Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit tuberkulosis (TB) paru ialah suatu penyakit infeksi yang masih
mendapat perhatian khusus dari program pemerintah dalam hal kesehatan
karena selalu menjadi masalah dalam kesehatan masyarakat. Penyebab dari
penyakit infeksi ini adalah bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal
dengan nama Mycobacterium tuberculosis, dimana bakteri ini dapat ditularkan
melalui perantara droplet udara misalnya dari percikan saliva saat penderita
berbicara, batuk ataupun bersin (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011).

Berdasarkan laporan dari World Health Organization tahun 2012


menunjukkan bahwa sepertiga dari populasi dunia atau sekitar dua milyar
penduduk dunia terinfeksi bakteri penyebab penyakit tuberkulosis. Dimana
setiap tahunnya 8 juta populasi dunia menderita TB paru dan sekitar 2 juta
diantaranya meninggal dunia, dengan perkiraan 90% diantaranya merupakan
penduduk negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut data dari Riset
Kesehatan Dasar tahun 2013 di Indonesia menunjukkan jumlah kejadian TB
paru BTA positif 110 penderita per 100.000 penduduk, hal ini menyebabkan TB
paru masih menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat (WHO, 2012 ;
Riskesdas, 2013).

Berikut akan dilakukan pembahasan refleksi kasus mengenai


Tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Mamboro yang termasuk dalam
lima penyakit terbanyak dan dalam kasus ini akan dibahas mengenai pasien
yang mengalami Tuberkuosis paru kasus kambuh dilingkungan kelurahan Taipa
Ginggiri, kecamatan Palu Utara, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

1
1.2. Tujuan
1. Sebagai syarat penyelesaian tugas akhir dan ujian dibagian Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
2. Sebagai gambaran untuk mengetahui beberapa faktor resiko penyakit
Tuberkulosis Paru di wilayah kerja Puskesmas Mamboro

2
BAB II
PERMASALAHAN

2.1 Penentuan Prioritas Kasus Menggunakan Rumus Hanlon Kuantitatif


Prioritas masalah di Puskesmas Mamboro
NO MASALAAH BESAR KEGAWAT KEMUNGKINAN NILAI
KESEHATAN MASALAH DARURATAN DIATASI
1 ISPA 3 2 1 6
2 Hipertensi 4 3 3 10
3 Diare 3 3 2 8
4 Diabetes melitus 3 2 4 9
5 Tuberkulosis 4 3 4 11
Paru
*Semakin tinggi nilai total angka semakin besar prioritas masalah

Berdasarkan table diatas masalah yang menjadi prioritas di Puskesmas Mamboro


adalah hipertensi, diabetes melitus dan Tuberkulosis.

KRITERIA A : Besar masalah, dapat dilihat dari besarnya insidensi atau


prevalensi. Skor 1-10

Besarmasalah
Masalah Kesehatan Nilai
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
X (Hipertensi) V 6
Y (Diabetes melitus) V 5
Z (Tuberkulosis V 8
Paru)
Keterangan total skor :
Nilai 1-4 : insidensi kurang
Nilai 5-7 : insidensi sedang
Nilai 8-10 : insidensi sangat banyak

Berdasarkan tabe diatas dapat disimpulkan penyakit dengan insidensi


terbanyak adalah Tuberkulosis Paru.

3
KRITERIA B : Kegawatan masalah (SKOR 1-5)

Masalah Biaya yang


Keganasan Tingkat urgency Niilai
Kesehatan dikeluarkan
X (Hipertensi) 2 2 3 7
Y (Diabetes 2 2 2 6
melitus)
Z (Tuberkulosis 2 4 4 10
Paru)
Keterangan skor :
Nilai 1-4 : tidak gawat
Nilai 5-7 : tidak terlalu gawat (sedang)
Nilai 8-10 : gawat

KRITERIA C :kemudahan dalam penanggulangan

Sangat sulit X Z Y sangat mudah

1 2 3 4 5

Keterangan : semakin kecil skor, maka penanggulangan masalah semakin sulit

KRITERIA D : PEARL factor

Masalah Hasil
P E A R L
Kesehatan perkalian
X 1 1 1 1 1 1
Y 1 1 1 1 1 1
Z 1 1 1 1 1 1
P : Prioriety (kesesuaian)
E : Economics (ekonomi murah)
A : Accetable (dapat diterima)
R : Recoursces (tersedianya sumber)
L : Legality (legalitas terjamin)

PENETAPAN NILAI

 Hipertensi
NPD : (A + B) C = (6 + 7) 2 = 13 x 2 = 26
NPT : (A + B) C x D = (6 + 7) 2 x 1 = 13 x 2 = 26
 Diabetes Melitus
NPD : (A + B) C = (5 + 6) 4 = 11 x 4 = 44
NPT : (A + B) C x D = (5 + 6) 4 x 1 = 11 x 4 = 44

4
 Tuberkulosis Paru
NPD : (A + B) C = (8 + 10) 3 = 18 x 3 = 54
NPT : (A + B) C x D = (8 + 10) 3 x 1 = 18 x 3 = 54

KESIMPULAN

Masalah D
A B C NPD NPT Prioritas
kesehatan (PEARL)
Hipertensi 6 7 2 26 1 26 3
Diabetes 5 6 4 44 1 44 2
Melitus
Teberkulosis 8 10 3 54 1 54 1
Paru

Dari rumus Hanon ini, dapat disimpulkan bahwa yang menjadi prioritas di
Puskesmas Mamboro yaitu pada prioritas ke-1 tuberkulosis paru, prioritas ke-2
diabetes melitus, prioritas ke-3 hipertensi.

2.2. IDENTITAS PASIEN


Nama Pasien : Tn. A
Umur : 43 tahun.
Jenis Kelamin :laki-laki.
Pekerjaan :Buruh Bangunan
Pendidikan terakhir : SMA
Alamat :Jl. Fatumagompi, Keurahan Taipa Ginggiri
Agama : Islam
Waktu Visite : 16 September 2018

2.3. ANAMNESIS
a. Keluhan utama:
Batuk berdahakdisertai bercak darah

5
b. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien lakilaki atas nama Tn. A berusia 43 tahun mengeluhkan
adanya batuk berdahak disertai bercak darah dan sesak napas hilang timbul
yang dirasakan sejak 5 bulan terakhir saat pasien bekerja di Kalimantan.
Pasien sering mengeluhkan batuk berdahak kadang disertai bercak darah dan
sesak napas hingga pasien mengaku sering bolak – balik puskesmas di sekitar
tempat kerjanya untuk mendapatkan obat, namun keluhannya tak kunjung
sembuh. Pasien juga mengaku sering berkeringat pada malam hari dan nyeri
dada serta sulit tidur dan nafsu makan pasien dirasakan sangat menurun.
Karena keluhan yang dirasakan tidak membaik dan merasa keluhannya sama
dengan keluhan penyakit sebelumya, pasien akhirnya pulang dan kembali
memeriksakan diri ke Puskesmas Mamboro.
Saat ini pasien sedang dalam pengobatan OAT kategori II dan telah
masuk bulan ke 4. Dan untuk pengobatannya pasien rutin mengonsumsi obat.

c. Riwayat Pengobatan
Pasien pada tahun 2009 pernah menjalani terapi OAT kategori 1 tuntas
selama 6 bulan yaitu 2RHZE dan 4H3R3 untuk sputum konversinya negative
basil tahan asam.

d. Riwayat Penyakit Sebelumnya:


Pasienadalah penderita TB paru pada tahun 2009 dan menjalani terapi
OAT kategori 1 tuntas. Sejak pasien sakit, pasien tidak pernah lagi merokok.
Setelah sembuh, pasien merantau bekerja ke Kalimantan sebagai buruh
pabrik dan mengatakan selalu terpapar asap pabrik dan teman kerjanya
semua merokok sehingga dia selalu mengeluhkan batuk sejak bekerja disana.
Hingga pada 5 bulan yang lalu keluhan bertambah parah di mana pasien
batuk berdahak yang disertai dengan bercak darah.

6
e. Riwayat Penyakit Keluarga :
 Ayah pasien pernah mendapatkan pengobatan OAT sekitar tahun 2007
 Riwayat hipertensi (-), riwayat DM (-), Riwayat gangguan jantung (-)

f. Riwayat Sosial, Ekonomi dan Lingkungan:


 Pasien memiliki 1 orang istri : Ny. AR 45 tahun, IRT.
 Pasien memiliki 3 orang anak:
1. Tn. MB, 21 tahun, Mahasiswa, belum menikah
2. An. MA, 12 tahun, Pelajar
3. An. SS, 2 tahun
 Pasien tinggal dirumah semi permanen yang luasnya (5 m x 7 m) dengan
2 kamar. 1 kamar untuk pasien , istri dan anak bungsunya dan 1 kamar
untuk 2 orang anaknya.
 Ventilasi udara rumah pasien sangat kurang dan cenderung tertutup
pada area ruang keluarga dan kamar, lantai rumah di semen kasar dan
dialaskan terpal licin, dinding rumah dari kayu dan plafon rumah tidak
ada. Cahaya matahari sangat sedikit yang masuk kedalam rumah karena
jendela dan pintu rumah selalu tertutup.
 Jarak antara rumah pasien dan rumah tetangga sekitar 5 meter. Dan
tetangga sebelah kanan rumah pasien sedang dalam pengobatan TB.
 Pasien mengaku telah berhenti merokok sejak sakit tahun 2009. Namun
lingkungan kerja dan tetangganya masih merokok.
 Pasien merupakan keluarga ekonomi menengah kebawah dengan
penghasilan sekitar Rp. 500.000 – Rp. 800.000/bulan. Pagi sampai sore
hari bekerja di pabrik sebagai tukang angkat kayu dan istrinya berjualan
makanan ringan di area pabrik. Pada malam hari berjualan di kios depan
rumah.

7
 Keluarga pasien makan 3 kali sehari Dengan menu nasi putih, sayur,
ikan/telur dan kadang mengonsumsi buah. Dengan perkiraan 1 anggota
keluarga Rp. 15.000/kali makan, biaya makan untuk 1 orang anggota
keluarga Rp. 45.000/hari. Sehingga biaya makan untuk keluarga
pasienRp. 225.000/hari
 Sumber air berasal dari sumur bor, air terebih dulu di masak sebelum
dikonsumsi
 Pasien memiliki fasilitas MCK di rumahnya, namun terlihat sangat kotor
dan lembab pada dinding dan bagian lantainya.
 Untuk memasak, keluarga pasien menggunakan kompor gas dan tungku
tanah liat

2.4. Penatalaksanaan
Medikamentosa
Pasien diberikan OAT KDT kategori 2 dengan berat badan 51 kg, yaitu sebagai
berikut :
 Tahap intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275) + S. diberikan 3 tablet
4KDT selama 3 bulan + 300 ml Streptomisin injeksi 56 hari.
 Tahap lanjutan 3 kali seminggu RH (150/150) + E. Yaitu 3 tablet 2KDT +
3 tablet Etambutol selama 5 bulan.
Non Medikamentosa
Edukasi:
 Penyakit yang diderita adalah penyakit TB yang menular dan bisa menyerang
siapa saja.
 Menjelaskan kepada pasien tentang gejala-gejala pada penyakit TB dan cara
penularannya.

8
 Membuang dahak pada wadah tertutup yang berisi pasir dan air sabun,
diganti minimal 1x sehari, kemudian menguburnya di tempat yang jarang
dilewati orang serta menggunakan masker.
 Menjelaskan kepada anggota keluarga pasienyang tinggal serumah untuk
memeriksakan dahaknya di laboratorium, untuk memastikan adanyaanggota
keluarga yang lain yang mengidap penyakit TB seperti pasien atau tidak.
 Menjelaskan kepada pasien agar tekun meminum obat serta rutin
memeriksakan dirinya sampai dinyatakan sembuh untuk evaluasi
perkembangan penyakit TB di Puskemas, meskipun pasien sudah merasa
sehat sebelum dinyatakan sembuh.
 Jagalah kebersihan rumah dan pencahayaan di dalamnya, buka jendela dan
pintu rumah setiap hari pagi dan siang hari.
 Menganjurkan pasien mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan untuk
meningkatkan daya tahan tubuh.

2.5. Anjuran
Melakukan skrining terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan
pasien.

2.6. Identifikasi Masalah


1. Bagaimana pengetahuan masyarakat terhadap penyakit TB?
2. Bagiamana pelaksanaan program puskesmas terkaitpencegahan dan
penanggulangan penakit TB ?

9
BAB III
PEMBAHASAN

Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-


faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma
hidup sehat yang diperkenalkan oleh H. L. Bloom mencakup 4 faktor yaitufaktor
genetik/biologis, faktor perilaku individu atau masyarakat, faktor lingkungan dan
faktor pelayanan kesehatan (jenis, cakupan dan kualitasnya). Berdasarkan kasus di
atas, jika dilihat dari segi konsep kesehatan masyarakat, maka ada beberapa yang
menjadi faktor risiko yang mempengaruhi derajat kesehatan TB Paru, yaitu:

1. Faktor Genetik
Keterlibatan faktor genetik terhadap risiko penyakit tuberkulosis lebih
dihubungkan dengan adanya kedekatan dan kontak yang terjadi secara terus
menerus antara penderita dengan anggota keluarga yang tinggal serumah.
Dalam kontak serumah, anggota keluarga yang paling muda dan dengan
imunitas yang paling rendah akan memiliki risiko lebih besar untuk tertular
penyakit ini. Hal ini dikaitkan dengan geographic proximity yaitu kedejatan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari, lamanya waktu pajanan dengan
penderita tuberkulosis serumah akan semakin meningkatkan risiko tertular.
Hal lain yang terkai dengan genetik adalah genetic proximity yaitu kedekatan
hubungan genetik, dimana anak dari penderita tuberkulosis berisiko lebih
besar mempunyai hasil tes tuberkulin positif dibandingkan dengan hubungan
saudara yang lebih jauh. Pada pasien kasus ini, ayah pasien merupakan
penderita tuberkulosis sehingga terdapat risiko tertular dari ayahnya
(Lienhardt, 2003).
2. Faktor Perilaku
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan.
Pengetahuan penderita TB paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya,

10
dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku
sebagaiorang sakit dan akhirnya berakibat menjadi sumber penular bagi orang
lain disekelilingnya.
 Umur
Pasien pada kasus ini dalam rentan usia produktif yaitu 43 tahun.
Menurut Kementerian Kesehatan tahun 2011, kejadian Tuberkulosis
menurun pada umur 2 tahun hingga dewasa karena pada rentan umur ini
individu masih memiliki tingkat daya tahan tubuh yang baik. Sebaliknya,
pada saat individu menjelang usia tua, daya tahan tubuhnya akan menurun.
Hal ini menyebabkan prevalensi kejadian tuberkulosis banyak terjadi pada
individu dewasa muda hingga usia tua dengan perkiraan 75 % penderita
tuberkulosis di Indonesia merupakan kelompok umur produktif dengan
kisaran usia 15-50 tahun (Kemenkes, 2011).
 Jenis kelamin
Pasien pada kasus ini berjenis kelamin laki-laki. Dimana menurut
Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 Di Indonesia, prevalensi penderita
tuberkulosis menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa sebagian besar
penderita tuberkulosis berjenis kelamin laki-laki, dengan prevalensi 43,3 %
dari seluruh penderita (Riskesdas, 2013).
 Pengetahuan yang kurang tentang TB
Pengetahuan dan sikap seseorang terhadap kesehatan dapat
dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman serta tersedianya fasilitas
kesehatan.Dalam kasus tuberkulosis, seseorang dengan tingkat pengetahuan
yang kurang berisiko menderita tuberkulosis 3 kali lebih besar dibanding
dengan tigkat pengetahuan yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi atau semakin baik tingkat pengetahuan tentang sesuatu,
maka akan semakin baik sikap terhadap sesuatu tersebut (Budi dan Tuntun,
2016).

11
Dari penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian
tuberkulosis di Puskesmas Mulyorejo tahun 2017 yang dilakukan oleh
Azzahra menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
pengetahuan dengan kejadian tuberkulosis dengan nilai p <0.05 (p =
0,0001), dimana responden dengan pengetahuan yang rendah 0,077 kali
lebih berisiko menderita tuberkulosis dibandingkan dengan respondengan
dengan pengetahuan yang baik (Azzahra, 2017).
Pasien dan keluarga sebelumnya tidak mengetahui tentang TB,
pengertian, faktor resiko, penularan, akibat dan sebagainya. Pengetahuan
yang rendah ini mempengaruhi tindakan dan sikap pasien yang menjadi
kurang tepat. Pasien dan keluarga mengaku jarang membuka jendela dan
pintu rumah dan tidak segera memeriksakan diri ketika sudah ada gejala
sakit yang mengarah ke TB. Didapatkan juga dari prilaku pasien yang tidak
menggunakan masker dalam kehidupan sehari-hari padahal pasien tinggal
bersama istri dan anaknya yang dapat meningkatkan risiko untuk terjadinya
penularan dikarenakan pengetahuan terhadap penyakit yang masih kurang
(Kemenkes RI, 2016).
 Kebiasan merokok atau terpapar asap rokok
Kandungan nikotin dalam rokok dapat terakumulasi dalam paru-paru
dan menyebabkan toksis sehingga dapat meningkatkan risiko terkena
penyakit. Tar dalam rokok dapat merusak mukosa silia yang berfungsi
sebagai mekanisme pertahanan utama dalam melawan infeksi, sehingga sel
imunologis jaringan paru tidak dapat berespon terhadap infeksi. Banyaknya
kandungan zat berbahaya dalam rokok semakin meningkatkan risiko untuk
terkena berbagai penyakit, termasuk tuberkulosis. Adanya asap panas yang
terus menerus masuk dalam rongga mulut semakin meningkatkan risiko.
Asap panas dari rokok yang masuk dalam rongga mulut akan menyebabkan
perubahan aliran darah dan mengurangi pengeluaran saliva, sehingga rongga

12
mulut menjadi lebih kering yang mengakibatkan risiko untuk terinfeksi
bakteri lebih besar (Kemenkes RI, 2012).
Dari penelitian tentang hubungan merokok dengan kejadian penyakit
tuberkuosis paru di wilayah kerja Puskesmas Setu Kota Tangerang Selatan
yang dilakukan oleh Romlah pada tahun 2015 menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian tuberkulosis, dimana
perokok berisiko 3,44 kali lebih besar menderita tuberkulosis dibandingkan
yang bukan perokok (Romlah, 2015).
Pasien mengaku berhenti merokok sejak tahun 2009 saat pertama kali
sakit. Namun Pasien dalam kasus ini termasuk perokok pasif karena pasien
selalu terpapar asap rokok di tempat kerja dan dari ingkungan sekitar rumah.
Dengan adanya paparan asap rokok akan mempermudah perburukan
infeksi TB paru (Kemenkes RI, 2016).

3. Faktor Lingkungan
Lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam terjadinya
sebuah penyakit, apalagi penyakit tersebut adalah penyakit berbasis lingkungan.
Hal ini tentu saja dapat menyebabkan mudahnya terjadi infeksi apabila tidak
ada keseimbangan dalam lingkungan. Dalam kasus ini lingkungan tempat
tinggal mendukung terjadinya penyakit TB yang dialami pasien. Lingkungan
rumah merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar terhadap
status kesehatan penghuninya. Lingkungan rumah merupakan salah satu faktor
yang berperan dalam penyebaran kuman tuberkulosis. Kuman tuberkulosis
dapat hidup selama 1-2 jam bahkan sampai beberapa hari hingga berminggu-
minggu tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik,
kelembaban, suhu rumah, dan kepadatan rumah (Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia, 2011).

