Anda di halaman 1dari 18

REFLEKSI KASUS September 2017

DIARE AKUT TANPA DEHIDRASI

DISUSUN OLEH:
NAMA : Miratunnisa Aljaru, S.Ked

STAMBUK : N 111 17 051

PEMBIMBING : dr. I Njoman Widadjandja, M.Kes

PEMBIMBING LAPANGAN : dr. Ika Magfirah

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2017
BAB I
1
PENDAHULUAN

Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek

atau cair bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering dari biasanya, yang biasanya

tiga kali atau lebih dalam satu hari. Terdapat dua jenis diare yaitu diare akut dan diare kronik.

Diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari dan diare kronik adalah diare yang

berlangsung lebih dari 14 hari.1

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) tahun 2011, diare menduduki

peringkat pertama penyebab kematian anak dengan persentase sebesar 35% atau sekitar 4 miliar

kasus diare akut/tahun dengan mortalitas 3-4 juta pertahun. Diare merupakan penyebab kematian

ke-5 di dunia dengan jumlah 5-10 juta anak per tahun. Diperkirakan setiap tahun terdapat 60 juta

kejadian diare di Indonesia dengan 70-80% dari penderita ini adalah anak dibawah 5 tahun.2,3,4

Penyakit diare masih termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Puksesmas Dolo tahun

2016. Diare menempati urutan ketujuh dalam 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Dolo dengan

jumlah kasus mencapai 632 kasus. Berdasarkan hasil pemantauan dari unit pelayanan kesehatan

berupa laporan rutin selama tahun 2015 mengalami peningkatan dari 601 kasus (2.8%) menjadi

711 kasus (3.25%) di Tahun 2016. 5

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian penyakit diare diantaranya tingkat

pengetahuan, sikap, perilaku, kualitas air yang dikonsumsi serta fasilitas sanitasi yang memenuhi

syarat khususnya buang air besar, berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka

kejadian diare dengan usaha pencegahan dan pemberantasan seperti kaporitasi, penyuluhan serta

PHBS melalui sumber daya masyarakat namun upaya itu belum dapat menghasilkan yang

optimal.6

2
Diare masih merupakan masalah kesehatan dan dapat menurunkan derajat kesehatan
masyarakat di kecamatan Dolo. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan usaha-usaha untuk
menurunkan angka kejadian diare dimana puskesmas sebagai ujung tombak dalam pelayanan
kesehatan masyarakat primer yang bertanggung jawab terhadap kesehatan perorangan dan
kesehatan masyarakat.

BAB II
LAPORAN KASUS

3
2.1. Identitas pasien
Nama Pasien : An. N
Umur : 4,5 Thn
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Kota Rindau

