Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN MANAGEMENT Agustus 2017

INFEKSI MENULAR SEKSUAL


(IMS)

DISUSUN OLEH:
NAMA : Miatunnisa Aljaru, S.Ked

STAMBUK : N 111 17 051

PEMBIMBING : dr. I Njoman Widadjandja, M.Kes

PEMBIMBING LAPANGAN : dr. Benny Siyulan, M.Kes

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit menular seksual (PMS) adalah infeksi yang disebabkan oleh


bakteri, virus, parasit atau jamur, yang penularannya terutama melalui
hubungan seksual dari seseorang yang terinfeksi kepada mitra seksualnya.
Penyakit Menular Seksual (PMS) merupakan salah satu dari sepuluh
penyebab pertama penyakit yang tidak menyenangkan pada dewasa muda
laki- laki dan penyebab kedua terbesar pada dewasa muda perempuan di
negara berkembang.1
Menurut World Health Organization (WHO, 2011) sebanyak 70% pasien
wanita dan beberapa pasien pria yang terinfeksi gonore atau klamidia
mempunyai gejala yang asimptomatik. Antara 10% – 40% dari wanita yang
menderita infeksi klamidia yang tidak tertangani akan berkembang menjadi
pelvic inflammatory disease. Penyakit menular seksual juga merupakan
penyebab infertilitas yang tersering, terutama pada wanita.2
Angka kejadian PMS dari 340 juta kasus baru yang dapat disembuhkan
(sifilis, gonore, infeksi klamidia, dan infeksi trikomonas) terjadi setiap
tahunnya pada laki-laki dan perempuan usia 15- 49 tahun. Secara
epidemiologi penyakit ini tersebar di seluruh dunia, angka kejadian paling
tinggi tercatat di Asia Selatan dan Asia Tenggara, diikuti Afrika bagian
Sahara, Amerika Latin, dan Karibean. Di Amerika, jumlah wanita yang
menderita infeksi klamidial 3 kali lebih tinggi dari laki- laki. Dari seluruh
wanita yang menderita infeksi klamidial, golongan umur yang memberikan
kontribusi yang besar ialah umur 15-24 tahun.2
Prevalensi PMS di negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan di negara maju. Pada perempuan hamil di dunia, angka kejadian
gonore 10 – 15 kali lebih tinggi, infeksi klamidia 2 – 3 kali lebih tinggi, dan
sifilis 10 – 100 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka kejadiannya

2
pada perempuan hamil di negara industri. Pada usia remaja (15 – 24 tahun)
merupakan 25% dari semua populasi yang aktif secara seksual, tetapi
memberikan kontribusi hampir 50% dari semua kasus PMS baru yang
didapat. Kasus-kasus PMS yang terdeteksi hanya menggambarkan 50% -
80% dari semua kasus PMS yang ada di Amerika. Ini mencerminkan
keterbatasan “screening” dan rendahnya pemberitaan akan PMS.1
Di Indonesia, berdasarkan Laporan Survei Terpadu dan Biologis Perilaku
(STBP) oleh Kementrian Kesehatan RI (2011), prevalensi penyakit menular
seksual (PMS) pada tahun 2011 dimana infeksi gonore dan klamidia sebesar
179 % dan sifilis sebesar 44 %.1
Berdasarkan profil PKM Talise jumlah kasus penyakit infeksi menular
seksual pada tahun 2013, 2014 dan 2015 masing-masing adalah 218 kasus,
276 kasus dan 492 kasus dan tahun 2016 ada sekitar 700 kasus. Dari data
tersebut terlihat bahwa kasus Penyakit IMS di PKM Talise dari tahun ke
tahun meningkat, hal ini dikarenakan salah satu tempat lokalisasi termasuk ke
dalam wilayah kerja PKM Talise. Berdasarkan kasus yang didiagnosis
sebagai bacterial vagonosis yang termasuk salah satu penyakit infeksi
menular seksual, maka program yang berkaitan adalah program pencegahan
dan pengobatan penyakit IMS yang akan dibahas lebih lanjut dalam laporan
ini.

