Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam yang dimilikinya. Dilihat
dari sisi astronomi, indonesia terletak pada daerah tropis sehingga indonesia cocok untuk
usaha bercocok tanam. Dilihat dari perairan yang luas, indonesia juga cocok untuk usaha
perikanan.
Berkaitan dengan kondisi diatas, maka Indonesia sangat cocok untuk usaha pertanian,
perikanan dan perternakan. Daerah yang mendukung, sumber daya yang dimiliki akan sangat
membantu dalam usaha tersebut. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang usaha pertanian,
perikanan dan perternakan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut, masalah yang dapat dibahas dalam makalah ini
adalah sebagai berikut;
1. Apa pengertian dan karakteristik dari usaha pertanian, perikanan dan
perternakan?
2. Apa saja jenis usaha pertanian, perikanan dan perternakan?
3. Apa saja proses bisnis usaha pertanian,perikanan dan perternakan?
4. Bagaimana ketentuan PPh untuk usaha pertanian, perikanan dan perternakan?
5. Bagiamana ketentuan pot – put untuk usaha pertanian, perikanan dan
perternakan?
6. Bagaimana ketentuan PPN untuk usaha pertanian, perikanan, dan perternakan?
7. Bagaimana kewajiban perpajakan dalam usaha pertanian, perikanan dan
perternakan?

1.3. Tujuan Penulisan


Sesuai dengan masalah yang dibahas dalam makalah ini, maka tujuan pembahasan
masalah tersebut adalah untuk menjelaskan kepada pembaca tentang Pajak dalam Usaha
pertanian, perikanan dan perternakan. Secara lebih rinci akan dijelaskan kepada pembaca
tentang
1. Pengertian dan karakteristik dari usaha pertanian, perikanan dan perternakan
2. Jenis usaha pertanian, perikanan dan perternakan
3. Proses bisnis usaha pertanian,perikanan dan perternakan
4. Ketentuan PPh untuk usaha pertanian, perikanan dan perternakan
5. Ketentuan pot – put untuk usaha pertanian, perikanan dan perternakan
6. Ketentuan PPN untuk usaha pertanian, perikanan, dan perternakan
7. Kewajiban perpajakan dalam usaha pertanian, perikanan dan perternakan
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Karakteristik Usaha Pertanian, Perikanan, dan Perternakan


Lahan pertanian adalah lahan yang ditujukan atau cocok untuk dijadikan lahan usaha
tani untuk memproduksi tanaman pertanian maupun hewan ternak. Lahan pertanian
merupakan salah satu sumber daya utama pada usaha pertanian. Perikanan adalah kegiatan
manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hayati
perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi secara tegas dan pada umumnya
mencakup ikan, amfibi, dan berbagai avertebrata penghuni perairan dan wilayah yang
berdekatan, serta lingkungannya.Peternakan adalah kegiatan mengembangbiakkan dan
membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dan hasil dari kegiatan tersebut.
 Karakteristik Usaha pertanian;
 Tingkat produksi dan produktifitasnya fluktuatif
 Lahan usahanya berpencar pencar
 Luas lahan usahanya sempit
 Kesuburan tanah yang berbeda beda
 Penerapan tekhnologi yang masih rendah
 Karakteristik Usaha perikanan
 Mudah rusak
 Musiman
 Butuh ruang yang banyak
 Tidak seragam
 Banyak produsen ikan dengan skala usaha kecil dan terpencar
 Karakteristik Usaha perternakan
 Usaha dinamis
 Produksi relatif banyak serta dominasi pengaruh lingkungan yang besar.
2.2. Jenis Usaha Pertanian, Perikanan dan Perternakan
Dalam usaha pertanian, perikanan dan perternakan terdapat jenis jenis nya. Berikut jenis
jenis usaha pertanian, perikanan dan perternakan.
 Jenis jenis Pertanian ada dua yaitu pertanian rakyat dan perkebunan.
 Jenis jenis perikanan ada tiga yaitu usaha perikanan tangkap, usaha perikanan
budidaya dan usaha perikanan pengolahan.
 Jenis jenis perternakan ada tiga yaitu perternakan hewan besar, perternakan
hewan sedang dan perternakan unggas.

2.3. Ketentuan PPh untuk Usaha Pertanian, Perikanan, dan Peternakan

Usaha pertanian, perikanan dan peternakan dikenakan ketentuan pajak yaitu PPh 22. Dengan
ketentuan sebagai berikut.

