Anda di halaman 1dari 9

berpakaian sendiri, menggikat tali sepatu, dan menyisir rambut dengan

sedikit bantuan. Antara usia 5 dan 6 tahun anak-anak sudah pandai melempar
dan menagkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk
tanah liat atau plastisin, menggambar menggunakan pensil dan mewarnai
gambar. Ketrampilan kaki mulai dilakukan dengan gerakan-gerakan kaki. Usia
5 atau 6 tahun anak belajar melompat dan berlari cepat, dan mereka sudah dapat
memanjat. Antara usia 3-4 tahun anak dapat mempelajari sebuah sepeda roda
tiga, berenang, lompat tali,keseimbangan tubuh dalam berjalan diatas dinding
atau pagar, sepatu roda, bermain es batu, menari. (Halawa, 2014)

1. Keterampilan Motorik Usia 2-4 Tahun


a. Motorik Kasar
 Mengambil benda kecil diatas nampan tanpa menjatuhkan
 Menangkap bola besar dengan tangan lurus kedepan
 Memanfaatkan bahu dan siku pada saat melempar bola hingga 3 meter
 Berdiri dengan satu kaki selama 5 detik
b. Motorik Halus
 Menggunting kertas menjadi dua bagian
 Menggambar lingkaran tetapi masih belum teratur
 Jika di beri gambar kepala dan badan manusia yang belum lengkap,
anak akan mampu menambahkan paling tidak 2 bagian tubuh.
 Mencuci dan mengelap tangan sendiri
 Mengaduk cairan dengan menggunakan sendok
 Menuang air dari teko kecil ke gelas /cangkir tanpa tumpah
2. Keterampilan Motorik Usia 4-6 Tahun
a. Motorik Kasar
 Menyentuh jari kaki tanpa menekuk lutut
 Berdiri jinjit dengan tangan di pinggang
 Mengayuh satu kaki kedepan atau kebelakang tanpa kehilangan
keseimbangan.
 Berjalan pada garis yang sudah dibuat
 Berlari langsung menendang bola
b. Motorik Halus
 Memasukan surat ke amplop
 Membentuk berbagai obyek dengan tanah liat atau lilin malam
 Mencuci tangan dan mengeringkannya tanpa bantuan.
 Mencuci wajah dan mengeringkannya tanpa bantuan dan tanpa
membasahi baju
 Memasukan ke lubang jarum
 Berlari langsung menendang bola

2. Perkembangan Intelektual pada Masa Kanak-kanak Awal

a. Perkembangan Kognitif

Pada masa kanak-kanak awal, anak berfikir konfergen menuju suatu


jawaban yang paling mungkin dan yang paling benar terhadap suatu persoalan.
Menurut perkembangan kognitif piaget, anak pada masa kanak-kanak awal
berada pada tahap perkembngan praorerasional (2-7 tahun), istilah
praoperasional menunjukkkan pengertian belum matangnya cara kerja pikiran.
Pemikiran pada tahap praoprasional masih kacau dan belum terorganisasi
dengan baik (santrock, 2002),yang sering dikatakan anak belum mampu
menguasai operasi mental secara logis. Adapun cirri-ciri berfikir pada tahap
praoprasional adalah sebagai berikut:

1. Anak mulai menguasai fungsi simbolis: sebagai akibatnya,anak mulai


mampu bermain pura (pretend play), dismping itu penguasaan bahasa
menjadi semakin sistematis.

2. Terjadi tingkah laku imitasi: anak suka melakukan peniruan besar-besaran,


terutama pada kakak atau teman yang lebih besar usianya dan dari jenis
kelaminnya sama.Tingkah laku immitasi ini dilakukan secara langsung
maupuan tertunda. Pada tingkah laku imitasi tertunda, anak setelah melihat
tingkah laku orang lain,tidak langsung menirukan, melainkan ada rentangan
waktu beberapa saat baru menirukan. (Halawa, 2014)
3. Cara bepikir anak egosentris: yaitu suatu ketidakmampuan untuk
membedakan antara perspektif (sudut pandang) seseorang dengan
perspektif orang lain santrock, (Halawa, 2014). Sebagai contoh, ketika
mary ditelfon ayahnya dan ditanya apakah ibunya ada, mery mengangguk-
angguk. Dalam hal ini mary tidak dapat mengerti bahwa anggukannya tidak
dapat dilihat oleh ayahnya yang ada di suatu tempat yang jauh dari
dirijnya.

