Anda di halaman 1dari 12

PENERAPAN KONSEP

PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER (PPRG)


DALAM PEMBANGUNAN DAERAH (STUDI DI PROVINSI PAPUA
DAN PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)

Implementation of Responsive Gender Planning


and Budgeting Concept in Local Development
(Study in Papua Province and Special Region of Yogyakarta)

Sali Susiana
Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI

Naskah diterima: 11 Januari 2015


Naskah dikoreksi: 1 Mei 2015
Naskah diterbitkan: 30 Juni 2015

Abstract: Responsive Gender Planning and Budgeting (PPRG) is a government strategy to accelerate gender
mainstreaming in development. At local level, local governments were mandated to establish the Secretariat of
Local PPRG set forth by Circular Letter of the Minister of Home Affair No.050/6199/SJ. This paper is a resume
of a qualitative research on implementation of responsive gender planning and budgeting concept in Papua
Province and Special Region of Yogyakarta. The study showed that both provinces did not establish the Secretariat
of Local PPRG because they have similar institutions that have been exist before the circular letter was made.
Besides that, those provinces have legal instruments about application of PPRG which is implementated in
preparing Responsive Gender Budgeting (in Special Region of Yogyakarta) and Gender Budget Statement (in
Papua Province) .
Keywords: Gender mainstreaming, responsive gender planning and budgeting, Papua Province, Special Region
of Yogyakarta.

Abstrak: Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) merupakan sebuah strategi yang
ditempuh pemerintah untuk mendukung upaya percepatan pengarusutamaan gender dalam pembangunan.
Pada tingkat daerah, diamanatkan untuk membentuk Sekretariat PPRG Daerah melalui Surat Edaran Menteri
Dalam Negeri No.050/6199/SJ (SE Mendagri). Tulisan ini merupakan ringkasan hasil penelitian terhadap
penerapan konsep PPRG yang dilakukan di Provinsi Papua dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua provinsi tersebut tidak membentuk
Sekretariat PPRG Daerah dengan alasan bahwa sebelum SE Mendagri dikeluarkan, telah terbentuk Kelompok
Kerja Pengarusutamaan Gender yang memiliki tugas dan fungsi hampir sama dengan Sekretariat PPRG Daerah.
Selain itu, di kedua provinsi terdapat instrumen hukum yang mengatur mengenai penerapan PPRG, yang
kemudian diimplementasikan dalam bentuk penyusunan Anggaran Responsif Gender (di Provinsi DIY) dan
Gender Budget Statement/GBS (di Provinsi Papua).
Kata kunci: Pengarusutamaan gender, perencanaan dan penganggaran responsif gender, Provinsi Papua,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Pendahuluan Di Indonesia, secara resmi PUG diadopsi


Konsep Pengarusutamaan Gender (PUG) menjadi strategi pembangunan bidang pemberdayaan
pertama kali muncul saat Konferensi PBB untuk perempuan melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor
Perempuan ke IV di Beijing tahun 1995. Pada saat 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender
itu, berbagai area kritis yang perlu menjadi perhatian dalam Pembangunan Nasional. Pada tingkatan
pemerintah dan masyarakat di seluruh dunia untuk yang lebih rendah, pelaksanaan PUG juga diatur
mewujudkan kesetaraan gender mulai dipetakan. dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 15
PUG didesakkan sebagai strategi yang harus diadopsi Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan
oleh PBB, pemerintah, dan organisasi yang relevan Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan di
untuk memastikan bahwa rencana aksi di berbagai Daerah yang diperbaharui dengan Peraturan Menteri
area kritis dapat dilaksanakan dengan efektif. Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011.

Sali Susiana, Penerapan Konsep Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) | 1
Implementasi PUG perlu didukung dengan Tulisan ini diharapkan dapat memberikan
anggaran yang responsif gender. Melalui Peraturan kontribusi terhadap kajian dan wacana mengenai
Menteri Keuangan Nomor 119 Tahun 2009 tentang pelaksanaan fungsi pengawasan yang berkaitan
Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana dengan kebijakan pemerintah di bidang
Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/ Lembaga pemberdayaan perempuan, terutama Komisi VIII.
dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan, dan Selain itu, hasil tulisan ini dapat menjadi bahan
Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran masukan dalam pembahasan Rancangan Undang-
Tahun Anggaran 2010, sebanyak 7 kementerian Undang (RUU) tentang Keadilan dan Kesetaraan
didorong untuk menerapkan Anggaran Responsif Gender yang termasuk dalam daftar prioritas
Gender (ARG) ke dalam program dan kegiatan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Tahun
masing-masing kementerian. Selanjutnya, melalui 2015-2019.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 104 Tahun Pengumpulan data dan bahan untuk penulisan
2010 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93 karya tulis ini dilakukan dengan cara penelitian
Tahun 2011 implementasi ARG diperluas ke dalam lapangan yang dilaksanakan di Provinsi Daerah
bidang pembangunan sosial, ekonomi, dan politik. Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Provinsi Papua.
Di tingkat daerah, juga terdapat Peraturan Menteri Provinsi DIY dipilih untuk mewakili wilayah
Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011 tentang Indonesia bagian barat sekaligus wilayah yang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan memiliki indeks pembangunan gender (Gender
Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012. Development Index/GDI) tertinggi setelah
Untuk mempercepat pelaksanaan PUG, juga Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, yaitu
telah dikeluarkan Surat Edaran tentang Strategi sebesar 73,07, sedangkan Provinsi Papua dipilih
Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender untuk mewakili wilayah Indonesia bagian Timur
melalui Perencanaan dan Penganggaran yang yang memiliki GDI relatif tinggi, yaitu sebesar
Responsif Gender (PPRG) pada tanggal 1 November 62,69 (Kementerian Pemberdayaan Perempuan
2012 yang dikeluarkan secara bersama-sama dan Perlindungan Anak, 2012:37). Penelitian di
oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan lapangan dilaksanakan selama 5 hari, masing-
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan masing tanggal 25-29 Agustus 2014 di Provinsi
Nasional, Menteri Keuangan, Menteri Dalam Negeri, Papua dan tanggal 15-19 September 2014 di
dan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Perlindungan Anak. Menindaklanjuti surat edaran Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif
tersebut, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena sifat
mengeluarkan Surat Edaran No.050/6199/SJ tanggal pendekatan kualitatif yang terbuka dan fleksibel.
10 September 2013 (SE Mendagri) yang ditujukan Melalui pendekatan ini diharapkan dapat diperoleh
kepada seluruh gubernur di Indonesia. data dari para narasumber dan informan, sehingga
Keberhasilan implementasi PPRG di tingkat dapat diperoleh gambaran yang utuh mengenai
daerah pada era otonomi ini sangat ditentukan oleh implementasi PPRG dalam pembangunan di
kebijakan pembangunan di daerah, baik di tingkat daerah. Sesuai dengan pendekatan yang dipakai,
provinsi maupun kabupaten/kota. Oleh karena itu yaitu pendekatan kualitatif, data dikumpulkan
menjadi penting untuk mengetahui bagaimana melalui wawancara terbuka kepada narasumber
pelaksanaan pembangunan daerah yang terkait dan informan penelitian. Sejalan dengan metode
dengan PPRG. Berdasarkan latar belakang tersebut pengumpulan data yang digunakan, yaitu
di atas, dapat dirumuskan permasalahan: bagaimana wawancara mendalam dan studi dokumen yang
penerapan konsep PPRG dalam pembangunan relevan dengan topik penelitian, maka peneliti
daerah? Secara lebih rinci dijabarkan dalam melakukan wawancara kepada pengurus Sekretariat
pertanyaan: Bagaimana pelaksanaan kebijakan, PPRG Daerah, antara lain: Ketua Pelaksana Harian
program, dan kegiatan pembangunan yang terkait dan Sekretaris.
dengan PPRG; dan apa saja kendala yang dihadapi Data yang telah terkumpul melalui serangkaian
dalam penerapan konsep PPRG dan bagaimana teknik pengumpulan data tersebut dianalisis
solusi untuk mengatasi kendala tersebut? secara kualitatif. Ada tiga langkah yang dilakukan
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dalam analisis data kualitatif ini, yaitu: reduksi
pelaksanaan kebijakan, program, dan kegiatan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
pembangunan yang terkait dengan PPRG serta Reduksi data dilakukan agar data yang berasal
kendala yang dihadapi dalam upaya penerapan dari berbagai sumber itu dapat dipahami. Oleh
konsep PPRG dan bagaimana solusi untuk karena itu dalam reduksi data ini, peneliti berupaya
mengatasi kendala tersebut. melakukan editing dan kategorisasi data sesuai

