Anda di halaman 1dari 23

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
1. Mahasiswa mampu dapat merencanakan, memasang, memperbaiki dan
mengetes rangkaian instalasi penerangan saklar tunggal dan saklar seri.
2. Mahasiswa mampu menggunakan alat ukur instalasi listrik sesuai dengan
standar Keselamatan kerja
1.2 Dasar Teori
1. Saklar 
Saklar adalah komponen listrik yang berfungsi sebagai pemutus dan
penyambung arus listrik dari sumber arus ke beban listrik pada rangkaian
listrik tertutup. Berbagai jenis saklar tersedia sesuai dengan fungsi, jenis
dan cara pemasangannya. Saklar sangat banyak macam dan jenisnya
misalnya: untuk keperluan instalasi penerangan, untuk tegangan tinggi,
instalasi tenaga dan banyak lagi jenisnya.
Saklar termasuk bahan jadi yang merupakan alat yang berfungsi untuk
menghubungkan dan memutuskan arus listrik dari sumber tegangan
menuju beban Karena fungsinya sebagai pemutus dan penyambung arus
listrik, saklar juga dapat digunakan sebagai komponen pengaman manual
pada sistem instalasi listrik. Dalam melakukan perbaikan instalasi beban,
seluruh sistem instalasi tidak perlu dimatikan. Anda cukup mematikan
saklar bebannya saja. Dengan catatan, saklar beserta instalasinya terpasang
dan bekerja dengan baik dan benar.
Saklar tunggal merupakan saklar yang mampu mengoperasikan hanya
satu kelompok lampu. Sedangkan untuk saklar ganda mampu
mengoperasikan dua kelompok lampu dan untuk saklar tiga kutub mampu
mengoperasikan tiga kelopok lampu dalam satu saklar. Saklar tunggal
terhubung lansung dari sumber tegangan begitu pula saklar ganda dan
saklar tiga kutub.
Saklar seri ini gunanya untuk memutuskan dan menghubungkan dua
buah kelompok lampu secara bergantian. Misalnya: Lampu yang terdapat
pada ruangan tamu dan lampu yang terdapat pada taman dapat hidup
sendiri-sendiri atau seluruhnya dihidupkan pada waktu bersamaan.

Gambar1.1 Saklar tunggal

Gambar 1.2 Simbol saklar tunggal

Gambar1.3 Saklar seri


2. Saklar Tunggal
Berbagai jenis saklar tersedia sesuai dengan fungsi, jenis dan cara
pemasangannya. Salah satunya adalah saklar tunggal yang digunakan
untuk menghidupkan dan mematikan satu buah atau satu kelompok beban
listrik, dalam hal ini adalah beban penerangan atau lampu listrik.Saklar
tunggal memiliki dua titik kontak. Masing-masing titik kontak
dihubungkan ke saluran fasa dan saluran masukan beban.

