Anda di halaman 1dari 35

Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

Apa yang dimaksud dengan AMDAL?

AMDAL merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

AMDAL merupakan kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, dibuat pada
tahap perencanaan, dan digunakan untuk pengambilan keputusan.

Hal-hal yang dikaji dalam proses AMDAL: aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-
budaya, dan kesehatan masyarakat sebagai pelengkap studi kelayakan suatu rencana usaha
dan/atau kegiatan.

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting untuk pengambilan keputusan suatu
usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan (Peraturan Pemerintah
No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan).

"...kajian dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup; dibuat pada tahap
perencanaan..."

Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan,
pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan. Peraturan pemerintah tentang AMDAL
secara jelas menegaskan bahwa AMDAL adalah salah satu syarat perijinan, dimana para
pengambil keputusan wajib mempertimbangkan hasil studi AMDAL sebelum memberikan ijin
usaha/kegiatan. AMDAL digunakan untuk mengambil keputusan tentang
penyelenggaraan/pemberian ijin usaha dan/atau kegiatan.

Dokumen AMDAL terdiri dari :

Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)


Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

Tiga dokumen (ANDAL, RKL dan RPL) diajukan bersama-sama untuk dinilai oleh Komisi
Penilai AMDAL. Hasil penilaian inilah yang menentukan apakah rencana usaha dan/atau
kegiatan tersebut layak secara lingkungan atau tidak dan apakah perlu direkomendasikan untuk
diberi ijin atau tidak.
Apa guna AMDAL?

Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah


Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana
usaha dan/atau kegiatan
Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan
Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan
atau kegiatan

"...memberikan alternatif solusi minimalisasi dampak negatif"

"...digunakan untuk mengambil keputusan tentang penyelenggaraan/pemberi ijin usaha dan/atau


kegiatan"

Bagaimana prosedur AMDAL?

Prosedur AMDAL terdiri dari :

Proses penapisan (screening) wajib AMDAL


Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat
Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL (scoping)
Penyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL Proses penapisan atau kerap juga disebut
proses seleksi kegiatan wajib AMDAL, yaitu menentukan apakah suatu rencana kegiatan wajib
menyusun AMDAL atau tidak.

Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat. Berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL


Nomor 08/2000, pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang
ditentukan dalam peraturan tersebut, menanggapi masukan yang diberikan, dan kemudian
melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum menyusun KA-ANDAL.

Proses penyusunan KA-ANDAL. Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan


lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan).

Proses penilaian KA-ANDAL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen KA-
ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu
maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh
penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.

Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan
dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL).

Proses penilaian ANDAL, RKL, dan RPL. Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan
dokumen ANDAL, RKL dan RPL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan
peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar
waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali
dokumennya.

Siapa yang harus menyusun AMDAL?

Dokumen AMDAL harus disusun oleh pemrakarsa suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk
menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat
Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya. Ketentuan standar minimal cakupan materi
penyusunan AMDAL diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal Nomor 09/2000.

Siapa saja pihak yang terlibat dalam proses AMDAL?

Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi Penilai AMDAL, pemrakarsa,
dan masyarakat yang berkepentingan.

Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL. Di tingkat
pusat berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup, di tingkat Propinsi berkedudukan di
Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Propinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota
berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Kabupaten/Kota. Unsur
pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga masyarakat yang terkena dampak
diusahakan terwakili di dalam Komisi Penilai ini. Tata kerja dan komposisi keanggotaan Komisi
Penilai AMDAL ini diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sementara
anggota-anggota Komisi Penilai AMDAL di propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh
Gubernur dan Bupati/Walikota.

Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha
dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk
keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut:
kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi,
faktor pengaruh sosial budaya, perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-
nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat
dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.

Apa yang dimaksud dengan UKL dan UPL ?

Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL)
adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh
penanggung jawab dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan AMDAL (Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup).

Kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan upaya pengelolaan
lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan.

Kewajiban UKL-UPL diberlakukan bagi kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun AMDAL
dan dampak kegiatan mudah dikelola dengan teknologi yang tersedia.

UKL-UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan


dan dasar untuk menerbitkan ijin melakukan usaha dan atau kegiatan.

Proses dan prosedur UKL-UPL tidak dilakukan seperti AMDAL tetapi dengan menggunakan
formulir isian yang berisi :

Identitas pemrakarsa
Rencana Usaha dan/atau kegiatan
Dampak Lingkungan yang akan terjadi
Program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
Tanda tangan dan cap
Formulir Isian diajukan pemrakarsa kegiatan kepada :

Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota untuk


kegiatan yang berlokasi pada satu wilayah kabupaten/kota
Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi untuk
kegiatan yang berlokasi lebih dari satu Kabupaten/Kota
Instansi yang bertanggungjawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian
dampak lingkungan untuk kegiatan yang berlokasi lebih dari satu propinsi atau lintas batas
negara

Apa kaitan AMDAL dengan dokumen/kajian lingkungan lainnya ?

AMDAL-UKL/UPL

Rencana kegiatan yang sudah ditetapkan wajib menyusun AMDAL tidak lagi diwajibkan
menyusun UKL-UPL (lihat penapisan Keputusan Menteri LH 17/2001). UKL-UPL dikenakan
bagi kegiatan yang telah diketahui teknologi dalam pengelolaan limbahnya.

AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Wajib

Bagi kegiatan yang telah berjalan dan belum memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup
(RKL-RPL) sehingga dalam operasionalnya menyalahi peraturan perundangan di bidang
lingkungan hidup, maka kegiatan tersebut tidak bisa dikenakan kewajiban AMDAL, untuk kasus
seperti ini kegiatan tersebut dikenakan Audit Lingkungan Hidup Wajib sesuai Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup Nomor 30 tahun 2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Audit
Lingkungan yang Diwajibkan.

Audit Lingkungan Wajib merupakan dokumen lingkungan yang sifatnya spesifik, dimana
kewajiban yang satu secara otomatis menghapuskan kewajiban lainnya kecuali terdapat kondisi-
kondisi khusus yang aturan dan kebijakannya ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan
Hidup.

Kegiatan dan/atau usaha yang sudah berjalan yang kemudian diwajibkan menyusun Audit
Lingkungan tidak membutuhkan AMDAL baru.

AMDAL dan Audit Lingkungan Hidup Sukarela

Kegiatan yang telah memiliki AMDAL dan dalam operasionalnya menghendaki untuk
meningkatkan ketaatan dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat melakukan audit lingkungan
secara sukarela yang merupakan alat pengelolaan dan pemantauan yang bersifat internal.
Pelaksanaan Audit Lingkungan tersebut dapat mengacu pada Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 42 tahun 1994 tentang Panduan umum pelaksanaan Audit
Lingkungan.

Penerapan perangkat pengelolaan lingkungan sukarela bagi kegiatan-kegiatan yang wajib


AMDAL tidak secara otomatis membebaskan pemrakarsa dari kewajiban penyusunan dokumen
AMDAL. Walau demikian dokumen-dokumen sukarela ini sangat didorong untuk disusun oleh
pemrakarsa karena sifatnya akan sangat membantu efektifitas pelaksanaan pengelolaan
lingkungan sekaligus dapat "memperbaiki" ketidaksempurnaan yang ada dalam dokumen
AMDAL.

Dokumen lingkungan yang bersifat sukarela ini sangat bermacam-macam dan sangat berguna
bagi pemrakarsa, termasuk dalam melancarkan hubungan perdagangan dengan luar negeri.
Dokumen-dokumen tersebut antara lain adalah Audit Lingkungan Sukarela, dokumen-dokumen
yang diatur dalam ISO 14000, dokumen-dokumen yang dipromosikan penyusunannya oleh
asosiasi-asosiasi industri/bisnis, dan lainnya.

Sumber :
http://www.menlh.go.id/index.php?idx=amdalnet

Sumber Gambar:
http://www.republika.co.id/images/news/2009/01/20090106175329.jpg
Diposkan oleh empat tiga blog di 01:19 0 komentar

Dokumen Amdal Palsu Marak di Tangerang Selatan

Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Banten menemukan sejumlah dokumen palsu
analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang dibuat beberapa biro konsultan.

Tim Komisi Amdal Kota Tangsel Achmad Suherman menyatakan, sejumlah arsip unit
pengelolaan lingkungan (UPL) dan unit kelola lingkungan (UKL) maupun amdal milik
pemrakarsa melalui biro konsultan dibuat tidak jujur. "Dokumen UPL, UKL dan amdal itu
merupakan hasil dari `copy paste` atau plagiat yang dibuat para biro konsultan yang diserahkan
kepada kita," kata Achmad di Tangerang, Sabtu.
Achmad menyatakan, dalam pemeriksaan dokumen UPL dan UKL serta amdal yang diajukan
sejumlah biro konsultan, Tim Komisi Amdal menemukan dokumen yang diajukan pemrakarsa
melalui biro konsultan itu dengan sengaja merubah dokumen asli dengan tulisan baru.

Kecurigaan ini setelah Tim Komisi Amdal Tangsel menelisik izin amdal pembangunan sebuah
sekolah di Bintaro, Kota Tangsel, dimana dalam dokumen itu tertera Pemerintah Jakarta Barat,
bukan Pemkot Tangsel.

Temuan itu tidak hanya sekali, kata dia, Tim Komisi Amdal Tangsel juga menemukan lebih dari
20 dokumen hasil copy paste yang diajukan konsultan. "Dokumen palsu yang dibuat konsultan
sebagai salah satu cara agar penerbitan izin amdal bisa dikeluarkan pemerintah daerah setempat,"
ujar dia yang juga sebagai Kepala Bidang Pengkajian Lingkungan Badan Lingkungan Hidup
Daerah (BLHD) Kota Tangsel ini.

Terkait persoalan tersebut, Tim Komisi Amdal Tangsel akan melakukan pembenahan dan
menindak tegas pemrakarsa ataupun konsultan yang membuat dokumen amdal palsu. Tim
Komisi Amdal Tangsel juga akan mengajukan dokumen amdal palsu itu kepada Kepala BLHD
Tangsel agar menolak menandatangani rekomendasi dokumen plagiat tersebut.

Karena, lanjut Achmad, berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 11 Tahun
2006, menjelaskan setiap jenis usaha wajib dilengkapi dokumen amdal dan melaporkan kepada
BLHD Kota Tangsel setiap semester. "Tetapi dokumen amdal palsu tersebut memberikan
dampak yang tidak baik dalam tata tertib administrasi tersebut," kata Acmad.

Dia menyatakan, pihaknya akan terus meneliti dokumen setiap bab atau lembar yang diajukan
konsultan dan tidak akan membiarkan dokumen plagiat marak di Tangsel. (Ant)

Sumber :
http://www.tvone.co.id/berita/view/24036/2009/09/26/dokumen_amdal_palsu_marak_di_tangera
ng_selatan/
26 September 2009
Diposkan oleh empat tiga blog di 01:18 0 komentar

Dokumen Amdal di Kalbar Banyak "Copy Paste"

Dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) yang diajukan pihak perusahaan
maupun pihak konsultan amdal ke Komisi Amdal Provinsi Kalimantan Barat, kualitasnya dinilai
masih rendah. Acapkali ditemukan dokumen amdal yang hanya menjiplak dokumen serupa yang
diajukan di tempat lain.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedalda)


Kalimantan Barat Odang Prasetyo yang juga menjabat anggota Komisi Amdal Kalbar , Rabu
(19/11), mengistilahkan praktek penjiplakan dokumen amdal di daerah lain itu sebagai copy
paste atau kontrol gunting.

