Anda di halaman 1dari 18

balok adalah bagian dari struktural sebuah bangunan yang kaku dan dirancang untuk menanggung dan mentransfer

beban menuju
elemen-elemen kolom penopang yang memiliki fungsi sebagai rangka penguat horizontal bangunan akan beban-beban.

jenis-jenis balok :

1. Balok sederhana

Perhitungan beban balok sederhana


Balok sederhana bertumpu pada kolom diujung-ujungnya, dengan satu ujung bebas berotasi dan tidak memiliki momen tahan.
Seperti struktur statis lainnya, nilai dari semua reaksi,pergeseran dan momen untuk balok sederhana adalah tidak tergantung
bentuk penampang dan materialnya.

2. Kantilever
Perhitungan beban balok kantilever
Kantilever adalah balok yang diproyeksikan atau struktur kaku lainnya didukung hanya pada satu ujung tetap. Kantilever
menanggung beban di ujung yang tidak disangga.

3. Balok teritisan

Balok teristisan adalah balok sederhana yang memanjang melewati salah satu kolom tumpuannya.

4. Balok dengan ujung-ujung tetap

Balok dengan ujung tetap


Balok dengan ujung-ujung tetap ( dikaitkan kuat ) dibuat untuk menahan translasi dan rotasi. Ujung-ujung dari balok ini
dikunci sedemikian kuat sehingga tidak bergerak ataupun bertotasi karena momen.

5. Bentangan tersuspensi

Bentangan tersuspensi adalah balok sederhana yang ditopang oleh teristisan dari dua bentang dengan konstruksi sambungan
pin pada momen nol.

6. Balok Menerus atau kontinu

Balok menerus atau kontinyu


Balok Menerus memanjang secara menerus melewati lebih dari dua kolom tumpuan untuk menghasilkan kekakuan yang lebih
besar dan momen yang lebih kecil dari serangkaian balok tidak menerus dengan panjang dan beban yang sama.
Faktor -Faktor Penyebab Keretakan Beton Yang Terjadi Saat Pembuatan Beton Bertulang

1. Sifat Beton
Untuk melihat bagaimana sifat dari beton bertulang yang dapat menimbulkan keretakan kita harus melihat proses dari awal
pembuatan beton bertulang tersebut. Pada saat awal pembuatan beton bertulang dengan pencampuran bahan penyusunnya
seperti kerikil, pasir, air, semen, dan baja tulangan. Dalam proses pengerasannya beton akan mengalami pengurangan
volume dari volume awal. Umumnya hal ini disebabkan air yang terkandung pada campuran beton akan mengalami
penguapan sebagian yang mengurangi volume beton bertulang tersebut.

Sehingga apabila dikondisikan pada saat beton mengalami pengerasan dan akibat dari volume beton berkurang yang akan
menyebabkan penyusutan pada beton tetapi beton tersebut dibiarkan untuk menyusut tanpa adanya pembebanan maka beton
pun tidak akan mengalami keretakan. Tetapi pada kondisi sebenarnya dilapangan tidak ada beton yang tidak mengalami
pembebanan. Karena tidak ada balok atau kolom pada bangunan yang berdiri sendiri melainkan akan bersambung satu sama
lain dan hal ini akan membuat beton bertulang bekerja menahan beban-beban pada bangunan.

Sehingga apabila pada kondisi saat beton mengalami penyusutan volume kemudian terjadi pembebanan, maka retakan pun
tidak dapat dihindari.

2. Suhu
Tidak dapat diabaikan suhu juga dapat menyebabkan keretakan pada beton bertulang. Maksud suhu disini adalah suhu
campuran beton saat mengalami perkerasan. Karena pada saat campuran beton bertulang mengalami perkerasaan suhu yang
timbul akibat reaksi dari air dengan semen akan terus meningkat. Sehingga pada saat suhu campuran beton ini terlalu tinggi,
pada saat beton sudah keras sering timbul retak-retak pada permukaan beton.

3. Korosi pada tulangan


Sebenarnya untuk mengantisipasi retakan yang terjadi akibat dari sifat beton itu sendiri, beton diberi tulangan pada bagian
dalamnya yang terbuat dari baja. Sehingga diharapkan dengan adanya baja tulangan tersebut retakan akibat dari sifat beton
disebar pada keseluruhan beton menjadi bagian-bagian yang sangat kecil sehingga retakan tersebut dapat diabaikan. Tetapi
apabila tulangan yang dipakai pada saat pembuatan beton sudah meengalami korosi, tulangan tersebut itu pun akan
menyebabkan retakan pada saat beton mengeras.

4. Proses pembuatan yang kurang baik


Banyak sekali penyebab retak yang terjadi pada beton bertulang disebabkan oleh proses pembuatan yang kurang baik.
Seperti contoh pada saat beton mengalami perkerasan dimana banyak mengeluarkan air, maka perlu adanya perawatan pada
beton agar pengeluaran air dari campuran beton tidak berlebihan. Tetapi akibat tidak adanya perawatan, sehingga pada saat
beton terbentuk maka terjadi banyak retakan.

5. Material yang kurang baik.


Banyak sekali terjadi keretakan pada struktur beton bertulang diakibatkan karena material penyusunnya yang kurang baik.
Beberapa hal diantaranya yang sering ditemukan adalah aggregat halus atau pasir yang kurang bersih, masih bercampur
dengan lumpur sehingga ikatan antara PC dan aggregat menjadi terlepas. Sehingga ketika beton mengering maka retakan-
retakan akan mudah sekali terjadi.

6. Cara penulangan
Sering sekali saya menemukan struktur beton bertulang dibuat dengan cara yang kurang tepat. Hal yang paling umum
terjadi adalah ketebalan dari tulangan sampai permukaan beton terlampau besar. Hal ini sebenanrnya kurang tepat karena
fungsi dari baja tulangan tersebut adalah untuk menahan gaya lintang (pada balok dan plat), deformasi akibat lendutan, serta
gaya geser.

Jika tebal selimut beton terlampau besar makan retakan biasa terjadi mulai dari permukaan struktur beton sampai pada
bagian tulangan yang ada didalamnya. Seharusnya tulangan dibuat agak keluar, dan selimut atau kulit yang membungkus
tulangan dibuat setipis mungkin (1,5 s/d 2 cm). Karena gaya tarik dan gaya tekan paling besar terjadi pada ujung permukaan
beton tersebut.
Contoh Penulangan Pada Struktur Beton Bertulang (Reinforced Concrete)

Faktor- Faktor Penyebab Keretakan Beton Yang Terjadi Setelah Pembuatan Beton Bertulang

1. Pengaruh lingkungan
Karena beton bertulang pada bangunan mengalami kontak langsung dengan cuca luar, pengaruh cuaca ini sedikit
banyakanya memberi andil dalam keretakan pada beton sehingga konstruksi bangunan yang berumur cukup lama banyak
mengalami retakan. Salah satu pengaruh lingkungan yang menyebabkan beton retak adalah akibat dari air hujan. Akibat
sekian lama beton pada bangunan tua menerima air hujan secara langsung, lama – kelamaan air hujan masuk meresap
kedalam pori-pori beton yang kemudian mencapai tulangan pada beton.
Apabila saat air hujan telah mengenai baja tulangan, maka akan terjadi reaksi antara baja tulangan dengan tulangan yang
menyebakan baja tulangan menjadi berkarat atau korosif. Akibat korosifnya baja tulangan dan ditambah faktor luas seperti
pembebanan mengakibatkan beton akan mengalami retak-retak.

2. Pembebanan
Setelah struktur beton bertulang sudah jadi dan bangunan secara keseluruhan telah siap untuk digunakan, maka struktur
beton bertulang tersebut akan menerima beban-beban. Beban-beban yang bekerja pada struktur beton bertulang secara
umum terdiri atas bebean sendiri dan beban luar (beban akibat angin, manusia, beban gempa, dsb).

Apabila struktur beton bertulang tersebut menerima beban sesuai dengan kapasitas atau kuat dukung beban yang
direncanakan, seharusnya struktur beton tersebut akan baik-baik saja. Tetapi kadangkala beton akan menerima beban diluar
kemampuannya, dan biasanya pembebanan yang melebihi kapasitas yang telah direncanakan itulah yang menyebabkan
keretakan pada struktur beton.

Pada saat terjadi keretakan, besi tulangan (pada daerah tarik) tersebut mulai mengambil alih secara penuh beban tarik yang
terjadi. Artinya beton (daerah tarik) sudah tidak memikul beban tarik. Beban tarik dialihkan ke besi tulangan. Secara
struktural kondisi ini memang dirancang seperti itu dan kekuatan struktur masih dapat dipertanggung jawabkan. Beton yang
retak saat beban mulai bertambah sama sekali tidak berarti ada kegagalan struktur.

Lokasi retakan yang terjadi saat beban mulai membesar adalah pada daerah tumpuan / ujung balok sisi atas dan tengah
bentang di sisi bawah. Pengalaman saya, retak yang terjadi hanya 1-2 retakan di satu tempat observasi. Dimana tebalnya
juga tidak besar. Bahkan seringkali hanya retak rambut. Keretakan seperti ini mestinya tidak perlu diperbaiki sama sekali.
Ini kondisi yang alamiah terjadi dan memang perhitungannya sudah memperhitungkan retak itu akan terjadi.

Jika retak beton yang terjadi masih wajar seperti retak halus atau retak rambut , maka tidak perlu diperbaiki. Tidak perlu
juga untuk khawatir, karena perhitungan struktur beton memang sudah tidak memperhitungkan beton yang mengalami
retak. Namun jika retak yang terjadi cukup parah, perlu dilakukan penelitian yang lebih rinci yang melingkupi perhitungan
struktur sesuai kondisi lapangan. Apakah cukup ditutup dengan epoxy, memperbesar dimensi struktur beton bertulangnya
atau diberi perkuatan tambahan.
Panduan Perbaikan Kerusakan pada Kolom atau Balok Kompas.com - 02/05/2008, 08:36 WIB A. Tulangan sudah luluh
Menurut Muljady Wongsonegoro, Dipl, Ing (Head of Engineering PT Bersama Bangun Persada—distributor dan aplikator
material perbaikan struktur StoCrete), bila kondisi tulangan kolom sudah luluh dan tidak terlalu parah sehingga bangunan
tidak miring, tulangan yang rusak bisa dipotong dan diganti dengan tulangan baru. Periksalah apakah tulangan yang ada di
kolom itu cukup aman menahan beban atau belum. Bila sudah cukup kuat, langkah perbaikannya adalah sebagai berikut.
1.Tahan beban kolom yang akan diperbaiki dengan kayu atau besi. 2.Bongkarlah beton yang masih melekat di sekitar
tulangan yang luluh. 3.Besi yang luluh dipotong lalu diganti dengan tulangan baru. Perhatikan sambungan tulangan baru
dengan tulangan yang lama. Sebaiknya tulangan lama menindih (overlaping) tulangan baru dengan panjang sama. Jika
diameter tulangan 12 mm, maka panjang overlaping tulangan sekitar 480 mm. Setelah itu, ikatlah sambungan dengan kawat
atau las. 4.Pasanglah bekisting di sekitar kolom yang diperbaiki. Setelah itu, masukkan material beton dengan mutu beton
sesuai dengan kualitas mutu beton yang lama atau bisa juga dengan material khusus untuk perbaikan beton. B. Tulangan
belum luluh Kerusakan dengan kondisi tulangan belum luluh yang kerap terjadi adalah retak, beton hancur sebagian, dan
selimut beton terlepas. Ir Sondra Gosali (Sales dan Marketing Manager PT Sika Indonesia) menjelaskan bahwa ada tiga
metode perbaikan, yaitu patching (plester), grouting (menambah dengan campuran beton dan aditif), dan injection (suntik
dengan bahan kimia). Berikut proses perbaikan berdasarkan jenis kerusakannya. 1.Retak Jika permukaan kolom atau balok
retak, langkah pertama yang dilakukan adalah mengecek apakah keretakan itu ada pada selimut beton atau pada “daging”
beton. Keretakan pada selimut beton bisa diatasi dengan menambal keretakan (patching) menggunakan bahan material
perbaikan struktur berbahan dasar polymer. Atau bisa juga menggunakan campuran semen dan air. Bila ternyata keretakan
ada pada “daging” beton, maka metode perbaikannya bisa menggunakan metode grouting atau injection. Proses pengerjaan
metode grouting adalah dengan membongkar retakan hingga dasar retakan atau sampai terlihat daging betonnya. Pastikan
beton yang ada di sekeliling retakan tidak rontok. Setelah itu, tuang material perbaikan struktur berbahan dasar semen pada
celah retakan. Sebaiknya gunakan bounding agent (bahan seperti lem) untuk mempermudah proses perekatan antara beton
lama dan material perbaikan struktur. Bounding agent bisa juga diganti dengan air. Siram air pada permukaan beton lama
pada celah retakan. Sedangkan proses metode injeksi dimulai dengan menutup permukaan retakan menggunakan material
berbahan epoxy. Setelah itu, buatlah lubang di sepanjang retakan dengan jarak antarlubang sekitar 25 cm dan tutuplah
lubang dengan selang karet. Masukkan material perbaikan struktur berbahan dasar epoxy ke dalam selang karet. Jika
material itu keluar pada salah satu selang karet, maka segera tutup lubang selang itu. Masukkan kembali material epoxy ke
lubang yang lain. Ulangi proses itu hingga semua selang karet tertutup. Jika semua selang karet tertutup, ini berarti semua
celah pada retakan sudah terisi material epoxy. 2. Beton hancur sebagian Untuk memperbaikinya, metode yang digunakan
adalah metode grouting. Proses perbaikan untuk kerusakan kolom adalah sebagai berikut: - Tahan beban kolom dengan
memberi kayu atau besi di sekeliling kolom. - Bersihkan beton yang masih menempel di sekeliling pecahan beton. Ketuk di
sekeliling pecahan untuk memastikan sudah tidak ada lagi beton yang bisa terkelupas. - Buatlah bekisting di sekeliling
kolom. - Cor kembali bagian kolom yang terkelupas tadi dengan campuran beton dan bahan aditif. Bila tidak mau repot,
saat ini di pasaran sudah tersedia material yang siap pakai untuk memperbaiki struktur. Material yang berbahan dasar semen
ini dikenal dengan nama cemen grout. 3. Selimut beton terkelupas Kerusakan seperti ini tergolong kerusakan kosmetik.
Maksudnya, hanya penampilannya saja yang rusak. Untuk memperbaikinya, metode yang tepat adalah dengan metode
patching. Caranya adalah sebagai berikut: - Bersihkan atau lepas selimut beton yang masih menempel di sekitar selimut
beton yang terkelupas. - Lapisi permukaan beton yang terkelupas dengan bounding agent. - Berikan adukan plesteran
khusus untuk perbaikan struktur pada permukaan beton yang terkelupas. Biasanya material plesteran ini terdiri dari dua
komponen.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Panduan Perbaikan Kerusakan pada Kolom atau Balok",
https://nasional.kompas.com/read/2008/05/02/0836221/panduan.perbaikan.kerusakan.pada.kolom.atau.balok.

Kerusakan bangunan penyebab dan solusi


Published September 5, 2009 Tips Trik Bangunan Leave a Comment
Tag:kerusakan bangunan
Hal tersebut sudah sangat sering terjadi, pernahkan anda mengalaminya ? Berikut beberapa gejala yang sering terjadi pada
rumah ( baik baru ataupun lama ) :

Retak Rambut.
Disebut demikian karena sangat tipis dan lembut, retak ini lebarnya tidak lebih dari 1mm, dan tidak tembus kesisi dinding
lainnya,

Penyebabnya :
kurang sempurnanya pengerjaan, pengerjaan acian,plesteran tidak disiram dahulu, atau plesteran belum benar-benar kering,
campuran untuk plester kurang sempurna, dapat juga akibat dari pemakaian cat yang tidak mempunyai elastisitas baik.
Solusi :

Kupas seluruh cat, dengan menggunakan sekrap, kemudian diamplas sampai plamir benar benar hilang sampai terlihat acian
dinding. Bersihkan dinding dengan lap yang basah untuk menghilangkan debu. Kwaskan wall sealer, dengan menggunakan
kwas atau rol, untuk 1 liter wall sealer dapat menutup permukaan dinding 10-14 m2.Setelah kering (antara 2 – 3 jam),
kemudian dinding di wall filler pada seluruh bagian dinding yg retak dengan menggunakan kape atau scrap, setelah benar-
benar kering (waktu pengeringan 2 jam – 6 jam).Kemudian dinding didempul dan di amplasSetelah dinding diamplas,
kwaskan lagi dengan wall sealer.Tahapan berikutnya adalah pengecatan.

Retak struktur
Retak yang lebarnya lebih dari 2 mm, dan tembus kesisi sebelahnya, retak struktur akibat dari pergerakan fondasi, yaitu
penurunan fondasi dikarenakan daya dukung tanah tidak mampu mendukung beban yang diterima oleh fondasi, dapat juga
disebabkan oleh fondasi atau sloof yang tidak mampu mendukung beban diatasnya karena kwalitas bahan untuk pembuatan
fondasi ataupun sloof kurang baik atau cara pengerjaan yang kurang sempurna.

Solusi :
Sebelum melakukan tindakan perbaikan harus diketahui dahulu kerusakan tersebut disebabkan oleh apa. Yaitu dengan cara
menggali disisi dinding yang retak, apabilah disebabkan oleh tidak mampunya tanah mendukung beban yang diteima oleh
fondasi ditandai dengan adanya patahan pada fondasi maupun sloof secara vertical, untuk mencegah agar fondasi tidak
turun kembali, dari sisi samping di trukcuk dengan bambu diameter 10 cm panjang 100 cm dengan cara dipalu dg
bodem.langka selanjutnya perbaikan fondasi yaitu dibongkar pada bagian yang retak, sebaiknya setelah dibongkar saat akan
memasang kembali batu fondasi gunakan lem beton ( Stirobond atau Calbond), untuk perbaikan sloof, betel sekitar 50 cm
pada lokasi yang retak, kemudian tambahkan tulangan diameter 10 cm, saat melakukan pengecoran ulang , sebelum dicor
sebaiknya gunakan lem beton. Perbaikan dinding dg cara plesteran dibetel selebar 5 cm pada lokasi yang retak, sebelum
diplester kembali, lem dengan menggunakan lem beton.

Balok Beton Retak


Retak struktur pada balok memiliki pola vertikal atau diagonal, selain itu terdapat juga pola retak-retak rambut. Keretakan
balok beton dapat dikategorikan menjadi retak struktur yang terdiri dari retak lentur yang memiliki pola vertikal/tegak
biasanya disebabkan oleh beban yang melebihi kemampuan balok dan retak geser yang memiliki pola diagonal/miring biasa
terjadi setelah adanya retak lentur yang memiliki pola vertikal. Retak geser juga dapat terjadi jika balok terkena gaya
gempa. Selain itu keretakan balok dapat disebabkan proses pengerjaan yang kurang sempurna. Retak-retak kecil atau retak
rambut, banyak disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Umumnya terjadi karena balok terpapar sinar matahari dan hujan.

Solusi :
Untuk balok beton yang di bawahnya terdapat dinding, dapat dibuat kolom/tiang kecil tambahan disekitar retakan. Fungsi
kolom ini adalah untuk menopang balok dan membantu menyalurkan beban ke bawah/pondasi.
Untuk balok beton yang di bawahnya tidak memungkinkan diberi kolom tambahan, pertama-tama diberi injeksi epoxy pada
retakan, kemudian dilakukan pembesaran dimensi balok dengan perkuatan eksternal.Untuk retakan kecil, cukup dilakukan
penambalan dengan plesteran. Tujuannya agar tulangan besi tidak berhubungan langsung dengan udara luar yang dapat
menyebabkan karat.

Kolom Retak
Keretakan pada kolom bisa dikategorikan menjadi tiga jenis, kerusakan yang sifatnya tidak membahayakan, sedang dan
membahayakan bila tidak segera ditangani. Apa saja yang menyebabkan kolom retak ?

Retak geser
Retak dengan pola diagonal/miring pada kolom biasanya disebut retak geser, yang disebakan oleh gaya pada arah
horisontal/datar. Retak geser seperti ini cukup membahayakan bila tidak segera di tangani, karena bisa menyebakan kolom
roboh dan tidak mampu menopang bangunan.

Retak lentur
Retak dengan pola horisontal/datar biasanya disebut retak lentur, disebabkan oleh tekanan yang berlebihan pada kolom.
Seperti halnya retak geser, retak lentur perlu ditangani dengan cermat.

Selimut beton terkelupas


Selimut beton pada kolom terkelupas, dapat disebakan oleh rendahnya kualitas/mutu beton yang digunakan, sehingga
kekuatan beton terhadap tekanan berkurang dan selimut beton mudah pecah. Kontrol terhadap tahapan pembangunan sangat
diperlukan untuk mencegah penurunan kualitas beton.

Keramik Pecah, Akibat Lantai Beton Retak

Penyebab :
Pecahnya keramik lantai bisa disebabkan oleh beton di bawahnya. Lantai beton yang terkena beban yang melebihi
kapasitasnya akan retak/pecah. Akibatnya lantai keramik yang menempel di atasnya turut retak/pecah.
Adanya gempa menyebabkan lantai beton terkena gaya geser sehingga mengalami pergerakan. Gerakan ini juga dapat
menyebabkan lantai keramik di atasnya retak/pecah.
Penggunaan kualitas beton yang tidak memenuhi syarat. Misalnya komposisi campuran semen, pasir dan air yang tidak
sesuai atau menggunakan air yang kotor dapat menyebabkan lantai beton retak.
Kesalahan teknis dalam pengerjaan lantai beton, misalnya kekeliruan pada susunan.anyaman besi beton, posisi sambungan
coran beton, perancah/bekisting dilepas sebelum beton cukup keras.

Solusi :
Lepaskan lantai keramik yang pecah dan kikis retakan pada lantai beton.
Beri cairan kimia khusus untuk menutup retakan.
tutup kembali permukaan lantai beton yang sudah diperbaiki dengan keramik.

Retakan pada balok


Jika ada sebuah balok yang ditumpu secara sederhana (yaitu dengan tumpuan sendi-rol), kemudian di atas balok diberi
beban cukup berat, balok tersebut dapat terjadi 2 jenis retakan, yaitu retak yang arahnya vertikal dan retakan yang arahnya

miring.

Retak vertikal terjadi akibat kegagalan balok dalam menahan beban lentur, sehingga biasanya terjadi pada daerah lapangan
(benteng tengah) balok, karena pada daerah ini timbul momen lentur paling besar. Retak miring terjadi akibat kegagalan
balok dalam menahan gaya geser, sehingga biasanya terjadi pada daerah ujung (dekat tumpuan) balok, karena pada daerah
ini timbul gaya geser/gaya lintang paling besar.

Retak balok akibat gaya geser

Untuk memberikan gambaran cukup jelas tentang bekerjanya gaya geser/gaya lintang pada balok, diambil sebuah elemen
kecil dari beton yang berada di dekat ujung balok, kemudian elemen tersebut diperbesar sehingga dapat dilukiskan gaya-
gaya geser di sekitar elemen beton seperti gambar di bawah.
Pada gambar (a), akibat berat
sendiri dan beban-beban di atas balok, maka pada tumpuan kiri maupun kanan timbul reaksi (RA dan RB) yang arahnya ke
atas, sehingga pada tumpuan kiri terjadi gaya lintang/geser sebesar RA ke atas.
Gaya lintang RA ini berakibat pada elemen beton
(yang diperbesar) pada gambar (b) sebagai berikut :

1. Arah reaksi RA ke atas, sehingga pada permukaan bidang elemen sebelah kiri terjadi gaya geser dengan arah ke atas
pula.
2. Karena elemen beton berada pada keadaan stabil, berarti terjadi keseimbangan gaya vertikal pada elemen beton,
sehingga pada permukaan bidang elemen sebelah kanan timbul gaya geser ke bawah. Kedua gaya geser pada kedua
permukaan bidang (bidang kiri dan kanan) ini besarnya sama.
3. Akibat gaya geser ke atas pada kedua permukaan bidang kiri dan gaya geser ke bawah pada permukaan bidang
kanan, maka pada elemen beton timbul momen yang arahnya sesuai dengan arah putaran jarum jam.
4. Karena elemen beton berada pada keadaan stabil, berarti terjadi keseimbangan momen pda elemen beton, sehingga
momen yang ada harus dilawan oleh momen lain yang besarnya sama tetapi arahnya berlawanan dengan arah
putaran jarum jam.
5. Momen lawan yang arahnya berlawanan dengan arah jarum putaran jam pada item 4) dapat terjadi, jika ada
permukaan bidang elemen sebelah atas ada gaya geser dengan arah kiri, dan pada permukaan bidang elemen sebelah
bawah ada gaya geser dengan arah ke kanan.Kedua gaya geser terakhir ini besarnya juga sama.
Pada gambar (c), terjadi keadaan berikut :

1. Gaya geser ke atas pada permukaan bidang kiri dan gaya geser ke kiri pada permukaan bidang atas, membentuk
resultante R yang arahnya miring ke kiri-atas.
2. Gaya geser ke bawah pada permukaan bidang kanan dan gaya geser ke kanan pada permukaan bidang bawah, juga
membentuk resultante R yang arahnya miring ke kanan-bawah.
3. Kedua resultant yang terjadi dari item 1 dan item 2 tersebut sama besarnya, tetapi berlawanan arah dan saling tarik-
menarik.
4. Jika elemen beton tidak mampu menahan gaya tarik dari kedua resultant R, maka elemen beton akan retak dengan
arah miring, membentuk sudut 45 derajat.