Anda di halaman 1dari 47

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA MASALAH STROKE

Dosen : Ns. Diah Ratnawati, SKep, M.Kep, Sp. Kep. Kom

Nama Anggota:
Siti Febriyanti 1610711085
Idham Topik Y 1610711090
Adelia Putri F 1610711098
Vidya Hanan 1610711100
Nabila Yuniar P 1610711105

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
TAHUN 2019

i
Daftar Isi

Cover
Daftar Isi ................................................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................................... iv
Bab 1 ...................................................................................................................................... 5
PENDAHULUAN ................................................................................................................. 5
1.1. Latar Belakang ........................................................................................................ 5
1.2. Rumusan Masalah ................................................................................................... 6
1.3. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 7
BAB 2 .................................................................................................................................... 8
PEMBAHASAN .................................................................................................................... 8
II.1 Insidensi ....................................................................................................................... 8
II.2 Pengertian Stroke ......................................................................................................... 8
II.3 Klasifikasi .................................................................................................................... 9
II.4 Etiologi ...................................................................................................................... 10
II.5 Faktor Resiko ............................................................................................................. 12
II.6 Tanda dan Gejala ....................................................................................................... 15
II.7 Perbedaan Stroke Hemoragik dan Stroke Non-Hemoragik:...................................... 15
II.8 Pemeriksaan Penunjang ............................................................................................. 16
II.9. Penatalaksanaan Medis ............................................................................................. 16
II.10. Komplikasi Stroke .................................................................................................. 20
II.11. Sistem Kardiovaskuler............................................................................................ 21
II.12. Sistem Hematologi ................................................................................................. 29
II.13. Penilaian Kemandirian Lansia ................................................................................ 30
11.14 ASUHAN KEPERAWATAN .................................................................................. 33
A. PENGKAJIAN .......................................................................................................... 34
B. DATA FOKUS ......................................................................................................... 35
C. ANALISA DATA ..................................................................................................... 36
D. DIAGNOSA KEPERAWATAN .............................................................................. 38
E. INTERVENSI KEPERAWATAN............................................................................ 38
BAB III ................................................................................................................................ 44

ii
III.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 45
II.2 Saran ............................................................................................................................. 45
Bab IV ..................................................................................... Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 47

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat sehat
wal’afiat kepada kita semua baik sehat jasmani maupun rohani, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang bertemakan “Asuhan Keperawatan Gerontik Pada
Masalah Stroke, Hipertensi, Resiko Jatuh “.

Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini masih banyak kekurangan dan
masih jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya
atas segala kekurangan dan kesalahan-kesalahan dalam pembuatan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berjalan sesuai dengan apa yang
diharapkan. Demikian makalah ini kami buat, atas perhatian dan kerjasamanya kami
ucapkan terimakasih.

Jakarta, 29 April 2019

Penulis

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Lanjut usia (lansia) menurut World Health Organization(WHO) adalah
seseorang yang usianya mencapai 60 tahun keatas. Sutikno, 2015
mengemukakan lansia adalah kelompok usia yang sensitif mengalami
perubahan yang diakibatkan proses penuaan. Proses penuaan tersebut akan
mengakibatkan perubahan-perubahan pada lansia, salah satu
permasalahannya adalah adanya perubahan fisiologis yang akan berdampak pada
masalah psikolog (kesehatan mental )
Lansia merupakan sekelompok orang yang sedang mengalami proses
perubahan baik anatomi, fisiologi dan biokimia dalam jangka waktu
tertentu pada jaringan atau organ.Proses penuaan tersebut akan mempengaruhi
fungsi dan kemampuan tubuh lansia. Lansia dapat didefinisikansecara
kronologis dan biologis. Lansia kronologis dapat dengan mudah dihitung dan
diketahui, sedangkan lansia biologis dilihat dari keadaan jaringan tubuhnya
(Fatmah, 2010)
Penuaan merupakan proses hilangnya kemampuan jaringan secara
bertahapuntuk memperbaiki/mengganti diri dan mempertahankan struktur
dan fungsinya secara normal.Proses tersebut akan menyebabkantubuh tidak
tahan terhadap infeksi dan kerusakan yang ada. Banyak konsep dan teori yang
dikemukakan terkait proses penuaan antara lain sebagai berikut. (Darmojo,
2010).
Peningkatan populasi lanjut usia di Indonesia dimulai pada tahun
1971sebesar 4,48%, pada tahun 2000 jumlah lansia di Indonesia sebesar
7,28%, kemudian pada tahun 2010 meningkat menjadi 9,77%, dan pada
tahun 2020diproyeksikan menjadi sebesar 11,34% (Astutiet al, 2007).
Dilihat sebaranpenduduk lansia menurut provinsi, persentase penduduk
lansia paling tinggi adadi Provinsi DI Yogyakarta (13,04%), Jawa Timur
(10,40%), Jawa Tengah(10,34%), sedangkan Sumatra Barat menduduki
posisi ke tujuh yaitu 8,09%(Susenus, 2012)

5
Stroke merupakan penyebab umum kematian urutan ketiga dinegara
majusetelah penyakit kardiovaskular dan kanker. Setiap tahun, lebih dari
700.000 orang Amerika mengalami stroke,dan 150.000 orang meninggal
akibat strokeatau akibat komplikasi segera setelah stroke. Setiap saat 4,7 juta
orang di AmerikaSerikat pernah mengalami stroke, mengakibatkan pelayanan
kesehatan yangberhubungan dengan stroke mengeluarkan biaya lebih $18
milyar setiap tahun (Goldszmidt , 2011). Menurut Yayasan Stroke Indonesia
terdapat kecenderunganmeningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia
dalam dasawarsa terakhir,bahkan menurut survey tahun 2004, stroke
menyerang 35,8% pasien usia lanjutdan 12,9% pada usia yang lebih muda.
Penelitian lain mengatakan lebih dari 80 %stroke non hemoragik terjadi pada
lanjut usia (Chen, 2010). Insidens strokekarena perdarahan (Hemoragik)
lebih sering terjadi pada usia 40€60 tahunsedangkan akibat infark (Non
perdarahan) lebih sering dijumpai pada usia 60€90tahun. Jumlah total
penderita stroke di Indonesia diperkirakan 500.000 setiaptahun. Dari jumlah
penderita itu sekitar 2,5% / 250.000 orang meninggal, dansisanya cacat
ringan maupun lumpuh berat(Junaedi dan Iskandar, 2007).
Hipertensi merupakan suatu peningkatan tekanan darah sistolik dan/atau
diastolik yang di atas normal.Joint National Committee (JNC)7 tahun 2003
mengklasifikasikan tekanan darah manusiamenjadi tekanan darah normal,
prehipertensi, hipertensi tahap 1 dan hipertensi tahap 2.Hipertensi
menimbulkan masalah seperti adanya kecenderungan peningkatan prevalensi
hipertensi, manajemen hipertensi yang belum optimal, serta adanya penyakit
penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan
mortalitas.Menurut WHO dan The International Society of
Hypertension(ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh
dunia, dan 3 juta di antaranya meninggal setiap tahunnya. Tujuh dari setiap
10 penderita tersebut tidak mendapatkan pengobatan secara adekuat.

1.2. Rumusan Masalah


1. Pravelensi stroke, hipertensi dan resiko jatuh pada lansia
2. Apa pengertian stroke yang di alami lansia
3. Etiologi dari stroke pada lansia

6
4. Komplikasi masalah yang terjadi pada lansia
5. Sistem kardiovaskular pada lansia
6. Sistem hematologi dan imun pada lansia
7. Diagnosa dan intervensi keperawatan sesuai kasus berdasarkan ( Nanda,Noc,
Nic utamakan tindakan mandiri)

1.3. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pravelensi stroke
2. Untuk mengetahui apa pengertian dari stroke
3. Untuk memahami etiologi pada lansia
4. Untuk mengetahui komplikasi masalah yang terjadi pada lansia
5. Untuk memamahami sistem kardiovaskular pada lansia
6. Untuk memahami sistem hematologi dan imum pada lansia
7. Untuk mengetahui diagnosa dan intervensi keperawatan sesuai kasus

7
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Insidensi

Serangan stroke merupakan kematian beberapa sel otak secara tiba-tiba


diakibatkan kurangnya subsidi oksigen ketika aliran darah ke otak tersumbar atau
pecah. Secara global, kejadian stroke menjadi penyebab utama kematian kedua dan
penyebab utama disabilitas ketiga. Secara global, 70% kejadian stroke dan 87% kejian
berhubungan dnegan stroke, paling banyak terjadi pada negara berkembang dan
menengah kebawah. Pada negara maju, kejadian Stroke sudah menurun hingga 42%
dalam dekade ini.

Berdasarkan data dari studi Global Burden of Disease, ada berbagai stroke
standar usia dan jenis kelamin. Tingkat terendah adalah di Jepang (706,6 / 100.000
orang) dan Singapura (804,2 / 100.000 orang), dengan tingkat rendah juga di
Bangladesh dan Bhutan. Angka tertinggi berada di Mongolia (4.409,8 / 100.000
orang) dan Indonesia (3.382,2 / 100.000 orang), dengan angka tinggi juga diamati di
Myanmar, Laos, Korea Utara, dan Kamboja. Hipertensi tetap menjadi faktor risiko
medis paling umum untuk stroke, sedangkan merokok saat ini dan inaktifitas adalah
faktor risiko terkait gaya hidup yang paling dominan.

Diambil dari Riskesdas 2018, insiden penderita stroke mengalami kenaikan


dari 7% menjadi 10,9%. Daerah yang paling tinggi tingkat kejadian stroke berada di
Kalimantan Timur, naik menjadi 14,7% dan daerah terendah ada di papua dengan
kenaikan menjadi 4,1%. Kenaikan ini dihubungkan dengan pola hidup seperti
merokok, konsumsi alcohol, aktivitas fisik, dan konsumsi nutrisi.

II.2 Pengertian Stroke


Stroke adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan
neurologis yang disebabkan oleh adanya gangguan suplai darah ke bagian dari otak.
Munurut jurnal Siti Alchuriyah, dan Chatarina Umbul Wahjuni, Faktor Risiko
Kejadian Stroke Usia Muda Pada Rumah Sakit Brawijaya Surabaya (2016)

Stroke atau CerebroVascularAccident (CVA) adalah kehilangan fungsi otak


yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak, di mana secara
mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) timbul
gejala dan tanda yang sesuai dengan daerah fokal yang terganggu, yang dapat
mengakibatkan kematian dan penyebab utama kecacatan. Stroke dapat menyerang
siapa saja mulai dari anak-anak sampai dewasa. Tidak ada patokan mengenai usia
8
berapa seseorang rawan terkena stroke, walaupun memang biasanya stroke
menyerang seseorang yang berusia di atas 65 tahun (stroke pada anak sangat jarang
dan biasanya di hubungkan dengan kelainan bawaan kongenital).