2| Aspirasi Vol. 6 No. 1, Juni 2015


dengan masalah dan tujuan yang telah ditetapkan sesuai dengan prinsip hak asasi manusia yang
dalam penelitian ini. Setelah dilakukan reduksi menganggap laki-laki dan perempuan sebagai
data, langkah selanjutnya adalah penyajian data manusia yang sama-sama memiliki hak-hak dasar
dan penarikan kesimpulan. yang harus dilindungi.
b. Demokrasi
Konsep PPRG
Demokrasi berarti keterlibatan anggota
Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC)
masyarakat sipil dalam proses-proses pemerintahan.
mendefinisikan PUG sebagai:
Demokrasi juga meningkatkan partisipasi masyarakat
“Proses memeriksa pengaruh terhadap perempuan
dan laki-laki setelah dilaksanakannya sebuah
sipil dalam membangun dan merancang kebijakan
rencana, termasuk legislasi dan program-program yang mempengaruhi hidup mereka. Oleh karena itu,
dalam berbagai bidang dan di semua tingkat. diperlukan forum untuk menyuarakan kebutuhan
PUG adalah strategi untuk membuat masalah dan aspirasi mereka. Masyarakatlah yang dapat
dan pengalaman perempuan maupun laki-laki memastikan agar sumber daya dialokasikan
menjadi bagian yang menyatu dengan rencana, berdasarkan kebutuhan.
pelaksanaan, pengawasan, dan penilaian kebijakan
c. Fairness, Justice, dan Equality
dan program dalam semua aspek politik, ekonomi,
dan sosial, agar perempuan dan laki-laki sama- Inti dari prinsip fairness, justice, dan equality
sama mendapatkan manfaat dan ketidaksetaraan (pemerataan, keadilan, dan kesetaraan) adalah
(inequality) tidak berlanjut. Tujuan akhirnya adalah keadilan sosial. Inilah alasan utama mengapa PUG
kesetaraan gender.” harus dilaksanakan. Tanpa itu, PUG tidak lebih
dari perubahan manajemen yang tetap berorientasi
Sedangkan Razavi dan Miller dalam Sinta R.
pada keuntungan pembangunan itu sendiri
Dewi (2006:12) mendefinisikan PUG sebagai proses
daripada mengupayakan keadilan bagi warganya.
teknis dan politis yang membutuhkan perubahan
Prinsip ini mengakui adanya ketidakadilan sosial
pada kultur atau watak organisasi, tujuan, struktur,
dalam pengalokasian sumber daya, yang akan
dan pengalokasian sumber daya. Dengan demikian,
memudahkan kita melakukan langkah-langkah
PUG merupakan sebuah strategi, bukan tujuan.
untuk mengeliminasinya.
Strategi ini dirumuskan agar desain, implementasi,
Dari tiga prinsip tersebut jelas bahwa
monitoring, dan evaluasi kebijakan dan program di
keadilan gender adalah nilai fundamental dalam
seluruh ranah politik, ekonomi, sosial, dan budaya
pemenuhan dan promosi hak-hak asasi manusia.
dapat terwujud. Sedangkan tujuan utamanya adalah
Mengarusutamakan keadilan gender berarti
mewujudkan keadilan gender.
membawa laki-laki dan perempuan ke dalam proses
Menurut Teresa Rees sebagaimana dikutip
pengambilan keputusan tentang alokasi sumber
Hartian Silawati (2012: 21), terdapat tiga prinsip
daya dan manfaat pembangunan. Keterlibatan
utama dalam PUG, yaitu:
mereka sangat penting untuk memastikan semua
a. Menempatkan Individu sebagai Manusia
kebutuhan dan aspirasi mereka terpenuhi.
Seutuhnya
Untuk mengintegrasikan gender dalam
Prinsip ini berasal dari paradigma politics
pembangunan, Hartian Silawati (2012:29)
of difference (politik perbedaan) yang melihat
menyatakan bahwa perencanaan dan penyusunan
laki-laki dan perempuan sebagai manusia yang
anggaran tahunan merupakan proses yang sangat
mampu memikul tanggung jawab masing-masing.
penting untuk diintervensi karena pada tahap
Kemanusiaan laki-laki dan perempuan harus
inilah sumber daya mulai dibagikan kepada siapa
mendapatkan penghargaan dan penghormatan
dan seberapa banyak. Intervensi terhadap proses
yang sama karena mereka sama-sama lahir sebagai
ini dapat dilakukan melalui pendampingan kepada
manusia yang berhak untuk hidup dengan mulia.
sektor atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Laki-laki maupun perempuan harusnya berstatus
dalam menyusun Rencana Kerja Anggaran atau
sama dan sama-sama mulianya. Prinsip ini menolak
RKA (Silawati, 2012:29).
memperlakukan laki-laki dan perempuan sesuai
dengan peran-peran sosial mereka sebagai suami
Implementasi PPRG di Indonesia
atau istri, yang cenderung sekadar menempelkan
Sebagai sebuah strategi, PUG di Indonesia
identitas istri pada identitas suaminya, yang tidak
pertama kali diimplementasikan melalui Instruksi
mempedulikan apakah laki-laki dan perempuan
Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 2000 tentang
memiliki kebutuhan dan aspirasinya masing-
Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan
masing, yang mungkin sama atau mungkin pula
Nasional. Dalam Lampiran inpres tersebut PUG
berbeda. Prinsip individu sebagai manusia ini
didefinisikan sebagai:

Sali Susiana, Penerapan Konsep Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) | 3
“Strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan Ada pun pemantauan dan evaluasi mencakup
gender menjadi salah satu dimensi integral sejauh mana: (a) prakondisi dan komponen kunci
dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan, PUG telah ada; (b) perempuan dan laki-laki
pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan dan memiliki akses dan kontrol yang sama atas sumber
program pembangunan nasional.” daya, fasilitas, dan pelayanan kegiatan; (c) para
Adapun tujuan PUG dalam Inpres No. 9 staf, mitra kerja, dan kelompok sasaran, baik
Tahun 2000 adalah terselenggaranya perencanaan, perempuan maupun laki-laki telah berpartisipasi
penyusunan, pelaksanaan, pemantauan, dan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan
evaluasi atas kebijakan dan program pembangunan serta dalam pelaksanaan program; (d) kinerja
nasional yang berperspektif gender. Strategi PUG kegiatan staf telah responsif gender.
ditempuh dalam rangka mewujudkan kesetaraan Pelaksanaan PUG juga diatur dalam Peraturan
dan keadilan gender dalam kehidupan berkeluarga, Menteri Dalam Negeri No. 15 Tahun 2008 tentang
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan
Ruang lingkup PUG dalam Inpres No. 9 Gender dalam Pembangunan di Daerah yang
Tahun 2000 meliputi: perencanaan, pelaksanaan, diperbaharui dengan Peraturan Menteri Dalam
pemantauan, dan evaluasi. Perencanaan merupakan Negeri Nomor 67 Tahun 2011. Pengertian PUG
upaya untuk mencapai tujuan secara rasional, (di daerah) menurut Kepmendagri tersebut adalah
baik dalam tahapan membuat kebijakan maupun strategi yang dibangun untuk mengintegrasikan
program di tingkat nasional, provinsi dan kabupaten. gender menjadi satu dimensi integral dari
Perencanaan kebijakan merupakan penentuan perencanaan, penyusunan, pelaksanaan,
tujuan dan sasaran pembangunan, sedangkan pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program,
perencanaan program merupakan operasionalisasi dan kegiatan pembangunan (di daerah).
dari kewenangan pemerintah yang dilakukan pada Beberapa daerah telah merespons keberadaan
setiap lingkup pemerintahan di berbagai tingkatan instrumen hukum yang mengatur mengenai
wilayah. Termasuk dalam tahap perencanaan ini PUG dengan mengeluarkan peraturan daerah
adalah perencanaan yang responsif gender/gender (perda) yang berkaitan dengan PUG, antara lain
planning and budgeting. Peraturan Daerah Provinsi Banten Nomor 10
Pelaksanaan PUG harus memperhatikan Tahun 2005 tentang Pengarusutamaan Gender
aspek perencanaan, termasuk aspek anggaran. dalam Pembangunan Daerah dan Peraturan Daerah
Mekanisme kerja instansi pemerintah dalam Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 5 Tahun
melaksanakan PUG diatur sebagai berikut: (a) 2009 tentang Pengarusutamaan Gender dalam
Penanggung jawab dan perumus kebijakan tentang Pembangunan Daerah.
PUG secara nasional dilakukan oleh Kementerian Untuk mendukung implementasi PUG,
Pemberdayaan Perempuan; (b) Pelaksana PUG diperlukan anggaran yang responsif gender.
dilakukan oleh semua instansi pemerintah tingkat Oleh karena itu, diterbitkan Peraturan Menteri
pusat, pemerintah daerah dan lembaga swadaya Keuangan Nomor 119 Tahun 2009 tentang
masyarakat/LSM yang peduli pada kesetaraan Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana
dan keadilan gender; (c) Penanggung jawab Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga
operasional di tingkat daerah adalah gubernur atau dan Penyusunan, Penelaahan, Pengesahan, dan
bupati/walikota yang secara teknis dilaksanakan Pelaksanaan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
oleh biro/bagian/seksi yang menangani program Tahun Anggaran 2010. Sebagai langkah awal,
pemberdayaan perempuan di daerah; (d) Kerja 7 kementerian didorong untuk menerapkan
sama antara institusi dan LSM melalui kelompok Anggaran Responsif Gender (ARG) ke dalam
kerja untuk menyatukan langkah dan mengevaluasi program dan kegiatan masing-masing kementerian,
pelaksanaan PUG guna dilaporkan kepada bupati/ yaitu: Kementerian Keuangan, Kementerian
walikota, gubernur, dan presiden. Pertanian, Kementerian Pendidikan Nasional,
Selanjutnya berbagai kebijakan, program, dan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pekerjaan
kegiatan yang sudah disusun (direncanakan) perlu Umum, Kementerian Pemberdayaan Perempuan
dipantau dan dievaluasi dengan memperhatikan dan Perlindungan Anak, dan Badan Perencanaan
hal-hal berikut: dapat dipertanggungjawabkan, Pembangunan Nasional.
tepat waktu, sederhana (efektif dan efisien), Pada tahun berikutnya melalui Peraturan
transparan, dapat dipercaya dengan data yang valid, Menteri Keuangan Nomor 104 Tahun 2010 dan
menggunakan data terpilah menurut jenis kelamin, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93 Tahun
dan adanya indikator dan tolok ukur. 2011 implementasi ARG diperluas ke dalam bidang
pembangunan sosial, ekonomi, dan politik. Sejalan

4| Aspirasi Vol. 6 No. 1, Juni 2015


dengan itu juga diterbitkan Peraturan Menteri pelaksanaan PPRG di kabupaten/kota dengan
Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2011 tentang menggunakan format pelaporan yang terdapat
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan dalam lampiran surat edaran tersebut.
Belanja Daerah Tahun Anggaran 2012.
Terakhir, untuk mempercepat pelaksanaan Pelaksanaan Kebijakan, Program, dan Kegiatan
PUG, dikeluarkan Surat Edaran tentang Strategi Pembangunan yang Terkait dengan PPRG
Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender Provinsi Papua
melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Di Provinsi Papua, sejak ditetapkannya
Responsif Gender (PPRG) pada tanggal 1 November Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang
2012 yang dikeluarkan secara bersama-sama Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan
oleh Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, Pemerintah Provinsi Papua berupaya
Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan melakukan beberapa langkah strategis untuk
Nasional, Menteri Keuangan, Menteri Dalam mengimplementasikan PUG. Dalam Undang-
Negeri, dan Menteri Negara Pemberdayaan Undang Nomor 1 Tahun 2001 tentang Otonomi
Perempuan dan Perlindungan Anak. Surat edaran ini Khusus, dalam Pasal 45 dan Pasal 47 dijamin
ditujukan kepada para menteri Kabinet Indonesia adanya persamaan status perempuan dan laki-laki
Bersatu II, Jaksa Agung RI, Kepala Kepolisian RI, serta penghormatan perlindungan hak masyarakat
para kepala lembaga pemerintah non-kementerian, Papua. Hal itu antara lain diwujudkan dalam
para pimpinan kesekretariatan lembaga negara, keanggotaan Majelis Rakyat Papua (MRP) yang
para gubernur, dan para bupati/walikota. Surat menetapkan bahwa 30% Anggota MRP adalah
edaran tersebut dikeluarkan mengingat selama perempuan.
ini masih terdapat berbagai permasalahan dan Di samping itu, terdapat Kesepakatan Bersama
tantangan dalam implementasi PUG. antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan
Dalam Angka 6 surat edaran bersama tersebut Perlindungan Anak Republik Indonesia dengan
dinyatakan bahwa dalam melaksanakan PPRG Pemerintah Provinsi Papua Nomor 98/MPP-PA/
yang dibiayai oleh APBD, Pemerintah Daerah agar: SKB/VI/2010 tentang Pencapaian Kinerja di
(1) mengutamakan program-program prioritas Nomor 463/2354/SET Bidang Pembangunan
pembangunan daerah yang mendukung pencapaian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
prioritas pembangunan nasional dan target-target di Provinsi Papua yang mengamanatkan penerapan
MDGs, dengan mengacu kepada RPJMD, Renstra pelaksanaan PUG mulai dari perencanaan,
SKPD, RKPD, dan RKA-SKPD; (2) memilih/ penganggaran, pelaksanaan, monitoring, dan
menentukan program utama untuk dimasukkan evaluasi dalam pembangunan daerah. Selain itu,
pada awal penerapan PPRG; serta (3) menyerahkan terdapat beberapa aturan hukum yang terkait
dokumen PPRG yang ditunjukkan dengan GBS dengan PUG dan PPRG, yaitu:
(Gender Budget Statement) yang telah disusun 1. Instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2010
kepada BAKD (Badan Administrasi Keuangan tentang Pencapaian Kinerja di Bidang
Daerah), dan salinan kepada Bappeda (Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Perencanaan Pembangunan Daerah) dan Badan/ Anak;
Biro Pemberdayaan Perempuan, serta menyerahkan 2. Keputusan Gubernur Papua Nomor 138 Tahun
salinan dokumen PPRG bersamaan dengan salinan 2011 tentang Pembentukan Kelompok Kerja
Renja Daerah kepada Menteri Dalam Negeri c.q. (Pokja) dan Sekretariat Pokja Pengarusutamaan
Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah. Gender (PUG) di Provinsi Papua;
Untuk menindaklanjuti surat edaran 3. Surat Keputusan Gubernur Provinsi Papua
tersebut, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) telah Nomor 44 Tahun 2002 tentang Pembentukan
mengeluarkan Surat Edaran No.050/6199/SJ Tim Kerja PUG;
Tanggal 10 September 2013 (SE Mendagri) yang 4. Surat Edaran Gubernur Nomor 463/3424/
ditujukan kepada seluruh gubernur di Indonesia. Set kepada Kepala SKPD di Lingkungan
Angka 2 SE Mendagri ini memerintahkan Pemerintah Provinsi Papua tentang Penerapan
pembentukan Sekretariat PPRG Daerah yang harus Perencanaan Penganggaran Responsif Gender.
direalisasikan paling lambat minggu 1 Oktober
Berdasarkan Keputusan Gubernur Papua
2013. Selanjutnya dinyatakan bahwa gubernur
Nomor 138 Tahun 2011, Gubernur Papua dan
memiliki tugas untuk melakukan pembinaan dan
Wakil Gubernur Papua menjadi penanggung
pengawasan kepada pemerintah kabupaten/kota
jawab Pokja PUG, sedangkan Sekretaris Daerah
berkaitan dengan pelaksanaan Strategi Nasional
Provinsi Papua menjadi ketua umum dan Kepala
Percepatan PUG melalui PPRG dan melaporkan

Sali Susiana, Penerapan Konsep Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) | 5
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi 3. Melaksanakan pelatihan, sosialisasi, advokasi
Papua menjadi ketua. Sekretaris Pokja PUG adalah pengarusutamaan gender kepada seluruh
Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda pejabat dan staf di lingkungan SKPD;
Provinsi Papua. Pokja PUG beranggotakan seluruh 4. Mendorong pelaksanaan analisis gender
kepala SKPD di lingkungan Pemerintah Provinsi terhadap kebijakan, program, dan kegiatan
Papua. Pokja PUG juga dilengkapi dengan sebuah pada unit kerja;
sekretariat, dengan Kepala Bidang Pendataan 5. Memfasilitasi penyusunan data gender pada
Bappeda Provinsi Papua sebagai koordinator dan masing-masing SKPD;
beranggotakan sembilan orang yang berasal dari 6. Melakukan analisis terhadap anggaran daerah;
lintas SKPD. Ada pun tugas Pokja PUG adalah: 7. Melaporkan pelaksanaan PUG kepada
1. Menetapkan Tim Teknis untuk melakukan pimpinan SKPD; dan
analisis terhadap anggaran daerah; 8. Bertanggung jawab dan wajib melaporkan
2. Menyusun program kerja setiap tahun, yaitu: hasil pelaksanaan tugasnya kepada Ketua
(a) mengarusutamakan gender dalam seluruh Pokja PUG Provinsi Papua.
kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan
Pembina tim teknis adalah Gubernur Papua,
yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan
sedangkan Asisten Bidang Perekonomian dan
Strategis SKPD dan Rencana Kerja SKPD
Pembangunan Setda Provinsi Papua menjadi
melalui analisis gender; (b) mempromosikan
penanggung jawab dan Kepala Badan Perencanaan
dan memfasilitasi PUG kepada masing-masing
Pembangunan Daerah Provinsi Papua sebagai
SKPD; (c) melaksanakan sosialisasi dan
ketua. Tim teknis beranggotakan 68 orang yang
advokasi PUG kepada pemerintah kabupaten/
berasal dari lintas SKPD/instansi. Tim Teknis juga
kota; (d) mendorong terwujudnya anggaran
didukung oleh sebuah sekretariat yang terdiri dari 1
yang berperspektif gender; (e) merumuskan
orang koordinator, 1 orang sekretaris, dan 11 orang
rekomendasi kebijakan kepada bupati/
anggota. Tim dilengkapi pula dengan sekretariat
walikota; (f) memfasilitasi SKPD atau unit
yang dibagi berdasarkan bidang, yaitu Bidang
kerja yang membidangi pendataan untuk
Sosial Budaya, Bidang Ekonomi, dan Bidang
menyusun profil gender provinsi.
Infrastruktur yang masing-masing dipimpin
3. Menyusun Rencana Aksi Daerah (RANDA)
oleh seorang koordinator. Anggota setiap bidang
PUG di provinsi;
bervariasi, antara 4 hingga 30 orang sehingga
4. Melakukan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
secara keseluruhan Anggota Tim Teknis berjumlah
PUG di masing-masing SKPD/instansi;
134 orang.
5. Melaporkan pelaksanaan PUG pada gubernur
Saat ini Pemerintah Provinsi Papua juga
selaku penanggung jawab melalui wakil
sedang menyelesaikan proses penyusunan Rencana
gubernur setiap 6 (enam) bulan) dengan materi
Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender (RAD
laporan sebagai berikut: (a) Pelaksanaan
PUG) Provinsi Papua 2013-2018. Penyusunan
program dan kegiatan; (b) Instansi yang
rencana aksi ini mendapatkan dukungan dari United
terlibat dalam pelaksanaan kegiatan; (c)
Nations Development Program (UNDP). Pada
Sasaran kegiatan; (d) Penggunaan anggaran
saat penelitian dilaksanakan, sedang dilakukan
yang bersumber dari APBN, APBD, atau
finalisasi Rancangan Peraturan Gubernur Papua
sumber lain; (e) Permasalahan yang dihadapi;
tentang Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan
dan (f) Upaya yang telah dilakukan.
Gender (RAD PUG) Provinsi Papua 2013-2018
Menindaklanjuti keputusan gubernur yang menjadi dasar hukum RAD PUG. Ada pun
tersebut kemudian dikeluarkan Keputusan Ketua Dokumen RAD PUG telah selesai disusun jauh
Kelompok Kerja (Pokja) dan Sekretariat Pokja hari sebelumnya. Finalisasi Rancangan Peraturan
Pengarusutamaan Gender (PUG) Provinsi Papua Gubernur tersebut dilakukan melalui Rapat
Nomor 001/Set-Pokja/Tahun 2012 tentang Koordinasi Pokja PUG Provinsi Papua, di Hotel
Pembentukan Tim Teknis Analisa Anggaran Matoa, Jayapura tanggal 28 Agustus 2014, dihadiri
Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Papua. oleh seluruh anggota Tim Teknis Analisa Anggaran
Tim teknis ini mempunyai tugas dan tanggung Daerah Provinsi Papua sesuai dengan Surat
jawab untuk: Keputusan Pokja PUG Provinsi Papua Nomor 001/
1. Mempromosikan pengarusutamaan gender Set-Pokja/Tahun 2012 dan satu orang perempuan
pada unit kerja; Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP).
2. Memfasilitasi penyusunan rencana kerja dan Terkait dengan ARG, beberapa SKPD telah
pengganggaran yang responsif gender; menyusun Gender Budget Statement (GBS),

6| Aspirasi Vol. 6 No. 1, Juni 2015


yaitu Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Badan angka harapan hidup menunjukkan bahwa usia
Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan harapan hidup perempuan lebih panjang dari laki-
Hidup (BPSDA dan LH) serta Dinas Kesejahteraan laki (75,16 tahun banding 71,37 tahun). Indikator
Sosial dan Masyarakat Terisolir. Selain itu, selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Pemerintah Provinsi Papua juga telah memberikan Tabel 1. Beberapa Indikator IPG dan IDG
alokasi anggaran untuk usulan perempuan, baik Daerah Istimewa Yogyakarta
dalam sektor perbaikan sarana umum, pendidikan, No Indikator Perempuan Laki-laki
kesehatan, dan peningkatan ekonomi masyarakat
1 Angka melek huruf 85,53% 95,26%
yang dituangkan dalam Program PNPM RESPEK
2 Rata-rata lama sekolah 8,15 tahun 9,47 tahun
Tahun 2007-2010 (Dokumen Rencana Aksi Daerah
Pengarusutamaan Gender Provinsi Papua 2012- 3 Proporsi angkatan kerja 61,35% 78,62%
2018, hlm. 12). 4 Usia harapan hidup 75,16 tahun 71,37 tahun
Untuk pembangunan prasarana umum, alokasi Sumber: Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender (PUG)
Daerah Istimewa Yogyakarta, Badan Pemberdayaan
anggaran usulan perempuan yang diakomodasi Perempuan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2013, hlm. 2.
ke dalam Program PNPM RESPEK adalah
pembangunan pos pelayanan terpadu (Posyandu) Sedangkan indikator IPG per wilayah
dan kelengkapan fasilitas pendidikan bagi anak- (kabupaten/kota) dapat dilihat pada Tabel 2.
anak dan perempuan di kampung. Untuk kegiatan Tabel 2. Indeks Pemberdayaan Gender
sektor pendidikan, alokasi anggaran berupa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
dukungan dana untuk kegiatan Pendidikan Anak IDG/GEM
Usia Dini (PAUD) dan peralatan belajar mengajar No Kabupaten/Kota
2008 2009
bagi anak-anak dan ibu-ibu. Untuk kegiatan sektor 1 Kota Yogyakarta 74,34 74,64
kesehatan, alokasi anggaran diwujudkan dalam 2 Kab. Bantul 63,60 63,83
bentuk pemberian makanan tambahan bagi anak-
3 Kab. Kulonprogo 60,09 60,87
anak, ibu hamil, dan dukungan dana untuk kegiatan
4 Kab.Gunungkidul 57,81 58,62
sosialisasi peningkatan kualitas kesehatan keluarga.
Ada pun untuk peningkatan kegiatan ekonomi, 5 Kab. Sleman 62,78 63,04
usulan perempuan yang diakomodasi berbentuk Sumber: BPS, Kementerian PP dan PA, dalam Rencana Aksi Daerah
Pengarusutamaan Gender (PUG) Daerah Istimewa Yogyakarta,
kegiatan simpan pinjam untuk perempuan, Badan Pemberdayaan Perempuan Daerah Istimewa Yogyakarta,
peningkatan kemampuan perempuan dalam 2013, hlm. 3.
pengelolaan keuangan, dan pengembangan ekonomi
Dari sisi regulasi pemerintah DIY telah
(Dokumen Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan
mengeluarkan beberapa peraturan yang terkait
Gender Provinsi Papua 2012-2018, hlm. 13-14).
dengan PUG, ARG, dan PPRG, antara lain:
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta 1) Peraturan Gubernur Daerah Istimewa
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Yogyakarta Nomor 53 Tahun 2012 tentang
tahun 2013 berhasil memperoleh Anugerah Parahita Panduan Penyelenggaraan Data Gender dan
Ekapraya (APE) kategori utama dari Kementerian Anak di Daerah Istimewa Yogyakarta;
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2) Peraturan Gubernur Daerah Istimewa
(KPP dan PA). APE adalah penghargaan yang setiap Yogyakarta Nomor 34 Tahun 2013 tentang
tahun diberikan secara rutin oleh KPP dan PA untuk Rencana Aksi Daerah Perlindungan Perempuan
mengetahui sejauh mana pelaksanaan PUG dalam dan Anak Korban Kekerasan Tahun 2013-
pencapaian kesetaraan gender di tingkat nasional 2017;
dan daerah setelah dilakukan identifikasi sejauh 3) Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa
mana kelembagaan PUG telah memenuhi unsur- Yogyakarta tentang Percepatan Pelaksanaan
unsur prasyarat PUG dan dapat berfungsi secara PUG Tahun 2002;
efektif dalam satu sistem berkelanjutan, baik di 4) Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa
tingkat nasional maupun daerah, termasuk peran Yogyakarta Nomor 411.4/0195 tentang
swasta dan masyarakat. Pengarusutamaan Gender;
Indeks Pembangunan Gender (IPG) 5) Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun Yogyakarta Nomor 463/0494 tentang
2010 berada di urutan kedua tingkat nasional, Penyusunan Anggaran Responsif Gender (ARG)
yaitu 72,24 dan Indeks Pemberdayaan Gender dan Rencana Menyusun Peraturan Gubernur
(IDG) pada urutan keenam tingkat nasional, yaitu tentang Pelaksanaan PPRG di DIY dan Peraturan
63,32. Dari beberapa indikator IPG dan IDG, Gubernur tentang Data Gender dan Anak.

Sali Susiana, Penerapan Konsep Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) | 7
Di samping itu pada tahun 2013 Badan 463/0494 tentang Penyusunan Anggaran Responsif
Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) Gender (ARG) dan Rencana Menyusun Peraturan
Provinsi DIY telah menyelesaikan penyusunan Gubernur tentang Pelaksanaan PPRG di DIY dan
Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender Peraturan Gubernur tentang Data Gender dan Anak.
(RANDA PUG) Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada pun instrumen yang secara tidak langsung
Terkait dengan upaya pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan PPRG adalah Peraturan
mengimplementasikan PUG dalam RANDA Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 53
PUG dinyatakan bahwa telah terdapat kemajuan Tahun 2012 tentang Panduan Penyelenggaraan Data
yang berarti dalam beberapa hal, baik dalam Gender dan Anak di Daerah Istimewa Yogyakarta.
hal pemenuhan prasyarat implementasi PUG Adanya dasar hukum yang mengatur mengenai
(dukungan politik, kebijakan, kelembagaan, penyelenggaraan data gender ini penting sebagai
sumber daya, sistem data dan informasi, alat dasar untuk menyusun ARG dan merencanakan
analisis, dan dukungan masyarakat sipil), dalam program dan kegiatan yang berperspektif gender.
hal implementasi PUG dalam siklus pembangunan Kebijakan tentang PPRG tersebut kemudian
(perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring diimplementasikan dalam bentuk penyusunan
dan evaluasi), maupun dalam hal monitoring dan ARG. Terdapat sedikit perbedaan dalam penerapan
evaluasi. PPRG antara Provinsi Papua dan Provinsi DIY. Di
Terkait dengan Surat Edaran Menteri Dalam Provinsi Papua, beberapa SKPD telah menyusun
Negeri No.050/6199/SJ yang antara lain berisi Gender Budget Statement (GBS), yaitu Dinas
tentang amanat untuk membentuk Sekretariat Pendidikan, Dinas Kesehatan, Badan Pengelolaan
PPRG Daerah, pihak Pemerintah Provinsi DIY Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup
tidak menindaklanjuti surat edaran tersebut (BPSDA dan LH) serta Dinas Kesejahteraan Sosial
dengan alasan bahwa di DIY telah terbentuk pokja dan Masyarakat Terisolir. Selain itu, sejak tahun
yang memiliki tugas dan fungsi yang hampir sama 2010 Pemerintah Provinsi Papua telah memberikan
dengan Sekretariat PPRG Daerah. alokasi anggaran untuk usulan perempuan dalam
sektor perbaikan sarana umum, pendidikan,
Perbandingan PPRG di Provinsi Papua dan kesehatan, dan peningkatan ekonomi masyarakat
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dituangkan dalam Program PNPM RESPEK
Berdasarkan temuan penelitian, secara umum Tahun 2007-2010.
kebijakan yang terkait dengan PPRG di Provinsi Di Provinsi DIY, BPPM aktif untuk melakukan
Papua dan Provinsi DIY sudah cukup baik. Hal itu KIE dan pendampingan kepada SKPD dalam
dapat dilihat dari adanya beberapa instrumen hukum penyusunan ARG dengan cara meminta setiap
yang menjadi dasar hukum pelaksanaan PPRG, baik SKPD untuk menyusun kegiatan yang dirancang
yang secara langsung menyangkut PPRG maupun dengan mengikuti tahapan PPRG, terutama melalui
yang secara tidak langsung mendukung pelaksanaan analisis gender dengan GAP. Selain itu, Bappeda
PPRG. Di Papua, instrumen hukum yang langsung juga mewajibkan agar beberapa kegiatan juga
terkait dengan PPRG adalah Surat Edaran Gubernur menggunakan analisis gender melalui GAP.
Nomor 463/3424/Set kepada Kepala SKPD di Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh
Lingkungan Pemerintah Provinsi Papua tentang Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Provinsi
Penerapan Perencanaan Penganggaran Responsif DIY tersebut sesuai dengan tugas Sekretariat
Gender. Ada pun instrumen yang secara tidak PPRG Daerah yang terdapat dalam Surat Edaran
langsung mendukung pelaksanaan PPRG adalah Menteri Dalam Negeri No.050/6199/SJ, antara lain
(1) Kesepakatan Bersama antara Kementerian yang terkait dengan tugas berikut:
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak a. Melakukan pelatihan analisis gender dan
Republik Indonesia dengan Pemerintah Provinsi penyusunan lembar Anggaran Responsif
Papua Nomor 98/MPP-PA/SKB/VI/2010 tentang Gender (ARG);
Pencapaian Kinerja di Nomor 463/2354/SET b. Menyusun peraturan kepala daerah tentang
Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan Pelaksanaan PPRG dalam penyusunan RKA-
dan Perlindungan Anak di Provinsi Papua dan (2) SKPD;
Instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2010 tentang c. Melakukan sosialisasi kepada seluruh pejabat
Pencapaian Kinerja di Bidang Pemberdayaan eselon 2 dan 3 di seluruh SKPD mengenai
Perempuan dan Perlindungan Anak. PUG dan PPRG;
Di Provinsi DIY, instrumen hukum yang d. Melakukan peningkatan kapasitas SDM bidang
langsung terkait dengan PPRG adalah Surat Edaran perencana di setiap SKPD dalam pelaksanaan
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor PUG dan PPRG di daerah; dan

8| Aspirasi Vol. 6 No. 1, Juni 2015


e. Meneliti dan memastikan pengintegrasian Tantangan PUG di bidang pendidikan
PUG dalam penyusunan RPJMD, Renstra meliputi: (1) tingginya angka tuna aksara,
SKPD, dan Renja SKPD. terutama perempuan di wilayah pegunungan; (2)
rendahnya angka partisipasi APM/APS, terutama
Dengan demikian, meskipun di kedua provinsi
perempuan di wilayah pegunungan; (3) semakin
tersebut tidak dibentuk Sekretariat PPRG Daerah,
tinggi jenjang pendidikan, APM/APS semakin
namun sebagian besar tugas Sekretariat PPRG
rendah; (4) ketimpangan gender yang berdampak
Daerah telah dapat dilaksanakan dengan cukup
pada rendahnya APM/APS perempuan dibanding
baik. Yang perlu menjadi catatan adalah tugas
laki-laki; dan (5) keterbatasan infrastruktur yang
Sekretariat PPRG Daerah untuk memonitor
berkorelasi dengan rendahnya sebaran fasilitas dan
realisasi pelaksanaan PUG dan PPRG di daerah.
tenaga pendidikan, khususnya perempuan (Rencana
Hal itu tampaknya belum berjalan dengan optimal
Aksi Percepatan Pengarusutamaan Gender Provinsi
di kedua provinsi.
Papua 2013-2018).
Tantangan PUG di bidang ekonomi yaitu: (1)
Kendala yang Dihadapi dalam Penerapan
ketersediaan ruang laktasi dan toilet perempuan di
Konsep PPRG
tempat kerja; (2) sebagian besar penduduk, terutama
Provinsi Papua
penduduk asli Papua bekerja di sektor pertanian
Menurut Badan Perencanaan dan Pembangunan
dan sektor informal; (3) perlunya pengembangan
Daerah (Bappeda) Provinsi Papua, kendala dalam
ekonomi informal sehingga dapat berkelanjutan;
penerapan konsep PPRG tidak dapat dilepaskan
(4) perlunya dorongan dari kepala keluarga untuk
dari tantangan dalam PUG. Tantangan tersebut
mendukung pengembangan ekonomi informal
dibagi menjadi dua jenis, yaitu tantangan makro
berbasis rumah tangga.
dan tantangan per bidang. Tantangan makro PUG
Ada pun tantangan PUG di bidang
di Provinsi Papua berdasarkan dokumen Rencana
hukum (berdasarkan Rencana Aksi Percepatan
Aksi Percepatan Pengarusutamaan Gender Provinsi
Pengarusutamaan Gender Provinsi Papua 2013-
Papua 2013-2018 adalah: (1) Transformasi pola
2018) yaitu: (1) Tindak kekerasan dalam rumah
pikir dan praktik yang timpang menuju adil gender
tangga (KDRT) oleh sebagian anggota masyarakat
di masyarakat; (2) Keterbatasan infrastruktur,
masih dianggap sebagai suatu hal yang wajar; (2)
transportasi, komunikasi, dan fasilitas pelayanan
Penegakan hukum bagi kasus hak asasi manusia
publik; (3) Stabilitas sosial dan politik; (4)
(HAM) di Papua masih belum maksimal, termasuk
Penguatan leadership Pokja PUG untuk fungsi
kasus KDRT, kasus KDRT belum dianggap
komunikasi, fasilitasi, dan koordinasi antar-sektor
sebagai kasus yang penting; (3) Masih rendahnya
PUG yang saling terkait; dan (5) Konsistensi dalam
pemahaman anggota masyarakat mengenai
melakukan PUG karena PUG membutuhkan energi
pentingnya pencatatan hukum dalam perkawinan
ekstra dan waktu cukup lama.
dan kelahiran; (4) Terbatasnya infrastruktur yang
Selain tantangan yang bersifat makro
berkorelasi dengan sebaran program pembangunan.
tersebut juga terdapat tantangan di setiap sektor,
terutama kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Tantangan PUG di bidang kesehatan yaitu: (1) Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian meskipun dalam RANDA PUG telah dinyatakan
Bayi (AKB) yang masih cukup tinggi, terutama adanya kemajuan dalam implementasi PUG,
di wilayah yang sulit diakses; (2) Ketersediaan namun berdasarkan Rencana Aksi Daerah
data AKI dan AKB masih terbatas; (3) Banyaknya Pengarusutamaan Gender (PUG) Daerah Istimewa
faktor penyebab tingginya AKI dan AKB, Yogyakarta (hlm. 7-8) masih terdapat beberapa
yaitu kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, kendala yang dihadapi, yaitu:
fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, 1) Dalam hal pemenuhan prasyarat implementasi
sarana transportasi, dan ketimpangan gender di PUG, antara lain: (a) kurangnya dukungan
masyarakat; dan (4) Kerja sama berbagai sektor, politik/komitmen; (b) lemahnya Inpres
yaitu pembangunan infrastruktur, pendidikan, No. 9 Tahun 2000; (c) belum optimalnya
pemberdayaan masyarakat, tokoh agama, tokoh kepemimpinan untuk mendorong pelaksanaan
adat, masyarakat, dan laki-laki sebagai kepala PUG; (d) lemahnya kemampuan SDM dan
keluarga untuk menunjang kesehatan ibu dan rendahnya status eselonisasi kelembagaan
anak (Rencana Aksi Percepatan Pengarusutamaan yang menangani pemberdayaan perempuan
Gender Provinsi Papua 2013-2018). dan PUG; (e) terbatasnya alat analisis yang
disesuaikan dengan kebutuhan sektor; (f) alat

