Anda di halaman 1dari 7

November 28, 2015

TUGAS AMDAL RUMAH SAKIT

NAMA : RYAN LUTFI APRILLINO

NPM : 29414882

KELAS : 2IC12

Dampak Limbah Rumah Sakit

I. Pendahuluan

Program pembangunan pada periode Pembangunan Jangka Panjang kedua adalah


pembangunan berwawasan lingkungan, sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya
secara bijaksana dalam pembangunan yang berkesinambungan untuk meningkatkan mutu hidup.
Dalam setiap pembangunan akan ada berbagai usaha atau kegiatan yang pada dasarnya akan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, oleh karena itu perlu dijaga keserasian antar
usaha/kegiatan tersebut dengan menganalisa dari sejak awal perencanaannya. Dengan demikian
langkah pengendalian dampak negatif dapat dipersiapkan sedini mungkin.

Rumah sakit sebagai salah satu hasil pembangunan dan upaya penunjang pembangunan
dalam bidang kesehatan merupakan sarana pelayanan umum, tempat berkumpulnya orang sakit
maupun orang sehat yang memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan
dan dapat menjadi tempat penularan penyakit. Untuk itu telah dilakukan berbagai upaya
penanggulangan dampak lingkungan Rumah Sakit yang dimulai dari analisa dampak lingkungan
(AMDAL). Kenyataan, upaya tersebut tidak dapat dilaksanakan karena berbagai kendala khususnya
biaya.

Adanya Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 Tentang Analisis Dampak Lingkungan,
merupakan suatu terobosan baru yang memungkinkan setiap Rumah Sakit yang terkena wajib
AMDAL (Rumah Sakit dengan kapasitas lebih dari 400 tempat tidur) dapat melaksanakan dengan
baik. Sedangkan bagi yang tidak wajib AMDAL dapat melaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi
Rumah Sakit tetapi masih memenuhi persyaratan sanitasilingkungan yang baik.

II. Dampak Lingkungan Rumah Sakit


a.Pengertian

Dampak lingkungan Rumah Sakit mempunyai arti yang luas baik dari segi dampak/akibat
maupun penyebabnya, tetapi dalam mekalah ini yang akan dibicarakan adalah dampak akibat limbah
Rumah Sakit, masalah serta upaya penanggulangannya.

Pada setiap tempat di mana orang berkumpul akan selalu dihasilkan limbah dan memerlukan
pembuangan, demikian pula Rumah Sakit yang merupakan sarana pelayanan kesehatan, tempat
berkumpulnya orang sakit maupun sehat menghasilkan limbah. Secara garis besar ada 3 (tiga)
macam limbah Rumah Sakit yaitu limbah padat (sampah), limbah cair dan limbah klinis

-Sampah- Sampah.

Rumah Sakit dapat dianggap sebagai mata rantai penyebaran penyakit menular karena
sampah menjadi tempat tertimbunnya mikro organisme penyakit dan sarang serangga serta tikus. Di
samping itu kadang-kadang dapat mengandung bahan kimia beracun dan benda benda tajam yang
dapat menimbulkan penyakit atau cidera.

- Limbah Cair

Limbah cair Rumah Sakit adalah semua limbah cair yang berasal dari ruangan-ruangan atau
unit di Rumah Sakit yang kemungkinan mengandung mikro organisme, bahan kimia beracun dan
radio aktif.

- Limbah klinis

Limbah klinis adalah limbah yang berasal dari pelayanan medis, perawatan gizi, "Veteranary",
Farmasi atau sejenis serta limbah yang dihasilkan di Rumah Sakit pada saat dilakukan
perawatan/pengobatan atau penelitian. Bentuk limbah klinis antara lain berupa benda tajam, limbah
infeksius, jaringan tubuh, limbah cito toksik. limbah Farmasi, limbah kimia, limbah radio aktif dan
limbahplastik.

b. Dampak

Ketiga limbah di atas secara langsung maupun tidak langsung menimbulkan gangguan
kesehatan dan membahayakan bagi pengunjung maupun petugas kesehatan. Ancaman ini timbul
pada saat penanganan, penampungan, pengangkutan dan pemusnahannya. Keadaan ini terjadi
karena :

- Volume limbah yang dihasilkan melebihi kemampuan pembuangannya.

