Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengambilan darah umumnya yang diberikan kepada analis kesehatan
hanya untuk memperoleh spesimen darah yang berasal dari vena dan kapiler, Hal
ini memberikan sinyal bahwa pengambilan darah hanya untuk membantu analis
kesehatan untuk memperoleh darah, bukan menjadi suatu keahlian profesional.
Pada pengambilan darah vena (venipuncture) contoh darah umumnya
diambil dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan siku).
Vena ini terletak dekat dengan permukaan kulit cukup besar dan tidak ada
pasokan saraf besar. Apabila tidak memungkinkan, vena chepalica atau vena
basilica bisa menjadi pilihan berikutnya. Venipuncture pada vena basilica harus
dilakukan dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan arteri brachialis
dan syaraf median. Jika vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa
digunakan, maka pengambilan darah dapat dilakukan di vena di daerah
pergelangan tangan. Lakukan pengambilan dengan dengan sangat hati-hati
dan menggunakan jarum yang ukurannya lebih kecil. Berdasarkan latar belakang
tersebut maka dilakukanlah praktikum pengambilan darah vena menggunakan
wing needle.

B. Maksud Percobaan
Percobaan ini dimaksudkan agar praktikan mampu memahami cara
pengambilan darah vena menggunakan wing needle dengan tekhnik yang benar.
C. Tujuan Percobaan
1. Mahasiswa mampu mempersiapkan alat dan bahan yang digunakan untuk
pengambilan darah vena
2. Mampu mengetahui cara pengambilan darah vena menggunakan wing needle
dengan teknik venipuncture.
3. Mampu membedakan penggunaan wing needle dan alat pengambilan darah
vena yang lainnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Darah adalah jaringan cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma darah
dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit.
Volume darah secara keseluruhan adalah satu per dua belas berat badan atau kira-
kira lima liter. Sekitar 55% adalah plasma darah, sedang 45% sisanya terdiri dari
sel darah (Hutapea Albert M., 2006).
Pengambilan darah ada tiga cara yaitu dengan melalui tusukan vena
(venipuncture), tusukan kulit (skinpuncture) dan tusukan arteri atau nadi. Cara yang
sering digunakan adalah venipuncture dengan spuit. Pengambilan darah vena
(venipuncture untuk pengambilan darah dengan jumlah yang banyak
(Muliaty D., 2010).
Pembuluh darah vena adalah pembuluh darah yang datang menuju serambi
jantung yang bersifat elastis. Pembuluh darah vena yang membawa darah dari
bagian tubuh yang masuk ke dalam jantung. Pada umumnya darah vena banyak
mengandung gas CO2 (Rakhman, Arif, dkk, 2014).
Venipucture merupakan suatu metode untuk mendapatkan sampel darah lebih
dari 0,5 mL dari pembulu darah vena guna pemeriksaan hematologi. Venipuncture
dibagi menjadi menjadi dua metode yaitu: metode spuit dan metode wing needle.
Venipuncture dengan metode spuit yaitu suatu metode pengambilan darah dari
pembuluh darah vena dengan menggunakan alat spuit atau semprit sedangkan
venipucture wing needle yaitu suatu metode pengambilan darah dari pembuluh
darah vena dengan menggunakan alat wing needle (Arif M, 2011).
Wing needle adalah ujung spuit atau jarum yang digunakan untuk
pengambilan secara vakum. Needle ini bersifat mudah diganti sehingga mudah
dilepas dari spuit serta container vacuum. Penggantian needle dimaksudkan untuk
menyesuaikan dengan besarnya vena yang akan diambil atau untuk kenyamanan
pasien yang menghendaki pengambilan dengan jarum kecil (Gandasoebrata R,
2011)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
No Gambar Keterangan
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan

2. Dipasang wing needle yang


berpelindung karet ke holder

3. Dipasang turniquet

4. Didesinfeksi lokasi pengambilan


darah vena
5. Ditusuk lokasi vena

6. Didapatkan hasil

B. Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pengambilan darah vena menggunakan wing
needle. Alat dan bahan yang digunakan yaitu tabung vacuntainer yang berfungsi
untuk pengambilan darah menggunakan tabung vacum, turniquet berfungsi
sebagai penghambat aliran darah vena, container berfungsi sebagai tempat
pembuangan limbah infeksius, holder berfungsi untuk tempat dihubungkannya
needle dengan tabung vakum, alkohol swab berfungsi untuk membunuh bakteri
(desinfektan) pada lokasi pengambilan darah vena, plesterin berfungsi sebagai
penutup luka bekas flebotomi sehingga membantu proses penyembuhan luka
dan mencegah adanya infeksi, masker berfungsi sebagai alat pelindung diri
hidung dan mulut, handscoon berfungsi untuk mencegh terjadinya infeksi silang
serta mencegah terjadinya penularan kuman, kantong plastik berwarna kuning
berfungsi sebagai tempat pembuangan alat yang telah terkontaminasi atau
infeksius dan kantong hitam untuk membuang sampah kering atau yang tidak
infeksius.
Pertama-tama dipersiapkan terlebih dahulu alat dan bahan yang akan
digunakan hal ini berfungsi supaya pada saat dilakukan pemeriksaan tidak terjadi
kesalahan, kemudian dibuat zona kerja agar pada saat melakukan pemeriksaan
alat yang steril tidak tergabung dengan alat yang telah di pakai untuk
pemeriksaan. Kemudian dipersiapkan pasien dengan senyama-nyamannya,
perlakuan ini berfungsi agar supaya pasien tidak tegang dalam menjalani
pemeriksaan. dan dilakukan pendekatan dan komunikasi pada pasien dengan
menanyakan dua identitas unik pasien yaitu nama dan tanggal lahir, hal ini
dilakukan untuk mengkonfirmasi kembali identitas pasien dan disesuaikan
dengan lembar pemeriksaan. Kemudian dipasang needle yang berpelindung
karet pada holder hingga kencang, kemudian dilakukan perabaan darah vena
dengan cara dipasang turniquet fungsinya untuk membendung darah agar vena
tampak lebih jelas, setelah itu didesinfeksi lokasi yang akan ditusuk dengan
menggunakan alkohol untuk mensterilkan area penusukan, lokasi vena ditusuk
dengan lubang jarum menghadap ke atas agar mempermudah jarum masuk ke
vena, kemudian dilakukan pengambilan darah vena seperti pengambilan darah
dengan menggunakan vacuntainer, dan ditutupi lokasi pengambilan darah vena
dengan plesterin, hal ini berfungsi agar supaya bekas pengambilan darah vena
tertutupi dan tidak terinfeksi. Kemudian dibuang alat dan bahan bekas pakai agar
tidak terkontaminasi dengan alat yang belum terpakai, dan dicek kembali kondisi
pasien lalu diucapkan terimakasih.
Pengambilan darah vena menggunakan wing neddle diambil dengan
menggunakan dua tabung vacuntainer tutup ungu dan merah. Tabung
vacuntainer tutup dan etiket merah telah berisi reagent Clot Activator yang akan
mempercepat pembekuan darah, tutup dan etiket ungu muda (lavender) berisi
antikoagulan K3EDTA sehingga darah diperoleh tidak beku.
Kelebihan wing needle yaitu wing needle dilengkapi dengan saluran
Fleksibel dan berfungsi menghindarkan kerusakan pada sample karena
guncangan selama prosedur dilaksanakan, dan kekurangannya yaitu Aliran
darah kurang lancar, Darah cepat membeku dan menyumbat selang,
Kemungkinan hemolisis tinggi.

Karena wing needle memiliki ukuran jarum yang relatif kecil dan pendek,
maka kegunaan dari jarum ini pun khusus. Tidak setiap vena diambil
dengan wing needle. Indikasi pengambilan vena menggunakan wing needle
yaitu vena yang kecil pada anak-anak atau bayi dan orang tua, penderita luka
bakar yang cukup berat, untuk pengobatan IV (Intra Vena), pada seseoang yang
memiliki vena tipis, rapuh atau diakses, untuk meminimalkan nyeri ketika
Insersi ideal pada Neonatus anak atau lansia dengan vena yang rapuh dan tidak
kuat.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan diatas maka dapat disimpulkan bahwa
didapatkan sampel darah vena menggunakan wing needle pada tabung
vacuntainer tutup ungu dan merah dengan teknik venipuncture.
B. Saran
Sebaiknya praktikan lebih berhati-hati dalam melakukan penusukan atau
pengambilan sampel darah agar tidak terjadi kesalahan dan mempengaruhi hasil
pemeriksaan.
DAFTAR PUSTAKA

Arif M., 2011, Dasar-Dasar Flebotomi, Universitas Hasanuddin, Makassar.

Gandasoebrata R, 2011, Penuntun Laboratorium Klinik Edisi ke-13, PT Dian


Rakyat, Jakarta.

Hutapea Albert M., 2006, Keajaiban-Keajaiban dalam Tubuh Manusia, Gramedia


Pustaka Utama, Jakarta.
Muliaty D., 2010, Petunjuk Praktis:Teknik-Teknik Flebotomi, Ltd, Indonesia.

Rakhman, Arif, dkk, 2014, Buku Panduan Praktek Laboratorium Keterampilan


Dasar dalam Keperawatan II, Deepublish, Yogyakarta.