Anda di halaman 1dari 11

BAB I

KONSEP MEDIS

A. DEFINISI
Demam tifoid atau typhoid fever atau typhus abdominalis adalah penyakit yang disebabkan
oleh bakteri Salmonella typhii yang merupakan bakteri gram negatif berbentuk batang yang
masuk melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Demam tifoid adalah suatu penyakit
infeksi oleh bakteri Salmonella typhi dan bersifat endemik yang termasuk dalam penyakit
menular. Demam tifoid adalah infeksi sistemik akut yang disebabkan oleh Salmonella typhiI.
Jadi, demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri gram negatif yang
menurunkan sistem pertahanan tubuh dan dapat menular pada orang lain melalui makanan dan
minuman yang terkontaminasi. (Elsevier, 2013.)
Tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan
olehkuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A, B, C. Sinonim dari penyakit ini adalah
Typhoid dan paratyphoid abdominalis (Sudoyo, A 2009).Tifoid adalah penyakit infeksi pada
usus halus, tifoid disebut juga paratyphoidfever, enteric fever, typhus dan para typhus
abdominalis (Seoparman, 2007).Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa
demamtifoid adalah suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan olehsalmonella type A, B
dan C yang dapat menular melalui oral, fecal, makanandan minuman yang terkontaminasi.

B. ETIOLOGI
Salmonella typii, Salmonella paratyphii A, Salmonella Paratyphii B, Salmonella Paratyphii
C merupakan bakteri penyebab demam tifoid yang mampu menembus dinding usus dan
selanjutnya masuk ke dalam saluran peredaran darah dan menyusup ke dalam sel makrofag
manusia. Bakteri ini masuk melalui air dan makanan yang terkontaminasi dari urin dan feses
yang terinfeksi dengan masa inkubasi 3-25 hari. Pemulihan mulai terjadi pada minggu ke-4
dalam perjalanan penyakit. Orang yang pernah menderita demam tifoid akan memperoleh
kekebalan darinya, sekaligus sebagai karier bakteri. Jadi, orang yang pernah menderita demam
tifoid atau tifus akan menjadi orang yang menularkan tifus pada yang belum pernah menderita
tifus. (Nanda Nic-Noc,2013)
C. MANIFESTASI KLINIK
Tanda dan gejala dari demam thypoid sebagai berikut
1. Gejala pada anak : Inkubasi anatara 5-40 hari dengan rata-rata 10-14 hari.
2. Demam meninggi sampai akhir minggu pertama
3. Demam turun pada minggu ke empat, kecuali demam tidak tertangani akan
menyebabkan shock, Stupor dan koma.
4. Ruam muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selam 2-3 hari
5. Nyeri kepala
6. Nyeri perut
7. Kembung
8. Mual muntah
9. Diare
10. Konstipasi
11. Pusing
12. Nyeri otot
13. Batuk
14. Epistaksis
15. BradikardI
16. Lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepid an ujung merah serta tremor)
17. Hepatomegali
18. Splenomegali
19. Meteroismus
20. Gangguan mental berupa samnolen
21. Delirium atau psikosis
22. Dapat timbul dengan gejala yang tidak tipikal terutama pada bayi mudasebagai penyakit
demam akut dengan diseryai syok dan hipotermia. (Nanda NIC- NOC. 2013)

D. PATOFISIOLOGI
Kuman Salmonella masuk bersama makanan / minuman. Setelah berada dalam usus halus
kemudian mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama Plak Peyer) dan jaringan
limfoid mesenterika. Setelah.
menyebabkan peradangan dan nekrose setempat, kuman lewat pembuluh limfe masuk kealiran
darah (terjadi bakteremi primer) menuju ke organ-organ terutama hatidan limfa. Kuman yang
tidak difagosit akan berkembang biak dalam hati danlimfa sehingga organ tersebut membesar
disertai nyeri pada perabaan.Pada akhir masa inkubasi (5-9 hari) kuman kembali masuk dalam
darah(bakteremi sekunder) dan menyebar keseluruh tubuh terutama kedalamkelenjar limfoid
usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong di atas PlakPeyer. Tukak tersebut dapat
mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus.Pada masa bakteremi ini, kuman mengeluarkan
endotoksin yang mempunyai peran membantu proses peradangan lokal dimana kuman ini
berkembang.Demam tifoid disebabkan karena Salmonella Typhosa danendotoksinnya
merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit
pada jaringan yang meradang. Zat pirogen ini akan beredar dalam darah dan mempengaruhi
pusat termoregulator di hipotalamus yang menimbulkan gejala demam.

E. KOMPLIKASI
Komplikasi intestinal
a. Perdarahan usus
b. Perporasi usus
c. Ilius paralitik

Komplikasi ekstra intestinal


a. Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,
tromboplebitis.
b. Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
c. Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
d. Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
e. Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
f. Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
g. Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut widodo 2007 Pemeriksaan penunjang pada klien dengantyphoid adalah
pemeriksaan laboratorium, yang terdiri dari :
1. Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapatleukopenia dan
limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopeniatidaklah sering dijumpai. Pada
kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada
batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada
komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit
tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
2. Pemeriksaan Sgot Dan SgptSgot Dan Sgpt pada demam typhoid seringkali meningkat
tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid.
3. Biakan darah Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi
bila biakan darah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal
ini dikarenakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :
a. Teknik pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yanglain, hal ini
disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu
pengambilan darah yang baik adalah pada saatdemam tinggi yaitu pada saat
bakteremia berlangsung.
b. Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit
Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada
minggu pertama dan berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktukambuh
biakan darah dapat positif kembali.
c. Vaksinasi di masa lampau
Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi
dalam darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah
negatif.
4. Pengobatan dengan obat anti mikroba
Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti
mikroba pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin
negatif.
5. Uji WidalUji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi(aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapatdalam serum klien dengan
typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan
pada uji widal adalah suspensisalmonella yang sudah dimatikan dan diolah di
laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam
serum klienyang disangka menderita tifoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien
membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
a. Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal daritubuh kuman).
b. Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dariflagel kuman).
c. Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal darisimpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yangditentukan titernya
untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita tifoid.Uji widal
dilakukan untuk mendeteksi adanya antibody terhadap kuman Salmonella typhi.
Uji widal dikatakan bernilai bila terdapat kenaikan titer widal 4 kali lipat (pada
pemeriksaan ulang 5-7 hari) atautiter widal O > 1/320, titer H > 1/60 (dalam sekali
pemeriksaan) Gallkultur dengan media carr empedu merupakan diagnosa pasti demam
tifoid bila hasilnya positif, namun demikian, bila hasil kultur
negatif belum menyingkirkan kemungkinan tifoid, karena beberapa alasan,yaitu
pengaruh pemberian antibiotika, sampel yang tidak mencukupi. Sesuai dengan
kemampuan SDM dan tingkat perjalanan penyakit demam tifoid, maka diagnosis
klinis demam tifoid diklasifikasikan atas:
1. Possible Case dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala
demam,gangguan saluran cerna, gangguan pola buang
air besar dan hepato/splenomegali. Sindrom demam tifoid belum lengkap.
Diagnosis ini hanya dibuat pada pelayanan kesehatan dasar.
2. Probable Case telah didapatkan gejala klinis lengkap atau hamper lengkap, serta
didukung oleh gambaran laboratorium yang menyokong demam tifoid (titer widal
O > 1/160 atau H > 1/160satu kali pemeriksaan).
3. Definite Case Diagnosis pasti, ditemukan S. Thypi
pada pemeriksaan biakan ataupositif S.Thypi pada pemeriksaan PCR atau terdapat
kenaikan titerWidal 4 kali lipat (pada pemeriksaanulang 5-7 hari) atau titer widal
O> 1/320, H > 1/640 (pada pemeriksaan sekali).

