Anda di halaman 1dari 15

TAMBANG: PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK

BERBASIS FENOMENA SOSIAL


Aqsa Mulya
Universitas Sumatera Utara
aqsamulyalabu@gmail.com

ABSTRACT
Berangkat dari sebuah ide dan gagasan atas pengamatan terhadap salah satu fenomena sosial
budaya yaitu “tambang” melalui serangkaian kegiatan ilmiah bertujuan untuk menafsir ulang
fenomena tersebut dalam sebuah perlakuan musikal yang akan dikomunikasikan melalui
pengorganisasian unsur-unsur bunyi yang berasal dari unsur musik Melayu. Metode yang
dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu observasi terhadap perilaku
budaya, wawancara, merekam data audio visual kegiatan "Tambang". komposer bertindak
sebagai pengamat yang terlibat langsung dalam beberapa aktivitas sosial budaya. Teori yang
digunakan dalam penciptaan musik “Tambang” teori-teori musik, teori orkestrasi, teori
instrumentasi, teori ethno-sains Melayu termasuk menggunakan berbagai referensi terhadap
karya seni musik terdahulu.Hasil yang diperoleh dalam komposisi musik ini adalah: tafsiran
ulang fenomena sosial budaya mendayung "Tambang" (sampan) pada masyarakat di pesisir
Pangkalan Berandan dalam bentuk komposisi musik berjudul Tambang. Bentuk komposisi
musik tambang dibagi dalam tiga bagian utama yaitu dengan menafsirkan berbagai pola
kegiatan yang dirangkum berdasarkan dimensi waktu yang berjalan secara natural yaitu: 1)
Bentuk komposisi musik pada dimensi pagi hari. 2) Bentuk komposisi musik pada bagian
dimensi siang hari. 3) Pada bagian dimensi sore hari. Untuk menguatkan ilustrasi musikalnya
juga dibantu dengan mengunakan konsep intermedia menghadirkan puisi yang termotivasi
dari karya Amir Hamzah.

Kata kunci: penciptaan, karya seni musik, tambang

PENDAHULUAN

Karya seni merupakan hasil renungan manusia yang diwujudkan dalam bentuk karya
dengan menggunakan medium tertentu sesuai dengan bidangnya. Medium dalam bidang seni
rupa berbeda dengan medium bidang tari begitu pula berbeda dengan medium bidang musik
atau yang sering disebut dengan komposisi baru. Istilah komposisi adalah ilmu menyusun /
menata bunyi sehingga membentuk sebuah karya musik utuh. KBBI (2014) mengatakan
komposisi merupakan teknik menyusun karangan agar diperolehnya sesuatu yang indah.
Menurut Pande (2011:2) Komposisi diartikan sebagai susunan atau “rangkaian” dari medium
dan membentuk bagian- bagian komposisi, sehingga membentuk

25
satu kesatuan yang utuh. Jadi, komposisi adalah beberapa potongan yang disusun/dirangkai
menjadi sebuah karya musik untuk mencapai kesatuan keharmonisan yang indah.
Suku Melayu pada wilayah geo- political sumatera timur pada umum nya ber mastautin
di daerah pesisir,jika kita masuk lebih dalam pada kehidupan masyarakat melayu yang ber
mukim di pesisir Pangkalan Berandan, masyarakat pesisir yang pada umum nya berprofesi
sebagai nelayan, mempunyai alat transportasi yaitu sampan yang di gunakan sehari-hari
untuk beraktifitas seperti berangkat kesekolah, berbelanja, dan bersosialisasi kepada
masyaraklat sekitar, selain nelayan masyarakat pesisir pangkalan berandan ini ada juga
berprofesi sebagai pendayung sampan yang sering

26
mereka sebutdengan sebutan “tambang”, tambang ini adalah sebagai transportasi utama
masyarakat jika ingin berpergian karena tidak adanya akses daratan antara pulau perlis –
kelantan kedaratan pangkalan berandan, banyak sekali permasalahan dan beberapa hal yang tak
terduga yang terjadi dibalik fenomena dari sebuah alat transportasi yang sering mereka sebut
dengan istilah “ tambang” baik darisegi “tambang” sebagai sebuah alat tranportasi dan sosok
seorang pendayung “tambang” yang sampai saat ini setia melestarikan tradisi mendayung yang
di wariskan oleh leluhur tanpa sedikit pun terpengaruh tekhnologi “mesin” yang menawarkan
kemudahan.
Melihat fenomena-fenomena yang terjadi saat ini, muncul dalam niat dan terbesit dalam
pemikiran kami sebagai penata musik yang juga sebagai orang melayu, untuk berpartisipasi
melambangkan fenomena sosial dan budaya yang terjadi pada penarik sampan dan segala
bentuk hal yang berkembang dari sebuah alat transportasi yang bernama “tambang” ke dalam
bentuk bunyi-bunyian yang akan di tata dan di susun kedalam seni pertunjukan, sehingga akan
menjadi media komunikasi masyarakat yang tergolong masih muda/ anak muda, agar dapat
memahami bunyi-bunyian yang bermakna di dalam kehidupan. Sehingga dari beberapa
uraian fenomena sosial diatas, penata musik tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut
dalam sebuah karya musik yang berjudul “TAMBANG”.

METODE

Sampan sebagai sebuah objek yang diamati secara berulang-ulang dan terus menerus
kemudian ditafsir ulang melalui sebuah renungan, angan-angan dan imajinasi, maka objek yang
diamati diinterpretasikan dalam persepsi baru. Fakta dan realitas objeknya tak lagi dalam posisi
steril, netral dan bebas nilai, objek

27
sampan yang diamati mendapat pemaknaan dan nilai yang baru. Hal tersebut dapat ditafsir
ulang sesuai dengan stok penegetahuan dan pengalaman estetis yang dimiliki komposer dan
keinginannya untuk mewujudkan nilai baru dalam suatu pernyataan ekpresi musikal yang
dapat dikomunikasikan kepada orang lain.
Konsep ini juga tidak ingin terbius untuk menggunakan unsur musikal yang terlalu
mudah untuk diidentifikasi atau terlalu bersifat populer, atau terlalu terburu-buru dalam
proses penggarapannya, sehingga terkesan instan dan rendah nilai.
Konsep ini ingin lebih meluaskan ide penggarapannya pada unsur musikalnya seperti:
meluaskan pengolahan unsur timbre, ritem, maupun bentuk melodi dan harmoni yang lebih
dapat menampung berbagai idiom-idiom musikal dari berbagai latar belakang budaya musik
yang ada.
Dalam penerapan gagasan-gagasan materi komposisi musik, proses sungguh- sungguh
menjadi inti pokok keseriusan sebuah penciptaan karya musik. Waktu yang panjang,
ketekunan dan ketelitian dalam proses megkomposisi setiap bagian berkarya musik bertujuan
agar karya musik terhindar dari kesan “tempelan” atau “ tambal sulam” dari unsur musik
yang sudah ada. Dari keselurahan atas keseriusan konsep ini pengkarya lebih dapat belajar
untuk memberikan tanggung jawab seutuhnya terhadap penggarapan komposisi musik yang
dilakukan.

PEMBAHASAN

Ide yang bersifat musikal ini digarap dalam bentuk komposisi musik dengan judul
“Tambang”. Pada dasarnya komposisi musik ini untuk mengambarkan budaya mendayung
tambang (sampan) sebagai salah satu core kehidupan budaya masyarakat pesisir di Pangkalan
Berandan yang sudah diwariskan oleh pendahulu mereka secara turun temurun. Kompsisi
musik ini mengangkat sifat-sifat musikal

28
yang paling pundamental sebagai acuan materi bunyi. Sifat musik yang paling mendasar
tersebut adalah bebunyian dan ritem dalam resam Melayu. Budaya bebunyianresam Melayu ini
di olah menjadi sebuah ruang bunyi yang dipersembahkan untuk siapa saja yang ingin
mendengar atau menikmatinya. Dalam hal ini idiom bunyi dalam resam Melayu tersebut antara
lain adalah dengan Mengolah ritem senandung dan zapin sebagai dasar pola-pola ritem
komposisi musik. Melodi di olah dengan mendayagunakan pola-pola lagu foklore Melayu
Langkat dan modus molodi arabes. Akord iringan dalam komposisi dengan pendekatan musik
barat.
Tahap pelacakan dan pemilihan idiom bunyi
Pada tahap ini pengkarya melakukan beberapa langkah kegiatan antara lain:
a. Melakukan observasi menelusuri kegitan budaya Tambang guna memperoleh informasi
yang dibutuhkan menyangkut perolehan data idiom bunyi yang tersedia dilapangan
observasi.
b. Melakukan perekaman audio visual terhadap seluruh aktifitas keseharian budaya
mendayung Tambang
c. Menyeleksi hasil rekaman terhadap aktifitas mendayung sampan untuk dipilih sebagai
modal inspirasi kekaryaan musik.
d. Mengorganisir hasil seleksi rekaman bebunyian aktifitas mendayung Tambang sebagai
modal inspirasi kedalam file komputer musik.
Tahap mengkomposisi bunyi
Pada tahap ini pengkarya melakukan beberapa aktifitas yang berhubungan dengan
mengkomposisi sebuah karya musik
a. Merancang struktur bentuk komposisi musik menjadi beberapa bagian yang dapat mewakili
gambaran tentang fenomena budaya sampan dalam bentuk kompsisi musik, dan hal tersebut
didasarkan atas perolehan

29
data-data lapangan tentang aktifitas sampan pada masyarakat Melayu di wilayah
Pangkalan Berandan.
b. Merancang dan mengembangkan beberapa model ritem pada bagian atau pada tiap-tiap
frase komposisi musik dengan mengadobsi ritem-ritem budaya musik Melayu sebagai
dasar pembentukan komposisi musik (senandung, zapin)
c. Merancang, mengembangkan, dan menciptakan bentuk dasar melodi dan akrod iringan
pada tiap-tiap bagian atau prase komposisi musik yang ditafsir berdasarkan pola-pola
kebudayaan yang hadir ketika berlangsungnya aktifitas budaya sampan pada masyarakat
Melayu di Pangkalan Berandan. Adapun yang menjadi modal dalam pembentukan
melodi adalah dengan resam Melayu.
d. Melakukan finising atau menetapkan bentuk utuh komposisi musik tanpa adanya revisi
dan melakukan finalisasi karya musik yang siap untuk dipertunjukan dan
dipertanggungjawabkan.

Tahap instrumentasi dan pemilihan pemain


Pada tahap ini pengkarya melakukan beberapa kegiatan antara lain:
a. Menganalisis kebutuhan bunyi musikal yang dibutuhkan dalam komposisi musik
b. Memilih instrumen musik yang dapat mensuport kebutuhan bunyi musikal
c. Menentukan dan mengundang pemain musik yang butuhkan dan memiliki
kemampuan teknik bermain musik yang baik
d. Melakukan revisi atas kekurangan atau kekeliruan yang terjadi dalam penggunaan
instrumen musik
e. Melakukan penggantian pengurangan ataupun penambahan pemain atas ketidak
sesuaian yang terjadi dalam memenuhi kebutuhan komposis musik.

30
f. Memfinalisasi penggunaan instrumen dan pemain musik yang dibutuhkan dalam
komposisi musik.
1. Kelompok instrumen perkusi
- Gendang pak pung, 2 unit
- Marwas, 4 unit
- Floor drum, 5 unit
- Simbal, 2 unit.
2. Kelompok instrumen tiup
- Saleot, 1 unit
- Saluang, 1 unit
- Digirido, 1 unit.

3. Kelompok instrumen musik petik

31
Adapun instrumen musik yang digunakan adalah

- Gambus, 1 unit
4. Kelompok Voice
- Vocal (senandung), 1 orang
- Pembaca puisi, 1 orang
5. Kelompok String
- Biola elektrik, 1 unit
- Violin, 2 unit
- Viola, 2 unit
- Cello, 1 unit

Deskripsi bentuk komposisi musik


Bentuk komposis musik Tambang terdiri dari introduksi dantiga bagian
komposisi sebagai batang tubuh komposisi musik utuh. Tiap-tiap bagian komposisi musik
dibagi dalam beberapa motif dan prase yang diuraikan sebagi berikut: Introduction
Berdurasi 2 menit, dan terdapat visual effect menggunakan sketsa pada media OHP.
Menafsirkan sebagai gambaran peristiwa menghantar dimensi pasca subuh yang
menggambarkan kegiatan kelompok masyarakat penarik tambang dari mulai bangun tidur
dengan perilaku tersungut-sungut menghilangkan kantuk di pagi hari dan berupaya menjemput
harapan melalui doa sebagai awal kegiatan para penarik tambang. Notasi terlampir.
Bagian pertama (dimensi waktu pagi hari)
Pada bagian ini dimaksudkan untuk mengilustrasikan keadaan alam budaya dan perilaku
para pelaku tambang di pagi hari sebagai awal dimulainya kegiatan keseharian. Pada masa ini
mereka mulai menjemput asa dengan mempersiapkan segala keperluan kegiatan mendayung
tambang (sampan). Dari mulai keluar rumah menuju tangkahan dengan rasa kantuk yang masih
menyertai langkah mereka kemudian diubah menjadi rasa

32
semangat sebagai modal untuk menjemput rezekinya.
Sesampainya di tangkahan, kegiatan keseharian mereka sebagai petugas yang
mengoprasionalkan transportasi penyeberangan untuk masyarakat sekitarnyapun
mulai berjalan. Kesibukan lalu lalang penyeberangan berjalan dengan harmonis diantara
mereka dengan kondisi laut yang kadang tidak menentu.
Bentuk musikal pada prase pertama terdiri dari 3 bentuk yaitu :
1. Bentuk A, menggambarkan tentang langkah dan doa yang disampaikan kepada
Tuhan sebagai motivasi awal untuk menjemput rezeki. Menit ke-2 sampai menit ke-
4.
2. Bentuk B, menggambarkan kekhawatiran dalam perolehan rezeki yang belum tentu
dapat diraih. Menit ke-5 sampai menit ke-8.
3. Bagian C, menggambarkan harapan perolehan kebahagiaan atas rezeki yang akan
diraih sebagai puncak dari kegiatan tambang.Menit ke-9 sampai menit ke-12.
Bentuk komposisi musik pada bagian ini adalah kwartet string.Gagasan musikal yang
dituangkan adalah dengan mengadopsi pola ritem senandung, sistem harmoni diciptakan
dengan melakukan pendekatan musik Barat. Tehnik-tehnik

33
yang digunakan dalam kwartet string adalah tehnik pizzicato, glisando, aksentuasi, legato,
vibrato, dan dengan penggunaan long note(not panjang). Tempo pada bagian ini dipilih tempo
lento (tersungut-sungut/ seperti gerak orang mengantuk).Motif melodi yang diciptakan dengan
mengadobsi motif lagu-lagu folklore Melayu (resam Melayu) dan menggunakan modus arabes
(nahwan, bayati, saba). Ekspresi musikal menggunakan ritardando, kresendo, grand, piano,
ekpresi musikal dimaksud untuk menambah efek rasa dalam penghayatan suasana budaya yang
disampaikan melalui ide musikal.
Bagian kedua (dimensi waktu siang hari)
Pada bagian ini ingin mengilustrasikan suasana kondisi disiang hari yang berbeda dengan
suasana aktifitas kesibukan pagi hari para pendayung tambang. Dimana pada masa ini para
pendayung tambang lebih banyak memilih aktifitas di kedai kopi, sekedar bercengkrama antara
sesama pendayung tambang sembari mengamati kondisi arus laut yang kadang kala kurang
bersahabat, dan aktifitas menunggu para pengguna jasa penyeberangan yang ingin
menggunakan tambang mereka untuk menyeberang
Pada waktu siang hari biasanya arus laut terasa sulit untuk mereka lalui, karena arusnya
deras dan tambang terasa berat untuk dikayuh. Namun demikian, bagi mereka itu adalah salah
satu bagian yang harus mereka jalani walau tambang terasa berat untuk dikayuh. Hal ini sudah
menjadirutinitas yang mereka hadapi sebagai bagian dari tanggung jawab mereka dalam
menjalankan tugas menyeberangkan orang-orang yang mau berangkat pergi dan pulang.
Bagian dua terdiri dari 3 bentuk struktur, sebagai berikut:
1. Bentuk A, menggambarkan tentang suasana laut dengan kondisi arus yang mulai
pasang, dan ombak mulai meninggi, para pendayung tambang lebih

34
memilih menikmati suasana dermaga menanti jarangnya pengguna tambang untuk
menyeberang. Menit ke-13 sampai menit ke-20.
2. Bentuk B, menggambarkan suasana saling bercengkrama di antara sesama
pendayung tambang di kedai kopi sambil menanti para penumpang yang ingin
menyeberang. Pada bagian ini juga digambarkan kondisi pertarungan antara
tambang tradisional dengan tambang kekinian. Menit ke-21 sampai menit ke-33.
3. Bentuk C, menggambarkan penyampaian keinginan kelompok
pendayung tambang yang ingin mempertahankan budaya tambang tradisional
sebagai peninggalan leluhur mereka tidak tergusur oleh kapal modern yang
dilengkapi dengan mesin. Hal ini juga diperkuat dengan menyenandungkan
nyanyian folklore ber-resam Melayu. Menit ke-34 sampai menit ke-43.
Secara teknikal, bentuk ke dua dalam komposisi ini, komposer cenderung
menggunakan dominasi instrumen Perkusi dalam menggambarkan seluruh aktifitas
pendayung sampan dan situasi dinamika arus laut yang mereka hadapi serta dinamika
perseteruan antara keberadaan tambang tradisional dengan kapal modern. Rentak perkusi
dikomposisikan dengan menggunakan teknik Rampak dan Interlocking, menggunakan
pola irama
¾dan mengadobsi pola irama ritem joget, senandung, dan pola-pola unisono. Komponis
juga menggunakan teknik sambung rapat untuk mengantisipasi kekurangan-kekurangan yang
bisa saja terjadi pada komposisi ini. Perkusi diiringi oleh bebunyian yang bersifat low
frekwensi dengan meminjam instrumen digiridodan berbagai aksesoris perkusi

35
seperti maracas, shacker, tamborin, water bamboo.Dalam menguatkan nuansa kehadiran resam
Melayu Langkat, komposer meminjam potongan lagu Patam-patam yang bukan karya orisinal
komposer.
Bagian ketiga (dimensi waktu sore hari) Pada bagian ini, komposer
mengilustrasikan situasi rasa para pendayung tambang yang mulai ingin kembali
keperaduan, menghantarkan perolehan rezeki dengan rasa penuh haru syukur
membawa segudang pengalaman keseharian mereka dalam menghadapi
stuasi sosial dan menghadapi alam budaya melaut diatas tambang. Tambang sebagai sebuah
bahtera kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai kearifan para leluhur mereka. Segudang
cerita terbawa laku mereka bersama keringat yang mengering dihembus bayu. Rasa terbayar
letih bukan karena banyaknya rupiah yang dihasilkan, tetapi karena senangnya hati masih dapat
menjalani peninggalan budaya leluhur yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang
Melayu yang menjaga Melayunya
agar tidak hilang tergerus zaman.
Bagian ke tiga ini terdiri dari 3 bentuk
1. Bentuk A, menggambarkan kondisi alam dan situasi kesibukan lalu lalang arus
transportasi laut di sekitar Pesisir Pangkalan Berandan sebagai situasi penutup di sore
hari. Menit ke-44 sampai menit ke-50.
2. Bentuk B, menggambarkan kondisi para pendayung tambang yang mulai
mempersiapkan diri untuk menyelesaikan kegiatannya, tersirat perilaku terburu-
buru untuk segera menyelesaikan tugasnya sebagai pendayung tambang dengan rasa
semangat yang tinggi dan tetap penuh keceriaan. Menit ke-51 dampai menit ke-57.
3. Bentuk C, menggambarkan sikap persiapan akhir menutup kegiatan mendayung
tambang

36
dengan penuh semangat dan rasa syukur serta tetap memelihara motivasi yang
tinggi dalam menjalankan tugasnya di esok hari yang penuh
pengharapan. Menit ke-58 sampai menit ke 64.
Secara teknikal, pada bagian ini,ditransformasikan pengabungan kwartet string dengan
ansambel perkusi. Kwartet string dan perkusi secara keseluruhan mengadopsi pola ritem
zapin, mengunakan modus melodi arabes dengan tehnik glisando, morten, aksen, vibrato dan
unisono dalam menciptakan resam Melayu sebagai rasa mahakarya yang telah ditinggalkan
sebagai warisan budaya Melayu. Untuk menguatkan ilustrasi musikalnya juga dibantu dengan
mengunakan konsep intermedia menghadirkan puisi yang termotivasi dari karya Amir
Hamzah, sastrawan kebanggan Langkat. Pada bagian ini, komposer meminjam potongan lagu
folklore Srilangkat sebagai penghantar suasana alam sosial budaya Melau Langkat.

PENUTUP

Sebagai penutup, pada bagian ini dideskripsikan kesimpulan dari seluruh pembahasan
dan penjabaran secara teknis, karya musik yang berjudul Tambang. Berangkat dari sebuah ide
dan gagasan atas pengamatan terhadap salah satu peristiwa sosial budaya yaitu “tambang”
melalui serangkaian kegiatan ilmiah bertujuan untuk menafsir ulang fenomena tersebut dalam
sebuah perlakuan musikal yang akan dikomunikasikan melalui pengorganisasian unsur-unsur
bebunyian yang berakar atas unsur resam budaya Melayu. Metode pengkaryaan yang penulis
lakukan dalam hal ini adalah melaksanakan beberapa tahapan sepertipelaksanaan observasi
dan pengamatan prilaku budaya tambang, melakukan wawancara, melakukan perekaman data
audio visual budaya tambang. Pengkarya musik bertindak

37
sebagai pengamat yang terlibat langsung dalam beberapa aktifitas sosial budaya. Data-
data lapangan kemudian diolah di laboratorium musik dengan menyeleksi data dan
mengorganisasikan data yang bersifat ilmu pengkaryaan musik, dalam konteks lintas
disiplin ilmu pengkajian dan penciptaan seni. Untuk mengkaji persoalan dalam
pengkaryaan seni musik pada karya ini digunakan teori yang dianggap relepan dalam
membantu mengupas masalah yang ada seperti menggunakan teori teori bunyi, teori
orkestrasi. Teori instrumentasi, teori etnosain Melayu termasuk menggunakan berbagai
rujukan pembicaraan terhadap karya seni musik terdahulu.
Hasil yang diperoleh dalam penciptaan karya seni musik ini adalah: menafsir
ulang fenomena sosial budaya mendayung Tambang (sampan) pada masyarakat di pesisir
Pagkalan Berandan dalam bentuk perbuatan karya musik yang utuh berjudul Tambang.
Bentuk komposisi musik tambang dibagi dalam tiga bagian utama yaitu dengan
menafsirkan berbagai pola kegiatan yang dirangkum berdasarkan dimensi waktu berjalan
sesuai kodrat alamnya yaitu yaitu: 1) bentuk musik yang mengiterpretasikan bentuk
aktifitas pada dimensi waktu pagi hari, 2) bentuk aktifitas siang hari, 3) bentuk aktifitas
dimensi sore hari.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Banoe, Panoe. 2007. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius.
[2] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. KBBI. Jakarta: Balai Pustaka.
[3] Harjana, Suka., 2004. Antara Kritik dan Apresiasi. Jakarta: Kompas.
[4] Hasbullah, Muklis. 2008. Inspirasi

38
Urban. Deskripsi Karya Program Magister Program Studi Penciptaan Seni
Program Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Surakarta.
[5] Ginting, Pulumun Petrus.2009. Senggulat Mbacang. Deskripsi Karya Program
Magister Program Studi Penciptaan Seni Program Pasca Sarjana Institut Seni
Indonesia Surakarta.
[6] Piston, Walter. 1955. Orchestration. New York: W. W. Norton & company.
[7] Piston, Walter. 1978. Harmony. New York: McGraw Hill, inc.
[8] Prier SJ, Karl Edmund. 2009. Kamus Musik. Yogyakarta : Pusat Musik Liturgis.
Sugiharto, Bambang. 2013. Untuk Apa Seni?. Bandung: Pustaka Matahari
[9] Sukerta,Made Pande. 2011. Metode Penyusunan Karya Musik. Surakarta: ISI
Press Solo.
[10] Suroso, Panji. 2008, “Otak Atik Gatuk: sebuah pengkaryaan komposisi musik,
Jurnal Bahas, FBS-UNUMED,
Vol. 8
[11] Takari, Muhammad. 2015. Joget rumpun melayu: persebaran,akar budaya,
dan fungsi sosial dan strukturnya. Medan : USU Press.
[12] Sinar, Tengku Luckman. 1994. Jatidiri Melayu. Medan: Majelis Adat Budaya
Melayu Indonesia.
[13] Pelly, Usman. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi
BudayaMinangkabau dan Mandailing. Jakarta: LP3ES.
[14] http://eprints.uny.ac.id/8354/3/bab%20 2%20-%2008306141027.pdf

39