1.2 Gambaran Umum Puskesmas Talise


Puskesmas Talise memiliki visi berupa “Terwujudnya Pelayanan
Kesehatan Yang Bermutu, Adil, Dan Merata Menuju Kecamatan
Mantikulore Yang Lebih Sehat”. Selain itu Puskesmas Talise memiliki 5
misi yang ingin di capai diantaranya:
1) Mendorong kemandirian masyaratakat dibidang kesehatan melalui
kerjasama lintas sektor;
2) Meningkatkan akses kesehatan yang adil dan merata serta terjangkau oleh
semua lapisan masyarakat;
3) Mendorong masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat baik secara
perorangan dan kelompok;

3
4) Mengembangkan dan meningkatkan kualitas SDM serta sasaran dan
prasarana puskesmas berdasarkan IPTEK dan IMTAQ;
5) Meningkatkan mutu layanan dan kesejahteraan pegawai.
Moto dari puskesmas talise sendiri adalah ”KEDATANGAN DAN
KEPUASAN ANDA ADALAH HARAPAN KAMI”.
Puskesmas Talise berada di wilayah kecamatan Mantikulore yang
memiliki luas wilayah 82.53 km2 dan secara administratif pemerintahan
terdiri atas 3 kelurahan, 29 RW serta 102 RT. Wilayah kerja Puskesmas
Talise mencakup tiga kelurahan yaitu :

 Kelurahan Talise
 Kelurahan Tondo
 Kelurahan Layana
Peta Wilayah Kerja UPTD Urusan Puskesmas Talise

Adapun penyebaran jumlah RW dan RT dapat dilihat pada tabel di


bawah ini :

Luas Wilayah, RW dan RT dirinci menurut kelurahan UPTD Urusan


Puskesmas Talise Tahun 2014
Luas Wilayah
No. Kelurahan (km2) RW RT

1 Talise 12,37 km2 8 45

4
2 Tondo 55,16 km2 15 38
3 Layana Indah 15,00 km2 6 19

Puskesmas Talise 82,53 km2 29 102

Pembangunan kesehatan di Puskesmas Talise tahun 2014 memiliki 6


program pokok yang telah dilaksanakan yaitu :
1) Program Perilaku Sehat, Lingkungan Sehat, dan
Pemberdayaan Masyarakat (melalui upaya kesehatan berbasis masyarakat)
meliputi pokok program :
a. Pokok program peningkatan promosi kesehatan pada masyarakat
dengan strategipengembangan, penggerakan dan pembauran potensi
masyarakat sehingga diharapkan secara keseluruhan mampu menolong
diri sendiri dan berperan aktif dalam pembangunan kesehatan. Strategi
yang digunakan melalui
- Penyuluhan dengan melibatkan masyarakat
- Penyuluhan kesehatan dalam dan luar gedung yang terdiri :
 Langsung
 Tidak langsung
Terdapat empat bidang pokok dalam penyuluhan upaya kesehatan,yaitu :
 Penyuluhan dibidang peningkatan derajat kesehatan (promotif)
 Penyuluhan di bidang pencegahan (preventif)
 Penyuluhan dibidang pengobatan (kuratif)
 Penyuluhan dibidang pemulihan (rehabilitatif)
Puskesmas Talise telah memulai usaha penyuluhan kesehatan
dengan memaksimalkan sumber daya yang ada berpedoman pada
masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat.
Dengan indikator dan target 2014 sebagai berikut :
- Frekuensi penyuluhan :
 Dalam gedung :
 Penyuluhan bidang upaya kesehatan :109
kali
 Penyuluhan bidang pengobatan : setiap hari
kerja
 Penyuluhan bidang pemulihan : setiap hari
kerja
 Luar gedung :

5
 Penyuluhan bidang upaya kesehatan : 14 kali ( 14 x / bulan)
 Penyuluhan bidang pencegahan : 14 kali ( 14 x / bulan)
- Penyuluhan tidak langsung yang disampaikan dalam bentuk :
poster , leaflet, lembar balik.
b. Pokok program peningkatan kesehatan lingkungan pemukiman dan
penyediaan air bersih, dengan kegiatan-kegiatan sbb :
- Insfeksi sarana sanitasi dasar (SAB,TPS,SPAL dan Jaga) setiap
triwulan
- Pengawasan TTU, TPM dan TP2 setiap triwulan
- Kaporisasi sarana air bersih; sesuai kebutuhan
- Penyuluhan kesling setiap bulan (12 Kali).
c. Pokok program peningkatan peran serta masyarakat dengan
kegiatan-kegiatan sbb :
- Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM)
Dalam pembangunan kesehatan, peran serta masyarakat sangat
dibutuhkan dengan tujuan :
 Memantapkan fungsi keluarga melalui upaya kesehatan keluarga
 Peningkatan kemampuan seluruh anggota keluarga dalam
mencapai derajat kesehatan yang optimal.
 Terjaminnya tumbuh kembang balita dan anak pra sekolah secara
optimal
 Terwujudnya kemandirian anak sekolah untuk hidup sehat
 Peningkatan derajat kesehatan usia subur
 Peningkatan derajat kesehatan usia lanjut
- Upaya Kesehatan Institusi :
 Pemahaman bahwa pembangunan kesehatan merupakan
satu kesatuan dengan pembangunan nasional yang harus berjalan
bersama, sinergi dan saling menunjang
 Dukungan Pemerintah baik pusat maupun daerah terhadap
upaya kesehatan masyarakat
 Jaringan kemitraan lintas sektor, lintas program maupun
pihak lain
 Kerjasama petugas penyuluh lintas sektor dengan pedoman
yang seragam, memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
dengan memperhatikan sosial budaya masyarakat setempat.
2) Program peningkatan upaya kesehatan, meliputi pokok program :
a. Pokok program pelayanan kesehatan masyarakat dengan kegiatan
sbb :
- Pelayanan kesehatan dasar

6
- Pembinaan keluarga rawan
- Pembinaan PHN institusi
b. Pokok program pencegahan dan pemberantasan penyakit dengan
kegiatan sbb:
- P2 Demam Berdarah
- P2 ISPA
- P2 Malaria
- P2 Rabies
- P2 Kusta
- P2 Diare
- P2 TB Paru
- P2 Penyakit Menular Seksual
- VCT
- P2 Surveilans
- P2 Imunisasi
- P2 Kesehatan Haji
c. Pokok program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan KB dengan
kegiatan sbb :
- Penyuluhan Kesehatan Ibu dan Anak
- Pelayanan kesehatan keluarga
- Pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu melahirkan dan ibu
menyusui
- Pelayanan kesehatan bayi dan anak balita sesuai protap MTBS
- Pelayanan kesehatan lanjut usia (lansia)
3) Program perbaikan gizi masyarakat
Program perbaikan gizi masyarakat di puskesmas dan masyarakat dengan
program-program kegiatan sbb :
- Distribusi Vit. A, tablet Fe
- Pemantauan status gizi balita
- Lomba balita tingkat kecamatan
- Pemberian Makanan Tambaha (PMT) pada bayi gizi buruk
- Perbaikan gizi kelompok sasaran meliputi :
 Ibu hamil
 Ibu menyusui
 Ibu balita
 Usia Produktif
 Usia Lanjut
4) Program pengembangan sumber daya kesehatan meliputi
sebagai berikut :
a. Pokok program pendidikan dan pelatihan
Jumlah tenaga Puskesmas yang dilatih tehnis kesehatan
b. Pokok program jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat.

7
5) Program pengawasan obat, makanan dan bahan
berbahaya
Program pengawasan obat, makanan dan bahan berbahaya memiliki
kegiatan sbb:
Pendistribusian obat dari puskesmas ke pustu,polindes dan poskesdes
Penyuluhan Napza terhadap anak sekolah.
6) Program pengembangan kebijakan dan pembangunan
kesehatan dengan kegiatan :
- Penyelenggaraan standar minimal pelayanan kesehatan
- Pembuatan profil puskesmas
- Lokmin
Ada beberapa indikator yang digunakan untuk menggambarkan
angka kesakitan diantaranya gambaran 10 penyakit terbesar berdasarkan
kunjungan pasien yang ada di Puskesmas Talise tahun 2014.
Data 10 Penyakit Terbesar UPTD Urusan Puskesmas Talise

Tahun 2014

NO JENIS PENYAKIT JUMLAH KASUS

1 Penyakit lain pada saluran pernafasan bagian atas 3449

2 Infeksi akut lain pada saluran pernafasan bagian atas 3041

3 Gastritis 1649

4 Penyakit dan kelainan susunan syaraf lainnya 1577

5 Penyakit kulit alergi 1431

6 Penyakit hypertensi 1431

7 Penyakit pada sistim otot dan jaringan penyekat 1226

8 Penyakit jantung 939

9 Diare 899

10 Diabetes Melitus 857

Jumlah tenaga kesehatan yang ada di wilayah Puskesmas Talise Tahun


2015 berjumlah 58 orang yang tersebar di Puskesmas Induk, 3 Puskesmas
pembantu, 2 unit polindes dan 4 Poskesdes.

8
Adapun tenga yang ada di wilayah UPTD Urusan Puskesmas Talise
tahun 2014 dapat dilihat pada tabel berikut ini.

No Kategori Ketenagaan Kesehatan Jumlah

1. Dokter Umum 3
2. Dokter Gigi 1
3. Kesehatan Masyarakat 2
4. Perawat
SPK 1
AKPER 12
5. Bidan
S1 5
D3 9
6. Perawat Gigi 2
7. Farmasi
Apoteker 1
SMF 1
8. As. poteker 3

9
9. Analis /SMAK
1
10. D3 Kesehatan Lingkungan
1
11. SPPH
3
12. D3 Gizi
1
13. SMA
2
PTT
3

Jumlah 58

1.3 Rumusan Masalah

Pada laporan menejemen ini, permasalahan terkait program


penanggulangan Diabetes Melitus yang akan dibahas antara lain:
1. Bagaimana pelaksanaan program pencegahan dan pengobatan penyakit
Infeksi menular seksual di Puskesmas Talise?
2. Apa saja permasalahan yang menjadi kendala pada program pencegahan
dan pengobatan penyakit Infeksi menular seksual di Puskesmas Talise?

10
BAB II

PERMASALAHAN

Tujuan dari pelaksanaan program pecegahan dan pengobatan Infeksi


Menular Seksual ini terdiri atas dua yaitu tujuan umum : untuk meningkatkan
pengetahuan masyarakat populasi berisiko tinggi tentang penyakit infeksi menular
seksual, serta memiliki tujuan khusus sebaggai berikut:
1) Dengan meningkatnya pengetahunan masyarakat/ populasi berisiko tentang
IMS, diharapkan mereka dapat ikut berperan secara aktif dalam upaya
pencegahan dan penularan IMS.
2) Meningkatkan jumlah masyarakat / populasi berisiko tinggi yang dating ke
IMS untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan.
3) Untuk diagnosis dini penyakit IMS.
Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan program pencegahan dan
pengobatan Infeksi Menular Seksual adalah :
1.Input : sarana dan prasarana yang masih kurang dalam pelaksanaan
program dan pengobatan Infeksi Menular Seksual. Tempat pelaksanaan
kegiatan saat turun lapangan terutama di tempat lokalisasi yang kurang
layak karena tempatnya yang kurang bersih, banyak bekas-bekas jarum

11
suntik berserakan di lantai dan hal ini kurang safety untuk petugas
kesehatan yang datang berkunjung ke tempat tersebut. Masalah yang
kedua adalah maslah pemeriksaan penunjang yaitu peneriksaan
mikroskopis yang tidak dilakukan karena mikroskop di PKM rusak.
Masalah yang ketiga adalah pemeriksaan IVA juga selalu dilakukan pada
pasien-pasien yang datang di poli, apabila positif maka akan terus di
follow up dan mendapatkan krioterapi, tetapi saat ini krioterapi rusak.
2.Proses : Pelaksanaan turun lapangan terutama di area lokasisasi dari yang
biasanya dua kali sebulan, menjadi sebulan sekali. hal ini dikarenakan
tempat yang kurang layak karena tempatnya yang kurang bersih, banyak
bekas-bekas jarum suntik berserakan di lantai dan hal ini kurang safety
untuk petugas kesehatan yang datang berkunjung ke tempat tersebut.
Untuk pelaksanaan Pemeriksaan dan pengobatan IMS kendala yang
biasanya ditemukan adalah pasien yang tidak bersedia untuk diperiksa,
karena merupkan hal yang sensitif, dan tidak dapat dipaksakan untuk tetap
dilakukan pemeriksaan.
3. Output : Jumlah Kunjungan di Poli IMS ada kalanya mengalami
penurunan.

