Anda di halaman 1dari 9

Nomor Peserta : 19052415410025

Nama Lengkap : HAQIQI NURMADANIA

Prodi PPG : [154] Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)

SUB : Tugas Akhir Modul 3 Profesioanl

Instructions and answer

1. Penyakit budaya, seperti: prasangka, stereotipe, etnosentrisme


dan diskriminatif menjadi salah satu bentuk ancaman disintegrasi
bangsa. Bagaimana menurut Anda, upaya antisipasi untuk
mencegah tumbuh kembangnya penyakit budaya tersebut, pada
masyarakat mejemuk di Indonesia. Berikan analisis secara
komprehensif.

Jawaban :

1. Berikut pendapat saya mengenai upaya antisipasi untuk mencegah


tumbuh kembangnya penyakit budaya pada masyarakat mejemuk
di Indonesia :

a. Prasangka
Prasangka : Adalah membuat keputusan sebelum mengetahui fakta yang relevan mengenai
objek tersebut. Awalnya istilah ini merujuk pada penilaian berdasar ras seseorang sebelum
memiliki informasi yang relevan yang bisa dijadikan dasar penilaian tersebut. Selanjutnya
prasangka juga diterapkan pada bidang lain selain ras. Pengertiannya sekarang menjadi
sikap yang tidak masuk akal yang tidak terpengaruh oleh alasan rasional
John E. Farley mengklasifikasikan prasangka ke dalam tiga kategori
 Prasangka kognitif, merujuk pada apa yang dianggap benar.
 Prasangka afektif, merujuk pada apa yang disukai dan tidak disukai.
 Prasangka konatif, merujuk pada bagaimana kecenderungan seseorang dalam
bertindak.
Beberapa jenis diskriminasi terjadi karena prasangka dan dalam kebanyakan
masyarakat tidak disetujui.
Berikut berbagai cara untuk mengatasi prasangka:
 Memutuskan siklus prasangka: belajar tidak membenci karena dapat
membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dengan cara mencegah orang tua
dan orang dewasa lainnya untuk melatih anak menjadi fanatic.
 Berinteraksi langsung dengan kelompok berbeda: i) contact hypothesis—
pandangan bahwa peningkatan kontak antara anggota dari berbagai
kelompok sosial dapat efektif mengurangi prasangka diantara mereka.
Usaha-usaha tersebut tampaknya berhasil hanya ketika kontak tersebut
terjadi di bawah kondisi-kondisi tertentu. ii) extended contact hypothesis—
sebuah pandangan yang menyatakan bahwa hanya dengan mengetahui
bahwa anggota kelompoknya sendiri telah membentuk persahabatan dengan
anggota kelompok out-group dapat mengurangi prasangka terhadap
kelompok tersebut.
 Kategorisasi ulang batas antara “kita” dan “mereka” hasil dari kategorisasi
ulang ini, orang yang sebelumnya dipandang sebagai anggota out-group
sekarang dapat dipandang sebagai bagian dari in-group.
 Intervensi kognitif: memotivasi orang lain untuk tidak berprasangka,
pelatihan (belajar untuk mengatakan “tidak” pada stereotype).
 Pengaruh social untuk mengurangi prasangka.

Dampak bagi orang yang menjadi obyek prasangka:


 Membentuk sikap rasial dan stereotip terhadap mereka sendiri
 Makin kuat seseorang menjadi bagian dari minoritas dan
mengidentifikasikan diri maka makin sensitive terhadap prasangka halus dan
makin kuat bereaksi terhadap prasangka tersebut.

b. stereotipe
Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana
orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara
intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan
keputusan secara cepat. Namun, stereotipe dapat berupa prasangka positif dan juga negatif, dan kadang-
kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Sebagian beranganggapan bahwa segala
bentuk stereotipe adalah negatif.
Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan
sepenuhnya dikarang-karang. Berbagai disiplin ilmu memiliki pendapat yang berbeda mengenai asal mula
stereotipe: psikolog menekankan pada pengalaman dengan suatu kelompok, pola komunikasi tentang
kelompok tersebut, dan konflik antarkelompok. Sosiologmenekankan pada hubungan di antara kelompok
dan posisi kelompok-kelompok dalam tatanan sosial. Para humanis berorientasi psikoanalisis,
semisal Sander Gilman) menekankan bahwa stereotipe secara definisi tidak pernah akurat, namun
merupakan penonjolan ketakutan seseorang kepada orang lainnya, tanpa mempedulikan kenyataan yang
sebenarnya. Walaupun jarang sekali stereotipe itu sepenuhnya akurat, namun beberapa penelitian statistik
menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus stereotipe sesuai dengan fakta terukur.
Dampak Stereotip
Adapun beberapa dampak yang timbul karena fenomena stereotip adalah antara lain
sebagai berikut :

Memengaruhi Diri
Tindakan stereotip ternyata mampu mempengaruhi apa pun yang dirasa dan diingat
yang berkaitan dengan tindakan anggota-anggota dari kelompok lain pada diri kita.
Hal ini bisa ke arah baik ataupun buruk.

Menganggap Ada Derajat Yang Tinggi


Memang benar adanya, terkadang stereotip berada pada derajat kebenaran yang
tinggi, tapi tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena, pihak-pihak yang stereotip
tidak mengenal dengan baik pihak atau komunitas yang lain.

Visualisasi yang Berlebihan


Pihak dengan perilaku stereotip akan membuat penyederhanaan visual dengan cara
yang berlebihan terhadap anggota atau komunitas yang lain, dengan cara
menyamakan perilaku mereka sebagai tipikal yang sederajat.
Subyektif dan Bias dalam Bersikap
Bertindak baik dan ramah hanya pada pihak-pihak tertentu, curiga atau tidak
percaya pada pihak yang lainnya merupakan efek dari stereotip, yakni bertindak
“pilih-pilih”. Meskipun apa yang dipikirkan dalam kepala belum tentu semuanya
benar.

Membatasi Pergaulan
Dampak ironis stereotip bahwa pihak-pihak yang sudah cinta pada stereotip tentu
akan membatasi pergaulannya hanya dengan pihak-pihak tertentu dan ini adalah
dampak terburuk dari stereotip.

Contoh Stereotip
Beberapa contoh stereotip dalam kehidupan adalah antara lain sebagai berikut:

Stereotip Musik
Stereotip yang melekat pada masyarakat bahwa orang atau masyarakat Ambon
adalah orang-orang yang pandai bernyanyi serta bermain alat musik. Hal ini karena
banyak penyanyii yang muncul ke publik berasal dari Ambon, seperti Glen Fredly,
Andre Hehanusa, Ade Manuhutu, Harvey Malaihollo, dan lain sebagainya yang
masih banyak.

Stereotip Pekerjaan
Stereotip ini di beberapa tempat masih terjadi, baik secara eksplisit atau implisit.
Perempuan bukan pencari nafkah utama keluarga, sehingga yang bekerja dianggap
sebagai “sambilan”. Selain itu, banyak pekerjaan perempuan yang dianggap tidak
bermoral seperti sebagai pelayan di tempat-tempat minum, tukang pijat, atau
pekerjaan yang dilakukan pada malam hari.

Stereotip Gender
Dewasa ini, masih ada stereotip seorang pemimpin yang berhasil sering kali
diidentikkan dengan peran jenis kelamin laki-laki. Kenyataannya, banyak pemimpin
perempuan di dunia terbukti berhasil melaksanakan tugas kepemimpinannya di
berbagai bidang seperti bidang organisasi bisnis, pemerintahan, keuangan dan
pendidikan.