- Beberapa di antara limbah berpotensi menimbulkan bahaya apabila tidak ditangani dengan baik.

- Limbah ini juga akan menimbulkan pencemaran lingkungan bila dibuang

sembarangan dan akhirnya membahayakan serta mengganggu kesehatan

masyarakat.

c. Masalah
Pada dasarnya semua bahaya limbah Rumah Sakit tersebut dapat ditanggulangi, namun
berbagai faktor seperti kebiasaan buruk, ketidak-tahuan, kebutuhan hidup (pemulung), biaya dan
lain-lain masih menjadi masalah utama dalam penanggulangan limbah ini.

Potensi Pencemaran Limbah Rumah Sakit

Dalam profil kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan, 1997 diungkapkan seluruh RS di


Indonesia berjumlah 1090 dengan 121.996 tempat tidur. Hasil kajian terhadap 100 RS di Jawa dan
Bali menunjukkan bahwa rata-rata produksi sampah sebesar 3,2 Kg per tempat tidur per hari.
Sedangkan produksi limbah cair sebesar 416,8 liter per tempat tidur per hari. Analisis lebih jauh
menunjukkan, produksi sampah (limbah padat) berupa limbah domestik sebesar 76,8 persen dan
berupa limbah infektius sebesar 23,2 persen. Diperkirakan secara nasional produksi sampah (limbah
padat) RS sebesar 376.089 ton per hari dan produksi air limbah sebesar 48.985,70 ton per hari. Dari
gambaran tersebut dapat dibayangkan betapa besar potensi RS untuk mencemari lingkungan dan
kemungkinannya menimbulkan kecelakaan serta penularan penyakit (Sebayang dkk, 1996). Rumah
sakit menghasilkan limbah dalam jumlah besar, beberapa diantaranya membahyakan kesehatan di
lingkungannya. Di negara maju, jumlah limbah diperkirakan 0,5 – 0,6 kilogram per tempat tidur
rumah sakit per hari (Sebayang dkk, 1996).

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Timur telah melayangkan teguran kepada 23 rumah
sakit (RS) yang tidak mengindahkan surat peringatan mengenai keharusan memiliki instalasi
pengolahan air limbah (IPAL). Berdasarkan data dari Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah
(BPLHD) Jaktim yang diterima Pembaruan, dari 26 rumah sakit yang ada di Jaktim, hanya tiga rumah
sakit saja yang memiliki IPAL dan bekerja dengan baik. Selebihnya, ada yang belum memiliki IPAL dan
beberapa rumah sakit.