4. Cara berfikir anak centralized: yaitu terpusat pada satu dimensi saja
menurut monks dkk, (Halawa, 2014). Sebagai contoh, pada suatu
eksperimen, anak dipertunjukkan dua gelas A dan B yang sama diameter
dan tingginya, pad kedua gelas itu diisi air jeruk yang sama banyaknya,
kemudian anak ditanjya air jeruk yang ada di gelas A dengan gelas B mana
yang lebih banyak, maka anak dengan cepat akan menjawab: “sama
banyaknya”. Jawaban ini didasarkan pada pandangan tentang garis sejajar
yang ditariknya dari permukaan air jeruk yang ditariknya dari permukaan
air jeruk yang ada didalam gelas A dan gelas B. setelah itu dengan
disaksikan anak, aor jeruk yang ada digelas B ditungkan digelas C yang
diameternya lebih kecil, tetapi lebih tinggi, kermudian anak ditanya lagi,
mana yang lebih banyak antara air jeruk gelas A dengan gelas C. Dengan
cara yang sama dengan sebelumnya, anak akan menjawab air jeruk di gelas
C lebih banyak, karna permukaannya lebih tinggi. Dalam hal ini anak
mengabaikan dimensi lebar gelas, dan hanya memperhatikan dimensi
tinggi dari gelas.cara berfikir seperti ini dikatakan belum menguasai gejala
konservasi. (Halawa, 2014)

5. Berpikir tidak dapat dibalik: operasi logis anak pada masa ini belum dapat
dibalik. Sebagai contoh Adi ditanya: “Adi, kamu punya saudara tidak?”,
jawab adi:”punya”. Setelah itu Adi ditanya lagi, “siapa nama saudaramu?”,
Adi menjawab: “Mita”, kemudian sekali lagi adi ditanya:”Apakah Mita
mempunyai saudara?”, Adi menjawab: ”tidak”. Dalam hal ini Adi tidak
sadar bahwa dirinyalah saudar Mita menurut Monks dkk, (dalam Halawa,
2014)

6. Berfikir terarah statis: artinya dalam berfikir anak tidak pernah


memperhatikan dinamika proses terjadinya sesuatu.

b. Perkembangan Bahasa dan Bicara

Perkembngan bahasa dipengaruhi Teori Belajar Sosial, yakni anak belajar


dengan model-model yang ada diligkungannya. Melalui imitasi dan respon dari
lingkungan, akhirnya anak menguasai ketrampilan bicara. Sedangakan menurut
Chomsky, perkembangan bahasa anak terjadi karena factor pembawaan; bahwa
anak lahir sudah disertai dengan LAD (Language Acquisition Device) yang
membuat anak sering mengekspresikan sesuatu dengan kata yang tidak ditemukan
dari lingkungannya. Bahasa dibutuhkan untuk komunikasi dengan dunia luar.
Bahasa yang dimaksud adalah bahasa tutur kata yang dapat dimengerti oleh
sesama manusia. (Halawa, 2014)
Menurut Karl Buhler (dalam Halawa, 2014)ada 3 faktor yang meneentukan
dalam teori bahasa, yakni:
1. Kundgabe(Appele), yakni fungsi bahasa untuk menyatakan apa yang terjadi
dalam si pembicara, misalnya anak menjerit ketakutan atau bersorak gembira,
ini merupakan fungsiKungabe yang dapat menimbulkan fungsi Auslosung.
2. Auslosung (Ausdruck), yakni fungsi untuk menimbulkan reeaksi social,
misalnya mengajak pergi ketoko atau kesekolah. Dalam hubungannya dengan
orang lain, ternyata fungsi yang pertama (Aulosung) juga dapat menimbulkan
reaksi social, missal anak menjerit akan menimbulkan reaksi terkejut dari
orang lain. Jadi dapat dikatakan bahwa Kungabe memiliki hubungab dengan
Auslosung.
3. Darstellung, yakni fungsi untuk melukiskan suatu keadaan secara obyektif,
meletakkan atau mengerti hubungan antara hal yang satu dengan yang
lain,dapat memformulasi ide-ide. Hal-hal tadi merupakan sifat-sifat manusia
yang spesifik dan hanya manusia yang dapat mengadakan Darstellung.
Menurut Karl Buhler (dalam Halawa, 2014) seorang anak harus memiliki tiga
fungsi tersebut karna perkembangan anak dipengaruhi imitasi. Jadi bila tidak
ada yang ditiru, maka tidak ada input perkembangan bahasa. Selin itu juga
harus ada respon dari lingkungan sektar untuk menanggapi tingkah laku anak.

Keterampilan Kognitif dan Bahasa dari lahir-< 3 tahun


Anak mulai dapat melakukan penyelidikan secara sensorimotor terhadap
dominasi lingkungan, perkembangannya berjalan cepat, mengembangkan suatu
perasaan atau pengertian terhadap suatu objek yang tetap, mengembangkan aspek
bahasa, dan mulai dapat menggunakan beberapa angka, jumlah dan warna, tetapi
tidak memahaminya.
Keterampilan Kognitif dan Bahasa dari Usia 3 -< 4 tahun

Anak dapat mengikuti dua perintah, dapat membuat penilaian menghitung


banyaknya kesalahan yang telah mereka buat, mengembangkan kosa kata dengan
cepat, menggunakan angka-angka tanpa pemahaman, dan adanya kesukaran
dalam membedakan antara khayalan dengan kenyataan.

Keterampilan Kognitif dan Bahasa dari usia 5 -< 6 tahun

Anak mulai menunjukan perhatian pada masa pertumbuhan , dapat


mengurutkan objek dalam urutan yang tepat, dapat menggolongkan objek,
melakukan berbagai hal dengan sengaja, lebih sedikit menuruti kata hati , sering
kali kesulitan dalam membedakan antara khayalan dan kenyataan, mulai
menggunakan bahasa dengan agresif, terutama dalam hal penggolongan , mulai
menyadari tentang kesadaran mengenai gambaran dan kata-kata yang dapat
menghadirkan benda nyata.

3. Perkembangan Moral
Perkembangan moral ditandai dengan kemampuan anak untuk memahami
aturan, norma dan etika yang berlaku di masyarakat. Perkembangan moral
meliputi perubahan perasaan, pikiran, dan tingkah laku. Perilaku moral seseorang
dalam masyarakat banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua serta perilaku
moral dari orang-orang disekitarnya. Artinya, lingkungan juga mempengaruhi
perkembangan moral seseorang. Ada dua dimensi dalam perkembangan moral,
yaitu dimensi intrapersonal dan dimensi interpersonal.

a. Dimensi intrapersonal: mengatur aktifitas seseorang ketika dia tidak ikut


serta dalam interaksi social.

b. Dimensi interpersonal: mengatur interaksi sosial seseorang dan konflik


keadilan.
Bagaimana cara berfikir anak-anak mengenai persoalan moral mendorong
Jean Piaget mengamati dan mewawancarai anak-anak dari usia 4 sampai 12 tahun.
Menurut Piaget dalam Life Span Development (dalam Wihdahnuha, 2011) antara
usia 5-12 tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Piaget
menyimpulkan konsep berfikir anak mengenai keadilan dalam dua perbedaan
berdasarkan perkembangan kedewasaannya, yaitu :

a. Moralitas heteronomous
Merupakan tingkatan pertama dari perkembangan moral yang terjadi pada
anak usia 4 sampai 7 tahun. Keadilan dan peraturan dibayangkan sebagai sifat dari
dunia yang tidak dapat berubah. (Wihdahnuha, 2011)

b. Moralitas autonomous
Merupakan tingkatan kedua dari perkembangan moral. Ditampakkan oleh
anak yang lebih tua yaitu sekitar usia 10 tahun. Anak menjadi sadar bahwa
peraturan dan hukuman dibuat oleh orang-orang dan dengan demikian dalam

menilai sebuah tindakan, seseorang seharusnya mempertimbangkan maksud atau


tujuan tindakan dan akibat dari tindakan tersebut. (Wihdahnuha, 2011).

