Anda di halaman 1dari 16

Anatomi Sistem Urogenital

Sistem urinaria atau disebut juga sebagai sistem ekskretori adalah sistem organ yang
memproduksi, menyimpan, dan mengalirkan urine. Pada manusia normal, organ ini terdiri
dari ginjal beserta sistem pelvikalis, ureter, vesika urinaria, dan uretra. Sistem genitalia atau
reproduksi pria terdiri daru atas testis, epididimis, vas deferens, vesika seminalis, kelenjar
prostat, dan penis. Organ genitalia terletak di rongga retroperitoneal dan terlindungi oleh
organ lain yang berada di sekitarnya, kecuali testis, epididimis, vas deferens, penis, dan
uretra.

1. Ginjal

Ginjal merupakan sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga


retroperitoneal bagian atas. Bentuknya menyerupai kacang dengan sisi cekungnya
menghadap ke medial. Cekungan ini disebut sebagai hilus renalis, yang di dalamnya
terdapat apeks pelvis renalis dan struktur lain seperti pembuluh darah, sistem
limfatik, dan sistem saraf. Ukuran rata-rata ginjal orang dewasa ialah 11,5 cm
(panjang) x 6 cm (lebar) x 3,5 cm (tebal). Beratnya bervariasi antara 120-170 gram,
atau kurang lebih 0,4% dari berat badan.

Ginjal dibungkus oleh jaringan fibrous tipis dan mengkilat yang disebut kapsula
fibrosa (true capsule) ginjal, yang melekat pada parenkim ginjal. Di luar kapsula
fibrosa terdapat jaringan lemak yang di sebelah luarnya dibatasi oleh fasia gerota. Di
antara kapsula diantara kapsula fibrosa ginjal dengan kapsula gerota terdapat rongga
perirenal.
Di sebelah kranial ginjal terdapat kelenjar anak ginjal atau glandula adrenal atau
disebut juga kelenjar suprarenal yang berwarna kuning. kelenjar adrenal bersama
sama ginjal dan jaringan lemak perirenal dibungkus oleh fasia gerota. Fasia ini
berfungsi sebagai barrier yang menghambat meluasnya perdarahan dari parenkin
ginjal serta mencegah ekstravasasi urine pada saat terjadi trauma ginjal selain itu
fasia gerota dapat pula berfungsi sebagai barrier dalam menghambat penyebaran
infeksi atau meghambat metastasis tumor ginjal ke organ di sekitarnya.

Di sebelah posterior, ginjal dilindungi oleh berbagai otot punggung yang tebal
serta tulang rusuk ke XI dan XII, sedangkan di sebelah anterior dilindungi oleh organ
intraperitoneal. Ginjal kanan dikelilingi oleh hepar, kolon, dan duodenum.
Sedangkan ginjal kiri dikelilingi oleh lien, lambung, pankreas, jejunum, dan kolon.

Secara anatomis, ginjal terbagi menjadi 2 bagian yaitu korteks dan medula ginjal.
Korteks ginjal terletak lebih superfisial dan di dalamnya terdapat berjuta-juta nefron.
Nefron merupakan unit fungsional terkecil ginjal. Medula ginjal yang terletak lebih
profundus banyak terdapat duktus atau saluran kecil yang mengalirkan hasil
ultrafiltrasi berupa urine. Nefron terdiri dari glomerulus, tubulus kontortus (TC)
proksimal, ansa henle, tubulus kontortus (TC) distal, dan duktus kolegentes.

Vaskularisasi

Suplai darah ke ginjal diperankan oleh arteri dan vena renalis. Arteri renalis
merupakan cabang langsung dari aorta abdominalis dan vena renalis yang bermuara
langsung ke dalam vena cava inferior. Arteri renalis bercabang menjadi anterior dan
posterior. Cabang posterior masuk ke segmen medius dan posterior. Cabang anterior
masuk ke kutub atas, bawah, dan seluruh segmen anterior ginjal. Arteri renalis
bercabang menjadi arteri interlobaris, yang berjalan di dalam kolumna Bertini (di
antara piramida renalis), kemudian membelok membentuk busur mengikuti basis
piramida sebagai arteri arcuata, dan selanjutnya menjadi korteks sebagai arteri
lobularis. Arteri ini bercabang kecil menuju glomerulus sebagai arteri afferen, dan
dari glomerulus kaluar arteri eferen yang menuju ke tubulus ginjal.

Innervasi

Ginjal mendapatkan persarafan melalui pleksus renalis, yamg seratnya berjalan


bersama dengan arteri renalis. Input dari ssistem simpatetik menyebabkan
vasokontriksi yang menghambat aliran darah ke ginjal. Ginjal diduga tidak mendapat
persarafan parasimpatis. Impuls sensorik dari ginjal berjalan menuju korda spinalis
T10-11, dan memberikan sinyal sesuai dengan level dermatomnya.

2. Ureter
Ureter adalah organ berbentuk tabung kecil yang berfungsi mengalirkan urin dari
perlvis ginjal ke vesika urinaria. Pada orang dewasa panjangnya kurang lebih 25-30
cm dan diameternya 3-4 mm. Ureter dibagi menjadi dua bagian yaitu ureter pars
abdominalis, yang membentang mulai dari pelvis renalis sampai menyilang vasa
iliaca, dan ureter pars pelvica, yang membentang dari persilangan vasa iliaca sampai
ke dalam vesika urinaria.

Innervasi

Ureter mendapatkan persarafan otonom simpatis dan parasimpatis.

- Simpatis: serabut preganglion dari segmen spinal T10-L2; serabut


postganglion berasal dari coeliak, aortikorenal, mesenterika superior, dan
pleksus otonom hipogastrik inferior.
- Parasimpatis: serabut vagal melalui coeliac ke ureter sebelah atas;
sedangkan serabut dari S2-4 ke ureter bawah.
3. Vesika Urinaria

Secara anatomis, vesika urinaria terdiri dari 3 permukaan, yaitu (1) permukaan
superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum, (2) dua permukaan
inferiolateral, (3) permukaan posterior. Permukaan superior merupakan lokus
minoris (daerah terlemah) dinding vesika urinaria.

Vesika urinaria berfungsi menampung urine dari ureter dan mengeluarkannya


melalui uretra dalam mekanisme miksi (berkemih). Dalam menampung urine, vesika
urinaria mempunyai kapasitas maksimal, yang volumenya untuk orang dewasa
kurang lebih 300-450 ml.pada saat kosong, vesika urinaria terletak di belakang
simfisis pubis dan pada saat penuh berada di atas simfisis pubis sehingga dapat
dipalpasi dan diperkusi.

Vaskularisasi
Vesika urinaria mendapatkan vaskularisasi dari cabang arteri iliaca interna,
yakni arteri vesikalis superior, yang menyilang di depan ureter. Sistem vena dari
vesika urinaria bermuara ke dalam vena iliaca interna.

Innervasi

Vesika urinaria yang penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen dan
mengaktifkan pusat miksi di medula spinalis segmen S2-4.

4. Uretra

Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine dari vesika urinari melalui
proses miksi. Secara anatomis, uretra dibagi menjadi 2 bagian yaitu uretra anterior
dan posterior. Pada pria, uretra juga berfungsi untuk menyalurkan air mani. Uretra
dilengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan vesika
urinaria dan uretra, serta sfingter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra
anterior dan posterior. Sfingter uretra interna dipersarafi oleh saraf simpatis sehingga
ketika vesika urinaria penuh, sfingter ini terbuka. Sedangkan sfingter uretra eksterna
dipersarafi oleh saraf somatik. Aktivitas sfingter uretra eksterna ini dapat diperintah
sesuai keinginan. Pada saat miksi, sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada saat
menahan miksi.

Uretra posterior pada pria terdiri atas 1) uretra pars prostatika, yakni bagian
uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan 2) uretra pars membranasea. Uretra
anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus spongiosum penis. Uretra
anterior terdiri atas 1) pars bulbosa, 2) pars pendularis, 3) fossa navikularis, dan 4)
meatus uretra eksterna.

5. Kelenjar Prostat

Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior vesika
urinaria, di depan rektum, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah
kemiri dengan ukuran 4x3x2,5cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. Kelenjar ini
terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa daerah
atau zona, yaitu zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona preprostatik
sfingter, dan zona anterior.
Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari
cairan semen atau ejakulat. Cairan ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan
bermuara di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen
yang lain pada saat ejakulasi. Volume cairan prostat merupakan ± 25% dari seluruh
volume ejakulat. Prostat mendapatkan innervasi otonom simpatis dan parasimpatis
dari pleksus prostatikus atau pleksus pelvikus yang menerima masukan serabut
parasimpatis dari korda spinalis S2-4 dan simpatis dari nervus hipogastrikus (T10-
L2).

6. Testis

Testis adalah organ genitalia pria yang pada normalnya jumlahnya ada dua dan
masing-masing terletak di dalam skrotum kanan dan kiri. Bentuknya ovoid dan pada
orang dewasa ukurannya adalah 4x3x2,5 cm dengan volume 15-25 ml. Kedua buah
testis terbungkus oleh jaringa tunika albuginea yang melekat pada testis. Di luar
tunika albuginea terdapat tunika vaginalis yang terdiri atas lapisan viseralis dan
parietalis, serta tunika dartos. Otot kremaster yang berada di sekitar testis
memungkinkan testis dapat digerakkan mendekati rongga abdomen untuk
mempertahankan temperatur testis agar tetap stabil.

Testis mendapatkan darah dari beberapa cabang arteri yaitu (1) arteri spermatika
interna yang merupakan cabang dari aorta, (2) arteri deferensialis cabang dari arteri
vesikalis inferior, dan (3) arteri kremasterika yang merupakan cabang arteri
epigastrika. Pembuluh vena yang meninggalkan testis berkumpul membentuk
pleksus pampiniformis.

7. Epididimis

Epididimis adalah organ yang berbentuk seperti sosis terdiri atas kaput, korpus,
dan kauda epididimis. Korpus epididimis dihubungkan dengan testis melalui duktuli
eferentes. Vaskularisasi epididimis berasal dari arteri testikularis dan arteri
deferensialis. Di sebalah kaudal, epididimis berhubungan dengan vasa deferens. Sel
spermatozoa setelah diproduksi di dalam testis dialirkan ke epididimis. Di sini,
spermatozoa mengalami maturasi sehingga menjadi motil (dapat bergerak) dan
disimpan di dalam kauda epididimis sebelum dialirkan ke vas deferens.

8. Vas Deferens
Vas deferens adalah organ berbentuk tabung kecil yang panjangnya 30-35 cm,
bermula dari kauda epididimis dan berakhir pada duktus ejakulatorius di uretra
posterior. Duktus deferens dibagi dalam beberapa bagian yaitu (1) pars tunika
vaginalis, (2) pars skrotalis, (3) pars inguinalis, (4) pars pelvikum, dan (5) pars
ampularis. Duktus ini terdiri dari otot polos yang mendapatkan persarafan dari saraf
simpatis sehingga dapat berkontraksi untuk menyalurkan sperma dari epididimis ke
uretra posterior.

9. Vesikula Seminalis

Vesikula seminalis terletak di dasar vesika urinaria dan di sebelah kranial dari
kelenjar prostat. Panjangnya kurang lebih 6 cm berbentuk sakula-sakula. Vesikula
seminalis menghasilkan cairan yang merupakan bagian dari semen. Cairan ini
diantaranya adalah fruktosa, berfungsi dalam memberi nutrisi pada sperma.
Bersama-sama dengan vas deferens, vesikula seminalis juga bermuara di dalam
duktus ejakulatorius.

10. Penis

Penis terdiri dari 3 korpus berbentuk silindris, yaitu 2 buah korpus cavernosum
yang berada di sebelah ventralnya dan 1 korpus spongiosum.

Penis terdiri dari 3 buah korpus silindris, yaitu 2 buah korpus kavernosum yang
saling berpasangan dan sebuah korpus spongipsum yang berada di sebelah
ventralnya. Korpus kavernosum dibungkus oleh jaringan fibroelastik tunika
albuginea sehingga merupakan satu kesatuan, sedangkan di sebelah proksimal
terpisah menjadi dua sebagai krura penis. Setiap krus penis dibungkus oleh otot
ischiocavernosus yang kemudian menempel pada ramus os.ischii.

Korpus spongiosum membungkus uretra mulai dari diafragma urogenitalis


hingga muara uretra eksterna. Sebelah proksimal korpus spongiosum dilapisi oleh
otot bulbocavernosus. Korpus spongiosum ini berakhir pada sebelah distal sebagai
glans penis. Ketiga korpus, yakni 2 buah korpus kavernosum dan sebuah korpus
spongiosum dibungkus oleh fasia Buck dan lebih superficial lagi oleh fasia Colles
atau fasia Dartos yang merupakan kelanjutan dari fasia Scarpa.
Histologi Sistem Urogenitalia

1. Ginjal

Setiap ginjal memiliki sisi medial cekung yang disebut hilus yang berfungsi
sebagai tempat masuknya saraf, keluarnya ureter serta masuk dan keluarnya
pembuluh darah dan pembuluh limfe. Ginjal juga memiliki permukaan lateral yang
cembung, yang keduanya dilapisi oleh kapsula fibrosa. Ujung atas ureter yang
disebut pelvis renalis, terbagi menjadi dua atau tiga calix major. Cabang yang lebih
kecil, yaitu calix minor, muncul dari setiap calix major. Area yang mengelilingi
calix, disebut sinus renalis, biasanya mengandung sejumlah jaringan adiposa.

Ginjal memiliki korteks di bagian luar dan medula di bagian dalam. Pada
manusia, medula ginjal terdiri atas struktur berbentuk kerucut yang disebut piramida
ginjal, yang dipisahkan oleh penjuluran korteks yang disebut columna renalis. Setiap
piramida medula plus jaringan korteksi di dasarnya dan di sepanjang sisinya
membentuk suatu lobus ginjal.

Setiap ginjal terdiri atas 1-1,4 juta unit fungsional yang disebut nefron. Cabang
utama setiap nefron adalah:

 Korpuskel ginjal, yaitu pelebaran bagian awal di korteks


 Tubulus kontortus proksimal, yang terutama berada di korteks
 Bagian tipis dan tebal gelung nefron (ansa Henle), yang menurun ke
dalam medula dan menanjak kembali ke korteks
 Tubulus kontortus distal
 Tubulus colligens

Tubulus colligens dari sejumlah nefron yang berkonvergensi ke dalam duktus


colligens yang mengangkut urine ke calix dan ureter. Nefron korteks berada hampir
sepenuhnya di korteks sementara nefron jukstamedular di dekat medula memiliki
gelung panjang di medula.

a. Korteks
Keterangan :
1. Tubulus kontortus proksimalis 4. Kapsula Bowman pars
viseral
2. Tubulus kontortus distalis 5. Kavum Bowman
3. Kapsula Bowman pars parietal 6. Glomerulus

b. Medula

1. Pars desenden Ansa henle (segmen tebal) 3. Ansa Henle


(segmen tipis)
2. Pars asenden Ansa Henle (segmen tebal) 4. Duktus koligens

2. Ureter

Mukosa ureter dilapisi oleh epitel transisional unik berlapis atau organ ini dilapisi
oleh epitel transisional unik berlapis atau urothelium. Epitel ini dikelilingi oleh
lamina propria dan submukosa yang terlipat, diikuti dengan sarung jalinan lapisan
otot polos dan tunika adventisia. Urine bergerak dari pelvis renalis ke kandung kemih
karena kontraksi peristaltik.

Urothelium terdiri dari 3 lapisan berikut:

 Selapis sel basal yang terletak pada membran basal yang sangat tipis
 Regio peralihan yang terdiri atas satu atau beberapa lapis sel yang lebih
kolumnar
 Sebuah lapisan superfisial sel bulbosa polihedral yang sangat besar yang
disebut umbellocytus (umbrella cell) yang terkadang berinti dua atau
multinuklear dan sangat terdiferensiasi melindungi sel-sel di bawahnya
dari efek sitotoksik urine hipertonik.

1) Epitel Transisional 4. Tunika muskularis sirkularis


2) Lamina propia 5. Tunika Adventitia
3) Tunika Muskularis longitudinalis

3. Vesika urinaria

Vesika urinaria memiliki struktur histologis yang sama dengan ureter dengan
dinding semakin tebal saat mendekati vesika urinaria. Lamina propria vesika urinaria
dan jaringan ikat iregular padat submukosa banyak vaskularisasi. Muskularis terdiri
atas tiga lapisan yang tidak berbatas tegas, secara kolektif disebut otot detrusor yang
berkontraksi mengosongkan vesika urinaria. Ketiga lapisan otot terlihat paling jelas
di leher vesika urinaria dekat uretra. Ureter melintas melalui dinding kandung kemih
secara oblik, yang membentuk suatu katup yang mencegah aliran balik urine ke
dalam ureter. Semua pasase urine dilapisi tunika adventisia di luar, kecuali bagian
atas vesika urinaria yang dilapisi oleh peritoneum serosa.

1) Epitel transisisonil
2) Lamina propria (mengandung jaringan fibrioelastis / padat)
3) Lamina propria (mengandung jaringan ikat jarang / longgar)

4. Uretra

Uretra merupakan suatu saluran yang membawa urine kandung kemih ke luar.
Mukosa uretra memiliki lipatan longitudinal yang besar, yang memberikannya
tampilan khusus dalam potongan melintang. Pada pria, dua duktus untuk transpor
sperma selama ejakulasi menyatukan uretra di kelenjar prostat. Uretra pria lebih
panjang dan terdiri atas tiga segmen:

 Uretra prostatika: dengan panjang 3-4 cm, terbentang melalui kelenjar


prostat dan dilapisi oleh urothelium
 Uretra membranasea: suatu segmen pendek, berjalan melalui suatu
sfingter eksternal otot rangka dan dilapisi oleh epitel bertingkat dan epitel
berlapis.
 Uretra spongiosa: panjang 15 cm, terbenam dalam jaringan erektil penis
dan dilapisi oleh epitel kolumnar bertingkat dan kolumnar berlapis,
dengan epitel skuamosa berlapis di distal.
5. Kelenjar prostat

Prostat merupakan suatu kumpulan 30-50 kelenjar tubuloalveolar yang


bercabang, yang ke semuanya dikelilingi oleh stroma fibromuskular padat yang
dilapisi oleh suatu simpai. Kelenjar tersebut tersusun berupa lapisan konsentris di
sekitar uretra: lapisan internal kelenjar mukosa, lapisan intermedia kelenjar
submukosa, dan lapisan perifer dengan kelenjar utama prostat. Duktus dari setiap
kelenjar dapat bersatu tetapi kesemuanya bermuara langsung ke dalam uretra pars
prostatika, yang menembus bagian pusat prostat. Prostat mempunyai tiga zona yang
sesuai dengan lapisan kelenjar:

 Zona transisi: menempati sekitar 5% volume prostat, mengelilingi uretra


prostatika, dan memiliki kelenjar mukosa yang bermuara langsung ke
dalam uretra.
 Zona sentral: menempati 25% volume kelenjar dan memiliki kelenjar
submukosa dengan duktus yang lebih panjang.
 Zona perifer: menempati sekitar 70% prostat dan memiliki kelenjar
utama dengan duktus yang lebih panjang. Kelenjar area ini merupakan
tempat tersering timbulnya peradangan dan kanker.

Kelenjar tuboalveolar prostat dibentuk oleh selapis epitel silindris atau epitel
bertingkat silindris. Getah kelenjar prostat mengandung berbagai glikoprotein dan
enzim dan menyimpan getah ini untuk dikeluarkan selama ejakulasi. Sejumlah besar
stroma fibromuskular mengelilingi kelenjar tersebut. Prostat dikelilingi oleh suatu
simpai fibroelastis. Septum dari simpai ini mempenetrasi kelenjar dan bercabang
menjadi lobus-lobus tersendiri. Seperti vesikula seminalis, struktur dan fungsi
prostat bergantung pada kadar testosteron.

6. Testis
1. Tubulus seminiferus 4. Spermiogenesis
2. Spermatogenesis 5. Sel sertoli
3. Sifat Klonal Sel Benih Pria 6. Jaringan Intrastitiel

Tubulus seminiferus: Sel Sertoli dan spermatogenesis.


Pada dua potongan melintang tubulus seminiferus yang tampak, sebagian besar jenis
sel terkait dapat terlihat. Di luar tubulus terdapat sel mioid (M) dan fibroblas (F). Di dalam
dekat membran basal terdapat banyak spermatogonia yang mencolok, sel kecil yang
membelah secara mitosis tetapi membentuk populasi yang mengalami meiosis. Sel meiotik
tumbuh dan mengalami sinapsis kromosomal menjadi spermatosit primer (PS), yang terhenti
selama 3 minggu pada profase pembelahan meiosis pertama; selama masa ini terjadi
rekombinasi. Spermatosit primer merupakan sel spermatogenik terbesar dan biasanya
banyak dijumpai pada semua iingkat di antara membran basal dan lumen" Masing-masing
membelah membentuk spermatosit sekunder, yang jarang terlihat pada sediaan karena sel-
sel ini segera mengalami pembelahan meiosis kedua dan membentuk dua spermatidhaploid.
Spermatid bundar (RS) yang baru terbentuk berdiferensiasi dan kehilangan volumenya
menjadi spermatid panjang (LS) dan akhirnya menjadi sel sperma yang motil dan sangat
khusus. Semua tahap spermatogenesis dan spermiogenesis terjadi dengan sel yang
berhubungan
erat dengan permukaan sel Sertoli (SC) yang berdekatan dan menjalankan sejumlah fungsi
penunjang. Kedua gambardengan perbesaran 750x.

Spermiogenesis
Spermiogenesis merupakan tahap akhir produksi sperma dan merupakan proses transformasi
spermatid menjadi spermatozoa, yaitu selyang sangat dikhususkanuntuk menyampaikan
DNA pria kepada ovum. Tidak terjadi pembelahan sel selama proses ini berlangsung.

Jaringan Interstisial
Jaringan interstisial testis merupakan temPat produksi androgen. Ruang di antara tubulus
seminiferus terisi oleh jaringan ikat yang mengandung sel mast, makrofag, saraf, pembuluh
darah dan limfe, termasuk kapiler bertingkap. Selama pubertas, sel interstisial, atau sel
Leydig, menjadi jelas sebagai sel bulat atau poligonal dengan inti di pusat dan sitoplasma
eosinofilik dengan banyak tetes lipid halus.

7. Ductus intratesticularis
Duktus genital intratestis adalah tubulus lurus (tubuli recti), rete testis, dan ductuli
efferentes Duktus-duktus tersebut membawa spermatozoa dan cairan dari tubulus
seminiferus ke ductus epididymidis.
• Tubulus rectus dan rete testis
R : Rete testis S: tubulus Seminiferus

CT: connective tissue (jaringan ikat mediastinum) V: Blood vessel


(pembuluh darah)

T: Tubulus (lurus pendek)/tubulus rectus

 Rete testis dan ductuli efferentes

E: ductuli Efferentes R: Rete testis


CT: connective tissue (jaringan ikat mediastinum) V: Blood vessel (p. Darah)

8. Duktus Genital Ekskretoris


Duktus genital ekskretorik mencakup ductus epididymidis, ductus deferens (vas
deferens), dan uretra.
• Ductus Epididymidis

TV: Tunica Vaginalis B: sel basal kecil


DE: Ductus Epididymidis SM: Smooth Muscle (otot polos)
V: Blood vessel (pembuluh darah)
 Ductus deferens (vas deferens)

M: Mukosa A: Tunuka Adventitiaa


L-SM: Longitudinal-Smooth Muscle E: Lapisan Epitel tebal
C-SM: Circularly-Smooth Muscle LP: Lamina Propria

9. Penis
Komponen utama penis adalah tiga massa silindris dari jaringan erektil, dan urethra
penis, yang terbungkus kulit. Dua di antara silinder-silinder ini terdapat corpora
cavernosa yang terletak di dorsal

 Uretra penis

UG: Urethra gland (kelenjar uretra) CC: Corpora Cavernosa


PU: Penis urethra (uretra penis) HA: Heliciane
CS: Corpus Spongiosum TA: Tunika Albuginea
Referensi:
- Anatomi:

Buku dasar-dasar urologi

- Histologi

Mescher, Anthony L. 2011. Histologi dasar Junqueira : teks & atlas.Edisi 12. Hal : 362-
375. EGC.