Anda di halaman 1dari 71

Bunga Rampai Hukum Administrasi

Tentang Tindakan Pemerintah

Diterbitkan Oleh
R.A.De.Rozarie
(Anggota Ikatan Penerbit Indonesia)
Jl. Ikan Lumba-Lumba Nomor 40 Surabaya, 60177
Jawa Timur – Negara Kesatuan Republik Indonesia
www.derozarie.co.id – a_los_tesalonicenses@yahoo.com
Bunga Rampai Hukum Administrasi
Tentang Tindakan Pemerintah
© Januari 2019

Eklektikus: Dr. Slamet Suhartono, S.H., M.H.


Syofyan Hadi, S.H., M.H.
Astria Yuli Satyarini Sukendar
Editor: Kristoforus Laga Kleden
Master Desain Tata Letak: Frega Anggaraya Purba

Angka Standar Buku Internasional: 978-602-1176-45-0


Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Katalog Dalam Terbitan

Sebagian atau seluruh isi buku ini dilarang digunakan atau


direproduksi dengan tujuan komersial dalam bentuk apapun tanpa
izin tertulis dari R.A.De.Rozarie kecuali dalam hal penukilan untuk
keperluan artikel atau karangan ilmiah dengan menyebutkan judul
dan penerbit buku ini secara lengkap sebagai sumber referensi.
Terima kasih

PENERBIT PERTAMA DENGAN KODE BATANG UNIK


DAFTAR ISI

Bab I
Konsep Tindakan Pemerintah 1
Bab II
Macam-Macam Perbuatan Pemerintah 9
Bab III
Dasar Pemerintah Melakukan Tindakan 21
Bab IV
Keabsahan Tindakan Pemerintah 34
Bab V
Pengujian Tindakan Pemerintah 54

i
BAB I
KONSEP TINDAKAN PEMERINTAH
M. Andhika Naufal, Irvan Hidayatulloh, Setia Sekarwati,
Mega Puspa Kusumojati, Aditya Kevin, Novan Armansyah

A. Konsep Tindakan Pemerintah


1. Mengapa Pemerintah Melakukan Tindakan?
Dilihat dari mengapa pemerintah melakukan tindakan.
Pemerintah hanya melakukan tindakanya jika itu telah diatur oleh
undang-undang yang dibuat oleh parlemen atau diperintah oleh
undang-undang yang juga dibuat oleh parlemen, baik itu undang-
undang pada zaman positivisme sampai zaman parlementer, maka
dari itu kewenangan dari pemerintah ini dalam melakukan suatu
tindakan sangatlah terbatas.
Jadi secara hakekat pemerintah tidak leluasa dalam
melakukan tindakan jika itu belum di perundang-undang. Tindakan
pemerintah ini nyatanya juga memiliki fungsi yaitu:
 Pemerintah wajib menciptakaan kesejahteraan bagi masyarakat-
nya
 Konsep pemerintah sebagai bestuuren atau sturen
 Pemerintah yang tindakannya berkelanjutan ke tindakan tindakan
yang melaksanakan tugas pemerintahan.
Organ administrasi negara adalah setiap orang atau badan
yang memiliki kekuasaan Publik tertentu. Yang tidak termasuk begrip
organ administrasi negara: kekuasaan pembuatan undang-undang,
BPK, Kehakiman. Recht handelingen yakni tindakan hukum dan
feitelijke handelingen yakni tindakan nyata/perbuatan yang bukan
perbuatan hukum (menurut E. Utrecht)/tindakan pemerintah yang
berdasarkan fakta (menurut Kuntjoro Purbopranoto)/tindakan yang
bukan tindakan hukum (menurut Djenal Hoesen Koesoemahatmad-
ja).

1
Contoh:
Masyarakat yang
ingin memperoleh izin

Peternakan ayam

Izin (meliputi SKPL,


SIUPH)

Kontrol

Bila melanggar
perzinan

Sanksi

Gugatan

Ada pula fungsi fungsi lainnya dari tindakan pemerintah yaitu


fungsi pelayanan dibagi menjadi dua fungsi lagi sebagai berikut:
1. fungsi pelayanan jasa, misalnya pelayanan jasa pos dan
telekomunikasi, pelayanan listrik dan penyediaan air minum,
pelayanan jasa angkutan kereta api, pelayanan jasa angkutan laut
(PELNI), dtsb.
2. fungsi pelayanan pemerintahan, misalnya pengukuran tanah oleh
Badan pertanahan, atau pihak kelurahan mewajibkan bagi setiap
warga yang membuat KTP untuk membuat Pas foto (wajib foto),
dtsb.

2
Fungsi pembangunan adalah kekeuasaan ini sesuai dengan
tujuan diberikannya maka diperlakukan norma-norma pengatur dan
pengarah dalam menyelenggarakan pembangunann
Fungsi pemberdayaan adalah untuk menjebatani konflik
dalam masyarakat. tujuan, untuk memanimalkan konflik sehingga
menjamin ketertiban dan stabilitas di masyarakat.
Fungsi pengaturan adalah tindakan pemerintah bersifat
umum termasuk perundang-undangtan tidak merupakan bagian dari
perbuatan kepeutusan (beschikiking) tetapi termasuk perbuatan di
bidang peraturan.
2. Pengertian Tindakan Pemerintah
Pasal 1 angka 8 UU No. 30/2014:
Tindakan Administrasi Pemerintahan yang disebut Tindakan,
adalah perbuatan Pejabat Pemerintahan atau penyelenggara negara
lainnya untuk melakukan dan/atau tidak melakukan perbuatan
konkret dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan
Istilah tindakan atau perbuatan pemerintrah itu diambil dari
kata “tindak” atau “berbuat” (handeling). Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia, kata tindakan atau perbuatan dimaksudkan sebagai suatu
bentuk perilaku kegiatan yang oleh seseorang atau badan yang
membawa pada akibat tertentu. Dan tugas pemerintah sendiri adalah
memberikan pelayanan publik, pelayanan barang, pelayanan jasa
dan pelayanan administrasi kepada seluruh masyarakat,
Pengertian pemerintahan dibedakan menjadi dua, yaitu,
pertama, pemerintahan dalam arti luas, yaitu pemerintahan yang
terdiri dari tiga kekuasaan yang masing-masing terpisah satu sama
lain. ketiga kekuasaan itu adalah kekuasaan legislatif, kekuasaan
eksekutif dan kekuasaan yudikatif, pemerintahan kekuasaan itu
berdasarkan teori trias politica dari Montesquieu. kedua,
pemerintahan dalam arti sempit ialah badan pelaksana kegiatan
eksekutif saja tidak termasuk badan kepolisian, peradilan dan badan
perundang-undangan. pemerintahan dalam arti sempit itu dapat
disebut dengan istilah lain, yaitu ”administrasi negara”
Pemerintah atau administrasi negara merupakan subjek
hukum, sebagai dragger van de rechten en plichten atau pendukung
hak-hak dan kewajiban-kewajiban. sebagai subjek hukum lainnya
melakukan berbagai tindakan, tindakan nyata (feitelijkhandelingen)
maupun tindakan hukum (rechtshandelingen). Tindakan nyata adalah
3
tidak ada relevansinya dengan hukum dan oleh karenanya tidak
menimbulkan akibat-akibat hukum, sedangkan tindakan hukum
menurut menurut R.H.J.M. Huisman tindakan-tindakan yang
berdasarkan sifatnya dapat menimbulkan akibat hukum, atau “Een
rechtshandeling is gericht op het scheppen van rechten of plichten,”
(Tindakan hukum adalah tindakan yang dimaksudkan untuk
menciptakan hak dan kewajiban)
Dasar pemerintah melakukan tindakan adalah kewenangan.
Didalam Pasal 1 angka 6 UU No 30 Tahun 2014 dijelaskan bahwa
kewewnangan pemerintahan yang selanjutnya disebut kewenangan
adalah kekuasaan badan dan atau pejabat pemerintahan atau
penyelenggara negara lainnya untuk bertindak dalam ranah hukum
publik
B. Pengertian Menurut Pakar
Een rechtshandlingen is gericht op het schepen van rechten of
pelichten (R. J. H. M. Huisman): Tindakan hukum administrasi
(administratieve rechtshandlingen) adalah pernyataan kehendak
(willsverklaaring) yang muncul dari organ administrasi dalam
keadaan khusus, dimaksudkan untuk menimbulkan akibat hukum
(rechtgevolg). Akibat hukum (rechtgevolg) tersebut berupa penciptaan
hubungan hukum baru (het scheppen van een niewe) perubahan atau
pengakhiran hubungan hukum yang ada (het wijzigen of het opheffen
van een bestandee rechtsverhouding)
Di dalam suatu perbuatan pemerintah ada dua hal yang perlu
untuk dipahami terlebih dahulu, yaitu apa itu pemerintah dan apa
itu perbuatan pemerintah. Yang dimaksud pemerintah:
 Menurut WirjonoProdjodikoro, pemerintah dapat dibagi dalam
arti luas dan dalam arti sempit. Pemerintah dalam arti luas
meliputi seluruh fungsi kegiatan kenegaraan yaitu lembaga-
lembaga kenegaraan yang diatur secara langsung oleh UUD 1945
maupun lembaga-lembaga yang diatur oleh Undang-Undang.
Sedangkan pemerintah dalam arti sempit adalah Presi-
den/eksekutif.
 Menurut Kuntjoro Purbopranoto mengatakan pemerintah dalam
arti luas meliputi segala urusan yang dilakukan oleh Negara
dalam rangka penyelenggaraan kesejahteraan rakyat dan

4
kepentingan Negara, sedangkan arti sempit adalah menjalankan
tugas eksekutif saja.1
Pengertian delegasi:
Њ Organ pemerintah yang satu ke organ pemerintah yang lainnya.
Њ Delegasi tidak dapat menggunakan wewenang tersebut sampai
ada pencabutan berdasarkan asas contrasius actus.
Њ Harus secara tertulis dan
Њ Peralihan tanggung jawab dan tanggung gugat.
Pengertian Mandat:
× Memberikan mandat kepada bawahan
× Mandat sewaktu-waktu dapat menggunakan wewenang tersebut
× Dapat tertulis atau juga tidak tertulis.
× Tidak ada peralihan tanggung jawab dan tanggung gugat.
Wewenang terbagi atas:
 Sumber wewenang
 Sifat wewenang
 Tindakan pemerintahan: bestuur hendelingen terbagi atas dua yaitu
Tindakan nyata
Tindakan hukum (tindakan yang mempunyai sumber hukum):
1. Unsur-unsur Tindakan Pemerintah
Muchsan menyebutkan unsur-unsur pemerintah sebagai
berikut:
1. Perbuatan ini dilakukan oleh aparat pemerintahan dalam kedudu-
kannya sebagai penguasa maupun sebagai alat pemerintahan
dengan prakarsa dan tanggung jawab sendiri.
2. Perbuatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menjalankan
fungsi pemerintahan.
3. Perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk menim-
bulkan akibat hukum di bidang hukum administrasi
4. Perbuatan tersebut menyangkut pemeliharaan kepentingan negara
dan rakyat.
Perbuatan itu harus didasarkan pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku. 2

1 Yusri Munaf, Hukum Administrasi Negara, PekanBaru, Marpoyan Tujuh, 2016, hlm.
77.
2 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Jakarta, Rajawali Pers, 2016, hlm. 112.

5
2. Karakteristik Tindakan Hukum Pemerintah

1. Pada hukum publik


2. Bersegi satu (eenzijdige) = tidak perlu persetujuan
dari orang lain cukup dengan kehendak pejabat
(willversklaring). ex: Regeling/besluit van algemene
strekking & beschikking, beleid regel, vergunning
3. Bersegi dua/banyak (tweezijdige/meerzijdige) =
tidak bergantung hanya pada willverklaring
pejabat, namun butuh kehendak pejabat yang
lain. ex: Perjanjian Kerjasama (samen warking)
antar Daerah.
Para sarjana berbeda pendapat mengenai sifat tindakan
hukum pemerintah sebagian menyatakan bahwa perbuatan hukum
yang terjadi dalam lingkup hukum publik selalu bersifat sepihak,
bagi mereka tidak ada perbuatan hukum publik yang bersegi dua
atau dua pihak ,tidak ada perjanjian yang diatur dalam hukum
publik akan tetapi diatur dalam hukum privat karena perjanjian itu
bersegi dua. Sedangkan sebagian yang lain menyatakan bahwa
perbuatan pemerintah bersegi dua mereka mengakui adanya
perjanjian yang diatur dalam hukum publik seperti perjanjian kerja
yang berlaku selam jangka pendek. Akan tetapi, perbedaan itu tidak
menafikan bahwa ciri karakter dari tindakan pemerintah adalah
sepihak.
Pada kenyataannya, semua urusan pemerintah dapat
diselenggarakan sendiri, sehingga kadang melakukan kerjasama
dengan pihak swasta demi efektifitas dan efesiensi. Tindakan hukum
tersebut dikenal tindakan hukum campuran. Selain itu, dikenal pula
karakteristik tindakan hukum pemerintahan yang bersipat terikat
fakutatif dan bebas karakteristik tersebut berkenaan dengan dasar
bertindak yang dimiliki oleh organ pemerintahan, yaitu kewenangan
(bepoeg dheid).
Berdasarkan penjelasan di atas bisa dipahami bahwa bentuk
dari perbuatan pemerintah itu, pertama ada yang bersifat regulasi,
yatu pengaturan sebuah peraturan untuk menjalankan pemerinta-
han, semacam ketetapan atau peraturan pemerintah. Kedua, ada
yang bersifat eksekutif, yaitu menjalankan apa yang telah ditetapkan
oleh DPR dalam bentuk Undang-undang. Ketiga, bertindak pada hal
yang berkaitan dengan keperdataan yang masih berhubungan
dengan menjalankan pemerintahan.

6
3. Hubungan Negara Dan Hukum Tindakan Pemerintah
Hubungan antara rakyat dan pemerintah adalah hubungan
antara pemberi mandat dengan yang diberikan mandat dalam
sebuah negra berdaulat. Kedaulatan negara berada dinntangan
rakyat diwujudkan dalam bentuk adanya pemerintahan yang
mengelola dengan baik dan benar serta dapat dipercaya. Negara
yang berdaulat tidak memiliki kewibawaan di hadapan bangsa lain
apabila potensi negara tidak mampu diurus dan dikelola secara baik
dan benar oleh pemerintah dalam sebuah negara tidak memiliki
makna apabila tidak memiliki dukungan dan legitimasi dari rakyat
sebagai pemegang kedaulatan. Pemerintah yang kuat adalah
pemerintah yang memiliki dukungan dan kepercayaan dari rakyat.
Suatu negara juga harus memeiliki dukungan dan kepercayaan dari
rakyat. Suatu negara juga harus memiliki aturan hukum untuk
mengatur pemerintahan, supaya terjadi keseimbangan di setiap
lapisan masyarakat.
4. Instrumen Pemerintahan
Instrumen pemerintah adalah alat-alat atau sarana-sarana
yang digunakan pemerintah dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Instrumen pemerintah dibagi menjadi dua yaitu:
1. Publik domain
2. Instrumen yuridis
Publik domain dibagai menjadi dua yaitu:
Benda-benda publik menurut Proudhon ada dua kepunyaan negara
yakni:
1. Domain prive/kepunyaan privat (staat domein) seperti tanah
(sawah, kebun kopi, dll), rumah dinas, mobil dinas, rumah sakit,
gedung-gedung perusahaan, dll
2. Kepunyaan publik (domaine public) yaitu segala benda-benda yang
disediakan (oleh pemerintah) untuk dipakai oleh (pergaulan)
umum, seperti jalan umum, jembatan, pelabuhan, dll
Instrumen yuridis yaitu:
1. Peraturan perundang-undangan
2. Keputusan Tata Usaha Negara/KTUN (Beschikking) Pasal 1 ayat
(3) UU No. 5 Tahun 1986 tentang PTUN
3. Peraturan kebijaksanaan (Diskresi)
4. Rencana
5. Perizinan

7
6. Instrumen hukum keperdataan
Peraturan perundang-undangan yaitu peraturan tertulis yang
dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan
mengikat secara umum (Pasal 1 angka 2 UU No. 10 Tahun 2004)
Jenisnya menurut Pasal 7 UU No. 10 Tahun 2004 yaitu
1. UUD 1945
2. UU/Perpu
3. PP
4. Perpres
5. Perda (Prov, Kab/kota dan Desa)
(bandingkan dengan TAP MPRS No. XX/MPRS/1966 dan TAP MPR
No. III/MPR/2000)

8
BAB II
MACAM-MACAM PERBUATAN PEMERINTAH
Moch. Rizal Abdullah, M. Alvin Amirulah, Bayun Duto Suryono
Reynaldi Rafi Pramana, Dedi Andrian, Ramadhan Rafsanjani,
Hananda Dwi Sasongko Putra, Farid Rohman, Dwiky Akbar Nugroho

TINDAKAN
PEMERINTAH

TINDAKAN TINDAKAN
HUKUM FAKTUAL

TINDAKAN TINDAKAN
HUKUM HUKUM
PRIVAT PUBLIK

BEBERAPA
SEEPIHAK 2 PIHAK
PIHAK

A. Tindakan Pemerintah
Tindakan Pemerintah dapat diketahui bisa digolongkan da-
lam:
1. Tindakan Pemerintah Faktual/yang berdasarkan nyata (feitelijke
handelingen); yaitu tindakan penguasa yang tidak mempunyai
akibat hukum misalnya upacara membuka jembatan, jalan raya,
walikota mengundang masyarakat menghadiri upacara 17 Agus-
tus. Presiden mengimbau masyarakat untuk hidup sederhana dan
lain-lain yang dilakukan penguasa pemerintah.
2. Tindakan Pemerintah Yang Berdasarkan Hukum (rechts
handelingen) ialah tindakan pemerintah yang karena sifatnya dapat
menimbulkan akibat hukum tertentu untuk menciptakan hak dan
kewajiban.
Tindakan Hukum dibagi juga menjadi dua golongan:
1. Tindakan dalam lapangan hukum perdata (private)
Menurut Krobbe Kranenbrug, Egtig, Doner dan Hash, pejabat
administrasi dalam menjalankan tugasnya dalam hal tertentu

9
dapat menggunakan hukum privat, contohnya perbuatan sewa-
menyewa, jual beli, dll.
2. Tindakan pemerintah dalam lapangan hukum publik merupakan
tindakan hukum dari pemerintah dari sederetan aturan yang
mengatur bagaimana hubungan warga negara dengan negaranya
yang menyangkut kepentingan umum. Tindakan pemerintah
dalam lapangan hukum publik dibagi lagi menjadi:
Perbuatan hukum publik yang sepihak/bersegi satu. Perbutan
hukum publik yang bersegi satu adalah suatu perbuatan hukum
publik yang merupakan kehendak satu pihak saja yaitu
pemerintah, tanpa pelibatan dari masyarakat. Menurut para
sarjana seperti S. Sybenga bahwa tidak ada perbuatan hukum
publik yang bersegi dua, tidak ada perjanjian, misalnya yang
diatur oleh hukum publik. Jika ada perjanjian dengan pihak
swasta, maka perjanjian itu menggunakan hukum privat. Itu
merupakan perbuatan hukum bersegi dua karena dilakukan oleh
kehendak kedua belah pihak dengan sukarela. Itulah sebabnya
mengapa tidak ada perjanjian hukum publik. Hubungan hukum
yang diatur hukum publik hanya berasal dari satu pihak saja,
yakni pemerintah, yang cara menentukannya dengan kehendak-
nya sendiri. Tindakan sepihak meliputi keputusan-keputusan
dalam ruang lingkup umum dan keputusan (konkret-individual).
Tindakan hukum publik sepihak yaitu individu-konkrit dan
abstrak serta umum konkrit dan abstrak.
Tindakan hukum publik dua pihak/bersegi dua yaitu adanya dua
kehendak/kemauan yang terkait misal dalam perjanjian/kontrak
kerja.3
Van der Pot, Kranenberg, Vegting, Wiarda, dan Donner
mengakui adanya hukum publik yang bersegi dua atau adanya
perjanjian menurut hukum publik. Mereka memberi contoh dengan
adanya perjanjian kerja jangka pendek yang diadakan seorang swasta
sebagai pekerja dengan pihak pemerintah sebagai pihak yang
pemberi pekerjaan.
Selain peraturan perundang-undangan, dalam hukum
administrasi di Indonesia juga dikenal yang namanya peraturan
kebijakan peraturan kebijakan yang dikeluarkan dalam rangka

3 Yudhi Setiawan, Hukum Administrasi Teori Dan Praktik, hlm. 90-91.

10
menjalankan fungsi penyelenggaraan pemerintahan. Peraturan
kebijakan atau yang di sebut juga beleidsregels, merupakan produk
hukum yang lahir dari kewenangan mengatur kepentingan umum
secara mandiri atas dasar prinsip freies ermessen.
Dengan demikian maka dalam penyelenggaraan pemerinta-
han negara memang terdapat dua jenis peraturan yang dapat berlaku
secara berdampingan, yaitu peraturan perundang-undangan dan pe-
raturan kebijakan.4
Keputusan-keputusan dalam ruang lingkup umum meliputi:
1. Peraturan-peraturan yang mengikat umum
2. Peraturan kebijakan
3. Rencana-rencana
4. Keputusan dalam ruang lingkup umum lainnya.5
Menurut Pasal 1 angka 8 Undang-Undang No. 8 Tahun 2014
perbuatan pemerintah juga diatur, Tindakan Administrasi Pemerin-
tahan yang selanjutnya disebut Tindakan adalah perbuatan Pejabat
Pemerintahan atau penyelenggara negara lainnya untuk melakukan
dan/atau tidak melakukan perbuatan konkret dalam rangka penye-
lenggaraan pemerintahan. Dalam pasal tersebut dapat diketahui ada
2 (dua) jenis perbuatan pemerintah yaitu yang pertama melakukan
perbuatan konkret dan yang kedua yaitu tidak melakukan perbuatan
konkret.
Melakukan perbuatan konkret maksudnya adalah perbuatan
yang dilakukan pemerintah dalam artian nyata atau konkret seperti
halnya dalam pemberian izin, pemberian izin tersebut bisa seperti
menerima atau menolak permohonan yang diajukan oleh
masyarakat. Contohnya seperti masyarakat yang ingin mengajukan
permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) kepada pemerintah,
dan pemerintah melakukan perbuatan konkret yaitu menerima
permohonan tersebut dengan mengeluarkan izinnya atau menolak
permohonan dengan tidak mengeluarkan izin yang diajukan
tersebut.
Tidak melakukan perbuatan konkret maksudnya adalah
tindakan yang dilakukan pemerintah itu bersifat fiktif atau tindakan
fiktif yang berarti diam. Tindakan fiktif pemerintah tersebut juga ada

4 Darda Syahrizal, Op.Cit., hlm. 73.


5 Ibid.

11
yang bernada negatif maupun yang positif. Yang bernadakan negatif
berarti diam yang bermakna penolakan dan hal tersebut dapat dilihat
dalam Pasal 3 Undang-Undang No. 5 tahun 1986. Sedangkan yang
bernada positif berarti tindakan diam yang maksudnya penerimaan,
dan hal tersebut dapat dilihat dalam Pasal 53 Ayat (1) Undang-
Undang No. 30 Tahun 2004. Dari kedua peraturan perundang-
undangan tersebut yang berbicara mengenai tindakan fiktif yang
berarti negatif maupun positif, yang berlaku saat ini hanya yang
tindakan fiktif yang berarti positif atau lebih tepatnya yang diatur
dalam Pasal 53 Ayat (1) Undang-Undang No. 30 Tahun 2004.
B. Ketetapan Pemerintah
Van Vollenhoven mendasarkan diri pada pikiran, bahwa
semua karya pemerintah dibagi dalam tugas pemerintahan,
kepolisian, peradilan dan pengaturan (perundang-undangan), ketika
berusaha untuk menjelaskan pembatasan hukum tata pemerintahan.
Pembagian disini tidak dianut. Tugas yang disebut oleh van
vollenhoven sebagai “kepolisian” dimasukkan dalam “pemerinta-
han”, kita artikan sisa kekuasaan yang masih ada sesudah dikurangi
dengan kekuasaan perundang-undangan dan peradilan dan
pengawasan dari Dewan Pengawas Keuangan, yang didalam
literatur kadang-kadang dimasukkan dalam “Pemerintahan” dan
kadang-kadang dalam “perundang-undangan”, akan tetapi menurut
hemat kami harus dianggap sebagai suatu tugas tersendiri dengan
sifat-sifatnya sendiri pula.
Pekerjaan pemerintah yang dilukiskan oleh Van Vollenhoven
sebagai “konkrit, kasuistik, dan mempunyai sifat individu adalah
sebagian ditujukan untuk pemenuhan yang segera dalam kebutuhan-
kebutuhan yang nyata dan berlangsung diluar lingkungan hukum
(tindakan-tindakan yang wajar seperti pembuatan jembatan atau
penyingkiran penghalang lalu lintas), untuk sebagian lagi ditujukan
dalam lapangan hukum perdata (misalnya menyewa sebuah
gudang).6
Ajaran yang melarang tindakan-tindakan menurut hukum
perdata oleh penguasa, bila tujuan yang diinginkan dapat pula
dicapai melalui jalan-jalan hukum publik, jadi dengan menggunakan

6Mr W F Prins, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Jakarta, Andalusia, 1975,


hlm.11.

12
wewenang-wewenang yang khusus yang dimiliki oleh penguasa,
menurut hemat saya tidak beralasan dan dalam praktek tidak juga
dilakukan, akan tetapi tindakan-tindakan menurut hukum perdata
untuk tujuan kita tidaklah penting.
Apa yang menarik perhatian kita disini ialah perbuatan
hukum yang dilakukan oleh administrasi berdasarkan atas
wewenan-wewenangnya yang khusus (yaitu yang bersifat hukum
publik), selama sepihak tindakan-tindakan itu disini disebut dengan
istilah ketetapan, yang seakan akan telah ditemukan kembali oleh
van der pot dan van vollenhoven.
Sebagai definisi dapatlah dikatakan, bahwa ketetapan ialah
tindakan hukum (perbuatan hukum) yang sepihak dalam lapangan
pemerintahan, yang dilakukan oleh salah satu alat-alat perlengkapan
negara berdasarkan atas wewenang-wewenang yang khusus. Dalam
halaman-halaman yang berikut ini ditinjau lagi bagian-bagian dan
definisi ini.7
C. Ketetapan Sebagai Tindakan Pemerintah
Ketetapan adalah suatu tindakan dalam lapangan “pemerin-
tahan”, akan tetapi tidak selalu suatu tindakan dari sebuah organ (a-
lat perlengkapan negara). Yang menurut peragaan termasuk peme-
rintah atau administrasi.
Alat-alat perlengkapan yang pertama-tama bertugas dalam
lapangan perundang-undangna dan peradilan dan karenanya dima-
sukkan dalam kekuasaan membuat undang-undang dan kekuasaan
mengadili, melakukan pula berbagai tindakan dalam lapangan
pemerintahan yang dapat digolongkan dalam ketetapan diatas.
Bila kita melepaskan diri dari peristilahan hukum yang
dikenal ketetapan dalam undang-undang (misalnya pasal 19 undang-
undang Perbendaharaan pembebasan suatu hutang) dan malahan
dalam bentuk suatu keputusan hakim (misalnya pasal 101 dan 102a
kordinasi Aturan Bea materai tahun 1921 perintah untuk menaksir
suatu benda tidak bergerak), maka kita dapat menentukan, bahwa
ketetapan sebagai (perbuatan) hukum dalamm lapangan perundang-
undangan dan peradilan menjumpai kesejajarannya dalam undang-
undang atau peraturan dan keputusan hakim, akan tetapi kedua-

7 Ibid, hlm. l12.

13
duanya tidak dapat secara teliti sebagaimana halnya pada
kesejajarannya berhubung dengan sifat dari tugas pemerintah.8
D. Ketetapan Sebagai Perbuatan Hukum
Kita tinggalkan ketetapan yang negatif untuk sementara, hal
ini masih akan dibicarakan lagi, kita dapat mengatakan, bahwa
ketetapan (yang positif) akan menimbulkan perbuatan hukum, hak-
hak dan atau kewajiban-kewajiban. Dimana belum ada keharusan-
bentuk yang umum, tetapi dari bentuk luar mereka tidak dapat
dibedakan dari tindakan-tindakan pemerintah lainnya, yang tidak
mempunyai akibat yang demikian.
Suatu pemberitahuan yang diberikan oleh seorang anggauta
polisi kepada seseorang yang sedang berjalan, bahwa dia harus
melanjutkan jalan kakinya diseberang jalan, bukan lah suatu
ketetapan, bila yang dituju mencegah adanya atau menghapuskan
keadaan yang melawan hukum, sehingga justru menunjuk pada
sesuatu kewajiban yang telah ada akan merupakan ketetapan, bila itu
disebabkan berdasarkan suatu wewenang yang dimiliki oleh anggota
polisi tadi, sebab lalu menimbulkan- suatu kewajiban bagi yang
ditegor.
Mungkin akan terjadi, bahwa administrasi pada saat ia
memanglingkan pada orang itu, malahan belum tahu apakah
perbuatannya itu menimbulkan suatu kewajiban hukum, atau hanya
tidak lebih dari pada suatu tegoran untuk memenuhi suatu
kewajiban yang telah dipikul oleh yang ditegur. Bila filsous
memberikan surat pemberitahuan untuk pajak penghasilan kepada
seseorang wajib pajak, yang hanya dikenal nama dan alamatnya saja,
ia mempersilahkan orang tersebut untuk melaporkan berdasarkan
Pasal 35 ordonansi pajak penghasilan 1932. Dan orang tersebut wajib
menaati permintaan tersebut. Baru kemudian akan ternyata apakah
wajib menaati permintaan tersebut. Baru kemudian akan ternyata
apakah kewajiban itu dibebankan padanya atas kuasa ordansi atau
karena pemberian surat pemberitahuan (lihat Pasal 38 ayat 1 dan 2).9
Untuk beberapa ketetapan perundang-undangan telah
menetapkan syarat, bahwa berbagi bentuk harus diindahkan.
Misalnya, telah menjadi lazim dan masuk akal, syarat untuk

8 Ibid, hlm. 13.


9 Ibid, hlm. 19.

14
memajukan dasar-dasar penolakan, bila sesuatu permohonan tidak
seluruhnya dikabulkan, atau bila terhadap ketetapan dapat minta
banding (misalnya Pasal 56 ayat 7 ordansi pajak penghasilan 1932 :
ketetapan mempunyai alasan-alasan, bila keberatan-keberatan
semuanya atau sebagian ditolak tidak atau tidak dapat diterima dan
Pasal 119a ayat 2 ordanansi aturan bea materai 1921 : Surat-surat
paksaaan memuat petunjuk yang memuaskan dari dasar-dasar, yang
memperkuat tuntutannya). Untuk suatu ketetapan yang mempunyai
arti yang lebih umum kadang-kadang diharuskan adanya
pengumuman, akan tetapi ini tidak selalu merupakan sayarat untuk
berlakunya, suatu keputusan, yang memuat pengumuman negara
dalam keadaan bahaya perang berlaku dengan seketika dan baru
kemudian diumumkan dalam Lembaran Negara dan Berita Negara
(lihat pasal 3 aturan S.O.B.
Akan tetapi wewenang darurat dari ordonansi penguasaan
umum (Algemene Machtigingsordonnantie) baru dapat dipergunakan
sesudah pernyataan yang dimaksud dalam Pasal 2 diumumkan
dalam Berita Negara, yang dilupakan ketika dalam bulan Mei 1940,
bahwa dianggap cukup dengan penentuan tanggal berlakuknya.10
E. Ketetapan Yang Negatif
Keadaan, dimana penduduk bebas untuk meminta agar
administrasi melakukan sesuatu perbuatan hukum, menyebabkan
pula bahwa disamping ketetapan yang positip ada sikap dari
ketetapan yang hanya menetapkan bahwa suatu permintaan untuk
bertindak dalam hubungan hukum tidak akan terjadi. Ketetapan
yang negatip ini hanya mungkin ada hanya sebagai reaksi atas suatu
permohonan atau usul dan mengandung suatu pernyataan yang
tidak dapat diterima atau suatu penolakan sama sekali.
Karena tidak menetapkan apa-apa, maka ketetapan yang
negatip lekas selesai, ia hilang bersamaan dengan timbulnya dan
yang berulang-ulang seperti dengan tegas telah diwekani dalam
pasal 76a ordonansi pajak penghasilan 1932.
Pembatalan dari ketetapan yang negatip mempunyai arti
yang sama atau sedikit sebagai pembatalan dari lain-lain ketetapan
yang sepintas lalu. Pernyataan tidak berhak selalu declatoir : ia
menetapkan secara sederhana bahwa undang-undang tidak

10 Ibid, hlm. 20.

15
memberikan wewenang untuk mengatur atas permohonan untuk
pernyataan yang tidak dapat diterima berlaku juga hal yang sama,
kecuali undang-undang membebaskan menyimpang untuk dapat
diterima berdasarkan keadaan-undang yang khusus (misalkan Pasal
55 ayat 5 ordonansi pajak penghasilan 1932).11
Ketetapan sebagai tindakan pemerintah, tindakan pemerintah
juga dilakukan oleh alat-alat perlengkapan negara yang menurut
peragaan tidak termasuk dalam “pemerintahan” atau “administrasi”
melainkan dalam kekuasaan peraturan perundang-undangan atau
peradilan.
Perbuatan undang-undang yang membebaskan sesuatu
hutang (Pasal 19 undang-undang perbendaharaan) dan hakim yang
menetapkan seseorang wali (Pasal 259 BW) melakukan juga
tindakan-tindakan pemerintahan. Untuk hal sedemikian sukar
dikatakan dari seseorang yang tanpa sesuatu hak bertindak seolah-
olah ia mempunyai kekuasaan yang sah, tetapi kebenaran yang
sudah dengan sendirinya ini memerlukan penjelasan. Tukang sepatu
yang dalam tahun 1906 menampakkan diri di Kopenick bagian luar
kota Berlin dalam pakaian seragam seseorang kapten pengawal
kaisar, memerintahkan 2 orang tentara untuk menempati gedung
balai kota dan membawa walikota dan penerima tamu sebagai
tawanan, karenanya menjadi tidak mudah dilupakan juga tetapi
perbuatannya tidak menambah banyaknya ketetapan. Tetapi bila
suatu alat perlengkapan negara bergerak dalam lapangan yang
bukan menjadi kompetensinya maka persoalannya menjadi berbelit-
beli, dalam hal-hal yang masih mudah dikatakan bahwa alat-alat
perlengkapan negara ini tidak bertindak sedemikian rupa jadi tidak
berdasarkan wewenang-wewenang yang khusus.12
F. Ketetapan Sebagai Tindakan Dan Sifat Hukum Publik
Sifat hukum publik dari suatu ketetapan yang telah
dinyatakan dalam definisi dengan kata “berdasar atas wewenang
yang khusus”. Suatu alat perlengkapan negara yang berdasar atas
tingkatan yang sama berhubungan dengan tidak bertindak
berdasarkan atas wewenang yang khusus. Perbuatan-perbuatan
hukumnya harus dinilai menurut peraturan dari hukum perdata.