Anak-anak yang lebih tua yaitu sekitar usia 10 tahun, mereka percaya
bahwa aturan adalah subjek untuk berubah, dan menyadari bahwa hukuman tidak
selalu mengikuti perbuatan salah. Misalnya bagi anak usia 5 tahun berbohong
adalah hal buruk, tetapi bagi anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa
situasi berbohong adalah dibenarkan. (Wihdahnuha, 2011)
Kohlberg memperluas teori Piaget dan menyatakan adanya enam tahap
perkembangan moral. Keenam tahapan tersebut terjadi pada tiga tingkatan, yakni
prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional Santrock, (dalam
Wihdahnuha, 2011)

Pada tahap prakonvensional, anak peka terhadap peraturan-peraturan yang


berlatar belakang budaya dan terhadap penilaian baik buruk, benar salah tetapi
anak mengartikannya dari sudut akibat fisik suatu tindakan. Tahap ini ada dua
tingkatan:

a. Heteronomous: moral berfikir sering dikaitkan dengan hukuman. Missal


anak-anak mematuhi orang dewasa karena orang dewasa member itahu
mereka untk mematuhi.

b. Individualism, instrumental purpose and exchange: individu mengikuti


kepentingan mereka sendiri tetapi juga mengajak yang lainnya
mengerjakan hal yang sama. Jika orang di sekitarnya merasa senang
dengan mereka maka mereka juga akan merasa senang dengan orang di
sekitarnya.

Wihdahnuha (2011) menyatakanlan tahap konvensional merupakan suatu


tahapan dimana memenuhi harapan-harapan keluarga, kelompok atau agama
dianggap sebagai sesuatu yang berharga pada dirinya sendiri, anak tidak peduli
apapun akan akibat-akibat langsung yang terjadi. Ada dua tingkatan dalan tahap
ini:

a. Mutual Interpersonal expectation, relationship, and interpersonal


conformity: individu menilai kepercayaan, kepedulian dan kesetiaan
dengan lainnya sebagai dasar dari pertimbangan moral. Anak sering
mengikuti moral baku orang tua mereka dan mencoba untuk menjadi anak
baik.
b. Social systems morality: pertimbangan moral berdasarkan pada
pemahaman permintaan social, hukum, keadilan dan kewajiban.

Tahap pascakonvensional ditandai dengan adanya usaha yang jelas untuk


mengartikan nilai-nilai moral dan prinsip-prinsip tersebut terlepas apakah individu
yang bersangkutan termasuk kelompok itu atau tidak. (Wihdahnuha, 2011)

Beberapa ciri perkembangan moral anak pada masa anak-anak akhir yaitu:

a. Berkurangnya rasa ego

b. Peningkatan dalam hal pemeliharaan, misalnya:

1. Mau memelihara alat permainannya

2. Mengelompokan benda sesuai jenisnya masing-masing.

c. Mulai memperhatikan dan menerima pandangan orag lain.

d. Perkembangan pengertian tentang perhitungan seperti jumlah, panjang,


luas dan besar.

e. Pemahaman tentang konsep ruangan, kausalitas, ketegorisasi, konversi dan


penjumahan lebih baik. Mereka sudah dapat menemukan jalan daari rumah
ke sekolah pada usia 6 sampai 7 tahun. Juga mempunyai ide yang lebih
baik tentang jarak dari suatu tempat ke tempat lain, lama waktu tempuh,
rute dan tanda-tanda jalan.

f. Keputusan anak akan sebab akibat akan meningkat. Juga kemampuan anak
dalam memecahkan masalah misalnya dalam perhitungan matematika
anak-anak mengguanakan jari atau benda lain.
g. Anak-anak pada masa operasi konkret berfikir induktif. Maksudnya adalah
berdasarkan observasi tentang segala sesuatu yang terjadi di masayarakat
dan lingkungan.