II.3 Klasifikasi

Dua jenis stroke yang utama adalah iskemik dan hemoragik. (Menurut Joyce
M. Black dan Jane HokansonHawks edisi 8 buku 3)

Stroke iskemik disebabkan oleh adanya penyumbatan akibat gumpalan aliran


darah baik itu sumbatan karena trombosis (penggumpalan darah yang menyebabkan
sumbatan di pembuluh darah) atau embolik (pecahan gumpalan darah/udara/benda
asing yang berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menyumbat pembuluh darah
di otak) ke bagian otak.

Perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang subarakhnoid adalah penyebab


dari strokehemoragik. Jumlah total strokeiskemik sekitar 83% dari seluruh kasus
stroke. Sisanya sebesar 17% adalah hemoragik.

Secara patologi stroke dibedakan menjadi sebagai berikut:

1. Stroke Iskemik
Sekitar 80% sampai 85% stroke adalah stroke iskemik, yang terjadi akibat
obstruksi atau bekuan di satu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum.

Klasifikasi stroke iskemik berdasarkan waktunya terdiri atas:

1. Transient Ischaemic Attack (TIA): defisit neurologis membaik dalam


waktu kurang dari 30 menit.
2. Reversible Ischaemic Neurological Deficit (RIND): defisit neurologis
membaik kurang dari satu minggu.
3. Stroke In Evolution (SIE)/Progressing Stroke.
4. Completed Stroke.

Beberapa penyebab stroke iskemik meliputi:

9
 Trombosis Aterosklerosis (tersering); Vaskulitis: arteritis temporalis,
poliarteritisnodosa; Robeknya arteri: karotis, vertebralis (spontan atau traumatik);
Gangguan darah: polisitemia, hemoglobinopati (penyakit sel sabit).
 Embolisme Sumber di jantung: fibrilasi atrium (tersering), infark miokardium,
penyakit jantung rematik, penyakit katup jantung, katup prostetik, kardiomiopati
iskemik; Sumber trombo embolia terosklerotik di arteri: bifurkasio karotis
komunis, arteri vertebralis distal; Keadaan hiperkoagulasi: kontrasepsi oral,
karsinoma.
 Vasokonstriksi Vasospasme serebrum setelah PSA (Perdarahan Subarakhnoid).
Terdapat empat subtipe dasar pada stroke iskemik berdasarkan penyebab: lakunar,
thrombosis pembuluh besar dengan aliran pelan, embolik dan kriptogenik
(Dewantodkk, 2009).

2 .Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik, yang merupakan sekitar 15% sampai 20% dari semua
stroke, dapat terjadi apabila lesi vaskular intraserebrum mengalami ruptur sehingga
terjadi perdarahan ke dalam ruang subarakhnoid atau langsung ke dalam jaringan
otak.

Beberapa penyebab perdarahan intraserebrum:

Perdarahan intraserebrum hipertensif; perdarahan subarakhnoid (PSA) pada


ruptur aaneurismasakular (Berry), ruptur amalformasiarterio vena(MAV), trauma;
penyalahgunaan kokain, amfetamin; perdarahan akibat tumor otak; infarkhemoragik;
penyakit perdarahan sistemik termasuk terapi antikoagulan (Price, 2005).

II.4 Etiologi
 Trombosis
Penggumpalan (trombus) mulai terjadi dari adanya kerusakan pada bagian
garis endotial dari pembuluh darah. Ateroskeloris merupakan penyebab utama.
Ateroskeloris menyebabkan zat lemak tertumpuk dan membentuk plak pada
dinding pembuluh darah. Plak ini terus membesar dan menyebabkan penyempitan
(stenosis) pada arteri. Stenosis menghambat aliran darah yang biasanya lancar
pada arteri. Darah akan berputar-putar di bagian permukaan yang terdapat plak,

10
menyebabkan penggumpalan yang akan melekat pada plak tersebut. Akhirnya
rongga pembuluh darah menjadi tersumbat. Selain itu, penyumbatan dapat terjadi
karena inflamasi pada arteri atau disebut arteritis atau vaskulitis tetapi hal ini
jarang terjadi.
Trombus bisa terjadi di semua bagian sepanjang arteri karotid atau pada
cabang-cabangnya. Bagian yang biasa terjadi penyumbatan adalah pada bagian
yang mengarah pada percabangan dari karotid utama ke bagian dalan dan luar dari
arteri karotid. Stroke karena trombosis adalah tipe yang paling sering terjadi pada
orang denyan diabetes.

 Embolisme
Sumbatan pada arteri serebral yang disebabkan oleh embolus menyebabkan
stroke emblolik. Embolus terbentuk di bagian luar otak, kemudia terlepas dan
mengalir melalui sirkulasi serebral sampai embolus tersebut melekat pada pembuluh
darah dan menyumbat arteri. Embolus yang paling sering terjadi adalah plak.
Trombus dapat terlepas dari arteri karotis bagian dalam pada bagian luka plak dan
bergerak ke dalan sirkulasi serebral. Kejadian fibrilasi atrial kronik dapat
berhubungan dengan tingginya kejadiab stroke embolik, yaitu darah terkumpul di
dalam atrium yang kosong. Gumpalan darah yang sangat kecil terbentuk dalam
atrium kiri dan bergerak menuju jantung dan masuk ke dalan sirkulasi serebral.
Pompa mekanik jantung buatan memiliki permukaan yang lebih kasar dibandingkan
otot jantung yang normal dan dapat juga menyebabkan peningkatan risiko terjadinya
penggumpalan. Endokarditis yang disebabkan oleh bakteri maupu. yang non bakteri
dapat menjadi sumber terjadinya emboli. Sumber-sumber penyebab emboli lainnya
adalag tumor, lemak, bakteri dan udara. Emboli biasa terhadi pada seluruh bagian
pembuluh darah serebral. Kejadian embolu pada serebral meningkat bersamaan
dengan meningkatnya usia.

 Pendarahan (Hemoragik)
Pendarahan intraserebral paling banyak disebabkan oleh adanya ruptur
arteriosklerotik dan hipertensi pembuluh darah, yang bisa menyebabkan perdarahan
ke dalam jaringan otak. Perdarahan intraserebral paling sering terjadi akibat dari
penyakit hipertensi dan umumnya terjadi setelah usia 50tahun. Akibat lain dari

11
perdarahan adalah aneurisma. Aneurisma adalah pembengkakan pada pembuluh
darah. Walaupun aneurisma serebral biasanya kecil (diameternya 2-6mm), hal ini hisa
menyebabkan ruptur. Diperkirakan sekitar 6% dari seluruh stroke disebabkan oleh
ruptur aneurisma.
Stroke yang disebabkan oleh perdarahan sering kali menyebabkan spasme
pembuluh darah serebral dan iskemik pada serebral karena darah yang berada di luar
pembuluh darah membuat iritasi oada jaringan. Stroke hemoragik biasanya
menyebabkan terjadinya kehilangan fungsi yang banyak dan penyembuhannya paling
lambat dibandingkan dengan tipe stroke yang lain. Keseluruhan angka kematian
karena stroke hemoragik berkisar antara 25% sampai 60%. Jumlah volume
perdarahan merupakan satu-satunya prediktor yang paling penting untuk melihat
kondisi klien. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bahwa perdarahan pada otak
penyebab paling fatal dari semua jenis stroke.

Penyebab lain

Spasme arteri serebral yang disebabkan oleh infeksi, menurunkan aliran darah
ke arah otak yang disuplai oleh pembulug darah yang menyempit. Spasme yang
berdurasi pendek tidak selamanya menyebabkan kerusakan otoak yang permanen.

Kondisi hiperkoagulasi adalah kondisi terjadi penggumpalab yang berlebihan


pada pembuluh darah yang bisa terjadi pada ksondisi kekurangan protein C dan
protein S, serra gangguan aliran gumpalan darah yang dapat menyebabkab terjadinya
stroke trombosis dan stroke iskemik. Tekanan pada pembuluh darah serebral bisa
disebabkan oleh tumor, gumpalan darah yang besar, pembengkakan pada jaringan
otak, perlukaan pada otak, atau gangguan lain. Namun, penyebab-penyebab tersebur
jarang terjadi pada kerjadian stroke.

II.5 Faktor Resiko

 Usia
Pada lansia. Karena pada lansia elastisitas pembuluh darahnya menurun
sehingga menigkatnya resistensi perifer yang mengakibatkan tekanan darah
meningkat. Akibat dari tekanan darah yang meningkat akan mengakibatkan

12
pengerasan dan penyumbatan arteri. Dalam hal ini, pada usia lansia memiliki risiko
terkena stroke dua kali lipat setiap 10tahun penambahan usia.

 Jenis Kelamin
Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi tidak dapat dicegah atau diobati
salah satunya adalah penuaan. Kejadian stroke pada pria sedikit lebih tinggi
dibandingkan pada wanita.

 Penyakit kardiovaskular
Terutama penyakit yang disebut atrial fibrilasi yaitu penyakit jantung dengan
denyut jantung yang tidak teratur di bilik kri atas. Denyut jantung di atrium kiri ini
mencapai empat kali lebih cepat dibandingkan bagian-bagian lain jantung. Ini
menyebabkan aliran darah menjadi tidak teratur dan secara insidentil terjadi
pembentukan gumpalan darah. Gumpalan-gumpalan inilah yang kemudian dapat
mencapai otak dan menyebabkan stroke.

 Diabetes Mellitus
Kondisi diabetes mellitus dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke, serta
angka kesakitan dan kematian setelah terjadinya stroke. Mekanisme terjadinya
kondisi tersebut disebabkan oleh perubahan makrovaskular pada penderita diabetes.
Penderita diabetes memiliki resiko tiga kali lipat terkena stroke dan mencapai tingkat
tertinggi pada usia 50-60tahun. Ada faktor lain yang dapat memperbesar risiko stroke,
seperti 40% penderita diabetes yang pada umumnya juga mengidap hipertensi.

 Hipertensi
Merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan pengerasan dan
penyumbatan arteri. Penderita hipertensi memiliki risiko stroke empat hingga enam
kali lipat dibandinkan orang tanpa hipertensi. Sekitar 40 hingga 90 persen pasien
stroke ternyata menderita hipertensi sebelum terkena stroke.

