Anda di halaman 1dari 24

ALAT INDUSTRI KIMIA

PROSES POLIMERISASI

Disusun Oleh :

Kelompok 9 :
Vera Aisyah Sitanggang ( 122017026 )
Aisyah Amini Reformis Intelekta ( 122017032 )
Windi Wulandari Rahmi ( 122017035 )
M. Adi Putra Firdaus ( 122017064 )

Dosen Pembimbing :
Netty Herawati S.T, M.T

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MUHAMMADUYAH PALEMBANG
2018
Kata Pengantar

Puji syukur tercurah kepada Allah SWT atas taufik, hidayah, berkat dan
rahmat-NYA. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada suri tauladan
kita Rasullulah SAW, keluarganya, sahabat nya serta para pengikut nya hingga
akhir zaman.
Alat Industri Kimia ini adalah mata kuliah dengan bobot 3 SKS yang
terdapat pada mata kuliah Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Muhammadiyah Palembang.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dan berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuh nya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dosen pembimbing
2. Semua pihak

Palembang, 10 Desember 2018

Penulis

2
Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................... 2

Daftar Isi.............................................................................................................. 3

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...................................................................................... 4


B. Rumusan Masalah ................................................................................. 4
C. Tujuan ................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Polimerisasi ......................................................................... 5


B. Jenis-jenis polimer ................................................................................ 6
C. reaksi polimerisasi ................................................................................ 8
D. teknik polimerisasi ................................................................................ 13

BAB III Penutup

A. Kesimpulan ........................................................................................... 22

Daftar Pustaka ..................................................................................................... 24

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Polimer merupakan sebuah material yang dibutuhkan untuk memenuhi


kebutuhan hidup sehari-hari manusia. Polimer adalah senyawa yang
bermassa molekul relatif besar dan terdiri atas monomer-monomer. Polimer dapat
dijumpai dalam bermacam-macam alat kebutuhan misalnyabotol, tali, plastik,
teflon, dan lainnya. Penggunaannya semakin digemari karena sifatnya yang ringan,
tahan korosi, beberapa bahan relatif tahan asam, beberapa bahan relatif tahan
sampai temperatur tinggi, dan kuat.

Polimer, merupakan ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari. Polimer


merupakan ilmu yang sangat dinamis. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan
pengetahuan yang baik tentang konsep-konsep dasar polimer, guna dapat
memahami dan mengembangkan ilmu polimer. Selanjutnya, konsep dasar
tersebut dapat dikembangkan untuk mengukur dan menganalisis bobot molekul
polimer. Teknik pemisahan dan pengukuran sampel polimer merupakan
pengetahuan yang tidak kalah pentingnya untuk dikuasai.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah makalah ini adalah :
1) Apa pengertian Polimerisasi ?
2) Sebutkan jenis-jenis polimer ?
3) Sebutkan dan jelaskan reaksi polimerisasi ?
4) Sebukan dan jelaskan teknik polimerisasi ?

C. Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah :
1) Mengetahui apa yang dimaksud dengan polimerisasi
2) Dapat mengetahui jenis-jenis polimer
3) Dapat mengetahui dan mengerti reaksi polimerisasi
4) Dapat mengetahui dan mengerti teknik polimerisasi

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Polimerisasi

Polimerisasi adalah proses bereaksi molekul monomer bersama dalam


reaksi kimia untuk membentuk tiga dimensi jaringan atau rantai polimer.
Polimerisasi digolongkan ke beberapa sistem: sistem adisi-kondensasi dan sistem
pertumbuhan rantai bertahap. Bentuk lain dari polimerisasi adalah polimerisasi
membuka cincin yang serupa dengan polimerisasi rantai.polimer alamiah
mencakup protein seperti sutera,enzim dan serat otot. polimer disebut juga
makromolekul. Polimer adisi contohnya: polietilena,teflon,PVC,PVA,dan PMMA.
Polimer kondensasi contohnya :nilon, kevlar, silicon rubber, dan poliester.

Dua jenis utama dari reaksi polimerisasi adalah polimerisasi adisi dan
polimerisasi kondensasi. Jenis reaksi yang monomernya mengalami perubahan
reaksi tergantung pada strukturnya. Suatu polimer adisi memiliki atom yang sama
seperti monomer dalam unit ulangnya, sedangkan polimer kondensasi mengandung
atom-atom yang lebih sedikit karena terbentuknya produk sampingan selama
berlangsungnya proses polimerisasi.

Meskipun istilah polimer lebih populer menunjuk kepada plastik, tetapi


polimer sebenarnya terdiri dari banyak kelas material alami dan sintetik dengan
sifat dan kegunaan yang beragam. Bahan polimer alami seperti shellac dan amber
telah digunakan selama beberapa abad. Kertas diproduksi dari selulosa, sebuah
polisakarida yang terjadi secara alami yang ditemukan dalam tumbuhan.
Biopolimer seperti protein dan asam nukleat memainkan peranan penting dalam
proses biologi.

Reaksi Polimerisasi, Pembentukan Polimer, Adisi, Radikal Bebas, Ion,


Kondensasi, Kimia - Carothers, pakar kimia USA menggolongkan mekanisme
polimerisasi ke dalam dua golongan, yaitu polimerisasi adisi dan polimerisasi
kondensasi. Polimerisasi adisi melibatkan reaksi rantai. Penyebab reaksi rantai
dapat berupa radikal bebas atau ion. Polimerisasi adisi terjadi pada senyawa yang
memiliki ikatan rangkap, seperti etena.

5
Polimerisasi kondensasi adalah reaksi dua molekul bergugus fungsi lebih
dari satu menghasilkan molekul besar dengan gugus fungsi yang juga lebih dari satu
diikuti penyingkiran molekul kecil.

B. Jenis-jenis Polimer
a) Jenis polimer berdasarkan sumbernya

 Polimer alam,
yaitu polimer yang terdapat di alam. Contoh:

 Polimer sintetis,

yaitu polimer yang tidak terdapat di alam. Contoh:

b) Jenis polimer berdasarkan monomer penyusunnya\


 Homopolimer,
yaitu polimer yang tersusun dari satu jenis monomer. Contoh: polietilena (etena),
polipropilena (propena), polistirena (stirena), PVC (vinil klorida), PVA (vinil
asetat), poliisoprena (isoprena), dan PAN (akrilonitril).

6
 Kopolimer,
yaitu polimer yang tersusun dari dua jenis atau lebih monomer. Contoh: nilon 6,6
(heksametilendiamina + asam adipat), dakron (asam tereftalat + etilena glikol),
SBR (stirena + butadiena), dan ABS (akrilonitril + butadiena + stirena).

c) Jenis polimer berdasarkan sifatnya


 Termoplas
yaitu polimer yang melunak jika dipanaskan, dan dapat dicetak kembali menjadi
bentuk lain. Sifat ini disebabkan oleh struktur termoplas yang terdiri dari rantai-
rantai panjang dengan gaya interaksi antar molekul yang lemah. Sifat-sifat lain dari
termoplas adalah ringan, kuat, dan transparan. Contoh termoplas adalah polietilena,
polipropilena, PET, dan PVC.

 Termoset
yaitu polimer yang memiliki bentuk permanen dan tidak menjadi lunak jika
dipanaskan. Sifat ini disebabkan oleh ada banyaknya ikatan kovalen yang kuat
antara rantai-rantai molekul. Pemanasan termoset pada suhu yang terlalu tinggi
dapat memutuskan ikatan-ikatan tersebut dan bahkan membuat termoset menjadi
terbakar. Contoh termoset adalah bakelit dan melamin.
 Elastomer
yaitu polimer yang elastis; bentuknya dapat diregangkan, namun dapat kembali ke
bentuk semula setelah gaya tariknya dihilangkan. Elastisitas ini disebabkan oleh
struktur elastomer yang terdiri dari rantai-rantai yang saling tumpang tindih dengan
adanya ikatan silang (cross-link) yang akan menarik kembali rantai-rantai tersebut
kembali ke susunan tumpang tindihnya. Contoh elastomer adalah karet alam
(poliisoprena) dan karet sintetis SBR.

d) Berdasarkan jumlah rantai karbonnya


1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)
5 ~ 11 Cair (bensin)
9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah
16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)
25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)
1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)

7
C. Reaksi Polimerisasi

Reaksi pembentukan polimer dari monomernya disebut reaksi polimerisasi.


Reaksi polimerisasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

a) Polimerisasi Adisi

Polimerisasi adisi terjadi dalam tiga tahap, yaitu pemicuan, perambatan, dan
pengakhiran. Oleh karena pembawa rantai dapat berupa ion atau radikal bebas maka
polimerisasi adisi digolongkan ke dalam polimerisasi radikal bebas dan
polimerisasi ion.

a) Radikal Bebas

Radikal bebas biasanya dibentuk melalui penguraian zat kurang stabil


dengan energi tertentu. Radikal bebas menjadi pemicu pada polimerisasi. Zat
pemicu berupa senyawa peroksida, seperti dibenzoil peroksida dan
azodiisobutironitril.

Gambar 1. Dibenzoil peroksida mudah menjadi radikal bebas.


Jika radikal bebas dinyatakan dengan R• dan molekul monomer dinyatakan
dengan CH2=CHX maka tahap pemicuan dapat digambarkan sebagai berikut.

R• + H2C = CHX → R – CH2 – CHX•

Tahap perambatan adalah perpanjangan (elongasi) radikal bebas yang


terbentuk pada tahap pemicuan dengan monomer-monomer lain:

8
R – CH2 – CHX• + CH2=CHX → R – CH2 – CHX – CH2 – CHX•
Tahap pengakhiran dapat terjadi dengan cara berikut.

atau melalui reaksi disproporsionasi:

Laju polimerisasi dapat dikendalikan dengan menggunakan zat penghambat


(inhibitor) dan pelambat (retarder). Penghambat bereaksi dengan radikal bebas
ketika radikal bebas terbentuk. Polimerisasi tidak akan berlanjut sebelum seluruh
zat penghambat habis terpakai.
Kuinon dapat bertindak sebagai zat penghambat bagi banyak sistem
polimerisasi sebab kuinon bereaksi dengan radikal bebas menghasilkan radikal
yang mantap akibat resonansi. Radikal bebas yang mantap ini tidak dapat memicu
polimerisasi lebih lanjut.
Zat pelambat yang biasa digunakan adalah gas oksigen. Gas ini kurang
reaktif dibandingkan dengan penghambat. Cara kerja zat pelambat adalah melalui
persaingan dengan monomer untuk bereaksi dengan radikal bebas sehingga laju
polimerisasi menurun. Persamaannya:

b) Polimerisasi Ionik

Polimerisasi adisi dapat terjadi melalui mekanisme yang tidak melibatkan


radikal bebas. Dalam hal ini, pembawa rantai dapat berupa ion karbonium
(polimerisasi kation) atau ion karbanion (polimerisasi anion). Dalam polimerisasi
kation, monomer pembawa rantai adalah ion karbonium. Katalis untuk reaksi ini
adalah asam Lewis, seperti AlCl3, BF3, TiCl4, SnCl4, H2SO4, dan asam kuat lainnya.

Polimerisasi radikal bebas memerlukan energi atau suhu tinggi, sebaliknya


polimerisasi kation paling baik dilakukan pada suhu rendah. Misalnya, polimerisasi
2–metilpropena berlangsung optimum pada –100 oC dengan adanya
katalis BF3 atau AlCl3.

9
Polimerisasi kation terjadi pada monomer yang memiliki gugus yang mudah
melepaskan elektron. Dalam polimerisasi yang dikatalis oleh asam, tahap pemicuan
dapat digambarkan sebagai berikut.

HA adalah molekul asam, seperti HCl, H2SO4, dan HClO4. Pada tahap
pemicuan, proton dialihkan dari asam ke monomer sehingga menghasilkan ion
karbonium (C+).

Nomor Singkatan Polimer


1 PET Polyethyleneterephthalate
2 HDPE High density polyethylene
3 PVC Polyvinyl chloride
4 LDPE Low density polyethylene
5 PP Polypropylene
6 PS Polystyrene
Tabel 1. Beberapa Singkatan Polimer

Perambatan berupa adisi monomer terhadap ion karbonium, prosesnya


hampir sama dengan perambatan pada radikal bebas.

Pengakhiran rantai dapat terjadi melalui berbagai proses. Proses paling


sederhana adalah penggabungan ion karbonium dan anion pasangannya (disebut
ion lawan).

10
Dalam polimerisasi anion, monomer pembawa rantai adalah suatu
karbanion (C-). Dalam hal ini, monomer pembawa rantai adalah yang memiliki
gugus dengan keelektronegatifan tinggi, seperti propenitril (akrilonitril), 2–
metilpropenoat (metil metakrilat), dan feniletena (stirena).
Seperti polimerisasi kation, reaksi polimerisasi anion optimum pada suhu
rendah. Katalis yang dapat dipakai adalah logam alkali, alkil, aril, dan amida logam
alkali.

Contohnya adalah kalium amida (KNH2) yang dalam pelarut amonia cair
dapat mempercepat polimerisasi monomer CH2=CHX dalam amonia. Kalium
amida akan terionisasi kuat sehingga pemicuan dapat berlangsung seperti berikut.
Perambatan merupakan adisi monomer pada karbanion yang dihasilkan,
yaitu:

Proses pengakhiran pada polimerisasi anion tidak begitu jelas seperti pada
polimerisasi kation sebab penggabungan rantai anion dengan ion lawan (K+) tidak
terjadi. Namun demikian, jika terdapat sedikit air, karbon dioksida, atau alkohol
akan mengakhiri pertumbuhan rantai.

11
b) Polimerisasi Kondensasi

Polimerisasi kondensasi melibatkan penggabungan molekul kecil


membentuk molekul besar melalui reaksi kondensasi. Jika etanol dan asam asetat
dipanaskan dengan sedikit asam sulfat pekat, akan terbentuk ester etil asetat disertai
penyingkiran molekul air. Reaksi esterifikasi akan berhenti, sebab tidak ada gugus
fungsi lagi yang dapat membentuk polimer.

Namun demikian, jika setiap molekul pereaksi mengandung dua atau lebih
gugus fungsional maka reaksi berikutnya boleh jadi terbentuk. Misalnya, reaksi
antara dua monomer asam heksanadioat (asam adipat) dan etana–1,2–diol (etilen
glikol).

Dapat dilihat bahwa hasil reaksi masih mengandung dua gugus fungsional.
Oleh karenanya, reaksi berikutnya dengan monomer dapat terjadi, baik pada ujung
hidroksil maupun pada ujung karboksil.
Polimer yang terbentuk mengandung satuan berulang (–OCH2–CH2–
OOHCH–(CH2)4–CO–). Massa molekul bertambah secara bertahap dan waktu
reaksi sangat lama jika diharapkan massa molekul polimer yang terbentuk sangat
besar. Jadi, polimerisasi kondensasi berbeda dengan polimerisasi adisi.
Pada polimerisasi kondensasi tidak terjadi pengakhiran. Polimerisasi
berlangsung terus sampai tidak ada lagi gugus fungsi yang dapat membentuk
polimer. Namun demikian, reaksi polimerisasi dapat dikendalikan dengan
mengubah suhu. Misalnya, reaksi dapat dihentikan dengan cara didinginkan, tetapi
polimerisasi dapat mulai lagi jika suhu dinaikkan.
Cara menghentikan reaksi yang lebih kekal adalah dengan menggunakan
penghentian ujung. Misalnya, penambahan sedikit asam asetat pada reaksi
pertumbuhan polimer. Oleh karena asam asetat bergugus fungsional tunggal, sekali
asam itu bereaksi dengan ujung rantai yang sedang tumbuh maka tidak akan terjadi

12
lagi reaksi lebih lanjut. Jadi, polimerisasi yang sedang berlangsung dapat
dikendalikan.

D. Teknik Polimerisasi

Pada dasarnya, ada dua teknik polimerisasi yang dapat digunakan untuk
memproduksi polimer, yaitu teknik homogen dan teknik heterogen. Teknik
homogen dapat dilakukan secara polimerisasi massa dan larutan, sedangkan teknik
heterogen dilaksanakan secara emulsi dan suspensi.

a) Teknik Polimerisasi Homogen

Dalam teknik polimerisasi homogen, terdiri dari 2 sub polimerisasi, yaitu


polimerisasi massa dan polimerisasi larutan.

 Polimerisasi Massa

Teknik polimerisasi massa atau yang sering disebut bulk polimerisation


adalah teknik yang bertujuan untuk pembuatan polimer kondensasi, reaksinya
bersifat eksotermis dengan viskositas campuran yang rendah sehingga panas dapat
berpindah melalui pengeluaran gelembung. Sistem pada polimerisasi massa jarang
digunakan secara komersil untuk pembuatan polimer visual, kecuali untuk
membuat polimetil metakrilat tuang.

