Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI TUMBUHAN

MODUL 01: STRUKTUR TUMBUHAN

oleh:
Kelompok 05
Muhammad Arief Ardiansyah 11215006
Harryyanto Ishaq Agasi 11215035
Dyah Nur Asri Darmastuti Purbo 11215011
Diah Ayu Prawitasari 11215036
Dinda Ayu Islami 11215025

Tanggal Pengumpulan: 31 Januari 2017


Dosen: Ahmad Faizal, Dr.
Asisten: Asri Ifani Rahmawati (11214038)

LABORATORIUM REKAYASA HAYATI


PROGRAM STUDI REKAYASA HAYATI
SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii


BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2. Tujuan Praktikum ..................................................................................... 1
BAB II TEORI DASAR ........................................................................................ 3
2.1. Sel ............................................................................................................. 3
2.1.1. Plastida .............................................................................................. 3
2.2. Jaringan penyokong .................................................................................. 4
2.3. Kristal kalsium pada daun ........................................................................ 4
2.3.1. Jenis-jenis kristal ............................................................................... 5
2.3.2. Cara menentukan adanya kristal pada tumbuhan .............................. 5
BAB III METODOLOGI ....................................................................................... 6
3.1. Alat dan bahan .......................................................................................... 6
3.2. Cara Kerja................................................................................................. 7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................. 10
4.1. Hasil........................................................................................................ 10
4.2. Pembahasan ............................................................................................ 16
4.2.1. Sel utuh daun Hydrilla .................................................................... 16
4.2.2. Sel utuh stamen bunga Rhoeo discolor ........................................... 17
4.2.3. Sel penyokong batang seledri.......................................................... 18
4.2.4. Sel penyokong tempurung kelapa ................................................... 19
4.2.5. Sel penyokong daun Sansiviera ...................................................... 19
4.2.6. Plastida umbi kentang (Solanum tuberosum).................................. 20
4.2.7. Plastida buah alpukat (Persea americana) ...................................... 21
4.2.8. Kristal daun Ficus elastic ................................................................ 22
4.2.9. Kristal daun nanas (Ananas comosum) ........................................... 22
4.2.10. Kristal daun papaya (Carica papaya L.) ......................................... 23
4.2.11. Sel trikoma daun tembakau ............................................................. 23
4.2.12. Sel trikoma daun durian .................................................................. 24

ii
BAB V KESIMPULAN ....................................................................................... 25
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 26

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Struktur tumbuhan merupakan hal yang paling dasar dalam mempelajari
Biologi Tumbuhan. Dengan memahami strukturnya tentu kita akan lebih mudah
dalam mempelajari fungsinya. Maka dari itu identifikasi terhadap struktur
tumbuhan, kaitannya dalam mempelajari fungsi struktur tersebut dalam Biologi
Tumbuhan, mutlak diperlukan.
Mikroskop merupakan alat yang digunakan untuk melihat objek dalalm skala
mikron (10-6 meter). Alat yang mulai marak digunakan pada tahun 1660-an ini
umumnya digunakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme (organisme yang
berukuran mikron). Oleh karena ukuran sel tumbuhan biasanya berkisar antara 0,2
µm sampai 200 mm, maka dapat dipastikan bahwa pengamatan struktur tumbuhan
secara umum dapat dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya.
Adapun menurut Nelson (2004) memang tidak semua bagian dari sel bisa
diamati melalui mikroskop cahaya mengingat keterbatasan yang ada pada
mikroskop tersebut. Umumnya mikroskop cahaya hanya mampu mengidentifikasi
organela yang berukuran relatif besar dan mudah dibedakan seperti inti sel, vakuola
dan plastida. Oleh karena itu dalam praktikum kali ini hanya dilakukan pengamatan
terhadap beberapa bagian atau organela dari tumbuhan yang dapat diidentifikasi
dengan cukup mudah melalui pengamatan dibawah mikroskop cahaya.

1.2. Tujuan Praktikum


Adapun tujuan dari praktikum pada modul 01 ini adalah sebagai berikut.
a) Menentukan adanya aliran sitoplasma dari daun Hydrilla sp. lewat
pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
b) Menentukan bagian sel utuh dari stamen bunga Rhoeo discolor lewat
pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
c) Menentukan tipe jaringan penyokong pada batang seledri lewat
pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
d) Menentukan tipe jaringan penyokokng pada tempurung kelapa lewat
pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
e) Menentukan tipe jaringan penyokong pada daun Sansiviera sp. lewat
pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
f) Menentukan keberadaan amiloplas pada umbi kentang (Solanum
tuberosum) lewat pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
g) Menentukan keberadaan elaeioplas pada buah alpukat (Persea
americana) lewat pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
h) Menentukan keberadaan dan tipe kristal kalsium (jika ada) pada daun
Ficus elastica lewat pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
i) Menentukan keberadaan dan tipe kristal kalsium (jika ada) pada daun
nanas (Ananas comosum) lewat pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
j) Menentukan keberadaan dan tipe kristal kalsium (jika ada) pada daun
pepaya (Carica papaya L.) lewat pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
k) Menentukan jumlah sel penyusun trikoma pada daun tembakau lewat
pengamatan dibawah mikroskop cahaya.
l) Menentukan jumlah sel penyusun trikoma pada daun durian lewat
pengamatan dibawah mikroskop cahaya.

2
BAB II
TEORI DASAR
2.1. Sel
Sel merupakan unit fungsi paling sederhana penyusun setiap organisme (Campbell,
et al., 2010). Setiap organisme di dunia tersusun atas sel. Syarat minimal suatu unit terkecil
kehidupan dapat dikatakan sebagai sel apabila unit terbut memiliki materi genetik,
sitoplasma, ribosom, membran sel. Organisme hidup tersusun dari sel hidup. Suatu sel
dapat dikatakan sebagai sel yang hidup apabila memenuhi beberapa ciri-ciri hidup. Ciri-
ciri sel dikatakan hidup adalah (1) memiliki struktur, (2) membutuhkan nutrisi, (3)
memanfaatkan dan mengkonversi energi (4) melakukan metabolisme, (5) dapat melakukan
aktivitas mekanik, (6) dapat tumbuh dan berkembang, (7) dapat bereproduksi, (8) peka
terhadap stimulus, serta (9) dapat melakukan regulasi diri sendiri (Karp, 2010). Pada
laporan ini, kami berfokus pada sel tumbuhan. Apakah perbedaan mendasar antara sel
tumbuhan dan sel hewan? Proplastid merupakan faktor paling dasar pembeda antara sel
tumbuhan dan sel hewan. Semua bagian tumbuhan pasti mengandung proplastid. Proplastid
selanjutnya terdiferensiasi menjadi plastida. Plastida memiliki banyak jenis.

2.1.1. Plastida
Pada umumnya proplastid berukuran kecil (~ μ m) dan tidak terdiferensiasi
dengan sebuah sistem membran internal yang hanya terdiri dari sedikit tubula. Tubula
ini terhubung dengan membran dalam dari pembungkus proplastid, (Wise & Hoober,
2006). Proplastid yang telah terdiferensiasi menjadi beberapa jenis plastida antara lain
kloroplas, kromoplas, amiloplas, dan elaeioplas.
Kloroplas telah banyak dipelajari oleh ilmuan. Secara umum kloroplas
merupakan organel berpigmen hijau yang berfungsi sebagai tempat terjadi fotosintesis,
(Wise & Hoober, 2006). Kromoplas merupakan plastida berwarna terang yang sering
ditemukan di buah-buahan, bunga-bunga, daun-daun tertentu, serta beberapa akar
tumbuhan. Kromoplas merupakan plastida yang mengandung karotenoid merah, kuning
atau jingga dalam konsentrasi tinggi, (Juneau, Le, Boddi, Samson, & Popovic, 2002).
Amiloplas adalah organel yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan sintesis pati,
(Wise & Hoober, 2006). Elaioplas merupakan organel yang mengandung lemak, (Wise
& Hoober, 2006).

3
2.2. Jaringan penyokong
Jaringan dermal maupun jaringan vaskular termasuk ke dalam jenis jaringan dasar.
Ada pun tiga jenis jaringan dasar, yaitu parenkin, kolenkim, dan sklerenkim. Sel parenkim
dewasa memilki dinding primer yang relatif tipis dan fleksibel. Selain itu parenkim juga
sel yang paling kekurangan dinding sekunder. Parenkim umumnya vakuola sentral yang
besar. sel parenkim melakukan sebagian besar fungsi metabolisme tanaman, mensintesis
dan menyimpan berbagai produk organik, (Campbell, et al., Biology Eight Edition, 2008).
Sel kolenkim membantu dalam menyokong bagian muda dari tanaman. Sel kolenkim
memiliki dinding primer lebih tebal daripada sel parenkim walau pun dinding yang
menebal tidak merata. Tangkai dan batang muda sering memiliki helai sel kolenkim tepat
di bawah epidermis mereka. Contohnya “string” dari tangkai seledri. Sel kolenkim
kekurangan dinding sekunder, serta dinding primernya tidak terdapat lignin. Maka dari itu
sel ini dapat menahan tumbuhan secara fleksibel tanpa menghambat pertumbuhan,
(Campbell, et al., Biology Eight Edition, 2008). Sklerenkim juga berperan sebagai elemen
penyokong tumbuhan tetapi dinding sekunder yang tebal biasanya diperkuat oleh lignin.
Sel sklerenkim jauh lebih kaku daripada kolenkim. Sklerenkim dewasa tidak dapat
mengalami pemanjangan. Sklerenkim diklasifikasin ke dalam 2 jenis, biasa dikenal
sklereid dan fiber, (Campbell, et al., Biology Eight Edition, 2008).

2.3. Kristal kalsium pada daun


Kristal kalsium oksalat pada tumbuhan dianggap sebagai salah satu objek
pertama yang dilihat di bawah mikroskop cahaya (Leeuwenhoek, 1957 dalam
Nakata, 2003). Pada tumbuhan tingkat tinggi, kristal kalsium oksalat paling umum
ditemukan. Kalsium karbonat dan kalsium malat agak langka. Kristal sangat umum
terdapat di dalam sel tumbuhan. Merupakan hasil akhir dari metabolisme sel yang
kemudian disimpan di dalam lumen sel atau vakuola. Bagi tumbuhan jika
berlebihan dapat menjadi racun, oleh karena itu biasanya diikat oleh ion – ion
kalsium, misalnya kalsium oksalat. Selainoksalatterdapat juga kristal karbonat &
silikat. Kristal – kristal tersebut umumnya terdapat didalam sel Parenkim kortex,
floem atau pith (empulur). Kristal terdapat dalam berbagai bentuk (A Fahn,1980
dalam. (Syahya, 2011).

4
2.3.1. Jenis-jenis kristal
Kristal kalsium oksalat memiliki berbagai macam bentuk kristal, yaitu
(Syahya, 2011):
a. Kristal pasir, kalsium oksalat dalam bentuk butiran halus.
b. Kristal tunggal besar, kristal kalsium oksalat dalam bentuk tunggal.
c. Raphida (jarum), kristal kalsium berbentuk seperti jarum selnya dapat
berbentuk sama dengan sel di sekelilingnya atau bentuk idioblas.
d. Kristal styloids, kristal kalsium oksalat yang ujungnya runcing.
e. Cystolith kristal klasium karbonat berbentuk sekelompok buah anggur
yang mempunyai tangkai dan mengandung lithocyst.
f. Stiloid, kristal bebentuk prisma prima panjang dan kedua ujung runcing
seperti bilah ditemukan menyendiri atau berpasangan dalam kelompok
kecil.
g. Kristal druse (majemuk), kristal kalsium oksalat bebentuk bintang atau
rosete.
h. Kristal prismatic, kristal kalsium oksalat bebentuk persegi panjang atau
pyramid.
i. Kristal berbentuk kipas (Sphere Crystal), kristal yang bebentuk kipas
yang mengandung inulin.

2.3.2. Cara menentukan adanya kristal pada tumbuhan


Pada umumnya kristal oksalat yang sering ditemukan pada jaringan
tumbuhan. Krtistal oksalat termasuk bahan ergastik yang bersifat padat.
Terbentuksebagai hasil akhir metabolisme, ada juga yang terbentuk karena
terjadinyapemadatan zat-zat cair akanan cadangan, sehingga berwujud
butiran.Kristal ini cukup banyak di kortex, parenkim, floem dan parenkim xilem
bisa juga ditemukan di vakuola atau plasma selnya. Proses terjadinya
melaluipengendapan hasil metabolisme. Endapan tersebut berupa asam oksalat
yang bersifat racun bagi tumbuh-tumbuhan (Syahya, 2011).

5
BAB III
METODOLOGI

3.1. Alat dan bahan

Tabel 3.1. Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum modul 01
Alat Bahan
Mikroskop cahaya Aquades/ air
Kaca objek Daun Hydrila
Tissue Stamen bunga Rhoeo discolor
Silet Daun tembakau/durian
Petridish Batang seledri
Pinset Kerokan batok kelapa
Jarum Daun Sansiviera
Kertas saring Bunga Streilitzia reginae
Tissue Umbi kentang
Buah Persea Americana
Buah Capsicum annuum
Daun Ananas comosum
Daun Nicotiana tabacum
Reagen Sudan III
Larutan I2KI
Larutan aniline sulfat
Daun Ficus elastic
Daun nanas
Tangkai bunga papaya
Buah Alpukat
Kaca penutup
Matriks penyokong empulur (wortel)

6
3.2. Cara Kerja
3.2.1. Pembuatan preparat struktur tumbuhan
3.2.1.1. Sayatan segar tanpa matriks penyokong
Cara pembuatan preparat sayatan tanpa matriks penyokong adalah
bahan disayat perlahan menggunakan silet dengan tipe sayatan melintang,
memanjang, dan paradermal lalu diletakkan pada petridish yang sebelumnya
telah diisi dengan akuades. Satu atau dua sayatan yang tipis, diletakan di atas
kaca objek yang telah diberi air atau reagen. Kaca tutup diletakkan di atas
spesimen dengan pinset sampai tidak ada gelembung udara yang terjebak
dalam spesimen. Kelebihan air dihilangkan dengan menggunakan kertas
saring/tissue.

3.2.1.2. Sayatan segar dengan matriks penyokong


Cara pembuatan preparat sayatan dengan matriks penyokong adalah
pertama-tama dibuat belahan memanjang radial pada matriks penyokong
empulur (wortel) lalu specimen yang disayat disisipkan pada belahan matriks
penyokong. Setelah itu, matriks penyokong di pegang erat dan dibuat sayatan
setipis mungkin dengan sudut tepat. Langkah ini dilakukan beberapa kali.
Terakhir, sayatan diletakkan dalam petridish dan dilakukan langkah
selanjutnya seperti pada langkah pembuatan preparat sayatan tanpa matriks
penyokong.

3.2.2. Pengamatan sel utuh


Cara pengamatan sel utuh dibagi atas dua bagian. Bagian pertama
dilakukan pengamatan sel utuh pada segmen daun Hydrilla dan stamen bunga
Rhoeo discolor. Kedua spesimen disayat hingga mendapat sayatan setipis
mungkin lalu diletakkan diatas kaca objek masing- masing yang sudah diberi
akuades dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian diamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran sebesar 100x. Bagian kedua dilakukan
pengamatan sel trikoma pada daun Nicotiana tabacum dan daun durian. Kedua
daun disayat melintang lalu diletakkan diatas kaca objek masing-masing yang

7
telah diberi akuades, kemudian ditutup dengan kaca penutup dan diletakkan
dibawah mikroskop dengan menggunakan perbesaran sebesar 400x.

3.2.3. Pengamatan sel penyokong


Cara pengamatan sel penyokong pada tiga spesimen tumbuhan (daun
Sansiviera, batang seledri, dan tempurung kelapa) adalah ketiga spesimen
diambil sebagian dengan sayatan melintang kemudian diletakkan diatas kaca
objek masing- masing yang telah diberi anilin sulfat. Selanjutnya, ditutup dengan
kaca penutup dan diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran sebesar 400 x.

3.2.4. Pengamatan organel sel


Cara pengamatan organel sel dibagi menjadi pengamatan plastida dan
pengamatan oleosom (organel sel penyimpan lipida). Pengamatan plastida
dibagi atas tiga spesimen, spesimen pertama adalah Capsicum annum, daging
buah disayat secara paradermal, kemudian diletakkan diatas kaca objek yang
telah diberi akuades, selanjutnya ditutup dengan kaca penutup dan diamati
dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x. Spesimen kedua adalah bunga
Strelitzia reginae, kelopak bunga disayat paradermal kemudian diletakkan di
atas kaca objek yang telah diberi akuades, kemudian ditutup dengan kaca
penutup dan diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran sebesar 100x.
Sepesimen ketiga adalah umbi Solanum tuberosum, umbi kentang dipotong
secara paradermal, kemudian diletakkan diatas kaca objek dan diberi reagen
berupa I2KI yang selanjutnya diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran
sebesar 100x. Pengamatan oleosom hanya menggunakan satu jenis spesimen
berupa buah Persea americana. Buah Persea americana disayat secara
melintang, kemudian diletakkan diatas kaca objek dan diberi reagen Sudan III,
selanjutnya ditutup dengan kaca penutup dan diamati dibawah mikroskop
dengan perbesaran sebesar 100x.

8
3.2.5. Mineralisasi kalsium dalam bentuk kristal pada tumbuhan
Cara pengamatan mineralisasi kalsium dalam bentuk kristal pada tiga
spesimen tumbuhan (daun Ananas comosum, daun Ficus elastic dan tangkai
daun papaya) adalah ketiga spesimen diambil sebagian dengan sayatan
melintang kemudian diletakkan diatas kaca objek masing- masing yang telah
diberi akuades. Selanjutnya, ditutup dengan kaca penutup dan diamati dibawah
mikroskop dengan perbesaran sebesar 100x.

9
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Tabel 4.1. Hasil Pengamatan Bagian Sayatan Preparat Tumbuhan dengan Mikroskop
pada Perbesaran Tertentu
Bagian
Bagian
yang Gambar Perbesaran
Tumbuhan
diamati

Daun Sel Utuh 100x


Hydrilla

Gambar 4.1. Sel utuh daun Hydrilla


Stamen Sel utuh
bunga 100x
Rhoeo
discolor

Gambar 4.2. Sel utuh stamen bunga


Rhoeo discolor

10
Batang Sel 400 x
seledri Penyokong

Gambar 4.3 Sel penyokong batang


seledri
Tempurung Sel
kelapa Penyokong 400x

Gambar 4.4. Sel penyokong tempurung


kelapa

11
Daun Sel
Sansiviera Penyokong 400x

Gambar 4.5. Sel penyokong daun


Sansiviera
Bunga Plastida
Streilitzia 40x
reginae

Gambar 4.6. Plastida bunga Steilitza


reginae

100x

Gambar 4.7. Plastida bunga Steilitza


reginae dengan perbesaran

12
Umbi Plastida
kentang 100 x

Gambar 4.8. Plastida umbi kentang

400x

Gambar 4.9. Plastida umbi kentang

Buah Plastida
Alpukat 100 x
(Persea
americana)

Gambar 4.10. Plastida buah alpukat


(Persea Americana)

13
Buah Cabai Plastida
(Capsicum
annum) 100x

Gambar 4.11. Buah cabai (Capsium


annum)
Daun Ficus Kristal
elastic
100x

Gambar 4.12. Kristal daun Ficus elastic

Daun nanas Kristal


(Ananas 100x
comosum)

Gambar 4.13. Kristal daun nanas

14
Tangkai Kristal
bunga 400x
papaya

Gambar 4.14 Kristal tangkai bunga


papaya

Daun Sel trikoma


tembakau 400 x

Gambar 4.15 Sel trikoma daun


tembakau

15
Daun durian Sel trikoma
400 x

Gambar 4.16. Sel trikoma daun durian

4.2. Pembahasan
4.2.1. Sel utuh daun Hydrilla

Gambar 4.18. Sel utuh daun Gambar 4.17. Sel utuh daun
Hydrilla Hydrilla perbesaran 10x

(DokumentasiKelompok 5, (Sumber:
2017) http://bintrek.blogspot.co.id)

Pengamatan sel utuh Hydrilla di percobaan ini disayat secara melintang.


Gambar dari hasil percobaan terlihat beberapa sel dari jaringan tumbuhan
Hydrilla. Menurut pengamatan kami pada mikroskop dengan perbesran 100x,
itu dibuktikan dengan adanya inti sel dan sitoplasma pada setiap sel tersebut serta
dinding sel yang membatasi antarsel pada jaringan tumbuhan. Hydrilla memiliki
aliran sitoplasma yang dapat diamati prosesnya, yaitu pada bagian-bagian

16
penyusun sel tulang daun yang memanjang di tengah-tengah daun. Aliran
sitoplasma tersebut akan mengelilingi vakuola dan menggerakkan plastid
melewati beberapa vakuola kesegala arah (Nababan, 2015). Tetapi, kami tidak
mengamati adanya aliran sitoplasma.

4.2.2. Sel utuh stamen bunga Rhoeo discolor

Gambar 4.19. Sel utuh stamen


bunga Rhoeo discolor

(Dokumentasi Kelompok 5, 2017)

Pada pengamatan sel utuh stamen bunga Rhoeo discolor disayat secara
melintang. Dengan pengamatan menggunakan mikroskop perbesaran 100x,
tidak terlihat sel utuh yang jelas terlihat inti sel hanya dinding sel dan sitoplasma
sel dari jaringan tersebut. Sel utuh yang tidak terlalu terlihat disebabkan
perbesaran mikroskop yang kurang.

17
4.2.3. Sel penyokong batang seledri

Gambar 4.20 Sel Penyokong Batang Seledri

Daun seledri disayat secara melintang dan dilihat pada mikroskop


perbesaran 400x. Kolenkim pada batang seledri (Apium gravolens) mempunyai
bentuk bulat dengan penebalan pada sudut-sudutnya,hal tersebut menjadi lebih
jelas ketika sel tersebut berbatasan dengan sel lainnya. Kolenkim yang seperti
ini disebut juga kolenkim tipe angular (Hidayat, 1995). Kolenkim tipe angular
(sudut), merupakan tipe kolenkim yang mengalami penebalan dinding sel
terdapat pada sudut sel yang memanjang mengikuti sumbu sel. Pada penampang
melintang, penebalan sudut terlihat ditempat pertemuan tiga sel atau lebih.
(Hidayat, 1995)

18
4.2.4. Sel penyokong tempurung kelapa

Gambar 4.22 Sel penyokong Gambar 4.21 Literatur sel penyokong


tempurung kelapa tempurung kelapa

(Dokumentasi Kelompok 5, 2017) Sumber :


http://dnurningsih.blogspot.co.id
Serbuk-sebuk dari tempurung kelapa diamati dengan mikroskop
perbesaran 400x. Jaringan penyokong pada tempurung kelapa terlihat bercak-
bercak yang merupukan kumpulan sel penyokong. Jaringan penyokong
tempurung kelapa mengandung sklerenkim yang merupakan sel mati dan
mengandung lignin sehingga sangat keras. Sel-selnya telah mati dengan dinding
sel yang tebal, dinding sekunder yang tebal umumnya terdiridari zat lignin,
bersifat kenyal pada umumnya tidak lagimengandung kloroplas, dan sel-selnya
lebih kaku daripada kolenkim sel sklerekim tidak dapat memanjang (Mahardika,
2009).

4.2.5. Sel penyokong daun Sansiviera

Gambar 4.23 Sel penyokong daun Sansiviera (Dokumentasi Kelompok 5, 2017)

19
Daun Sansiviera disayat secara melintang. Pada mikroskop perbesaran
400x, sel penyokong Sansiviera terlihat pada bagian dekat setelah epidermis.
Terlihat adanya jaringan sklerenkim lalu jaringan kolenkim setelahnya.
Sansiviera memiliki jaringan sklerenkim dan jaringan kolenkim. Hal itu dapat
dilihat pada lapisan epidermisnya yang sebelum kosteks terdapat dua lapisan.
Sklerenkim yang cenderung lebih keras pada bagian luar, sedangkan
jaringan kolenkim tidak terlalu keras terdiri atas sel-sel yang mengalami
penebalan selulosa (Mahardika, 2009). Jaringan kolenkim sel-selnyahidup
dengan protoplasma aktif, bentuk sel sedikit memanjang, umumnya memiliki
dinding dengan penebalan tidak teratur, tidak memiliki dinding sel sekunder
tetapi memiliki dinding primer yang lebih tebal daripada sel-sel parenkim, lunak,
lentur, tidak berlignin, isi sel dapat mengandung kloroplas makin sederhana
diferensiasinya makin banyak kloroplasnya sehingga menyerupai parenkim, dan
juga dapat mengandung tanin (Mahardika, 2009).

4.2.6. Plastida umbi kentang (Solanum tuberosum)

Gambar 4.24. Literatur amiloplas


pada
Gambar 4.255. Plastida dalam
kentang
kentang dengan perbesaran 100x
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files
/pengabdian/evy-yulianti-
(Dokumentasi Kelompok 5, 2017)
msc/organela-sel-eukariotik.pdf)

Plastida biasanya diklasifikasikan menjadi kloroplas, leukoplas (termaduk


amiloplas dan elaioplas), atau kromoplas. Amiloplas merupakan plastid yang

20
menyimpan amilum. Amilum atau pati dapat ditunjukan dengan larutsn iodine
yang akan menghasilkan warna biru kehitaman (Rasyid,2011).
Umbi Solanum tuberosum memiliki plastida berjenis amiloplas yang tidak
berwarna pada selnya seperti yang di tunjukan pada gambar literatur. Namun amilopas
ini dapat diamati dengan jelas dengan bantuan reagen I2KI yang membuat kandungan
amilum bereaksi menjadi warna ungu kehitaman seperti yang terlihat pada gambar 22.
Amiloplas pada kentang dapat diamati dengan menggunakan perbesaran mikroskop
100x.

4.2.7. Plastida buah alpukat (Persea americana)

Gambar 4.26 Oleosom pada daging buah alpukat (Dokumentasi Kelompok 5, 2017)
Plastida biasanya diklasifikasikan menjadi kloroplas, leukoplas (termaduk
amiloplas dan elaioplas), atau kromoplas. Elaioplas merupakan plastida
penyimpan lemak dan dapat disebut sebagai oleosom (Rasyid, 2011). Reagen
Sudan III digunakan untuk mengidentifikasi lemak dimana ketika bereaksi
dengan lemak akan terbentuk warna oranye kemerahan (Suryati,2009).
Buah Persea americana memiliki organel sel penyimpan lipida atau
oleosom pada selnya. Hal ini ditunjukan oleh terbentuknya warna oranye pada
oleosom ketika diberi reagen berupa Sudan III dan dapat terlihat dengan
menggunakan perbesaran mikroskop 100x.

21
4.2.8. Kristal daun Ficus elastic

Gambar 4.27 Kristal kalsium pada daun Gambar 4.28 daun Ficus Elastica
Ficus elastic (Wu & Kuo-Huang, 1997) (dokumentasi kelompok 5,2017)

Berdasarkan pengamatan, kristal kalsium dapat dilihat tanpa memerlukan reagen


apapun. Berdasarkan pernyataan Leeuwenhoek (1975) dalam Nakata (2003), “kristal
kalsium oksalat dalam tumbuhan merupakan salah satu objek yang pertama kali dapat
dilihat dengan mikroskop cahaya”. Biasanya kristal kalsium ini terakumulasi di dalam
vakuola dari sel yang terspesialisasi yaitu crystal idioblast (Horner, 1995 dalam Nakata,
2003).
Kristal kalsium ditemukan pada daun Ficus elastica yang diamati pada praktikum.
Kristal tersebut terletak pada jaringan mesofil daun. Bentuk dari kristal kalsium yang
diamati adalah bentuk drust. Hal tersebut sesuai dengan literaturyang menyatakan
bahwa bentuk kristal kalsium oksalat pada daun Ficus elastic drus (Wu & Kuo-Huang,
1997)

4.2.9. Kristal daun nanas (Ananas comosum)

22
Pada pengamatan daun nanas (Ananas comosus) dengan perbesaran 100x
ditemukan kristal kalsium. Kristal kalsium tersebut berbentuk raphides dan
jumlahnya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan pengamatan daun Ficus
elastic dan papaya. Bentuk kristal kalsium yang diamati sesuai dengan literatur
yaitu berbentuk raphides dan berada pada jaringan mesofil (Clark, 1939).

4.2.10. Kristal daun papaya (Carica papaya L.)

Gambar 4.29 kristal kalsium pada papaya Gambar 4.30 kristal kalsium pada
(Zunjar,2011) papaya (Dokumentasi kelompok
5,2017)
Pada batang daun papaya dengan perbesaran 400x, ditemukan kristal kalsium
berbentuk Sphaeraphide. Bentuk kristal yang diamati sama sesuai dengan literature
bahwa bentuk kristal pada daun papaya berbentuk sphaeraphides and rhomboidal.
Kristal kalsium ditemukan pada jaringan mesofil daun (Zunjar, Mammen, Trivedi, &
Daniel, 2011).

4.2.11. Sel trikoma daun tembakau

Gambar 27 Sel Trikoma daun tembakau (Dokumentasi Kelompok 5,2017)

23
Pada pengamatan trikoma ini, daun tembakau disayat secara paradermal.
Trikoma dilihat dengan mikroskop perbesaran 400x. Hal tersebut muncul adanya
bercak-bercak hitam yang tersebar pada jaringan tumbuhan tembakau tersebut.
Trikoma yang terlihat tidak dapat ditentukan bahwa itu bentuk glanduler atau
yang lain karena sayatan secara paradermal bukan melintang. Trikoma, tonjolan
epidermis dan tersusun atas beberapa sel yang mengalami penebalan sekunder
(Mahardika, 2009).

4.2.12. Sel trikoma daun durian

Gambar 20. Sel trikoma daun durian (Dokumentasi Kelompok 5, 2017)

Sayatan pada daun durian dilakukan secara paradermal untuk melihat


trikomanya. Pada perbesaran mikroskop 400x terlihat trikoma pada daun durian
yang seperti bercak-bercak hitam tersebar pada daun. Trikoma yang terlihat tidak
dapat ditentukan bahwa itu bentuk glanduler atau yang lain karena sayatan secara
paradermal bukan melintang. Trikoma, tonjolan epidermis dan tersusun atas
beberapa sel yang mengalami penebalan sekunder (Mahardika, 2009).

24
BAB V
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari praktikum modul 01 ini ialah sebagai berikut.


a) Aliran sitoplasma pada daun Hydrilla sp. tidak dapat diamati.
b) Sel utuh dari stamen bunga Rhoeo discolor tidak terlalu terlihat.
c) Tipe jaringan penyokong yang teramati pada batang seledri adalah jaringan
kolenkim.
d) Tipe jaringan penyokong yang teramati pada tempurung kelapa adalah jaringan
sklerenkim.
e) Tipe jaringan penyokong yang teramati pada daun Sansiviera sp. adalah
jaringan sklerenkim dan jaringan kolenkim.
f) Umbi kentang (Solanum tuberosum) mengandung amiloplas.
g) Daging buah alpukat (Persea americana) mengandung elaeioplas.
h) Kristal kalsium terlihat pada daun Ficus elastica dan bertipe drust.
i) Kristal kalsium terlihat pada daun nanas (Ananas comosus) dan bertipe
raphides.
j) Kristal kalsium terlihat pada daun pepapay (Carica papaya L.) dan bertipe
sphaeraphides dan rhomboidal.
k) Trikoma pada daun tembakau dapat diamati dan tersusun atas beberapa sel.
l) Trikoma pada daun durian dapat diamati dan tersusun atas beberapa sel

25
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., & Jackson, R. B. (2008). Biology Eight Edition. San
Fransisco: Pearson Benjamin Cummings.
Campbell, N. A., Reece, J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., & Jackson, R. B. (2010). Biologi Edisi 8, Jilid 1. Jakarta:
Penerbit Erlangga.
Clark, H. E. (1939). Oxalates in Pineapples 1. Journal of Food Science, 4(1), 75-
79.
Hidayat, E. B. (1995). Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: Penerbit ITB.
Juneau, P., Le, L. P., Boddi, B., Samson, G., & Popovic, R. (2002). Relationship
between the Structural and Functional Changes of the Photosynthetic
Apparatus during Chloroplast-chrmoplast Transition in Flower Bud of
Lilium longiflorum. Canada: Photochem Photobiol.
Karp, G. C. (2010). Cell Biology Sixth Editiion. Singapore: Wiley.
Mahardika, M. (2009). Jaringan pada Tumbuhan. Yogyakarta: USD.
Nababan, M. R. (2015). Sel Makhluk Hidup. Bengkulu: UNB Jurusan Pertanian.
Nakata, P. A. (2003). Advances in Our Understanding of Calcium Oxalate Crystal
Formation and Function in Plants. Plant Science, 901-909.
Nelson. (2004, Januari 24). Cell Features Visible Using a Compund Light
Microscope. Diambil kembali dari Instructional Master:
http://spearsbiology.wikispaces.com/file/detail/cell+features+visible+in+a
+light+microscope.pdf
Syahya, G. (2011). Kristal. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta Jurusan Biologi.
Wise, R. R., & Hoober, J. K. (2006). The Diversity of Plastid Form and Function.
Oshkosh: Springer.
Wu, C. C., & Kuo-Huang, L. L. (1997). Calcium Crystal in the Leaves of Some
Species of Moraceae. Botanical Bulletin of Academia Sinica, 38-46.

26
Zunjar, V., Mammen, D., Trivedi, B. M., & Daniel, M. (2011). Pharmacognostic
Physicochemical and Phytochemical Studies on Carica papaya Lin. Leaves.
Pharmacognosy Journal, 5-8.

27