11 Ibid, hlm. 24.


12 Ibid, hlm. 25.

16
Lain halnya yang karena tindakan-tindakan yang sifatnya hukum
publik dari penguasa menimbulkan juga hak-hak untuk orang-orang
lain yang pasti termasuk dalam lapangan hukum perdata. Misalnya
terang pada pencabutan hak milik untuk kepentingan umum.
Persoalan dari mana alat-alat perlengkapan negara
memperoleh wewenang yang khusus, dijawab dalam susunan
legalitet dengan kata dari undang dan dengan demikian untuk
kebanyakan orang dikira persoalan “negara hukum atau negara
kepolisian” telah terjawab dengan sendirinya. Tetap kebalikan antara
negara hukum, dimana undang-undang akan berkuasa dan negara
kepolisian dimana penjahat akan berkuasa.13
G. Ketetapan Sebagai Perbuatan Sepihak
Meskipun dengan sifat yang sepihak telah diberikan sebuah
kriterium yang mudah melihatnya, sehingga ketetapan dapat
dibedakan dengan perjanjian timbul dalam praktek kekeliruan yang
banyak mengenai hal ini. Khususnya keadaan yang seyogianya
dibebani dengan persoalan ketetapan atau perjanjian yang
berhubungan dengan pengangkatan pegawai-pegawai negeri tidak
menguntungkan terhadap pembahasan yang tidak dengan prasangka
tentang perkara ini, baik perkataan “Sepihak” maupun perkataan”
perjanjian rupa-rupanya mempunyai suatu tenaga yang memberi
anggapan tertentu yang pertama menimbulkan pikiran-pikiran
tentang kebebasan bertindak dari penguasa dimana maksud-maksud
dari yang berkepentigan sama sekali tidak mempunyai arti, yang
kedua kepada tindakan seseorang partikelir dengan mana ketentuan
dari hukum sipil seakan-akan dapat diterangkan.
Akan tetapi kebalikan ketetapan sepihak dengan perjanjian
antara 2 pihak atau lebih lalu sederhana untuk mempertemukan
berbagai pembagian yang kecil yang dalam praktek memperlihatkan
hubungan antara penduduk dengan administrasi. Antara perintah
sepihak dalam arti kata yang sesungguhnya pada persiapan dimana
yang berkepentingan tidak mempunyai bagian sama sekali dan
perjanjian atas dasar persamaan, misalnya pembelian alat-alat kantor,
yang seluruhnya dikuasai oleh hukum sipil, terdapat berbagai
variasi.14

13 Ibid, hlm. 26.


14 Ibid, hlm. 30.

17
Meskipun dengan banyak ragam dan banyak bentuknya dari
tindakan2 pemerintah tidak mudah untuk membuat pembagian yang
mendalam dalam berbagai golongan dari bermacam-macam
ketetapan, kita dapat dengan melihat akibat-akbat hukum ketetapan-
ketetapan yang positif yang bekerja keluar dalam pokok
dikembalikan dalam 5 golongan ialah:
A. Menimbulkan sebuah keadaan hukum yang berhubungan pada
umumnya.
B. Menimbulkan sebuah keadaan hukum yang berhubungan
dengan sebubah objek hukum.
C. Mendirikan dan membubarkan badan hukum.
D. Menimbulkan kewajiban-kewajiban baru (perintah-perintah)
kepada seseorang atau beberapa orang.
E. Memberikan hak-hak baru kepada seseorang atau beberapa
orang (ketetapan yang menguntungkan).
Ketetapan yang baik dan lainnya
Kita tidak dapat menjawab persoalan (pertanyaan untuk ketetapan-
ketatapan mana terdapat sebab untuk menuliskan pemberian alasan-
alasan dan membuka kemungkinan untuk menetapkan permintaan
banding, yang tidak sesuai dengan penunjukan pada perbedaan yang
telah ditentukan untuk ini antara perintah-perintah dan ketetapan
yang menguntungkan). Pertama-tama tidak karena pada penunjukan
kepentigan-kepentingan pihak ketiga dapat tersangkut (misal pada
perizinan berdasar Hinderordonnatie, lihat halaman 160), akan tetapi
sebelum dilihat hal itu kita harus menanyakan apakah ketetapan
dalam kejadian yang nyata sesuai atau tidak dengan maksud dari
yang bersangkutan. Suatu ketetapan dimana diberikan kebebasan
wajib bela umum, jadi bersangkutan lalu dibebaskan dari suatu
kewajiban tentu akan harus dianggap sebagai yang menguntungkan
kendatipun pembebasan yang tidak diminta, bagi yang bersangkutan
paling sedikit diterima dengan senang hati.15
Ketetapan yang menyatakan dan yang menentukan
Ketetapan selalu perbuatan pelaksanaan, bila kita tidak terlalu
memberi arti yang sempit pada perkataan “pelaksanaan” ia meliputi
pelaksanaan dari peraturan undang-undang dalam kejadian konkret.
Dimana perbuatan undang-undang sendiri mewujudkan maksudnya

15 Ibid, hlm. 33-35.

18
dengan segera dengan jalan menetapkan peraturan tidak perlu lagi
adanya ketetapan. Misalnya pembebasan bea materai, dihitung
dalam Pasal 31 sub II ordonansi bea materai tahun 1921 kebanyakan
tidak mempunyai akibat lebih lanjut mereka mempunyai efek tidak
pandang salah satu aktivitas dari administrasi.16
Dispensasi, izin, lisensi dan konsesi
Ketetapan yang menguntungkan yang kerapkali banyak terjadi
dalam hukum tata pemerintahan yang maju, telah mungkin
pemberian izin. Ini memerlukan suatu pembahasan yang tersendiri
bila dibandingkan dengan yang lain-lainnya tersebut diatas.
Dispensasi (bebas syarat) dikenal orang sebagai suatu tindakan
pemerintah, dimana suatu aturan menurut undang-undang
diuraikan untuk sesuatu kejadian khusus. Sejak pemerintahan dalam
Bill of Right (1689) dibuat tergantung dari kerja sama dari kedua
badan dalam parlemen. Jalan pikiran yang berpangkal pada disini,
kita jumpai dalam Pasal 43 I.S. yang juga khusus memperbincangkan
tentang dispensasi dari peraturan umum oleh pemerintah. Ini hanya
dapat terjadi kecuali terhadap paraturan pemerintah “dalam hal2
yang ditentukan dengan peraturan umum”. Pasal ini juga tidak
menentang terhadap dispensasi oleh pemerintah mengenai peraturan
yang dibuatnya sendiri-sendiri (lihat Pasal 4 ayat 3 dan 6 peraturan
Gaji Pegawai Negeri S. 1938 No. 106) sebagai pemberian hak untuk
mengadakan dispensasi kepada penguasa yang lebih rendah
(misalnya pasal 54 B.W.).17
Ketetapan yang pada umumnya menimbulkan suatu keadaan
hukum baru
Tindakan pemerintah yang pada dasarnya menyebabkan perubahan
dalam keadaan hukum yang telah ada memperoleh sebuah tersebut
karena kenyataannya, bahwa perundang-undangan tidak selalu
mengingini, bahwa peraturan yang telah dirumuskan itu
dilaksanakan dengan segera dan dimana-mana, akan tetapi
kebanyakan mengenai keputusan tentang persoalan, apakah hal yang
semacam itu dapat dan harus dilakukan, diserahkan kepada
“Administrasi” yang pada umumnya berarti kepada pemerintah.
Yang banyak terjadi dari golongan tindakan-tindakan pemerintahan

16 Ibid, hlm. 40.


17 Ibid, hlm. 49-50.

19
adalah penetapan dari tanggal mulai berlakunya dari tanggal mulai
berlakunya surat peraturan (lihat Pasal 95 ayat 4 I.S.), yang meskipun
menyarankan berlaku berdasarkan salah satu pasal penutup dari
peraturan itu sendiri misalnya Pasal 133 ordonansi kabupaten yo S.
1925. 133).18

18 Ibid, hlm. 66.

20
BAB III
DASAR PEMERINTAH MELAKUKAN TINDAKAN
Avira Rizkiana Yuniar, Jenifer Yosephine Tabita Sumendap,
M. Emil Maulana, Refina Mirza D, Arief Dwi Adyatma, Nabila Farahdila
Putri, Zaidia Firdausi, Ruhmul Fata, Huzein Valdyan Fernanda

Pemetintah sebagai subjek hukum juga melakukan berbagai


tindakan baik tindakan nyata (feitelijkhandelingen) maupun tindakan
hukum (rechtshandelingen). Di dalam Hukum Administrasi pemerin-
tah dalam melakukan tindakannya atau dalam melakukan semua
tindakan harus ada suatu hal yang mendasari tindakan pemerintah
tersebut. Dengan dasar tersebut maka pemerintah dapat melakukan
tindakan.
Dengan demikian timbul pertanyaan, apa yang mendasari
pemerintah melakukan tindakan? dasar pemerintah melakukan
tindakan yakni adanya kewenangan sebagai sumber tindakan.
Dengan demikian pejabat pemerintah bertindak dan mengambil
keputusan atas dasar kewenangan yang dimilikinya. Kewenangan ini
diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang di dalamnya
terdapat kewenangan suatu badan atau pejabat pemerintahan untuk
melakukan suatu tindakan. Selain kewenangan asas legalitas juga
merupakan dasar pemerintah melakukan tindakan, dalam hal ini
peraturan perundang-undangan itu sendiri lahir karena asas
legalitas.
A. Asas Legalitas
Di dalam Hukum Administrasi terdapat asas yang
mempengaruhi dasar pemerintah melakukan tindakan tersebut, asas
ini dinamakan dengan Asas Legalitas. Selama ini asas legalitas lebih
sering dijumpai dalam hukum pidana, dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP
menyatakan “Tiada suatu perbuatan yang dapat dihukum kecuali
berdasarkan ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah ada
terlebih dahulu daripada perbuatannya itu sendiri”. Asas Legalitas tidak
hanya di berada di ruang lingkup Hukum Pidana, tetapi dalam
Hukum Administrasi juga mengenal tentang Asas Legalitas yang
dimana terdapat dalam Pasal 1 angka 8 UU No. 51 Tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 5 Tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara yang menyatakan: “Badan atau Pejabat

21
Tata Usaha Negara adalah badan atau pejabat yan melaksanakan urusan
pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.
Maka dari pasal diatas, asas ini menjadi dasar bagi pejabat
yang ingin melakukan tindakan harus didasarkan dengan peraturan
perundang-undangan. Apabila dalam melakukan tindakan tidak
didasari peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka segala
badan dan/atau pejabat pemerintah tidak akan memiliki wewenang
yang dapat melindungi rakyat atau mengubuh keaadan perilaku
masyarakatnya. Karena fungsi asas legalitas yaitu untuk melindungi
rakyat serta memberikan perlindungan hukum terhadap para badan
dan/atau pejabat hukum pemerintah. Dan setiap penyelenggaraan
pemerintah harus didasari peraturan perundang-undangan, serta
memberikan jaminan terhadap hak-hak rakyat serta menjadi dasar
tindakan pemerintahan dan perlindungan hak-hak rakyat.
Joseph N. Andreas menyatkan bahwa asas legalitas mensya-
ratkan semua hukum harus jelas, dapat diketahui, dan tidak berlaku
surut. Asas legalitas mewajibkan semua tindakan pemerintah harus
dengan sesuai dengan aturan seperti misalnya tidak dilakukan
dengan sewenang-wenang da prinsip-prinsip kewajaran.19
Jimly Asshiddiqie menyatakan bahwa dalam setiap negara
hukum dipersyaratkan berlakunya asas legalitas dalam segala
bentuknya yaitu bahwa segala tindakan pemerintahan harus
didasarkan atas peraturan perundang-undangan yang sah dan
tertulis. 20 Peraturan perundang-undangan tersebut harus ada dan
berlaku terlebih dahulu atau mendahului tindakan atau perbuatan
administrasi yang dilakukan. Dengan demikian, setiap perbuatan
atau tindakan administrasi harus didasarkan atas aturan atau rules
and procedures (regels).21
Mengenai asas legalitas, Carlos Romano mengemukakan
sebagai berikut.
“Pelaksanaan kewenangan pemerintahan dapat memiliki
konsekuensi yang menentukan bagi warga negara dan
asusmsi dasar dalam negara hukum yang demokratis adalah

19 Efendi A’an dan Freddy Poernama, Hukum Administrasi, Jakarta, Sinar Grafikasi,
2017, hlm. 58.
20 Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika,

2010, hlm. 128.


21 Ibid.

22
bahwa pemerintah tidak ikut campur dalam kebebasan warga
negaranya kecuali memiliki kewenangan yang jelas untuk
melakukannya. Asas legalitas mengharuskan setiap tindakan
pemerintahan yang dapat memengaruhi hak dan kebebasan
individu memiliki dasar hukum.”
Maksudnya dalam kebebasan warga negara, pemerintah tidak ikut
cmpur dalam hal itu. Namun pemerintah akan ikut campur apabila
ia memiliki kewenangan dalam kebebasan warga negarnya. Sehingga
setiap tindakan pemerintah yang dilakukan harus ada dasar asas
legalitas yang dapat mempengaruhi hak kebebasan warganya untuk
memiliki dasar hukum. Dengan adanya asas legalitas, masyarakat
mendapatkan perlakuan yang lebih terjamin oleh pemerintah dan
tindakan yang dilakukan pemerintah sedikit atau banyak nya dapat
diketahui terlebih dahalu. Asas legalitas mensyaratkan dasar dalam
peraturan perundang-undangan untuk dapat mencampuri hak
warga negara. Setiap kewajiban atau pelanggaran terhadap hak
warga negara harus dapat ditemukan dasarnya dalam undang-
undang. Apabila terjadi penyalahgunaan kewenangan atau tindakan
sewenang-wenang yang dilakukan pemerintah yang dapat
menimbulkan kerugian kepada masyarakat akibat tindakan
sewenang-wenang yang dilakukan pemerintah dan jika terjadi
ketidakjelasan dalam peraturan perundang undangan yang menjadi
dasar pemerintah melakukan tindakan tidak menghalangi badan
atau pejabat yang berwenang untuk menetapkan atau melakukan.
Misalnya, Seorang Pejabat A diberikan wewenang untuk melakukan
pengadaan mobil, maka Pejabat A harus melakukan wewenangnya
dengan sebagaimana mestinya dan Pejabat A tidak boleh melakukan
pengadaan yang lainnya.
Untuk menghindari ketidakjelasan atau penyalahgunaan
dalam melakukan tindakan pemerintah maka dalam hal ini Asas
Legalitas di dalam Hukum Administrasi mempunyai fungsi, yaitu
fungsi ganda:
1. Untuk melindungi rakyat, dalam bentuk hak gugat. Maksudnya
setiap masyarakat yang dirugikan pemerintah maka diberikan hak
gugat.
2. Untuk memberikan perlindungan terhadap pejabat.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan setiap negara hukum
pasti menggunakan dasar asas legalitas serta harus memiliki
23
legitimasi yang sudah diberikan oleh UU. Maka dari itu kewenangan
merupakan bagian dari legitimasi yang menentukan suatu tindakan
hukum tertentu yang akan dilakukan.
1. Kewenangan Pemerintah
Di dalam pasal 9 dijelaskan bahwa mengenai peraturan
perundang-undangan yang dijadikan sebagai dasar pembuatan
keputusan atau tindakan. Setiap keputusan atau tindakan wajib
berdasarkan ketentuan peraturan perundangan-undang dan AUPB
(Asas Umum Pemerintahan Baik). Prinsip legalitas dalam
tindakan/keputusan pemerintahan meliputi (Pasal 52 UU No.
30/2014):
i. Wewenang
ii. Prosedur
iii. Substansi.
Philipus M. Hadjon mengutarakan wewenang, prosedur dan
substansi, ketiga aspek hukum merupakan landasan hukum untuk
dapat dikatakan suatu ketetapan atau keputusan tersebut sah.
Pertama, aspek wewenang dalam hal ini artinya bahwa pejabat yang
mengeluarkan ketetapan tersebut memang mempunyai kewenangan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk itu; kedua, aspek
prosedur, berarti bahwa ketetapan atau keputusan tersebut
dikeluarkan sesuai tatacara yang disyaratkan dan bertumpu kepada
asas keterbukaan pemerintah; ketiga, aspek substansi, artinya
menyangkut obyek ketetapan atau keputusan tidak ada “Error in re”.
Selanjutnya dijelaskan bahwa istilah keabsahan adalah terjemahan
dari istilah Belanda “rechtmatigheid” (van bestuur). Rechtmatigheid =
legalitas = legality.22
Wewenang:
Asas legalitas dalam Hukum Administrasi yaitu segala
tindakn pemerintah harus sesuai dengan hukum atau secara luas bisa
disebut asas yang menentukan. Dan asas ini tidak terbatas pada asas
legalitas formil tetapi kewenangan dan prosedur merupakanlandasan
atau dasar dari asas legalitas formil dan melairkan Asas Praesumptio
Iustae Causa dalam asas ini juga diatur Pasal 67 ayat (1) UU. No. 05
Tahun 1986 yang menyatakan “Gugutan tidak menunda atau

Mustamin DG. Matutu, Mandat, Delegasi, Atribusi dan Implementasinya di Indonesia,


22

UII Press, Yogyakarta, 2004, hlm. 109-159.

24
menghalangi dilaksanakannya Keputusan Badan dan/atau Pejabat Tata
Usaha Negara serta tindakan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang
digugat”. Dan asas ini juga dapat diartikan bahwa tidak ada tindakan
pemerintah yang batal demi hukum karena semua tindakan
pemerintah dianggap benar oleh hukum.
Maka dari itu setiap keputusan Tata Usaha Negara yang
selalu dianggap sah sampai dengan adanya keputusan dari
pengadilan yang mempuyai kekuatan hukum tetap, mengartikan
bahwa keputusan tata usaha negara itu dapat dinyatakan batal atau
tidak sah. Sedangkan substansi akan melahirkan asas legalitas
materiil. Jika tidak terpenuhinya tiga komponen asas legalitas terse-
but maka akan mengakibatkan cacat yuridis suatu tindakan/ke-
putusan pemerintahan.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa asas legalitas
merupakan dasar dalam setiap penyelenggaraan kenegaraan dan
pemerintah harus didasarkan pada kewenangan yang diberikan oleh
undang-undang. Dengan kata lain kewenangan adalah sumber
tindakan pemerintah melakukan tindakan. Maka semua perbuatan
dan keputusan pejabat pemerintah harus didasarkan pada
kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan.
Secara umum kewenangan merupakan kemampuan seseo-
rang untuk bertindak dengan tujuan mempengaruhi orang lain.
Dalam Undang-Undang No. 30 Tahun 2014 ada sedikit perbedaan
antara kewenangan dengan wewenang.
Pasal 1 angka 5 menyatakan: “wewenang adalah hak yang dimiliki oleh
Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan atau penyelenggara negara lainnya
untuk mengambil keputusan dan/atau tidakan dalam penyelenggaraan
pemerintahan”.
Pasal 1 angka 6 menyatakan: “kewenangan pemerintah yang selanjutnya
disebut kewenangan adalah kekuasaan badan dan atau pejabat pemerintahan
atau penyelenggara negara lainnya untuk bertindak dalam ranah hukum
publik”.
Maka dari penjelasan diatas tersebut, kewenangan dan
wewenang mempunyai perbedaan yang tipis. Di dalam kewenangan
kekuasaannya terdapat hak dan kewajiban, sedangkan di dalam
wewenang hanya terdapat hak untuk melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu. Seseorang yang mempuyai kewenangan sudah
pasti mempunyai kekuasaan untuk menjalankan kekuasaan tersbut.

25
Berbeda dngan kekuasaan, yang dimana tidak semua kekuasaan itu
memiliki kewenangan.
Wewenang mempunyai 3 (tiga) komponen, yaitu:
ќ Pengaruh
ќ Dasar hukum
ќ Konformitas hukum
Komponen pengaruh merupakan pengggunaan wewenang yang
digunakan untuk mengendalikan perilaku subjek hukum,
maksudnya pejabat disini tidak bisa sewenang-wenang mengguna-
kan wewenangnya diluar tujuan yang sudah ditetapkan oleh
peraturan perundang-undangan; komponen dasar hukum
merupakan dalam setiap tindakan pemerintah harus dilandasi oleh
dasar hukum yang sudah ditetapkan; komponen konformitas hukum
merupakan tolak ukur atau standar pemerintah, maksudnya
komponen ini menghendaki setiap tindakan pemerintah atau pejabat
mempunyai tolak ukur atau standar yang bersifat umum.
Mengenai wewenang itu, H.D. Stout mengatakan bahwa
wewenang adalah pengertian yang berasal dari hukum organisasi
pemerintahan, yang dapat dijelaskan sebagai keseluruhan aturan-
aturan yang berkenaan dengan perolehan dan penggunaan
wewenang pemerintahan oleh subjek hukum publik di dalam
hubungan hukum publik.23
Menurut F.P.C.L. Tonnaer mengatakan bahwa kewenangan
pemerintah dalam kaitan ini dianggap sebagai kemampuan untuk
melaksanakan hukum positif, dan dengan begitu, dapat diciptakan
hubungan hukum antara pemerintahan dengan warga negara.24
Ferrazi mendefinisikan kewenangan sebagai hak untuk
menjalankan satu atau lebih fungsi manajemen, yang meliputi
pengaturan (regulasi dan standarisasi), pengurusan (administrasi)
dan pengawasan (supervisi) atau suatu urusan tertentu.25
Di dalam Pasal 8 Undang-Undang No. 30 Tahun 2014
dijelaskan mengenai kewenangan pemerintahan yang isinya sebagai
berikut:

23 Ridwan HR. Hukum Administrasi Negara, Jakarta, PT RajaGrafindo Persada, 2011.


hlm. 98.
24 Ibid.
25 Ganjong, Pemerintahan Daerah Kajian Politik dan Hukum, Bogor, Ghalia Indonesia,

2007. hlm. 93.

