Anda di halaman 1dari 25

AKUNTANSI WAKAF

Disusun untuk memenuhi tugas Akuntansi Sektor Publik

Oleh :

1. Dede Racmatullah (10090116058)


2. Rian Gunaldy (10090116095)
3. Rd. Endi Rizaldi (10090116117)
4. Dzikry Alda Wijaya (10090116119)

AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG

2014
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,Kami

panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan

inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai “AKUNTANSI

WAKAF”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai

pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan

banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik

dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami

menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah mengenai “AKUNTANSI WAKAF” ini dapat

memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.


Abstrak

Akuntabilitas sebagai Sebuah Solusi Pengelolaan Wakaf. Artikel ini bertujuan

menganalisis prioritas masalah dan solusi pengelolaan waqaf dengan menggunakan metode AHP.

Hasil analisis menunjukkan prioritas masalah pengelolaan wakaf terletak pada rendahnya

profesionalitas dan kompetensi nazhir dalam mengelola wakaf, sehingga pengelolaan wakaf tidak

optimal. Masalah nazhir yang kurang akuntabel membuat wakif menyerahkan harta wakaf

langsung kepada personal bukan melalui lembaga pengelola wakaf. Solusi dari masalah

pengelolaan wakaf adalah meningkatkan insentif nazhir dan pelatihan intensif bagi nazhir. Solusi

yang ditawarkan tersebut menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan akuntabilitas

pengelolaan wakaf, sehingga terbentuk profesionalitas pengelolaan wakaf yang dapat

meningkatkan kepercayaan masyarakat.


Abstract

Accountability as A Waqf Management Solution. This article aims to analyze the priority

issue and solution about waqf management using AHP. The analysis showed that the priority issue

of waqf management lies on the low professionalism and competence of nazhir, so the waqf

management is not optimal. Since nazhir is not accountable, wakif submits waqf property

personally instead of going through waqf management institutions. The solution of the problem of

waqf managing are increasing incentives and intensive training for Nazhir. The solution offered

by this study relates to increased accountability in the waqf management. By forming

professionalism in waqf management, public trust can be improved.


Daftar Isi

Kata Pengantar ___________________________________ i

Abstrak _________________________________________ ii

Bab 1 Pendahuluan _______________________________ 1

Latar Belakang __________________________________ 1

Rumusan Masalah _______________________________ 2

Tujuan Pembahasan ______________________________ 2

BAB 2 Pembahasan ______________________________ 3

A. Sejarah Wakaf
B. Pengertian Wakaf
C. Jenis-jenis Wakaf
D. Jenis Wakaf Berdasarkan Klasifikasi
E. Rukun dan Ketentuan Wakaf
F. Ketentuan Mauquf Bih (Harta yang Diwakafkan)
G. Akuntansi Lembaga Wakaf
H. Permasalahan dalam praktik perwakafan
I. Laporan Keuangan Wakaf
BAB 3 Penutup _______________________________ 17
Kesimpulan __________________________________ 17
Kritik & Saran ________________________________ 17
Daftar Pusaka ________________________________ 18
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam Islam telah mengatur seluruh aspek kehidupan umatnya, seperti yang berkaitan

dengan konteks amal ibadah pokok seperti shalat, selain itu islam juga mengatur hubungan sosial

kemasyarakatan maupun dalam hal pendistribusian kesejahteraan (kekayaan) dengan cara

menafkahkan harta yang dimiliki demi kesejahteraan umum seperti adanya perintah zakat, infaq,

shadaqah, qurban, hibah dan wakaf.

Pada umumnya wakaf diartikan dengan memberikan harta secara sukarela untuk

digunakan bagi kepentingan umum dan memberikan manfaat bagi orang banyak seperti untuk

masjid, mushola, sekolah, dan lain-lain. Dengan seiring berjalannya waktu wakaf nantinya tidak

hanya menyediakan sarana ibadah dan sosial tetapi juga memiliki kekuatan ekonomiyang

berpotensi antara lain untuk memajukan kesejahteraan umum, sehingga perlu dikembangkan

pemanfaatannya sesuai dengan prinsip syariah.