Penjiplakan tersebut, menurutnya, salah satunya dipengaruhi keterbatasan anggaran dan waktu
yang dialokasikan bagi konsultan untuk membuat dokumen amdal.

"Bisa dibayangkan jika untuk membuat amdal areal konsesi sekian ribu hektar, konsultan diberi
waktu yang singkat dan anggaran yang sedikit. Praktek (penjiplakan) semacam itu sering kali
diambil sebagai jalan pintas," katanya.

Ia mencontohkan, dokumen amdal perluasan landasan pacu salah satu bandara di kabupaten di
Kalbar yang diajukan konsultan yang disewa pemerintah daerah setempat. Dalam dokumen
amdal itu disebutkan adanya mangrove di sekitar kawasan bandara. Padahal realita di lapangan,
di sekitar bandara itu sama sekali tidak ada mangrove.

Sumber :
http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/19/22034214/dokumen.amdal.di.kalbar.banyak.copy.
paste
19 November 2008
Diposkan oleh empat tiga blog di 01:16 0 komentar

Amdal Dan 10.000 Studi Yang Menjadi sampah

Bermula dari Amerika Serikat, tahun 1969. The National Enviromental Policy Act of 1969
(NEPA 1969) diperkenalkan sebagai sebuah instrumen untuk mengendalikan dampak segala
macam kegiatan yang bisa merusak kelestarian lingkungan. Bentuknya peraturan. Dalam
perkembangan selanjutnya, peraturan ini diadopsi oleh banyak negara.

Tahun 1982, Indonesia mengeluarkan undang-undang (UU) lingkungan hidup. Dari sinilah
masyarakat Indonesia mengenal istilah analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). UU ini
diatur lebih lanjut dalam peraturan pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 1986, yang kemudian
diganti PP Nomor 51 Tahun 1993, dan terakhir diganti lagi dalam PP Nomor 27 Tahun 1999..

Pemerintah membentuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedal) melalui


Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 untuk melengkapi pelaksanaan peraturan tersebut.
Ada tingkat pusat dan daerah, meskipun keduanya tidak memiliki hubungan hierarki struktural.
Bapedal pusat kini berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup.

Badan-badan itu menjadi benteng pembela kepentingan ekologi atau lingkungan. Meskipun Pada
praktiknya, kepentingan yang hakikatnya adalah kepentingan bersama dan bersifat jangka
panjang itu sering terkalahkan oleh kepentingan praktis materialis yang disebut kepentingan
ekonomi. Studi amdal menjadi formalitas saja. Seperti disebutkan dalam website Sinar Harapan,
sebanyak sepuluh ribu hasil studi amdal di Indonesia teronggok menjadi kertas dokumen tak
terlaksanakan.

Di provinsi Jawa Barat Misalnya, sebuah propinsi yang derap pembangunannya deras terasa,
pelaksanaan amdal menuai banyak kritik dari para pemerhati lingkungan, salah satunya Walhi
Jabar, yang baru-baru ini mengecam keras pembangunan PLTSa. Dugaan manipulasi amdal
maupun praktek kolusi pun menyeruak tatkala banyak proyek pembangunan dijalankan sebelum
izin amdalnya lolos.
Bermacam proyek seperti mal, rumah sakit, jalan raya, taman nasional, asrama mahasiswa.

Terkait dengan pembangunan dan otonomi daerah, keberpihakan pada lingkungan tetap
dinomorduakan. Seperti yang di ungkapkan salah satu staf kementrian Lingkungan Hidup terkait
dengan revitalisasi amdal. Pernyataan tersebut yang tersirat tujuannnya hanya untuk memuluskan
laju investasi, bukannya semakin memperketat kemungkinan pelanggaran linkungan.. Alhasil,
degradasi lingkungan pun semakin meluas.
pembangunan proyek terus dijalankan meski persoalan dampak lingkungannya belum
terpikirkan. Lantas kemanakah keberpihakan pemerintah, baik pusat maupun daerah, sebagai
pengambil keputusan? Semua pihak tak seharusnya menutup mata karena sebenarnya masalah
ekologi adalah untuk kepentingan masa depan umat manusia sendiri. Namun inilah dunia amdal.
Sebuah penghilangan hak atas lingkungan hidup, bermula dari suatu dokumen bernama amdal.

Proses pengerjaan dokumen amdal yang penuh manipulasi menuai banyak kritik dari para
pemerhati lingkungan. Pun kurangnya sosialisasi membuat masyarakat yang seharusnya menjadi
pemantau pelaksanaan tidak tahu menahu tentang dokumen tersebut.
?Di Indonesia hampir 84 persen dokumen amdal belum memenuhi syarat, 16 persen berkriteria
baik, tapi belum memenuhi syarat ideal,? tukas Harry Supriyono, salah satu pakar amdal dari
Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM mengenai kualitas dokumen amdal. ?Banyak yang
masih sebatas amdal-amdalan, banyak amdal fotokopi dan amdal fiktif,? ungkapnya.

ebih lanjut ia mengemukakan, saat ini masih banyak terjadi peniruan dokumen amdal. Hanya
dengan mengubah tempat, tanggal dan angka, maka pemrakarsa dapat memperoleh dokumen
amdal dengan mudahnya.

Tidak adanya kriteria dan indikator penilaian, menjadikan proses penilaian dokemen ini menjadi
subyektif. Padahal kajian amdal bersifat obyektif, bukan subyektif karena tunduk pada
metodologi.

Penyusunan dokumen amdal memang harus dilakukan secara sistematis, ilmiah, dan berurutan.
Sejak tahun 1970 sampai saat ini sudah banyak metode digunakan dalam penyusunan dokumen
ini. Metode yang banyak digunakan adalah metode Leopold, Moore dan Sorenson.

Amdal saat ini hanya sebatas alat burgen bagi kepentingan kelompok tertentu. Buktinya,
industri-industri besar yang banyak mencemari lingkungan tetap berdiri kokoh dan makin luas.
Pemerintah selalu beralasan, jika dengan inustri di suatu daerah dapat meningkatkan PAD dan
menyerap tenaga kerja daerah setempat. Namun, pemerintah tidak pernah berpikir jika
pembangunan yang di rencanakan bertahun-tahun dapat hilang dalam hitungan detik ketika
terkena bencana akibat degradasi lingkungan.
Semua pihak yang saat ini semanagt dalam memperjuangkan lingkungan, mesti fokus untuk
terlibat dalam pengawasan ke-objektifan amdal, bila perlu membentuk lembaga pengawas amdal.
Hal ini penting penting, krena dari seian kebijakan, Amdal - lah yang paling lemah untuk di
awasi oleh masyarakat. Selain pihak berwenang kurang transparan, dokumen amdal sendiri
sudah menjadi konnspirasi kelompok yang hanya berpikir tentang keuntungan.

Dalam PP no 27 tahun 1999 di sebutkan, bahwa amdal merupakan kajian bagi dampak besar atau
penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup, yang di perlukan
bagi proses pengambilan keputusan dalam suatu usaha atau kegiatan. namun kebijakan tersebut
ternnyata melemah setelah berbenturan dengan PP 20 no 27 tahun 1999 pasal 9. jika dalam
waktu 71 hari, pemerintah belum mengambil keputusan layak atau tidaknya amdal suatu usaha,
maka usaha tersebut dinilai layak lingkungan.

tentunya, hal itu memberikan pukulan berat bagi para pecinta lingkungan hidup. Pasalnya, dalam
aturan tersebut sangat terbuka ruang kolusi bagi pejabat di pemerintahan terkait dengan tidak
mengeluarkan keputusan selama 71 hari.
hal itu berbuntut pada sepuluh ribu dokumen hasil riset mengenai amdal di indonesia hanya
masuk ke keranjang sampah tanpa tindak lanjut.

Sumber :
April Perlindungan
http://www.berpolitik.com/static/myposting/2008/02/myposting_10603.html
22 Februari 2008
Diposkan oleh empat tiga blog di 00:55 0 komentar

Analisis Mengenai DAmpak Lingkungan (AMDAL) dan Faktor Recovery


Ekonomi

PENDAHULUAN

Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) pertama kali dicetuskan berdasarkan atas
ketentuan yang tercantum dalam pasal 16 Undang-undang No.4 tahun 1982 tentang Ketentuan-
ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berdasarkan amanat pasal 16 tersebut
diundangkan pada tanggal 5 Juni 1986 suatu Peraturan Pemerintah No.29 tahun 1986 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).Peraturan pemerintah (PP) No.29/ 1986
tersebut berlaku pada tanggal 5 Juni 1987 yaitu selang satu tahun setelah di tetapkan. Hal tersbut
diperlukan karena masih perlu waktu untuk menyusun kriteria dampak terhadap lingkungan
sosial mengingat definisi lingkungan yang menganut paham holistik yaitu tidak saja mengenai
lingkungan fissik/kimia saja namun meliputi pula lingkungan sosial.

Berdasarkan pengalaman penerapan PP No.29/1986 tersebut dalam deregulasi dan untuk


mencapai efisiensi maka PP No.29/1986 diganti dengan PP No.51/1993 yang di undangkan pada
tanggal 23 Oktober 1993. Perubahan tersebut mengandung suatu cara untuk mempersingkat
lamanya penyusunan AMDAL dengan mengintrodusir penetapan usaha dan/ atau kegiatan yang
wajib AMDAL dengan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan demikian tidak
diperlukan lagi pembuatan Penyajian Informasi Lingkungan (PIL). Perubahan tersebut
mengandung pula keharusan pembuatan ANDAL , RKL, dan RPL di buat sekaligus yang berarti
waktu pembuatan dokumen dapat diperpendek. Dalam perubahan tersebut di introdusir pula
pembuatan dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL) bagi kegiatan yang tidak wajib AMDAL. Upaya Pengelolaan Lingkungan
(UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL) ditetapkan oleh Menteri Sektoral yang
berdasarkan format yang di tentukan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Demikian pula
wewenang menyusun AMDAL disederhanakan dan dihapuskannya dewan kualifikasi dan ujian
negara.

Dengan ditetapkannya Undang-undang No.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan


Hidup (UUPLH), maka PP No.51/1993 perlu diganti dengan PP No.27/1999 yang di undangkan
pada tanggal 7 Mei 1999, yang efektif berlaku 18 bulan kemudian. Perubahan besar yang
terdapat dalam PP No.27 / 19999 adalah di hapuskannya semua Komisi AMDAL Pusat dan
diganti dengan satu Komisi Penilai Pusat yang ada di Bapedal. Didaerah yaitu provinsi
mempunyai Komisi Penilai Daerah. Apabila penilaian tersebut tidak layak lingkungan maka
instansi yang berwenang boleh menolak permohohan ijin yang di ajukan oleh pemrakarsa. Suatu
hal yang lebih di tekankan dalam PP No.27/1999 adalah keterbukaan informasi dan peran
masyarakat.

Implementasi AMDAL sangat perlu di sosialisasikan tidak hanya kepada masyarakat namu perlu
juga pada para calon investor agar dapat mengetahui perihal AMDAL di Indonesia. Karena
semua tahu bahwa proses pembangunan di gunakan untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat secara ekonomi, sosial dan budaya. Dengan implementasi AMDAL yang sesuai
dengan aturan yang ada maka di harapkan akan berdampak positip pada recovery ekonomi pada
suatu daerah.

ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)

Definisi AMDAL

AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/ atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan/ atau kegiatan.