 Merokok
Faktor risiko yang sebenarnya paling mudah diubah. Perokok berat
menghadapi risiko lebih besar diandingkan perokok ringan. Merokok

13
melipatgandakan risiko stroke iskemik, terlepas dari faktor risiko yang lain, dan dapat
juga meningkakan risiko stroke hemoragik hingga 3,5%. perlu diketahui bahwa
merokok memicu produksi fibrinogen (faktor penggumpal darah) lebih banyak.
Nikotin dalam tembakaulah penyebab meningkatnya tekanan darah segera setelah
isapan pertama. Seperti zat-zat lain dalam asap rokok, nikotin diserap oleh pembuluh-
pembuluh darah amat kecil di dalam paru-paru dan diedarkan ke aliran darah. Hanya
dalam beberapa detik nikotin sudah mencapai otak. Otak beraksi terhadap niktin
dengan memberi sinyak pada kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin).
hormon yang kuat ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung
untuk bekerja lebi berat karena tekanan yang lebih tinggi. Setelah merokok dua
batang saja maka baik tekanan sitolik maupun diastolik akan meningkat 10mmHg.

 Obat-obatan terlarang
Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan senyawa olahannya
dapat menyebabkan stroke. Kokain juga menyebabkan gangguan denyut jantung
(arrythmia) atau denyut jantung menjadi lebih cepat. Masing-masing menyebabkan
pembentukan gumpalan darah. Sehingga mengakibatkan sempitnya lumen pembuluh
darah.

 Konsumsi alkohol berlebihan


Dalam penelitian terbaru, disebutkan bahwa walaupun konsumsi alkohol yang
berlebihan dapat meningkatkan kejadian stroke pada seseorang, konsumsi alkohol
yang ringan atau sedang bisa mencegah terjadinya stroke iskemik. Kejadian stroje
jarang terjadi pada wanita usia produktif atau usia untuk mengandung. Namun,
kontrasepsi estrogen oral dalam dosis yang tinggi berdominasi dengan hipertensi,
merokok, sakit kepala migren, dan peningkatan usia, dapat meningkatkan kejadian
stroke pada wanita.

 Infeksi
Secara alami, sistem kekebalan tubuh biasanya melakukan perlawanan
terhadap infeksi dalam bentuk meningkatkan peradangan dan sifat penangkalan
infeksi pada darah. Tetapi, reaksi kekebalan ini juga meningkatkan faktor
penggumpalan dalam darah yang memicu risiko stroke embolik-iskemik. Infeksi ini

14
akan menimbulkan peradangan pada pembulu darah yang menyebabkan perubahan
pada dinding pembuluh darah (Vaskulitis/arteritis). Karena terjadinya peradangan
maka akan mengakibatkan sempitnya arteri cerebral sehingga aliran darah ke otak
menurun dan mengakibatkan suplai darah dan O2 ke otak juga menurun.

II.6 Tanda dan Gejala


1. Tiba-tiba megalami kelemahan atau kelumpuhan separuh badan
2. Tiba-tiba hilang rasa peka
3. Bicara cadel atau pelo
4. Gangguan bicara dan bahasa
5. Gangguan penglihatan
6. Mulut mencong
7. Gangguan daya ingat
8. Nyeri kepala hebat
9. Vertigo
10. Kesadaran menurun
11. Proses kencing terganggu
12. Gangguan fungsi otak

II.7 Perbedaan Stroke Hemoragik dan Stroke Non-Hemoragik:

Gejala Klinis Stroke Hemoragik Stroke Non-


Hemoragik

Gejala defisit local Berat Ringan Berat/ringan+/biasa

SIS sebelumnya Amat jarang -

Permulaan (onset) Menit/jam 1-2 menit Pelan (jam/hari)

Nyeri kepala Hebat Sangat hebat Ringan/ tidak ada

Muntah pada Sering Sering Tidak, keculi lesi di

15
awalnya batang otak

Hipertensi Hampir selalu Biasanya tidak Sering sekali

Kesadaran Bisa hilang Bisa hilang Dapat hilang


sebentar

Kaku kuduk Jarang Bisa ada pada Tidak ada


permulaan

Hemiparesis Sering sejak awal Tidak ada Sering dari awal

Deviasi mata Bisa ada Tidak ada Mungkin ada

Gangguan bicara Sering Jarang Sering

Likuor Sering berdarah Selalu berdarah Jernih

Perdarahan Tidak ada Bisa ada Tidak ada


Subhialoid

Paresis/gangguan N Mungkin (+)


III

II.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Angiografi serebri
Membantu menentukkan penyebab dari stroke secara spesifik seperti
pendarahan arteriovena atau adanya ruptur dan untuk mencari perdarahan seperti
aneurisma atau malformasi vaskuler
2. Lumbal pungsi, CT Scan, EEG, Magnetic Imaging Resnance (MRI)
3. USG Doppler
4. Untuk mengidentifikasi adanya penyakit arteriovena (masala sistem karotis)

II.9. Penatalaksanaan Medis

16
 Stadium Hiperakut
Tindakan pada stadium ini dilakukan di instalasi Rawat Darurat dan
merupakan tindakan resusitasi serebro-kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan
jaringan otak tidak meluas. Pada stadium ini, pasien diberi oksigen 2 L/menit dan
cairan kristaloid/koloid; hindari pemberian cairan dexstrosa atau salin dalam .
dilakukan pemeriksaan CT scan otak, elektrokardiografi, foto toraks, darah perifer
lengkap dan jumlah trombosit, protrombin time/INR, APTT, glukosa darah, kimia
darah (termasuk elektrolit); jika hipoksia, dilakukan analisis gas darah. Tindakan lain
di Instalasi Rawat Darurat adalah memberikan dukungan mental kepada pasien serta
memberikan penjelasan pada keluarganya agar tetap tenang.

 Stadium Akut
Pada stadium ini, dilakukan penanganan faktor-faktor etiologikmaupun
penyulit. Juga dilakukan tindakan terapi fisik, okupasi, wicara dan psikologis serta
telaah sosial untuk membantu pemulihan pasien. Penjelasan dan edukasi kepada
keluarga pasien perlu, menyangkut dampak stroke terhadap pasien dan keluarga serta
tata cara perawatan pasien yang dapat dilakukan keluarga.

 Stroke Iskemik
Terapi umum : letakkan kepala pasien pada posisi 30 , kepala dan dada pada
satu bidang; ubah posisi tidur setiap 2 jam; mobilisasi dimulai bertahap bila
hemodinamik sudah stabil. Selanjutnya, bebaskan jalan napas, beri oksigen 1-2
liter/menit sampai didaptkan hasil analisis gas darah. Jika perlu, dilakukan intubasi.
Demam diatasi dengan kompres dan antipiretik, kemudian dicari penyebabnya; jika
kandung kemih penuh, dikosongkan ( sebaiknya dengan kateter intermiten).
Pemberian nutrisi dengan cairan isotonic, kristaloid atau koloid 1500-2000 mL dan
elektrolit sesuai kebutuhan, hindari cairan mengandung glukosa atau salin isotonic.
Pemberian nutrisi per oral hanya jika fungsi menelannya baik; jika didaptkan
gangguan menelan atau kesadran menurun, dianjurkan melalui selang nasogastrik.
Kadar gula darah >150 mg% harus dikoreks sampe batas gula darah sewakru 150
mg% dengan insulin drip intravenakontinu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia
(kadar gula darah < 60 mg% atau < 80 mg% denga gejala) diatasi segera dengan

17
dekstrosa 40% IV sampai kembali normal dan harus dicari penyebabnya. Nyeri kepala
atau mual dan munta diatasi dengan pemberian obat-obatan sesuai gejala. Tekanan
darah tidak perlu segera diturunkan, kecuali bila tekanan sistolik 220 mmHg, diastolik
120 mmHg, Mean Arterial Blood Pressure (MAP) 130 mmHg (pada 2 kali
pengukuran dengan selang waktu 30 menit), atau didapatkan infark miokard akut,
gagal jantung kongresif serta gagal ginjal. Penurunan tekanan darah maksimal adalah
20%, dan obat yang direkomendasikan : natrium nitroprusid, penyekat reseptor alfa-
beta, penyekat ACE, atau antagonis kalsium. Jika terjadi hipotensi , yaitu tekanan
sistolik 90 mmHg, diastolik 70 mmHg, diberi NaCl 0,9% 250 mL selama 1 jam
dilanjutkan 500 mL selama 4 jam dan 500 mL selama jam atau sampai hipotensi
dapat diatasi. Jika belum terkoreksi, yaitu tekanan darah sistolik masih < 90 mmHg,
dapat diberi dopamin2-20 /kg/menit sampai tekanan darah sistolik 110 mmHg. Jika
kejang, diberi diazepam 5-20 mg IV pelan-pelan selama 3 menit, maksimal 100 mg
per hari; dilanjutkan pemberian antikonvulsan per oral (fenitoin, karbamazepim). Jika
kejang muncul setelah 2 minggu, diberikan antikonvulsan peroral jangka panjang.
Jika didapatkan tekanan intracranial meningkat, diberi manitol bolus intravena 0,25
sampai 1 g/kgBB per 30 menit, dan jika dicurigai fenomena rebound atau keadaan
umum memburuk, dilanjutkan 0,25g/kgBB per 30 menit setiap 6 jam selama 3-5 hari.
Harus dilakukan pemantauan osmolalitas (<320 mmol); sebagai alternatif, dapat
diberikan larutan hipertonik (NaCl 3%) atau furosemid

Terapi khusus : Ditunjukkan untuk reperfusi dengan pemberian antiplatelet seperti


aspirin dan anti koagulan atau yang dianjurkan dengan trombolitik, rt-PA
(recombinant tissue Plasminogen Activatir). Dapat juga diberi agan neuroproteksi,
yaitu sitikolin atau pirasetam (jika didapatkan afasia)

 Stroke Hemoragik
Terapi umum : Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume
hematoma > 30 mL, pendarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus, dan keadaan
klinis cenderung memburuk. Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah
premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik >180 mmHg, diastolik >120mmHg,
MAP >130 mmHg dan volume hematoma bertambah. Bila terdapat gagal jantung,
tekanan darah harus segera diturunkan dengan labetalol IV 10 mg (pemberian dalam 2

18
menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg; enalapril IV
0,625-1,25 mg per 6 jam; kaptropil 3 kali 6,25-25 mg per oral. Jika didaptkan tanda
tekanan intrakranial meningkat, posisi kepala 30, posisi kepala dan dada di satu
bidang, pemberian manitol dan hiperventilasi (pCO, 20-35 mmHg). Penatalaksanaan
umum sama dengan pada stroke iskemik, tukak lambung diatasi dengan antagonis H2
parenteral, sukralfat atau inhibitor pompa proton; komplikasi saluran napas dicegah
dengan fisioterapi dan diobati dengan antibiotik spectrum luas.

Terapi khusus : neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat


vasodilator. Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak pendarahan yaitu pada
pasien yang kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebelum
berdiameter >3, hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum,
dilakukan VP-shunting, dan perdarahan lobar >60 mL dengan tanda peningkatan
tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi. Pada perdarahan subaraknoid, dapat
digunakan antagonis. Kalsium (nimodipin) atau tindakan bedah (ligasi, embolisasi,
ekstirpasi, maupun gamma knife) jika penyebabnya adalau aneurisma atau malformasi
arteri-vena (arteriovenous malformation, AVM)

 Stadium Subakut
Tindakan medis dapat berupa terapi kognitif, tingkah laku, menelan, terapi
wicara, dan bladder training (termasuk terapi fisik). Mengingat perjalanan penyakit
yang panjang, dibutuhkan penatalaksanaan khusus intensif pasca stroke di rumah sakit
dengan tujuan kemandirian pasien, mengerti, memahami, dan melaksanakan program
preventif primer dan sekunder. Terapi fase subakut antara lain :
1. Melanjtkan terapi sesuai kondisi akut sebelumnya
2. Penatalaksanaan komplikasi
3. Restorasi/rehabilitasi (sesuai kebutuhan pasien) yaitu fisioterapi, terapi wicara,
terapi kognitif, dan terapi okupasi
4. Prevensi sekunder
5. Edukasi keluarga dan Discharge Planning

19
II.10. Komplikasi Stroke

 Perdarahan
Setelah pemberianrt-PA (pemecah gumpalan darah), klien berpotensi
mengalami perdarahan intracranial dan perdarahan sistemik. Penyebaran gumpalan
dari perdarahan intracranial bias merusak jaringan otak. Tekanan dari gumpalan
tersebut juga mengganggu aliran darah dan menyebabkan iskemia tambahan.
Peningkatan tekanan intracranial (TIK) terjadi karena gumpalan darah memenuhi
ruang dan sekeliling jaringan edema iskemia, serta dapat mengarah kepada kondisi isi
intracranial berpindah melewati garis tengah, kemungkinan terjadi hernia pada batang
otak, dan kematian.

 Edema Serebral
Peningkatan TIK adalah komplikasi potensial dari stroke iskemik yang luas.
Peningkatan TIK juga merupakan komplikasi potensial untuk perdarahan
intraserebral, baik merupakan kondisi utama maupun sekunder dari terapi trombolisis.

 Stroke Berulang
Kejadian stroke berulang dalam empat minggu pertama setelah stroke iskemik
akut berkisar antara 0,6% - 2,2% per minggu. Resiko anti koagulasi termasuk
perdarahan intracranial, perdarahan sistemik, dan kematian. Resiko jangka panjang
dari stroke berulang adalah 4% - 14% per tahun.

 Aspirasi
Klien dengan stroke akan beresiko mengalami aspirasi pneumonia yang
merupakan penyebab langsung kematian pada 6% klien. Aspirasi paling sering terjadi
pada periode awal dan dihubungkan dengan hilangnya sensasi faringeal, hilangnya
control motoric orifaringeal, dan penurunan kesadaran.

Potensial Komplikasi Lainnya :

Komplikasi lain dari stroke bergantung pada lokasi atau jaringan yang terkena
(infark). Jika batang otak yang terkena, tekanan darah menjadi fluktuasi, pola napas
terganggu,dan disritmia jantung dapat terjadi.Cedera fisik ini terjadi berhubungan

20
dengan ketidakmampuan klien untuk menyadari keterbatasannya. Komplikasi dari
imobilitas juga bisa terjadi.

Koma bisa terjadi karena suplai darah kebatang otak atau kesistem formasi
oretikularis yang mengontrol kesadaran, mungkin secara langsung
tersumbat.Demikian pula pada struktur bagian dalam dari thalamus yang menerima
dan menyampaikan informasi kekorteks serebral bisa terlibat dalam kondisi ini.
Sumbatan vascular dari arteri karotis internal atau pada salah satu cabang utamanya
bisa juga menurunkan tingkat kesadaran.

Ketika stroke yang terjadi adalah fatal, kematian mungkin terjadi antara 3 jam
– 12 jam, tapi lebih sering terjadi antara 1 – 14 hari setelah episode yang pertama.
Secara khusus, dengan semua jenis tipe stroke yang fatal, peningkatan suhu tubuh,
denyut jantung, dan rata-rata pernapasan terjadi bersamaan dengan koma dalam
beberapa atau hari sebelum kematian. Manifestasi ini terjadi akibat dari kerusakan
pada vasomotor dan pusat pengaturan panas.

II.11. Sistem Kardiovaskuler


Sistem kardiovaskular merupakan salah satu sitem dalam tubuh yang mengalami
penuaan seiring dengan berkurangnya umur manusia. Jantung dan pembuluh darah
mengalami perubahan baik struktural maupun fungsional. Pernurunan yang terjadi
berangsur-angsur sering terjadi ditandai dengan penurunan tingkat aktvitas, yang
mengakibatkan penurunan kebutuhan darah yang teroksigenasi. Jumlah detak jantung
saat istirahat pada orang tua (lansia) yang sehat tidak ada perubahan, namun detak
jantung maksimum yang dicapai selama latihan berat akan berkurang. Pada dewasa
muda, kecepatan jantung di bawah tekanan yaitu, 180-200 x/menit. Kecepatan jantung
pada usia 70-75 tahun mmenjadi 140-160x/menit.
Penuaan yang terjadi pada sistem kardiovaskuler tentunya juga memiliki efek
pada anatomis jantung sendiri, yakni berupa bertambahnya massa jantung, ventrikel
kiri mengalami hipertrofi, dan kemampuan peregangan jantung berkurang karena
perubahan pada jaringan ikat dan penumpukan lipofusin. Katub jantung mengalami
fibrosis dan klasifikasi. SA node dan jaringan konduksi berubah menjadi jaringan
ikat. Kemampuan arteri dalam menjalankan fungsinya berkurang sampai 50%.
Pembuluh darah kapiler mengalami penurunan elastisitas dan permeabilitas. Terjadi
perubahan fungsional berupa kenaikan tahanan vaskular sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan sistole dan penurunan perfusi jaringan. Penurunan sensitivitas
baroreseptor menyebabkan terjadinya hipotensi postural.
Curah jantung (cardiac output) menurun akibat penurunan denyut jantung
maksimal dan volume sekuncup. Respons vasokonstriksi untuk mencegah terjadinya

21
pengumpulan darah (pooling of blood) menurun sehingga respons terhadap hipoksia
menjadi lambat. Konsumsi oksigen pada tingkat maksimal (VO2 maks) berkurang
sehingga kapasitas vital paaru menurun. Latihan berguna untuk meningkatkan VO2
maksimum, mengurangi tekanan darah, dan berat badan. Perubahan yang terjadi
seiring dengan proses penuaan pada sistem kardiovaskular lebih jelasnya akan
dijelaskan pada sub bab di bawah ini.

Anatomi Jantung pada Lansia

Ketebalan dinding ventrikel kiri menebal seiring penuaan karena peningkatan


densitas kolagen dan penurunan fungsi serat-serat elastis. Ventrikel kiri menjadi kaku
dan 25% menjadi lebih tebal saat bekerja lebih keras agar dapat memompa darah
sebagai respon terhadap peningkatan kekakuan aorta yang menua (Staab & Hodges,
1996). Kekakuan arteri terjadi seiring penuaan akibat penebalan tunika media, fibrosis
intima, penurunan sel otot polos, peningkatan deposit kalsium, peningkatan kolagen,
dan penurunan serat elastis. Perubahan pada arteri yang menjadi kaku dan menebal
dapat menyebabkan ateriosklerosis (Lewis & Bottomley, 1994). Perubahan kekakuan
pada arteri meningkatkan resistansi pembuluh darah perifer (hambatan aliran darah
dalam perifer), yang meningkatkan beban kerja jantung dan menurunkan aliran darah
ke berbagai organ, terutama ginjal. Aorta dan arteri yang mengalami dilatasi
menerima lebih banyak volume darah sebagai mekanisme kompensasi (Gerber, 1990).
Vena menjadi meregang dan mengalami dilatasi karena mengalami penebalan dan
kekakuan seiring penuaan akibatnya katup-katup vena tidak dapat menutup secara
sempurna. Pada lansia jumlah sel pacemaker semakin berkurang menyebabkan
gangguan irama jantung (Rowe & Besdine, 1988).

Irama jantung yang tidak sesuai dalam mengoordinasi aliran listrik yang
mengendalikan siklus jantung menyebabkan disritmik seiring dengan bertambahnya
usia. Selain itu terjadi peningkatan lemak, kolagen, dan penebalan pada serat elastis
terjadi pada daerah nodus sinoatrial (SA) (Morgan, 1993). Area jantung yang
mengalami aliran darah dengan tekanan tinggi seperti pada katup aorta dan katup
mitral mengalami penebalan (Blair, 1990). Penebalan pada katup aorta menyebabkan
kekakuan pada bagian dasar pangkal aorta menghalangi pembukaan katup,
menyebabkan obstruksi parsial terhadap aliran darah selama denyut sistole. Terjadi
akumulasi lipofusin (aging pigment) pada sel miokardium yang menua (Lewis &
Bottomley, 1994). Penebalan dan kekakuan miokardium dengan katup-katup yang
kaku, peningkatan waktu pengisian diastolik dan peningkatan tekanan pengisian
diastolik diperlukan untuk mempertahankan preload yang adekuat. Perubahan
anatomi jantung pada lansia dapat dilihat pada tabel dan gambar berikut:

Tabel 1. Perubahan anatomi jantung pada lansia


Perubahan Anatomi Jantung pada
Implikasi Klinis
Lansia
Penebalan dinding ventrikel kiri Penurunan kekuatan kontraksi

22
Penebalan katup jantung Gangguan aliran darah melalui katub
Jumlah sel pacemaker menurun Terjadi disritmia
Arteri menjadi kaku dan tidak lurus Penumpulan respon baroreseptor
pada kondisi dilatasi Penumpulan respon terhadap panas
dan dingin
Vena mengalami dilatasi, katup-katup Edema pada ekstremitas bawah
tidak kompete dengan penumpukan darah

Gambar 1. Perbandingan jantung muda dan lansia

Gambar 2

23
Gambar 3. Perbandingan jantung muda dan lansia saat istirahat

Young heart :

at rest During vigorous exercise


Old heart :

At rest During vigorous exercise

Sirkulasi Jantung pada Lansia

Perubahan usia mempengaruhi dua dari tiga lapisan pembuluh darah, dan
konsekuensi fungsional bervariasi, tergantung pada lapisan yang terpengaruh.
Perubahan pada lapisan pembuluh darah tersebut dapat dicontohkan dalam perubahan
tunika intima (lapisan terdalam) memiliki akibat fungsional yang paling serius dalam
perkembangan aterosklerosis, sedangkan perubahan di tunika media (lapisan tengah)
berhubungan dengan hipertensi. Untuk lapisan terluar (tunika eksterna) tampaknya
tidak akan terpengaruh oleh perubahan yang berkaitan dengan usia. Lapisan ini, terdiri
dari adiposa dan jaringan ikat, mendukung serabut saraf dan vasorum vasa, suplai darah
untuk tunika media.

