Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KONSEP DASAR ENTITAS DAN KEWAJIBAN PEMBUKUAN

“AKUNTANSI PAJAK”

Dosen Pengampu :

Kelompok :

1.
2.
3.

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, nikmat serta karunia-
Nya, sehingga penyaji dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul “Konsep
Dasar Entitas dan Kewajiban Pembukuan” untuk memenuhi tugas mata kuliah Akuntansi Pajak.

Adapun, penyusunan makalah ini kiranya masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu,
penyaji menghaturkan permohonan maaf apabila terdapat kesalahan dalam makalah ini. Penyaji
pun berharap pembaca makalah ini dapat memberikan kritik dan sarannya kepada penyaji agar di
kemudian hari penyaji bisa membuat makalah yang lebih lagi.

Akhir kata, penyaji ucapkan terima kasih kepada segala pihak yang tidak bisa disebutkan satu-
persatu atas bantuannya dalam penyusunan makalah ini.

Malang, 27 Februari 2019

Penyaji,

ii
DAFTAR ISI

Cover ........................................................................................................................................... i

Kata Pengantar .......................................................................................................................... ii

Daftar Isi ..................................................................................................................................... iii

Bab I

Pendahuluan ............................................................................................................................... 1

Latar Belakang ............................................................................................................................. 1

Rumusan Masalah ........................................................................................................................ 1

Tujuan .......................................................................................................................................... 2

Bab II

Pembahasan ................................................................................................................................ 3

Konsep Dasar Entitas ...................................................................................................................


37

Konsep Periode Akuntansi Bagian Tahun Pajak ......................................................................... 3

Anualisasi PKP ............................................................................................................................ 3

Alternatif Metode Akuntansi Berdasarkan Pajak ........................................................................ 4

Hubungan Istimewa dan Penilaian Kewajaran

Transaksi Kewajiban Pencatatan bagi Wajib Pajak Pribadi ......................................................... 5

Kewajiban Pembukuan Bagi Wajib Pajak Badan ........................................................................ 7


Kewajiban Perpajakan ................................................................................................................. 7
Pengecualian dan Sanksi Kewajiban Pembukuan ........................................................................ 8
Mata Uang dalam Pembukuan dan Konvergensi IFRS ............................................................... 9

iii
Bab III
Penutup ....................................................................................................................................... 11
Kesimpulan .................................................................................................................................. 11
Daftar Pustaka ........................................................................................................................... 12

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa pengertian dari Akuntansi Perpajakan ialah
Akuntansi yang diterapkan sesuai dengan peraturan perpajakan dan didalam mata kuliah
ini terdapat salah satu bab yang membahas tentang Kewajiban Pembukuan. Maka dari itu
penyaji akan menyajikan pembahasan yang lebih mendalam tentang Kewajiban
Pembukuan berikut konsekuensi atau sanksi apabila Wajib Pajak tidak
menyelenggarakannya dan sedikit membahas tentang suatu Entitas.
Dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 menyebutkan perlunya pembukuan
yang memuat sekurang-kurangnya perhitungan tahunan yang terdiri atas neraca akhir
tahun dan perhitungan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan. Perhitungan tersebut
dibuat sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK).
Kewajiban pembukuan terhadap setiap perusahaan tidak terbatas pada yang ada
pada Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), namun juga pada aturan yang
dimuat dalam Undang-Undang perpajakan yang mempunyai dasar yang sama yaitu
kepada setiap orang yang menjalankan perusahaan untuk menyelenggarakan pembukuan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa konsep dasar entitas?
2. Bagaimana konsep periode akuntansi pada bagian tahun pajak?
3. Apa yang dimaksud dengan Anualisasi PKP?
4. Apa saja alternative metode akuntansi berdasarkan pajak?
5. Apa saja hubungan istimewa dan bagaimana penilaian kewajaran transaksi kewajiban
pencatatan bagi wajib pajak pribadi?
6. Bagaimana kewajiban pembukuan bagi wajib pajak badan?
7. Apa saja kewajiban perpajakan?
8. Apa saja yang termasuk dalam pengecualian kewajiban pembukuan?
9. Bagaimana penjelasan mengenai mata uang dalam pembukuan dan konvergensi
IFRS?

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang konsep dasar entitas
2. Untuk mengetahui tentang konsep periode akuntansi pada bagian tahun pajak
3. Untuk mengetahui tentang Anualisasi PKP
4. Untuk mengetahui tentang berbagai alternative metode akuntansi berdasarkan pajak
5. Untuk mengetahui berbagai hubungan istimewa dan penjelasan mengenai penilaian
kewajaran transaksi kewajiban pencatatan bagi wajib pajak pribadi
6. Untuk mengetahui kewajiban pembukuan bagi wajib pajak badan
7. Untuk mengetahui berbagai kewajiban perpajakan
8. Untuk mengetahui berbagai pengecualian kewajiban pembukuan
9. Untuk mengetahui tentang mata uang dalam pembukuan dan konvergensi IFRS

2
BAB II

PEMBAHASAN MATERI

A. KONSEP DASAR ENTITAS

Hasil akhir dari proses akuntansi adalah berupa laporan keuangan. Penyusunan laporan
keuangan didasarkan pada asumsi-asumsi yang berkaitan dengan aktivitas, fungsi, atau unit
tertentu sebagai pusat perhatiannya.

B. KONSEP PERIODE AKUNTANSI BAGIAN TAHUN PAJAK

Mendasarkan pada suatu periode akuntansi sebagai acuan atau pedoman dalam
menentukan saat pengakuan terhadap penghasilan dan pengurang penghasilan atau beban.
Interval waktu atau masa yang sama (yaitu tahunan) sebagai dasar penghitungan atas pajak
penghasilan yang terutang bagi setiap wajib pajak dianut oleh Undang-undang Pajak (pasal 12,
Undang-undang No.7 tahun 1983). Masa atau periode penghitungan pajak demikian itu disebut
sebagai tahun pajak. Pada prinsipnya, tahun pajak adalah: (1) tahun kalender atau tahun takwim,
dan (2) oleh karena itu senantiasa meliputi jangka waktu 12 bulan. Surat Pemberitahuan yang
mencakup jangka waktu kurang dari satu tahun atau kurang dari 12 bulan biasanya harus dibuat
untuk yang pertama kalinya oleh para Wajib Pajak yang memperoleh persetujuan untuk
mengganti tahun pajaknya.

C. ANUALISASI PENGHASILAN KENA PAJAK

Undang-undang Pajak Penghasilan tahun 2000 menetapkan tarif marjinal pajak


penghasilan yang tertinggi untuk Wajib Pajak-Orang Pribadi adalah 35%, sedang untuk Wajib
Pajak-Badan adalah 30%. Tanpa adanya ketentuan untuk menganualisasikan penghasilan sebagai
basis perhitungan pajak dalam masa transisi bagi para Wajib Pajak yang ingin mengubah tahun
pajaknya, dengan mudah Wajib Pajak dapat menghindar dari pengenaan tarif tinggi tersebut.

3
D. ALTERNATIF METODE AKUNTANSI BERDASARKAN PAJAK

Pada dasarnya terdapat 3 alternatif metode alokasi pajak yang bisa dipakai, yaitu :

1. Deferred Method Menurut metode ini, selisih jumlah Pajak Penghasilan Terhutang
(berdasar SPT) dengan Biaya Pajak Penghasilan (berdasar laba akuntansi) dalam suatu
periode harus dicatat dan disajikan dalam Laporan Keuangan sebagai Pajak yang
Ditangguhkan Jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan berdasar tarif pajak yang
berlaku pada saat terjadinya transaksi atau item yang menyebabkan terjadinya perbedaan
atau selisih antara laba kena pajak dan laba akuntansinya. Deffered Method berorientasi
pada Laporan Rugi – Laba dan menitik beratkan pada tercapainya proper matching antara
pendapatan dan biaya dalam periode di mana selisih perhitungan pajak terjadi.
2. Liability Method Menurut metode ini jumlah Pajak yang Ditangguhkan ditentukan
berdasar tarif pajak yang diharapkan akan berlaku dalam periode di mana selisih pajak
akan dikompensasikan. Perhitungan Pajak yang Ditangguhkan bersifat tentatif yang
selalu memerlukan penyesuaian pada setiap kali terjadi perubahan tarif pajak
penghasilan. Menurut liability method, Pajak yang Ditangguhkan harus dipandang
sebagai kewajiban ekonomis untuk Pajak yang Terhutang atau sebagai aktiva untuk Pajak
yang Dibayar Dimuka.
3. Net of Tax Method Menurut metode ini, melaporkan Pajak yang Ditangguhkan dalam
neraca tidak dibenarkan karena Biaya Pajak Penghasilan yang dilaporkan dalam Laporan
Rugi – Laba harus sama dengan jumlah Pajak Penghasilan Terhutang atau pajak yang
harus dibayar untuk periode yang bersangkutan. Selisih yang terjadi karena adanya
perbedaan laba kena pajak dan laba akuntansi tidak dibukukan dalam suatu rekening
tersendiri, tetapi ditambahkan atau dikurangkan kepada aktiva atau hutang tertentu serta
unsur pendapatan atau biaya yang bersangkutan. Prinsip – Prinsip Alokasi Pajak Pada
dasarnya Alokasi Pajak Penghasilan bagi perusahaan sebagai wajib pajak bisa mencakup
dua hal :
a. Interperiod Allocation Yaitu proses alokasi pajak penghasilan antar periode tahun
buku yang satu dengan periode- periode tahun buku berikut atau sesudahnya.
Alokasi pajak penghasilan antar periode tahun buku ini diperlukan karena adanya
perbedaan terhadap jumlah laba kena pajak dan laba akuntansi.

4
b. Intraperiod Allocation Yaitu proses alokasi pajak penghasilan dalam suatu periode
akuntansi karena adanya perbedaan tarif pajak yang dikenakan terhadap tiap-tiap
komponen laba atau pendapatan (Misal : tarif pajak untuk laba sebelum pos luar
biasa berbeda dengan tarif pajak untuk laba atau rugi luar biasa.)
E. Hubungan Istimewa dan Penilaian Kewajaran Transaksi Kewajiban Pencatatan bagi
Wajib Pajak Pribadi

Dalam hal Harga Jual atau Penggantian dipengaruhi oleh hubungan istimewa, maka
Harga Jual atau Penggantian dihitung atas dasar harga pasar wajar pada saat penyerahan Barang
Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak itu dilakukan.

Hubungan istimewa dianggap ada apabila:

1. Mempunyai penyertaan langsung atau tidak langsung sebesar 25% (dua puluh lima
persen) atau lebih kepada Pengusaha lain, atau hubungan antara Pengusaha dengan
penyertaan 25% (dua puluh lima persen) atau lebih pada dua Pengusaha atau lebih,
demikian pula hubungan antara dua Pengusaha atau lebih yang disebut terakhir; atau
2. Pengusaha menguasai Pengusaha lainnya atau dua atau lebih Pengusaha berada di bawah
penguasaan Pengusaha yang sama baik langsung maupun tidak langsung; atau
3. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus
satu derajat dan/atau kesamping satu derajat.
4. Faktor kepemilikan atau penyertaan
Hubungan istimewa dianggap ada apabila terdapat hubungan kepemilikan berupa
penyertaan modal sebesar 25% (dua puluh lima perseratus) atau lebih, baik secara
langsung atau tidak langsung. Contoh :
a. Penyertaan Secara Langsung
PT. A memiliki 50% (lima puluh perseratus) saham PT. B. Kepemilikan saham PT. B
oleh PT. A tersebut merupakan penyertaan modal secara langsung sebesar lebih dari
25% (dua puluh lima perseratus). Dalam hal ini Dianggap ada hubungan istimewa
antara PT. A dan PT. B.
b. Penyertaan Secara Tidak Langsung
Jika PT. B tersebut diatas memiliki 50% (lima puluh perseratus) saham PT. C maka
PT. A sebagai pemegang saham PT. B, secara tidak langsung mempunyai penyertaan

5
pada PT. C sebesar 25% (dua puluh lima perseratus). Dalam hal tersebut, antara PT.
A, PT. B, dan PT. C terdapat hubungan istimewa. Hubungan kepemilikan tersebut
diatas juga dapat terjadi antara orang pribadi dan badan.
5. Faktor Penguasaan melalui manajemen atau penggunaan teknologi
Hubungan istimewa antara pengusaha dapat juga terjadi karena adanya penguasaan
melalui manajemen ataupun penggunaan teknologi, meskipun tidak terdapat hubungan
kepemilikan. Hubungan istimewa ada apabila satu atau lebih perusahaan berada dibawah
penguasaan yang sama. Demikian juga hubungan antara beberapa perusahaan yang
berada dalam penguasaan Pengusaha yang sama tersebut. Contoh :
a. Penguasaan melalui manajemen :
TA, Direktur Utama di perusahaan BB, juga menjabat sebagai Direktur Utama di
Perusahaan C. Dalam hal ini ada hubungan istimewa antara perusahaan BB dan C,
karena adanya penguasaan melalui manajemen oleh TA terhadap perusahaan BB dan
C.
b. Penguasaan melalui penggunaan Teknologi :
Perusahaan X yang memproduksi minuman menggunakan Formula yang diciptakan
oleh perusahaan Y. Dalam hal ini ada penguasaan melalui penggunaan teknologi oleh
perusahaan Y terhadap perusahaan X, sehingga terjadi hubungan istimewa antara
perusahaan X dan Hubungan Istimewa
6. Faktor hubungan keluarga sedarah atau semenda
Hubungan keluarga sedarah atau semenda ini dapat menimbulkan hubungan
istimewa diantara orang pribadi. Hubungan keluarga sedarah yang menimbulkan
hubungan istimewa adalah hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu
derajat yaitu hubungan antara seseorang dengan ayahnya, atau dengan ibunya, atau
dengan anaknya, dan hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan ke samping satu
derajat, yaitu hubungan antara seseorang dengan kakaknya, atau dengan adiknya.

Hubungan keluarga semenda yang dapat menimbulkan hubungan istimewa adalah


hubungan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus satu derajat, yaitu hubungan
antara seseorang dengan mertuanya, atau dengan anak tirinya, dan hubungan keluarga
semenda dalam garis keturunan ke samping satu derajat, yaitu hubungan antara seseorang

6
dengan iparnya. Apabila antara suami istri terdapat perjanjian pemisahan harta dan
penghasilan, maka antara suami istri tersebut terdapat hubungan istimewa.

F. Kewajiban Pembukuan Bagi Wajib Pajak Badan

Pasal 13 UU Pajak Perseroan Tahun 2007 menyatakan bahwa pihak pengurus perseroan,
perhimpunan, maskapai, lembaga dan badan yang menjalankan perusahaan yang labanya
dikenakan pajak harus menyelenggarakan pembukuan di Indonesia dengan cara sedemikian rupa,
sehingga dari pembukuan tersebut dapat diketahui laba yang dikenakan pajak.

Pengertian pebukuan sesuai dengnan pasal 21 angka 29 UU KUP menyatakan bahwa


pembukuan adalah suatu proses pencatatan yang dilakukan secara teratur untuk mengumoukan
data dan informasi keuangan yang meliouti aset, kewajiban, modal, penghasilan, dan biaya, serta
jumlah harta perolehan dan penyerahan barang/jasa, yang ditutup dengan menyusun laporan
keuabfba berupa neraca dan laporan laba riugi untuk priode tahun pajak tersebut

Apabila dibandingkan dengan pengertian akuntansi, maka pembukuan lebih sempit tetapi
bermakna sama, yaitu menghasilkan laporan keuangan dan lebih mengacu pada kebutuhan
informasi keuangan sebagai pertanggungjawaban wajib pajak yang dituangkan dalam surat
pemberitahuan (SPT). Laporan keuangn yang dihasilkan dari pemukuan harus mampu
mendukung atau membuktikan kebenaran anagka angka yang dilaporkadalam SPT pada saat
melaporkan pemeriksaan/penyedikikan yang sering disebut dengan Akuntantabilitas Pajak.

G. Kewajiban Perpajakan

Kewajiban perpajkan yang harus dipenuhi oleh wajib pajak terutama pembayaran PPh
Pasal 25 dan Pasal 29 adalah sebagai berikut :

Berdasarkan pajak penghasilan Pasal 25 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1),
ayat (2), ayat (4), dan ayat (6) UU PPh untuk tahun pajak pertama penyelanggaraan pembukuan
dengna menggunakan bahasa inggris dan satuan mata uang dolar Amerika Serikat adalah sebesar
pajak penghasilan Pasal 25 dalam satuan mata uang Rupiah yang dikonversikan menggunaan
kurs tengah Bank Indonesia yang berlaku :

7
1. Pada akhir tahun buku sebelum dimulainya pembukuan dengan bahasa inggris dan
satuan mata uang adollar Amerika Serikatuntuk konversi pajak penghasilan sebagaimana
dimaksud Pasal 25 ayat (2) UU PPh ;
2. Pada saat penyampaian atau batas waktu penyam[aian surat pemberitahuan yahunan
pajak penghasilan tahun pajak sebelum di ulainya pembukuan mengguunakan bahasa
inggris dan satuan dollar Amerika Serikat untuk konversi pajak penghasilan sebgaimana
yang dimaksud pada pasal 25 ayat (1) UU PPH ;
3. Pada saat SKP diterbitkan pada tahun pajak sebelum dimulainya pembukuan dengan
bahasa inggris dan satuan mata uang dollar Amerika Serikat unuk konversi pajak
penghasilan sebagaimana dimaksud Pasal 25 ayat (4) UU PPh dan pada saat penetapan
penghitungan besarnya angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (6)
UU PPh

Pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25 dan Pasal 29 serta Pajak Penghasilan Final yang
dibayar sendiri oleh Wjib Pajak yang memperoleh izin untuk menyelenggarakan pembukuan
dengan bahasa inggris dan satuan mata uang dolar Amerika Serikat dapat dilakukan dalam
satuan mata uang rupiah

Dalam hal pembayaran pajak yang dimaksud dilakuakn dalam satuan mata uang rupiah,
Wjib Pajak mengkonversikan paembayaran dalam satuan mata uang rupiah tersebut ke satuan
mata uang dolar Amerika Serikat menggunakan kurs yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Keuangan yang berlaku pada tanggal pembayaran.

H. Pengecualian dan Sanksi Kewajiban Pembukuan

Pengecualian Kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib melakukan


pencatatan adalah terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma perhitungan
penghasilan neto dan Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas.

Tetap mengacu pada Pasal 39 Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan, setiap orang yang dengan sengaja:

8
a. Memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan
seolah-olah benar;
b. Tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan, tidak memperlihatkan atau tidak
meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lainnya;

Sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan Negara, diancam dengan pidana
penjara selama-lamanya 6 (enam) tahun dan denda setinggi-tingginya 4 (empat) kali
jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar

Apabila seseorang melakukan tindak pidana lagi sebelum lewat waktu 1 (satu tahun
terhitung sejak seleseinya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan, maka pidananya
dilipatduakan.

I. Mata Uang dalam Pembukuan dan Konvergensi IFRS

Kosa kata konvergensi yaitu kata benda yang berasal dari kata “converge”. Sesaui kamus
bahasa kosa kata tersebut mempunyai arti “to became similar or the same”. Berarti konvergensi
IFRS yaitu membuat standar akuntansi menjadi sama atau serupa dengan IRFS dengan
mengadopsi penuh atau melakukan harmonisasi.

Dengan konvergensi IFRS, laporan keuangan menjadi lebih transparan, relevan, dapat
diandalkan, dapat dimengerti, dan diterima di era globalisasi yang mampu menunjang
pembangunan ekonomi Indonesia, seiring dengan perembangan pasar modal dengan tetap
memperhatikan keadaan, kebutuhan, dan kendala yang timbul. Sebagai kriteria yang harus
dipenuhi standar akuntansi dan pelaporan keuangan memenuhi syarat yag dapat diteria oleh
public sehingga mendapat predikat ” Generally Accepted Accounting Principals ‘ yaitu adanya
mekanisme penyusunan standar akuntansi dan leplaporan keuangn melalui due proses yang
lengkap dengan oleh suatu lembaga yang independe. Lembaga dimasksud harus mendapat
pengadilan public, sehingga dapat menghasilkan lembaga yang legitimate.

Internasional Accunting Standar Board (IASB) sebagai organisasi yang mengeluarkan


OFRS sebagai hasil kesepakatan yang dilakukan organisasi profesi akuntandsidari Australia,
kanada,, rancis, jerman, jepang, meksiko, belanda, inggris, amerika serikat dan irlandia. Sebagai
misi yang harus dilaksanankan oeh IASB yaitu mengmbangkan Standar Kuntasni dan Pelaporan

9
Keuangn Global. Sebagai pengharapan bahwa IASB mengusahakan konvergensi standar-standar
akuntansi dan pelaporan keuangan untuk seluruh dunia terhadap IFRS DI Indonesia standar
akuntansi dikenal dengan :

a) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)


b) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik)
c) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Syariah (PSAK Syariah)

Undang – Undang Pajak tidak mengatur engan istilah mata uang pelaporan utama Pasal
28 ayat (4) UU PPh menyatakan bahwa pembukuan atau pencatatan harus diselenggarakan di
Indonesia dengna menggunkan hrurd latin, angka arab,satuan mata uang tupiah dan disusun
dengan bahasa Indonesia atau dalam bahasa asingyang diizikan oleh Menteri Keuangn. Dari sisi
SAK dekenali mata uangpencatatan dan mata uang pelaporan.

10
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Akuntansi perpajakan dirumuskan sebagai bagian dari akuntansi yang menekankan


kepada penyusunan surat pemberitahuan pajak (tax return) dan pertimbangan konsekuensi
perpajakan terhadap transaksi atau kegiatan perusahaan dalam rangka pemenuhan kewajiban
perpajakan (tax compliance).
Dalam akuntansi perpajakan dijelaskan mengenai Kewajiban Perpajakan bagi
Wajib Pajak berserta sanksi apabila Wajib Pajak tidak menyelenggarakannya. Pasal 13 UU
Pajak Perseroan Tahun 2007 menyatakan bahwa pihak pengurus perseroan, perhimpunan,
maskapai, lembaga dan badan yang menjalankan perusahaan yang labanya dikenakan pajak
harus menyelenggarakan pembukuan di Indonesia dengan cara sedemikian rupa, sehingga
dari pembukuan tersebut dapat diketahui laba yang dikenakan pajak.

11
DAFTAR PUSTAKA

https://www.google.com/search?client=firefox-b-
d&q=contoh+kata+pengantar+kewajiban+pembukuan+akuntansi+pajak

https://www.academia.edu/35026455/Makalah_Pengantar_Perpajakan_Tentang_Kewajiban_Pe
mbukuan_dan_Pencatatan_dan_Pemeriksaan_dan_Penyidikan_Pajak

12