Anda di halaman 1dari 158

(BACK COVER)

MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MODUL PELATIHAN
PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT DESA
PENDAMPING LOKAL DESA

PENGARAH :
Marwan Jafar
(Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia)

PENANGGUNG JAWAB:
Ahmad Erani Yustika
(Dirjen, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa)

TIM PENYUSUN:
Ibe Karyanto, Roni B. Sulistyo, Haris Shantanu
Yuni Pranoto, Susilawati Muslimah, Hadian Supriatna
M. Sodiq, Lendy Wibowo, Khairun Nisak, Desrizal
Endang Wijayanti, Sunariyah, Hindun Hilda
Dyah Kusuma Pitasari, Daryanti, Moch. Achlis Udin
Frada Visca Alvin, Hapids Muslim, Subhan Ansory
M. Khoirul Umam, Abdul Wahid Ola

TIM PEMBACA :
Eko Sri Haryanto, Bito Wikantosa, Maizir Akhmadin

LAYOUT :
Heru Yepe

GAMBAR ILUSTRASI :
Ibe Karyanto

Cetakan Pertama, Oktober 2015

Diterbitkan oleh:
KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL,
DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA
Jl. Abdul Muis No. 7 Jakarta Pusat 10110
Telp. (021) 3500334

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
i
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahiim
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT dengan rahmatnya bahwa Modul Pelatihan Pembangunan
dan Pemberdayaan Masyarakat Desa bagi Pendamping Lokal Desa telah hadir dihadapan pembaca. Secara
umum modul pelatihan ini dimaksudkan untuk menyiapkan Pendamping Lokal Desa dalam melaksanakan
tugas fasilitasi implementasi Undang Undang Nomor 6 tentang Desa di lokasi Program Pendampingan Desa
di sekitra 74.800 Desa se-Indonesia.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2015 tentang Kementerian Desa, Pembangunan Daerah
Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), tugas yang wajib diemban adalah menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang pembangunan desa dan kawasan perdesaan, pemberdayaan masyarakat
desa, percepatan pembangunan daerah tertinggal, dan transmigrasi untuk membantu Presiden dalam
menyelenggarakan pemerintahan Negara (Pasal 2).
Harapan dari kehadiran modul pelatihan ini dapat memenuhi kebutuhan semua pihak dalam rangka mendorong
peningkatan kapasitas Pendamping Lokal Desa yang mampu melakukan fasilitasi pendampingan desa sesuai
dengan kebutuhan, kondisi sosial masyarakat dan peraturan yang berlaku. Selain itu harapannya Modul
Pelatihan ini bisa menjadi bahan referensi bagi pelaku pemberdayaan masyarakat desa baik dari unsure
masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat dan pemangku kepentingan lain
dalam upaya memfasilitasi implementasi Undang-Undang No. 6 tahun 2014 tentang Desa.

DIREKTUR JENDERAL
PEMBANGUNAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA
Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika

ii Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ii

Daftar Isi iii

BAB I MATRIKS KURIKULUM 2

BAB II PANDUAN MEMBACA MODUL 13

BAB III RENCANA PEMBELAJARAN 22

PB. 1 VISI UNDANG-UNDANG DESA

SPB.1.1. Visi Perubahan Sosial Desa 24

SPB.1.2. Ruang Strategis Implementasi UU Desa 33

BAHAN BACAAN 36

PB. 2 PRODUK HUKUM DESA

SPB.2.1. Kewenangan Desa 38

SPB.2.2. Produk Hukum Desa 41

SPB.2.3. Mekanisme Pengambilan Keputusan 46

SPB.2.4. Hubungan Peraturan Desa Terkait Produk Hukum Lain 50

BAHAN BACAAN 54

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
iii
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB. 3 SISTEM PEMBANGUNAN DESA

SPB.3.1. Musyawarah Desa Dan Potensi Ruang Terbuka 73

SPB.3.2. Perencanaan Pembangunan Desa 77

SPB.3.3. Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan Desa 80

SPB.3.4. Penganggaran Pembangunan Desa 84

BAHAN BACAAN 87

PB. 4 PENGEMBANGAN WILAYAH DESA

SPB.4.1. Desa Mandiri 114

SPB.4.2. Pengembangan Wilayah Desa 117

BAHAN BACAAN 120

PB. 5 PENDAMPINGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA

SPB.5.1. Pemberdayaan Dalam Perspektif Pendidikan Kesadaran Masyarakat 137

SPB.5.2. Peran Strategis Pendampingan Desa 140

BAHAN BACAAN 144

iv Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAB I

KURIKULUM PELATIHAN
PENDAMPING LOKAL DESA

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
1
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MATRIK KURIKULUM
PELATIHAN PENDAMPING LOKAL DESA

A. LATAR BELAKANG

Pengesahan Undang undang Desa No.6 Tahun 2014 (UU Desa) menandai dibukanya gerbang
harapan menuju kehidupan berdesa yang lebih maju.UU Desa di samping memberikan dasar hukum
bagi keberadaan desa, juga menghadirkan cara pandang baru dalam melihat pembangunan dan
pemberdayaan masyarakat desa. Desa diakui desa sebagai subyek yang mengatur dan mengurus
pemerintahannya sendiri. Masyarakatnya memiliki ruang dan kesempatan luas untuk ikut ambil bagian
dalam perencanaan pembangunan desa. Bahkan pemerintah, utamanya Pemerintah Kabupaten/
Kota diwajibkan mendampingi desa dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat menuju
kemandirian.

Ruang lingkup implementasi visi baru UU Desa sangat luas. Salah satunya adalah menyangkut
kesiapan pemerintah baik dalam menyiapkan tata kelola dan penyesuaian kerja birokrasi, maupun
dalam melakukan pendampingan masyarakat desa. Pendampingan sebagaimana tercantum dalam
Pasal 2 Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi 2015 bertujuan;

• Meningkatkan kapasitas, efektivitas dan akuntabilitas pemerintahan desa dan


pembangunan Desa;
• Meningkatkan prakarsa, kesadaran dan partisipasi masyarakat Desa dalam
pembangunan desa yang partisipatif;
• Meningkatkan sinergi program pembangunan Desa antarsektor; dan
• Mengoptimalkan aset lokal Desa secara emansipatoris.

Mengingat luasnya ruang lingkup implementasi UU Desa, maka Pemerintah dalam


melaksanakan fungsi pendampingan dapat melimpahkan sebagian kewenangannya kepada tenaga
ahli profesional dan pihak ketiga (UU Desa Psl 112, ayat 4 dan PP 43, Psl 128 ad 2). Tenaga ahli
profesional yang dimaksud adalah pendamping desa, tenaga teknik, dan tenaga ahli pemberdayaan
masyarakat desa (Permendes No.3/2015 Psl. 5), termasuk diantarnya adalah pendamping lokal
desa (Pasal 129, ayat 1 (a) PP No.47 Tahun 2015). Karena itu di samping peningkatan kapasitas
satuan kerja pemerintah daerah, perlu juga peningkatan kapasitas pendamping desa, utamanya
pendamping lokal desa, untuk membantu terselenggaranya kerja-kerja optimal demi terwujudnya
visi UU Desa.

2 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Sehubungan dengan tujuan pendampingan, maka kapasitas pendampingan desa yang diperlukan
mencakup: (1) pengetahuan tentang kebijakan UU Desa, (2) keterampilan memfasilitasi pemerintah
desa dalam mendorong tatakelola pemerintah desa yang baik; (3) keterampilan tugas-tugas teknis
pemberdayaan masyarakat, dan (4) sikap kerja yang sesuai dengan standar kompetensi pendamping
dan tuntutan UU Desa. Kapasitas itu perlu dimiliki oleh setiap tenaga profesional yang bertindak
sebagai pendamping, termasuk Pendamping Lokal Desa dengan tugas utamanya mendampingi
desa dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa, kerja sama desa, pengembangan BUM Desa,
dan pembangunan berskala lokal desa.

Salah satu sarana untuk meningkatkan kapasitas Pendamping Lokal Desa dalam melakukan
pendampingan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa adalah pelatihan atau proses
pembelajaran. Sekalipun cakupan pokok materi pelatihan atau pembelajaran bagi setiap pendamping
desa, baik dari satuan kerja pemerintah daerah maupun tenaga ahli dari pihak ketiga, adalah sama
namun manajemen pelatihan (metode penyampaian, media, dan evaluasi pencapaian) berbeda.
Terutama manajemen pelatihan atau proses pembelajaran untuk peningkatan kapasitas Pendamping
Lokal Desa yang tuntutan kualifikasi dan latar belakangnya lebih bersifat umum.

Atas dasar kebutuhan tersebut, dalam rangka mendukung pelaksanaan UU Desa dan
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan
Masyarakat Desa Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang
menginisiasi penyelenggaraan pelatihan Pendamping Lokal Desa untuk mendorong implementasi
UU Desa.

Diharapkan dalam pelatihan ini dapat menghasilkan Pendamping Lokal Desa Pendampingan
Desa yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai untuk membantu
pemerintah daerah dan pemerintah desa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan
desa secara profesional, efektif dan efisien, akuntabel, terbuka dan bertanggungjawab.

B. RUANG LINGKUP

Kurikulum Pelatihan Pendamping Lokal Desa disusun dengan maksud memberikan kerangka
acuan dalam penyelenggaraan pelatihan Pendamping Lokal Desa sebagai Pendampingan Desa
agar siap mendampingi pemerintah desa dan masyarakat desa dalam mengawal implementasi UU
Desa.

Selanjutnya, dalam rangka mempersiapkan dan melaksanakan Pelatihan Peningkatan


Kapasitas Pendamping Lokal Desa maka disusun paket pelatihan yang terdiri dari:

1) Petunjuk Penyelenggaraan Pelatihan Pendamping Lokal Desa;


2) Matrik Kurikulum Pelatihan Pendamping Lokal Desa;
3) Panduan Pelatih dalam memfasilitasi proses pembelajaran bagi Pendamping Lokal Desa.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
3
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

C. TUJUAN PELATIHAN

Tujuan Pelatihan Pendamping Lokal Desa, yaitu:

1. Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Peserta memiliki kemampuan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai
dalam menjalankan tugas pokok, peran dan fungsinya memfasilitasi memfasilitasi
implementasi Undang-Undang No. 6 Tahun 2014.

2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


1. Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki kemampuan sebagai
berikut:
2. Memahami perspektif dan semangat Implementasi Undang-Undang Desa;
3. Memahami peran dan fungsi Pendamping Lokal Desa dalam pengorganisasian dan
pemberdayaan masyarakat;
4. Terampil dalam memfasilitasi pemerintahan desa dan masyarakat menyelenggarakan
Musyawarah Desa;
5. Terampil dalam memfasilitasi Pemerintah Desa dan BPD dalam menyusun RPJMDesa
dan RKPDesa;
6. Aktif terlibat bersama pemerintahan desa serta masyarakat desa untuk meningkatkan
kapasitas dan perannya dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan
pembangunan desa;
7. Aktif dan terampil memfasilitasi pemerintah desa dan masyarakat desa dalam
menentukan dan menyusun langkah strategis untuk perubahan desa

4 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

D. SKEMA DINAMIKA PELATIHAN

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
5
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MATRIK MATERI PELATIHAN


E.

6 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

F. GARIS BESAR PROGRAM PELATIHAN

Garis besar program pelatihan Pendamping Lokal Desa terdiri dari tiga materi utama baik
menyakup pengetahuan, keterampilan maupun sikap. Masing-masing bagian terbagi ke dalam aspek
yang lebih khusus. Alur pelatihan dimulai dengan membangun perspektif pemahaman tentang visi
perubahan sosial desa yang diamanatkan UU Desa No.6 Tahun 2014. Untuk membantu peserta
memahami relevansi gagasan ideal visi perubahan desa dengan kenyataan hidup berdesa, termasu
pada bagian awal ini peserta didorong untuk belajar mengenali ruang-ruang strategis implementasi
UU Desa.

Selanjutnya peserta diajak untuk mengenal dan memahami aspek normatif terkait dengan
peraturan perundangan dan kebijakan yang menjadi dasar tata kelola atau pelaksanaan implementasi
UU Desa. Bobot dari bagian kedua garis besar program pelatihan terletak pada kemampuan
memahami aspek normatif. Meskipun demikian dalam pelatihan ini peserta diajak juga memahami
aspek keterampilan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya mendampingi
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan desa.

Kemampuan memahami perspektif ideologis UU Desa dan kemampuan mengenali regulasi,


aturan main merupakan aspek fundamental yang dibutuhkan Pendamping Lokal Desa dalam
mengoptimasi peran serta fungsinya. Selanjutnya dibutuhkan tingkat keterampilan, kreatifitas dan
sikap yang memadai untuk menerjemahkan nilai-nilai idologis dan dormatif itu ke dalam tindakan
Pendamping. Kebutuhan itu akan dipenuhi dari materi bagian terakhir yang menitikberatkan
pada kemampuan Pendamping Lokal Desa memahami dan secara terampil menempatkan tugas
pemberdayaan dalam perspektif pendidikan kesadaran masyarakat desa untuk mewujudkan visi
perubahan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
7
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

8 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
9
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

10 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
11
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAB II

PANDUAN
MEMBACA MODUL

12 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PANDUAN PEMBACA
Modul Pelatihan bagi Pendamping Lokal Desa (PLD) ini merupakan bahan pelatihan yang akan
dijadikan sebagai bahan pembekalan sekaligus panduan bagi Pendamping Teknis Kabupaten dan
Pendamping Desa dalam mendorong implementasi UU Desa melalui pelatihan yang akan mereka
sampaikan kepada Pendamping Lokal Desa. Diharapkann nantinya, melalui Modul Pelatihan ini,
PLD memiliki persepsi yang benar mengenai UU Desa serta terbangun komitmennya untuk terlibat
dalam proses mendiring Desa dalam proses pembangunan.

Pelatihan bagi PLD sendiri akan dilakukan oleh Pendamping Teknis Desa yang telah ada
(Fasilisator Kabupaten PNPM Mandiri Perdesaan-red) dan juga Pendamping Desa (Fasilitator
Kecamatan PNPM Mandiri Perdesaan-red) kepada tenaga Pendamping Lokal Desa yang direkruit
oleh Satuan Kerja Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Provinsi.

Kebutuhan Akan Modul Pelatihan


Modul ini dimaksudkan untuk memandu pelatih dalam memfasilitasi proses pelatihan di
tingkat kecamatan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan kondisi di lapangan, bahwa masih banyak
masyarakat yang belum memahami secara baik dan benar substansi UU Desa berikut proses
implementasinya. Dari hasil analisis kebutuhan pelatihan menunjukkan bahwa kondisi pendamping
desa menunjukkan tingkat pemahaman yang berbeda tentang implementasi Undang-Undang Desa
sesuai dengan latar belakang, karakteristik wilayah, dan kondisi sosial yang ada.

Pengalaman menjalani proses pembangunan yang sentralistik semasa era Orde Baru
(Government Driven Development) yang kemudian berubah menjadi pembangunan partisipatif yang
mengedepankan masyarakat sebagai pelaku (Community Driven Development) ternyata masih
memiliki kelemahan di mana penguatan di masyarakat tidak diiringi penguatan kepada pemerintah
desanya. Padahal, sesuai dengan amanat UU Desa, Desa merupakan subyek pembangunan, persis
pada kondisi ini Desa sebagai keseluruhan mencakup pemerintahan desanya serta masyarakat
desa, seluruhnya. Desa pada akhirnya merupakan perpaduan antara Local Self Government (LSG)
serta Self Governing Community (SGC) sekaligus.

Desa sebagai masyarakat yang berpemerintahan (LSG) menentukan pemerintahannya sendiri


(SGC), membutuhkan pendekatan yang holistik dan integral. Perpaduan konsep antara LSG dan
SGC membutuhkan pemahaman yang jernih bagi setiap pelaku pemberdayaan, terutama sekali
bagi siapa pun yang berkomitmen dengan desa. Untuk itulah Modul ini dibuat.
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
13
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Maksud dan Tujuan


Pendamping Desa dan Pendamping Lokal Desa merupakan pengguna akhir dari modul ini.
Mengacu kepada Surat Dirjem PPMD tentang kualifikasi tenaga Pendamping Lokal Desa yang
pendidikan minimal adalah Lulus SMP, maka modul ini disusun dengan mempertimbangkan kondisi
tersebut. Maka, modul pelatihan ini dimaksudkan untuk :

1. Menyamakan persepsi dan konsep pendampingan desa berbasis pedekatan Desa


sebagai Subyek (Village Driven Development- VDD) seperti diamanatkan dalam UU
Desa;
2. Mempersiapkan calon Pendamping Desa untuk bisa memfasilitasi proses pelatihan
tenaga Pendamping Lokal Desa yang memiliki komitmen dalam rangka mendorong
Desa untuk secara optimal mampu mengimplementasikan proses pembangunan
dengan semangat UU Desa;

Format Modul
Modul Pelatihan P3MD segaja didesain menjadi 2 (dua) model, pertama adalah:
1. Modul Pelatihan Pendamping Desa; dan
2. Modul Saku (Pocket Module) yang memuat istilah sekaligus muatan substansi dan
muatan teknis seputar UU Desa.

Sasaran Pengguna
Modul ini secara khusus ditujukan bagi Pendamping Teknis Kabupaten dan Pendamping Desa
yang akan melatih para Pendamping Lokal Desa.

14 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Dengan sasaran pengguna tersebut, maka format modul yang disiapkan menjawab kebutuhan
pengguna.

Modul Pelatihan : menjadi modul pegangan pelatih.


Pocket Module : Modul Saku secara spesifik ditujukan bagi Pendamping Lokal Desa,
maka format modul saku ini lebih menyerupai ‘Buku Pintar’

Namun demikian, keseluruhan modul ini bisa dipakai oleh siapa saja yang memiliki kepedulian
dan semangat untuk mendukung Desa melalui implementasi UU Desa.

Bagaimana Modul Pelatihan ini Disusun?


Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kementerian Desa
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi mendorong disusunnya Modul Pelatihan bagi
Pendamping Lokal Desa melalui :

1. Kajian Kebutuan : melalui form isian untuk menggali kebutuhan akan pentingnya
modul pelatihan berikut materi yang dibutuhkan. Form tersebut didistribusikan kepada
para Koorprov KNPP Transisi untuk diisi sesuai dengan kebutuhan yang ada di lokasi
tugasnya;
2. Penyusunan Draft Modul I : Draft Modul Pelatihan Pendamping Desa dan Pendamping
Lokasl Desa I disusun oleh Tim yang terdiri dari Tim Training KNPP Transisi dilengkapi
dengan Bahan Bacaan yang disusun oleh para Tenaga Ahli di KNPP.
3. Workshop Penyelesaian Penulisan Modul, Kurikulum dan Bahan Bacaan Pelatihan
Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Tahun Anggaran 2015 :
Workshop ini sebagai bagian penting untuk membedah Draft Modul I untuk hingga
menjadi Modul siap pakai di lapangan;
4. Ujicoba Modul : Modul yang telah selesai secara substansi, diujicobakan ke 5 (lima)
kabupaten di 5 (lima) provinsi terpisah, yakni Kabupaten Banyumas (Jawa Tengah),
Kabupaten Kampar (Riau), Kabupaten Gianyar (Bali), Kabupaten Konawe Selatan
(Sulawesi Tenggara) dan Kabupaten Malang (Jawa Timur). Dari ujicoba yang dilakukan
tersebut sebagai bahan untuk penyempurnaan modul yang disusun.

Modul ini telah mengalami berbagai penyesuaian melalui proses penelaahan, konsultasi,
lokakarya, dan masukan dari berbagai pihak terutama dari pelatih senior dan pendamping desa. Hasil
pelatihan ujicoba di 5 (lima) kabupaten memberikan gambaran tentang kekuatan dan kelemahan
modul ini. Oleh karena itu modul pelatihan ini dapat diibaratkan sebagai buku berjalan yang
memberikan peluang bagi pembaca atau pengguna dalam memberikan warna dan penyesuaian
sesuai dengan kaidah pembelajaran dan kebutuhan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
15
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Sistematika dan Isi Modul


Modul pelatihan ini dirancang menggunakan standar format yang menyertakan pokok-pokok
materi, panduan pelatih, lembar kerja dan lembar tayang (presentasi atau beberan atau bahan
paparan) yang bermanfaat bagi calon pelatih yang akan menyampaikan materi pelatihan. Modul
pelatihan dikemas dalam bentuk panduan bagi pelatih agar mudah digunakan dan memungkinkan
dan penyesuaian dengan kondisi lingkungan belajar peserta.

Modul pelatihan ini terdiri dari 5 Pokok Bahasan utama dan 12 Subpokok Bahasan yang
membahas kerangka isi, proses belajar, media dan penilaian terkait bagaimana visi UU Desa serta
upaya-upaya implementasinya. Secara rinci struktur materi modul pelatihan ini digambarkan dalam
table sebagai berikut:

16 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Skema Pelatihan
Skema dan alur Pelatihan Pendamping Lokal Desa yang akan bertugas memfasilitasi proses
pembangunan di desa di wilayah kerja masing-masing. Para Pendamping Lokal Desa akan diberikan
pemahaman mengenai konsep serta regulasi terkait dengan UU Desa, serta pengetahuan mengenai
sistem pembangunan di Desa serta upaya pengembangannya, Modul pelatihan ini digunakan untuk
memandu pelatih untuk memfasilitasi kegiatan pelatihan Pendamping Lokal Desa. Secara umum
skema atau alur pelatihan digambarkan sebagai berikut:

Catatan
1. Modul Pelatihan Bukan Buku Ajar
Modul ini disusun sebagai koridor pembelajaran semata-mata, dan Modul ini didukung oleh
Bahan Bacaan serta Bahan Tayang juga kelengkapan lain yang bisa digali oleh setiap pelatih
sesuai dengan kondisi setempat. Dan olah karenanya, Modul ini murni sebagai pemandu.
Pengalaman dan kapabilitas Pelatih (Pendamping Desa dan juga Pendamping Teknis
Kabupaten) akan sangat menentukan hasil dari desain modul yang dikembangkan. Untuk itu,
Modul ini tidak dibaca sebagai buku tersendiri, melainkan harus dilengkapi dengan Bahan
Bacaan yang disediakan serta bacaan dan pengalaman lain yang mendukung.

2. Kaidah Belajar Orang Dewasa


Modul pelatihan ini disusun berdasarkan kaidah-kaidah pendidikan orang dewasa, pelatih
hendaknya tidak menggurui, melainkan sebagai fasilitator menjadi pengarah atau pengolah
proses belajar dan mengakumulasikan secara partisipatif-kreatif dari pengalaman yang telah
dimiliki peserta. Sebagai suatu pengalaman, modul ini diperlakukan layaknya sebagai panduan
bukan ―kitab suci‖ yang tidak boleh dirubah.
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
17
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Sebagian bahasan dalam modul pelatihan merupakan refleksi pengalaman para pemangku
kepentingan yang terlibat dalam pendampingan desa. Penjelasan lebih diarahkan sebagai
petunjuk praktis dan teknis bagi pelatih yang akan menggunakannya untuk keperluan pelatihan.
Manfaat yang diharapkan dari modul ini, jika dipakai sebagai alat untuk menggali pengalaman
dan merefleksikannya dalam kehidupan nyata dalam berdesa.

3. Kreativitas dan Kondisi Lokal


Kreativitas pelatih/ fasilitator sangat menentukan dalam proses pengayaan serta kualitas
pelatihan yang dilaksanakan. Modul pelatihan ini lebih efektif, jika digunakan sepanjang tidak
menyalahi aturan atau prinsip-prinsip dasar pendidikan partisipatoris. Oleh karenanya, pelatih
dapat :

• Mengembangkan metodologi serta penggunaan media yang lebih bervariasi.


Namun demikian, tujuan dari Modul ini harus tetap menjadi acuan dasar pelatihan.
• Menggunakan media sekreatif mungkin;
• Sebanyak mungkin mengangkat persoalan-persoalan atau issue-isuue yang
terjadi di lokasi pelatihan;
• Menggunakan pengalaman peserta sebagai picu pengayaan dan pendalaman
materi pelatihan.

Oleh karena itu, mendalami dan memahami alur modul dari setiap pokok bahasan menjadi
syarat mutlak untuk lebih leluasa dalam pelatihan. Jangan membatasi diri, kembangkan dan
perkaya proses secara kreatif serta memadukan dengan pengalaman peserta.

4. Cara Menggunakan Modul


Modul pelatihan ini memberikan beberapa petunjuk berupa pilihan belajar yang dapat digunakan
oleh pelatih dalam memahami dan menyampaikan materi pelatihan. Setiap pokok bahasan atau
subpokok bahasan berisi tema-tema atau aktivitas belajar yang disusun dengan menggunakan
pendekatan induktif atau deduktif secara bergantian atau bersamaan. Hal ini sangat tergantung
karakteristik materi yang hendak disampaikan. Namun, demikian keselarasan, keterpaduan
dan kemudahan penyajian menjadi pertimbangan dalam menggunakan modul pelatihan ini.
Oleh karena itu, pahami kurikulum dan struktur anataomi modul pelatihan dengan benar,
kemudian hubungkan dengan struktur materi atau pokok bahasan yang disajikan, sehingga
memudahkan mendalami substansi maupun metodologinya. Jika terdapat hal-hal yang
membutuhkan penyesuaian atau pengayaan, pelatih dengan mudah dapat mengguna-kan
variasi lain tanpa keluar dari kerangka pokok dari modul pelatihan ini.

Dalam setiap bagian atau pokok bahasan terdiri dari beberapa subpokok bahasan atau modul
dengan topik yang beragam dan dapat dipelajari secara mandiri sesuai dengan materi yang
diperlukan. Masing-masing subpokok bahasan dalam modul ini menggambarkan urutan
kegiatan pembelajaran dan hal-hal pokok yang perlu dipahami tentang materi yang dipelajari
serta keterkaitannya dengan topik lainnya.

18 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Dalam setiap subpokok bahasan dilengkapi dengan panduan pelatih yang membantu
dalam mengarahkan proses, media dan sumber belajar, lembar kerja, lembar evaluasi dan
lembar informasi atau bahan bacaan. Masing-masing disusun secara kronologis yang agar
memudahkan bagi pengguna dengan memberikan alternatif dalam memanfaatkan setiap
subpokok bahasan secara luas dan fleksibel.

Setiap pokok bahasan dilengkapi dengan bahan bacaan pendukung yang dapat dibagikan
secara terpisah dari panduan pelatihan agar dapat dibaca peserta sebelum pelatihan di mulai.
Pelatih juga diperkenankan untuk menambah atau memperkaya bahan bacaan untuk setiap
subpokok bahasan berupa artikel, buku, juklak/juknis dan kiat-kiat yang dianggap relevan.

Disamping itu, pembaca di berikan alat bantu telusur berupa catatan diberikan termasuk ikon-
ikon yang akan memandu dalam memahami karakteristik materi dan pola penyajian yang
harus dilalukan dalam pelatihan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
19
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

20 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
21
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAB III

RENCANA
PEMBELAJARAN

22 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB
1 Visi Undang Undang Desa

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
23
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 1.1.
Visi Perubahan Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:
1. Mampu menjelaskan visi UU Desa tentang perubahan desa
yang maju, kuat, mandiri, berkeadilan dan demokratis
2. Mampu menjelaskan pemahaman tentang kedaulatan desa
dalam kaitannya dengan azas pengakuan (rekognisi) dan
pelaksanaan kewenangan (subsidiaritas) dalam kaitannya
pengertian “masyarakat berpemerintahan (Self Governing
Community) dan pemerintahan lokal berskala desa (Local
Self Government)”.

Waktu
3 JPL (135 menit)

Metode
Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, isolasi/double tape, laptop, dan infocus

24 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

Aktivitas 1. Kelemahan Desa


1. Bukalah pertemuan dengan menjelaskan tujuan yang
akan dicapai dalam sesi belajar bersama ini terkait
Inti bagian
dengan sub pokok bahasan tentang visi UU Desa ini fasilitator
memperkenalkan
2. Mulailah menghidupkan kelas dengan mengajak
peserta untuk berdiskusi, curah gagasan tentang cara analisa
kenyataan desa (sosial, ekonomi, budaya, alam, sosial yang
mata pencarian, konflik dan lainnya). Bantulah diskusi sederhana dengan
dengan panduan pertanyaan berikut; melemparkan
a. Ceritakan tentang “desa” (tempat tinggal peserta)? pertanyaan
b. Apakah jenis pekerjaan yang ada di desa mencukupi berurutan untuk
kebutuhan hidup masyarakat desa? mengetahui
c. Apakah ada kecenderungan masyarakat desa untuk hubungan sebab
meninggalkan desa (pergi ke kota)? akibat.
d. Mengapa?
e. Bagaimana susunan pemerintahan desa?
Pertanyaan bisa
f. Siapakah (kelompok manakah) yang berperan
diubah mengikuti
dalam kehidupan berdesa?
jawaban peserta.
g. Apakah peserta pernah terlibat dalam proses
pembangunan desa (musyawarah perencanaan,
pengawasan pembangunan)?
3. Selesai diskusi, rangkumlah hasil diskusi kelompok
kecil dengan menunjukkan hubungan sebab akibat
dari jawaban-jawaban para peserta dan kenyataan Lihat atau
kelemahan-kelemahan desa. tayangkan
lembar
4. Akhiri sesi belajar dengan menunjukkan lemahnya
posisi (keberdaaan) desa di dalam peraturan informasi no.1
perundangan dan kebijakan sebelum UU Desa. SPB 1.1.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
25
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Aktivitas 2. Visi UU Desa


1. Tanyakan kepada peserta apa artinya visi

2. Jelaskan tentang arti visi desa dengan menggunakan


jawaban peserta yang paling tepat atau yang
mendekati tepat

Visi desa adalah arah pandangan ke depan


atau cita-cita desa yang dirumuskan dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah
desa dan diperjuangkan melalui RKP Desa

3. Langkah selanjutnya, jelaskan kepada peserta apa visi


yang diamanatkan UU.

Visi UU Desa, menjadikan desa


maju, kuat, mandiri, adil, sejahtera
dan demokratis

4. Bagikanlah satu kertas kosong (meta plan) kepada


Berikan waktu
setiap peserta. Mintalah peserta dari ujung kiri untuk
menghitung berurutan mulai 1 sampai dengan 6. yang cukup
Mintalah peserta untuk menjawab pertanyaan sesuai kepada setiap
dengan nomor urut; peserta untuk
a. Nomor 1 – apa artinya “desa maju?’” membahas topik
b. Nomor 2 – apa artinya “desa kuat?”
c. Nomor 3 – apa artinya “desa mandiri?”
d. Nomor 4 – apa artinya “desa adil?”
e. Nomor 5 – apa artinya “desa sejahtera?”
f. Nomor 6 – apa artinya “desa demokratis?”

5. Selanjutnya mintalah setiap peserta secara bergiliran


membacakan jawabannya, sebelum menempelkan
jawabannya di tempat yang bisa dilihat bersama (Bisa
juga disusun di lantai).

26 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

6. Setelah selesai semua peserta membacakan


jawabannya, buatlah rangkuman yang jelas tentang
pengertian desa maju, kuat, mandiri, adil, sejahtera
dan demokratis.

7. Tegaskan bahwa desa akan maju, kuat, mandiri, adil,


sejahtera dan demokratis kalau desa berperan sebagai
pelaku utama (subyek) dalam pembangunan.

Aktivitas 3. Azas, Hak dan


Kewenangan Lokal Desa
1. Jelaskan bahwa kedudukan desa sebagai subyek
itu didasarkan pada azas pengakuan (rekognisi) dan
pelaksanaan kewenangan (subsidiaritas) lokal berskala Tunjukan
desa posisi utama
2. Diskusikan langsung dengan peserta; azas rekognisi
• Apa artinya hak asal-usul bagi desa? dan subsidiaritas
• Hak asal-usul desa meliputi apa saja?
di antara azas-
azas pengaturan
Hak asal-usul makna pokoknya adalah desa lain (Psl.3.
mengakui keberadaan desa sebagai komu- UU Desa No.6
nitas (masyarakat) yang mengatur hidup Thn 2014)
bersama dengan kearifannya, hukum adat-
nya, dan pranata sosialnya
Bisa gunakan
Bahan Tayang
3. Jelaskan bahwa hak asal-usul itu juga merupakan
pengakuan atas keberadaan desa sebagai komunitas SPB 1.1.
(masyarakat) berpemerintahan (self governing
community)
4. Selanjutnya jelaskan arti subsidiaritas sebagai azas
otonomi atau pemberian kewenangan.

makna pokok dari subsidiaritas adalah pemberian


kewenangan/otonomi kepada desa untuk mengurus
dan mengatur desa sebagai bagian dari pemerin-
tahan Kabuopaten/Kota.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
27
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Lanjutkan dengan menjelaskan maksud subsidiaritas


dalam kaitannya dengan kewenangan lokal berskala
desa (local self government).
6. Akhiri sesi belajar bersama materi visi UU Desa dengan
mengingat ulang (review) pokok-pokok penting dalam
aktivitas 1, 2 dan 3

28 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Lembar Informasi no.1


SPB 1.1.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
29
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

(Sutoro Eko, dkk - 2015)

30 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Lembar Informasi no.2


SPB 1.1.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
31
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

32 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 1.2.
Ruang Strategis
Implementasi UU Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan,
1. Mampu menjelaskan arti ruang strategis implementasi UU
Desa
2. Mampu menunjukkan contoh-contoh nyata potensi ruang-
ruang strategis yang ada di desa

Waktu
2 JPL (90 menit)

Metode
Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
33
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Bukalah pertemuan dengan menjelaskan tujuan yang


akan dicapai dalam sesi belajar bersama ini
Visi Desa =
2. Ajak partisipasi peserta dengan meminta untuk Gagasan ideal
menjawab pertanyaan;

• Apa arti implementasi visi UU Desa?

• Apa yang dimaksud ruang strategis?

3. Kemudian mintalah peserta mengingat kembali pokok


materi sebelumnya tentang visi UU Desa.
Implementasi =
tindakan
Pokok penting dari langkah ini adalah
menunjukkan bahwa visi adalah rumusan
tentang cita-cita yang berupa ide atau ga-
gasan.

Implementasi adalah tindakan atau ke-


giatan untuk mewujudkan visi menjadi Visi
yang baik hanya bisa dilihat dari tindakan Ruang terbuka,
(implementasi) desa membangun dan musyawarah,
memberdayakan masyarakat.
pelaksanaan,
pengawasan,
4. Jelaskan arti ruang strategis implementasi UU Desa. pemberdayaan

Ruang strategis yang dimaksud


adalah ruang terbuka yaitu peristiwa,
tempat atau kesempatan dimana Bisa gunakan
masyarakat desa bisa berdialog, Bahan Tayang SPB
bisa menyampaikan gagasan, saling 1.1.
menguatkan, mendukung gagasan
tentang kepentingan masyarakat desa.

34 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Ingatkan kembali secara ringkas tentang sistem (tahap)


pembangunan desa; perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, pengawasan .

6. Bagilah jumlah peserta ke dalam kelompok-


kelompok kecil. Mintalah masing-masing kelompok
mendiskusikan hal terkait ruang strategis implementasi
UU Desa;
a. Dalam sistem pembangunan desa, dimana tahap
yang menentukan pembangunan desa akan
berpihak pada masyarakat desa (pro people)atau
tidak?

b. Dimana masyarakat bisa terlibat, ikut menentukan


arah pembangunan desa?
c. Dimana ruang strategis untuk menentukan
pembangunan desa yang berpihak pada
kepentingan masyarakat desa?
d. Mengapa ruang itu (pertanyaan c)dinilai strategis?

7. Mintalah setiap kelompok untuk menyampaikan hasil


diskusi. Berikan kesempatan kepada kelompok lain
untuk menanggapi hasil temuan kelompok lain.

8. Akhiri sesi belajar bersama dengan memberikan


tekanan pada pokok-pokok gagasan hasil temuan
belajar bersama.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
35
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN
BACAAN

36 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB
2 Produk Hukum Desa

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
37
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.1.
Kewenangan Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta mampu:
1. Menjelaskan latar belakang dan pengertian kewenangan
berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala
desa
2. Menemukan dan menjelaskan contoh kewenangan
berdasarkan hak asal-usul dan kewenagan lokal berskala
desa

Waktu
1 JPL (45 menit)

Metode
Sharing, curah pendapat. pemaparan, disko, pleno

Media
Bahan bacaan, bahan tayang

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

38 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Mulailah dengan menjelaskan pokok bahasan, sub


pokok bahasan dan tujuan yang ingin dicapai dalam
proses belajar bersama.

2. Antarkan peserta memahami ruang lingkup pokok


bahasan dengan mendiskusikan pertanyaan;
a. Apa yang dimaksud dengan kewenangan desa?

b. Dari mana sumber yang menjadi dasar


kewenangan desa?

3. Rangkumlah hasil diskusi dengan menunjukkan secara


jelas sumber kewenangan desa. Ingatkan kembali
materi SPB.
Kewenangan desa bersumber dari 1.1. (aktivitas
azas rekognisi dan subsidiaritas 3) tentang
(Psl 3, UU Desa No.6 Th 2014) pengertian hak
asal-usul dan
kewenangan lokal
4. Bagilah jumlah peserta ke dalam beberapa kelompok berskala desa
kecil. Berikanlah pertanyaan di bawah berikut sebagai
bahan diskusi kelompok:
a. Sampai dimana batas ruang lingkup kewenangan
desa berdasarkan hak asal-usul?
b. Sampai dimana batas ruang lingkup kewenangan
lokal berskala desa?

c. Sebutkan produk-produk hasil kewenangan desa


berdasarkan hak asal-usul dan kewenangan lokal
berskala desa?

5. Mintalah setiap kelompok untuk memaparkan hasil


diskusinya. Berikan kesempatan pada kelompok lain
untuk menyampaikan komentar, memperkaya temuan
atau klarifikasi.
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
39
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

6. Rangkum hasil diskusi kelompok sekaligus klarifikasi


jawaban para peserta dengan menunjukkan pokok-
pokok jawaban yang benar.

7. Akhiri sesi belajar dengan memberikan tekanan pada


arti kewenangan desa sebagai dasar kemandirian desa
dalam membangun dan memberdayakan masyarakat
desa.

40 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.2.
Produk Hukum Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta mampu:
1. Mampu menjelaskan pengertian dan kedudukan peraturan-
peraturan desa dalam struktur hirarki perundang-undangan
2. Mampu menjelaskan jenis-jenis peraturan desa dan
fungsinya dalam kehidupan berdesa

Waktu
2 JP (90 menit)

Metode
sharing, brainstorming. pemaparan, disko, pleno

Media
Bahan bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
41
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Jelaskan tujuan yang akan dicapai dalam proses


pembelajaran terkait dengan materi sub pokok
bahasan.

2. hukum bagi kehidupan berdesa.

3. Lanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang


kedudukan produk hukum desa dalam struktur hirarki Lihat lembar
(tata urutan) perundang-undangan. informasi no.1
4. Fasilitasi diskusi bersama untuk memahami ruang SPB 2.1.
produk hukum desa. Sampaikan pertanyaan-
pertanyaan berikut sebagai panduan diskusi;
a. Apa saja produk hukum yang ada di desa?

b. Apa yang dimaksud dengan peraturan desa?

c. Sampai dimana batas ruang lingkup kewenangan


desa dalam mengatur produk hukum desa ?
d. Sebutkan dan jelaskan Produk Hukum di Desa
menurut UU No. 6 Tahun 2014?

Jenis peraturan di desa terdiri dari Tuliskan pokok-


Peraturan Desa, Peraturan Bersama pokok temuan
Kepala Desa, dan Peraturan Kepala Desa. diskusi untuk
(UU No.6 Th 2014; BAB VII, Psl 69 – 70)
memudahkan
fasilitator
5. Akhiri sesi belajar bersama dengan mengulang membuat
pokok-pokok temuan hasil diskusi. Sekaligus berikan rangkuman akhir
tekanan pemahaman pentingnya produk peraturan
diskusi
desa sebagai dasar hukum pembangunan desa dan
kehidupan berdesa.

42 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Lembar Informasi no.1


SPB 2.2.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
43
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Lembar Informasi no.2


SPB 2.2.

44 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
45
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.3.
Mekanisme
Pengambilan Keputusan

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta mampu:
1. Mampu menjelaskan mekanisme (tahapan) pengambilan
keputusan dan tata peyusunan peraturan desa
2. Mampu menjelaskan kedudukan peraturan desa dalam
hubungannya dengan produk hukum lain

Waktu
1 JP (45 menit)

Metode
Sharing, brainstorming, pemaparan, pleno

Media
Bahan bacaan, cerita kasus

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

46 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Mulailah dengan menjelaskan tujuan yang akan dicapai


dalam sesi ini dengan menunjukkan topik atau materi
yang akan menjadi pokok bahasan. Rancangan
Peraturan
2. Aktifkan kelas dengan meminta peserta mencari Desa wajib
pasangan (3 orang) yang duduk bersebelahan kemudian
dikonsultasikan
minta kesediaan kelompok mendiskusikan beberapa
kepada masyarakat
pertanyaan berikut;
Desa” (Ayat 9)
a. Bagaimana mekanisme (tata cara) penyusunan dan
pengambilan keputusan sampai pada penetapan Masyarakat Desa
produk hukum desa? berhak memberikan
masukan terhadap
b. Siapa yang bertanggungjawab dalam penyusunan
Rancangan
dan pemutusan produk hukum di desa?
Peraturan Desa.”
c. Siapa saja yang dilibatkan dalam penyusunan dan (Ayat 10)
pemutusan produk hukum di desa?
(UU No 6 Th
d. Bagaimana keterlibatan masayarakat dalam
2014 BAB VII
penyusunan dan pemutusan produk hukum di desa? PERATURAN DESA
3. Mintalah salah satu kelompok peserta untuk mulai Pasal 69)
menyajikan paparan hasil diskusinya.

4. Berikan kesempatan pada kelompok lain untuk


mengonfrontasi/membandingkan hasil diskusinya dengan
apa yang baru saja dipaparkan kelompok penyaji.
Lihat lembar
5. Buatlah rangkuman jawaban terkait dengan materi
informasi no.1 -
bahasan secara berurutan dan teratur (sistematis)
sehingga mudah dipahami peserta. SPB 2.3.

6. Akhiri sesi dengan menunjukkan peraturan perundangan


yang menjadi dasar hukum tentang ketentuan
mekanisme pengambilan keputusan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
47
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Lembar Informasi no.1


SPB 2.3.

48 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
49
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 2.4.
Hubungan Produk Hukum Desa
dengan Produk Hukum Lain.

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta mampu:
1. Mengidentifikasi dan menjelaskan jenis rancangan peraturan
desa yang dievaluasi Bupati/Walikota
2. Menjelaskan tahapan evaluasi rancangan peraturan desa
oleh Bupati/walikota.

Waktu
1 JP (45 menit)

Metode
sharing, brainstorming, pemaparan, pleno

Media
sharing, brainstorming, pemaparan, pleno

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

50 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Mulailah kegiatan dengan menyampaikan tujuan yang


akan dicapai dalam sesi kali ini sesuai materi sup
pokok bahasan yang akan dibahas.

2. Ajaklah peserta untuk aktif terlibat dalam diskusi


pembahasan pertanyaan berikut; Diskusi ini
a. Bagaimana pola hubungan pemerintahan desa sekaligus
dengan pemerintahan Kabupaten/Kota? membantu
peserta
b. Apakah Bupati/Walikota memiliki kewenangan
terkait dengan produk hukum atau peraturan desa?
mengingat
kembali materi
3. Bantulah mengklarifikasi jawaban para peserta untuk sub pokok
pertanyaan huruf (a)dengan mengingatkan kembali
azas rekognisi dan subsidiaritas.
bahasan
sebelumnya.
4. Tegaskan jawaban peserta untuk pertanyaan (b)
dengan menunjukkan kewenangan Bupati/Walikota
terkait dengan jenis-jenis produk hukum atau peraturan
desa tertentu.

Jelaskan dengan mengacu pada isi


Permendagri No. 111 Tahun 2014, Bab
IV, Pasal 14 dan seterusnya tentang
“Evaluasi dan Klarifikasi Peratuan
Desa”

5. Mintalah peserta untuk berpasangan dengan peserta


yang duduk di samping kanannya. Kemudian mintalah
setiap pasangan untuk mendiskusikan pertanyaan
berikut;
a. Bagaimana prosedur dan mekanisme evaluasi
Bupati/walikota terhadap rancangan peraturan
desa?

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
51
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

6. Selesai kelompok berdiskusi, berikan kesempatan


kepada pasangan peserta yang berani mengangkat Cukup beberapa
tangan untuk menyampaikan temuan hasil diskusinya. pasangan
7. Akhiri sesi pembelajaran sub pokok bahasan berikut kelompok
dengan memberikan klarifikasi atau penegasan atas yang diberi
jawaban para peserta dengan menunjukkan prosedur kesempatan
dan mekanisme evaluasi sebagaimana yang telah
untuk mewakili
ditetapkan.
jawaban peserta
yang lain.
Jelaskan dengan mengacu pada isi
Permendagri No. 111 Tahun 2014, Bab
IV, Pasal 14 dan seterusnya tentang
“Evaluasi dan Klarifikasi Peratuan
Desa”

Lihat lembar informasi 2, SPB 3.4.

52 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Lembar Informasi no.1


SPB 2.4.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
53
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN
BACAAN

54 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Keterpaduan Regulasi Desa dengan


Peraturan Perundangan Lain
(Borni Kurniawan)

Pengantar

Sebelum Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 tentang Desa lahir, Desa kurang mendapat
perhatian yang serius dari Negara. Desa belum mendapat pengakuan sebagai entitas kesatuan
hukum masyarakat Negara bangsa Indonesia. Sebagai kesatuan hukum masyarakat, Desa
secara asali memiliki kemampuan dan kewenangan untuk mengatur dirinya sendiri. Bentuk
pengaturannya diwujudkan dalam bentuk hukum adat. Ada yang tertulis, ada yang tidak
tertulis. Dengan pranata hukum tersebut, masyarakat desa dapat hidup dalam harmoni tidak
hanya antarpenduduk desa itu sendiri, tapi keharmonisan antara penduduk desa dengan
lingkungan hidup di sekitarnya. Sebagai contoh masyarakat negeri di Maluku dan Ambon
mengenal sasi dan kewang. Di desa-desa di Nusa Tenggara Barat dan Bali dikenal dengan
awig-awig.

Awal mulanya sasi adalah piranti di zaman dahulu yang diciptakan masyarakat Maluku untuk
memelihara dan melestarikan hutan, laut dengan segala hasilnya di petuanan salah satu
desa maupun negeri. Sebagai piranti sosial, waktu itu sasi belum tertulis sebagai perangkat
hukum. Meski tidak tertulis, sasi yang berlaku di suatu desa/negeri sangat dipegang teguh.
Dalam perkembanganya, sasi kemudian diformalkan dalam bentuk hukum tertulis pada
zaman penjajahan Belanda. fungsiSasi dan Kewang meliputi; a) supaya semua tanaman
yang menyangkut buah-buahan dijaga dengan baik. Buah-buahan yang ditanam di dalam
dusun diambil pada waktunya yaitu ketika buah-buahan tersebut menjadi tua dan masak. b)
supaya tanah-tanah negeri dan labuhan (laut) dapat terpelihara dengan baik guna dipakai
oleh penduduk negeri tersebut. c) agar menjadi alat pelerai, mengurangi semua bentuk
perselisihan menyangkut hasil dusun diantara para anggota disebuah dusun, yaitu antara

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
55
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
anak-anak Dati1 dan Kepala Dati, antara anak-anak pusaka dan kepala pusaka. d) agar
pencurian terhadap tanaman dan hasilnya dan kecelakaan-kecelakaan yang sering menimpa
perempuan berkurang (Eko dan Kurniawan, 2010).

Di NTB dan Bali, awig-awig adalah aturan hukum adat yang harus dipatuhi semua warga
sebagai pedoman dalam bersikap dalam kehidupan sehari-hari maupun sikap dalam
berinteraksi dengan lingkungan alam sekitar. Awig-awig adalah aturan yang dikeluarkan
oleh Desa atau lembaga adat atas kesepakatan masyarakat untuk mengatur masalah sosial
kemasyarakatan tertentu sehingga dicapai kondisi yang baik. Di Desa Jerowaru, Telok Jor,
Lombok Timur ada awig-awig yang secara khusus ditujukan untuk melindungi kehidupan
nelayan, mengatur kehidupan masyarakat desa agar berperan serta dalam perlindungan
alam dari kerusakan dan menjaga budaya lokal dari kepunahan. Misalnya awig-awig tentang
perikanan yang di dalamnya mengatur tata kelola dan perlindungan ikan dari aktivitas
masyarakat yang biasa berburu ikan dengan caranyetrum dan ngobat (memakai potassium
dll). Di Jambi, aturan sejenis awig-awig juga berlaku bagi masyarakat desa hutan, khususnya
bagi Suku Rimba yang hidup desa Taman Bukit Dua Belas. Untuk menjaga keberlanjutan
hidup mereka yang bergantung pada alam, masyarakat Suku Rimba memberlakukan aturan
yang tidak hanya mengikat masyarakat asli Suku Rimba tapi juga pendatang yang masuk
ke wilayahnya. Norma aturan yang diberlakukan contohnya larangan menebang pohon
yang dikeramatkan. Dampak positif dari larangan ini adalah kelestarian hutan dan jaminan
ketersediaan pangan bagi masyarakat.

Posisi Perdes dalam Sistem Perundang-Undangan

Dalam perkembangan terkini tidak sedikit desa di banyak daerah berinisiatif membuat
Peraturan Desa. Banyak pula desa-desa menginisiasi aturan adat distatuskan menjadi
Peraturan Desa. Terlebih ketika gerakan masyarakat sipil mendorong otonomi desa semakin
menguat. Banyak ragam urusan yang diatur. Ada yang mengatur tentang pungutan desa,
retribusi pasar desa, kebersihan dan kesehatan lingkungan, BUM Desa, pemakaman dan
perencanaan pembangunan desa. Desa Kawunganten di Kabupaten Cilacap mengeluarkan
Peraturan Desa tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan. Desa Sarimahi di Kabupaten
Bandung membuat Perdes tentang retribusi pasar desa. Di Desa Krandegan Kabupaten
Kebumen menetapkan Perdes tentang perlindungan buruh migran dan keluarga buruh
migran di desa. Yang paling banyak adalah Peraturan Desa tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Desa (RPJM Desa), Rencana Kerja Pemerintahan Desa (RKP Desa) dan
Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDesa).

Munculnya inisiatif peraturan desa tersebut memunculkan perbincangan publik yang secara
umum mepersoalkan statusnya dalam kerangka hukum Indonesia. Terlebih saat pemerintah
mengesahkan UU No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.
Sebagian ahli hukum tata negara berpendapat, Peraturan Desa bukan tergolong peraturan
perundang-undangan. Misalnya Jimli Assidiqie. Menurut Jimli, penyebutan Peraturan Desa
telah menempatkan jenis peraturan ini ke dalam sistem hukum perundang-undangan
1 Dati yaitu orang-orang yang menjalankan tugas untuk kepentingan raja-raja selaku pemimpin pemerintahan dari negeri
bersangkutan dimana pekerjaan dilakukan tanpa menerima upah. Ada juga yang mengartikan dati sama dengan pajak/kewajiban.

56 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
nasional Indonesia. Nomenklatur yang digunakan merujuk pada logika pemerintahan NKRI
secara umum, sehingga menyebabkan timbulnya penyeragaman bentuk Perdes. Bentuk
produk hukum Perdes yang meniru bentuk produk hukum peraturan perundang-undangan,
menurutnya kurang mengakui eksistensi desa dan masyarakat desa. Jimli menyarankan
peraturan di desa cukup diserahkan kepada Desa dan selanjutnya diurus oleh Desa dalam
bentuk kesepakatan yang bebas dan beragam. Hierarki atau tata urutan produk hukum dari
tertinggi ke yang terrendah menurut UU No. 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan pasal (7)sebagai berikut:

Dari uraian di atas jelas didapatkan pengertian bahwa Peraturan Desa tidak dilegitimasi atau
diakui sebagai bagian dari hierarki peraturan perundang-undangan. Meski demikian, masih
dalam UU No. 12 Tahun 2011 tersebut Peraturan Desa tetap diakui sebagai keberadaannya.
Jika ditafsirkan pasal 8 ayat (2) UU No. 12 Tahun 2011 dapat diambil pengertian bahwa
Peraturan Desa diakui keberadaannya sebagai produk hukum dan memiliki kekuatan hukum
sepanjang diperintahkan (didelegasikan) oleh Peraturan Perundang-undangan di atasnya
atau dibentuk berdasarkan kewenangan subjek pelaku pembuatnya, dalam hal ini Desa.
Jadi, sebelum UU Desa diputustetapkan sebagai Undang-Undang pada 18 Desember 2013
lalu, posisi Peraturan Desa dalam struktur peraturan perundang-undangan nasional tidak
memiliki dasar legitimasi Undang-Undang.

Setelah UU Desa lahir, apalagi di dalamnya memuat sejumlah norma yang memerintahkan
ataupun mengakui desa untuk memproduksi Peraturan Desa, secara otomatis Perdes
mendapatkan pendasaran hukum. Salah satu norma tersebut misalnya pasal 1 angka 7 UU
No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa disebutkan “Peraturan Desa adalah peraturan perundang-
undangan yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan
Permusyawaratan Desa”. Pendasaran hukum lebih lanjut Peraturan Desa sebagai bagian
dari produk perundang-undangan, ditindaklanjuti dengan lahirnya produk hukum turunan
UU Desa. Contohnya pada Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa. PP ini memuat norma

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
57
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
pengaturan Peraturan Desa tentang i) RPJM Desa, ii) RKP Desa, iii) APB Desa, iv) Pendirian
BUM Desa, v) Pembentukan Lembaga Kemasyarakatan Desa, vi) Pungutan, vii) Organisasi
Pemerintah Desa, viii) Pengelolaan kekayaan milik desa ix) perencanaan, pemanfaatan dan
pendayagunaan aset desa dan tata ruang dalam pembangunan kawasan perdesaan.

Pasang Surut Hubungan Pemerintah dengan Desa

Paling tidak ada tiga sudut pandang yang akan membayang dalam pikiran ketika membincang
tentang Desa. secara sosiologis Desa adalah kesatuan hukum masyarakat atau sekumpulan
penduduk yang mendiami suatu wilayah tertentu. Pada umumnya kesatuan penduduk tersebut
saling memiliki pertalian darah. Dari sudut pandang ekonomi, Desa identik dengan kesatuan
penduduk yang memiliki cara yang khas (sistem ekonomi tradisional) untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi dan produksi ekonominya. Pada umumnya bermatapencaharian
sebagai petani dan nelayan. Dari aspek politik, maka Desa diidentikan dengan kesatuan
masyarakat berpemerintahan atau sewbagai sebuah organisasi yang di dalamnya terdapat
struktur kekuasaan dan kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri.

Dari segi etimologi, banyak ragam untuk menyebut Desa. Desa identik dengan Jawa. Orang
Kalimantan menyebut Desa dengan Benua. Penduduk Aceh menyebutnya Gampong. Di
Sumatera Selatan, Desa disebut Marga, orang Sumatera Barat menyebutnya Nagari, di
Maluku disebut Negeri dan bagi orang Sulawesi Desa disebut Kampung. Pemimpin lokalnya
pun memiliki sebutan yang berbeda. Sebagai contoh, di Jawa kepala desa dulu akrab dengan
sebutan lurah. Di Sumatera Barat disebut wali nagari, di Maluku disebut raja. Di Aceh kepala
desa disebut geuchik.

Dalam lintas sejarah nasional Indonesia, di masa kolonialisme menyelimuti ibu pertiwi,
terlebih saat VOC menguasai geopolitik nasional Indonesia yang pada saat itu belum
berbentuk negara,Desa tidak mendapat perhatian khusus. VOC lebih memilih berhubungan
secara langsung dengan penguasa politik dan wilayah di atas raja atau bupati pribumi.
Pendekatan kekuasaan ini bertujuan untuk membangun efektifitas penguasaan VOC dalam
mengakumulasi modalnya. Jumlah raja atau bupati yang relatif sedikit daripada jumlah kepala
desa, dalam hitungan ekonomi politik pasti lebih efisien. Dengan memegang kekuasaan
para raja atau bupati pribumi, maka secara tidak langsung VOC akan dapat menggerakan
kepala desa menjalankan misi dan kepentingan VOC. Melalui raja atau bupati pribumi, VOC
memerintahkan kepala desa untuk bekerja bersama perangkatnya mengumpulkan hasil
bumi seperti kopi, beras, lada, cengkeh dan rempah-rempah lainnya. Statusnya sebagai
pajak masyarakat kepada negara. Jadi, tali kendali kekuasaan secara nasional terhadap
Desa yang sesungguhnya bukan di tangan para raja, tapi di tangan VOC, atau dalam sebutan
orang kala itu “Kompeni”. Dengan cara ini, Kompeni memperoleh tiga keuntungan politik
sekaligus. Pertama, berhasil memecah konsentrasi konsolidasi antarraja-raja di Nusantara.
Kedua, menggerakkan sumber daya desa tampa harus membangun hubungan intruksional
langsung dengan desa. Ketiga, secara sosial resistensi masyarakat terhadap VOC relatif
kecil, karena pendekatan ini sebenarnya menghadapkan raja dengan Desa dalam relasi
yang konfliktual.

58 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Pola pemanfaatan desa untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi dan politik para penjajah yang
pernah masuk ke Indonesia sebenarnya tidak hanya terjadi di masa kekuasaan VOC saja.
Tapi juga di masa pendudukan Jepang atas Indonesia. Dalam politik kebijakan berikutnya,
ternyata Kompeni juga membangun sistem di mana sumber daya desa secara langsung
dikendalikannya. Penerapan sistem tanam paksa di era kepemimpinan Jenderal Johanes Van
de Bosch hingga sistem sewa tanah yang diterapkan oleh para penggantinya kemudian,demi
untuk memenuhi kebutuhan keuangan negara (VOC) benar-benar telah menjadikan Desa
sebagai alat pemaksa rakyat sekaligus sapi perahan Kompeni. Pemerintah desa dipaksa
untuk memungut pajak kepada rakyat hingga memaksa rakyat untuk mengolah tanah dan
menyerahkan hasil buminya bukan untuk dikelola pemerintah kerajaan, tapi kepada VOC.
Cara-cara ini telah menghancurkan persendian kehidupan politik desa yang seharusnya
penuh kearifan dan degradasi sosial. Hingga akhirnya kelaparan serta kemiskinanpun tak
bisa dihindari melanda Desa. Derita yang mungkin semakin bertambah ketika Jepang
berkuasa struktur cengkeraman kekuasaan diperluas hingga ke level struktur kelembagaan
di bawahnya kepala desa (pemerintah desa) yang dalam bahasa sekarang di sebut Rukun
Warga (RW) dan Rukun Tangga (RT). Karena, cara pandang penguasa baik yang diperankan
VOC maupun Jepang kepada desa yang hanya menempatkan Desa sebagai kaki tangan
kekuasaan mereka telah merusak Desa sebagai kesatuan sosial kemasyarakatan. Dengan
kata lain wajah sosial Desa dinafikan, kecuali wajah sebagai kaki tangan kekekuasaan.

Dalam perkembangan berikutnya ketika bangsa Indonesia berhasil merengkuh kemerdekaan,


Desa mulai mendapatkan pemuliaan. Di awal-awalkemerdekaan, pemerintah waktu
itu melalukan penataan desa dengan cara yang demokratis. Pemeirntah mendudukan
masyarakat dan pemerintah desa pada posisi yang setara. Dengan kata lain secara
kelembagaan maupun individu masyarakat desa memiliki posisi yang sama. Contoh regulasi
yang dikeluarkan pada waktu itu untuk tujuan tersebut diantaranya UU No. 13 tahun 1946
Tentang Penghapusan Desa Perdikan dan UU No. 14 Tahun 1946 Tentang Perubahan Tata
Cara Pemilihan Kepala Desa (Maschab, 2013). Dengan UU No. 13 Tahun 1946 tersebut
tidak lagi ada pengistimewaan terhadap Desa-Desa yang semula berstatus sebagai perdikan.
Dengan UU No. 14 Tahun 1946 setiap warga desa memiliki kesempatan yang sama untuk
dipilih menjadi kepala desa.

Cara pandang negara mengurus Desa di bawah rezim pembangunan mengalami pergeseran
kembali. Pemerintahan yang secara politik waktu itu membutuhkan stabilitas politik hingga ke
bawah, telah menjadikan Desa sebagai mesin politik kekuasaan. Pemerintah desa dikondisikan
sedemikian rupa menjadi pasukan penguasa yang bergerak dibawah memobilisasi suara
partai politik penguasa. Waktu itu partainya adalah Golongan Karya. Cara seperti ini
telah mengerdilkan peran dan fungsi Desa yang seharusnya menghadirkan peran negara
sebagai pelayan publik di level terdepan, berubah menjadi mesin pendulang suara partai
politik. Penggeseran posisi Desa yang hanya dilihat sebagai perpanjangan pemerintahan
supradesa terjadi ketika pemerintahan Soeharto memberlakukan UU No. 5 Tahun 1979
Tentang Pemerintahan Desa. Tak hanya itu, UU No. 5 Tahun 1979 meminggirkan hak-hak
masyarakat lokal dan mengingkari keberagaman desa di Indonesia, termasuk mensentralisasi
pengelolaan desa. Selama hampir 20 tahun sebelum akhirnya UU No. 22 Tahun 1999 lahir,
Desa tidak memiliki kewenangan sama sekali untuk mengurus rumah tangganya karena

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
59
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
dominasi pengaturan oleh negara. Demokrasi kerakyatan desa hilang. Setelah UU No.
22 Tahun 1999 lahir Desa menerima ruang lebih longgar karena UU ini mengembangkan
konsep otonomi desa (local self government). Sayangnya belum lagi berjalan optimal, UU
tersebut sudah diganti dengan UU No. 32 Tahun 2004 yang menutup kembali ruang otonomi
masyarakat dan desa. Akhirnya, pengelolaan desa yang semu dijernihkan kembali melalui
UU No. 6 Tahun 2014 tadi.

UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa atau sering disebut UU Desa mengembalikan cara
pandang negara kepada keragaman desa. Dengan kata lain UU Desa menekankan
pengakuan (rekognisi) atas keberagaman desa pada urutan terdepan sebagai konsekuensi
fakta sejarah adanya 250 kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai berbagai sebutan
namaseperti disebut di atas. UU Desa yang ditetapkan akhir 2013 lalu tersebut juga memuat
azas subsidiaritas dan memposisikan kedudukan desa tidak lagi sebagai sub kabupaten.
Dengan azas ini, desa memiliki kewenangan untuk mendefinisikan diri, memetakan apa
permasalahan, mengidentifikasi potensi hingga mengambil keputusan kebijakan untuk
mengurus rumah tangganya sesuai dengan kewenangan berdasarkan hak asal usul
dan kewenangan desa berskala lokal. Lain dari pada itu untuk mendukung realisasi
kewenangan desa membangun negara RI mulai dari desa, UU Desa mengembangkan
hubungan pemerintah-desa berdasarkan hak keuangan desa. Realisasinya adalahNegara
mengalokasikan Dana Desa (DD) yang bersumberkan APBN dan Alokasi Dana Desa (ADD)
yang bersumberkan APBD. UU Desa menempatkan DD bukan sebagai program pemerintah,
tapi sebagai bentuk pengakuan Negara atas hak desa yang harus dikeluarkan pemerintah
setiap tahun anggaran. Dengan perubahan mutakhir ini, berarti pemerintah dan desa memiliki
hubungan yang lebih proporsional. Desa tidak lagi menjadi halaman belakang NKRI tapi
halaman depan.

Keterpaduan Antar Regulasi Membangun Desa

Secara mandatory, sesuai dengan UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa, pengurusan Desa
seharusnya dipegang oleh satu Kementerian yang secara khusus berkait dengan urusan Desa.
Namun fakta politik saat ini menghendaki adanya dua Kementerian yaitu Kementerian Dalam
Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi. Keduanya sama-sama
berwenang mengurus desa. Bedanya, Kemendagri mengurus pemerintah dan pemerintahan
desa, sementara Kemendesa mengurus pembangunan dan pemberdayaan kemasyarakatan
desa. Menindaklanjuti kewenangan tersebut, pemerintah telah mengeluarkan dua produk
hukum turunan UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Dua produk hukum tersebut yaitu
Peraturan Pemerintah (PP) No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-
Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa yang kini sudah diganti menjadi PP No. 47 Tahun
2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa serta PP No. 60 Tahun 2015
Tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang
kini juga sudah dirubah menjadi PP No. 22 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan
No. 60 Tahun 2015 Tentang Dana Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara.

60 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Kedua Kementerian tersebut juga mengeluarkan produk hukum turunan dari kedua PP
tersebut. Kemendagri mengeluarkan Permendagri No. 111 Tahun 2015 Tentang Pedoman
Teknis Peraturan di Desa, Permendagri No. 112 Tahun 2015 Tentang Pemilihan Kepala Desa,
Permendagri No. 113 Tahun 2015 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa dan Permendagri No.
114 Tahun 2015 Tentang Pembangunan Desa. Kemendesa mengeluarkan Permendesa, PDT
dan Transmigrasi No. 1 Tahun 2015 Tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal
Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa, Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 2 Tahun
2015 Tentang Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah
Desa, Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 3 Tahun 2015 Tentang Pendampingan Desa,
Permendes, PDT dan Transmigrasi No. 4 Tahun 2015 Tentang Pendirian, Pengurusan dan
Pengelolaan, dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa, Permendesa, PDT dan Transmigrasi
No. 5 Tahun 2015 Tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2015 serta
Permendesa, PDT dan Transmigrasi No. 6 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah tertinggal dan Transmigrasi.

Tabel. Produk-Produk Hukum

Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi Terkait dengan
Implementasi UU No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
61
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Utrecht (1953) berpendapat bahwa hukum diciptakan untuk menertibkan masyarakat. Oleh
karena itu hukum diciptakan sebagai alat pendorong agar ketertiban hidup manusia dapat
diraih. Kehadiran UU Desa, dalam perspektif hukum tidak lain untuk mengatur tata kelola
desa yang selama ini tidak menciptakan order yang berpihak kepada desa. UU Desa hadir
menyediakan instrumen aturan yang berfungsi mendorong peran negara merekognisi desa
sebagai entitas NKRI. UU Desa juga berpretensi memberikan perlindungan sekaligus
kewenangan kepada desa untuk mengurus rumah tangganya sesuai dengan dimensi asal-
usul dan skala kewenangannya.

Tantangan pembuatan regulasi terletak pada pertama suasana kebatinan kedua kementerian
yang diliputi polemik penguasaan urusan kewenangan desa. Kedua, aturan norma yang rinci
dan problem kohesifitas antar regulasi. Sejak masa pembahasan RUU Desa, para policy
maker dan pegiat advokasi RUU Desa telah memperkirakan akan adanya tantangan baru
penyiapan regulasi turunan UU Desa. Aturan yang detail berpotensi mempersempit prakarsa
dan ruang pengambilan keputusan bagi desa (detail is devil). Sementara ketidaksinkronan
regulasi satu dengan lainnya berpotensi menyebabkan masyarakat menderita apa yang
disebut informasi asimetris (asymmetric information).

Tantangan tersebut nampaknya terjadi. Contohnya, PP No. 47 Tahun 2015 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 2015 Tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-
Undang No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa tidak terpadu dengan UU Desa. PP No. 47 Tahun
2015 mengandung norma/pasal yang menegasikan nomenklatur UU Desa dan PP yang
digantikannya. Pasal tersebut misalnya bagian ketentuan umum pasal 1 ayat (14). Pada
pasal 1 ayat (14) PP No. 43 Tahun 2015 berbunyi “Menteri adalah menteri yang menangani
desa”. Ketika PP No. 43 Tahun 2015 berganti menjadi PP No. 47 tahun 2015, ketentuan
pada pasal 1 ayat (14) ini dihapus. Penghapusan pasal 1 ayat (14) dalam PP No. 47 tahun
2015 membawa konsekuensi yang signifikan terhadap tata urusan desa. Pembagian urusan
desa ke dalam dua institusi Kementerian secara politik jelas telah membelah desa. Desa
kehilangan cantolan Kementerian yang secara khusus mengurus desa. Padahal UU Desa
tidak mendikotomikan Desa ke dalam dua entitas pemerintah desa dan warga masyarakat.

Sebagian narasi tentang tumpang tindih antar regulasi pengaturan desa di atas tentu perlu
segera mendapat respon. Terlebih, agenda pelaksanaan UU Desa tidak hanya mensyaratkan
ketercukupan kapasitas dan kepatuhan pemerintah desa dan masyarakat desa terhadap
berbagai jenis aturan yang dikeluarkan pemerintah. Tapi juga membutuhkan kelembagaan
aturan yang mendukung tercapainya tujuan diundangkannya UU Desa. Friedrich Karl von
Savingny pernah menyatakan bahwa hukum tumbuh dan berkembang dari masyarakat,
hukum diproduksi dari pengalaman masyarakat berdasarkan karakter masyarakat itu
sendiri. Karenanya produk hukum yang baik adalah hukum yang dijiwai oleh kebutuhan
masyarakatnya, bukan sekadar memenuhi kebutuhan dan kepentingan para pembuat
kebijakan dan peraturannya.

Berdasarkan pokok-pokok masalah dan pemikiran di atas, tentu perlu dilakukan perlakuan
cara berfikir dan bertindak dalam kerangka penyempurnaan atas regulasi-ragulasi yang
sudah ada di masa mendatang. Di sisi lain juga diperlukan kearifan semua pihak yang
secara hukum terikat ke dalam regulasi tersebut untuk menjalankan norma aturan dengan

62 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

mengenyampingkan kepentingan pragmatis individu dan kelompok, sehingga tercipta


pelaksanaan UU Desa yang senafas dengan harapan Desa. Terlepas dari kekurangan kadar
keterpaduan antarregulasi turunan UU Desa di atas, pada dasarnya pembuatan regulasi
baik yang diperankan oleh Kementerian Dalam Negeri maupun Kementerian Desa, PDT
dan Transmigrasi adalah bagian dari ikhtiar “memuliakan dan memperkuat desa”. perlu
digarisbawahi di sini, bahwa pemerintah saat ini berkomitmen dan berjuang mewujudkan
harapan UU Desa dan Nawacita. []

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
63
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PRODUK HUKUM DESA

Moch Sodiq

Pendahuluan
Desa, sesuai dengan penjelakasan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945,
adalah salah satu bentuk komunitas adat yang keberadaannya diakui dan dihargai, karena desa
sudah ada sebelum Negara Kesatuan Republik indonesia ini terbentuk. Undang-Undang Desa ini
menjadi pengakuan bahwa Desa adalah komunitas yang mampu mengatur diriny sendiri.Keberadaan
Desa wajib tetap diakui dan diberikan jaminan keberlangsungan hidupnya dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia. Desa yang memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat berperan mewujudkan cita-cita kemerdekaan berdasarkan UUD
1945 perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju,mandiri dan demokratis sehinga
dapat menciptakan landasan yang kukuh dalam melaksanakan pemerintahan dan pembangunan
menuju masyarakat adil, makmur dan sejahtera untuk menuju Desa yang “baldatun thoyyibatun
warobbun ghofur”.

Desa juga merupakan entitas terdepan dalam segala proses pembanguan bangsa dan
Negara, hal ini menyebabkan Desa memilik arti yang sangat strategis sebagai basis penyelenggaraan
pelayanan public dan memfasilitasi pemenuhan hak-hak publik rakyat lokal. Sejak masa penjajahan
Hindia Belanda sekalipun, pemerintah kolonial telah menyadari peran strategis desa dalam konstelasi
ketatanegaraan masa itu.Disamping itu, Desa menjadi arena politik paling dekat bagi relasi antara

64 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
masyarakat dengan pemegang kekuasaan (perangkat Desa). Di satu sisi, para perangkat Desa
menjadi bagian dari birokrasi Negara yang mempunyai daftar tugas kenegaraan, yakni menjalankan
birokrasi di level Desa, melaksanakan program-program pembangunan memberikan pelayanan
administrasi kepada masyrakat Desa. Tugas penting Desa adalah memberi pelayasnan administrasi
(surat-menyurat) kepada warga/masyarakat Desa.

Lahirnaya Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 Tentang Desa berserta turunannya membawa
kabar gembira bagi Desa, akan tetapi kabar tersebut sepertinya hanya dimaknai dan dipahami
secara sempit oleh para pemangku kepentingan di Desa, hanya dipahami adanya pengucuran dana
dari berbagai sumber ke Desa, baik dana yang berasal dari Pemerintah Pusat berupa Dana Desa,
Pemerintah Provinsi berupa Bantuan Keuangan Desa, Pemerintah kabupaten/Kota berupa Alokasi
dana Desa (ADD) serta alokasi pendapatandaerah dan retribusi daerah, dari pihak eksternal berupa
hibah dan sumbangan lain yang tidak mengikat dari pihak ketiga maupun dari sumber internal
berupa pendapatan asli Desa dan lain-lain pendapatan Desa yang sah dan halal. Padahal dengan
adany Undang-Undang Desa beserta turunannya tersebut dikandung maksud Desa diberikan
kesempatan untuk menjadi berdaya, sejahtera, dan mandiri. Hal ini dikarenakan Undang-Undang
Desa beserta turunannya tidak hanya mengatur mengenai keuangan Desa saja,akan tetapi juga
mengatur pembuatanperaturan di Desa, pembanguan desa dan pembangunan kawasan perdesaan,
administrasi desa, aset Desa, dan Badan Usaha Milik Desa.

Setelah kemerdekaan, sebgai bentuk pengakuan terhadap desa, eksistensi Desa tetap
dipertahankan. Hal ini tercermin dengan adanya pengaturan desa melalui berbagai peraturan
perundang-undangan, antara lain Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok
Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan
Daerah, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-
Undang Nomor 19 Tahun 1965 tentang Desa Praja Sebagai Bentuk Peralihan Untuk Mempercepat
Terwujudnya Daerah Tingkat III di Seluruh Wilayah Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 5
Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979
tentang Pemerintahan Desa, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah,
dan terakhir dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang
kemudian Bab XI pasal 200 sampai dengan pasal 216 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah khususpasal-pasal yang mengatur tentang Desa dikeluarkan dari Undang-
Undang tersebut,diatur dengan Undang-Undang yang tersendiri yang mengatur khusus tentang
Desa yang disebut dengan Undang-Undang Desa, dan pada tanggal 15 Oktober 2014disyahkanlah
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa tersebut.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
65
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Dalam pelaksanaannya, pengaturan mengenai Desa tersebut agar dapat mewadahi segala
kepentingan dan kebutuhan masyarakat Desa yang hingga saat ini sudah berkembang menjadi
74.754 Desa dan 8.431 Kelurahanyang tersebar di 7.165 kecamatan di 416 kabupaten di 98 kota
di 34 provinsi (Permendagri nomor 56 tahun 2015 tentang Kode dan Tata Wilayah Administrasi
Pemerintah). Selain itu, pelaksanaan pengaturan Desa yang selama ini berlaku sudah tidak sesuai
lagi dengan perkembangan zaman, terutama antara lain menyangkut kedudukan masyarakat
hukum adat, demokratisasi, keberagaman, partisipasi masyarakat, serta kemajuan dan pemerataan
pembangunan sehingga menimbulkan kesenjangan antarwilayah, kemiskinan, dan masalah sosial
budaya yang dapat mengganggu keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Undang-Undang ini disusun dengan semangat penerapan amanat konstitusi, yaitu


pengaturan masyarakat hukum adat sesuai dengan ketentuan Pasal 18B ayat (2) untuk diatur
dalam susunan pemerintahan sesuai dengan ketentuan Pasal 18 ayat (7). Walaupun demikian,
kewenangan kesatuan masyarakat hukum adat mengenai pengaturan hak ulayat merujuk pada
ketentuan peraturan perundang-undangan sektoral yang berkaitan.

Dengan konstruksi menggabungkan fungsi self-governing community dengan local self


government, diharapkan kesatuan masyarakat hukum adat yang selama ini merupakan bagian
dari wilayah Desa, ditata sedemikian rupa menjadi Desa dan Desa Adat. Desa dan Desa Adat
pada dasarnya melakukan tugas yang hampir sama. Sedangkan perbedaannya hanyalah dalam
pelaksanaan hak asal-usul, terutama menyangkut pelestarian sosial Desa Adat, pengaturan dan
pengurusan wilayah adat, sidang perdamaian adat, pemeliharaan ketenteraman dan ketertiban bagi
masyarakat hukum adat, serta pengaturan pelaksanaan pemerintahan berdasarkan susunan asli.

Dengan demikian, tujuan ditetapkannya pengaturan Desa dalam Undang-Undang ini


merupakan penjabaran lebih lanjut dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (7)
dan Pasal 18B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Dalam rangkah penataan desa sebagaimana diatur dalam pasal 7 Undang-Undang Desa bahwa
Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dapat melakukan
penataan Desa. Penataan tersebut bertujuan untuk mewujudkan efektivitas penyelenggaraan
Pemerintahan Desa; mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa; mempercepat
peningkatan kualitas pelayanan publik; meningkatkan kualitas tata kelola Pemerintahan Desa;
dan meningkatkan daya saing Desa. Oleh karenanya dalam rangka tertib administrasi
penyelenggaraan Pemerintahan Desa perlu dibentuk regulasi di Desa berupa Produk
Hukum Desa yang terdiri dari Peraturan Desa, Peraturan Kepala Desa, dan Keputusan
Kepala Desa

66 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Pengundangan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa, tidak lagi dilaksanakan oleh Bagian
Hukum Sekretariat Daerah, tapi dilaksanakan oleh Sekretaris Desa dengan membuat Lembaran
Desa untuk Peraturan Desa dan Berita Desa untuk Peraturan Kepala Desa,

1. Kewenangan Desa
Sesuai kamus besar bahasa Indonesia kewenangan mempunyai arti membuat keputusan,
memerintah, dan melimpahkan tanggungjawab kepada orang lain, atau kekuasaan dan hak
seseoang atau lembaga untuk melakukan sesuatu atau mengambil keputusan untuk mencapai
suatu tujuan tertentu.Kewenangan Desaadalah kewenangan yang dimilii desa meliputi
kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan
Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Desa (pasal 18 UU Desa).

Jenis-jenis kewenangan desa (pasal 19 UU Desa) ada 4 hal yangmeliputi :

1) Kewenangan berdasarkanasal usul;

Yang dimaksud dengan “hak asal usul dan adat istiadat Desa” adalah hak yang masih hidup
dan sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

Sedangkan bentuk hak asal usul setiap desa sangat beragam, tetapi secara umum hak asal
usul desa meliputi :

a. Mengatur dan mengusrustanah desa atau tanah ulayat adat desa.

b. Menerapkan susunan asli dalam pemerintahan desa.

c. Melestarikan adat istiadat, lembaga, pranata dan kearifan local.

d. Menyelesaikan sengketa dengan mekanisme adat setempat.

2) Kewenangan lokal bersekala desa;

Yang dimaksud dengan “kewenangan lokal berskala Desa” adalah kewenangan untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa yang telah dijalankan oleh Desa
atau mampu dan efektif dijalankan oleh Desa atau yang muncul karena perkembangan Desa
dan prakasa masyarakat Desa, antara lain tambatan perahu, pasar Desa, tempat pemandian
umum, saluran irigasi, sanitasi lingkungan, pos pelayanan terpadu, sanggar seni dan belajar,
serta perpustakaan Desa, embung Desa, dan jalan Desa.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
67
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Kewenangan lokal berskala Desa diartikan juga sebagai kewenangan yang lahir karena
prakarsa dari desa sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan kondisi local desa.
Kewenangan ini lahir dari kebutuhan atau kondisi yang dihadapi warga desa sehari-hari.

Urusan atau masalh yang bersekala local atau dekat dengan masyarakat diurus sendiri oleh
desa. Sedangkan jenis kewenangan local bersekala desa bias sangat beragam tergantung
kondisi masing-masing desa. Contohnya :

a. Bidang pelayanan dasar :posyandu, sanggar seni, perpustakaan desa, penyediaan air
beesih.

b. Bidang sarana dan prasarana : jalan desa, jalan usaha tani, rumah ibadah, sanitasi,
irigasi tersier, dll.

c. Bidang ekonomi : pasar desa, lumbung pangan, tambatan perahu, wisata desa, pelelangan
hasl pertanian dan perikanan.

d. Sumber daya alam : hutan rakyat, hutan bakau, dll.

3) Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah
Daerah Kabupaten/Kota; dan
4) Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan
Diamana pelaksanaan kewenangan berdasarka asal usul dan kewenangan lokal bersekala desa
diatur dan diurus sendiri oleh Desa, ini merupakan pengakuan Negara terhadap keberadaan
desa, pemberian kewenangan tersebut bertujuan untuk memunculkan inisiatif positif dari desa
sendiri untuk menjadi desa mandiri sesuai dengan cita-cita dan tujuan Undang-Undang Desa.

Sedangkan Pelaksanaan kewenangan yang ditugaskan dan pelaksanaan kewenangan tugas


lain dari Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
diurus oleh Desa.

Lebih lanjut baca Permendesa Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Pedoman Kewenangan Berdasarkan
Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Bersekala Desa.

2. Jenis-Jenis Produk Hukum Desa


Jenis produk hukum desa atau yang disebut jenis peraturan di desa (pasal 69 ayat (1) UU Desa)

68 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
dan Peraturan tersebut dilarang bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau ketentuan
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi (ayat(2)), ada 3 jenis yaitu :

1) Peraturan Desa (Perdes);


Peraturan Desa adalah merupakan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh
Kepala Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawarata Desa (BPD).
Peraturan Desa berisi materi pelaksanaan kewenangan Desa dan penjabaran lebih lanjut
dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.Peraturan Desabersifat umum sehinga
mengatur segala hal yang menjadi kewenangan desa dan juga mengikat semua orang yang
berada dalam lingkup desa.Peraturan Desa harus mengindahkan batasan ataupun larangan
yang ditentukan oleh peraturan yang lebih tinggi derajatnya berdasarkan hirarki peraturan.
Peraturan Desa merupakan kerangka hukum dan kebijakan dalam penyelenggaraan
Pemerintahan Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa
dan pemberdayaan masyarakat Desa. Penyelenggaraan Pemerintahan Desa adalah berjalan
proses penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang partisipatif, akuntabel, transparansi dan
berkeadilan. Pembangunan Desa adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan
untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.Pembinaan masyarakat Desa
adalah upaya meningkatkan kinerja kelembagaan Desa adlah upaya menigkatkan kinerja
kelembagaan Desa dan masyarakat Desa.Pemberdayaan masyarakat desa adalah
endorong adanya kemandirian pada masyarakat Desa.

Contoh : Peraturan Desa Jatilot Nomor 1 Tahun 2015, Tentang Pertanggungjawaban


Pelaksanaan anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Tahun Anggaran 2015

2) Peraturan Bersama Kepala Desa;


Peraturan Bersama Kepala Desa merupakan peraturan yang ditetapkan oleh Kepala Desa
dari dua desa atau lebih yang melakukan kerja sama antar desa dan bersifat mengatur.
Peraturan Bersama Kepala Desa merupaka perpaduan kepentingan Desa masing-masing
dalam kerja sama antar Desa, contoth pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMD).
Peraturan bersama Kepala Desa berisi materi kerja sama Desa. Peraturan Bersama Kepala
Desa disebarluaskan dan diberlakukan kepada masyarakat desa masing-masing.
Peraturan yang dikeluarkan oleh Kepala Desa yang mempunyai fungsi sebagai peraturan
pelaksana dari Perdes ataupun pelaksanan dari peraturan yang lebih tinggi.Peraturan
Kepala Desa hanya dapat mengatur hal-hal yang diperintahkan secara konkret dalam
Perdes. Karena itu, tidak boleh mengatur hal yag tidak diperintahkan ataupun dilarang oleh
Perdes. Ini merupakan salah satu bentuk pembatasan terhadap kekuasaan yang dimiliki

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
69
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
oleh kepala Desa.Sedangkan pada posisinya sebagai pelaksana peraturan yang lebih tinggi,
Perdes memuat materi yang mengatur kewenangannya atau materi yang diperintahkan
atau didelegasikan dari peraturan yang lebih tinggi.Peraturan Kepala Desa tetap saja
dapat mengatur materi yang tidak ditentukan dalam Perdes, namun materi itu harus tetap
diperintahkan oleh peraturan yang lebih tinggi. Dengan demikian Peraturan Kepala Desa
merupakan salah satu peraturan yang “lebih bebas” dalam menentukan substansi yang
akan diaturnya, namun tetap harus mempunyai dasar hokum dalam pengaturan materi
tersebut.

3) Peraturan Kepala Desa;


Peraturan Kepala desa adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala
Desa yang bersifat mengatur dalam rangka melaksanakan Peraturan Desa dan peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.Peraturan Kepala Desa berisi materi pelaksanaan
Peraturan Desa, Peraturan Bersama Kepala Desa, dan tindak lanjut dari peraturan
perundang-undangan yang lebih tinggi.
Contoh : Peraturan Kepala Desa Jatilor, Nomor 1 Tahun 2015, Tentang Sewa/Lelang Tanah
Kusutan Eks Bengkok Sekretaris Desa, Kepala kaur Umum dan Kepala kaur
Keuangan Desa Jatilor Kecamatan Godong kabupaten Grobogan Tahun 2015.

3. Mekanisme Pengambilan Keputusan


Mekanisme pengambilan keputusan pemerintan Desa, sesuai pasal 54 Undang-Undang Desa
bahwa pengambilan keputusan dilakukan melalui musyawarah Desa yang merupakan forum
pertemuan dari seluruh pemangku kepentingan yang ada di Desa, termasuk masyarakatnya,
dalam rangka menggariskan hal yang dianggap penting dilakukan oleh Pemerintah Desa dan
juga menyangkut kebutuhan masyarakat Desa.Dimana hasil dari musyawarah tersebut menjadi
pegangan bagi perangkat Pemerintah Desa dan lembaga lain dalam pelaksanaan tugasnya.

Yang dimaksud dengan “unsur masyarakat” adalah antara lain tokoh adat, tokoh agama, tokoh
masyarakat, tokoh pendidikan, perwakilan kelompok tani, kelompok nelayan, kelompok perajin,
kelompok perempuan, dan kelompok masyarakat miskin.

Hal yang diangap penting oleh Pemerintah Desa yang harus diputuskan dalam musyawarah
Desa :

Contoh : penataan Desa, perencanaan Desa,kerja sama Desa, rencana investasi yang masuk
ke Desa, pembentukan Badan Usaha Milik Desa, penambahan dan pelepasan Aset
Desa, dan kejadian luar biasa, musyawarah tersebut dilaksanakan paling kurang sekali

70 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
dalam 1 (satu) tahun, dan dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa.

4. Hubungan Peraturan Desa Terkait Produk Hukum Lainnya


Hubungan Peraturan Desa terkait produk hukum lainnya adalah hubungannya sangat erat sekali,
karena Peraturan Desa adalah produk hukum tingkat desa yang ditetapkan oleh Kepala Desa
bersama Badsan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan
desa. Peraturan desa dibentuk dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa, dengan
demikian maka pemerintahan desa harus merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang-
Undang Desa berserta turunannya atauperaturan-peraturan perundang-undangan yang lebih
tinggi dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi serta harus memperhatikan kondisi sosial budaya masyarakat
desa setempat dalam upaya mencapai tujuan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan
masyarakat jangka panjang, menengah dan jangka pendek.
Dengan berlakunya Undang-Undang Desa menunjukkan bahwa peraturan Desa sebagai produk
hukum Desa memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan pada saat masih berlakunaya
PP Nomor 72 tahun 2005 karena perauran desa merupakan bagian dari peraturan daerah jika
dilihat berdasarkan hirarki dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Peraturan desa tidak
lagi termasuk hirarki perundang-undangan, akan tetapi status peraturan desa masih terdapat
dalam peraturanperundang-undangan, Peraturan Desa dibentuk dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan Desa.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
71
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB
3 Sistem Pembangunan Desa
Dan Partisipasi Masyarakat

72 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.1.
Musyawarah Desa dan
Peran Masyarakat Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:
1. Mampu menjelaskan Musyawarah Desa sebagai bentuk ruang
terbuka bagi partisipasi masyarakat sekaligus forum tertinggi
pengambilan keputusan.
2. Mampu menjelaskan sifat inklusif dan partisipatif dalam
Musyawarah Desa yang partisipatif.
3. Mampu mengidentifikasi hal-hal strategis apa saja yang dapat
diputuskan di Musyawarah Desa;

Waktu
2 JPL (90 menit)

Metode
Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
73
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Antarkan peserta untuk memahami tujuan dari


pembahasan sub pokok bahasan yang akan dibahas.

2. Aktifkan peserta untuk berbagi pengalaman dan


diskusi curah pendapat sekitar musyawarah desa.
Diskusi ini
• Tanyakan pada peserta apakah ada yang punya
sekaligus
pengalaman pernah ikut kegiatan musyawarah.
membantu
• Mintalah kesediaan peserta yang punya peserta
pengalaman bermusyawarah untuk menceritakan
pengalamannya, bagaimana jalannya sebuah
mengingat
musyawarah. kembali materi
sub pokok
3. Rangkumlah hasil sharing dan diskusi peserta dengan
menjelaskan singkat pokok-pokok pikiran tentang
bahasan
musyawarah. sebelumnya.

Pembahasan musyawarah ini mengacu


pada UU Desa No 6 Tahun 2014, Pasal 54
dan Permendesa No.2 Tahun 2015 Tentang
Pedoman Tata Tertib dan Mekanisme
Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa.

4. Bagilah jumlah peserta ke dalam kelompok kecil.


Kemudian berikan beberapa pertanyaan panduan
berikut untuk didiskusikan dalam kelompok.
a. Apa artinya musyawarah desa (atau yang disebut
dengan nama lain)?
b. Mengapa harus ada musyawarah desa?

c. Siapa yang hadir dalam musyawarah desa?


d. Apa saja yang dibahas dalam musyawarah desa?

e. Apa artinya musyawarah diselenggarakan dengan

74 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

prinsip partisipatif, transparan, akuntabel dan


demokratis?

5. Berikan kesempatan pada kelompok untuk


memaparkan hasil diskusinya. Berikan juga
kesempatan kepada kelompok Lain untuk menanggapi.

6. Rangkum jawaban-jawaban kelompok dengan


menempatkan pada pemahaman yang benar tentang
musyawarah desa.

7. Ajak lagi peserta untuk diskusi bersama membahas


beberapa hal berikut;

a. Jelaskan dimana azas inklusi dan emansipasi


dalam musyawarah desa?
b. Apakah tantangan terberat untuk menjalankan
musyawarah sesuai dengan prinsip dan azas yang
berlaku?
c. Bagaimana caranya membangun musyawarah desa
yang baik, sesuai dengan prinsip dan azas yang
berlaku?

8. Akhiri sesi dengan memberikan konfirmasi pada


jawaban-jawaban yang benar yang muncul dalam
diskusi.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
75
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Lembar Informasi no.1


SPB 2.3.

76 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.2.
Perencanaan
Pembangunan Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:
1. Mampu menjelaskan rencana pembangunan desa
sebagai tahap strategis untuk memperjuangkan usulan
pembangunan desa yang pro rakyat.
2. Mampu menjelaskan pengertian pokok tentang
pembangunan desa yang pro rakyat.

Waktu
3 JPL (135 menit)

Metode
Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
77
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Mulailah dengan menjelaskan materi yang akan


dibahas dan tujuan yang akan dicapai dalam sesi
belajar bersama kali ini.

2. Ajak peserta untuk aktif berdiskusi bersama dengan


topik tentang perencanaan.
Mulailah
a. Apa arti sebuah perencanaan?
mengajak
b. Apa pentingnya perencanaan? memahami
c. Hal-hal penting apa saja yang harus diperhatikan
dari pengertian
dalam membuat sebuah perencanaan? umum atau
pengalaman
d. Apa yang akan terjadi kalau sebuah pembangunan
tanpa didahului dengan perencanaan? praktis para
peserta.
3. Rangkum pokok-pokok hasil diskusi peserta dan
kaitkan dengan topik perencanaan pembangunan
desa.

4. Bagilah jumlah peserta ke dalam 3 kelompok. Berilah


tugas simulasi penyusunan Rencana Pembangunan
Desa. Setiap kelompok bertugas membagi peran
anggotanya; 1 (satu) peserta sebagai Kepala Desa,
3 (tiga) orang sebagai anggota BPD, peserta lainnya
sebagai unsur kelompok masyarakat. Setiap kelompok
bertugas membuat perencanaan yang pro rakyat;
a. Merumuskan visi desa 6 tahun ke depan;

b. Menentukan dari mana mendapatkan dana untuk


anggaran pembangunan desa setiap tahun.

c. Isi jumlah dana yang diperoleh sebagai PAD setiap


tahun.

d. Menentukan 5 prioritas pembangunan yang


berpihak pada kebutuhan rakyat.
e. Hitung juga jumlah dana yang dibutuhkan untuk
membiayai 5 prioritas pembangunan.

78 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Selesai simulasi musyawarah dan perencanaan, berilah


kesempatan kepada setiap Kepala Desa kelompok
untuk menyampaikan hasil musyawarah.

6. Mintalah semua peserta untuk mencermati secara kritis Fasilitator


hasil kerja kelompok;
menjadi
a. Kelompok manakah yang rencana pembangunannya
moderator yang
masuk akal paling masuk akal? Apa dasar
mendorong
penilaiannya?
peserta untuk
b. Kelompok manakah yang prioritas pembangunannya aktif dan kritis
paling memenuhi kebutuhan masyarakat? Apa
bertanya pada
alasannya?
kelompok
7. Rangkumlah hasil diskusi peserta. Berikan penjelasan
tentang beberapa hal penting;
a. Tahap perencanaan sebagai tahap yang strategis
dalam proses pembangunan desa.
b. Rencana pembangunan desa yang baik atau ideal?

c. Pembangunan yang perlu diprioritaskan untuk


memenuhi kebutuhan masyarakat desa
d. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan
pembangunan desa

8. Akhiri sesi dengan memberikan tekanan pada prinsip-


prinsip dasar perencanaan desa harus memiliki tujuan.
Bisa digunakan SMART Goals, bahwa perencanaan
pembangunan desa harus Specific (jelas wujudnya
), Measureable (terukur) Accountable (dapat
dipertanggungjawabkan), Realistic (realistis dan tidak
mengawang), Time Bond (ada batas waktunya).

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
79
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.3.
Pelaksanaan dan Pengawasan
Pembangunan Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:
1. Mampu menjelaskan pentingnya pengawasan pembangunan
desa sebagai bagian dari azas akuntabilitas (terbuka dan bisa
dipertanggungjawabkan)
2. Mampu menjelaskan bahwa selama proses pelaksanaan
kegiatan pembangunan harus dibuat mekanisme evaluasi-nya.
3. Mampu menjelaskan perlu adanya mekanisme pengaduan
untuk merespon ketidaksesuaian pada proses maupun hasil
kegiatannya

Waktu
3 JPL (135 menit)

Metode
Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

80 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Jelaskan sub pokok bahasan serta tujuan sub pokok


bahasan yang akan disampaikan.

2. Ajak bebarapa peserta untuk berbagi cerita (sharing)


tentang pengalaman atau pengamatan peserta dalam
pelaksanaan dan pengawasan pembangunan di desa.
Pertanyaan berikut bisa dijadikan panduan berbagi
cerita.
a. Siapa pelaksana pembangunan di desa?

b. Apakah dalam proses pelaksanaan pembangunan


ada proses ‘lelang pekerjaan’?
c. Sudahkah dijadualkan adanya evaluasi pekerjaan
dalam proses tahapan pembangunan?
d. Apakah masyarakat desa mendapatkan informasi
perkembangan pekerjaan pembangunan?
e. Apakah bahan atau material pembangunan
bersumber dari potensi lokal yang ada di desa?
f. Apakah warga desa terlibat dalam pelaksanaan
pembangunan tersebut? Berperan sebagai apa
saja? Jika tidak ada terlibat, mengapa?

3. Rangkum hasil diskusi bersama dengan kerangka


pemahaman tentang pentingnya partisipasi masyarakat
dalam mengawal pelaksanaan dan pengawasan
pembangunan desa.

salah satu ciri pembangunan desa adalah


partisipasi aktif dari masyarakat desa dalam
mengawal proses pembangunan agar
pembangunan desa mencapai sasaran yang
diharapkan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
81
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

4. Lanjutkan dengan membagi jumlah peserta ke dalam


kelompok kecil untuk kemudian mendisuksikan
pemahaman tentang alur proses pelaksanaan
pembangunan dan pengawasannya yang ideal menurut
peserta.
Biarkan peserta
5. Berilah kesempatan kepada setiap kelompok untuk
mencoba
menyampaikan hasil diskusinya masing-masing.
mendiskusikan
6. Sambil memberikan catatan atas hasil diskusi kelompok, dan
bantulah peserta memahami prinsip-prinsip penting
dalam mengawasi alur pembangunan desa.
menemukan
gambaran ideal
berdasarkan
Hal yang perlu dikritisi hal- pengalaman atau
hal sebagai berikut: 1) Desa pengetahuan
sebagai subjek pembangunan,
mereka sendiri
maka seluruh warga desa
harus berpartisipasi dalam tentang alur
pembangunan, 2) Pelaksana atau pembangunan
Penanggungjawab operasional desa
Pembangunan wajib membuat dan
laporan berkala terhadap kegiatan pengawasannya.
yang dilakukan, 3) Desa harus
memiliki mekanisme komplain
dari warga desa, 4) Laporan
kegiatan dan keuangan harus
dilaporkan kepada masyarakat
melalui Pemerintah Desa, 5)
Wajib dilakukan adanya evaluasi
dan review atas pekerjaan
dikaitkan dengan Rencana Kerja
Pembangunan tahun depan
berikut APB Desa-nya.

82 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

7. Akhiri sesi dengan merangkum hasil diskusi dalam


kerangka pokok-pokok pikiran tentang prinsip-prinsip
dasar Pelaksanaan dan Pengawasan Pembangunan
Desa, bahwa :

1) Sistem Pembangunan Desa mencakup


banyak komponen, baik untuk pelaksanaan maupun
pengawasan,

2) Pendamping Lokal Desa memiliki peran untuk


membantu terbangunnya sistem pembangunan di desa,

3) Pendamping Lokal Desa tidak datang untuk


mengambil alih pekerjaan masyarakat, melainkan
memberikan pencerahan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
83
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 3.4.
Penganggaran
Pembangunan Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:
1. Mampu menjelaskan penganggaran
sebagai tahap menentukan perwujudan
misi pembangunan desa yang pro rakyat;
Sebagai acuan
2. Mampu menjelaskan sistem penganggaran
desa hanya melalui APB Desa; gunakan :
3. Mampu memberikan pemahaman bahwa Peraturan
kegiatan pembangunan di desa harus Menteri
berbasis pada APB Desa yang jenis Dalam Negeri
kegiatannya bersumber pada RPJM Desa
dan RKP Desa;
Republik
Indonesia No.
113 Tahun
Waktu 2014 Tentang
2 JPL (90 menit) Pengelolaan
Keuangan Desa

Metode
Ceramah, Tanya Jawab, dan Diskusi Kelompok

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

84 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Jelaskan sub pokok bahasan serta tujuan sub pokok


bahasan yang akan disampaikan.

2. Ajak bebarapa peserta untuk berbagi cerita (sharing)


tentang pengalaman atau pengamatan peserta dalam
Biarkan peserta
penganggaran dan keuangan desa. Pertanyaan berikut
bisa dijadikan panduan berbagi cerita. mencoba
mendiskusikan
a. Apa yang Anda pahami dan kenali tentang
dan
penganggaran di desa dan keuangan desa?
menemukan
b. Apa saja komponen yang ada dalam keuangan gambaran ideal
desa?
berdasarkan
c. Bagaimana desa mengelola Keuangannya? Siapa pengalaman atau
yang bertanggungjawab? pengetahuan
d. Apa saja sumber keuangan desa? Pos belanja desa mereka sendiri
untuk apa saja? tentang alur
e. Bagaimana dengan akuntabilitasnya? pembangunan
desa
3. Lanjutkan dengan pemaparan singkat pokok-pokok
pikiran tentang Penganggaran Pembangunan Desa dan
yang ideal. pengawasannya.

Jelaskan beberapa pokok penting;


1) sumber-sumber keuangan desa,
2) PAD,
3) upaya desa yang tak memiliki PAD
4) dan pokok-pokok pengertian lainnya

4. Bagi peserta ke dalam kelompok kecil untuk kemudian


mendisuksikan pemahaman tentang alur proses
penyusunan anggaran berbasis keuangan desa yang
ideal menurut peserta.
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
85
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Fasilitasi diskusi pleno untuk pendalaman temuan


diskusi kelompok, dengan fokus pembahasan pada hal
berikut:
a. Apakah Desa memiliki Pendapatan Asli Desa ? Jika
belum, mengapa? Ajak peserta
untuk
b. Mengapa dalam pos belanja desa lebih banyak
memahami
didominasi untuk kegiatan belanja aparat desa?
bahwa
c. Sudahkah Desa mengakses Dana CSR di Desa harus
perusahaan di desa mereka (kalau ada)? Jika
belum, mengapa?
memiliki
Pendapatan Asli
d. Apakah Alokasi APB Desa prosentase anggarannya
Desa jika ingin
sudah condong ke pencapaian visi misi desa? Jika
belum apa yang harus dilakukan?
menjadi mandiri
(tidak tergantung
pada pihak lain.)
APB Desa harus seimbang,
antara Pemasukan dengan
Belanja, agar pelaksanaan
pembangunan menjadi nyata.

6. Akhiri sesi dengan merangkum hasil diskusi dalam


kerangka pokok-pokok pikiran tentang prinsip-prinsip
dasar Penganggaran Pembangunan Desa, bahwa
: 1) Desa harus memiliki Pendapatan Asli Desa; 2)
Dana ataupun bantuan dari luar Desa diharapkan
lebih merupakan bersifat subsidiaritas; 3) Desa
bisa melakukan kerjasama dengan desa lain untuk
meningkatkan produksinya dalam rangka mendorong
adanya penghasilan asli desa.

86 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN
BACAAN

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
87
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SISTEM PENGANGGARAN
DALAM SISTEM
PEMBANGUNAN DESA

Oleh S Muslimah (KNPPT)

Terdapat perspektif dan semangat otonomi yang termuat dalam UU Desa No.6 Tahun 2014
yaitu desa mempunyai hak dan kewenangan untuk mengambil keputusan tentang perencanaan
dan penganggaran secara mandiri.Dalamprespektif pembangunan desa, posisi sistem
penganggaranseperti yang dimuat dalam UU Desa merupakan saranayang harus dipandang
sebagai perwujudan amanah rakyat yang teknisnya dilakukan pemerintah desa bagi kemakmuran
rakyat, karena rakyat yang memberi kuasa.
Dalam rangka mewujudkan bahwa rakyat benar-benar bersama-sama pemerintah desa dalam
sistem penganggaran, pendamping desa lokal mempunyai peran penting untuk memastikan proses
penganggarannya berjalan secara partisipatif. Rakyat harus dilibatkan secara aktif dalam proses
pembangunan desa untuk mencapai pada titik desa mandiri mulai dari tahap identifikasi masalah dan
potensi, penyusunan RKPDesa (Rencana Kegiatan Pemerintah Desa), dan penyusunan APBDesa
(Anggaran Pendapatan dan Biaya Desa).
Langkah awal yang harus dilakukan oleh pendamping desa lokal adalah menyiapkan masyarakat
untuk berpartisipasi dalam penganggaran desa. Diantaranya, memahamkan masyarakat tentang
makna penganggaran, hubungan anggaran desa dalam kehidupan bernegara, masalah-masalah
yang umumnya dihadapai dalam penganggaran, dan apa saja yang harus diutamakan masuk dalam
penganggaran. Pemahaman tersebut akan menjadi dasar bagi masyarakat untuk bersama-sama
pemerintah desa mengikuti semua tahapan proses penganggaran partisipatif.
Penyusunan anggaran yang dilakukan secara partisipatif sebagai salah satu cerminan diantara
lainnya bahwa pembangunan desa dilakukan denganmembukapeluang bagi seluruh warga untuk
terlibat (prinsip inklusi), dalam segala bentuk-bentuk musyawarah desa (prinsip demokrasi), dan
kemudahan untuk memperoleh informasi bagi masyarakat (prinsip transaparansi).

88 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

• Kesesuaian issue strategis dengan kebijakan keuangan desa

Issue strategis dalam sistem pembangunan desa adalah menentukan arah kebijakan anggaran
desa yang disusun, didasarkan atas hak dan kewajiban urus diri sendiri (Local Self-Government).
Arah tersebut sebagai tujuan pembangunan desa yaitu untuk mencapai kesejahteraan masyarakat
desa, dalam bentuk desa mandiri.

Oleh sebab itu, pemerintah desa harus mampu memastikan seluruh tahapan untuk mencapai
tujuan dilakukan dengan melibatkan masyarakat.Tahapan tersebut meliputi; (1) membuat peta
permasalahan dan potensi desa, (2) penyusunan Rencana Kegiatan Pembangunan Desa
(RKPDesa), dan (3) penyusunan Anggaran Pendapatan dan Biaya Desa (APBDesa).

Peta permasalahan dan potensi desa.Merupakan daftar atau gambaran yang disusun bersama-
sama masyarakat melalui musyawarah desa untuk mengumpulkan seluruh permasalahan yang
dihadapi oleh desa dan masyarakat desa dan seluruh kekayaan desa yang memungkinkan untuk
dikembangkan untuk menacapai kesjahteraan masyarakat desa.

Rencana Kegiatan Pemerintah Desa (RKPDesa). Merupakan daftar program-program dan kegiatan-
kegiatan yang akan dilakukan oleh pemerintah yang disusun melalui proses musyawarah desa
dalam rangka menyelesaikan permasalahan desa dan memanfaatkan secara optimal potensi
kekayaan desa.Program dan kegaitan yang termuat dalam RKPDesa sebagai gambaran lengkap
arah kebijakan pembangunan desa. Meskipun demikian, program dan kegiatan harus dirangking
(prioritisasi) berdasar tingkat kemendesakan dan kemanfaatannya dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat banyak (kepentingan publik).

Anggaran Pendapatan dan Biaya Desa(APBDesa).Merupakan daftar pembelanjaan seluruh dana


atau penerimaan desa dalam melaksanakan kegiatan prioritas sesuai dengan tingkat kecukupan
dana yang disusun melalui musyawarah desa untuk mencapai kesejahteraan masyarakat desa.

Perencanaan dan penganggaran desa merupakan bagian dari susunan kelembagaan desayang
pada akhirnya akan menumbuhkan kemandirian desa. Kemandirian yang dimaksud adalah
penentuan arah tujuan pembangunan desa yang ditentukan sendiri oleh seluruh masyarakat desa.
Oleh sebab itu, program-program pencapaian tujuan, pengalokasian sumberdaya dan sumberdana
desa ditetapkan sendiri oleh masyarakat desa, dan pelaksanaan pembangunan desa dijalankan dan
dimonitor (dalam pengawasan) sendiri oleh masyarakat desa.

Pembangunan desa setidaknya mempunyai ciri-ciri kunci yang mampu mendorong perilaku
positif. Diantaranya; anggaran desa disusun dengan melibatkan seluruh aspek masyarakat, hasil
pencapaian (kinerja) pembangunan desa harus mendapatkan umpan balik dari masyarakat desa,
hasil pencapaian (kinerja) pembangunan desa dinilai berdasarkan sumberdaya dan sumberdana
(biaya-biaya) yang dapat dimonitor (dalam pengawasan) masayarakat, ukuran-ukuran hasil
pencapaian (kinerja) pembangunan desa realistik (senyata-nyatanya dan dapat dimengerti oleh
masyarakat desa, serta beragam).

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
89
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

• Apa makna penganggaran desa bagi masyarakat desa

Dalam kehidupan sehari-hari, sebuah rumah tangga akan dihadapkan pada kondisi jumlah dana
atau pendapatannya terbatas (dalam jumlah tertentu). Oleh sebab itu, setiap rumah tangga harus
mengatur atau membelanjakan danayang dimilikinya agar dapat memenuhi kebutuhan yang benar-
benar atau harus didanai, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk masa depan keluarganya.
Diantaranya kebutuhan untuk; makan, pakaian, biaya listrik, biaya sekolah, dan mungkin tabungan
pensiun.Pembelanjaan ini dapat dilakukan dengan perencanaan atau menyisih-nyisihkan dana pada
kelompok kebutuhan dalam amplop-amplop terpisah atau dalam kaleng-kaleng terpisah, agar pada
saatnya tiba dana yang dibutuhkan tersedia.

Lain halnya bagi sebuah pemerintahan (desa atau kabupaten). Pembelanjaan atas seluruh
penerimaan dan atau kekayaanpotensialnya didasarkan pada kebutuhan yang berbeda dengan
kebutuhan rumah tangga.Kebutuhan sebuah pemerintahan meliputi; perumahan atau apartemen,
hotel atau sederhananya kos-kos-an, pabrik-pabrik, Mall atau sederhanya pasar.Sayangnya,
seringkali melupakan nasib kebutuhan petani, tempat-tempat hewan-hewan ternak seperti bebek
atau apapun jenisnya.Padahal, para petani inilah yang barangkali pemiliki lahan sebenarnya
atau penggarap (buruh) pertanian yang jumlah pekerjanyabarangkali terbanyak dalam sebuah
pemerintahan (desa).

Jika sebuah pemerintahan (desa atau kabuaten) mempunyai tujuan untuk mensejahterakan
masyarakatnya, masyarakat yang bagian manakah atau jenis apakah yang akan disejahterakan.
Bukankah petani atau buruh tani juga bagian dari masyarakat yang harus dihargai keberadaannya
dan menjadi bagian tanggung jawab pemerintahan.Bagaimana juga dengan kebutuhan masyarakat
lainnya (kaum difabel, para anak jalanan, pengangguran, masyarakat rentan kemiskinan, dan lain-
lain)? Jika pemerintah tidak melibatkan mereka secara bersama-sama menentukan nasibnya sendiri,
siapakah yang memikirkan kebutuhan mereka, akan kemanakah mereka mencari perlindungan hak
dan kewajibannya? Haruskah sebuah kesejahteraan hanya akan menjadi impian saja buat mereka?

Jika kondisi yang ada sebagaimana yang telah dicontohkan, apakah makna penganggaran
bagi masyarakat?. Dalam ungkapan sederhana penganggaran dapat jelaskan sebagai proses
musyawarah bersama (seluruh aspek masyarakat) dalam rangka membagi-bagi (mengalokasikan)
sumberdana (pendapatan atau penerimaan) sesuai dengan pos-pos pembelanjaannya untuk
mencapai tujuan mensejahterakan masyarakat dalam jangka waktu tertentu (umumnya 1 tahun atau
multi tahun untuk kegiatan yang tidak memungkinkan diselesaikan dalam satu tahun).

Dengan demikian, jika penganggaran desa dikaitkan dengan pembangunan desa, maka penganggaran
desa hendaknya merupakan perwujudan mekanisme yang berguna untuk memastikan tumbuhnya
bentuk hubungan warga dengan pemerintah desa dalam membangun transparansi. Oleh sebab itu,
dalam setiap tahapan penganggaran desa, hendaknya masyarakat desa setempat lah yang menjadi
aktor atau pemain utamanya dan menjaminbahwa tujuan seluruh aspek masyarakat tersebut akan
dicapai seiring dengan tercapaian tujuan pembangunan desa. Dengan kata lain, keberpihakan

90 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
tujuan penganggaran adalah untuk mencapai tujuan seluruh aspek masyarakat setempat, bukan
hanya untuk mencapai tujuan individu-individu tertentu.

• Anggaran desa dalam kehidupan bernegara

Desa adalah bagian dari suatu Negara. UU Desa secara tegas mengakui keberadaannya dalam
kontek pengakuan hak asal usulnya dan sejumlah kewenangan desa dalam menjalan mekanisme
kepemerintahannya.

Dalam kaitannya dengan mekanisme penganggaran desa, terdapat hal-hal kunci yang harus menjadi
perhatian PLD (pemdaping lokal desa) dalam memfasilitasi penganggaran desa dikaitkan dengan
kehidupan bernegara.Diantaranya,waktu pelaksanaan musyawarah desa untuk pengganggaran
desa harus memperhatiakan waktu atau jadwal pelaksanaan penganggaran Negara. Demikian
halnya berkaitan dengansumber dana penganggaran desa yang ditaksir akan didanai berasal dari
pemerintah atau pemerintah daerah. Oleh sebab itu, jadwal atau waktu dan kebutubuhan sumber
dana penganggaran desa harus sinkron dengan berjalannya proses penganggaran negara, yaitu
mekanisme penganggaran yang terjadi di tingkat pemerintah daerah dan pemerintah.

Penganggaran desa merupakan bagian-bagian atau “keping-keping puzzle” sebuah gambaran


penganggaran Negaradianatara bagian-bagian lainnya, dlaam sebuah proses Negara mencapai
tujuan mensejahterakan rakyat.Oleh sebab itu, meskipun dalam penyusunan dan penetapan
anggaran desa ditentukan sendiri oleh masyarakat desa, menjaga kesesuaian jadwal dan
kemungkinan penyediaan sumberdana (dari pemerintah dan pemerintah daerah) dengan mekanisme
penganggaran Negara, adalah suatu keharusan untuk dipertimbangkan.

• Masalah yang mungkin muncul dalam penganggaran desa

Tahapan penganggaran desa tidak seluruhnya mudah dilakukan oleh seluruh masyarakat.
Terdapat beberapa titik yang harus menjadi perhatian PLD (pendamping lapang desa) dalam
mengawal mekanisme penganggaran desa.Titik-titik kritis tersebut, secara k khususnya dapat
memungkinkan(berpotensi) munculnya permasalahan dalam penganggaran desa. Diantaranya
adalah(1) tahap prioritasasi program masyarakat desa, (2) tahap pemenuhan kebutuhan sumberdaya/
sumberdana program yang diprioritaskan, dan (3) penetapan ukuran-ukuran yang realistik atas
hasil pencapaian (kinerja) pelaksanaan program yang diprioritaskan.

Prioritisasi program. Titik kritis pertama adalah pada tahap penentuan prioritas program atau
kegiatan yang akan dilakukan pada kurun waktu penganggaran, umumnya terjadi pada tahap
penyusunan RKPDesa. Tahap inilah yang harus menjadi perhatian utama dan pertama bagi semua
pihak, khususnya bagi PLD (pendamping lokal desa), karena prioritisasi program menjadi tumpuan
perwujudan pembangunan desa.

Dalam praktiknya proses prioritisasi program seringkali dilawankan atau dihadapkan dengan
kehendak pemerataan pembangunan. Padahal, kedua hal terseut (prioritisasi dan pemerataan)

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
91
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
merupakan sesuatu yang sangat berbeda dan akan mempunyai hasil pencapaian (kinerja) berbeda.
Prioritisasi mendasarkan pada kondisi bahwa kegiatan itu penting dan mendesak untuk dilakukan
dengan tujuan kemanfatan untuk orang banyak. Sedangkan, pemerataan ditempatkan pada semua
kegiatan dilakukan pada saat yang sama, bahkan untuk pihak-pihak yang sebenarnya belum
atau tidak membutuhkan pada saat tersebut. Oleh sebab itu, penganggaran desa dalam sistem
pembangunan desa, PLDhendaknya memastikan bahwa proses sebelum penganggaran telah
dilakukan dengan prinsip-prinsip yang benar, menjadi sangat penting untuk diperhatikan.Disamping
itu, lakukan pengecekan kembali bahwa isi dokumen RKPDesa telah sesuai dengan (bagian dari
program dan kegiatan yang termuat dalam) RPJMDesa.

Pemenuhan kebutuhan sumberdaya/sumberdanapembangunan desa.Pendapatan dan


kekayaan potensial desa mempunyai keterbatasan dalam jumlah dan penggunaan.Tidak
menutup kemungkinan, untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya/sumberdana pemerintah desa
membutuhkan pembiayaan dari pihak lain (pemerintah, pemerintah daerah, atau kaum peduli), baik
itu berupa hibah/bantuan atau pinjaman.Keseluruhan sumberdaya/sumberdana yang digunakan
oleh pemerintah desa dalam upaya untuk membiayai (dibelanjakan) program dan kegiatan pada
waktu tertentu disebut dengan penerimaan.

Kecukupan sumberdaya/sumberdana seringkali menjadi masalah utama berikutnya dalam sistem


penganggaran desa.Penaksiran kebutuhan sumber pendanaan kegiatan seringkali tidak dapat
diyakini perolehannya.Informasi sumber-sumber pendanaan dari pihak luar, khususnya dari
pemerintah dan pemerintah daerah seringkali kurang tersosialisasikan di tingkat desa. Oleh sebab
itu, PLD (pendamping lokal desa) hendaknya memfasilitasi perolehan informasi tentang sumber-
sumber dana dari pemerintah dan pemerintah daerah berkaitan dengan kebutuhan penganggaran
desa dalam mekanisme pembangunan desa

Penetapan ukuran-ukuran hasil capaian(kinerja).Masyarakat terlibat dalam proses pembangunan


desa secara menyeluruh, dari tahap awal sampai akhir proses (titik pertanggungjawaban)
pelaksanaan program dan kegiatan, bahkan sampai pada dampak program dan kegiatan tersebut
bagi kehidupan masyarakat itu sendiri. Oleh sebab itu, agar dapat dilakukan proses pengukuran
tingkat pencapaian hasil program dan kegiatan maka secara bersama-sama dengan pemerintah
desa masyarakat harus menentukan ukuran-ukuran hasil pencapaian yang nyata, mudah dilakukan
dan dipahami.

Penetapan ukuran ini merupakan bagian terakhir yang memungkinkan akanberpotensi menimbulkan
permasalahan dalam penganggaran desa. Secara umum, ukuran hasil pencapaian dapat
menggunakan angka (kuantitatif), baik dalam satuan mata uang (rupiah) maupun angka-angka
target lainnya (misalnya: panjang dan ketebalan jalan yang dibangun, tinggi dan luas jembatan,
debit air dalam irigasi, dan lain-lain).Bentuk ukuran lainnya, dapat berupa bukan-angka (kualitatif).
Ukuran dalam bentuk kualitatif sangat beragam, umumnya sangat dipengaruhi oleh jenis program
dan kegiatan yang dibiayai (dilaksanakan) dalam penganggaran. Misalnya, untuk mengukur
pemanfaatan pembangunan PUSTU (Puskesmas Pembantu) dapat menggunakan ukuran berapa
sering kegiatan pelayanan dilakukan dalam setiap minggu/bulan, berapa banyak masyarakat dapat
dilayani dalam setiap minggu/bulan, tingkat perbaikan kesehatan masyarakat, dan lain-lain.

Pada titik kritis tahapan ini, peran PLD (pendamping lapang desa) menjadi sangat penting untuk
memfasilitasi proses penyusunan ukuran hasil pencaiapan. Penggunaan ukuran-ukuran yang

92 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
berlaku umum sangat dimungkinkan untuk diadopsi (diterapkan dengan penyesuaian pada kondisi
desa setempat), untuk mempermudah proses penyusunan dan penetapan ukuran.

• Keterkaitan kebijakan anggaran dengan pemenuhan kebutuhan publik

Seluruh pemenuhan kebutuhan publik harus sudah termuat dalam dokumen RPJM Desa, yang
secara umum berfungsi sebagai penjamin penentuan arah kebijakan dan strategi pembangunan
desa dalam mencapai kesejahteraan masyarakat desa. Kebutuhan publik meliputi; (1)
pemenuhan standar pelayanan minimum desa sesuai dengan letak dan ciri khas geografis desa,
(2) penanggulangan kemiskinan sesuai dengan karakteristik kemiskinan yang ada di desa yang
bersangkutan, (3) pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa sesuai dengan kemungkinan
pengembangan (potensi) atas kekayaan desadan, (4) pengembangan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan keberdayaan dan pembentukan modal sosial budaya masyarakat desa.

Pemenuhan standar pelayanan minimum desa.

Penanggulangan kemiskinan.

Pengembangan usaha ekonomi masyarakat desa.

Pengembangan sumber daya manusia.

Jelas lah bahwa penganggaran desa hendaknya ditujukan untuk merealisasikan pemenuhan
kebutuhanpublik. Peran PLD (pendamping lokal desa) adalah memfasilitasi proses pelaksanaan
musyawarah dalam menjamin seluruh kebutuhan publik terpenuhi dan mengadvokasi sejumlah
kebijakan-kebijakan atau program dimasukkan dalam RPJM Desa.

• Prinsip penganggaran partisipatif

Penganggaran partispatif (PP) merupakan salah satu pendekatan penganggaran yang bisa menjadi
pilihan dalam penganggaran desa sesuai amanat UU Desa.Namun, apakah yang dimaksud dengan
penganggaran partisipatif, bagaimana penganggaran partisipatif dilaksanakan dalam praktik, dan
apakah benar-benar dapat melibatkan masyarakat dalam kondisi keberadaan dan kesibukan
masyarakat desa yang bersangkutan?

Apakahpenganggaran partisipatif (PP)?Penganggaran partisipatif merupakan pendekatan


penganggaran dengan prinsip memberdayakan warga melalui mekanisme pengambilan keputusan
anggaran dilakukanbersama-samadengan masyarakat (masyarakat terlibat aktif dalam setiap
tahapan yang harus dilalui). Pendekatan ini bukanlah pendekatan baru, namun, telah dikembangkan
lebih dari dua dekade lalu di Porto Alegre, Brazil. Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan
proses pembangunan desa dilakukan sendiri (mandiri) untuk mencapai kesejahteraannya
masyarakat setempat.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
93
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Penganggaran partisipatif(PP) dalam rangka implementasi UU Desa No.6 Tahun 2014 merupakan
inisiatif fantastik, namun tetap harus disesuaikan kondisi desa setempat dan tetap memberikan
peluang masyarakat setempat untuk terlibat menentukan pembelanjaan dananya dalam program
dan kegiatan yang diprioritaskan(kegiatan dalam program pembangunan desa) dalam lingkungan
kehidupannya. Dalam proses demokrasi yang sebenarnya, penganggaran partisipatif (PP) harusnya
terus berkembang secara meningkat dengan proses implementasi yang terus berkembang di
wilayah-wilayah sekitarnya.

Pendekatan penganggaran partisipatif (PP) mengikuti konsep Bottom-Up Budgeting atau yang
disebut dengan Grassroots Participatory Budgeting.Secara nyata, proses penganggaran dengan
pendekatan Bottom-Up merupakan tindakan nyata pemberdayaan masyarakat melalui proses
penganggaran.Jadi, ciri utama pendekatan iniadalah adanya pemberdayaan (empowerment)yang
pada dasarnya berbasis nilai-nilai umum kehidupan manusia, menumbuhkan peralihan kekuasaan,
memberikan hak mengusulkan/memilih dan pengambilan keputusan di tangan masyarakat, dan
memastikan adanya prinsip keterbukaan (transparansi).

Prinsip-Prinsip Anggaran berbasis Penganggaran Partisipatif

1. Disetujui oleh utusan masyarakat. Anggaran harus mendapatkan persetujuan dari para
utusan masyarakat sebelum dilaksanakan membelanjakan danaoleh eksekutif (kepala desa).

2. Komprehensif (menyeluruh). Anggaran harus mencerminkan semua sumber penerimaan dan


pengeluaran desa. Oleh karena itu, adanya katagori dananon budgetair adalah menyalahi
prinsip komprehensi penganggaran. Dengan kata lain tidak dapat diterima adanya pos
dananon-budgetair.

3. Keutuhan anggaran. Seluruh sumber dana atau penerimaan dan pembelanjaan dana harus
terhimpun dalam satu kesatuan dana (utuh atau keseluruhan).

4. Periodik. Penganggaran merupakan proses yang periodik, bersifat tahunan atau multi
tahunan.

5. Akurat. Penganggaran dilakukan dengan perkiraan atau estimasi yang tepat, tidak memasukan
dana cadangan yang tersebunyi sehingga memungkinkan untuk dijadikan kantong-kantong
pemborosan atau inefisiensi anggaran dan mengakibatkan adanya under estimate(kesalahan
dalam penaksiran yang terlalu rendah) penerimaan dan over estimate(kesalahan dalam
penaksiran terlalu besar) pengeluaran

6. Jelas.

7. Diketahui publik. Penganggaran dilakukan secara terbuka dan melibatkan semua unsur
masyarakat melalui musyawarah-musyawarah desa. Program dan kegiatan yang telah disetuji
untuk dibiayai melalui pembelanjaan atas penerimaan desa diumumkan dalam papan-papan
informasi desa.

94 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Bagaimana Penganggaran Partisipatif dilaksanakan di Desa?

Dalam pola pikir yang umum terjadi, sepertinya penganggaran partisipatif menggambarkan sesuatu
ketidakmungkinan untuk terjadi.Disamping itu, untuk dapat menerapkan penganggaran partisipatif
(PP) dibutuhkan model tatakelola pemerintahan baru, yang memberdayakan masyarakat untuk
benar-benar membuat keputusan-keputusan tentang kebijakan dan pembelanjaan dana desa.

Pengalaman berdemokrasi, penatakelolaan pemerintahan yang transparan, dan reformasi ekonomi


telah berjalan cukup waktu.Pada kenyataannya, banyak warga masyarakat yang belum terlibat dalam
aktivitas sipil khususnya dalam hal pengambilan keputusan bagaimana membelanjakan dana desa.
Disamping itu, pada dasarnya, masyarakat memahami bahwa mereka mempunyai kekuasaan atau
kekuatan untuk melakukan pengambilan keputusan dan pemerintah desa hendaknya tidak hanya
mendengarkan usulan mereka tetapi benar-benar harus mengikuti mandat mereka. Oleh sebab itu,
harus diatur dalam proses penganggaran partisipatif.

Proses penganggaran partisipatif (PP). Secara sederhana proses penganggaran partisipatif


(PP) dapat dilihat dalam skema yang disajikan di Gambar-1.Tahap-1 masayarakat melakukan
identifikasi kebutuhan dan memilih utusan atau tim representasi masyarakat.Utusan secara ekstensif
akanmeneliti dan menilai kelayakan implementasi program dna kegiatan yang telah dilakukan
periode sebelumnya.Dismaping itu, utusan mempunyai fungsi untuk mengidentifikasi kebutuhan-
kebutuhan publik yang harus dipenuhi.

Tahap-2 adalah proses para utusan melakukan pertemuan-pertemuan (musyawarah-musyawarah)


dan menyusun proposal atau usulan program dan kegiatan. Pada saat usulan benar-benar sudah
konkret (jelas jenis, waktu, dan kemanfaatannya), dilanjutkan dengan menyajikannya kepada publik
melalui ruang-ruang publik maupun papan-papan informasi.

Tahap-3 merupakan tahapan uji publik untuk memperoleh masukan atau umpan balik masyarakat
secara langsung atas apa yang telah disusun oleh para utusan masyarakat.Pemanfaatan ruang
publik, media social, dan papan informasi publikdapat membantu meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam mencermati pemenuhan kebutuhan pada penganggaran periode yang ada.

Tahap-4 adalah proses memilih dan memutuskan sesuai dengan tujuan dan kualifikasi program.
Tahap ini merupakan tahap prioritisasi atau memilih program dan kegiatan mana yang tingkat
kemendesakannya paling tinggi.

Tahap-5 adalah tahap terakhir yang berfungsi untuk menjamin bahwa seluruh dana dialokasikan
atau dibelanjakan sesuai dengan hasil prioritasipembelanjaan.Disamping itu, tahap ini menjadi
titik penting untuk memastikan bahwa seluruh pelaksanaan sesuai dengan ukuran-ukuran kinerja
yang telah ditetapkan, baik ukuran keuangan maupun non-keuangan dan ukuran kuantitatif (angka)
maupun kualitatif (non-angka).

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
95
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Gambar-1. Proses Penganggaran Partisipatif

Tindakan apa yang harus dilakukan agar pendekatan penganggaran partisipatif berjalan
dengan benar?

Menurut Dr. Gordon terdapat tiga tindakan yang harus dilakukan oleh masyarakat jika menginginkan
peningkatan efektifitas penganggaran partisipatif
• Menciptakan sarana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan proses penganggaran partisipatif.
Sarana pendorong yang harus diciptakan dapat berupa ruang public atau media social lainnya
yang dapat digunakan sebagai pelengkap bentuk-bentuk atau sarana komunikasi lain.
• Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses. Melibatkan semua unsur masyarakan
sesuai dengan kaakteristiknya sendiri-sendiri.
• Menilai dan meningkatkan dampak penganggaran partisipatif.

Keberadaan ruang-ruang publik atau media sosial dibutuhkan untuk menciptakan sarana yang
memungkinkan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat.Kenyataan bahwa penggunaan ruang
publik dan media sosial saat ini dalam kondisi “terbatas dan sporadis”.Oleh sebaba itu, menjadi peran
PLD (pendamping lokal desa) untuk mengadvokasi berupa doronganuntukdiwujudkannya dalam
bentuk regulasi desa atau daerah. Dengan demikianpenggunaan ruang publik dan media social
dapat dilakukan secara lebih optimal.Regulasi dibutuhkan dan sangat potensial untuk meningkatkan
dan mengembangkan platform penggunaan ruang publik dan media sosial untuk mengembangkan
dan mengelola pastisipasi masyarakat.

96 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA


(Hadian Supriatna)

PENJELASAN UMUM
1. Desa : adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya
disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat
setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang
diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2. Kewenangan Desa : adalah kewenangan yang dimiliki Desa meliputi kewenangan
di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa,
Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Desa.
3. Pemerintahan Desa : adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. Pemerintah Desa : adalah kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu
perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.
5. Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain : adalah lembaga
yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari
penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.
6. Musyawarah Desa atau yang disebut dengan nama lain : adalah musyawarah
antara Badan Permusyawaratan Desa, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang
diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa untuk menyepakati hal yang bersifat
strategis.
7. Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa atau yang disebut dengan nama
lain : adalah musyawarah antara Badan Permusyawaratan Desa, Pemerintah Desa,
dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa untuk menetapkan
prioritas, program, kegiatan, dan kebutuhan Pembangunan Desa yang didanai oleh
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, swadaya masyarakat Desa, dan/atau Anggaran
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
97
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota.
8. Peraturan Desa : adalah peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Kepala
Desa setelah dibahas dan disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa
9. Pembangunan Desa : adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk
sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa.
10. Perencanaan pembangunan desa : adalah proses tahapan kegiatan yang
diselenggarakan oleh pemerintah Desa dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa
dan unsur masyarakat secara partisipatif guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber
daya desa dalam rangka mencapai tujuan pembangunan desa.
11. Pembangunan Partisipatif : adalah suatu sistem pengelolaan pembangunan di desa
dan kawasan perdesaan yang dikoordinasikan oleh kepala Desa dengan mengedepankan
kebersamaan, kekeluargaan, dan kegotongroyongan guna mewujudkan pengarusutamaan
perdamaian dan keadilan sosial.
12. Pemberdayaan Masyarakat Desa : adalah upaya mengembangkan kemandirian dan
kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan,
perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya melalui penetapan
kebijakan, program, kegiatan, dan pendampingan yang sesuai dengan esensi masalah
dan prioritas kebutuhan masyarakat Desa.
13. Pengkajian Keadaan Desa : adalah proses penggalian dan pengumpulan data mengenai
keadaan obyektif masyarakat, masalah, potensi, dan berbagai informasi terkait yang
menggambarkan secara jelas dan lengkap kondisi serta dinamika masyarakat Desa.
14. Data Desa : adalah gambaran menyeluruh mengenai potensi yang meliputi sumber daya
alam, sumber daya manusia, sumber dana, kelembagaan, sarana prasarana fisik dan
sosial, kearifan lokal, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta permasalahan yang dihadapi
desa.
15. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa, selanjutnya disingkat RPJM Desa, :
adalah Rencana Kegiatan Pembangunan Desa untuk jangka waktu 6 (enam) tahun.
16. Rencana Kerja Pemerintah Desa, selanjutnya disingkat RKP Desa : adalah penjabaran
dari RPJM Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun.
17. Daftar Usulan RKP Desa : adalah penjabaran RPJM Desa yang menjadi bagian
dari RKP Desa untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang akan diusulkan Pemerintah
Desa kepada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melalui mekanisme perencanaan
pembangunan Daerah.
18. Keuangan Desa : adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang
serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan
hak dan kewajiban Desa.
19. Aset Desa : adalah barang milik Desa yang berasal dari kekayaan asli Desa, dibeli atau
diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya
yang syah.
20. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, selanjutnya disebut APB Desa : adalah
rencana keuangan tahunan Pemerintahan Desa.

98 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
21. Dana Desa adalah : dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara
yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer melalui anggaran pendapatan dan belanja
daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan
Desa, pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan
pemberdayaan masyarakat Desa.
22. Alokasi Dana Desa, selanjutnya disingkat ADD : adalah dana perimbangan yang
diterima kabupaten/kota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota
setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.
23. Lembaga Kemasyarakatan desa atau disebut dengan nama lain : adalah lembaga
yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra
pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat,
24. Lembaga adat Desa adalah : merupakan lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat
istiadat dan menjadi bagian dari susunan asli Desa yang tumbuh dan berkembang atas
prakarsa masyarakat Desa.
25. Pemerintah Pusat selanjutnya disebut Pemerintah : adalah Presiden Republik
Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
26. Pemerintahan Daerah : adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
27. Penyandang cacat, adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik/atau mental, yang
dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan
secara selayaknya, yang terdiri dari
a. penyandang cacat fisik;
b. penyandang cacat mental; dan
c. penyandangcacat fisik dan mental
28. Inklusi, adalah sebuah pendekatan untuk membangun dan mengembangkan sebuah
lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan semua orang
dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status, kondisi,
etnik, budaya dan lainnya.
29. Difabel , adalah suatu kehilangan atau ketidaknormalan baik psikologis, fisiologis
maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
99
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PERENCANAAN PEMBANGUNAN
DALAM PERSPEKTIF INKLUSI

Tujuan Pembangunan Desa sebagaimana dituangkan didalam UU Desa adalah meningkatkan


kesejahteraan hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui penyediaan pemenuhan
kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana Desa, pengembangan potensi ekonomi lokal
dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan yang dilaksanakan dengan
mengedepankan semangat kebersamaan, kekeluargaan dan kegotongroyongan guna mewujudkan
pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial. Didalam pasal 78; Pasal 79; mensyaratkan
keharusan bagi Pemerintah Desa untuk melaksanakan Perencanaan Pembangunan Desa dalam
rangka menyusun visi bersama membangun desa antara Masyarakat dan Pemerintahan Desa yang
diselelaraskan dengan rencana pembangunan Kabupaten/Kota yang dituangkan dalam Dokumen
Jangka menengah (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) yang ditetapkan
dengan Peraturan Desa. Ketentuan pasal 80; pasal 81 dan Pasal 82 UU Desa mengharuskan
Perencanaan Pembangunan Desa mengikutsertakan masyarakat dan Pelaksanaan Pembangunan
harus melibatkan seluruh masyarakat desa dengan semangat gotong royong dan menjamin peran
serta masyarakat Desa dalam pemantauan dan pengawasan pembangunan.
Pelibatan seluruh lapisan masyarakat dalam Pembangunan adalah wujud pengarusutamaan
perdamaian dan keadilan sosial , namun dalam kenyataannya hingga saat ini masih banyak warga
masyarakat yang belum dapat diakses maupun mengakses pembangunan Desa pada berbagai
tahapan, mereka ini adalah kelompok masyarakat yang rentan dan terpinggirkan diantaranya adalah
anak-anak, perempuan, warga lanjut usia, dan tentu saja warga berkebutuhan khusus (difabel)
sehingga dampaknya pembangunan desa sama sekali tidak dirasakan manfaatnya oleh kelompok-
kelompok masyarakat tersebut.
Padahal sebagaimana amanat Pancasila dan UUD 1945, pemerintah memiliki kewajiban
mewujudkan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, termasuk penyandang disabilitas. Dalam
Pasal 28 H (ayat 2) UUD 45 disebut: “Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus
untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan”.
Dengan demikian, tuntutan agar pemenuhan hak Disabilitas menjadi arus utama dalam agenda
pembangunan pemerintahan baru 2014 – 2019 merupakan amanat konstitusi. Terlebih Indonesia
merupakan salah satu negara yang berkomitmen meratifikasi dan mengimplementasikan konfensi
hak penyandang disabilitas dan konvensi hak anak . Desa sebagai pemerintahan terbawah didalam
sistem negara tentu harus mampu membangun sikap inklusi dengan menhadirkan lingkungan sosial
yang memerangi diskriminasi dan meningkatkan kesadaran akan disabilitas di kalangan masyarakat
umum, para pembuat keputusan, dan mereka yang memberikan pelayanan penting bagi anak dan
remaja dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.

100 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Berbeda dengan UU sebelumnya, UU Desa secara jelas menganut sifat inklusif
terhadap berbagai macam pengelompokan sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Dengan cakupan
kelompok-kelompok di desa yang luas di mana tentu saja dalam hal ini mencakup warga dengan
disabilitas.

The Convention on The Rights of Persons with Disabilities (CRPD) merupakan Konvensi
Internasional Hak-Hak Penyandang Cacat yag disahkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-
Bangsa (PBB) pada sidang ke-61 tanggal 13 Desember 2006 sebagai bentuk usaha menuju
pemenuhan hak asasi manusia yang menyandang kecacatan

Pengertian inklusi digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk membangun dan


mengembangkan sebuah lingkungan yang semakin terbuka; mengajak masuk dan mengikutsertakan
semua orang dengan berbagai perbedaan latar belakang, karakteristik, kemampuan, status,
kondisi, etnik, budaya dan lainnya. Terbuka  dalam konsep lingkungan inklusi, berarti semua orang
yang tinggal, berada dan beraktivitas dalam lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat
merasa aman dan nyaman mendapatkan hak dan melaksanakan kewajibannya. Jadi lingkungan
inklusi adalah lingkungan sosial masyarakat yang terbuka, ramah, meniadakan hambatan dan
menyenangkan karena setiap warga masyarakat tanpa terkecuali saling menghargai dan merangkul
setiap perbedaan.1

LANGKAH-LANGKAH INKLUSI PADA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA :

1. Memastikan bahwa warga masyarakat berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama
dengan masyarakat lainnya untuk menjadi bagian dari Kelembagaan Desa maupun Tim
Penyusun RPJMDesa dan RKP Desa.
2. Memastikan warga masyarakat berkebutuhan khusus hadir secara aktif dalam
proses-proses munsyawarah Perencanaan pembangunan Desa untuk menyuarakan
gagasannya dalam membangun desa termasuk menyuarakan gagasan pemikiran untuk
kegiaatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat berekebutuhan khusus.
3. Memastikan adanya list kegiatan usulan yang diperuntukan bagi kelompok masyarakat
berkebutuhan khusus (difable).
4. Memastikan kelompok masyarakat berkebutuhan khusus dapat berpartisipasi aktip
sebagai pelaksana pembangunan maupun tenaga kerja dalam kegiatan pembangunan
Desa.
5. Memastikan kelompok masyarakat berkebutuhan khusus dapat diberi kesempatan
melakukan pengawasan dan evaluasi pembangunan.
Menurut Borni Kurniawan, Perencanaan pembangunan desa dalam cara pandang lama

1 Catatan : Mewujudkan Desa inklusi hendaknya dipersiapkan melalui 2 (dua) hal yaitu, regulasi
dan jaringan maka pendampingan perlu mendorong adanya: 1) Peraturan Desa yang mengatur pemberian hak-
hak yang tidak diskriminatif kepada kelompok masyarakat difable; 2) Mendorong Desa memiliki data tentang
keberadaan kaum defable.
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
101
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

STRATEGI
MENGOPTIMALKAN
POTENSI DESA
selalu menitik beratkan pada analisa masalah sebagai cara awal merumuskan program/kegiatan
desa. Ada yang menyebut analisa masalah dengan metode teknikalisasi masalah. Teknikalisasi
masalah kurang lebih diartikan sebagai cara mencari dan merumuskan masalah-masalah yang
muncul di desa sebagai dasar pengambilan keputusan atas perencanaan program/kegiatan prioritas
pembangunan desa untuk satu periode tertentu. Teknik ini sering diterapkan dalam kegiatan-kegiatan
seperti musyawarah pembangunan desa (musrenbangdes) penyusunan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Desa (RPJMDesa) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa).
Dalam kegiatan musrenbangdes, masyarakat diajak berbondong-bondong datang dan
berani menyampaikan berbagai persoalan hidup di desa. Lalu pemerintah desa, tepatnya tim
penyusun RPJMDesa dan RKP Desa, mentabulasikannya ke dalam daftar masalah. Lalu mencari
jalan keluarnya dengan membuat daftar rumusan program/kegiatan prioritas. Setelah disepakati,
maka daftar masalah dan rancangan program/kegiatan tersebut didokumentasikan ke dalam naskah
kebijakan yang disebut RPJMDesa dan RKPDesa.
Dengan menerapkan pendekatan masalah, forum musrenbangdes di satu sisi berhasil
menggali banyak keluhan permasalahan desa. Tapi di sisi lain melupakan bahwa di balik
permasalahan ada kekuatan, bahkan ada peluang kemudahan. Banyak data statistik menjustifikasi
bahwa kemiskinan tertinggi ada di desa. Rumah kurang sehat, dan terbuat dari material berkualitas
rendah yang terbanyak ya ada di desa. Tidak sedikit pula hasil penelitian yang menyimpulkan
bahwa pendapatan masyarakat di desa rendah sehingga anak-anak desa tidak mampu mengakses
pendidikan tinggi. Pendidikan masyarakat desa yang rendah kemudian disinyalir menjadi akar
masalah kemiskinan di desa.
Bukankah di balik kemiskinan desa, ternyata kita masih menemukan ketangguhan wong-
wong deso. Meski di desa tidak ada sarana-prasaran kesehatan yang memadai, apalagi modern,
ternyata masih ada warung hidup yang bisa dimanfaatkan untuk membuat jamu. Meski tidak
mengenyam lembaga pendidikan umum, apalagi pendidikan tinggi, tidak sedikit penduduk desa
yang hanya belajar di pesantren ternyata banyak yang berhasil menjadi usahawan desa yang
sukses. Misalnya menjadi juragan kerajinan genteng, pengrajin mebeuler, pedagang tembakau
sampai dengan pedagang beras. Demikian pula dengan pendapat bahwa kualitas rumah penduduk
desa buruk, ternyata ketika terjadi bencana gempa bumi, justru rumah-rumah di desa terbukti tahan
gempa. Ketika kota kehabisan stok sembako, justru di desa masih kita dapatkan berbagai jenis
bahan makanan.
Kita lebih sering melihat sisi kelemahan tapi lupa bahwa di sisi yang lain kita memiliki kekuatan,
mempunyai aset berharga yang apabila dioptimalkan maka aset terbut akan berubah jadi energi
perubahan. Di sinilah arti penting mengimbangi analisa masalah dalam perencanaan pembangunan
desa dengan pendekatan aset. Dengan pendekatan aset kita dilatih untuk lebih menghargai kondisi
dan prestasi desa secara positif. Jadi, di sela-sela masalah, sejatinya masih ada aset baik dalam

102 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
bentuk fisik maupun non fisik yang perlu diapresiasi, hingga baik untuk dijadikan motivasi untuk
mendorong perubahan desa menjadi lebih baik.

Maka, ada baiknya model perencanaan pembangunan desa tidak hanya mengumpulkan
masalah tapi juga menghimpun aset dan potensi yang desa miliki. Dengan kata lain pendekatan
pesimistis harus diimbangi dengan pendekatan optimistik. Jadi, prioritas program pembangunan
desa yang direncanakan dalam RPJMDesa dan RKPDesa tidak hanya mencerminkan permasalahan
desa semata, tapi proyeksi rencana pembangunan yang didasarkan pada perhitungan dan analisa
kekuatan yang ada di desa (strength based approach). Kekuatan-kekuatan tersebut bisa berasal
dari aset tangible seperti sumber daya alam dan sumber daya fisik dan berasal dari aset intangible
seperti aset sosial, budaya, dan ekonomi desa.

Ragam Jenis Aset


Yang namanya aset tentu bukan hanya tanah semata. Dalam teori aset, dikenal ada dua
jenis aset yaitu aset yang berwujud dan dan asset yang tidak berwujud. Aset berwujud yang dapat
dipersepsi dengan indra peraba disebut intangible asset. Sementara untuk aset yang berwujud
karenanya dapat dipersepsi dengan indra disebut tangible asset.
Secara fisik jenis tangible asset adalah jenis aset yang memiliki nilai ekonomi (economic
value), nilai komersial (commercial value) dan nilai tukar (exchange value). Bagaimana dengan
intangible asset. Aset jenis ini memang tidak berwujud dan tidak memiliki ukuran secara fisik. Tapi
sesungguhnya memiliki energi potensial yang apabila teraktualisasikan, maka ia akan terlihat
nilainya, misalnya nilai manfaat.
Pada dasarnya kedua jenis aset tersebut sama-sama memiliki posisi penting dalam
pembangunan desa. Keduanya adalah modal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat desa.
Sumber daya alam misalnya. Kehidupan masyarakat sejak masih mengenal tradisi meramu
dan berladang berpindah-pindah hingga zaman teknologi informasi saat ini, untuk memenuhi
kebutuhannya adalah dengan memanfaatkan sumber daya alam.
Untuk mengoptimalkan nilai manfaat sumber daya alam atau aset fisik lainnya, tetap
membutuhkan sumber daya lainnya yaitu sumber daya manusia dan sumber daya sosial. Peran
sumber daya manusia tidak hanya diketahui dari aspek ekonomi, tapi juga non ekonomi. Jika
melihat manusia dari sudut pandang ekonomi yang sempit, maka manusia hanya akan ditafsirkan
sebagai bagian dari faktor produksi semata. Dengan demikian manusia hanya akan menjadi obyek
pembangunan. Padahal manusia adalah subyek pelaku pembangunan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
103
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Dalam teori pentagonal asset, paling tidak dikenal ada lima jenis aset yang saling
berkomplementer. Artinya, satu sama lain saling dibutuhkan. Kelima aset tersebut yaitu :

1. sumber daya alam (natural capital). Contohnya sumber mata air, sawah, hutan, mineral
bebatuan, sungai, cahaya matahari, laut, dan frekuensi/gelombang radio;
2. keuangan (financial capital). Contohnya Anggaran Pendapatan Belanja Desa,
Pendapatan Asli Desa, Dana Desa, Dana Publik (kas RT, arisan, tabungan).
3. fisik (physical capital). Contohnya, jalan aspal, jalan setapak, kantor desa, gedung
serba guna, rumah penduduk, pos kesehatan desa, computer, kursi.
4. Sosial (social capital). Contohnya, gotong royong, solidaritas sosial, ilmu pengetahuan
dan teknologi, tingkat pendidikan dan kesehatan penduduk.
5. Sumber daya manusia. Contohnya, tokoh masyarakat, pemulung, petani, PNS,
pedagang, pengusaha, siswa dan mahasiswa, kader posyandu.
6. Jadi, untuk mengaktualisasikan potensi yang terkandung dalam asset, maka perlu
memperhatikan kelima aset tersebut.

104 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PENDEKATAN ASET DALAM PERENCANAAN


PEMBANGUNAN DESA :

Kemanfaatan dari suatu aset desa bergantung pada kemampuan dan kreativitas tata kelola
baik yang diperankan pemerintah desa dan masyarakat desa. Beberapa desa di Gunungkidul
seperti Desa Bleberan dan Desa Bejiharjo adalah contoh desa yang dikenal berhasil mengelola
sumber daya lokalnya. Kedua desa tersebut berhasil mengembangkan usaha desa wisata dengan
menjual eksotika goa. Desa Bleberan mengembangkan goa Rancang Kencono, sedangkan Desa
Bejiharjo mengandalkan keindahan goa Pindul.
Bagaimana dengan desa kita. Jangan bilang kalau desa kita miskin, tidak punya sumber
daya se-menarik dua desa di atas. Jangan berargumen pula bahwa masyarakat atau pemerintah
desa kita payah, tidak punya motivasi maju. Pada hakikatnya, setiap wilayah pasti memiliki
aset yang didalamnya mengandung potensi. Nah, potensi itu akan menjadi aktual bergantung
pada kapasitas pengelolaan asset atau manajemen aset yang dilakukan desa, khususnya oleh
pemerintah desa. Menurut Kolopaking (2011), kapasitas dalam aras desa yang perlu dikuatkan
untuk mengaktualisasikan energi potensial yang ada di desa adalah:
Pertama, peningkatan kepekaan terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Pemerintah
mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat. Salah satu bentuknya adalah menyusun program/
kegiatan pembangunan desa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Termasuk pemanfaatan asset desa yang dialamatkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Kedua, kapasitas mengumpulkan, mengerahkan dan mengoptimalkan atau mendistribusikan
aset desa untuk memenuhi kepentingan masyarakat. Pemerintah desa seharusnya memiliki
kesiapan untuk mengelola kelima jenis aset di atas. Hal ini dimaksudkan agar pemerintah desa
mampu memproses perencanaan ruang, pelaksanaan atau pemanfaatan ruang dan pengendalian
pemanfaatan ruang yang dilakukan bersama masyarakat.
Ketiga, menguatkan pemerintah desa mengidentifikasi dan merumuskan pengaturan
kehidupan desa beserta semua asset yang terkandung didalamnya melalui peraturan desa yang
bersandar pada kebutuhan dan aspirasi masyarakat.
Penerjemahan secara kongkrit upaya mengaktualisasikan nilai manfaat dari aset desa bisa
dilakukan pemerintah desa dan masyarakatnya melalui serangkaian kegiatan yang kami sebut
“apresiasi aset” ke dalam sistem perencanaan pembangunan desa agar memiliki basis analisis aset
yang kuat. Langkahnya sebagai berikut:
1. mengidentifikasi mengetahui jenis dan potensi aset yang dimiliki desa.
2. merumuskan trajectory strategi optimalisasi dan pemanfaatan aset desa baik
dalam skala jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
3. mengkonsolidasikan rencana jangka panjang pemanfaatan aset desa tersebut
ke dalam manajemen perencanaan program/kegiatan pembangunan desa.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
105
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Misalnya menjadikan rencana jangka panjang tersebut menjadi acuan
pembuatan dokumen perencanaan pembangunan desa (RPJMDes dan
RKPDesa.

PROSES PENENTUAN PRIORITAS


Penentuan prioritas kegiatan dalam penyusunan RPJMDesa dilaksanakan melalui Musyawarah Desa
yang diselenggarakan oleh Badan Permusyawaratan Desa, yang dilaksanakan setelah tim penyusun RPJMDesa
menyampaikan laporan hasil pengkajian Keadaan Desa. Agenda pembahasan yang dilaksanakan dalam
Musyawarah Desa adalah :
1. Laporan hasil pengkajian keadaan Desa
2. Rumusan arah kebijakan pembangunan Desa yang dijabarkan dari visi dan misi Kepala
Desa; dan
3. Rencana Prioritas kegiatan penyelenggaraan pemerintahan Desa, pembangunan Desa,
pembinaan kemasyarakatan Desa dan pemberdayaan masyarakat Desa

Pembahasan rencana prioritas kegiatan dilakukan melalui diskusi kelompok secara terarah
yang dibagi berdasarkan bidang penyelenggaraan pemerintahan Desa, Pembangunan Desa,
pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat Desa.
Diskusi kelompok tersebut membahas hal-hal sebagai berikut :
1. laporan hasil pengkajian keadaan Desa
2. Prioritas kegiatan Desa dalam jangka waktu 6 (enam) tahun;
3. Sumber pembiayaan rencana kegiatan pembangunan Desa; dan
4. Rencana pelaksanaan kegiatan Desa yang akan dilaksanakan oleh Perangkat Desa,
Unsur Masyarakat Desa, Kerjasama Antar Desa dan/atau Kerjasama dengan pihak
ketiga

1. Hasil kesepakatan dalam musyawarah Desa dituangkan dalam berita acara hasil
musyawarah Desa

2. Hasil kesepakatan Musyawarah Desa menjadi pedoman bagi Pemerintah Desa dalam
menyusun RPJM Desa.

106 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PENYELARASAN PERENCANAAN DESA


DENGAN PERENCANAAN KABUPATEN/KOTA

Perencanaan merupakan tindaklanjut dari proses pengambilan keputusan dalam bentuk


arah dan kebijakan pembangunan dalam bentuk strategi, operasi, pola kerja, dan manajemen
sumber daya. Perencanaan menjadi acuan bagi para pemangku kepentingan untuk melaksanakan
sesuai dengan tugas dan fungsinya serta memberikan ruang bagi upaya melakukan percepatan dan
sinergisitas dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Perencanaan pembangunan Desa merupakan
bagian integral (kesinamabungan) dan holistic dari sistem perencanaan pembangunan Daerah
yang mengindikasikan arah kebijakan pemerintah pusat yang perlu dijabarkan lebih rinci dalam
arah kebijakan dan program di daerah sekaligus memperkuat kesinambungan dengan kebutuhanan
pengembangan masyarakat di tingkat lokal/Desa.
Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa dan peraturan
lainnya yang terkait dengan Peraturan Perencanaan Pembangunan Daerah dan Perencanaan
Pembangunan Desa mensyaratkan adanya sinkronisasi antara Perencanaan Pembangunan Daerah
dan Desa. Sumber-sumber keuangan desa yang dicatat sebagai sumber penerimaan Desa dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDEsa) dibelanjakan untuk pelaksanaan kewenangan
lokal berskala desa yang meliputi urusan Penyelenggaraan pemerintahan, Pembangunan Desa,
Kemasyarakatan dan Pemberdayaan Masyarakat. Sedangkan dalam rangka pembangunan urusan
pemerintah Kabupaten/Kota yang ada di Desa Pasal 43 ayat 1 Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 114 Tentang Pedoman Pembangunan Desa menyatakan bahwa “Pemerintah Desa dapat
mengusulkan prioritas program dan kegiatan pembangunan Desa dan pembangunan kawasan
perdesaan kepada Pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan/atau pemerintah daerah kabupaten/
kota”.
Beradasrkan mekanisme perencanaan pembangunan desa terdapat di tahapan kunci
yang dapat dilakukan untuk menyelaraskan perencanaan pembangunan daerah dan perencanaan
pembangunan desa yaitu :

1. Kegiatan Penyelarasan Arah Kebijakan Pembangunan Kabupaten/Kota Dalam Rangka


Penyusunan Dokumen RPJM Desa

Penyelarasan arah kebijakan dilakukan untuk mengintegrasikan program dan kegiatan


pembangunan Kabupaten/Kota dengan pembangunan Desa. Hal ini dilakukan dengan mengikuti
sosialisasi dan/atau harus mendapatkan informasi tentang arah kebijakan pembangunan kabupaten/
kota yang meliputi:
a. rencana pembangunan jangka menengah daerah kabupaten/kota;
b. rencana strategis satuan kerja perangkat daerah;

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
107
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
c. rencana umum tata ruang wilayah kabupaten/kota;
d. rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten/kota; dan
e. rencana pembangunan kawasan perdesaan.
Kegiatan penyelarasan, dilakukan dengan cara mendata dan memilah rencana program dan
kegiatan pembangunan Kabupaten/Kota yang akan masuk ke Desa.Rencana program dan kegiatan
pembangunan Kabupaten/kota, dikelompokkan menjadi bidang penyelenggaraan pemerintahan
Desa, pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat
Desa. Hasil pendataan dan pemilahan, dituangkan dalam format data rencana program dan kegiatan
pembangunan yang akan masuk ke Desa(lihat Lampiran– 1 FORM – 1).Data rencana program dan
kegiatan, menjadi lampiran hasil pengkajian keadaan Desa.

Apabila di tingkat Kabupaten/Kota belum dilaksanakan sosialisasi arah kebijakan


pembangunan daearah Kabupaten/Kota, maka tim penyusun RPJM Desa dapat melaksanakan
kegitan penyelarasan arah kebijakan pembangunan Kabupetan/Kota melalui rapat pencermatan
arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten/Kota. Pada proses rapat ini perlu dipastikan agar
tim penyusun RPJM Desa sudah memiliki dokumen perencanaan daerah

2. Rapat Pencermatan Pagu Indikatif Dalam Rangka Penyusunan Dokumen RKP Desa

Dalam rangka pelaksanaan penyusunan Dokumen Rencana Kerja Pemerintah Desa yang
merupakan rencana pembangunan tahunan desa sebagai penjabaran dari dokumen RPJM Desa,
maka tim oenyusun RKP Desa harus melakukan tahapan pencermatan Pagu Indikatif agar terjadi
sinkronisasi antara perencanaan tahunan Desa dengan perencanaan tahunan Kabupaten/Kota.
Dokumen yang dicermati meliputi :
1. Rencana Alokasi Dana Desa yang Berseumber dari APBN
2. Rencana Alokasi Dana Desa (ADD) yang merupakan bagian dari dana perimbangan

108 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

yang diterima Kabupaten/Kota


3. Rencana bagi hasil dari pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota
4. Rencana bantuan keuangan dari anggaran pendapatan dan belanja derah Provinsi
dan Anggaran Pendapatan belanja daerah Kabupaten/Kota.

Berdasarkan input informasi sebagaimana perencanaan alokasi anggaran yang akan


diterimna oleh Desa diatas maka tim penyusun RKPDesa melaksanakan langkah penyelarasan
dengan memperhatikan:
1. Rencana Kerja Pembangunan Kabupaten/Kota
2. Rencana program Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota yang akan masuk ke Desa.
3. Hasil penjaringan aspirasi masyarakat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten/Kota.

APB DESA

SEKALA DESA

Musdes RPJM RKP Musdes RKP


DESA DESA Desa

SEKALA M U SREN BAN G


SUPRA DESA KECAM ATAN

KUOTA
KABUPATEN

APBD KUA & PPA RKPD RENJA SKPD FORU M


PRO RAKYAT ( M U SREN BAN G ( TOTAL PAG U SKPD /G AB SKPD
KABU PATEN ) SKPD )

PAG U IN D IKATIF
SKPD
IMPLEMENTASI APBD (KU OTA KAB)
PRO RAKYAT

21

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
109
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PENJELASAN :
Pagu Indikatif Kecamatan adalah sejumlah patokan batas maksimal anggaran yang diberikan
kepada SKPD yang penentuan alokasi belanjanya ditentukan oleh mekanisme partisipatif melalui
Musrenbang Kecamatan dengan berdasarkan kepada kebutuhan dan prioritas program.
Hasil Kegiatan Pencermatan Pagu Indikatif dalam rangka penyusunan Dokumen RKP Desa
adalah :

Pagu Indikatif Kecamatan adalah sejumlah patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada
SKPD yang penentuan alokasi belanjanya ditentukan oleh mekanisme partisipatif melalui Musrenbang
Kecamatan dengan berdasarkan kepada kebutuhan dan prioritas program.

110 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PERENCANAAN YANG DEMOKRATIS PARTISIPATIF DALAM


PENYUSUNAN RPJMDESA dan RKPDESA

Sebagaimana diuraikan dalam gambar dibawah membangun Desa bukan hanya tanggung
jawab pemerintah desa dengan BPD melainkan juga melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Pembangunan di desa tidak hanya dilakukan kepala desa dan perangkat desa tetapi dilakukan juga
oleh lembaga kemasyarakatan dan kelompok sosial di desa. Misalnya pelaksanaan Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat, Penanganan Gizi Buruk, peningkatan kesehatan ibu hamil. Ibu menyusui bayi
dan balita tidak hanya dilakukan oleh kader Posyandu tetapi harus dilakukan juga oleh perangkat
desa. Begitupula dalam pembangunan sarana dan prasarana desa yang sudah dituangkan didalam
RKP Desa dan didukung pendanaannya oleh APB Desa misalnya pekerjaan jalan desa, jembatan dan
irigasi, maka pemerintah desa atas hasil musyawarah dapat membentuk kepanitiaan pembangunan
yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Desa.
Semua pihak harus dapat memastikan proses dan tahapan perencanaan pembangunan Desa
dilaksanakan secara partisipatif yaitu dengan memastikan semua komponen masyarakat mendapat
akses untuk hadir dan berperan aktif, serta seluruh pihak yang hadir didalam proses dan tahapan
perencanaan dapat menuangkan ide dan gagasan secara lugas agar dapat mengambil keputusan
secara mufakat sebagai wujud demokratisasi dan hadirnya kuasa kolektif antara masyarakat dan
pemerintahan Desa.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
111
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Berikut ini ringkasan hal-hal penting yang dibahas untuk masing-masing tahapan
musyawarah RPJM Desa:

112 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB
4 Pengembangan Desa

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
113
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 4.1.
Desa Mandiri

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta:
1. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip dan nilai (makna) “Desa
Membangun” sebagai visi desa mandiri.
2. Mampu menemukan dan mengenali aspek indikatif
kemandirian desa.
3. Mampu mengidentifikasi potensi kemandirian desa

Waktu
2 JPL (90 menit)

Metode
Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media
Lembar Tayang, Bahan Bacaan, Video

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, lakban, laptop, dan infocus

114 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Sampaikan pengantar untuk menjelaskan tujuan


dari sesi pembahasan sub pokok bahasan dengan
mengaitkan pada pokok pengertian visi UU Desa.

2. Aktifkan keterlibatan peserta dengan mengajak sharing


atau diskusi:
a. Apa pokok pengertian mandiri?
Fasilitasi
b. Apa pokok pengertian desa mandiri?
diskusi sampai
3. Rangkumlah jawaban-jawaban peserta dengan menemukan
menegaskan pokok-pokok pengertian mandiri dan unsur-unsur
desa mandiri.
pengertian
Mandiri = Otonom dari bahasa Yunani “mandiri”
autos (sendiri), nomos (hukum/aturan) dengan meminta
artinya pelaku utama atau subyek yang peserta mencari
mengandalkan kemampuan sendiri, percaya contoh-contoh.
diri.

Desa mandiri – desa


sebagai subyek Sebelum
yang mengurus dan mulai diskusi
mengatur diri sendiri. kelompok
mintalah
4. Lanjutkan dengan membagi jumlah peserta ke dalam kesediaan
kelompok kecil. Berikanlah pertanyaan-pertanyaan peserta untuk
sebagai bahan diskusi kelompok. mengingat
a. Apa artinya Desa Mandiri dalam kaitannya dengan kembali materi
visi UU Desa? visi UU Desa,
Pokok Bahasan 1
b. Apa syarat dan prinsip yang harus diperhatikan
dalam pengembangan desa mandiri?
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
115
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

c. Apakah setiap desa memiliki hak dan peluang untuk


mengembangkan diri menjadi desa mandiri?
d. Apa dasar hukum atau kebijakan pengembangan Jika waktu masih
desa mandiri? ada dan tersedia
e. Apakah aset atau modal utama yang dibutuhkan proyektor
untuk mengembangkan desa mandiri? (infokus)
f. Apa peran masyarakat desa dalam pengembangan
putarkan video
desa mandiri? sosialisasi UU
Desa untuk
5. Berikanlah kesempatan kepada setiap kelompok untuk
menyampaikan hasil diskusinya.
membantu
peserta
6. Mintalah peserta memberikan tanggapan atas hasil memahami
paparan kelompok.
gambaran desa
7. Akhiri sesi dengan merangkum jawaban peserta dalam mandiri.
kerangka visi UU Desa dan peraturan perundangan
yang lain.

116 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 4.2.
Pengembangan Wilayah Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta:
1. Mampu menjelaskan pengertian dasar tentang arti
pengembangan wilayah desa dan kawasan desa.
2. Mampu menjelaskan kebutuhan dan prosedur
pengembangan kerja sama antar desa.
3. Mampu mengenali kebutuhan dan potensi pengembangan
wilayah desa

Waktu
2 JPL (90 menit)

Metode
Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, lakban, laptop, dan infocus

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
117
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Mulailah sesi ini dengan mengingatkan kembali pokok-


pokok materi sebelumnya, kemudian kaitkan dengan
tujuan yang akan dicapai dalam sesi ini.
a. Ajaklah peserta untuk aktif dengan memulai diskusi.
Pertanyaan berikut bisa menjadi pemandu diskusi;
b. Apakah sumber daya (alam, ekonomi, sosial,
budaya) yang menjadi unggulan atau kekhasan
desa peserta?
c. Apakah sumber daya tersebut saat ini menckupi
kebutuhan masyarakat desa?

2. Bagaimana kalau suatu saat sumber daya desa


peserta (terutama alam, ekonomi) tidak mencukupi
kebutuhan masyarakat desa?

3. Rangkumlah hasil diskusi dengan memeberikan


kerangka pemahaman tentang keseimbangan antara
kebutuhan masyarakat desa dengan keterbatasan
sumber daya alam yang memungkinkan desa perlu
kerja sama dengan desa lain.

4. Bagilah jumlah peserta ke dalam keloimpok kecil untuk


mendiskusikan toik sekitar pengembangan wilayah
desa atau kerja sama antar desa.
a. Apakah setiap setiap desa mempunyai hak dan
peluang untuk bekerja sama dengan desa lain?
b. Mengapa suatu desa butuh kerja sama dengan
desa lain?
c. Apa syarat-syarat yang diperlukan untuk
membangun kerja sama antar desa?
d. Bagaimana memadukan kebutuhan kerja sama
antar desa dengan rencana pembangunan wilayah
desa?
118 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

e. Siapa yang berperan menentukan rencana


pengembangan wilayah desa atau kerja sama antar
desa?

5. Ajak peserta kembali ke pleno. Berikan kesempatan Fasilitator bisa


setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. juga menyiapkan
Fasilitasi peserta lain untuk aktif menanggapi.
materi untuk
6. Rangkum hasil diskusi kelompok peserta dengan kegiatan kreatif.
memberikan kerangka pemahaman tentang pokok-pokok
penting terkait pengembangan wilayah desa.

7. Tutuplah sesi dengan aktivitas kreatif, bisa meminita


kesediaan peserta yang memiliki bakat atau hobi untuk
memimpin kegiatan kreatif.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
119
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN
BACAAN

120 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

MENCAPAI DESA MANDIRI


DALAM KERANGKA UU DESA
Lendy W. Wibowo

I. Pendahuluan

Desa sebagai Kesatuan Masyarakat Hukum

Desa Mandiri berarti Desa mempunyai kekuatan secara ekonomi, budaya dan sosial melalui
pembangunan dan pemberdayaan masyarakat secara berkesinambungan. Meski tidak mu-
dah, hal ini merupakan amanat UU Desa dalam rangka memperkuat Desa. Oleh karena itu
isu memperkuat Desa diharapkan juga mendapat dukungan luas masyarakat Desa sendiri.
Hal ini penting, bahwa persoalan Desatidak boleh menjadi konsumsi kalangan elit (politisi,
akademisi, pelaku elit program) saja. Isu dan agenda Desa mandiri mesti mencerminkan
kepentingan paling aktual dari masyarakat Desa sendiri. Isudan agenda didaratkan pada
ingatan dan problematika keseharian rakyat Desa.Persoalan kebutuhan dasar masyarakat
Desa menyangkut soal pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan serta terban-
gunnya iklim usaha ekonomi masyarakat yang sehat dan berkembang.

Negara (Pemerintah) telah menetapkan kewenangan dan urusan yang ditangani oleh Desa
demikian juga dengan dukungan anggaran Dana Desa yang bersumber dari APBN. Di samp-
ing itu UU NO 6 tahun 2014 tentang Desa menekankan pentingnya kemandirian Desa, pena-
taan perencanaan pembangunan Desa, peningkatan kapasitas Kepala Desa dan perangkat
Desa, serta peningkatan sumber-sumber keuangan Desa.

Pengaturan Desa dihadapkan pada realitas Desa baik yang bersifat potensi maupun permas-
alahan Desa yang bersifat strategis. Realitas Desa yang bersifat strategis diantaranya adalah
alternatif lapangan kerja di Desa, akses terhadap sumber-sumber permodalan-produksi-pas-
ar termasuk bagaimana mendayagunakan aset Desa menjadi modal ekonomi produktif yang
bisa dikerjakan dan dinikmati oleh rakyat banyak di Desa, serta ketersediaan serta akses
terhadap sarana dan prasarana sosial dasar. Model pendekatan konsolidasi perencanaan
dan penganggaran Desa menentukan pemecahan kongkrit dari aspek strategis Desa ini.
Persoalan Desa tidak boleh hanya disikapi pada kebutuhan layanan administratif, karena ide
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
121
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
dan gagasan yang dibangun tentang Desa jauh lebih besar.

Pandangan di atas tentu terkait dengan perspektif kedudukan Desa. Dualitas Desa (Defini-
si Desa menurut UU Desa) sebagai unit pemerintahan dan sebagai kesatuan masyarakat
menampilkan tanda format otonomi Desa akan seperti apa. Peraturan perundangan menem-
patkan Desa menjalankan fungsi administrasi pemerintahan sekaligus kesatuan masyarakat.
Dualitas Desa dalam kesatuan ini menempatkan kedudukan Desa bersifat unik.

Kedudukan Desa terkait dengan peran, kapasitas dan dukungan kebijakan. Posisi dan
kedudukan Desa terhadap masyarakat bersifat pemenuhan kewajiban dan tangung jawab,
sedangkan terhadap negara bersifat hak-hak yang seharusnya diterima. Tafsir atas otonomi
Desa menjadi penentu perlakuan negara terhadap Desa. Otonomi Desa yang bersifat oto-
nomi (asli) seharusnya ditafsir bukan sebagai hilangnya kewajiban dan tanggung jawab neg-
ara kepada Desa. Hal ini menjadi karakter (penjiwaan) UU No 6 Tahun 2014.

Desa sebagai kesatuan masyarakat diakui dan dihormati dalam bentuk, hak serta kewenan-
gan asal usul, seperti Nagari di Sumatera Barat, Lembang di Tana Toraja, Kuwu di Cirobon,
Desa Pakereman di Bali dan Kampung di Papua serta lain-lain tempat. Pengakuan Negara
tersebut diwujudkan dalam bentuk hak asal usul Desa dan dalam bentuk kewenangan Desa
sebagai kewenangan berdasarkan asal usul. Selain itu Desa diberikan kewenangan oleh
negara dalam bentuk Kewenangan Desa berskala lokal. Dua kewenangan ini menegaskan
pengakuan negara terhadap Desa sebagai bentuk, pranata yang masih berjalan (rekognisi)
dan pengakuan negara terhadap kapasitas Desa dalam mengelola urusan-urusan pemer-
intahan, pembinaan kemasyarakatan, pembangunan dan pemberdayaan Desa (subsidiari).
Sumber kewenangan Desa menjadi kunci, dalam kadar dan derajad otonomi serta Desa
dalam layanan administratif seharusnya menjadi pemicu tafsir dan tindakan dinamis Desa.

Kecenderungan komunitas Desa yg makin terbuka membawa Desa pada pilihan konsensus
baru pada tingkat lokal sebagai pilihan dan keputusan partisipatif yang layak dihargai. Setiap
pilihan membawa konsekuensi pada kewenangan dan anggaran Desa tetapi yang lebih pent-
ing, negara telah membangun relasi yang dewasa dengan Desa, otonomi yang direncanakan
dengan matang termasuk dalam hal memperlakukan Desa.

II. Konsep Desa Mandiri dalam Kerangka Visi UU Desa

Pembangunan dan Pemberdayaan sebagai JalanUtamaMenuju Desa Mandiri

Dalam konteks Desa, diskursus menarik tentang kemandirian Desa adalah tentang relasi
pembangunan dengan pemberdayaan Desa. Kenapa hal ini menarik, dikarenakan bahwa
pembangunan sebagai alat atau sarana mensejahterakan rakyat di Desa tidak lagi dianggap
sebagai pendekatan tunggal, yang berdiri sendiri. Pembangunan dalam konteks Desa mem-
butuhkan pendekatan pemberdayaan, sebagai jalan utama menuju kemandirian. UU No-
mor 6 tahun 2014 tentang Desa semakin mendorong berkembangnya pandangan baru yang
meyakini bahwa pembangunan dan pemberdayaan Desa adalah dualitas dalam ketunggalan
dalam pembangunan Desa.

122 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Pembangunan dan pemberdayaan Desa tidak hanya sekedar mengkaitkan hubungan pokok
antara negara dengan kapital dalam konstruksi teknokrasi, akan tetapi juga menempatkan
rakyat dalam keterlibatan aktif selama proses pembangunan Desa.Masyarakat sebagai sub-
yek pembangunan, dan tidak menjadi obyek pembangunan semata-mata. Negara mereposi-
si kedudukan sebagai regulator dan fasilitator pembangunan dan kapitalisasi pembangunan
berfungsi sebagai alat dan sarana bagi peningkatan kualitas kesejahteraan masyarakat (kon-
sep redistribusi).

III. Issu Strategis Menuju Desa Mandiri

Lumbung Ekonomi Desa, Lingkar Budaya Desa, Jaring Wira Desa

Mewujudkan Desa yang mempunyai kekuatan secara ekonomi, budaya dan sosial melalui
pendekatan pembangunan dan pemberdayaan Desa merupakan gambaran mengenai Desa
Mandiri. Muatan strategis UU Desa menuju Desa mandiri bertumpu pada tigadaya yakni
berkembangnya kegiatan ekonomi Desa dan antar Desa, makin kuatnya sistempartisipatif
Desa, serta terbangunnya masyarakat di Desa yang kuat secara ekonomi dan sosial-budaya
serta punya kepedulian tinggi terhadap pembangunan serta pemberdayaan Desa.

Tigadaya tersebut selaras dengan Konsep yang disampaikan Prof. Ahmad Erani Yustika se-
laku Dirjen PPMD Kemendes PDTT pada beberapa kesempatan, bahwa membangun Desa
dalam konteks UU No 6 Tahun 2014 setidaknya mencakup upaya-upaya untuk mengem-
bangkan keberdayaan dan pembangunan masyarakat Desa di bidang ekonomi, sosial dan
kebudayaan. Konsep tersebut dikenal dengan istilah “Lumbung Ekonomi Desa, Lingkar
Budaya Desa, dan Jaring Wira Desa”.

Lumbung Ekonomi Desa tidak cukup hanya menyediakan basis dukungan finansial terha-
dap rakyat miskin, tetapi juga mendorong usaha ekonomi Desa dalam arti luas. Penciptaan
kegiatan-kegiatan yang membuka akses produksi, distribusi, dan pasar (access to finance,
access to production, access to distribution and access to market) bagi rakyat Desa dalam
pengelolaan kolektif dan individu mesti berkembang dan berlanjut.

Pembangunan dan pemberdayaan Desa diharapkan mampu melahirkan pertumbuhan


ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah
konsep mengenai perkuatan dan kontribusi yang disumbangkan oleh sektor ekonomi riil,
tidak hanya dari pasar uang dan pasar saham. Sektor ekonomi riil yang tumbuh dan berkem-
bang dari bawah karena dukungan ekonomi rakyat di Desa.

Pertumbuhan ekonomi dari bawah bertumpu pada 2 hal pokok yakni memberikan kesem-
patan seluas-luasnya kepada pelaku ekonomi lokal untuk memanfaatkan sumberdaya milik
lokal dalam rangka kesejahteraan bersama dan memperbanyak pelaku ekonomi untuk men-
gurangi faktor produksi yang tidak terpakai.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
123
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Dua hal di atas dapat dicapai jika ada intervensi Pemerintah pada pasar lokal, karena pasar
tidak bisa membentuk bahkan menstimulasi kesempatan dan pelaku dalam keadaan keti-
dakseimbangan modal, informasi, dan akses lain yang dimiliki para pelaku. Kurang adanya
intervensi yang pantas dari pemerintah dalam daya ekonomi bawah ini telah menyebabkan
permasalahan antara lain kegagalan pasar, terjadinya monopoli, misalokasi sumberdaya,
dan adanya sumberdaya yang tidak terpakai.

Pemberian kesempatan yang seluas-luasnya tidak cukup hanya melalui treatment membuka
akses permodalan, akan tetapi juga akses produksi, akses distribusi dan akses pasar. Ak-
ses permodalan dibuka dan dikembangkan melalui pemberian kredit yang terjangkau dan
fleksible, akses produksi dikembangkan melalui dorongan dan dukungan sektor industri lokal
yang berbasis sumberdaya lokal, dan akses pasar dikembangkan melalui regulasi dan kebi-
jakan yang memastikan terbentuk dan berkembangnya kondisi yang optimum dari perekono-
mian di perdesaan.

Pertumbuhan ekonomi dari bawah menitikberatkan pada tumbuh dan berkembangnya sektor
usaha dan industri lokal, yang mempunyai basis produksi bertumpu pada sumberdaya lokal.
Bentuk-bentuk usaha yang telah berkembang seperti kerajian, pertanian, perikanan, perke-
bunan, peternakan, industri kecil, makanan olahan sehat, adalah sektor ekonomi strategis
yang harusnya digarap Desa dan Kerjasama Desa.

Lumbung Ekonomi Desa juga harus mengembangkan sektor usaha dan produksi rakyat yang
mendeskripsikan kepemilikan kolektif lebih konkrit. Bentuk-bentuk yang telah dinaungi pera-
turan perundangan semacam BKAD, BUMDes, Koperasi, maupun badan usaha milik mas-
yarakat lain perlu diprioritaskan. Pilihan-pilihan usaha berbasis kegiatan yang telah dibentuk
dan dikembangkan masyarakat Desa misalnya listrik desa, desa mandiri energi, pasar desa,
air bersih, usaha bersama melalui UEP, lembaga simpan pinjam juga merupakan prioritas
kegiatan dalam rangka pengembangan Lumbung Ekonomi Desa.

Jaring Wira Desaadalah upaya menumbuhkan kapasitas manusia Desa yang mencerminkan
sosok manusia Desa yang cerdas, berkarakter dan mandiri.Jaring wira Desa menempatkan
manusia sebagai aktor utama sekaligus mampu menggerakkan dinamika sosial ekonomi
serta kebudayaan di Desa dengan kesadaran, pengetahuan serta ketrampilan sehingga
Desa juga melestarikan keteladanan sebagai soko guru kearifan lokal.

Lingkar Budaya Desa mengangkat kembali nilai-nilai kolektif desa dan budaya bangsa men-
genai musyawarah mufakat dan gotong royong serta nilai-nilai manusia (desa) Indonesia
yang tekun, bekerja keras, sederhana, serta punya daya tahan. Selain itu lingkar budaya
Desa bertumpu pada bentuk dan pola komunalisme, kearifan lokal, keswadayaan sosial,
kelestarian lingkungan, serta ketahanan dan kedaulatan lokal, hal ini mencerminkan kolekti-
vitas masyarakat di Desa.

124 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

IV. Pengembangan Aset Desa sebagai Prioritas Issu Desa Mandiri

Kepentingan kolektif Desa dan antar Desa yang paling utama adalah bagaimana mem-
perkuat aset Desa. Persoalan aset Desa menjadi penentu mencapai kesejahteraan dan ke-
makmuran. Aset selain berhubungan dengan kepemilikan sehingga menentukan posisi tawar
Desa ketika berhubungan dengan pasar, juga berkaitan dengan konsolidasi serta distribusi
kekayaan Desa. Dua faktor inilah yang paling menentukan untuk mengukur tingkat otonomi
dan kemandirian Desa.

Dalam konteks aset publik maka isu strategis bagi Desa adalah mengenai manajemen aset-
aset Desa. Aset Desa membicarakan kepentingan mengenai upaya-upaya inventarisasi,
pengembangan serta pendistribusiannya kembali. Benturan kepentingan menjadi fakta yang
tidak bisa dihindari ketika Desa memperkuat diri, apalagi pada saat masuk wilayah yang
paling sensitif mengenai inventarisasi dan manajemen aset. Benturan yang mungkin terjadi
ketika Desa dengan perspektif kemandirian bertemu dengan kebijakan daerah yang men-
curigai semangat penguatan Desa. Potensi konflik ini diharapkan dapat dijembatani secara
bertahap melalui peran mediasi kepentingan antar Desa.

Tentu banyak pihak mengetahui perubahan status kepemilikan aset Desa. Banyak aset Desa
yang telah berpindah tangan baik untuk kepentingan publik maupun untuk kepentingan pri-
vat. Banyak perubahan status itu dilakukan tidak sesuai dengan aturan yang ada. Pelangga-
ran aturan itu terjadi dilakukan melalui tekanan politik, keuntungan ekonomi, maupun bentuk
lain. Perubahan status tanah Desa menjadi milik daerah, swasta perorangan dan swasta
korporasi makin sering dijumpai saat kita menggali hal itu ke Desa-Desa. Desa berada pada
posisi lemah dalam relasi transaksi tentang aset yang mereka miliki. Inventarisasi aset Desa
merupakan langkah pertama menyelamatkan aset Desa.

Selanjutnya terkait bagaimana aset Desa dikembangkan. Aset Desa adalah barang milik
Desa yang berasal dari kekayaan asli Desa, dibeli atau diperoleh atas beban APBDes atau
perolehan hak lain yang sah. Dalam upaya mengembangkan aset Desa, sebenarnya Desa
dapat melakukan penyertaan modal berupa pengalihan kekayaan yang tidak dipisahkan
menjadi kekayaan yang dipisahkan untuk diperhitungkan sebagai modal atau saham Desa
pada Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), atau Badan
Hukum lain yang dimiliki bersama oleh Desa atau Daerah. Terbuka peluang mengkaji ben-
tuk-bentuk penyertaan modal Desa yang paling tepat sesuai dengan kondisi Desa-Desa
yang ada.

Selain penyertaan modal, bentuk lain yang dapat dilakukan adalah pendayagunaan kekayaan
Desa yang tidak dimanfaatkan melalui bentuk sewa, pinjam pakai, kerjasama pemanfaatan,
bangun serah guna, bangun guna serah dengan tidak mengubah status kekayaan Desa.
Sewa adalah pemanfaatan kekayaan Desa oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu un-
tuk menerima imbalan uang tunai. Pinjam pakai adalah penyerahan penggunaan kekayaan
Desa antar Pemerintah Desa dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima imbalan dan
setelah jangka waktu tersebut berakhir harus diserahkan kembali kepada Pemerintah Desa

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
125
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
yang bersangkutan. Kerjasama pemanfaatan adalah pendayagunaan kekayaan Desa oleh
pihak lain dalam jangka waktu tertentu dalam rangka peningkatan penerimaan Desa bukan
pajak dan sumber pembiayaan lainnya. Bangun guna serah adalah pemanfaatan kekayaan
Desa berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan bangunan dan/atau sarana beri-
kut fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu ter-
tentu yang telah disepakati untuk selanjutnya diserahkan kembali tanah beserta bangunan
dan/atau sarana berikut fasilitasnya setelah berakhirnya jangka waktu. Bangun serah guna
adalah pemanfaatan kekayaan Desa berupa tanah oleh pihak lain dengan cara mendirikan
bangunan dan/atau sarana berikut fasilitasnya, dan setelah selesai pembangunannya dis-
erahkan untuk didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam jangka waktu tertentu yang
disepakati.

Terkait distribusi hasil pengembangan aset Desa, dalam perspektif politik menjadi penanda
nilai strategis aset Desa. Aset Desa sebagai aset milik masyarakat, tidak hanya sekedar pen-
gakuan dengan pendasaran legal, atau besaran hasil pengembangan dalam ukuran nominal
ekonomi, akan tetapi sejauh mana manfaatnya bisa dinikmati oleh masyarakat.

Distribusi menyangkut pemanfaatan hasil-hasil pengelolaan aset. Aset Desa tidak lagi ber-
makna aset diam dan pasif. Dalam terminologi ekonomi politik, bagaimana mengubah aset
menjadi modal diletakkan dalam kerangka kepemilikan dan pemanfaatan oleh rakyat Desa.

V. Desa Mandiri dalam Relasi Kerjasama Desa

UU Desa memberikan kelegaan banyak pihak. Sebelum itu, terjadi kebuntuan dalam proses
pembahasan yang diakibatkan belum jelas pengaturan relasi Desa-Pusat dan Desa-Daerah.
Lebih-lebih relasi itu terkait dengan kewenangan, anggaran dan aset. Bagi daerah, pengua-
tan Desa tidak boleh menampilkan Desa yang memalingkan muka dari wajah daerah. Bagi
pusat, penguatan Desa tidak bisa dilakukan jika justru hal itu berarti seperti membesarkan
anak macan. Di tengah kerumitan itu terdapat jalan tengah yang bisa ditawarkan, yakni mem-
perkuat perspektif kewilayahan. Desa dipandang sebagai suatu kawasan/perdesaan. Cara
pandang kawasan bisa mempengaruhi psikologi otonom yang mementingkan diri sendiri
menjadi otonom yang membangun semangat kerjasama.

Peran strategis Desa dapat dilakukan ketika Desa telah memiliki kapasitas yang cukup keti-
ka berhubungan dengan kepentingan luar.Desa yang telah berada pada level bekerjasama
dengan Desa lain atau pihak ketiga lain berarti telah mampu mengelola potensi dan kekuatan
yang dimiliki untuk berkembang. Desa-Desa inilah yang mendekati gambaran tentang Desa
mandiri atau Desa yang berdaulat. Jika kesadaran tidak tumbuh dalam relasi kerjasama yang
dilakukan seperti digambarkan di atas, sulit dihindari anggapan bahwa kerjasama itu bersifat
semu.

Isu strategis penguatan Desa yang dimediasikan dalam skala dan cakupan antar Desa dian-
taranya menyangkut isu pengembangan Aset bersama Desa-Desa dan komitmen pengaloka-
sian anggaran untuk Desa, serta kebijakan tentang pengembangan pasar yang mendorong
tumbuhnya sektor dan kawasan ekonomi perdesaan. Ketika UU Desa disahkan, maka ker-

126 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
jasama Desa menjadi agenda strategis sekaligus menempatkan badan yang mengelola ker-
jasama tersebut (BKAD) menjadi aktor penting dalam urusan/kepentingan penguatan Desa
sebagai kawasan.

BKAD adalah organisasi kerja yang diharapkan mampu mendorong kerjasama Desa berkem-
bang. Ada beberapa alasan tentang hal ini, yakni bahwa BKAD mempunyai lingkup wilayah
antar Desa, berperan sebagai lembaga dalam mengelola perencanaan pembangunan par-
tisipatif, menumbuhkan usaha-usaha pengelolaan aset bersama Desa-Desa secara produk-
tif, serta pengelolaan program-program pengembangan masyarakat Desa yang bersifat ka-
wasan.

Pemikiran untuk menjaga keberlanjutan status dan fungsi Kerjasama Desa didasarkan pada
dua peluang. Peluang pertama dari aspek keberlanjutan kelembagaan dan peluang kedua
berasal dari potensi kegiatan yang dikerjasamakan. Keberlanjutan kelembagaan dipengaruhi
di antaranya oleh ketersediaan perangkat peraturan yang relevan.

VI. Kesimpulan

Desa yang mempunyai kekuatan secara ekonomi, budaya dan sosial yang diwujudkan
melalui pembangunan dan pemberdayaan masyarakat adalah Desa Mandiri. Dirjen PPMD
Kemendes memperkenalkannya sebagai konsep Lumbung Ekonomi Desa, Lingkar Budaya
Desa, Jaring Wira Desa. Kemandirian Desa yang bertumpu pada pengelolaan Aset Desa
dan pengembangan kawasan perdesaan.

Dasar kebijakan atau dasar hukum pengembangan Desa mandiri adalah UU No 6 tahun
2014 tentang Desa, yang menyebutkan bahwa Desa telah berkembang dalam berbagai
bentuk sehingga perlu dilindungi dan diberdayakan agar menjadi kuat, maju, mandiri, dan
demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan pemer-
intahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Selain
itu azas (rekognisi dan subsidiari) dan kewenangan desa (asal usul dan kewenangan desa
berskala lokal) merupakan dasar kebijakan Desa Mandiri.

Syarat dan prinsip utama membangun Desa mandiri adalah pendayagunaan sumberdaya
Desa, penataan dan pengembangan asset Desa, pemberdayaan masyarakat berkesinam-
bungan, partisipasi aktif masyarakat dan kelembagaan masyarakat, tersedianya anggaran/
dana Desa untuk mengelola kegiatan pembangunan dan pemberdayaan, serta pendampin-
gan Desa dan kerjasama antar Desa maupun pihak lain.

Modal atau aset utama yang dibutuhkan untuk membangun Desa mandiri yaitu; sumberdaya
dan dana, pasar (daya beli dan daya jual), tenaga kerja ( ketersediaan dalam jumlah dan
tingkat ketrampilan), penanaman modal skala Desa dan kawasan, kemampuan Pemerin-
tahan Lokal (kualitas SDM, akses , ketersediaan regulasi), sarana dan prasarana (terutama
transportasi dan komunikasi), teknologi.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
127
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

VII. Kerangka Strategi Pelaksanaan Mewujudkan Desa Mandiri

Masyarakat bersama Pemerintah Desa bersama-sama mengidentifikasi kebutuhan pemban-


gunan, membuat perencanaan, melaksanakan serta mengawasi dan mengevaluasi pemba-
ngunan dalam rangka terwujudnya Desa mandiri.

Perubahan Desa sebagai akibat dinamika pembangunan dan pemberdayaan Desa memu-
nculkan kebutuhan pada tiga daya yakni kegiatan investasi ekonomi Desa dan antar Desa,
kekokohan sistem partisipatif Desa, serta terbangunnya masyarakat di Desa yang kuat se-
cara ekonomi dan sosial-budaya serta punya kepedulian tinggi terhadap pembangunan ser-
ta pemberdayaan Desa. Format pendampingan Desa perlu disesuaikan dan direkonstruksi
agar sesuai dengan Perubahan Desa tersebut. Pendampingan Desa perlu memperhatikan
perubahan lingkungan strategis Desa serta perubahan sikap para aktor dalam relasi so-
sial-ekonomi-budaya Desa. Perubahan ekonomi politik Desa mencerminkan kondisi dinamis
yang perlu diperhatikan seiring perubahan cara pandang mengenai norma dan praktek so-
sial budaya Desa selama ini.

Langkah strategis membangun Desa Mandiri diantaranya; Mendorong masyarakat desa terli-
bat aktif dalam perumusan kebijakan pembangunan desa; Membangun sistem perencanaan
dan penganggaran desa yang responsif, partisipatif, akuntabel, dan transparan; Membangun
kelembagaan ekonomi Desa yang mandiri dan produktif berbasis sumberdaya/potensi Desa;
Mengembangkan sistem pengembangan aset Desa yang makin produktif serta bermanfaat
bagi masyarakat; Menumbuhkembangkan budaya dan nilai-nilai sosial Desa seperti kegot-
ong royongan, kerelawanan, kesetiakawanan, keswadayaan masyarakat; Mengembangkan
kerjasama Desa dalam rangka mendayagunakan sumberdaya/potensi yang ada; Memban-
gun sistem informasi Desa sebagai wujud keterbukaan informasi pembangunan termasuk
informasi tentang komoditas dan pasar, peluang usaha dsb.

128 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PENGEMBANGAN
WILAYAH DESA

Yuni Pranoto

I. Pendahuluan

Diundangkannya UU No.6/2014 dan perangkat peraturan turunan atau yang terkait memberikan
ruang yang besar bagi Desa dalam menentukan pilihan-pilihan kebijakan dan kegiatan dengan
muara akhir peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa.

Dengan semangat dari Desa membangun Indonesia atau membangun Indonesia dari pinggiran
maka seharusnya Desa menjadi lebih hiruk pikuk dengan kegiatan pembangunan.

Pilihan kebijakan dan kegiatan pembangunan di Desa bisa terbatas pada lingkup Desa bersangkutan
itu sendiri maupun diarahkan berupa kegiatan kerjasama dengan Desa lainnya. Perwujudan Desa
mandiri dengan segala pertimbangannya dalam pengertian membebaskan Desa dari ketergantungan
pemenuhan kebutuhannya dari Desa lainnya, bisa dilaksanakan di dalam lingkup Desa itu sendiri.
Pada pilihan lain, baik karena pertimbangan keterkaitan maupun ketergantungan dengan Desa
lain, kerjasama antar Desa menjadi pilihan strategis. Pilihan manapun yang akan diambil, semua
didasarkan pada perlunya mendapatkan hasil yang optimal dari kegiatan pembangunan dengan
pemanfaatan potensi-potensi Desa.

UU No.6/2014, Permendagri No. 114/2014 maupun Permendesa No. 5/2015 menegaskan pemberian
hak kepada masyarakat Desa untuk terlibat aktif sejak perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan
pemeliharaan hasil-hasil pembangunan di Desa.

Pilihan untuk bekerjasama dengan Desa lain juga harus diputuskan bersama masyarakat Desa

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
129
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

bahkan perlu didorong prakarsanya timbul dari masyarakat Desa sendiri (prakarsa dari bawah ke
atas ketimbang dari atas ke bawah).Di sini peran fasilitasi dan pendampingan menjadi posisi yang
penting dan strategis.

II. Pengembangan Wilayah Melalui Kerjasama Desa

Kepentingan strategis adanya kerjasama antar Desa bukan saja untuk keperluan tercapainya
peningkatan kesejahteraan jangka pendek tetapi juga perlu diarahkan untuk keperluan jangka
menengah dan jangka panjang.

Hal yang mendasarinya adalah agar kerjasama antar Desa tidak gagal di tengah jalan namun dari
waktu ke waktu semakin mendatangkan manfaat antar Desa, disamping sebagai langkah antisipatif
terhadap adanya kebijakan kawasan atau daerah sehingga tidak perlu terjadi adanya tambal sulam
hasil kerjasama.

Pengembangan antar desa sebagai kesatuan wilayah dapat dilakukan dengan mendasarkan
beberapa isu strategis antara lain :

1. Adanya kesamaan kebutuhan untuk pelayanan publik antar Desa, misalnya jaringan air
bersih, jaringan irigasi dalam kewenangan Desa, sarana prasarana dasar dsb.

2. Pengendalian bersama dalam pengelolaan tata ruang ( DAS, hutan lindung, situs-situs
purbakala)

3. Kebutuhan bersama dalam pengembangan ekonomi lokal untuk pengurangan angka


kemiskinan /peningkatan pendapatan dan kesenjangan antar Desa (perbedaan tingkat
pendapatan, kemampuan produksi dan pemasaran, dsb).

Selain alasan-alasan berdasarkan isu-isu strategis, kerjasama antar Desa bisa dilatarbelakangi oleh
hal-hal sbb :

1. Agar dicapai perpaduan dalam peningkatan potensi masing-masing Desa

2. Dicapainya alih ketrampilan dan kepandaian demi kemajuan bersama

3. Untuk menjadi lebih berdaya dalam memperjuangkan kepentingan bersama

4. Mencegah atau memperkecil kemungkinan konflik antar Desa

5. Sama-sama memperoleh akses informasi untuk keadilan bersama

130 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

III. Skema Kerjasama Antar Desa Yang Adil dan Saling Menguntungkan

Suatu kerjasama tentu diharapkan mendatangkan manfaat sesuai kebutuhan para pihak dan dalam
proses pencapaiannya tidak menimbulkan masalah-masalah yang diakibatkan oleh pengingkaran
kesepakatan atau bahkan adanya iktikad buruk yang merugikan salah satu pihak. Untuk itu kerjasama
perlu didasari oleh prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Efisien : adanya biaya-biaya yang bisa ditekan setelah dilakukannya kerjasama

2. Efektif : kerjasama mendatangkan daya guna lebih besar

3. Keterpaduan dan keselarasan : adanya penggabungan daya kerja yang terarah untuk
manfaat yang lebih besar

4. Saling menguntungkan : manfaat yang dinikmati satu pihak tidak menjadi kerugian bagi
pihak lain

5. Sepakat : masing-masing setuju atas isi kerjasama dan bertekad melaksanakan isi perjanjian
tanpa paksaan.

6. Iktikad baik : tidak ada niat terbuka maupun tersembunyi yang bisa mendatangkan kerugian
pihak lain.

7. Kepentingan bersama diutamakan : tidak berkeras hati menonjolkan kepentingan sendiri,


apalagi yang merugikan pihak lain.

8. Persamaan kedudukan :

• Kerjasama diadakan demi kepentingan bersama dan lebih luas dari sekedar kepentingan
masing-masing.

• Adanya rasa saling membutuhkan, saling percaya, saling memahami dan saling
menghargai

• Adanya keterikatan yang sama terhadap isi perjanjian yang telah disepakati

• Masing-masing pihak taat dan tertib dalam pelaksanaan isi perjanjian kerjasama

Sebelum mengikatkan diri pada kerjasama yang diperjanjikan, masing-masing pihak perlu
melakukan telaah ke dalam tentang jenis dan lingkup yang akan diperjanjikan, sumberdaya yang
dimiliki dan diharapkan dari pihak lain, aturan serta kesepakatan yang bisa diterapkan (tidak muluk-

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
131
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
muluk), cara-cara dan periode penilaian dan peninjauan kembali isi perjanjian serta kemungkinan
jalan keluar apabila dialami kebuntuan kerjasama.

Kerjasama antar Desa secara normatif telah diatur di dalam Bab IX PP No. 43/ 2014.

IV. Strategi Kerjasama Antar Desa

IV.1. Strategi Pembentukan Kerjasama

a) Melakukan kajian kebutuhan

Sebelum dilakukan kerjasama perlu dilakukan kajian-kajian sedemikian rupa


sampai pada keputusan perlu atau tidaknya dilakukan kerjasama.

Kajian perlu diarahkan pada analisis apakah hal-hal yang akan dikerjasamakan
memiliki keterkaitan, kerjasama menimbulkan daya ungkit manfaat, masa
kerjasama bisa permanen, dll.

b) Memilih Ukuran dan Bentuk Kerjasama

Perlu ditetapkan bentuk kerjasama yang akan dilakukan, apakah berupa


kerjasama pendanaan saja, kerjasama pengelolaan dan bentuk lainnya serta
ukuran-ukuran yang dikerjasamakan (luasan, panjang atau batasan biaya)

c) Menetapkan Kriteria-kriteria Kerjasama

Setelah memilih ukuran dan bentuk kerjasama, berikutnya adalah menetapkan


kriteria, misalnya kerjasama dalam pengelolaan berbentuk usaha bersama

IV.2. Strategi Pengelolaan Kerjasama

a) Kemauan dan Kepemimpinan

Kerjasama harus dijalankan dengan kemauan yang teguh antar unsur


terutama masayarakat Desa serta dikawal dengan kepemimpinan yang kuat.

b) Pendanaan Kerjasama

Porsi pendanaan untuk keperluan kerjasama harus jelas dan pemenuhannya


harus dikendalikan agar masing-masing taat pada hak dan kewajibannya.

c) Pendidikan Publik/ Komunikasi

132 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Pengelolaan atau pelaksanaan kerjasama perlu dikomunikasikan secara
teratur untuk memperoleh dukungan secara terus menerus dari masyarakat.

d) Kepatuhan dan Penegakan Hukum

Perlu diatur adanya sanksi apabila ada pihak yang tidak patuh pada
kesepakatan kerjasama. Penyelesaian melalui jalur hukum menjadi pilihan
terakhir ketika penyelesaian non hukum mengalami kebuntuan.

e) Pemantauan Pelaksanaan

Kerjasama harus selalu dipantau oleh tim khusus dan terbuka bagi masyarakat
Desa serta dilakukan pengaturan tentang tatacara penyampaian koreksi, kritik
atau pengaduan atas pelaksanaan kerjasama tersebut.Hasil pemantauan
digunakan sebagai bahan utama evaluasi berkala (triwulan/semester/
tahunan).

V. Pemetaan Berdasarkan Potensi Antar Desa

Potensi adalah daya, kekuatan, kesanggupan dan kemampuan yang dimiliki Desa dan berkemungkinan
untuk dikembangkan.

Potensi Desa terdiri atas :

• Fisik : tanah (untuk pertanian,perkebunan, tambang dsb), air (untuk air bersih, pengairan
pertanian, pembangkit listrik dsb), iklim, cuaca (kesejukan udara, potensi angin untuk
kincir angin dsb), dunia tumbuhan dan hewan dsb.

• Non Fisik : masyarakat (ketrampilan, semangat kerja, daya beli dsb), kelembagaan dan
kelompok masyarakat, aparat desa ( SDM, sistem kerja, perangkat aturan dsb).

Dalam rangka kerjasama Desa, setelah dilakukan langkah awal penyepakatan akan dilaksanakannya
suatu kerjasama maka perlu dilakukan pemetaan potensi.

Untuk melakukan pemetaan maka diperlukan pendataan potensi yang dilakukan oleh para pelaku
kepentingan di desa-desa yang akan melkukan kerjasama dengan melibatkan secara aktif peran
serta masyarakat setempat agar supaya ikut memiliki bahkan sampai dengan pemeliharaan ketika
potensi yang dipetakan tersebut dikembangkan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
133
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Langkah-langkah pelaksanaan dilakukan antara lain sebagai berikut :

• Sosialisasi melalui MAD terbatas, menyepakati niat bersama, lingkup pemetaan dan
pembentukan tim inti antar Desa.

• Sosialisasi tingkat Desa melalui Musdes sekaligus pembentukan Tim Lengkap tingkat
Desa, disyahkan melalui Keputusan Kades.

• Pelaksanaan pendataan oleh masing-masing Desa

• Tim antar Desa melakukan pertemuan untuk menyepakati potensi-potensi yang akan
dikembangkan.

• Pelaksanaan survai lengkap dilanjutkan dengan kajian-kajian.

• Tim inti antar Desa menyampaikan pelaporan pemetaan potensi antar Desa pada forum
MAD terbatas

• Tim tingkat Desa menyampaikan laporan kepada Kades

• Kades melakukan tindak lanjut dengan menjadikan peta kawasan sebagai masukan
Revisi RPJMDesa dan/atau RKP Desa.

VI. Sinkronisasi RPJMDesa antar Desa Dalam Kerjasama Desa

RPJM Desa adalah rencana kegiatan pembangunan Desa untuk jangka waktu 6 tahun, sesuai
dengan masa jabatan Kepala Desa. RPJM Desa harus sudah disusun selambat-lambatnya 3 bulan
sejak Kades memulai masa jabatannya.

Rencana pembangunan ini disusun secara partisipatif dan mengikat bagi Kades dan unsur pemdes
lainnya selama masa jabatan berlangsung. Penjabaran rencana jangka menengah ini kemudian
dituangkan ke dalam rencana tahunan yang disebut Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa)

RPJMDesa memuat visi dan misi Kades, arah kebijakan pembangunan serta rencana kegiatan
yang meliputi bidang pemerintahan desa, pelaksaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan
dan pemberdayaan masyarakat.

Disebutkan di dalam Permendagri No. 114/2014 Pasal 6 ayat 2 bahwa sebagian kegiatan
penyelenggaraan pemerintahan Desa adalah penetapan dan penegasan batas Desa, penyusunan
tata ruang Desa dan penyelenggaraan kerjasama antar Desa (ketiga hal ini sangat erat keterkaitannya
dengan kerjasama Desa dalam satu kawasan).

134 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Dilihat dari kacamata Desa secara sendiri-sendiri, RPJM Desa suatu Desa sangat dimungkinkan
untuk berbeda dengan RPJM Desa dari Desa lainnya antara lain dipengaruhi oleh antara lain visi
dan misi antar Kades yang bisa jadi berbeda.

Meskipun demikian dengan ketentuan bahwa setiap RPJMDesa harus mengacu pada rencana
pembangunan daerah yang dituangkan ke dalam RPJM Kab/Kota, tentunya ada sela-sela tertentu
melakukan penyelarasan antar RPJMDesa.

Sinkronisasi atau penyelarasan RPJMDesa antar Desa akan lebih efektif jika dilaksanakan pada
awal penyusunan (misalnya pasca pilkades serentak) atau melalui forum telaah ulang (review)
RPJMDesa.

Forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) juga bisa digunakan untuk sinronisasi
RPJM Desa dalam kawasan baik untuk keperluan kerjasama maupun berjaga-jaga (antisipasi) akan
adanya kebijakan pembangunan kawasan atau daerah oleh unsur-unsur di atas kewenangan Desa
(supra Desa).

VII. Penutup

Dalam rangka optimalisasi manfaat dari potensi-potensi yang ada di Desa, selain dilakukan melalui
kegiatan pembangunan di dalam suatu Desa sendiri maka bisa dilakukan kerjasama Desa dengan
pihak lain, terutama kerjasama antar Desa.

Kerjasama Desa hendaknya dilakukan bukan untuk jangka pendek tetapi untuk jangka menengah
atau jangka panjang sehingga rencana kerjasama perlu dimasukkan ke dalam RPJM Desa.

Skema kerjasama Desa harus adil dan saling menguntungkan antar pihak yang melakukan
kerjasama.

UU No.6/2014 dan peraturan perundangan yang terkait telah memberi ruang yang besar akan
adanya kerjasama Desa terutama yang diprakarsai oleh unsur masyarakat Desa.

Pendataan potensi untuk keperluan kerjasama Desa perlu mempertimbangkan rencana tata ruang
Desa serta adanya keterpaduan potensi dengan Desa di sekitarnya untuk menjagai kemungkinan
adanya kebijakan pengembangan kawasan/ daerah oleh unsur-unsur pemerintahan di atasnya
(supra Desa).

Semua langkah kerjasama Desa harus dilakukan bersama masyarakat Desa sejak ditetapkannya
rencana kerjasama, pelaksanaan, pemantauan serta penilaian berkala atas pelaksanaan dan hasil
kerjasama.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
135
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

PB
5 Pemberdayaan untuk
Perubahan Sosial Desa

136 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 5.1.
Pemberdayaan Menuju
Perubahan Sosial Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:
1. Mampu menjelaskan arti pemberdayaan masyarakat desa
sebagai jalan menuju perubahan sosial desa
2. Mampu menjelaskan pemberdayaan masyarakat desa
sebagai penerapan nilai-nilai pembangunan yang berpihak
pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat desa

Waktu
3 JPL (135 menit)

Metode
Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
137
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

1. Mulailah pertemuan dengan menjelaskan tujuan yang


akan dicapai dalam sesi belajar bersama ini

2. Hidupkan suasana belajar dengan mengajak peserta


berdiskusi untuk mendapatkan pemahaman sekitar Gunakan metode
topik pemberdayaan. Sebelumnya tanyakan kepada analisa sosial
peserta, apakah ada peserta yang pernah melakukan sederhana untuk
kegiatan pemberdayaan. mengajak peserta
a. Apa arti pemberdayaan? memahami
konteks
b. Apakah bentuk-bentuk ketidakberdayaan
masyarakat desa? ketidakberdayaan
dan
c. Mengapa masyarakat desa tidak berdaya?
pemberdayaan.
d. Siapa atau apa faktor yang menyebabkan
masyarakat desa tidak berdaya?

3. Rangkum dan perjelas jawaban peserta dengan


memberikan kerangka pemahaman hubungan sebab
dan akibat yang memudahkan peserta memahami
sebab-sebab ketidakberdayaan masyarakat desa.

4. Bagilah jumlah peserta ke dalam kelompok kecil untuk


mendiskusikan beberapa pertanyaan berikut:
a. Apa tujuan pemberdayaan masyarakat desa?

b. Siapa atau kelompok masyarakat yang mana yang


berhak untuk diberdayakan?
c. Daya, kapasitas atau kemampuan apa saja yang
seharusnya diberdayakan?
d. Cara-cara apa yang dianggap cukup strategis untuk
mulai melakukan pemberdayaan masyarakat desa?
e. Siapakah aktor atau pelaku pemberdayaan
masyarakat desa?

138 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

5. Setelah selesai diskusi kelompok, ajaklah peserta


kembali ke pleno. Mintalah kesediaan kelompok
untuk memaparkan hasil diskusinya. Berilah
kesempatan pada kelompok lain untuk menyampaikan Gunakan metode
tanggapannya.
analisa sosial
6. Rangkumlah jawaban-jawaban kelompok diskusi dalam sederhana untuk
satu kerangka pemahaman yang utuh (komprehensif). mengajak peserta
memahami
konteks
Pasal 1 (12) UU Desa No 6. Tahun
2014 bisa digunakan sebagai ketidakberdayaan
kerangka umum untuk merangkum dan
jawaban peserta. pemberdayaan.

7. Akhiri sesi ini dengan menunjukkan kaitan tujuan


pemberdayaan dengan makna azas rekognisi dan
subsidiaritas (kewenangan desa untuk mengatur dan
mengurus pembangunan desa)

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
139
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

SPB 5.2.
Peran Strategis
Pendamping Desa

Tujuan
Setelah pembelajaran ini peserta diharapkan:
1. Mampu menentukan sikap ideal dan memahami peran
strategis pendamping dalam pemberdayaan masyarakat
desa

2. Mampu menentukan langkah-langkah strategis dalam


pendampingan untuk pemberdayaan masyarakat desa

Waktu
3 JPL (135 menit)

Metode
Curah pendapat, diskusi kelompok, paparan

Media
Lembar Tayang dan Bahan Bacaan

Alat Bantu
Flipt Chart, spidol, laptop, dan infocus

140 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Proses Penyajian

Aktivitas 1. Sikap Pendamping


1. Bukalah pertemuan dengan menjelaskan tujuan yang
akan dicapai dalam sesi belajar bersama ini Gunakan metode
2. Mulailah dinamika belajar dengan diskusi pendek analisa sosial
tentang sikap. sederhana untuk
a. Apa artinya sikap? mengajak peserta
memahami
b. Apa yang mempengaruhi sikap seseorang?
konteks
c. Gambarkan sikap ideal Pendamping Lokal Desa? ketidakberdayaan
d. Apa artinya “Sikap Pendamping Lokal Desa sebagai dan
representasi (citra) visi UU Desa?” pemberdayaan.
3. Rangkumlah jawaban para peserta dalam kerangka
pemahaman umum tentang arti sikap sebagai cara
pandang, tindakan seseorang menghadapi sesuatu
atau kondisi di sekitarnya.

4. Jelaskan makna “Sikap Pendamping Lokal Desa


sebagai representasi (citra) visi UU Desa.”, kaitkan
penjelasan tersebut dengan menempatkan pentingnya
pendampingan masyarakat desa sebagai proses
pendidikan pendewasaa sikap Pendamping Lokal
Desa.

5. Bagilah selembar kertas kosong pada setiap peserta.


Mintalah menjawab pertanyaan berikut secara tertulis.
Masing-masing peserta cukup memberikan satu
jawaban untuk setiap pertanyaan.
a. Peran penting apa saja yang bisa dilakukan
pendamping lokal desa dalam pemberdayaan
masyarakat desa?

b. Sikap ideal seperti apa yang seharusnya dimiliki


pendamping lokal desa dalam menjalankan peran
dan tanggungjawabnya sebagai pendamping desa?
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
141
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

6. Berikan kesempatan kepada setiap peserta untuk


membacakan jawabannya. Fasilitator
mendengarkan
7. Akhiri sesi belajar bersama dengan merangkum
jawaban peserta.
sambil
menuliskan
8. masyarakat desa? pokok-pokok
jawaban peserta.
Jawaban yang
Aktivitas 2. Langkah Strategis sama tidak peru
Pendampingan ditulis ulang.

1. Lanjutkan kegiatan kelas dengan mengajak peserta


berdiskusi;
a. Apa tujuan dari pendampingan masyarakat desa?

b. Mengapa masyarakat desa perlu didampingi?

2. Rangkumlah hasil diskusi peserta sebagai kesimpulan


yang menunjukkan tujuan dari pendampingan
masyarakat desa.

3. Bagikan selembar kertas kosong atau meta plan


kepada setiap peserta. Mintalah setiap peserta
menuliskan;

• Satu tantangan yang akan dihadapi pendamping


dalam mendampingi masyarakat desa?

4. Selanjutnya mintalah peserta sambil membawa


tulisannya berkumpul dalam kelompok kecil (5-6
orang).

5. Mintalah setiap kelompok untuk mendiskusikan


kesulitan yang dibawa anggota kelompok dan memilih
1 tantangan yang dinilai paling sulit untuk dihadapi.

6. Kemudian setiap kelompok menunjuk satu wakilnya


untuk berkumpul dengan wakil kelompok lain. Setiap
wakil membawa 1 tantangan pilihan kelompok.

7. Berikan waktu singkat untuk para wakil kelompok


mendiskusikan tantangan dan memilih tiga (3) yang
dianggap paling penting.

142 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

8. Kalau sudah selesai terpilih 3 tantangan,


berikan kesempatan pada wakil kelompok untuk
menyampaikan alasan: mengapa 3 tantangan tersebut
yang dipilih.

9. Tampilkan atau tuliskan tiga tantangan yang dinilai


paling sulit supaya setiap peserta bisa membaca.

10. Bagilah peserta ke dalam tiga kelompok. Kemudian


mintalah setiap kelompok memilih satu dari 3
tantangan yang paling sulit.

11. Tugas kelompok selanjutnya adalah memecahkan


masalah. Fasilitator
membantu
• Bagaimana langkah-langkah yang harus dilakukan
untuk menghadapi tantangan, mengatasi kesulitan mempertajam
tersebut? diskusi
dengan ikut
12. Kembali ke pleno, setiap kelompok memaparkan
temuan hasil diskusinya. Kelompok lain diberi menyampaikan
kesempatan untuk memberikan tanggapan. pertanyaan-
pertanyaan
13. Sesi terakhir adalah sesi komitmen pribadi.
kritis. Tujuannya
14. Bagikanlah selembar kertas kosong pada setiap supaya diskusi
peserta. Mintalah setiap peserta untuk memperhatikan
menemukan
tantangan dan jalan menghadapi tantangan yang telah
disampaikan oleh kelompok. Selanjutnya, mintalah langkah yang
ke setiap peserta untuk menuliskan satu (1) wujud benar-benar
komitmen yang dibutuhkan dalam menjalankan konkret dan
tugas, peran dan tanggungjawabnya sebagai strategis dalam
Pendamping Lokal Desa.
menghadapi
15. Sebagai akhir sesi, mintalah setiap peserta untuk kesulitan.
membacakan komitmennya masing-masing.

16. Tutuplah sesi belajar bersama dengan aktivitas yang


menyatukan emosi dan semengata peserta untuk
memulai tugas dan tanggungjawabnya sebagai
Pendamping Lokal Desa.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
143
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

BAHAN
BACAAN

144 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Pemberdayaan Masyarakat Desa:

Visi Menuju Perubahan


Sosial Desa

Ibe Karyanto

Pemberdayaan masyarakat desa merupakan mandat UU Desa yang mengakar pada pokok
persoalan (radikal). Artinya mandat itu diberikan atas dasar pemahaman yang obyektif tentang akar
penyebab kemiskinan desa. UU Desa memahami kemiskinan desa bukan sebuah keniscayaan tetapi
akibat dari sistem, peraturan perundangan dan kebijakan yang tidak adil terhadap desa. Selama ini
desa telah dipinggirkan. Desa ditempatkan hanya sebagai obyek program.

Pemberdayaan punya arti beragam, tergantung dari sisi mana dan dalam kaitan dengan
apa. Tapi dalam tulisan ini makna pemberdayaan jelas ditempatkan dalam keranga visi UU Desa.
Penggunaan istilah pemberdayaan masyarakat desa dalam rumusan mandat UU Desa memiliki
makna ganda. Di samping bermakna sebagai tindakan memulihkan kuasa, daya masyarakat desa,
pemberdayaan dalam UU Desa juga bermakna pengakuan atas berlangsungnya proses pemiskinan
dan kondisi kemiskinan di desa.

Sebelum membahas lebih khusus tentang karakter pemberdayaan pada bagian akhir, ada
baiknya kita pahami terlebih dahulu secara ringkas apa konteks dan kondisi yang melatarbeakangi
munculnya gagasan kritis pemberdayaan. Hal yang tak terpungkiri adalah istilah pemberdayaan tak
terpisahkan dari kemiskinan.

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
145
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Pembangunan dan Kemiskinan

Pemberdayaan merupakan bagian dari perkembangan pandangan para pemikir kritis


yang berusaha menghadirkan teori baru tentang ekonomi pembangunan. Gagasan kritis tentang
pemberdayaan mucul sebagai bentuk alternatif dari model pembangunan yang materialistis,
berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Sementara pertumbuhan ekonomi diukur dari jumlah rata-
rata penghasilan masyarakat produktif di suatu negara dalam periode tertentu. Hasilnya memang
bisa menjadi indikasi pembanding kemajuan ekonomi suatu negara dibanding negara lain. Namun
di balik data keberhasilan tersebut teori pertumbuhan ekonomi senantiasa menyisakan kenyataan
jumlah masyarakat miskin dan tak berdaya yang lebih besar.

Tersebutlah salah satu filosof, tokoh eknomi berkebangsaan Slotlandia, Adam Smith (1723
– 1790), yang memperkenalkan teori pertumbuhan ekonomi. Baginya pertumbuhan ekonomi akan
terjadi kalau ada pembagian kerja. Karena pembagian kerja akan memacu produktivitas dan dengan
demikian mempercepat pula pendapatan. Produktivitas dan peningkatan pendapatan akan terjadi
kalau disertai terbukanya pasar. Pasar atau sektor swasta menjadi penentu ukuran meningkatnya
pertumbuhan ekonomi.

Dari cikal bakal teorinya Adam Smith berkembang teori lain yang disebut teori pertumbuhan
ekonomi modern. Teorinya menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditentukan
oleh kekuatan pasar, tetapi juga keterlibatan negara. Ada dua kecenderungan dalam teori
pertumbuhan ekonomi modern. Teori yang satu menekankan pentingnya penumpukan (akumulasi)
modal. Penumpukan modal ditentukan oleh dua unsur penting yaitu unsur kepemilikan tabungan
(investasi) dan produktivitas modal. Semakin tinggi kemampuan produksi modal, semakin tinggi
pula kemampuan untuk memperbesar tabungan (investasi). Dengan demikian semakin tinggi pula
pertumbuhan ekonomi.

Teori itu tetap menyisakan kesenjangan antara kaum yang memiliki modal, yang mampu
menabung atau berinvestasi dengan kaum yang tidak memiliki modal. Terlebih ketika tokoh
sejamannya Keynes menekankan unsur kelebihan tenaga kerja (surplus of labour). Menurut teori ini
kelebihan tenaga kerja membuat harga tenaga kerja menjadi murah. Karena itu pemilik modal atau
pengusaha bisa mendorong tingkat pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan kelebihan tenaga
kerja tanpa perlu memikirkan kewajibannya untuk menaikkan upah.

Pemikiran untuk mencari model pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat yang
merata terus berkembang. Lahir kemudian teori pertumbuhan ekonomi neoklasik, yang menempatkan
teknologi sebagai unsur penting pendorong pertumbuhan ekonomi. Muncul lagi teori yang
menekankan pentingnya unsur kemampuan manusia (human capital). Kemampuan manusia perlu
dikembangkan melalui pendidikan atu pelatihan untuk mendorong tingginya tingkat pertumbuhan
eknomi. Manusia menjadi unit produksi. Menyusul kemudian teori yang menjelaskan pembangunan
merupakan perubahan yang akan dicapai melalui pertumbuhan ekonomi secara bertahap.

Harapannya setiap hasil pembangunan akan dirasakan oleh setiap penduduk sampai ke
lapisan yang paling bawah. Namun kenyataan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia,
menunjukkan bahwa teori-teori pembangunan belum terbukti menjamin pertumbuhan ekonomi
benar-benar bisa merembes dan dirasakan oleh masyarakat bawah. Pertumbuhan ekonomi dari
masa ke masa menegaskan bahwa yang kaya semakin kaya, sedangkan yang miskin tetap miskin.

146 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
Bisa jadi yang miskin malah semakin miskin.

Oleh karena itu dalam perkembangan berikut muncul pandangan-pandangan alternatif yang
memikirkan pembangunan tidak hanya semata diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga diukur
dari pertumbuhan kesejahteraan sosial. Pandangan ini menekankan pentingya mengembangkan
model pembangunan yang berkeadilan. Selama 4 sampai 5 dekade terakhir bahkan semakin
menguat pandangan yang mempromosikan supaya setiap teori pembangunan menempatkan nilai-
nilai demokrasi, Hak Asasi Manusia, gender dan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagai pusat
perhatian.

Sekalipun pandangan itu semakin menguat, tetapi toh belum terbukti menjadi kenyataan.
Sampai sejauh ini pembangunan ekonomi masih terus tumbuh di atas ketidakadilan yang melahirkan
ketimpangan. Pertumbuhan ekonomi masih menyisakan kemiskinan.

Ketidakberdayaan Desa

Pembangunan tidak hanya menyisakan kemiskinan di perkotaan. Data Badan Pusat Statistik
tahun 2014 menunjukan jumlah penduduk miskin di Indonesia kebanyakan adalah penduduk yang
bermata pencaharian petani. Artinya data tersebut bisa dibaca bahwa kemiskinan lebih banyak
dijumpai di pedesaan yang nota bene masih merupakan sektor penyerap tenaga kerja terbanyak.
Kondisi tersebut boleh dikatakan belum pernah mengalami perubahan berarti dari waktu ke waktu.
Ironis, desa sebagai sumber daya utama negeri agraris justru hidup dalam kemiskinan.

Sejarah desa adalah sejarah kemiskinan petani di atas tanahnya sendiri yang kaya. Kemiskinan
pedesaan merupakan kemiskinan struktural, yaitu kemiskinan akibat dari sistem tata kelola dan
kebijakan yang tidak adil. Kemiskinan struktural di pedesaan sudah dimulai dari sejak pemerintah
kolonial memberikan secara berlebihan hak penguasaan tanah kepada pengusaha-pengusaha
swasta melalui Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) tahun 1870. Akibatnya pengusaha swasta
menguasai sebagian terbesar tanah, sementara sebagian penduduk bumi putera hanya memiliki
sebagian kecil sisa tanah. Ketimpangan kepemilikan atas tanah mengakibatkan kesenjangan
pembagian kekayaan.

Warisan kemiskinan pasca kolonial masih berlangsung di masa kemerdekaan. Di masa


kemerdekaan produk hukum dan peraturan yang menyakut tata kelola pedesaan banyak dipengaruhi
peraturan yang diproduksi pemerintah kolonial. Ambil contoh, makna desentralisasi desa yang
menjadi amanat UU No.1 Tahun 1945 tidak berbeda dengan desentralisasi desa yang dimaksud
dalam peraturan perundangan yang diberlakukan pemerintah kolonial. Di masa kolonial desentralisasi
yang diberikan bersifat transaksional. Desentralisasi memberikan kewenangan pada Kepala Desa
untuk mengatur sendiri wilayah desanya dengan maksud supaya pemerintah kolonial mendapat
kemudahan dalam menarik pajak dan upeti. Demikian pula dengan produk Undang-undang lain
yang terkait dengan tata kelola desa belum sepenuhnya mengembalikan kewenangan desa. Desa
diberikan otonomi tetapi sekaligus pemerintahan desa ditetapkan sebagai bagian dari pemerintahan
terkecil dan terbawah.

Harapan kembalinya kewenangan desa sempat muncul ketika lahir UU No. 18 Tahun 1965
yang mendudukan desa sebagai daerah yang memiliki kekuasaan hukum, politik dan pemerintahan
otonom. Posisi desa menjadi semakin kuat ketika pemerintah menetapkan Undang-undang No.19
Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
147
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Tahun 1965 tentang Desa Swapraja. Amanat Undang-undang ini menghadirkan semangat untuk
menjunjung nilai-niali demokrasi, kemandirian dan kemerdekaan desa.

Namun sayang, implementasi amanat Undang-undang belum sempat terwujud Orde Baru
sudah mengambil alih kekuasaan. Kepemimpinan Orde Baru segera membekukan Undang-undang
tersebut melalui ketetapan Undang-undang No. 6 Tahun 1969 yang menyabut pemberlakukan
seluruh Undang-undang tentang desa. Sementara belum ada peraturan perundangan tentang desa
yang menggantikan. Akibatnya banyak tanah-tanah desa yang dikuasai oleh elit desa dan pemilik
modal.

Desa semakin menderita dan pemiskinan desa semakin menguat akibat dari perundang-
undangan dan kebijakan Orde Baru yang tidak adil. Di satu sisi peraturan perundangan dan
kebijakan memberangus kewenangan pemerintahan desa, tapi di sisi lain dibuka kesempatan luas
bagi para pemilik modal untuk menjadikan desa sebagai lahan investasi. Undang-undang No.1
Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing merupakan produk perundangan yang tidak secara
langsung menngatur tentang desa, namun mempercepat dampak kemiskinan di desa. Undang-
undang tersebut memberikan kesempatan bagi para pemilik modal asing untuk masuk ke Indonesia
dan menguasai industri pertanian dan industri lainnya.

Produk perundangan Orde Baru lain yang melemahkan keberadaan desa adalah UU No.5
Tahun 1979. Undang-undang ini jelas menunjukkan karakter kekuasaan otoritarian pemerintah pusat
yang memberangus kewenangan desa untuk bisa mengatur dan menguasai. Salah satu amanatnya
adalah menyeragamkan bentuk dan susunan desa. Akibatnya desa kehilangan karakter sosial-
budayanya.

Kebijakan Orde Baru lain yang menambah beban kemiskinan desa adalah kebijakan
ditetapkannya industrialisasi pertanian melalui revolusi hijau. Dalam jangka pendek kebijakan
revolusi hijau memang terbukti mampu meningkatkan produksi pertanian secara nasional. Namun
dalam jangka panjang industrialisasi pertanian menyisakan penderitaan berkepanjangan. Kearifan
budaya yang menyertai siklus tanam sampai panen tergerus oleh sikap pragmatis petani yang
lebih mengandalkan teknologi dari pada keterlibatan sosial masyarakat desa. Pengetahuan dan
keterampilan perempuan tani tidak lagi diperhitungkan. Kebiasaan memanfaatkan pestisida dan
teknologi pengolahan tanah menggerus tingkat kesuburan tanak.

Memasuki era reformasi banyak pihak berharap akan ada angin kebijakan pembangunan yang
segar yang juga menghentikan pemiskinan desa. Namun harapan tinggal harapan. Pemerintahan
semasa reformasi masih belum menunjukkan kesungguhan niat politik untuk melakukan perubahan
desa. Dua produk hukum, UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No.32 Tahun 2004 belum mampu
menjawab hakekat kedudukan desa. Desa masih didudukkan sebagai pemerintahan terkecil bagian
dari pemerintahan di atasnya. Posisi desa adalah obyek yang tidak memiliki kewenangan mengatur
kehidupannya sendiri.

Undang-undang No.6 tahun 2014 tentang Desa (UU Desa) merupakan produk perundangan
terbaru yang dihasilkan sesudah lebih dari lima belas tahun pemerintahan reformasi. Ada sebagian
pihak yang menyambut kehadiran UU Desa dengan keraguan (skeptis). Tapi sebagian terbesar
menyambutnya dengan penuh harapan (optimistik). Para pihak yang optimistik melihat UU Desa
sebagai gerbang harapan bagi desa, atau yang disebtu dengan nama lain.

148 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Karakter Pemberdayaan

Lepas dari beragam reaksi, yang pasti UU Desa tegas mengakui kedudukan desa subyek
hukum yang memiliki hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahannya sendiri
(Psl 1, at 1). Desa boleh dan berhak merencanakan dan melaksanakan pembangunannya sendiri
dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengakuan desa sebagai subyek tidak hanya
diungkapkan secara jelas pada pasal tertentu, tetapi juga tersirat pada setiap pasal. Salah satu
rumusan yang menyiratkan semangat pengakuan sebagai subyek adalah pasal yang menyatakan
amanat tentang pemberdayaan masyarakat desa (Psl 1, at 12).

Pemberdayaan masyarakat desa merupakan amanat yang sesungguhnya menjungkirbalikkan


pendekatan pembangunan yang selama ini berorientasi pada kekuasaan. Pemberdayaan adalah
sebuah konsep pembangunan yang manghadirkan karakter dan nilai-nilai kemanusiaan. Karakter
pertama, pemberdayaan mewujudkan pembangunan yang berpusat pada masyarakat. Masyarakat
menjadi pelaku utama sekaligus tujuan (people centre). Dalam konteks ini pemberdayaan merupakan
bagian dari gerakan budaya. Salah satu karakter dari pemberdayaan adalah kesadaran kritis
masyarakat tentang makna pembangunan. Karakter ini mengandaikan tumbuh dari sikap kesediaan
masyarakat untuk senantiasa belajar memahami beragam aspek yang mempengaruhi dampak
pembangunan bagi masyarakat dan lingkungan.

Karakter berikutnya adalah partisipatif, yaitu menyertakan keterlibatan aktif masyarakat


untuk menggagas, merencanakan, melaksanakan dan mempertanggungjawabkan proses
pembangunan. Dalam UU Desa karakter ini jelas dan tegas terlihat pada azas pengaturan desa
(Pasal 3). Di samping itu karakter partisipatif juga sejalan dengan kearifan desa yang menghormati
musyawarah desa sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi desa.

Berikutnya pemberdayaan memiliki karakter memampukan (empowering) masyarakat


yang terlibat dalam aktivitas pembangunan. Sejalan dengan karakter ini maka bisa dipahami
kalau amanat pasal pemberdayaan dalam UU Desa disertai dengan Peraturan Pemerintah yang
menegaskan perlunya para pihak, utamanya pemerintah untuk melakukan pendampingan terhadap
masyarakat dan aparatus desa (Psl 128, PP No. 43 Tahun 2014). Tujuan pendampingan adalah
untuk meningkatkan kapasitas pendamping dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan Desa,
pelaksanaan pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan
masyarakat Desa (Psl 129 at 1 C, PP. No 43 Tahun 2014).

Di samping itu pemberdayaan merupakan model pembangunan yang berkarakter


berkelanjutan (sustainable). Karakter ini mendorong pelaku pembangunan untuk tidak bersikap
pragmatis (aji mumpung) dalam merencanakan dan melakukan pembangunan. Pembangunan
berkelanjutan merupakan konsep yang menuntut kemampuan visioner, kemampuan melihat
manfaat pembangunan tidak saja untuk kebutuhan saat ini, tetapi mampu terus menerus memenuhi
kebutuhan jangka panjang. Di samping itu kerberlanjutan juga berarti sifat pembangunan yang
memperhatikan dampak kehancuran lingkungan. Artinya perencanaan pembangunan perlu disertai
dengan upaya menjaga keberlangsungan ketahanan sumber daya alam dan lingkungan.

Karakter-karakter tersebut juga menegaskan bahwa pemberdayaan merupakan sebuah


konsep gerakan budaya, yaitu sebuah gerakan yang dilakukan secara sadar dilakukan terus menerus
untuk menghormati martabat manusia dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhan asasi dan menjaga

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
149
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA
lingkungan tempat manusia berada.

Dalam kerangka implementasi Undang-undang Desa pemberdayaan merupakan sebuah


konsep pembangunan yang menjujung tinggi nilai kedaulatan masyarakat desa sebagai subyek,
kesatuan masyarkat hukum yang memiliki hak dan kewenangan. Karena itu keberhasilan
pemberdayaan masyarakat desa tidak hanya diukur secara materialistik, terpenuhinya sarana dan
prasarana fisik, tetapi juga diukur dari tingkat pemerataan kesejahteraan. Di atas itu semua ukuran
yang terpenting adalah perubahan sikap dan perilaku masyarakat. Pemberdayaan merupakan
wujud lain dari pendidikan karakter yang mendorong masyarakat tidak hanya semakin mampu atau
terampil, tetapi juga berkembang menjadi masyarakat yang memiliki integritas sosial.

Bacaan Acuan

• Astuti, Dwi, “Pedesaan: Potret Pemiskinan yang Belum Usai” dalam Menelusuri Akar Otoritarianisme
di Indonesia, Elsam, 2007.

• Brata Gunadi, Aloysius, “Kehancuran Ekonomi Perdesaan, Mengapa Berlanjut” dalam Menelusuri
Akar Otoritarianisme di Indonesia, Elsam, 2007

• Budiman, Arief Dr, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Gramedia, 1996

• Kartasasmita, Ginandjar, “Pemberdayaan Masyarakat: Konsep Pembangunan yang Berakar Pada


Masyarakat”, (Art), 1997

• Subhilhar, Pemberdayaan Masyarakat dan Modal Sosial, (Art), …..

• Zakaria, R. Yando, Peluang dan Tantangan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa”
(Art), 2014

150 Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
MODUL PELATIHAN: PENDAMPING LOKAL DESA

Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa


Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia
151