1. Pemungut dan objek PPh pasal 22


Badan usaha industri atau eksportir yang melakukan pembelian bahan-bahan berupa
hasil kehutanan, perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan yang belum
melalui proses industri manufaktur, untuk keperluan industrinya atau ekspornya.
2. Tarif PPh pasal 22
Besarnya pungutan PPh pasal 22 atas pembelian bahan-bahan berupa hasil kehutanan,
perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan yang belum melalui proses industri
manufaktur oleh badan usaha industri atau eksportir sebesar 0,25% dari harga
pembelian tidak termasuk PPN.

2.4. Ketentuan Pot - Put untuk Usaha Pertanian,Perikanan, dan Perternakan.

Beberapa peraturan / ketentuan yang mengatur kegiatan penangkapan ikan tersebut adalah
sebagai berikut :

1. Kewenangan Daerah dalam Pengelolaan Wilayah Penangkapan Ikan (Undang-Undang


Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah (UU Otonomi Daerah))

2. Peraturan Tentang Jalur Penangkapan (Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan


Republik Indonesia Nomor : PER.02/MEN/2011 tanggal 31 Januari 2011)
3. Pengawasan Perikanan Tangkap (Keputusan Menteri Nomor : KEP.02/MEN/2002).
Landasan Huku Usaha Perikanan Tangkap

Hukum yang mengatur mengenai usaha perikanan tangkap adalah mengacu pada Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.14/MEN/2011 tentang
Usaha Perikanan Tangkap.

Peraturan ini bertujuan untuk lebih meningkatkan pengendalian sumber daya ikan di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) yang merupakan bagian dari
kekayaan bangsa Indonesia yang sudah semakin terbatas potensinya, dan sebagai anggota
Organisasi Pengelolaan Perikanan Regional (Regional Fisheries Management
Organization/RFMO) dalam memanfaatkan potensi di laut lepas perlu memperhatikan prinsip
kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya serta memperhatikan persyaratan, dan/atau
standar internasional.

2.5. Ketentuan PPN untuk Usaha Pertanian, Perikanan, dan Peternakan.

Barang Hasil Pertanian yang Dibebaskan PPN


Pada prinsipnya didalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 (selanjutnya disebut UU PPN) Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) dikenal dua jenis fasilitas di bidang PPN yang memiliki perlakuan
yang berbeda, yaitu :

1. Pajak terutang tidak dipungut, dan


2. Pembebasan dari pengenaan pajak.

Hal terpenting yang harus dipahami berkenaan dengan fasilitas PPN tersebut adalah bahwa
suatu transaksi yang sebenarnya merupakan objek PPN atau telah memenuhi syarat untuk
dikenakan PPN, karena sebab tertentu dibebaskan dari pengenaan PPN atau PPN nya tidak
dipungut dengan Peraturan Pemerintah. Oleh karena itu, harus dibedakan dengan konsep
tidak dikenakan PPN, yaitu suatu transaksi yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk
dikenakan PPN, misalnya barang yang diserahkan bukan BKP.

Tujuan dan maksud diberikannya fasilitas ini adalah untuk mendorong berhasilnya sektor-
sektor kegiatan ekonomi yang berprioritas tinggi dalam skala nasional, mendorong
perkembangan dunia usaha dan meningkatkan daya saing, mendukung pertahanan nasional,
serta memperlancar pembangunan nasional.
Dasar hukum pembebasan PPN adalah Pasal 16B Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009. Pasal 16B
ini memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk memberikan fasilitas berupa PPN tidak
dipungut atau PPN dibebaskan untuk :

1. Kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;


2. Penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;
3. Impor Barang Kena Pajak tertentu;
4. Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di
dalam Daerah Pabean;
5. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 mengatur tentang impor dan atau penyerahan
barang kena pajak tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari pengenaan pajak
pertambahan nilai. Berdasarkan peraturan tersebut, barang pertanian termasuk dalam barang
yang bersifat strategis. Barang hasil pertanian adalah barang yang dihasilkan dari kegiatan
usaha di bidang:
 Pertanian, perkebunan, dan kehutanan;
 Peternakan, perburuan atau penangkapan, maupun penangkaran; atau
 Perikanan baik dari penangkapan atau budidaya,

yang dipetik langsung, diambil langsung atau disadap langsung dari sumbernya termasuk,
yang diproses awal dengan tujuan untuk memperpanjang usia simpan atau mempermudah
proses lebih lanjut, sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Pemerintah nomor 31
Tahun 2007.

