Anda di halaman 1dari 25

PERKEMBANGAN ANAK DARI UMUR 2 TAHUN SAMPAI

ENAM TAHUN

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang

Umur 2 sampai 6 tahun adalah anak usia dini (early childhood) atau tahun-
tahun pra sekolah atau masa menjalani Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), baik
formal maupun nonformal. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan upaya
pembinaan dan pengembangan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai
dengan usia 6 tahun. Kegiatan itu dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani
agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Seperti bayi dan balita, Anak-anak prasekolah tumbuh dengan cepat, baik
secara fisik maupun kognitif. Dengan perubahan yang cepat itu, bukan tidak
mungkin seorang yang tadinya gemuk pendek dan hampir tidak dapat berbicara
tiba-tiba menjadi seorang anak yang lebih tinggi dan ramping yang mampu
berbicara secara baik dan lancar. Terutama terlihat pada anak usia dini adalah
kenyataan bahwa perkembangannya benar-benar terintegrasi baik secara biologis,
psikologis, maupun perubahan sosial yang terjadi saat ini (serta sepanjang sisa
masa hidup) yang saling terkait.
Usia prasekolah memberikan contoh luar biasa bagaimana anak-anak
memainkan peran aktif dalam pengembangan kognitif mereka sendiri, khususnya
dalam memahami,menjelaskan, mengorganisasikan, memanipulasi, membangun,
dan memprediksi. Anak-anak prasekolah mengalami kesulitan mengendalikan
perhatian mereka sendiri dan fungsi memori, bingung dalam menampilkan diri,
dangkal dengan realitas, dan fokus pada satu aspek pengalaman pada suatu waktu.
Anak-anak sekolah cenderung membuat kesalahan lintas budaya yang sama
karena kemampuan kognitif yang belum matang. Maka kita perlu mengetahui
bagaimana sajakah perkembangan anak-anak usia 2-6 tahun tersebut.
II. PEMBAHASAN

A. Perkembangan Masa Kanak-Kanak Awal (2–6 Tahun)

Periode kanak-kanak awal atau early childhood period (usia 2-6 tahun)
merupakan usia prasekolah. Pada masa ini, pada umumnya anak-anak mulai
menjalani masa pendidikan pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
baik pada jalur pendidikan formal maupun jalur pendidikannon formal. Pada
jenjang ini, anak-anak diberikan rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani dalam rangka
mempersiapkan mereka agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan lebih
lanjut, yaitu pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD). (Juonorp, 2013)

Selama masa kanak-kanak awal, pertumbuhan fisik berlangsung lebih


lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan selama masa bayi (infacy
period). Pertumbuhan fisik yang lambat ini berlangsung sampai mulai munculnya
tanda-tanda pubertas, yakni kira-kira dua tahun menjelang anak matang secara
seksual, di mana pertumbuhan fisik pada waktu itu kembali berkembang dengan
pesat. Meskipun selama masa kanak-kanak secara umum pertumbuhan fisik
mengalami perlambatan, namun ketrampilan-ketrampilan motorik kasar dan
motorik halus justru berkembang pesat. (Juonorp, 2013)

Menurut Yuliani Nurani Sujiono (dalam ahmadmushlih, 2014) “Menurut


ahli yang bernama Catron dan Allen menyebutkan bahwa terdapat enam aspek
perkembangan anak usia dini, yaitu kesadaran personal, kesehatan emosional,
sosialisasi, komunikasi, kognitif, dan ketrampilan motorik. Kemampuan motorik
sangat pentng dan harus dipertimbangkan sebagai interakal. Ketrampilan tidak
dipandang sebagai perkembangan tambahan, melainkan sebagai komponen yang
integral dari lingkungan bermain yang baik. Perkembangan anak pada enam aspek
dibawah ini membentuk fokus sentralsebagai pengembangan kurikulum bermain
kreatif pada anak usia dini.Perkembangan pasa masa anak-anak awal meliputi
perkembangan fisik, intelektual, dan sosio-emosionl. Pada masa ini anak akan
merasakan pengaruh-pengaruh serta perubahan fungsi fisik yang semakin
berkembang sehingga menyebabkan proses pertumbuhan yang penuh dengan
variasi sesuai dengan individu, kepribadian, campur tangan keluarga, dan pribadi
anak. Petumbuhan fisik tidak dapat dikatakan mengikuti pola ketetapan yang
tertentu. Pertumbuhan tesebut terjadi secara bertahap atau dengan kata lain seperti
naik turunnya gelombang, adakalanya cepat adakalanya lambat”.

Salah satu tahap tersebut adalah tahap 0-6 tahun atau periode sekolah-ibu.
Periode 0-6 tahun disebut periode sekolah ibu, karena hampir semua usaha
bimbingan, perawatan, pemeliharaan, dan pendidikan anak berlangsung di dalam
keluarga yang dilakukan oleh ibuBerikut akan diuraikan tentang fase-fase
perkembangan anak usia dini:

a. Anak Usia 0-2 tahun

Secara umum pada masa bayi anak usia 0-2 tahun, anak mengalami
perubahan yang pesat bila dibandingkan dengan yang akan dialami pada fase-fase
berikutnya. Anak sudah memiliki kemampuan dan keterampilan dasar yang
berupa: keterampilan lokomotor (berguling, duduk, berdiri, merangkak dan
berjalan), keterampilan memegang benda, penginderaan (melihat, mencium,
mendengar dan merasakan sentuhan), maupun kemampuan untuk mereaksi secara
emosional dan sosial terhadap orang-orang sekelilingnya. (Admin, 2012)

Segala bentuk stimulus (verbal maupun nonverbal) dari orang lain akan
mendorong anak untuk belajar tentang pengalaman-pengalaman sensori dan
ekspresi perasaan meskipun anak belum mampu memahami kata-kata. Menurut
Monks menyatakan bahwa stimulasi verbal ternyata sangat penting untuk
perkembangan bahasa. Hal ini disebabkan kualitas dan kuantitas vokalisasi
seorang anak dapat bertambah dengan pemberian reinforsement verbal. Stimulasi
verbal yang terusmenerus juga akan memudahkan anak untuk belajar melafalkan
suara-suara dan Dapat disimpulkan bahwa anak usia dini merupakan masa yang
kritis dalam sejarah perkembangan manusia. Masa anak usia dini ini terjadi pada
anak usia 0-6 tahun atau sampai anak mengikuti pendidikan pada jenjang
pendidikan anak usia dini atau prasekolah. Pada masa ini terjadi pertumbuhan
fisik dan psikis yang sangat pesat. gerakan-gerakan yang mengkomunikasikan
suasana emosinya, seperti marah, cemas, tidak setuju dan lain-lain. (Admin, 2012)

b. Anak usia 2-3 tahun


Pada fase ini anak sudah memiliki kemampuan untuk berjalan dan berlari.
Anak juga mulai senang memanjat, meloncat, menaiki sesuatu dan lain
sebagainya.
Solehuddin, (dalam Admin, 2012) berpendapat bahwa pada anak usia 2-3
tahun lazimnya sangat aktif mengeksplorasi benda-benda di sekitarnya. Anak
memiliki kekuatan observasi yang tajam. Anak juga menyerap dan membuat
perbendaharaan bahasa baru, mulai belajar tentang jumlah, membedakan antara
konsep satu dengan banyak dan senang mendengarkan cerita-cerita sederhana,
yang kesemuanya diwujudkan anak dalam aktivitas bermain maupun komunikasi
dengan orang lain. Kemampuan anak menguasi beberapa patah kata juga mulai
berkembang. Anak mulai senang dengan perckapan walaupun dalam bentuk dan
kalimat yang sederhana. Selain itu juga, sikap egosentrik anak sangat menonjol.
Anak belum bisa memahami persoalan-persoalan yang dihadapinya dari sudut
pemikiran orang lain. Anak cenderung melakukan sesuatu menurut kemauannya
sendiri tanpa memperdulikan kemauan dan kepentingan orang lain. Sebagai
contoh, anak sering merebut mainan dari orang lain jika anak menginginkannya.
(Admin, 2012)

c. Anak usia 3-4 tahun


Secara umum, anak pada fase ini masih mengalami peningkatan dalam
berperilaku motorik, sosial, berfikir fantasi maupun kemampuan mengatasi
frustasi. Untuk kemampuan motorik, anak sudah menguasai semua jenis gerakan-
gerakan tangan, seperti memegang benda atau boneka. Akan tetapi sifat
egosentriknya masih melekat. Tingkat frustasi anak juga cenderung menurun. Hal
ini disebabkan adanya peningkatan kemampuan dalam mengatasi kesulitan-
kesulitan yang dialaminya secara lebih aktif atau sudah ada sifat kemandirian
anak. Pada usia ini anak memiliki kehidupan fantasi yang kaya dan menuntut
lebih banyak kemandirian. Dengan kehidupan fantasi yang dimilikinya ini, anak
akan memperlihatkan kesiapannya untuk mendengarkan cerita-cerita secara lebih
lama, bahkan anak juga sudah dapat mengingatnya. Selanjutnya dengan sifat
kemandirian yang dimilikinya mulai membuat anak tidak mau banyak diatur
dalam kegiatankegiatannya. Pada aspek kognitif anak juga sudah mulai mengenal
konsep jumlah, warna, ukuran dan lain-lain. (Admin, 2012)
d. Anak usia 4-6 tahun
Ciri yang menonjol anak pada usia ini adalah anak mempunyai sifat
berpetualang (adventuroussness) yang kuat. Anak banyak memperhatikan,
membicarakan atau bertanya tentang apa sempat ia lihat atau didengarnya.
Minatnya yang kuat untuk mengobservasi lingkungan benda-benda di sekitarnya
membuat anak senang bepergian sendiri untuk mengadakan eksplorasi terhadap
lingkugan disekitarnya sendiri. Pada perkembangan motorik, anak masih perlu
aktif melakukan berbagai aktivitas. Sejalan dengan perkembangan fisiknya, anak
usia ini makin berminat terhadap teman sebayanya. Anak sudah menunjukkan
hubungan dan kemampuan bekerjasama dengan teman lain terutama yang
memiliki kesenangan dan aktivitas yang sama. Kemampuan lain yang ditunjukkan
anak adalah anak sudah mampu memahami pembicaraan dan pandangan orang
lain yang disebabkan semakin meningkatnya keterampilan berkomunikasi.
(Admin, 2012)

Berdasarkan tahap-tahap perkembangan tersebut, dapat disimpulkan


bahwa anak usia dini merupakan masa yang kritis dalam sejarah perkembangan
manusia. Masa anak usia dini ini terjadi pada anak usia 0-6 tahun atau sampai
anak mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini atau
prasekolah. Pada masa ini terjadi pertumbuhan fisik dan psikis yang sangat pesat.
(Admin, 2012)
1. Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik
a. Pertumbuhan tinggi dan berat badan

Pertumbuhan masa kanak-kanak awal tidak terjadi sepesat pada masa


bayi (Santrock, 2002; Monks dkk, 1998). Pada masa kanak-kanak awal, rata-rata
anak bertambah tinggi 6,25 cm setiap tahun, dan bertambah berat 2,5-3,5 kg
setiap tahun. Pada usia 6 tahun berat harus kurang lebih mencapai tujuh kali
berat pada waktu lahir. Postur tubuh anak pada masa kanak-kanak awal meliputi:

1) Gemuk (Endomorfik)
2) Berotot (mesomorfik)
3) Relative kurus (etomorfik)
Besar kecilya tubuh seseorang dipengaruhi oleh factor keturunan dan
juga factor lingkungan. Faktor keturunan menentukan cara kerja hormon yang
mengatur pertumbuhan fisik yang dikelurka oleh lobus anterior dari kelenjar
pituitary, suatu kelejar kecil yang terletak didasar sebelah bawah otak.Anak-
anak dengan usia sebaya dapat memparlihatkan tinggi tubuh yang sangat
berbeda, tetapi pola pertumbuhan tinggi tubuh mereka tetap mengikuti aturan
yang sama. Bila dihitung secara rata-rata, pola ini dapat menggambarkan
pertumbuhan anak pada usia tertentu. hal ini dipenganruhi oleh faktor dari dalam
(gen) dan faktor dari luar seperti asupan gizi yang memadai untuk pertumbuhan
tinggi badan. Perbandingan tubuhnya sangat berubah tidak lagi seperti bayi akan
tetapi memiliki ciri-ciri pertumbuhan kanak-kanak awal yaitu:
1. Pada bagian-bagian tubuh berangsur-angsur berkurang
2. Tubuh cenderung berbentuk kerucut
3. Perut yang rata (tidak buncit)
4. Dada lebih bidang dan rata
5. Bahu lebih luas dan lebih persegi
6. Gumpalan Lengan dan kaki lebih panjang dan lurus
7. Tangan dan kaki tumbuh lebih besar

Bukan hanya perubahan pada bagian tubuh saja akan tetapi tulang dan
otot anak mengalami tingkat pengerasan yang bervariasi pada bagian-bagian
tubuh yaitu meliputi;otot menjadi lebih besar, lebih kuat dan berat, anak lebih
kurus walaupun berat bertambah, selama 4–6 bulan pertama dari awal masa
kanak-kanak, 4 gigi bayi yang terakhir yakni geraham belakang muncul. Selama
setengah tahun terakhir gigi bayi mulai tanggal yakni gigi seri tengah yang
pertama kali lepas dan digantikan gigi tetap. Akhir dari masa kanak-kanak awal
biasanya anak memiliki satu atau dua gigi tetap di depan dan beberapa celah
dimana gigi tetap akan muncul. (Halawa, 2014)

Keterampilan fisik pada Usia  3tahun


.Perkembangan fisik
- Keterampilan fisik berkembang dengan cepat- duduk dan merayap; merangkak
- Mulai untuk berjalan dan berlari
- Keterampilan motorik yang berkembang dengan baik: dapat mengambil objek
yang kecil dari dalam tumpukan
- Mengatur sendok atau garpu untuk memberi makan
- Mulai dapat menggenggam dan melepaskan suatu objek
Keterampilan fisik pada Usia 3 - < 4 tahun

Perkembangan fisik
- Peningkatan keterampilan fisik
- Mengendarai suatu sepeda roda tiga
- Mondar-mandir naik turun tangga,dengan kakiyang bergonta-gantian
- Berlari
- Melompat dengan kedua kaki
- Berjalan pada balok keseimbangan
- Memanjat pada peralatan bermain
- Dapat melepaskan pakaian dan juga berpakaian sendiri
- Menangkap bola dengan dengan menggunakan lengan
- Berjalan mundur dan pada bagian atas ujung jari kaki
- Memegang krayon dengan jari
Keterampilan fisik pada Usia 5 - < 6 tahun
Perkembangan fisik
- Melompat dengan kaki yang saling bergantian
- Mengendarai sepeda roda dua
- Melakukan lemparan dengan wajar dan teliti
- Menangkap bola dengan menggunakan tangan
- Melakukan putaran atau berjungkir balik
- Mengambil bagian didalam permainan yang menuntut keterampilan fisik
b. Perkembangan motorik pada masa kanak-kanak awal
Awal masa kanak-kanak merupakan periode vital dalam mempelajari
ketrmpilan tertentu, karena menurut Hurlock (dalam Halawa, 2014)ada tiga
alasan, yakni:

1) Anak senang mengulang-ulang, sehingga dengan snang hati mau


mengulang suatu aktivitas sampai terampil. Contohnya: seorang anak yang
diajnakari oleh orang tuanya memanggil ibunya dengan sebutan mama, maka
anak itu akan terbiasa dan memanggil ibunya dengan sebutan mama secara
berulang-ulang.

2) Anak-anak bersifat pemberani, sehingga tidak terhambat rasa takut kalau


mengalami sakit atau diejek teman-teman sebagai mana yang ditakuti oleh anak
yang lebih besa. Contohnya: ketika seorang akan tampil disebuah pentas dia
akan dengan senang hati tanpa malu-malu atau tanpa takut salah akan lebih
percaya diri dibandingkan anak dewasa yang sudah mengenal rasa malu.

3) Anak akan mudah dan cepat belajar karena tubuh mereka, masih lentur
dan ketrampilan yang dimiliki lebih sedikit, sehingga ketrampilan yang sudah
dikuasai tidak mengganggu ketrampilan yang sudah ada. Contohnuya:
ketampilan dalam menari tidak mengganggu atau tidak mempengaruhi
ketrampilan dalam berbicara.

Ketrampilan umum yang sering dilakukan anak-anak biasanya


menyangkut ketrampilan tangan dan kaki contoh: ketrampilan dalam aktifitas
makan dan berpakaian sendiri dimulai pada masa bayi dan disempurnakan pada
masa kanak-kanak awal. kemajuan terbesar kemampuan berpakaian antara usia
1,5 dan 3,5 sehingga pada masa taman kanak-kanak (TK) mereka sudah dapat
berpakaian sendiri, menggikat tali sepatu, dan menyisir rambut dengan sedikit
bantuan. Antara usia 5 dan 6 tahun anak-anak sudah pandai melempar dan
menagkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah
liat atau plastisin, menggambar menggunakan pensil dan mewarnai gambar.
Ketrampilan kaki mulai dilakukan dengan gerakan-gerakan kaki. Usia 5 atau 6
tahun anak belajar melompat dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat
memanjat. Antara usia 3-4 tahun anak dapat mempelajari sebuah sepeda roda
tiga, berenang, lompat tali,keseimbangan tubuh dalam berjalan diatas dinding
atau pagar, sepatu roda, bermain es batu, menari. (Halawa, 2014)

 Keterampilan Motorik Usia 2-4 Tahun


a. Motorik Kasar
a. Mengambil benda kecil diatas nampan tanpa menjatuhkan
b. Menangkap bola besar dengan tangan lurus kedepan
c. Memanfaatkan bahu dan siku pada saat melempar bola hingga 3 meter
d. Berdiri dengan satu kaki selama 5 detik

b. Motorik Halus
1. Menggunting kertas menjadi dua bagian
2. Menggambar lingkaran tetapi masih belum teratur
3. Jika di beri gambar kepala dan badan manusia yang belum lengkap,
anak akan mampu menambahkan paling tidak 2 bagian tubuh.
4.Mencuci dan mengelap tangan sendiri
5. Mengaduk cairan dengan menggunakan sendok
6. Menuang air dari teko kecil ke gelas /cangkir tanpa tumpah

 Keterampilan Motorik Usia 4-6 Tahun


a. Motorik Kasar
1. Menyentuh jari kaki tanpa menekuk lutut
2. Berdiri jinjit dengan tangan di pinggang
3.Mengayuh satu kaki kedepan atau kebelakang tanpa kehilangan
keseimbangan.
4. Berjalan pada garis yang sudah dibuat

5. Berlari langsung menendang bola

b. Motorik Halus
1. Memasukan surat ke amplop
2. Membentuk berbagai obyek dengan tanah liat atau lilin malam

3. Mencuci tangan dan mengeringkannya tanpa bantuan.

4.Mencuci wajah dan mengeringkannya tanpa bantuan dan tanpa


membasahi baju

5. Memasukan ke lubang jarum

6. Berlari langsung menendang bola

2. Perkembangan Intelektual pada Masa Kanak-kanak Awal


a. Perkembangan Kognitif
Pada masa kanak-kanak awal, anak berfikir konfergen menuju suatu jawaban yang
paling mungkin dan yang paling benar terhadap suatu persoalan. Menurut
perkembangan kognitif piaget, anak pada masa kanak-kanak awal berada pada
tahap perkembngan praorerasional (2-7 tahun), istilah praoperasional
menunjukkkan pengertian belum matangnya cara kerja pikiran. Pemikiran pada
tahap praoprasional masih kacau dan belum terorganisasi dengan baik (santrock,
2002),yang sering dikatakan anak belum mampu menguasai operasi mental
secara logis. Adapun cirri-ciri berfikir pada tahap praoprasional adalah sebagai
berikut:
a. Anak mulai menguasai fungsi simbolis; sebagai akibatnya,anak mulai
mampu bermain pura (pretend play), dismping itu penguasaan bahasa
menjadi semakin sistematis.
b. Terjadi tingkah laku imitasi;anak suka melakukan peniruan besar-besaran,
terutama pada kakak atau teman yang lebih besar usianya dan dari jenis
kelaminnya sama.Tingkah laku immitasi ini dilakukan secara langsung
maupuan tertunda. Pada tingkah laku imitasi tertunda, anak setelah melihat
tingkah laku orang lain,tidak langsung menirukan, melainkan ada
rentangan waktu beberapa saat baru menirukan. (Halawa, 2014)
c. Cara bepikir anak egosentris; yaitu suatu ketidakmampuan untuk
membedakan antara perspektif (sudut pandang) seseorang dengan
perspektif orang lain santrock, (Halawa, 2014). Sebagai contoh, ketika
mary ditelfon ayahnya dan ditanya apakah ibunya ada, mery mengangguk-
angguk. Dalam hal ini mary tidak dapat mengerti bahwa anggukannya
tidak dapat dilihat oleh ayahnya yang ada di suatu tempat yang jauh dari
dirijnya.
d. Cara berfikir anak centralized, yaitu terpusat pada satu dimensi saja
menurut monks dkk, (Halawa, 2014). Sebagai contoh, pada suatu
eksperimen, anak dipertunjukkan dua gelas A dan B yang sama diameter
dan tingginya, pad kedua gelas itu diisi air jeruk yang sama banyaknya,
kemudian anak ditanjya air jeruk yang ada di gelas A dengan gelas B mana
yang lebih banyak, maka anak dengan cepat akan menjawab: “sama
banyaknya”. Jawaban ini didasarkan pada pandangan tentang garis sejajar
yang ditariknya dari permukaan air jeruk yang ditariknya dari permukaan
air jeruk yang ada didalam gelas A dan gelas B. setelah itu dengan
disaksikan anak, aor jeruk yang ada digelas B ditungkan digelas C yang
diameternya lebih kecil, tetapi lebih tinggi, kermudian anak ditanya lagi,
mana yang lebih banyak antara air jeruk gelas A dengan gelas C. Dengan
cara yang sama dengan sebelumnya, anak akan menjawab air jeruk di
gelas C lebih banyak, karna permukaannya lebih tinggi. Dalam hal ini
anak mengabaikan dimensi lebar gelas, dan hanya memperhatikan
dimensi tinggi dari gelas.cara berfikir seperti ini dikatakan belum
menguasai gejala konservasi. (Halawa, 2014)
e. Berpikir tidak dapat dibalik: operasi logis anak pada masa ini belum dapat
dibalik. Sebagai contoh Adi ditanya: “Adi, kamu punya saudara tidak?”,
jawab adi:”punya”. Setelah itu Adi ditanya lagi, “siapa nama saudaramu?”,
Adi menjawab: “Mita”, kemudian sekali lagi adi ditanya:”Apakah Mita
mempunyai saudara?”, Adi menjawab: ”tidak”. Dalam hal ini Adi tidak
sadar bahwa dirinyalah saudar Mita menurut Monks dkk, (dalam Halawa,
2014)
f. Berfikir terarah statis; artinya dalam berfikir anak tidak pernah
memperhatikan dinamika proses terjadinya sesuatu.

Keterampilan kognitif dari lahir-< 3 tahun


- Melakukan penyelidikan secara sensorimotor terhadap dominasi
lingkungan
- Perkembangan berjalan cepat
- Mengembangkan suatu perasaan atau pengertian terhadap suatu objek
yang tetap
- Mengembangkan aspek bahasa
-Mulai dapat menggunakan beberapa angka; jumlah dan warna, tetapi tidak
memahaminya
Keterampilan kognitif dari Usia 3 -< 4 tahun

- Dapat mengikuti dua perintah

- Dapat membuat penilaian menghitung banyaknya kesalahan yang telah


mereka buat

- Mengembangkan kosa kata dengan cepat

- Menggunakan angka-angka tanpa pemahaman

- Adanya kesukaran dalam membedakan antara khayalan dengan kenyataan

Keterampilan kognitif dari usia 5 -< 6 tahun

- Menunjukan perhatian pada masa pertumbuhan

- Dapat mengurutkan objek dalam urutan yang tepat

- Dapat menggolongkan objek

- Melakukan berbagai hal dengan sengaja, lebih sedikit menuruti kata hati

– Sering kali kesulitan dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan

- Mulai menggunakan bahasa dengan agresif, terutama dalam hal


penggolongan

- Mulai menyadari tentang kesadaran mengenai gambaran dan kata-kata


yang dapat menghadirkan benda nyata
b. Perkembangan Bahasa dan Bicara
Perkembngan bahasa dipengaruhi Teori Belajar Sosial, yakni anak belajar
dengan model-model yang ada diligkungannya. Melalui imitasi dan respon dari
lingkungan, akhirnya anak menguasai ketrampilan bicara. Sedangakan menurut
Chomsky, perkembangan bahasa anak terjadi karena factor pembawaan; bahwa
anak lahir sudah disertai dengan LAD (Language Acquisition Device) yang
membuat anak sering mengekspresikan sesuatu dengan kata yang tidak ditemukan
dari lingkungannya. Bahasa dibutuhkan untuk komunikasi dengan dunia luar.
Bahasa yang dimaksud adalah bahasa tutur kata yang dapat dimengerti oleh
sesama manusia. (Halawa, 2014)
Menurut Karl Buhler (dalam Halawa, 2014)ada 3 faktor yang meneentukan
dalam teori bahasa, yakni:
1. Kundgabe (Appele), yakni fungsi bahasa untuk menyatakan apa yang terjadi
dalam si pembicara, misalnya anak menjerit ketakutan atau bersorak gembira,
ini merupakan fungso Kungabe yang dapat menimbulkan fungsi Auslosung.
2. Auslosung (Ausdruck), yakni fungsi untuk menimbulkan reeaksi social,
misalnya mengajak pergi ketoko atau kesekolah. Dalam hubungannya dengan
orang lain, ternyata fungsi yang pertama (Aulosung) juga dapat menimbulkan
reaksi social, missal anak menjerit akan menimbulkan reaksi terkejut dari
orang lain. Jadi dapat dikatakan bahwa Kungabe memiliki hubungab dengan
Auslosung.
3. Darstellung, yakni fungsi untuk melukiskan suatu keadaan secara obyektif,
meletakkan atau mengerti hubungan antara hal yang satu dengan yang
lain,dapat memformulasi ide-ide. Hal-hal tadi merupakan sifat-sifat manusia
yang spesifik dan hanya manusia yang dapat mengadakan Darstellung.
Menurut Karl Buhler (dalam Halawa, 2014) seorang anak harus memiliki
tiga fungsi tersebut karna perkembangan anak dipengaruhi imitasi. Jadi bila tidak
ada yang ditiru, maka tidak ada input perkembangan bahasa. Selin itu juga harus
ada respon dari lingkungan sektar untuk menanggapi tingkah laku anak.

3. Perkembangan Moral
Perkembangan moral ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami
aturan, norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Perkembangan moral
meliputi perubahan perasaan, pikiran, dan tingkah laku. Perilaku moral seseorang
dalam masyarakat banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua serta perilaku
moral dari orang-orang disekitarnya. Artinya, lingkungan juga mempengaruhi
perkembangan moral seseorang. Ada dua dimensi dalam perkembangan moral,
yaitu dimensi intrapersonal dan dimensi interpersonal.

a. Dimensi intrapersonal: mengatur aktifitas seseorang ketika dia tidak ikut


serta dalam interaksi social.
b. Dimensi interpersonal: mengatur interaksi sosial seseorang dan konflik
keadilan.

Bagaimana cara berfikir anak-anak mengenai persoalan moral mendorong


Jean Piaget mengamati dan mewawancarai anak-anak dari usia 4 sampai 12 tahun.
Menurut Piaget dalam Life Span Development (dalam Wihdahnuha, 2011)antara
usia 5-12 tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Piaget
menyimpulkan konsep berfikir anak mengenai keadilan dalam dua perbedaan
berdasarkan perkembangan kedewasaannya, yaitu :

a. Moralitas heteronomous

Merupakan tingkatan pertama dari perkembangan moral yang terjadi pada


anak usia 4 sampai 7 tahun. Keadilan dan peraturan dibayangkan sebagai sifat dari
dunia yang tidak dapat berubah. (Wihdahnuha, 2011)

b. Moralitas autonomous

Merupakan tingkatan kedua dari perkembangan moral. Ditampakkan oleh


anak yang lebih tua yaitu sekitar usia 10 tahun. Anak menjadi sadar bahwa
peraturan dan hukuman dibuat oleh orang-orang dan dengan demikian dalam
menilai sebuah tindakan, seseorang seharusnya mempertimbangkan maksud atau
tujuan tindakan dan akibat dari tindakan tersebut. (Wihdahnuha, 2011)
Anak-anak yang lebih tua yaitu sekitar usia 10 tahun, mereka percaya
bahwa aturan adalah subjek untuk berubah, dan menyadari bahwa hukuman tidak
selalu mengikuti perbuatan salah. Misalnya bagi anak usia 5 tahun berbohong
adalah hal buruk, tetapi bagi anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa
situasi berbohong adalah dibenarkan. (Wihdahnuha, 2011)

Kohlberg memperluas teori Piaget dan menyatakan adanya enam tahap


perkembangan moral. Keenam tahapan tersebut terjadi pada tiga tingkatan, yakni
prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional Santrock, (dalam
Wihdahnuha, 2011)

Pada tahap prakonvensional, anak peka terhadap peraturan-peraturan yang


berlatar belakang budaya dan terhadap penilaian baik buruk, benar salah tetapi
anak mengartikannya dari sudut akibat fisik suatu tindakan. Tahap ini ada dua
tingkatan:

a. Heteronomous: moral berfikir sering dikaitkan dengan hukuman. Missal


anak-anak mematuhi orang dewasa karena orang dewasa member itahu
mereka untk mematuhi.
b. Individualism, instrumental purpose and exchange: individu mengikuti
kepentingan mereka sendiri tetapi juga mengajak yang lainnya
mengerjakan hal yang sama. Jika orang di sekitarnya merasa senang
dengan mereka maka mereka juga akan merasa senang dengan orang di
sekitarnya.

Wihdahnuha (2011) menyatakanlan tahap konvensional merupakan suatu


tahapan dimana memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok atau agama
dianggap sebagai sesuatu yang berharga pada dirinya sendiri, anak tidak peduli
apapun akan akibat-akibat langsung yang terjadi. Ada dua tingkatan dalan tahap
ini:

a. Mutual Interpersonal expectation, relationship, and interpersonal


conformity: individu menilai kepercayaan, kepedulian dan kesetiaan
dengan lainnya sebagai dasar dari pertimbangan moral. Anak sering
mengikuti moral baku orang tua mereka dan mencoba untuk menjadi anak
baik.
b. Social systems morality: pertimbangan moral berdasarkan pada
pemahaman permintaan social, hukum, keadilan dan kewajiban.

Tahap pascakonvensional ditandai dengan adanya usaha yang jelas untuk


mengartikan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip tersebut terlepas apakah individu
yang bersangkutan termasuk kelompok itu atau tidak. (Wihdahnuha, 2011)

Beberapa ciri perkembangan moral anak pada masa anak-anak akhir yaitu:

a. Berkurangnya rasa ego


b. Peningkatan dalam hal pemeliharaan, misalnya:
1. Mau memelihara alat permainannya
2. Mengelompokan benda sesuai jenisnya masing-masing.
c. Mulai memperhatikan dan menerima pandangan orag lain.
d. Perkembangan pengertian tentang perhitungan seperti jumlah, panjang,
luas dan besar.
e. Pemahaman tentang konsep ruangan, kausalitas, ketegorisasi, konversi dan
penjumahan lebih baik. Mereka sudah dapat menemukan jalan daari rumah
ke sekolah pada usia 6 sampai 7 tahun. Juga mempunyai ide yang lebih
baik tentang jarak dari suatu tempat ke tempat lain, lama waktu tempuh,
rute dan tanda-tanda jalan.
f. Keputusan anak akan sebab akibat akan meningkat. Juga kemampuan anak
dalam memecahkan masalah misalnya dalam perhitungan matematika
anak-anak mengguanakan jari atau benda lain.
g. Anak-anak pada masa operasi konkret berfikir induktif. Maksudnya adalah
berdasarkan observasi tentang segala sesuatu yang terjadi di masayarakat
dan lingkungan.

4. Perkembangan Emosi
Emosi memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan anak.
Akibat dari emosi ini juga sering dirasakan oleh fisik anak terutama bila emosi itu
kuat dan berulang-ulang. Seorang anak dengan kondisi keluarga yang kurang atau
tidak bahagia, rasa rendah diri, memungkinkan terjadinya tekanan perasaan atau
emosi. Emosi yang nyata misalnya : takut, amarah, cemburu, irihati kerapkali
disebut sebagai emosi yang tidak menyenangkan atau “unpleasant emotion” yang
merugikan perkembangan anak. Sebaliknya emosi yang menyenangkan atau
“pleasant emotion’’ seperti : kasih sayang, kebahagiaan, rasa ingin tahu, suka
cita, tidak saja membantu perkembangan anak tetapi sesuatu yang sangat penting
dan dibutuhkan anak. (Wihdahnuha, 2011)

Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan


emosi secara kasar tidak dapat diterima di masyarakat. Maka dari itu mereka
belajar mengontrol dan mengendalikan emosi menurut Syamsu Yusuf,
(dalamWihdahnuha, 2011) .Cara mereka mengendalojan emosi biasanya dengan
meniru perilaku orang-orang disekitarnya kemudian melatihnya sehingga mereka
dapat mengontrol emosi dengan sendirinya. Hurlock, (dalamWihdahnuha,
2011)menyatakan bahwa ungkapan emosi yang muncul pada masa ini masih sama
dengan masa sebelumnya, seperti: amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati,
gembira, sedih, dan kasih sayang.

Ciri-ciri emosi masa kanak-kanak akhir adalah:

a. Emosi anak berlangsung relatif singkat, hanya beberapa menit dan sifatnya
tiba-tiba. Hal ini disebabkan karena emosi anak menampakkan dirinya di
dalam kegiatan atau gerakan yang nampak, sehingga menghasilkan emosi
yang pendek, tidak seperti pada orang dewasa yang dapat berlangsung
lama.
b. Emosi anak kuat atau hebat, hal ini terlihat bila anak : takut, marah atau
sedang bersenda gurau. Mereka akan tampak marah sekali, takut sekali
meskipun kemudian cepat hilang. Lain halnya dengan orang dewasa,
meskipun takut namun ketakutannya tidak begitu tampak.
c. Emosi anak mudah berubah. Emosi anak sering berubah, saling berganti-
ganti emosi, dari emosi susah ke emosi senang dan sebaliknya dalam
waktu yang singkat.
d. Emosi anak nampak berulang-ulang. Hal ini timbul karena anak dalam
proses perkembangan ke arah kedewasaan yang harus menyesuaikan
terhadap situasi di luar, dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang.
e. Respon emosi anak berbeda-beda. Pengamatan terhadap anak dengan
berbagai tingkat usia menunjukkan bervariasinya respon emosi. Pengalam
belajar dari lingkunannya membentuk tingkah laku dengan perbedaan
emosi secara individual.
f. Emosi anak dapat diketahui atau dideteksi dari gejala tingkah lakunya.
Meskipun anak kadang-kadang tidak memperlihatkan reaksi emosi yang
nampak dan langsung, namun emosi itu dapat diketahui dari tingkah
lakunya.
g. Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya. Suatu ketika emosi
itu begitu kuat, kemudian berkurang, emosi yang lain mula-mula lemah
berubah menjadi kuat.
h. Perubahan dalam ungkapan-ungkapan emosional. Anak-anak
memperlihatkan keinginan yang kuat terhadap apa yang mereka inginkan.
Ia tidak mempertimbangkan bahwa keinginan itu merugikan baik untuk
dirinya maupun orang lain.

Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi perilaku individu


termasuk perilaku belajar. Jika emosi anak sedang tidak baik, seperti perasaan
tidak senang, kecewa, marah dan sebagainya maka proses belajar akan mengalami
hambatan. Maka dari itu perlu bagi pendidik untuk menciptakan suasana belajar
yang menyenangkan bagi peserta didik. (Wihdahnuha, 2011)

Keterampilan emosi dari usia dari lahir -< 3 tahun

- Tidak dapat memaklumi prustasi

- Mudah menangis atau berteriak


- Sering tidak mampu mengendalikan dorongan atau gerakan hati

- Mulai untuk menyatakan kasih sayang

- Membutuhkan suatu rutinitas dan rasa aman

- Mulai untuk merasakan emosi dari anak yang lain

- Mulai dapat menyatakan diri sendiri, kadang kadang dengan tegas

Keterampilan emosi dari Usia 3 -< 4 tahun

- Dapat memaklumi beberapa prustasi

- Mulai mengembangkan pengendalian diri

- Menghargai kejutan dan peristiwa tertentu

- Mulai menunjukan selera humor

- Mulai mengungkapkan tentang kasih sayang secara terang-terangan

- Takut akan gelap, merasa diabaikan, atau pada situasi yang belum dikenal

Keterampilan emosi dari Usia anak 5 -< 6 tahun

- Dapat menyatakan perasaan

- Dapat mengendalikan agresi dengan lebih baik

- Menyatakan selera humor didalam lelucon, kata-kata omong kosong

- Belajar mengenai hal-hal yang benar dari hal-hal yang salah

- Mulai dapat menyatakan

5. Perkembangan Sosial

Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan perilaku yang sesuai


dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bermasyarakat (sosialized)
memerlukan tiga proses. Masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu
sama lain, tetapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan
menurunkan kadar sosialisasi individu. Ketiga proses tersebut adalah belajar
berperilaku yang dapat diterima secara sosial, memainkan peran sosial yang dapat
diterima, dan perkembangan sikap sosial. (Wihdahnuha, 2011)

Perkembangan emosi tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan sosial,


yang sering disebut sebagai perkembangan tingkah laku sosial. Ciri yang
membedakan manusia dengan makhluk lain adalah ciri sosialnya. Sejak lahir anak
dipengaruhi oleh lingkungan sosial, orang-orang disekitarnyalah yang banyak
mempengaruhi perilaku sosialnya. (Wihdahnuha, 2011)

a. Kegiatan Bermain

Dibanding dengan masa sebelumnya, pada masa ini anak sudah mulai
masuk sekolah sehingga anak mau tidak mau akan mengurangi waktu
bermainnya. Bermain sangat penting bagi perkembangan fisik, psikis dan banyak
memberikan berbagai pengalaman berharga. Bermain secara kelompok
memberikan peluang dan pelajaran untuk anak untuk berinteraksi, bertenggang
rasa dengan sesama teman. (Wihdahnuha, 2011)

Permainan yang disukai cenderung permainan yang berkelompok, kecuali


bagi anak yang kurang diterima di kelompok. Bermain yang sifatnya menjelajah,
sangat mengasyikan bagi anak. Permainan konstruktif yaitu membangun atau
membentuk sesuatu adalah bentuk permainan yang juga disukai anak dan dapat
mengembangkan kreativitas anak. Bernyanyi juga merupakan bentuk kegiatan
kreatif lainnya. Permainan berkelompok lainnya, misalnya olah raga seperti sepak
bola dan volley, permainan ini mambantu perkembangan otot dan pembentukan
tubuh. (Wihdahnuha, 2011)

b. Teman Sebaya

Teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah dan atau teman
bermain di luar sekolah. Pengaruh teman sebaya sangat besar bagi arah
perkembangan anak baik yang bersifat positif maupun negatif. Pengaruh positif
terlihat pada pengembangan konsep diri dan pembentukan harga diri. Hanya
ditengah-tengah teman sebaya anak bisa merasakan dan menyadari bagaimana dan
dimana kedudukan atau posisi dirinya. Teman sebaya memberikan cara
bagaimana bergaul di masyarakat. Sebaliknya, teman sebaya juga memiliki
kemungkinan memberikan pengaruh negatif, seperti merokok,mencuri,
membolos, menipu serta perbuatan antisosial lainnya. Minat terhadap kegiatan
kelompok mulai timbul. Mereka memiliki teman-teman sebaya untuk melakukan
kegiatan bersama. Kegiatan dengan teman sebaya ini meliputi belajar bersama,
melihat pertunjukkan, bermain, masak memasak dan sebagainya. Mereka sering
melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa. (Wihdahnuha,
2011)

Keinginan untuk diterima dalam kelompok sangat besar. Anak berusaha


agar teman-teman dikelompoknya menyukai dirinya. Anak yang populer
cenderung sebagai anak yang terbaik dan jarang atau tidak pernah tidak disukai
oleh teman-temannya. Para peneliti menemukan bahwa anak yang populer pada
umumnya memberikan semangat, mendengarkan dengan baik, memelihara
komunikasi dengan teman, bahagia, menunjukkan entusiame dan peduli pada
orang lain, percaya diri tanpa harus sombong. (Wihdahnuha, 2011)

Wentztal dan Asher (dalamWihdahnuha, 2011)menyatakan para pakar


perkembangna membedakan 3 tipe anak yang tidak populer yaitu:

1. Anak yang diabaikan(neglected children) adalah anak yang jarang


dinominasikan sebagai teman terbaik tetapi bukan tidak disukai oleh
teman-teman dikelompoknya. Anak ini biasanya tidak memiliki teman
bermain yang akrab, tetapi mereka tidak dibenci atau ditolak oleh teman
sebayanya. (Wihdahnuha, 2011)
2. Anak yang ditolak (rejected children)adalah anak yang jarang
dinominasikan oleh seseorang sebagai anak yang terbaik dan tidak disukai
oleh kelompoknya, karena biasanya anak yang ditolak adalah anak yang
agresif, sok kuasa dan suka mengganggu. Anak ini biasanya mengalami
problem penyesuaian diri yang serius dimasa dewasa. (Wihdahnuha, 2011)
3. Anak yang kontroversi (controversial children) adalah anak yang sering
dinominasikan keduanya yaitu baik sebagai teman terbaik dan sebagai
teman yang tidak disukaimenurut Santrock, (Wihdahnuha, 2011).

Keterampilan Sosial dari lahir -< 3 tahun

- Bereaksi terhadap orang lain


- Menikmati pada saat bergaul dengan anak-anak yang lain
- Dapat memelihara keterampilan dengan anak yang lain untuk suatu periode yang
sangat pendek
- Mampu berbagi tanpa perlu membujuk

Keterampilan Sosial dari Usia 3 -< 4 tahun

- Menjadi lebih sadar akan diri sendiri

- Mengembangkan perasaan dengan rendah hati

- Menjadi sadar akan rasial dan perbedaan seksual

- Dapat mengambil arah, mengikuti beberapa aturan

Keterampilan Sosial dari Usia 5 -< 6 tahun

- Menyatakan gagasan yang kaku tentang peran jenis kelamin

- Memiliki teman baik, meskipun untuk jangka waktu yang pendek

- Sering bertengkar tetapi dalam waktu yang singkat

- Dapat berbagi dan mengambil giliran

- Ikut ambil bagian dalam setiap kegiatan pengalaman disekolah

- Mempertimbangkan setiap guru merupakan hal yang sangat penting

- Ingin menjadi yang nomor satu

- Menjadi lebih posesif terhadap barang-barang kepunyaannya

6. Perkembangan Sosio-emosional pada Masa Kanak-kanak Awal


Dunia sosio-emosional anak menjadi semakin kompleks dan berbeda pada
masa ini. Interaksi dengan keluarga dan teman sebaya memiliki peran yang
penting.sekolah dan hubungan dengan guru menjadi hal yang penting dalam hidup
anak. Pemahaman tentang diri dan perubahan dalam perkembangan gender dan
moral menandai perkembangan anak selama masa kanak-kanak akhir.
Banyak keluarga dan pendidik anak usia dini menekankan perkembangan
social selama masa kanak-kanak awal atau tahun-tahun prasekolah. Aspek-aspek
perkembngan social emosional anak-anak prasekolah dapat menjadi bagian
integral dari perkembangan area lainya, seperti perkembangan aspek kognitif dan
perkembangan motorik. (Badriyah, 2012)

a) Elemen-elemen Sosial dari bermain dan implikasinya pada pendidikan


Dalam bermain anak mengalami perubahan dari permainan solitair,
parallel, sampai kepermainan asosiatif. Dari bermain anak belajar
sejumlah peraturan social. (Badriyah, 2012)
b) Otonomi dan inisiatif yang berkembang, serta implikasinya pada
pendidikan
Anak pada masa kanak-kanak awal menurut perkembangan psikososial
Erikson berada pada tahap perkembangan otonomi vs rasa malu dan ragu-
ragu, serta perkemnbangan inisiatif vs rasa bersalah. (Badriyah, 2012)
c) Hubungan teman sebaya,serta implikasinya pada pendidikan
Anak yang popular terbukti memiliki keterampilan social yang lebih tinggi
disbanding anak yang populer. Anak yang populer terlibat dengan
hubungan teman sebaya yang lebih kompleks,dan hal ini lebih
menguntungkan dan mengingatkan lagi bagi perkembangan kognitifnya.
(Badriyah, 2012)

d) Konflik social, serta implikasinya pada pendidikan


Anak-anak yang mengalami konflik dan mampu mengatakan secara verbal
akan mencoba menyelesaikan konfliknya dengan kekuatan fisik. Oleh
karena itu belajar mengatakan perasaannya untuk menyelesaikan konfllik
secara verbal menjadi hal yang sangat penting bagi anaka pada masa
kanak-kanak awal. (Badriyah, 2012)
f) Perilaku prososial, dan implikasinya pada pendidikan
Perilaku prososial dapat berkembang apabila anak diajarkan untuk
berfikir dengan cara sudut pandang orang lain, hal ini dapat diperoleh
melalui permainan pura-pura. (Badriyah, 2012)
g) Ketakutan-ketakutan anak beserta implikasinya pada pendidikan
Anak-anak mengalami perkembangan emosi dari senang, marah, susah
menjadi malu, kecewa dan sebagainya. Pada masa ini anak tidak perlu
belajar bagaimana cara mengekspresikan emosinya, tetapi perlu belajar
mengendalikannya. (Badriyah, 2012)
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa
perkembangan yang dialami peserta didik usia 2-6 tahun adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan Fisik
- Perkembangan Otak
- Keterampilan Motorik
2. Perkembangan Sosial
3. Perkembangan Emosional

4. Perkembangan Kognitif

Daftar pustaka

Admin. 2012. Tahap Perkembangan Anak Usia Dini.


https://warkopmbahlalar.com/tahap-perkembangan-anak-usia-dini/

Badriyah, Umi. 2012. Perkembangan Fisik, Motorik, Kognitif, dan Sosioemosional


pada Masa Kanak-kanak Awal, Tengah, dan Akhir
http://umibadriyah.blogspot.co.id/2013/12/perkembangan-fisik-motorik-
kognitif-dan_2255.html
Halawa, Ernimawati. 2014. Perkembangan anak usia 2-6 tahun
http://ernihalawa.blogspot.co.id/2014/10/perkembangan-anak-usia-2-6-
tahun.html
Juonorp. 2013. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak-anak Usia Dini
read:http://juonorp.blogspot.co.id/2013/10/pertumbuhan-dan-
perkembangan-anak-usia_20.html
Mushlih , Ahmad. Aspek Perkembangan Anak Usia Dini
http://ahmadmushlih22.blogspot.co.id/2014/11/aspek-perkembangan-anak-
usia-dini.html
Wihdahnuha. 2011.Perkembangan Masa Kanak-kanak
https://wihdnuha.wordpress.com/tag/perkembangan-masa-kank-kanak/