Gambar 1.5 Instalasi Saklar Tunggal


Berikut ini di gambarkan pemasangan saklar tunggal denagan satu titik
cahaya.
Karena fungsinya sebagai pemutus dan penyambung arus listrik,
saklar juga dapat digunakan sebagai komponen pengaman manual pada
sistem instalasi listrik. Dalam melakukan perbaikan instalasi beban,
seluruh sistem instalasi tidak perlu dimatikan. Anda cukup mematikan
saklar bebannya saja. Dengan catatan, saklar beserta instalasinya terpasang
dan bekerja dengan baik dan benar. Kasus yang sering ditemukan di
lapangan, pemasangan instalasi saklarjustru terbalik. Saklar terpasang pada
saluran netral beban dan beban terhubung langsung ke fasa.
Secara sederhana, saklar terdiri dari dua bilah logam yang menempel
pada suatu rangkaian, dan bisa terhubung atau terpisah sesuai dengan
keadaan sambung (on) atau putus (off) dalam rangkaian itu. Material
kontak sambungan umumnya dipilih supaya tahan terhadap kosrosi. Kalau
logam yang dipakai terbuat dari bahan oksida biasa, maka saklar akan
sering tidak bekerja. Untuk mengurangi efek korosi ini, paling tidak logam
kontaknya harus disepuh dengan logam anti korosi dan anti karat. Pada
dasarnya saklar tombol bisa diaplikasikan untuk sensor mekanik, karena
alat ini bisa dipakai pada mikrokontroller untuk pengaturan rangkaian
pengontrolan.
3. Saklar Seri
Saklar seri adalah sebuah saklar yang dapat menghubungkan dan
memustuskan dua lampu, atau dua golongan lampu baik secara bergantian
maupun bersama-sama. Saklar seri sering disebut pula saklar deret. Satu
buah saklar seri dalam instalasi penerangan pada umumnya digunakan
untuk mengoperasikan dua buah atau bebrapa lampu secara terpisah pada
satu tempat, baik lampu pijar maupun lampu tabung.
Saklar mempunyai banyak jenis dan tipe yang mempunyai berbagai
fungsi. Akan tetapi pada pembahasan disini kita hanya membahas tentang
saklar yang merupakn komponen pada instalasi listrik yang berfungsi
untuk menyambung dan atau memutuskan aliran listrik kebeban (dalam
hal ini lampu penerangan).Satu buah saklar seri dalam instalasi
penerangan pada umumnya digunakan untuk mengoperasikan dua buah
lampu atau beberapa lampu, baik lampu pijar maupun lampu tabung.
Kotak-kontak dipasang dalam system instalasi berfungsi untuk
menyediakan sumber tegangan listrik pada beban yang tidak tetap,atau
beban yang dapat dipindah-pindah.
4. Aturan Pemasangan
Pemasangan yang salah memang tidak menimbulkan kegagalan kerja
(hubung singkat/korsleting) pada sistem tersebut. Lampu dapat menyala
dan mati sesuai kerja saklar. Tapi hal ini dapat membahayakan orang lain
(bukan si pemasang instalasi) yang menganggap sistem instalasi tersebut
sudah terpasang dengan baik, benar dan aman. Misalnya, orang lain
tersebut memperbaiki instalasi fitting lampu secara langsung tanpa
memutuskan arus listrik dari sumber (PLN). Walaupun saklar tersebut
sudah dimatikan, pada saluran lampu sampai ke saklar masih terdapat arus
listrik.
Untuk memeriksa apakah saklar ini terpasang dengan instalasi yang
benar, anda dapat memeriksanya dengan menggunakan testpen. Dengan
saklar pada posisi hidup (on), periksalah kedua titik kontak saklar. Bila
kedua titik kontak saklar terdapat arus listrik, maka instalasi saklar yang
terpasang sudah benar. Namun bila kedua titik kontak saklar tidak terdapat
arus listrik, maka instalasi saklar yang terpasang salah.
A. Aturan pemasangan saklar:
1. Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai.
2. Dekat dengan pintu dan mudah dicapai tangan/sesuai kondisi
tempat.
3. Arah posisi kontak (tuas) saklar seragam bila pemasangan lebih dari
satu.
B. Aturan pemasangan stop kontak:
1. Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai, apabila kurang dari 150
cm harus dilengkapi tutup.
2. Mudah dicapai tangan.
3. Di pasang sedemikian rupa, sehingga penghantar netralnya berada
disebelah kanan atau di sebelah bawah.
BAB 2
METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan


1. KWh meter : 230 V, 2 kawat, 5(20) A, 20 Hz
2. Mcb : 1 phasa
3. Saklar tunggal : 10 A / 250 V, 49115PL
4. Saklar seri : 10 A / 250 V, 467AAPL
5. Kotak kontak : 16 A, 250 V, 48211PL
6. Lampu pijar : 100 watt, 220-240 V
7. Multi meter : Kyoritsu Kew Snap Model 2003A
8. Lampu TL : 18 watt
9. Kotak penghubung
10. Pipa PVC
11. Klem pipa PVC
12. Sekrup
13. Tool set
14. Kabel

2.2 Prosedur Keselamatan


1. Perhatikan setiap langkah kerja yang akan saudara kerjakan semua
harus sesuai dengan SOP (standart operasi prosedur)
2. Sebelum merangkai pastikan power dalam keadaan off atau mati
3. Periksa semua peralatan dan komponen dalam keadaan aman
digunakan.
4. Dalam melakukan pekerjaan rangkaian dilarang bercanda dan bercakap
yang tidak ada hubungannya dengan modul praktikum.
5. sebelum mencoba pastikan dicek terlebih dahulu dengan menghubungi
instruktur bengkel/ laboratorium.
2.3 Langkah Kerja
1. Rangkailah peralatan yang tersedia seperti pada gambar diagram garis
ganda dan power supply dalam keadaan terbuka.
2. Cek kembali hubungan terminal masing-masing peralatan dan sambungan
apakah sudah baik dengan peralatan ukur AVO meter.
3. Sebelum power supply di on - kan, yakinkan bahwa rangkaian sudah
benar dengan menanyakan pada instruktur.

2.4 Gambar Kerja

Gambar 2.1 Rangkaian saklar tunggal + seri


BAB 3
ANALISA DAN PEMBAHASAN

3.1 Latihan Soal


 Saklar Tunggal
1. Sebutkan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pemasangan
instalasi listrik!
2. Sebutkan persyaratan yang berhubungan dengan peralatan listrik dan
pemasangan instalasi listrik!
3. Sebutkan persyaratan yang harus dipenuhi instalasi listrik sebelum
digunakan!
4. Sebutkan gambar perencanaan instalasi listrik yang saudara ketahui!
5. Sebutkan langkah-langkah pemasangan saluran listrik dirumah baru!
Jawaban:

1. Peraturan yang berhubungan dengan pemasangan instalasi listrik


 Undang-undang dan Peraturan Keselamatan Kerja No. 1 tahun
1970.
 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 18 tahun 1972
tentang Perusahaan Umum Listrik Negara.
 Syarat-syarat Penyambungan Listrik (SPL) Dalam Peraturan
Menteri tahun 1978.
2. Syarat peralatan listrik dapat digunakan dalam instalasi listrik:
 Memenuhi ketentuan – ketentuan dalam PUIL 2000
 Mendapat pengesahan atau ijin dari instansi yang berwenang.
3. Sebelum boleh dipergunakan semua instalasi yang selesai di pasang
harus diperiksa dan diuji lebih dahulu sesuai dengan
ketentuanketentuan PUIL 2000.Ada beberapa jenis gambar yang harus
dikerjakan dalam tahap perancangan suatu proyek pemasangan
instalasi listrik penerangan dan tenaga yang baku menurut PUIL 2000.
Rancangan instalasi listrik terdiri dari:
 Gambar situasi adalah gambar yang menunjukkan dengan jelas
letak bangunan instalasi tersebut akan dipasang dan rencana
penyambungannya dengan jaringan listrik PLN
 Gambar instalasi meliputi:
a. Rancangan tata letak yang menunjukkan dengan jelas tata letak
perlengkapan listrik beserta sarana pelayanannya (kendalinya),
seperti titik lampu, saklar, kotak kontak, motor listrik, panel
hubung bagi dan lain-lain.
b. Rancangan hubungan peralatan atau pesawat listrik dengan
pengendalinya.
c. Gambar hubungan antara bagian-bagian dari rangkaian akhir,
serta pemberian tanda yang jelas mengenai setiap peralatan
atau pesawat listrik.
 Gambar diagram garis tunggal yang tercantum dalam diagram garis
tunggal ini meliputi:
a. Diagram PHB lengkap dengan keterangan mengenai ukuran
dan besaran nominal komponennya.
b. Keterangan mengenai jenis dan besar beban yang terpasang dan
pembaginya.
c. Ukuran dan besar penghantar yang dipakai.
d. Sistem pembumiannya.
4.

Gambar 3.1 Sebutkan gambar perencanaan instalasi listrik


5. Langkah-langkah pemasangan saluran listrik dirumah baru:
1. Membuat gambar perencanaan untuk jalur listrik, untuk rumah
baru yang dibangunn dari awal, rencanakanlah posisi sakelar,
stopkontak dan fitting lampu sebelum rumah dibangun karena
tahapan awal pemasangan listrik dilakukan setelah pemasangan
bata dan sebelum pemasangan plesteran tembok, saat itulah
dipasang pipa-pipa untuk kabel listrik pada dinding yang belum
diplester.
2. Pemasangan pipa untuk kabel listrik, pasanglah pipa kabel di
dinding yang belum diplester berikut tedusnya, tedus ini adalah
tempat untuk meletakkan sakelar atau stopkontak agar menempel
kuat di dinding tembok.Untuk dinding yang belum diplester maka
untuk pemasangan pipa ini plesterannya harus dilepas dulu dengan
cara dibobok menggunakan pahat, ukurlah ketinggian tedus yang
sesuai dengan kebutuhan.
3. Pemasangan kabel jalur utama, pemasangan jalur utama ini di
pasang mulai dari tempat keluarnya kabel dari MCB sampai ujung
stopkontak yang terakhir, jalur ini dipasang pada kayu plapon
melewati pipa listrik yang keluar dari tembok.
4. Penyambungan kabel lampu, sakelar, dan stopkontak. Sambunglah
semua kabel dengan benar dan aman,ukurlah panjang kabel
seoptimal mungkin, jangan sampai setelah dipasang ternyata tidak
mampu menjangkau sekrup terminal pada fitting lampu, sakelar
atau stopkontak, gunakanlah kabel yang sesuai dengan
peruntukannya.
5. Pemasangan saklar, dan stopkontak, pemasangan ini dilakukan
setelah pipa listrik sudah ditutup oles plesteran dan tembok sudah
rapi dicat, tutuplah setiap sambungan yang terbuka menggunakan
isolasi khusus untuk kabel listrik, pasanglah setiap ujung kabel
yang terpasang pada setiap sekrup terminal dengan kuat untuk
menghindari peerubahan letak yang mengakibatkan konsleting dan
tidak terkoneksinya arus listrik.
6. Pemasangan fitting lampu beserta lampunya, pasanglah fitting
lampu dengan kuat menempel di plapon karena fitting ini akan
menahan beban sebuah lampu, pakailah fitting yang sesuai dengan
jenis lampu yang akan dipasang karena setiap lampu mempunyai
panas yang berbeda-beda, fitting lampu yang terbuat dari bahan
plastik yang tipis mudah sekali meleleh oleh panas lampu.
7. Proses uji coba, cobalah nyalakan MCB diikuti menyalakan
seluruh lampu dan memasukkan steker alat elektronik ke setiap
stopkontak, pemasangan dianggap berhasil bila semua lampu
dapat dinyalakan dan dimatikan oleh sakelar secara normal dan
semua stopkontak dapat menyalakan/dipakai alat elektronik.
 Saklar seri
1. Persyaratan selain PUIL 2008 Tentang pemasangan instalasi listrik
2. Sebutkan bab pada PUIL yang menerangkan tentang pemasangan
saklar dan stop kontak
3. Sebutkan persyaratan pemasangan komponen listrik sebelum
digunakan
4. Sebutkan dan jelaskan arti SPLN dan LMK pada setiap komponen
listrik
5. Sebutkan persyaratan yang mendasari pemasangan instalasi listrik ada
gambar penempatan alat, single line diagram, diagram aliran arus
Jawaban:
1. Standar Nasional Indonesia 225:2011
2. Saklar: Sesuai yang tercantum pada PUIL 2000 (2.5.2.3) sebagai
persyaratan wajib instalasi, dan juga dijelaskan melalui gambar yang
tertera pada PUIL 2011 halaman 208. Disebutkan bahwa bagian yang
dapat bergerak, adalah bagian yang tidak bergerak pada waktu sakelar
dalam keadaan terbuka atau tidak menghubung. Begitu juga dengan
kedudukan kontak semua sakelar dalam satu instalasi harus seragam.
Misalnya sakelar akan menghubung jika tuasnya didorong keatas atau