Dasar hukum AMDAL

Sebagai dasar hukum AMDAL adalah PP No.27/ 1999 yang di dukung oleh paket keputusan
menteri lingkungan hidup tentang jenis usaha dan/ atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan
AMDAL dan keputusan kepala BAPEDAL tentang pedoman penentuan dampak besar dan
penting.

Tujuan dan sasaran AMDAL

Tujuan dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan
dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Dengan melalui studi
AMDAL diharapkan usah dan / atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola
sumber daya alam secara efisien, meminimumkan dampak negatip dan memaksimalkan dampak
positip terhadap lingkungan hidup.

Tanggung jawab pelaksanaan


Secara umum yang bertanggung jawab terhadap koordinasi proses pelaksanaan AMDAL adalah
BAPEDAL (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan).

Mulainya studi AMDAL

AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Sesuai
dengan PP No./ 1999 maka AMDAL merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan
ijin melakukan usaha dan / atau kegiatan . Oleh karenya AMDAL harus disusun segera setelah
jelas alternatif lokasi usaha dan /atau kegiatan nya serta alternatif teknologi yang akan di
gunakan.

AMDAL dan perijinan.

Agar supaya pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan
, pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme perijinan rencana usaha atau kegiatan.
Berdasarkan PP no.27/ 1999 suatu ijin untuk melakukan usaha dan/ atau kegiatan baru akan
diberikan bila hasil dari studi AMDAL menyatakan bahwa rencana usaha dan/ atau kegiatan
tersebut layak lingkungan. Ketentuan dalam RKL/ RPL menjadi bagian dari ketentuan ijin.

Pasal 22 PP/ 1999 mengatur bahwa instansi yan bertanggung jawab (Bapedal atau Gubernur)
memberikan keputusan tidak layak lingkungan apabila hasil penilaian Komisi menyimpulkan
tidak layak lingkungan. Keputusan tidak layak lingkungan harus diikuti oleh instansi yang
berwenang menerbitkan ijin usaha. Apabila pejabat yang berwenang menerbitkan ijin usaha tidak
mengikuti keputusan layak lingkungan, maka pejabat yang berwenang tersebut dapat menjadi
obyek gugatan tata usaha negara di PTUN. Sudah saatnya sistem hukum kita memberikan
ancaman sanksi tidak hanya kepada masyarakat umum , tetapi harus berlaku pula bagi pejabat
yang tidak melaksanakan perintah Undang-undang seperti sanksi disiplin ataupun sanksi pidana.

Prosedur penyusunan AMDAL

Secara garis besar proses AMDAL mencakup langkah-langkah sebagai berikut:


1.Mengidentifikasi dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan
2.Menguraikan rona lingkungan awal
3.Memprediksi dampak penting
4.Mengevaluasi dampak penting dan merumuskan arahan RKL/RPL.

Dokumen AMDAL terdiri dari 4 (empat) rangkaian dokumen yang dilaksanakan secara
berurutan , yaitu:
1.Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)
2.Dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3.Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4.Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Pendekatan Studi AMDAL


Dalam rangka untuk mencapai efisiensi dan efektivitas pelaksanaan AMDAL, penyusunan
AMDAL bagi rencana usaha dan/atau kegiatan dapat dilakukan melalui pendekatan studi
AMDAL sebagai berikut:
1.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Tunggal
2.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Terpadu
3.Pendekatan studi AMDAL Kegiatan Dalam Kawasan

Penyusunan AMDAL

Untuk menyusun studi AMDAL pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusun
AMDAL. Anggota penyusun ( minimal koordinator pelaksana) harus bersertifikat penyusun
AMDAL (AMDAL B). Sedangkan anggota penyusun lainnya adalah para ahli di bidangnya yang
sesuai dengan bidang kegiatan yang di studi.

Peran serta masyarakat

Semua kegiatan dan /atau usaha yang wajib AMDAL, maka pemrakarsa wajib mengumumkan
terlebih dulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun AMDAL. Yaitu pelaksanaan
Kep.Kepala BAPEDAL No.08 tahun 2000 tentang Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan
informasi dalam proses AMDAL. Dalam jangka waktu 30 hari sejak diumumkan , masyarakat
berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapan. Dalam proses pembuatan AMDAL peran
masyarakat tetap diperlukan . Dengan dipertimbangkannya dan dikajinya saran, pendapat dan
tanggapan masyarakat dalam studi AMDAL. Pada proses penilaian AMDAL dalam KOMISI
PENILAI AMDAL maka saran, pendapat dan tanggapan masyarakat akan menjadi dasar
pertimbangan penetapan kelayakan lingkungan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

PENILAIAN DOKUMEN AMDAL

Penilaian dokumen AMDAL dilakukan oleh Komisi Penilaian AMDAL Pusat yang
berkedudukan di BAPEDAL untuk menilai dokumen AMDAL dari usaha dan/atau kegiatan
yang bersifat strategis, lokasinya melebihi satu propinsi, berada di wilayah sengketa, berada di
ruang lautan, dan/ atau lokasinya dilintas batas negara RI dengan negara lain.

Penilaian dokumen AMDAL dilakukan untuk beberapa dokumen dan meliputi penilaian
terhadap kelengkapan administrasi dan isi dokumen. Dokumen yang di nilai adalah meliputi:
1.Penilaian dokumen Kerangka Acuan (KA)
2.Penilaian dokumen Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3.Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4.Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)

Penilaian Kerangka Acuan (KA), meliputi:


1.Kelengkapan administrasi
2.Isi dokumen, yang terdiri dari:
a.Pendahuluan
b.Ruang lingkup studi
c.Metode studi
d.Pelaksanaan studi
e.Daftar pustaka dan lampiran

Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), meliputi:


1.Kelengkapan administrasi
2.Isi dokumen, meliputi:
a.Pendahuluan
b.Ruang lingkup studi
c.Metode studi
d.Rencana usaha dan /atau kegiatan
e.Rona lingkungan awal
f.Prakiraan dampak penting
g.Evaluasi dampak penting

h.Daftar pustaka dan lampiran

Penilaian Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), meliputi:

1.Lingkup RKL
2.Pendekatan RKL
3.Kedalaman RKL
4.Rencana pelaksanaan RKL

5.Daftar pustaka dan lampiran

Penilaian Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), meliputi:

1.Lingkup RPL
2.Pendekatan RPL
3.Rencana pelaksanaan RPL
4.Daftar pustaka dan lampiran.

KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN


(AMDAL) KABUPATEN/ KOTA.

Komisi tersebut di bentuk oleh Bupati/ Walikota. Tugas komisi penilai adalah menilai KA,
ANDAL, RKL, dan RPL. Dalam melaksanakan tugasnya komisi penilai dibantu oleh tim teknis
komisi penilai dan sekretaris komisi penilai.

Susunan keanggotaan komisi penilai terdiri dari ketua biasanya dijabat oleh Ketua Dapedalda
Kabupaten/Kota, sekretaris yang dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah
AMDAL. Sedangkan anggotanya terdiri dari wakil Bapeda, instansi yang bertugas
mengendalikan dampak lingkungan, instasi bidang penanaman modal, instansi bidang
pertanahan, instansi bidang pertahanan, instansi bidang kesehatan, instansi yang terkait dengan
lingkungan kegiatan, dan anggota lain yang di anggap perlu.

Secara garis besar komisi penilai AMDAL dapat terdiri dari unsur-unsur (1) unsur
pemerintah;(2) wakil masyarakat terkena dampak; (3) perguruan tinggi; (4) Pakar dan (5)
organisasi lingkungan.

Ada semacam kerancuan dalam kebijakan AMDAL dimana dokumen tersebut ditempatkan
sebagai sebuah studi kelayakan ilmiah di bidang lingkungan hidup yang menjadi alat bantu bagi
pengambilan keputusan dalam pembangunan. Namun demikian komisi penilai yang bertugas
menilai AMDAL beranggotakan mayoritas wakil dari instansi pemerintah yang mencermikan
heavy bureaucracy , dan wakil-wakil yang melakukan advokasi . Dari komposisi yang ada dapat
mengakibatkan hal-hal sebagai berikut (1) keputusan kelayakan lingkungan di dominasi oleh
suara suara yang didasarkan pada kepentingan birokrasi; (2).wakil masyarakat maupun LSM
sebagai kekuatan counter balance dapat dengan mudah terkooptasi (captured or coopted) karena
berbagai faktor; (3) keputusan cukup sulit untuk dicapai karena yang mendominasi adalah bukan
pertimbangan ilmiah obyektif akan tetapi kepentingan pemerintah atau kepentingan masyarakat/
LSM secara sepihak .

Sebagai seorang pengusaha atau investor , kemana dia harus berkonsultasi jika mereka akan
melaksanakan studi AMDAL ?. Sebaiknya konsultasi dapat dilakukan di 3 (tiga) komisi penilai
AMDAL, yaitu:

1. Komisi Penilai AMDAL Pusat

2. Komisi Penilai AMDAL Propinsi


3. Komisi AMDAL Kabupaten/ Kota. Tergantung dari jenis rencana kegiatan yang akan di studi
AMDAL nya.

EVALUASI PROSES PENILAIAN DOKUMEN AMDAL

Proses dan prosedur penilaian AMDAL secara umum cukup baik yang ditandai dengan
singkatnya waktu penilaian , memang waktu penilaian sangat tergantung dari kualitas KA dan
dokumen AMDAL nya sendiri.

Kemampuan teknis dan obyektifitas dari penilaian

Anggota komisi penilai yang telah memiliki sertifikat kursus AMDAL A, B, dan C cukup baik
secara teknis dan obyektif, lebih profesional serta anggota penilai yang pernah melakukan
penyusunan AMDAL walaupun jumlahnya relatif tidak banyak. Anggota komisi penilai yang
berasal dari institusi sektoral atau dari pemerintah daerah (bukan dari tim penilai tetap) sering
belum banyak menguasai mengenai AMDAL. Penilaian oleh LSM dan wakil dari masyarakat
kadang-kadang kurang obyektif. Tim teknis yang ikut duduk di dalam komisi penilai perlu lebih
memahami peran bidangnya dalam AMDAL.

Evaluasi keterlibatan masyarakat.


Usaha melibatkan masyarakat dalam penilaian AMDAL cukup memadai dengan dilibatkannya
LSM lokal dan Pemerintah daerah (Bappeda), dan tokoh masyarakat.

AMDAL DAN EKONOMI KERAKYATAN

Dengan dilaksanakannya AMDAL yang sesuai dengan aturan, maka akan didapatkan hasil yang
optimal dan akan berpengaruh terhadap kebangkitan ekonomi. Kenapa demikian? Dalam masa
otonomi daerah diharapkan pemerintah daerah menganut paradigma baru , antara lain:

1. Sumber daya yang ada di daerah merupakan bagian dari sistem penyangga kehidupan
masyarakat, seterusnya masyarakat merupakan sumber daya pembangunan bagi daerah.

2. Kesejahteraan masyarakat merupakan satu kesatuan dan bagian yang tidak terpisahkan dari
kelestarian sumber daya yang ada di daerah.

Dengan demikian maka dalam rangka otonomi daerah, fungsi dan tugas pemerintah daerah
seyogyanya berpegang pada hal-hal tersebut dibawah ini:

1. Pemda menerima de-sentralisasi kewenangan dan kewajiban


2. Pemda meningkatkan pelayanan kepada masyarakat
3. Pemda melaksanakan program ekonomi kerakyatan
4. Pemda menetapkan kebijakan pengelolaan sumber daya di daerah secara konsisten.
5. Pemda memberikan jaminan kepastian usaha
6. Pemda menetapkan sumberdaya di daerah sebagai sumberdaya kehidupan dan bukan
sumberdaya pendapatan

KEBERHASILAN IMPLEMENTASI AMDAL DI DAERAH.