Sali Susiana, Penerapan Konsep Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) | 9
analisis yang ada belum terintegrasi dengan alat yang dialokasikan untuk perempuan. Demikian
dan format perencanaan di pusat dan daerah; pula ketika diadakan acara yang berkaitan dengan
(g) Terbatasnya indikator gender yang dapat gender, baik rapat maupun pelatihan, masih ada
digunakan dalam menganalisis dan menyusun SKPD yang menganggap bahwa acara tersebut
kebijakan pembangunan sektor, pusat, dan adalah tentang perempuan sehingga yang dikirim
daerah; (h) rendahnya dukungan anggaran adalah staf perempuan.
untuk pelaksanaan prasyarat implementasi Untuk meminimalisasi salah persepsi
PUG, khususnya dalam peningkatan kapasitas; ini, BPPM dan Bappeda berupaya untuk
(i) belum semua sektor/daerah memiliki data mengintensifkan komunikasi, informasi, dan
terpilah, baik yang bersifat umum maupun edukasi (KIE), antara lain melalui pelatihan untuk
khusus; menumbuhkembangkan gender awareness dari
2) Dalam hal implementasi PUG dalam siklus berbagai instansi. Selain itu, terkait PPRG terdapat
pembangunan (perencanaan, pelaksanaan, pelatihan khusus PPRG yang sering dilakukan
serta monitoring dan evaluasi), antara lain: (a) tidak hanya untuk instansi tingkat provinsi tetapi
belum optimalnya pelaksanaan mandat BPPM hingga tingkat kabupaten/kota sehingga semua
sebagai fasilitator, mediator, dan koordinator memiliki komitmen yang sama agar PPRG dapat
PUG; (b) belum konsistennya kebijakan berjalan optimal.
yang diambil di tingkat nasional dan daerah Masih berdasarkan wawancara tersebut,
dengan pelaksanaan program di berbagai kendala lainnya adalah masih adanya anggapan
sektor; (c) belum digunakannya analisis bahwa analisis gender yang digunakan saat ini, yaitu
gender dalam proses perencanaan di pusat Gender Analysis Pathway (GAP) adalah hal yang
dan daerah; (d) belum adanya dimensi gender rumit dan sulit untuk dilaksanakan/ dipraktikkan.
dalam penyusunan program dan anggaran; Beberapa kelompok kerja (pokja) yang dibentuk
(e) belum digunakannya indikator gender menyatakan bahwa pelaksanaan PPRG merepotkan
dalam indikator kinerja sektor dan daerah; karena harus dilakukan analisis gender terlebih
(f) belum maksimalnya penggunaan data dulu dengan GAP. Walaupun dalam KIE telah
terpilah baik kuantitatif maupun kualitatif diberikan pemahaman bahwa hal itu sebenarnya
dalam perencanaan; (g) belum maksimalnya sederhana tetapi anggapan bahwa analisis adalah
akses, partisipasi, dan kontrol perempuan hal merepotkan belum sepenuhnya hilang. Untuk
dalam forum perencanaan; (h) masih lemahnya menghilangkan anggapan tersebut BPPM mencoba
koordinasi antara BPPM dan SKPD dalam untuk mengajak pokja-pokja yang ada melakukan
memantau pelaksanaan PUG; (i) belum praktik secara langsung dengan membuat suatu
optimalnya peran DPRD dalam mendukung usulan kegiatan yang menggunakan pendekatan
program responsif gender. PPRG. Upaya lainnya dilakukan oleh Bappeda
3) Dalam hal monitoring dan evaluasi, antara yang telah mengharuskan beberapa kegiatan untuk
lain: (a) belum terintegrasinya mekanisme menggunakan analisis gender melalui GAP.
monitoring dan evaluasi; (b) masih adanya
kesenjangan gender antara perencanaan dan Perbandingan Kendala Penerapan Konsep
pelaksanaan program yang responsif gender; PPRG di Provinsi Papua dan Provinsi Daerah
(c) belum adanya sistem pembelajaran/lesson Istimewa Yogyakarta
learnt; dan (d) belum adanya sistem reward Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam
and punishment. penerapan konsep PPRG di Provinsi Papua dan
Provinsi DIY, baik yang secara langsung terkait dengan
Dalam wawancara dengan Kepala BPPM
implementasi PPRG maupun faktor-faktor yang tidak
Provinsi DIY (tanggal 17 September 2014)
langsung namun berpengaruh terhadap penerapan
juga terungkap bahwa salah satu persoalan
konsep PPRG. Salah satu kendala yang utama adalah
yang dihadapi dalam implementasi PUG adalah
yang terkait dengan konsep gender. Di Provinsi Papua
masalah persepsi tentang gender. Sampai saat ini
masih diperlukan transformasi pola pikir sehingga
belum semua aparat pemerintah daerah memiliki
masyarakat, terutama para pejabat publik memahami
pemahaman yang benar tentang gender. Gender
konsep gender secara baik dan benar, sehingga mereka
masih sering dipersepsikan sebagai perempuan,
dapat menerapkan PPRG dengan baik pula. Demikian
sehingga ketika membicarakan kebijakan, program,
juga di Provinsi DIY, masih ada yang menganggap
dan kegiatan yang berperspektif gender, sebagian
bahwa gender adalah perempuan sehingga ARG
masih menganggap hal itu hanya berurusan dengan
diidentikkan dengan anggaran khusus atau anggaran
perempuan sehingga harus ada anggaran khusus
tersendiri bagi perempuan.

10 | Aspirasi Vol. 6 No. 1, Juni 2015


Kendala lainnya adalah masih adanya anggapan edaran tersebut dikeluarkan, telah terbentuk Pokja
bahwa PPRG adalah sebuah hal yang rumit karena PUG yang memiliki tugas dan fungsi hampir sama
dalam penerapannya membutuhkan analisis gender. dengan Sekretariat PPRG Daerah. Namun demikian
Hal ini terjadi di Provinsi DIY, di mana masih ada di kedua provinsi tersebut terdapat instrumen
pejabat pemerintah dan staf yang menganggap hukum yang mengatur mengenai penerapan PPRG.
bahwa analisis gender melalui GAP adalah hal yang Di Provinsi DIY terdapat Surat Edaran Gubernur
rumit dan merepotkan. Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 463/0494
Di Provinsi Papua kendala geografis secara tentang Penyusunan Anggaran Responsif Gender
tidak langsung mempengaruhi penerapan (ARG) dan Rencana Menyusun Peraturan Gubernur
PPRG. Keterbatasan infrastruktur, transportasi, tentang Pelaksanaan PPRG di DIY. Ada pun di
komunikasi, dan fasilitas pelayanan publik Provinsi Papua terdapat Surat Edaran Gubernur
membuat penerapan PPRG menjadi tidak optimal, Nomor 463/3424/Set kepada Kepala SKPD di
terutama di sektor pendidikan, kesehatan, dan Lingkungan Pemerintah Provinsi Papua tentang
ekonomi. Penerapan Perencanaan Penganggaran Responsif
Menurut Siti Hidayati Amal dalam Mastuti Gender. Selain instrumen hukum tersebut, terdapat
(2007:223-224) prasyarat penerapan ARG adalah: beberapa peraturan yang tidak terkait langsung
(a) Komitmen politik; (b) Dukungan para pemegang dengan PPRG namun mendukung penerapan PPRG
kekuasaan politik; (c) Kerjasama multi-pihak; (d) dalam berbagai bentuk, antara lain kesepakatan
Tenaga ahli; (e) Iklim birokrasi yang transparan bersama dan peraturan gubernur.
dan akuntabel; dan (f) Partisipasi masyarakat. Kebijakan tersebut kemudian diimplementasikan
Dari sisi ini, beberapa prasyarat di antaranya telah dalam bentuk penyusunan ARG (di Provinsi DIY) dan
dapat dipenuhi oleh Pemerintah Provinsi Papua dan Gender Budget Statement/GBS (di Provinsi Papua).
Provinsi DIY, yaitu komitmen politik dan dukungan Setiap SKPD di Provinsi DIY wajib melakukan analisis
para pemegang kekuasaan politik. Kedua prasyarat gender dalam penyusunan kegiatan yang berperspektif
tersebut diwujudkan dalam bentuk dikeluarkannya gender. Ada pun di Provinsi Papua GBS telah diterapkan
instrumen hukum yang menjadi dasar pelaksanaan di Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Badan
PPRG. Prasyarat lainnya, yaitu kerja sama multi- Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan
pihak dan tenaga ahli juga telah diupayakan oleh Hidup (BPSDA dan LH) serta Dinas Kesejahteraan
Pemerintah Provinsi DIY, dengan menjalin kerja Sosial dan Masyarakat Terisolir. Berbagai upaya
sama dengan pihak perguruan tinggi, yaitu Pusat tersebut sejalan dengan tugas Sekretariat PPRG Daerah
Studi Wanita Universitas Gadjah Mada. BPPM yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri
Provinsi DIY melibatkan mereka dalam pelatihan No.050/6199/SJ. Namun demikian tugas Sekretariat
yang terkait PPRG, baik di tingkat provinsi maupun PPRG Daerah untuk memonitor realisasi pelaksanaan
kabupaten/kota. Prasyarat lainnya, yaitu iklim PUG dan PPRG di daerah belum berjalan dengan
birokrasi yang transparan dan akuntabel juga mulai optimal di kedua provinsi.
diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DIY melalui Kedua, masih banyak kendala yang dihadapi
Bappeda yang mempublikasikan APBD dalam dalam penerapan konsep PPRG. Salah satu kendala
situs resmi Provinsi DIY, sehingga masyarakat utama dalam penerapan PPRG terkait dengan
dapat memberi masukan dan tanggapan terhadap pemahaman tentang gender, yang masih sering
perencanaan pembangunan dan penganggaran. dipersepsikan sebagai perempuan. Kendala lainnya
Beberapa prasyarat tersebut belum terlalu terlihat adalah adanya anggapan bahwa analisis gender
telah dipenuhi dan dipraktikkan oleh Pemerintah adalah sebuah hal yang rumit dan merepotkan.
Provinsi Papua. Khusus untuk Provinsi Papua, kondisi geografis
juga menjadi salah satu kendala dalam penerapan
Penutup PPRG.
Simpulan
Saran
Berdasarkan temuan penelitian dan analisis,
Berdasarkan simpulan yang telah
dapat disimpulkan bahwa, pertama, pelaksanaan
dikemukakan sebelumnya disarankan agar: (1)
kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan
mengintensifkan sosialisasi mengenai gender
yang terkait dengan PPRG di Provinsi Papua dan
kepada seluruh stake holder terkait sehingga
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sudah cukup
gender tidak dipersepsikan atau dipahami sebagai
baik. Kedua provinsi tidak menindaklanjuti Surat
perempuan; (2) membuat sebuah tool (alat) analisis
Edaran Menteri Dalam Negeri No.050/6199/SJ
gender yang lebih sederhana dan mudah dipahami;
yang memerintahkan pembentukan Sekretariat
dan (3) khusus untuk Provinsi Papua, diperlukan
PPRG Daerah dengan alasan bahwa sebelum surat

Sali Susiana, Penerapan Konsep Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) | 11
komitmen yang tinggi dari seluruh stake holder Dokumen
terkait sehingga PPRG dapat disosialisasikan ke “Country Gender Assessment: Indonesia,” Southeast
seluruh wilayah provinsi ini. Asia Regional Department, Regional and
Sustainable Development Departement, Asia
Development Bank, Manila, Philippines, July 2006.
“Draft Panduan Rencana Aksi Nasional Peningkatan
DAFTAR PUSTAKA Posisi dan Peran Perempuan PNS di Lembaga
Eksekutif dan Peningkatan Partisipasi Politik
Perempuan dalam Pilkada,” Deputi Bidang
Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan,
Buku Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan
BKKBN, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, dan Republik Indonesia, Tahun 2009.
UNFPA. 2005. Panduan dan Bunga Rampai Bahan “Migration, Remittance, and Female Migrant Workers,”
Pembelajaran Pengarusutamaan Gender. Fact Sheet, Female Migrant Workers Research
Irianto, Sulistyowati, dan Kartika, Titiek. 2009. Buku Team Bank Dunia (World Bank), Januari 2006.
Pegangan tentang Gender di Parlemen. Jakarta:
PROPER UNDP. Peraturan Perundang-undangan
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan UU No. 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi
Perlindungan Anak bekerja sama dengan Badan mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi
Pusat Statistik. 2012. Pembangunan Manusia terhadap Wanita.
Berbasis Gender 2012. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 132 Tahun
Mastuti, Sri. 2007. Anggaran Responsif Gender: Konsep 2003 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan
dan Aplikasi. Jakarta: Civic Education and Budget Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan di
Transparency Advocation (CiBa). Daerah.

Saptaningrum, Indriaswaty Dyah. 2008. Parlemen yang Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun
Responsif Gender: Panduan Pengarusutamaan 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan
Gender dalam Fungsi Legislatif. Jakarta: Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan di
Sekretariat Jenderal DPR RI dan PROPER UNDP. Daerah.

Susiana, Sali, Rongiyati, Sulasi , dan Hilaliyah, Nurul


Hilaliyah. 2008. Buku Kompilasi: Pengarusutamaan Lain-lain
Gender dalam Parlemen. Jakarta: Sekretariat Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta
Jenderal DPR RI bekerja sama dengan Proyek Nomor 10/SE/X/2013.
PROPER UNDP.
Rencana Aksi Daerah Pengarusutamaan Gender
(RANDA PUG) Daerah Istimewa Yogyakarta,
Jurnal/Makalah Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat
Cattleya, Leya. 2006. “Pelembagaan Akuntabilitas Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, 2013.
Pengarusutamaan Gender: Bukan Sesuatu
yang Mustahil. Jurnal Perempuan No. 50:
Pengarusutamaan Gender, Yayasan Jurnal
Perempuan November.
Silawati, Hartian. 2006. “Pengarusutamaan Gender:
Mulai dari Mana?” Jurnal Perempuan No. 50:
Pengarusutamaan Gender, Yayasan Jurnal
Perempuan, November, hlm. 19-32.
Soeparman, Surjadi. 2006. “Mengapa Gender
Mainstreaming Menjadi Aksi Nasional?”. Jurnal
Perempuan No. 50: Pengarusutamaan Gender,
Yayasan Jurnal Perempuan, November, hlm. 35-43.
Suprapto, Kajun. 2009. “Evaluasi Keterwakilan
Politik Perempuan Pasca-Pemilu 2009”, makalah
disampaikan dalam diskusi yang diadakan oleh
Bagian Perancangan Undang-Undang Bidang
Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia Sekretariat
Jenderal DPR RI, 19 Agustus.

12 | Aspirasi Vol. 6 No. 1, Juni 2015