Saat ini definisi wakaf lebih mudah dipahami, yaitu wakaf diartikan sebagai perbuatan

hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk

dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna

keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Lalu pengertian harta benda

wakaf sendiri juga mengalami perubahanmaksud yang lebih mudah, yaitu bahwa harta benda

wakaf ialah harta benda yang diwakafkan oleh wakif, yang memiliki daya tahan lama dan/atau

manfaat jangka panjang serta mempunyai nilai ekonomi menurut syariah. Harta benda wakaf

tersebut dapat berupa harta benda tidak bergerak maupun yang bergerak.
Hitungan akhir dan neraca keuangan dianggap sebagaihasil kerja seorangakuntan, yang

diantara tujuan pokoknya adalah menyediakan informasi-informasikeakuntansian yang terpercaya,

jujur, jelas kandungannya, terjadwal dan terinci,yang dapat membantu menerangkan hak-hak dan

mengetahui hasil usaha, sentralkeuangan, serta perhitungan kadar zakat mal. Hal ini adalah

rasional dan subtantif, baik dalam konsep akuntansi Islam.Setiap akhir tahun, seorang pedagang

atau seorang akuntan harusmenyiapkan beberapa hitungan akhir (akhir tahun) dan neraca-neraca

keuanganuntuk menjelaskan hasil kegiatan agar diketahui jumlah pertambahan pada barangmilik

serta penentuan kadar zakat mal dan lain-lain.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah dan pengertian wakaf ?

2. Apa sajakah jenis-jenis dan tujuan dari wakaf ?

3. Apa saja ketentuan bagi pengelola wakaf ?

4. Bagaimana akuntansi lembaga wakaf ?

5. Bagaimana permasalahan pada praktik-praktik wakaf ?

C. Tujuan Pembahasan

1. Memahami sejarah dan pengertian wakaf

2. Mengetahui jenis-jenis dan tujuan dari wakaf

3. Dapat menjelaskan ketentuan bagi pengelola wakaf

4. Mengetahui akuntansi pada lembaga wakaf

5. Memahami pemecahan masalah pada praktik wakaf


BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Wakaf

Esensi wakaf pada dasarnya telah dilakukan oleh umat- umat terdahulu, termasuk

dikalangan nonmuslim. Hanya saja apa yang dilakukan oleh umat terdahulu tersebut bukan untuk

mendapat keridaan Allah melainkan persembahan untuk kepercayaan mereka. Kondisi ini menjadi

penyebab ulama besar seperti Imam Syafi’I menyatakan bahwa tidak ada wakaf sebelum umat

islam.[1] Sejarah wakaf dibagi dalam dua kelompok yaitu : masa Rasulullah dan para sahabat, dan

masa dinasti-dinasti Islam.

1. Masa Rasulullah dan para sahabat

Para ahli fikih berbeda pendapat tentang siapa yang melakukan wakaf pertama kali,

sebagian mengatakan bahwa wakaf dilakukan oleh Rasulullah atas pembangunan masjid, dan

sebagian lagi mengatakan dilakukan oleh sahabat Umar atas tanahnya di Khaibar. Rasulullah

pernah mewakafkan tujuh kebun kurma di Madinah, selanjutnya disusul oleh para sahabat lainnya,

seperti : Abu Thalhah yang mewakafkan kebunnya, Abu Bakar yang mewakafkan sebidang

tanahnya di Mekah, Utsman bin Affan menyedekahkan hartanya di Khaibar, Ali Bin Abi Thalib

mewakafkan tanahnya yang subur, Muadz bin Jabal mewakafkan rumahnya. Kemudian

pelaksanaan wakaf disusul oleh Anas bin Malik, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwan dan

‘Aisyah istri Rasulullah SAW.

2. Masa dinasti-dinasti Islam

Pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah, pelaksanaan wakaf menjadi lebih luas lagi,

yaitu untuk turut membangun solidaritas umat dan ekonomi masyarakat.Pada dinasti Abbasiyah,
pengelolaan wakaf baik secara administrasi dan independen dilakukan oleh lembaga disebut

dengan”shadr al-wuquf”.Pada masa Ayyubiyah, terjadi lompatan besar dalam berwakaf. Dinasti

utsmani, yang menguasai sebagian besar wilayah Negara Arab, menerapkan syariah islam dengan

lebih mudah termasuk mengatur tentang wakaf yang mulai diberlakukan pada tanggal 19 Jumadil

Akhir tahun 1280 H (1859 M). Selanjutnya tahun 1287 H (1866 M) dikeluarkan Undang-undang

yang menjelaskan tentang kedudukan dan tanah-tanah kekuasaan Turki Utsman dan tanah

produktif yang berstatus wakaf.Dari implementasi undang-undang tersebut di Negara-negara Arab

masih banyak tanh yang berstatus wakaf dan dipraktikan sampai sekarang.

B. Pengertian Wakaf

Kata wakaf berasal dari bahasa arab “waqafa” berarti menahan atau berhenti atau diam

di tempat atau tetap berdiri. Secara syariah, wakaf berarti menahan harta dan memberikan

manfaatnya di jalan Allah. Perbedaan pandangan tentang terminology wakaf adalah sebagai

berikut :

Menurut Mazhab Hanafi Wakaf adalah menahan suatu benda yang menurut hukum, tetap

milik si wakif/pewakaf dan mempergunakan manfaatnya untuk kebijakan.Mazhab Syafi’i dan

Ahmad bin Hambal berpendapat Wakaf adalah menahan harta pewakaf untuk bisa dimanfaatkan

di segala bidang kemaslahatan dengan tetap melanggengkan harta tersebut sebagai taqarrub

(mendekatkan diri) kepada Allah SWT.[2]

Dalam De PSAK 112 Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau

menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka

waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum

menurut syariah. Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya
Perbedaan wakaf dengan infak/shadaqah dan hibah :

Wakaf Infak/shadaqah/hibah

Menyerahkan kepemilikan suatu Menyerahkan kepemilikan suatu

barang kepada orang lain barang kepada pihak lain

Hak milik atas barang dikembalikan Hak milik atas barang diberikan

kepada Allah kepada penerima shadaqah/hibah

Objek wakaf tidak boleh diberikan Objek shadaqah.hibah boleh

atau dijual kepada pihak lain diberikan atau dijual kepada pihak

lain

Manfaat barang biasanya dinikmati Manfaat barang dinikmati oleh

untuk kepentingan social penerima shadaqah/hibah

Objek wakaf biasanya kekal zatnya Objek shadaqah/hibah tidak harus

kekal zatnya

Pengelolaan objek wakaf Pengelolaan obejek shadaqah/hibah

diserhakan kepada administratur diserahkan kepada si penerima

yang disebut nadzir/mutawali


Fungsi wakaf

• untuk mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis aset tersebut untuk kepentingan ibadah

dan memajukan kesejahteraan umum.

Wakaf diperuntukan untuk:

 sarana dan kegiatan ibadah;

 sarana dan kegiatan pendidikan dan kesehatan;

 cbantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, bea siswa;

 kemajuan dan peningkatan ekonomi umat; dan

 kemajuan kesejahteraan umum lain.

Unsur unsur wakaf Meliputi :

• Wakif

• Nazhir

• aset wakaf

• ikrar wakaf

• peruntukan aset wakaf

• dan jangka waktu wakaf.


C. Jenis-jenis Wakaf

1. Wakaf Ahli (Wakaf Dzuri). Wakaf jenis ini kadang juga disebut wakaf ‘alal audad, yaitu wakaf

yang diperuntukan baagi kepentingan dan jaminan sosial dalam lingkungan keluarga, dan

lingkungan kerabat sendiri. Wakaf ahli ini adalah suatu hal yang baik karena pewakaf akan

mendapat dua kebaikan, yaitu kebaikan dari amal ibadah wakafnya, juga dai silaturahmi terhadap

keluarga. Akan tetapi, wakaf ahli ini sering menimbulkan masalah, akibat terbatasnya pihak-pihak

yang dapat mengambil manfaat darinya.

2. Wakaf Khairi (Kebajikan) adalah wakaf yang secara tegas untuk kepentingan agama atau

kemasyarakatan. Seperti wakaf yang diserahkan untuk keperluan pembangunan masjid, sekolah,

jembatan, rumah sakit, pantti asuhan anak yatim dan lain sebagainya. Wakaf jenis ini jauh lebih

banyak manfaatnya dibandingkan dengan jenis wakaf ahli, karena tidak terbatasnya pihak-pihak

yang dapat mengambil manfaat darinya. Dan jenis wakaf inilah yang sesungguhnya paling sesuai

denga tuuan wakaf itu sendiri secara umum.[3]


D. Jenis Wakaf Berdasarkan Klasifikasi

1. Berdasarkan Jenis Harta

Dalam Undang-Undang No.41 Tahun 2004 tentang Wakaf, dilihat dari jenis harta yang

diwakafkan, wakaf terdiri atas:

a. Benda tidak bergerak, yang kemudian dapat dibagi lagi menjadi:

Ø Hak atas tanah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Ø Bangunan atau bagian bangunan yang berdiri di atas tanah

Ø Tanaman dan benda bagian lain yang berkaitan dengan tanah

Ø Hak milik atas satuan rumah susun sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Ø Benda tidak bergerak lain sesuai dengan ketentuan prinsip syariah danperaturan perundang-

undangan

b. Benda bergerak selain uang, terdiri atas :

Benda digolongkan sebagai benda bergerak karena sifatnya yang dapat berpindah atau

dipindahkan atau karena ketetapan undang-undang.

Ø Benda bergerak terbagi dalam benda bergerak yang dapat dihabiskan dan yang tidak dapat

dihabiskan karena pemakaian.

Ø Benda bergerak yang dapat dihabiskan karena pemakaian tidak dapat diwakafkan, kecuali air dan

bahan bakar minyak yang persediaannya berkelanjutan.

Ø Benda bergera karena sifatnya yang dapat diwakafkan (kapal, pesawat terbang, kendaraan

bermotor, mesin, logam dan batu mulia).

Ø Benda bergerakselain uang karena peraturan perundang-undangan yang dapat diwakafkan

sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah (surat berharga, hak atas kekayaan

intelektual, hak atas benda bergerak lainnya).


c. Benda bergerak berupa uang (wakaf tunai, cash waqf)

Berdasarkan beberapa dalil dan pendapat para ulama maka MUI melalui komisi fatwa

mengeluarkan tentang wakaf uang yang intinya berisi sebagai berikut:

Ø Wakaf uang (cash wakaf/waqf al-Nuqud) adalah wakaf yang dilakukan oleh seseorang, kelompok

orang, lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai;

Ø Termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga;

Ø Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh);

Ø Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal-hal yang dibolehkan secara syar’i;

Ø Nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau

diwariskan.

2. Berdasarkan Waktu

 Muabbad adalah wakaf yang diberikan untuk selamanya

 Mu’aqqot adalah wakaf yang diberikan dalam jangka waktu tertentu

3. Berdasarkan Penggunaan Harta yang Diwakafkan

 Mubayir/dzati adalah harta wakaf yang menghasilkan pelayanan masyarakat dan bisa digunakan

secara langsung seperti madrasah dan rumah sakit) .

 Istitsmary adalah harta wakaf yang ditujukan untuk penanaman modal dalam produksi barang-

barang dan pelayanan yang dibolehkan syara’ dalam bentuk apapun kemudian hasilnya diwakafkan

sesuai keinginan pewakaf.

E. Rukun dan Ketentuan Wakaf

1. Rukun Wakaf

 Pelaku terdiri atas orang yang menakafkan harta (wakil/pewakaf).

 Barang atau harta yang diwakafkan (mauquf bih)


 Peruntukan wakaf (mauquf’alaih)

 Shighat (pernyataan atau ikrar sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan sebagian harta

bendanya termasuk penetapan jangka waktu dan peruntukan)

2. Syarat Ketentuan Pewakaf

Kriteria pewakaf:

 Merdeka

 Berakal sehat

 Dewasa (baligh)

 Tidak berada di bawah pengampuan

F. Ketentuan Mauquf Bih (Harta yang Diwakafkan)

Syarat sahnya harta wakaf, adalah :

1. Harta yang diwakafkan harus merupakan harta yang bernilai (mal mutaqowwam).

2. Harta yang akan diwakafkan harus jelas sehingga tidak akan menimbulkan persengketaan.

3. Milik pewakaf secara penuh.

4. Harta tersebut bukan milik bersama (musya’) dan terpisah

5. Syarat-syarat yang ditetapkan pewakaf terkait harta wakaf. Syarat yang ditetapkan pewakaf

dapat diterima asalkan tidak melanggar prinsip dan hukum syariah/wakaf ataupun menghambat

pemanfaatan barang yang diwakafkan.

G. Akuntansi Lembaga Wakaf

Secara umum, lembaga wakaf dibentuk atau didirikan untuk mengelola sebuah atau

sejumlah kekayaan wakaf, agar manfaat maksimalnya dapat dicapai untuk kesejahteraan umat

umumnya, dan menolong mereka yang kurang mampu khususnya.Saat ini DE PSAK 112 yang

mengatur tentang akuntansi lembaga wakaf. Yang berlaku mulai 1 Januari 2021 dengan tujuan
untuk memberikan pengaturan mengenai pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan

atas transaksi wakaf yang dilakukan baik oleh entitas nazhir dan wakif yang berbentuk organisasi

dan badan hukum.

H. Permasalahan dalam praktik perwakafan

1. Masalah pemahaman masyarakat tentang hukum wakaf

a. Pada umumnya masyarakat belum memahami hukum wakaf dengan baik dan

benar, baik dari segi rukun dan syarat wakaf, maupun maksud disyariatkan wakaf.

b. Selain itu, masih cukup banyak masyarakat yang memahami bahwa benda yang

diwakafkan hanyalah benda tidak bergerak, seperti tanah, bangunan dan benda-

benda tidak bergerak lainnya. Dengan demikian, peruntukkannya pun menjadi

sangat terbatas, seperti masjid , mushalla, rumah yatim piatu, madrasah, dan

sejenisnya. Sehingga perlu disosialisasikan kepada masyarakat perlu

dikembangkannya wakaf benda bergerak, selain benda tiak bergerak.

c. Pewakaf pun kurang mempertimbangkan kemampuan nadzir untuk mengelola

harta wakaf sehingga tujuan wakaf untuk meningkatkan perekonomian dan

kesejahteraan umat tidak optimal. Sementara di masa lalu cukup banyak wakaf

berupa kebun yang produktif, yang hasilnya diperuntukkan bagi mereka yang

memerlukan.Untuk itu, kompetensi pengelola wakaf harus diperhatikan agar

sasaran wakaf dapat tercapai optimal.

2. Pengelolaan dan manajemen wakaf

a. Pengelolaan dan manajemen wakaf yang lemah dapat mengakibatkan pengelolaan

harta wakaf tidak optimal, harta wakaf terlantar, bahkan harta wakaf dapat
hilang.Untuk mengatasi masalah ini, paradigma baru dalam pengelolaan wakaf

harus diterapkan.Wakaf harus dikelola secara produktif dengan menggunakan

manajemen modern.Untuk mengelola wakaf secara produktif, ada beberapa yang

perlu dilakukan.Selain perumusan konsepsi fikih wakaf dan peraturan perundang-

undangan, pengelola wakaf harus dibina dan dilatih menjadi pengelola wakaf

profesional untuk dapat mengembangkan harta yang dikelolanya, apalagi jika harta

itu berupa uang.

b. Di samping itu, untuk mengembangkan wakaf secara nasional, diperlukan badan

khusus untuk melakukan pembinaan pengelola wakaf, antara lain Badan Wakaf

Mesir, Badan Wakaf Sudan, Badan Wakaf Indonesia, dan lain-lain.

c. Pengelola wakaf adalah salah satu unsur penting dalam perwakafan.Berfungsi atau

tidaknya wakaf sangat tergantung pada kemampuan pengelola wakaf. Apabila

pengelola wakaf kurang cakap dalam mengelola harta wakaf, dapat mengakibatkan

potensi harta wakaf sebagai sarana untuk meningkatkan perekonomian masyarakat

muslim tidak optimal. Bahkan dalam bebagai kasus ada pengelola wakaf yang

kurang memegang amanah, seperti melakukan penyimpangan dalam pengelolaan,

kurang melindungi harta wakaf, dan kecurang-kecurangan lain sehingga

memungkinkan harta tersbut berpindah tangan. Untuk mengatasi masalah ini,

hendaknya calon pewakaf sebelum berwakaf memperhatikan lebih dahulu apa yang

diperlukan masyarakat, dan dalam memilih pengelola hendaknya dipertimbangkan

kompetensinya.
I. Laporan Keuangan Wakaf dan DE PSAK 112

Pada 22 Mei 2018 Dewan Standar Akuntansi Syariah IAI telah mengesahkan DE PSAK
112: Akuntansi Wakaf. DE PSAK 112 diusulkan berlaku efektif pada 1 Januari 2021 dengan opsi
penerapan dini.

Tujuan dari DE PSAK 112 adalah untuk memberikan pengaturan mengenai pengakuan,
pengukuran, penyajian, dan pengungkapan atas transaksi wakaf yang dilakukan baik oleh entitas
nazhir dan wakif yang berbentuk organisasi dan badan hukum.

Aset wakaf berupa aset tidak bergerak, seperti hak atas tanah, bangunan atau bagian
bangunan di atas tanah, tanaman dan benda lain terkait tanah, hak milik satuan rumah susun, dan
aset bergerak, seperti uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak kekayaan intelektual, hak
sewa.

DE PSAK 112 mengatur bahwa aset wakaf diakui saat telah terjadi pengalihan secara hukum
dan manfaat ekonomis dari aset wakaf. Hasil pengelolaan dan pengembangan dari aset wakaf harus
diakui sebagai tambahan aset wakaf. Basis imbalan nazhir adalah hasil pengelolaan dan
pengembangan yang sudah terealisasi (cash basis).

1. Laporan posisi keuangan (neraca) pada akhir periode laporan

2. Laporan rincian aset wakaf pada akhir periode

3. Laporan aktivitas selama periode

4. laporan arus kas

5. Catatan atas laporan keuangan

Perbedaan laporan Keuangan DE PSAK 112 dan PSAK 1-4

DE PSAK 112 PSAK 1-4


Laporan posisi keuangan (neraca) pada laporan posisi keuangan pada akhir
akhir periode laporan periode;

Laporan rincian aset wakaf pada akhir laporan laba rugi


periode;
Laporan aktivitas selama periode; laporan perubahan modal
laporan arus kas laporan arus kas
Catatan atas laporan keuangan catatan atas laporan keuangan
Contoh Laporan Posisi Keuangan

LAPORAN POSISI KEUANGAN


NAZHIR “ABC”
Per 31 Desember 20x2 dan 20x1 31 Des
31 Des 20x2 20x1
ASET
Aset Lancar
Kas dan setara kas x x
Piutang x x
Surat berharga x x
Logam mulia x x
Aset lancar lain x x
x x
Aset Tidak Lancar
Surat berharga x x
Investasi pada entitas lain x x
Aset tetap x x
Aset takberwujud x x
Aset tidak lancar lain x x
x x
Jumlah aset x x

LIABILITAS
Liabilitas Jangka Pendek
Utang x x
Wakaf temporer jangka pendek x x
Liabilitas jangka pendek lain x x
x x
Liabilitas Jangka Panjang
Wakaf temporer jangka panjang x x
Liabilitas jangka panjang lain x x
x x
Jumlah liabilitas x x

ASET NETO
Jumlah aset neto x x

Jumlah liabilitas dan aset neto x x


Contoh Laporan Rincian
LAPORAN RINCIAN ASET WAKAF
NAZHIR “ABC”
Per 31 Desember 20x2 dan 20x1
31 Des 20x2 31 Des 20x1
Wakif Hasil Jumlah Wakif Hasil Jumlah
Pengelo- Pengelolaan dan
laan dan
Pengem- Pengembangan bangan
Kas dan setara kas x x x x x x
Piutang - x x - x x
Surat berharga:
Efek ekuitas x x x x x x
Efek utang x x x x x x
Logam mulia x x x x x x
Aset lancar lain:
Hak sewa x x x x x x
Lainnya x x x x x x
Investasi pada entitas lain x x x x x x
Aset tetap:
Hak atas tanah x x x x x x
Bangunan x x x x x x
Hak milik satuan rumah susun x x x x x x
Kendaraan x x x x x x
Tanaman x x x x x x
Lainnya x x x x x x
Aset takberwujud:
Hak kekayaan intelektual x x x x x x
Lainnya x x x x x x
Aset tidak lancar lain:
Hak sewa x x x x x x
Lainnya x x x x x x
Jumlah aset x x x x x x

Contoh Laporan Aktivitas


LAPORAN AKTIVITAS
NAZHIR “ABC”
Periode yang berakhir pada 31 Desember 20x2 dan 20x1
31 Des 20x2 31 Des 20x1
PENGHASILAN
Penerimaan Wakaf Permanen
Kas x x
Surat berharga x x
Logam mulia x x
Bangunan x x
Kendaraan x x
Tanaman x x
Hak atas tanah x x
Hak milik rumah susun x x
Hak kekayaan intelektual x x
Hak sewa x x Lain-lain x x x x
Penerimaan Wakaf Temporer
Kas x x x x
Dampak Pengukuran Ulang Aset Wakaf
Kas x x
Surat berharga x x
Logam mulia x x
Bangunan x x
Kendaraan x x
Tanaman x x
Hak atas tanah x x
berlanjut...
LAPORAN AKTIVITAS
NAZHIR “ABC”
Periode yang berakhir pada 31 Desember 20x2 dan 20x1
31 Des 20x2 31 Des 20x1
...lanjutan x x
Hak milik rumah susun
Hak kekayaan intelektual x x
Hak sewa x x
Lain-lain x xx x

Pengelolaan dan Pengembangan Aset Wakaf


Bagi hasil x x
Dividen x x
Keuntungan neto pelepasan investasi x x
Kenaikan atau penurunan nilai investasi x x
Beban pengelolaan dan pengembangan x x
Bagian nazhir atas hasil pengelolaan dan pengem- x x bangan wakaf yang sudah terealisasi
Jumlah x x
Jumlah penghasilan x x

BEBAN
Kegiatan ibadah x x
Kegiatan pendidikan x x
Kegiatan kesehatan x x
Bantuan fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, x x bea siswa
Kegiatan ekonomi umat x x
Kegiatan kesejahterana umum lain x x
Jumlah beban x x

KENAIKAN (PENURUNAN) ASET NETO x x

ASET NETO AWAL PERIODE x x

ASET NETO AKHIR PERIODE x x

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Wakaf berarti menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah SWT atau dapat

dikatakan juga perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta

benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan

kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah.Masih

cukup banyak harta benda wakaf, terutama yang berupa tanah, yang belum dikelola secara baik

dan maksimal.Untuk itu perlu dirumuskan strategi pengelolaan dan menerapkannya dalam rangka

pengembangan wakaf secara berkesinambungan.Hal ini perlu dilakukan untuk mencapai tujuan

wakaf secara umum yaitu untuk kemaslahatan manusia, dengan mendekatkan diri kepada Allah,

serta memperoleh pahala dari pemanfaatan harta yang diwakafkan yang akan terus mengalir

walaupun pewakaf sudah meninggal dunia serta fungsi sosial yang dimiliki dari wakaf, karena

sasaran wakaf bukan sekedar untuk fakir miskin tetapi juga untuk kepentingan publik dan

masyarakat luas. Sehingga wakaf menjadi salah satu alternatif pemberdayaan kesejahteraan umat

secara keseluruhan. Hal ini juga tidak lepas dari peranan nadzir sebagai pihak yang mengelola

wakaf untuk menciptakan wakaf yang mempunyai potensi sebagai sarana untuk meningkatkan

perekonomian masyarakat muslimsecara optimal.

B. Kritik dan Saran

“Taka ada gading yang tak retak” begitulah istilah yang sering digunakan untuk

menyatakan setiap pasti mempunyai salah. Begitupun pada penulisan makalah ini. Penulis

menyadari banyaknya kekurangan pada makalah ini hingga kritik dan saran dari pembaca

terkhususnya dosen pengampu sangat diperlukan agar dapat diperbaiki di lain waktu

DAFTAR PUSTAKA
Fulindo, Makalah Wakaf Ekonomi Syariah, 2015, http://fullindo.blogspot.co.id

Pradipha, Wakaf dalam Akuntansi Syariah, 2014, https://pradipha.blogspot.co.id

Forum Wakaf Indonesia, Laporan Keuangan Wakaf Uang,

2010,http://infowakaf.blogspot.co.id

Slamet Wiyono, 2006, Akuntansi Perbankan Syariah, Jakarta, PT Grasindo

[1] Fulindo, Makalah Wakaf Ekonomi Syariah, 2015, http://fullindo.blogspot.co.id,Diakses 28

Februari 2017, Pukul 08.00 WIB

[2] Fulindo, Makalah Wakaf Ekonomi Syariah, 2015, http://fullindo.blogspot.co.id,Diakses 28

Februari 2017, Pukul 08.00 WIB

[3] Pradipha, Wakaf dalam Akuntansi Syariah, 2014, https://pradipha.blogspot.co.id, Diakses 2

Maret 2017, Pukul 08.00 WIB

[4] Fulindo, Makalah Wakaf Ekonomi Syariah, 2015, http://fullindo.blogspot.co.id,Diakses 28

Februari 2017, Pukul 08.00 WIB

[5] Fulindo, Makalah Wakaf Ekonomi Syariah, 2015, http://fullindo.blogspot.co.id,Diakses 28

Februari 2017, Pukul 08.00 WIB

[6] Forum Wakaf Indonesia, Laporan Keuangan Wakaf Uang,

2010,http://infowakaf.blogspot.co.id, Diakses 1 Maret 2017, Pukul 20.00 WIB