Tunika intima terdiri dari satu lapisan sel endotel pada lapisan tipis jaringan ikat.
Tunika intima berfungsi untuk mengontrol masuknya lipid dan zat lain dari darah ke
dalam dinding arteri. Sel endotel yang utuh memungkinkan darah mengalir dengan
lancar. Semakin bertambahnya usia, tunika intima mengental karena fibrosis, proliferasi
sel, dan lipid dan akumulasi kalsium. Ukuran dan bentuk sel-sel endotel menjadi tidak
teratur. Perubahan pada intima tunika dan sel-sel endotel menyebabkan arteri melebar
dan memanjang mengakibatkan dinding arteri lebih rentan terhadap aterosklerosis. Sel-
sel otot polos yang terlibat dalam fungsi jaringan pembentuk memproduksi kolagen,
proteogly cans, dan serat elastis. Karena memberikan dukungan struktural, lapisan ini
mengendalikan ekspansi dan kontraksi arteri.

24
Perubahan usia mempengaruhi tunika media yaitu peningkatan kolagen, tunika
media menipis dan mengerasnya serat elastin, sehingga pembuluh darah kaku.
Perubahan pada tunika media terutama terjadi di dalam aorta, diameter lumen
meningkat untuk mengkompensasi kakunya arteri yang berkaitan dengan usia. Vena
menjadi lebih tebal, lebih melebar, dan kurang elastis dengan bertambahnya usia. Katup
vena pada kaki mengalami pembesaran sehingga menjadi kurang efisien dalam
mengembalikan darah ke jantung atau gangguan aliran balik vena (Gioiella & Bevil,
1985).

Gambar 4. Arteri dan vena normal

25
Gambar 5. Perbedaan arteri saat muda dan tua

tua
muda

Adventitia

Media

Intima

Arterial
lumen

Perubahan pada aliran darah mengakibatkan perubahan pada curah jantung.


Curah jantung adalah jumlah darah yang dipompa oleh jantung per menit, merupakan
ukuran penting dari kinerja jantung karena mewakili kemampuan jantung untuk
memenuhi kebutuhan oksigen tubuh. Fungsi dan stabilitas seluruh jaringan tubuh
tergantung pada suplai oksigen dan zat gizi lain yang adekuat dari darah sirkulasi.
Suplai ini terutama ditentukan oleh curah jantung, sesuai dengan rumus berikut:

CO = Curah Jantung (Cardiac output)

CO = HR x SV HR = Frekuensi Jantung (Heart rate)

SV = isi sekuncup (Stroke volume)

Kemampuan otot jantung untuk menghasilkan tegangan dapat dipertahankan


dengan baik meskipun terjadi penuaan, demikian juga fungsi ventrikel kiri saat
istirahat, respon terhadap reseptor simpatetik beta pada jaringan jantung menurun
drastis dan dimanifestasikan sebagai penurunan respons inotropik otot jantung terhadap
stimulasi katekolamin, penurunan respons frekuensi jantung, dan penurunan
vasodilatasi arteri. Frekuensi jantung saat istirahat tidak berubah drastis namun
frekuensi jantung saat melakukan latihan fisik sedikit menurun seiring penuaan
(Brocklehurst, Tallis, & Fillit, 1992). Penurunan ini dikaitkan dengan perkembangan
jaringan ikat pada nodus SA, nodus atrioventrikular (AV), dan cabang berkas (Farrel,

26
1990; Gioiella & Bevil, 1985). Selama melakukan latihan fisik, lansia mengalami
peningkatan penggunaan mekanisme Frank-Starling untuk mengompensasi peningkatan
beban jantung dan status inotropik jantung yang lebih rendah (Alexander, 1998).
Hukum Frank-Starling merupakan prinsip mekanisme yang digunakan oleh jantung
yang mengalami penuaan untuk meningkatkan curah jantung adalah dengan
meningkatkan volume akhir diastolik yang meningkatkan volume isi sekuncup
(Fernandez, 1996; Gerber, 1990). Seiring penuaan terdapat bukti pemanjangan relaksasi
dan kontraksi otot jantung yang mengakibatkan fase isovolumik diastole memanjang
dan pengisian diastolik ventrikel kiri melambat.

Pada lansia, penyebab potensial penurunan curah jantung dapat dikaitkan dengan
ketidak seimbangan cairan, disritmia, dan penurunan kontraktilitas akibat infark
miokardium atau cedera miokardium (Harizi, Bianco, & Alpert, 1988; Wong, Gold,
Fukuyama, & Blanchette, 1989). Perubahan terkait usia pada tingkat anatomik dan
tingkat sel, dapat dihubungkan dengan penurunan fungsi sistolik dan diastolik.
Perubahan pada pertautan silang jaringan ikat interseluler menyebabkan peningkatan
kekakuan miokardium (Lakatta, 1990). Hipertrofi ventrikel kiri dan penyusutan ruang
ventrikular kiri merupakan gambaran jantung yang menua, meskipun tidak ada penyakit
kardiovaskular (Lakatta, 1990).

Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang berhubungan dengan sistem


kardiovaskular pada lansia. Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah
diastolik atau sistolik yang intermiten atau menetap. Pada lansia, hipertensi akibat dari
vasokonstriksi terkait dengan penuaan, yang menyebabkan resistansi perifer. Penyebab
lainnya mencakup hipertiroidisme, parkinsonisme, penyakit Paget, anemia, dan
kekurangan tiamin. Hipertensi diklasifikasikan berdasarkan tipe, penyebab, dan
keparahannya. Dua tipe mayor hipertensi disebut hipertensi esensial, yang terhitung
sebanyak 90% sampai 95% dari kasus yang terjadi, dan hipertensi sekunder, akibat dari
penyakit ginjal atau penyebab yang teridentifikasi lainnya. Hipertensi maligna
merupakan bentuk hipertensi berat yang fulminan yang umumnya berasal dari
hipertensi esensial dan sekunder.

Sejalan dengan perubahan fisiologis normal penuaan, faktor-faktor risiko


hipertensi lainnya meliputi diabetes, riwayat, keluarga, dan jenis kelamin. Faktor –
faktor gaya hidup, seperti obesitas, asupan garam yang tinggi, asupan alkohol yang
berlebihan, dan penggunaan kontrasepsi oral, juga membuat pasien beresiko tinggi
mengalami hipertensi.

Riwayat keluarga, ras, obesitas, diet tinggi natrium atau lemak jenuh, penggunaan
tembakau atau kontrasepsi oral, gaya hidup yang banyak duduk, dan penuaan semuanya
telah diteliti untuk menentukan peran faktor-faktor tersebut dalam terjadinya hipertensi.
Hipertensi sekunder dapat diakibatkan oleh penyakit renovaskuler, penyakit parenkim
ginjal, feokrotoma, hiperaldosteronisme primer, sindrom cushing, diabetes mellitus,
penyempitan aorta, penyakit neurologik, dan disfungsi kalenjar tiroid, hipofisis, atau
paratiroid.
27
Tatalaksana gizi klinik pada hipertensi (menurut Pedoman Tatalaksana Gizi
Klinik, Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia 2008). Tujuan
penatalaksanaan gizi pada penyakit hipertensi adalah untuk mengendalikan tekanan
darah, memperbaiki status gizi seperti menurunkan berat badan pada kegemukan,
mengurangi keluhan dan gejala (pendekatan simptomatik), mencegah komplikasi
seperti stroke, gagal jantung. Subjektif berdasarkan anamnesis tentang riwayat penyakit
umum dan riwayat gizi termasuk riwayat keturunan atau genetik (hipertensi esensial),
dan riwayat penyakit dahulu (hipertensi sekunder): obesitas (abdominal), penyakit
ginjal, hipertiroidisme, eklamsia, feokromositoma, hipertensi kehamilan. Riwayat
penggunaan obat: (kortikosteroid, obat KB), inhibitor MAO yang digunakan bersama
konsumsi tiramin. Keluhan utama berupa sakit kepala tegang otot, iritabilitas. Gaya
hidup ditanya pola makana khususnya makan makanan yang kaya garam dan lemak
jenuh, kebiasaan merokok, minum alkohol, kurang kegiatan fisik (sedentary life), stres,
defisiensi kalsium, magnesium serta kalium.

Secara objeltif dilakukan pemeriksaan fisik mulai keadaan umum, tanda vital,
pengukuran tekanan darah (>140/90 mmHg), denyut nadi memantul (bounding pulse)
dan keras, jantung ditemukan kardiomegali. Pemeriksaan antropometrik terdiri dari
tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh, lingkar perut, lingkar panggul, lemak
tubuh total, pemeriksaan Bio-electrical Impedance Analysis untuk mengetahui
komposisi tubuh. Pemeriksaan laboratorium hitung darah lengkap, kadar asam urat,
ureum dan kreatinin. Pemeriksaan fungsional dilakukan sesuai kondisi fiisik pasien.
Analisis asupan mencangkup dietary assessment, dietary history, jumlah dan jenis, foof
frequency questionnaire, pemeriksaan penunjang dengan EKG, foto roentgen toraks.

Diagnosis kerja, hipertensi esensial, sekunder, status gizi antropometrik apakah


obesiatas/normal/malnutisi: ringan/sedang/berat. Status metabolik apakah
hipometabolik, hipermetabolik. Komplikasi dapat stroke, serangan jantung koroner
(angina pektrosis, infark), gagal ginjal.

Perencanaan penatalaksanaan terapi nutrisi pada hipertensi dengan komposisi


nitrisi diet rendah garam. Memilih makan dengan kandungan garam rendah (<3
gr/hari). Asupan cairan yang cukup (1,5 – 2,0 lt/hari). Energi dihitung kebutuhan kalori
dengan memerhatikan proporsi makronutrien dengan komposisi karbohidrat 60%,
lemak 20%, protein 20%. Mikronutrien mengandung vitamin E, kalsium, kalium,
magnesium.