26
Pasal 8 angka 1 menyatakan: “Setiap keputusan dan/atau tindakan harus
ditetapkan dan/atau dilakukan oleh badan dan/atau pejabat pemerintahan
yang berwenang.”
Artinya, keputusan ataupun setiap tindakan pemrintah harus
ditetapkan dan/atau dilakukan oleh badan dan/atau pejabat
pemerintahan yang berwenang. Sehingga hanya badan atau pejabat
pemerintahan yang berwenang yang dapat melakukan tindakan atau
mengambil keputusan.
Pasal 8 angka 2 menyatakan: “Badan dan/atau pejabat pemerintahan
dalam menggunakan wewenang wajib berdasarkan: a. peraturan perundang-
undangan; dan b. AUPB.”
Dalam menggunakan wewenang badan atau pejabat pemerintah
wajib berdasar pada dua hal yaitu berdasar pada peraturan
perundang-undangan dan asas umum pemerintahan yang baik
(AUPB).
Pasal 8 angka 3 menyatakan: “Pejabat administrasi pemerintahan
dilarang menyalahgunakan kewenangan dalam menetapkan dan/atau
melakukan keputusan dan/atau tindakan.”
Dalam hal ini badan dan/atau pejabat administrasi pemerin-
tahan dilarang menyalahgunakan kewenangan dalam menetapkan
dan melakukan keputusan dan tindakan meliputi larangan
melampaui wewenang, larangan mencampuradukkan wewenang,
dan/atau larangan bertindak sewenang-wenang.
Ketentuan lainnya terdapat dalam Pasal 9 mengenai
peraturan perundang-undangan. Maka dapat dijelaskan pada pasal
ini juga menyatakan setiap tindakan dan keputusan wajib berdasar
pada ketentuan peraturan perundang-undangan dan AUPB.
Peraturan perundang-undangan yang dimaksud meliputi:
a. Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar kewenangan;
dan
b. Peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar dalam
menetapkan dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan.
Dan badan dan/atau Pejabat administrasi negara juga mempunyai
kewenangan bebas yang bersumber pada AUPB, kewenangan ini
merupakan diskresi yang dimana telah di atur dalam Pasal 1 Angka 9
Undang-Undang No 30 Tahun 2014 tentang Administrasi
Pemerintahan Pasal menyatakan “Diskresi adalah keputusan
dan/atau tindakan yang ditetapkan dan/atau dilakukan oleh pejabat

27
pemerintahan untuk mengatasi persoalan konkret yang dihadapi
dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam hal peraturan
perundang-undangan yang memberikan pilihan, tidak mengatur,
tidak lengkap atau tidak jelas, dan/atau adanya stagnasi peme-
rintahan”.
Sedangkan Sjachran Basah mengatakan bahwa freis ermessen
adalah kebebasan untuk bertindak atas inisiatif sendiri, akan tetapi
dalam pelaksanaannya haruslah tindakan-tindakan administrasi
negara itu sesuai dengan hukum, sebagaimana telah ditetapkan
dalam negara hukum berdasarkan Pancasila.26
Berdasarkan definisi dari pendapat para ahli diatas, dapat
disimpulkan bahwa diskresi pada hakekatnya merupakan kebebasan
mengambil keputusan atau kebebasan bertindak yang dilakukan oleh
badan atau pejabat yang berwenang menurut pendapat sendiri untuk
mengatasi persoalan yang dihadapi yang muncul secara tiba-tiba
dalam penyelenggaraan pemerintahan yang bertujuan untuk
melancarkan penyelenggaraan pemerintahan, mengisi kekosongan
hukum, memberikan kepastian hukum dan mengatasi stagnasi
pemerintahan dalam keadaan tertentu.
Seperti yang kita ketahui, diskresi merupakan kebijakan yang
diambil oleh pejabat daerah untuk mengatasi persoalan atau pun
masalah yang terjadi dimana masalah tersebut belum/tidak diatur di
undang-undang yang berlaku. Seperti yang dikatakan diatas, diskresi
diperbolehkan untuk diambil atau dilakukan oleh pejabat
pemerintah daerah dalam keadaan tertentu. Pemerintah mengambil
keputusan untuk mengambil diskresi biasanya karena undang-
undang tidak mengatur atau belum mengatur atau tidak mengatur
dengan jelas sehingga pemerintah daerah membutuhkan tindakan
untuk keadilan dengan cara diambilnya keputusan untuk mengambil
diskresi sebagai solusi.
Apabila ada terjadi ketidakjelasan dalam peraturan
perundang-undangan seperti yang dimaksud pada huruf b diatas,
maka tidak menghalangi badan atau pejabat pemerintahan yang
berwenang melakukan tindakan atau keputusan sepanjang
meberikan kemanfaatan umum dan sesuai dengan AUPB.

26Sjachran Basah. Eksistensi dan Tolok Ukur Peradilan Administrasi Negara di Indonesia,
Bandung, Alumni, 1997, hlm.3.

28
Prosedur:
Pemerintah dalam menjalankan kewenangan atau melakukan
tindakan pemerintah harus ada prosedurnya. Dengan adanya
prosedur ini, maka warga negara diperlakukan sama tanpa
membeda-bedakan Aspek pada ini merupakan landasan
pengambilan keputusan Tata Usaha Negara yang ditujukan kepada
peraturan perundang-undangan dalam melaksanakan kewenangan-
nya itu dapat ditempuh atau tidak. Prosedur juga merupakan
peranan penting dalam tindakan pemerintah dan prosedur berperan
sebagai perlindungan bagi warga negara.
Subtansi:
Aspek substansial juga merupakan aspek yang mendasari
pemerintah dalam melakukan tindakan, karena aspek ini bersangkut
paut dengan pertanyaan “apa” dan “untuk apa”. Pertanyaan “apa”
adalah berkaitan dengan adanya tindakan sewenang-wenang
(willekeur) oleh pemerintah dan pertanyaan “untuk apa” berkaitan
erat dengan tindakan penyalahgunaan wewenang (detournement de
pouvoir).Subtansi adalah landasan bagi asas legalitas materiil yang
artinya menyangkut obyek sahnya ketetapan atau keputusan. Dapat
dikatakan bahwa suatu ketetapan atau keputusan dinyatakan sah
apabila memenuhi beberapa syarat:
∂ Dalam pembuatan keputusan, keputusan tersebut dikeluarkan
oleh Badan dan/atau Pejabat yang berwenang.
∂ Di dalam pembentukan keputusan tidak boleh terdapat keku-
rangan yuridis
∂ Keputusan yang dikeluarkan oleh Badan dan/atau Pejabat yang
berwenang harus mengikuti atau berdasarkan terhadap tata car
yang telah diterapkan atau ditentukan dalam aturan hukum
undang-undang.
∂ Didalam sebuah keputusan terdapat isi dan tujuan, maka isi dan
tujuan tersebu harus berdasarkan atas peraturan yang telah
ditetapkan oleh Badan dan atau Pejabat yang berwenang.
Dan di dalam hukum administrasi ada juga ketetapan atau
keputusan tidak sah jika terjadi ketetapan atau keputusan tidak sah
akan berakibat batal ketetapan tersebut, ketetapan tidak sah dapat
dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis pembatalan suatu ketetapan tidak
sah yaitu:

29
1) Ketetapan yang batal karena hukum (nietigbeid van rechtswege)
ialah sesuatu ketetapan yang berisikan penetapan adanya suatu
akibat perbuatan untuk sebagian atau keseluruhan bagi hukum di
akui bahwa tidak ada, tanpa dibutuhkan keputusan dari penga-
dilan atau badan atau pejabat tata usaha Negara yang berhak
mengumumkan batalnya ketetapan itu. Jadi ketetapan itu batal
sejak pertama dikeluarkannya. Bagi hukum dianggap tidak diakui
(dihapus) tanpa dibutuhkan suara putusan hakim atau putusan
badan pemerintah lainnya yang dasarnya untuk memberitahu
batalnya seluruhnya
2) Ketetapan dan keputusan yang dibatalkan (nieting) adalah suatu
tindakan atau perbuatan hukum dilibatkan akan berakibatkan
suatu perbuatan itu diakui tidak pernah ada
3) Ketetapan atau keputusan yang dikembalikan (vernietigbaar)
merupakan suatu tindakan atau perbuatan hukum, badan atau
tata usaha Negara yang dihentikan karena karena diketahui
perbuatan itu mempunyai kekurangan. Jadi maksud dari kete-
tapan atau keputusan yang dihentikan adalah keputusan yang
baru dapat bias dikatakan batal setelah pembatalan oleh hakim
atau juga instansi yang berhak membatalkan dan juga pembatalan
tidak berlaku surut 27.
Dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan tindakan pemerintah
harus didasarkan dengan asas legalitas yang dimana tindakan yang
dilakukan haruslah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dan dalam asas legalitas harus juga didasari dengan aspek
(wewenang, prosedur, dan subtansi). Selain peraturan perundang-
undangan dalam menetapkan tindakan, badan pejabat pemerintahan
juga harus menguikuti berdasarkan atas asas-asas umum peme-
rintahan yang baik atau AUPB. AUPB merupakan terjemahan dari
“Aglemene Beginselen van Behoorlijk Bestuur” (ABBB), sebuah istilah
dalam bahasa Belanda. Di Inggris, prinsip ini dikenal sebagai “The
Principal of Natural Juctice” atau “The General Principles of Good
Administration”28. AUPB sendiri mempunyai pengertian yang dimuat
dalam Pasal 1 ayat (17) UU Administrasi Negara sebagai “prinsip

27 Johan, Bahri, Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta, Budi
Utama, 2018, hlm. 170-172.
28 Galang Taufani, Harun, Nuria Siswi E. Hukum Administrasi Negara: Di Era Citizen

Friendly, Muhamadiyah University Press. Surakarta, hlm. 71-72.

30
yang digunakan sebagai acuan penggunaan wewenang bagi pejabat
pemerintahan dalam mengeluarkan keputusan dan/atau tindakan
dalam penyelenggaraan pemerintahan”.
AUPB berperan sebagai dasar saat Badan dan/atau Pejabat
Administrasi Negara menjalankan fungsi yang sudah ditetapkan dan
menjadi pedoman alat uji hakim administrasi untuk melakukan
penilaian tindakan administrasi berupa penetapan dan juga sebagai
dasar penggugat untuk pihak yang akan menggugat.
Menurut konsep negara hukum kesejahteraan, fungsi utama
pemerintah adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat umum.
Namun dalam menjalankan tugasnya pemerintah memerlukan
patokan atau acuan agar terhindar dari menyalahgunakan wewenang
ataupun pemerintah bertindak diluar kewenangannya, maka
lahirnya AUPB. Dengan adanya AUPB pemerintah dalam menja-
lankan tugasnya tidak akan melakukan tindakan yang dapat
menimbulkan benturan kepentingan pemerintah dengan warga
negara melalui keputusan yang dikeluarkan (KTUN)
Pada awal kemunculan AUPB berfungsi sebagai sarana
perlindungan bagi warga negara terhadap tindakan pemerintah yang
mengunakan kewenangan bebasnya. Namun dengan perkembangan
hukum fungsi AUP menurut UU TUN bergeser menjadi acuan
pemerintah dalam menjalankan wewenangnya. Ditambah lagi AUPB
juga dapat dijadikan alasan untuk menggugat pemerintah oleh badan
hukum maupun individu yang merasa dirugikan terhadap tindakan
yang dilakukan oleh pemerintah. Fungsi lain AUPB adalah juga
menjadi acuan bagi pemerintah dalam pengambilan keputusan.
AUPB juga terdiri atas asas-asas yang tidak tertulis sehingga
dapat digali lagi. Fungsi AUPB bagi hukum Administrasi Negara
adalah sebagai pedoman atau acuan dalam melakukan penerapan
terhadap ketentuan perundang-undangan yang bersifat suamir,
samar atau tidak jelas. Dan AUPB juga mendasari dapat diujinya atau
dibatalkan putusan yang telah dikeluarkan oleh para Badan
dan/atau Pejabat Tata Usaha Negara. Yaitu bahwa dalam dasar
pemerintah melakukan tindakan harus atau wajib untuk
mencamtumkan atau menunjukan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang menjadi dasar dalam melakukan tindakan tersebut
dan sudah dijelaskan dalam AUPB didalam undang-undang bahwa
ada dasar yaitu:
31
1. Kepastian hukum
2. Kemanfaatan
3. Ketidakberpihakan
4. Kecermatan
5. Tidak menyalahgunakan kewenangan
6. Keterbukaan
7. Kepentingan umum dan
8. Pelayanan yang baik.
AUPB merupakan asas dalam pemerintahan yang selalu berkembang
melalui yurisprudensi putusan hakim, yaitu:
1. Asas persamaan perlakuan
2. Asas kepercayaan
3. Asas kecermatan atau ketelitian
4. Asas pemberian alasan atau motivasi
5. Asas larangan penyalahgunaan wewenang
6. Asas larangan bertindak sewenang-wenang.29
AUPB pada prinsipnya memiliki 2 fungsi:
1. AUPB sebagai peraturan perilaku atau tingkah laku bagi badan
administratif dan badan hukum lainnya. AUPB diterapkan dalam
prosedur dan tujuan diterbitkannya suatu keputusan (they are rules
of conduct for administrative bodies and other legal enthities).
2. AUPB adalah sarana untuk melakukan judicial review terhadap
keputusan yang dibuat oleh badan administratif (are tools for
judicial review).30
Maka dengan ini, dalam melaksanakan tindakan pemerintah harus
sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan dan dengan adanya
prosedur, warga dapat diperlakukan sama tanpa membeda-bedakan
tanpa memandang tinggi atau rendah derajatnya. Asas legalitas
merupakan prinsip utama yang dijadikan dasar setiap
penyelenggaraan atau tindakan pemerintahan, dengan demikian
substansi asas legalitas merupakan wewenang, yaitu suatu
kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan pemerintahan.
AUPB dapat dipaham sebagai asas-asas umum yang djadikan dasar

29 Sjahran Basah dalam Jazim Hamidi dan Winahyu Erwiningsih. Yurisprudensi


Tentang Penerapan Asas-Asas Umum Pemerintahan Yang Layak. PT. Tata Nusa, Jakarta.
2002, hlm. 5.
30 Efendi A’an dan Freddy Poernama. Hukum Administrasi. Sinar Grafikasi, Jakarta

Timur. 2017, hlm.156.

32
dalam penyelenggaraan pemerintahan yang layak dan agar tidak
terjadi pelanggaran peraturan tindakan penyalahgunaan wewenang
dan tidakan sewenang-wenang.

33
BAB IV
KEABSAHAN TINDAKAN PEMERINTAH
Amanda Raissa, Masrino Ganapradipta, Adi Prasetyo, Agung Dwi Laksana,
Faza Ramadhana, Syaifullah Yusuf,
Vitus Marselino Rettobjaan, Pungky Dwiki Enriko

A. Konsep Keabsahan Tindakan Pemerintah


Bicara tentang konsep keabsahan tindakan pemerintahan,
pertama-tama kita harus paham tentang konsep. Kata “Konsep”
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia deskripsi intelektual melalui
tujuan, cara metode apapun yang berada di luar bahasa, yang dipakai
dengan nalar untuk mengerti hal-hal lainmaksudnya konsep dalam
bab ini merupakan gambaran untuk memahami sub bab lainnya, kata
konsep berasal Bahasa latin conceptum, artinya sesuatu yang
dipahami. Kemudian juga harus dipahami yang dimaksud dengan
“Keabsahan” menurut KBBI keabsahan adalah sifat yang sah, juga
harus mengerti tentang “tindakan penguasa”.
Sebutan tindakan atau perbuatan pemerintahan itu sendiri
terambil dari kata “tindak” atau “berbuat” dalam kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI) kata tindakan atau perbuatan (headelingen
action) diartikan sebagai suatu cara pekurila kegiatan yang oleh
seseorang atau badan (organ) yang mendukung pada pada tertentu.
Pemerintah atau administrasi negara adalah sebagai subjek hukum,
menjadi pembantu hak dan kewajiban. Sebagai subyek hukum,
pemerintah melakukan macam tindakan baik tindakan nyata
maupun tindakan hukum. Tindakan nyata tidak ada kaitannya
dengan hukum dan tidak menimbulkan akibat hukum.” 31
Dapat diartikan dari pernyataan atas yang dikutip dari buku
tersebut bahwa tindakan pemerintah ada dua macam yaitu tindakan
nyata yang tidak ada kaitannya dengan hukum atau tidak berkibat
hukum dan tindakan pemerintah yang berikbat hukum atau
tindakan hukum yang memiliki dampak hukum. Akibat hukum yang
lahir dari tindakan hukum adalah dampak yang mempunyai
kepentingan dengan hukum, seperti penciptaan hukum baru,
perubahan, atau pengakhiran hukum yang ada. Jika dikatakan
bahwa tindakan hukum pemerintahan itu merupakan pernyataan

31 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Jakarta, Rajawali Pers, 2016, hlm. 109.

34
kehendak sepihak dari organ pemerintahan dan membahwa dampak
pada hubungan hukum atau kondisi hukum yang ada, kehendak
organ itu tidak boleh mengandung cacat seperti kekhilafan (dwaling),
penipuan (bedrog), paksaan (dwang), dan sebagainya yang menyebab-
kan akibat hukum yang tidak sah.”
Maksud pernyataan terkandung tindakan yang berakibat
hukum dikeluarkan oleh organ adminitrasi dengan harapan untuk
menimbulkan akibat dalam bidang hukum, kehendak itu tidak boleh
memuat cacat seperti kekhilafan (dwaling), penipuan (bedrog), paksa-
an (dwang), dan sebagainya yang menyebabkan akibat hukum yang
tidak sah. Oleh karena itu, tindakan atau perbuatan hukum peme-
rintah tidak boleh bertentangan atau menyimpang dengan aturan
yang berjalan, respons atau perbuatan penguasa negara harusnya
berpedoman dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Namun, Berdasarkan pengertian tersebut terdapat beberapa
unsur dari tindakan hukum pemerintahan:
1. Perbuatan itu dilakukan oleh aparat pemerintah dalam kedu-
dukannya sebagai alat kelengkapan pemerintahan dengan
prakarsa dan tanggung jawab sendiri.
2. Perbuatan ini dilakukan dalam rangka menjalakan fungsi
pemerintahan.
3. Perbuatan tersebut dapat menimbulkan akibat hukum di bidang
administrasi.
4. Perbutan tersebut berhubungan dengan relasi negara dan warga
negara.
5. Perbuatan tersebut harus berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
6. Perbuatan terbilang berorientasi pada tujuan tertentu berdasarkan
hukum.
Tindakan pemerintah yang tidak berakibat hukum atau
tindakan nyata dijelaskan oleh Ridwan HR dalam bukunya Hukum
Administrasi Negara “tindakan materil adalah tindakan absolut yang
bukan melahirkan akibat hukum dari perbuatan pemerintah.”
Maksud dari pernytaan tersebut tindakan nyata atau tindakan yang
berakibat hukum juga bias disebut dengan tindakan materil. Untuk
melakukan tindakan, pemerintah (organ yang berwenang) harus
memenuhi syarat-syarat agar tindakan yang dilakukan dianggap
absah dan tidak cacat dan cacat yuridis yang berakibat batal demi
35
hukum. Tindakan pemerintah harus absah karena kebasahan tindak
tersebut bertujuan, salah satunya terpenuhinya AAUPL dan AAUPB
dan juga sebagai dasar masyarakat mengeluarkan gugatan
B. Syarat Keabsahan Tindakan Pemerintah
Jika bicara tentang keabsahan pelaksanaan tindakan pemerin-
tah, maka syarat-syarat apa saja yang harus dipenuhi agar tindakan
pemerintah dainggap sah?
Dianggap sahnya suatu tindakan pemerintah jika memperha-
tikan beberapa syarat, tetapi apabila syarat-syarat yang ada tidak
terpenuhi menjadi tidak sahnya tindakan permerintah berakibat
keputusan yang dikeluarkan pemerintah batal demi hukum atau
dapat dibatalkan. Agar keputusan yang dikelurkan oleh pemerintah
berlaku yang membuat tindakan pemerintah menjadi sah harus me-
menuhi 4 syarat seperti yang dijelasakan pada buku Hukum Tata
Negara dan hukum Administrasi Negara dalam Tataran Reformasi32
yaitu:
1. Keputusan harus dibuat oleh alat (organ) yang berkuasa mem-
buatnya.
2. Oleh karena keputusan merupakan suatu kehendak (wilsver-
klaring) maka pembentukan kehendak tersebut tidak boleh
memuat kekurangan yuridis.
3. Keputusan tersebut di beri bentuk (vorm) yang ditetapkan dalam
peraturan dasarnya dan pembuatnya harus memperhatukan cara-
cara (prosedure) membuat ketetapan yang dimaksud, apabila cara
yang dimaksud ditetapkan dengan tegas dalam peraturan dasar
tersebut.
4. Materi muatan atau isi dan tujuan keputusan harus sesuai dengan
isi dan tujuan peraturan dasar.
Sehingga tindakan pemerintah dianggap cacat yuridis apabila
mengensampingkan aspek utama yaitu aspek kewenangan, prose-
dur, dan substansi/materi. Yang di maksud dengan cacat yuridis
juga apabila 4 syarat di atas tidaklah terpenuhi. Dalam tindakan
pemerintah tidak ada keputusan atau tindakan yang sudah
dikeluarkan tersebut batal demi hukum pernyataan tersebut
berdasarkan asas praduga keabsahan, jadi jika tindakan tersebut

32 Ibid, hlm. 213.

36
catatan yuridis maka tindakan tersebut hanya bisa hanya bisa di
batalkan atau verntighbaar.
Kewenangan bisa diartikan sebagai kekuatan, kekuatan bisa
diartikan sebagai kemampuan, hak, kemampuan untuk melakukan
sesuatu sehingga bisa dikatakan wewenang atau kewenangan itu
merupakan kemampuan/kekuasaan untuk dapat bertindak tetapi
nantinya haruslah membedakan antara kewenangan, kekuasaan dan
juga hak. Karena tidak semua bentuk kekuasaan adalah sebuah
kewenangan, sedangkan kewenangan sudah pasti sebuah kekuasaan.
Begitu juga dengan hak antara kewenangan dan juga hak perlulah
ada pembedaan karena nantinya kewenangan adalah kekuasaan
dalam hukum publik sedangkan hak nantinya merupakan kekuasaan
dalam bidang hukum privat.
Ada 2 (dua) unsur dalam pasal tersebut (Pasal 1 angka 8
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014) yang menjelaskan bahwa
tindakan pemerintah yaitu dengan melakukan perbuatan konkret
ataupun dengan tidak melakukan tindakan/perbuatan konkret
(tindakan fiktif atau tindakan diam). Bentuk dari perbuatan konkret
tindakan pemerintah dalam hal ini adalah menerima ataupun
menolak, lalu tindakan pemerintah dengan tidak melakukan perbu-
atan konkret bentuknya berupa fiktif negatif (penolakan) diatur
dalam Pasal 3 UU 1986 dan fiktif positif (penerimaan) diatur dalam
Pasal 53 ayat (1) UU 30 tahun 2014. Dalam hal ini semua tindakan
fiktif tadi semua bergantung dengan peraturan perundang-undangan
yang ada.
Di dalam keabsahan tindakan pemerintahan, kita mengenal
hal yang berupa kewenangan yang dimana kewenangan tersebut
berisikan:
a) Kewenangan berupa kekuasaan hukum yaitu kekuasan hukum
yang di formalkan.
b) Kewenangan merupakan dasar dari bertindak.
c) Kewenangan berada di ranah hukum publik.
d) Didalamnya terdapat kewajiban.
e) Kewenangan bersifat pilihan.
Menurut Ridwan HR kewenangan merupakan yaitu
melakukan hukum positif dan menjadi dasar lahirnya hubungan
hukum antara negara dan warga negara.

37
Pada dasarnya kewenangan pemerintah yang didapatkan untuk
melakukan sebuah tindakan itu ada 2 (dua) macam kewenangan,
yaitu kewenangan asli dan kewenangan pelimpahan yang dijelaskan
sebagai berikut:
1. Atribusi (kewenangan asli): terdapat dalam Pasal 1 angka 22 UU
no 30 tahun 2014 yang menjelaskan bahwa Atribusi adalah
pemberian Kewenangan kepada Badan dan/atau Pejabat Peme-
rintahan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 atau Undang-Undang.
Kewenangan Atribusi diperoleh jika:
a. Diatur dalam UUD atau UU
b. Berupa wewenang baru atau sebelumnya tidak ada
c. Diberikan kepada dan/atau pejabat pemerintahan (Pasal 12
ayat 1 UU No 30 Tahun 2014)
d. Atribusi tidak boleh di Delegasikan (tidak boleh melimpahkan
kewenangannya kepada orang lain) kecuali diatur dalam UUD
atau UU.
Contoh Kewenangan Atribusi:
Diketahui dalam Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 yang berisikan
tentang “Pemerintahan daerah menjalankan Otonomi seluas-
luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang
yang ditentukan sebagai urusan pemerintahan pusat”. Dalam hal
ini UUD atau Konstitusi telah memberikan kewenangan ini secara
langsung kepada pemeritahan daerah untuk menjalankan otono-
minya seluas luasnya. Dalam hal ini pemerintah daerah berhak
mengatur daerah atau wilayahnya sendiri akan tetapi kecuali
urusan-urusan pemerintah yag ditentukan sebagai urusan peme-
rintahan pusat. Bahwa di dalam ini UUD telah memberikan
kewenangannya kepada pemerintahan dalam hal ini Pemerin-
tahan Daerah sebagai pemegang kewenangan yang diberikan
langsung oleh UUD.
2. Delegasi (Kewenangan Pelimpahan): merupakan salah satu
kewenangan pelimpahan dimana terdapat dalam Pasal 1 ayat (23)
UU No 30 Tahun 2014 yang menjelaskan bahwa “Delegasi adalah
pelimpahan dari Badan dan/atau pejabat pemerintahan yang
lebih tinggi kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang
lebih rendah yang tanggung jawab dan tanggung gugat beralih
kepada penerima delegasi”. Delegasi memiliki konsep yaitu
38
penyerahan kewenangan ini dari satu jabatan ke jabatan lain
sehingga apabila telah terjadi penyerahan kewenangan tersebut
tanggung jawab serta tanggung gugat berpindah kepada jabatan
yang telah diserahi kewenangan.
Kewenangan Delegasi diperoleh jika:
a. Diberikan oleh badan/pejabat kepada pemeritahan kepada
badan/pejabat pemerintahan lainnya.
b. Delegasi harus definitif, dalam hal ini delegasi tidak dapat
menggunakan sendiri wewenang yang telah dilimpahkan.
c. Merupakan wewenang pelimpahan atau sebelumnya telah ada.
Prinsip-prinsip delegasi:
1. Yang didelegasikan adalah urusan pemerintahan.
2. Penerima Delegasi tidak boleh memberikan kembali kewena-
ngan yang telah didelegasikan. (Pasal 13 ayat 3 dan 4 UU 30
Tahun 2014).
3. Pemberi delegasi tidak boleh memberikan lagi kewenangannya.
4. Tanggung jawab dan tanggung gugat menjadi milik penerima
Delegasi.
Contoh dari delegasi:
Pasal 4 ayat (1) UUD 1945 yang menjelaskan tentang “Presiden
Repubik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut
Undang-Undang Dasar”.
Pasal 18 UUD 1945.
Dari kedua pasal tersebut kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa Presiden sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan
mendelegasikan urusan pemerintahan dalam hal ini kepada
Provinsi/Pemerintahan Daerah untuk menjalankan Otonomi
seluas-luasnya kecuali urusan pemerintah yang dianggap undang-
undang urusan pemerintahan pusat.
3. Mandat terdapat dalam Pasal 1 ayat (24) UU No. 30 Tahun 2014
yang menjelaskan bahwa “Mandat adalah pelimpahan kewena-
ngan dari badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih tinggi
kepada badan dan/atau pejabat pemerintahan yang lebih rendah
dengan tanggung jawab dan tanggung gugat tetap berada pada
pemberi mandat.
Mandat terjadi jika ada penugasan antara pejabat yang lebih tinggi
kepada pejabat yang lebih rendah. Mandat diperoleh jika meru-
pakan pelaksanaan tugas rutin Plh dan Plt serta pemberian
39
mandat dapat menggunakan sendiri kewenangan yang telah
dimandatkan.
Contoh Mandat:
Presiden membuat rancangan undang-undang bersama dengan
DPR lalu presiden memandatkannya kepada Menteri untuk
menjalankan tugas yang telah dimandatkan oleh pejabat yang
lebih tinggi dalam hal ini Presiden.
Untuk lebih mudahnya, maka dapat digambarkan dalam tabel
perbedaan antara mandat dan delegasi adalah sebagai berikut:
Mandat Delegasi
1. Pelimpahan Pelimpahannya dilakukan Pelimpahannya di-
dalam hubungan yang lakukan antara ba-
rutin antara atasan de- dan pemerintahan
ngan bawahan satu kepada badan
pemerintahan
yang lainnya
2. Tanggung jawab Setelah ada pelimpahan Setelah ada pelim-
Tanggung jawab, maka pahan, maka nan-
tanggung jawab tersebut tinya tanggung ja-
tetap pada yang memberi wab tersebut men-
mandat tersebut jadi kewajiban de-
legataris
3. Penggunaan wewenang kem- Kapanpun dapat meng- Setelah ada pe-
bali oleh pemberi kewena- gunakan wewenang terse- limpahan nantinya
ngan but pemberi wewe-
nang tersebut ti-
dak bisa lagi me-
nggunakan
4. Naskah dinas saat pemberian a.n., u.b., a.p Langsung tanpa
a.n. dll
Nantinya dengan adanya kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah
tersebut akan mewujudkan sebuah tindakan tindakan pemerintah,
yang salah satunya adalah dapat berupa penetapan atau beschiking
atau dapat disebut dengan Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN).
Keputusan tata Usaha Negara sendiri adalah tindakan pemerintah
yang sepihak artinya tidak perlu persetujuan orang lain dalam
tindakannya tersebut. Tetapi tentu saja biarpun tindakan pemerintah
ini adalah tindakan sepihak, tindakan tersebut tetap harus sesuai
dengan cara main yang ada.
Dalam asas umum prosedur Philipus M Hadjon menerangkan
bahwa dalam prosedur ini ada landasan yang mendasari yaitu
prinsip negara hukum, prinsip demokrasi dan juga prinsip
instrumental. Ketiga prinsip ini sama-sama memiliki fungsi untuk

40
perlindungan masyarakat dari tindakan pemerintah yang tidak
benar.
1. Prinsip negara hukum: dalam prinsip ini berkaitan tentang
perlindungan hak asasi manusia yaitu agar tidak adanya
pemaksaan agar masyarakat menyerahkan berkas-berkas yang
sekiranya rahasia.
2. Prinsip demokrasi: dalam prisip ini berkaitan dalam keterbukaan
dalam setiap tindakan yang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga
memungkinkan adanya keikutsertaan masyarakat dalam pengam-
bilan keputusan dan juga pengawasan terhadap tindakan
pemerintah.
3. Prinsip instrumental: dalam prinsip ini berkaitan dengan efisiensi
atau hasil guna yaitu apakah tindakan yang dilakukan ini
memiliki kualitas yang baik dan juga bermanfaat bagi masyarakat.
Dapat dikatakan prosedur ini juga mengambil peranan penting
dalam tindakan pemerintah. Terutama bagi perlindungan bagi
kepentingan warga negara. Pasal 8 Undang-Undang No 30 Tahun
2004 tentang Administrasi pemerintahan juga mengatur tentang:
1. Setiap keputusan dan/atau Tindakan harus ditetapkan dan/atau
dilakukan oleh badan dan/atau Pejabat Pemerintahan yang ber-
wenang.
2. Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam menggunakan
wewenang wajib berdasarkan;
a. Peraturan perundang-Undangan; dan
b. AUPB
3. Pejabat Administrasi pemerintahan dilarang menyalahgunakan
kewenangan dalam menetapkan dan/atau melakukan keputusan
dan/atau tindakan.
Sehingga bisa dikatakan bahwa tindakan pemerintah tesebut absah
jika dilakukan pemerintah berwenang ataupun juga pejabat yang di
beri wewenang-wewenang itu bisa berupa wewenang asli yaitu
Atribusi dan kewenangan pelimpahan yaitu delegasi dan mandat.
Perlu diketahui bahwa kewenangan ini sangat berlainan dengan hak
biarpun pada dasarnya kewenangan dan hak merupakan dasar
bertindak namun pada hak biasanya digunakan pada ranah privat
sedangkan kewenangan itu sendiri adalah kemampuan untuk
melaksanakan hukum positif dan menjadi dasar lahirnya hubungan
hukum negara dengan warga negara. Sehingga nantinya setiap
41
tindakan pemerintah haruslah sesuai dengan kewenangan yang
dimilikinya, tidak boleh bertentangan maupun melebihi kewenangan
yang dimiliki oleh pemerintah tersebut. Karena nantinya tindakan
pemerintah itu tidak lah sah dan dianggap cacat yuridis.
Jika di lihat dari Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang No. 30
Tahun 2004 tersebut selain menggunakan peraturan perudangan-
undangan sebagai dasar norma dari penerapan prinsip keabsahan
dalam tindakan pemerintah, AUPB atau Asas Umum Pemerintahan
yang Baik juga mengambil peranan penting dalam melengkapi aspek
substansi yang harus di penuhi dalam suatu tindakan pemerintah.
Hal ini bertujuan agar tindakan pemerintah tidaklah sewenang-
wenang dan tidak adanya penyalahgunaan wewenang yang
dilakukan oleh pemerintah sehingga nantinya akan mewujudkan
suatu pemerintahan yang baik dan sesuai dengan apa yang di anut
dalam negara hukum.
Bicara tentang substansi,aspek substansi juga merupakan
salah satu spek yang tidak kalah penting dalam pelaksanaan
tindakan pemerintah. Karena dalam aspek ini akan menajawab
pertanyaan “apa” yang nantinya sangat berkaitan dengan “adanya
tindakan pemerintah yang sewenang-wenang dan juga “Untuk apa”
yang sangat berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan oleh
pemerintah. Oleh sebab itu di dalam Undang-Undang tidak hanya
perundang-undangan saja yang dapat menjadi acuan keabsahan
tindakan pemerintah. Melainkan juga AUPB yang menjadi batasan
kekuasaan dan acuan bertindak seorang pemerintah dalam menja-
lankan pemerintahan.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa tindakan pemerintah
merupakan wujud dari wewenang yang dimiliki oleh pemerintah,
tindakan pemerintah tersebut haruslah sesuai dengan prinsip negara
hukum yaitu harus selalu sesuai asas legalitas. Asas legalitas disini
berarti setiap tindakan pemerintah terutama dalam tindakan hukum
haruslah sesuaii hukum dan tidak boleh bertentangan. Dalam hal ini
asas legalitas yang dimaksud yaitu bahwa setiap tindakan ataupun
keputusan yang dilakukan oleh pemerintah haruslah melengkapi
aspek wewenang, prosedur dan substansi. Dengan melengkapi aspek
wewenang dan juga aspek prosedur nantinya akan membuat suatu
keputusan atau tindakan pemerintah sah dalam hal formilnya

42
sedangkan jika memenuhi aspek substansi nantinya akan membuat
tindakan tersebut sah dalam hal materillnya.
C. AUPB Sebagai Dasar Kepatutan Pemerintah Dalam Bertindak
Di ruang lingkup suatu Negara, dengan demikian bagaimana
sistem penyelenggaran pemerintahan dijalankan itu merupakan
faktor yang menentukan sudah sampai mana Negara mengatur
sistem penyelenggaraan pemerintahan. Krisis mental berkepanjangan
yang terjadi di Indonesia mengindikasikan kelemahan dan atau
ketidakmampuan Negara dalam mengatur sistem penyelenggaraan
Pemerintahan, di Negara ini birokrasi yang sangat mencerminkan
sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik. Dan sering kita
temukan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Dan berarti me-
mang sudah seharusnya mewujudkan dalam penyelenggaraan peme-
rintahan yang baik
Dengan adanaya hal ini penataan merupakan hal penting
dalam administrasi pemerintahan yang baik maka diperlukanya
kesadaran diri sendiri dalam melakukan setiap tindakan, karena hal
tersebut tidak dapat dikehendaki apabila tidak ada kesadaran selaku
penyelenggara Negara. Dalam penyelenggaraan Negara diharapkan
adanya rasa satu - kesatuan berdasarkan Pancasila secara tidak lang-
sung sudah menyatukan irama dalam sebuah tujuan yang sama
langkah ini agar dapat terciptanya aparatur negara yang baik yang
sesuai dengan apa yang diharapkan warga Negara yaitu kerja cerdas
dan handal yang diharapkan tidak adanya kekeliruan dan profe-
sional di setiap pelayananya. semua itu tidak lepas dari fungsi
administrasi pemerintah itu sendiri yang diharapkan agar semua
orang bisa mendapatkan hasil yang maksimal dan kelancaran dalam
proses oprasionalnya. Tentu perlakuan yang baik dan semua itu
merupakan sudah menjadi hak masyarakat dan dalam hal ini warga
Negara juga tidak boleh lupa atas semua yang sudah menjadi
kewajibanya.
Pengertian mengenai good governance atau konsep Peme-
rintahan yang baik tentang penyelenggaraan Negara yang mengenai
asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan yang baik (AUPB)
ialah merupakan aturan hukum publik dimana yang mendasari
penggunaan wewenang yang berupa penerapan sanski administrasi
dalam pelaksanaannya dan mempertimbangkan kepatutan mengena-
kan sanksi yang bertujuan bagi semua kepentingan. Untuk
43
penerapan juga harus sesuai prosedur dan ketentuan yang sudah
diatur dalam asas-asas pemerintahan yang baik (AUPB). Adapun
wewenang penerapan sanksi administrasi didasarkan wewenang
bebas yaitu kebebasan menilai atau melakukan penilaian maupun
dalam melakukan menafsirkan AUPB, dan AUPB sendiri merupakan
alat hakim yang berfungsi dalam hal pengujian dan dapat dijadikan
alat untuk melihat keabsahan suatu tindakan penyelenggara Negara
dalam sistem administrasi dan yang sering kita temukan peraturan
dalam Undang-undang tidak jelas dalam mengatur. AUPB merupa-
kan alat kontrol agar dalam pelaksanaan administrasi tidak adanya
kerugian dalam hal apapun.
Sumber materil penyelengaraan pemerintahan dapat kita
temukan dalam Undang Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan yang dimana berisi fungsi dan peran
pemerintah dalam tanggung jawab. Yang mana dalam Negara
Indonesia dalam pelayanan pemerintahlah yang menjamin pelaya-
nan Administrasi yang diharapkan oleh masyarat yaitu sopan, baik,
terhormat dan prefesional dalam pelaksanaanya. Dan yang menjadi
pertanyaan adalah apakah semua itu sudah didapati oleh masya-
rakat? Itu mengapa yang menjadi alasan jaminan kepastian
penyediaan Administrasi Pemerintahan harus diatur di dalam
produk hukum Undang-Undang. Karena diera seperti sekarang
semakin banyak masyarakat yang kritis dan tentu semua itu adalah
tanggung jawab pemerintah dengan demikian memang sangat
diperlukannya aturan yang mendetail aturan-aturan yang belum
diatur dalam produk Undang-undang. Sebagai contoh UU 30 Tahun
2014 ini tidak mengatur penyediaan administrasi pemerintahan, dan
hanya memuat aturan umum seperti prosedur dan lainya.
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa AAUPB (asas-asas
umum pemerintahan yang baik) merupakan dasaran dalam tata
kelola penyelenggaraan pemerintahan yang baik, yang di harapkan
dengan adanya AAUPB pennyelenggaraan pemerintah dapat
menjadi lebih baik dengan demikian dapat terciptanya sistem
administrasi yang baik, adil terhormat dan profesional dan tidak
ditemukan penyalahgunaan wewenang dalam pelaksanaannya.
Dalam hal ini apakah Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014
tentang Administrasi Pemerintahan. Sudah mencakup semua dalam
mengatur pelaksanaan pemerintahan yang baik dan sudah sampai
44
mana pula upaya Undang-Undang 40 Tahun 2014 tersebut dalam
menjamin terlaksananya pemerintahan yang baik. Sudah menjadi
harapan semua orang agar pemerintah mengkaji UU 30 Tahun 2014
tentang administrasi pemerintahan agar lebih kontras dengan asas-
asas umum pemerintahan yang baik dengan hal itu sudah bisa
ditebak akan terciptanya satu tujuanya dalam segala aspek
administrasi Negara yang berupa asas-asas umum pemerintahan
yang baik (AAUPB)
Dalam hal ini kita perlu mengetahui akan sejarah Asas-asas
umum pemerintahan yang baik (AAUPB). Yang dimana ada masing-
masing nama di setiap Negara. Dan di Belanda, asas-asas umum
pemerintahan yang baik dikenal dengan Algemen Beginselen van
behoorllinjk bestuur (ABBB). Di Inggris dikenal dengan The Principal of
natural justice. Di Perancis disebut dengan Les Principaux Generaux du
Droit Coutumier Publique. Di Belgia disebut dengan Aglemene
Rechtsbeginselen. Di Jerman dikenal sebagai Verfassung Prinzipien. Dan
di Indonesia dikenal dengan Asas-asas umum pemerintahan yang
baik (AAUPB). Di Belanda, asas-asas umum pemerintahan yang baik
(ABBB). Sekalipun termasuk hukum tidak tertulis bukan berarti bisa
dihiraukan dan sudah seharusnya ditaati Pemerintah. Diatur dalam
Wet AROB (Administrative Rechtspraak Overheidsbeschikkingen) selain
itu apa yang menjadi ketetapan pemerintah dalam hukum
administrasi atau kekuasaan kehakiman tidak seharusnya bertenta-
ngan dengan asas-asas pemerintahan yang baik itu sendiri.
Dengan demikian perlunya sebuah pengembangan atau
pembaruan asas-asas oleh hakim yang bertujuan agar bisa dijadikan
alat untuk menguuji yang diperuntuhkan bagi hakim dalam
menyelesaikan sengketa produk hukum peradilan tata usaha Negara
(TUN.
Macam-macam AAUPB (Principle of good public Administrati-
on/Algemen van behoorllinjk bestuur) sebagaimana disebutkan oleh SF
Marbun, dan Moh. Mahfud, dalam bukunya yang bejudul “Pokok-
Pokok Hukum Administrasi Negara” dan yang dimana ada tiga belas
macam-macam AUPB Adapun asas-asas umum pemerintahan yang
baik tersebut yaitu sebagai berikut:
a. Asas kepastian hukum
b. Asas keseimbangan
c. Asas kesamaan dalam mengambil keputusan pangreh
45
d. Asas bertindak cermat
e. Asas motivasi untuk setiap keputusan pangreh
f. Asas jangan mencampur adukan kewenangan
g. Asas permainan yang layak
h. Asas keadilan atau kewajaran
i. Asas menanggapi pengharapan yang wajar
j. Asas meniadakan akibat suatu keputusan yang batal
k. Asas perlindungan atas pandangan (cara) hidup pribadi
l. Asas kebijaksanaan
m. Asas penyelenggaraan kepentingan umum
Selanjutnya akan dijelaskan tentang ketiga belas asas berdasarkan
asas diatas yaitu:
1. Asas Kepastian Hukum
Dalam asas kepastian hukum dibagi menjadi materil dan formil
dan di dalam hukum materil mengandung asas kepercayaan,
yaitu yang dimana sudah menjadi keputusan pemerintah
terhadap hak dalam sebuah putusan maka tidak dapat dibatalkan
atau sesuatu yang tidak tepat apabila pemerintah menarik kembali
suatu putusan. Dan jika dilihat dari hukum formal lebih apa yang
memberatkan dan apa yang sudah menjadi sebuah ketetapan yang
menguntungkan.
2. Asas Keseimbangan
Asas keseimbangan lebih dimana apabila ditemukan kesalahan-
kesalahan yang dilakukan oleh seorang pegawai dalam jabatan
dan sebuah kealpaan didalamnya, yang diharapkan bilamana
ditemukan sebuah kasus maka ketika menemukan keaalpaan yang
sama dan dilakukan seseorang yang berbeda maka dapat dija-
tuhkan sanksi yang sama pula.
3. Asas Kesamaan
Jika dilihat dari pengertian asas kesamaan maka teringat dengan
sistem common law yang dimana putusan yang terdahulu
menjadi dasar keputusan hakim selanjutnya dan tentu saja Asas
Kesamaan dalam Mengambil Keputusan yaitu apabila terdapat
kasus yang sama dalam fata hukum yang sama maka atau jangan
sampai bertentangan
4. Asas Bertindak Cermat
Kenapa harus adanya kesinambungan atas penyelenggaraan ad-
ministrasi hal ini tidak lepas karena adanya Asas Bertindak
46
Cermat, yang dimana dalam asas ini pemerintah dituntut bertin-
dak cermat dalam setiap penyelenggaraan pemerintah agar disaat
memberikan putusan harus menghendaki dengan banyaknya
pertimbangan, yang diharapkan agar tidak menimbulkan keru-
gian bagi masyarakat selaku penerima atas tindakan pemerintah.
5. Asas Motivasi Untuk Setiap Putusan
Untuk Asas Motivasi sendiri sebenarnya ialah ketetapan yang
harus berisi alasan dan alasan ini harus menghendaki kejelasan
yang akurat dalam penerbitan ketetapan, yang dimana bertujuan
untuk bilamana ada ketetapan tidak diterima. Maka bisa menga-
jukan banding dan hakim memberikan penilaian dalam ketetapan
yang sengketa.
6. Asas Jangan Mencampurkan Adukan Wewenang
Asas tidak Mencampuradukkan wewenang yang dimaksudkan
asas ini melarang pejabat Negara untuk melakukan tindakan yang
diluar wewenang yang sudah diatur oleh peraturan perundang-
undangan. Adanya asas ini agar pejabat Negara tidak menyalah-
gunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi.
7. Asas Permainan Yang Layak
Adanya asas perminan layak ditujukan kepada masyarakat
Negara untuk mencari keadilan dan melindungi masyarakat dari
sanksi administrasi. Adanya asas ini membuat terbukaan dari
pemerintah itu sendiri dan masyarakat Negara.
8. Asas Keadilan atau Kewajaran
Asas keadilan ialah asas yang menjaga hak asasi setiap orang dan
memuat semua peraturan yang mencerminkan keadilan. Sedang-
kan asas kewajaran itu sendiri ialah semua kegiatan pemerintah
yang menunjukkan nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat.
9. Asas Menanggapi Penghargaan Yang Wajar
Asas menanggapi penghargaan yang wajar ialah asas yang me-
maksa pemerintah untuk melakukan tindakan yang memberikan
harapan-harapan kepada semua warga Negara. Dan jika telah
memberikan harapan-harapan kepada warga Negara, Pemerintah
wajib melaksanakannya meskipun tindakan tersebut merugikan
bagi Negara tetapi menguntungkan kepada masyarakat Negara.
10. Asas Meniadakan Akibat - Akibat Suatu Keputusan Yang Batal
Asas ini ialah asas untuk terjadinya pembatalan suatu keputusan.
Jika ada pembatalan suatu keputusan, dan ada seseorang dirugi-
47
kan maka pemerintah harus melakukan ganti rugi dan memulih-
kan seseorang tersebut.
11. Asas Perlindungan Atas Pandangan Hidup
Asas perlindungan atas pandangan hidup ialah asas untuk melin-
dungi pandangan hidup setiap warga Negara tanpa ada paksaan.
Pandangan hidup sendiri itu ialah tentang keyakinan, kesusilaan,
dan norma-norma warga Negara itu sendiri. Tetapi norma-norma
tersebut tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang
berlaku di masyarakat Negara itu sendiri.
12. Asas Kebijaksanaan
Asas kebijaksanaan itu sendiri ialah asas untuk pemerintah itu
sendiri, dalam melaksanakan tugasnya dan diberi kebebasan
untuk melakukan tugasnya tanpa harus terpaku dengan peraturan
perundang-undangan.
13. Asas Penyelenggaraan Kepentingan Umum
Asas ini memaksa agar pemerintah dalam mengambil keputusan
harus mengutamakan kepentingan umum, yaitu kepentingan
yang mencakup kepentingan semua orang. Dan dalam penera-
pannya tentu bisa terhalang karena adanya asas legalitas yang ber-
patok pada kepastian hukum.
Fungsi dan kegunaan AUPB pada awalnya diartikan sebagai
sarana perlindungan hukum atau bahkan dijadikan sebagai instru-
men untuk peningkatan perlindungan hukum tapi berdasarkan
perkembangannya AUPB juga bisa dijadikan dasar untuk menilai
kinerja pemerintah dalam melakukan tindakan dan dapat dijadikan
sebagai alat kepatuhan pemerintah dalam menjalankan kegiatan
administrasi guna mengontrol segala aktifitas atau kegiatan yang
selama ini sudah berjalan agar menjadi bagaimana semestinya.
Dalam ruang lingkup administrasi AUPB juga memiliki arti penting
yang berguna untuk dijadikan pedoman dalam melakukan penaf-
siran dan untuk menerapkan ketentuan UU yang besrsifat sama atau
absurd dalam pelaksanaanya. Adapun Menurut SF. Marbun, AAUPB
memiliki arti penting dan fungsi berikut:
 Bagi administrasi negara, bermanfaat sebagai pedoman dalam
melakukan penafsiran dan penerapan terhadap ketentuan-
ketentuan perundang-undangan yang bersifat samar atau tidak
jelas. Dan diharapkan lebih terperinci lagi di setiap ketentuan-

48
ketentuan yang ada dalam undang-undang agar tidak mengaki-
batkan saling betentangan dengan peraturan sebelumnya/yang
sudah ada.
 Bagi warga masyarakat, sebagai pencari keadilan, AAUPB dapat
dipergunakan sebagai dasar gugatan sebagaimana disebutkan
dalam pasal 53 UU No. 5/1986. Tentu saja masyarakat hanyalah
menginginkan keadilan apabila merasa dirugikan dan disini juga
kita bisa melihat fungsi dari AUPB itu sendiri.
 Bagi hakim TUN, dapat dipergunakan sebagai alat menguji dan
membatalkan keputusan yang dikeluarkan badan atau pejabat
TUN. Yang dimana keputasan/ketetapan dapat dijadikan refe-
rensi bagi hakim dalam sebuah penetapan dapat atau tidaknya
diterima.
 Selain itu, AAUPB tersebut juga berguna bagi badan legislatif
dalam merancang suatu undang-undang. Selain itu AUPB juga
dapat dijadikan sebagai landasan penyelesaian sengketa.
Dibalik semua tindakan pemerintah dalam mengatur masyarakat,
baik dalam tindakan yang faktual atau (feitelijkhandelingen) dan juga
tindakan hukum (rechtelijkhandelingen). Terutama dalam tindakan
hukum yang dilakukan oleh pemerintah yang nantinya akan meng-
hasilkan hukum baru pasti tidak hanya tindakan yang mengun-
tungkan untuk semua pihak. Nantinya pasti ada beberapa orang
yang tidak mendapatkan keuntungan dari tindakan pemerintah
tersebut. Contohnya adanya pembangunan jalan raya yang mengun-
tungkan orang-orang yang tinggal di sekitar jalan raya tersebut baik
dari segi perekonomian, transportasi dan lain-lain, sedangkan
penduduk yang jauh dari jalan raya tersebut tidak dapat merasakan
keuntungan dari pembangunan jalan raya tersebut bisa karena usaha
yang mereka dirikan menjadi sepi pembeli dan juga tanah yang me-
reka punya menjadi jatuh harganya karena adanya pembangunan
jalan raya tersebut.
Pemerintah jugalah manusia biasa dan dalam melaksanakan
tugasnya pemerintah tidak akan lepas dari kemungkinan untuk
melakukan tindakan yang tidak sah atau bahkan melanggar jika
dilihat dari sisi hukum. Bahkan James Madison dalam tulisanya
“Federalist Papers” menyatakan bahwa “Jika manusia adalah malai-
kat maka tidak perlu ada pemerintah, jika malaikat yang memerintah

49
manusia maka pengawasan dari luat atau dari dalam pada
pemerintah tidak lagi diperlukan”, dari sini dapat disimpulkan
bahwa pemerintah bukanlah malaikat yang akan selalu benar dalam
bertindak, sehingga memungkinkan melakukan tindakan yang tidak
sah karena apa yang dilakukan tersebut di luar kewenangannya atau
mungkin dalam hal-hal lain yang menyebabkan tindakan pemerintah
itu tidaklah sah. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya tindakan
pemerintah merupakan wujud dari kewenangan yang dimiliki oleh
pemerintah. Sehingga jika pemerintah tidak memiliki kewenangan
dalam hal ini Philipus M Hadjon menjabarkan penyebab ketidakwe-
nangan aparat pemerintah adalah:
1. Tidak berwenang dari segi materi (ratione material) yang artinya
seorang pejabat yang mengeluarkan keputusan tata usaha negara
atau masalah tertentu itu menjadi wewenang dari badan atau
pejabat lain.
2. Tidak berwenang dari segi wilayah atau tempat (ratione locus),
artinya keputusan tata negara yang dikeluarkan oleh pejabat tata
usaha ngara mengenai sesuatu yang berada diluar wilayah
jabatannya.
3. Tidak berwenang dari segi waktu (ratione temporis) artinya kepu-
tusan dikeluarkan karena melampau tenggang waktu yang dike-
luarkan.33
Maka pemerintah tidak bisa melakukan tindakan, dan jika
melakukan suatu tindakan yang tidak sesuai atau melebihi dari
kewenangannya, maka tindakan itu tidaklah sah dan menyalahi
aturan dari sisi hukum. Dan nantinya tindakan yang tidak berdasar-
kan wewenang tersebut akan menyebabkan adanya:
1. Tindakan yang tidaklah layak ataupun tercela
Yang nantinya akan dibagi menjadi lima bagian yaitu:
1. Perbuatan yang tidak tepat (onjuist).
2. Perbuatan yang melawan hukum (onrechtmatig) dalam perbua-
tan yang melawan hukum ini ada nantinya dibagi menjadi tiga
yaitu perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum, berlai-
nan dengan hukum, dan juga perbuatan yang pasif yang bisa
diartikan pemerintah tersebut tidak berbuat apapun nantinya

33Sadjijono, Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi Negara, Laksbang


Pressindo, Yogyakarta, hlm. 63-64.

50
juga perbuatan itu dikatakan melawan hukum sebagai contoh
(pada suatu daerah yang rawan kecelakaan tidak segera diberi
lampu penerangan jalan sehingga sering terjadi kecelakaan).
3. Perbuatan tidak bijak (ondoelmatig) yaitu perbuatan yang
dilakukan tersebut menggunakan kebijakan yang tidak sesuai
atau bahkan salah.
4. Perbuatan yang bertentangan dengan Undang-Undang (onwet-
matig) pada dasarnya hal ini sama dengan onrechmatig tetapi
onrechtmatig lebih luas cakupannya ketimbang onwetmatig.
5. Dan juga perbuatan yang dilakukan dengan penyalahgunaan
wewenang (onmisbruik van macht).
2. Berlawanan dengan Asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB)
Dalam hal ini AUPB adalah dasar kepatutan pemerintah dalam
bertindak sehingga saat tindakan pemerintah tidak sesuai dengan
AUPB maka bisa dikatakan tindakan pemerintah itu tidaklah pa-
tut secara etika. Sehingga dalam tindakan pemerintah tersebut ti-
dak mencerminkan kepemimpinan yang baik.
3. Tindakan tersebut tidaklah bermoral
Tindakan pemerintah yang tidak sah tidak jarang menimbulkan
hal yang biasa disebut Maladminnistrasi, istilah maladministrasi
bisa di artikan sebagai pemerintahan yang tidak baik atau buruk.
Pemerintahan yang buruk itu tidak hanya perkara tindakan
pemerintah yang menyalahi aturan tetapi juga:
1. pemberian pelayanan pada masyarakat yang terhitung lambat
2. birokrasi yang berbelit-belit sehingga menimbulkan kerugian
waktu pada masyarakat
3. tindakan diskriminatif terhadap masyarakat
4. perbuatan yang senaknya sperti kasar dalam berbicara pada
saat pelayanan
5. menolak memberikan jawaban atas kejelasan suatu proses
6. melakukan pungutan liar
7. lalai dalam melakukan kewajiban
8. penyimpangan dalam prosedur
Oleh karena itu tindakan pemerintah yang jelas bertentangan dengan
peraturan-perundang-undangan dan juga AUPB akan menimbulkan
tindakan yang maladministrasi yang bertentangan dengan konsep
pemerintahan yang baik. Tindakan maladministrasi merupakan
tindakan yang bertentangan dengan hukum serta norma-norma
51
kepatutan yang sudah semestinya dianut oleh para aparatur negara.
Dalam administrasi pemerintah memiliki kewajiban dan tugas yang
berfungsi untuk pemenuhan atas kebutuhan, dalam rangka meme-
nuhi kewajiban dan tugas dari pemeribtah itu sendiri. Sehingga
tindakan yang diambil bersifat baik, sopan, adil dan terhormat, jadi
senantiasa berdampak baik pula bagi masyarakat. Tentu tindakan
administrasi tidak boleh lepas dari sifat itu dikarenakan itu sudah
menjadi bagian agar dalam pelaksanaanya tidak menimbulkan hal-
hal yang merugikan dalam pelaksanaannya.
Philipus M. Hadjon menyatakan bahwa prinsip keabsahan
tindakan pemerintah merupakan suatu hal yang penting, karena
keabsahan tindakan pemerintah tidak dapat melepaskan dari fungsi-
fungsi yang ada dalam hal ini membicarakan fungsi:34
 Fungsi bagi pemerintah, dalam hal ini aparat pemerintah dapat
membentuk norma-norma pemerintahan. Jadi norma pemerinta-
han yang dimaksud norma atau aturan sebagai dasar pemerintah
dalam melakukan atau menjalankan tindakan sebagaimana
fungsinya.
 Fungsi bagi masyarakat, sebagaimana kita tau masyarakat itu
sendiri memerlukan perlindungan dari tindakan pemerintah itu
sendiri maka dalam hal itu keabsahan berfungsi sangat penting
sebagai dasar mengeluarkan gugatan dari tindakan pemerintah.
 Fungsi bagi hakim, prinsip ini sebagai dasar pengujian suatu
tindakan pemerintah.
Maka dalam hal ini pentingnya keabsahan tindakan pemerintahan
juga berpengaruh terhadap fungsi-fungsi diatas. Keabsahan tidak
lepas dari fungsi-fungsi yang dijelaskan oleh Philipus M. Hadjon
Menurutnya ada beberapa fungsi yaitu bagi pemerintah, fungsi bagi
masyrakat dan fungsi bagi hakim. Selanjutnya petingnya keabsahan
tindakan pemerintah guna terpenuhinya AAUPL (Asas-Asas Umum
Pemerintahan Layak) dalam Pasal 3 UU No 28 Tahun 1999. AAUPL
di Indonesia
Dari penjabaran di atas adalah keabsahan dalam tindakan
pemerintah sangatlah penting adanya karena nantinya keabsahan itu

34Sofyan Hadi dan Tomy Michael, “Prinsip Keabsahan (Rechtmatigheid) Dalam Pene-
tapan Keputusan Tata Usaha Negara”. Jurnal Cita Hukum, Vol. 5 No. 2 Desember 2017,
hlm. 5.

52
akan menjadi salah satu tolak ukur apakah tindakan pemerintah
dalam melaukan tugasnya untuk kepentingan masyarakat bisa di
katakan sah dalam arti menguntungkan dan bermanfaat atau malah
tidaklah absah dan juga sangat merugikan bagi masyarakat. Dengan
adanya keabsahan tindakan pemerintah akan dikontrol dan juga
diawasi, agar tidak adanya tindakan atau keputusan yang sewenang-
wenang yang nantinya malah merugikan warga negara.
Dalam pelaksanaan tindakan pemerintah dari segi kesopanan,
waktu, efisiensi, manfaat juga diperhatikan dalam prinsip keabsahan
ini dalam praktiknya keabsahan tidak hanya untuk melindungi
kepentingan masyarakat saja. Melainkan juga menjadi norma
kepatutan dan juga batasan bagi kekuasaan pemerintah, karena
nantinya tindakan pemerintah tidaklah boleh menyalagi prinsip-
psrinsip atau aspek aspek seperti wewenang, prosedur, san juga
substansi tidak hanya sampai di situ nantinya tindakan pemerintah
haruslah sesuai dengan AUPB atau Asas-Asas Umum Pemerintahan
yang Baik agar terciptanya prinsip Good Government. Keabsahan juga
sangat penting bagi hakim dalam memutus apakah tindakan
pemerintah tersebut sah atau tidak, memenuhi syarat-syarat yang
ada atau tidak.

53
BAB V
PENGUJIAN TINDAKAN PEMERINTAH
Bianda Dea Talitha, Karina Ayu Putri, Dewi Awaliya O,
Ellin Vioni Akse, Devi Oktamala, Robi Maula,
Alfa Galih Verdiantoro

A. Mengapa Tindakan Pemerintah Perlu Diuji?


Dalam ruang lingkup hukum administrasi meliputi
pembenaran dari banyaknya kebijakan pemerintah berdasarkan
hukum yang terkait dengan struktur organisasi, kemudian proses
dan manajemen tersebut yang menciptakan manajemen baik dalam
bidang sektor ekonomi keuangan, adanya pengawasan dari
pemerintah, mempersiapkan sumber daya manusia aparatur,
akuntabilitas secara transparansi serta proses tindakan pemerintah
dengan pembuatan kebijakan dan implementasinya.
Indonesia Sebagai negara hukum serta asas Negara hukum,
setiap tindakan hukum Pemerintah, baik di bidang hukum publik
maupun privat harus berdasarkan hukum tertulis yang berlaku
mengutamakan perlindungan hukum bagi warga negara, jaminan
persamaan hak .Peran Pengadilan Tata Usaha Negara untuk
melakukan pengujian dengan fungsi pengawasan, adalah penting
sebagai fungsi pengawasan yang bersifat eksternal serta a-posteriori.
Pelaksanaan fungsi PTUN dalam hal fungsi pengawasan terhadap
penyelenggaraan pemerintahan yang dilakukan bersama dengan
fungsi peradilan yaitu melalui putusan Hakim yang didalamnya
mengandung epistemologi dan aksiologi putusan. PTUN selain
melaksanakan fungsi peradilan juga melaksanakan fungsi
pengawasan yuridis, yang dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirdjo
bahwa kehadiran peradilan adminsitrasi adalah untuk mengembang-
kan dan memelihara administrasi negara yang tepat menurut hukum
(rechtmatig) atau tepat menurut undang-undang (wetmatig) atau
tepat secara fungsional (efektif) dan berfungsi secara efisien35
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang
Administrasi Pemerintahan (UU AP) pada tanggal 17 Oktober 2014.
Hal ini adalah mengingatkan bahwa adanya bentuk tanggungjawab
negara dan pemerintah untuk menjamin penyelenggaraan pemerin-

35 Priyatmanto Abdoellah, Revitalisasi Kewenangan PTUN Gagasan Perluasan Kom-


petensi Peradilan Tata Usaha Negara, Cahaya AtmaPustaka, Yogyakarta, 2016, hlm. 38.

54
tahan dan pelayanan publik yang cepat, nyaman dan murah yang
bertujuan agar penyelenggaraan pemerintahan lebih sesuai dengan
harapan dan kebutuhan masyarakat dan sebagai landasan dan
pedoman bagi Badan dan/atau Pejabat Pemerintahan dalam
melaksanakan tindakan pemerintahan. Selain untuk menjamin hak
hak dasar warga negara,
Berdasarkan uraian di atas pemwrintahan yang dibahas
adalah mengapa perlu diuji tindakan pemerintah? dalam ketentuan
Pasal 1 ayat (3) Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, Negara Indonesia adalah negara hukum. dimana setiap
adanya tindakan pemerintah baik dalam bidang hukum public
maupun hukum privat harus berdasarkan tahap-tahap pengujian
tindakan pemerintah sesuai dengan prosedur yang ada dalam
Negara hukum jadi tidak sebebas bebasnya adanya tindakan
pemerintah tersebut. Sehingga dalam berarti sistem penyelenggaraan
pemerintahan negara Republik Indonesia harus berdasarkan atas
kedaulatan rakyat dan hukum, dan tidak berdasarkan kekuasaan
yang melekat pada kedudukan aparatur penyelenggaran peme-
rintahan.
Dengan adanya pengujian terhadap tindakan pemerintah
dapat menciptakan Penyelenggaraan pemerintah pelayanan publik
yang baik, transparan memberi hak dan kewajiban kepada warga
masyarakat, memberi perlindungan hukum dari tindakan peme-
rintahan sehingga dapat menciptakan kesejahteraan bagi warga
negara. Sehubungan dengan tata kelola pemerintahan yang baik,
tujuan yang akan dicapai yaitu pertama, untuk mewujudkan berbagai
kepastian, kemudahan dan keberhasilan dalam pelayanan publik,
kedua untuk member perlindungan kepada rakyat dari tindakan
sewenang wenang pemerintah.36
Undang-Undang Dasar 1945 memberikan amanat bahwa
negara melalui aparaturnya wajib melayani setiap warga negaranya
dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk meningkatkan kese-
jahteraan masyarakat. Semua kepentingan publik harus dilaksanakan
oleh pemerintah selaku penyelenggara negara, yaitu dalam berbagai
sektor pelayanan, terutama yang menyangkut tentang hak-hak sipil

36Ali Abdullah, Teori Dan Praktik Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Kencana,
Jakarta, 2017, hlm. 9.

55
dan kebutuhan dasar. Warga negara menginginkan penyelenggaraan
negara yang good governance, yaitu pemerintahan yang efektif, efisien,
transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab. Eksistensi pemerin-
tahan yang baik atau good governance yang selama ini sangat
didambakan oleh masyarakat masih jauh dari harapan, bahkan hanya
di angan-angan.
Konsep good governance muncul karena adanya ketidakpuasan
pada kinerja pemerintah dalam melaksanakan urusan publik. Salah
satu cara untuk mengembangkan good governance adalah dengan
meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam pemerintahan,
Tujuannya agar seluruh pihak di ruang lingkup kerja pemerintahan
mampu mengembangkan keterampilan yang dapat mempermudah
dalam melakukan setiap pekerjaannya sehingga adanya inovasi
pemerintah dapat melakukan berbagai bentuk pembaharuan dalam
setiap penyelenggaraan pemerintah daerah yang dapat mendukung
tercapainya proses good governance. AUPB sangat diperlukan untuk
membangun tata kelola pemerintahan yang baik dan pengawasan
penerapannya dilakukan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara
(PTUN) yang sekaligus melakukan fungsi peradilan untuk memberi
akses keadilan bagimasyarakat. Pengawasan yang dilakukan oleh
PTUN adalah pengawasan represif dan hanya menilai segi legalitas
dari tindakan hukum pemerintah terutama surat keputusan tata
usaha Negara.37
Sesuai Pasal 10 ayat (1) UU AP dicantumkan 8 AUPB, dan
dalam Pasal 10 ayat (2) menyebutkan asas-asas umum lainnya selain
yang disebutkandiatas, dapat diterapkan sepanjang dijadikandasar
penilaian hakim yang dituangkan dalam putusan pengadilan. Bertitik
tolak dari hal tersebut, PTUN memiliki peran penting untuk
mengawasi pemerintahan agar sesuai dengan AUPB dan memba-
ngun tata kelola pemerintahan yang baik.
Pemerintah dapat diuji melalui Peradilan Tata Usaha Negara.
Dengan begitu mengedepankan nilai-nilai yang ideal dari sebuah
negara hukum.Penyelenggaraan dari sebuah kekuasaan Negara
seyogyanya harus selalu berpihak kepada warganya Jaminan dan
perwujudan warga negara sebagai subjek dalam sebuah negara

37Irfan Fachruddin, Pengawasan Peradilan Administrasi Terhadap Tindakan Pemerintah,


Bandung, Alumni, 2004, hlm. 255.

56
hukum, yang merupakan bagian dari perwujudan kedaulatan rakyat,
mensyaratkan dengan ketetapan Undang-undang.
Undang-undang menjamin bahwa keputusan yang telah di
ajukan oleh instansi pemerintah terhadap warganya telah dikaji agar
tidak bertindak sewenang-wenangnya. Tanpa ketentuan hukum yang
sesuai dengan undang-undang ini maka warga negara akan menjadi
objek kekuasaan negara. Pada dasarnya hukum administrasi sendiri
terjadi transformasi asas asa umum penyelenggaran baik dan telah
dipraktekan turun temurun dalam suatu penyelenggaraan sebuah
administrasi pemerintahan.Undang-Undang tersebut menjadi asas
yang berada kedalam norma hukum yang mengikat. Asas-asas
umum penyelenggaraan pemerintahan yang baik akan terus
berkembang, sesuai dengan Perkembangan zaman dan dinamika
masyarakat. Banyaknya Perubahan yang terjadi di lingkungan
masyarakat untuk mewujudkan penyelenggaraan administrasi
pemerintahan. Dalam meningkatkan upaya tata kepemerintahan
yang baik untuk mengurangi adanya tindakan kriminal seperti
terjadinya Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Pendekatan lebih
diarahkan sebagai tindakan preventif dalam penyelenggaraan
administrasi pemerintahan. Dengan adanya Undang-undang ini
dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas penyelenggaraan admi-
nistrasi pemerintahan, dan prosedur administrasi pemerintahan
sehingga mencegah terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme.
Disamping itu, Undang-undang Administrasi Pemerintahan harus
mampu menciptakan birokrasi yang semakin baik, transparan dan
efisien.
Setiap tindakan pemerintahan harus berdasarkan atas hokum,
karena dalam negara-negara terdapat prinsip Asas legalitas. Asas ini
menentukan bahwa tanpa adanya dasar wewenang yang diberikan
oleh suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka
segala macam apparat pemerintah tidak akan memiliki wewenang
yang dapat mempengaruhi atau mengubah keadaan atau posisi
hokum warga masyarakatnya. Tetapi tidak selalu setiap tindakan
pemerintahan tersedia peraturan perundang-undangan yang menga-
turnya. Dalam kondisi tertentu terutama ketika pemerintah harus
bertindak secepatnya untuk menyelesaikan persoalan konkret dalam
masyarakat.

57
Seiring dengan perkembangan masyarakat yang kian
kompleks, dimungkinkan bahwa persoalan yang terjadi ditengah
masyarakat dan harus diurus oleh organ pemerintahan telah ada
pengaturannya dan ada juga yang belum diatur terhadap persoalan
urusan yang belum ada pengaturannya. Sementara harus dilayani
oleh pemerintah, maka dalam rangka pelayanan kepada warga
negara oragan pemerintah menggunakan diskresi. Adapun terhadap
persoalan yang ada peraturannya.
Dalam sistem civil law, pengujian terhadap tindakan organ
pemerintah tindakan itu menggunakan pendekatan rechmatigheid
dan doelmatigheid. H.D Van Wijk menyebutkan bahwa ada empat
macam pengujian yang dapat digunakan terhadap tindakan peme-
rintah itu:
1. Bertentangan dengan peraturan yang mengikat umum atau
peraturan perundag-undangan
2. Penyalahgunaan wewenang
3. Organ pemerintah dalam mempertimbangkan berbagai kepen-
tingan terkait untuk mengambil keputusan tidak mendasarkan
pada alasan yang rasional
4. Bertentangan dengan apa yang dalam kesadaran umum meru-
pakan asas-asas yang hidup (berlaku tentang pemerintahan yang
baik).
Jadi sebelum tindakan pemerintah sudah melalui pertim-
bangan. Bilamana perlu diuji tindakan-tindakan didalamnya masih
terdapat keraguan. Adapu perlu diuji karena akan berdampak pada
masyarakat.
B. Bagaimana Mekanisme Menguji?
Mekanisme Tindakan Pemerintah
Asas yang penting dari negara hukum adalah asas legalitas.
Asas legalitas menghendaki agar setiap tindakan badan/pejabat
admisnistrasi berdasarkan undang-undang. Tanpa dasar undang-
undang, badan/pejabat administrasi negara tidak berwenang
melakukan suatu tindakan yang dapat merubah atau mempengaruhi
keadaan hukum di masyarakat. Asas legalitas ini menuntut agar
setiap penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan harus

58
didasarkan pada undang-undang serta adanya jaminan hak-hak
dasar warga negara yang tertuang dalam undang-undang.38
Pejabat Pemerintahan seringkali di salahkan akibat keputusan
dalam mengambil sebuah kebijakan mendapatkan Permasalahan
sebagaimana konstruksi pengujian dengan melihat unsur
penyalahgunaan wewenang terhadap keputusan atau tindakan
aparatur negara oleh PTUN untuk mempertahankan haknya dalam
suatu gugatan dengan menggunakan Citizen Lawsuit atau gugatan
warga negara Action Popularis. Citizen Lawsuit merupakan klaim atau
tuntutan atau kehendak dari masyarakat terorganisir menyangkut
kepentingan umum yang dilanggar oleh siapapun. Atas pelanggaran
kepentingan umum diperlukan kontrol yang bersifat fundamental
dari warga negara melalui Citizen Lawsuit. Secara sederhana Citizen
Lawsuit diartikan sebagai gugatan yang dapat diajukan oleh warga
negara, tanpa pandang bulu, dengan peraturan oleh negara. 39 dalam
menggunakan Citizen Lawsuit merupakan sebuah mekanisme di
Indonesia masuk kedalam ruang lingkup hukum perdata, karena
merupakan dalam kaidah yang terjadi di beberapa putusan
merupakan gugatan terhadap perbuatan melawan hukum
pemerintah yang mengakibatkan sebuah kerugian terhadap warga
negara, tetapi dalam Citizen Lawsuit sebagai bentuk pengawasan
yang terjadi ke ruang lingkup pengadilan terhadap kebijakan
pemerintah.
Mengenai Citizen Lawsuit
Citizen lawsuit menurut Mas Ahmad Sentosa, citizen lawsuit
adalah hak warga atau perorangan untuk berontak karena
mengalami kerugian atas masalah kerugian umum, suatu contoh
yang dapat dikemukakan adalah hal P seorang warga negara DKI
Jakarta dapat menggugat Q perusahaan pembangunan rumah
mewah karena menimbun (reklamasi) wilayah pantai utara Jakarta
untuk membangun areal perumahan, sehingga menimbulkan banjir
dan membuat jalan utama tidak dapat dilalui karena sering
tergenang air sebagai akibat reklamasi. 40

38 Ridwan H, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta, UII Press, 2002, hlm. 68-68.
39 E.Sundari, Pengajuan Sugatan Secara Class Action (Suatu Studi Perbandingan & Dan
Penerapannya di Indonesia), Yogyakarta: Universitas Atma Jaya, 2000, hlm. 15.
40 N.H.T.Siahaan(a), Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, Jakarta, Erlangga,

2004, hlm. 230.

59
Bahwa kebijakan pemerintah dapat diawasi oleh warga
negara selain melalui mekanisme judicial review. Dan juga bisa meng-
gunakan mekanisme citizen lawsuit yang merupakan mekanisme
pengajuan gugatan yang terhadap perbuatan melawan hukum.
C. Siapa Yang Berwenang Menguji?
Di dalam penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah
dilekatkan dengan suatu kebebasan. Kebebasan bertindak badan atau
pejabat pemerintahan muncul secara insidental, ketika peraturan
perundang-undangan belum ada atau belum mengatur atau rumusan
peraturan bersifat multitafsir atau bersifat sama. Peraturan kebijakan
sebagai wujud penyelenggaraan tugas badan atau pejabat
pemerintah yang mengeluarkan ketentuan atas kehendak sendiri
bersifat bebas atau bersifat terikat dengan tetap memperhatikan
norma-norma hukum yang berlaku.
Untuk menjaga kaidah-kaidah dan norma yang tercantum
dalam Undang-Undang Dasar dan peraturan perundang-undangan
tentang tindakan pemerintah agar tidak terjadi penyalahgunaan
wewenang (de tournement de pouvior) dan perbuatan sewenang-
wenang (wikeur) dari pemerintah terhadap masyarakat, maka harus
ada pihak atau lembaga yang mengawasi tindakan pemerintah
tersebut. Ini disebut dengan hak uji materil, yang sesuai dengan
konsep “check and balances” yaitu agar pemerintah atau suatu badan
lembaga negara tidak melewati batas kewenangannya. Dalam
menguji tindakan pemerintah, kewenangan untuk menguji tersebut
diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan, yang dimana
kewenangan tersebut dimiliki oleh lembaga yudisial.
Terkait pengujian tindakan pemerintah oleh lembaga yudisial,
pengujian ini disebut judicial review. seiring berjalannya waktu,
rechtmatigheidstoetsing dan doelmatigheidstoesting dibedakan, bermula
dari pemikiran tentang pemisahan kekuasaan antara eksekutif dan
yudisial. Yang dijelaskan bahwa kekuasaan eksekutif tidak men-
campuri kekuasaan kehakiman, sebaliknya kekuasaan kehakiman
pun tidak boleh mencampuri urusan kekuasaan eksekutif. Untuk itu
peradilan tidak boleh melakukan doelmatigheidstoetsing. Jadi sesuai
prinsipnya, peradilan tidak mencampuri segala kebijakan yang
dibuat pemerintah. Namun, asas yang mengatakan bahwa kebijakan
pemerintah tidak dapat diganggu gugat tidaklah absolut, terutama
pada tindakan pemerintah (diskresi). Menurut hadjon, apabila
60
tindakan pemerintah (diskresi) tersebut menyimpang atau penyalah-
gunaan wewenang, maka badan peradilan memiliki kewenangan
untuk melakukan pengujian.41
Dari segi sistem norma di Indonesia menganut asas hierarki
perraturan perundang-undangan, yaitu penjenjangan setiap jenis
peraturan perundang-undangan dimana peraturan yang lebih rendah
tidak boleh bertetangan dengan peraturang perundang-undangan
yang lebih tinggi. Untuk itu hak uji materil dilakukan secara
bertahap, yang pertama melalui Mahkamah Konstitusi yang bewenag
menguji Undang-Undang terhadap UUD, Mahkamah Agung berwe-
nang menguji Peraturan Perundang-undangan dibawah UU terhadap
UU dan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang berwenang
menguji Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) akibat adanya
Sengketa Tata Usaha Negara.
Pengujian ini sebenarnya dilakukuan untuk mengetahui
kinerja pemerintah apakah sejalan dengan wewenang yang telah
diberikan. Pemberian kewenangan oleh PTUN dalam menguji unsur
penyalahgunaan wewenang muncul sebagai tempat apabila ada
pejabat yang diduga telah melakukan penyalahgunaan wewenang
yang telah diberikan oleh pemerintah. Sering sekali saat ini Pejabat
Pemerintahan yang menjadi korban kriminalisasi terhadap kebijakan
yang diambil. Permasalahan penelitian ini adalah bagaimana
konstruksi pengujian unsur penyalahgunaan wewenang terhadap
keputusan dan tindakan Pejabat Pemerintahan oleh PTUN dan
implikasi hukum putusan PTUN bagi pemohon yang dinyatakan ada
atau tidak ada unsur penyalahgunaan wewenang terhadap proses
pidana.
Tujuan Peradilan Tata Usaha Negara adalah:
a. Memberikan perlindungan terhadap hak-hak rakyat yang bersum-
ber dari hak-hak individu
b. Memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat yang
didassarkan pada kepentingan bersama dari individu yang hidup
dalam masyarakat tersebut.

41 Nur Asyiah, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta, CV. Budi Utama, hlm. 97.

61
Fungsi Peradilan Tata Usaha Negara
a. Melakukan pembinaan pejabat struktural dan fungsional serta
pegawai lainnya, baik menyangkut administrasi, teknis, yustisial,
maupun administrasi umum.
b. Melakukan pengawasan atas pelaksanaan tugas dan tingkah laku
hakim dan pegawai lainnya.
c. Menyelenggarakan sebagian kekuasaan negara dibidang keha-
kiman.
Sehingga, fungsi Peradilan Tata Usaha Negara adalah sebagai
sarana untuk menyelesaikan konflik yang timbul antara pemerintah
(badan/pejabat TUN) dengan rakyat (orang perorangan/badan
hukum perdata). 42
Dengan adanya tujuan dan fungsi Peradilan Tata Usaha
Negara, rakyat bisa mendapatkan hak-hak yang hilang pada saat di
peradilan, rakyat bisa ikut memantau secara tidak langsung
bagaimana kinerja yang dilakukan oleh pemerintah negara
khususnya dibidang peradilan. Rakyat dapat melihat bagaimana
putusan hakim yang telah diberikan, dan masyarakat dapat
menuntut balik apabila putusan yang telah diberikan hanya
menguntungkan sebelah pihak saja. dengan begitu tidak ada lagi
kecurangan-kecurangan yang terjadi, apabila fungsi peradilan terse-
but bisa dilaksanakan sebagaimana yang dijelaskan.
Sebenarnya maksud dari dibentuknya Tujuan dan Fungsi
Peradilan Tata Usaha Negara adalah, supaya masyarakat bisa
melakukan segala tindakan yang dilakukan sesuai dengan tujuan dan
fungsi peradilan agar tercapailah kesejahteraan masyarakat secara
merata tanpa ada indikasi perbedaan masyarakat kota dengan desa.
Namun juga diharapakan segala tindakan tersebut dapat diper-
tanggungjawabkan tanpa merugikan pihak manapun.
Tindakan pemerintah dapat dijalankan berdasarkan norma
wewenang dari pemerintah baik diperoleh secara atribusi, delegasi,
maupun mandat, atribusi sendiri itu merupakan pemberian
wewenang dari pemerintah oleh pembuat undang-undang, Delegasi
merupakan pelimpahan wewenang dari satu organ ke organ lainya
sedangkan mandat adalah wewenang untuk mengizinkan kewena-
ngan organ lain atas namanya. Setiap tindakan pemerintah perlunya

42 Nur Asyiah, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta, CV Budi Utama, hlm. 90.

62
diuji sebab di negara hukumnya mempunyai banyak aturan yang ada
sehingga dalam menguji suatu tindakan pemerintah harus
berdasarkan hukum tertulis maupun tidak tertulis.
AUPB adalah merupakan asas-asas hukum tidak tertulis yang
harus diperhatikan oleh badan atau pejabat administrasi negara
dalam melakukan suatu tindakan hukum. secara literatur AUPB
berisi tentang Comitie Den Moncy, tetapi saat ini keberadaannya
merupakan prinsip-prinsip yang tertuang pada pasal undang-
undang dan tercantum pada peraturan perundang yang lain.
Sehingga AUPB bukan lagi dideskripsikan sebagai hukum tidak
tertulis tetapi lebih tepatnya merupakan hukum tertulis, AUPB juga
dapat dijadikan sebagi acuan wewenang dalam membuat keputusan,
dasar pengujian gugatan, alat uji bagi hakim di pengadilan TUN,
Sehingga penafsiran isinya akan lebih mampu melahirkan kepastian
hukum. Pengertian AUPB menurut UU dan dokrin mempunyai 8
(delapan) asas yaitu:
1. Asas kepastian hukum
Asas kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang
dengan mengedepankan landasan peraturan perundang-
undangan, yang menjadikan adanya kepatutan dalam ruang
lingkup masyarakat dan keadilan pemerintah dalam menjalankan
tugas dan wewenang sebagai aparatur pemerintahan
2. Asas kepentingan umum
Asas kepentingan umum adalah asas yang mendahulukan dengan
berpedoman pada kesejahteraan umum dalam kehidupan
masyarakat dengan dilakukan cara yang aspiratif, akomodatif,
dan selektif unsur-unsur yang membentuk asas kepentingan
umum dengan menberikan pelayanan umum dan tidak boleh
menguntungkan kepentingan pribadai ataupun golongan asas
kepentingan umum posisinya sangat penting bagi aparatur
pemerintah agar dalam penyelenggaraan tugas pemerintah dapat
berjalan dengan lancar dan jelas sehingga tidak menimbulkan
diskriminasi.
3. Asas pelayanan yang baik
Asas pelayanan yang baik adalah asas yang memberikan
pelayanan secara bebas, aman serta biaya jelas bagi masyarakat
karena apabila terbentuknya pelayanan yang baik maka dianggap

63
telah melaksanakan asas asas umum penyelenggaran pemerintah
baik.
4. Asas keterbukaan
Asas yang melayani masyarakat untuk memperoleh berbagai
informasi secara jelas,lengkap, sesuwai dengan peraturan
perundang-undangan dengan adanya asas keterbukaan ini
diharapkan terjadinya transpirasi antara masyarakat dan aparatur
pemerintah negara.
5. Asas tidak menyalahgunakan kewenangan
Asas agar pejabat yang berwenang tidak menyalahgunakan
wewenang yang dimiliki seara pribadi.
6. Asas kecermatan
Suatu keputusan dan/atau tindakan harus didasarkan pada
informasi dan dokumen yang lengkap dan jelas untuk mendu-
kung keabsahan pemerintah yang berbentuk legalitas agar tidak
salah dalam menetapkan tindakan pemerintah untuk mengambil
suatu keputusan.
7. Asas ketidak pihakan
Adalah asas mewajibkan aparatur pemerintah dalam menetapkan
dan/atau melakukan keputusan dan/atau tindakan pemerintah
dengan cara mempertimbangkan kepentingan para pihak secara
keseluruahan dan tidak adanya diskriminatif antara para puhak
satu dengan pihak lainnya.
8. Asas kemanfaatan
Asas kemanfaatan adalah relevansi antara pihak 1 dengan pihak
yang lain seperti kepentingan individu dengan individu, individu
dengan masyarakat, warga masyarakat dengan masyarakat
asing,kelompok masyarakat satu dengan kelompok masyarakat
lain,pemerintah dengan masyarakat,generasi sekarang dengan
generasi mendatang,manusia dengan ekosistem pria dengan
wanita.
Sehingga asas asas menurut UU dan Doktrin menjadi acuan
untuk Jadi dapat disimpulkan dari paparan diatas bahwa yang
menjadikan tolak ukur dalam tindakan pemerintah dalam asas asas
tersebut saling berkaitan satu sama lainnya karena kedudukan asas
tersebut sama dan isi asas dalam asas tersebut termasuk dalam
prinsip prinsip yang ada dalam penyelenggaraan pemerintah yang
bertujuan menciptakan warga negara dalam mensejaterahkan
64
kepentingan umum dari berbagai sektor masyarakat yang ada seperti
ekonomi, sosial, dan budaya.
AUPB menjadikan Penyelenggaraan pemerintah yang
amanah Tata pemerintah yang baik, Pengelolaan pemerintahan yang
baik dan bertanggung jawab, tata kelola pemerintahan yang baik;
atau pemerintahan yang bersih. Ssehingga dengan adanya AUPB
menjamin adanya penegakan/tindakan hukum yang jelas, menjamin
bahwa prioritas yang dilakukan oleh pemerintahan didasarkan
sesuai dengan kesepakatan dengan masyarakat, memperhatikan
kepentingan masyarakat yang paling lemah yang membutuhkan
bantuan dari pemerintahan, menyangkut dengan alokasi pembangu-
nan sumber daya pembangunan, sehingga dampak bagi masyarakat
terhadap tindakan pemerintah yang sesuwai dengan AUPB membuat
kehidupan masyarakat dari berbagai aspek menjadi lebih baik dalam
arti lebih terarah, terjamin, sejahtera.

65
Daftar Pustaka
A’an Efendi dan Freddy Poernama, 2017, Hukum Administrasi, Sinar
Grafikasi, Jakarta Timur.
Ali Abdullah, 2017. Teori Dan Praktik Hukum Acara Peradilan Tata Usa-
ha Negara, Kencana, Jakarta.
Asshiddiqie, Jimly, 2010, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia.
Sinar Grafika, Jakarta.
Basah, Sjahran dalam Jazim Hamidi dan Winahyu Erwiningsih, 2002.
Yurisprudensi TentangPenerapan Asas-Asas Umum Pemerintahan
Yang Layak, PT. Tata Nusa, Jakarta.
Basah, Sjachran, 1997, Eksistensi dan Tolok Ukur Peradilan Administrasi
Negara di Indonesia. Alumni, Bandung.
E. Sundari, 2000. Pengajuan Sugatan Secara Class Action (Suatu Studi
Perbandingan & Dan Penerapannya di Indonesia), Yogyakarta,
Universitas Atma Jaya.
Ganjong, 2007, Pemerintahan Daerah Kajian Politik dan Hukum. Ghalia
Indonesia, Bogor.
Hadjon M Philipus, 1981, Pengertian-Pengertian Dasar tentang Tindakan
Pemerintah (Bestuurshandeling), Surabaya. Foto copy perc &
stensil Djumali.
Irfan Fachruddin, 2004, Pengawasan Peradilan Administrasi Terhadap
Tindakan Pemerintah, Alumni, Bandung.
Juan Anggraini, 2012, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta, Graha
Ilmu.
Juniarso Ridwan dan Achmad Sodik Sudrajat, 2010. Hukum Adminis-
trasi Negara dan Kebijakan Pelayanan Publik, Nuansa, Bandung.
Muhamad Rakhmat, 2014, Hukum Administrasi Negara Indonesia. Ban-
dung.
Mustamin DG. Matutu, 2004, Mandat, Delegasi, Atribusi dan Implemen-
tasinya di Indonesia, UII Press, Yogyakarta.
N.H.T.Siahaan(a), 2004, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan,
Jakarta, Erlangga.
Nomensen Sinamo, 2010, Hukum Administrasi Negara. Jakarta, Jala
Permata Aksara.
Nur Asyiah, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta, CV Budi Uta-
ma.
Prins WF Mr, 1975. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Jakarta.
Andalusia.

66
Priyatmanto Abdoellah, 2016, Revitalisasi Kewenangan PTUN Gagasan
Perluasan Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara, Cahaya
Atma Pustaka, Yogyakarta.
Ridwan, 2009, Tiga Dimensi Hukum Administrasi dan Peradilan Admi-
nistrasi, Yogyakarta: FH UII Press.
Ridwan Juniarso dan Sodik Sudrajat, Hukum Administrasi Negara Dan
Kebijakan Pelayanan Publik, Nuansa Cendekia, Bandung.
Ridwan HR, 2011 Hukum Administrasi Negara, PT RajaGrafindo Persa-
da, Jakarta.
_____, 2016. Hukum Administrasi Negara, Jakarta, Rajawali Pers.
Sadjijono, Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi Negara,
Laksbang Pressindo, Yogyakarta.
Syahrizal, Dani, 2013, Hukum Administrasi Negara & Pengadilan Tata
Usaha Negara. Yogyakarta. Medres Digital.
Syofyan Hadi dan Tomy Michael, 2017. “Prinsip Keabsahan (Recht-
matigheid) Dalam Penetapan Keputusan Tata Usaha Negara”. Jur-
nal Cita Hukum, Vol. 5 No. 2 Desember.
Setiawan Yudi, Hukum Administrasi Teori dan Praktik.
Taufani, Galang, Hukum Administrasi Negara: Di Era Citizen Friendly.
Muhamadiyah University Press. Surakarta.
Teuku, Saiful, 2018. Hukum Tata Negara Dan Hukim Administrasi
Negara. Budi Utama, Yogyakarta.
Teuku Saiful Bahri Johan, 2018, Hukum Tata Negara dan Hukum
Adminitrasi Negara dalam Tataran Reformasi Ketatanegaraan
Indonesia, Sleman, CV Budi Utama.
Winahyu Erwiningsih, makalah “Peranan Hukum dalam Pertanggung
Jawaban Perbuatan Pemerintah (Bestuurshandeling) Suatu Kajian
dalam Kebijakan Pembangunan Hukum”.
Yusri Munaf, 2016, Hukum Administrasi Negara, Pekanbaru, Marpo-
yan Tujuh.
Zairin, Harahap, 2018, Hukum Acara Peradian Tata Usaha Negara, Ja-
karta, PT. Raja GrafindoPersada.

67