Sebagai syarat keberhasilan implementasi AMDAL di daerah adalah:

1.Melaksanakan peraturan/ perundang-undangan yang ada


Contoh:

Sebelum pembuatan dokumen AMDAL pemrakarsa harus melaksanakan Keputusan Kepala


Bapedal 8 tahun/ 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam
Proses AMDAL yaitu harus melaksanakan konsultasi masyarakat sebelum pembuatan KA.
Apabila konsultasi masyarakat berjalan dengan baik dan lancar, maka pelaksanaan AMDAL
serta implementasi RKL dan RPL akan berjalan dengan baik dan lancar pula. Hal tersebut akan
berimbas pada kondisi lingkungan baik lingkungan fisik/ kimia, sosial-ekonomi-budaya yang
kondusif sehingga masyarakat terbebas dari dampak negatip dari kegiatan dan masyarakat akan
sehat serta perekonomian akan bangkit.

2.Implementasi AMDAL secara profesional, transparan dan terpadu.


Apabila implementasi memang demikian maka implementasi RKL dan RKL akan baik pula.
Implementai AMDAL, RKL dan RPL yang optimal akan meminimalkan dampak negatip dari
kegiatan yang ada. Dengan demikian akan meningkatkan status kesehatan, penghasilan
masyarakat meningkat dan masyarakat akan sejahtera. Selain itu pihak industri dan/atau kegiatan
dan pihak pemrakarsa akan mendapatkan keuntungan yaitu terbebas dari tuntutan hukum (
karena tidak mencemari lingkungan ) dan terbebas pula dari tuntutan masyarakat ( karena
masyarakat merasa tidak dirugikan ). Hal tersebut akan lebih mudah untuk melakukan
pendekatan sosial-ekonomi-budaya dengan masyarakat di sekitar pabrik/ industri/ kegiatan
berlangsung.

Sumber :

Prof Mukono

http://mukono.blog.unair.ac.id/2009/09/09/analisis-mengenai-dampak-lingkungan-amdal-dan-
faktor-recovery-ekonomi/

9 September 2009

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:40 0 komentar

Pakar Lingkungan: Jangan Anggap Enteng Amdal !

Pakar lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Dr Surjono Hadi Sutjahjo MS,
mengingatkan, Amdal atau Analisis Mengenai Dampak Lingkungan hendaknya jangan dianggap
enteng atau hanya dijadikan sebagai formalitas untuk memenuhi kewajiban hukum.

Prof Surjono Hadi Sutjahjo, Selasa (13/10), mengatakan, Amdal harus dijadikan sebagai
kerangka acuan guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan
yaitu pembangunan yang dilakukan dengan tetap memerhatikan faktor kelestarian lingkungan.
Eksploitasi terhadap sumber daya alam dan lingkungan yang dilakukan tetap memerhatikan
faktor kelestarian.

"Amdal jangan dianggap enteng. Hasil rekomendasi tim Amdal harus dipatuhi, agar
pembangunan yang dilakukan tidak menimbulkan dampak kerusakan lingkungan di kemudian
hari," kata Koordinator Mayor Pengelolaan Sumberdayaalam dan Lingkungan (PSL)
Pascasarjana IPB itu.

Menurut Prof Surjono, Amdal digagas oleh pemerintah sebagai sistem manajemen lingkungan.
Melalui Amdal, proyek pembangunan yang dilakukan diharapkan dapat membawa kesejahteraan
dan kemaslahatan secara berkelanjutan.

Pelanggaran terhadap hasil kajian Amdal atau tanpa melakukan Amdal maka pembangunan yang
digagas akan membawa dampak berupa kerusakan ekologis sehingga menimbulkan bencana bagi
masyarakat.

"Kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan demi kemaslahatan dan keselamatan


bersama merupakan tanggung jawab semua pihak. Karena itu, Amdal harus dipatuhi dengan
sungguh-sungguh," katanya. KSP

Sumber :

http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/10/13/19590091/pakar.lingkungan.jangan.anggap
.enteng.amdal.

13 Oktober 2009

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:37 0 komentar

AMDAL: Antara Lingkungan Versus Pembangunan

Seiring dengan Era kemajuan pembangunan di segala bidang, banyak menyisakan bencana
kerusakan lingkungan yang mencengangkan bumi pertiwi ini. Seperti halnya dengan polusi dan
kerusakan lingkungan di perkotaan dan pedesaan saat ini. Banjir, tanah longsor, erosi,
pencemaran air, udara, dan berbagai kerusakan lainnya merupakan satu mata rantai yang dapat
meruntuhkan keberlangsungan kehidupan manusia seutuhnya. Perubahan iklim lingkungan
tersebut sangat terkait dengan menipisnya kesadaran dan kepedulian terhadap dampak negatif
aktifitas manusia dan pembangunan yang semakin meningkat.

Akibatnya, meski telah dilakukan pola penanganan dampak dengan program AMDAL itu hanya
sebatas pada dimensi prosedural belaka. Contoh nyatanya dan paling tragis adalah kasus lumpur
Lapindo di Surabaya yang sampai saat ini belum tuntas. Tidak adanya keseriusan secara utuh
bahwa institusi Negara maupun swasta yang menyelenggarakan pembangunan fisik seharusnya
sadar dan penuh tanggung jawab terhadap konsekuensi logis akibat dari keberlanjutan aktifitas
ekonomi tersebut. Kondisi ini, saya kira akan menjadi permasalahan serius bagi perwujudan
keberhasilan penanganan dampak lingkungan kalau terus dibiarkan.

Indikator dari kondisi tersebut berawal dari kurang jelasnya konsep dan sinergisitas antara
pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan swasta sebagai media pelaksana proyek dalam
merumuskan kebijakan mengenai pengelolaan lingkungan. Di lain hal faktor keikutsertaan
seluruh stakeholder dalam proses penanganan dampak negatif maupun positif penyelenggaraan
pembangunan tumpuan utamanya adalah masyarakat. Karena wujud dari tujuan pembangunan
itu sendiri semata-mata demi kepentingan masyarakat luas.

Selama ini, Partisipasi masyarakat dalam pembangunan sering dikesampingkan. Imbasnya


berujung pada penanganan dampak lingkungan dari sebuah pembangunan infrastruktur, supra
struktur. Dimana kepercayaan tingkat elit pemerintah hanya melibatkan kaum pemodal (swasta)
mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasannya yang kurang efektif dan tidak
efisien. Artinya kesatuan hidup masyarakat dan lingkungannya seharusnya menjadi bagian
terpenting subjek dari orientasi pembangunan sama sekali tidak mendapat posisi yang jelas.

Alhasil, dualisme tujuan antara pembangunan yang berwawasan manusia serta lingkungan
hidupnya dan pembangunan yang berorientasi fisik dan ekonomi pasar. Ini menyebabkan
realisasi penerapan AMDAL pada proyek pembangunan bersifat setengah hati dan tidak
berpihak pada masyarakat dan lingkungan. Realitas sosial saat ini, banyaknya program AMDAL
pemerintah melalui instansi-instansinya di seluruh Indonesia terkesan tidak sinergis dan
koordinatif dengan kondisi riil di lapangan. Apalagi saat ini pemerintah menerbitkan 9.000
dokumen mengenai analisis dampak lingkungan yang mungkin masih dipertanyakan tentang
dokumen-dokumen itu, apakah muncul dari hasil identifkasi, observasi maupun elaborasi yang
kritis. Malahan makin diragukan tahap implementasinya bisa terealisasi dengan baik. Bias
permasalahan mengenai arti dampak sosial pembangunan dapat memperparah kesatuan manusia
dan lingkungan hidup sekitarnya. Artinya pembangunan keberlanjutan jangan sampai menistakan
dampak sosial, kesehatan, dampak positif, dampak negatif yang secara fisik dan naluriah
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan alam Nusantara.

Seharusnya pemerintah tidak ahistoris dan parsial dalam menanggapi permasalahan ini.
Sebagaimana diketahui, pelaksanaan AMDAL di Indonesia telah dimulai jauh lebih awal
daripada undang-undang dan peraturan pemerintah, terutama dalam hal proyek-proyek
pembangunan pemerintah maupun swasta yang menerima bantuan dari badan luar negeri yang
mengaitkan pemberian bantuan itu perlu diimbanginya dengan AMDAL yang diberi bantuan
untuk proyek tersebut.

Berdasarkan asas manfaatnya, sejatinya AMDAL bukanlah dijadikan buku resep (cook-book)
yang dapat digunakan begitu saja secara tidak kritis. Cara penggunaan AMDAL secara prinsip
sangat berbeda untuk jenis proyek dan lingkungan yang berbeda-beda pula. Usaha penyeragaman
itu merupakan sebuah kelemahan yang sangat serius karena banyak AMDAL mengandung data
yang tidak relevan dengan proyek yang sedang diteliti sehingga AMDAL itu tidak banyak
berguna. Seharusnya AMDAL disesuaikan dengan jenis proyek pembangunan dan lingkungan
yang telah ditelaah, karena jelas tidak ada dua proyek pembangunan dan lingkungan yang
mempunyai sifat yang sama. Misalnya tidak ada dua bangunan gedung atau dua ruang bangunan
rumah yang mempunyai sifat yang sama. Demikian pula tidak ada dua lingkungan yang identik
sama. Masalah lingkungan bendungan di Jakarta juga dan pasti akan berbeda dari masalah
lingkungan bendungan di Surabaya atau NTB. Bahkan dua bendungan yang di sungai yang
sama, misalnya Bengawan Solo atau di kali Code mempunyai masalah lingkungan yang sangat
terbatas. Identifikasi dan Evaluasi dampak lingkungan yang hanya bersifat tidak kritis dan
cenderung subjektif membuat masalah lebih kompleks, oleh karena itu pelaksanaan AMDAL
haruslah dilakukan secara kritis, baik menggunakan ilmu pengetahuan yang bersifat objektif
maupun dengan pertimbangan yang bersifat subjektif kritis namun harus dilakukan secara
rasional.

Artinya pemerintah harus serius serta tanggap untuk tidak menghalalkan persoalan kerusakan
lingkungan makin kompleks. Solusi riilnya, tentu yang utama dan terpenting adalah kemauan
baik pemerintah untuk betul-betul memahami akar persoalan ini dengan sepenuhnya melibatkan
masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Seiring dengan ruang partisipasi yang terbuka
lebar maka pemerintah dapat mengeluarkan aturan ataupun regulasi yang tegas untuk
menjelaskan pentingnya AMDAL bagi masyarakat dan lingkungannya. Sosialisasi dan publikasi
mengenai peran dan fungsi aturan itu dapat terbangun dengan sendirinya. Dalam arti koordinasi,
pengawasan serta proses pengkawalan akan terus berlangsung sampai pada tataran
implementasinya. Misalnya melibatkan masyarakat, akademisi, swasta, pemerhati lingkungan,
LSM, pers, ormas, organ kepemudaan, organ mahasiswa dan BEM, melalui seminar dan
lokakarya mengenai kerusakan lingkungan ataupun keutamaan AMDAL. Dengan metode seperti
ini, sinergisitas dan koordinasi antara pemerintah dengan seluruh stakeholder lebih-lebih swasta
(pengusaha) sebagai kelompok berkepentingan dapat membawa angin segar terciptanya
pemahaman, kepedulian, kesadaran bahwa pembangunan haruslah berwawasan lingkungan dan
kemanusiaan yang adil dan beradab. Pada akhirnya, gerakan bersama bangsa ini dapat
mewujudkan proyek pembangunan di seluruh nusantara ini yang ramah dan tidak merugikan
masyarakat, hingga secepatnya tercapai kesejahteraan rakyat, flora fauna, dan nilai estetika alam.

