Anda di halaman 1dari 22

BAGIAN ILMU PENYAKIT THT-KL REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN Mei 2019


UNIVERSITAS TADULAKO

“CHOLESTEATOMA EKSTERNA”

Oleh:
Muchamad Faizal Adha N, S.Ked
N 111 17 162

Pembimbing Klinik:
dr. BASTIANA, M.Kes Sp.THT-KL

BAGIAN ILMU KESEHATAN


TELINGA, HIDUNG, TENGGOROKAN-KEPALA, LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2019
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan .............................................................................................................2

Kata Pengantar ..................................................................................................................... 3

Daftar Isi .............................................................................................................................. 4

Bab I

Pendahuluan ......................................................................................................................... 5

Bab II

Anatomi Telinga .................................................................................................................6

Bab III

Kolesteatoma........................................................................................................................ 9

Bab IV

Kesimpulan ........................................................................................................................ 20

Daftar Pustaka .................................................................................................................... 21


BAB I

PENDAHULUAN

Kolesteatoma adalah lesi yang terbentuk oleh epitel skuamosa berlapis berkeratin
yang terjadi pada tulang temporal.1 Kolesteatoma biasanya ditemukan pada telinga tengah.
Kolesteatoma meatus akustikus eksternus (MAE) adalah invasi jaringan epitel skuamosa ke
dalam tulang MAE yang bersifat lokal dan mengerosi tulang.2 Tulang dinding inferior dan
posterior MAE paling sering terkena.3 Membran timpani tampak normal pada kolesteatoma
MAE stadium dini.4
Biasanya muncul di dalam rongga telinga tengah, dapat mengering secara eksternal
melalui membran timpani atau mungkin berasal dari kanal auditori eksternal. Jenis yang
terakhir jarang ditemui dan biasanya mempengaruhi lansia.5
Kanal auditori eksternal (EAC) kolesteatoma (EACC) adalah entitas yang jarang
terjadi Perkiraan kejadian satu dari 1000 pasien di klinik THT. Pasien dengan EACC
biasanya hadir dengan otorrhea dan nyeri kronis yang tumpul akibat invasi lokal jaringan
skuamosa ke EAC yang bertulang. Sebagian besar kasus bersifat spontan atau terjadi setelah
operasi atau trauma pada saluran pendengaran, meskipun sudah ada sebelumnya stenosis atau
obstruksi saluran telinga juga telah dilaporkan menghasilkan EACC.9

Kolesteatoma MAE merupakan penyakit yang jarang ditemukan dengan perkiraan


insidensi 0,15-0,3 per 100.000 penduduk pertahun, atau sekitar 0,1%-0,5% dari seluruh
penyakit telinga. Sebagai pembanding, insidensi kolesteatoma telinga tengah adalah 9,2 per
100.000 penduduk pertahun. Penyakit ini paling banyak ditemukan pada penderita usia
lanjut.4
Etiologi kolesteatoma MAE belum ditemukan secara pasti. Berbagai dugaan
dikemukakan, antara lain karena mikrotrauma MAE, retensi serumen yang keras, osteitis, dan
penurunan migrasi epitel akibat usia lanjut.5 Kolesteatoma MAE mempunyai gambaran klinis
yang mirip dengan keratosis obturan.3 Kedua penyakit tersebut perlu dibedakan karena
penanganannya berbeda. Kolesteatoma MAE pada umumnya memerlukan tindakan bedah,
sedangkan keratosis obturan tidak memerlukan tindakan bedah.6
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan mengenai diagnosis,
tatalaksana, komplikasi dan diagnosis banding kolesteatoma meatus akustikus eksternus.

3
BAB II

ANATOMI TELINGA

Sistem organ pendengaran perifer terdiri dari struktur organ pendengaran yang berada
di luar otak dan batang otak yaitu telinga luar, telinga tengah, telinga dalam dan saraf
kokhlearis sedangkan organ pendengaran sentral adalah struktur yang berada di dalam batang
otak dan otak yaitu nukleus koklearis, nukleus olivatorius superior, lemnikus lateralis,
kolikulus inferior dan kortek serebri lobus temporalis area wernicke (gambar 1). 2

Gambar 1. Skema organ pendengaran perifer dan sentral. 2

Anatomi Telinga Luar


Telinga luar merupakan bagian telinga yang terdapat di lateral dari membran timpani,
terdiri dari aurikulum, meatus akustikus eksternus (MAE) dan membran timpani (MT)
(gambar 2). 2

4
Gambar 2. Gambar anatomi telinga. 2

Aurikulum merupakan tulang rawan fibro elastis yang dilapisi kulit, berbentuk pipih
dan permukaannya tidak rata. Melekat pada tulang temporal melalui otot-otot dan ligamen.
Bagiannya terdiri heliks, antiheliks, tragus, antitragus dan konka. Daun telinga yang tidak
mengandung tulang rawan ialah lobulus (gambar 3). 2

Gambar 3 : Anatomi Aurikulum. 2

5
posterior dan arteri temporalis superfisialis. Aliran vena menuju ke gabungan vena temporalis
superfisialis, vena aurikularis posterior dan vena emissary mastoid. Inervasi oleh cabang
nervus cranial V, VII, IX dan X. 2

MAE merupakan tabung berbentuk S, dimulai dari dasar konka aurikula sampai pada
membran timpani dengan panjang lebih kurang 2,5 cm dan diameter lebih kurang 0,5 cm.
MAE dibagi menjadi dua bagian yaitu pars cartilage yang berada di sepertiga lateral dan
pars osseus yang berada di dua pertiganya. Pars cartilage berjalan ke arah posterior superior
, merupakan perluasan dari tulang rawan daun telinga, tulang rawan ini melekat erat di tulang
temporal, dilapisi oleh kulit yang merupakan perluasan kulit dari daun telinga , kulit tersebut
mengandung folikel rambut, kelenjar serumen dan kelenjar sebasea. Kelenjar serumen
memproduksi bahan seperli lilin berwarna coklat merupakan pengelupasan lapisan epidermis,
bahan sebaseus dan pigmen disebut serumen atau kotoran telinga. Pars osseus berjalan ke
arah antero inferior dan menyempit di bagian tengah membentuk ismus. Kulit pada bagian ini
sangat tipis dan melekat erat bersama dengan lapisan subkutan pada tulang. Didapatkan
glandula sebasea dan glandula seruminosa, tidak didapatkan folikel rambut (gambar 4). 2

6
Gambar 4. Gambar kelenjar pada liang telinga. 2

MAE dialiri arteri temporalis superfisialis dan arteri aurikularis posterior serta arteri
aurikularis profundus. Darah vena mengalir ke vena maksilaris, jugularis eksterna dan
pleksus venosus pterygoid. Aliran limfe menuju ke lnn. aurikularis anterior, posterior dan
inferior. Inervasi oleh cabang aurikularis dari n. vagus dan cabang aurikulotemporalis dari n.
mandibularis. 2
MT berbentuk kerucut dengan puncaknya disebut umbo , dasar MT tampak sebagai
bentukan oval. MT dibagi dua bagian yaitu pars tensa memiliki tiga lapisan yaitu lapisan
skuamosa, lapisan mukosa dan lapisan fibrosa. Lapisan ini terdiri dari serat melingkar dan
radial yang membentuk dan mempengaruhi konsistensi MT. 3 Pars flasida hanya memiliki
dua lapis saja yaitu lapisan skuamosa dan lapisan mukosa. Sifat arsitektur MT ini dapat
menyebarkan energi vibrasi yang ideal (gambar 5). 2

MT bagian medial disuplai cabang arteri aurikularis posterior, lateral oleh ramus
timpanikus cabang arteri aurikularis profundus. Aliran vena menuju ke vena maksilaris,
jugularis eksterna dan pleksus venosus pterygoid. Inervasi oleh nervus aurikularis cabang
nervus vagus, cabang timpanikus nervus glosofaringeus of Jacobson dan nervus
aurikulotemporalis cabang nervus mandibularis. 2

7
Gambar 5. Gambar membran timpani. 2

Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga dalam
bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea,7 Proses mendengar
melalui tiga tahapan yaitu tahap pemindahan energi fisik berupa stimulus bunyi ke organ
pendengaran, tahap konversi atau tranduksi yaitu pengubahan energi fisik stimulasi tersebut
ke organ penerima dan tahap penghantaran impuls saraf ke kortek pendengaran. 2

8
Gambar 10. Skema mekanisme pendengaran. 2

Mekanisme Pendengaran Telinga Luar dan Tengah


Aurikula berfungsi untuk mengetahui arah dan lokasi suara dan membedakan tinggi
rendah suara. Aurikula bersama MAE dapat menaikkan tekanan akustik pada MT pada
frekuensi 1,5 – 5 kHz yaitu daerah frekuensi yang penting untuk presepsi bicara, selanjutnya
gelombang bunyi ini diarahkan ke MAE menyebabkan naiknya tekanan akustik sebesar 10-
15 dB pada MT. 2
MAE adalah tabung yang terbuka pada satu sisi tertutup pada sisi yang lain. MAE
meresonansi ¼ gelombang. Frekuensi resonansi ditentukan dari panjang tabung, lengkungan
tabung tidak berpengaruh. Tabung 2,5 cm, frekuensi resonansi kira-kira 3,5 kHz. 2

Fo (frekuensi resonansi) = kecepatan suara (4 x panjang tabung)


Dimana : Kecepatan suara = 350 m/detik
Misal panjang tabung = 2,5 cm, maka :
Fo = 350 (4x2,5) = 3500 Hz = 3,5 kHz

Gelombang suara kemudian diteruskan ke MT dimana pars tensa MT merupakan


medium yang ideal untuk transmisi gelombang suara ke rantai osikular. Hubungan MT dan
sistem osikuler menghantarkan suara sepanjang telinga telinga tengah ke koklea. Tangkai

9
maleus terikat erat pada pusat membran timpani, maleus berikatan dengan inkus, inkus
berikatan dengan stapes dan basis stapes berada pada foramen ovale. Sistem tersebut
sebenarnya mengurangi jarak tetapi meningkatkan tenaga pergerakan 1,3 kali, selain itu luas
daerah permukaan MT 55 milimeter persegi sedangkan daerah permukaan stapes rata-rata 3,2
milimeter persegi. Rasio perbedaan 17 kali lipat ini dibandingkan 1,3 kali dari dari sistem
pengungkit , menyebabkan penekanan sekitar 22 kali pada cairan koklea. Hal ini diperlukan
karena cairan memiliki inersia yang jauh lebih besar dibandingkan udara, sehingga
dibutuhkan tekanan besar untuk menggetarkan cairan, selain itu didapatkan mekanisme reflek
penguatan, yaitu sebuah reflek yang timbul apabila ada suara yang keras yang ditransmisikan
melalui sistem osikuler ke dalam sistem saraf pusat, reflek ini menyebabkan konstraksi pada
otot stapedius dan otot tensor timpani. Otot tensor timpani menarik tangkai maleus ke arah
dalam sedangkan otot stapedius menarik stapes ke arah luar. Kondisi yang berlawanan ini
mengurangi konduksi osikular dari suara berfrekuensi rendah dibawah 1 000 Hz. Fungsi dari
mekanisme ini adalah untuk melindungi koklea dari getaran merusak disebabkan oleh suara
yang sangat keras , menutupi suara berfrekuensi rendah pada lingkungan suara keras dan
menurunkan sensivitas pendengaran pada suara orang itu sendiri. 2

10
Bab III

KOLESTEATOMA EKSTERNA

Kolesteatoma adalah lesi (massa) kistik yang dibatasi oleh epitel skuamus berlapis
berkeratin dan berisi debris keratin yang terdapat pada tulang temporal (telinga tengah, apex
petrosa dan MAE). Lesi ini bersifat mengerosi tulang. Kolesteatoma MAE adalah invasi
jaringan epitel skuamosa ke dalam tulang MAE yang bersifat lokal. Erosi biasanya terjadi
pada tulang dinding inferior dan posterior MAE. Kolesteatoma MAE pertama kali dilaporkan
oleh Toynbee pada tahun 1850, dengan deskripsi lesi pada MAE yang berisi sisik epidermis.
Istilah kolesteatoma MAE kemudian diperjelas oleh Piepergerdes pada tahun 1980.1 Ilustrasi
kolesteatoma MAE seperti terlihat pada gambar 2.

Gambar 2. Ilustrasi kolesteatoma MAE. Tampak kolesteatoma (tanda panah


terbuka), dan destruksi tulang (tanda panah hitam).1

1.1 Insidensi
Kolesteatoma MAE merupakan kasus yang sangat jarang ditemukan dengan insidensi
0,1%-0,5% dari seluruh penyakit telinga. Kolesteatoma MAE dapat muncul secara spontan
(primer), atau sekunder (karena trauma telinga, iatrogenik, pasca infeksi, dan pasca
radioterapi). Insidensi kasus primer adalah 0,15 per 100.000 penduduk pertahun, dan
insidensi kasus sekunder adalah 0,3 per 100.000 penduduk pertahun. Sebagai pembanding,
insidensi kolesteatoma telinga tengah adalah 9,2 per 100.000 penduduk pertahun.4 Rasio
kejadian antara laki-laki dan perempuan tidak pasti. Suatu penelitian di Denmark menyatakan
rasio laki-laki dibanding perempuan adalah 12:13, sedangkan penelitian lain menyatakan
rasio 6:4. Kolesteatoma MAE primer banyak terjadi pada usia tua, dengan usia paling banyak
40-75 tahun.4,7

1.2 Etiopatogenesis
Etiologi kolesteatoma MAE primer masih belum jelas. Telah dihipotesiskan bahwa
kolesteatoma MAE primer merupakan proses reaktif akibat osteitis. Faktor yang diduga
mempengaruhi antara lain faktor mekanik (penggunaan alat bantu dengar), iskemia lokal, dan
perubahan migrasi epitel dan kelenjar serumen yang terkait usia. Serumen lebih kering pada
usia tua yang akan menyebabkan akumulasi sel epitel.4
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa seluruh epitel kulit pada tubuh kita berada pada
lokasi yang terbuka / terpapar ke dunia luar. epitel kulit di liang telinga merupakan suatu
daerah Cul-de-sac sehingga bila terperangkap dalam waktu yang lama dapat membentuk
kolesteatoma.3
Epitel MAE yang mengalami deskuamasi bermigrasi ke arah lateral pada orang
normal. Epitel gagal bermigrasi ke arah lateral pada penderita kolesteatoma MAE. Debris
keratin yang terperangkap akan menumpuk di MAE dan membentuk kantong.1 Kecepatan
migrasi sel epitel pada dinding inferior MAE pada penderita kolesteatoma MAE lebih lambat
diduga akibat kondisi hipoksia karena berkurangnya aliran darah pada area tersebut. 4
Hipoksia dapat memicu terjadinya angiogenesis pada MAE. Faktor-faktor angiogenik seperti
hepatocyte growth factor/scatter factor (HGF/SF), reseptor tirosin-kinase c-Met, dan
vascular endothelial growth factor (VEGF) terekspresi kuat pada sediaan kolesteatoma
MAE. Stimulasi sel kolesteatoma dengan HGF/SF menghasilkan peningkatan kecepatan
proliferasi dan peningkatan rilis VEGF pada suatu penelitian.2 Enzim proteolitik yang
terdapat pada dinding kantong kolesteatoma menyebabkan periostitis sekuestrasi tulang.1
Kolesteatoma MAE iatrogenik (pasca operasi) disebabkan karena terjebaknya epitel
berkeratin di bawah graft atau flap kulit. Owen menyatakan bahwa terdapat risiko terjadi
kolesteatoma MAE iatrogenik sebesar 1,3 dalam seribu kasus operasi telinga dengan
berbagai teknik. Masa laten terdeteksi kolesteatoma MAE pasca operasi kira-kira 7 tahun.
Kolesteatoma MAE pasca trauma mempunyai mekanisme yang mirip yaitu terjebaknya epitel
di dalam garis patah tulang atau defek tulang beserta dengan adanya akumulasi epitel akibat
stenosis MAE pasca trauma.4
Kolesteatoma MAE pasca infeksi dihubungkan dengan osteitis dan invasi epitel akibat
infeksi yang terjadi sebelumnya. Radioterapi yang mengenai MAE menyebabkan perubahan

12
pada jaringan lunak dan hiperplasia epitel. Radiasi juga menyebabkan atropi jaringan,
osteitis dan nekrosis sehingga menyebabkan terbentuknya kolesteatoma.4 Secara garis besar,
dugaan etiologi kolesteatoma MAE antara lain adalah karena mikrotrauma MAE, retensi
serumen yang keras, osteitis fokal, hipoksia yang menyebabkan angiogenesis, dan penurunan
migrasi epitel akibat usia lanjut atau akibat menurunnya aliran darah lokal.1

1.3 Klasifikasi
Terdapat beberapa pembagian kolesteatoma MAE berdasarkan perkiraan etiologi dan
mekanisme terjadinya kolesteatoma. Farrior pada tahun 1990, seperti dikutip oleh Al-Sihan,
membagi kolesteatoma MAE menjadi empat tipe. Tipe pertama adalah akibat atresia MAE
kongenital dan stenosis MAE. Tipe kedua adalah yang berhubungan dengan tindakan
timpanoplasti, operasi telinga tengah, atau trauma kulit MAE. Tipe ketiga adalah yang
berhubungan dengan keratosis obturan. Tipe keempat adalah yang berhubungan dengan
osteitis fokal.1
Holt pada tahun 1992, seperti dikutip oleh Al-Sihan, membagi kolesteatoma MAE
menjadi lima kelompok penderita, yaitu penderita pasca operasi, penderita pasca trauma,
penderita stenosis MAE (sering kongenital), penderita obstruksi MAE sekunder karena tumor
atau osteoma, dan sebagian besar penderita dangan penyebab yang belum diketahui.1
Tos pada tahun 1997, seperti dikutip oleh Al-Sihan, membagi kolesteatoma MAE
menjadi kolesteatoma MAE primer, kolesteatoma MAE sekunder (pasca operasi, pasca
infeksi, dan pasca trauma), dan kolesteaoma MAE yang berhubungan dengan atresia MAE
kongenital.11 Pembagian terbaru adalah dari Owen pada tahun 2006 yang membagi
kolestetoma MAE menjadi primer dan sekunder (pasca operasi, pasca infeksi, pasca
radioterapi, dan pasca trauma).4 Klasifikasi kolesteatoma MAE secara ringkas dapat dilihat
pada tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi kolesteatoma MAE


Peneliti Klasifikasi
Farrior (1990) 1. Akibat atresia MAE kongenital dan stenosis MAE
2. Berhubungan dengan tindakan timpanoplasti, operasi telinga tengah,
atau trauma kulit MAE
3. Berhubungan dengan keratosis obturan
4. Berhubungan dengan osteitis fokal
Holt (1992) 1. Pasca operasi
2. Pasca trauma

13
3. Stenosis MAE (sering kongenital)
4. Obstruksi mae sekunder karena tumor atau osteoma
5. Penyebab yang belum diketahui
Tos (1997) 1. Primer
2. Sekunder (pasca operasi, pasca infeksi, dan pasca trauma)
3. Berhubungan dengan atresia MAE kongenital
Owen (2006) 1. Primer
2. Sekunder (pasca operasi, pasca infeksi, pasca radioterapi, dan pasca
trauma)

1.4 Stadium
Perjalanan penyakit kolesteatoma MAE bermula dari hiperplasia epitel dan inflamasi
lokal dengan keluhan ringan, hingga destruksi struktur sekitar MAE dengan disertai keluhan
otore, gangguan pendengaran, atau paresis nervus fasialis. Keluhan sesuai dengan struktur
yang mengalami kerusakan. Kolesteatoma MAE dapat dibagi menjadi 4 stadium berdasarkan
gambaran mikroskopis dan klinis, seperti terlihat pada tabel 2.

Tabel 2. Stadium kolesteatoma MAE.1


Stadium kolesteatoma MAE
Stadium I Hiperplasia dan hiperemi epitel MAE. Peningkatan kecepatan apoptosis
pada permukaan kolesteatoma.
Stadium II Inflamasi lokal dari epitel yang mengalami hiperproliferasi dan gambaran
periosteitis. Tidak terdapat destruksi tulang MAE. Terdapat akumulasi
debris keratin. Secara klinis terdapat keluhan nyeri tumpul dan otore bila
terjadi infeksi sekunder.
a. Permukaan epitel intak, tanpa terlihat tulang MAE.
b. Terdapat defek epitel, dan tulang MAE terlihat.

Stadium III Destruksi tulang MAE dengan disertai sekuestrasi tulang (osteonekrosis
aseptik). Defek epitel sampai ke tulang. Akumulasi debris keratin dengan
disertai infeksi sekunder dan otore.
Stadium IV Destruksi spontan dari struktur yang berdekatan (sesuai subkelas) dengan
disertai otore, gangguan pendengaran, parese nervus fasialis, thrombosis
sinus sigmoid, dan abses intrakranial.
Subkelas M : Mastoid
Subkelas S : Skull base (dasar tengkorak) dan sinus sigmoid
Subkelas J : Temporo-mandibular joint
Subkelas F : Nervus fasialis

14
Kolesteatoma MAE dibagi menjadi empat stadium berdasarkan gambaran Computed
Tomography Scan (CT scan), yaitu stadium I, kolesteatoma terbatas pada MAE; stadium II,
kolesteatoma mengenai membran timpani dan telinga tengah; stadium III, kolesteatoma
mengakibatkan defek pada dinding MAE dan mengenai sel-sel mastoid; dan stadium IV,
kolesteatoma meluas sampai ke luar tulang temporal.6 Pembagian stadium berdasarkan
gambaran CT scan tersebut seperti terlihat pada gambar 3.

A B

C D

Gambar 3. Stadium kolesteatome MAE pada gambaran CT scan tulang temporal. (A)
Stadium I, lesi terbatas pada MAE. (B). Stadium II, lesi mengenai telinga tengah. (C)
Stadium III, lesi mengenai kavum mastoid. (D) Stadium IV, lesi meluas keluar tulang
temporal.6

2. Diagnosis Kolesteatoma MAE


Diagnosis kolesteatoma MAE ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis,
pemeriksaan penunjang CT scan dan histopatologi. Anamnesis berupa nyeri telinga dan
telinga keluar cairan unilateral, dapat juga didapatkan buntu telinga dan penurunan
pendengaran. Pada pemeriksaan otoskopi didapatkan otore, kolesteatoma pada MAE dengan

15
destruksi tulang MAE. Membran timpani pada umumnya normal.4 Pada pemeriksaan
penunjang CT scan didapatkan gambaran massa jaringan lunak pada MAE dan destruksi
tulang.6 Pada pemeriksaan histopatologi didapatkan hiperplasia epitel berskuama dengan
infiltrat sel-sel peradangan kronis.2,9

2.1 Anamnesis
Kolesteatoma MAE pada umumnya hanya mengenai satu sisi telinga. Gambaran
klinis yang sering didapat adalah otalgi dan otore unilateral. Keluhan otalgi bervariasi dari
nyeri ringan sampai nyeri hebat.1 Otalgi biasanya samar-samar atau hanya otalgi ringan,
tetapi dapat pula berupa nyeri tumpul yang kronis. Pada beberapa kasus didapatkan keluhan
nyeri hebat. Keluhan buntu telinga bisa ditemukan. Keluhan gatal dan penurunan
pendengaran lebih jarang didapatkan. Pada beberapa penderita tidak didapatkan keluhan
sama sekali (asimtomatik).4
2.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan otoskopi didapatkan penumpukan debris keratin dan kolesteatoma pada
MAE. Dapat pula didapatkan massa pada MAE. Erosi tulang biasanya terjadi pada dinding
inferior dan posterior dari MAE. Otore biasanya purulen terutama apabila terdapat infeksi
sekunder.1 Membran timpani normal, kecuali apabila terdapat perluasan kolesteatoma ke
telinga tengah.1 Contoh gambar pemeriksaan otoskopi seperti terlihat pada gambar 4.
Pemeriksaan audiometri nada murni bisa normal atau terdapat gangguan pendengaran
ringan.1

Gambar 4. Gambar MAE kanan. Kolesteatoma dan debris skuama pada dinding
posterior MAE. Tampak membran timpani intak.1

2.3 Pemeriksaan penunjang

16
2.4 Radiologi
Pemeriksaan CT scan merupakan hal yang penting dalam menegakkan diagnosis
kolesteatoma MAE. Pemeriksaan ini juga dapat memperlihatkan perluasan penyakit dan
untuk merencanakan tindakan operasi bila diperlukan.7 Dari gambaran CT scan, bisa terlihat
adanya massa jaringan lunak (soft tissue mass) pada MAE dan destruksi tulang di area MAE.
Pemeriksaan high-resolution CT scan tulang temporal lebih direkomendasikan untuk melihat
defek tulang dan kerusakan struktur sekitar. Tulang nekrosis dan periosteitis tampak sebagai
gambaran erosi tulang yang ireguler.1 Gambaran fragmen tulang di dalam kolesteatoma
(intramural) dapat pula terlihat pada CT scan, seperti terlihat pada gambar 5. Pilihan foto
polos Schuller view juga biasa digunakan seperti Gambar 6.11

Gambar 5. CT scan tulang temporal potongan koronal menunjukkan kolesteatoma


MAE yang terlihat sebagai massa jaringan lunak pada bagian inferior MAE
dengan fragmen tulang intramural (tanda panah putih). Tampak gambaran erosi
tulang pada dinding inferior MAE (tanda panah hitam).1

Gambar 6. X‑ray mastoid (schuller view) menunjukan area lisis luas pada daerah
mastoid.11

17
2.5 Histopatologi
Kolesteatoma MAE secara histopatologis bermula sebagai hiperplasia fokal dari epitel
berskuama pada MAE dengan akumulasi sel-sel peradangan, seperti terlihat pada gambar 6.
Terdapat debris keratin pada bagian permukaan.2 Pada tahap selanjutnya terjadi pertumbuhan
invasif kolesteatoma ke arah jaringan mesenkim yang lebih dalam, dan menyebabkan
akumulasi debris keratin pada bagian sentral (central cavity). Bila tidak ditangani dengan
baik, akan terjadi erosi tulang.1

Gambar 7. Epitel berlapis berskuamosa dan stroma jaringan ikat subepitel dengan
sel-sel inflamasi. Terlihat debris keratin (tanda panah).1

3. Terapi
Terapi kolesteatoma MAE bergantung beratnya penyakit. Tujuan dari terapi adalah
eradikasi penyakit dengan preservasi struktur normal dan mengembalikan migrasi epitel ke
arah normal.1
3.1 Terapi Konservatif
Terapi konservatif dilakukan bila kolesteatoma dan erosi tulang masih terbatas di
MAE. Pembersihan debris keratin berkala, dan terapi lokal dengan salisilat dan kortison.
Dapat pula dengan kasa yang diberi salep antibiotik dan hidrokortison selama satu minggu,
dan diulang setiap tiga bulan.2 Pemakaian 5-fluorourasil topikal dapat dipertimbangkan.7

3.2 Tindakan Operatif


Tindakan operatif dilakukan bila terdapat salah satu dari : perluasan ke telinga tengah
atau mastoid, terdapat komplikasi atau berpotensi terjadi komplikasi, otore tidak tertangani
dengan terapi konservatif, atau penurunan pendengaran signifikan. Prinsip tindakan bedah
adalah membersihkan jaringan patologis. Tindakan bedah mulai dari pembersihan dengan

18
cara kuretase sekuestrasi tulang di MAE dengan anestesi lokal, kanalplasti, atau
mastoidektomi, tergantung lokasi lesi dan luasnya destruksi tulang.1 Tindakan operatif
kolesteatoma MAE berdasarkan stadium secara ringkas dapat dilihat pada tabel 3.
Tindakan operatif dilakukan dengan eksisi kolesteatoma hingga mencapai 1-2
milimeter dari batas kulit MAE normal. Tulang yang mengalami erosi dibersihkan dengan
mata bor diamond untuk meratakan tepi yang tajam. Defek pada tulang ditutup dengan graft
kulit split thickness, graft jaringan lunak, kartilago aurikula ipsilateral, atau fasia
temporalis.2,7

Tabel 3. Stadium kolesteatoma MAE dan terapi berdasarkan stadium.6


Stadium Terapi
I Terbatas pada MAE Perawatan lokal atau kanalplasti
II Invasi membran timpani dan telinga Kanalplasti + timpanoplasti
tengah
III Defek pada dinding MAE dan mengenai Kanalpasti + mastoidektomi ±
sel-sel mastoid timpanoplasti ± rekonstruksi dinding
MAE
IV Meluas sampai keluar tulang temporal Membersihkan kolesteatoma dengan
berbagai pendekatan

4. Komplikasi
Komplikasi kolesteatoma MAE sesuai dengan perluasan destruksi. Komplikasi
tersebut antara lain: erosi tulang-tulang pendengaran, fistula labirin, dan parese nervus
fasialis. Komplikasi tersebut akibat perluasan ke mastoid yang luas.9 Perluasan ke arah
anterior menyebabkan destruksi sendi temporo-mandibula. Gangguan pendengaran tipe
konduksi bisa terjadi bila terjadi obliterasi MAE.7

5. Diagnosis Banding
Kolesteatoma perlu dibedakan dengan keratosis obturan karena mempunyai gambaran
klinis yang mirip, sedangkan penanganannya berbeda. Keratosis obturan ditandai dengan
penumpukan plak debris keratin yang besar pada bagian tulang dari MAE sehingga
menimbulkan keluhan otalgi hebat dan akut, serta gangguan pendengaran. Pada pemeriksaan
didapatkan oklusi MAE oleh plak yang padat dan keras akibat penumpukan debris dari
deskuamasi epitel.3 Penanganan keratosis obturan adalah dengan pembersihan MAE secara
berkala.4

19
Terdapat beberapa hal yang membedakan kolesteatoma MAE dengan keratosis
obturan. Kolesteatoma MAE terjadi pada penderita usia tua, pada umumnya unilateral, dan
gejala klinis ditandai dengan nyeri tumpul pada telinga dan adanya otore. Pendengaran
biasanya masih dalam batas normal. Keratosis obturan terjadi pada penderita usia muda
dengan keluhan otalgia akut dan adanya gangguan pendengaran tipe konduksi bilateral.
Pemeriksaan telinga pada penderita kolesteatoma MAE didapatkan divertikulum epidermal
yang berasal dari dinding bawah MAE, sedangkan bagian lain dari MAE yang tidak terkena
tampak normal. Pada keratosis obturan didapatkan MAE terisi penuh dengan plak keratin,
MAE tampak melebar dan hiperemi. Terdapat erosi tulang pada kolesteatoma MAE,
sedangkan pada keratosis obturan tidak terdapat erosi tulang.7

Gambar 8. Perbeaan Keratitis obturan dan kolesteatoma Eksterna3

RINGKASAN

Kolesteatoma meatus akustikus eksternus (MAE) adalah invasi jaringan epitel


skuamosa ke dalam tulang MAE yang bersifat lokal dan mengerosi tulang. Penyakit jarang
ditemukan dan paling banyak ditemukan pada penderita usia lanjut. Berbagai dugaan
penyebab kolesteatoma MAE antara lain karena mikrotrauma MAE, retensi serumen yang
keras, osteitis, dan penurunan migrasi epitel akibat usia lanjut.

20
Diagnosis kolesteatoma MAE ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis,
dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis berupa nyeri telinga dan telinga keluar cairan
unilateral, Pada pemeriksaan didapatkan otore, kolesteatoma pada MAE dengan destruksi
tulang MAE. Membran timpani pada umumnya normal. Pada CT scan didapatkan gambaran
massa jaringan lunak pada MAE dan destruksi tulang. Pada pemeriksaan histopatologi
didapatkan hiperplasia epitel berskuama dengan infiltrat sel-sel peradangan kronis.
Terapi kolesteatoma MAE bergantung beratnya penyakit. Terapi konservatif berupa
pembersihan debris keratin berkala, dan terapi lokal. Tindakan operatif dilakukan bila
terdapat perluasan keluar dari MAE. Prinsip tindakan ini adalah membersihkan jaringan
patologis. Diagnosis banding kolesteatoma MAE adalah keratosis obturan karena kemiripan
gejala klinis.

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Mahardhika Reza, Kolesteatoma Meatus Akustikus Eksternus. Jurnal THT - KL SMF


Ilmu Kesehatan THT-KL FK Airlangga Surabaya : 2012 (cited 5 Mei , 2019).
Available at https://www.academia.edu/19587517/Kolesteatoma_MAE
2. Puguh Setyo ANATOMI DAN FISIOLOGI PENDENGARAN PERIFER. Jurnal
THT - KL. Vol. 2, No. 2 (cited April 20, 2019). Available at
http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-thtklada99f6a28full.pdf

3. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI; 2008
4. Owen HH, Rosborg J, Gaihede M. Cholesteatoma of the external ear canal:
etiological factors, symptoms and clinical findings in a series of 48 cases. BMC Ear,
Nose and Throat Disorders 2006; 6(16): 1-9
5. Aswani Yashant. Spontaneous external auditory canal cholesteatoma in a young male:
June 26, 2016 (cited April 19, 2019). Available at
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4931784/

6. Shin SH, Shim JH, Lee HK. Classification of external auditory canal cholesteatoma
by computed tomography. Clinical Experimental Otorhinolaryngology 2010; 3(1): 24-
6.
7. Toh ST, Eng SP, Chan YM. External auditory canal cholesteatoma: clinical
management in Asia. Mediterr J Otol 2005; 1: 122-7.
8. Makishima T, Hauptman G. Cholesteatoma. University of Texas Medical Branch
Department of Otolaryngology. January 25, 2006 (cited April 20, 2019). Available at
https://www.utmb.edu/otoref/grnds/Cholest-060125/Cholest-slides-060125.pdf
9. Heilbrun Marta E. External Auditory Canal Cholesteatoma: Clinical and Imaging
Spectrum. American Journal of Neuroradiology. April, 2003 cited April 20, 2019)
Available at http://www.ajnr.org/content/24/4/751
10. Balasubramanian . Desease of external ear. Chennai : Tamilnandu Medical
University.
11. Sanjeev Bhagat, Saurabh Varshney1 Primary external auditory canal cholesteatoma
presenting as cerebellar Abscess . May 6, 2019 cited Mei 7, 2019) Available at
http://www.indianjotol.org

22