12
BAB III
PEMBAHASAN

Program pencegahan dan pengobatan penyakit InfeksI Menular Seksual (IMS)


ditujukan untuk mencegah dan mengurangi risiko penularan infeksi menular
seksual serta mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat IMS pada individu,
keluarga dan masyarakat, agar individu, keluarga dan masyarakat menjadi
produktif dan bermanfaat untuk pembangunan.

Kegiatan pokok dari program ini terdiri atas 2 yaitu:

1. Sosialisasi penyakit IMS : Melakukan penyuluhan kesehatan tentang


penyakit Infeksi menular seksual (IMS), baik secara perorangan, keluarga,
kelompok dan masyarakat.

2. Pemeriksaan dan pengobatan IMS: Melakukan pemeiksaan dan


pengobatan IMS baik yang dicurigai maupun yang positif menderita
penyakit IMS setelah melalui pemeriksaan laboratorium.

a. Input
Sarana dan prasarana yang masih kurang dalam pelaksanaan program dan
pengobatan Infeksi Menular Seksual. Tempat pelaksanaan kegiatan saat turun
lapangan terutama di tempat lokalisasi yang kurang layak karena tempatnya
yang kurang bersih, banyak bekas-bekas jarum suntik berserakan di lantai dan
hal ini kurang safety untuk petugas kesehatan yang datang berkunjung ke
tempat tersebut. Dokter yang biasanya ikut turun lapangan sudah sangat jarang
ikut turun karena tempat yang tidak layak.
Masalah yang kedua adalah maslah pemeriksaan penunjang yaitu
peneriksaan mikroskopis yang tidak dilakukan karena mikroskop di PKM
rusak. Dalam hal ini, menurut panduan yang digunakan puskesma dalam
penegakkan diagnosis penyakit IMS, dibutuhkan pemeriksaan specimen
secara mikroskopis, agar dapat menunjang penegakkan diagnosis sehingga

13
pengobatan yang doberikan sesuai. Dalam hal ini penanggungjawab program
telah berkordinasi untuk pengadaan mikroskop baru, dan baru diberikan pada
bulan Desember tahun lalu dan belum dioperasikan sampai sekarang.
Masalah yang ketiga adalah pemeriksaan IVA juga selalu dilakukan pada
pasien-pasien yang datang di poli, apabila positif maka akan terus di follow up
dan mendapatkan krioterapi, tetapi saat ini krioterapi rusak, sehingga pasien
yang harus dikriioterapi tertunda.

b. Proses
Pelaksanaan turun lapangan terutama di area lokasisasi dari yang biasanya
dua kali sebulan, menjadi sebulan sekali. hal ini dikarenakan tempat yang
kurang layak karena tempatnya yang kurang bersih, banyak bekas-bekas jarum
suntik berserakan di lantai dan hal ini kurang safety untuk petugas kesehatan
yang datang berkunjung ke tempat tersebut. Tetapi agar tetap baynak kausu
yang dapat didapatkan dan diobati, petugas merekrut penjangkau yaitu orang-
orang yang diberitanggungjawab untuk merekrut teman-temannya agar
berobat ke PKM, yang dijadikan penjangkau biasanya adalah germo2, pemilik
café, dan yang menjadi ketua pada kelompok mereka.
Untuk pelaksanaan Pemeriksaan dan pengobatan IMS kendala yang
biasanya ditemukan adalah pasien yang tidak bersedia untuk diperiksa, karena
merupkan hal yang sensitif, dan tidak dapat dipaksakan untuk tetap dilakukan
pemeriksaan. Dalam menghadapi masalah seperti ini, dokter harus melakukan
pendekatan yang lebih lagi agar akhirnya mereka bersedia untuk bersedia.