Semoga usaha penanggulangan serta penanganan kerusakan lingkungan adalah babak baru
peningkatan kualitas hidup alam bagi pembangunan kesejahteraan hidup rakyat Indonesia.

Sumber :

Bob Rusdin Abdullah Rumba

http://www.sumbawanews.com/berita/opini/amdal-antara-lingkungan-versus-pembangunan.html

6 November 2008

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:34 0 komentar

AMDAL: Hilangnya Hak Lingkungan Hidup

Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting
suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi
proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.

Dalam sebuah lokakarya regional koordinasi tata lingkungan wilayah Kalimantan, Ir Hermien
Roosita MM, Asisten Deputi Urusan Pengkajian Dampak Lingkungan Kementerian Lingkungan
Hidup menyatakan bahwa hanya 119 kabupaten/kota yang memiliki komisi penilai AMDAL dari
474 kabupaten/kota di Indonesia. Dari angka tersebut, hanya 50% yang berfungsi menilai
AMDAL. Sementara 75% dokumen AMDAL yang dihasilkan berkualitas buruk sampai sangat
buruk.

Lebih lanjut disampaikannya bahwa selama ini AMDAL memerlukan waktu proses yang lama,
itdak ada penegakan hukum terhadap pelanggar AMDAL, kontribusi pengelolaan lingkungan
yang masih rendah, menjadi beban biaya, dan dipandang sebagai komodias ekonomi oleh
(oknum) aparatur pemerintah, pemrakarsa atau konsultan. Lebih rusaknya, ketika AMDAL justru
hanya sebagai alat retribusi, bukan sebagai bagian dari sebuah studi kelayakan, sehingga sering
kali ditemui banyak AMDAL yang justru melanggar tata ruang.

Ruh AMDAL ketika pertama kali dikeluarkan kebijakan mengenainya, adalah merupakan bagian
kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Hasil analisis mengenai dampak
lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Namun
dikarenakan minimnya pengetahuan dari pemerintah dan rakyat dalam memahami AMDAL,
menjadikan pemrakarsa dan konsultan menggunakan AMDAL sebagai sebuah dokumen asal
jadi, dan kecenderungan mengutip dokumen AMDAL lainnya sangat tinggi. Sehingga AMDAL
tidak dapat menjadi sebuah acuan kelayakan sebuah kegiatan berjalan.

Dalam sebuah rencana proyek jalan LADIA-GALASKA di Nanggroe Aceh Darussalam, sangat
terlihat jelas bahwa proyek jalan dilaksanakan jauh sebelum dokumen AMDAL disetujui oleh
Komisi Penilai AMDAL. Hal serupa ditemui dalam proyek jalan yang melalui Pulau Balang di
Teluk Balikpapan, dimana saat ini proyek telah dilaksanakan, sementara AMDAL belum selesai
direvisi.

Pasal 15 (1) UU No. 23/1997 menyatakan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang
kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib
memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Hal ini kemudian ditegaskan dalam pasal
3 PP No. 27/1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang
menyebutkan bahwa usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak
besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi:
1. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.
2. Eksploitasi sumberdaya alam baik yang terbaharui maupun yang tidak terbaharui.
3. Proses dan kajian yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumberdaya alam dalam pemanfaatannya.
4. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan,
serta lingkungan sumberdaya.
5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi
sumberdaya alam dan/atau perlindungan cagar budaya.
6. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jasad renik.
7. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati.
8. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi
lingkungan hidup.
9. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan dapat mempengaruhi pertahanan negara.

Dalam proses penyusunan dokumen AMDAL, sangat sering ditemui konsultan (tim penyusun)
AMDAL meninggalkan berbagai prinsip dalam AMDAL. Terutama posisi rakyat dalam proses
penyusunan dokumen AMDAL. Proses keterbukaan informasi dijamin oleh kebijakan, di mana
pasal 33 PP No. 27/1999 menegaskan kewajiban pemrakarsa untuk mengumunkan kepada publik
dan saran, pendapat, masukan publik wajib untuk dikaji dan dipertimbangkan dalam AMDAL.
Dan pasal 34 menegaskan bagi kelompok rakyat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam
proses penyusunan kerangka acuan, penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan
hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup.

Maksud dan tujuan dilaksanakannya ketertibatan masyarakat dalam keterbukaan informasi dalam
proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk :
1) Melindungi kepentingan masyarakat;
2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau
kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
Lingkungan;
3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAl dari rencana usaha
dan/atau kegiatan; dan
4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan, yaitu
dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan
semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh.

Di mana prinsip dasar pelaksanaannya menganuti: 1) Kesetaraan posisi di antara pihak-pihak


yang terlibat; 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan; 3) Penyelesaian masalah yang
bersifat adil dan bijaksana; dan 4) Koordinasi, komunikasi, dan kerjasama dikalangan pihak-
pihak yang terkait.

Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana


pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang
membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan, instansi yang ditugasi mengendalikan
dampak lingkungan dan Gubernur.

Dokumen AMDAL (kelayakan lingkungan hidup) yang merupakan bagian dari kelayakan teknis
finansial-ekonomi (pasal 2 PP No. 27/1999) selanjutnya merupakan syarat yang harus dipenuhi
untuk mendapatkan ijin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang
berwenang (pasal 7 PP No. 27/1999). Dokumen AMDAL merupakan dokumen publik yang
menjadi acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat lintas sektoral,
lintas disiplin, dan dimungkinkan lintas teritorial administratif.

Namun, dari sisi proses, bila menilik Pasal 20 PP No. 27/1999, maka terbuka kemungkinan
terjadinya kolusi dalam persetujuan AMDAL. Dalam ayat (1) pasal tersebut dinyatakan bahwa
instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu
usaha dan/atau kegiatan, dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari
kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Dan dalam ayat (2)
disebutkan apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka
waktu sebagaimana dimaksud, maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan
dianggap layak lingkungan. Kolusi kemudian bisa terjadi disaat tidak adanya keputusan tentang
persetujuan AMDAL dalam jangka waktu 75 hari, maka secara otomatis suatu kegiatan dan/atau
usaha dianggap layak secara lingkungan.

Sejak dibubarkannya Badan Pengendalian Dampak Lingkungan, maka kemudian Kementerian


Lingkungan Hidup semakin mengecil perannya dalam upaya pengendalian dampak lingkungan,
termasuk dalam pengawasan AMDAL di berbagai tingkatan. Terlebih lagi, pasca dikeluarkannya
PP No. 25 tahun 2000, menjadikan hilangnya mekanisme koordinasi antar wilayah, yang pada
akhirnya menjadikan lingkungan hidup sebagai bagian yang menjadi tidak begitu penting.
Empat kelompok parameter yang terdapat di studi AMDAL , meliputi Fisik ? kimia (Iklim,
kualitas udara dan kebisingan; Demografi; Fisiografi; Hidro-Oceanografi; Ruang; Lahan dan
Tanah; dan Hidrologi), Biologi (Flora; Fauna), Sosial (Budaya; Ekonomi;
Pertahanan/keamanan), dan Kesehatan masyarakat, ternyata juga masih sangat menekankan pada
kepentingan formal saja. Lalu kemudian, permasalahan sosial-budaya dan posisi rakyat menjadi
bagian yang dilupakan.

Satu hal dari proses di Komisi Penilai AMDAL, ketika ternyata terjadi pembohongan dalam
dokumen AMDAL (dalam hal ini saat penilaian dokumen AMDAL Pembangunan Bandara
Udara Sungai Siring ), hanya dianggap sebagai kesalahan ketik. Permakluman kemudian terjadi
dikarenakan kuatnya kepentingan politis dibalik sebuah rencana kegiatan. Hal ini bukan hanya
terjadi sekali. Dalam beberapa kali diskusi dengan para pihak yang dilibatkan dalam Komisi
Penilai AMDAL, sangat jelas terlihat kerancuan dalam proses penilaian AMDAL. Tidak adanya
kriteria dan indikator penilaian, telah menjadikan proses penilaian AMDAL menjadi sangat
subyektif. Dan kemudian, penilaian yang sepotong-sepotong pun pada akhirnya menjadikan
aspek dampak lingkungan hidup (sebagai sebuah komponen yang komprehensif) menjadi bagian
yang sengaja untuk dilupakan.

Posisi kelayakan kegiatan dari AMDAL, sebenarnya sangat tergantung pada kelompok
Akademisi atau para ahli yang dilibatkan dalam Komisi Penilai AMDAL. Ketika kemudian
independensi (kebebasan ikatan) dari akademisi dalam menilai dokumen diikat saat kelompok ini
pun menjadi konsultan penyusun AMDAL, telah menjadikan kelompok akademisi atau para ahli
tidak lagi profesional dalam mengambil keputusan. Bias perkawanan dan keberlanjutan proyek
(sustainable project) sangat menjadikan proses penilaian AMDAL menjadi hanya panggung
boneka semata.

Hal yang kemudian menjadi sangat lemah adalah proses pengawasan pelaksanaan
(implementasi) dari dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL), dimana tidak ada perangkat hukum yang menyatakan sanksi
terhadap pelanggar dokumen ini. Ketika kemudian terjadi pencemaran lingkungan ataupun
terjadi konflik sosial, barulah digunakan perangkat hukum lainnya (semisal UU No. 23/1997,
UU No. 41/1999 jo UU No. 19/2004 ataupun Kitab Undang-Undang Hukum Pidana/Perdata).

AMDAL yang pada awalnya ingin menaikkan posisi tawar lingkungan hidup dalam
berkehidupan, kemudian malah berkontribusi terhadap hilangnya hak lingkungan hidup. Setiap
kali sebuah kegiatan dan/atau usaha sangat terlihat jelas berdampak terhadap lingkungan hidup
maupun komunitas rakyat, maka AMDAL berada di barisan terdepan untuk mengeliminir
gejolak yang terjadi. Dengan melihat kondisi ini, maka bukan tidak mungkin AMDAL akan
berkontribusi terhadap terjadinya ekosida/ecocide (tindakan pengrusakan seluruh atau sebagian
dari sebuah ekosistem). Pemusnahan ekosistem semakin cepat terjadi dikarenakan tidak adanya
perangkat penyaring (filter) dari kegiatan pengrusakan lingkungan hidup.

Dalam mendorong perbaikan kualitas lingkungan hidup (dan kualita manusia didalamnya), maka
aparat pemerintah sudah selayaknya memahami ulang tentang Hak Menguasai Negara. Juga
menjadi penting adanya undang-undang payung dalam rangka menjamin pemenuhan kewajiban
negara terhadap hak konstitusional rakyat untuk: (1) melaksanakan reforma agraria (land
reform); (2) pengelolaan agraria atau kekayaan alam dengan mengacu pada asas kehati-hatian
(precautionary principle), serta; (3) perlindungan lingkungan hidup dan sumber-sumber
kehidupan rakyat.

Di sisi penataan kelembagaan, menjadi penting dilakukannya reformasi kelembagaan, meliputi:


(1) kelembagaan yang terkait kebijakan makro pengelolaan lingkungan hidup; (2) kelembagaan
dengan fungsi perlindungan dan konservasi lingkungan, dan; (3) intergrasi kelembagaan yang
memiliki fungsi menjamin akses terhadap permanfaatan lingkungan secara adil dan
berkelanjutan. Selain menjadi penting menganut prinsi desentralisasi kewenangan berdasarkan
fungsi, di mana diharapkan dapat mendekatkan proses pengambilan keputusan kepada kelompok
penerima dampak. Bentuk yang ditawarkan adalah kepemerintahan rakyat (community
governance), dimana kelembagaan bersifat ad-hoc, informal, mewakili kepentingan, pendekatan
berdasarkan isu dan kepentinga, serta dikelola dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Kelembagaan formal pemerintah menjadi bagian dari kepemerintahan rakyat ini.

Untuk kondisi sistem pemerintahan yang ada saat ini, dalam hal ini terhadap AMDAL, penting
untuk meletakkan ruh (filosofi) lingkungan hidup dalam setiap pelatihan mengenai AMDAL,
sehingga tidak menjadikan penyusun, penilai dan pemantau AMDAL kehilangan ruh dari
lingkungan hidup itu sendiri.

Menjadi penting juga bagi pemerintah di tingkat lokal hingga nasional untuk membangun
clearing house lingkungan hidup, termasuk dokumen AMDAL didalamnya yang aksesable
(mudah diakses) oleh rakyat. Juga untuk segera hadir mekanisme yang sederhana dan terbuka
untuk mengelola respon publik terhadap proses AMDAL yang akan dan sedang berlangsung.
Selain pula pemerintah mulai membangun perangkat sanksi terhadap pengelola kegiatan yang
tidak melaksanakan RKL/RPL yang telah dibuatnya.

Dari sisi akademisi ataupun para ahli yang terlibat dalam penyusun maupun penilai AMDAL,
sangat penting untuk kembali membuka ulang pemikiran agar tidak terjebak pada kepentingan
kehidupan saat ini semata. Silaunya keping mata uang terkadang membutakan hati, namun bisa
jadi suatu saat keping mata uang itu akan membutakan keturunan anda.

Sementara dari komunitas lokal, sudah saatnya berani bersuara tentang ketidakadilan dan
penipuan yang berlangsung secara berkelanjutan hingga saat ini. Karena suatu saat, penerima
dampak pertama dari kegiatan dan/atau usaha yang seolah-olah telah lulus AMDAL adalah
komunitas lokal. Sangat penting juga membangun kapasitas melalui pemahaman tentang
AMDAL KIJANG (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Kaki Telanjang), yang sebenarnya
bisa menjadi sebuah perangkat pemantauan lingkungan hidup oleh rakyat dengan sederhana dan
berdasarkan parameter yang tersedia di lingkungan itu sendiri.

Sumber :

http://timpakul.web.id/amdal.html
25 April 2006

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:32 0 komentar

AMDAL Ini Siapa yang Punya ?

Pengantar

Masih segar dalam ingatan kita saat digulirkannya konsep otonomi daerah kira-kira tiga tahun
yang lalu, AMDAL pun serta merta ikut terbawa oleh perubahan-perubahan yang bernuansa
Otoda tersebut. Sehingga pada tanggal 20 Desember 2000, Pusat Standardisasi dan Lingkungan
Departemen Kehutanan turut membuka wacana mengenai pelaksanaan AMDAL pada era Otoda
melalui penyelenggaraan seminar tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999.

Dalam seminar tersebut, salah satu makalah yang disampaikan oleh pembicara yaitu Dr.
Ngadiono, MS. patut kita simak kembali sambil mencermati pelaksanaan AMDAL di masa
otonomi daerah ini yang telah berjalan kurang lebih hampir dua tahun.

Pada kesempatan ini, redaksi mengajak pembaca info-pustanling untuk membuka kembali hal-
hal yang nampaknya penting untuk dipahami mengenai konsep yang utuh dalam pelaksanaan
AMDAL di masa otonomi daerah ini.

Perjalanan AMDAL Menuju ke Daerah

Sejak diundangkannya UU No. 4 Th. 1982, pelaku pembangunan dan masyarakat tidak dapat
lagi menghindar dari pertimbangan aspek lingkungan hidup dalam melaksanakan kegiatan
pembangunan. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan UU tersebut dikeluarkan Peraturan Pemerintah
(PP) yang mengatur bahwa setiap usaha/kegiatan pembangunan yang diperkirakan
mempengaruhi fungsi lingkungan hidup atau diperkirakan mempunyai dampak besar dan penting
perlu dilakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Ketentuan tersebut
dituangkan dalam PP No. 29 Th. 1986 yang kemudian diperbaharui dan diganti melalui PP No.
51 Th. 1993. Pada tahun 1990 Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden No. 23 tahun 1990
tentang Pembentukan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL).

Dalam perjalanannya, UU No. 4 Th. 1982 dinilai kurang memadai dalam menampung aspirasi
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Maka pada tahun 1997
dilakukan penyempurnaan melalui penetapan UU No. 23 Th. 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.

Dengan kebijakan baru dalam pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam UU No.
23/97, maka PP No. 51 Th. 1993 (AMDAL) sebagai penjabaran pelaksanaan UU No. 4 Th. 1982
disempurnakan dan diganti dengan PP No. 27 Th. 1999 yang telah mengakomodir wacana
otonomi daerah, sehingga dimungkinkan pembahasan dan penilaian AMDAL oleh Pemerintah
Daerah.

Pengelolaan Lingkungan Hidup


Bahwa dengan diberlakukannya UU No. 4 Th. 1982 yang disempurnakan dan diganti dengan UU
No. 23 Th. 1997, masalah lingkungan hidup telah menjadi faktor penentu dalam proses
pengambilan keputusan pemanfaatan dan pengolahan SDA. Pembangunan tidak lagi
menempatkan SDA sebagai modal, tetapi sebagai satu kesatuan ekosistem yang di dalamnya
berisi manusia, lingkungan alam dan/atau lingkungan buatan yang membentuk kesatuan
fungsional, saling terkait dan saling tergantung dalam keteraturan yang bersifat spesifik, berbeda
dari satu tipe ekosistem ke tipe ekosistem yang lain. Oleh sebab itu, pengelolaan lingkungan
hidup bersifat spesifik, terpadu, holistik dan berdimensi ruang.

Berdasarkan UU No. 23 Th. 1997 lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan ruang dengan
kesemua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup
lainnya. Sedangkan pengelolaan lingkungan hidup didefinisikan sebagai upaya terpadu untuk
melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan,
pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup.
Pada Bab II pasal 4 UU No. 23 Th. 1997 dikemukakan bahwa sasaran pengelolaan lingkungan
hidup adalah :

a. Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup.

b. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang mempunyai sikap dan
tindak melindungi dan membina lingkungan hidup.

c. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa mendatang.

d. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.

e. Terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana.

f. Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari dampak usaha dan/atau
kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan
hidup.

Dari sasaran-sasaran pengelolaan lingkungan hidup di atas, terlihat bahwa kelestarian fungsi
lingkungan hidup merupakan sasaran utama yang dapat diukur. Menurut bab V UU No. 23 Th.
1997 tentang pelestarian fungsi lingkungan hidup, dinyatakan bahwa kelestarian fungsi
lingkungan hidup dapat diukur dengan dua parameter utama, yaitu Baku Mutu Lingkungan
Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup. Dua parameter ini menjadi
ukuran/indikator apakah rencana usaha dan/atau kegiatan dapat menimbulkan dampak besar dan
penting bagi lingkungan hidup. PP 27 Th. 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) pasal 3 menyebutkan bahwa usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi :

a. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam.


b. Eksploitasi sumberdaya alam baik yang terbaharui maupun yang tidak terbaharui.

c. Proses dan kajian yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan
kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumberdaya alam dalam pemanfaatannya.

d. Proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan,
serta lingkungan sumberdaya.

e. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi
sumberdaya alam dan/atau perlindungan cagar budaya.

f. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan dan jasad renik.

g. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non-hayati.

h. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi


lingkungan hidup.

i. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan dapat mempengaruhi pertahanan negara.

Menurut keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 19 Th. 2000 tentang
Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup pada lampiran II
dikemukakan bahwa pada studi AMDAL, terdapat empat kelompok parameter komponen
lingkungan hidup, yaitu :

1. Fisik – kimia (Iklim, kualitas udara dan kebisingan; Demografi; Fisiografi; Hidro-
Oceanografi; Ruang; Lahan dan Tanah; dan Hidrologi),

2. Biologi (Flora; Fauna)

3. Sosial (Budaya; Ekonomi; Pertahanan/keamanan)

4. Kesehatan masyarakat.

Dengan evaluasi parameter komponen lingkungan pada setiap kegiatan (prakonstruksi,


konstruksi, pasca konstruksi) terhadap Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku
Kerusakan Lingkungan Hidup akan dapat ditentukan dampak penting (positif dan negatif)
parameter lingkungan hidup.

Hasil kajian dampak penting parameter lingkungan hidup dari setiap kegiatan selanjutnya
diorganisasikan ke dalam tiga buku laporan yang terpisah, yaitu 1) Analisis Dampak
Lingkungan/Andal, 2) Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup/RKL, 3) Rencana Pemantauan
Lingkungan Hidup/ RPL. Ketiga dokumen ini (dokumen AMDAL) merupakan hasil kajian
kelayakan lingkungan hidup, dan merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari hasil
kajian kelayakan teknis dan finansial-ekonomi. Selama ini kedua dokumen kelayakan ini
(kelayakan teknis dan kelayakan lingkungan hidup) masih dalam bentuk yang terpisah, baik
dokumennya maupun instansi yang menanganinya.

Dokumen AMDAL (kelayakan lingkungan hidup) yang merupakan bagian dari kelayakan teknis
finansial-ekonomi (pasal 2 PP 27/99) selanjutnya merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk
mendapatkan ijin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang
berwenang (pasal 7 PP 27/99). Dokumen AMDAL merupakan dokumen publik yang menjadi
acuan dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat lintas sektoral, lintas
disiplin, dan dimungkinkan lintas teritorial administratif.

Otonomi Daerah

Otonomi daerah dibangun atas dasar pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah. Dalam pasal 4 ayat 1 UU No. 22 Th 1999 disebutkan bahwa dalam rangka pelaksanaan
asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah propinsi, daerah kabupaten dan daerah kota yang
berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat. Menurut pasal 4 ayat 2 hubungan daerah-daerah sebagaimana
disebutkan dalam ayat 1 masing-masing berdiri sendiri-sendiri dan tidak mempunyai hubungan
hirarki satu sama lain. Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang
pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan,
peradilan, moneter dan fiskal, agama serta kewenangan bidang lain (pasal 7 ayat 1).

Dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup, PP No. 25 Th. 2000 telah secara tegas memisahkan
kewenangan-kewenangan yang menjadi milik pemerintah pusat dan kewenangan-kewenangan
yang menjadi milik pemerintah daerah. Sesuai dengan pasal 2 PP No. 25 Th. 2000 Pemerintah
Pusat memiliki kewenangan untuk :

a. Penetapan pedoman pengendalian sumberdaya alam dan kelestarian fungsi lingkungan.

b. Pengaturan pengelolaan lingkungan dan pemanfaatan sumberdaya laut di luar 12 mil.

c. Penilaian AMDAL bagi kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat dan atau
menyangkut pertahanan dan keamanan yang lokasinya meliputi lebih dari 1 wilayah propinsi,
kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain, di wilayah laut bawah 12 mil
dan berlokasi di lintas batas negara.

d. Penetapan baku mutu lingkungan hidup dan penetapan pedoman tentang pencemaran
lingkungan hidup.

e. Penetapan pedoman tentang pencemaran lingkungan hidup.

Sementara itu menurut pasal 3 PP No. 25 Th. 2000 kewenangan daerah propinsi mencakup :

a. Pengendalian lingkungan hidup lintas kabupaten/kota.

b. Pengaturan pengelolaan lingkungan dalam pemanfaatan sumberdaya laut 4 mil sampai 12 mil.
c. Pengaturan tentang pengamanan dan pelestarian sumberdaya air lintas kabupaten/kota.

d. Penilaian AMDAL bagi kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat
luas yang lokasinya meliputi lebih dari satu kabupaten/kota.

e. Pengawasan pelaksanaan konservasi lintas kabupaten/kota.

f. Penetpan baku mutu lingkungan hidup berdasarkan baku mutu lingkungan hidup nasional.

Perkembangan saat ini

Dengan berlakunya UU No. 22 Tahun 1999 dan PP No. 27 Tahun 1999, maka SK Menhutbun
No. 602/Kpts-II/1998 jo. NO. 622/Kpts-II/1999 tentang AMDAL, UKL dan UPL Pembangunan
Kehutanan dan Perkebunan tidak relevan lagi. Sesuai ketentuan tersebut di atas AMDAL, UKL
dan UPL saat ini dilaksanakan oleh pemerintah daerah (Kabupaten). Namun demikian ada
bagian-bagian lain dari ketentuan-ketentuan yang ada yang menjelaskan tentang kewenangan
Pemerintah Pusat, yaitu :

Pasal 7 ayat (2) UU No. 22 Th. 1999 tentang Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa bidang
konservasi merupakan kewenangan Pemerintah Pusat.

Pasal 2 ayat (3) butir 4 (j) PP. No. 25 Th. 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan
Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, menyebutkan bahwa penyelenggaraan ijin usaha
pengusahaan taman buru, usaha perburuan, penangkaran flora dan fauna yang dilindungi, dan
lembaga konservasi, serta penyelenggaraan pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan
pelestarian alam taman buru, termasuk daerah aliran sungai di dalamnya, merupakan
kewenangan Pemerintah Pusat.

Terhadap pencermatan ketentuan tersebut, maka saat ini sedang “digodog” konsep ketentuan
yang mengatur tentang Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL) bidang konservasi dan juga pengawasan pelaksanaan pengelolaan lingkungan
secara umum.

Penutup

Terlepas dari AMDAL ini siapa yang punya, yang paling penting untuk dipahami dalam
pembangunan berkelanjutan adalah bahwa kelayakan lingkungan hidup dan kelayakan teknis
finansial secara normatif harus merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh
karena itu di dalam kelayakan teknis finansial ekonomi telah mengakomodir dan
mengintegrasikan norma-norma dan kaidah-haidah lingkungan hidup. Dan aspek finansial
ekonomi telah memasukkan biaya-biaya yang timbul akibat saran yang dituangkan dalam
laporan Andal, RKL dan RPL. Oleh sebab itu setiap kelayakan usaha dan/atau kegiatan dalam
proses perijinan harus melakukan studi kelayakan yang mencakup kelayakan teknis, finansial-
ekonomi, dan kelayakan lingkungan hidup yang dibahas dan dinilai oleh tim terpadu. Hal ini
penting karena kelayakan teknis dapat berubah akibat rekomendasi kelayakan lingkungan hidup,
dan selanjutnya perubahan kelayakan teknis akan menyebabkan perubahan kelayakan ekonomi-
finansial.

Sumber :

http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/IN
FO_V02/III_V02.htm

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:25 0 komentar

Pemrakarsa Usaha Tanpa Amdal Diancam Pencabutan Izin

Banyak kegiatan usaha atau proyek pemerintah seperti infrastruktur, fasilitas gedung
perkantoran, dan rumah sakit dibangun tanpa didahului Amdal. Hal ini direspon KNLH dengan
penyampaian aturan berisi sanksi kepada DPR berupa pencabutan izin operasional bagi
pemrakarsa usaha dan pidana bagi pejabat yang menerbitkan usaha.

Asisten Deputi Urusan Pengkajian dampak Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Ary Sudijanto, menyatakan pengguna jasa atau calon pemrakarsa suatu usaha akan dilindungi
dengan sertifikasi keahlian penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Artinya,
Amdal akan dinyatakan tidak lulus mulai November 2009 jika penyusun tersebut tidak
mempunyai sertifikasi lulus uji kompetensi Amdal.

Solusi dampak lingkungan kurang diketahui atas usaha yang dibangun tanpa menggunakan
seorang yang memiliki sertifikasi keahlian penyusun Amdal. Dengan begitu kesalahan
penanganan lingkungan bukan pada pemrakarsa usaha, tapi penyusun amdal.

Ary meneruskan Amdal banyak tidak dilakukan pada kegiatan usaha atau proyek pemerintah
seperti infrastruktur, fasilitas gedung perkantoran, dan rumah sakit. Kejadian ini direspon
Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) dengan penyampaian aturan yang berisi sanksi
kepada DPR berupa pencabutan izin operasional bagi pemrakarsa usaha dan pidana bagi pejabat
yang menerbitkan usaha tanpa Amdal.

Apabila sanksi tidak ingin dialami pemrakarsa usaha tanpa Amdal, maka dokumen pengelolaan
dan pemantauan lingkungan (DPPL) harus dipunyai pemrakarsa usaha. Laporan ini disampaikan
pemerintah dua tahun sekali. Sebanyak 6.811 institusi dari swasta dan pemerintah telah
mengajukan permohonan persetujuan DPPL ke KNLH.

Sementara itu 20 dari 43 peserta uji kompetensi amdal angkatan pertama, ujar Ary, dinyatakan
lulus. Angkatan Kedua ini akan diikuti 52 peserta.

Delapan zona uji kompetensi Amdal, ujar Asisten Deputi Urusan Standarisasi, Teknologi, dan
Produksi Bersih Kementerian Negara Lingkungan Hidup Sri Tantri Arundhati, terdapat di
Indonesia. Sebanyak delapan zona ini berada di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan,
Pekanbaru, Samarinda, Manado, dan Makassar.

Kedelapan zona uji kompetensi Amdal diharapkan dapat melakukan uji kompetensi secara
serentak. Sertifikasi ini dianggap sebagai kebutuhan penting sekarang.

Sumber :

Mochamad Ade Maulidin ( ademaulidin@wartaekonomi.com )

http://www.wartaekonomi.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2959:pemrak
arsa-usaha-tanpa-amdal-diancam-pencabutan-izin-&catid=53:aumum

1 September 2009

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:20 0 komentar

Reformasi AMDAL dan Desentralisasi

Peluang Inovasi di Indonesia

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sedang berupaya agar Analisa Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL) dapat berjalan dengan efektif di daerah-daerah yang baru diberdayakan.
Namun, memperbaiki pendekatan pengelolaan lingkungan di Indonesia tidak akan mudah. Ada
dua alasan untuk kinerja yang buruk. Pertama, meskipun terdapat investasi yang substansial pada
kebijakan lingkungan dan pengembangan kepegawaian, pelaksanaan peraturan dan prosedur di
lapangan masih buruk. Kedua, banyak provinsi dan kabupaten membuat interpretasi baru
mengenai peraturan-peraturan yang ada, atau menciptakan prosedur peraturan yang seluruhnya
baru. Meskipun sebagian inovasi ini memperkuat pengendalian lingkungan, namun kebanyakan
malah mengendurkan atau bahkan mengabaikan standar-standar nasional sama sekali.

Karena landasan nasional ini sering diabaikan maka KLH meminta Bank Dunia agar bekerja
sama dalam merevisi kebijakan yang ada dan kerangka kelembagaan AMDAL. Kajian AMDAL
Bank Dunia mengupas masalah inti untuk menyesuaikan sistem peraturan pengelolaan
lingkungan dengan perubahan kondisi desentralisasi. Kajian ini memerlukan gabungan Studi
Analitis, percontohan daerah, dan dialog kebijakan di tingkat nasional maupun daerah.

Dua percontohan tingkat provinsi (di Jawa Barat dan Kalimantan Timur) meneliti bagaimana
sistem AMDAL terpusat saat ini dapat ‘divariasikan’, sehingga prioritas di berbagai daerah dapat
ditentukan berdasarkan kapasitas dan kebutuhan yang ada. Empat studi analitis pendukung
dirancang untuk memperkuat dan menentukan hasil-hasil percontohan di tingkat provinsi.
Output dari Studi akan menentukan pengembangan rancangan dokumen kebijakan yang menjadi
dasar untuk revisi Peraturan AMDAL No. 27/1999.

Studi Analitis AMDAL


Laporan Pemeriksaan 2004 membantu menetapkan sejumlah masalah utama untuk diteliti;
masalah-masalah ini kemudian disaring lagi melalui konsultasi dengan KLH dan pemegang
saham daerah untuk memaksimalkan kesesuaian dengan program Revitalisasi
AMDAL.Partisipasi Masyarakat dan Akses ke Informasi AMDAL

Studi ini meninjau tingkat, kualitas dan efektivitas keterlibatan masyarakat dalam proses
AMDAL sejak dikeluarkannya Keputusan Kepala BAPEDAL No. 08/2000. Hal ini dimaksudkan
sebagai masukan untuk merevisi Keputusan 8/2000 yang dilaksanakan KLH pada tahun 2006.
Download (pdf 2.5MB)

Apa yang Dilakukan untuk AMDAL – Studi tentang Praktek Baik yang Baru Diperkenalkan
kepada Provinsi-Provinsi Tertentu di Indonesia.
Studi ini meninjau dengan cermat serangkaian AMDAL yang baru diselesaikan,
mengidentifikasi berbagai contoh praktek yang baik dan mengkaji faktor-faktor kritis yang
menyumbang kepada peningkatan kinerja. Sebuah indikasi kesesuaian praktek yang baik dengan
pengalaman internasional diberikan melalui perbandingan dengan negara-negara berpenghasilan
menengah.

Instrumen Kebijakan Alternatif untuk Pengelolaan Lingkungan di Indonesia

Studi ini meninjau empat instrumen kebijakan lingkungan prioritas yang dianggap oleh KLH
sebagai pelengkap bagi sistem AMDAL, yaitu Pengkajian Lingkungan Strategis, Pengkajian
Risiko, Audit Lingkungan dan Pengkajian Lingkungan secara Cepat. Laporan ini juga mengkaji
pengalaman Indonesia di masa lalu dalam menerapkan instrumen-instrumen ini, dan
mengidentifikasi prasyarat untuk revisi yang akan dibuat terhadap Undang-Undang Pengelolaan
Lingkungan tahun 1997 guna memperkuat sistem pengelolaan lingkungan Indonesia secara
keseluruhan.

Percontohan AMDAL Daerah

Kegiatan Percontohan untuk Mendesentralisasi AMDAL

Proposal Awal. Disusun secara spesifik untuk kegiatan percontohan yang sedang
dipertimbangkan, menawarkan rancangan dan pendekatan yang dianggap paling strategis saat
ini. Proposal dalam laporan ini mengusulkan bentuk pelaksanaan yang menghasilkan gagasan-
gagasan yang lebih konkrit untuk mendesentralisasi AMDAL dengan mengembangkan ‘Model-
Model AMDAL Spesifik-Daerah’.

Program Reformasi AMDAL – Menghubungkan Kemiskinan, Lingkungan dan Desentralisasi

Laporan Akhir Proyek Daerah. Untuk mendukung upaya Revitalisasi AMDAL Kementerian
Lingkungan Hidup, sebuah Proyek Percontohan Daerah telah diadakan sebagai bagian dari
Program Reformasi AMDAL – Menghubungkan Kemiskinan, Lingkungan dan Desentralisasi”
oleh Bank Dunia.

