Anda di halaman 1dari 6

https://pandejuliana.wordpress.

com/2012/01/20/tri-hita-karana-dan-tat-twam-asi/

Penerapan Konsep Pawongan Dalam Asuhan Kebidanan

A. Tri Hita Karana


Tri Hita Karana adalah tiga buah unsur yang merupakan sumberya sebab yang
memungkinkan timbulnya kebaikan atau kebahagian (Kaler,1979).

Tri Hita Karana terdiri dari :


1. Parahyangan
2. Pawongan
3. Palemahan
1. Parhyangan
Parahyangan adalah hubungan harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang
Widi Wasa / Brahman sang pencipta / Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai Umat
beragama atas dasar konsep theology yang diyakininya khususnya Umat Hindu
yang pertama harus dilakukan adalah bagaimana berusaha untuk berhubungan
dengan Sang Pencipta melalui kerja keras sesuai dengan kemampuan yang
dimilikinya. Untuk hal ini ditempuh dengan Catur Marga yaitu empat jalan menuju
Sang Pencipta yakni :
1. Karma Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong Umat untuk berbuat
semaksimal mungkin untuk kepentingan orang banyak atau dirinya sendiri
berada dalam lingkungan itu. Apa yang dikerjakannya tersebut di landasi dengan
rasa tulus iklas dan tanpa pamrih. Yang dapat diperbuat dan mempunyai nilai
spiritual yang tinggi adalah membangun dan membantu pembangunan tempat-
tempat ibadah baik melalui memberikan dana punya ( memberikan sumbangan
berupa uang atau bahan-bahan bangunan ), sehingga dapat memperlancar
kegiatan pembangunan tempat-tempat ibadah tersebut dan terwujud dengan baik
serta dapat dimanfaatkan sebagai mana mestinya oleh Umat beragama untuk
kegiatan Keagamaan.
2. Bhakti Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong Umat untuk tulus iklas
mengabdi atas dasar kesadaran pengabdiaan, yang dimaksudkan disini adalah
selain berbhakti kepada Hyang Widi Wasa (Tuhan) juga mengabdi untuk
kepentingan masyarakat, Bangsa, dan Negara.
3. Jnana Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong umat untuk yang
mempunyai kemampuan pemikiran – pemikiran yang cemerlang dan positif
untuk disumbangkan secara sukarela dan tanpa imbalan untuk kepentingan
masyarakat, bangsa dan Negara.
4. Raja Yoga Marga merupakan suatu ajaran yang mendorong umat untuk selalu
menghubungkan diri dengan Tuhan melalui kegiatan sembahyang, tapa (
mengikuti untuk tidak melanggar larangan/ pantangan ), brata ( mengendalikan
diri ) dan semadi ( selalu menghubungkan diri dengan berpasrah diri kepada
Tuhan melalui berjapa/jikir ).
2. Pawongan
Pawongan adalah hubungan harmonis antara sesama umat manusia. Dalam hal ini
ditekankan agar sesama umat beragama untuk selalu mengadakan komunikasi dan
hubungan yang harmonis melalui kegiatan Sima Krama Dharma Santhi /
silahturahmi. Dan kegiatan ini dipandang penting dan strategis mengingat bahwa
umat manusia selalu hidup berdampingan dan tidak bisa hidup sendirian. Oleh
karena itu tali persahabatan dan persaudaraan harus tetap terjalin dengan baik.
3. Palemahan
Palemahan adalah hubungan harmonis antara umat manusia dengan alam
lingkungannya. Ajaran ini menekankan kepada umat manusia untuk tetap menjaga
kelestarian lingkungan alam sekitar, sehingga terwujud keharmonisan alam dan
tetap terjaganya keseimbangan ekosistem. Untuk mewujudkan keharmonisan
dengan alam lingkungan, bentuk-bentuk nyata yang dapat dipedomani dan
dilaksanakan khususnya bagi Umat Hindu adalah melalui pengamalan makna
Tumpek Uduh, Tumpek Kandang dan Caru ( Bhuta Yajna ) dengan berbagai
tingkatannya. Semuanya itu merupakan suatu tatanan yang mendasar serta
mengandung konsep – konsep keseimbangan yang pada intinya memberikan
dorongan untuk menumbuh kembangkan rasa cinta kasih kepada sesama dan alam
lingkungan.
Dasar Konsep Pawongan adalah hubungan harmonis antara manusia dengan sesame
manusia serta semua makhluk. Konsep dasarnya yaitu tatwam asi dan melahirkan
anak suputra.
B. Tatwam Asi
Tatwam Asi adalah Dia (Tuhan) tidak berbeda dengan Aku (Atman) yang ada dalam
diri dan semuanya. Sebagai landasan etika, bahwa secara substansi kita tidak berbeda
dengan orang lain. Jika semua makhluk atau sesame memiliki unsur yang sama, kenapa
saling menyakiti, membenci, harus ada permusuhan dan yang lainnya.
Etika umum
1. Sopan santun
2. Memberi perhatian kepada orang lain
3. Menjaga perasaan orang lain
4. Menepati waktu dan janji
5. Memiliki rasa toleransi
6. Dapat menguasai diri
7. Berusaha untuk memahami orang lain

Penampilan Menunjukkan Kepribadian


a. Penampilan Diri
1. Senantiasa selalu tampil dengan wajah yang segar
2. Tampilah selalu rapid an bersih
3. Hindari bau badan dan bau mulut
4. Senantiasa selalu siap tampil sesuai dengan suasana dan keadaan

Memelihara Diri
1. Rambut tertata rapi, janggut, kumis, dan jambang terpelihara dengan baik
2. Kuku terpotong pendek dan rata, hendaknya tidak mengenakan cat kuku pada saat
bekerja. Pria tidak disarankan memelihara kuku
3. Mulut dan gigi terpelihara dengan baik
4. Luka atau bisul di wajah hendaknya di tutup dengan plester
Kepribadian
1. Hormatilah yang lebih tua dan mereka yang berpangkat lebih tinggi
2. Hindari sifat sombong/ menyombongkan diri
3. Jangan sekali kali menghina orang lain
4. Bertindak dan bersikaplah yang wajar
5. Tampilkanlah tata cara yang menyesuaikan pada waktu bercakap, berjalan, duduk
dan makan

Tata Cara Pergaulan Umum


1. Jagalah nama keluarga, organisasi, daerah dan bangsa
2. Selalu tampil dengan kepribadian yang mantap dan perhatikan adat kebiasaan
tempat yang akan di kunjungi
3. Hindari merokok, kini telah banyak tempat yang tidak memperkenankan orang
untuk merokok

Tata Wicara (Cara Bertutur Kata)


1. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada pertemuan yang sifatnya resmi
2. Apabila berada di luar negeri, sesuaikanlah diri dengan segera, dengan
menggunakan bahasa setempat
3. Hindari pembicaraan politik, ras dan sebagainya
4. Tunjukkanlah minat untuk mendengarkan dan memberikan perhatian kepada lawan
bicara
5. Disarankan untuk berpengetahuan umum yang luas dan berwawasan dan
gunakanlah istilah-istilah yang dikuasai
6. Pada waktu memperkenalkan diri jangan sekali-kali memperhatikan orang tersebut
dari ujung rambut sampai ke ujung kaki
7. Tatwam Asi mendasari penerapan etika dalam pergaulan. Bagaimana harapan kita
terhadap orang lain, hendaknya demekian pula kita selalu bersikap.
NAMASTE
 Menangkupkan kedua tangan didepan dada, jari tangan menghadap ke atas, dan
membungkukkan kepala (sedikit), dengan/ tanpa ucapan meberikan arti yang sama
 Namah (menunduk, hormat, salam penuh hormat) te (padamu)
 Engkau adalah aku, aku menghargai dan memuja Tuhan yang ada dalam dirimu
 Semoga jalan pikiran kita selaras
 Semoga karunia-Nya memberkatimu
 Saya menghormati anda-menghormati Tuhan dalam diri anda
 Filosofi; sifat rendah hati, menghargai dan memberi penghormatan kepada siapa
saja tanpa memandang atribut lainnya(kaya- miskin, rupawan-buruk rupa,
kesukuan, kepercayaan, dll)
 Menghormati dan mencintai semua ciptaan Tuhan
 Menindas, menyakiti membunuh, memfitnah, mencaci dll melukai penghormatan
saya kepada sesame dan mencederai rasa bakti saya kepada Tuhan
Namaste ini bisa dilakukan pada saat mengawali pertemuan dengan seseorang atau
klien, menyambut tamu atau seseorang yang datang berkunjung

Komunikasi Terapiutik
Komunikasi Terapiutik ialah suatu interaksi interpersonal yang berfokus pada
kebutuhan khusus klien untuk meningkatkan pertukaran informasi yang efektif
(Videback, 2008). Komunikasi terapiutik adalah proses pendekatan terencana dalam
mempelajari kliennya (Keltner, Schwecke, dan Bostom, dalam Pottret dan Perry
2005). Tujuan komunikasi terapiutik adalah membenatu klien memecahkan
permasalahnnya.

Pelayanan adalah suatu usaha untuk membantu menyiapkan apa yang diperlukan
orang lain. Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan satu
pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak terwujud dan tidak mengakibatkan
kepemilikan apapun. Dalam setiap pelayanan harus prima karena pelayanan prima
memiliki makna ekonomi, tempat berkumpulnya uang dan pekerjaan, persaingan
semakin tajam, dan pemahaman yang semakin baik terhadap pelanggan.
Pelayanan Prima/ Service Excelence
 Pelayanan yang sangat baik dan melampaui harapan pelanggan
 Pelayanan yang memiliki ciri khas kualitas
 Pelayanan dengan standar kualitas yang tinggi dan selalu mengikuti perkembangan
kebutuhan pelanggan.