tombolnya ditekan.
Stop kontak: Sesuai dengan persyaratan yang tertera pada PUIL 2000
(2.5.2.6), yang selanjutnya diperjelas dengan gambar yang bisa dikutip
pada PUIL 2011 halaman 205 dengan keterangan gambar pemasangan
kotak kontak. Dijelaskan bahwa kotak kontak fasa tungga, baik yang
berkutub dua maupun tiga harus dipasang sehingga kutub netralnya
ada disebelah kanan atau disebelah bawah kutub bertegangan.
3. Syarat dan pemasangan kabel, lampu, stop kontak, saklar, PHB,
saluran utama, MCB dan yang lain yang diatur dalam PUIL dalam
instalasi rumah tangga
a. Kabel
 Sebagai penghantar digunakan kabel berisolasi ganda (misalnya
NYM) yang terdiri atas dua atau tiga inti tembaga pejal dengan
penampang tiap intinya minimum 1,5 mm2.
 Kabel dicabangkan dalam kotak pencabangan dengan
penyambungan yang baik.
 Kabel lampu tidak boleh lebih kecil dari 0,5mm2.
 Kabel Listrik berpenghantar tembaga dan berisolasi PVC yang
terpasang secara permanen di dalam rumah harus dengan
ukuran minimal 2,5 mm2, berapapun jumlah daya listrik yang
terpasang dan hanya boleh dialiri listrik maksimal 10 A
b. Lampu
 Armatur penerangan, fiting lampu, lampu, dan roset harus dibuat
sedemikian rupa sehingga semua bagian yang bertegangan dan
bagian yang terbuat dari logam, pada waktu pemasangan atau
penggantian lampu, atau dalam keadaan lampu terpasang,
teramankan dengan baik dari kemungkinan sentuhan.
 Pada lampu tangan, sangkar pelindung, kait penggantung dan
bagian lain yang terbuat dari logam harus diisolasi terhadap fiting
lampunya.
 Armatur penerangan harus terisolasi dari bagian lampu dan fiting
lampu yang bertegangan.
 Armatur penerangan harus terisolasi dari penggantung dan
pengukuhnya yang terbuat dari logam, kecuali apabila
pemindahan tegangan pada bagian ini praktis tidak akan
menimbulkan bahaya.
 Armatur penerangan di tempat lembab, basah, sangat panas, atau
yang mengandung bahan korosi, harus terbuat dari bahan yang
memenuhi syarat bagi pemasangan di tempat itu dan harus
dipasang sedemikian rupa sehingga air tidak dapat masuk atau
berkumpul dalam jalur penghantar, fiting lampu, atau bagian
listrik lainnya.
 Seluruh bagian luar fiting lampu yang dipasang dalam ruang
berdebu, lembab, sangat panas, berisi bahan mudah terbakar, atau
mengandung bahan korosi, harus terbuat dari bahan porselin atau
bahan isolasi lain yang sederajat. Terlepas dari keadaan ruang
seperti disebutkan di atas, bagian luar fiting lampu yang
bertegangan lebih dari 300 V ke bumi, harus selalu terbuat dari
bahan porselin atau bahan isolasi lain yang sederajat.
 Armatur penerangan yang dipasang dekat atau di atas bahan yang
mudah terbakar harus dibuat, dipasang atau terlindung
sedemikian rupa sehingga bagian yang bersuhu lebih dari 90
tidak berhubungan dengan bahan yang mudah terbakar itu.
 Lampu dalam ruang yang mengandung bahan atau debu yang
mudah terbakar atau meledak harus dipasang dalam armatur
penerangan yang kedap debu.
 Lampu untuk penerangan luar dan dalam ruang dengan air tetes
harus kedap tetesan atau dipasang dalam armatur penerangan
yang kedap tetesan.
 Tutup roset dan kotak sambung untuk armatur lampu harus
mempunyai cukup ruangan sehingga kabel dengan terminal
penghubungnya dapat dipasang dengan baik.
 Tiap kotak sambung harus dilengkapi dengan penutup, kecuali
jika sudah tertutup oleh kap armatur, fiting lampu, kotak kontak,
roset, atau gawai yang sejenis.
 Bagian dinding atau langit-langit yang terbuat dari bahan mudah