IPAL-nya dalam kondisi rusak berat (Sebayang dkk, 1996).Data tersebut juga menyebutkan,
hanya sembilan rumah sakit saja yang memiliki incinerator. Alat tersebut, digunakan untuk
membakar limbah padat berupa limbah sisa-sisa organ tubuh manusia yang tidak boleh dibuang
begitu saja. Menurut Kepala BPLHD Jaktim, Surya Darma, pihaknya sudah menyampaikan surat
edaran yang mengharuskan pihak rumah sakit melaporkan pengelolaan limbahnya setiap tiga bulan
sekali. Sayangnya, sejak dilayangkannya surat edaran akhir September 2005 lalu, hanya tiga rumah
sakit saja yang memberikan laporan. Menurut Surya, limbah rumah sakit, khususnya limbah medis
yang infeksius, belum dikelola dengan baik. Sebagian besar pengelolaan limbah infeksius disamakan
dengan limbah medis noninfeksius. Selain itu, kerap bercampur limbah medis dan nonmedis.
Percampuran tersebut justru memperbesar permasalahan limbah medis. Padahal, limbah medis
memerlukan pengelolaan khusus yang berbeda dengan limbah nonmedis. Yang termasuk limbah
medis adalah limbah infeksius, limbah radiologi, limbah sitotoksis, dan limbah laboratorium.
Pasalnya, tangki pembuangan seperti itu di Indonesia sebagian besar tidak memenuhi syarat sebagai
tempat pembuangan limbah. Ironisnya, malah sebagian besar limbah rumah sakit dibuang ke tangki
pembuangan seperti itu (Sebayang dkk, 1996).Sementara itu, Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan
Sudin Kesmas Jaktim menduga, buruknya pengelolaan limbah rumah sakit karena pengelolaan
limbah belum menjadi syarat akreditasi rumah sakit. Sedangkan peraturan proses pembungkusan
limbah padat yang diterbitkan Departemen Kesehatan pada 1992 pun sebagian besar tidak
dijalankan dengan benar. Padahal setiap rumah sakit, selain harus memiliki IPAL, juga harus memiliki
surat pernyataan pengelolaan lingkungan (SPPL) dan surat izin pengolahan limbah cair. Sementara
limbah organ-organ manusia harus di bakar di incinerator. Persoalannya, harga incinerator itu cukup
mahal sehingga tidak semua rumah sakit bisa memilikinya (Sebayang dkk, 1996).

Beberapa hal yang patut jadi pemikiran bagi pengelola rumah sakit, dan jadi penyebab
tingginya tingkat penurunan kualitas lingkungan dari kegiatan rumah sakit antara lain disebabkan,
kurangnya kepedulian manajemen terhadap pengelolaan lingkungan karena tidak memahami
masalah teknis yang dapat diperoleh dari kegiatan pencegahan pencemaran, kurangnya komitmen
pendanaan bagi upaya pengendalian pencemaran karena menganggap bahwa pengelolaan rumah
sakit untuk menghasilkan uang bukan membuang uang mengurusi pencemaran, kurang memahami
apa yang disebut produk usaha dan masih banyak lagi kekurangan lainnya (Sebayang dkk, 1996).
Untuk itu, upaya-upaya yang harus dilakukan rumah sakit adalah, mulai dan membiasakan untuk
mengidentifikasi dan memilah jenis limbah berdasarkan teknik pengelolaan (Limbah B3, infeksius,
dapat digunapakai atau guna ulang). Meningkatkan pengelolaan dan pengawasan serta
pengendalian terhadap pembelian dan penggunaan, pembuangan bahan kimia baik B3 maupun non
B3. Memantau aliran obat mencakup pembelian dan persediaan serta meningkatkan pengetahuan
karyawan terhadap pengelolaan lingkungan melalui pelatihan dengan materi pengolahan bahan,
pencegahan pencemaran, pemeliharaan peralatan serta tindak gawat darurat (Sebayang dkk, 1996).

Limbah rumah Sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan
kegiatan penunjang lainnya. Mengingat dampak yang mungkin timbul, maka diperlukan upaya
pengelolaan yang baik meliputi pengelolaan sumber daya manusia, alat dan sarana, keuangan dan
tatalaksana pengorganisasian yang ditetapkan dengan tujuan memperoleh kondisi rumah sakit yang
memenuhi persyaratan kesehatan lingkungan (Said, 1999). Limbah rumah Sakit bisa mengandung
bermacam-macam mikroorganisme bergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang
dilakukan sebelum dibuang. Limbah cair rumah sakit dapat mengandung bahan organik dan
anorganik yang umumnya diukur dan parameter BOD, COD, TSS, dan lain-lain. Sedangkan limbah
padat rumah sakit terdiri atas sampah mudah membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-lain.
Limbah- limbah tersebut kemungkinan besar mengandung mikroorganisme patogen atau bahan
kimia beracun berbahaya yang menyebabkan penyakit infeksi dan dapat tersebar ke lingkungan
rumah sakit yang disebabkan oleh teknik pelayanan kesehatan yang kurang memadal, kesalahan
penanganan bahan-bahan terkontaminasi dan peralatan, serta penyediaan dan pemeliharaan sarana
sanitasi yang masib buruk.