2.2. Anamnesis
Keluhan utama: Bab Cair
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan BAB cair sejak 3 hari sebelum datang ke puskesmas, bab
cair dialami sebanyak 4 kali, volume sekitar 1/2 gelas aqua (±120 cc) setiap kali BAB,
berwarna kuning kehijauan, sedikit lendir, tidak berbau busuk, tidak ada darah. Keluhan
disertai mual, muntah 5 kali terutama setiap kali makan dan minum, muntah berupa
makanan, nafsu makan menurun dan nyeri perut saat BAB. Selain itu pasien juga mengeluh
demam sejak 1 hari sebelum datang ke puskesmas, sifat demam terus menerus, tidak ada
menggigil, dan tidak ada kejang.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien tidak pernah menderita keluhan penyakit yang sama
Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada riwayat terkena penyakit diare atau keluhan yang sama pada keluarga.
Riwayat pengobatan:
Tidak ada
Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan :
-
Pasien makan 3 kali sehari dengan lauk yang beraneka ragam, namun terkadang pasien
makan tidak teratur dan mengkonsumsi makanan jajanan disekitar lingkungan rumah
-
Pasien jarang mencuci tangan sebelum makan, dan pasien mencuci tangan setelah
BAB dan BAK namun tidak memakai sabun.
-
Rumah pasien terletak di dalam lorong. Rumah berukuran ±15 x 3 m2. Rumah terdiri
dari 3 kamar tidur, 1 ruang tamu sekaligus ruang keluarga, 1 dapur, dan 1 kamar
mandi. Lantai rumah terbuat dari semen, dinding rumah berupa beton, dan atap rumah
terbuat dari seng. Ruang tamu, kamar dan dapur memiliki jendela, ventilasi, dan
4
pencahayaan yang cukup. Jarak rumah pasien dengan rumah tetangga tidak mepet
tembok, dengan luas pekarangan ±6x1 m2
-
Jarak dapur dengan kamar mandi sangat berdekatan yaitu sekitar 1,5 meter.
-
Penyimpanan alat-alat makan ada yang disimpan di bawah lantai dan sisa makanan
kadang tidak ditutup dengan penutup makanan
-
Sumber air yang dipakai untuk sehari-hari adalah dari sumur suntik. Sedangkan untuk
minum, pasien menggunakan air sumur yang telah dimasak dan juga air minum isi
ualang.
-
Sumber listrik dari PLN, sampah di buang di halaman belakang rumah dan dibakar
setiap 2 hari sekali.
-
Keluarga pasien memakai jamban jongkok. Lantai berupa semen dan tampak kotor,
dan juga dinding jamban tampak kotor.
Riwayat Kehamilan dan Persalinan :
Riwayat Antenatal : Ibu rutin memeriksakan kehamilannya ke posyandu.
Riwayat Natal : Spontan dan lahir langsung menangis, Berat badan lahir 2500 gram,
ditolong bidan, di rumah. Usia kehamilan cukup bulan.
Riwayat Neonatal : Tidak ada kelainan

Anamnesis Makanan :
Asi sejak lahir sampai umur 2 tahun
bubur saring mulai usia 6 bulan sampai umur ± 9 bulan,
nasi dan lauk pauk mulai usia 9 bulan sampai sekarang.
Riwayat Imunisasi :
Penderita mendapat imunisasi dasar yang lengkap yaitu Hepatitis B 3 kali, Polio 4
kali, DPT 3 kali, BCG 1 kali, Campak 1 kali.
Riwayat Sosial dan Ekonomi
Pasien tinggal di rumah dengan kedua orang tua dan kedua orang kakaknya. Pasien
memiliki hubungan yang baik dengan kedua orang tua dan kakaknya. Dari segi ekonomi
pasien tergolong dalam ekonomi menengah. Ayah pasien merupakan tulang punggung
keluarga, dengan penghasilan tak menentu paling banyak ± Rp. 1000.000 per bulan.
2.3. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Frek. Nadi : 80 x/menit
Frek. Napas : 28 x/menit
5
Suhu : 36,8 °C
Berat badan : 13 kg
Tinggi badan : 98,5 cm
Status gizi : kurang

Status Generalis
Kepala Leher:
Kepala : Deformitas (-)
Rambut : Hitam, lurus
Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, mata cekung -/-
Telinga : Liang telinga normal, serumen (-)
Hidung : Deformitas (-), sekret (-)
Leher : tidak teraba pembesaran KGB
Paru:
Inspeksi:
- Bentuk dan ukuran dada kiri dan kanan simetris, barrel chest (-), pergerakan dada simetris
- Permukaan dada papula (-), petechie (-), purpura (-), ekimosis (-), nevi (-)
- Pergerakan otot bantu nafas: SCM aktif,
- Iga dan sela iga melebar (+)
- Tipe pernapasan torakoabdominal
Palpasi:
- Trakea tidak ada deviasi, iktus kordis di SIC V linea parasternal sinistra
- Nyeri tekan (-), massa (-), edema (-), krepitasi (-)
- Gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan
- Taktil fremitus simetris kiri dan kanan
Perkusi:
- Batas jantung normal
- Paru sonor di seluruh lapang paru.
Auskultasi:
- Cor: S1S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
- Pulmo: vesikuler (+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen:
- Inspeksi: bentuk simetris, permukaan datar, distensi (-), asites (-)
- Auskultasi: bising usus (+) normal, bising aorta (-), peristaltic kesan meningkat
6
- Perkusi: bunyi timpani pada seluruh lapang abdomen
- Palpasi: nyeri tekan (+), massa (-), hepatosplenomegali (-), tes undulasi (-), shifting
dullness (-).

2.4. Pemeriksaan Penunjang


Tidak ada
2.5. Diagnosis Kerja
Diare Akut Tanpa Dehidrasi
2.6 Diagnosa Banding
Diare akut et causa Rotavirus
Diare akut et causa salmonella
DBD
Demam Tifoid
2.7 Anjuran Pemeriksaan
1) Pemeriksaan darah rutin
2) Analisis feses

2.8 Penatalaksanaan
Medikamentosa :
Cotrimoxsazole Sirup 2x1
Antasida 1,5 tab 3x1
Paracetamol 1,5 tab 3x1
B6 4 tab 3x1
B-complex 4 tab 3x1
CTM 3 tab 3x1
Non Medikamentosa :
Edukasi:
- Menjelasan tentang penyakit diare terkait masalah penyebab dan penularannya
- Ibu harus memberi minum anak sedikit demi sedikit dengan menggunakkan cangkir,
jika anak muntah tunggu 10 menit dan berikan kembali dengan lebih lambat
- Jika diberikan Zinc, Zinc harus diminum selama 10 hari berturut-turut
- Bila anak muntah setelah pemberian obat zinc, ulangi pemberian dengan cara
memberikan potongan lebih kecil dilarutkan beberapa kali hingga satu dosis penuh
7
- Lanjutkan pemberian makan
- Jagalah kebersihan rumah dan pencahayaan di dalamnya, buka jendela setiap hari
pagi dan siang hari.
- Menganjurkan pasien mengkonsumsi makan yang bersih dan sehat serta tidak sering
jajan di sembarang tempat.

2.9. Prognosis
Dubia ad bonam

BAB III
PEMBAHASAN

Pada kasus ini, pasien adalah anak laki - laki berumur 4 tahun 5 bulan dengan keluhan
utamanya adalah BAB cair. BAB cair dialami sebanyak 4 kali, volume sekitar 1/2 gelas aqua
(±120 cc) setiap kali BAB, berwarna kuning kehijauan, sedikit lendir, tidak berbau busuk, tidak
ada darah. Pasien juga mengalami mual, muntah 5 kali terutama setiap kali makan dan minum,
nafsu makan menurun, nyeri perut saat BAB dan demam sejak 3 hari sebelum datang ke
puskesmas, sifat demam terus menerus.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik pasien mengalami gizi kurang dan tidak didapatkan
adanya tanda-tanda dehidrasi pada pasien ini, keadaan umum pasien sakit sedang, Dari
pemeriksaan abdomen juga didapatkan peristaltik usus meningkat dan nyeri perut di semua
regio.
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan diagnosis diare akut tanpa
dehidrasi. Diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi lebih dari biasanya atau lebih dari
tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja menjadi cair dengan atau tanpa darah.
Dikatakan diare akut karena munculnya mendadak dan berlangsung dalam waktu kurang dari 14
hari. Diare dapat terjadi tanpa dehidrasi, dengan dehidrasi ringan/sedang, dan dengan dehidrasi
berat.

8
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi
(disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan,
imunodefisiensi dan sebab-sebab lainnya. Untuk menentukan penyebab diare pada pasien ini
perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan feses lengkap. Namun pada kasus
ini tidak perlu dilakukan rawat inap karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik mengarahkan
bahwa diare ini merupakan diare akut infektif tanpa dehidrasi. Hal ini didukung oleh adanya
keluhan yang khas terutama pada diare akut yang disebabkan oleh rotavirus yaitu demam, mual,
muntah, nyeri abdomen, nyeri perut saat BAB dan tinja cair dengan sedikit lendir,dan berwarna
kuning kehijauan.
Pasien ini diterapi berdasarkan rencana terapi A karena pasien ini mengalami diare akut
tanpa dehidrasi. Namun pada pasien tidak diberikan cairan oralit secara oral karena pada kasus
ini pasien mengalami muntah 5 kali terutama setiap kali makan dan minum, nafsu makan
menurun serta pasien tidak suka dengan rasa dari cairan oralit sehingga pasien ini di berikan
terapi cairan berupa cairan kristaloid untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.
Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh.
Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal
termasuk kemampun menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrien. Selain itu keluarga pasien
juga diberi informasi mengenai cara penularan diare melalui lingkungan dan perilaku mereka
yang salah selama ini serta cara mencegahnya muncul lagi dikemudian Berdasarkan hasil
penelusuran kasus ini, jika mengacu pada konsep kesehatan masyarakat, maka dapat ditelaah

9
beberapa faktor yang mempengaruhi atau menjadi faktor resiko terhadap penyakit yang diderita
oleh pasien dalam kasus ini :
Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena adanya ketidakseimbangan faktor-faktor utama
yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Paradigma hidup sehat yang
diperkenalkan oleh H. L. Bloom mencakup 4 faktor yaitu faktor genetik (keturunan), perilaku
individu atau masyarakat, faktor lingkungan (fisik,sosial,ekomomi dan budaya) dan faktor
pelayanan kesehatan.7
Keempat faktor tersebut (keturunan, lingkungan, perilaku, dan pelayanan kesehatan) di
samping berpengaruh langsung kepada kesehatan, juga saling berpengaruh satu sama lainnya.
Status kesehatan akan tercapai secara optimal, bilamana keempat faktor tersebut secara bersama-
sama mempunyai kondisi yang optimal pula. Salah satu faktor saja berada dalam keadaan yang
terganggu (tidak optimal), maka status kesehatan akan tergeser ke arah di bawah optimal. Diare
menjadi masalah di mayarakat disebabkan oleh karena faktor-faktor berikut:
1. Faktor Genetik/Biologis.
Pada kasus ini, os adalah seorang anak laki - laki berusia 4,5 tahun dengan status gizi
kurang. Penyakit diare sering ditemukan pada anak - anak. Keadaan malnutrisi, gizi kurang,
atau kekurangan kalori, protein, vitamin, zat besi dan lain-lain, akan mempengaruhi daya
tahan tubuh sesoeranga sehingga rentan terhadap penyakit termasuk diare.

2. Perilaku
 Mencuci tangan yang tidak menggunakan sabun
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam
penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun dengan air
bersih saat sebelum makan, sebelum mengolah dan menghidangkan makananserta setelah
buang air besar dan kecil.7
Keefektifan mencuci tangan pada saat sebelum makan, sesudah makan, sesudah
BAK dan BAB pada pasien masih kurang. Hal ini dapat memudahkan penyebaran
penyakit. Kegiatan cuci tangan ini sangat penting baik bagi pasien, penyaji makanan, atau
warung serta orang-orang yang merawat dan mengasuh anak. Setiap tangan kontak
dengan feses, urin atau dubur harus dicuci dengan sabun dan bila perlu disikat, hal ini
diperlukan untuk memutuskan rute transmisi penyakit.

10
Pasien mengaku selalu mencuci tangan sesudah buang air besar namun jarang
menggunakan sabun. Begitu pula pada saat sebelum makan, pasien mencuci tangan
namun jarang menggunakan sabun dan sering menggunakkan air yang tergenang untuk
mencuci tangan.