Stereotip Perilaku Suku Tertentu


Stereotip perilaku suku tertentu ini misalnya saja kita ambil contoh orang Madura
seringkali dipandang dengan cepat tersinggung, pemarah, suka berkelahi, kasar,
dan kuat. Jika orang Madura dipermalukan, akan keluar belati dengan segera
membalas dendam hinaan yang diterimanya, juga menunggu sampai kesempatan
datang untuk membalas dendam.

Upaya mencegah Stereotip sama dengan prasangka dapat dilakukan dengan

 Memutuskan siklus Stereotip : belajar tidak membenci karena dapat


membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dengan cara mencegah orang tua
dan orang dewasa lainnya untuk melatih anak menjadi fanatic.
 Berinteraksi langsung dengan kelompok berbeda: i) contact hypothesis—
pandangan bahwa peningkatan kontak antara anggota dari berbagai
kelompok sosial dapat efektif mengurangi Stereotip diantara mereka. Usaha-
usaha tersebut tampaknya berhasil hanya ketika kontak tersebut terjadi di
bawah kondisi-kondisi tertentu. ii) extended contact hypothesis—sebuah
pandangan yang menyatakan bahwa hanya dengan mengetahui bahwa
anggota kelompoknya sendiri telah membentuk persahabatan dengan
anggota kelompok out-group dapat mengurangi prasangka terhadap
kelompok tersebut.
 Kategorisasi ulang batas antara “kita” dan “mereka” hasil dari kategorisasi
ulang ini, orang yang sebelumnya dipandang sebagai anggota out-group
sekarang dapat dipandang sebagai bagian dari in-group.
 Intervensi kognitif: memotivasi orang lain untuk tidak bersikap Stereotip,
pelatihan (belajar untuk mengatakan “tidak” pada stereotype).
 Pengaruh social untuk mengurangi Stereotip.

c. etnosentrisme
Etnosentrisme adalah penilaian terhadap kebudayaan lain atas dasar nilai dan standar budaya sendiri.
Orang-orang etnosentris menilai kelompok lain relatif terhadap kelompok atau kebudayaannya sendiri,
khususnya bila berkaitan dengan bahasa, perilaku, kebiasaan, dan agama. Perbedaan dan pembagian
etnis ini mendefinisikan kekhasan identitas budaya setiap suku bangsa. Etnosentrisme mungkin tampak
atau tidak tampak, dan meski dianggap sebagai kecenderungan alamiah dari psikologi manusia,
etnosentrisme memiliki konotasi negatif di dalam masyarakat.

Upaya mencegah etnosentrisme


 Bersikap terbuka
Supaya komunikasi dapat berhasil, masing-masing pihak perlu berpikir terbuka dan
terbiasa dengan berbagai pemikiran. Kemampuan ini akan membantu kita mengendalikan
pandangan dan tanggapan kita terhadap sesuatu hal. Sehingga, output yang keluar tidak
hanya berdasarkan pendapat pribadi, melainkan sesuatu yang bersifat umum dan bisa
diterapkan atau dipahami oleh pihak lain. Sikap yang terbuka ini berasal dari pola pikir
bahwa setiap orang memiliki pendapat masing-masing dan kita tidak bisa menilai hanya
dari persepsi diri sendiri.

 Memahami, mengakui, dan menerima adanya perbedaan


Cara selanjutnya untuk menghadapi etnosentrisme dalam komunikasi adalah dengan
menghargai perbedaan. Pahami bahwa setiap orang memiliki perbedaan. Bahkan, dalam
satu suku saja masing-masing individu dapat memiliki keyakinan atau kepercayaan yang
berbeda. Karena pada dasarnya, manusia menciptakan lingkungan atau budaya sendiri
sebagai proses adaptasi terhadap lingkungan fisik maupun biologis. Dan seiring
berjalannya waktu, perubahan-perubahan lain akan terus terjadi karena munculnya
penemuan baru, penyebaran kebudayaan, dan penerimaan kebudayaan. Inilah mengapa
setiap suku di Indonesia memiliki pandangan dan nilai-nilai yang berbeda. Nilai-nilai yang
telah tertanam sejak lahir ini yang akhirnya mempengaruhi individu dalam menilai dan
menyikapi sesuatu hal. Etnosentrisme mungkin tidak akan berpengaruh pada masyarakat
yang memiliki banyak persamaan, namun masalah akan timbul apabila mereka
berkomunikasi dengan masyarakat dari budaya luar atau bahkan dari negara yang
berbeda. Ketidakmampuan untuk memahami hakikat perbedaan menjadi salah satu
penyebab kegagalan komunikasi antar budaya.

 Memandang perbedaan sebagai kekayaan


Etnosentrisme mungkin masih dapat dipertahankan, namun dengan batasan tertentu dan
dengan pemahaman yang berbeda mengenai sebuah perbedaan. Di satu sisi,
etnosentrisme dapat mempererat kekeluargaan dan dapat saling memberikan rasa aman
dalam suatu kelompok.
Ini merupakan hal yang positif. Namun, apabila konteksnya mulai meluas, perlu adanya
pandangan baru akan makna sebuah perbedaan. Perbedaan bukan untuk mengotak-
kotakkan, melainkan untuk memberikan warna, suasana, dan hal-hal yang baru.
 Hindari sikap menghakimi
Seperti yang telah disinggung di poin nomor satu, pemikiran yang terbuka dapat membuat
kita terbiasa dengan pemikiran baru, sehingga kita dapat mengontrol output yang keluar
dari diri kita. Dan salah satu bentuk kontrol tersebut adalah dengan menghindari sikap
menghakimi orang lain. Apabila kita sedang berkomunikasi, terutama dengan orang yang
memiliki latar belakang yang berbeda, posisikan dia sejajar dengan kita.

 Jangan membuat asumsi dini


Apabila seseorang menyampaikan pemikirannya, dengarkan dan hargai pendapatnya.
Jangan memberikan asumsi sebelum benar-benar melihat dari sudut pandangnya,
sehingga kita juga dapat menangkap apa yang ia maksud sesuai dengan jalan pikirannya.

Dengan begitu, satu dengan yang lain dapat saling mengisi dan memberi masukan. Karena
apabila kita ingin dihargai, maka kita juga harus menghargai orang lain.

Bangun kerjasama dan komunikasi dengan individu dan budaya lain


Untuk membiasakan diri terhadap perbedaan, Anda perlu terbiasa menjalin komunikasi
dengan setiap orang, sekalipun mereka memiliki latar belakang dan budaya yang bertolak
belakang dengan Anda. Apabila sudah terbiasa, Anda akan lebih mampu untuk menilai
sesuatu dari berbagai sisi dan pertimbangan.

d. Diskriminasi
Diskriminasi merujuk kepada pelayanan yang tidak adil terhadap individu tertentu, di mana
layanan ini dibuat berdasarkan karakteristik yang diwakili oleh individu tersebut. Diskriminasi
merupakan suatu kejadian yang biasa dijumpai dalam kehidupan Masyarakat, ini disebabkan
karena kecenderungan sikap manusia yang lebih suka membeda-bedakan yang lain.
Ketika seseorang diperlakukan secara tidak adil karena
karakteristik suku, antargolongan, kelamin, ras, agama dan kepercayaan, aliran politik,
kondisi fisik atau karateristik lain yang diduga merupakan dasar dari tindakan diskriminasi.
Diskriminasi terbagi menjadi beberapa bagian :
 Diskriminasi langsung, terjadi saat hukum, peraturan atau kebijakan jelas-jelas
menyebutkan karakteristik tertentu, seperti jenis kelamin, ras, dan sebagainya, dan
menghambat adanya peluang yang sama.
 Diskriminasi tidak langsung, terjadi saat peraturan yang bersifat netral menjadi
diskriminatif saat diterapkan di lapangan.

Upaya untuk mencegah dikriminasi :


 Menumbuhkan sikap kerukunan dan persatuan sejak dini.
menghargai perbedaan suku ras agama.
menghormati kebudayaan daerah lain dan ikut serta dalam pengawasannya.
hidup tenggangrasa
2. Panca Gatra yang meliputi aspek IPOLEKSOSBUDHANKAM,
dievaluasi masih banyak kelemahan dalam implementasinya untuk
menjaga keutuhan NKRI. Berikan analisis secara komprehensif
terhadap kondisi tersebut.
Jawaban :
Berikut adalah kelemahan yang teradapat dalam implementasi dari Panca Gatra yang
dimana berguna untuk menjaga NKRI

1. Berdasarkan aspek Ideologi


Dalam sebuah aspek idelogi, Pancasila dalam hal ini kemudian akan sedikit demi sedikit
untuk mulai terkikis dari sebuah kehidupan untuk berbangsan dan juga bernegara.
Kemudian, pada saat ini pula ilai Pancasila yang dimana terkandung dalam Pancasila
sendiri yang dimana terdiri atas beberapa macam sila tersebut tidak termaknai dengan baik
yang dimana dilakukan dalam pelaksanaan dari kehidupan yang dimana berbangsa dan
juga bernegara.

Hal ini dikarenakan Pancasila untuk masyarakat Indonesia sendiri tidak dapat termaknai
dengan baik hingga pada keseharianya tersebut dan juga pada pola tindakan yang dimana
akan memperlihatkan rendahnya terhadap berbagaimacam pengaruh yang dimana berasal
dari luar yang dimana mengedepakan sebuah kebutuhan metaril.

2. Aspek Politik
Dalam hal ini Panca Gatr kemudian memiliki sebuah kemampuan untuk melakukan
penilaian terhadpa sumber daya ada untuk tidak menimulkan seuah perpecahan yang
dimana kemudian dapat digunakan untuk melakukan sebuah pembangunan. Yang dimana
apabila sebuah kondisi politik pada sebuah negara stabil maka rasa aman akan hadir
untuk mempertahankan persatuan terhadap bangsa dan juga kesatuan dari nasional.
Tetapi fakta yang ada adalah sikap politik yang dimana terdapat pada pejabat negara
tidaklah sesuai dengan yang diharapkan, sikap politik tersebut kemudian memperlihatkan
berbagaimacam provokasi terhadap berbagaimacam isu yang dimana memecah persatuan
dan kesatuan bangsa seperti ras, suku, agama dan juga golongan.

3. Aspek Ekonomi
Gatra seharusnya meningkatkan ekonomi, tetapi saat ini banyak praktik korupsi dan juga
markup yang merugikan negara

4. Aspek Budaya
Gatra sosial sejatinya mengajarkan nilai dan juga kebudayaan Indonesia, tetapi kini sudah
banyak perilaku dari masyarakat yang dimana semakin menjauh dengan nilai sosial.

5. Aspek Pertahanan dan Keamanan


Ancaman berdatangan dari dalam dan luar negeri. Seperti terjadinya aksi terorisme yang
dimana datang dari dalam negeri dan ancaman dalam konflik internasional terkait dengan
perbatasan dengan negara Malaysia dan China.
3. Dalam upaya mewujudkan integrasi nasional Indonesia, salah satu
tantangan yang dihadapi berakar pada perbedaan suku, agama,
ras, dan geografi. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi
terutama menjamurnya social media dan kebebasan berpendapat
saat ini, potensi konflik dan perpecahan yang berawal dari hal-hal
sepele seperti membuat pernyataan atau memberi komentar di
sebuah akun social media bisa saja terjadi. Menurut Anda,
bagaimana menyikapi hal ini? dan bagaimana peran seorang
pendidik dalam mewujudkan generasi milenial yang berintegritas
nasional?
4. Tuliskan pengalaman hidup Anda terkait dengan peristiwa,
kejadian atau sikap-sikap positif yang muncul dalam kehidupan
sehari-hari di masyarakat yang mencerminkan toleransi terhadap
keberagaman!