G. PENATALAKSANAAN
Prinsip penatalaksanaan demam tifoid masih menganut
trilogi penatalaksanaan yang meliputi : istirahat dan perawatan, diet dan terapi penunjang (baik si
mptomatik maupun suportif), serta pemberian antimikroba.Selain itu diperlukan pula tatalaksana
komplikasi demam tifoid yang meliputi komplikasi intestinal maupun ekstraintestinal.
1. Istirahat dan Perawatan Bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat
penyembuhan.Tirah baring dengan perawatan dilakukan sepenuhnya di tempat seperti makan,
minum, mandi, dan BAB/BAK. Posisi pasien diawasi untuk mencegah dukubitus dan
pnemonia orthostatik serta higiene perorangan tetap perlu diperhatikan dan dijaga.
2. Diet dan Terapi Penunjang
Mempertahankan asupan kalori dan cairan yang adekuat.
a. Memberikan diet bebas yang rendah serat pada penderita tanpa gejala meteorismus, dan
diet bubur saring pada penderita denganmeteorismus. Hal ini dilakukan untuk menghindari
komplikasi perdarahan saluran cerna dan perforasi usus. Gizi penderita juga diperhatikan
agar meningkatkan keadaan umum dan mempercepat proses penyembuhan.
b. Cairan yang adequat untuk mencegah dehidrasi akibat muntah dan diare.
c. Primperan (metoclopramide) diberikan untuk mengurangi gejala mual muntah dengan
dosis 3 x 5 ml setiap sebelum makan dan dapat dihentikan kapan saja penderita sudah tidak
mengalami mual lagi.
3. Pemberian Antimikroba
Obat-obat antimikroba yang sering digunakan dalam melakukan tatalaksana tifoid adalah:
Pada demam typhoid, obat pilihan yang digunakan adalah chloramphenicol dengan dosis 4 x
500 mg per hari dapat diberikan secaraoral maupun intravena, diberikan sampai dengan 7 hari
bebas panas.Chloramphenicol bekerja dengan mengikat unit ribosom dari kuman salmonella,
menghambat pertumbuhannya dengan menghambat
sintesis protein. Chloramphenicol memiliki spectrum gram negative dan positif.Efek samping
penggunaan klorampenikol adalah terjadi agranulositosis.Sementara kerugian penggunaan
klorampenikol adalah angka kekambuhan yang tinggi (5-7%), penggunaan jangka panjang (14
hari), dan seringkali menyebabkan timbulnya karier.
Tiamfenikol, dosis dan efektifitasnya pada demam tofoid sama dengan kloramfenikol
yaitu 4 x 500 mg, dan demam rata-rata menurun pada hari ke-5 sampai ke-
6. Komplikasi hematologi seperti kemungkinan terjadinya anemia aplastik lebih rendah
dibandingkan dengan kloramfenikol.Ampisillin dan Amoksisilin, kemampuan untuk
menurunkandemam lebih rendah dibandingkan kloramfenikol, dengan dosis 50-150mg/kgBB
selama 2 minggu

H. PENCEGAHAN
Ada 3 strategi pokok untuk memutuskan transmisi thypoid yaitu:
1. Identifikasi dan eradikasi Salmonella thypii baik pada kasus demam thypoid maupun pada
kasus carrier thypoid.
2. Pencegahan transmisi langsung dari pasien terinfeksi Salmonella thypii akut maupun
carrier.
3. Proteksi pada orang yang beresiko terinfeksi.
Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet dan
khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang
belum dipasteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari
makanan pedas karena akan memperberat kerja usus dan pemberian vaksin
BAB II

KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. Pengumpulan data
1) Identitas klien
Meliputi nama,, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, suku/bangsa,agama, status
perkawinan, tanggal masuk rumah sakit, nomor registerdan diagnosa medik.
2) Keluhan utama
Keluhan utama demam tifoid adalah panas atau demam yang tidak turun-turun, nyeri perut,
pusing kepala, mual, muntah, anoreksia, diareserta penurunan kesadaran.
3) Riwayat penyakit sekarang
Peningkatan suhu tubuh karena masuknya kuman salmonella typhi kedalam tubuh.
4) Riwayat penyakit dahulu
Apakah sebelumnya pernah sakit demam tifoid.
5) Riwayat penyakit keluarga
Apakah keluarga pernah menderita hipertensi, diabetes melitus.
6) Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola nutrisi dan metabolism
Klien akan mengalami penurunan nafsu makan karena mual dan muntah saat
makan sehingga makan hanya sedikit bahkan tidakmakan sama sekali.
b. Pola eliminasi Eliminasi alvi. Klien dapat mengalami konstipasi oleh
karena tirah baring lama. Sedangkan eliminasi urine tidak mengalami gangguan, hanya
warna urine menjadi kuning kecoklatan. Klien dengan demam tifoid terjadi peningkatan
suhu tubuh yang berakibat keringat banyak keluar dan merasa haus, sehingga dapat
meningkatkan kebutuhan cairan tubuh.
c. Pola aktivitas dan latihan
Aktivitas klien akan terganggu karena harus tirah baring total, agartidak terjadi
komplikasi maka segala kebutuhan klien dibantu.
d. Pola tidur dan istirahat. Pola tidur dan istirahat terganggu sehubungan peningkatan suhu
tubuh.
e. Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan pada orang tua terhadap keadaan penyakit anaknya.
f. Pola sensori dan kognitif
Pada penciuman, perabaan, perasaan, pendengaran dan penglihatan umumnya tidak
mengalami kelainan serta tidak terdapat suatu waham pad klien.
g. Pola hubungan dan peran
Hubungan dengan orang lain terganggu sehubungan klien di rawat di rumah sakit dan
klien harus bed rest total.
h. Pola penanggulangan stress
Biasanya orang tua akan nampak cemas.

7) Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Didapatkan klien tampak lemah, suhu tubuh meningkat 38-41 0C, muka kemerahan.
b. Tingkat kesadaran
Dapat terjadi penurunan kesadaran (apatis).
c. Sistem respirasi
Pernafasan rata-rata ada peningkatan, nafas cepat dan dalamdengan gambaran seperti
bronchitis.
d. Sistem kardiovaskuler
Terjadi penurunan tekanan darah, bradikardi relatif, hemoglobin rendah.
e. Sistem integument
Kulit kering, turgor kullit menurun, muka tampak pucat, rambut agak kusam
f. Sistem gastrointestinal
Bibir kering pecah-pecah, mukosa mulut kering, lidah kotor (khas),mual, muntah,
anoreksia, dan konstipasi, nyeri perut, perut terasatidak enak, peristaltik usus
meningkat.
g. Sistem musculoskeletal
Klien lemah, terasa lelah tapi tidak didapatkan adanya kelainan.
h. Sistem abdomen
Saat palpasi didapatkan limpa dan hati membesar dengan konsistensi lunak serta nyeri
tekan pada abdomen. Pada perkusi didapatkan perut kembung serta pada auskultasi
peristaltik usus meningkat.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi kuman salmonella thypii.
2. Nyeri berhubungan dengan agens cidera biologi.
3. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat dan
peningkatan suhu tubuh.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah
(Aplikasi Nanda NIC-NOC.2013)

C. INTERVENSI
 Diagnosa 1 : Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi kuman salmonella
thypii.

Defenisi : peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normalTujuan : thermoregulation


Criteria hasil :
a. Suhu tubuh dalam rentang normal.
b. Nadi dan RR dalam rentang normal.
c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing

Intervensi :
a. Observai tanda-tanda vital.
b. Anjurkan kompres hangat pada lipatan paha dan aksila.
c. Anjurkan banyak minum air putih.
d. Berikan antiperetik dan antibiotic
 Diagnosa 2 : Nyeri berhubungan dengan agens cedera biologis
Defenisi : Pengalaman sensori dan emosional yang muncul akibat kerusakan jaringan yang
aktual atau potensial.
Tujuan :
a. Pain level.
b. Pain control.
c. Comfort level
Kriteria hasil :
a. Mampu mngontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakanteknik
nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan).
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemennyeri.
c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri tulang berkurang

Intervensi :
1. Pain management
a. Lakukan pengakjian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor prespitasi.
b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
c. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non faramakologidan
interpersonal)
d. Ajarkan tentang teknik non faramakologi
e. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
f. Tingkatkan istirahat.

 Diagnose 3 : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan intake yang


tidakadekuat dan peningkatan suhu tubuh.

Defenisi : Beresiko mengalami dehidrasi vaskluar, selular, atauintraseluler.


Tujuan :
a. Fluid balance
b. Hydration
c. Nutritional status : food and Fluid intake
Criteria hasil :
a. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urinenormal, HT normal.
b. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
c. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas turgor kulit baik, membranemukosa lembab,
tidak ada rasa haus yang berlebihan

Intervensi :
1. Fluid Management
a. Monitor vital sign.
b. Monitor masukan makanan/caoran dan hitung intake kalori harian
c. Kolaborasikan pemberian cairan intravena.
2. Hypovolemia Management
a. Monitor status cairan termasuk intake dan output cairan.
b. Monitor hb dan hematokrit.
c. Dorong pasien untuk menambah intake oral

(Aplikasi Nanda NIC-NOC.2013)