi Protein)

 Rute makanan :
o Oral

 Frekuensi :
o 3X makanan biasa dan 2X selingan

 Bentuk makanan :
o Makanan lunak

 Syarat Diet :
o Energy yang diberikan sesuai kebutuhan 100 mg/kg BBI, ditambahkan faktor
stress sebesar 20 % dari BBE
o Protein diberikan tinggi sebesar 15 % dari kebutuhan total
o Lemak cukup diberikan 20 % dari kebutuhan total
o KH cukup diberikan 65 % dari kebutuhan total
o Vit cukup, terutama vit B, vit C, vit K, bila perlu ditambahkan suplemen
o Mineral cukup
o Makanan yang diberikan makanan lunak.

 Perhitungan Zat Gizi :


o BMR : 66 + (13,7xBBI) + (5xTB) – (6,8xumur)

66 + (13,7x70,2) + (5x178) – (6,8x68)

66 + 961,74 + 890 - 462,4

1.455,34 kkal

Faktor stress : 40 % x 1.455,34 = 582,13 + 1.455,34 =2.037,47 kkal


Akt : 20 % x 1.455,34 = 291,06 + 2.037,47 = 2.328,53 kkal
Sda : 7% x 2.328,53 = 162,99 + 2.328,53 = 2.491,52 kkal
TEE :2492 kkal
o KH = 65% x 2492 =1.619,8 kkal / 4 = 404,95 gram
o P = 15% x 2492 = 373,8 kkal / 4 = 93,45 gram
o L = 20% x 2492 = 498,4 kkal / 9 =55,37 gram

 Contoh Menu :
Makan pagi :
 Nasi tim
 Ayam panggang
 Sayur bening ( bayam )
 Tahu kecap
 Apel

Snack Pagi :
 Kolak pisang (pisang, ubi jalar)

Makan Siang:
 Nasi tim
 Ikan bakar
 Sayur bening ( labu siam dan brokoli)
 Botok Tempe
 Jeruk

Snack Sore:
 Jus alpukat
 roti

Makan Malam :
 Nasi tim
 Ikan pepes
 Tumis kangkung
 Pepes tahu
 Papaya

b. Rencana Penyuluhan / Konseling :


 Tujuan Penyuluhan :

Tujuan Instruksional Umum:


 S e t e l a h d i b e r i k a n p e n yu l u h a n , s a s a r a n m a m p u m e m a h a m i t e n t a n g
masalah Pneumonia.
Tujuan Instruksional Khusus:
 Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan sasaran dapat :
1.Menjelaskan kembali pengertian dari pneumonia.
2 . M e n ye b u t k a n k e m b a l i t a n d a d a n g e j a l a d a r i P n e u m o n i a .
3 . M e n ye b u t k a n k e m b a l i m a c a m - m a c a m d a r i p n e u m o n i a .
4.Menjelaskan bah aya dari Pneumonia.
5. menjelaskan penerapan pola makan sehat untuk penderita
pneumonia
6.Menjelaskan cara pencegahan Pneumonia.
7.Menjelaskan makanan yang dianjurkan dan tidak
dianjurkan untuk penderita pneumonia

 Materi :
o Pengertian pneumonia
o Tanda dan gejala pneumonia
o Jenis pneumonia dan bahayanya
o Penerapan pola makan sehat untuk penyakit pneumonia
o Pencegahan pneumonia
o Makanan yang di anjurkan dan yang tidak di anjurkan untuk penderita
pneumonia

 Sasaran :Pasien
 Metoda :Ceramah
 Alat Peraga : leaflet
 Tempat : RSUD ZA
 Waktu :Rabu, 24 april 2019

D. Monitoring dan Evaluasi

Parameter Target Pelaksanaan


Asupan Makan Asupan makan mencapai 100% dari kebutuhan Setiap hari
Antropometri BB naik dan status gizi normal Akhir Perawatan
Hari kedua pengamatan
Biokimia Hb naik kasus
Fisik Kljnis Setiap hari
Keluhan Nyeri dada berkurang Setiap hari
Sikap dan Mengubah perilaku terhadap diet RS (mau
Perilaku menerima diet RS) Setiap hari
DAFTAR PUSTAKA

1. Almatsier, Sunita. 2010. Penuntun Diet. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.


2. Anggraeni, Adisty Cynthia. 2012. Asuhan Gizi Nutritional Care Process. Yogjakarta :
Graha Ilmu.
3. Gutawa, Miranti, dkk. 2011. Pengembangan Konsep Nutrition Care Process (NCP)
Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT). Jakarta ; Persagi-ASDI, Abadi Publishing &
Printing.
4. Hartono, Andry. 2009. Asuhan Nutrisi Rumah Sakit, Diagnosis Konseling dan
Preskripsi. Jakarta : EGC Kedokteran.
5. Perkeni, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2006. Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia.Jakarta.
6. SK Kemenkes No:129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit,