Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Depresi merupakan masalah psikologis yang banyak terjadi pada lanjut usia. Masalah
tersebut ditandai dengan perasaan sedih mendalam yang berdampak pada gangguan interaksi
sosial. Tidak jarang gejala depresi juga berupa gangguan fisik seperti insomnia dan
berkurangnya napsu makan. Depresi seringkali tidak terdeteksi pada lanjut usia karena
dianggap sebagai akibat dari proses penuaan dan penyakit kronis yang dialami oleh lanjut
usia. Padahal deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap depresi dapat memperbaiki
dan meningkatkan kualitas hidup bagi lanjut usia (Dewi, 2014).
Menurut WHO (2013), depresi merupakan gangguan psikologis terbesar ketiga yang
diperkirakan terjadi pada 5% penduduk di dunia. Penelitian yang dilakukan oleh Pracheth
dkk (2013) di India, memberikan hasil dari 218 lanjut usia yang diteliti, terdapat 64 orang
(29,36%) yang mengalami depresi.
Di indonesia, belum ada penelitian yang menyebutkan secara pasti tentang jumlah
prevalensi lanjut usia yang mengalami depresi. Namun peningkatan jumlah penderita depresi
dapat diamati bertambah dari waktu ke waktu melalui peningkatan jumlah kunjungan pasien
yang berobat ke pelayanan kesehatan maupun peningkatan obat psikofarmaka yang
diresepkan oleh dokter (Hawari, 2013).
Diperkirakan dari jumlah lanjut usia di Indonesia pada tahun 2013 yaitu 24 juta jiwa, 5%
mengalami depresi. Akan meningkat 13,5% pada lanjut usia yang memiliki penyakit kronis
dan dirawat inap. Proporsi terbanyak terdapat pada daerah padat penduduk seperti Jawa
Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat (Rachmaningtyas, 2013).
Depresi pada lanjut usia disebabkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Rosita (2012) tentang stressor sosial biologi penyebab
depresi, disebutkan bahwa stressor internal pada lanjut usia meliputi persepsi individu
dengan gejala berupa kekecewaan maupun kemarahan terhadap anggota keluarganya,
sedangkan lingkungan eksternal meliputi suasana di sekitar seperti kebisingan, kekumuhan
dan lain-lain. Stress dan tekanan sosial juga seringkali menjadi penyebab depresi pada lanjut
usia (Santoso, 2009).
Diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Rezki dkk (2014) tentang faktor-faktor
penyebab depresi pada lanjut usia, terdapat pengaruh antara kehilangan dan kecemasan
terhadap tingkat depresi pada lanjut usia. Adanya anggapan bahwa lanjut usia menjadi beban
bagi keluarganya, merupakan salah satu alasan bahwa lanjut usia harus dititipkan di Panti.
Padahal bagi lanjut usia, berkumpul bersama keluarga adalah saat terbaik untuk
menghabiskan masa tuanya. Hal tersebut menjadikan lanjut usia merasa tersisih dan menjadi
tertekan. Dibandingkan dengan lanjut usia yang tinggal dirumah, lanjut usia di Panti tentu
memiliki stresor yang lebih banyak. Tinggal bersama keluarga di tengah-tengah masyarakat
memiliki kesempatan yang lebih dalam berinteraksi dibandingkan lanjut usia yang tinggal
dalam lingkungan Panti.
Semakin bertambah usia seseorang, maka kualitas hidupnya semakin menurun yang
nantinya akan berpengaruh terhadap tingkat ketergantungan. Pada lanjut usia, hidup yang
berkualitas sangat diperlukan untuk mempertahankan produktifitas sehingga dapat
menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik. Depresi memiliki akibat yang erat dengan

1
kualitas hidup seseorang. Dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haris (2014)
tentang kualitas hidup pada lanjut usia yang mengalami gangguan mental. Didapatkan hasil
bahwa responden yang mengalami gangguan psikologis berupa depresi dan demensia
memiliki skor yang lebih rendah pada keempat domain kualitas hidup yaitu kesehatan fisik,
psikologis, hubungan sosial dan lingkungan dibandingkan lanjut usia yang tidak memiliki
gangguan psikologis. Hal itu menunjukkan bahwa kualitas hidup lanjut usia dapat
dipengaruhi oleh kesehatan mentalnya. Diperlukan perhatian lebih bagi lanjut usia dalam
menangani masalah mental atau psikologis khususnya depresi untuk meningkatkan kualitas
hidup.

2
BAB II
ASKEP GANGGUAN JIWA PADA LANJUT USIA

Tujuan :

 Menjelaskan perubahan-perubahan psikososial yang menyertai proses menua


 Menyebutkan masalah yang timbul sebagai konsekuensi perubahan psikososial
 Mengidentifikasi & menyusun rencana intervensi sebagai implikasi keperawatan terhadap
masalah yang timbul.

2.1 Perubahan Psikososial Lansia


• Pensiun
• Identitas sering dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan
• Sadar akan kematian
• Kehilangan hubungan dengan teman-teman & family
• Penyakit kronis & ketidakmampuan
• Perubahan terhadap gambaran diri, konsep diri
• Kesepian (loneliness)

2.2 Masalah Psikososial Lansia


• Aspek Sosial Lansia : Sikap, nilai, keyakinan terhadap lansia, label/stigma, perubahan
social
• Ketergantungan : Penurunan fungsi, penyakit fisik
• Gangguan konsep diri
• Gangguan alam perasaan : Depresi

2.3 Faktor Resiko Masalah Psikososial Lansia


• Sumber finansial yang kurang
• Tipe kepribadian : manajemen stress
• Kejadian yang tidak terduga
• Jumlah kejadian pada waktu yang berdekatan
• Dukungan sosial kurang

2.4 PENGERTIAN DEPRESI

Depresi pada lansia adalah proses patologis, bukan merupakan proses


normal dalam kehidupan. Umumnya orang-orang akan
menanggulanginya dengan mencari dan memenuhi rasa kebahagiaan.
Bagaimanapun, lansia cenderung menyangkal bahwa dirinya mengalami
depresi. Gejala umumnya banyak diantara mereka muncul dengan
menunjukkan sikap rendah diri dan biasanya sulit untuk di diagnosis
(Iskandar, 2012).

3
a. Perubahan Fisik
1. Nafsu makan menurun
2. Gangguan tidur
3. Kelelahan dan kurang energi
4. Agitasi
5. Nyeri, sakit kepala, otot keram dan nyeri tanpa penyebab fisik

b. Perubahan Pikiran
1. Merasa bingung, lambat dalam berpikir, konsentrasi menurun dan sulit
2. mengingat informasi
3. Sulit membuat keputusan, selalu menghindar
4. Kurang percaya diri
5. Selalu merasa bersalah dan tidak mau dikritik
6. Pada kasus berat sering dijumpai halusinasi dan delusi
7. Adanya pikiran untuk bunuh diri

c. Perubahan Perasaan
1. Penurunan ketertarikan dengan lawan jenis
2. Merasa bersalah dan tak berdaya
3. Tidak adanya perasaan
4. Merasa sedih
5. Sering menangis tanpa alasan yang jelas
6. Iritabilitas, marah dan terkadang agresif

d. Perubahan Kebiasaan Sehari-hari


1. Menjauhkan diri dari lingkungan sosial dan pekerjaan
2. Menghindari membuat keputusan
3. Menunda pekerjaan rumah
4. Penurunan aktivitas fisik dan latihan
5. Penurunan perhatian terhadap diri sendiri

2.5 PENGERTIAN KONSEP DIRI

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui
individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain
(Stuart dan Sundeen, 1998).
Konsep diri adalah cara individu memandang dirinya secara utuh, baik fisikal,
emosional intelektual , sosial dan spiritual (Beck, William dan Rawlin,1986) Konsep diri
tidak langsung ada begitu individu di lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat
pertumbuhan dan perkembangan individu.Konsep diri akan terbentuk karena pengaruh
ligkungannya
Konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui kontak dan pengalaman
dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang dilalui individu tersebut.

4
Gangguan Konsep diri : Kekacaua individu dalam melihat citra tubuh, penampilan
peran atau identitas personal.

A. KOMPONEN KONSEP DIRI


1. Gambaran diri / Citra Tubuh ( Body Image )
Gambaran diri adalah sikap seseorang terhadap tubuhnya secara sadar dan tidak
sadar. Sikap ini mencakup persepsi dan perasaan tentang ukuran,bentuk, fungsi
penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan
dimodifikasi dengan pengalaman baru setiap individu (Stuart and Sundeen ,
1991).Gangguan Gambaran Diri :Perubahan persepsi tentang tubuh yang diakibatkan
oleh perubahan bentuk, ukuran,struktur, fungsi, keterbatasan, makna dan objek yang
sering kontak dengan tubuh. Perubahan fisik terkait usia, efek penyakit.
2. Ideal Diri.
Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku
berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu ( Stuart and
Sundeen ,1991). Standart dapat ν berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan
atau sejumlah aspirasi, cita - cita, nilai – nilai yang ingin di capai .

Menurut Ana Keliat ( 1998 ) ada beberapa faktor yang mempengaruhi ideal diri yaitu :

A. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya.


B. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.
C. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis,
keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.
D. Kebutuhan yang realistis.
E. Keinginan untuk menghindari kegagalan.
F. Perasaan cemas dan rendah diri.

Ideal diri ini hendaknya ditetapkan tidak terlalu tinggi, tetapi masih lebih tinggi dari
kemampuan agar tetap menjadi pendorong dan masih dapat dicapai (Kelliat, 1992 ).
Gangguan Ideal diri : Ideal diri yang terlalu tinggi, sukar dicapai, dan tidak realistis.

3. Harga Diri (Self – Esteem)


Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen,1991).

Jika individu sering gagal , maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh
dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan
dari orang lain (Keliat, 1992). Gangguan Harga diri : Perasaan negatif terhadap diri
sendiri,hilang kepercayaan diri.

4. Peran.
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang
berdasarkan posisinya di masyarakat (Keliat, 1992 ).
Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai
atau peran yang terlalu banyak. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap

5
peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang
tidak mungkin dilaksanakan (Keliat, 1992). Gangguan Peran : Berubah atau berhentinya
fungsi peran disebabkan oleh penyakit, proses menua, putus sekolah, putus hubungan
kerja.
Muncul tatkala perubahan tidak diterima individu.
Faktor yang mempengaruhi : peran berlebihan, citra tubuh, perubahan fisik,faktor sosial.

5. Identitas
Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan
penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu
kesatuan yang utuh (Stuart and Sundeen, 1991).
Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat,1992). Karakteristik
identitas diri dapat dimunculkan dari perilaku dan perasaan seseorang, seperti :
1. Individu mengenal dirinya sebagai makhluk yang terpisah dan berbeda dengan
orang lain.
2. Individu mengakui atau menyadari jenis seksualnya
3. Individu mengakui dan menghargai berbagai aspek tentang dirinya, peran, nilai
dan prilaku secara harmonis
4. Individu mengaku dan menghargai diri sendiri sesuai dengan penghargaan
lingkungan sosialnya
5. Individu sadar akan hubungan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang
6. Individu mempunyai tujuan yang dapat dicapai dan direalisasikan (Meler dikutip
Stuart and Sundeen, 1991)

Gangguan Identitas : kekaburan/ketidakpastian memandang diri sendiri, penuh


keraguan, sukar menetapkan keinginan dan tidak mampu mengambil keputusan.

D. MASALAH KEPERAWATAN
a. Gangguan harga diri : harga diri rendah Isolasi sosial : menarik diri Resiko perilaku
kekerasan
b. Gangguan citra tubuh
c. Gangguan identitas personal
d. Perubahan penampilan peran
e. Ketidakmampuan

E. PRINSIP TINDAKAN
Meningkatkan harga diri Memaksimalkan kemandirian : self care, ADL
Meningkatkankontrol diri : peran serta, pengambilan keputusan Menyediakan dukungan
social.
F. RENCANA TINDAKAN
Konseling individual
 Perawat berperan sebagai fasilitator untuk membantu klien
 Tripple ”S” : Sabar, Simpatik, Service Fokus :
- Terapi individual
- Bantu individu mengidentifikasi kekuatan
- Penurunan harapan yang tidak realistiS

6
- Pendekatan kelompok
 Tujuan :
- Menguatkan integritas ego pada lansia
- Penguatan kontak sosial bagi anggota kelompok
- Meningkatnya perasaan ”sama” terhadap perubahan menjadi tua
- Meningkatkan ingatan masa lalu & kemampuan berempati terhadap annggota lain

G. INTERVENSI JARINGAN
Tujuan :
- Meningkatkan peran-peran yang tersedia bagi lansia termasuk identitas personal,harga
diri & penampilan peran
- Modifikasi lingkungan
- Hindari penilaian negatif, beri pujian realistis
- Perluas kesadaran klien terhadap aspek positif yang dimiliki
- Beri kesempatan klien untuk berhasil Diskusikan harapan-harapan klien
- Tingkatkan interaksi social

H. EVALUASI
 Dapat diukur melalui :
- Perilaku merawat diri
- Kontak mata
- Postur
- Pernyataan tentang diri

2.6 PENGERTIAN ALAM PERASAAN


Adalah keadaan emosional yang berkepanjangan yang mempengaruhi seluruh
kepribadian dan fungsi kehidupan seseorang. Gangguan alam perasaan : gangguan emosional
yang disertai gejala mania atau depresi.

A. Mania :
Suatu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan adanya alam perasaan yang
meningkat, meluas atau keadaan emocional yang mudah tersinggung dan terangsang.
B. Depresi :
Statu gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan sedíh dan berduka yang
berlebihan dan berkepanjangan
C. Depresi pada lansia bukan merupakan patologi tunggal
Biasanya multifactorial oleh karena stress lingkungan & penurunan kemampuan
beradaptasi.
Diagnosis Depresi menurut kriteria DSM-III R
Jika terdapat 5/lebih gejala :
 Perasaan tertekan hampir sepanjang hari
 Secara nyata penurunan perhatian/keinginan untuk berbagai aktivitas/kesenangan
 BB turun/naik secara nyata
 Insomnia/hypersomnia
 Agitasi
 Rasa capai/lemah & hilangnya kekuatan

7
 Perasaan bersalah, tidak berharga
 Hilangnya kemampuan berfikir, konsentrasi atau membuat keputusan
 Pikiran berulang tentang kematian, bunuh diriDepresi pada lansia sering kali
kurang/tidak terdiagnosa karena hal-hal sbb: Penyakiit fisik yang dideriat seringkali
mengacaukan gambaran depresi, ex:mudah lelah, Penuruanan BB
 Lansia yang menutupi rasa sedihnya justru dengan menunjukkan bahwa dia lebih
aktif
 Kecemasan, obsesional, histeria hipokondria yang merupakan gejala depresi justru
sering menutupi depresinya.
 Masalah sosial yang juga diderita seringkali membuat gambaran depresi menjadi
lebih rumit.

PATWAY

 Resiko Isolasi :
Keputusan mencederai diri menarik diri

Resiko
kekambuhan
Perubahan
penampilan Depresi
peran
Regimen terapi
inefektif

Koping individu Koping keluarga


G. Citra tubuh
inefetif inefektif

8
I. PENGKAJIAN
a. Faktor predisposisi : Genetik (kembar monozigot), kehilangan, tipe kepribadian
tertentu,penilaian negatif terhadaf diri sendiri, menyalahkan diri sendiri,ketidakberdayaan
(keyakinan akan ketidakmampuannya; tidak berupaya mengembangkan respon adaptif),
kurangnya pujian positif selama berinteraksi dengan lingkungan.
b. Faktor presipitasi : Berbagai penyakit fisik (faktor biologis),kehilangan (faktor psikologis).
c. Perilaku & mekanisme koping : denial, supresi

J. KELUHAN UTAMA
Keluhan biasanya berupa klien merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak
ada tujuan hidup, merasa putus asa.

K. MASALAH KEPERAWATAN
 Berduka disfungsional
 Ketidakberdayaan
 Gangguan pola tidur
 Resiko terhadap cedera
 Perubahan nutrisi
 Defisit perawatan diri
 Ansietas
 Depresi

L. INTERVENSI
1. Tujuan : mengajarkan klien untuk berespon emosional yang adaptif
Tindakan :
 Lingkungan aman, cegah terjadinya kecelakaan
 Hubungan saling percaya prwt – klien
 Dorong untuk mengekspresikan pengalaman yang menyakitkan untuk mengurangi
intensitas masalah Ubah pikiran negatif identifikasi aspek positif (kemampuan,
keberhasilan), bantumengubah persepsi yang salah/negatif ; positif, beri pujian
 Libatkan dalam kegiatan dan interaksi sosial Meningkatkan status kesehatan : perawatan
diri, istirahat, makan, minum
2. Tujuan: mengajarkan berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi
Tindakan :
 Klien dapat membina hubungan saling percaya
 Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
 Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan kerugian tidak
berhubungan dengan orang lain.
3. Tujuan memberi tahu klien untuk tidak menciderai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan.

9
Tindakan :
 Klien dapat membina hubungan saling percaya
 Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
 Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol prilaku kekerasan

10
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Depresi merupakan masalah psikologis yang banyak terjadi pada lanjut usia.
Masalah tersebut ditandai dengan perasaan sedih mendalam yang berdampak pada
gangguan interaksi sosial. Tidak jarang gejala depresi juga berupa gangguan fisik seperti
insomnia dan berkurangnya napsu makan. Depresi seringkali tidak terdeteksi pada lanjut
usia karena dianggap sebagai akibat dari proses penuaan dan penyakit kronis yang
dialami oleh lanjut usia. Padahal deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap depresi
dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup bagi lanjut usia (Dewi, 2014).

11
DAFTAR PUSTAKA

Efendi, Ferry & Makhfud. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.

Admin. 2010. Lansia Perlukan Dukungan Keluarga dan Masyarakat. http://


www.vivaborneo.com/lansia-perlukan-dukungan-keluarge-danmasyarakat.htm. Di akses
tanggal : 27 juli 2011

Depkes RI. (2013). Gambaran Kesehatan Lanjut Usia. diperoleh tanggal 6


September 2014 dari
http://www.depkes.go.id/download.php?file=download/pusdatin/buletin/bul
etin-lansia.pdf

12