c. Output
Berdasarkan profil PKM Talise jumlah kasus penyakit infeksi menular
seksual pada tahun 2013, 2014 dan 2015 masing-masing adalah 218 kasus,
276 kasus dan 492 kasus. Dari data tersebut terlihat bahwa kasus Penyakit
IMS di PKM Talise dari tahun ke tahun meningkat, hal ini dikarenakan salah
satu tempat lokalisasi termasuk ke dalam wilayah kerja PKM Talise. Hai inilah
yang menjadi alasan mengapa program pencegahan dan pengobatan IMS
menarik untuk dibahas.
Untuk program ini todak ada target atau indicator keberhasilan yang harus
dicapai, karena sulit untuk memasang target jumlah pasien. Tetapi secara garis

14
besar keberhasilan program biasanya dinilai dari jumlah kunjungan di poli per
bulannya, apabila mengalami peningkatan, berrati baik, tetapi apabila
menurun berarti kurang baik, sehingga ini menjadi bahan evaluasi agar
kedepannya jumlah pasien bertambah, salah satunya dengan menghubungi
para penjangkau untuk mendatangkan teman-temannya, terutama yang baru-
baru untuk datang memeriksakan dirinya di poli. Selain itu keberhasilannya
dapat dilihat dari jumlah kasus yang ditemukan semuanya diobati.
Jika dilihat secara keseluruhan, data pertahun jumlah kasus IMS di
wilayah kerja puskesmas Talise selalu mengalami peningkatan, berarti
semakin banyak dari populasi yang risiko tinggi (pekerja seks komersial, laki
suka laki, waria) yang terdata dan dapat diberikan Konseling Edukasi dan
Informasi, sehingga dengan begitu dapat menurunkan angka penularan IMS.
Sistem pencatatan dan pelaporan untuk kasus IMS sudah baik dan harus
dipertahankan, dan dapat ditingkatkan lagi dalam hal jumlah populasi
kelompok-kelompok yang berisiko tinggi.

BAB IV

15
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Program pencegahan dan pengobatan IMS di Puskesmas Talise sudah
baik,namun masih perlu peningkatan dari input yakni pembuatan tempat yang
layak dan safety untuk pemeriksaan pada saat turun lapangan, proses yakni
pelaksanaan kegiatan turun lapangan kembali diintensifkan jika sarana dan
prasarana sudah dilengkapi, serta pada pengoprasian mikroskop segera
dilakukan, sedangkan pada output yakni secara garis besar sudah dapat
dikatakan berhasil, namun harus selalu dievaluasi dari jumlah kunjungan dan
juga kasus yang ditemukan dan diobati.

4.2 Saran
Untuk meningkatkan program ini perlu untuk:
4. Pengadaan tempat yang layak dan safety untuk petugas kesehatan pada
saat turun lapangan, sehingga dengan begitu petugas dapat melakukan
turun lapangan dengan jadwal yang seharusnya yatu 2 kali dalam sebulan.
5. Mikroskop yang ada di laboratorium harus segera dioperasikan
6. Tetap mempertahankan sistem pencatatan dan pendatan dengan lengkap
untuk setiap pasien yang berkunjung ke poli IMS.
7. Memeperbanyak lagi jumlah penjangkau agar lebih banyak lagi kasus
yang ditemukan dan diobati, sehingga menurunkan penularan IMS.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sarwono. Buku Ajar Ilmu Kebidanan. Jakarta: Universitas Indonesia. 2011

16
2. Gustini, K. Gambaran Pengetahuan Siswa Siswi kelas XI Tentang
Penyakit Menular Seksual di SMA Negeri 24 Bandung.Univrsitas
Pendidikan Indonesis. 2015.
3. Kementrian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanganan Imfeksi
Menular Seksual. Jakarta. 2011.
4. Puskesmas Talise, 2013. Profil Puskesmas Talise Tahun 2013.
5. Puskesmas Talise, 2014. Profil Puskesmas Talise Tahun 2014.
6. Puskesmas Talise, 2015. Profil Puskesmas Talise Tahun 2015.

LAMPIRAN

17
18