Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam psikoterapi, para psikolog membantu orang – orang dari semua usia dan
kalangan untuk hidup lebih bahagia, sehat dan lebih produktif. Ahli psikologi
mengaplikasikan teknik berdasarkan riset atau penelitian untuk membantu orang
lain mengembangkan kebiasaan yang lebih efektif. Psikoterapi adalah sebuah
perawatan berbasis kerjasama yang didasarkan pada hubungan antara seseorang
dan psikolog. Seorang psikolog menyediakan lingkungan yang mendukung yang
memungkinkan seseorang bicara secara terbuka dengan orang lain yang objektif,
tidak menghakimi dan bersikap netral.
Kebanyakan terapi difokuskan pada individu, walaupun tidak jarang psikolog
juga bekerja dengan pasangan, keluarga dan kelompok. Kecocokan dengan seorang
psikolog adalah suatu hal yang sangat penting. Kebanyakan psikolog akan
berpendapat bahwa faktor penting yang menentukan ketika bekerja dengan seorang
psikolog adalah tingkat kenyamanan pribadi dengan orang tersebut.

Psikoterapi adalah suatu proses formal yang melibatkan interaksi 2 orang atau
lebih. Dalam interaksi ini ada yang disebut penolong (terapis) dan ada yang disebut
yang ditolong (klien). Tujuan interaksi antara terapi dengan klien dalam
psikoterapi adalah mengupayakan perubahan atau penyembuhan. Perubahan yang
dimaksud adalah perubahan dalam pikiran, perasaan, dan perilaku, Ada suatu
kebiasaan, akibat dari tindakan profesional yang dilakukan oleh penolong dengan
latar belakang ilmu perilaku dan teknik-teknik yang dikembangkannya.

Perbedaan Konseling dengan Psikoterapi yaitu konseling adalah suatu proses


pemberian bantuan oleh professional. Pertemuan ini dilakukan dalam pertemuan
yang singkat, yaitu 1-5 sesi. Terapis memiliki peran sebagai guru (advice) yang
dapat memberikan arahan dengan pengetahuan dan common sense yang
dimilikinya. Tujuan pertemuan adalah melakukan pemecahan masalah, selain itu
ada aturan tentang biaya (cost) yang disampaikan, alat pendukung yang digunakan

1
(termasuk alat perekam) yang digunakan, penataan ruang sesi pertemuan, dan
ruang tunggu.

Psikoterapi adalah sesi pertemuan yang panjang hingga beberapa kali dengan
jangka waktu tahunan. Peran terapis adalah sebagai detektif (fasilitator) yang
memberikan fasilitasi dalam mengatasi permasalahan dengan beragam teknik
berdasar teori yang ada. Pada proses ini dilakukan koreksi atas pengalaman emosi
yang dialami oleh klien. Selain itu, juga dibicarakan mengenai aturan tentang biaya
(cost) yang harus dikeluarkan oleh klien, alat pendukung (termasuk alat perekam)
yang digunakan, penataan ruang sesi, dan ruang tunggu.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah yang di maksud terapi – terapi biologis?
2. Bagaimanakah psikoterapi itu?
3. Bagaimanakah pendekatan sosiokultural dan isu dalam penanganannya?

1.3 Tujuan Masalah


1. Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana yang di maksud terapi –
terapi biologis
2. Agar pembaca dapat mengetahui bagaimanakah psikoterapi itu
3. Agar pembaca dapat mengetahui bagaimana pendekatan sosiokultural
dan isu dalam penanganannya

2
BAB II
ISI

2.1.Terapi –terapi Biologis

Terapi – terapi biologis adalah perlakuan-perlakuan untuk menghilangkan


atau mengurangi gejala –gejala gangguan psikologis dengan mengalihkan cara
individu bekerja. Bentuk terapi biomedis yang kurang banyak di gunakan adalah
terapi elektrokonvulsif dan psikogurseri. Terapi obat adalah yang paling umum di
temukan dalam terapi boimedis.
Psikolog dan professional kesehatan mental lainnya mungkin memberikan
psikoterapi, sebuah proses nonmedis yang membantu individu untuk mengenali
dan mengatasi permasalahan mereka (Prochaska & Norcroos, 2007 ). Klien –klien
mereka mungkin di berikan psikoterapi saja tau di berikan bersamaan dengan
terapi biologis oleh psikiater dan dokter medis lainnya (Kazdin, 2007; Lister –
Ford, 2007 ). Memang dalam banyak situasi, kombinasi antara psikoterapi dan
pengobatan adalah bentuk penanganan yang di harapkan.

a. Terapi Obat

Walau pengobatan dan tumbuh – tumbuhan herbal telah lama di gunakan untuk
menyingkirkan gejala – gejala distress emosional, namun baru pada abad ke 20
penanganan dengan obat mulai merevolusi pelayanan kesehatan mental. Obat –
obatan psikoterapi digunakan terutama pada 3 kategori diagnostik : gangguan
kecemasan, gangguan suasana hati, dan skizofrenia. Bagian ini akan
mendiskusikan efektivitas obat – obatan pada area – area ini, di mulai dengan
pengobatan untuk menangani kecemasan.

 Obat – obatan Anti Kecemasan

Obat – obat anti kecemasan (antianxiety drugs) di kenal sebagai obat


penenang (tranquilizer). Obat –obat mengurangi kecemasan dengan membuat
individu menjadi lebih tenang dan kurang dapat di eksitasi. Kelompok obat

3
benzodiadepin adalah obat – obatan anti kecemasan yang sering menawarkan hasil
terbaik untuk meredakan gejala kecemasan. Obat – obat ini bekerja dengan
menempel pada sel –sel untuk meredakan kecemasan. Obat yang paling sering di
berikan dalam resep meliputi Xanax, Valium, dan Librium. Sebuah obat yang
masuk dalam kelompok nonbenzodiazepin-buspirone atau buspar, umum
digunakan untuk menangani gangguan kecemasan yang tergeneralisasi.

Benzodiazepine adalah obat – obat yang tergolong bereaksi cepat, memberi


efek hanya dalan hitungan jam. Buspirone harus di konsumsi setiap hari selama
dua atau tiga minggu sebelum kita dapat melihat efeknya.

Benzodiadepin, seperti obat –obat lainnya, memiliki beberapa efek samping


(Fields, 2007). Mereka dapat menimbulkan ketergantungan. Selain itu, perasaan
malas, kehilangan koordinasi, kelelahan dan perlambatan mental juga sering
muncul saat obat –obat ini di gunakan.

Ketika benzodiazepine dikombinasikan dengan obat – obat lain, masalah


dapat muncul (Fidler & Kern, 2006). Ketika di kombinasikan dengan alcohol, obat
anestesi (obat bius), panthistamin, sedative, obat perileks otot, dan beberapa resep
obat penahan sakit, benzodiazepine dapat menimbulkan depresi.

 Obat – obatan Anti Depresan

Obat – obat anti depresan (antidepressant drugs) dapat mengendalikan suasana


hati. Tiga kelompok utama obat –obatan antidepresan adalah trisiklik, seperti
Elavil; penghambat monoamina oksidase (MAO), seperti Nardil; dan selective
serotonin reuptake inhibitor (SSRI), seperti Prozac dan Litium (lithium). Semua
dari kelompok antidepresan ini dianggap dapat membantu suasana hati yang
depresi dengan member efek pada neotransmiter di otak. Dalam cara – cara yang
berbeda, mereka memungkinkan otak individu yang depresi untuk meningkatkan
atau mempertahankan tingkat neotransmiter yang penting, terutama serotonin dan
norepinefrin.

Trisiklik, di sebut demikian karena sruktur molecular yang terbentuk tiga


cincin dan di percaya untuk bekerja dengan meningkatkan kadar neotransmitter

4
tertentu, terutama norepinefrin dan serotonin ( Mico, et al, 2006 ). Trisiklik
mengurangi gejala depresi hingga 60-70 persen kasus. Trisiklik biasanya
membutuhkan 2 hingga 4 meningkatkan suasana hati. Mereka biasanya memiliki
efek sanping yang berbahaya, seperti kegelisahan, persaan pusing, menggigil,
perasaan ngantuk dan kehilangan ingatan.

Tiga antidepresan SSRI yang paling banyak di berikan dalam resep adalah
Prozac (fluoxetine), Paxil (paroxetine), dan Zoloft (sertraline). Peningkatan
penggunaan obat –obat ini dalam resep menunjukkan efektivitasnya dalam
mengurangi gejala-gejala depresi dengan efek samping yang relative sedikit di
banding dengan obat-obatan anti depresan lainnya. Walau demikian, mereka dapat
memiliki efek negative termasuk insomnia, kecemasan, sakit kepala, dan diare.
Mereka juga dapat merusak fungsi seksual dan gejala-gejala penarikan diri bila
mereka penggunaannya di akhiri dengan tiba – tiba.

Litium banyak digunakan untuk menangani gangguan bipolar (Bourin &


Prica, 2007). Litium adalah elemen solid paling ringan dalam tabel priodik kimia.
Litium dianggap mampu menstabilkan suasana hati dengan mempengaruhi
norepinefrin dan serotonin, tetapi mekanisme tepat dari efeknya belum di ketahui.
Litium unik karena tidak mengahsilkan perubahan psikologis pada individu yang
sehat. Memang ,diagnosis gangguan bipolar mungkin dapat di tegakkan bila orang
tersebut menunjukkan respon terhadap litium.

 Obat – obatan Antipsikotik

Obat – obatan antipsikotik (antiphychotic drugs) adalah obat- obatan yang


kuat pengaruhnya yang menghilangkan perilaku teragitasi, mengurangi
ketegangan, halusinasi, meningkatkan perilku social dan menghasilkan pola tidur
yang lebih baik pada individu yang memiliki gangguan psikologis yang parah,
terutama skizofrenia.

Neuroleptik, adalah kelas obat-obatan antipsikotik yang paling banyak di


gunakan. Penjelasan yang paling banyak di terima untuk efektivitas neuroleptik
adalah kemampuan untuk menghalangi kerja system dopamine di otak.

5
Neuroleptik tidak mengobati skizofrenia, tetapi hanya mengatasi gejala-
gejala skizofrenia, bukan penyebabnya. Bila individu dengan skizofrenia berhenti
mengonsumsi obat-obatan ini, gejalanya akan kembali.

Salah satu efek samping potensial dari obat- obatan neuroleptik adalah
diskinesia tardif, sebuah gangguan neurologis yang di tandai oleh gerakan tidak di
kehendaki yang aneh sekali dari otot-otot wajah dan mulut, seperti kejangnya
leher,lengan, dan kaki.

b. Terapi Elektrokunvulsif

Terapi elektrokonvulsif (electroconvulsive-ECT) atau biasa di kenal dengan


terapi kejutan, digunakan untuk menangani individu yang sangat depresi.tujuan
ECT adalah untuk menghasilkan kejutan dalam otak seperti apa yang terjadi secara
spontan dalam kasus epilepsy. Sebuah setrum listrik kecil yang berlangsung untuk
waktu satu detik atau kurang akan di berikan melalui dua elektroda yang di
letakkan pada kepala individu. Kondisi ini mengeksitasi jaringan-jaringan saraf,
menstimulasi kejutan yang berlangsung kurang lebih satu menit.

Dalam satu analisis mengenai penelitian tentang penggunaan


ECT,efektivitasnya dalam mengatasi problem depresi di bandingkan dengan
efektivitas kognitif serta penggunaan obat-obatan antidepresan. ECT sama
efektifnya dengan terapi kognitif atau dengan terapi obat-obatan, dengan empat
atau lima individu menunjukkan perkembangan yang luar biasa pada ketiga terapi.
Namun demikian, sama seperti terapi lainnya, akan munculnya kembali gangguan
pada ECT berada pada tingkat sedang hingga tinggi. ECT terutama menjadi sangat
efektif sebagai sebuah cara penanganan untuk depresi yang akut pada individu
yang memiliki resiko tinggi melakukan bunuh diri.

Efek samping potensial yang di hasilkan meliputi kehilangan ingatan,


kerusakan kognitif lainnya dan beberapa lebih parah dari efek samping yang di
timbulkan oleh obat-obatan. Beberapa individu yang di berikan ECT melaporkan
adanya kehilangan ingatan dalam jangka panjang dan cukup parah, dengan
kehilangan terjadi paling akut pada ingatan-ingatan impersonal dan bukan pada
ingatan otobiografi. Efek-efek samping ini biasanya berkurang bila hanya satu sisi

6
otak saja yang distimulasi. Namun, terlepas dari potensi beberapa individu yang
menjalani perlakuan ini dapat memperoleh keuntungan yang meningkatkan
kualitas hidup dan menyelamatkan hidup.

c. Psikosurgeri

Psikosurgeri (psychosurgery) adalah terapi biologis yang melibatkan


pengambilan atau penghancuran jaringan otak untuk meningkatkan penyesuaian
diri individu. Efek dari psikosurgeri bersifat menetap dan tidak dapat
dikembalikan.

Pada tahun 1930-an, seorang dokter portugis Antonio Egas Moniz


mengembangkan sebuah prosedur yang di kenal sebagai lobotomy prefrontal.
Dalam prosedur ini, sebuah instrument pembedahan di masukkan kedalam otak
dan di putar, memotong beberapa serat yang menghubungkan lobus frontal yang
penting pada proses-prose piker tingkat tinggi, dan thalamus yang penting dalam
emosi. Moniz berteori bahwa, dengan memotong beberapa hubungan antara
strukur-struktur otak ini, pembedah dapat menyingkirkan beberapa gejala dari
beberapa gangguan mental yang parah. Walau mungkin beberapa pasien mendapat
manfaat dari lobotomy ini, banyak yang menjadi seperti berada dalam kondisi
seperti tumbuhan akibat prosedur yang menyerang otak ini. Moniz sendiri merasa
bahwa prosedur ini harus di ikuti dengan penuh kehati-hatian dan hanya digunakan
sebagai usaha terakhir.

Sesedah mendengar prosedur Moniz, seorang dokter dan neurology


Amerika, Walter Freeman menjadi ahli dalam bidang lobotomy prefrontal.
Bersama rekannya James Watts, ia melakukan upaya lobotomy pertama di
Amerika Serikat pada tahun 1963. Freman kemudian mengembangkan tekniknya
sendiri yang di lakukannya dengan menggunakan alat serupa dengan pengambil
bongkahan es, dalam suatu pembedahan yang berlangsung hanya beberapa menit.

.2.2. Psikoterapi

Psikoterapi adalah proses yang digunakan oleh profesional di bidang


kesehatan mental untuk membantu mengenali, mendefinisikan dan mengatasi

7
kesulitan interpersonal dan psikologis yang dihadapi individu dan meningkatkan
penyesuaian diri mereka (Proschaska & Norcross, 2007). Psikoterapis
menggunakan sejumlah strategi untuk mencapai tujuan ini: berbicara, memaknai,
mendengarkan, memberi penguatan, dan memberi contoh. Baik psikolog maupun
psikiater menggunakan psikoterapi.

Pada bagian ini kita akan memusatkan pada empat pendekatan psikoterapi:
psikodinamika, humanistik, perilaku dan kognitif. Istilah terapi insight (insight
therapy) menandai terapi-terapi psikodinamika dan humanistik, karena mereka
mendorong munculnya pemahaman dan kesadaran diri. Terapi-terapi
psikodinamika d`hmerupakan yang paling tua dari empat pendekatan ini.

1. Terapi-terapi Psikodinamika

Terapi-terapi psikodinamika (psychodinamic therapies) menekankan pada


pentingnya pikiran yang tidak disadari, pemaknaan yang mendalam oleh terapis,
dan peran pengalaman masa anak-anak pada perkembangan masalah yang dihadapi
individu. Tujuan dari terapi-terapi psikodinamika adalah membantu individu
untuk mengenali cara-cara maladaptif yang telah mereka gunakan selama ini
terhadap masalah dan sumber dari konflik-konflik yang tidak disadari (Nolen-
Hoeksema, 2007). Banyak pendekatan psikodinamika dari teori psikoanalitis
kepribadian milik Freud. Saat ini beberapa terapi dengan sudut pandang dinamika
menggunakan teknik-teknik Freudian, tetapi yang lain tidak (Leffert, 2007;
Midgley, 2006; Zerbe, 2007).

a. Psikoanalisis Freud

Psikoanalisis (psychoanalysis) adalah teknik terapeutik Freud untuk


menganalisis pikiran-pikiran individu yang tidak disadari. Freud percaya bahwa
permasalahan saat ini yang dihadapi klien dapat dilacak kembali sumbernya pada
pengalaman masa anak-anak, banyak yang melibatkan konflik tentang seksualitas.
Ia juga mengenali bahwa pengalaman-pengalaman masa dini tidak dapat langsung
diakses oleh pikiran individu yang disadari. Hanya melalui proses bertanya yang
ekstensif, memperdalam jawaban, dan analisis Freud mampu mengumpulkan

8
beberapa potongan dari kepribadian seseorang dan membantu individu menyadari
bagaimana pengalaman ini memengaruhi perilaku dewasa saat ini. Tujuan dari
psikoanalisis adalah membawa konflik-konflik yang tidak disadari ke dalam
kesadaran, untuk membebaskan orang tersebut dari pengaruh-pengaruhnya dalam
kehidupan saat ini.

Untuk mencapai dunia tidak disadari, terapis psikoanalisis sering


menggunakan teknik asosiasi bebas, katarsis, interpretasi, analisis mimpi, analisis
tranferens, dan analisis resistensi.

Asosiasi bebas (free association) terdiri atas upaya mendorong individu


untuk mengugkapkan dengan keras apapun yang muncul dipikiran, terlepas dari
seberapa membingungkan dan memalukannya hal tersebut (Hoffer, 2006).Katarsis
adalah pelepasan tegangan emosional yang dialami seseorang ketika
menghidupkan kembali pengalaman konflik dan penuh emosi.

Interpretasi adalah untuk memahami apa sesungguhnya yang menyebabkan


konflik seseorang, terapis terus berusaha mencari makna simbolik yang
tersumbunyi dari apa yang dikatakan atau dilakukan individu.

Analisis mimpi (drean analysis) adalah teknik yang digunakan para


psikoanalisis untuk memaknai mimpi seseorang. Para psikoanalisis percaya bahwa
mimpi memuat informasi-informasi yang tidak disadari (Andrade, 2007).

Transferens (transference) adalah istilah psikoanalisis untuk cara-cara


individu berhubungan dengan analis yang menghasilkan kembali hubungan-
hubungan penting dalam individu.

Resistensi (resistance) adalah istilah psikologi untuk strategi pertahanan


klien yang tidak disadariyang mencegah analis untuk memahami permasalahan
orang tersebut.

b. Terapi Psikodinamika Kontemporer

Banyak terapis kontemporer berusaha membantu individu memperoleh


gagasan tentang konflik emosionayang terpendam (Hutterer & Liss, 2006). Mereka

9
juga memberi kekuatan lebih besar pada pikiran yang disadari dan pada hubungan
masa kini orang tersebut (Busch, 2007).

Beberaapa terapis psikodinamika kontemporer (Busch, 2007) memusatkan


pada konsep diri (self) yang ditempatkan dalam konteks sosial, seperti diajukan
oleh Erik Erikson (1968) dan Heinz Kohut (1977). Dalam pandangan Kohut,
pengalaman sosial masa dini dengan gambar-gambar kelekatan, seperti orang tua
seseorang sangat penting. Seiring perkembangan kita, kita menginternalisasikan
hubungan-hubungan tersebut, dan hubungan-hubungan ini menyediakan dasar
untuk pembentukan diri kita, Kohut (1977) percaya bahwa tugas terapis adalah
untuk menggantikan hubungan masa kanak-kanak yang tidak sehat dengan
hubungan sehat yang disediakan terapis. Dalam pandangan Kohut, terapis perlu
berinteraksi dengan individu dalam cara-cara yang empatik dan memahaminya
(1977).

2. Terapi-terapi Humanistik

Dalam terapi-terapi humanistik (humanistic therapies), orang didorong


untuk memahami diri mereka sendiri dan untuk berkembang secara pribadi.
Berbeda dengan terapi psikodinamika, terapi humanistik menekankan pada
kesadaran dan bukan pikiran yang tidak disadari, pada masa kini dan bukan masa
lampau, pertumbuhan dan pemenuhan diri dan bukan penyakit.

a. Terapi Client-Centered

Terapi client-centered (client-centered therapies) adalah bentuk terapi


humanistik yang dikembangkan oleh Carl Rogers (1961, 1980), dimana terapis
menyediakan atmosfir hangat dan suportif untuk meningkatkan konsep diri klien
dan mendorong klien memperoleh pemahaman terhadap masalah. Dalam client-
centered tujuan terapi bukan untuk membuka rahasia-rahasia dalam
ketidaksadaran, tetapi untuk membantu klien mengenali dan memahami perasaan
sesungguhnya (Hazler, 2007). Satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah melalui
mendengar aktif dan pembicaraan reflektif (reflective speech), sebuah teknik
dimana terapis menjadi cermin untuk perasaan yang dialami klien.

10
Rogers percaya bahwa manusia membutuhkan tiga elemen dasar untuk
tumbuh: penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard), empati,
dan ketulusan (genuineness) atau otentisitas.

b. Terapi Gestalt (gestalt therapy)

Terapi Gestalt (gestalt therapy) adalah terapi humanistik, dikembangkan


oleh Frizt Perls (1983-1970), dimana terapi menantang klien dalam urutan tertentu
untuk membantu mereka menjadi lebih sadar tentang perasaan mereka dan
menghadapi masalah.

Perls (1969) setuju bahwa permasalahan psikologis berasal dari konflik


masa lalu yang berlum selesai. Namun, di sisi lain Perls percaya bahwa konflik-
konflik yang tidak terselesaikan harus pada sisi saat ini dan sekarang pada diri
individu.

Terapis gestalt menggunakan sejumlah teknik untuk membantu klien


terbuka tentang perasaan mereka, untuk mengembangkan kesadaran diri, dan untuk
mengambil kendali aktif terhadap kehidupan mereka (Silverstein & Uhlhaas,
2004). Terapis memberikan contoh, mendorong kongruensi antara perilaku verbal
dan nonverbal, dan menggunakan bermain peran. Untuk menstimulasi perubahan,
terapis sering kali dengan terbuka mengonfrontasi klien.

Teknik lain yang digunakan adalah bermain dengan klien, terapis atau
keduanya. Contohnya, bila individu merasa terganggu akibat konflik dengan ibu,
maka terapis dapat memainkan peran sebagai ibu dan membuka kembali
perdebatannya.

3. Terapi Perilaku

Terapi perilaku (behaviour therapies) menggunakan prinsip-prinsip belajar


untuk mengurangi atau mengeliminasi perilaku maladaptif. Terapi-terapi perilaku
didasarkan pada teori-teori perilaku dan kognitif sosial yang menjelaskan perilaku
belajar dan kepribadian. Terapis perilaku mengasumsikan gejala-gejaal yang
tampak nyata sebagai masalah. Menurut terapis perilaku individu dapat menyadari
mereka depresi dan tetap saja tidak mengubah keadaan depresi. Terapis perilaku

11
berjuang untuk menghilangkan gejala-gejala depresi atau perilakunya dengan
mencoba membuat individu memperoleh pemahaman atau mengapa mereka
depresi.

a. Teknik-teknik Pengondisian Klasik

Bila individu telah mempelajari rasa takut akan ular atau ketinggian melalui
pengkondisian klasik, maka individu dapat membalikkan hasil belajar ini melalui
counterconditioning (Tryon, 2005). Dua tipe counterconditioning adalah
desensitisasi sistematis dan pengondisian aversif.

1. Desensitisasi sistematis

Desensitisasi sistematis (systematic desensitization) adalah sebuah metode


perilaku terapi yang didasarkan pada pengondisian klasik yang memerlukan
kecemasan dengan membuat orang tersebut mengasosiasikan relaksasi mendalam
secara bertahap dengan situasi yang menimbulkan kecemasan (Wolpe, 1963).
Contoh, dalam situasi ketakutan menghadapi ujian, terapis akan bertanya apa yang
paling menakutkan dan apa yang paling tidak menakutkan. Lalu terapis mengatur
mereka dalam situasi-situasi berdasarkan urutan mulai dari yang paling
menakutkan hingga tidak menakutkan.

Tahap berikutnya adalah mengajarkan individu untuk rileks. Klien dapat


belajar mengenali adanya kontraksi otot dan bagaimana untuk menenangkannya.
Ketika mereka sudah rileks, terapis meminta mereka membayangkan stimulus
yang paling tidak ditakuti sampai yang paling ditakuti. Dengan begitu individu
akan membayang hal yang paling ditakuti tanpa harus merasa takut dan tetap
rileks.

2. Pengondisian Aversif

Pengondisian aversif (aversive conditioning) adalah terapi dimana terjadi


pemasangan berulang dari sebuah perilaku yang tidak diharapkan dengan stimulus
aversif untuk menurunkan penguatan yang didapatkan dari perilaku.

12
Pengondisiann aversif digunakan untuk mengajarkan individu menghindari
perilaku tertentu, seperti minum minuman keras.

Melalui pemasangan bersamaan antara alkohol (stimulus yang


dikondisikan) dengan zat yang membuat mual (stimulus yang tidak dikondisikan)
maka alkohol akan menjadi stimulus yang dikondisikan yang dapat menghasilkan
mual (respon yang dikondisikan).

b. Pendekatan Pengondisian Operan

Penggunaan pengondisian operan terhadap terapi adalah bahwa karena pola


perilaku maladaptif dipelajari, mereka dapat dibalikkan. Terapi ini melibatkan
analisis mendalam terhadap lingkungan orang yang menjalani terapi untuk
menentukan faktor-faktor mana yang perlu dimodifikasi.

Teknik terapi pengondisian operan memusatkan pada modifikasi perilaku


(behaviour modification), penerappan prinsip-prinsip pengondisian operan untuk
mengubah perilaku manusia; tujuan utamanya adalah untuk mengganti perilaku
yang maladaptif dan tidak dapat diterima dengan perilaku yang dapat diterima
yang adaptif. Pendukung modifikasi perilaku percaya bahwa banyak permasalahan
perilaku dan emosi berasal dari konsekuensi yang diberikan terhadap responsnyang
tidak sesuai (Martin & Pear, 2007).

4. Terapi-terapi Kognitif

Terapi-terapi kognitif (cognitive therapies) menekankan pada kondisi


individu atau pikiran, karena mereka merupakan sumber utama perilaku abnormal
dan masalah psikologis, dan karenanya mereka berusaha mengubah perasaan dan
perilaku individu dengan mengubah kognisi. Restrukturisasi kognitif yaitu konsep
umum mengubah pola pikiran yang dianggap menyebabkan perilaku atau emosi
yang maladaptif adalah inti dari terapi kognitif.

Terapis kognitif membantu memandu individu dalam mengidentifikasikan


pikiran-pikiran tidak rasional dan yang menundukkan diri sendiri. Lalu mereka
menggunakan berbagai teknik untuk mendorong klien menentang pikiran-pikiran
tersebut dan mencari cara pikir lain yang positif.

13
Berikut ini adalah tiga jenis utama terapi kognitif:

a. Terapi Perilaku Emosional-Rasional

Terapi perilaku emosional-rasional (rational-emotional behaviour


therapy/REBT) didasarkan pada pemahaman Albert Eilis bahwa individu
mengembangkan gangguan psikologis karena kepercayaan mereka, terutama
kepercayaan yang bersifat tidak rasional dan menundukkan diri.

Tujuan REBT adalah untyk membantu orang menghilankan kepercayaan-


kepercayaan yang menundukkan diri dengan secara rasional memeriksa
kepercayaan ini (Vernon, 2007). Klien harus ditunjukkan bagaimana
menyingkirkan kepercayaan disfungsionalnya, terutama kata-kata absolut seperti
“harus/selalu” dan mengubahnya menjadi pikiran yang logis dan realistis.

b. Teori Kognitif Beck

Aaron Beck mengembangkan terapi kognitif yang agak berbeda untuk


mengatasi masalah psikologis, terutama depresi (1976, 1993). Sebuah asumsi dasar
Beck adalah bahwa permasalahan psikologis seperti depresi, muncul ketika orang
berpikir tidak logis tentang diri mereka, dunia mereka dan masa depan (2005,
2006).Pada tahap awal terapi, individu diajarkan untuk membuat hubungan antara
pola pikir dan respon emosional mereka. Terapis membantu mereka mengenali
pikiran otomatis mereka dan untuk merekam isi piiran mereka dan reaksi
emosional yang terjadi. Dengan bantuan terapis, mereka belajar untuk mengenali
kesalahan-kesalahan logika dalam pikiran mereka.

c. Terapi Kognititf-Perilaku

Terapi kognitif-perilaku (cognitive-behaviour therapy) terdiri atas sebuah


kombinasi antara terapi kognitif dengan penekanan pada pengurangan pikiran-
pikiran yang menaklukan diri sendiri, dan terapi perilaku, dengan penekanan pada
perubahan perilaku (Watson & Tharp, 2007). Sebuah aspek penting dalam terapi
kognitif-perilaku adalah self-efficacy, sebuah konsep Albert Bandura bahwa
seseorang dapat mengendalikan situasi dan menghasilkan hal-hal yang positif.

14
Bandura percaya bahwa self-efficacy adalah kunci keberhasilan terapi. Pada setiap
langkah dalam proses terapi, seseorang perlu memperkuat kepercayaan diri mereka
dengan mengatakan kepada diri sendiri, “saya akan menguasai permasalahan
saya,” “saya dapat melakukannya,” “saya berkembang,” “saya semakin baik,” dan
sejenisnya. Seiring dengan meningkatnya kepercayaan diri dan terlibat dalam
perilaku yang adaptif, keberhasilan menjadi sesuatu yang memotivasi secara
intrinsik. Sebelum terlalu lama, individu akan menyelesaikan masalah-masalah
pribadi karena hasil-hasil positif yang digerakan oleh self-efficay.

Metode-metode intruksi oleh diri adalah teknik-teknik kognitif-perilaku


yang diarahkan untuk mengajarkan individu untuk memodifikasi perilaku mereka
sendiri (Watson & Tharp, 2007). Menggunakan metode-metode intruksi oleh diri,
seorang terapis kognitif-perilaku dapat mendorong klien untuk mengubah apa yang
mereka katakan pada diri mereka sendiri. Terapis memberikan klien contoh-contoh
pernyataan yang konstruktif, dikenal sebagai pernyataan yang memberikan
penguatan diri (reinforcing self-statement), bahwa klien dapat mengulangi agar
mencapai langkah-langkah positif untuk coping tertentu atau mencapai sebuah
tujuan. Terapis juga mendorong klien untuk mempraktikkan pernyataan-
pernyataan melalui bermain peran dan memperkuat keterampilan yang baru
diperoleh oleh klien melalui penguatan.

3. Menggunakan Terapi Kognitif untuk Menangani Gangguan-gangguan


Psikologis

Terapi-terapi kognitif telah digunakan untuk menangani beberapa gangguan


kecemasan, gangguan suasana hati, skizofrenia, dan gangguan kepribadian secara
efektif (Beck, 2005; Parker & Fletcher, 2007). Sebuah penelitian belum lama ini
menunjukkan bahwa terapi kognitif-perilaku lebih efektif daripada pemberian
antidepresan pada kasus-kasus depresi dewasa (Butler, et al, 2006). Dalam banyak
situasi, terpi kognitif digunakan bersamaan dengan terapi obat dan merupakan
penanganan yang efektif untuk gangguanpsikologis (starcevic, 2006).

Gangguan panik adalah gangguan kecemasan yangtelah ditangani dengan


terapi kognitif (Ayers, et al, 2007; Labrecque, et al, 2006). Konsep sentral dalam

15
model kognitif untuk menjelaskan panik adalah bahwa individu salah memaknai
kejadian fisik atau psikologis yang relatif ringan sebagai sebuah bencana. Dalam
terapi kognitif, terapis mendorong individu untuk menguji interpretasi yang salah
ini dengan menciptakan situasi yang menimbulkan serangan panik yang
sesungguhnya. Individu kemudian menguji pemahaman bahwa mereka akan
meninggal atau menjadi gila yang kemudian ditemukan tidak terjadi. Dalam satu
penelitian, sebuah kombinasi antara pemberian obat SSRI dan terapi kognitif dapat
secara efektif menangani gangguan panik (Azhar,2001).

Terapi kognitif juga menunjukkan sejumlah keberhasilan dalam menangani


gangguan stres pascatrauma, terutama ketika terapis mendorong klien untuk
menghidupkan kembali pengalaman traumatis sehingga mereka dapat mengatasi
kognisi yang mengancam yang ditimbulkan oleh pengalaman tersebut (Vieweg, et
al, 2006). Terapi kognitif juga telah terbukti berhasil menangani gangguan
kecemasan yang tergeneralisasi, beberapa jenis fobia dan gangguan obsesif-
kompulsif (Clark, et al, 2006; Townsend & Grant, 2006).

Dalam satu penelitian, terapi kognitif-perilaku diberikan kepada anak-anak


(juga pada orangtuanya) yang sangat pencemas untukpergi kesekolah (Dadds, et al,
1999). Terapi ini(berlangsung selama periode 10minggu) lebih efektif dalam
mengurangi kecemasan dibandingkan tidak ada terapi sama sekali, dan efek positif
dari terapi masih bertahan hingga 2 tahun kemudian.

Salah satu penerapa paling awal dari terapi kognitif adalah untuk
menangani depresi. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa terapi kognitif
dapat seberhasil atau dalam beberapa kasus jauh lebih berhasil, daripada terapi
obat dalam menangani depresif (Butler, et al, 2006). Beberapa penelitian
menunjukkn bahwa individuyang ditangani dengan terapi kognitif cenderung tidak
memunulkan kembali gangguan depresi dibandingkan dengan individu yang
ditangani dengan pengobatan (Jarret, et al, 2001).

Sejumlah langkah telah dilakukan pada tahun-tahun belakangan ini untuk


menerapkan terapi kognitif untuk menangani skizofrenia. Walau bukan merupakan
pengganti drai terapi obat yang diberikan untuk menangani skizofrenia, terapi

16
kognitif ditemukan efektif untuk mengurangi beberapa gejala seperti kepercayaan
terhadap delusi dan bertingkah secara impulsif (Naeem, Kingdon,& Turkington,
2006).

Terapi kognitif juga telah digunakan secara efektif dalam menangani


gangguan kepribadian (McMain & Pos, 2007; palmer, et al, 2006). Fokus mereka
adalah pada penggunaan terapi kognitifuntuk mengubah kepercayaan mendasar
individu dan untuk mengurangi pikiran negatif otomatis mereka.Minat yang
semakin tinggi pada terapi kognitif dan kemajuan luar biasa dalambidang ilmu
neurosains telah mendorong peneliti untuk menjelajahi apa yang terjadi pada otak
selama terapi kognitif.

2.3. Pendekatan Sosio-Kultural dan Isu-isu dalam Penanganan

Dalam menanganai gangguan-gangguan psikologis, terapi-terapi biologis


mengubah fungsi-fungsi dalam tubuh seseorang, terapi perilaku memodifikasi
perilaku seseorang, dan terapi kognitif mengalihkan pikiran sesorang. Bagian ini
memusatkan pada pendekatan sosi-kultural terhadap penanganan gangguan
psikologis. Metode-metode ini melihat individu sebagai bagian dari hubungan
system sosial yang di pengaruhi oleh serangkaian factor sosial dan budaya (Nolen-
Hoeksema, 2007). Kita akan pertama melihat pendekatan-pendekatan sosio-
koltural, termasuk terapi kelompok, terapi keluarga dan pasangan, kelompok-
kelompok pendukung bantu diri, dan komunitas kesehatan mental, lalu kita akan
membahas beragam perspektif budaya pada terapi.

1. Terapi Kelompok

Sebuah isi utama dalam terapi adalah bagaimana menstrukturkannya untuk


menjangkau sebanyak mungkin orang yang membutuhkan. Satu pendekatan untuk
terapis adalah untuk menemui klien dalam sebuah kelompok (Yalon & Leszcz,
2006). Lebih jauh, ada alasan baik untuk percaya bahwa individu yang memiliki
permasalahan psikologis yang sama mungkin mendapat manfaat dari efek
pemberdayaan yang didapat dengan mengamati orang lainmenyelesaikan masalah

17
serupa dan sebaliknya membantu orang lain dapat meningkatkan perasaan
kompetisi dan efikasi seseorang.

Terapi kelompok dapat terjadi dengan beragam bentuk terapi


psikodinamika, humanistic, perilaku, dan kognitif semua digunakan dalam terapi
kelompok, selain tambahan pendekatan yang tidak didasarkan pada sudut pandang
psikoterapi utama (Rutan, Stone, & Shay, 2007). Enam hal yang membentuk ciri
terapi kelompok yang di lihat menarik adalah (Yalom, 1975, 1995; Yalom &
Leszcz, 2006):

1. Informasi: Individu menerima informasi tentang permasalahan mereka baik


dari pemimpin kelampok maupu anggota kelompok lainnya.
2. Keseragaman (universilitas): Banyak individu yang mengembangkan
perasaan bahwa orang lain tidak pernah mengalami rasa takut serupa dan impuls-
impuls yang tidak pernah diterima.
3. Altruisme: Anggota kelompok saling mendukung antara lain dengan nasihat
dan simpati dan belajar bahwa mereka memiliki sesuatu untuk ditawarkan kepada
orang lain.
4. Rekapitulasi korektif dari kelompok keluarga: Sebuah kelompok terapi
sering menunjukkan sebuah hubungan keluarga (dalam terapi keluarga,
kelomopknya adalahkeluarga, dengan pemimpinya mewakili gambar orangtua dan
anggota lain sebagai anggota.
5. Pembentuka keterampilan sosial: Umpan balik korektif dari rekan
sekelompok mungkin membenarkan kekurangan dalam keterampilan
interpersonal seseorang.
6. Pembelajaran interpersonal: Kelompok dapat berperan sebagai lahan
pelatihan untuk mempraktikkan hubungan dan prilaku yang baru.

2. Terapi Keluarga dan Pasangan (family therapy)


Adalah terapi untuk angota keluarga. Terapi pasangan (couple therapy)
adalah terapi kelompok dengan pasangan-pasangan yang menikah ataupun yang
tidak menikah yang msalah utamanya terletak dalam hubungan mereka.
Pendekatan ini menekankan bahwa, walau seseorang mungkin memiliki gejala-

18
gejala abnormal, gejala-gejala ini merupakan fungsi dari keluarga atau hubungan
dengan pasangan (Appleton & Dykeman, 2007; Gladding, 2007; Simoon, 2006).

Terapi-terapi psikodinamika, humanistic, dan perilaku dapat digunakan


dalam terapi keluarga dan pasangan (de Forster & Spivacow, 2006).

Empat teknik terapi yang paling banyak digunakan adalah:

 Validasi: Terapis mengekspresikan penerimaan dan pemahaman akan


setiap perasaan dan kepercayaan diri masing-masing anggota keluarga dan lalu
memvalidasinya.
 Reframing: Terapis membantu keluarga untuk melihat permasalahan
sebagai masalah keluarga, dan bukan masalah individu. Seorang remaja yang
delinkuen dilihat kembali dalam kerangka bagaimana setiap anggota keluarga
berkontribusi pada situasi tersebut.
 Perubahan struktur: Terapis keluarga mencoba untuk melakukan
strukturisasi
ulang koalisi yang ada dalam keluarga. Dalam sebuah koalisi ibu dengan
 putranya, terapis mungkin mengusulkan gar ayah mengambil peran yang
lebih mendisiplikan untuk melegakan sedikit beban pada yang ada pada ibu.
Restrukturisasi mungkin dapat berlangsung sederhans dengan memberikan usulan
pada orangtua untuk mencari cara-cara yang memuasakan secara bersama; terapis
smungkin dapat merekomendasikan sekali semnggu orngtua pergi untuk
menikmati makan malam ditempat sunyi bersama.
 Detriangulasi: Dalama beberapa keluarga, satu anggota adalah kambing
hitam dari dua anggota lain yang terlibat konflik, tetapi pura-pura tidak terlibat
konflik. Contohnya, dalam sebuah segitiga antara orangtua dan seorang anak,
orangtua dapat bertahan bahwa pernikahan mereka baik-baik saja, namun
sesungguhnya terjadi konflik-konflik yang tidak di sadari tentang bagaimana
menangani anak. Terapis berusaha untuk memecahkan, atau detriangulangi, situasi
ini dengan mengarahkan perhatian bukan lagi pada anak, tetapi pada konflik antara
orangtua.

19
Terapi-terapi pasanga berlangsung cara yang hampir serupa dengan terapi
kelurga. Konflik-konflik dalam pernikahan dan hubungan antara individu yang
tidak menikah sering kali melibatkan komu ikasi yang buruk. Dalam beberapa
kasus, komunikasi sudah hancur sepenuhnya. Terapis berusaha untuk
meningkatkan komunikasi antar pasangan (Snyder, Castellani, & Whisman, 2006).
Dalam beberapa kasus, terapis akan memusatkan perhatian perhatian pada peran
yang dimainkan oleh setiap pasangan: Satu mungkin peran yang kuat yang lain
lemah; satu mungkin yang bertanggung jawab yang lain manja. Terapi pasangan
juga membahas masalah, seperti: kecanduan alcohol. Kecemburuan. Pesan-pesan
seksual, penundaan untuk memiliki anak, perselingkuhan, peran gender, keluarga
dengan dua karier perceraian dan pernikahan kembali (Fals-Stewart Birchler &
Kelley, 2006).

3. Kelompok-kelompok Pendukung Bantu Diri

Kelompok-kelompok pendukung bantu diri adalah organisasi yang terdiri


atas individu-individu yang secara sukarela bersatu dalaml suatu pertemuan regular
untuk membahsa topic yang menjadi minat bersama. Kelompok tidak dipimpin
oleh seorang terapis professional atau anggota dari kelompok minat bersama.
Seorang paraprofessional adalah seseorang yang sudah diajar oleh seorang
professional untuk meberikan beberapa layanan kesehatan mental, tetapi tidak
memiliki pengalaman pelatihan kesehatan mental yang formal.

Kelompok-kelompok pendukung bantu diri memainkan peran penting


dalam kesehatan mental di Amerika Serikat. Sebuah survey pada tahun 2002
mengungkapkan bahwa untuk

kelompok pendukung dalam bidang kesehatan mental saja, terdapat 7.500


kelompok di Amerika Serikat, dengan lebih dari 1 juta anggota Goldstrom, et al,
2006). Sebagai tambahan untuk menjangkau lebih banyak orang yang
membutuhkan bantuan, kelompok-kelomok ini penting karena mereka
menggunakan sumber daya yang teredia di masyarakat dan relative tidak mahal.
Mereka juga melayani orang cenderung tidak menerima bantuan, seperti orang

20
dewasa yang kurang berpendidikan, individu yang hidup dalam lingkungan
berpnghasilan rendah, dan ibu rumah tangga.

Alcoholic Anonymuus (AA), didirikan pada tahun 1935 oleh seorang dokter
dan pecandu alcohol yang pulih adalah salah satu bentuk kelompok bantu diri yang
paling dikenal. Professional dalam bidang kesehatan mental sering
merekomendasikan AA untuk para klien yang menghadapi masalah dengan alcohol
( Ferri, Amato, & davoli, 2006; Suire & Bothwell, 2006).

Organisasi kelompok bantu diri lain adalah compeer yang memadukan


relaawan masyarakat dalam hubungan pertemanan yang mendukung dengan anak-
anak dan dewasa yang menerima perlakuan kesehatan mental. Dalam beberapa
kasus, beberapa mitra dala hubungan compeer mungkin juga memiliki ganggua
psikologis. Terdapaat banyak sekali bentuk kelompok bantu diri lainnya, seperti
parents without partners, kelompok dukungan untuk lesbian dan gay,
kelompokDukungan untuk pengguna kokain,wight watchers dan TOPS (take off
pounds Sensibly), kelompok dukungan untuk penyiksaan anak anak, dan banyak
kelompok Dukungan medis (penyakit jantung, kangker).

Belum lama ini, serangkaian kelompok dukungan yang bersifat online


mulei muncul (Andersson, et al, 2006; Davison pennebaker &Dickeerson, 2000).
Banyak individu Merasa lebih nyaman berbagi pengalaman hidup yang intim
dengan kelompok yang Mereka tidak dapat benar-benar lihat. Walau mungkin
kelompok dukunganyang bersifat online ini muncul untuk setiap masalah yang
dapat kita sebutkan, namun kenyataan tidak menunjukan demikian.

4. Kesehatan Mental Masyarakat

Gerakan kesehatan mental masyarakat diawali pada tahun 1960 an,ketika


upaya mengarungi individu dengan gangguan psiologis dan ketidak mampuan
dianggap tidak manusiawi dan tidak tepat.Kondisi tidak baik dalam beberapa
fasilitas psikiatri pada saat itu juga mendorong gerakkan ini.Ide sentral di balik
penggerakan kesehatan mental masyarakat ini adalah bahwa individu dengan
gangguan seharusnya tetap pada dalam masyarakat dan keluarga mereka,

21
menerima penangan dalam pusat-pusat kesehatan mental masyarakat. Penggerakan
ini juga dikaitkan dengan isu ekonomi, seiring dianggap mahalnya memasukkan
individu dengan gangguan psikiologis pada rumah sakit jiwa bila dibandingkan
melakukan perawatan pada masyarakat. Dengan munculnya Undang-Undang
kesehatan Mental Masyarakat ( Community Mental Health Act ) pada tahun 1963,
sejumlah besar individu dengan gangguan psikiologis dipindahkan dari institusi
mental ke fasilitas milik masyarakat, sebuah proses yang di kenal sebagai
deinstitusionalissasi. Walau setidaknya sebagian didorong oleh keinginan untuk
membantu individu dengan gangguan psikiologis dengan lebih
efektif,deinstitusionalisasi juga berimplikasi pada meningkatnya angka tunawisma
( Feldman, 1983 ). Keberhasilan pelayanan kesehatan mental masyarakat
tergantung pada sumber daya komitmen kominitas tempat berlangsungnya upaya
ini.

Pendukung dan penyedia layanan kesehatan mental percaya bahwa cara


terbaik untuk menangani gangguan psikologis adalah engan cara mencegahnya
terjadi di tempat utama (Dalton, Elis, & Wandersman, 2007). Pencegahan
dapat terjadi pada tiga level yaitu sebagai berikut:

 Pencegahan utama, bertujuan untuk mengurangi jumlah gangguan


psikologis.
 Pencegahan sekunder, yaitu melakukan penyaringan sebagai bagian dari
deteksi dini dari masalah dan intrvensi awal dapat dilakukan. Salah satu
cara melakukannya adalah dengan mendidik paraprofesional tentang
pengecagahan permasalahan psikologis dan membentuk tim bersama
dengan psikologi-psikologi.
 Pencegahan tersier, memusatkan perhatian pada gangguan psikologis yang
tidak dicegah atau di intervensi di awal kemunculannya.

5. Sudut Pandang Budaya

Psikoterapi-psikoterapi yang di bahas sebelumnya di bab ini,


psikodinamika, humanistik, perilaku, dan kognitif memusatkan perhatian terutama

22
pada individu. Pendekatan ini cocok dengan banyak kebutuhan orang dalam
budaya Barat, seperti Amerika Serikat, dimana peneknanan lebih pada individudan
bukan kelompok, keluarga, komunitas, kelompok etnis. Namun demikian,
psikoterapi ini tidak efektif untuk orang-orang yang hiduo dalam budaya yang
menekankan lebih pada kelompok, dikenal sebagai kelompok kolektif. Beberapa
psikolog berpandangan bahwa terapi keluarga lebih efektif pada orang-orang
dengan budaya yang menempatkan keluarga di atas segalanya, sperti Latin dan
budaya Asia (guo, 2005).

Gender salah satu produk dari perubahan peran gender untuk wanita dan pria dalah
evaluasi tujuan dari psikoterapi (Gilbert & Keerney, 2006; Nolen-Hoeksema,
2007).

Terapi dapat menjadi efektif ketika teraapis dan klien berasal dari etnis
yang berbeda bila terapis memiliki keterampilan klinis yang sempurna dan peka
secara budaya (Akhtar, 2006; Gibson & Mitchell,2003). Psikoterapis yang terampil
secara budaya memiliki pengetahuan yang baik tentang budaya etnis dan klien, dan
memahami pengaruh sosiopolitiknya, serta memiliki kompetensi dalam bekerja
dengan kelompok yang beragam dari sisi budaya (Abernathy,et al, 2006).

6. Efektivitas Psikoterapi
1. Penelitian tentang efektivitas psikoterapi

Lebih dari 50 tahun yang lalu, Hans Eysenck (1952) sampai pada sebuah
kesimpulan yang mengejutkan bahwa psikoterapi tidak efektif. Walau begitu,
sejumlah besar penelitian menunjukkan bahwa psikoterapi bekerja ( Beck, 2005;
Butler, et al, 2006; Lambert, 2001; Laborsky, et al, 2002).

Individu yang berpikir untuk menemui seorang psikoterapis ingin


mengetahui tidak hanya apakah psikoterapi efektif, tetapi juga (terutama) bentuk
psikoterapi mana yang paling efektif. Disini, hipotensis burung dodo sering kali
tepat semua menang dan harus bekerja, tidak ada satu terapi yang terbukti secara
signifikan lebih baik di banding dengan terapi lainnya (Hubble & Miller, 2004;
Lambert, 2001;Luborsky,et al, 2002; Wampold, 2001). Hasil ini menunjukkan

23
bahwa mungkin masuk akal Bagi para pengguna jasa untuk mengetahui jeni-jenis
terapi yang ada dan memikirkan mana yang paling sesuai dengan kepribadian dan
masalah mereka.

2. Tema-tema Umum dalam Psikoterapi

Sesuda mempelajari sifat-sifat dasar psikoterapi selama lebih dari 25 tahun, Jeromi
Frank menyimpulkan bahwa psikoterapi yang efektif memiliki elemen-elemen
harapan, penguasaan dan rangsangan emosional yang sama (1982; Frank & Frank,
1993). Dengan memberi inspirasi harapan akan adanya bantuan, terapis
memotivasi klien untuk menunjukkan sesi terapi (Jennings & Skovholt, 1999).
Harapan-harapan ini adalah pembangun moral yang sangat kuat dan membantu
melepaskan gejala yang muncut (Arnkoff, Glass, & Shapiro, 2002). Terapi juga
meningkatkan perasaan penguasaan klien serta kompetensinya (Brammer &
MacDonald, 1999).Contohnya klien mulai merasa bahwa ia dapat berhadapan
dengan dunia secara efektif. Terapi juga membangkitkan emosi individu, sebuah
motivator perubahan prilaku yang penting, menurut Frank.

a. Aliansi terapeutik (therapeutic alliance), yaitu, hubungan antara terapis dan


klien, adalah elemen penting lainnya dalam psikoterapi yang berhasil
(Prochaska & Norcros, 2007;Strupp, 1995). Dalam satu penelitian bahan
dasar paling umum dalam keberhasilan beragam psikoterapi adalah upaya
terapis untuk mendukung klien (wallerstein, 1989).
b. Integrasi Terapi/ terapi integratif (intergrative theraphy) adalah kombinasi
teknik-teknik dari beragam terapis yang didasarkan pada penilaian terapis
teknik mana yang memberi manfaat pling besar untuk klien (Prochaska &
Norcross, 2007).Terapi intgratif ditandai dengan keterbukaan terhadap
beragam cara mengintegrasikan terapi-terapi yang beragam. Contohnya,
seorang terapis mungkin menggunakan pendekatan perilaku untuk
menangani klien dengan gangguan panik dan terapi kognitif untuk
menangani individu dengan gangguan depresi mayor.

3. Mencari dan Membiayai Terapi

24
Psikoterapi dapat menjadi sesuatu yang mahal. Walaupun menurunkan
biaya dan, dalam beberapa kasus, memberikan pelayanan gratis dapat diatur
melalui sakit umum dan pusat-pusat kesehtan mental masyarakat, banyak orang
yang paling membutuhkan psikoterapi tidak mendapatkannya. Tantangan untuk
membiayai psikoterapi telah membuat perubahan yang besar dalam usaha
penyampaian pelayanan kesehatan mental pada tahun-tahun ini, terutama dengan
munculnya perawatan yang dikelola. Perawatan yang dikelola (managed care)
terdiri atas strategi-strategi untuk mengendalikan biaya elayanan kesehatan,
termasuk penanganan layanan kesehatan mental, dan meminta akuntabilitas dari
keberhasilan penanganan yang diberikan. Tujuan ini biasanya dicapai dengan
menyisipkan sebuah organisasi penanganan yang dikelola antara klien kesehatan
mental dan penyedia layanan kesehatan mental. Penyedia layanan yang di kelola
ini berusaha untuk menawarkan layanan dengan biaya yang lebih rendah yang
dilakukan dengan membatasi layanan tradisional, menggunakan prosedur yang
ditinjau dengan teliti dan menggunakan opsi-opsi penanganan singkat yang
membutuhka biaya lebih rendah (Brown, et al, 2005). Penanganan yang dikelola
muncul pada awal 1980-an dan berkembang dengan pesat.

Kritik terhadap penanganan yang di kelola ini ada di sekitar dan mencakup
untuk mencakup hal-hal berikut (Boothroyd, t al, 2006; Cohen, Marecek, &
Gilham, 2006; Trivedi, et al, 2006).

 Organisasi penanganan yang dikelola enggan memberikan lebih banyak


sesi terapi untuk setiap pasien.
 Psikoterapi jangka panjang telah disingkikan dari opsi kecuali untuk
beberapa klien yang dapat mebayar sesinya sendiri.
 Beberapa organisasi mempekerjakan terapis-terapis yang kurang terlatih
karena individu-individu ini mau bekerja dengan honor yang lebih rendah.

4. Profesional dalam Bidang Kesehatan Mental

Memperoleh izin (licensing) dan sertifikat adalah dua cara dimana individu
memiliki kendali atas individu yang mempraktikkan psioterapi (Harmatz, 1997).

25
Hukum pada tingkat negara bagian digunakan untuk memberikan izin praktik atau
menyertifikasikan para prefesional ini. Huukum-hukum ini bervariasi dalam
ketegasan dari satu negara bagian ke negara bagian lainnya, tetapi mereka
memiliki kesamaan dalam mempesifikasikan pe;atihan yang harus diikuti oleh para
profesional dalam bidang kesehatan mental ini dan menyebutkan bentuk penilaian
keterampilan aplikan yang dilakukan dalam ujian formal. Badan pemberi izin
praktik didirikan untuk melindungi masyarakat dari individu yang tidak terlatih
yang mungkin menggunakan gelar “psikolog” untuk memberi penanganan, dan
memperoleh pembayaran, tanpa melalui pelatihan yang cukup untuk
melakukannya.

Pemberi izin praktik dan sertifikat membutuhkan praktik dalam bidang


kesehatan mental untuk terlibat dalam praktik-praktik yang etis.Hukum biasanya
menyebutkan pentingnnya untuk tidak membahayakan klien, melindungi klien, dan
menghindari hubungan yang tidak tepat dengan klien.pelanggaran kode etik dapat
berujung pada kehilangan izin untuk praktik psikoterapi (Wierbicky, 1999).

5. Terapi dan Kesehatan serta Kesejahteraan

Terapi biasanya diarahkan pada usaha untuk melegakan gejala-gejala


psikologis. Sebuah terapi dianggap efektif bila hal inii memungkinkan seseorang
untuk bebas dari efek-efek negatif gangguan psikologis. Apakah terapi memiliki
implikasi yang lebih besar pada kesehatan fisik seseorang dan kesejahteraan
psikologis? Peneliti-peneliti telah melakukan peneliti ini merupkan menarik dalam
sejumlah cara.

6. Hubungan Antara Terapi dan Kesahatan Fisik dan Mental

Ada banyak hubungan antara psikoterapi dan kesehatan fisik. Sebagai


contoh, mengetahui diagnosis kanker dapat menjadi pengalaman yang
menimbulkan stres untuk individu yang didiagnosis. Mungkinkah psikoterapi di
arahkan untuk membantu mengurangi sters ini meningkatkan kemampuan pasien
melawan kanker? Penelitian baru menunjukkan bahwa terapi memang memiliki
efek positif itu. Contohnya, penelitian belum lama ini menunjukkan bahwa

26
kelompok yang menjalani terapi berdasar kognitif yang memusatkan pada
peningkatana keterampilan engelolaan stres pada pasien-pasien kanker prostat,
efektif dalam meningkatkan kualitas kehidupan (Penedo, et al, 2006). Penelitian
lain menunjukkan bahwa terapi kognitif perilaku individual mengurangi gejala-
gejala keparahan dalam pasien kanker yang menjalani kometerapi (Sikorskii, et al,
2006).

7. Psikoterapi, Kesejahteraan, dan Pertumbuhan Pribadi

Memang fakta menunjukkan kurangnya kesejahteraan psikologis mungkin


membuat prediposisi individu untuk muncul kembali atau membuat mereka rentan
mengalami masalah (Ryff & Singer, & Love, 2004; Thunetborg, Black, & Bech,
1995). Penelitian telah menunjukkan bahwa individu yang menunjukkan tidak
hanya penurunan dalam gejala yang tampil, .tetapi juga penignkatan kesejahteraan
cenderung tidak memunculkan kembali gejala penyakit atau gangguan yang lalu
(Fava, 2006; Ruini & Fava, 2004).

Belum lama ini, terapis telah mengembangkan sebuah jenis penanganan


baru yang ditunjukkan untuk meningkatkan kesejahteraa. Well-being theraphy
(WBT) adalah terapi jangka pendek (delapan sesi pertemuan) yang bersifat fokus
pada masalah dan direktif yang mendorong klien untuk menekankan hal yang
positif (Fava, 2006; Fava, et al, 2005; Ruini & Fava, 2004; Ruini, et al, 2006).
Langkah pertama dalam WBT adlah mengenali sisi positif dalam kehidupan
seseorang ketika kejadian berlangsung. Dalam WBT, tugas pertama yang diberikan
adalah meminta klien untuk mengawasi tingkat kebahagiaan mereka dan terus
mencatat waktu-waktu yang membuatnya sejahtera secara mental. Klien didorong
untuk mencatat bahkan kesenangan kecil dalam hidup mereka sebuah hari yang
indah di musim gugur, pembicaraan yang membuat santai dengan seorang teman
ataukopi di pagi hari yang enak. Pertumbuhan pascatrauma (post-traumatic
growth) mengacu pada tingkatan individu yang dapat dilihat oleh mereka sendiri
sebagai hasil perjuangan melalui kejadian-kejadian negatif dalam hidup.
Penrichard Tedeschi dan Lawrence Calhoun (2004) meneliti pertumbuhan
pascatrauma pada individu yang telah mengalami sebuah kisis hidup seperti

27
perkosaan, penyakit serius atau kehilangan anak. Pertumbuhan pascatrauma adalah
sesuatu yang paradoks, karena fenomena ini menyadari bahwa kehilangan
sesungguhnya dapatmenghasilkan seuatu yang berharga bagi hidup seseorang.
Individu yang mengatakan bahwa mereka telah tumbuh sebagai akibat situasi
hidup yang mengecewakan melaporkan pengalaman-pengalaman perasaan yang
lebih tentang kemampuan mereka bertahan hidup, kemampuan yang meningkat
untuk mengembangkan keintiman dan rasa sayang terhadap orang lain, dan
apresiasi yang lebih dalam untuk hal-hal kecil dalam hidup.

Menurut Tedeschi & Calhoun (2004), datu cara yang dapat digunakan
terapis untuk meningkatkan pertumbuhan adalah dengan mendengarkan tanpa
menberikan jawaban yaitu mendengarkan deskripsi individu akan pengalaman
kehilangannya tanpa berusaha untuk masuk dan mencoba mengatasi masalah itu.
Cara lain untuk meningkatkan pertumbuhan klien adalah dengan terapis
mendengarkan dan memberi label tema-tema pada pertumbuhan klien. Memberi
label pertumbuhan pascatrauma tidak berarti bahwa memberikan gagasan-gagasan
biasa, seperti “Semua baik-baik saja” ata “Setiap awanmemiliki deretan perak”.
Namun untuk memfasilitasipertumbuhan,terapis harus memungkinkan klien untuk
mengekspresikan perasaan unik dan pemaknaan pribadi pada perubahan positif.

8. Peran Klien dalam Keberhasilan Terapis

Walau terapi benar-benar bekerja, tidak ada satu terapi yang lebih berhasil
dari terapi lainnya. Apa faktor yang menjelaskan meknisme lain mengapa terapi
bekerja? Dalam semua meta-analisis mengenai hasil terapis, satu faktor yang dapat
memprediksi keberhasilan terapi adalah klien sendiri. Memang kualitas partisipasi
klien adalah faktor paling penting yang menentukan hasil terapi McKay, Imel, &
Wampold, 2006, Wampold, 2001). Walau individu mungkin mencari terapi dari
tempat yang pernah masalah, seperti yang di bahas di bab awal ini, kekuatan,
kemampuan, keterampilan, dan motivasi orang tersebutlah yang menetukan
keberhasilan terapi (Hobble & Miller, 2004;Wampold & Brown, 2005). Dalam
sebuh ulasan dan sejumlah bukti tentang efikasi terapeuk, ditemukan bahwa data
yang ada memberikan suat hal yang sangat jelas bahwa terapi tidak mebuat klien

28
jadi lebih baik dan bekerja, tetapi dapat dilihat sebagai sebuah katalis untuk
membawa kekuatan individu kembali alam hidupnya.

29
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Terapi merupakan suatu proses perubahan atau penyembuhan yang di
lakukan dalam bentuk pikiran, perasaan, perilaku dari klien berdasar dari tindakan
profesional yang dilakukan oleh terapis dengan latar belakang ilmu perilaku dan
teknik-teknik yang dikembangkan lebih lanjut.
Tujuan Terapi Dalam proses terapi, ada tujuan yang akan dicapai oleh terapi
terhadap proses dengan klien, antara lain:
1. Memperkuat motivasi melakukan hal yang benar.
2. Mengurangi emosi dengan mengkspresikan perasaan (katarsis); klien
diajak mengalami kembali, bukan membicarakan saja
3. Mengembangkan potensi
4. Mengubah kebiasaan
5. Mengubah struktur kognitif
6. Meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengambil keputusan
yang tepat (seperti konseling)
7. Meningkatkan pengetahuan diri (insight).
8. Meningkatkan hubungan antarpribadi
9. Mengubah lingkungan sosial individu
10. Mengubah proses somatik (rasa sakit) dan meningkatkan kesadaran
tubuh (relaksasi,latihan fisik, dan lain-lain).
11. Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol,
dan kreativitas diri (meditasi, mengartikan mimpi,dan lain-lain).

3.2 Saran
Menyadari kami masih jauh dari kata sempurna, kedepannya kami akan lebih
fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah ini. Untuk saran bisa berisi
kritik atau tanggapan mengenai topik pembahasan dari makalah yang telah kami
jelaskan.

30
31
DAFTAR PUSTAKA

A. King, Laura. 2014. Psikologi Umum. Jakarta : Salemba


Humanika

32