Konsultasi AMDAL

KLH – Lokakarya AMDAL Daerah

Dari bulan April sampai Oktober 2004, KLH dengan sebagian dukungan dari Bank Dunia
menyelenggarakan serangkaian lokakarya tingkat nasional dan daerah untuk mempresentasikan,
membahas, dan menjelaskan kepada para pejabat lingkungan hidup dan pejabat pemerintah lain
gagasan-gagasan utama dari program Revitalisasi AMDAL yang disponsori oleh KLH yang
dilaksanakan dari tahun 2004 sampai 2006.

AMDAL dan Pelaksanaannya

Pelaksanaan AMDAL masih menjadi salah satu tema reformasi AMDAL yang diusulkan oleh
KLH. Pada tanggal 9 Juni 2004, KLH mengadakan sebuah lokakarya nasional tentang Analisa
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan pelaksanaannya, dan mengundang Bank Dunia
untuk memberikan ulasan dari perspektif pengalaman internasional.

Apa yang Dilakukan untuk AMDAL?

Pada tanggal 30 Mei 2005, Tim AMDAL Bank Dunia mengadakan lokakarya satu hari di Jakarta
untuk membagikan dan membahas temuan-temuan penting dan implikasinya terhadap Program
Revitalisasi AMDAL Pemerintah dalam rancangan laporan akhir tentang praktek AMDAL yang
baik di Indonesia dan pelajaran yang dipetik dari pengalaman internasional.

Keterlibatan Masyarakat dalam AMDAL

Pada tanggal 20 Juni 2005, Qipra Galang Kualita memfasilitasi acara konsultasi tingat nasional
selama satu hari untuk membagikan dan membahas temuan-temuan penting dari studi tentang
partisipasi masyarakat dan akses ke informasi AMDAL sebelum menyelesaikan dan
menyampaikan laporan kepada KLH. Para peserta penting yang hadir antara lain meliputi para
wakil dari sektor swasta, instansi pemerintah daerah dan pusat, LSM, dan komunitas donor
internasional.

Pembahasan mengenai Peningkatan Efektivitas dan Efisiensi AMDAL

Pada tanggal 14 dan 22 Februari 2006, di Surabaya dan Jakarta, Tim AMDAL KLH mengadakan
pertemuan dengan para stakeholder AMDAL dari daerah-daerah lain (yaitu Pemerintah Provinsi
Jawa Barat dan Jawa Timur) untuk membahas gagasan-gagasan yang timbul dari percontohan
daerah mengenai caranya meningkatkan proses AMDAL saat ini. Dalam setiap diskusi, diundang
sekitar 25 sampai 30 peserta.

Instrumen Kebijakan Alternatif untuk Pengelolaan Lingkungan di Indonesia


Pada tanggal 16 Februari 2006 di Jakarta, KLH dan Bank Dunia mensponsori lokakarya untuk
mempresentasikan dan membahas dengan para wakil akademisi dan praktisi lingkungan hidup
temuan-temuan studi yang diadakan oleh Hatfield Indonesia. Tujuan utama studi ini adalah
untuk menilai potensi untuk memperkenalkan lebih banyak jenis instrumen kebijakan lingkungan
sebagai dasar untuk memperkuat AMDAL. Salah satu kelemahan yang diakui dari AMDAL
adalah bahwa AMDAL menjadi satu-satunya alat pengelolaan lingkungan dengan penerapan
yang luas sehingga cenderung dipergunakan secara berlebihan.

Sumber :

http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/COUNTRIES/EASTASIAPACIFICEXT/IND
ONESIAINBAHASAEXTN/0,,contentMDK:21562642~pagePK:141137~piPK:141127~theSite
PK:447244,00.html

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:12 0 komentar

AMDAL dan Pengrusakan Hutan

AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) merupakan sebuah dokumen yang menjadi
acuan bagi pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan pada sebuah unit
usaha ataupun proyek. Banyak pihak berpandangan bahwa dengan adanya AMDAL, maka
sebuah unit usaha akan melakukan pengelolaan lingkungan dengan baik dan benar.

Banyak pengalaman menyatakan bahwa Dokumen AMDAL sendiri terkadang tak pernah terbaca
ataupun dilihat oleh pihak pelaksana kegiatan/usaha. Apalagi di kalangan pemantau AMDAL,
ternyata juga sangat kurang mampu melakukan pemantauan seluruh unit usaha/kegiatan.
Dokumen AMDAL pun kemudian menjadi sekedar “kucing garong”, kalau pun tak ingin disebut
sebagai “macan kertas”.

Belum lagi, dalam proses penyusunan AMDAL, akan menghabiskan begitu banyak kertas. Satu
set dokumen AMDAL saja (sejak kerangka acuan hingga dokumen final), menghabiskan tidak
kurang dari 3 rim kertas. Belum lagi bila terjadi kesalahan dalam proses pembuatannya, bisa
mencapai 5 rim kertas. Dalam setiap kali sidang komisi AMDAL, selalu dihadiri tidak kurang 25
perwakilan lembaga. Artinya akan dihabiskan 75 rim kertas untuk sebuah dokumen AMDAL
atau sekurangnya satu batang pohon.

Dapat dihitung kemudian, telah berapa banyak dokumen AMDAL yang harus diproduksi. Begitu
banyaknya perijinan dan kegiatan proyek yang memerlukan dokumen AMDAL, menjadikan
semakin banyak diperlukan kertas, yang artinya akan menghabiskan pepohonan. Apalagi selama
ini, produksi kertas (dan bubur kertas) dihasilkan dari penghilangan paksa hutan alam. Belum
termasuk hitungan bencana lingkungan yang dihasilkan oleh pabrik bubur kertas dan kertas.

AMDAL, harusnya menggunakan cara baru dalam proses penilaiannya. Penggunaan e-dokumen
dalam penyusunan AMDAL harusnya bisa dilakukan. Sehingga diharapkan semakin berkurang
penggunaan kertas dalam penyusunan dokumen AMDAL. Kementerian Lingkungan Hidup pun
sudah harus mulai mengkampanyekan e-office dan mulai melakukan paperless dalam proses
perijinan dan dokumen lingkungan. Agar tak terlalu banyak kertas yang dihabiskan, hingga tak
banyak pohon yang harus ditebang.

Sumber :

http://timpakul.web.id/amdal-dan-pengrusakan-hutan.html

13 Maret 2008

Diposkan oleh empat tiga blog di 00:11 0 komentar

Kelayakan AMDAL Jembatan Suramadu

Kelayakan Jembatan Suramadu

Analisis kelayakan ekonomi dilakukan dengan asumsi bahwa biaya konstruksi jembatan adalah
2.3 triliun Indikator yang digunakan adalah BCR dengan tingkat suku bunga adalah 12 % dan
umur rencana 30 tahun. Dari kajian yang dilakukan diperoleh nilai BCR 10.1 yang
mengindikasikan bahwa jembatan tersebut layak secara ekonomi.(BenefitCost Ratio).
Layak Secara Ekonomi
Amdal

Dari dokumen Analisis Dampak Lingkungan (Amdal), kemudian ditindaklanjuti dengan


pelaksanaan Andal. Studi Andal untuk Jembatan Suramadu telah dilakukan oleh BPPT tahun
1992. Seiring dengan penundaan waktu dan perubahan yang terjadi, selama waktu penundaan
serta Peraturan Pemerintah No 27.

Masalah lingkungan akan tetap kami perhatikan , dengan demikian akan dicapai manfaat
pembangunan yang optimum dengan pengurangan dampak negatif.

tahun 1999 tentang kegiatan yang berpotensi memberikan dampak lingkungan, maka studi
tersebut perlu diulang (review) kembali. Studi ulang Andal tersebut dilakukan sejak tahun 2003
dengan pelaksanaannya bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tahap
awal yang dilakukan adalah sosialisasi dan penyusunan Kerangka Acuan (KA)-Andal, dan
dilanjutkan dengan penyusunan Andal, Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL). Pelaksanaannya kembali bekerjasama dengan ITS.

Seperti halnya proyek-proyek besar lainnya, pembangunan Jembatan Suramadu dan jalan
aksesnya diperkirakan akan menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap lingkungan
sekitar. Wilayah yang diperkirakan terkena dampak adalah Kecamatan Tambaksari, Bulak dan
Kenjeran di Surabaya, Kecamatan Labang, Tragah dan Burneh di Kabupaten Bangkalan
(Madura), serta alur Selat Madura yang merupakan sarana lalu- lintas dan sumber mata
pencaharian nelayan. Karena itu analisis yang mendalam dan teliti sangat perlu dilakukan,
sekaligus menyusun langkah antisipasinya.
Tujuan studi Amdal Jembatan Suramadu adalah:
Mengidentifikasi rencana pembangunan Jembatan Suramadu serta jalan aksesnya yang
diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan geofisika-kimia, biologi dan
social-ekonomi-budaya, langsung atau tidak langsung Memperkirakan dan mengevaluasi
dampak penting yang akan terjadi pada lingkungan serta akibat dari kegiatan-kegiatan yang
dilakukan saat pelaksanaan maupun pengoperasian Jembatan Suramadu dan jalan aksesnya.

Mengidentifikasi rona lingkungan awal yang terkena dampak. Menyusun Rencana Pengelolaan
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Hasil penelitian dan evaluasi
dari Andal ini digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk melakukan tindakan
pengelolaan dan pemantauan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Dengan demikian akan
dicapai manfaat pembangunan yang optimum dengan pengurangan dampak negatif.
Sosialisasi

Masalah tentang Kehadiran Jembatan Suramadu


Sosialisasi atau pendekatan masyarakat yang terkait dengan masalah lingkungan perlu dilakukan
untuk menghindari sudut pandang yang berbeda. Di tingkat propinsi telah dilakukan dengan
mengundang seluruh komponen dan elemen masyarakat Madura dan Surabaya dalam Review
Publik Amdal.

Proses sosialisasi juga dilakukan hingga tingkat kecamatan, baik di sisi Madura maupun

Surabaya. Secara umum dari hasil sosialisasi ini, masyarakat di kedua sisi menerima kehadiran
pembangunan Jembatan Suramadu dan jalan aksesnya. Beberapa hal ekses negatif seperti
dampak debu dan kebisingan akibat kegiatan konstruksi juga telah diantisipasi.

Masalah nelayan sempat menjadi perhatian. Jumlah tangkapan yang menurun yang menjadi
alasan pemicunya. Sebuah demo kecil bahkan sempat terjadi oleh nelayan di Tambak Wedi yang
menuntut ganti rugi. Pihak pelaksana tidak menutup mata. Masalah ini menjadi perhatian dan
dilakukan penyelesaian. Akhirnya kata sepakat bertemu. Ganti rugi tidak diwujudkan dalam
bentuk materi kepada perorangan, tetapi berupa perbaikan fasilitas umum, seperti balai
pertemuan nelayan. Setelah itu hubungan dengan masyarakat nelayan menjadi mencair dan
harmonis.

Dengan tahapan dan persiapan studi kelayakan yang terpadu dan keterlibatan masyarakat sekitar
di dua sisi, membuat pembangunan Jembatan Suramadu ini dapat berjalan tanpa banyak
benturan. Perhitungan teknis serta semangat turut merawat dan mengembangkan lingkungan
dapat berjalan beriringan

Sumber :

http://www.suramadu.com/study/amdal/kelayakan-amdal.html