Metode pemberian nutrisi pada hipertensi dengan cara pemberian nutrisi oral,
dengan jadwal pemberian makanan pokok 3 kali perhari, makanan ringan 3 kali perhari,
dengan interval tiap 3 jam. Bentuk nutrisi bentuk makanan (per oral) makanan padat.
Monitoring dan evaluasi, monitoring sesuai dengan jalur pemberian nutrisi dan kondisi
pasien. Disesuaikan dengan cara pemeberian nutrisi, monitoring pada jalur pemberian
nutrisi enteral perlu penilaian residu cairan lambung dengan cara dinilai setiap 4 – 6
jam sampai tercapainya kecepatan pemberian yang diharapkan. Pemebrian dihentikan
selama 1 jam bila residu cairanlambung >1 – 1,5 kali kecepatan tetesan per jam
28
(feeding pump) atau residu >150 ml sebelum pemberian nutrisi enteral secara bolus atau
intermiten. Monitoring pada jalur pemberian enteral termasuk tanda vital dan berat
badan.

Monitoring pada jalur pemberian nutrisi parenteral (NPT) pada hipertensi


berdasarkan fungsi metabolik dengan pemeriksaan laboratorium dengan pengukuran
kadar elektrolit, kreatinin, BUN, hitung jenis sel darah, alkali fosfatase, asparat amino
transferase, bilirubin, albumin, prealbumin, kalsium, fosfat hdan magnesium diperiksa
pada saat dimulainya NPT dan 48 jam sesudahnya. Bila kadar parameter tersebut
normal maka pemeriksaan ulang dapat dilakukan secara mingguan, kecuali elektrolit
dan BUN diulang seminggu 3 kali. Pemeriksaan kadar glukosa darah setiap 6 jam
dalam 48 jam pertama dan setiap pagi sesudahnya. Pengukuran kadar trigliserida di
awal pemberian NPT pada 48 jam pertama, kemudian seminggu satu kali sesudahnya.
Monitoring pemberian nutrisi parenteral berdasarkan fungsi metabolik adalah
pengukuran berat badan untuk mengamati adanya kelebihan cairan. Untuk monitoring
mengetahui terpenuhinya kalori dan protein dimonitor perubahan berat badan
sedangkan untuk monitor perbaikan status protein diperiksa albumin darah, prealbumin,
transferin, dan RBP (Retinol Binding Protein). Berat badan juga secara umum monitor
keberhasilan NPT.

Evaluasi pemberian nutrisi pada hipertensii mulai dari penilaian keadaan umum
dengan pemeriksaan tekanan darah. Analisis asupan zat gizi, pola makan dengan
melakukan 24-hour food recalls serial dan pola aktivitas fisik. Selanjutnya penilaian
status gizi dengan perubahan berat badan. Penilaian status metabolik beurdasarkan
pemeriksaan laboratorium, seperti trigliserida, kolesterol LDL, kolesterol HDL,
kolesterol total.

Edukasi pemberian nutrisi mulai dengan penyuluhan dan pendidikan, selanjutnya


aktivitas fisik dan olahraga yang sesuai, manajemen stres termasuk relaksasi dan
meditasi, perubahan gaya hidup, kontrol dan berobat teratur.

II.12. Sistem Hematologi

Hematologi adalah cabang ilmu kesehatan yang mempelajari darah, organ


pembentuk darah dan penyakitnya. Asal katanya dari bahasa Yunani yaitu haima
artinya darah. Sistem imun adalah serangkaian molekul, sel dan organ yang bekerja
sama dalam mempertahankan tubuh dari serangan luar yang dapat mengakibatkan
penyakit, seperti bakteri,jamur dan virus. Kesehatan tubuh bergantung pada
kemampuan sistem imun untuk mengenali dan menghancurkankan serangan ini. jadi
kalo kelainan sistem imun berarti kemampuan untuk mempertahankan kekebalan
tubuh terganggu sehingga mudah diserang penyakit.
Sebelum bayi lahir, hatinya berperan sebagai organ utama dalam pembentukan
darah. Saat tumbuh menjadi seorang manusia, fungsi pokok hati adalah menyaring
dan mendetoksifikasi segala sesuatu yang dimakan, dihirup, dan diserap melalui kulit.
Ia menjadi pembangkit tenaga kimia internal, mengubah zat gizi makanan menjadi

29
otot, energi, hormon, faktor pembekuan darah, dan kekebalan tubuh. Yang
menyedihkan, umumnya kita hanya memiliki sedikit pemahaman tentang fungsi hati
yang sedemikian rumit, vital, dan bekerja tiada henti.

Pada lansia terjadi penurunan sensitivitas pada sistem imun. Hal tersebut
terjadi karena adanya penurunan kemampuan kelenjar-kelenjar imun seperti kelenjar
timus, kelenjar limfe dan kelenjar limpa. Pada kelenjar timus terjadi penurunan
ukuran organ seiring dengan bertambahnya usia seseorang, sehingga kemampuan
dalam mendiferensiasikan sel limfosit T menurun (Fatmah, 2010).

Pada lansia terjadi penurunan imunitas seluler. Penurunan kecepatan dalam


pembentukan limfosit T akan menyebabkan respon imun terhadap infeksi terganggu.
Jumlah total limfosit dalam darah tepi tidak menurun seiring pertambahan usia.
Penurunan jumlah sel imun yang responsif pada lansia diakibatkan oleh kegagalan sel
T menghasilkan interleukin-2 (Fatmah, 2010). Interleukin-2 merupakan limfosit yang
bersifat mitogenik, merupakan faktor penting yang berpengaruh pertumbuhan sel T,
mempunyai kemampuan meningkatkan respon imun seluler melalui aktivitas
sitotoksik limfosit T, serta aktivasi sel NK melalui interferon gamma maupun respon
humoral dengan meningkatkan sintesis dan sekresi antibodi (Darmojo, 2010).

II.13.PENILAIAN KEMANDIRIAN LANSIA (Sesuai Kasus)

 INDEKS KATZ

1. Mandi (ke kamar mandi, menggosok bagian tubuh, gosok gigi)


□ Tanpa bantuan
□ Dengan menggunakan bantuan tapi hanya untuk satu bagian tubuh (misalnya:
menggosok bagian punggung/kaki) (√)
o Dengan bantuan lebih dari satu bagian tubuh

2. Berpakaian (memakai dan melepaskan pakaian dan melakukannya dengan cepat)


□ Memakai pakaian komplit tanpa bantuan
□ Memakai pakaian tanpa bantuan, tapi kegiatan tertentu memerlukan asisten,
seperti: memakai/mengikat tali sepatu
o Memakai pakaian komplit dengan bantuan (√)

3. Toilet (pergi ke toilet, untuk BAB dan BAK, membersihkan diri sendiri serta
memakai baju/celana sendiri)
□ Dapat pergi ke toilet, membersihkan sendiri dan menata baju/celana tanpa
antuan sama sekali
o Membutuhkan bantuan untuk pergi ke toilet, membersihkannya, memakai
pakaian setelah eliminasi (√)
o Tidak bisa pergi ke toilet sendiri.

4. Pergerakan

30
□ Bergerak dari dan ke tempat tidur kursi tanpa bantuan/ asisten (mungkin bisa
juga dengan pegangan/ tongkat penyangga)
o Bergerak dari dan ke tempat tidur dengan bantuan/ asisten (√)
o Tidak dapat bergerak dari tempat tidur sama sekali

5. Continence
□ Dapat mengontrol saat BAK dan BAB dengan sendiri
o Kadang tidak dapat mengontrol saat BAK dan BAB sendiri (√)
o Membutuhkan bantuan serta supervisi untuk mengontrol BAK dan BAB atau
dengan penggunaan kateter

6. Makan
□ Makan sendiri tanpa bantuan
□ Makan sendiri tetapi membutuhkan bantuan untuk memotong makanan seperti
daging, sayur ataupun buah (√)
o Makan dengan bantuan/ makan melalui IV fluids/ tubes

Keterangan :
□ = mengindikasikan kemandirian
o = mengindikasikan ketegantungan

Hasil Penilaian :
Hasil penilaian terdalam klasifikasi E yaitu ketidaktergantungan dalam semua
fungsi tetapi tidak bisa mandi, berpakaian, toilet, dan satu fungsi lainnya.

 BARTHEL INDEKS

No. Aktifitas Dengan Tanpa Skor


Bantuan Bantua
n
1 Makan (jika makan harus dipotong terlebih 5 10 5
dahulu berarti memerlukan bantuan)
2 Bergerak dari kursi roda ke tempat tidur dan 5-10 15 5
kembali (termasuk duduk tegak di tempat
tidur)
3 Personal toilet (mencuci muka, menyisir 0 5 0
rambut, bercukur, membersihkan gigi)
4 Duduk dan berdiri dari toilet (cara 5 10 5
memegang pakaian, mengelap, menyiram
WC)
5 Mandi sendiri 0 5 0
6 Berjalan di permukaan yang berbeda (jika 10 15 10
tidak bisa berjalan penggunaan kursi roda)
7 Naik turun tangga 5 10 5
8 Berpakaian (termasuk didalamnya mengikat 5 10 5
tali sepatu mengencangkan dan
mengendorkannya)
9 Mengontrol BAB 5 10 5

31
10 Mengontrol BAK 5 10 5
Jumlah 45

Hasil penilaian :

Dari hasil penelitian lansia merupakan seseorang yang memiliki ketergantungan


berat.

Kriteria hasil :

- 0 - 20 = ketergantungan
- 21 - 61 = ketergantunan berat (sangat ketergantungan)
- 62 - 90 = ketergantungan moderat
- 91 - 99 = ketergantungan ringan
- 100 = mandiri

 MORSE FALL SCALE

NO PENGKAJIAN SKALA NILAI KET.


1. Riwayat jatuh: apakah lansia pernah jatuh Tidak 0 25
dalam 3 bulan terakhir? Ya 25

2. Diagnosa sekunder: apakah lansia memiliki Tidak 0 0


lebih dari satu penyakit? Ya 15

3. Alat Bantu jalan: 0


- Bed rest/ dibantu perawat 0
- Kruk/ tongkat/ walker 15
- Berpegangan pada benda-benda di sekitar 30
(kursi, lemari, meja)
4. Terapi Intravena: apakah saat ini lansia Tidak 0 0
terpasang infus? Ya 20

5. Gaya berjalan/ cara berpindah: 0


- Normal/ bed rest/ immobile (tidak dapat 0
bergerak sendiri)
- Lemah (tidak bertenaga) 10
- Gangguan/ tidak normal (pincang/ diseret) 20

6. Status Mental 0
- Lansia menyadari kondisi dirinya 0
- Lansia mengalami keterbatasan daya ingat 15

Total Nilai 25 Resiko


rendah

Keterangan :

32
Tingkatan Nilai MFS Tindak
Risiko an
Tidak berisiko 0 - 24 Perawatan dasar

Risiko rendah 25 - 50 Pelaksanaan intervensi pencegahan jatuh standar

Risiko tinggi ≥ 51 Pelaksanaan intervensi pencegahan jatuh risiko


tinggi

11.14 ASUHAN KEPERAWATAN


Seorang lansia laki-laki berusia 78 tahun beragama islam di Panti Jompo Sejahtera
post stroke dan afasia sejak 2 tahun yang lalu yang menyebabkan bicara klien menjadi
pelan dan lambat. Lansia tinggal di Panti Jompo. Hasil pengkajian perawat terhadap
care giver : lansia sering marah-marah dan melempar benda-benda di sekitarnya.
Lansia kesal jika petugas tidak paham apa yang diinginkan lansia. Care giver dan
petugas panti sering berkomunikasi dengan nada tinggi, cepat, berteriak dan
menggunakan kalimat yang panjang dengan posisi berdiri di samping lansia. Lansia
sudah mulai sulit berbicara dan mengungkapkan kata-kata. Lansia mengalami
kelumpuhan di extremitas kiri, sehingga banyak aktivitas lansia dibantu oleh care
giver. Makanan disajikan dipotong-potong kecil, lansia mampu makan walaupun agak
lambat; mandi, menggosok gigi dan berpakain dibantu, biasanya lansia didorong
dengan kursi roda ke kamar mandi, care giver mengatakan lansia memakai diapers
karena sudah tidak bias merasakan sensasi ingin berkemih atau BAB. Lansia
mengatakan sulit berjalan dan menggerakan tubuhnya. (Barthel Index : 45; Katz Indez
: E; MFS : 25). Care giver mengatakan lansia tidak mau mengikuti senam ataupun
kegiatan lain yang ada di panti. Lansia masih sering merokok jika temantemannya ada
yang merokok, apabila dilarang lansia melempar barang yang ada di dekatnya. Care
giver dan petugas panti sulit memahami komunikasi yang dilakukan lansia. Lansia
sejak muda sudah merokok dan seorang perokok berat. Lansia pernah jatuh dari kursi
roda 3 bulan yang lalu, saat berpindah dari kursi roda ke tempat tidur. Lansia
terpeleset karena lantai licin dan lansia gemar menggunakan sandal yang lebih besar
dari ukuran kakinya dan sol yang tipis. Lansia adalah lulusan SMP dan tidak memiliki
pekerjaan. Hasil pemeriksaan TTV : TD 180/100 mmHg; N : 89 x/mnt; S : 36,7o C;
RR : 13 x/mnt.

33
A. PENGKAJIAN
1. Identitas
Identitas pasien :
Nama : Tn. X
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Usia : 78 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : tidak bekerja
2. Keluhan utama
Lansia mengatakan sulit untuk menggerakan tubuh dan sulit berjalan sehingga
harus menggunakan kursi roda dan harus dibantu dalam melakukan aktivitas
sehari-hari oleh care giver dan petugas panti.

3. Riwayat penyakit sekarang


Tidak ada penyakit terkini yang di derita lansia

4. Riwayat penyakit dahulu


Tn.X memiliki riwayat post stroke dan afasia sejak 2 tahun yang lalu.

5. Riwayat penyait keluarga


Riwayat keluarga tidak ada memiliki riwayat penyakit keturunan

6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Keadaan umum lansia yang memiliki gangguan berbicara
b. Kesadaran : Compos Mentis
c. Tanda tanda vital : TD 180/100 mmHg; N : 89 x/mnt; S : 36,7o C; RR : 13
x/mnt

7. Pola fungsi kesehatan


a. Pola presepsi dan tata laksana hidup sehat :

34
Lansia lebih banyak diam, tidak mau mengikuti senam atau apapun kegiatan
yang ada di panti. Lansia juga masih sering merokok jika temannya ada yang
merokok.

b. Pola nutrisi dan eliminasi :


Lansia mampu makan tetapi makanan disajikan dan dipotong-potong kecil,
lansia memakai diapers karena sudah tidak bias merasakan sensasi ingin
berkemih atau BAB.

c. Pola sensori dan kognitif :


Lansia sering marah-marah dan melempar barang di sekitarnya, lansia kesal
jika petugas tidak memahami apa yang di inginkan oleh lansia, bicara lansia
pelan dan lambat akibat post stroke sehingga care giver sulit memahami.

B. DATA FOKUS

Data Subjektif Data Objektif


1. Lansia mengatakan jika usia nya 78 1. Lansia pernah jatuh dari kursi roda 3
tahun bulan yang lalu
2. Lansia mengatakan pernah jatuh dari 2. Lansia pernah terpeleset karena lantai
kursi roda licin
3. Lansia mengatakan jika ke kamar 3. Lansia gemar menggunakan sandal
mandi menggunakan kursi roda yang lebih besar dari ukuran kakinya
4. Lansia mengatakan tidak mau dan sol yang tipis
mengikuti senam/kegiatan lain yang 4. Lansia mengalami kelumpuhan
ada di panti ekstremitas kiri jadi aktivitas dibantu
5. Lansia mengatakan sulit untuk 5. Lansia post stroke
menggerakan tubuh 6. Aktivitas lansia di bantu oleh care
6. Lansia mengatakan sulit berjalan giver
7. Lansia mengatakan kesal jika petugas 7. Makanan lansia di sajikan dan
panti tidak memahami apa yang di dipotong kecil-kecil
inginkannya 8. Mandi, gosok gigi, dan berpakaian
8. Lansia mengatakan sulit lansia dibantu care giver
mengungkapkan kata-kata 9. Lansia menggunakan diapers

35
9. Lansia mengatakan sulit berbicara 10. Lansia sering marah-marah dan
melempar benda
11. Care giver dan petugas panti sering
berkomunikasi dengan nada tinggi,
cepat, dan berteriak
12. Bicara klien pelan dan lambat akibat
post stroke
13. Klien menderita afasia
14. Care giver dan petugas panti sulit
memahami komunikasi lansia
15. TTV : TD : 180/100 mmHg;
N : 89 x/mnt;
S : 36,7oC;
RR : 13 x/mnt.
16. Barthel Index : 45
17. Katz Indez : E
18. Morse Fall Scale (MFS) : 25

C. ANALISA DATA

Data Masalah
DS: Resiko Jatuh
1. Lansia mengatakan jika usia nya 78
tahun
2. Lansia mengatakan pernah jatuh dari
kursi roda
3. Lansia mengatakan jika ke kamar
mandi menggunakan kursi roda
DO:
4. Lansia pernah jatuh dari kursi roda 3
bulan yang lalu
5. Lansia pernah terpeleset karena lantai
licin

36
6. Lansia gemar menggunakan sandal
yang lebih besar dari ukuran kakinya
dan sol yang tipis
7. Lansia mengalami kelumpuhan
ekstremitas kiri jadi aktivitas dibantu
8. Morse Fall Scale (MFS) : 25
DS: Hambatan Mobilitas Fisik
1. Lansia mengatakan tidak mau
mengikuti senam/kegiatan lain yang
ada di panti
2. Lansia mengatakan sulit untuk
menggerakan tubuh
3. Lansia mengatakan sulit berjalan
DO:
4. Lansia post stroke
5. Aktivitas lansia di bantu oleh care
giver
6. Makanan lansia di sajikan dan
dipotong kecil-kecil
7. Mandi, gosok gigi, dan berpakaian
lansia dibantu care giver
8. Lansia menggunakan diapers
9. Barthel Index : 45
10. Katz Indez : E
DS: Hambatan Komunikasi Verbal
1. Lansia mengatakan kesal jika petugas
panti tidak memahami apa yang di
inginkannya
2. Lansia mengatakan sulit
mengungkapkan kata-kata
3. Lansia mengatakan sulit berbicara
DO:
1. Lansia sering marah-marah dan

37
melempar benda
2. Care giver dan petugas panti sering
berkomunikasi dengan nada tinggi,
cepat, dan berteriak
3. Bicara klien pelan dan lambat akibat
post stroke
4. Klien menderita afasia
5. Care giver dan petugas panti sulit
memahami komunikasi lansia
6. TTV : TD : 180/100 mmHg;
N : 89 x/mnt;
S : 36,7oC;
RR : 13 x/mnt.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko Jatuh
2. Hambatan Mobilitas Fisik
3. Hambatan Komunikasi Verbal

E. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Tujuan Rencana Kegiatan


Keperawata
Intervensi
n
1. Resiko Jatuh Setelah di lakukan tindakan Pembatasan Area (246)
keperawatan 3 x 24 jam di Panti 1. Pastikan bahwa tindakan pembatasan
Jompo Sejahtera, dengan tujuan dimulai (jika tingkatnya rendah,
menurunkan resiko jatuh pada pastikan bahwa hal ini tidak efektif)
lansia Tn.X dengan kriteria 2. Batasi pada area yang tepat
hasil: 3. Atur stimulus sensori dari manusia
1. Keparahan cedera fisik dan lingkungan
(128) 4. Gunakan alat pelindung dan tindakan
- Tidak ada memar 5. Sediakan tingkat supervise/surveilan

38
- Tidak ada fraktur yang tepat untuk memonitor pasien
pada ekstremitas dan mengizinkan adanya tindakan
- Tidak terjadi terapeutik
gangguan imobilitas 6. Sediakan bagi pasien kebutuhan fisik
- Tidak ada penurunan dan keamanan
kesadaran 7. Bantu pasien untuk memodifikasi
2. Kontrol resiko (248) perilaku yang tidak tepat saat
- Mengidentifikasi diinginkan
factor resiko Manajemen Lingkungan: Keselamatan (193)
- Menghindari 1. Identifikasi kebutuhan keamanan
paparan ancaman pasien berdasarkan fungsi fisik dan
kesehatan kognitif serta riwayat perilaku di
- Berpartisipasi dalam masa lalu
skrining masalah 2. Identifikasi hal-hal yang
kesehatan membahayakan di lingkungan
- Mengenali 3. Singkirkan bahan berbahaya dari
perubahan status lingkungan jika diperlukan
kesehatan 4. Modifikasi lingkungan untuk
- Mengenali meminimalkan bahan berbahaya dan
perubahan status beresiko
kesehatan 5. Sediakan alat untuk beradaptasi
3. Deteksi resiko (82) 6. Gunakan perlatan perlindungan
- Mengidentifikasi untuk membatasi mobilitas fisik
kemungkinan resiko Pencegahan Jatuh (274)
kesehatan 1. Identifikasi perilaku dan factor yang
- Melakukan skrining mempengaruhi resiko jatuh
sesuai waktu yang 2. Kaji ulang riwayat jatuh bersama
dianjurkan dengan pasien dan keluarga
- Manfaatkan sumber- 3. Identifikasi karakteristik dari
sumber untuk lingkungan yang mungkin
mengetahui resiko meningkatkan potensi jatuh
kesehatan pribadi 4. Monitor gaya berjalan
5. Kunci kursi roda, tempat tidur atau