terbakar dan berada di antara sisi kap armatur dan kotak sambung
harus ditutup dengan bahan yang tidak dapat terbakar.
 Perkawatan pada atau di dalam armatur harus terpasang dengan
rapi. Diameter kawat harus minimum 0,75 mm2 dan sedemikian
rupa sehingga kabel bebas dari gaya tarik dan kerusakan mekanik
yang mungkin terjadi. Perkawatan yang berlebihan harus
dihindarkan. Kabel harus dipasang sedemikian rupa sehingga
bebas dari pengaruh suhu yang melebihi kemampuannya.
 Armatur harus terbuat dari logam, atau bahan lain yang diizinkan
dan dibuat sedemikian rupa sehingga terjamin kekuatan dan
kekokohan mekaniknya. Pipa dan tempat masuknya harus dibuat
sedemikian rupa sehingga kabel dapat dengan mudah dipasang
dan dikeluarkan tanpa ada kemungkinan terjadinya kerusakan
pada bahan isolasi atau putusnya hubungan kabel.
 Konstruksi rumah armatur yang tertanam tidak boleh
menggunakan solder.
 Lampu randah dan lampu lantai boleh dihubungkan dengan kabel
berselubung karet yang diizinkan bila pengawatannya
ditempatkan bebas dari panas lampu.
c. Stop kontak
 Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai, apabila kurang dari
150 cm harus dilengkapi tutup.
 Mudah dicapai tangan.
 Di pasang sedemikian rupa, sehingga penghantar netralnya
berada disebelah kanan atau di sebelah bawah.
d. Saklar
 Tinggi pemasangan ± 150 cm di atas lantai.
 Dekat dengan pintu dan mudah dicapai tangan/sesuai kondisi
tempat.
 Arah posisi kontak (tuas) saklar seragam bila pemasangan lebih
dari satu.
e. PHB
 PHB harus ditata dan dipasang sedemikian rupa sehingga terlihat
rapi dan teratur, dan harus ditempatkan dalam ruang yang cukup
leluasa.
 PHB harus ditata dan dipasang sedemikian rupa sehingga
pemeliharaan dan pelayanan mudah dan aman, dan bagian yang
penting mudah dicapai.
 Semua komponen yang pada waktu kerja memerlukan pelayanan,
seperti instrumen ukur, tombol dan sakelar, harus dapat dilayani
dengan mudah dan aman dari depan tanpa bantuan tangga, meja
atau perkakas yang tidak lazim lainnya.
 Penyambungan saluran masuk dan saluran keluar pada PHB
harus menggunakan terminal sehingga penyambungannya
dengan komponen dapat dilakukan dengan mudah, teratur dan
aman. Ketentuan ini tidak berlaku bila komponen tersebut
letaknya dekat saluran keluar atau saluran masuk.
 Terminal kabel kendali harus ditempatkan terpisah dari terminal
saluran daya.
 Semua mur baut dan komponen yang terbuat dari logam dan
berfungsi sebagai penghantar, harus dilapisi logam pencegah
karat untuk menjamin kontak listrik yang baik.
 Ruang bebas pada PHB tegangan rendah, lebarnya harus
sekurang-kurangnya 0,75 m, sedangkan tingginya harus
sekurang-kurangnya 2 m.
 Posisinya setelah KWH Meter PLN
 Kalau rumah sederhana dengan daya 450 VA, umumnya
menggunakan PHB sederhana, dimana komponen PHB hanya
berupa 1 buah fuse/ sikring atau bisa juga MCB (Miniatur Circuit
Breaker),
 Jika rumah besar dengan daya 2.200 VA keatas, biasanya
menggunakan PHB Lengkap, dimana masing – masing MCB
melayani jenis beban yang berbeda.
f. Saluran utama
 Warna penghantar:
Fase : hitam atau merah
Netral : biru
PE : kuning strip hijau
 Penampang penghantar saluran utama (buntutan)minimal 4 mm²
dan sirkit akhir (line) minimal 2,5 mm²
g. MCB
 Memiliki ketahanan arus hubung pendek paling tidak sama besar
dengan arus hubung pendek yang mungkin terjadi dalam sirkit
yang diamankan.
 MCB yang dipasang memiliki standar SNI
h. LMK (Lembaga Masalah kelistrikan) dan SPLN (Standar PLN).
i. Gambar Penempatan Alat

Gambar 3.2 Gambar single line diagram


Gambar 3.2 Gambar Diagram Aliran Arus

3.2 Analisa Data


Dari praktikum yang telah dilakukan, didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 3.1 Hasil pengukuran saklar tunggal tanpa tegangan

No. Hubungan Instalasi Hasil Pengukuran

Semua Saklar OFF

1. L1 terhadap N 0

2. L1 terhadap PE 0

3. N terhadap PE 0

Semua Saklar ON

4. L1 tehadap N 0

5. L1 terhadap PE 0

6. N terhadap PE 0

7. L1 terhadap sakelar 1

8. Sakelar terhadap lampu 1

9. Lampu terhadap N 1
Keterangan:
0 = Tidak ada hubungan
1 = Ada hubungan
Tabel 3.2 Hasil pengukuran saklar tunggal dengan tegangan

No. Hubungan Instalasi Hasil Pengukuran (V)

L1 tehadap N
1. 219,4
2. L1 terhadap PE
124,4
3. N terhadap PE 86,3

4. Kotak-kontak 1 220,6

5. Kotak-kontak 2 221,1

3.3 Pembahasan
Pada praktikum saklar tunggal dan saklar seri ini, kami merangkai
rangkaian seperti yang ada pada gambar bab 2. Setelah rangkaian saklar
tunggal dan saklar seri sudah benar, kami melakukan pengamatan yang
terdiri dari dua kondisi yang berbeda. Pertama, mengamati rangkaian dalam
kondisi semua saklar mati dan yang kedua dalam keadaan semua saklar
hidup. Dari hasil praktikum yang telah kami lakukan dapat dianalisis dan
dibahas lebih lanjut beberapa hal berikut ini:

1. Pada saklar tunggal


Ketika pengukuran pada kondisi saklar off didapat hasil
pengukuran L1 terhadap N, L1 terhadap PE, dan N terhadap PE
seluruhnya bernilai nol. Pada saat pengukuran tanpa tegangan dan semua
saklar mati,tidak ada hubungan antara L1 terhadap N, L1 terhadap PE,
lampu terhadap N dan N terhadap PE. Hal ini disebabkan karena fungsi
dari sakelar sebagai pemutus tegangan/ hubungan. Jika terdapat
hubungan berarti terjadi kesalahan dalam rangkaian yang dapat
mengakibatkan kondisi tidak aman karena memungkinkan terjadinya
hubungan singkat atau short yang akan mengakibatkan MCB trip ketika
diberi tegangan.
Sedangkan pada kondisi semua saklar on hasil pengukuran
menunjukkan nilai yang berbeda. Nilai nol didapat pada semua
pengukuran L1 terhadap N, terhadap PE dan N terhadap PE. Nilai satu
didapat saat pengukuran, L1 terhadap saklar, saklar terhadap lampu, dan
lampu terhadap N.
Ketika dilakukan pengukuran dalam kondisi dengan tegangan
seluruh instalasi memiliki tegangan, namun nilainya tidak sama, seperti
yang ditunjukkan oleh hubungan instalasi L1 terhadap PE dan N
terhadap PE yang memiliki selisih nilai tegangan yang cukup besar
terhadap L1 terhadap N serta kotak – kontak 1, hal tersebut dapat
disebabkan karena pengaruh adanya induksi tegangan oleh L1 terhadap
PE dan N.
Penurunan tegangan paling besar yaitu saat pengkuran antara N
dengan PE dan L1 dengan PE, karena saat melewati PE tegangan
disalurkan ke tanah untuk itu saat pengukuran terjadi penurunan nilai
cukup besar yang semula bernilai 222,1 volt pada saat fase L1 terhadap
N kemudian menjadi 123,9volt saat fase L1 terhadap PE dan mengalami
penurunan lagi menjadi 92,3 volt pada fase N terhadap PE.
2. Pada saklar seri.
Ketika pengukuran pada kondisi saklar off didapat hasil
pengukuran L1 terhadap N, L1 terhadap PE, dan N terhadap PE
seluruhnya bernilai nol. Pada saat pengukuran tanpa tegangan dan semua
saklar mati, tidak ada hubungan antara L1 terhadap N, L1 terhadap PE,
lampu terhadap N dan N terhadap PE. Hal ini disebabkan karena fungsi
dari sakelar sebagai pemutus tegangan / hubungan. Jika terdapat
hubungan berarti terjadi kesalahan dalam rangkaian yang dapat
mengakibatkan kondisi tidak aman karena memungkinkan terjadinya
hubungan singkat atau short yang akan mengakibatkan MCB trip ketika
diberi tegangan.
Sedangkan pada kondisi semua saklar on hasil pengukuran
menunjukkan nilai yang berbeda. Nilai nol didapat pada semua
pengukuran L1 terhadap N terhadap PE, N terhadap PE, L1 terhadap
saklar, dan lampu terhadap N. Nilai 1 hanya didapat saat pengukuran
saklar terhadap lampu. Seharusnya nilai 1 didapatkan dari L1 terhadap
saklar, saklar terhadap lampu, dan lampu terhadap N. Mungkin ini
disebabkan oleh kesalahan manusianya, atau mungkin dari tegangannya
yang tidak sesuai engan rangkaian saklar seri.
Ketika dilakukan pengukuran dalam kondisi dengan tegangan
seluruh instalasi memiliki tegangan, namun nilainya tidak sama, seperti
yang ditunjukkan oleh hubungan instalasi L1 terhadap PE dan N
terhadap PE yang memiliki selisih nilai tegangan yang cukup besar
terhadap L1 terhadap N serta kotak – kontak 1, hal tersebut dapat
disebabkan karena pengaruh adanya induksi tegangan oleh L1 terhadap
PE dan N.
Penurunan tegangan paling besar yaitu saat pengkuran antara N
dengan PE dan L1 dengan PE, karena saat melewati PE tegangan
disalurkan ke tanah untuk itu saat pengukuran terjadi penurunan nilai
cukup besar yang semula bernilai 239,5 volt pada saat fase L1 terhadap
N kemudian menjadi 133,7volt saat fase L1 terhadap PE dan mengalami
penurunan lagi menjadi 100 volt pada fase N terhadap PE.
BAB 4
KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
beberapa hal penting sebagai berikut:
1. Pengukuran dengan kondisi tanpa tegangan dan seluruh saklar off
menghasilkan nilai nol karena L1 terhadap N, L1 terhadap PE, dan N
terhadap PE tidak saling berhubungan.
2. Pengukuran dengan kondisi tanpa tegangan dan seluruh saklar on
menunjukkan hasil yang berbeda dengan ketika kondisi off, antara L1
terhadap saklar dan saklar terhadap lampu,terdapat hubungan.
Sedangkan L1 terhadapa N, L1 terhadap PE, Lampu terhadap N dan N
terhadap PE tidak saling berhubungan.
3. Terjadi penurunan tegangan pada saat pengukuran fase L1 terhadap PE
dan fase N terhadap PE yang cukup jauh. Hal tersebut dikarenakan saat
melewati PE tegangan disalurkan ke tanah
DAFTAR PUSTAKA

Antonius Lipsmeir, Adolf Teml, Friedrich Tabellenbuch. Electrotechnic


Electronic.1989. Bronner and Daentler K G. Germany.

Horst Dieter, Tolle Erhard Vop. Technical Drawing for Electrical Engineering.
GTZ GmbH. Germany.

Michael Neidle, Ir. Sahat Pakpahan. Teknologi Instalasi Listrik. Lembaga


Penerbangan dan Amerika Serikat (LAPAN).1989. Erlangga. Jakarta.

P. Van Harten, E setiawan. Instalasi Listrik Arus Kuat 2.1985. Bina Cipta.
Bandung.

PUIL 2000. Persyaraan Umum Instalasi Listrik Indonesia. 1987. LIPI. Jakarta
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai