Anda di halaman 1dari 40

Nama faradila

Npm 1601103010005

Mk auditing

Pertanyaan tinjauan

21-1 ( tujuan-1) berilah alasan mengapa persediaan paling sering kali merupakan bagian yang
paling sulit dan paling menghabiskan waktu dalam banyak audit ?

Karena disebabkan oleh banyak factor terutama dalam perusahaan manufaktur atau dagang
karena persedian merupakan aku terbesar pada neraca, persediaan sering kali berada pada
lokasi yang berbeda, yang membuat pengendalian dan perhitungan fisik menjadi sulit, sering
kali bagi auditor untuk mengamati, dan menilai item persediaan yang berbeda seperti
perhiasan, bahan baku kimia, dan suku cadang elektronik, penilaian persediaan juga sulit
apabila estimasi keysangan persediaan merupakan hal yang penting dan harus dialokasikan ke
persediaan, dan juga bentuk persediaan yang berbedabeda sesuai dengan bentuk bisnisnya, .

21-2 (tujuan 21-1,21-7) jelaskan hubungan antara siklus akuisisi dan pembayaran serta siklus
persediaan dan pergudangan dalam audit atas perusahaan manufaktur .sebutkan beberapa
prosedur audit dalam siklus akuisisi dan pembayaran yang mendukung enjelasan anda?

Jawab

Hubungan anatara siklus audit tasa bahan baku yaitu juka audit atas bahan baku manyediakan
informasi bahwa laporan keunagan menyajikan informasi bahna baku , brang setenga jadi dan
persediaan barang jadi dan harga pokok penjualan secara wajar yang berhubungan dengan
audit siklus akuisis dan pembayaran prosedur audit yang sama yang digunakana adalaah
pengujian pengendalian dan pengujian substantive atas transaksi baik transaksi siklus akuisis
dan pembayaran serta siklus penegajian dan personalia pengujian terhadap
pengendalianbahan baku harus berjalan efektif dan transaksi akuisis dinyatakan dengan
benar,bila tenaga kerja langsung merupakan bagian penring dalam persediaan manufaktur
maka auditor harus melakukan verivikasi proses akunatnsi yang benar atas biaya dalam siklus
pengajian dan personalia.

21-3 (tujuan )sebutkan apa yang dimaksud dengan catatan akuntansi biaya , dan jelaskan arti
penting dalam melaksanakan audit

Jawab
Sistem dari biaya dan pengendalian atas akuntansi biaya bervariasi di setiap perusahaan , lebih
bervariasi dibandingkan dengan wilayah auditnya , karena jenis persediaan dan tingkat
kemutahiran yang diinginkan manajemen sangat bervariasi ,misalnya perusahaan ynag
memproduksis mesin pertanian dapat memiliki pencatatan akuntansi dan pengendalian internal
yang sangat berdeba denga lain, catatan atas akuntasi biaya terdapat dalam pengujian atas
akuntansi biaya ,yang pertama yaitu audor melakukan pengujian fisik barang digudang dengan
menvcocokan ditransaksi , yang kedua adalah dokumen dan catatan pemindahan [ersediaan ,
yang ketiga adalah catatan biaya perunit ,pemcatatan akuntansi biaya yang memendai harus
diintegritasikan dengan catatan produksi dan catatan akuntansi lain untul mendapatkan biaya
yang akurat untuk semua produk, auditor harus memahai internal control, dan pengujian
dilakukan terhadap perolehan, penjualan dan pengajian.

21-4 ( tujuan) banyak auditor menyatakan bahwa pengujian audit tertentu dapat dikurangi
secara signifikan bagi klien yang memeiliki catatan perpetual dan memadai tyang mencakup
baik data unit maupun data biaya, pengujian atas catatan perpetual apa yang paling penting
yang harus dilakukan auditor sebelum mengurangi penilaian resiko pengendalian dengan
mengamsusikan catatan perpetual sudah diangpa kaurat ,pengujian mana yang dapat dikurangi,

Jawab

Berkas Utama Perpetual (Perpetual inventory master file) --- Pencatatan persediaan yang
terkomputerisasi dan diperbarui terus menerus yang menunjukkan pembelian, pemakaian,
penjualan dan persediaan barang dagangan, bahan baku, dan barang jadi. Pencatatan perpetual
yang terpisah biasanya dilakukan untuk bahan baku dan barang jadi. Kebanyakan perusahaan
tidak menggunakan perpetual untuk barang setengah jadi. Berkas utama persediaan perpetual
biasanya mencangkup informasi mengenai unit persediaan yang dibeli, dijual dan disimpan.
Dalam sistem terkomputerisasi yang didesain dengan rapi, sistem ini juga memasukan informasi
mengenai biaya unit.
Untuk pembelian bahan baku berkas utama persediaan diperbarui secara otomatis saat
pembelian persediaan diproses sebagai bagian dari catatan pembelian.

Berkas utama persediaan perpetual barang jadi mencangkup jenis informasi yang sama dengan
perpetual bahan baku, tetapi lebih kompleks jika biaya dimasukkan ke dalam unit.Pengaruh E-
Commerce terhadap Manajemen Persediaan
Manfaat utama internet untuk mengelola persediaan adalah untuk menyediakan informasi
lengkap mengenai persediaan mereka berbasis real time kepada rekan bisnis, diantara para
pemasok dan pelanggan. Informasi mengenai jumlah yang disimpan, lokasi produk dan data
lainnya membantu para pemasok bekerja sama dengan manajemen untuk mengawasi aliran
persediaan. Pelanggan biasanya meminta informasi langsung atas data persediaan, seperti
informasi ketersediaan produk, status pengiriman dan pesanan, kualitas produk, tingkat
kepercayaan dan spesifikasi kompatibilitas untuk diintegrasikan dengan produk lainnya.Internet
seperti halnya Local area network (LAN) internal lainnya juga membantu manajemen memantau
laporan status persediaan.

Bagian Dari Audit Persediaan

Audit atas siklus persediaan dan pergudangan dapat dibagi menjadi 5 (lima) aktivitas yang
berbeda yaitu:
1. Akuisisi dan pencatatan bahan baku, biaya tenaga kerja dan overhead Bagian audit ini
meliputi 3 (tiga) bagian pertama yaitu pemrosesan pembelian pesanan, penerimaan bahan
baku, dan penyimpanan bahanbaku. Pengujian terhadap
pengendalian akuisisi bahan baku dan biaya manufaktur tsb harus berjalan efektif dan transaksi
akuisisi dinyatakan dengan benar. Bila tenaga kerja langsung merupakan
bagian penting dalam persediaan manufaktur maka auditor harus melakukan verifikasi proses
akuntansi yang benar atas biaya dalam siklus penggajian dan personalia.
2. Perpindahan internal atas aset dan biaya
Pemindahan internal dalam persediaan meliputi fungsi keempat dan kelima (Pemrosesan
barang dan penyimpanan barang jadi). Klien membukukan aktivitas tsb dalam pencatatan biaya,
yang independen dari siklus lain dan diuji sebagai bagian dari audit siklus persediaan dan
pergudangan. Berkas Utama Persediaan Perpetual Berkas Utama Perpetual (Perpetual inventory
master file) .

Pencatatan persediaan yang terkomputerisasi dan diperbarui terus menerus yang menunjukkan
pembelian, pemakaian, penjualan dan persediaan barang dagangan, bahan baku, dan barang
jadi. Pencatatan perpetual yang terpisah biasanya dilakukan untuk bahan baku dan barang jadi.
Kebanyakan perusahaan tidak menggunakan perpetual untuk barang setengah jadi.

21-5 sebelum melakukan pemeriksaan fisik, auditor memperoleh salinan instruksi persediaan
klien dan mereviewnya dengan kontroler, dalam memahami prosedur persediaan sebuah
perusahaan manufaktur kecil, defisiensi berikut telah diidentifikasi operasi pengiriman tidak
akan sepenuhnya dihentikan selama pemeriksaaan fisik dan tidak ada verikasi independen atas
perhitungan persediaan awal oleh tim penhitungan kedua, evaluasilah pentingnya setiap
defisiensi tersebut dan sebutkan dampaaknya terhadap observasi persediaan oleh auditor

Jawab

Observasi Fisik
Penting bagi auditor independen untuk hadir pada saat penghitungan dan observasi, pengujian
dan tanya jawab yang sesuai untuk mengetahui keefektifan metode penghitungan persediaan
(inventory taking) dan ukuran (tingkat) keandalan yang mungkin diberikan pada pernyataan
klien mengenai kuantitas dan kondisi fisik persediaan.

Klien bertanggung jawab menetapkan prosedur-prosedur untuk melakukan penghitungan fisik


yang akurat dan untuk melakukan penghitungan dan pencatatan secara aktual. Auditor
bertanggung jawab mengevaluasi dan mengamati setiap prosedur fisik klien dan menarik
kesimpulan mengenai kecukupan dari persediaan fisik.

Seandainya persediaan yang dalam kegiatan sehari-hari perusahaan berada di gudang umum
atau para penyimpan pihak luar lainnya, maka konfirmasi tertulis dari penyimpanan tersebut
dapat diterima dengan syarat bahwa apabila jumlah yang terkandung menunjukkan proporsi
yang signifikan dari aktiva lancar atau keseluruhan aktiva tetap, keterangan-keterangan
tambahan harus dibuat untuk meyakinkan auditor independen mengenai tindak kejujuran
dalam situasi tersebut.

21-6 pada saat menyelesaikan observasi persediaan ,kontreler meminta auditor memberikan
salinan dari semua perhitungan pengujian yang dicatat untuk memfasilitasi perbaikan atas
seluruh perbedaaan antara perhitungan klien dan auditor , apakah auditor harus memenuhi
permintaan tersebut,mengapa ?

Jawab

Auditor harus memenuhi syarat tersebut karena Audit atas Penetapan Harga dan Kompilasi
Penetapan harga mencakup semua jenis pengujian harga satuan klien untuk menentukan
apakah hal-hal itu telah benar. Kompilasi mencakup semua pengujian atas ikhtisar dari
perhitungan fisik, hasil perkalian harga dengan kuantitas, penjumlahan dari ikhtisar persediaan,
dan penelusuran jumlah persediaan keseluruhannya ke buku besar.

21-7 . prosedur audit utama apa yang terlibat dalam menguji kepemilikan persediaan selama
observasi perhitungan fisik dan sebagian dari pengujian penilaianselanjutnya?

Pengendalian fisik terhadap persediaan Pengujian auditor mengenai kecukupan pengendalian


fisik terhadap bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi harus terbatas pada
pengamatan dan penyelidikan.

21-8 (tujuan ) dalam memverifikasi jumlah persediaan, salah satu perhatiaan auditor adalah
bahwa akan teridentifikasi item bergerak lambat dan using, sebutkan prosedur audit yang dapat
digunakan untuk menentukan akalah item yang bergerak lambat atau using telah dimasukan
dalam persediaan
Jawab

Membandingkan perputaran persediaan (persediaan ( harga pokok penjualan dibagai dengan


persediaan rata-rata dengan tahun lalau kemudian yang menjadi kemungkinan sala saji adalah
keuusangan dari persediaan ynag terdapat digudang yang mempengaruhi persediaan dan harga
pokok persediaan salah saji atau kurang saji

21-9 selama menghitung persediaan fisik, kontroler dengan sengaja menahan beberapa taq
persediaan dari karyawan yang bertanggung jawab atas perhitungan fisik ,setelah auditor
meninggalkan tempat klien begitu observasi persediaan selesai, kontroler mencatat bagaimana
auditor dapat megungkapkan salah saji tersebut, dengan mengasumsikan bahwa tidak terdapat
catatan perpetual ?

Jawab

Yang pertama yang harus dilakukan auditor adalah melakukan prosedur analitis dengan langkah

Membukukan perhitungan persediaa yang dilakukan klien dalam kertas kerja , pemeriksaan
pada lembar perhitungan persediaan yang dilakukan hanya karena 2 alasan ,untuk
mendokumentasikan bahwa pemeriksaan fisik yang memadai telah dilakukan dan untuk
menguji kemungkinan bahwa klien mengubah hasil perhitunagan setelah auditor meninggalkan
lokasi , prosedur audit yang dilakukan adalah membandingkan gross margin persentase dengan
tahun-tahun sebelumnya maka kemungkinan salah saji yan ingin dilihat aalah nilai hpp dan
persediaan disajikan terlalau rendag atau terlalu tinggi

21-10 jelaskan mengapa pisah batas yang tepat atas pembelian dan penjaualan sangat
bergantung pada observasi persediaan fisik , informaasi apa yang harus diperoleh selama
perhitungan fisik untuk memastikan pisah atas sudah akurat?

Jawab

Selama perhitugan fisisk persediaan, auditor harus memeastikan bahwa pengendalian atas
prosedur pemasukan dan pengeluaran barang atau pergerakan intern barag selama perhitungan
berlangsung telah diikuti sebagaimana mestinya, untuk menilai kecer,atan pisaha atas ,auditor
harus memperhatikan kemungkinan asanya barang titipan, bukam milik perusahaan,
kemungkinan adanya persediaan yang tidak berada dalam pemhgawasan perusahaan ,auditor
ahrus memastikan bahwa persediaan alam perjalanan memang benar adanya ,
21-11 definisakan apa yang dimaksud dengan pengujian komplikasi , sebutkan beberapa
posedur audit untuk menverifikasi komplikasi

Klien memerlukan pengendakian internalatas komplikasi persediaan untuk memastikan bahwa


perhitungan fisisk telah diikttisarkan dengan benar, diberi harga pada jumlah yang sama seperti
catatan perunit dikaliakan dengan total yang benar ,prosedur audut yang digunakan auditor
dalam melakukan verivikasi biaya di ini disebut pengujian harga,pengujian komplikasi
persediaan yaitu pengujian untuk melakuakn verivikasi apakah perhitungan fisik dilakuakn
dengan benar, kunatitas dan harga persediaan dijabarkan dengan benar, persediaan tersebut
dijumlahkan dengan benar untuk menghitung saldo buku besar.

21-12 sebutkan prosedur analitis yang utama untuk menguji kelayakan persediaan secara
keseluruhan,untuk setiap pengujian, jelaskan jenis salah saji yang dapat di identifikasi

Jawab

A.prosedur analitis

1.membandingkan persentase marjin kotor dengan tahun sebelumnya

2.membandingkan perputaran persediaan

3.membandingkan biaya perunit persediaan demgan tahun sebelumnya

4.membandingkan nilai persediaan yang ditambahkan dengan tahun sebelumnya

5.membandingkan biaya manufaktur tahun berjalan dengan tahun sebelumnya

Kemungkinan salah saji

1.lebih saji atau kurang saji ersediaan dan harga pokok penjualan

2.persediaan yang usaha , yang mempengaruhi persediaan dan harga pokok penjualan lebih saji
atau kurang saji

3.lebih saji atau kurang saji perunit, yang mmepengaruhi persediaan dan hpp

4.salah saji dalam komplikasi ,biaya per unit, atau perkalian yang mempeagruhi persediaan dan
harga pikok penjualan

.21-13 berapakah jumlah salah saji dalam penilaian pesediaan fifo , apakah jika diakuisisis

Jawab
21-14 jelaskan bagaimana anda akan mengevaluasi kelayakan total jam tenaga kerja langsung
dan overhead pabrik manufaktur pada persediaan akhir barang jadi ?

Jawab

Auditor harus menggunakan harga pokok pesanan yang mana terdapat beberapa syarat untuk
menentukannaya yang petama setiap pesanan harus dapat dipisahkan identitas dengan dengan
jelas dan harus dilakukan penentuan harga pokok pesanan secara individu, biaya produksi
diabgai menjadi 2 golongan yaitu produksi biaya langsung, yang terdiri dari biaya bahan baku
dan teanaga kerja, serta biaya terdiri dari biaya-biaya produksi selain biaya bahan baku dan
biaya tenaga kerja langsung .

Auditor harus nelakukan verivikasi biaya perunit atas bahan baku, dan jumlah unit yang
diperlukan dalam memproduksi setiap unit output , auditor juga harus memeriksa vendor atas
berkas persediaan perpetual lalu memeriksa spesifikasi rancangan, memeriksa produk yang
selesai dibuat atau menentukan sejenis untuk menentukan jumlah unit yang diperlukan untuk
membuat satu unit produk, sedangkan dalam hal tenaga langsung auditor harus melakukan
verivikasi biaya perjam atas tenaga kerja dan jumlah jam kerja yang diperlukan untuk membuat
satu jenis output ,auditor dapat menentukan jumlah jam kerja untuk memproduksi barang dari
spesifikasi rancangan atau sumber serupa,

Jawab

21-15 sebuah perusahaan menggunakan metode kalkulasi biaya persediaan menurut biaya
pekerjaan, harus merekonsiliasi total jam kerjanya dengan jam kerja setiap pekerjaan dengan
menggunakan lembar waktu kerja pada saat aktu pengajian mingguan disiapkan, lembar waktu
kerja itu kemudian direkatkan kekartu waktu, jelaskan bagaimana anda dapat menguji nilai
biaya tenaga kerja langsung yang tercakup dalam persediaaan sebagai bagian dari pengujian
siklus penggajian dan personalia?

Jawab

Auditor melakukan verifikasi pada biaya tenaga kerja langsung yang kondisinya sama diterapkan
seperti dalam pembelian, kebanyakan pencatatan akuntansi biaya untuk biaya tenaga kerja
langsung atau tidak langsung dapat diuji sebagai bagian dari audit siklus pengajian dan
personalia,
21-16 dengan mengasumsikan bahwa auditor mendokumentasikan secara layak nomor laporan
penerimaan sebagai bagian dari prosedur observasi persediaan fisik , jelaskan bagaimana pisah
batas layak untuk pembelian, termasuk pengujiaaan atas kemungkinan bahan baku dalam
perjalanan , harus di diverivikassi atau diaudit

Jawab

Jika persedaan atau pembelian barang maish berada digudang atau pihak-pihak tertentu maka
naka dibutuhkan konfirmas tertulis dari penyipanan tersebut dapat diterima denga syarat
bahwa jumlah yang terkandung menunjukan proporsi yang signifikan dari aktiva-aktiva lancar
atau kesluruhan autidit atas aktiva tetap.

Pertanyaan pilihan berganda

21-17 pertanyaan berikut berkenaan dengan pengendalian internal atas siklus pesediaan dan
pergudanhagan, pilihlah jawaban yang paling tepat

a.(3) sistem persediaan perpetual tidak akan mengizinkan penambahan persediaan diposting
tanpa entri nomor laporan penerimaan yang valid

b.(4) ditahan dari file departemen pembelian

c.(3) memiliki ruang gudang terpisah item yang berharga denan taq yang diberi nomor

21-18 pertayaan berikut berkenaan dengan menguji pengendalian internal klien untuk siklus
persediaan dan pergudangan

A.(1) catatan persediaan perpetual akan secara periodic dengan biaya saat ini di setiaap
persediaan

b.(1) biaya telah dibebankan dengan benar ke barang jadi ,barang dalam proses dan harga
pokok penjualan

c.(2 ) agen pembelian yang mengatur pengiriman bahan baku dan vendor juga bertanggung
jawab memverifikasi penerimaan actual item-item persediaan dipusat penerimaan

21-19 pertanyaan berikut berkenaan dengan pengujian atas rincian saldo dan prosedur analitis
untuk persediaan

a.(1) keberadaan atau eksistensi


b.(2) meneliti item yang tertutup korosi dan debu ataupun rusak

c. (3) keberadaan barang yang using.

PSAK dan SPAP

NO 1 : PSAK 1 PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN

PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN


Pernyataan ini mengatur persyaratan penyajian laporan keuangan, struktur laporan keuangan,
dan persyaratan minimal isi laporan keuangan. Entitas menerapkan Pernyataan ini dalam
penyusunan dan penyajian laporan keuangan bertujuan umum sesuai dengan SAK. Pernyataan
ini tidak berlaku bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah.

