Anda di halaman 1dari 14

BAB II

PEMBAHASAN

 Jenjang Pendidikan Wajib di Indonesia Menurut Undang-Undang Tahun 2003 Tentang


Sistem Pendidikan Nasional

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanl


Bab 1 ketentuan umum pasal 1 ayat 8 menyatakan bahwa Jenjang pendidikan merupakan
tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkatan perkembangan peserta didik, tujuan
yang akann dicapai dan kemampuan yang dikembangkan.

Pendidikan di Indonesia dibagi menjadi beberapa jenjang berdasarkan tingkatan usia


dan kemampuan peserta didik. Dari setiap jenjang pendidikan memiliki rentang usai dan
lama pendidikan yang berbeda-beda. Pendidikan di Indonesia terbagi menjadi tiga
jalur, yaitu jalur formal, nonformal dan informal yang terbagi menjadi empat jenjang,
yaitu anak usai dini, dasar, menengah dan tinggi.

 UU No. 20 Tahun 2003 Bab IV Pasal 5 ayat 1


Setiap warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang
bermutu.

Sistem pendidikan nasional dilaksanakan secara semesta, menyeluruh dan terpadu : semesta
dalam arti terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku di seluruh wilayah Negara; menyeluruh dalam
arti kata mencakup semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan dan terpadu dalam arti adanya saling
terkait antara pendidikan nasional dengan seluruh usaha pembangunan nasional. pendidikan
nasional mempunyai visi terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata social yang kuat dan
berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia
yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tentang zaman yang berubah.

Dengan visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai berikut :

1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang


bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak
usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan
untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat
pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai
berdasarkan standar nasional dan global; dan
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia.

A. PENCAPAIAN DAN PERSOALAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI


1. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pada Pasal 1 butir 14 pendidikan anak usia dini(PAUD ) diartikan sebagai :
Suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan
usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan
untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Di zaman yang serta modern ini pendidikan seharusnya sudah ditanamkan kepada
anak sejak usia sedini mungkin. Hal tersebut mengimbangi dengan semakin ketatnya
persaingan global anak bangsa yang satu sama lain menghasilkan generasi muda yang
berkualitas.
Mengingat pendidikan yang diberikan pada usia ini, pendidikan tersebut
meletakkan suatu dasar pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik
halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan
spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi,
sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia
dini.
Tujuan suatu pendidikan merupakan suatu upaya atau perencanaan yang dilakukan
yang menjadikan suatu arahan serta pedoman dalam pelaksanaan pendidikan untuk
menghasilakn generasi muda yang berkualitas. Sehingga pada pendidikan anak usia
dini pun memuat tujuan-tujuan yang berupa :
a. Tujuan utama yaitu tujuan pendidikan untuk membentuk anak Indonesia yang
berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat
perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki
pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
b. Tujuan pendidikan untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar
(akademik) di sekolah.
Dalam pelaksanaan pendidikan anak usia dini tentu saja perlu diperhatikannya
karakteristik anak pada usia dini agar tujuan serta rencana yang telah ditetapkan dapat
berjalan dengan lancar. Adapaun karakteristik pelaksanaan Pendidikan anak usia dini
adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui hal-hal yang dibutuhkan oleh anak, yang bermanfaat bagi
perkembangan hidupnya.
b. Mengetahui tugas-tugas perkembangan anak, sehingga dapat memberikan stimulasi
kepada anak, agar dapat melaksanakan tugas perkembangan dengan baik.
c. Mengetahui bagaimana membimbing proses belajar anak pada saat yang tepat
sesuai dengan kebutuhannya.
d. Menaruh harapan dan tuntutan terhadap anak secara realistis.
e. Mampu mengembangkan potensi anak secara optimal sesuai dengan keadaan dan
kemampuannya.

2. Permasalahan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia


Arti penting mendidik anak sejak usia dini adalah dengan didasarinya kesadaran
bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang paling berharga untuk mencapai masa
depan atau generasi penerus bangsa. Kesadaran akan pentingnya pendidikan anak usia
dini tahun-tahun ini mendapatkan perhatian yang cukup baik dari berbagai kalangan
masyarakat, pemerintah, pihak swasta, orang tua, dan lain-lain. Hasil dari kepedulian
tersebut adalah banyaknya berbagai dari akademis membuat program jurusan
Pendidikan Anak Usia Dini diberbagai Universitas ataupun swasta. Namun, tidak
selamanya pembangunan pendidikan anak usia dini dapat berjalan dengan lancar atau
dapat dikatakan belumlah optimal dari kalangan pihak pemerintah, swasta, ataupun
masyarakat Indonesia. Pendidikan anak usia dini yang bersifat formal dapat dilakukan
melalui Taman Kanak-Kanak dengan biaya pendidikan yang lebih besar dibandingkan
dengan pendidikan non formal seperti, Kelompok Bermain, Tempat bermain anak, dll.
Permasalahan lain yang dihadapi dalam pembangunan pendidikan anak usia dini di
Indonesia adalah :
a. Kebijakan pemerintah tentang pendidikan anak usia dini di Indonesia yang kurang
memadai.
b. Kurangnya kesadaran masyarakat Indonesia tentang pentingnya pendidikan anak
usia dini.
c. Kurangnya mutu dalam pembangunan pendidikan anak usia dini.
d. Kurangnya kualitas dan kuantitas para pengajar pendidikan anak usia dini.
e. Beberapa lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia belum mengajarkan
mengenai kecerdasan intelektual.
f. Belum tercapainya kebutuhan masyarakat Indonesia anak program pendidikan
anak usia dini.
Solusi dan upaya permasalahan pembangunan pendidikan anak usia dini yang
telah direncanakan pemerintah sejauh ini adalah, membangun berbagai pusat
pendidikan anak usia dini baik di kota maupun daerah terpencil yang sangat minim
akan pengajar yang berkualitas. Pemerintah harus berusaha menyelaraskan
kemampuan akademik maupun non akademik pengajar kota dengan didesa dengan
cara membuat program-program pelatihan kemampuan pengajar. Seharusnya
pemerintah juga mendahulukan pembangunan pendidikan Indonesia dibanding
dengan kepentingan pembangunan lainnya. Negara yang maju pasti didalamnya akan
terdapat pendidikan dengan mutu kualitas dan kuantitas yang sangat tinggi.
Pemerintah dan swasta wajib mengadakan lembaga pendidikan anak usia dini yang
sangat terjangkau ataupun hanya sekedarnya untuk masyarakat kalangan tidak mampu
dengan subsidi dari pemerintah ataupun swasta.
Dengan dikupasnya permasalahan pembangunan pendidikan anak usia dini di
Indonesia diharapkan, pemerintah dapat meningkatkan akses kepada masyarakat
untuk bisa menikmati pendidikan di Indoesia, peningkatan mutu pendidikan dengan
meningkatkan kualitas dan kuantitas guru, pemerintah diharapkan dapat
menghilangkan ketidakmerataan dalam akses pendidikan, seperti halnya
ketidakmerataan didesa dan kota, serta sesegera mungkin pemerintah harus
menambah fasilitas sarana prasarana bagi pendidikan yang berada didaerah terpencil
yang kekurangan akan pendidikan.
Dengan berkembangnya di zaman era globalisasi ini menuntut banyak perubahan
sistem pendidikan di Indonesia yang harus lebih baik serta mampu bersaing secara
sehat. Dengan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia berarti sumber daya
manusia yang akan terbentuk akan sebaik mutunya dan dapat membawa Negara
Indonesia ini bersaing dengan sehat dalam segala bidang dunia Internasional.

B. PENCAPAIAN DAN PERSOALAN PENDIDIKAN DASAR


1. Pengertian Pendidikan Dasar
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan dasar diartikan sebagai :
Pendidikan dasar merupakan program wajib belajar dari pemerintah untuh
seluruh warga Indonesia. Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan
awal selama 9 tahun, meliputi pendidikan sekolah dasar selama 6 tahun dan
sekolah menengah pertama selama 3 tahun.
Pendidikan dasar adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan
keterampilan, menumbuhkan sikap dasar yang diperlukan dalam masyarakat, serta
mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan
dasar diselenggarakan untuk memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup
dalam masyarakat berupa pengembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan dasar.
Pendidikan dasar disebut sekolah dasar (SD) yaitu lembaga pendidikan yang
menyelenggarakan program pendidikan sebagai dasar untuk mempersiapkan siswanya
yang dapat ataupun tidak dapat melanjutkan pelajarannya ke lembaga pendidikan yang
lebih tinggi, untuk menjadi warga negara yang baik. berikut pengertian pendidikan
dasar termaktub Dalam undang – undang sistem pendidikan nasional bab VI pasal 17
menyebutkan:
 Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang
pendidikan menengah.
 Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau
bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah
tsanawiyah (MTS) atau bentuk lain yang sederajat. Dalam pendidikan ini akan
terjadi peletakan dasar dari pembangunan manusia. Esensi pendidikan yang
dialami oleh manusia pada permulaan hidup lebih ditekankan pada fakta dan
membaca fakta – fakta dalam pergelaran obyektifitas di alam ini. Maka dalam
pendidikan dasar, orang tua tidak boleh bertengkar atau berbuat apa saja ya ng
belum pantas diketahui oleh anak, sebab hal itu akan merusak sistem dan suasana
hati yang sedang dibangun, karena alam ini tertib, maka rumah tangga serta
lingkungannya harus tertib.
Pendidikan dasar mempengaruhi jenjang pendidikan menengah dan tinggi. Karena
pendidikan menengah dan tinggi merupakan kelanjutan dan kesinambungan dari
pendidikan dasar. Ini menjadikan pendidikan dasar sebagai acuan sebelum melangkah
ke jenjang pendidikan selanjutnya. Jika pada tingkat pendidikan dasar kurang
diperhatikan, kemungkinan kualitas pendidikan menjadi kurang baik.
Dalam bukunya, Muhammad Ali (2009: 33) menyebutkan bahwa ada 2 fungsi
utama pendidikan dasar yaitu:
a. Melalui pendidikan dasar peserta didik dibekali kemampuan dasar yang terkait
dengan kemampuan berpikir kritis, membaca, menulis, berhitung, penguasaan
dasar-dasar untuk mempelajari sainstek, dan kemampuan berkomunikasi yang
merupakan tuntutan kemampuan minimal dalam kehidupan bermasyarakat.
b. Pendidikan dasar memberikan dasar-dasar untuk mengikuti pendidikan pada
jenjang pendidikan berikutnya. Keberhasilan mengikuti pendidikan di sekolah
menengah dan perguruan tinggi banyak dipengaruhi oleh keberhasilan dalam
mengikuti pendidikan dasar.
Jenjang pendidikan dasar di Indonesia yang biasa ada pada Sekolah dasar (SD) dan
Madrasah Ibtidaiyah (MI) menjadi dasar dalam program wajib belajar 12
tahun. Program wajib belajar yang dulunya 6 tahun, diubah menjadi 9 tahun, dan kini
menjadi 12 tahun merupakan kebijakan pemerintah dalam rangka meningkatkan
kualitas pendidikan.

2. Permasalahan Pendidikan Dasar di Indonesia


Pada tahun 1984 dicanangkan wajib belajar pendidikan dasar enam tahun, dan
setelah sepuluh tahun berjalan kembalai dicanangkan oleh pemerintah melalui Inpres
Nomor 1 Tahun 1994 ditetapkan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.
Hal ini berarti bahwa setiap anak Indonesia yang berumur 7 s/d 15 tahun diwajibkan
untuk mengikuti Pendidikan Dasar 9 Tahun sampai tamat. Dan lagi harapan itu begitu
besar untuk agar masyarakat Indonesia minimal sampai tamat sekolah menengah
pertama. Jika secara jujur mengevaluasi program Wajib Belajar Pendidikan Dasar
Enam Tahun yang sudah 10 tahun dicanangkan, kita masih dapat melihat masih cukup
banyak masyarakat Indonesia yang belum tamat setingkat pendidikan dasar.
Permasalahan – permasalahan tersebut bukan semakin memudar, justru semakin
mengkristal dan melahirkan masalah-masalah baru. Program-program baru pun
muncul sebagai penunjang Wajadikdas 9 Tahun ini seperti: SMP Terbuka, SD-SMP
Satu Atap, USB Dll.
Bagaimana dengan tahun 2008 ini?.
Sudah genap 14 tahun program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun di
canangkan oleh pemerintah Indonesia. Kondisi-kondisi permasalahan terus
membanyangi hingga saat ini, kendala-kendala dari berbagai aspek fisik maupun
nonfisik masih belum dapat teratasi dengan optimal. Bahkan pemerintah menjanjikan
akan tuntas pada tahun 2009, dengan melihat kondisi real dimana masih banyak
masyarakat yang belum dapat meniklmati pendidikan. Sungguh ini suatu ironi, dimana
di UUD 1945 dinyatakan mendapatkan pendidikan adalah suatu hak warga Negara
sedangkan melalui Inpres dicanangkan wajib belajar.
Pendidikan dasar di Indonesia saat ini tengah mengalami permasalahan yang cukup
komplek.
a. Baru-baru ini Indeks Pendidikan Indonesia atau EDI (Education Development
Index) menurun yang dilaporkan oleh EFA (Education for All) dan dipublikasikan
pada November 2007 lalu. Posisi berada dalam kategori sedang bersama 53 negara
lainnya. Dengan penilaian pada kategori angka partisipasi pendidikan dasar, angka
melek huruf pada usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan
jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas 5 sekolah dasar. Peringkat melorot
dari 58 pada tahun sebelumnya menjadi 62, setingkat di atas kita yang tahun
sebelumnya sempat berada di bawah . Dari kategori penilaian tersebut dapat
diketahui bahwa masih sedikit lebih baik di antara negara-negara se kawasan
seperti, Kamboja, dan. Mungkin saja tahun ke depan dan Kamboja akan melampaui
angka pencapaian Negara kita, ini ditunjukkan peningkatan total indeks pendidikan
setiap tahunnya. Olehnya itu patut menjadi perhatian bahwa jatuhnya peringkat
indeks dari tahun sebelumnya berarti kuantitas angka partisipasi pendidikan dasar
menurun belum lagi kalau berbicara kualitas.
b. Tidak tersusunnya pola yang jelas dalam kurikulum pembelajaran sekolah.
Kurikulum sekolah yang semestinya dijadikan acuan dalam sistem pengajaran,
belum bisa diterapkan dengan semestinya di beberapa daerah. Hal ini dikarenakan
oleh kurangnya fasilitas mengajar dibeberapa daerah. Ini menyebabkan kualitas
lulusan sekolah-sekolah tersebut tidak dapat bersaing dengan lulusan sekolah-
sekolah di kota-kota besar di Indonesia.
c. Masih kurangnya tenaga pengajar di daerah-daerah pelosok. Masih banyak tenaga
guru yang mengajar dari kelas satu sampai kelas enam sekolah dasar. Ini
dikarenakan minimnya tenaga pengajar didaerah tersebut. Seperti terjadi didaerah
Batam. Terdapat guru yang mengajar dua rombongan belajar secara bersamaan.
Parahnya, dua rombongan belajar itu dididik dalam satu ruangan. Penghasilan guru
sekolah dasar yang rendah menjadi alasan utama bagi putra asli daerah untuk terjun
sebagai tenaga pengajar. Gaji pokok seorang guru SD bergolongan II-C sampai III-
B hanya Rp 200-300 ribu. Memang masih ada beberapa tunjangan, tapi jelas jumlah
itu tak cukup untuk menghidupi sebuah keluarga pada saat krisis ekonomi seperti
sekarang.

C. PENCAPAIAN DAN PERSOALAN PENDIDIKAN MENENGAH


1. Pengertian Pendidikan Menengah
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan menengah diartikan sebagai :
Pendidikan menengah merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan dasar
untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial
budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut
dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Lama pendidikan menengah yaitu
tiga tahun.

UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 18 ayat 1- 4


a. Pendidikan menegah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
b. Pendidikan menegah terdiri atas pendidikan menegah umum
dan pendidikan menegah kejuruan.
c. Pendidikan menegah berbentuk Sekolah menegah Atas (SMA), Madrasah
Aliyah (MA), Sekolah menegah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah
Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
Kebutuhan akan pendidikan menengah sendiri tidak dapat dipungkiri bahwa hal
tersebut merupakan hak setiap warga negara. Sebagaimana yang tertulis di dalam
UUD’45 pasal 31 ayat (1) secara tegas menyebutkan bahwa :
Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
Pendidikan yang pada dasarnya merupakan suatu upaya sadar serta terlaksana yang
memiliki peran aktif, dan positif dalam hidupnya yang akan datang. Pendidikan
memiliki berbagai jenis pendidikan salah satunya ialah pendidikan menengah.
Penyelenggaraan pendidikan menengah sediri dilakukan secara
meluas,menyeluruh, dan tersebar. Dalam artian bahwa pendidikan harus dilaksanakan
di berbagai lingkungan serta pelaksanaan pendidikan juga harus dirasakan oleh semua
lapisan masyarakat.
Pendidikan menengah yang diselenggarakn setelah pendidikan dasar yaitu suatu
pendidikan yang memiliki kemampuan berinteraksi secara produktif dengan
lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar dan atau melanjutkan ke jenjang yang lebih
tinggi.
Proses pembelajaran pada pendidikan menengah sendiri memiliki karakateristik
memperiapkan semua peserta didiknya untuk mampu menghadi pendewasaan diri
dalam aspek akademik maupun kesiapan menguasai ketrampilan hidup yang dituntut
oleh dunia kerja.

2. Problem Pendidikan Menengah di Indonesia


Ada beberapa permasalahan pendidikan yang muncul secara nyata dalam
keseharian kita antara lain :
a. Pemerataan Pendidikan
Kalau kita tinjau kembali mengenai undang-undang dasar 1945 disebutkan
salah satu tujuan negara Republic Indonesia adalah “mencerdaskan kehidupan
bangsa”. Dalam batang tubuh UUD 1945 pasal 31 ayat (1) : “Tiap-tiap warga
Negara berhak mendapatkan pengajaran”. Dan juga dalam Undang-undang No 20
tahun 2003 Bab IV Pasal 5 ayat (1) menjelaskan “setiap warga Negara mempunyai
hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”.
Beberapa diktum undang-undang diatas perlu dikutif dan dimaklumi betapa
semangat perundang-undangan kita untuk untuk menaggapi pemerataan
pendidikan, akan tetapi pernyataan itu belum bisa diwujutkan. Mengingat masih
banyaknya masyarakat Indonesia yang tidak mampu mengenyam pendidikan
sampai pendidikan menengah.
Hal tersebut disebabkan karena masih banyaknya masyarakat Indonesia yang
berada dibawah garis kemiskinan, sehingga pendidikan menjadi “barang mahal”
bagi mereka. Ketidak mampuan mereka menyekolahkan anaknya sehingga
membuat anak tidak bersekolah atau dropt out. Selain dari itu dampak dari factor
ekonomi ini juga pada saat sekarang diberbagai kota telah muncul sekolah-sekolah
unggulan yang hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang mempunyai kekuatan
keuangan.

b. Kurikulum yang mengambang


Beracuan pada undang-undang No 20 tahun 2003 dalam hal kurikulum yaitu
bab X pasal 37. pendidikan kita belum sepenuhnya mampu menerapkan sesuai
kurikulum dalam undang-undang tersebut. dari sini masih kita temui urgensi dari
sebuah sekolah masih dipertanyakan, mengapa sekolah sekolah itu tidak dapat
menciptakan insan-insan yang peka atau tanggap dengan persoalan realitas? Kita
rasa pendidikan yang ada disekolah tidak mampu menjadikan manusia secara utuh.
Tidak mampu mengerjakan secara keahlian untuk bidang-bidang tertentu. Sehingga
hasil dari pendidikan tersebut menjadikan manusia setengah-setengah. artinya tak
sartu pun kemampuan untuk bidang-bidang tertentu secara mendalam.
Selama ini apa saja yang diajarkan pada sekolah-sekolah hanya gagasan-
gagasan idealitas tanpa mau tanpa mau menyentuh persoalan realitas. Orang
kemudian lebih hafal dengan rumus-rumus kimia, fisika matematika atau teori-teori
lain yang secara langsung tidak bisa menjawab persoalan realitas yang dihadapi
peserta didik.
Pada umumnya ada beberapa hal yang menjadi masalah diseputar kurikulum :
a. Terlalu sentralistik, kurang menunjukan ciri dan spesifik kedaerahan, baik
dalam bentuk geografis maupun sosial budaya.
b. Kurikulum terlalu saraf dan padat.
c. Relevansi kurikulum dengan pasaran kerja, setiap tahun terjadi penumpukan
pengangguran dari out put lembaga pendidikan, hal ini disebabkan out put lebih
besar dari pada kebutuhan.
d. Rendahnya Mutu lulusan.
Banyak masalah mutu yang dihadapi dalam dunia pendidikan kita, seperti Mutu
lulusan, mutu pengajaran, bimbingan dan latihan dari guru, serta mutu
profesionalisme dan kinerja guru. Mutu-mutu tersebut terkait dengan mutu
menejerial para pemimpin pendidikan. Keterbatasan dana, sarana dan prasarana,
fasilitas pendidikan, sumber belajar, alat dan bahan latihan, iklim sekolah dan
lingkungan pendidikan serta dukungan dari pihak-pihak yang terkait dengan
pendidikan. Semua kelemahan mutu dari komponen-komponen pendidikan
tersebut berujung pada rendahnya mutu lulusan.
Dalam hal tersebut berarti belum sesuai dengan yang diamanahkan dalam PP
No. 19 tahun 2005 bab VII pasal 42 ayat 1 dan 2 yaitu “(1). Setiap satuan
pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi prabot, peralatan pendidikan, dan
media media pendidikan, buku dan sumber belajar lainya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlukanuntuk menunjang proses pembelajaran yang
teratur dan berkelanjutan. (2). Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana
yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang
pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel
kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolah
raga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang lain yang
diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan”.
Mutu lulusan yang rendah dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti
lulusan tidak dapat melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi, tidak diterima
dalam dunia kerja, tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat dan tidak
produktif. Orang yang tidak produktif memungkinkan dia akan tersisih dari
masyarakat.

D. PENCAPAIAN DAN PERSOALAN PENDIDIKAN TINGGI


1. Penegrtian Pendidikan Tinggi
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, pendidikan menengah diartikan sebagai :
Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah
yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan
spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Pendidikan tinggi
diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat
yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan,
mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi atau kesenian.
Jika seseorang telah menyelesaikan pendidikan dasar, pertama, menengah akan
dilanjutkan kembali pada jenjang yaitu pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi sendiri
merupakan jalur yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan wawasan yang lebih
luas.
Tujuan pendidikan tinggi diatur dalam pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 60
Tahun 1999 adalah sebagai berikut :
a. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan,
mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan teknologi dan/atau
kesenian.
b. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau
kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf
kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Kegiatan yang dilakukan kepada peserta didik merupakan suatu kegiatan yang
bertujuan untuk memajukan perkembangan peserta didiknya. Kegiatan untuk
memajuakan peserta didik tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan seperti melakukan
ujian, tugas, pengamatan oleh dosen.
Dari kegiatan tersebut dapat ditarik sebuah nilai yang jelas saja dilakukan dengan
cara berkala, sehingga selain memperhatikan hasil ujian, penilaian keberhasilan belajar
mahasiswa dapat juga didasarkan atas penilaian pelaksanaan tugas serta keikutsertaan
dalam seminar, penulisan makalah, praktikum, pembuatan laporan, pembuatan
rancangan atau tugas lain serta hasil pengamatan.
Ujian dapat diselenggarakan melalui ujian semester, ujian akhir program studi,
ujian skripsi, ujian tesis, dan ujian disertasi. Untuk bidang – bidang tertentu penilaian
hasil belajar program sarjana dapat dilaksanakan tanpa ujian skripsi. Penilaian hasil
belajar dinyatakan dengan huruf A,B,C,D, dan E yang secara berturut – turut bernilai
4,3,2,1, dan 0. Pelaksanaan ketentuan ujian diatur oleh senat masing – masing
perguruan tinggi.

2. Permasalahan Pendidikan Tinggi di Indonesia


Semenjak era kemerdekaan, pengalaman Indonesia dalam pengelolaan pendidikan
tinggi terhitung baru berjalan sekitar 63 tahun, yaitu dimulai pada 1949-1950 dimana
Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) merupakan
perguruan tinggi pertama di Indonesia. Universitas Gadjah Madamerupakan
universitas negeri tertua di Indonesia, yang terletak di Yogyakarta, didirikan pada 19
Desember 1949dan merupakan universitas pertama yang didirikan setelah Indonesia
merdeka.Sedangkan Universitas Indonesia memiliki sejarah lebih panjang lagi, yaitu
1849 sebagai Dokter-DjawaSchooldan berubah sebagai Universiteit Indonesiapada
tahun 1950.
Pendidikan tinggi di Indonesia makin eksis dan berkembang, dimulai dari hanya
memiliki 200 mahasiswa saja pada pasca Perang Dunia II, sampai sekarang berjumlah
sekitar 4,3 juta mahasiswa dengan kurang lebih 155.000 dosen, tersebar pada 83
universitas negeri (2,7%) dan 2987(97,3%) perguruan tinggi swasta.
Dalam interval perjalanan panjang itu, perguruan tinggi menghadapi berbagai
masalah dan tantangan yang tidak sama dari masa ke masa. Setiap masa memiliki
tantangan masing-masing yang harus disikapi dengan evaluasi kebijakan pendidikan
tinggi yang dinamis dan kompeten. Namun, perjalanan dunia pendidikan tinggi dengan
berbagai tantangannya tersebut memiliki satu pertanyaan mendasar, yang bisa juga
dikatakan sebagai ekspektasi, yang selalu ditanyakan masyarakat yaitu: “apa yang telah
dikontribusikan perguruan tinggi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa?”Masalah
dunia pendidikan
salah satu masalah mendasar yang dihadapi perguruan tinggi adalah problem relevansi
dan mutu yang belum menggembirakan. Pendidikan tinggi belum bisa menjadi faktor
penting yang mampu melahirkan enterpreneur dengan orientasi job creating dan
kemandirian. Pengangguran terdidik dari hasil pendidikan terus bertambah, problem
pengabdian masyarakat dimana perguruan tinggi tersebut berada dirasa kurang
responsif, dan berkontribusi terhadap problem masyarakat. Perguruan Tinggi juga
belum sepenuhnya mampu melahirkan lulusan yang memiliki akhlak mulia dan
karakter yang kuat. Anarkhisme intra dan inter-kampus seperti membentuk lingkaran
kekerasan, banyak kita jumpai terjadinya demo-demo yang bersifat anarkhis yang
dilakukan oleh kelompok mahasiswa. Tentu banyak juga prestasi yang telah dicapai,
akan tetapi gaung masalah ini lebih bergema dibanding deretan prestasi-prestasi.
Melihat hal ini, kita selalu dituntut untuk mencari akar masalahnya. Apakah akar
masalahnya berada pada kurikulum dan literatur yang diberikan yang tidak
terkoordinasi, akreditasi kelembagaan yang tidak terukur, tenaga pendidik yang belum
terakreditasi, atau masalah lainnya. Dalam hal ini, setidaknya kita mencatat berbagai
kendala mendasar yang ada dalam dunia pendidikan tinggi yaitu:
a. Masih rendahnya kualitas pendidik.
Masalah ini merupakan persoalan krusial yang harus segera diatasi, karena
akan berdampak signifikan terhadap lulusan yang dihasilkan. Salah satu yang akan
terdampak adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia yang selama ini
dinilai masih rendah. Terkait dengan ini, dibutuhkan perhatian yang serius dalam
rangka meningkatkan kualitas pendidik. Para dosen harus secara berkelanjutan
melakukan up-date kemampuan dan ilmunya,sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang terus berjalan.
b. Belum memadainya fasilitas pendidikan.
Hingga kini masih banyak pendidikan tinggi yang belum memiliki fasilitas
pendidikan yang lengkap, sehingga proses pembelajaran dan hasil lulusan menjadi
kurang optimal. Perlu diingat bahwa tanpa fasilitas yang memadai dan relevan
dengan kebutuhan, maka hasil pendidikan tidak akan optimal. Hal ini pada
umumnya terjadi di berbagai fakultas yang membutuhkan alat peraga dan alat
praktek dalam proses pembelajaran seperti fakultas kedokteran, fakultas teknik,
fakultas peternakan, fakultas pertanian, dan lain sebagainya.
c. Masalah efektivitas pendidikan.
Efektivitas pendidikan terkait erat dengan kualitas sumber daya manusia yang
dihasilkan oleh pendidikan tinggi. Namun kenyataan yang sangat memprihatinkan
adalah, bahwa di Indonesia, hingga kini masih banyak penyelenggaraan pendidikan
tinggi yang belum efektif, sehingga hanya sedikit pendidikan tinggi Indonesia yang
masuk pada ranking atas pendidikan tinggi di tingkat dunia dan bahkan tingkat
Asia. Kenyataan ini menunjukkan betapa parahnya kualitas pendidikan tinggi di
kebanyakanpendidikan tinggi Indonesia, dan tentu saja hal ini berimplikasi pada
sumber daya manusia yang dihasilkan.
d. Mahalnya biaya pendidikan.
Sebagaimana kita ketahui bersama, hingga kini masyarakat masih harus
menanggung banyak biaya, sehingga hanya golongan masyarakat mampu yang
dapat membiayai pendidikan anaknya di jenjang pendidikan ini. Meskipun
Pemerintah menyediakan beasiswa untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu,
namun jumlahnya hanya sedikit. Dampak akhir dari kenyataan ini adalah
ketidakadilan dalam memperoleh hak atas pendidikan.
e. Masalah pengangguran terdidik.
Pengangguran terdidik terkait dengan kualitas pendidikan tinggi. Banyaknya
lulusan pendidikan tinggi yang tidak dapat segera memasuki duniakerja, apalagi
menciptakan lapangan kerja sendiri, merupakan permasalahan krusial dalam
pendidikan tinggi di Indonesia. Berdasarkan pengamatan, pengangguran terdidik di
Indonesia terus mengalami peningkatan sejak beberapa tahun terakhir, sementara
jumlah penganggur tidak terdidik makin turun. Dengan melonjaknya jumlah
pengangguran intelektual maka tugas pemerintah untuk menciptakan lapangan
kerja juga akan semakin susah.
f. Link and matchantara pendidikan tinggi dan kebutuhan akan sumberdaya manusia
di lapangan kerja.
Pendidikan tinggi bagai berjalan dengan iramanya sendiri, sementara kondisi
riil di lapangan kurang diperhatikan secara matang. Akhirnya pendidikan tinggi
tidak mampu menjadi faktor yang penting dalam upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat. Pendidikan tinggi belum mampu sepenuhnya mampu melahirkan
sumberdaya manusia yang layak diterima di lapangan kerja yang ada, dan
pendidikan tinggi juga belum mampu menghasilkan entrepreneur yang memiliki
keberanian dan kemandirian.

E. PENCAPAIAN DAN PERSOALAN PENDIDIKAN NON FORMAL


1. Pengertian Pendidikan Non Formal
Menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
yang dimaksud dengan pengertian pendidikan non formal adalah:
jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara
terstruktur dan berjenjang.
Melalui pendidikan luar sekolah ini sangat membantu juga dalam menunjang
kesejahteraan masyarakat. Karena melalui pendidikan luar sekolah juga masyarakat
dapat memperoleh banyak keterampilan, karena banyak jenis pendidikan luar sekolah
yaitu:
 pendidikan kesetaraan
 pendidikan keaksaraan fungsional
 pendidikan pelatihan
 pendidikan kepemudaan
 pemberdayaan wanita
 kursus
 majelis taqlim
Itu sebabnya banyak manfaat yang diberikan pendidikan luar sekolah dalam
pembangunan masyarakat. Dimana fungsi pendidikan luar sekolah itu adalah sebagai
pengganti dari pendidikan formal yaitu pendidikan kesetaraan. Baik paket A,B, dan
paket C. sebagai penambah dan pelengkap pendidikan yang diperoleh dari pendidikan
formal seperti kursus keterampilan maupun kursus untuk mata pelajaran tertentu.
Berdasarkan fungsi pendidikan luar sekolah dalam pembangunan maka program-
program pendidikan ini dapat diklasifikasi ke dalam lima kategori:
a. Pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan pendidikan ideologi negara dan
moral bangsa bagi masyarakat.
b. Pendidikan dasar, yaitu Kelompok Belajar Paket A, untukmemberantas buta
aksara dan angka, buta pengetahuan dasar dan buta bahasa Indonesia.
c. Pendidikan mata pencaharian yang mencakup antara lain Kelompok Belajar
Usaha yang menyelenggarakan kegiatan belajar dalam bidang industri makanan,
alat-¬alat olah raga, perkakas rumah tangga, tata busana, dan pertanian.
d. Pendidikan kejuruan/ketrampilan yang berkaitan dengan latihan kerja, meliputi
program kegiatan belajar dalam rumpun kesehatan, pertanian, kerajinan dan
industri teknologi, kesenian niaga dan Bahasa.
e. Pendidikan lainnya yang meliputi penyuluhan melalui media elektronika dan
media cetak, motivasi, pelatihan kepemudaan, kepramukaan.
Terdapat beberapa jenis lembaga pendidikan yang menyediakan layanan
pendidikan non-formal di Indonesia, yaitu:
a. Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP-PLSP) :
adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional di
bidang pendidikan luar sekolah. BP-PLSP mempunyai tugas melaksanakan
pengkajian dan pengembangan program 23 serta fasilitasi pengembangan
sumberdaya pendidikan luar sekolah berdasarkan kebijakan Departemen
Pendidikan Nasional.
b. Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB): adalah unit pelaksana teknis di
lingkungan Dinas Pendidikan Propinsi di bidang pendidikan luar sekolah. BPKB
mempunyai tugas untuk mengembangkan model program pendidikan luar sekolah
sesuai dengan kebijakan Dinas Pendidikan Propinsi dan kharakteristik propinsinya.
c. Sanggar Kegiatan Belajar (SKB): adalah unit pelaksana teknis Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota di bidang pendidikan luar sekolah (nonformal). SKB secara umum
mempunyai tugas membuat percontohan program pendidikan nonformal,
mengembangkan bahan belajar muatan lokal sesuai dengan kebijakan dinas
pendidikan kabupaten/kota dan potensi lokal setiap daerah.
d. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM): suatu lembaga milik masyarakat
yang pengelolaannya menggunakan azas dari, oleh dan untuk masyarakat. PKBM
ini merupakan wahana pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat sehingga
mereka semakin mampu untuk memenuhi kebutuhan belajarnya sendiri. PKBM
merupakan sumber informasi dan penyelenggaraan berbagai kegiatan belajar
pendidikan kecakapan hidup sebagai perwujudan pendidikan sepanjang hayat.
e. Lembaga PNF sejenis: adalah lembaga pendidikan yang tumbuh dan berkembang
di masyarakat, yang memberikan pelayanan pendidikan nonformal berorientasi life
skills/keterampilan dan tidak tergolong ke dalam kategori-katagori di atas, seperti;
LPTM, Organisasi Perempuan, LSM dan organisasi kemasyarakatan lainnya.
Dalam hal ini perlu disadari bahwa pengembangan masyarakat itu akan lancar
apabila di masyarakat itu telah berkembang motivasi untuk membangun serta telah
tumbuh kesadaran dan semangat mengembangkan diri ditambah kemampuan serta
ketrampilan tertentu yang dapat menopangnya, dan melalui kegiatan pendidikan,
khususnya pendidikan nonformal diharapkan dapat tumbuh suatu semangat yang tinggi
untuk membangun masyarakat desanya sendiri sabagai suatu kontribusi bagi
pembangunan bangsa pada umumnya.

2. Permasalahan Pendidikan Tinggi di Indonesia


Bertolak dari latar belakang yang melandasi konsep pendidikan nonformal, bahwa
pada saat setelah Indonesia merdeka ternyata 90% dari jumlah penduduk di Negara ini
termasuk dalam kategori bodoh dan miskin, dengan segala implikasinya.
Undang-Undang Dasar 1945 mengisyaratkan agar didalam usaha memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah dan masyarakat
segera menentukan sikap dan langkah-langkah kependidikan, untuk bisa memberikan
kesempatan kepada setiap warga Negara mendapat pengajaran.
Sejak tahun 1954 telah tersusun Undang-Undang Pendidikan Pengajaran, tetapi
didalamnya tidak tersirat apa dan bagaimana tugas dan peranan yang dapat dimainkan
oleh pendidikan nonformal untuk ikut memajukan kesejahteraan umum mencerdaskan
kehidupan bangsa. Baru pada Undang-Undang No. 2/1989 dan Undang-Undang No.
20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tugas dan fungsi pendidikan
nonformal sudah secara eksplisit dirumuskan secara tegas.
Sejak tahun 50 an,pemerintah bersama-sama dengan masyarakat mengatasi
masalah kebodohan dan kemiskinan yaitu mengadakan gerakan pemberantasan tiga
buta: buta aksara, buta berhitung dan buta pengetahuan, akan tetapi kurang menarik
sehingga banyak warga belajar yang meninggalkannya. Kemudian menyusun program
pemberantasan buta huruf fungsional, tetapi usaha inipun dirasa tidak menimbulkan
gairah dan semangat warga belajar.
Beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam penyelenggaraan pendidikan
luar sekolah dewasa ini adalah sebagai berikut:
a. Pendidikan Luar Sekolah belum mendapat pemahaman dan perhatian yang
proporsional dengan pendidikan sekolah, baik berkenaan dengan
peraturan perundangan maupun dukungan anggaran sehingga pemerataan
pelayanan PLS bagi masyarakat diberbagai lapisan dan diberbagai daerah belum
dapat dilaksanakan secara optimal.
b. Masih terbatasnya jumlah dan mutu tenaga profesional pada institusi PLS di
tingkat pusat dan daerah dalam mengelola, mengembangkan dan
melembagakan PLS.
c. Masih terbatasnya sarana dan prasarana PLS baik yang menunjang
penyelenggaraan maupun proses pembelajaran PLS.
d. Ketergantungannya penyelenggaraan kegiatan PLS di lapangan pada tenaga
sukarela sehingga tidak ada jaminan kesinambungan pelaksanaan program PLS.
e. Masih relatif rendahnya partisipasi/peranserta masyarakat dalam
memprakarsai penyelenggaraan dan pelembagaan PLS.

Anda mungkin juga menyukai