Anda di halaman 1dari 12

TITRASI IODATOMETRI

Mata Kuliah : Kimia Analisis

Dosen : Herdini

Disusun Oleh :

M. Idzhad Adrian 13330005

Fadilah Fazrin 13330080

Jimmy Fernando 13330081

Yosephin 13330090

Nur Anissa Pardisa 13330095

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI FARMASI

2014
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan
tepat pada waktunya. dalam makalah ini kami membahas Titrasi idodatometri. makalah ini
bertujuan untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Kimia Analisis, kami juga mengucapkan
banyak terimakasih kepada semua pihak, dan juga kepada teman – teman sekelompok kami yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. oleh
karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan kritik serta saran yang dapat
membangun, kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan
makalah kami selanjutnya, akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
sekalian.

Jakarta, Desember 2014


DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar. ............................................................................................................. i

Daftar Isi.. .................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.........................................................................1

B. Rumusan Masalah ..................................................................................2

C. Tujuan Masalah ......................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Devinisi Iodatometri
B. Azas Iodatometri
C. Prosedur Pembakuan dan penetapan kadar

Kesimpulan

Daftar Pustaka
BAB I

PENDAHULUAN

a. Latar belakang masalah

Salah satu metode analisis kuantitatif adalah titrasi iodatometri. Titrasi ini merupakan
prosedur penentuan iodida menggunakan metode iodatometri, titrasi dilakukan dalam suasana
asam, peniter yang digunakan adalah kalium iodat dan indikator yang digunakan adalah
kloroform. Titik akhir titrasi ditandai dengan menghilangnya warna ungu pada lapisan organik.
Iodium larut dalam kloroform dan membentuk larutan berwarna ungu. pengoksidasi kuat dapat
dianalisis dengan menambahkan KI berlebihan dan menitrasi iod yang dibebaskan karena banyak
zat pengoksid yang menuntut larutan asam untuk bereaksi dengan iodide.
Reaksi ini lambat dalam larutan netral, namun lebih cepat dalam asam dan dipercepat
oleh UV. Setelah penambahan KI kedalam suatu larutan asam suatu zat pengoksida larutan tidak
boleh dibiarkan terlalu lama bersentuhan dengan udara , karena akan berbentuk tambahan iod
oleh reaksi terlalu diatas. Nitrit tidak boleh ada, karena garam ini akan direduksi oleh ion
iodide menjadi Nitrogen monoksida , yang kemudian dioksidasi kembali menjadi nitrit oleh
oksigen dari udara. KI haruslah bebas dari iodat , karena kedua zat ini dalam suasana asam akan
bereaksi dengan melepaskan iod.
Garam kalium iodidat mengoksidasi iodide menjadi iod secara kuantitatif dalam larutan
asam.Reaksi iodat sangat kuat, reaksi ini hanya membutuhkan sedikit sekali kelebihan ion
Hidrogen untuk melengkapi reaksi kekurangan utama iodat sebagai standar primer adalah BE-
nya rendah.
Pada proses titrasi ini, digunakan suatu indicator yaitu suatu zat yang ditambahkan
sampai seluruh reaksi selesai dinyatakan dengan perubahan warna, menandakan telah
tercapainya titik akhir titrasi.
b. Rumusan masalah
 Apa itu reaksi iodatometri ?
 Bagaimana azas titrasi iodatometri
 Bagaimana prosedur pembakuan dan penetapan kadar dengan metode Iodatometri ?

c. Tujuan masalah
 Mengetahui devinisi titrasi iodatometri
 Mengetahui azas titrasi iodatometri
 Mengetahui cara prosedur pembakuan dan penetapan kadar dengan titrasi iodatometri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Devinisi Iodatometri

Iodatometri adalah titrasi yang dilakukan secara langsung dengan menggunakan larutan
KIO3-. Iodat merupakan oksidator yang lebih kuat daripada iodium, dimana reaksi oksidasi
berlangsung dalam suasana asam dan iod yang terbentuk dapat ditunjukkan dengan suatu
indikator.

Larutan kalium iodat dibuat dengan melarutkan sejumlah tertentu kalium iodat dalam air
secukupnya. Kalium iodat dapat diperoleh dalam keadaan murni dan bersifat stabil sehingga
larutan ini tidak perlu dibakukan kembali. Larutan baku kalium iodat tidak menggunakan
normalitas akan tetapi molaritas karena normalitasnya dapat bermacam-macam, tergantung
reaksinya. Dalam hal ini, maka reduksi kalium iodat menjadi iodida tidak bisa seragam
sebagaimana klaium bromat. Pada reaksi berikut:

IO3- + 6H+ + 6e ⇌ I- + 3H2O (I)

maka 1 mol kalium iodat setara dengan 6 elektron akibatnya valensinya adalah 6 sehingga 0,05
M sama dengan 0,3 N, akan tetapi jika digunakan kelebihan kalium iodat maka yang terjadi pada
reaksi (I) akan terbentuk iodium, sehingga kelebihan iodat dan iodium dapat ditetapkan secara
iodometri. Reduksi iodat menjadi iodium dapat ditulis dengan reaksi sebagai berikut:

2IO3- + 12H+ +10e → I2 + 6H2O (II)

Pada reaksi (II) ini maka 2 mol iodat setara dengan 10 elektron sehingga valensinya 5 akibatnya
larutan 0,05 N setara dengan 0,25 N. Reaksi ini tidak digunakan untuk penetapan resmi.

Dengan beberapa persyaratan, maka hasil reduksi iodat menjadi iodida dan iodium
(Reaksi I dan II) dapat diubah menjadi I+ secara kuantitatif. Pada penggunaannya dalam titrasi,
pengubahan menjadi I+ dilakukan dengan memberikan konsentrasi HCl yang agak tinggi. Iodium
yang mula-mula terbentuk ari kalium iodat mengalami solvalisis dalam pelarut polar menurut
reaksi berikut:

I2 ⇌ I+ + I-
Dengan adanya konsentrasi HCl yang cukup maka kation iodium membentuk
iodomonoklorida yang kemudian terjadi stabilisasi dengan membentuk ion kompleks menurut
reaksi:

I- + HCl ⇌ ICl+ + H+

Cl + HCl ⇌ ICl2- + H+

I+ + 2HCl ⇌ ICl2- + 2H+

Pembentukan iodo monoklorida inilah yang digunakkan dalam penetapan kadar beberapa
zat reduktor. Pada cara ini maka reaksi reduksinya berjalan sebagai berikut:

IO3- + 6H+ + 4e ⇌ I - + 3H2O

Pada reaksi ini maka 1 mol iodat setara dengan 4 elektron sehingga valensinya adalah 4,
akibatnya 0,05 M sama dengan 0,2 N.

Pada penetapan kadar dengan kalium iodat digunakan kloroform atau karbon tetraklorida
untuk menetapkan titik akhirnya. Pada permulaan titrasi ketika terbentuk iodium maka
permukaan kloroform menjadi berwarna, setelah semua zat pereduksi sudah dioksidasi maka
iodat dan iodidanya bereaksi dengan I- sehingga warna dari lapisan kloroform akan hilang. Disini
tidak digunakan larutan kanji, karena pada keasaman yang tinggi tidak terbentuk warna biru dari
kompleks kanji-oidium. Selain pelarut organik, dapat juga digunakan zat warna tertentu seperti
amaranth, brilianth Ponceau dan sebagainya.

B. Azas Iodatometri
- KIO3 oksidator cukup kuat
- Mampu mengoksidasi I- dan I2

C. Prosedur pembakuan dan penetapan kadar


Pembakuan KIO3
Larutan baku KIO3 dibuat langsung
KIO3 (VN) + KI I2 di titrasikan dengan Na2S2O3 baku (bisa dipakai untuk pembakuan
Na2S2O3)
KI (sebagai baku) di titrasi

1. Pembuatan larutan HCL 2N 200 ml

1. Dipipet teliti larutan HCL 33,16 ml


2. Dimasukkan kedalam labu tentukur 200 ml yang telah berisi sedikit aquadest
3. Dicukupkan volumenya sampai tanda batas
4. Dikocok homogan
5. Diberi etiket

2. Penetapan Kadar KI

a. Suasana HCl 1 N

KIO3 + 5 KI + 6 HCl → 3 I2 + 6KCl + 3H2O..............(1)

b. Suasana HCl ≥ 4 N

KIO3 + 2 I2 + 6 HCl → 5 ICl + KCl + 3 H2O..............(2)

Titrasi KI:

Suasana HCl ≥ 4N:

HIO3+ 5 HI → 3I2 + 3H2O...........................(a)

HIO3+ 2I2+ 5HCl→ 5 ICl + 3H2O...............(b)

(a) sewaktu titrasi makin coklat (I2)

(b) lanjutan titrasi menghasilkan warna kuning muda: tambahkkan larutan amaranth:

merah → kuning muda ( atau pelarut organik: CHCl3, CCl4 )


3. KIO3 0,05 N. ( FI. Ed III hal 747)

Pembuatan : Timbang saksama 10,700 g kalium iodat P yang telah dikeringkan pada suhu 1000
hingga bobot tetap tetap, larutkan dalam air secukupnya hingga 1000,0 ml

 Untuk pembuatan KIO3 0,1 N 100 ml


Timbang saksama 2,14 gram kalium iodat P yang telah dikeringkan pada suhu 1000C
hingga bobot tetap, larutkan dalam air secukupnya hingga 100 ml

4. Penetapan Kadar Vitamin C

( Analisis Kuantitatif Bahan Baku dan Sediaan Farmasi hal. 364 )

50 tablet ditimbang dengan teliti, lalu dibubuk dalam lumpang dan diaduk sampai
tercampur homogen. Kemudian sejumlah dari bubuk itu yang kira-kira mengandung 200 mg
vitamin C, ditimbang dengan seksama dan dimasukkan ke dalam gelas kimia, ditambahkan aqua
bidestilata 20 ml dan diaduk hingga rata, selanjutnya disaring dengan corong buchner. Gelas
kimia dan residu dicuci tiga kali 10 ml aquabidestilata. Seluruh filtrat di asamkan dengan 2 N
HCL (± 25 ml). Setelah ditambahkan 10 ml CCl4 atau CHCl3 akhirnya dititrasi dengan larutan
KIO3 sampai larutan CHCl3 mulai berwarna ungu ( Titik Akhir I) .Kemudian keasaman
dipertinggi 5 N atau lebih lalu dititrasi dilanjutkan hingga lapisan CHCl3 hilang warnanya (Titik
Akhir 2)

KIO3 + HCl → HIO3 + KCl


Pada penetapan kadar vitamin C dengan iodatometri, digunakan kalium iodat sebagai
peniter. Indikator yang digunakan adalah CCl4 atau CHCl3 untuk menetapkan titik akhirnya.
Pada titik akhir titrasi pertama akan terbentuk warna ungu kemudian keasaman dipertinggi 5N
lalu dititrasi kembali hingga lapisan CHCl3 hilang warnanya.
Kesimpulan

1. Iodatometri adalah titrasi yang dilakukan secara langsung dengan menggunakan KIO3-.

2. Iodat merupakan oksidator yang lebih kuat daripada iodium.

3.Reaksi oksidasi berlangsung dalam suasana asam dan iod yang terbentuk dapat ditunjukkan
dengan suatu indikator

4. Digunakan pelarut organik yang tidak bercampur dengan air (CCl4 atau CHCl3) sebagai
indikator.

5. Selain pelarut organik, dapat juga digunakan zat warna tertentu seperti amaranth, brilianth
Ponceau dan sebagainya.

6. Pada permulaan titrasi ketika terbentuk iodium maka permukaan kloroform menjadi berwarna,
setelah semua zat pereduksi sudah dioksidasi maka iodat dan iodidanya bereaksi dengan I-
sehingga warna dari lapisan kloroform akan hilang.

7. Tidak digunakan larutan kanji, karena pada keasaman yang tinggi tidak terbentuk warna biru
dari kompleks kanji-iodium.

8. Penetapan kadar vitamin C dan KI merupakan contoh titrasi iodatometri


DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI.,1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Ditjen POM RI. Jakarta

Gandjar, I dan Rohman A., 2007, Kimia Farmasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar.Yogyakarta

Harmita., 2006. Analisis Kuantitatif Bahan Baku dan Sediaan Farmasi. Universitas Indonesia.
Jakarta

Anda mungkin juga menyukai