Komponen laporan keuangan lengkap terdiri dari:

(a) laporan posisi keuangan pada akhir periode;

(b) laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain selama periode;

(c) laporan perubahan ekuitas selama periode;

(d) laporan arus kas selama periode;

(e) catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan
informasi penjelasan lain;

(ea) informasi komparatif mengenai periode terdekat sebelumnya sebagaimana ditentukan


dalam

paragraf 38 dan 38A; dan

(f) laporan posisi keuangan pada awal periode terdekat sebelumnya ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali
pos-pos laporan keuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangannya sesuai dengan paragraf 40A-40D.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2015. Entitas menerapkan penyesuaian paragraf 128 dan secara prospektif
untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015. Psak ini
membahas mengenai standart yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan

N0 2 : PSAK 2 LAPORAN ARUS KAS

Psak ini membahas mengenai arus kas kas mausk dank as keluar tentang standar yang
mengaturnya Tujuan Pernyataan ini adalah mensyaratkan ketentuan atas informasi mengenai
perubahan historis dalam kas dan setara kas suatu entitas melalui laporan arus kas yang
mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan selama
suatu periode. Entitas menyusun laporan arus kas sesuai dengan persyaratan dalam Pernyataan
ini dan menyajikan laporan tersebut sebagai bagian takterpisahkan dari laporan keuangan untuk
setiap periode penyajian laporan keuangan.
Laporan arus kas melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasikan menurut
aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

Entitas melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu dari metode
berikut:

a) metode langsung, dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan
pembayaran kas bruto diungkapkan; atau

b) metode tidak langsung, dengan metode ini laba atau rugi disesuaikan dengan mengoreksi
pengaruh transaksi yang bersifat nonkas, penangguhan, atau akrual dari penerimaan atau
pembayaran kas untuk operasi di masa lalu atau masa depan, dan pos penghasilan atau beban
yang berhubungan dengan arus kas investasi atau pendanaan.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2011. Entitas menerapkan Penyesuaian paragraf 16, 37, 38, 40A, 42A, 42B,
50(b) untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015.

N0.3 PSAK 3 laporan keuangan intern

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 3 tentang Laporan Keuangan Interim (selanjutnya


disebut PSAK 3) pertama kali disahkan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan
Indonesia (DSAK IAI) pada tanggal 7 September 1994 menggantikan PAI 1984 Bab II Pasal
8. PSAK 3 (1994) berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 1995. Pada tanggal 22 Oktober 2010
DSAK IAI mengesahkan revisi PSAK 3 dengan mengadopsi International Accounting Standards 34
Interim Financial Reporting (IAS 34) per 1 Januari 2009.

Pada tanggal 27 Agustus 2014 DSAK IAI menerbitkan penyesuaian PSAK 3 yang merupakan
adopsi dari IAS 34 efektif per 1 Januari 2014. PSAK 3 (Penyesuaian 2014) berlaku efektif 1
Januari 2015.

Pada tanggal 28 Oktober 2015 DSAK IAI mengesahkan amandemen terhadap PSAK 3 yang
merupakan amandemen konsekuensial dari Amandemen PSAK 1 tentang Prakarsa
Pengungkapan. Amandemen ini mengamandemen paragraf 05 dan berlaku efektif per 1 Januari
2017.Pada tanggal 28 September 2016 DSAK IAI mengesahkan penyesuaian terhadap PSAK
3 yang merupakan adopsi dari Annual Improvements to IFRSs 2012–2014 Cycle efektif per 1
Januari 2016. Penyesuaian tersebut merubah paragraf 16A terkait pengungkapan lain dan
berlaku efektif per 1 Januari 2017.PSAK 3 yang berlaku efektif 1 Januari 2017 merupakan wujud
komitmen DSAK IAI dalam menjaga perbedaan 1 tahun efektif dengan International Financial
Reporting Standards. Sehingga PSAK 3 yang berlaku efektif 1 Januari 2017 telah konvergen
dengan IAS 34 efektif per 1 Januari 2016.

IKHTISAR RINGKAS

Tujuan Pernyataan ini adalah menentukan isi minimum laporan keuangan interim serta prinsip
pengakuan dan pengukuran dalam laporan keuangan lengkap atau ringkas untuk periode
interim. Pernyataan ini tidak mengatur entitas mana yang disyaratkan untuk menerbitkan
laporan keuangan interim, seberapa sering, atau seberapa lama setelah akhir periode interim.
Pernyataan ini diterapkan jika entitas disyaratkan atau memilih untuk menerbitkan laporan
keuangan interim sesuai dengan SAK.

Laporan keuangan interim minimum mencakup komponen berikut:

a) laporan posisi keuangan ringkas;

b) laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain ringkas baik digabung maupun dipisah;

c) laporan perubahan ekuitas ringkas;

d) laporan arus kas ringkas; dan

e) catatan penjelasan tertentu.

Jika entitas menerbitkan laporan keuangan lengkap dalam laporan keuangan interimnya, maka
format dan isi laporan keuangan interim tersebut sesuai dengan persyaratan PSAK 1: Penyajian
Laporan Keuangan.

Jika entitas menerbitkan laporan keuangan ringkas dalam laporan keuangan interimnya, maka
laporan keuangan ringkas tersebut mencakup, minimum, setiap judul dan subjumlah yang
termasuk dalam laporan keuangan tahunan terkini dan catatan penjelasan tertentu
sebagaimana disyaratkan oleh Pernyataan ini. Pos atau catatan tambahan termasuk dalam
laporan keuangan tersebut jika kelalaian untuk mencantumkannya akan menyebabkan laporan
keuangan ringkas menjadi menyesatkan.

NO.4 : LAPORAN KEUANGAN TERSENDIRI

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur


persyaratan akuntansi untuk investasi pada entitas anak, ventura bersama, dan entitas asosiasi
ketika entitas induk menyajikan laporan keuangan tersendiri sebagai informasi tambahan.
Pernyataan ini diterapkan pada entitas induk yang menyajikan laporan keuangan tersendiri
dalam mencatat investasi pada entitas anak, ventura bersama, dan entitas asosiasi.
Laporan keuangan tersendiri adalah laporan keuangan yang disajikan oleh entitas induk (yaitu
investor yang memiliki pengendalian atas entitas anak) yang mencatat investasi pada entitas
anak, entitas asosiasi, dan ventura bersama berdasarkan biaya perolehan atau sesuai dengan
PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.

Jika entitas induk menyusun laporan keuangan tersendiri, maka entitas induk tersebut mencatat
investasi pada entitas anak, ventura bersama, dan entitas asosiasi pada:

(a) biaya perolehan; atau

(b) sesuai PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.

Entitas induk menerapkan akuntansi yang sama untuk setiap kategori investasi. Investasi yang
dicatat pada biaya perolehan dicatat sesuai dengan PSAK 58: Aset Tidak Lancar yang Dimiliki
untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan ketika investasi tersebut diklasifikasikan sebagai
dimiliki untuk dijual (atau termasuk kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki
untuk dijual). Pengukuran investasi yang dicatat sesuai dengan PSAK 55 tidak berubah dalam
keadaan yang demikian. Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang
dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 201

Psak no 5.PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 5

SEGMEN OPERASI

PSAK ini diterapkan atas laporan keuangan entitas dan laporan keuangan konsolidasian
kelompok usaha dengan entitas induk:

(a) yang instrumen utang atau instrumen ekuitasnya diperdagangkan di pasar publik (pasar
modal domestik atau luar negeri atau over-the-counter, termasuk pasar modal lokal dan
regional), atau

(b) yang telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan
pendaftaran, pada regulator pasar modal atau regulator lainnya untuk tujuan penerbitan
seluruh kelas instrumen di pasar publik.

Segmen operasi adalah suatu komponen dari entitas:

(a) yang terlibat dalam aktivitas bisnis yang mana memperoleh pendapatan dan menimbulkan
beban (termasuk pendapatan dan beban terkait dengan transaksi dengan komponen lain dari
entitas yang sama),
(b) hasil operasinya dikaji ulang secara reguler oleh pengambil keputusan operasional untuk
membuat keputusan tentang sumber daya yang dialokasikan pada segmen tersebut dan menilai
kinerjanya, dan

(c) tersedia informasi keuangan yang dapat dipisahkan. Entitas mengungkapkan informasi yang
memungkinkanpengguna laporan keuangan untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan
dari aktivitas bisnis yang mana entitas terlibat dan lingkungan ekonomik dimana entitas
beroperasi.Entitas mengungkapkan informasi untuk memungkinkan pengguna laporan
keuangan mengevaluasi sifat dan dampak keuangan atas aktivitas bisnis yang mana entitas
terlibat dan lingkungan ekonomik dimana entitas beroperasi. Entitas menerapkan Pernyataan ini
untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011. Entitas
menerapkan penyesuaian paragraf 23, 24, dan 34 untuk periode tahun buku yang dimulai pada
atau setelah tanggal 1 Januari 2015.

NO.6: PSAK 6 PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK BERRELASI

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 7

PENGUNGKAPAN PIHAK-PIHAK BERELASI

Tujuan dari Pernyataan ini adalah untuk memastikan bahwa laporan keuangan entitas berisi
pengungkapan yang diperlukan untuk dijadikan perhatian terhadap kemungkinan bahwa posisi
keuangan dan laba rugi telah dipengaruhi oleh keberadaan pihak-pihak berelasi dan oleh
transaksi dan saldo, termasuk komitmen, dengan pihak-pihak tersebut.

Pernyataan ini diterapkan dalam:

(a) mengidentifikasi hubungan dan transaksi dengan pihak-pihak berelasi;

(b) mengidentifikasi saldo, termasuk komitmen antara entitas dengan pihak-pihak berelasi;

(c) mengidentifikasi keadaan pengungkapan yang disyaratkan di huruf (a) dan (b); dan

(d) menentukan pengungkapan yang dilakukan mengenai butir-butir tersebut.

Pernyataan ini mensyaratkan pengungkapan hubungan, transaksi dan saldo pihak berelasi,
termasuk komitmen, dalam laporan keuangan konsolidasian dan laporan keuangan tersendiri
entitas induk atau investor dengan pengendalian bersama, atau pengaruh signifikan atas,
investee yang disajikan sesuai dengan PSAK 65: Laporan Keuangan Konsolidasian atau PSAK
4: Laporan Keuangan Tersendiri. Pernyataan ini juga diterapkan untuk laporan keuangan
individual.
Pihak-pihak berelasi adalah orang atau entitas yang terkait dengan entitas yang menyiapkan
laporan keuangannya (dalam Pernyataan ini dirujuk sebagai “entitas pelapor”). Suatu individu
atau entitas dapat diklasifikasikan sebagai pihak berelasi jika memenuhi hal-hal yang ditentukan
definisi pihak-pihak berelasi dalam PSAK 7.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan. Jika entitas menerapkan Pernyataan ini
secara dini, maka fakta tersebut diungkapkan. Entitas menerapkan penyesuaian paragraf 3, 4, 9,
11(b), 15, 19(b), 19(e), dan 25 untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal
1 Januari 2015.

N0.8 : PSAK PERISTIWA AETELAH PERIODE PELAPORAN

Tujuan Pernyataan ini adalah untuk menentukan:

(a) kapan entitas menyesuaikan laporan keuangannya untuk peristiwa setelah periode
pelaporan; dan

(b) pengungkapan yang dibuat entitas tentang tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk
terbit dan peristiwa setelah periode pelaporan.

Pernyataan ini juga mensyaratkan bahwa entitas tidak boleh menyusun laporan keuangan atas
dasar kelangsungan usaha jika peristiwa setelah periode pelaporan mengindikasikan bahwa
penerapan asumsi kelangsungan usaha tidak tepat.

Pernyataan ini diterapkan dalam akuntansi untuk, dan pengungkapan atas, peristiwa setelah
periode pelaporan.

Peristiwa setelah periode pelaporan adalah peristiwa yang terjadi antara akhir periode
pelaporan dan tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit, baik peristiwa yang
menguntungkan maupun yang tidak. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat dibagi menjadi dua
jenis, yaitu:

(a) peristiwa yang memberikan bukti atas adanya kondisi pada akhir periode pelaporan
(peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan); dan

(b) peristiwa yang mengindikasikan timbulnya kondisi setelah periode pelaporan (peristiwa
nonpenyesuai setelah periode pelaporan).
Entitas menyesuaikan jumlah yang diakui dalam laporan keuangan untuk mencerminkan
peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan. Entitas tidak menyesuaikan jumlah pengakuan
dalam laporan keuangan untuk mencerminkan peristiwa nonpenyesuai setelah periode
pelaporan.

Entitas mengungkapkan tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit dan pihak yang
bertanggung jawab mengotorisasi laporan keuangan. Jika entitas menerima informasi setelah
periode pelaporan tentang kondisi yang ada pada akhir periode pelaporan, maka entitas
memutakhirkan pengungkapan kondisi tersebut sesuai dengan informasi terkini.

Peristiwa nonpenyesuai setelah periode pelaporan yang berdampak material jika tidak
diungkapkan akan mempengaruhi pengambilan keputusan pengguna laporan keuangan. Sejalan
dengan hal tersebut, entitas mengungkapkan informasi berikut untuk setiap kelompok peristiwa
tersebut:

(a) sifat peristiwa; dan

(b) estimasi atas dampak keuangan, atau pernyataan bahwa estimasi tersebut tidak dapat
dibuat.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2011. Entitas menerapkan penyesuaian paragraf 11 secara prospektif untuk
periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015.

No. 10 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 10

PENGARUH PERUBAHAN KURS VALUTA ASING

Tujuan dari Pernyataan ini menjelaskan bagaimana memasukkan transaksi dalam valuta asing
dan kegiatan usaha luar negeri ke dalam laporan keuangan entitas dan bagaimana menjabarkan
laporankeuangan ke dalam mata uang penyajian.

Pernyataan ini diterapkan pada:

(a) akuntansi transaksi dan saldo dalam valuta asing, kecuali transaksi dan saldo derivatif
yang termasuk dalam ruang lingkup PSAK 55:Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran;

(b) penjabaran hasil dan posisi keuangan dari kegiatan usaha luar negeri yang termasuk dalam
laporan keuangan entitas dengan cara konsolidasi atau metode ekuitas; dan

(c) penjabaran hasil dan posisi keuangan suatu entitas ke dalam mata uang penyajian.
Mata uang fungsional adalah mata uang pada lingkungan ekonomi utama dimana entitas
beroperasi, sedangkan mata uang penyajian adalah mata uang yang digunakan dalam penyajian
laporan keuangan.

Pada pengakuan awal, transaksi valuta asing dicatat dalam mata uang fungsional. Jumlah valuta
asing dihitung ke dalam mata uang fungsional dengan kurs spot antara mata uang fungsional
dan valuta asing pada tanggal transaksi.

Pada akhir setiap periode pelaporan:

(a) pos moneter valuta asing dijabarkan menggunakan kurs penutup;

(b) pos nonmoneter yang diukur dalam biaya historis dalam valuta asing dijabarkan
menggunakan kurs pada tanggal transaksi; dan

(c) pos nonmoneter yang diukur pada nilai wajar dalam valuta asing dijabarkan menggunakan
kurs pada tanggal ketika nilai wajar diukur.

Entitas mengungkapkan:

(a) jumlah selisih kurs yang diakui dalam laba rugi, kecuali untuk selisih kurs yang timbul pada
instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi sesuai dengan PSAK 55:
Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran; dan

(b) selisih kurs neto yang diakui dalam penghasilan komprehensif lain dan diakumulasikan
dalam komponen ekuitas yang terpisah, serta rekonsiliasi selisih kurs tersebut pada awal dan
akhir periode.

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2012. Penerapan dini diperkenankan. Jika entitas menerapkan Pernyataan ini
untuk periode tahun buku yang dimulai sebelum tanggal 1 Januari 2012, maka fakta tersebut
diungkapkan.

Entitas menerapkan paragraf 47 secara prospektif untuk seluruh akuisisi yang terjadi setelah
awal periode laporan keuangan ketika Pernyataan ini pertama kali diterapkan. Penerapan secara
retrospektif paragraf 47 untuk akuisisi terdahulu diperkenankan. Untuk akuisisi kegiatan usaha
luar negeri yang diperlakukan secara prospektif tetapi terjadi sebelum tanggal Pernyataan ini
pertama kali diterapkan, entitas tidak menyajikan kembali tahun-tahun sebelumnya.

Entitas menerapkan penyesuaian paragraf 3(b), 8, 11, 18, 33, 39, 44–46, 48A secara retrospektif
dan definisi nilai wajar dalam paragraf 8 dan 23 secara prospektif untuk periode tahun buku
yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015.
N0.13 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSi KEUANGAN 13

PROPERTI INVESTASI

Pernyataan ini bertujuan untuk mengatur perlakuan akuntansi untuk properti investasi dan
pengungkapan yang terkait. Pernyataan ini diterapkan dalam pengakuan, pengukuran, dan
pengungkapan properti investasi. Pernyataan ini tidak berlaku untuk hak penambangan dan
cadangan mineral seperti minyak, gas alam, dan sumber daya serupa yang tidak dapat
diperbarui.

Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau
kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee melalui sewa pembiayaan) untuk
menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau keduanya, dan tidak untuk:

(a) digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan
administratif; atau

(b) dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Properti investasi diakui sebagai aset jika dan hanya jika:

(a) besar kemungkinan manfaat ekonomik masa depan yang terkait dengan properti investasi
akan mengalir ke entitas; dan

(b) biaya perolehan properti investasi dapat diukur secara andal.

Properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya transaksi termasuk dalam
pengukuran awal tersebut.

Entitas dapat:

(a) memilih apakah model nilai wajar atau model biaya untuk seluruh properti investasi yang
menjadi agunan liabilitas yang membayar imbal hasil dikaitkan secara langsung dengan nilai
wajar dari, atau imbal hasil dari, aset tertentu yang mencakup properti investasi tersebut; dan

(b) memilih apakah model nilai wajar atau model biaya untuk seluruh properti investasi lain,
tanpa memperhatikan pilihan sebagaimana dimaksud di huruf (a).

Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah
tanggal 1 Januari 2012. Entitas menerapkan penyesuaian atas definisi nilai wajar dalam paragraf
05, 26, 29, 32, 36–40, 42–49, 51, 53, 53B, 75(d), 78–80, dan 85B secara prospektif untuk
periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2015.
Psak 14 tentang persediaan

PSAK 14 tentang Persediaan telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada
tanggal 16 September 2008.PSAK 14 ini merevisi PSAK 14 tentang Persediaan yang telah
dikeluarkan pada tanggal 7 September 1994.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur
yang tidak material.

No 15 PSAK investasi pada entitas asosiasi

Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah mengesahkan penyesuaian atas PSAK 14 tentang
Persediaan pada tanggal 27 Agustus 2014.PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi dan
Ventura Bersama telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 19
Desember 2013.15 ini merevisi PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi yang
telah diterbitkan pada tanggal 15 Desember 2009.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk
unsur yang tidak material.Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah mengesahkan penyesuaian
atas PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama pada tanggal 27
Agustus 2014.

Psak 16 aset tetap

PSAK 16 tentang Aset Tetap telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada
tanggal 29 November 2011.PSAK 16 ini merevisi PSAK 16 tentang Aset Tetap yang telah
dikeluarkan pada tanggal 29 Mei 2007. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang
tidak material.Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah mengesahkan penyesuaian atas PSAK
16 tentang Aset Tetap pada tanggal 27 Agustus 2014.

PSAK 18 tentang Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 22 Oktober 2010.

PSAK 18 ini merevisi PSAK 18 tentang Akuntansi Dana Pensiun yang telah dikeluarkan pada
tanggal 7 September 1994.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak
material.Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah mengesahkan penyesuaian atas PSAK 18
tentang Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya pada tanggal 27 Agustus 2014.

PSAK 19 tentang Aset Takberwujud telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan

pada tanggal 19 Februari 2010. PSAK 19 ini merevisi PSAK 19 tentang Aset Tidak Berwujud yang
telah dikeluarkan pada tanggal 13 Oktober 2000. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk
unsur yang tidak material.

PSAK 22 tentang Kombinasi Bisnis


telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 12 Januari 2010. PSAK 22
ini merevisi PSAK 22 tentang Akuntansi Pengabungan Usaha yang telah dikeluarkan pada tanggal
7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material

PSAK 23 tentang Pendapatan

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 19 Februari 2010.PSAK
23 ini merevisi PSAK 23 tentang Pendapatan yang telah dikeluarkan pada tanggal 7 September
1994.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PSAK 24 tentang Imbalan Kerja

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 19 Desember 2013.

PSAK 24 ini merevisi PSAK 24 tentang Imbalan Kerja yang telah diterbitkan pada tanggal 23
Oktober 2010. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PSAK 25 tentang Kebijakan Akuntansi

Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan pada tanggal 15 Desember 2009 PSAK 25 ini merevisi PSAK 25 tentang Laba atau Rugi
Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar, dan Perubahan Kebijakan Akuntansi
yang telah dikeluarkan pada 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk
unsur yang tidak material.

PSAK 26 tentang Biaya Pinjaman

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 20 Desember 2011.PSAK
26 ini merevisi PSAK 26 tentang Biaya Pinjaman yang telah dikeluarkan pada tanggal 16
September 2008.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PSAK 28 tentang Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 11 Desember 2012. PSAK
28 ini merevisi PSAK 28 tentang Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian yang telah dikeluarkan
pada tanggal 18 Mei 2011. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak
material.

PSAK 34 tentang Kontrak Konstruksi


telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 17 Desember 2010.

PSAK 34 ini merevisi PSAK 34 tentang Akuntansi Kontrak Konstruksi yang telah dikeluarkan pada
tanggal 7 September 1994. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak
material.

PSAK 36 tentang Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 11 Desember 2012.PSAK
36 ini merevisi PSAK 36 tentang Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa yang telah dikeluarkan pada
tanggal 18 Mei 2011.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 29 April 2014.PSAK 48 ini
merevisi PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset yang telah disahkan pada tanggal 22 Desember
2009. Contoh yang disampaikan dalam PSAK 48 ini merupakan contoh-contoh yang diadopsi
dari IAS 36 Impairment of Assets. Penerapan contoh tersebut perlu memperhatikan kesesuaian
dengan praktik di Indonesia.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak
material

PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan:

Penyajian telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 29 April 2014.

PSAK 50 ini merevisi PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan yang
telah disahkan pada tanggal 26 November 2010.

Contoh yang disampaikan dalam PSAK 50 ini merupakan contoh-contoh yang diadopsi dari IAS
32 Financial Instrument: Presentation. Penerapan contoh tersebut perlu memperhatikan
kesesuaian dengan praktik di Indonesia.

Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PSAK 53 tentang Pembayaran Berbasis Saham

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 23 Oktober 2010. PSAK
53 ini merevisi PSAK 53 tentang Akuntansi Kompensasi Berbasis Saham yang telah dikeluarkan
pada tanggal 4 September 1998.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak
material.

PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan:


Pengakuan dan Pengukuran telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada
tanggal 29 April 2014.

PSAK 55 ini merevisi PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran yang
telah disahkan pada 4 Oktober 2011.Contoh yang disampaikan dalam PSAK 55 ini merupakan
contoh-contoh yang diadopsi dari IAS 39 Financial Instruments: Recognition and
Measurement. Penerapan contoh tersebut perlu memperhatikan kesesuaian dengan praktik di
Indonesia.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PSAK 56 tentang Laba Per Saham

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 8 April 2011. PSAK 56 ini
merevisi PSAK 56 tentang Laba Per Saham yang telah dikeluarkan pada tanggal 10 Desember
1999. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan untuk unsur yang tidak material.

PSAK 57 tentang Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi keuangan pada tanggal 15 Desember 2009. PSAK
57 ini merevisi PSAK 57 tentang Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi dan Aset
Kontinjensi yang telah dikeluarkan pada tanggal 3 November 2000. Pernyataan ini tidak wajib
diterapkan untuk unsur yang tidak material.

SAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan

telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 29 April 2014. PSAK 60 ini
merevisi PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan yang disahkan tanggal 26
November 2010. Contoh yang disampaikan dalam PSAK 60 ini merupakan contoh-contoh
yang diadopsi dari IFRS 7 Financial Instruments: Disclosures. Penerapan contoh tersebut perlu
memperhatikan kesesuaian dengan praktik di Indonesia. Pernyataan ini tidak wajib diterapkan
untuk unsur yang tidak material.

PSAK 61 tentang Akuntansi Hibah

Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah telah disahkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan pada tanggal 18 November 2010.Pernyataan ini tidak wajib diterapkan
untuk unsur yang tidak material.
PSAK 62 tentang Kontrak Asuransi telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan
pada tanggal 28 Juni 2011

PSAK 63 tentang Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi telah disahkan Dewan
Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 8 April 2011.

PSAK 64 tentang Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi pada Pertambangan Sumber Daya Mineral
telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 18 Mei 2011.

PSAK 65 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian telah disahkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan pada tanggal 19 Desember 2013.

Contoh yang disampaikan dalam PSAK 65 ini merupakan contoh-contoh yang diadopsi dari IFRS
10 Consolidated Financial Statements. Penerapan contoh tersebut perlu memperhatikan
kesesuaian dengan praktik di Indonesia.

PSAK 66 tentang Pengaturan Bersama telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan
pada tanggal 19 Desember 2013.

Contoh yang disampaikan dalam PSAK 66 ini merupakan contoh-contoh yang diadopsi dari IFRS
11 Joint Arrangements. Penerapan contoh tersebut perlu memperhatikan kesesuaian dengan
praktik di Indonesia.

PSAK 67 tentang Pengungkapan Kepentingan dalam Entitas Lain telah disahkan oleh Dewan
Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 19 Desember 2013.

PSAK 68 tentang Pengukuran Nilai Wajar telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi
Keuangan pada tanggal 19 Desember 2013.

Contoh yang disampaikan dalam PSAK 68 ini merupakan contoh-contoh yang diadopsi dari IFRS
13 Fair Value Measurement. Penerapan contoh tersebut perlu memperhatikan kesesuaian
dengan praktik di Indonesia.

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN 70 : AKUNTANSI ASET DAN LIABILITAS


PENGAMPUNAN PAJAK

PSAK 70 tentang Akuntansi Aset dan Liabilitas Pengampunan Pajak memberikan pengaturan
akuntansi atas aset dan liabilitas yang timbul dari pengampunan pajak. PSAK 70 mengatur
mengenai kebijakan akuntansi dimana entitas dapat memilih menerapkan sesuai dengan SAK
lain dalam mengakui, mengukur, menyajikan dan mengungkapan aset dan liabilitas
pengampunan pajak atau menerapkan persyaratan dalam PSAK 70.
Pernyataan ini berlaku sejak tanggal pengesahan UU Pengampunan Pajak

STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK (SPAP)

A. PENGERTIAN SPAP

Standar Profesional Akuntan Publik (disingkat SPAP) adalah kodifikasi berbagai pernyataan standar teknis
yang merupakan panduan dalam memberikan jasa bagiAkuntan Publik di Indonesia. SPAP dikeluarkan
oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI).

Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) adalah merupakan hasil pengembangan


berkelanjutan standar profesional akuntan publik yang dimulai sejak tahun 1973. Pada tahap
awal perkembangannya, standar ini disusun oleh suatu komite dalam organisasi Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) yang diberi nama Komite Norma Pemeriksaan Akuntan.

Standar yang dihasilkan oleh komite tersebut diberi nama Norma Pemeriksaan Akuntan.
Sebagaimana tercermin dari nama yang diberikan, standar yang dikembangkan pada saat itu
lebih berfokus ke jasa audit atas laporan keuangan historis. Perubahan pesat yang terjadi di
lingkungan bisnis di awal dekade tahun sembilan puluhan kemudian menuntut profesi akuntan
publik untuk meningkatkan mutu jasa audit atas laporan keuangan historis, jasa atestasi, dan
jasa akuntansi dan review. Di samping itu, tuntutan kebutuhan untuk menjadikan organisasi
profesi akuntan publik lebih mandiri dalam mengelola mutu jasa yang dihasilkan bagi
masyarakat juga terus meningkat. Respon profesi akuntan publik terhadap berbagai tuntutan
tersebut diwujudkan dalam dua keputusan penting yang dibuat oleh IAI pada pertengahan
tahun 1994 : (1) perubahan nama dari Komite Norma Pemeriksaan Akuntan ke Dewan Standar
Profesional Akuntan Publik dan (2) perubahan nama standar yang dihasilkan dari Norma
Pemeriksaan Akuntan ke Standar Profesional Akuntan Publik.

SPAP merupakan kodifikasi berbagai pernyataan standar teknis dan aturan etika. Pernyataan
standar teknis yang dikodifikasi dalam buku SPAP ini terdiri dari :

1. Pernyataan Standar Auditing

2. Pernyataan Standar Atestasi

3. Pernyataan Jasa Akuntansi dan Review

4. Pernyataan Jasa Konsultansi

5. Pernyataan Standar Pengendalian Mutu


Sedangkan aturan etika yang dicantumkan dalam SPAP adalah Aturan Etika Kompartemen
Akuntan Publik yang dinyatakan berlaku oleh Kompartemen Akuntan Publik sejak bulan Mei
2000. Standar Auditing Standar auditing merupakan panduan audit atas laporan keuangan
historis. Standar auditing terdiri dari 10 standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar
Auditing (PSA). Dengan demikian, PSA merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing
standar yang tercantum dalam standar auditing. PSA berisi ketentuan-ketentuan dan panduan
utama yang harus diikuti oleh akuntan publik dalam melaksanakan perikatan audit. Termasuk
dalam PSA adalah Interpretasi Pernyataan Standar Auditing (IPSA), yang merupakan interpretasi
resmi yang dikeluarkan oleh Dewan terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh Dewan
dalam PSA. Standar Atestasi Standar atestasi memberikan rerangka untuk fungsi atestasi bagi
jasa akuntan publik yang mencakup tingkat keyakinan tertinggi yang diberikan dalam jasa audit
atas laporan keuangan historis, pemeriksaan atas laporan keuangan prospektif, serta tipe
perikatan atestasi lain yang memberikan keyakinan yang lebih rendah (review, pemeriksaan, dan
prosedur yang disepakati).

Standar atestasi terdiri dari 11 standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Atestasi
(PSAT). PSAT merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing standar yang terdapat dalam
standar atestasi. Termasuk dalam PSAT adalah Interpretasi Pernyataan Standar Atestasi (IPSAT),
yang merupakan interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh Dewan terhadap ketentuan-ketentuan
yang diterbitkan oleh Dewan dalam PSAT.

Standar Jasa Akuntansi dan Review memberikan rerangka untuk fungsi nonatestasi bagi jasa
akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review.Standar jasa akuntansi dan review
dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR). Termasuk di dalam
Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review adalah Interpretasi Pernyataan Standar Jasa
Akuntansi dan Review (IPSAR), yang merupakan interpretasi resmi yang dikeluarkan oleh Dewan
terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh Dewan dalam PSAR.

Standar Jasa Konsultansi memberikan panduan bagi praktisi yang menyediakan jasa konsultansi
bagi kliennya melalui kantor akuntan publik. Jasa konsultansi pada hakikatnya berbeda dari jasa
atestasi akuntan publik terhadap asersi pihak ketiga. Dalam jasa atestasi, para praktisi
menyajikan suatu kesimpulan mengenai keandalan suatu asersi tertulis yang menjadi tanggung
jawab pihak lain, yaitu pembuat asersi (asserter). Dalam jasa konsultansi, para praktisi
menyajikan temuan, kesimpulan, dan rekomendasi. Sifat dan lingkup pekerjaan jasa konsultansi
ditentukan oleh perjanjian antara praktisi dengan kliennya. Umumnya, pekerjaan jasa
konsultansi dilaksanakan untuk kepentingan klien. Standar Pengendalian Mutu Standar
pengendalian mutu memberikan panduan bagi kantor akuntan publik di dalam melaksanakan
pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh kantornya dengan mematuhi berbagai standar
yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik dan Aturan Etika
Kompartemen Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Kompartemen Akuntan Publik, Ikatan
Akuntan Indonesia.

Dalam perikatan jasa profesional, kantor akuntan publik bertanggung jawab untuk mematuhi
berbagai standar relevan yang telah diterbitkan oleh Dewan dan Kompartemen Akuntan
Publik. Dalam pemenuhan tanggung jawab tersebut, kantor akuntan publik wajib
mempertimbangkan integritas stafnya dalam menentukan hubungan profesionalnya; bahwa
kantor akuntan publik dan para stafnya akan independen terhadap kliennya sebagaimana diatur
oleh Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik dan bahwa staf kantor akuntan publik
kompeten, profesional, dan objektif serta akan menggunakan kemahiran profesionalnya dengan
cermat dan seksama (due profesional care). Oleh karena itu, kantor akuntan publik harus
memiliki sistim pengendalian mutu untuk memberikan keyakinan memadai tentang kesesuaian
perikatan profesionalnya dengan berbagai standar dan aturan relevan yang berlaku.

Standar auditing merupakan suatu panduan audit atas laporan keuangan historis. Didalamnya
terdapat 10 standar yang secara rinci dalam bentuk pernyataan standar auditing (PSA). PSA ini
berisi tentang ketentuan-ketentuan dan panduan utama yang harus diikuti oleh akuntan publik
dalam melaksanakan perikatan audit. Audit atas laporan keuangan historis merupakan jasa
tradisional yang disediakan oleh profesi akuntan publik kepada masyarakat. Seperti yang telah
dipaparkan sebelumnya bahwa didalam standar auditing ini terdapat 10 standar auditing yang
terbagi menjadi standar umum, standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan.Standar
auditing berbeda dengan prosedur auditing yang mana berkaitan dengan tindakan yang harus
dilaksanakan, sedangkan standar berkaitan dengan suatu kriteria ukuran mutu kinerja tindakan
tersebut. Berikut akan dipaparkan tentang standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia.

1. Standar Umum

Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis
yang cukup sebagai auditor. Dalam melaksanakan audit untuk sampai pada suatu pernyataan
pendapat, auditor harus senatiasa bertindak sebagai seorang ahli dalam bidang akuntansi dan
bidang auditing. Setiap auditor independen yang menjadi penanggungjawab suatu perikatan
harus menilai dengan baik kedua persyaratan tentang pendidikan formal auditor independen
dan pengalaman profesioanl di dalam menentukan luasnya supervisi dan review terhadap hasil
kerja para asistennya.

Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus
dipertahankan oleh auditor. Standar ini mengharuskan auditor bersikap independen dimana
tidak mudah dipengaruhi oleh karena dalam melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan
umum. Dengan begitu tidak ada istilahnya memihak kepada kepentingan pihak-pihak tertentu.
Auditor mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik
perusahaan namun juga kepada kreditur dan pihak-pihak lain yang meletakkan kepercayaan
atas laporan auditor independen. Kepercayaan masyarakat umum dirasa sangat penting
mengingat jika kepercayaan masyarakat menurun maka ada indikasi pemikiran tentang
ketidakindependensi auditor tersebut. Untuk diakui oleh pihak lain sebagai orang yang
indipenden maka ia harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai
suatu kepentingan dengan kliennya. Untuk menekankan independensi auditor dari manajemen
maka penunjukan auditor di banyak perusahaan dilaksanakan oleh dewan komisaris, rapat
umum pemegang saham atau komite audit.

Dalam melaksanaan aufit dan penyusunan laporannya, auditor wajib mengggunakan kemahiran
profesionalnya dengan cermat dan seksama. Penggunaan kemahiran profesioanl dengan cemat
dan seksama menyangkut apa yang dikerjakan auditor dan bagaimana kesempurnaan pekerjaan
tersebut. Seorang auditor harus memiliki tingkat ketrampilan yang umumnya dimilik oleh
auditor pada umumnya dan harus menggunakan ketrampilan tersebut dengan kecermatan dan
keseksamaan wajar. Hal ini menuntut auditor untuk melaksanakan skeptisme profesional
dimana sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi
secar kritis bukti audit.

2. Standar Pekerjaan Lapangan

Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya”. Sebelum menerima perikatan auditor harus yakin apakah kondisi dimana
perikatan pada saat mendekati atau setelah tanggal neraca dapat memungkinkan auditor untuk
melaksanakan audit secara memadai dan memberi pendapat wajar tanpa pengecualian. Jika
kondisi tersebut tidak memungkinkan auditor untuk melakukan audit secar memadai dan untuk
memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian maka ia harus membahas dengan klien
tentang kemungkinan dalam memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau tidak
memberikan pendapat.

Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan
menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan”. Pengendalian interen
adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personel lain
entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan
tujuan yang terbagi menjadi keandalan pelaporan keuanagn, eektivitas dan efisiensi operasi,
dan kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan
keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan yang diaudit. Bukti audit sangat bervarisasi pengaruhnya terhadap
kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan pendapat atas
laporan keuangan auditan. Relevansi, objektivitas, ketepatan waktu, dan keberadaan bukti audit
lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadap kompetensi bukti. Audit
yang dilakukan oleh auditor independen bertujuan untuk memperoleh bukti audit kompeten
yang cukup untuk dipakai sebagai dasar memadai dalam merumuskan pendapatnya. Auditor
independen lebih mengandalkan buktu yang bersifat mengarahkan daripada bukti yang bersifat
meyakinkan.

3. Standar Pelaporan

Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Istilah prisnsip akuntansi yang berlaku
umum adalah padanan kata dari frasa generally accepted accounting principle dimana suatu
istilah teknis akuntansi yang mencakup konvensi, aturan, dan prosedur yang diperlukan untuk
membatasi praktik akuntansi yang berlaku umum di wilayah tertentu pada saat tertentu. Untuk
laporan keuangan yang didistribusikan kepada umum di Indonesia harus disusun sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan jika ada ketidakkonsistenan penerapan
prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan perode berjalan dibandingkan dengan
penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. Tujuan standar konsistensi
adalah untuk memeberikan jaminan bahwa jika daya banding laporan keuangan diantara dua
periode dipengaruhi secara material oleh perubahan prinsip akuntansi maka auditor akan
mengungkapakn perubahan tersebut dalam laporannya. Perubahan dalam prinsip akuntansi
yang mempunyai pengaruh material atas laporan keuangan memerlukan penjelasan dalam,
laporan auditor independen dengan cara menambahkan paragraf penjelas yang disajikan
setelah paragraf pendapat.

Pengungkapan infomatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali


dinyatakan lain dalam lapran auditor”. Auditor harus memeprtimbangkan apakah masih
terdapat hal-hal tertentu yang harus diungkapkan sehubungan dengan keadaan dan fakta yang
diketahui pada saat audit. Bila majemen menghilangkan dari laporan keuangan, informasi yang
seharusnya diungkapkan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
termasuk catatan atas laporan keuangan, auditor harus memberikan pendapat wajardengan
pengecualian atau pendapat tidakl wajar karena alasan tersebut dan harus memberikan
informasi yang cukup dalam laporannya.

Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara
keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat
secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama
auditor dikaitkan dengan laporan keuangan maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang
jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada dan tingkat tanggungjawab
yang dipikul oleh auditor.

B. PERKEMBANGAN STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK

Tahun 1972, pertama kalinya ikatan Akuntan Indonesia berhasil menerbitkan


Norma Pemeriksaan Akuntan, yang disahkan dalam Kongres ke III Ikatan Akuntan Indonesia.
Norma Pemeriksaan Akuntan tersebut mencakup tanggung jawab akuntan publik, unsur-unsur
norma pemeriksaan akuntan yang antara lain meliputi: pengkajian dan penilaian pengendalian
intern, bahan pembuktian dan penjelasan informatif, serta pembahasan mengenai peristiwa
kemudian, laporan khusus dari berkas pemeriksaan. Pada Kongres IV Ikatan Akuntan Indonesia
tanggal 25-26 Oktober 1982, Komisi Norma Pemeriksaan Akuntan mengusulkan agar segera
dilakukan penyempurnaan atas buku Norma Pemeriksaan Akuntan yang lama, dan
melengkapinya dengan serangkaian suplemen yang merupakan penjabaran lebih lanjut norma
tersebut. Untuk melaksanakan tugas tersebut, telah dibentuk Komite Norma Pemeriksaan
Akuntan yang baru untuk periode kepengurusan 1982-1986, yang anggotanya berasal dari
unsur-unsur akuntan pendidik, akuntan publik dan akuntan pemerintah. Komite ini telah
menyelesaikan konsep Norma Pemeriksaan Akuntan yang disempurnakan pada tanggal 11
Maret 1984. Pada tanggal 19 April 1986, Norma Pemeriksaan Akuntan yang telah diteliti dan
disempurnakan oleh Tim Pengesahan, disahkan oleh Pengurus Pusat Ikatan Akuntan Indonesia
sebagai norma pemeriksaan yang berlaku efektif selambat-lambatnya untuk penugasan
pemeriksaan atas laporan keuangan yang diterima setelah tanggal 31 Desember 1986. Tahun
1992, Ikatan Akuntan Indonesia menerbitkan Norma Pemeriksaan Akuntan, Edisi revisi yang
memasukkan suplemen No.1 sampai dengan No.12 dan interpretasi No.1 sampai dengan
Nomor.2. Dalam Kongres ke VII Ikatan Akuntan Indonesia tahun 1994, disahkan Standar
Profesional Akuntan Publik yang secara garis besar berisi:

1. Uraian mengenai standar profesional akuntan publik.

2. Berbagai pernyataan standar auditing yang telah diklasifikasikan.

3. Berbagai pernyataan standar atestasi yang telah diklasifikasikan.

4. Pernyataan jasa akuntansi dan review.

5. Pertengahan tahun 1999 Ikatan Akuntan Indonesia merubah nama Komite Norma

Pemeriksaan Akuntan menjadi Dewan Standar Profesional Akuntan Publik. Selama tahun 1999
Dewan melakukan perubahan atas Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus 1994 dan
menerbitkannya dalam buku yang diberi judul “Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Januari
2001”. Standar Profesional Akuntan Publik per 1 Januari 2001 terdiri dari lima standar, yaitu:

1. Pernyataan Standar Auditing (PSA) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan Standar
Auditing (IPSA).

2. Pernyataan Standar Atestasi (PSAT) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan


Standar Atestasi (IPSAT).

3. Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (PSAR) yang dilengkapi dengan Interpretasi
Pernyataan Standar Jasa Akuntansi dan Review (IPSAR).

4. Pernyataan Standar Jasa Konsultasi (PSJK) yang dilengkapi dengan Interpretasi Pernyataan
Standar Jasa Konsultasi (IPSJK).

5. Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (PSPM) yang dilengkapi dengan Interpretasi


Pernyataan Standar Pengendalian Mutu (IPSM). Selain kelima standar tersebut masih dilengkapi
dengan Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik yang merupakan aturan normal yang wajib
dipenuhi oleh akuntan publik.

C. TIPE STANDAR PROFESIONAL

1. Standar Auditing

Standar Auditing adalah sepuluh standar yang ditetapkan dan disahkan oleh Institut Akuntan Publik
Indonesia (IAPI), yang terdiri dari standar umum, standar pekerjaan lapangan, dan standar pelaporan
beserta interpretasinya. Standar auditing merupakan pedoman audit atas laporan keuangan historis.
Standar auditing terdiri atas sepuluh standar dan dirinci dalam bentuk Pernyataan Standar
Auditing (PSA). Dengan demikian PSA merupakan penjabaran lebih lanjut masing-masing standar
yang tercantum di dalam standar auditing. Di Amerika Serikat, standar auditing semacam ini
disebut Generally Accepted Auditing Standards (GAAS) yang dikeluarkan oleh the American
Institute of Certified Public Accountants (AICPA).

A. PERNYATAAN STANDAR AUDITING (PSA)

PSA merupakan penjabaran lebih lanjut dari masing-masing standar yang tercantum didalam
standar auditing. PSA berisi ketentuan-ketentuan dan pedoman utama yang harus diikuti
oleh Akuntan Publik dalam melaksanakan penugasan audit. Kepatuhan terhadap PSA yang
diterbitkan oleh IAPI ini bersifat wajib bagi seluruh anggota IAPI. Termasuk didalam PSA adalah
Interpretasi Pernyataan Standar Auditng (IPSA), yang merupakan interpretasi resmi yang
dikeluarkan oleh IAPI terhadap ketentuan-ketentuan yang diterbitkan oleh IAPI dalam PSA.
Dengan demikian, IPSA memberikan jawaban atas pernyataan atau keraguan dalam penafsiran
ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam PSA sehingga merupakan perlausan lebih lanjut
berbagai ketentuan dalam PSA. Tafsiran resmi ini bersifat mengikat bagi seluruh anggota IAPI,
sehingga pelaksanaannya bersifat wajib.

B. STANDAR UMUM

1) Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan
teknis yang cukup sebagai auditor.

2) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental
harus dipertahankan oleh auditor.

3) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan


kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

C. STANDAR PEKERJAAN LAPANGAN

1) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya.

2) Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh unutk merencanakan


audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.

3) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat
atas laporan keungan yang diaudit.

D. STANDAR PELAPORAN

1) Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

2) Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan


penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan
dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.

3) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali


dinyatakan lain dalam laporan auditor.
4) Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan
secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika
pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam
hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat
petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat
tanggung jawab yang dipikul oleh auditor

2. Standar Atestasi

Atestasi (attestation) adalah suatu pernyataan pendapat atau pertimbangan yang diberikan oleh
seorang yang independen dan kompeten yang menyatakan apakah asersi (assertion) suatu
entitas telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Asersi adalah suatu pernyataan yang
dibuat oleh satu pihak yang dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain, contoh asersi dalam
laporan keuangan historis adalah adanya pernyataan manajemen bahwa laporan keuangan
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Standar atestasi membagi tiga tipe perikatan atestasi (1) pemeriksaan (examination), (2) review,
dan (3) prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures).

a. Standar umum

1) Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki keahlian dan
pelatihan teknis cukup dalam fungsi atestasi

2) Perikatan harus dilaksanakan oleh seorang praktisi atau lebih yang memiliki pengetahuan
cukup dalam bidang yang bersangkutan dengan asersi

3) Praktisi harus melaksanakan perikatan hanya jika ia memiliki alasan untuk meyakinkan
dirinya bahwa kedua kondisi berikut ini ada:
Asersi dapat dinilai dengan kritera rasional, baik yang telah ditetapkan oleh badan yang diakui
atau yang dinyatakan dalam penyajian asersi tersebut dengan cara cukup jelas dan
komprehensif bagi pembaca yang diketahui mampu memahaminya. Asersi tersebut dapat
diestimasi atau diukur secara konsisten dan rasional dengan menggunakan kriteria tersebut.

4) Dalam semua hal yang bersangkutan dengan perikatan, sikap mental independen harus
dipertahankan oleh praktisi

5) Kemahiran profesional harus selalu digunakan oleh praktisi dalam melaksanakan


perikatan, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pelaksanaan perikatan tersebut

b. Standar pekerjaan lapangan


1) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi
dengan semestinya

2) Bukti yang cukup harus diperoleh untuk memberikan dasar rasional bagi simpulan yang
dinyatakan dalam laporan

c. Standar pelaporan

1) Laporan harus menyebutkan asersi yang dilaporkan dan menyatakan sifat perikatan
atestasi yang bersangkutan

2) Laporan harus menyatakan simpulan praktisi mengenai apakah asersi disajikan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan atau kriteria yang dinyatakan dipakai sebagai alat
pengukur

3) Laporan harus menyatakan semua keberatan praktisi yang signifikan tentang perikatan dan
penyajian asersi

4) Laporan suatu perikatan untuk mengevaluasi suatu asersi yang disusun berdasarkan
kriteria yang disepakati atau berdasarkan suatu perikatan untuk melaksanakan prosedur yang
disepakati harus berisi suatu pernyataan tentang keterbatasan pemakaian laporan hanya oleh
pihak-pihak yang menyepakati kriteria atau prosedur tersebut

3. Standar Jasa Akuntansi dan Review

Standar jasa akuntansi dan review memberikan rerangka untuk fungsi non-atestasi bagi
jasa akuntan publik yang mencakup jasa akuntansi dan review. Sifat pekerjaan non-atestasi tidak
menyatakan pendapat, hal ini sangat berbeda dengan tujuan audit atas laporan keuangan yang
dilaksanakan sesuai dengan standar auditing. Tujuan audit adalah untuk memberikan dasar
memadai untuk menyatakan suatu pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan,
sedangkan dalam pekerjaan non-atestasi tidak dapat dijadikan dasar untuk
menyatakan pendapat akuntan.

Jasa akuntansi yang diatur dalam standar ini antara lain:

a. Kompilasi laporan keuangan – penyajian informasi-informasi yang merupakan pernyataan


manajemen (pemilik) dalam bentuk laporan keuangan

b. Review atas laporan keuangan - pelaksanaan prosedur permintaan keterangan dan analisis
yang menghasilkan dasar memadai bagi akuntan untuk memberikan keyakinan terbatas, bahwa
tidak terdapat modifikasi material yagn harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan
tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia
c. Laporan keuangan komparatif – penyajian informasi dalam bentuk laporan keuangan dua
periode atau lebih yang disajikan dalam bentuk berkolom.

4. Standar Jasa Konsultansi

Standar Jasa Konsultansi merupakan panduan bagi praktisi (akuntan publik) yang menyediakan
jasa konsultansi bagi kliennya melalui kantor akuntan publik. Dalam jasa konsultansi, para
praktisi menyajikan temuan, kesimpulan dan rekomendasi. Sifat dan lingkup pekerjaan jasa
konsultansi ditentukan oleh perjanjian antara praktisi dengan kliennya. Umumnya, pekerjaan
jasa konsultansi dilaksanakan untuk kepentingan klien.

Jasa konsultansi dapat berupa:

a. Konsultasi (consultation) – memberikan konsultasi atau saran (profesional advise)


berdasarkan pada kesepakatan bersama dengan klien.

Contoh jenis jasa ini adalah review dan komentar terhadap rencana bisnis buatan klien

b. Jasa pemberian saran profesional (advisory services) - mengembangkan temuan,


kesimpulan, dan rekomendasi untuk dipertimbangkan dan diputuskan oleh klien.

Contoh jenis jasa ini adalah pemberian bantuan dalam proses perencanaan strategik

c. Jasa implementasi - mewujudkan rencana kegiatan menjadi kenyataan.

Sumber daya dan personel klien digabung dengan sumber daya dan personel praktisi untuk
mencapai tujuan implementasi. Contoh jenis jasa ini adalah penyediaan jasa instalasi sistem
komputer dan jasa pendukung yang berkaitan.

d. Jasa transaksi - menyediakan jasa yang berhubungan dengan beberapa transaksi khusus
klien yang umumnya dengan pihak ketiga.

Contoh jenis jasa adalah jasa pengurusan kepailitan.

e. Jasa penyediaan staf dan jasa pendukung lainnya - menyediakan staf yang memadai
(dalam hal kompetensi dan jumlah) dan kemungkinan jasa pendukung lain untuk melaksanakan
tugas yang ditentukan oleh klien. Staf tersebut akan bekerja di bawah pengarahan klien
sepanjang keadaan mengharuskan demikian.

Contoh jenis jasa ini adalah menajemen fasilitas pemrosesan data

f. Jasa produk - menyediakan bagi klien suatu produk dan jasa profesional sebagai
pendukung atas instalasi, penggunaan, atau pemeliharaan produk tertentu.
Contoh jenis jasa ini adalah penjualan dan penyerahan paket program pelatihan, penjualan dan
implementasi perangkat lunak komputer

5. Standar Pengendalian Mutu

Standar Pengendalian Mutu Kantor Akuntan Publik (KAP) memberikan panduan bagi kantor
akuntan publik di dalam melaksanakan pengendalian kualitas jasa yang dihasilkan oleh
kantornya dengan mematuhi berbagai standar yang diterbitkan oleh Dewan Standar Profesional
Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI) dan Aturan Etika Kompartemen
Akuntan Publik yang diterbitkan oleh IAPI.

Unsur-unsur pengendalian mutu yang harus harus diterapkan oleh setiap KAP pada semua jenis
jasa audit, atestasi dan konsultansi meliputi:

a. Independensi – meyakinkan semua personel pada setiap tingkat organisasi harus


mempertahankan independensi

b. Penugasan personel – meyakinkan bahwa perikatan akan dilaksanakan oleh


staf profesional yang memiliki tingkat pelatihan dan keahlian teknis untuk perikatan dimaksud

c. Konsultasi – meyakinkan bahwa personel akan memperoleh informasi memadai sesuai


yang dibutuhkan dari orang yang memiliki tingkat pengetahuan, kompetensi, pertimbangan
(judgement), dan wewenang memadai

d. Supervisi – meyakinkan bahwa pelaksanaan perikatan memenuhi standar mutu yang


ditetapkan oleh KAP

e. Pemekerjaan (hiring) – meyakinkan bahwa semua orang yang dipekerjakan memiliki


karakteristik semestinya, sehingga memungkinkan mereka melakukan penugasan
secara kompeten

f. Pengembangan profesional – meyakinkan bahwa setiap personel memiliki pengetahuan


memadai sehingga memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawabnya. Pendidikan
profesional berkelanjutan dan pelatihan merupakan wahana bagi KAP untuk memberikan
pengetahuan memadai bagi personelnya untuk memenuhi tanggung jawab mereka dan untuk
kemajuan karier mereka di KAP

g. Promosi (advancement) – meyakinkan bahwa semua personel yang terseleksi untuk


promosi memiliki kualifikasi seperti yang disyaratkan untuk tingkat tanggung jawab yang lebih
tinggi.

h. Penerimaan dan keberlanjutan klien – menentukan apakah perikatan dari klien akan
diterima atau dilanjutkan untuk meminimumkan kemungkinan terjadinya hubungan dengan
klien yang manajemennya tidak memiliki integritas berdasarkan pada prinsip pertimbangan
kehati-hatian (prudence).

i. Inspeksi – meyakinkan bahwa prosedur yang berhubungan dengan unsur-unsur lain


pengendalian mutu telah diterapkan dengan efektif

D. KODE ETIK/KOMITMEN PROFESI AKUNTAN PUBLIK

Sehubungan dengan perkembangan yang terjadi dalam tatanan global dan tuntutan
transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar atas penyajian Laporan Keuangan, IAPI merasa
adanya suatu kebutuhan untuk melakukan percepatan atas proses pengembangan dan
pemutakhiran standar profesi yang ada melalui penyerapan Standar Profesi International.
Sebagai langkah awal IAPI telah menetapkan dan menerbitkan Kode Etik Profesi Akuntan Publik,
yang berlaku efektif tanggal 1 Januari 2010. Untuk Standar Profesional Akuntan Publik, Dewan
Standar Profesi sedang dalam proses “adoption” terhadap International Standar on Auditing
yang direncanakan akan selesai di tahun 2010, berlaku efektif 2011.

Kode Etik Profesi Akuntan Publik yang baru saja diterbitkan oleh IAPI menyebutkan 5 prinsip-
prinsip dasar etika profesi, yaitu:

1. Prinsip Integritas

Prinsip integritas mewajibkan setiap praktisi untuk tegas, jujur, dan adil dalam hubungan
profesional dan hubungan bisnisnya.

Praktisi tidak boleh terkait dengan laporan, komunikais atau informasi lainnya yang diyakininya
terdapat :

a) Kesalahan material atau pernyataan yang menyesatkan;

b) Pernyataan atau informasi yang diberikan secara tidak hati-hati; atau

c) Penghilangan atau penyembunyian yang dapat menyesatkan atas informasi yang


seharusnya diungkapkan.

2. Prinsip Objektivitas

Prinsip objektivitas mengharuskan praktisi untuk tidak membiarkan subjektivitas, benturan


kepentingan atau pengaruh yang tidak layak dari pihak-pihak lain memengaruhi pertimbangan
profesional atau pertimbangan bisnisnya. Praktisi mungkin dihadapkan pada situasi yang dapat
mengurangi objektivitasnya. Karena beragam situasi tersebut, tidak mungkin untuk
mendefinisikan setiap situasi tersebut. setiap praktisi harus menghindari setiap hubungan yang
bersifat subjektif atau yang dapat mengakibatkan pengaruh yang tidak layak terhadap
pertimbangan profesionalnya.

3. Prinsip Kompetensi serta Sikap Kecermatan dan Kehati-hatian Profesional

Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mewajibkan setiap
praktisi untuk :

a) Memelihara pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk menjamin


pemberian jasa profesional yang kompeten kepada klien atau pemberi kerja; dan

b) Menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama sesuai dengan standar profesi


dan kode etik profesi yang berlaku dalam memberikan jasa profesionalnya.

Pemberian jasa profesional yang kompeten membutuhkan pertimbangan yang cermat dalam
menerapkan pengetahuan dan keahlian profesional. Kompetensi profesional dapat dibagi
menjadi dua tahap yang terpisah sebagai berikut :

a) Pencapaian kompetensi profesional; dan

b) Pemeliharaan kompetensi profesional

Pemeliharaan kompetensi profesional membutuhkan kesadaran pemahaman yang


berkelanjutan terhdap perkembangan teknis profesi dan perkembangan bisnis yang relevan.
Pengembangan dan pendidikan profesional yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk
meningkatkan dan memelihara kemampuan Praktisi agar dapat melaksanakan pekerjaannya
secara kompeten dalam lingkungan profesional.

Sikap kecermatan dan kehati-hatian profesional mengharuskan setiap praktisi untuk bersikap
dan bertindak secara hati-hati, menyeluruh dan tepat waktu sesuai dengan persyaratan
penugasan.

Setiap praktisi harus memastikan tersedianya pelatihan dan penyeliaan yang tepat bagi mereka
yang bekerja di bawah wewenangnya dalam kapasitas profesional.

Praktisi harus menjelaskan keterbatasan jasa profesional yang diberikan kepada klien, pemberi
kerja, atau pengguna jasa profesional lainnya untuk menghindari terjadinya kesalahtafsiran atas
pernyataan pendapat yang terkait dengan jasa profesional yang diberikan.

4. Prinsip Kerahasiaanan

Prinsip kerahasiaan mewajibkan setiap praktisi untuk tidak melakukan tindakan-tindakan


sebagai berikut :
a. Mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh dari hubungan profesional
dan hubungan bisnis kepada pihak di luar KAP atau jaringan KAP tempatnya bekerja tanpat
adanya wewenang khusus, kecuali jika terdapat kewajiban untuk mengungkapkannya sesuai
dengan ketentuan hukum atau peraturan lainnya yang berlaku; dan

b. Menggunakan informasi yang bersifat rahasian yang diperoleh dari hubungan profesional
dan hubungan bisnis untuk keuntungan pribadi atau pihak ketiga.

Setiap praktisi harus tetap menjaga prinsip kerahasiaan, termasuk dalam lingkungan sosialnya.
Setiap praktisi harus waspada terhadap kemungkinan pengungkapan yang tidak disengaja,
terutama dalam situasi yang melibatkan hubungan jangka panjang dengan rekan bisnis maupun
anggota keluarga langsung atau anggota keluarga dekatnya.

Setiap praktisi harus menjaga kerahasiaan informasi yang diungkapkan oleh calon klien
atau pemberi kerja harus mempertimbangkan pentingnya kerahasiaan informasi terjaga dalam
KAP atau jaringan KAP tempatnya bekerja.

Setiap praktisi harus menerapkan semua prosedur yang dianggap perlu untuk memastikan
terlaksananya prinsip kerahasiaan oleh mereka yang bekerja di bawah wewenangnya, serta
pihak lain yang memberkan saran dan bantuan profesionalnya.

Kebutuhan untuk mematuhi prinsip kerahasiaan terus berlanjut, bahkan setelah berakhirnya
hubungan antara praktisi dengan klien atau pemberi kerja. Ketika berpindah kerja atau
memperoleh klien baru, praktisi berhak untuk menggunakan pengalaman yang diperolehnya
sebelumnya. Namun demikian, praktisi tetap tidak boleh menggunakan atau mengungkapkan
setiap informasi yang bersifat rahasia yang diperoleh sebelumnya dari hubungan profesional
atau hubungan bisnis.

Situasi-situasi yang mungkin mengharuskan praktisi untuk mengungkapkan informasi yang


bersifat rahasia atau ketika pengungkapan tersebut dianggap tepat :

a. Pengungkapan yang diperbolehkan oleh hukum dan disetujui oleh klien atau pemberi
kerja;

b. Pengungkapan yang diharuskan oleh hukum, sebagai contoh :

(i) Pengungkapan dokumen atau bukti lainnya dalam sidang pengadilan; atau

(ii) Pengungkapan kepada otoritas publik yang tepat mengenai suatu pelanggaran hukum;
dan

c. Pengungkapan yang terkait dengan kewajiban profesional untuk mengungkapan, selama


tidak dilarang oleh ketentuan hukum :
(i) Dalam mematuhi pelaksanaan penelaahan mutu yang dilakukan oleh organisasi profesi
atau regulator;

(ii) Dalam menjawab pertanyaan atau investigasi yang dilakukan oleh organisasi profesi atau
regulator;

(iii) Dalam melindungi kepentingan profesional praktisi dalam sidang pengadilan; atau

(iv) Dalam mematuhi standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku.

Dalam memutuskan untuk mengungkapkan informasi yang bersifat rahasia, setiap praktisi harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

a) Dirugikan tidaknya kepentingan semua pihak, termasuk pihak ketiga, jika klien atau
pemberi kerja mengizinkan pengungkapan informasi oleh praktisi;

b) Diketahui tidaknya dan didukung tidaknya semua informasi yang relevan. Ketika fakta atau
kesimpulan tidak didukung bukti, atau ketika informasi tidak lengkap, pertimbangan profesional
harus digunakan untuk menentukan jenis pengungkapan yang harus dilakukan; dan

c) Jenis komunikasi yang diharapkan dan pihak yang dituju. Setiap praktisi harus memastikan
tepat tidaknya pihak yang dituju dalam komunikasi tersebut.

5. Prinsip Perilaku Profesional

Prinsip perilaku profesional mewajibkan setiap praktisi untuk mematuhi setiap ketentuan
hukum dan peraturan yang berlaku, serta menghindari setiap tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi. Hal ini mencakup setiap tindakan yang dapat mengakibatkan
terciptanya kesimpulan yang negatif oleh pihak ketiga yang rasional dan memiliki pengetahuan
mengenai semua informasi yang relevan, yang dapat menurunkan reputasi profesi.

Dalam memasarkan dan mempromosikan diri dan pekerjaannya, setiap praktisi tidak boleh
merendahkan martabat profesi. Setiap praktisi harus bersikap jujur dan tidak boleh bersikap
atau melakukan tindakan :

a) Membuat pernyataan yang berlebihan mengenai jasa profesional yang dapat diberikan,
kualifikasi yang dimiliki atau pengalaman yang telah diperoleh

b) Membuat pernyataan yang merendahkan atau melakukan perbandingan yang tidak


didukung bukti terhadap hasil perkerjaan praktisi lain.