39
branker selama melakukan
pemindahan pasien
6. Letakan bendaa-benda dalam
jangkauan yang mudah bagi pasien
7. Instruksikan pasien untuk memanggil
bantuan terkait pergerakan
8. Ajarkan pasien bagaimana jika jatuh,
untuk meminimalkan cedera
2. Hambatan Setelah di lakukan tindakan Peningkatan Mekanika Tubuh (341)
Mobilitas keperawatan 3 x 24 jam di Panti 1. Kaji pemahaman pasien mengenai
Fisik pada Jompo Sejahtera, dengan tujuan mekanika tubuh dan latihan
pasien Tn.X mampu melakukan pergerakan 2. Informasikan pada pasien tentang
di Panti fisik secara mandiri dan terarah struktur dan fungsi tulang belakang
Jompo pada lansia Tn.X dengan dari postur yang optimal untuk
Sejahtera kriteria hasil: bergerak dan menggunakan tubuh
1. Pergerakan (452) 3. Edukasi pasien mengenai bagaimana
- Mampu menggunakan postur (tubuh) dan
mengkoordinasi mekanika tubuh untuk mencegah
- Mampu melakukan injuri saat melakukan berbagai
pergerakan otot dan aktivitas
sendi 4. Bantu untuk menghindari duduk
- Adanya kinerja dalam posisi yang sama dalam jangka
pengaturan tubuh waktu yang lama
- Mampu bergerak 5. Bantu pasien melakukan latihan
dengan mudah fleksi untuk memfasilitasi mobilisasi
2. Keseimbangan (190) Pengaturan Posisi: Kursi Roda (307)
- Mampu 1. Berikan modifikasi atau peralatan
mempertahankan pada kursi roda untuk memperbaiki
keseimbangan dari masalah pasien atau kelemahan otot
posisi duduk ke 2. Tentukan jangka waktu yang sesuai
posisi berdiri untuk pasien tetap duduk di kursi
- Mampu roda, berdasarkan status kesehatan
mempertahankan 3. Instruksikan pasien mengenai

40
keseimbangan saat bagaimana cara berpindah dari
berdiri tempat tidur ke kursi roda, sesuai
- Ada keseimbangan kebutuhan
postur tubuh 4. Sediakan trapeze atau papan slide
3. Toleransi terhadap untuk membantu berpindah, sesuai
aktivitas (582) kebutuhan
- Adanya kemudahan 5. Instruksikan pasien mengenai
bernafas ketika bagaimana mengoperasikan kursi
beraktivitas roda, sesuai kebutuhan
- Adanya Terapi Latihan: Mobilitas (pergerakan) Sendi
keseimbangan (440)
kecepatan berjalan 1. Tentukan batasan pergerakan sendi
- Adanya kekuatan dan efeknya terhadap fungsi sendi
tubuh bagian atas 2. Tentukan level motivasi pasien untuk
- Adanya kekuatan meningkatkan atau memelihara
tubuh bagian bawah pergerakan sendi
3. Pakaikan baju yang tidak
menghambat pergerakan pasien
4. Bantu pasien mendapatkan posisi
tubuh yang optimal
5. Dukung latihan ROM aktif, sesuai
jadwal yang teratur dan terencana
3. Hambatan Setelah di lakukan tindakan Mendengar Aktif (223)
Komunikasi keperawatan 3 x 24 jam di Panti 1. Buat rujukan interaksi
Verbal pada Jompo Sejahtera, dengan tujuan 2. Tunjukkan ketertarikan kepada klien
pasien Tn.X adanya peningkaatan menerima, 3. Gunakan pertanyaan atau pernyataan
di Panti memproses, dan mengirim yang mendorong klien untuk
Jompo simbol pada lansia Tn.X dengan mengekspresikan perasaannya
Sejahtera kriteria hasil: 4. Focus penuh kepada interaksi yang
1. Komunikasi (229) terjalin
- Mampu 5. Dengarkan isi pesan maupun
menggunakan perasaan yang tidak terungkap selama
bahasa lisan percakapan

41
- Mampu mengenali 6. Sadari tempo suara, volume,
pesan yang diterima kecepatan maupun tekanan suara
- Mampu 7. Gunakan interaksi berkala untuk
menginterpretasi mengekspresikan arti dari perilaku
akurat terhadap klien
pesan yang diterima Peningkatan Komunikasi : Kurang
- Mampu melakukan Pendengaran (336)
pertukaran pesan 1. Dengarkan dengan penuh perhatian,
yang akurat dengan sehingga memberikan waktu yang
orang lain adekuat untuk pasien memahaminya
2. Memproses informasi 2. Tahan diri untuk berteriak kepada
(312) pasien
- Mampu memahami 3. Fasilitasi pembacaan bibir dengan
kalimat menghadap ke pasien langsung
- Mampu memahami dengan pencahayaan yang baik
cerita 4. Sederhanakan bahasa, dengan cara
- Mampu menunjukan yang tepat
proses piker yang 5. Gunakan suara yang rendah dan lebih
terorganisir dalam ketika berbicara
- Mampu menjelaskan Peningkatan Komunikasi : Kurang Bicara
perbedaan antara (335)
dua benda 1. Monitor kecepatan bicara, tekanan,
3. Kepuasan Klien : kecepatan, kuantitas, volume dan
Komunikasi (175) diksi
- Staf mendengarkan 2. Monitor proses kognitif, anatomis,
klien dan fisiologi terkait dengan
- Staf memberikan kekampuan bicara (mis. memori,
waktu ketika pendengaran, bahasa)
berkomunikasi 3. Monitor pasien terkait dengan
- Staf memberikan perasaan frustasi, kemarahan, depresi,
informasi yang atau respon lain disebabkan karena
mudah di pahami adanya gangguan kemampuan bicara
- Pertanyaan dijawab 4. Kenali emosi dan perilaku fisik

42
dengan lengkap (pasien) sebagai bentuk komunikasi
(mereka)

43
44
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Proses penuaan dapat ditinjau dari aspek biologis, sosial dan psikologik.
Teori-teori biologik sosial dan fungsional telah ditemukan untuk menjelaskan dan
mendukung berbagai definisi mengenai proses menua. Perawat harus memiliki
kemampuan untuk mensintesa berbagai teori tersebut dan menerapkannya secara total
pada lingkungan perawatan klien usia lanjut termasuk aspek fisik, mental/emosional
dan aspek-aspek sosial. Dengan demikian pendekatan eklektik akan menghasilkan
dasar yang baik saat merencanakan suatu asuhan keperawatan berkualitas pada klien
lansia.

Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak akibat tersumbat atau
pecahnya pembuluh darah otak. Stroke merupakan satu masalah kesehatan paling
serius dalam kehidupan modern saat ini. Jumlah penderita stroke terus meningkat
setiap tahunnya, bukan hanya menyerang mereka yang berusia tua, tetapi juga orang-
orang muda pada usia produktif.

Data penelitian mengenai pengobatan stroke hingga kini masih belum


memuaskan walaupun telah banyak yang dicapai, hasil akhir pengobatan kalau tidak
meninggal hampir selalu meninggalkan kecacatan. Agaknya pengobatan awal/dini
seperti pencegahan sangat bermanfaat, akan tetapi harus disertai dengan pengenalan
dan pemahaman stroke pada semua lapisan dan komjunitas dalam masyarakat

II.2 Saran

Masa tua adalah sesuatu yang akan dan harus dihadapi oleh setiap manusia,
untuk menjalani proses kehidupan mereka. Tidak ada satupun orang yang dapat
menghindarinya dan berusaha agar tetap dapat terlihat awet muda.Berbagai proses
harus dilewati, namun beberapa orang ada yang dapat melalui prosesnya dengan baik,
namun ada pula yang tidak cukup lancar. Ditinjau dari berbagai aspek dan sudut
pandang, dari segi fisik dan kejiwaan. Mencegah lebih baik daripada mengobati.
Istilah ini sudah sangat lumrah di kalangan kita. Oleh karena itu, untuk mencegah
terjadinya stroke, maka yang harus kita ubah mulai sekarang adalah pola hidup dan
pola makan yang sehat dan teratur. Jika kita membiasakan hidup sehat, maka kita
tidak akan mudah terserang penyakit.

45
Maka, perawat yang melakukan tindakan asuhan keperawatan pada berbagai
tingkatan usia harus dan wajib tahu bagaimana konidisi fisiologis pasiennya.
Termasuk pada usia lanjut. Semoga makalah ini dapat menjadi salah satu
referensinya. Baik sebagai acuan dalam pembelajaran, ataupun sebagai pedoman
dalam tindakan asuhan keperawatan pada klien usia lanjut.

46
DAFTAR PUSTAKA

1. Best Practices in Nursing Care to Older Adults, The Hartford Institute for Geriatric
Nursing, New York University, College of Nursing, www.hartfordign.org
2. Joyce M. Black dan Jane HokansonHawks edisi 8 buku 3
3. RISKESDAS, 2018. HASIL UTAMA RISKESDAS 2018, s.l.: s.n.
Venketasubramanian, N., Byung , W. Y., Pandian, J. & Navarro, J. C., 2017. Stroke
Epidemiology in South, East, and South-East Asia: A Review. Journal of Stroke ,
19(3), pp. 286-294.
4. Graf, C. (2006). Functional decline in hospitalized older adults. AJN, 106(1), 58-67.
5. Katz, S., Down, T.D., Cash, H.R., & Grotz, R.C. (1970) Progress in the development
of the index of ADL. The Gerontologist, 10(1), 20-30. Katz, S. (1983). Assessing self-
maintenance: Activities of daily living, mobility and instrumental activities of daily
living. JAGS, 31(12), 721-726.
6. Kresevic, D.M., & Mezey, M. (2003). Assessment of function. In M. Mezey, T.
Fulmer, I. Abraham (Eds.), D. Zwicker (Managing Ed.),
7. Geriatric nursing protocols for best practice (2nd ed., pp 31-46). NY: Springer
Publishing Co., Inc.
8. Mick, D.J., & Ackerman, M.H. (2004, Sept). Critical care nursing for older adults:
Pathophysiological and functional considerations. Nursing Clinics of North America,
39(3), 473-93.

47