Barang Hasil Pertanian yang Dikenakan PPN


Pada tanggal 25 Februari 2014 telah diterbitkan Putusan Mahkamah Agung Republik
Indonesia Nomor 70P/HUM/2013. Putusan tersebut mengabulkan permohonan uji materiil
dari pemohon yaitu Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN). Isi putusan tersebut
memerintahkan kepada Presiden Republik Indonesia untuk mencabut Pasal 1 ayat (1) huruf c,
Pasal 1 ayat (2) huruf a, Pasal 2 ayat (1) huruf f, dan Pasal 2 ayat (2) huruf c Peraturan
Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Pemerintah
Nomor 12 Tahun 2001 tentang Impor dan atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang
Bersifat Strategis yang Dibebaskan dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

Dampak dari putusan tersebut yaitu pengusaha wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan
sebagai Pengusaha Kena Pajak, apabila sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku jumlah
peredaran bruto dan/atau penerimaan brutonya melebihi Rp4.800.000.000,00 (empat miliar
delapan ratus juta rupiah)

Pasal 8 ayat (2) Peraturan Mahkamah Agung Nomor 01 Tahun 2011, mengatur bahwa dalam
hal 90 hari setelah putusan Mahkamah Agung tersebut dikirim kepada Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara yang mengeluarkan Peraturan Perundang-undangan tersebut, ternyata
Pejabat yang bersangkutan tidak melaksanakan kewajibannya, demi hukum Peraturan
Perundang-undangan yang bersangkutan tidak mempunyai kekuatan hukum. Berdasarkan
data pada Sistem Informasi Administrasi Perkara Mahkamah Agung Republik Indonesia,
Putusan Mahkamah Agung Nomor 70P/HUM/2013 telah dikirim pada tanggal tanggal 23
April 2014. Dengan demikian apabila Pemerintah sampai dengan tanggal 21 Juli 2014 belum
mencabut Pasal 1 ayat (1) huruf c, Pasal 1 ayat (2) huruf a, Pasal 2 ayat (1) huruf f, dan Pasal
2 ayat (2) huruf c Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007, maka sejak tanggal 22 Juli
2014 ketentuan tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum.

Implikasi Perpajakan Putusan Mahkamah Agung Nomor 70P/HUM/2013


Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung tersebut, maka implikasi perpajakannya adalah
sebagai berikut:

1. Barang hasil pertanian berupa buah-buahan dan sayur-sayuran sebagaimana ditetapkan


dalam Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 termasuk barang yang
tidak dikenakan PPN (Bukan Barang Kena Pajak) sesuai Pasal 4A ayat (2) huruf b
Undang-Undang PPN sehingga atas penyerahan, impor, maupun ekspornya tidak dikenai
PPN.
2. Barang hasil pertanian lain yang tidak ditetapkan dalam Lampiran Peraturan Pemerintah
Nomor 31 Tahun 2007, yaitu beras, gabah, jagung, sagu dan kedelai adalah barang yang
tidak dikenakan PPN (Bukan Barang Kena Pajak) sesuai Pasal 4A ayat (2) huruf b
Undang-Undang PPN sehingga atas penyerahan, impor, maupun ekspornya tidak dikenai
PPN.
3. Barang hasil pertanian yang merupakan hasil perkebunan, tanaman hias dan obat,
tanaman pangan, dan hasil hutan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran Peraturan
Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 yang semula dibebaskan dari pengenaan PPN berubah
menjadi dikenakan PPN sehingga atas penyerahan dan impornya dikenai PPN dengan
tarif 10%, sedangkan atas ekspornya dikenai PPN dengan tarif 0% (perincian jenis barang
terlampir).
4. Pengusaha (orang pribadi maupun badan) yang melakukan penyerahan barang hasil
pertanian tersebut wajib memungut PPN dan untuk itu wajib dikukuhkan sebagai
Pengusaha Kena Pajak, kecuali pengusaha yang termasuk pengusaha kecil dengan omzet
sampai dengan Rp 4,8 milyar per tahun sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 197/PMK.03/2013 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 68/PMK.03/2010 tentang Batasan Pengusaha Kecil Pajak Pertambahan
Nilai.

Penutup
Dasar hukum pengenaan PPN pada barang hasil pertanian adalah putusan MA 70P/2013
dan bukan SE - 24/PJ/2014. Putusan tersebut mengubah ketentuan PPN atas barang
pertanian. Surat Edaran merupakan untuk menyampaikan putusan Mahkamah Agung
Republik Indonesia kepada petugas pajak di seluruh Kantor Wilayah DJP, dan SE tidak
dapat dijadikan sebagai dasar hukum.

Referensi

1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009.
2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2001 Tentang Impor dan
atau Penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang Bersifat Strategis yang Dibebaskan
Dari Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana telah diubah beberapa kali
terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007
3. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 70P/HUM/2013
4. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE - 24/PJ/2014 Tentang Pelaksanaan
Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 70P/HUM/2013 Mengenai Pajak
Pertambahan Nilai Atas Barang Hasil Pertanian yang Dihasilkan Dari Kegiatan Usaha Di
Bidang Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Sebagaimana Diatur Dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007
5. Daftar Barang Hasil Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan yang ditetapkan dalam
Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2007 dan Implikasi Perpajakannya
Berdasarkan Putusan MA No. 70P/HUM/2013,
http://www.ortax.org/files/downaturan/14PJ_SE24.pdf

2.6. Kewajiban Perpajakan dalam Usaha Pertanian, Perikanan dan Perternakan.


Barang Kena Pajak Tertentu yang bersifat strategis adalah :
 barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang
maupun terlepas, tidak termasuk suku cadang.

 makanan ternak, unggas, dan ikan dan/atau bahan baku untuk pembuatan makanan
ternak, unggas dan ikan.

 barang hasil pertanian.

 bibit dan/atau benih dari barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan,


penangkaran atau perikanan;

 air bersih yang dialirkan melalui pipa oleh Perusahaan Air Minum.

 listrik, kecuali untuk perumahan dengan daya di atas 6.600 (enam ribu enam ratus)
watt; dan

 Rumah Susun Sederhana Milik (RUSUNAMI).

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 31 Tahun 2007, barang hasil pertanian adalah barang
yang dihasilkan dari kegiatan usaha di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan. Dengan
dikabulkannya barang hasil pertanian sebagai BUKAN BKP strategis, maka semua barang
yang dihasilkan dari kegiatan usaha di bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan menjadi
BKP.

Apakah beras dan sayuran menjadi BKP? Menurut Pasal 4A ayat (2) huruf b UU PPN bahwa
barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak bukan BKP atau sering
disebut non-BKP.
Bagian penjelasan Pasal 4A ayat (2) huruf b UU PPN merinci barang bukan BKP:

 beras;
 gabah;
 jagung;
 sagu;
 kedelai;
 garam, baik yang beryodium maupun yang tidak beryodium;
 daging, yaitu daging segar yang tanpa diolah, tetapi telah melalui proses disembelih,
dikuliti, dipotong, didinginkan, dibekukan, dikemas atau tidak dikemas, digarami,
dikapur, diasamkan, diawetkan dengan cara lain, dan/atau direbus;
 telur, yaitu telur yang tidak diolah, termasuk telur yang dibersihkan, diasinkan, atau
dikemas;
 susu, yaitu susu perah baik yang telah melalui proses didinginkan maupun
dipanaskan, tidak mengandung tambahan gula atau bahan lainnya, dan/atau dikemas
atau tidak dikemas;
 buah-buahan, yaitu buah-buahan segar yang dipetik, baik yang telah melalui proses
dicuci, disortasi, dikupas, dipotong, diiris, di-grading, dan/atau dikemas atau tidak
dikemas; dan
 sayur-sayuran, yaitu sayuran segar yang dipetik, dicuci, ditiriskan, dan/atau disimpan
pada suhu rendah, termasuk sayuran segar yang dicacah.

IV. KESIMPULAN

Dasarnya Pasal 8 ayat 2 Peraturan MA Nomor 01 Tahun 2011: Dalam hal 90 hari setelah
putusan MA tersebut dikirim kepada Badan atau Pejabat TUN yang mengeluarkan Peraturan
Perundang-undangan tersebut, ternyata Pejabat yang bersangkutan tidak melaksanakan
kewajibannya, demi hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan tidak
mempunyai kekuatan hukum.
Jadi, sejak 22 Juli 2014 Peraturan Pemerintah nomor 31 Tahun 2007 menjadi tidak berlaku.
Putusan ini tidak berlaku surut. Artinya, terhadap transaksi tanggal 21 Juli 2014 dan
sebelumnya barang hasil pertanian tetap merupakan BKP Strategis.

DAFTAR PUSTAKA