 Pengolah makanan dan minuman yang tidak higienis


Pengolaham makanan dan minuman yang tidak higienis berperan dalam penularan diare
misalnya makanan yang tercemar dengan debu, sampah, dihinggapi lalat, air minum yang
tidak dimasak.7
Pengelolaan makanan sesuai standar WHO
1) Jaga kebersihan
Cuci tangan sebelum memasak dan keluar dari toilet, cuci alat-alat masak dan
alat makan, dapur harus bersih, jangan ada binatang, serangga, dan lain-lain
2) Pisahkan bahan makanan matang dan mentah
Gunakan alat dapur dan makanan yang berbeda
3) Masak makanan hingga matang
Masak sampai matang terutama daging, ayam, telur, seafood
4) Simpan makanan pada suhu aman
Jangan simpan makanan terlalu lama di suhu ruangan , masukkan kulkas bila
ingin disimpan dan sebelum dihidangkan panaskan sampai lebih dari 85 derajat
celcius.
5) Gunakan air bersih dan bahan makanan yang baik

3. Faktor Lingkungan
 Sosio-ekonomi menengah ke bawah
Pasien termasuk dalam keluarga dengan sosio-ekonomi yang menengah kebawah.
Walaupun dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasien terkadang tidak memikirkan
kualitas makanan yang dipilih.
 Kriteria rumah sehat
a. Penggunaan Jamban
Pengalaman dibeberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban
mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare.
Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan keluarga harus
buang air besar di jamban. 7
Yang harus diperhatikan oleh keluarga:
1) Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat di pakai oleh
seluruh anggota keluarga
11
2) Bersihkan jamban secara teratur
3) Gunakan alas kaki bila akan buang air besar

Pada kasus ini, dirumah pasien terdapat satu jamban jongkok. Lantai berupa
semen dan cukup bersih, namun dinding bak mandi jamban tampak kotor.
b. Penyedian Air Bersih
Mengingat bahwa ada beberapa penyakit yang dapat ditularkan melalui air antara
lain adalah diare, kolera, disentri, hepatitis, penyakit kulit, penyakit mata dll, maka
penyediaan air bersih baik secara kuantitas dan kualitas mutlak diperlukan dalam
memenuhi kebutuhan air sehari-hari termasuk untuk menjaga kebersihan diri dan
lingkungan. 7
Pada pasien ini tempat memasak tidak higienis karena jarak dapur dengan kamar
mandi sangat berdekatan yaitu sekitar 1,5 meter. Pada kasus ini, pasien mengkonsumsi
air sumur yang dimasak terlebih dahulu. Akan tetapi, letak air sumur tidak terlalu jauh
dari jamban umum dengan jarak 6 meter. Sedangkan jarak minimal septik tank dengan
sumur adalah 10-15 meter.

c. Pengelolaan sampah
Sampah merupakan sumber penyakit dan tempat berkembang biaknya vektor
penyakit seperti lalat, nyamuk, tikus, kecoa dsb. Oleh karena itu pengelolaan sampah
sangat penting, untuk mencegah penularan penyakit. Tempat sampah harus disediakan,
sampah harus dikumpulkan setiap hari dan dibuang ketempat penampungan
sementara. Bila tidak terjangkau oleh pelayanan pembuangan sampah ke tempat
pembuangan akhir dapat dilakukan pemusnahan sampah dengan cara ditimbun atau
dibakar.7
Keluarga pasien hanya membakar sampahnya di belakang rumah setiap dua hari
sekali bila tidak musim hujan. Musim hujan bisa mendatangkan lalat, lalat adalah
salah satu vektor yang dapat menyebabkan penyebaran penyakit. Penularan penyakit
ini terjadi secara mekanis, dimana kulit tubuh dan kaki-kaki lalat yang kotor
merupakan tempat menempelnya mikrorganisme penyakit yang kemudian hinggap
pada makanan sehingga makanan tersebut menjadi sumber penyakit. Oleh karena itu
perlu dilakukan pengendalian lalat dengan cermat.

