Anda di halaman 1dari 21

 AgNO3

Argentometri adalah metode untuk menetapkan kadar


halogenida dan senyawa-senyawa lain yang membentuk
endapan dengan perak nitrat (AgNO3) pada suasana
tertentu.

Metode argentometri: metode pengendapan


Reaksi yang mendasari:
1. Metode Mohr
 Untuk menentukan kadar Klorida (Cl) dan
Bromida (Br) dalam suasana netral
 Larutan baku: perak nitrat (AgNO3)
 Indikator: Kalium kromat
 Pada awal titrasi terbentuk endapan perak klorida
 Setelah titik ekivalen kelebihan perak nitrat
bereaksi dg kromat membentuk endapan perak
kromat bewarna merah
 Titrasi Mohr dilakukan pada pH 7 – 9 (netral hingga
basa lemah).
 Jika pH terlalu kecil (asam) kesetimbangan kromat-
dikromat akan menurunkan kepekaan (CrO42-)
sehingga menghambat pembentukan endapan
Ag2CrO4.
2 CrO42- + 2 H+ Cr2O72- + H2O
 Jika pH terlalu besar (basa) akan terbentuk endapan
Ag2O

4
 Jika larutan Ag+ ditambahkan kedalam larutan Cl-
yang mengandung sedikit CrO4, maka AgCl akan
mengendap terlebih dahulu, sementara itu Ag2CrO4
belum terbentuk, dan penambahan (Ag+) sampai
melewati Ksp Ag2CrO4 (2,0x10-12) akan membentuk
endapan merah Ag2CrO4.
Ag+ + Cl- AgCl(s)
Ag+ + CrO42- Ag2CrO4 (endapan merah)

Kelarutan Ag2CrO4 (8,4x10-5 M)> AgCl (1,35x10-5


M)

5
 Konsentrasi CrO4 yang digunakan sebaiknya pada
kisaran 0,005 M sampai 0,01 M, supaya kesalahan
titrasi diperkecil. Bila konsentrasi terlalu besar
maka warna kuning CrO42- akan mengganggu
pengamatan terbentuknya endapan Ag2CrO4.
Sementara bila konsentrasi lebih kecil dari 0,005 M
akan memerlukan penambahan (Ag+) yang berlebih
agar terbentuk endapan Ag2CrO4 sehingga
memperbesar kesalahan titrasi.
 Titrasi Mohr terbatas pada pH 6-10 atau 7-9.
Dalam larutan basa akan terjadi reaksi:
Ag+ + OH- 2AgOH Ag2O + H2O

6
 Dalam larutan asam (CrO42-) akan turun sehingga
hanya sedikit HCrO4- yang terionisasi karena reaksi
akan berlanjut sbb:
2H+ + CrO42- 2HCrO4- Cr2O72- + H2O
 Titrasi Mohr dapat digunakan untuk titrasi Br- dan
CN- dalam larutan basa lemah, sedangkan untuk I-
dan CNS- tidak feasible karena akan terjadi
adsorpsi oleh endapan.

7
 Kerugian metode Mohr:
a. Dapat digunakan untuk menetapkan kadar
klorida dan bromida akan tetapi kurang baik
untuk menetapkan kadar iodida dan tiosianat
(karena endapan perak iodida dan perak
tiosianat mengadsorbsi ion kromat shg
membentuk titik akhir yg kacau)
b. Adanya ion-ion sulfida, fosfat dan arsenat jg
mengendap
c. Titik akhir kurang sensitif jika larutan encer
d. Ion-ion yg diadsorbsi dr sampel menjadi
terjebak dan mengakibatkan hasil yg rendah
2. Metode Volhard
 Untuk menentukan kadar bromida, klorida
dan iodida dalam suasana asam
 Larutan baku: kalium atau amonium tiosianat
 Indikator: besi (III) nitrat atau besi (III)
amonium sulfat akan membentuk warna
merah kompleks besi (III) tiosianat dalam
lingkungan asam nitrat 0,5-1,5 N
 Dilakukan dalam suasana asam (pH < 3) jika
lingkungan basa ion besi (III) akan
diendapkan oleh Fe(OH)3
2. Metode Volhard
 Indikator : Ion Besi III
 Titrant : SCN- (titrasi langsung)
AgNO3 (titrasi tidak langsung)
 Tujuan : Menentukan ion Ag+ (secara langsung)
Menentukan anion (titrasi tidak langsung)

 Reaksi yang terjadi pada titrasi langsung :


Ag+ (analat) + SCN-berlebih ↔ AgSCN↓ (putih) + SCN-sisa
SCN-sisa +Fe 3+ ↔ Fe(SCN)2+(merah)

 Reaksi yang terjadi pada titrasi tidak langsung :


Ag+(berlebih) + X- ↔ AgX↓ + Ag+ sisa
Ag+ sisa + SCN-berlebih ↔ AgSCN↓ (putih) + SCN-sisa
SCN-sisa +Fe 3+ ↔ Fe(SCN)2+(merah)
3. Metode K. Fajans
 Indikator : indikator adsorpsi ( Fluoresen)
 Titrant : AgNO3
 Tujuan : Menentukan anion
 Reaksi yang terjadi:
Sebelum TE : endapan terdapat dalam lingkungan yang
masih ada kelebihan ion X-  endapan menyerap X-.
Butiran endapan / koloid bermuatan negatif, akibatnya ion
Fl- (dari indikator) tidak diserap
Saat TE : Tidak ada kelebihan X- maupun Ag+  endapan /
koloid bersifat netral. Ion Fl- dari indikator tidak diserap.
Sesudah TE : Kelebihan Ag+, sehingga diserap endapan /
koloid dan bermuatan positif. Ion Fl- dari indikator akan
diserap . Terbentuk endapan warna merah muda.
 3. Metode K. Fajans
 Indikator adsorbsi adalah zat yang dapat
diserap oleh permukaan endapan dan
menyebabkan timbulnya warna.
 Sebelum titik ekuivalen tercapai, ion Cl-
berada dalam lapisan primer dan setelah
tercapai ekuivalen maka kelebihan sedikit
AgNO3 menyebabkan ion Cl- akan digantikan
oleh Ag+ sehingga ion Cl- akan berada
pada lapisan sekunder.
4. Metode Leibig
 Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan terjadinya
kekeruhan tidak dengan indikator.
 Ketika larutan perak nitrat ditambahkan kepada
larutan alkali sianida akan terbentuk endapan
putih, tetapi pada penggojogan larut kembali krn
terbentuk kompleks sianida yg stabil dn larut

Penambahan larutan perak berlebih akan


menghasilkan endpan perak sianida
1. Kalium Kromat
 Larutan dg kadar 5%
 Digunakan pd titrasi mohr (titrasi ion klorida
pd suasana netral dn pd waktu titik akhir
titrasi terbentuk endapan merah Ag2CrO4
 Rx:
2. Ferri amonium sulfat
 Larutan indikator: 40% ferri amonium sulfat dlm air +
bbrp tetes asam nitrat 6 N.
 Setiap titrasi digunakan 1 ml lart indikator Ferri amonium
sulfat
 Digunakan dalam metode volhard

 Dalam titrasi: ion perak dititrasi dg lartn baku NH4CNS


dlm asam nitrat, klbhn ion tiosianat bereaksi dg besi (III)
dn membentuk wrn merah besi (III) thiosianat
3. Indikator adsorbsi
 Berupa zat warna asam atau basa yg berubah
warnanya karena adsorbsi oleh endapan pd
titik akhir
 Zat warna asam: fluoresin, diklorofluoresein,
dan eosin
 Zat warna basa: rodamin B
3. Indikator adsorbsi
1. Larutan Baku Perak Nitrat

 Dibakukan dengan Natrium klorida p.a. Kemurnian 99,9-


100%
a. Pembuatan larutan baku perak nitrat 0,1 N
Keringkan perak nitrat pada suhu 1200C slm 2 jam,
timbang 16,989 perak nitrat dan larutkan dengan air
sampai 1 L dalam labu takar
b. Pembakuan larutan perak nitrat 0,1 N
Timbang seksama kurang lebih 2,9 gram natrium klorida
murni larutkan dalam labu takar 500 ml. Pipet 25 ml
masukkan dalam erlenmeyer + indikator kalium kromat
dan dititrasi dengan perak nitrat sampai terbentuk warna
merah stabil
2. Larutan Baku amonium tiosianat
 Amonium tiosianat bereaksi dengan perak
nitrat dalam lingkungan asam nitrat.
 Rx:

 Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan


indikator besi (III) amonium sulfat yg bewarna
merah dg kelebihan ion tiosianat
 Suhu dijaga 250C sebab warna merah dr besi
tiosianat pd suhu tinggi warnanya menjadi
pucat
2. Larutan Baku amonium tiosianat
a. Pembuatan larutan baku amonium tiosianat 0,1
N
Timbang 7,612 g amonium tiosianat (P) larutkan
dlm air secukupnya hingga 1000 ml.
b. Pembakuan larutan baku amonium tiosianat 0,1
N
Masukkan 30,0 ml lartn perak nitrat 0,1 N
diencerkan dg 50 ml air + 2 ml asam nitrat + 2
ml besi (III) amonium sulfat 8 % dititrasi dg
amonium tiosianat sampai warna coklat merah
1. Penetapan kadar natrium klorida (metode
mohr)
2. Penetapan kadar amonium klorida (metode
volhard)
3. Penetapan kadar kalium iodida (metode
Fajans)
4. Penetapan kadar asam barbiturat (metode
leibig)

Anda mungkin juga menyukai