Pembuangan limbah yang berjumlah cukup besar ini paling baik jika dilakukan dengan
memilah-milah limbah ke dalam pelbagai kategori. Untuk masing-masing jenis kategori diterapkan
cara pembuangan limbah yang berbeda. Prinsip umum pembuangan limbah rumah sakit adalah
sejauh mungkin menghindari resiko kontaminsai dan trauma (injury). jenis-jenis limbah rumah sakit
meliputi bagian berikut ini (Shahib dan Djustiana, 1998) :

a.Limbah Klinik

Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin, pembedahan dan di unit-unit resiko tinggi.
Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi kuman dan populasi umum
dan staff rumah sakit. Oleh karena itu perlu diberi label yang jelas sebagai resiko tinggi. contoh
limbah jenis tersebut ialah perban atau pembungkus yang kotor, cairan badan, anggota badan yang
diamputasi, jarum-jarum dan semprit bekas, kantung urin dan produk darah.
b. Limbah Patologi

Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diotoklaf sebelum keluar dari unit patologi.
Limbah tersebut harus diberi label biohazard.

c. Limbah Bukan Klinik

Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik yang tidak berkontak
dengan cairan badan. Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit, limbah tersebut cukup merepotkan
karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut dan mambuangnya.

d. Limbah Dapur

Limbah ini mencakup sisa-sisa makanan dan air kotor. Berbagai serangga seperti kecoa, kutu dan
hewan mengerat seperti tikus merupakan gangguan bagi staff maupun pasien di rumah sakit.

e. Limbah Radioaktif

Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di rumah sakit,
pembuangannya secara aman perlu diatur dengan baik.

Secara garis besar masalah yang dihadapi di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Di Lingkungan Rumah Sakit

- Sebagian besar bangunan Rumah Sakit di Indonesia pada saat ini tidak dilengkapi dengan
sarana pembuangan limbah yang memadai seperti

- "Spoel Hok", sehingga pencemaran lingkungan lebih mudah terjadi.

- Belum semua Rumah Sakit dilengkapi dengan sarana pembuangan sampah yang memenuhi
syarat karenabatasan lahan dan kendala biaya.

- Sikap dan perilaku petugas termasuk para manajer Rumah Sakit yang belum mendukung
dalam setiap upaya penanggulangan limba

- Adat dan kebiasaan buruk dari masyarakat kita yang disebabkan ketidaktahuan dan tingkat
pendidikan yang kurang.

- Belum tersedianya dana kahusus baik untuk penelaahan maupun penyediaan sarana
pembuangan limbah Rumah Sakit yang tercantum dalam APBN, APBD ataupun sumber dana lainnya.

- Biaya pembuatan sarana pembuangan dirasakan masin terlampau mahal, sehingga perlu
dibuat suatu sarana yang lebih sederhana, lebih mudah namun memenuhi syarat.

2. Di Luar Lingkungan Rumah Sakit

- Kebutuhan hidup dari para pemulung yang sulit dihindarkan


- Seyogyanya suatu kota perlu memiliki saluran air limbah, namun saat ini belum tersedia
sehingga sangat disarankan untuk diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke saluran air perkotaan

III. Upaya-upaya penanggulangan limbah

Upaya-upaya penanggulangan dampak limbah Rumah Sakit di Indonesia merupakan bagian


dari upaya peningkatan lingkungan Rumah Sakit, seperti yang tercantum pada Pasal 6 Peraturan
Menteri Kesehatan No.986/ 1992, yang meliputi penyehatan bangunan, makanan dan minuman,
kualitas air, tempat, pencucian linen, pengendalian sampah dan limbah, tikus dan serangga,
sterilisasi, perlindungan radiasi serta penyuluhan kesehatan lingkungan.

Kebijakan dan Langkah-langkah yang akan dilaksanakan oleh Provinsi

Di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Kewenangan penanganan limbah berada pada daerah atau Rumah Sakit yang bersangkutan,
dengan pembinaan teknis dari Kantor Departemen Kesehatan DT II dan Kantor wilayah Kesehatan di
DT I.

2. Sesuai dengan edaran Dirjen Pelayanan Medis Nomor PM 01.05.6.1.01353 tentang Limbah
Rumah Sakit, maka :

a. Setiap Rumah Sakit harus mempunyai IPAL.

b. Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang telah ada agar dilola dengan baik.

c. Efluen IPAL dipantau secara berkala. Minimal 1 (satu) bulan sekali diperiksa di laboratorium
yang telah ditunjuk dan yang belum memenuhi syarat harus segera diperbaiki.

d. IPAL harus direncalakan dengan baik dan disertai studi kelayakan.

e. Tenaga pengelola IPAL didayagunakan seoptimal mungkin. Kualitas tenaga tergantung dari
kelas Rumah Sakit. Kelas A & B serendah-rendahnya S1 di bidang kesehatan lingkungan : teknik
penyehatan, kimia, teknik sipil. Kelas C serendah-rendahnya D3 di bidang kesehatan : lingkungan,
teknik penyehatan, biologi, teknik kimia, teknik lingkungan dan teknik sipil. Kelas D Paramedik di
bidang kesehata n lingkungan, teknik penyehatan, kimia, teknik sipil.

f. Bagi Rumah Sakit yang belum mempunyai tenaga-tenaga tersebut agar dipersiapkan antara
lain mengikuti pelatihan.

3. Teknis Pengelolaan

Secara teknik, cukup banyak cara yang dapat dipergunakan untuk mengelola limbah padat dan cari,
namun pada dasarnya merupakan rangkaian unit pengelola limbah. Teknis pengelolaan limbah
tersebut mengacu kepada pedoman Mente ri Kesehatan tentang Peng elolaan Limbah Klinis, antara
lain : tentang Standardisasi kantong dan kontainer pembuangan limbah. Keseragaman standar
kantong dan kon tainer mempunyai keuntungan sebagai berikut : mengurangi biaya dan waktu
pelatihan staf, meningkatkan keamanan se c ara umum, pengurangan biaya produksi kantong dan
kontainer. Secara nasional kode standar diusulkan untuk sampah yang paling berbah aya , antaralain
:

- Sampah infeksius: kantong berwarna kuning dengan simbol biohazard berwarna hitam

- Sampah sitotoksik kantong berwarna ungu dengan simbol berbentuk sel dalam telofase

- Sampah radio aktif kantong berwarna merah dengan simbol radio aktif.

Cara pengelolaan limbah

a. Untuk limbah padat dipergunakan suatu insenerator yang sederhana, tidak memakan lahan,
dengan biaya tidak terlalu mahal dan sesuai dengan kondisi serta situasi Rumah Sakit. Salah satu
contoh/model incenerator seperti model pada halaman berikut

b. Salah satu proses pengolahan limbah cair adalah dengan cara sedimentasi : air limbah yang ke
luar dari Rumah Sakit ditampung pada bak "intermediate" equilisasi yang kemudian diaduk cepat,
sehingga terbentuk partikel-partikel, lalu diaduk lambat/fluktuasi, kemudian terjadi proses
sedimentasi filtrasi, netralisasi dan efluen yang ke luar dapat digunakan untuk proses biologi atau
dibuang tanpa ada efek pencemaran.Sebagai contoh antara lain Waste Oxidation Ditch Treatment
System

(Kolom oksidasi air limbah).

IV. Kesimpulan dan Saran

Pengelolaan limbah Rumah Sakit di Indonesia masih mengalami kendala/masalah, oleh karena
itu perlu upaya-upaya penanggulangan yang lebih terkoordinasikan, terstruktur dan terencana
dengan metoda yang sederhana namun efisien.