d. Sarana pembuangan air limbah


12
Bila ada saluran pembuangan air limbah dihalaman, secara rutin harus
dibersihkan agar air limbah dapat mengalir, sehingga menimbulkan bau yang tidak
sedap dan tidak menjadi tempat perindukan nyamuk, dan bersarangnya tikus, kondisi
ini dapat berpotensi menularkan penyakit seperti leptospirosis.7
Pada rumah pasien untuk pengelolaan limbahnya sudah cukup baik, dimana
pembuangan air limbah pada halaman rumah di bersihkan secara rutin.
4. Pelayanan Kesehatan
Pada pelayanan kesehatan yakni Puskesmas Dolo, terdapat 1 orang pengelola
program dan beberapa kader yang mengurusi masalah P2M (pengendalian, pencegahan
penyakit) khususnya penyakit diare. Selain itu, tersedianya sarana rehidrasi yang juga
dikenal sebagai pojok oralit dan terdapat media untuk penyuluhan tentang penyakit diare,
namun penyuluhan tentang penyakit diare ini terkadang mengalami hambatan karena
keterbatasan SDM dan kurangnya koordinasi antara bagian konseling dan pelayanan
kesehatan.

Pada kasus ini, faktor yang berperan dalam penularan diare ialah faktor perilaku,
lingkungan dan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk waspada
dengan jalan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat untuk meminimalisir resiko tertular diare
serta untuk pelayanan kesehatan agar lebih meningkatkan koordinasi antara bagian konseling
dengan bagian pelayanan kesehatan terutama dalam melakukan sosialisasi berupa penyuluhan
yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

13
Beberapa faktor yang mempengaruhi atau yang menjadi faktor resiko terhadap penyakit
yang diderita oleh pasien dalam kasus ini :
1. Faktor Genetik/Biologis ; Keadaan gizi kurang, atau kekurangan kalori, protein,
vitamin, zat besi dan lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh sesoeranga
sehingga rentan terhadap penyakit termasuk Diare.
2. Faktor Lingkungan ; Lingkungan rumah menjadi salah satu faktor yang memberikan
pengaruh besar terhadap status kesehatan penghuninya. Lingkungan rumah merupakan
salah satu faktor yang berperan dalam penyebaran bakteri penyebab diare pada kasus ini.
3. Faktor Pelayanan Kesehatan dan faktor perilaku ; Pasien dan keluarga mengaku belum
terlalu paham mngeni penyakit diare terutama mengenai pencegahan, dan penularannya,
serta masih kurang memperhatikan pola hidup bersih dan sehat.

B. Saran
1. Pasien harus menjaga pola hidup bersih dan sehat serta.
2. Kita sebagai orang yang berperan penting dalam pelayanan kesehatan harus memberi
informasi dan lebih sering melakukan penyuluhan pada masyarakat terkait dengan
factor-faktor yang dapat mempengaruhi penyakit Diare.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian kesehatan RI. Buku Saku Lintas Diare Untuk Petugas Kesehatan. Jakarta.
Kementrian Kesehatan RI. 2013.
14
2. Lab SMF IKA FK UNUD/RS Sanglah-Denpasar. Diare dalam: Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Denpasar. Sagung Seto.2009.
3. Soewondo ES. 2012. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan Terkini Dalam
Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi. Surabaya : Airlangga University Press.
4. WHO, Bakti Husada Dan IDAI. Diare dalam: Buku Saku Pelayan Kesehatan Anak.
Jakarta. Depkes. 2009.
5. Tim Penyusun. 2016. Profil Kesehatan Puskesmas Dolo Tahun 2016. Dinas Kesehatan
Kota Palu.
6. Depkes, R. I., 2012. Buku Pedoman Pelaksanaan Program P2 Diare. Jakarta : Ditjen
PPM dan PL.
7. Notoatmodjo, Soekidjo. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
2009.
8. Kementrian kesehatan RI. Pedoman Pengendalian Penyakit Diare. Kementrian Kesehatan
RI, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan. 2013.

LAMPIRAN

15
16
17
18