13
 Pencahayaan Rumah
Menurut Depkes RI tahun 2002, bakteri penyebab tuberkulosis hanya
dapat mati oleh sinar matahari langsung.Dengan demikian, rumah dengan
pencahayaan yang buruk sangat berpengaruh terhadap perkembangbiakan
bakteri penyebab tuberkulosis.Bakteri penyebab tuberkulosis dapat bertahan
hidup sampai bertahun-tahun lamanya ditempat yang lembab dan gelap
tanpa sinar matahari.Rumah dengan pencahayaan yang buruk atau rumah
yang tidak masuk sinar matahari langsung penghuninya berisiko menderita
tuberkuosis 3-7 kali dibandingkan dengan rumah dengan pencahayaan sinar
matahari yang baik (Depkes RI, 2002).
Keadaan rumah pasien pada kasus ini tergolong lembab dan kurang
cahaya. Rumah pasien hanya memiliki jendela di 2 kamar tidur sedangkan
diruang keluarga dan ruang tamu pasien tidak menggunakan jendela,
ventiasi terdapat di ruang tamu, kios dan dapur. Pasien dan keluarga
mengaku jarang membuka jendela dan gorden. Cahaya yang masuk ke
dalam rumah pasien sangat kurang. Hal ini menyebabkan mikroorganisme
dapat berkembang dengan pesat, termasuk kuman dan bakteri penyebab TB
(Kemenkes RI,2016).
 Kepadatan Hunian Rumah
Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya
dinyatakan dalam m2/orang. Luas minimum per orang sangat relatif
tergantung dari kualitas bangunan dan fasilitas yang tersedia. Untuk rumah
sederhana luasnya minimum 9 m2/orang. Untuk kamar tidur diperlukan luas
lantai minimum 8 m2/orang. Untuk mencegah penularan penyakit
pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya
minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang,
kecuali untuk suami istri dan anak di bawah 2 tahun. Untuk menjamin

14
volume udara yang cukup, di syaratkan juga langit-langit minimum
tingginya 2,8 m (Kemenkes RI,2016).
Dari penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian
tuberkulosis di Puskesmas Mulyorejo tahun 2017 yang dilakukan oleh
Azzahra menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara hunian
rumah dengan kejadian tuberkulosis dengan niai p=0,023, dimana
responden dengan hunian rumah yang tidak memenuhi syarat akan berisiko
menderita tuberkkulosis paru 0,219 lebih besar dibandingkan responden
dengan hunian rumah yang memenuhi syarat (Azzahra, 2017).
Semakin padat hunian rumah, maka udara daam rumah akan semakin
cepat mengalami pencemaran. Jumlah hunian suatu rumah akan
mempengaruhi kadar oksigen dalam ruangan rumah tersebut. Hunian yang
padat akan menyebabkan penurunan kadar oksigen dan peningkatan kadar
karbondioksida. Peningkatan kadar karbondioksida akan menyebabkan
bakteri penyebab tuberkulosis akan tumbuh dan berkembang biak dalam
rumah. Kepadatan hunian juga akan meningkatkan risiko penularan
penyakit tuberkulosis ketika ada salah satu anggota keuarga yang
menderita penyakit tuberkulosis (Fatimah, 2008).
 Jenis Pekerjaan
Pagi sampai sore hari pasien bekerja di pabrik sebagai tukang angkat
kayu dan mengaku sealu terpapar asap dan debu. Pada malam hari berjualan
di kios depan rumah.Jenis pekerjaan menentukan faktor risiko apa yang
harus dihadapi setiap individu. Bila seseorang bekerja di lingkungan yang
berdebu dengan paparan partikel debu di daerah terpapar akan
mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis
udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya
gejala penyakit saluran pernafasan dan umumnya TB paru. Pasien dalam

15
kasus ini tidak bekerja lagi, dan hampir selalu berada di lingkungan rumah
sepanjang hari(Kemenkes RI,2016).

4. Faktof Pelayanan Kesehatan


Factor pelayanan kesehatan yang dapat diambil dari kasus ini adalah
masih kurangnya promosi kesehatan terkait TB paru pada masyarakat.Dapat
dilihat dari prilaku pasien.Kemudian belum optimalnya peran puskesmas dalam
memonitoring pasien yang diduga (suspek) TB.
Upaya pencegahan (preventif) terhadap penyakit gizi buruk dapat
dilaksanakan dengan mengaplikasikan lima tingkat pencegahan penyakit (five
level prevention), sebagai berikut :
1. Promosi kesehatan
Promosi kesehatan dalam mencegah terjadinya tuberculosis dapat dilakukan
dengancara meningkatkan penyuluhan mengenai penyebaran tuberculosis
serta melakukan penyuluhan tentang edukasi secara keseluruhan tentang TB
di masyarakat secara umum dan di keluarga pasien secara khusus.
2. Perlindungan khusus
Perlindungan khusus dalam mencegah terjadinya tuberculosis adalah
melakukan perbaikan status gizi pasien dan keluarga, perbaikan ventilasi
rumah dan pencahayaan di rumah pasien harus cukup, serta perbaikan
prilaku pasien serta keluarga.
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera
Diagnosis dini dan pengobatan segera dengan tujuan untuk mencegah
terjadinya penyakit yang lebih berat. Hal ini dilakukan dengan cara mencari
kasus baru sedini mungkin dan melakukan penatalaksanaan yang tepat.
4. Pambatasan Cacat
Pembatasan cacat merupakan pencegahan untuk terjadinya kecatatan atau
kematian akibat tuberkulosis.Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan

16
pengobatan dan perawatan sesuai pedomansehingga penderita sembuh dan
tidak terjadi komplikasi.
5. Rehabilitasi
Rehabilitasi dalam mencegah tuberculosis dapat dilakukan dengan
cararehabilitasi medik apabila terdapat gangguan kesehatan fisik serta
meakukan pemberantasan penyakit dengan cara meakukan Penyuluhan
kesehatan, terutama kepada ibu-ibu dan melakukan pengobatan dan
perawatan kasus dengantepat (Kemenkes RI, 2016).

17
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari aporan kasus ini antara lain :
1. Pengetahuan masyarakat tentang penyebaran penyakit TB harus lebih di
tingkatkan sehingga dapat mempengaruhi perilaku masyarakat.
2. Pelayanan kesehatan yang belum maksimal dan kurang menjangkau
masyarakat sehingga belum dapat merubah pola pikir serta perilakunya
dalam hal kesehatan pribadinya maupun keluarganya.

4.2. Saran
Adapun kesimpulan dari aporan kasus ini antara lain :
1. Lebih ditingkatkan lagi kinerja dari pemegang program tuberculosis
2. Menjalankan program sesuai dengan permenkes tahun 2016 tentang
penanggulangan TB
3. Promosi kesehatan terkait TB harus lebih optimalkan dengan meningkatkan
penuluhan-penyuluhan tentang TB
4. Evaluasi lintas program khususnya program surveillance dan TB lebih di
optimalkan kerjasamanya
5. Kontrol rekam medik lebih di optimalkan

18
DAFTAR PUSTAKA

Azzahra, Z., 2017, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Penyakit


Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Muyorejo Kecamatan Sunggal
Kabupaten Deli Serdang Tahun 2017, Universitas Sumatera Selatan, Medan.

Budi, S. dan Tuntun, M., 2016, Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Tuberkulosis Paru pada Pasien Rawat Jalan di UPT Puskesmas Wonosobo
Kabupaten Tanggamus, Jurna Kesehatan, volume 5, nomor 2, diakses tangga 25
september 2018, dari http://www.ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id/view/pdf .

Departemen Kesehatan RI, 2002, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkuosis,


Cetakan ke delapan, Jakarta.

Fatimah, S., 2008, Faktor Kesehatan Lingkungan yang Berhubungan dengan


Kejadian TB Paru di Kabupaten Cilacap Tahun 2008, Diakses tanggal 25
September 2018 dari http://eprints.undip.ac.id/2465/SITI_FATIMAH.pdf .

Kementerian Kesehatan 2011, Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di


Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan.

Kementerian kesehatan, 2012, Peraturan Pemerintah No 109 Tahun 2012 Tentang


Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Tembakau bagi
Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI, 2016, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


No 67 Tahun 2016 Tentang Penaggulangan Tuberkulosis, Jakarta.

19
Lienhardt, C., 2003, Risk Factors for Tuberculosis Infection in Children in Contact
with Infectiuos Tuberculosis Cases in The Gambia, West Africa, diakses
tanggal 25 September 2018, dari
http://pediatrics.aappublications.org/cgi/reprint/111/5/e608.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2011,Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan


Penatalaksanaan di Indonesia, Jakarta.

Riset Kesehatan Dasar, 2013, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,


Kementerian Kesehatan RI.

Romah, L., 2015, Hubungan Merokok dengan Kejadian Pentakit Tuberkulosis Paru di
Wilayah Kerja Puskesmas Setu Kota Tangerang Selatan, Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayahtullah, Jakarta.

World Heath Organization, 2012, Global Tubercuosis Report, Geneva, WHO press
2012, no 9-11.

20