Anda di halaman 1dari 51

MATERI PENDIDIKAN ANGGOTA TDM

Nama : ..........................................................................
NPM : ..........................................................................
No. Telp/Hp : ....................................................................................
Fak/Angktn : ....................................................................................

TIM DARURAT MEDIK UNIVERSITAS YARSI


2018 – 2019

1
LATAR BELAKANG

Assalamualaikum wr. wb.

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
untuk semua ciptaan-Nya, shalawat serta salam selalu tercurah bagi nabi kita Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan ke zaman
terang benderang seperti saat ini.

Dianggap perlunya dibentuk untuk meningkatkan komposisi tiap – tiap anggota


Tim Darurat Medik Universitas YARSI agar dapat menyesuaikan standar kompetensi
Tim Bantuan Medis yang sederajat. Juga karena kurangnya jaringan koordinasi
tanggap bencana dan penanggulan bencana, membuat kami ingin mengadakan
pelatihan bersama dengan intstitusi kegawat daruratan dapat menjadi acuan bagi Tim
Darurat Medik Universitas YARSI, agar dapat menjadi Tim Darurat Medik yg
berkualitas.

Wassalamualaikum wr. wb.

Jakarta, November 2018


Tim Darurat Medik Universitas Yarsi

Pembina Tim Darurat Medik

dr. Edi Prasetyo, Sp. S

2
DAFTAR ISI

Kata pengantar
………………………………………………………………………………………………..2
Daftar Isi
………………………………………………………………………………………..............3
Sejarah Tim Darurat Medik
………………………………………………………………………………………………..4
Initial assessment
………………………………………………………………………………………………..7
Bedah Minor
………………………………………………………………………………………………14
Keadaan Gawat Darurat
………………………………………………………………………………………………17
Fraktur
………………………………………………………………………………………………25
Pembalutan
………………………………………………………………………………………………36
Bidai
………………………………………………………………………………………………41
Tandu
………………………………………………………………………………………………

3
SEJARAH TDM
Tim Darurat Medik Universitas Yarsi

Latar belakang
Sekelompok mahasiswa profesi (drs. Med) STK YARSI 1973-1977 :
 Dr. H. Nizamuddin
 Dr. H. Aminuddin Saad, Sp.J
 Dr. H. Jopizal Janis, Sp.S
 Dr. Marwatal Hutajulu, Sp.S
 Dr. H. Zahlul Adli
 Dr. H. M. Abduh
 Dr. Fahri
 Dr. Marnis Rosmawi
 Dr. H. M. Syamsir
 Dr. Afif Abbas

Mereka membentuk wadah Tim Medis Gerak Cepat STK YARSI. Tim ini disiapkan dan
dapat langsung terjun pada saat kegiatan bakti sosial, bencana alam, sunatan massal,
pengobatan massal, berdasarkan ilmu kedokteran dan bersyariatkan Islam.

Berbagai penugasan baik di dalam maupun di luar kota Jakarta telah dilakukan, sehingga
pada waktu itu mahasiswa STK YARSI bersaing dengan sejumlah mahasiswa Fakultas
Kedokteran Swasta di DKI Jakarta saat itu.

Namun dalam kurun waktu yang singkat, kelompok Tim Medis Gerak Cepat STK YARSI
berangsur berkurang seiring dengan telah selesainya pendidikan dokter sehingga mereka
berpencar sesuai penugasan di masyarakat.

Era Mahasiswa Sekolah Tinggi Universitas YARSI

Dalam kurun waktu 1977, sekelompok mahasiswa STK YARSI mendirikan KARPAL
(Keluarga Pecinta Alam) seperti :
 Dr. H. Umar Basri
 Dr. H. Tjetjep Ali Akbar
 Dr. H. Laode Sufri Asadih
 Dr. H. Iwan Hasibuan
 Dr. Abdul Al-Djannah
 Dr. H. Ahmad Husein
 Dr. Maulana Iriantoro
 Dr. H. M. Noeh Ismail (alm)
 Cut Murniati
 Rina Ismairia
 Dr. Afif Abbas
4
 Dr. H. Hazrul Zamzami
 Dr. H. Sutedjo RN (alm)
 Dr. Zainuddin AF
 Dr. H. Muzwar Anwar
 Dr. H. Gatot Soeryo K,MM

Dengan bertambahnya waktu dan bertambahnya kebutuhan mahasiswa akan ilmu kedokteran
yang terus berkembang dan kegiatan sosial yang semakin banyak, maka pada kurun tahun
1985; sekelompok mahasiswa stk yarsi:
 Dr. H. Tjetjep Ali Akbar (ketua)
 Dr. H. Achmad Sofwan, Mkes,PA
 Dr. H. Muzwar Anwar
 Dr. Abdul Al-Djannah
 Dr. H. Gatot Soeryo K,MM
 Dr. H. Laode Sufri Asadih
 Dr. Zainuddin AF
 Dr. Hendrikson
 Dr. Afif Abbas
 Dr. H. Rusman Effendi
 Dr. Wawan Satriawan
 Dr. Imam Zahro Hanafi

Mengingat permintaan masyarakat yang begitu besar akan kemampuan mahasiswa STK
YARSI dalam kegiatan bakti sosial, bencana alam dan sunatan massal dll. Maka pada suatu
perkenalan KEMAH BAKTI di Cidahu, Sukabumi pada bulan September 1985, kami
ikrarkan dan sepakat untuk membentuk Badan Otonom di lingkungan Ikatan Mahasiswa STK
YARSI yang bekerja sama dengan Senat Mahasiswa STK YARSI yaitu TIM DARURAT
MEDIS Kedokteran YARSI. Tentunya kegiatan ini tidak bertentangan dengan Anggaran
Dasar / Anggaran Rumah Tangga Ikatan Mahasiswa STK YARSI.

Era Mahasiswa Fakultas Kedokteran YARSI


Sesuai dengan berkembangannya STK YARSI menjadi Universitas YARSI pada tahun
akademik 1989/1990 sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan (RIP) Universitas YARSI
1988/1989-1998/1999, maka dibuka 3 fakultas baru yaitu, Hukum, Ekonomi dan Teknologi
Informasi, sehingga STK YARSI berubah menjadoi Fakultas Kedokteran Universitas
YARSI.
Dalam perjalanan waktu, kegiatan yang berjalan baik di dalam maupun di luar Jakarta,
banyak sudah yang dikerjakan sesuai dengan program kerja TIM DARURAT MEDIK FKUY
hingga 1998.
Data alumni dan anggota Tim Darurat Medik FKUY dapat dilihat di sekretariat. Semua
kegiatannya punSudah cukup memadai dan pengembangannya lebih lanjut.

5
Era Mahasiswa YARSI
Sesuai Surat Keputusan Rektor Universitas YARSI tentang peresmian menjadi unit kegiatan
Mahasiswa TIM DARURAT MEDIK UNIVERSITAS YARSI No.007/REK/KEP//III/1999,
tanggal 23 Maret 1999, Jakarta.

INITIAL ASSESSMENT

Tim Darurat Medik Universitas YARSI

Initial Assessment adalah proses penilaian awal pada penderita trauma disertai
pengelolaan yang tepat guna untuk menghindari kematian.
Initial assesment meliputi :
1. Persiapan
2. Triase
3. Primary survey (DRABCDE)
4. Tambahan terhadap primary survey dan resusitasi
5. Secondary survey (anamnesis dan pemeriksaan fisik)
6. Tambahan terhadap secondary survey
7. Pertimbangkan kemungkinan rujukan
8. Pemantauan dan reevaluasi berkesinambungan
9. Penanganan definitif
Urutan dari initial assessment diterapkan secara berurutan atau sekuensial, akan
tetapi dalam praktek sehari-hari dapat dilakukan secara bersamaan atau simultan.

1. Persiapan
Persiapan pada penderita berlangsung dalam dua fase yang berbeda, yaitu fase
pra rumah sakit / pre hospital, dimana seluruh penanganan penderita berlangsung
dalam koordinasi dengan dokter di rumah sakit. Fase kedua adalah fase rumah
sakit/hospital dimana dilakukan persiapan untuk menerima penderita sehingga
dapat dilakukan resusitasi dengan cepat.
a. Fase pra rumah sakit
Koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dengan petugas di lapangan
akan menguntungkan penderita. Pada fase pra rumah sakit, hal yang perlu
diperhatikan adalah penjagaan airway, breathing, dan circulation.
Waktu di tempat kejadian (scene time) yang lama harus dihindari. Selain itu
juga penting mengumpulkan keterangan yang nanti dibutuhkan di rumah sakit,
seperti waktu kejadian, sebab kejadian, mekanisme kejadian, serta riwayat
penderita. Sehingga dapat ditentukan jenis dan berat dari trauma.
b. Fase rumah sakit
Pada fase rumah sakit perlu dilakukan perencanaan sebelum penderita tiba,
sebaiknya ada ruangan khusus resusitasi serta perlengkapan airway
(laringoskop, endotracheal tube) yang sudah dipersiapkan. Selain itu, perlu

6
dipersiapkan cairan kristaloid (mis : RL) yang sudah dihang atkan,
perlengkapan monitoring serta tenaga laboratorium dan radiologi. Semua
tenaga medik yang berhubungan dengan penderita harus dihindarkan dari
kemungkinan penularan penyakit menular dengan cara penganjuran
menggunakan alat-alat protektif seperti masker/face mask, proteksi
mata/google, baju kedap air, sepatu dan sarung tangan kedap air .

2. Triase
Triase adalah cara pemilahan penderita berdasarkan kebutuhan terapi dan
sumber daya yang tersedia. Terapi didasarkan pada prioritas ABC ( Airway dengan
kontrol vertebra servikal), Breathing, dan Circulation dengan kontrol perdarahan.
Triase juga berlaku untuk pemilahan penderita di lapangan dan rumah sakit yang
akan dirujuk. Dua jenis keadaan triase yang dapat terjadi:
a. Multiple Casualties
Musibah massal dengan jumlah penderita dan beratnya perlukaan tidak
melampaui kemampuan rumah sakit. Dalam keadaan ini penderita dengan
masalah yang mengancam jiwa dan multi trauma akan dilayani terlebih
dahulu.
b. Mass Casualties
Musibah massal dengan jumlah penderita dan beratn ya luka melampaui
kemampuan rumah sakit. Dalam keadaan ini yang akan dilakukan penanganan
terlebih dahulu adalah penderita dengan kemungkinan survival yang terbesar,
serta membutuhkan waktu, perlengkapan dan tenaga yang paling sedikit.
Triase merah: misalnya pada kasus fraktur cearvical dan perdarahan aktif
- Triase kuning: misalnya pada kasus fraktur tertutup pada ekstremitas
- Triase hijau: misalnya saat pasien hanya mengalami luka ringan
- Triase hitam: pasien meninggal dunia

3. Primary Survey
Primary survey dilakukan untuk menilai keadaan penderita daan
prioritas terapi berdasarkan jenis perlukaan, tanda -tanda vital dan mekanisme
trauma. Pada primary survey dilakukan usaha untuk mengenali keadaan yang
mengancam nyawa terlebih dahulu dengan berpatokan pada uru tan berikut :

Pra Rumah Sakit/Pre Hospital

D : Danger (Penilaian Situasi)


Sebelum melakukan RJP adalah menilai situasi apakah keadaan lingkungan cukup
aman bagi penolong, misal adanya bahan toksik, aliran listrik, bahan peledak atau
bangunan runtuh. Pastikan keselamatan penolong dan pasien terjamin

R : Responsive (Penilaian Respon)


Penilaian respon dilakukan setelah penolong yakin bahwa dirinya sudah aman untuk
melakukan pertolongan. Penilaian respon dilakukan dengan menepuk-nepuk dan

7
menggoyangkan penderita sambil berteriak memanggil penderita. Hal yang perlu
diperhatikan setelah melakukan penilaian respon penderita:

1. Bila penderita menjawab atau bergerak maka usahakan tetap


mempertahankan
2. Posisinya seperti diawal atau diposisikan ke dalam posisi mantap
(recovery position) sambil terus melakukan pemantauan tanda-tanda vital
sampai bantuan datang.

Posisi pemulihan merupakan pertolongan yang bertujuan untuk


mempertahankan jalan napas bebas dari sumbatan pangkal lidah dan memperkecil
kemungkinan aspirasi isi lambung/ muntahan. Posisi ini juga dapat dilakukan ketika
pasien telah sadar setelah mendapat penanganan airway, breathing, dan circulation.

A : Airway
Yang pertama kali harus dinilai adalah kelancaran jalan nafas. Hal ini
meliputi pemeriksaan adanya obstruksi jalan nafas yang disebabkan oleh
benda asing, fraktur tulang wajah, fraktur mandibula atau maxilla, fraktur
laring/trakhea.

Pembukaan jalan nafas secara manual


Teknik dasar pembukaan jalan nafas atas adalah dengan mengangkat
kepala dan mendorong rahang bawah kedepan atau disebut head tilt chin lift
(Gambar 1). Teknik dasar ini akan efektif bila obstruksi jalan nafas
disebabkan oleh lidah atau relaksasi otot pada jalan nafas.
Nila pasien yang menderita trauma diduga mengalami cedera l eher,
lakukan penarikan rahang tanpa mendorong kepala (Gambar 2). Karena
mengelola jalan nafas yang terbuka dan memeberikan ventilasi merupakan
prioritas, maka gunakan dorong kepala-tarik dagu bila penarikan rahang saja
tidak membuka jalan nafas.

8
Gambar 1: Tehnik head tilt chin lift Gambar 2: Tehnik jaw thrust dengan menarik
dengan mendorong kepala- tarik dagu rahang tanpa mendorong kepala dilakukan bila
akan mengangkat lidah. pasien diduga mengalami fraktur servikal.

Jika dicurigai ada kelainan pada vertebra servikalis berupa fraktur maka harus
dipasang alat immobilisasi serta dilakukan foto lateral servikal.

Pada penderita yang masih sadar dapat dipakai nasofaringeal airway. Bila
penderita tidak sadar dan tidak ada refleks batuk (gag refleks) dapat dipakai
orofaringeal airway

B : Breathing
Airway yang baik tidak menjamin ventilasi yang baik. Ventilasi yang baik
meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan diafragma. Dada
penderita harus dibuka untuk melihat ekspansi pernafasan dan dilakukan
auskultasi untuk memastikan masuknya udara ke dalam paru. Perkusi
dilakukan untuk menilai adanya udara atau darah dalam rongga pleura.
Sedangkan inspeksi dan palpasi dapat memperlihatkan kelainan dinding dada
yang mungkin mengganggu ventilasi.
Trauma yang dapat mengakibatkan gangguan ventilasi yang berat adalah
tension pneumothoraks, flailchest dengan kontusio paru dan open
pneumotoraks. Sedangkan trauma yang dapat mengganggu ventilasi dengan
derajat lebih ringan adalah hematothoraks, simple pneumothoraks, patahnya
tulang iga, dan kontusio paru.

C : Circulation
Volume darah dan cardiac output
Perdarahan merupakan sebab utama kematian yang dapat diatasi dengan terapi
yang cepat dan tepat di rumah sakit. Suatu keadaan hipotensi pada trauma
harus dianggap disebabkan oleh hipovolemia sampai terbukti sebaliknya.
Dengan demikian maka diperlukan penilaian yang cepat dari status
hemodinamik penderita yang meliputi :

9
a. Tingkat kesadaran
Bila volume darah menurun, perfusi otak dapat berkurang yang
mengakibatkan penurunan kesadaran.
b. Warna kulit
Wajah pucat keabu-abuan dan kulit ekstremitas yang pucat meruoakan
tanda hipovolemia.
c. Nadi
Perlu dilakukan pemeriksaan pada nadi yang besar seperti arteri femoralis
atau arteri karotis kiri dan kanan untuk melihat kekuatan nadi, kecepatan,
dan irama. Nadi yang tidak cepat, kuat, dan teratur, biasanya merupakan
tanda normovolemia. Nadi yang cepat dan kecil merupakan tanda
hipovolemia, sedangkan nadi yang tidak teratur merupakan tanda
gangguan jantung. Apabila tidak ditemukan pulsasi dari arteri besar maka
merupakan tanda perlu dilakukan resusitasi segera.

Rumah Sakit/Hospital

D : Disability/neurologic evaluation
Pada tahapan ini yang dinilai adalah tingkat kesadaran, ukuran dan reaksi
pupil, tanda-tanda lateralisasi dan tingkat atau level cedera spinal. GCS /
Glasgow Coma Scale adalah sistem skoring sederhana dan dapat meramal
outcome penderita. Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh penurunan
oksigenasi atau/dan penurunan perfusi ke otak, atau disebabkan trauma
langsung.

Tabel. 1 penilaian Glasgow Coma Scale

Tes Reaksi Skor


Membuka mata spontan 4
Membuka mata karena perintah 3
Respon Membuka Mata
Membuka mata karena rangsangan nyeri 2
Tidak ada respon (Tidak Membuka Mata
1
Sama Sekali)
Orientasi baik dan dabat berbicara 5
Bingung 4
Respon Verbal Terbaik Kata-kata tidak sesuai/ tidak tepat 3
Suara tidak jelas (Menggumam) 2
Tidak ada respon 1
Mematuhi/ mengikuti perintah 6
Melokalisir nyeri (melindungi daerah
5
nyeri)
Respon Motorik Terbaik Menghindar 4
Fleksi abnormal 3
Ekstensi abnormal 2
Tidak ada gerakan/respon 1

10
E : Exposure/environmental
Penderita harus dibuka keseluruhan pakaiannya, biasanya dengan cara
menggunting dengan tujuan memeriksa dan mengevaluasi penderita. Setelah
pakaian dibuka penderita harus diselimuti agar tidak kedinginan.
Resusitasi yang agresif dan pengelolaan cepat pada yang mengancam nyawa
merupakan hal yang mutlak bila ingin penderita tetap hidup.

Bila ada gangguan sirkulasi harus dipasang minimal dua IV line. Kateter IV
yang dipakai harus berukuran besar. Pada awalnya sebaiknya menggunakan
vena pada lengan. Selain itu bisa juga digunakan jalur IV line yang seperti
vena seksi atau vena sentralis. Pada saat memasang kateter IV harus diambil
contoh darah untuk pemeriksaan laboratorium rutin serta pemeriksaan
kehamilan pada semua penderita wanita berusia subur.
Pada saat datang penderita diinfus cepat dengan 2-3 liter cairan kristaloid,
sebaiknya Ringer Laktat. Bila tidak ada respon, berikan darah segulungan
atau (type specific). Jangan memberikan infus RL dan transfusi darah terus
menerus untuk terapi syok hipovolemik. Dalam keadaan harus dilakukan
resusitasi operatif untuk menghentikan perdarahan .

4. Tambahan pada primary survey dan resusitasi

A. Monitor
Monitoring hasil resusitasi sebaiknya didasarkan pada penemuan klinis seperti
laju nafas, nadi, tekanan nadi, tekanan darah, ABG (Arterial Blood Gases),
suhu tubuh dan keluaran (output) urin hasil pemeriksaan di atas harus didapat
secepatnya setelah menyelesaikan survei primer.
1. Laju nafas dan ABG dipakai untuk menilai airway dan breathing. ETT
dapat berubah posisi pada saat penderita berubah posisi. Alat pengukur
CO 2 secara kolorimetrik mengukur End-Tidal CO 2 dan merupakan cara
yang baik untuk menetapkan bahwa posisi ETT dalam trakhea, dan bukan
dalam esofagus. Penggunaan alat ini tidak dapat menentukan bahwa letak
ETT sudah tepat.
2. Penggunaan Pulse oximetri mengukur kadar O 2 saturasi, bukan PaO 2 .
Suatu sensor diletakkan pada ujung jari atau cuping telinga, dan kemudian
mengukur saturasi

B. Monitor EKG : dipasang pada semua penderita trauma.

C. Kateter urin dan lambung


 Kateter uretra

11
Produksi merupakan indikator yang peka untuk menilai keadaan perkusi
ginjal dan hemodinamik penderita. Kateter urin jangan dipasang jika
dicurigai ada ruptur uretra yang ditandai dengan :
1. Adanya darah di orifisium uretra eksterna (metal bleeding)
2. Hematom di skrotum atau perineum
3. Pada Rectal Toucher, prostat letak tinggi atau tidak teraba.
4. Adanya fraktur pelvis.
Bila dicurigai ruptur uretra harus dilakukan uretrogram terlebih dahulu.

 Kateter lambung atau NGT


Kateter lambung dipakai untuk mengurangi distensi lambung dan
mengurangi kemungkinan muntah. Isi lambung yang pekat mengakibatkan
NGT tidak berfungsi, lagipula pemasangannya sendiri dapat mengakibatkan
muntah. Darah dalam lambung dapat disebabkan darah tertelan,
pemasangan NGT yang traumatik atau perlukaan lambung. Bila lamina
kribosa patah atau diduga patah, kateter lambung harus dipasang melalui
mulut untuk mencegah masuknya NGT dalam rongga otak. Dalam keadaan
ini semua pipa jangan di masukkan lewat jalur naso-faringeal.

5. Secondary Survey
Secondary survey hanya dilakukan bila ABC pasien sudah stabil.
bila sewaktu secondary survey kondisi pasien memburuk maka kita harus
kembali mengulangi PRIMARY SURVEY.

Pemeriksaan dari kepala sampai ke jari kaki (head-to-toe examination)


dilakukan dengan perhatian utama :

Pemeriksaan kepala

a. Kelainan kulit kepala dan bola mata


b. Telinga bagian luar dan membrana timpani
c. Cedera jaringan lunak periorbital

Pemeriksaan leher

a. Luka tembus leher


b. Emfisema subkutan
c. Deviasi trachea
d. Vena leher yang mengembang

Pemeriksaan neurologis

a. Penilaian fungsi otak dengan Glasgow Coma Scale (GCS)


b. Penilaian fungsi medula spinalis dengan aktivitas motorik
c. Penilaian rasa raba / sensasi dan refleks Pemeriksaan dada
d. Clavicula dan semua tulang iga

12
e. Suara napas dan jantung
f. Pemantauan ECG (bila tersedia)

Pemeriksaan rongga perut (abdomen)

a. Luka tembus abdomen memerlukan eksplorasi bedah


b. Pasanglah pipa nasogastrik pada pasien trauma tumpul abdomen kecuali bila ada
trauma wajah
c. Periksa dubur (rectal toucher)
d. Pasang kateter kandung seni jika tidak ada darah di meatus externus

Pelvis dan ekstremitas

- Cari adanya fraktura (pada kecurigaan fraktur pelvis jangan melakukan


tes gerakan apapun karena memperberat perdarahan)
- Cari denyut nadi-nadi perifer pada daerah trauma
- Cari luka, memar dan cedera lain

Pemeriksaan sinar-X (bila memungkinkan) untuk :

- Dada dan tulang leher (semua 7 ruas tulang leher harus nampak)
- Pelvis dan tulang panjang
- Tulang kepala untuk melihat adanya fraktura bila trauma kepala tidak
disertai defisit neurologis fokal
- Foto atas daerah yang lain dilakukan secara selektif.
- Foto dada dan pelvis mungkin sudah diperlukan sewaktu survei primer

13
BEDAH MINOR
Tim Darurat Medik Universitas YARSI

Instrument
A. Minor Set biasanya terdiri dari :

No. Alat Gambar


1 Gunting

Gunting (tajam-tajam, tajam-tumpul, tumpul-


tumpul)
2. Klem
a. klem arteri lurus dan
bengkok (mosquito) =
untuk hemostasis
b. klem kocher untuk
menjepit kulit
c. doek klem untuk menjepit
doek (memperkecil
lapangan operasi) (a) (b) (c)

3. Pinset
a. anatomis = ujungnya rata,
berguna untuk menjepit
A
jaringan tipis dan lunak
b
b. chirurgis = salah satu
ujungnya bergigi, berguna
untuk menjepit kulit atau
fascia
4. Needle Holder (pemegang
jarum dan penyimpul benang)

14
4. Jarum
a. bulat (round) = untuk
menjahit jaringan lunak
(otot dan fascia)
b. segitiga (cutting) = untuk a b
menembus jaringan keras
(kulit dan tendo)
5. Benang
a. diserap
1) bahan alami = catgut
(plain catgut, chromic
catgut)
2) bahan sintetis = dari
asam
poliglikolat:dexon ;dari
asam poliglaktil: vicryl
b. tidak diserap
1) bahan alami = silk
(sutera)
2) bahan sintetik = dari
polyamide/nylon:ethilo
n ; dari polipropilene :
prolene.
Ukuran benang disebutkan
dalam banyaknya angka 0 atau
angka 1,2,3 dan seterusnya→
Makin banyak angka 0 makin
kecil, makin tinggi angka
makin besar diameternya.
7. Skalpel (pemegang pisau)
a. no.3 untuk mata pisau 20
ke bawah (10,11,15)
b. no.4 untuk mata pisau 20
ke atas (22)

15
8. Bisturi (mata pisau)
Untuk menyayat permukaan
kulit

9. Doek Steril

10. Spet/spuit

B. Desinfektan kulit = alkohol 70%, povidone iodine → dilakukan dengan kapas atau kassa
steril dari central ke perifer.
C. Kassa = untuk pembersih luka, penyerap cairan/darah, dan penutup luka.
D. Plester
E. Sarung tangan steril = laki-laki dewasa umumnya berukuran 7 ½, sedangkan wanita
dewasa umumnya berukuran 6 ½

16
Cara Memegang Alat
1. Instrument tertentu seperti pemegang jarum,
gunting dan pemegang kasa: yaitu ibu jari dan
jari keempat sebagai pemegang utama,
sementara jari kedua dan ketiga dipakai untuk
memperkuat pegangan tangan. Untuk membuat
simpul benang setelah jarum ditembuskan pada
jaringan, benang dilingkarkan pada ujung
pemegang jarum.
2. Pinset lazim dipegang dengan tangan kiri, di
antara ibu jari serta jari kedua dan ketiga.
Jarum dipegang di daerah separuh bagian
belakang.
3. Sarung tangan dipakai menurut teknik tanpa
singgung.

17
KEADAAN GAWAT DARURAT
Tim Darurat Medik Univesitas Yarsi

I. TERSEDAK

Tersedak terjadi ketika benda asing bersarang di tenggorokan menghalangi


aliran udara. Pada orang dewasa, mayoritas terjadinya akibat sepotong
makanan. Sedangkan anak kecil sering menelan benda-benda kecil. Karena
tersedak memotong oksigen ke otak, berikan pertolongan pertama secepat
mungkin.

Tanda-tanda :
Korban itu,
 Memegangi tenggorokannya (tanda universal)
 Tidak dapat berbicara
 Sulit bernapas atau napas yang berisik
 Menunjukkan tanda-tanda kecemasan dan panic yang mencolok
 Batuk, dapat terjadi dengan sengaja atau lemah
 Kulit, kuku, dan bibir berubah menjadi biru atau kadang kelabu atau
pucat
 Pingsan

BACK BLOW / BACK SLAPS


 Tahan korban dari belakang
 Posisikan korban sedikit condong kedepan
 Segara berikan hentakan / pukulan secara mendadak dan keras
sebanyak 5 kali pada titik silang garis imajinasi antar tulang belakang
dengan garis antar belikat

Heimlich Manuever/ abdominal thrusts.


Berdirilah dengan kaki terpisah, untuk membuat bentuk "tripod" apabila korban
pingsan atau kehilangan kesadaran (posisi ini akan membantu Anda menangkapnya
dan menstabilkan kejatuhannya dengan cepat).
◦ Raih korban dari belakang. Lingkari perut korban dengan tangan Anda.
◦ Buat kepalan dengan tangan dominan Anda. Jempol harus mengarah ke dalam
kepalan tangan. Letakkan kepalan ini tepat di atas pusar korban dan di bawah
tulang dada.
Bungkus dengan kuat kepalan tangan Anda dengan tangan yang lain. Pastikan Anda
menjauhkan jempol dari tubuh korban, untuk menghindari cidera pada tubuhnya.

◦ Tarik ke arah dalam dan ke atas, menekan ke dalam perut korban dengan
dorongan ke atas, menggunakan kekuatan yang cukup. Buat gerakan seperti
huruf "J" – ke dalam, kemudian ke atas.

18
◦ Lakukan dorongan dengan cepat dan kuat, seperti Anda mencoba mengangkat
korban dari lantai (menggendong).
◦ Lakukan dorongan ke perut 5 kali dengan cepat. Ulangi dorongan hingga
objek lolos dan terlempar keluar. Korban akan terbatuk mengeluarkan objek
yang menutup jalan pernapasannya apabila tindakan ini berhasil.
◦ Gunakan kekuatan lebih sedikit apabila korbannya seorang anak kecil.
Apabila korban kehilangan kesadaran, hentikan dorongan secepatnya. Ketahuilah
bahwa hal ini bisa terjadi apabila objek tidak berhasil keluar.

Pertolongan pada diri sendiri:

 Coba batukkan benda asing. Jika rasanya sesuatu tersangkut di tenggorokan


Anda, coba batukkan sampai keluar.
 Kepalkan tangan. Pertama-tama, posisi tangan Anda harus benar. Buatlah
tinju dengan telapak tangan dominan Anda. Letakkan di abdomen persis di
atas pusar dan di bawah tulang rusuk.
 Tahan tinju dengan tangan satu lagi. Jika tinju tangan dominan sudah di
tempatnya, Anda perlu menaruh tangan satu lagi sebagai tuas. Buka tangan
satu lagi dan letakkan di atas tinju di perut Anda. Pastikan tinju berada di
tengah telapak tangan.
 Dorong tinju ke dalam dan naik. Tekan tinju dan tangan Anda ke area
diafragma atau perut untuk mengeluarkan benda asing. Lakukan gerakan
berbentuk huruf J (dorong masuk, kemudian naik) dengan cepat. Ulangi
beberapa kali.
 Tambahkan tenaga dengan objek stabil. Segera cari benda stabil yang kira-
kira setinggi pinggang untuk tempat Anda membungkuk. Anda bisa memakai
kursi atau meja. Membungkuklah kepada kursi dengan posisi tinju masih di
depan Anda, di antara objek (kursi atau meja) dan abdomen. Doronglah sekuat
mungkin.

19
Pertolongan pada bayi dan anak yang sadar

Biarkan ia terlungkup diatas lutut anda dan cobalah memukul antara kedua
bilah bahunya dengan telapak tangan. Cobalah lima kali.
Bayi:
◦ Letakkan bayi tengkurap pada lengan atau paha dengan posisi kepala lebih
rendah.
◦ Berikan 5 pukulan dengan menggunakan tumit dari telapak tangan pada bagian
belakang bayi (interskapula). Tindakan ini disebut Back blows.
◦ Bila obstruksi masih tetap, balikkan bayi menjadi terlentang dan berikan 5
pijatan dada dengan menggunakan 2 jari, satu jari di bawah garis yang
menghubungkan kedua papila mamae (sama seperti melakukan pijat jantung).
Tindakan ini disebut Chest thrusts.
◦ Bila obstruksi masih tetap, evaluasi mulut bayi apakah ada bahan obstruksi yang
bisa dikeluarkan.
◦ Bila diperlukan, bisa diulang dengan kembali melakukan pukulan pada bagian
belakang bayi.

Anak yang berumur di atas 1 tahun:


• Letakkan anak dengan posisi tengkurap dengan kepala lebih rendah.
• Berikan 5 pukulan dengan menggunakan tumit dari telapak tangan pada
bagian belakang anak (interskapula).
• Bila obstruksi masih tetap, berbaliklah ke belakang anak dan lingkarkan kedua
lengan mengelilingi badan anak. Pertemukan kedua tangan dengan salah satu
mengepal dan letakkan pada perut bagian atas (di bawah sternum) anak, kemudian
lakukan hentakan ke arah belakang atas. Lakukan perasat Heimlich tersebut
sebanyak 5 kali.
• Bila obstruksi masih tetap, evaluasi mulut anak apakah ada bahan obstruksi
yang bisa dikeluarkan.
• Bila diperlukan bisa diulang dengan kembali melakukan pukulan pada bagian
belakang anak.

20
Pada dewasa dan anak yang pingsan
1. Miringkan korban ke arah anda
2. Dorong kepalanya kebelakang
3. Pukul punggungnya lima kali, dengan telapak tangan anda

Pertolongan pada dewasa pingsan


1. Terlentangkan korban dengan dagu ke atas dan kepala mendongak ke
belakang
2. Berlututlah disampingnya
3. Taruh pangkal telapak salah satu tangan pada garis tengah perut atas,
antara pusar dan sudut rusuk, dan tutup dengan tangan anda yang lain.
Dorong kuat- kuat ke dalam dan ke atas.

II. HIPOTERMIA

Kondisi ini timbul apabila suhu badan turun dibawah tingkat orang normal
(35° Celcius).

Faktor-faktor yang dapat mendukung terjadi hipotermia :

a. Lanjut usia
b. Kurus
c. Lelah
d. Lapar
e. Suhu lingkungan yang rendah

Tanda-tanda terjadinya hipotermia :

a. Kulit dingin dan kering


b. Gemetar sampai dengan menggigil hebat
c. Denyut nadi lambat
d. Laju pernafasan korban lambat
e. Suhu badan 35° Celcius atau kurang
f. Ada rasa mengantuk yang dapat berkembang menjadi koma
g. Mungkin terjadi henti jantung

Tujuan Pertolongan pertama pada korban hipotermia :

Untuk menghangatkan badan dengan segera dan melindungi otak terhadap


kurangnya oksigen

Perawatan hipotermia

 Hubungi dokter
 Taruh korban pada tempat yang terlindung atau dalam rumah sesegera
mungkin

21
 Gunakan kantung tidur atu bentuk isolasi lain seperti selimut atu kain
tebal
 Hangatkan korban dengan tubuh anda (skin to skin)
 Perikasa pernpasan dan denyut nadi
 Jika memungkinkan beri makanan/ minuman hangat

III. PINGSAN

Definisinya adalah hilangnya kesadaran akut dan sementara karena terjadi


gangguan aliran darah ke otak. Syok adalah ketidaknormalan dari sistem
peredaran darah yang mengakibatkan perfusi organ dan oksigenasi tidak
adekuat.

Tanda-tanda :

 Kehilangan kesadaran sesaat


 Kepala terasa ringan
 Pening atau pusing
 Pucat dengan atau tanpa berkeringat
 Menggigil, keringat dingin
 Pandangan gelap
 Mual dan muntah

Tatalaksana :

 Lihat keadaan korban


 Cek kesadaran
 Periksa nafas dan jalan nafas
 Periksa denyut nadi
 Periksa kemungkinan adanya sebab-sebab pingsan (cedera, suntikan
insulin atau narkoba, dll)
 Baringkan di tempat yang teduh dan hindarkan dari kerumunan orang -
orang agar mendapat cukup udara untuk bernafas.
 Lakukan posisi kepala lebih rendah dari bagian tubuh lain dengan
mengangkat kedua kaki agar aliran darah yang menuju kepala lebih
banyak.

Bila tidak mungkin dibaringkan maka dudukkan dengan posisi kepala diantara
kedua lutut, waspadai apabila terjadi patah tulang belakang atau leher

22
Longgarkan pakaian dan atribut lain agar tidak menggangu jalan naf as
Bila korban ingin mual atau muntah lakukan posisi pemulihan
Ketika sudah sadar beri minum air atau teh manis hangat

KRAM

Keadaan dimana otot-otot mengalami spasme (kontraksi otot secara


mendadak,involunter dan keras), sehingga menghasilkan rasa nyeri yang
hebat dan suatu restriksi (kehilangan pergerakan)

Penyebab :

 Letih (malam/ketika tidur)


 Dingin (berenang)
 Panas (heat cramp, contohnya pada atlet yang bertanding dalam udara
panas dimana sejumlah cairan tubuh banyak yang keluar melalui
keringat)

Gejala :

 Terjadi pada saat latihan atau istirahat


 Mual atau muntah
 Lemas atau lemah
 Pusing
 Kulit dingin dan lembab

Tatalaksana :

 Pindahkan koraban ketempat sejuk


 Baringkan korban
 Beri minum air gula dan garam sebagai pengganti cairan yang hilang
(bila pasien mual tenangkan agar dapat minum).
 Kompres dengan air hangat otot-otot yang kram bila mungkin
 Perlahan-lahan luruskan otot-otot tersebut dengan diurut, beri salep
 Beritahukan pada penderita agar tidak meneruskan latihan atau
meneruskan latihan tapi tidak terlalu keras

IV. KERACUNAN

Terjadinya keracunan
Keracunan dapat terjadi karena berbagai hal, antara lain :
 Upaya bunuh diri

23
 Pembunuhan
 Ketidaksengajaan mengkonsumsi zat-zat yang berbahaya

Masukanya dan pengaruh terhadap tubuh

Keracunan adalah masukanya zat racut (toksik) kedalam tubuh melalui


beberapa cara yang Antara lain :

 Melalui oral (dimakan atau diminum)


Golden time 4 jam setelah pengonsumsian masih bisa dibilas lambung
atau dimuntahkan
 Melalui absopsi kulit
 Melalui parenteral (suntikan)
 Melalui inhalasi (gas yang terhirup)
Beri oksigen yang banyak dan cepat

Penatalaksanaan :

 Gali informasi dari korban seperti nama racun dan kapan menelannya
(jika memungkinkan)
 Jika terdapat tanda luka bakar di mulut paksa korban minum segelas air
atau susu perlahan lahan
1. Baringkan dalam posisi pemulihan
2. Kumpulkan botol atau wadah di sekitar korban untuk
dianalisis oleh tenaga medis
3. Bawa korban ke rumah sakit secepat mungkin

24
Catatan :

 Jangan buang waktu mencari bahan penawar (antidotum)


 Jangan membuat korban muntah pada pasien tidak sadar karena bahaya
risiko aspirasi atau pada korban keracunan bahan korosif
 Jika korban pingsan, periksa pernafasan dan denyut nadi
 Jika nafas dan denyut nadi tidak ada, maka berikan nafas buatan

Keracunan alkohol

Tanda-tanda :

 Hilangnya sebagian atau seluruh kesadaran


 Pernafasan dalam
 Muntah
 Muka memerah dan berkeringat
 Korban bau alcohol

Penatalaksanaan :

1. Buka jalan udara


2. Periksa denyut
3. Periksa cedera
4. Baringkan dalam posisi pemulihan (hati-hati banyak korban mabuk
meninggal karena menghirup muntahannya sendiri)
5. Hati-hati kemungkinan keadaan memburuk, terus pantau pernafasan
dan denyut nadi
6. Panggil ambulan jika keadaan mengkhawatirkan

Keracunan makanan

Tanda-tanda :

 Mual, muntah dan diare


 Nyeri perut
 sakit kepala disertai demam (oleh salmonella)
 syok (merupakan kemungkinan)

Penatalaksanaan :

1. Bila kurang dari 4 jam, berikan rangsangan agar muntah


2. Beri korban banyak air untuk menjaga cairan mencegah syok
3. Bila sudah memungkinkan, korban langsung dilarikan ke rumah sakit
untuk penanganan lebih lanjut

25
CATATAN :
 jangan berikan makanan, minuman, teh, kopi, atau minuman asam
seperti sari buah atau limun, soda kepada korban

V. GIGITAN DAN SENGATAN

Gigitan Anjing Rabies

Penanganannya :
- Biarkan darah keluar dgn sendirinya
- Segera aliri luka dgn air & cuci dgn air sabun selama 5 menit
- Beri alkohol, tinctur/ cairan iodium/ campuran amonium quartenary.
- Tempelkan kain kassa yg tlh di rendam dlm hydrogen peroksida,utk
mengurangi infeksi
- Keringkan dgn kassa & balut
- Jika di curigai ada penyakit rabies,bawa korban ke RS, beri anti tetanus
serum dan anti rabies serum

Gigitan Ular

Penatalaksanaan :
• Istirahatkan dan tenangkan korban
• Buat sayatan pada daerah yang tergigit
• Jaga bagian yang tergigit lebih rendah dari jantung
• Berikan ikatan diatas bekas gigitan dengan kencang untuk
memperlambat aliran
• Jika tdk berbisa, bersihkan tempat gigitan
• Gunakan analgetik
• Segera bawa korban ke RS

26
Gigitan Kelabang (Lipan) dan Laba-laba beracun

Penanganan :

• Buat sayatan pada daerah luka

• Kompres air dingin/ es pd daerah luka

• Cuci luka dgn obat antiseptik

• Beri analgesic untuk mengurangi nyeri

• Bawa ke rumah sakit

Sengatan Kelajengking

Bisa kalajengking :

1. Tdk Berbahaya  pembengkakan, kemerahan, rasa sakit yg tidak


menjalar

2. Berbahaya dapat merusak jaringan saraf jantung/darah.

Sengatan pada anak kurang dari 2 tahun sangat berbahaya dan mematikan

Penanganan:

- Tenangkan korban

- Bersihkan bagian sengatan dgn alcohol

- Buat sayatan di bagian sengatan

- Kompres dingin

- Segera bawa ke rumah sakit

Sengatan Lebah

Lebah meinggalkan sengatannya pada jarinag tubuh manusia tetapi tidak


dapat menyerang manusia lebih dari satu kali. Sengatan lebah biasanya
tertinggal di kulit melekat dengan kantong bisanya.

Sengatan ini dapat di lihat/ di ambil dengan ujung kuku/ mata pisau.

Penanganan :

 Lepaskan sengatan lebah dengan unung kuku atau mata pisau


 Bersihkan daerah sengatan, jangan di tekan
 Berikan kompres dingin

27
 Jaga bagian yg terkena agar lebih rendah daripada jantung
 Beri analgetik untuk meredakan nyeri, atau bias juga olesi dengan cuka
(ammonia) atau jus lemon
 Jika ada, olesi dengan sodium bikarbonat
 Bawa segera ke RS
 Waspada syok anafilaktik

28
FRAKTUR
Tim Darurat Medik Universitas YARSI

FRAKTUR
Diskontinuitas / terputusnya susunan tulang yang disebabkan karena trauma
atau keadaan patologis

Klasifikasi fraktur

Berdasarkan Klinis

1. Fraktur tertutup (simple fracture).


Suatu fraktur yang tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar.

2. Fraktur terbuka (compound fracture).


Fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit
dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam) atau from
without (dari luar)

3. Fraktur dengan komplikasi (compicated fracture).


Fraktur yang disertai dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union,
infeksi tulang

Berdasarkan Etiologi

1. Fraktur traumatik
Terjadi karena trauma yang tiba-tiba.

2. Fraktur patologis

29
Terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat kelainan patologis di
dalam tulang.

3. Fraktur stress
Terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada suatu tempat tertentu.

SEBAB DAN LETAK PATAH TULANG


Setiap tulang dalam tubuh dapat retak atau patah oleh benturan langsung,
penekukan atau puntiran, tekanan yang diteruskan sepanjang tulang, tegangan
yang berlebihan dari tarikan otot atau penyakit ynag melemahkan tulang.
Tulang tua lebih mudah patah dan patahnya lebih bersih daripada tulang
muda, yang sering menderita keretakan tak sempurna(salah satu sisi tulang
bengkok).

GEJALA DAN TANDA PATAH TULANG


 Nyeri dan empuk bila disentuh
 Pembegkakan, memar dan perubahan bentuk, seperti ketakturan dalam
garis tulang atau pemendekan anggota badan yang terkena
 Gerakan yang abnormal atau tidak stabil
 Anggota badan yang cedera tidak berfungsi seperti sebelumnya.
 Perasaan (sensasi) berderit jika bergerak (krepitus)
 Ada tanda-tanda syok
 Jangan menggerakkan koraban patah tulang kecuali bila benar -benar
perlu.
 Jangan berupaya mengetes menggerakkan ini dapat menyebabkan
cedera lebih jauh.

PATAH TULANG TERBUKA


 Selalu ada luka di dekat letak patah tulang
 Ujung tulang yang menonjol mungkin tampak
A. Bila tulang tidak menonjol
1. Telepon ambulans
2. Jika banyak pendarahan angkat bagian itu jika memungkinkan.
3. Pinggir-pinggir luka didekatkan dengan menekan untuk
mengendalikan perdarahan.
4. Tutup dengan suatu bantalan bahan yang bersih (kain kasa/sapu
yang dilipat).
5. Lapis kain kasa dengan bantalan dan kemudian diperban dengan
kuat.
6. Bebat bagian yang cedera agar tidak bergerak dan kirim korban
kerumah sakit.
 Jangan ikat perban terlalu ketat karena akan mengganggu
peredaran darah

30
 Sementara melakukan prosedur ini, hindarin
menggerakkan tulang yang patah dengan menopang
bagian itu menggunakan tangan.
B. Bila tulang menonjol
1. Taruh kasa steril jika ada atau selembar selembar kain bersih
diatas luka
2. Taruh gelang kapas disekitar luka yang terbuka diatas kain kasa,
gelang kapas harus lebih tinggi dari pada tonjolan tulang
3. Lekatkan kapas ini agar tidak berpindah dengan perban diagonal
yang kokoh
4. Bebat bagian itu
5. Atur pengangkutan korban keruah sakit
 Hati-hati untuk menghindari gerakan pada daerah yang
patah. Topang bagian yang cedera dengan tangan anda

PATAH TULANG LENGAN


a. Humerus (lengan atas)
b. Siku
c. Tulang pengupil
d. Tulang hasta (ulna)
Tanda-tanda
 Korban tidak mampu menggunakan lengan itu
 Biasanya korban memegangi lengan dengan tangan lain
 Nyeri bertambah bila lengan digerakkan
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Dudukkan korban
2. Periksalah denyut pergelangan tangan
3. Dengan lembut taruh lengan bawah melintang dada korban untuk
menopangnya
4. Taruh bantalan lunak merata antara patahan dan dada
5. Untuk penopang tambahan taruh selimut atau jas yang digulung pada
pangkuan korban sehingga anggota badan yang cedera.
6. Sementara menopang lengan dengan hati-hati, pasang mitela
7. Bebat lengan yang patah dengan meletakannya pada dada
menggunakan perban lebar yang dipasang diluar mitela
8. Angkut pasien ke rumah sakit dalam posisi duduk
 Hindari tekanan yang tidak perlu pada patahan.
 Patah lengan bawah ini tidak memerlukan bantalan

SIKU PATAH
Tanda-tanda
 Korban tidak mampu membengkokkan siku
 Ada nyeri yang parah bila siku dibengkokkan.

31
 Denyut pada perelangan tangan mungkin tidak ada
 Jangan coba membengkokkan siku. Lengan harus dijaga agar
tetap lurus
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. korban harus berbaring, dengan penolong pertama menopang lengan
pada sisi yang cedera
2. taruh bantalan antara sisi korban dan lengan yang cedera
3. Ikat lengan yang cedera ke tubuh, pada lengan atas d an dada, pada
lengan bawah dan pinggang, dan pada pergelangan tangan dan pinggul
dengan menggunakan tiga perban lentur
4. Urus pengiriman korban ke rumah sakit dalam keadaan terbaring.

PATAH TULANG SELANGKA


Tanda-tanda
 Pembengkakan dan perubahan bentuk pada pada daerah patahan.
 Nyeri bila menggerakkan lengan pada sisi yang patah.
 Lengan pada sisi cedera kehilangan kemampuan gerak.
 Korban cenderung menopang lengan pada sisi yang cedera.

Pembebatan dan penatalaksanaan


1. Dudukan korban
2. taruh bantalan yang longgar pada ketiak disisi yang patah
3. Taruh lengan dalam suatu mitela dan dengan hati-hati tarik mitela itu
tiggi-tinggi, sehingga ujung-ujung jari sama tinggi dengan bahu
4. Ikat lengan pada tubuh dengan perban lebar atau mitela.
5. Angkut korban ke rumah sakit.

PATAH TANGAN, PERGELANGAN DAN JARI


a. Tulang-tulang pergelangan
b. Tulang-tulang tangan
c. Tulang-tulang jari
 Perdarahan atau perubahan warna yang nyata dan pembengkakan.
 Korban tidak mampu mengepal
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Kendalikan setiap perdarahan
2. Periksa denyut pergelangan, tanpa menggerakkan tangan untuk
memastikan pasokan darah tidak terhambat oleh cedera
3. Bantali tangan dan pergelangan dengan bahan yang lunak untuk
perlindungan
4. gunakan mitela
5. Dengan lembut tarik tinggi-tinggi sehingga tangan pasti lebih tinggi
tinggi dari pada siku
6. talikan lengan atas pada tubuh dengan perban lebar atau mitela

32
7. Angkut ke rumah sakit alam posisi duduk

PATAH TULANG RUSUK DAN TULANG DADA


a. Sangkar iga
b. Tulang iga
Tanda-tanda
 Nyeri menyanyat bila mengihur napas
 Kegelisahan atau syok akibat pardarahan internal daru hati atau paru
 Mungkin ada luka ’mengisap’ dalam dada
 Satu sisi dada dapat bergerak masuk bila korban menghembuskan
napas (pernapasan paradoks).
 Korban batuk darah dan sekitar mulutnya membiru atau ungu.
 Tanda-tanda asfiksia terlihat jelas.
Pembebatan dan penatalaksanaan.
1. Taruh lengan dari sisi yang cedera dalam suatu mitela pengangkat.
2. Bawa korban ke rumah sakit.
 Jika ada luka ’mengisap’, luka ituy harus ditutup dengan kuat.
Ini dapat menyelamatkan jiwa. Luka-luka ini menghalangi paru
pada sisi cedera untuk menggembung, karena udara ditarik dari
luka (bukannya ditari dari lewat jalan udara) bila koraban
menghirup napas.
Perawatan luka ’mengisap’
1. Jika mungkin, dorong pasien untuk batuk
2. Gunakan tanga anda untuk membentuk suatu segel kedap udara.
3. Untuk membuat segel yang lebih efektif dan permanen, taruh pembalut
steril atau sapu tangan bersih diatas luka.
4. Tutup pembalut itu dengan selembar plastik, reka dengan pita rekat
kedada dan pastikan pernapasan telah normal.
5. Taruh lengan dari sisi cedera dalam suatu mitela angkat.
6. Taruh lengan dalam posisi setengah-duduk setengah berbaring, miring
kearah sisi yang cedera.
7. Gunakan posisi pemulihan jika korban pingsan.
8. Segera kirim korban ke rumah sakit.

PATAH TULANG PANGGUL


a. Panggul
b. Pinggul (leher tulang paha)
c. Batang dari tulang paha
Tanda-tanda
 Nyeri parah pada pinggul, puggung bawah ata kunci paha.
 Tanda-tanda syok.
 Korban kencing darah karena cedera kandung kemih.
 Korban tidak dapa tberdiri.

33
 Tubuh korban seolah terpotong dua.
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Korban harus dibiarkan terlentang (dengan semacam penopang
dibawah lututnya yang tertekuk, jika ini lebih nyaman).
2. Lingkarkan dua perban lebar atau mitela disekitar panggulanya dan
ikatkan kencang-kencang, dengan simpul pada sisi yang tidak cedera,
kecuali jika ini menyebabkan nyeri yang hebat.
3. Taruh bantalan antara tungkai.
4. Ikat kedua tungkai jadi satu pada lutut dan mata kaki.
5. jika perlu, rawa korban untuk syok.
6. Angkut korban kerumah sakit dalam posisi terlentang.
 Korban harus mencobauntuk tidak kencing karena tidak mungkon ada
cedera pada organ-organ dalam sisitem urin.

PATAH TULANG PINGGUL DAN PAHA


Tanda-tanda
 Memear parah disekitar pinggul
 Tanda-tanda syok
 Tungkai tampak berubah bentuknya: Tungkai dapat tampak lebih
pendek atau terpuntir secara abnormal.
 Mungkin ada pembengkakan pada daerah patahan.
 Ingat bahwa gerakan yang tidak perlu dapat menambah syok sehingga
berbahaya.
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Segera telepon ambulan
2. Dengan lembut tetapi tegas atri kaki untuk meluruskan tungkai, dengan
menopang disekitar patahan
3. Berendengkan kedua tungkai dengan menggerakkan tungkai yang tidak
cedera ke arah tungkai yang cedera.
4. Periksa apakah patahan itu tertutup atau terbuka, dan rawatlah sesuai
dengan keadaan
5. Taruh bantalan antara kedua tungkai
6. Ikat kedua tungkai dengan perban, gunakan pemerbanan angka delapan
pada mata kaki dan kaki
7. Jika perlu awat syok
8. Hibur pasien
9. Longgarkan pakain yang ketat
10. Selimuti korban dengan jas, jika sangat dingin namun jangan
berlebihan
11. Kirim korban segera kerumah sakit.
 Jangan memerban pada letak patahan

34
PATAH TULANG TUNGKAI BAWAH
a. Tempurung lutut
b. Tulang kering (tibia)
c. Tulang betis (tibia)
Tanda-tanda
 Biasanya sudut antara kaki dan tungkai abnormal
 Sering dapat dirasakan ketakteraturan dalam garis tulang
 Jelas ada pembengkakan dan memar
 Dalam patah tulang terbuka sering tulang itu tampak
 Pasien dapat menderita syok
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Korban hendaknya berbaring
2. Topang tungkai dengan memegangnya di atas dan di bawah letak
patahan
3. Periksa apakah patah tulang itu terbuka atau tertutup dan rawatlah
sesuai dengan keadaan
4. Dengan lembut tetapi tegas luruskan tungkai yang terkena dengan
menarik pada kaki
5. Teruslah menarik sementara seorang penolong lain menaruh bantalan
antara mata-mata kaki dan tungkai-tungkai dan mengikaat jadi satu
kedua tungkai itu dengan perban lebar atau mitela
6. Mungkin Perlu untuk merawat korban terhadap syok
7. Kirim korban ke rumah sakit.

PATAH TEMPURUNG LUTUT


Tanda-tanda
 Tempurung lutut menjadi empuk
 Pembengkakan yang parah pada lutut
 Nyeri bila mencoba meluruskan lutut
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Taruh korban dalam posisi setengah-berbaring setengah duduk,
dengan kepala dan bahu ditopang.
2. Dengan lembut luruskan tungkai yang cedera.
3. Angkat kesuatu posisi yang nyaman
4. taruh papan yang berbantalan dibawah tungkai yang terentang
dari pantat sampai tumit.
5. Taruh bantalan tambahan di bawa lutut dan mata kaki.
6. Ingkat tungkai pada papan dengan perban lebar atau mitela pada
mata kaki, paha dan betis.
7. Angkut korban ke rumah sakit, dengan posisi berbaring, dengan
kaki dari tungkai yang cedera di angkat.
 Jangan mengikatkan perban pada tempurung lutut

35
36
PATAH TULANG KAKI
a. Tulang-tulang jari
b. Tulang telapak kaki
c. tulang tumit
Tanda-tanda
 Kaki tidak mampu dibebani.
 Busur kaki bentuknya berubah
 Pembengkakn dan memar yang parah
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Korban harus berbaring
2. Dengan sangat lembut lepaskan sepatu dan kaus kaki, jika perlu potong
tali sepatunya.
3. Angkat dan topang kaki itu dengan bantalan besar dibelakang mata kaki.
4. Tutuplah setiap patah tulang yang terbuka.
5. Kendalikan Perdarahan dengan bantalan dan perban
6. Angkut ke rumah sakit dengan kaki diangkat
7. Sebuah papan berbantalan dibawah kaki dapat membantu korban
nyaman. Papan itu harus direkatkan dengan menggunakan perban angka
delapan.

TENGKORAK RETAK
Tanda-tanda
 Korban mungkin hilang kesadaran.
 Mungkin ada lekukan yang dapat digerak-gerakkan dalam kulit
kepala.
 Mungkin ada perdarahan keluar dari lubang telinga.
 Mungkin ada cairan seperti air menetes dari hidung atau telinga.
 Salah satu pupil mata dapat sangat membesar.

 Jangan membersihkan luka pada kulit kepala


 Hindarkan semua gerakan yang tidak perlu.
Penatalaksanaan untuk korban yang tidak pingsan
1. Telepon segera ambulan
2. Telentangkan korban dengan bahu dinaikkan.
3. Jika ada perdarahan dari teling, miringkan kepala dan tubuh ke sisi
dari mana darah atau cairan itu menetes
4. Untuk mencegah infeksi, dengan lembut taruh pembalut steril pada
telinga, dan ikat pembalut dengan perban yang dililitkan melimhkari
kepala.
5. Kendalikan perdarahan kulit kepala dengan pembalut itu dengan lembut

37
Penatalaksanaan untuk korban yang pingsan
1. Telepon segera ambulans
2. Periksa pernapasan korban, pastikan bahwa jalan udara tidak
terhambat
3. Periksa denyut nadi
4. Mulailah pernapasan buatan dengan segera, jika pernapasan dan detak
jantung berrhenti.
5. Taruh korban dalam posisi pemulihan.
6. Jika ada perdarahan dari telinga, taruh korban sedemikian sehingg
telinga yang terkena itu lebih rendah. Tutup telinga itu dengan pembaut
steril
PATAH TULANG HIDUNG, PIPI DAN RAHANG
Letak keretakan:
a. Hidung
b. Tulang pipi
c. Rahang
Tanda-tanda
 Pembengkakan wajah yang hebat
 Nyeri ketika menggerakkan rahang
 Sukar membuka mulut.
 Barisan gigi abnormal.
 Sukar menelan.
 Sukar bicara.
Penatalaksanaan
1. Pastikan bahwa jalan udara lapang dan terbuka.
2. Miringkan korban kedepan agar cairan dalam mulut dan hidung
dapat mengalir keluar.
3. Telepon ambulans.
4. Berikan kompres dingin pada daerah ayng terkena untuk mengurangi
pembengkakan, perdarahan, dan nyeri.
5. Rawatlah mimisan, jiks ada.
6. Periksa adakah luka dalam mulut.
7. Kirim korban ke rumah sakit.

Jika rahang tergelicir:


1. Sepanjang pernapasan tidak terganggu, topang rahang bantalan di
bawah dagu.
2. Bantalan ini harus direkatkan dengan perban yang ditalikan ke ubun
ubun.
3. Taruh korban dalam posisi pemulihan.
4. Taruh sepotong bantalan lunak di bawah kepala korban agar rahang
yang cedera tidak terbebani.
5. Kirim korban ke rumah sakit.

38
 Pemerbanan tidak boleh terlalu ketat sehingga rahang terkunci satu
sama lain.
 Jika korabn muntah, Lepaskan perban dan topang kepala serta
rahang. Dengan lembut bersihkan mulut sebelum memasang
kembali bantalan dan perban.

PATAH TULANG LEHER


a. Leher
b. Tulang belakang
Tanda-tanda
 Korban mungkin menderita kaku leher.
 Korban tidak mampu menggerakkan lengan dan tungkai.
 Dapat terjadi rasa (sensasi) geli atau baal dibawah patahan.
 Jangan memindahkan korban kecuali bila mutlak perlu untuk
memastikan keselamatannya. Gerakan yang tidak benar dapat
menyebabkan kematian atau kelumpuhan yang permanen.
 Jangan melepas helm yang hancur kecuali bila jalan udara
terblokir, atau jika tidak ada pernapasan, tidak ada denyut
nadi atau luka parah pada kepala.
Pembebatan dan penatalaksanaan
1. Telepon segera ambualns.
2. Biarkan korban terlentang datar.
3. Hiburlah korban.
4. Berjongkoklah di atas dan di belakang korban dan luruskan kepala dengan
kedua tangan anda memegangi telinganya.
5. Suatu kerah (leher) yang kokoh di sekitar leher, yang di buat dari gulungan
koran dapat menolong, tetapi anda harus memegangi kepal agar lurus.
Membuat dan memasang kerah leher
Diperlukan dua penolong:
1. Gulung selembar koran dalam kain.
2. Taruh tengah-tengah kerah itu di bawah dagu dan lilitkan melingkari leher.
3. Ikat dengan syal atau selendang dengan simpul di depan.
 Kepala harus dipegangi agr benar-benar tida bergerak selama dan
setelah pemasangan kerah itu.
 Jangan melilitkan kerah melingkari leher terlalu ketat.
 Jika tidak ada koran, kepala haru sdipegangi sampai bantuan
profesional tiba.

PATAH TULANG BELAKANG


Tanda-tanda
 Nyeri punggung yang hebat.
 Tungkai dan lengan tidak dapat di gerakkan.
 Rasa gatal dan baal di bawah patahan.

39
 Jangan menggerakkan korban kecuali bial mutlak perlu untuk
memastikan keselamatannya.Gerakkan yang tidak tepat dapt
menyebabkan kematian atau kelumpuhan total yang permanen.
Pembebatan dan penatalaksanaan
Diperlukan dua penolong:
1. Katakan kepada korban agar tidak bergerk-gerak.
2. Periksa pernapasan dan peredaran darah.
3. telepon segera ambulan.
4. Satu orang harus berjongkok di atas dan di belakang kepala korban,
memegangi kepala itu pada telinga korban, memegangi kepala itu pada telinga
korban. Kepala hendaknya dipegangi agar lurus.
5. Topang batang tubuh korban dengan gulungan pakaian di kiri dan kanannya.
6. Taruh bantalan yang lunak antara kedua tangkai dan ikat tungkai menjadi satu
pinggul, paha dan mata kaki.
7. Jika korban muntah, ubah posisi korban menjadi posisipemulihan tulang
belakang.
8. Pastikan bahwa jalan udara tetap lapang.
9. Angkat korban ke rumah sakit dalam posisi berbaring.
Posisi pemulihan tulang belakang.
Harus dilakukan jika korban tidak sadar:
1. Di perlukan enam penolong. Satu menjaga agr kepala, leher, dan tubuh selalu
segaris untuk menghindari cedera lebih lanjut. Orang ini memberi aba -aba
kepada yang lain.
2. Tiga orang berlutut pada satu sisi dan dua orang pada sisi yang lain.
3. Jika perlu, tengkurapkan korban.
4. Tiga penolong dengan hati-hati harus menggelindingkan korban ke samping
dengan lengan yang diangnkat, untuk menghindari pemuntiran tulang
belakang, sementara dua orang di sisi yang lain dengan hati -hati mengangkat.
5. gerakkan lengan bawah korban ke bawah kepalanya untuk membantu menjaga
agar leher tetap lurus dan menekuk tungkai atas sedemikian sehingga lututnya
berada di tanah dan kakinya berada di atas betis dari tungkai lain. Teruskan
menjaga agar kepala, leher, dan tubuh tetap segaris.
6. Pasangn sebuah kerah leher.

40
PEMBALUTAN
Tim Darurat Medik Universitas Yarsi

PENGERTIAN
Membalut adalah tindakan untuk menyangga atau menahan bagian tubuh agar tidak
bergeser atau berubah dari posisi yang dikehendaki.

TUJUAN
1. Menahan sesuatu seperti:
 menahan penutup luka
 menahan pita traksi kulit
 menahan bidai
 menahan bagian tubuh yang cedera dari gerakan dan geseran (sebagai
"splint")
 menahan rambut kepala di tempat
2. Memberikan tekanan, seperti terhadap :
 kecenderungan timbulnya perdarahan atau hematom
 adanya ruang mati (dead space)
3. Melindungi bagian tubuh yang cedera.
4. Memberikan "support" terhadap bagian tubuh yang cedera.

PRINSIP
 Balutan harus rapat rapi jangan terialu erat karena dapat mengganggu
sirkulasi.
 Jangan terialu kendor sehingga mudah bergeser atau lepas.
 Ujung-ujung jari dibiarkan terbuka untuk merigetahui adanya gangguan
sirkulasi.
 Bila ada keluhan balutan terialu erat hendaknya sedikit dilonggarkan tapi
tetap rapat, kemudian evaluasi keadaan sirkulasi.

SYARAT PEMBALUTAN
 Mengetahui tujuan yang akan dikerjakan mengetahui seberapa batas fungsi
bagian tubuh tersebut dikehendaki dengan balutan.
 Tersedia bahan-bahan memadai sesuai dengan tujuan pembalutan, bentuk
besamya bagian tubuh yang akan dibalut.

TIPE PEMBALUT
1. Strectable roller bandage
 Terbuat dari kain, kasa, flanel, atau bahan elastik. Kebanyakan terbuat
dari kasa karena mudah menyerap air dan darah, serta tidak mudah
longgar.

41
 Jenis-jenisnya :
1. Lebar 2,5 cm : digunakan untuk jari tangan, kaki
2. Lebar 5 cm : digunakan untuk leher dan pergelangan tangan
3. Lebar 7,5 cm : digunakan untuk kepala, lengan atas, fibula, kaki
4. Lebar 10 cm : digunakan untuk daerah femur dan pinggul
5. Lebar 10-15 cm : digunakan untuk dada, abdomen, punggung.
6. Triangle cloth
 Berbentuk segitiga dan terbuat dari kain masing-masing
panjangnya 50-100 cm.
 Digunakan untuk bagian tubuh yang berbentuk lingkaran, atau
untuk menyokong bagian tubuh yang luka.
 Biasa dipakai pada luka kepala, bahu, dada, tangan, kaki, lengan
atas.
2. Putaran Dasar Dalam Pembebatan
a. Putaran spiral
 Digunakan untuk membebat bagian tubuh yang mempunyai lingkaran
sama, misal : lengan atas, kaki
 Putaran dibuat dengan sudut kecil 30 0 dan setiap putaran menutup 2/3
lebar bandage dari putaran sebelumnya
b. Putaran sirkuler
 Biasanya digunakan untuk mengakhiri pembebatan, juga untuk
menutup bagian tubuh yang berbentuk silinder/tabung misalnya pada
bagian proksimal jari kelima. Biasanya tidak digunakan untuk
menutup daerah luka karena menimbulkan ketidaknyamanan
 Bebat ditutupkan pada bagian tubuh sehingga setiap putaran akan
menutup dengan tepat bagian putaran sebelumnya.
c. Putaran spiral terbalik
 Digunakan untuk membebat bagian tubuh dengan bentuk silinder
yang berdiameter tidak sama, misalnya pada tungkai bawah kaki
yang berotot.
 Bebat diarahkan ke atas dengan sudut 30 0 , kemudian letakkan ibu
jari dari tangan yang bebas di sudut bagian atas dari bebat. Bebat
diputarkan membalik sepanjang 14 cm (6 inch), dan tangan yang
membebat diposisikan pronasi sehingga bebat menekuk di atas bebat
tersebut dan lanjutkan putaran seperti sebelumnya.
d. Putaran berulang
 Digunakan untuk menutup bagian bawah dari tubuh misalnya tangan,
jari, atau pada bagian tubuh yang diamputasi
 Bebat diputarkan secara sirkuler di bagian proksimal. Kemudian
ditekuk membalik dan dibawa ke arah sentral menutup semua bagian
distal. Kemudian bagian inferior, dengan dipegang tangan yang lain
dibawa kembali ke arah kiri dari bagian sentral bebat. Pola ini
dilanjutkan bergantian ke arah kanan dan kiri, saling tumpang tindih,
42
tetapi pada putaran awal dengan 2/3 lebar bebat. Bebat kemudian
diakhiri dengan dua putaran sirkuler yang bersatu di sudut lekukan
dari bebat.
e. Putaran angka delapan
 Biasanya digunakan untuk membebat siku, lutut, tumit.
Bebat diakhiri dengan dua putaran sirkuler menutupi bagian sentral sendi.
Kemudian bebat dibawa menuju ke atas persendian, membuat putaran seperti
angka delapan. Setiap putaran dilakukan ke atas dan ke bawah dari persendian
dengan menutup putaran sebelumnya dengan 2/3 lebar bebat. Lalu diakhiri
dengan dua putaran sirkuler di atas persendian.

MACAM-MACAM BAHAN PEMBALUTAN


1. Pembalut segitiga (mitella)
Terbuat dan kain tipis, lemas, kuat, biasanya berwama putih. Bentuk
segitiga sama kaki-tegak lurus dengan panjang kaki-kakinya 90 cm - 100 cm.
(40 inch).
Cara memakainya bisa dilebarkan atau dilipat-lipat sehingga berbentuk
dasi (Cravat) atau seperti kain pramuka.
Terdapat 3 macam pembalut segitiga :
a. Segitiga biasa,
b. Segitiga plantenga,
c. Segitiga funda,
Penggunaannya bisa untuk pembalut biasa, tourniquet, penahan bidai
atau penyangga (sling).
2. Pembalut pita
Pembalut bentuk pita ada bermacam-macam:
 Pembalut kasa gulung
Biasanya untuk pembalut luka sederhana atau pembalut gips.
Pembalut kasa dipakai bila diperlukan pembalut yang kaku dan
kuat misalnya untuk penutup kepala, bidai, pembalut gips (saat ini
jarang dipakai)
Disamping itu bisa juga dibuat dari kain katun atau kain flanel, dan
seringkali dipakai untuk tujuan PPGD.
 Pembalut elastik
Tersedia di toko dengan ukuran 4 dan 6 inch.
Bisa dipakai untuk berbagai tujuan: penahan, penekanan, pelindung
dan penyangga, sehingga pemakaiannya sangat luas.
 Pembalut tricot
Terdiri dari Rain seperti kain kasa sehingga agak elastik bagian
tengahnya diisi kapas sehingga berbentuk bulat panjang. Tersedia di
toko dengan berbagai ukuran: 2, 4 , 6 dan 10 inch. Pemakaiannya
sebagai bebat, tekan, penahan, penyangga dan pelindung.
 Lain - lain

43
"Stocking" elastik, terbuat dari bahan elastik dengan tekanan
tertentu.Yang lain misalnya baju elastik.
"Butterfly", terbuat dan plester kecil untuk merapatkan luka-luka
kecil tanpa dijahit
3. Plester
Terdiri dari pita berperekat, dipergunakan untuk :
a. melekatkan kassa penutup luka
b. untuk fiksasi
c. untuk adaptasi, mendekatkan tepi-tepi luka lama yang sudah bersih.
Saat ini telah tersedia lembaran/anyaman berperekat yang tahan air
(Hipafix). Untuk melekatkan penutup luka secara berkeliling dengan sedikit
penekanan dan agak kedap air.

TEKNIK PEMBALUTAN
 Pembalut Segitiga
1. Untuk kepala
 "Capitalum parvum triangulare" (triangle of head or scalp)
Untuk pembungkus kepala/penahan rambut
 “Fascia Nadosa”
Untuk fiksasi cedera tulang/sendi pada wajah
Untuk pembalut mata/telinga/perdarahan temporal
2. Untuk pembalut sendi bahu, sendi panggul
3. Untuk pembalut punggung/dada, penyangga buah dada
4. Untuk pembalut sendi siku/lutut/tumit/pergelangan tangan
5. Untuk pembalut tangan/kaki
6. Untuk penyangga lengan/bahu (sling)
7. Penggunaan segitiga Funda (Funda Maxillae, F. Nasi, F. Frontis, F.
Vertics, F. Occipitis, F. Calcanei)
8. Penggunaan segitiga Plantenga (Penyangga/penekan buah dada,
pembalut perut/bokong)
 Pembalut Pita
Pembalut gulung dapat dibuat dari kain katun, kain kasa, flanel,
ataupun bahan yang elastik. Tetapi yang banyak dijual di apotik -apotik ialah
yang terbuat dari kain kasa. Keuntungan kain kasa ini ialah: mudah
menyerap air atau darah dan tidak gampang bergeser sehingga mengendor.
1. Untuk kepala dan wajah
 Fascia Galenica, Mitra Hippocratis (F. Capitalis)
 Fascia Nadosa, Fascia Sagittalis
 Monoculus/Binoculus, balut telinga cara komer
2. Untuk anggota badan berbentuk bulat panjang
 Balutan biasa berulang (dolabra cuttens): Untuk leher,
telinga,tungkai
 Balut pucuk rebung (dolabra reversa): Untuk lengan, tungkai
44
3. Untuk anggota badan berbentuk lonjong
 Dolabra reversa
 Balut belit ular (dolabra repens)
4. Untuk persendian
 Balut silang (Spica, figure of eight)
 Balut penyu (Testudo : inversa/reversa)
5. Beberapa metode lain-lain
 Stella Pectoris, Stella Dorsi
Untuk menutup dan menekan luka di dada dan punggung
Stella Dorsi dapat dipakai untuk fraktur ciavicula (cara lain dengan
Ransel Verband)
 Suspensorium Mamae (simple/duplex) dari van Eden
Untuk menyangga buah dada yang sakit/sehabis operasi
Bisa untuk balut penekan dengan sedikit modifikasi
 Balutan penarik/traksi kulit
Sesudah pleister diletakkan pada sisi tungkai, luarnya dibalut dengan
balutan elastik dolabra currens pada betis dan paha, sedangkan pada
lutut memakai testudo reversa.

45
BIDAI
Tim Darurat Medik Universitas Yarsi

Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan atau letak
tulang yang patah.
Alat penunjang berupa sepotong tongkat, bilah papan, tidak mudah bengkok
ataupun patah, bila dipergunakan akan berfungsi untuk mempertahankan, dan
menjamin tidak mudah bergerak sehingga kondisi patah tulang tidak makin parah.

Tanda-tanda patah tulang atau fraktur


a. Bagian yang patah mengalami pembengkakan (edema)
b. Daerah yang patah terasa nyeri (dolor)
c. Terjadi perubahan bentuk pada bagian yang patah
d. Anggota badan yang patah mengalami gangguan fungsi (functiolaesa)

Macam-macam bidai (splint)


a. Splint improvisasi
 Tongkat : kayu, koran, majalah
 Fiksasi lengan dengan badan, ekstremitas bawah
b. Splint konvensional
Universal splint atas bawah

Persiapan pembidaian
a. Periksa bagian tubuh dengan teliti. Periksa juga status vaskuler, neurologis,
serta jangkauan gerakan
b. Pilihlah bidai yang tepat

Alat-alat pokok pembidaian


1. Bidai atau spalk terbuat dari kayu atau bahan lain yang kuat tetapi ringan
2. Pembalut segitiga
3. Kasa steril

46
Prinsip pembidaian
1. Prinsip pembidaian melalui 2 sendi. Sebelah proksimal dan distal dari fraktur
2. Pakaian yang menutup bagian yang cedera dilepas, periksa adanya luka
terbuka atau tanda-tanda patah dan dislokasi.
3. Periksa dan catat ada tidaknya gangguan vaskuler dan neurologis pada bagian
distal yang mengalami cedera sebelum dan sesudah pembidaian.
4. Tutup luka dengan kasa steril.
5. Pembidaian dilakukan pada bagian proksimal dan distal daerah trauma
(dicurigai patah atau dislokasi).
6. Jangan memindahkan penderita sebelum dilakukan pembidaian kecuali ada di
tempat berbahaya.
7. Beri bantalan yang lembut pada pemakaian bidai yang kaku.
8. Periksa hasil pembidaian supaya tidak terlalu longgar atau ketat.
9. Perhatikan respon fisik dari pasien.

Syarat-syarat bidai
 Ukuran meliputi lebar dan panjangnya disesuaikan dengan kebutuhan
 Panjang bidai diusahakan melampaui dua sendi yang membatasi bagian yang
mengalami patah tulang.
 Usahakan bidai dengan lapisan empuk agar tidak membuat sakit
 Bidai harus dapat mempertahankan kedudukan dua sendi tulang yang patah
 Bidai tidak boleh terlalu kencang atau ketat

Perhatian
 Pada saat pemasangan bidai ingat nyeri dapat lebih menghambat, dapat
menyebabkan shock.
 Pada saat pemasangan bidai yang kurang hati-hati dapat mengakibatkan
patah tulang makin parah.
 Kain segitiga untuk menyangga anggota badan atas
 Cara memasang bidai bagian atas
 Bidai untuk lengan bawah
 3 buah kain segitiga untuk fiksasi patah tulang iga
 Bidai/fiksasi untuk cerai sendi bahu
 Bidai untuk jari tangan yang patah
 Bidai untuk patah tulang sendi lutut
 Bidai untuk patah tulang paha

47
Contoh Penggunaan Bidai
Fraktur
1. Fraktur Humerus
Pertolongan :
1. Letakkan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap ke dalam
2. Pasang bidai dari siku sampai ke atas bahu
3. Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah
4. Lengan bawah digendong
5. Jika siku juga patah dan tangan tak dapat dilipat, pasang spalk ke lengan
bawah dan biarkan tangan tergantung tidak usah digendong.
6. Rujuk RS
2. Fraktur Antebrachii
Pertolongan :
1. Letakkan tangan pada dada
2. Pasang bidai dari siku sampai punggung tangan
3. Ikat pada daerah atas dan di bawah tulang yang patah
4. Lengan digendong
5. Rujuk ke RS
3. Fraktur Clavicula
Tanda-tanda patah tulang selangka :
1. Korban tidak dapat mengangkat tangan sampai atas bahu
2. Daerah yang patah nyeri tekan
Pertolongan :
1. Dipasang ransel perban
2. Bagian yang patah diberi alas terlebih dahulu
3. Pembalut dipasang dari pundak kiri disilangkan melalui punggung ke axilla
kanan
4. Dari axilla kanan ke depan atas pundak kanan, dari pundak kanan disilangkan
ke axilla kiri, lalu ke pundak kanan dan akhirnya diikat.
5. Rujuk ke RS
4. Fraktur Femur

48
Pertolongan :
1. Pasang bidai dari :
 Axilla sampai sedikit melewati mata kaki
 Lipat paha sampai sedikit melewati mata kaki
2. Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah
3. Bila perlu ikat kedua kaki di atas lutut dengan pembalut untuk mengurangi
pergerakan
4. Rujuk ke RS
5. Fraktur Cruris
Pertolongan :
1. Pasang dua bidai sebelah dalam dan sebelah luar tungkai kaki yang pat ah
2. Diantara bidai dan tungkai beri kapas atau kain sebagai alas
3. Bidai dipasang antara mata kaki sampai beberapa cm di atas lutut.
4. Rujuk ke RS

Dislokasi
Terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat hanya
komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang
dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi).

Penatalaksanaan fraktur dan bidai secara umum

1. Hati-hati pada fraktur pelvis dan tulang besar & harus control perdarahan
2. Secondary survey :
1. Look : lihat, inspeksi : ada luka?

2. Feel : raba, palpasi : bagaimana nvd?

3. Move : gerakan, jangan lakukan bila ada fraktur.

4. Ukur apa ada perbedaan panjang extremitas

3. Periksa semua persendian dari sakit dan pergerakan


4. Ukur dan catat denyut nadi, pergerakan & sensibilitas extremitas distal
5. Krepitasi adalah tanda fraktur
6. Krepitasi tulang diimobilisasi untuk melindungi jaringan lunak
7. Krepitasi ujung tulang yang patah saling bersinggungan satu sama lain dan
menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut

1. Dislokasi Rahang
Gejala dan Tanda :
1. Tidak bisa menutup mulut
2. Rasa sakit di depan telinga
3. Lunak
4. Ludah mengalir
Pertolongan :

49
1. DRABC
2. Lepaskan gigi palsu bila ada
3. Topang dagu bagian bawah
4. Cari pertolongan medis
2. Dislokasi Sendi Jari
Tindakan pertolongan :
1. Biarkan pada posisi yang tidak nyeri
2. Untuk sementara waktu sendi tersebut dibidai dengan menggunakan sebila
bambu atau kayu yang telah dilapisi, jari dibidai dalam keadaan setengah
melingkar, seolah-olah membentuk huruf O dengan ibu jari
3. Bawa ke rumah sakit
3. Dislokasi Sendi Bahu
Tanda :
1. Posisi tangan sedikit abduksi, ke atas dan ke dalam
2. Sendi bahu kosong
3. Penonjolan tulang acromion
4. Sendi siku posisi fleksi
5. Adanya masa di regio subcoracoid
Pertolongan :
1. Korban didudukkan, biarkan pada posisi paling tidak nyeri, menurut korban
(posisi yang paling tidak nyeri adalah dengan menyilangkan lengan pada
dada)
2. Lengan ditahan dengan pembalut penyangga
3. Selipkan bantalan yang lunak diantara lengan dan pada dada sisi yang sakit
4. Bawa korban ke rumah sakit
4. Dislokasi Sendi Panggul
Tanda :
1. Pemendekkan
2. Sedikit adduksi
3. Rotasi interna dan sedikit fleksi, dan lutut terputar ke dalam
4. Nyeri pada setiap usaha menggerakkan pinggul
Pertolongan :
1. DRABC
2. Biarkan dengan posisi paling tidak nyeri yaitu dengan men ekuk lututnya
secara hati-hati lalu di bawah lututnya diberi ganjal dengan kain atau selimut
3. Imobilisasi dengan tanda atau penopang yang kuat
4. Keluarkan isi kantong celana
5. Minta agar korban jangan buang air kecil dulu
6. Tenangkan korban
7. Hubungi ambulans
Jika petugas medis belum datang juga :
 Gunakan perban lunak di antara lutut, tungkai, dan mata kaki
 Pasang balut angka 8 pada kaki dan mata kaki
 Pasang perban lebar pada kedua lutut

50
 Panggul diganjal dengan kain atau selimut yang digulung

Beberapa Hal Yang Penting Dalam Menangani Fraktur & Dislokasi

1. Harus mengetahui mekanisme fraktur dan komplikasinya


2. Mulai dengan primary survey
3. Lihat dan periksa bagian luka
4. Waspada pada patah tulang
5. Catat pembuluh darah dan sensasi sebelum dan sesudah pemasangan splinting
6. Luruskan persendian dengan hati-hati
7. Curiga fraktur!! Lakukan imobilisasi
8. Splint pasien pada waktu yang tepat
9. Ragu-ragu pada tulang belakang lakukan aplinting pada long spine board
10. Jangan sia-siakan golden hour

51