Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja
dengan cara penerapan teknologi pengendalian segala aspek yang berpotensi membahayakan
para pekerja. Pengendalian ditujukan kepada sumber yang berpotensi menimbulkan penyakit
akibat pekerjaan, pencegahan kecelakaan, dan penyerasian peralatan kerja baik mesin dan
karakteristik pekerja. Penerapan teknologi pengendalian keselamatan dan kesehatan kerja
diharapkan tenaga kerja akan mencapai ketahan fisik, daya kerja, dan tingkat kesehatan yang
tinggi (Sucipto, 2014)
Kecelakaan kerja di industry merupakan kecelakaan kerja yang dapat menimbulkan efek
yang fatal. Efek yang ditimbulkan antara lain terlukanya para pekerja yang mengakibatkan
terhambatnya proses bekerja serta adanya kerusakan mesin maupun tempat kerja yang tentu
saja dapat menimbulkan kerugian akibat adanya perbaikan. dengan adanya kerugian-kerugian
tersebut, tentu saja bisa menghambat proses produksi yang mengakibatkan jumlah produksi
mengalami penurunan. Akibat yang lebih fatal dari kecelakaan kerja adalah hilangnya nama
baik perusahaan yang mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari masyarakat.
Namun suatu perusahaan tentu saja sudah menyiapkan berbagai cara untuk mencegah
adanya kecelakaan. Salah satunya dengan memberi barrier atau pengaman pada setiap
komponen pekerjaan. Pada industri telah berkembang, berbagai safety barrier dengan fungsi
yang berbeda telah diimplementasikan untuk mencegah kecelakaan, yang terutama
disebabkan oleh ulah manusia. Namun seringkali kecelakaan tidak bisa dihindari sekalipun
suatu perusahaan sudah melakukan pencegahan sedini mungkin. Oleh karena itu, perlu
dianalisis lebih lanjut mengenai akar penyebab kecelakaan sehingga kegagalan barrier dapat
diketahui. Dengan begitu, kecelakaan kerja dapat diminimalisir sedini mungkin.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa metode yang cocok untuk mengintegrasi metode pencegahan barrier?
2. Bagaimana cara mengintegrasi metode tersebut?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui metode yang cocok untuk mengintegrasi metode pencegahan barrier.
2. Mengetahui cara mengintegrasi metode tersebut.
BAB 2
DASAR TEORI

2.1 Accident, Evolution, and Barrier Analysis

Accident Evolution and Barrier Function (AEB) menyediakan metode untuk analisis
insiden dan kecelakaan yang memodelkan evolusi menuju insiden / kecelakaan sebagai
serangkaian interaksi antara manusia dan sistem teknis. (Hollnagel 2008)

Metode AEB untuk analisis insiden (kecelakaan) sebagai bagian dari rangkaian interaksi
antara manusia dan system teknis. Interaksi tersebut terdiri atas kegagalan, baik kegagalan
pemakaian atau eror yang dapat menghasilkan kecelakaan serta mengidentifikasi fungsi
barrier yang gagal/rusak dan berikan saran bagaimana meningkatkan barrier tersebut. AEB
model dikategorikan antara human error dan technical error di dalam suatu urutan kejadian
yang mengalami error. Hal tersebut merupakan tahap awal dalam pembentukan urutan error
dalam analisa AEB.

Accident Evolution and Barrier Function (AEB) menyediakan metode untuk analisis
insiden dan kecelakaan yang memodelkan evolusi menuju insiden / kecelakaan sebagai
serangkaian interaksi antara manusia dan sistem teknis. Interaksi terdiri dari kegagalan,
kegagalan fungsi atau kesalahan yang dapat menyebabkan atau mengakibatkan kecelakaan.
Metode ini memaksa analis untuk mengintegrasikan sistem manusia dan teknis secara
bersamaan ketika melakukan analisis kecelakaan.

Analisis AEB terdiri dari dua fase utama. Fase pertama adalah memodelkan evolusi
kecelakaan dalam diagram alir. AEB hanya memodelkan kesalahan dan bukan metode urutan
peristiwa. Fase kedua terdiri dari fungsi barrier analisis. Dalam fase ini, fungsi penghalang
diidentifikasi (tidak efektif dan / atau tidak ada). Fungsi penghalang yang sama dapat
dilakukan dengan berbeda sistem fungsi penghalang. Sejalan dengan itu, sistem fungsi
penghalang dapat melakukan fungsi penghalang yang berbeda. Tujuan penting dari analisis
AEB adalah untuk mengidentifikasi penghalang yang rusak fungsi, alasan mengapa tidak ada
fungsi penghalang atau mengapa yang sudah ada gagal, dan menyarankan peningkatan.
2.2 Sistem dan Komponen AEB Model

a. Human Factor System


Manusia selalu berkaitan dan menjadi peran dalam suatu kejadian, maka dari itu
manusia dan system teknis merupakan komponen dalam AEB. Dimana letak dari
system komponen manusia yaitu berada pada kolom sebelah kiri pada diagram alir yaitu
human error event.
Menurut (Swain and Guttman, 1983) factor yang dapat mempengaruhi kinerja
manusia disebut sebagai Performance Shapping Factor (PSF) atau factor
pembentuknya yaitu perilaku atau performance moderating factor. Seperti halnya
pengaruh narkoba, alcohol, stress dan sebagainya.
b. Technical System
Terletak pada bagian kolom sisi kanan pada AEB yang menjelaskan kesalahan
teknis. Kesalahan dapat bermacam-macam, dapat berkaitan dengan konstruksi,
pemeliharaan atau technical lainnya. Contohnya adalah dalam suatu alat kegagalan
dalam memberhentikan suatu alat yang biasanya berjalan otomatis dimana letak
kegagalannya pada kotak yang pertama.

c. Error Event Boxes and Accident Evolution Analysis


Malfungsi dan error sangat berkaitan akan terjadinya suatu kecelakaan. Error
Event Boxes ini diberi nomor dan ditandai dengan huruf ‘H’ untuk human error event
dan ‘T’ untuk technical error event. Kemudian error event box saling berhubungan
dengan menggunakan anak panah secara bersama-sama untuk menunjukkan
perkembangan dari suatu kecelakaan atau insiden. Lebih dari satu anak panah tidak
diperbolehkan. Sebuah runtutan kejadian dijelaskan didalam suatu urutan yang
kronologis. Pada waktu apa peristiwa error terjadi kemudian ditulis pada kolom waktu
sebelah kiri diagram alir. Hal ini harus menunjukkan uraian peristiwa didalam analisis
AEB terutama mengenai kronologi dari suatu kecelakaan.

d. Barrier Function
Sebuah barrier mempunyai fungsi dapat mencegah timbulnya suatu kecelakaan
atau suatu insiden sehingga pada peristiwa berikutnya tidak terjadi kegagalan. Barrier
function selalu diidentifikasi mengenai kaitan terhadap system yang berfungsi mampu
melindungi dari suatu kecelakaan. Tujuan utama menggunakan metode AEB adalah
melakukan analisa dan identifikasi fungsi barrier yang rusak dan memberikan saran
bagaimana meningkatkan barrier tersebut. Ada 3 kategori barrier function :
1. Ineffective Barrier Function, dikatakan tidak efektif apabila tidak mampu
mencegah suatu perkembangan dan kemudian mengarah pada kecelakaan.
2. Non Exiting Barrier Function, tidak ada atau tidak berfungsi sehingga
perkembangan dari suatu kecelakaan tidak dapat dihentikan.
3. Effective Barrier Function, ini biasanya tidak masuk dalam AEB kecuali pada
akhir rantai urutan kejadian pada AEB model terjadi kesalahan.

Apabila terjadi suatu kecelakaan ataupun insiden hal ini dapat disebabkan oleh gagalnya
fungsi barrier entah mengalami kerusakan atau tidak bekerja secara efektif.

Tabel 2.1 Model Analisis AEB

Simbol Fungsi

Error Event

Kecelakaan atau insiden

Menggambarkan perkembangan dari suatu


kecelakaan

// Menggambarkan kemungkinan barrier


function yang mampu mencegah
kecelakaan dan mencegah fungsi barrier
yang efektif
// Kemungkinan barrier function dimana
kecelakaan dapat dikendalikan
/ Effective Barrier Function tidak termasuk
dalam analisis AEB kecuali diletakkan
paling akhir pada kecelakaan
Sumber : (Hidayatin 2013)

2.3 Langkah – langkah AEB

Adapun langkah-langkah dalam pengerjaan AEB adalah :

1. Tahap Awal, adalah model evolusi kecelakaan diagram alir. Jalannya adalah
menggambarkan urutan secara kronologis, tidak dapat membiarkan lebih dari satu panah
mengarah pada kotak kesalahan atau tidak ada pada kotak,
2. Kedua mengenai fungsi barrier, pada tahap ini fungsi barrier dianalisa (tepat atau tidak
maupun ada atau tidak). Fungsi barrier merupakan evolusi dalam kecelakaan sehingga
pada event berikutnya dalam rantai tidak akan terjadi kecelakaan. Fungsi barrier selalu
diidentifikasi untuk melindungi.

Tujuan penting dari AEB adalah untuk mengidentifikasi fungsi barrier yang rusak, alasan
tidak berfungsi dan menyarankan untuk perbaikan.

2.4 Klasifikasi Barrier

Menurut Duijm (2009) definisi system barrier adalah sebagai berikut :

 Sistem barrier adalah fungsi yang direncanakan untuk mencegah, mengendalikan,


atau mengurangi penyebaran suatu kondisi atau peristiwa menjadi kondisi atau
peristiwa yang tidak diinginkan.
 Sistem barrier adalah serangkaian elemen yang menerapkan fungsi penghalang,
setiap elemen yang terdiri dari sistem teknis atau tindakan manusia.
 Suatu barrier aktif melakukan suatu tindakan sebagai respons terhadap keadaan
atau kondisi tertentu; itu selalu mencakup urutan tindakan deteksi-diagnosis.

Pada system barrier terdapat beberapa klasifikasi yang dibagi menjadi beberapa. Berikut
adalah klasifikasi dari barrier yang sering ditemukan :

Sistem Barrier Fungsi Contoh


Melindungi dengan Dinding, pintu, bangunan,
menempatkan penghalang pembatasan akses, pagar terali,
pagar, saringan, container,
katup, dsb.
Mengendalikan atau mencegah Safety Belt, body harness,
Material, fisik pergerakan pembatasan gerakan, pemberian
jarak
Menjaga kohesi dan kemampuan Komponen yang tidak mudah
untuk tidak hancur pecah/retak dengan mudah.
Pengurangan energy yang ada Kantong udara, sprinkler
untuk pemadaman
Mencegah pergerakan atau aksi Kunci, pemasangan peralatan,
(mekanik) penyambungan dengan lainnya,
mencocokkan peralatan, dsb.
Fungsional Mencegah pergerakan atau aksi Password, pemasukan kode,
(logical) pencocokan fisik (finger print)
Pemberian penghalang Jarak, keterlambatan, dan
singkronisasi
Mencegah atau menghalangi Pengkodean fungsi (warna,
tindakan bentuk), label dan papan
peringatan
Peraturan Instruksi, prosedur, tindakan
pencegahan, dialog dan lainnya
Pemberian status system atau Penandaan, sinyal, alarm
kondisi (tanda, sinyal, symbol)
Perizinan Izin kerja
Komunikasi Persetujuan, perizinan
Monitoring/pengawasan Pengecekan rutin
Penerapan aturan, petunjuk Penerapan hokum (nasional atau
internasional), pelatihan etika
(Hollnagel 2008)
2.5 Events and Causal Factors Charting (ECFC)
ECFC merupakan teknik identifikasi bahaya yang menampilkan tampilan grafis
kronologi kecelakaan, dan digunakan menggambarkan konsekuensi dari peristiwa insiden
tersebut. Metode ini digunakan saat kecelakaan melibatkan banyak hal penyebab. Metode ini
dapat menunjukkan kondisi dan peristiwa yang memicu secara grafis, yang diperlukan dan
cukup untuk suatu kecelakaan terjadi. Dengan kata lain, ECFC digunakan untuk menentukan
faktor penyebab serta mengidentifikasi peristiwa dan kondisi penting yang menyebabkan
kecelakaan. (Mohammadfan, Iraj dkk, 2014)

2.6 Kombinasi Metode Event and Causal Factors Chart (ECFC) dan Accident Evolution
and Barrier Function

Metode ECFC dan AEB merupakan metode analisis kecelakaan yang memiliki teknik
analisa yang berurutan kejadiannya, dua metode ini memiliki bentuk yang sama yaitu berupa
bentuk chart namun pada metode ECFC tidak disertai oleh analisis kegagalan pada barrier
maka dari itu tambahan AEB sebagai kombinasi dari ECFC sangat berguna dalam
kelanjutannya.

Adapun langkah-langkah dalam pengerjaan kombinasi antar 2 metode ini adalah sebagai
berikut :

1. Menganalisis kecelakaan menggunakan metode ECFC untuk mengetahui direct cause,


root cause, contributing cause dan corrective action.
2. Setelah chart ECFC sudah selesai tidak perlu membuat chart ulang untuk metode AEB,
sebab pada ECFC sudah diketahui urutan kejadian secara runtut.
3. Kemudian, menganalisis kegagalan barrier pada event atau kondisi yang memungkinkan.
Fungsi barrier merupakan evolusi dalam kecelakaan sehungga pada event berikutnya
dalam rantai tidak akan terjadi kecelakaan. Fungsi barrier selalu diidentifikasi untuk
melindungi.
4. Mengelompokkan kegagalan barrier termasuk pada ineffective barrier function, non
existing barrier function, atau effective barrier function.
BAB 3

DIAGRAM ALIR
BAB 4
KASUS KECELAKAAN

Kecelakaan 1
Kecelakaan terjadi pada tanggal 03 April 2013 sekitar pukul 16:45 WIB di daerah
sebelah timur Homo Silo Tuban 4. Kronologi kejadiannya adalah dimana korban sedang
melakukan pekerjaan perbaikan Bucket raw mill (354 BE2). Pada area tersebut juga terdapat
backet kiln (424 BE1 dan 424 BE2) yang masih dalam proses perbaikan. korban bermaksud
ingin membandingkan belt bucket raw mill dan belt bucket kiln(424 BE1) yang berbeda. Pada
saat kejadian berlangsung korban mengenakan pakaian kerja bagian lengan dengan tidak baik
(dilinting). Padahal diketahui bahwa perilaku tersebut dapat membahayakan korban apabila
kontak dengan benda sekitar yang mungkin dapat melukai korban. Setelah melakukan
perbandingan belt bucket raw mill dan belt bucket kiln (424 BE1). Korban berfikir-fikir dengan
melihat perbedaan di bucket kiln tepatnya korban berdiri di antara homo silo dan bucket kiln
(424 BE1), pada saat bersamaan sepasang mur dan baut jatuh, dan mengenai tangan korban.
Pada saat dilakukan wawancara korban beralasan tidak dapat menghindar karena lingkungan
kerja yang tidak terlalu luas dan berlokasi di area yang tinggi. Sehingga korban mengalami luka
sobek pada pergelangan tangan.
Kurang pengawasan Penerapan 5R
dari pihak kurang
manajemen

//2 //4

Korban tidak Kondisi lingkungan Lokasi tidak tertata


menggunakan baju kerja sempit dan rapi
kerja dengan baik tinggi

//1
Mur mengenai
Perbaikan bucket raw Korban membandingkan //3 Korban berdiri diantara Mur dan baut jatuh di pergelanganan tangan
mill sekaligus perbaikan belt bucket rawmill dan belt homo silo dan bucket kiln bawah antara homo silo dan dan mengalami luka
bucket kiln bucket kiln untuk membandingkan bucket kiln sobek pada
pergelangan tangan

Korban tidak
memperkirakan
potensi bahaya
sekitar

Kurang pengawasan
dalam melakukan
pekerjaan
Keterangan gambar

//1 : tidak ada kesadaran mengenai keselamatan kerja

//2 : kurang pengawasan

//3 : tidak terdapat sign

//4 : tidak diterapkan 5R

Keterangan Barrier pada diagram ombinasi ECFC dan AEB

Berikut adalah keterangan mengenai kegagalan Barrier pada gambar :

a. //1 termasuk ineffective barrier function, karena esadaran dan kewaspadaan pekerja
dalam melakukan pekerjaan yang aman kurang baik oleh karena itu mengakibatkan tidak
mampunya mencegah perkembangan dalam proses terjadinya kecelakaan. Sehingga perlu
dalam pengadaan safety briefing lebih ditingkatkan pemahaman pekerja dan dilakukan
pengawasan yang lebih ketat.
b. //2 termasuk ineffective barrier function, kesadaran pekerja dalam menggunakan pakaian
kerja aman yang disediakan kurang baik oleh karena itu perlu adanya pengawasan
mengenai alat pelindung diri pekerja digunakan dengan baik saat melakukan pekerjaan.
c. //3 termasuk ineffective barrier function, karena kurang pengawasan saat pekerjaan
berlangsung mengakibatkan pekerja tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur
kerja yang disediakan kemudian untuk perbaikan kedepannya seharusnya pihak
manajemen lebih mengawasi pekerja saat melakukan pekerjaan.
d. //4 termasuk non exiting barrier function, karena tidak terdapat tanda peringatan tentang
“kejatuhan benda dari atas” seharusnya perlu dipasang karena atas pekerjaan korban
masih terdapat beberapa benda yang berpotensi jatuh.
e. //5 termasuk ineffective barrier function, karena tidk diterapkannya peraturan wajib 5R
dalam perusahaan dengan dapat dilihat dari lokasi kerja yang tidak rapi, maka dari itu
perlu pengawasan lebih terhadap lingkungan kerja agar kerapin dan diterapkannya 5R.
Kecelakaan 2

Kecelakaan terjadi pada tanggal 07 April 2013 sekitar pukul 23:30 WIB, adapun
kronologi kejadiannya adalah korban sedang melakukan pengawasan kegiatan pemasangan batu
bata oleh personil PT. SBG dengan alat bantu O-Ring. Setelah penggeseran O-Ring ke selatan
yang didorong dengan Forklift, posisi platform O-Ring menjadi tidak rata. Namun dalam
pelaksanaan pergeseran ini tidak adanya aba-aba dari luar untuk memberikan arahan kepada
operator untuk mengarahkan forklift. Korban bersama beberapa rekan PT. SBG bermaksud
mensetting posisi O-Ring dengan menarik Support O-Ring ke bawah. Kedua tangan korban
memegang pada support dan berpijak pada Brick yang sudah terpasang (kondisi permukaan
Brick melingkar sesuai diameter Kiln). Dalam laporan yang sudah tertera menjelaskan bahwa
koordinasi antar tim kurang, sehingga menyebabkan hal tersebut dapat terjadi, selain itu korban
juga tidak menggunakan alat pelindung diri sarung tangan. Kemudian dikarenakan pijakan yang
tidak rata, kaki korban yang menggunakan alat pelindung diri sepatu yang sudah tidak layak
pakai kemudian terpeleset dan secara spontan tangan kanan korban mencari pegangan support di
atasnya. Diatas support terpasang Fan yang tidak berpengaman (cover depan). Tangan kanan
korban memegang casing fan di area putaran blade,sehingga jari tangannya terkena blade Blade
Fan yang berputar dan mengalami luka.
Tidak terdapat
sign

//3

Fan tidak terpasang


Koordinasi antar pengaman
tim kurang

//1

Korban mengawasi Korban dan tim Tangan korban Korban terpeleset Jari tangan
O-Ring bergeser dan mensetting O-Ring memegang support
kegiatan pemasangan dan tangan korban korban terkena
posisi plat menjadi dengan menarik dan berpijak pada
batu bata dengan spontan memeganf blade fan yang
tidak rata. support O-Ring brick yang sudah
bantuan O-Ring fan berputar dan
kebawah terpasang
luka

//2 //6
//4
Tidak adanya aba-
aba dari luar Tidak menggunakan APD sepatu tidak
APD sarung tangan layak untuk dipakai

//1
Kondisi lingkungan
Pengawasan kerja licin
kurang
Keterangan gambar

//1 : kurang pengawasan

//2 : tidak menggunakan APD

//3 : tidak terdapat sign

//4 : lingkungan kerja licin

//5 : tidak terdapat pengaman

//6 : APD tidak layak

Keterangan Barrier pada Diagram Kombinasi ECFC dan AEB

Pada gambar

a. //1 termasuk ineffective barrier function, karena kurangnya pengawasan dari pihak
manajemen dalam melaksanakan pekerjaan, sehinggan kurang personil dalam
menjalankan pekerjaan, seperti tidak adanya pihak yang bagian aba-aba. Maka dari itu
untuk kedepannya perlu adanya perbaikan dalam system pengawasan.
b. //2 termasuk ineffective barrier function, karena pekerja tidak menggunakan alat
pelindung diri sarung tangan, padahal perusahaan telah menyediakan alat pelindung diri
untuk tiap pekerja, oleh karena itu untuk perbaikan kelanjutan pengawasan dalam
kedisiplinan penggunaan APD perlu ditingkatkan.
c. //3 termasuk non effective barrier function, karena tidak terdapat sign guna sebagai
penanda bahaya, maka dari itu pekerja tidak memperhatikan pegangan. Dikarenakan
sudah adanya kejadian, maka pihak manajeman harus lebih teliti dalam memberikan
penandaan pada tempat-tempat tertentu yang memiliki potensi bahaya bagi sekitar agar
tidak ada yang terlewat.
d. //4 termasuk ineffective barrier function, karena lingkungan kerja kurang terawat (licin)
sehingga mempermudah terjadinya kecelakaan kerja tersebut, oleh karena itu perlu
adanya perbaikan untuk lingkungan kerja yang lebih terawat dan perlu dilakukan patrol
rutin untuk memastikan keadaan lingkungan kerja terawatt dengan baik.
e. //5 termasuk ineffective barrier function,karena tidak terdapat pengaman dekat fan
sehingga kecelakaan tiak dapat dicegah. Untuk perbaikan kedepannya perlu diberikan
pengaman disekitar fan atau diberikan penandaan bahaya disekitar fan.
f. //6 termasuk ineffective barrier function, karena alat pelindung diri sepatu, namun sudah
tidak layak pakai. Untuk perbaikan kedepannya memerlukan pengawasan dalam
penggunaan APD harus lebih diperketat.
Kecelakaan Kerja 3

Kronologi Kecelakaan

Kecelakaan terjadi pada tanggal 2 Agustus 2013 sekitar pukul 08.30 WIB di daerah
workshop pemeliharaan listrik dan instrument crusher dimana kronologi kejadiannya adalah
pada saat kejadian korban melakukan pemotongan besi siku di lokasi kerja dengan cutting wheel,
dimana alat yang digunakan sudah mempunyai beberapa kekurangan yang sekiranya butuh untuk
dimaintenance atau diganti. Korban merupakan pekerja baru yang memiliki pengalaman kerja
yang kurang. Cutting tersebut pecah setelah kontak dengan besi siku tersebut. Selain itu pekerja
juga tidak mematuhi Standart Operational Procedure mengenai bekerja aman yang sudah
disediakan di perusahaan. Pecahan batu cutting terlontar ke arah wajah korban, seketika pipi
bagian kanan mengalami luka sobek. Diketahui pekerja tidak memakai pelindung diri face shield
dikarenakan ketersediaan alat pelindung diri jenis tersebut sangat terbatas jumlahnya.
Pekerja baru Kurang Tidak tersedia
pengawasan pihak
manajemen

//3
Pengalaman kerja Pekerja tidak
korban kurang baik menggunakan APD
Pekerja tidak face shield
mematui prosedur

Korban melakukan Pecahan cutting Salah satu


//1 //4 //6
pemotongan besi siku menyebar di sekitar pecahan cutting
dengan cutting wheel Cutting pecah setelah
pekerja terlempar pada
kontak dengan siku besi
wajah pekerja
//2 yang akan dipotong //5

Gambar 3.3 Diagram kombinasi ECFC dan AEB kasus


Keterangan Gambar 4.3

//1 : Pengalaman kerja kurang baik

//2 : Alat sudah tidak layak pakai

//3 : Kurangnya pengawasan

//4 : Kesadaran pekerja kurang

//5 : Kewaspadaan pekerja kurang

//6 : Tidak menggunakan APD

Keterangan Barrier pada Diagram Kombinasi ECFC dan AEB

a. //1 termasuk ineffective barrier function karena pengalaman kerja korban dalam
melakukan cutting kurang sehingga menyebabkan perkembangan kecelakaan tidak
dapat dihindari. Maka dari itu perlu adanya pengawasan lebih mengenai pekerja
agar kecelakaan berlanjut tidak terjadi.
b. //2 termasuk ineffective barrier function karena alat yang digunakan ada namun
sudah tidak baik untuk dipakai. Oleh karena itu perkembangan kecelakaan tidak
dapat dihindari. Sehingga rekomendasi untuk kedepannya perlu adanya monitor
rutin mengenai alat kerja. Jika sekiranya masih bisa diperbaiki maka segera
dilakukan, demikian pula jika harus mengganti atau menghilangkan.
c. //3 termasuk ineffective barrier function, karena kurangnya pengawasan saat
pekerjaan berlangsung mengakibatkan pekerja tidak melakukan pekerjaan sesuai
prosedur kerja yang disediakan. Langkah untuk perbaikan kedepannya seharusnya
pihak manajemen harus lebih mengawasi pekerja saat bekerja.
d. //4 termasuk ineffective barrier function, karena prosedur kerja sudah disediakan
namun pekerja tidak mengindahkan dengan baik. Oleh karena itu perlu pengawasan
lebih kepada pekerja agar lebih mematuhi peraturan.
e. //5 termasuk ineffective barrier function, karenapekerja kurang waspada akan resiko
yang ada di sekitar yang dapat menimbulkan bahaya sehingga dalam pengadaan
safety briefing lebih ditingkatkan pemahaman pekerja dan dilakukan pengawasan
yang lebih ketat.
f. //6 termasuk ineffective barrier function, karena pekerja tidak menggunakan APD.
Hal ini dikarenakan jumlah APD face shield sangat terbatas jumlahnya . untuk
perbaikan ke depan perlu adanya pengadaan perbaruan APD yang sekiranya
dibutuhkan.