Penentuan bobot molekul polimer dapat dilakukan dengan fraksinasi


polimer yakni untuk memisahkan sampel polimer tertentu ke dalam beberapa
golongan bermassa molekul sama. Umumnya cara yang digunakan dalam fraksinasi
didasarkan pada kenyataan bahwa kelarutan polimer berkurang dengan naiknya
massa molekul.
Cara - cara melakukan fraksinasi:
1. Pengendapan bertingkat
Langkah-langkahnya:
 Sampel dilarutkan dalam pelarut yang cocok sehingga membentuk larutan
yang berkonsentrasi 0,1 persen.

13
 Kedalam larutan ini ditambahkan bukan pelarut setetes demi setetes sambil
diaduk cepat. Bahan bermassa molekul paling tinggi menjadi tak larut dan
segan terpisah.
 Tambahkan lagi bukan - pelarut sebagai pengendap untuk mengendapkan
polimer bermassa molekul tertinggi berikutnya.
 Tata kerja ini dilakukan berulang - ulang sampai terpisah menjadi beberapa
fraksi yang kian berkurang massa molekulnya.

2. Elusi bertingkat
Langkah-langkahnya:
 Polimer diekstraksi dari zat padat kedalam larutan.
 Kolom diisi dengan bahan polimer dan diisi sampel, lalu dielusi dengan
campuran pelarut dan bukan pelarut secara bertahap. Jadi polimer yang
bermassa molekul rendah keluar dari kolom pertama kali, diikuti oleh fraksi
yang mengandung bahan bermassa molekul lebih besar.

3. Kromatografi Permiasi Gel (KPG)


Cara kerja:
 Kolom diisi dengan beberapa bentuk bahan kemasan polimer.
 Larutan sampel polimer yang sedang diteliti dilewatkan ke dalam kolom dan
dielusi dengan lebih banyak pelarut.

 Polimerisasi Larutan

Contoh dari polimerisasi larutan ialah konversi polivinil asetat menjadi


polivinil alcohol ester akrilik. Polimerisasi monomer vinil, berlangsung dalam
larutan untuk memudahkan perpindahan panas dan control. pada pembuatan
polimerisasi monomer vinil, diperlukan pelarut yang benar sehingga tidak terjadi
chain transfer, dan polimer yang akan dihasilkan dapat digunakan dalam larutan.

Karakteristik Polimerisasi Larutan :


 Dapat dilakukan untuk polimerisasi vinil dengan pelarut yang sesuai
 Keuntungan: panas dapat dipindahkan kepelarut.

14
 Kesukaran: dapat terjadi pemindahan rantai kepelarut
 Sukar menghilangkan pelarut

b) Teknik Polimerisasi Heterogen

Dalam teknik polimerisasi hoterogen, terdiri dari 2 sub polimerisasi, yaitu


polimerisasi emulsi dan polimerisasi suspensi.

Contoh : The high pressure free radical process for the


manufacture of Low Density Polyethylene

15
Polyethylene membentuk cabang karena proses self-branching. Cabang
yang lebih panjang dari metil tidak dapat masuk ke kisi kristal polyethylene,
sehingga polimer padat yang dihasilkan kurang bersifat kristal (tidak transparan)
dan lebih kaku daripada HDPE (0.935-0.96 g cm-3) yang dibuat dengan
reaksi coordination polymerization.

 Polimerisasi Emulsi

Polimerisasi jenis ini, dapat menghasilkan polimer dengan laju dan berat
molekul yang tinggi. Sistem pada polimerisasi emulsi merupakan dua fase cairan
yang tidak larut, Fase pertama ialah fase kontinu aqueous, yang merupakan
inisiator, sedangkan fase kedua ialah fase diskontinu nonaqueous yang merupakan
bentuk monomer dan polimer. Contoh teknik polimerisasi ini adalah pada
pembuatan karet SBR.

Pada tahun 1998 kebutuhan dunia akan polimer emulsi sebesar 7,4 juta
metrik ton dan diramalkan kebutuhan tersebut pada tahun 2007 akan meningkat
menjadi 10,1 juta metrik ton dengan pertumbuhan per tahun sebesar 3,6% . Salah
satu faktor yang menentukan sifat/karakter polimer emulsi adalah ukuran partikel.
Polimer emulsi mengandung partikel dengan diameter berkisar antara 10 sampai
dengan 1.500 nm. Pada umumnya ukuran partikel polimer emulsi berkisar antara
100 sampai dengan 250 nm. Ukuran partikel sangat menentukan sifat polimer
emulsi seperti sifat aliran dan kestabilan polimer. Sebagai contoh suatu bahan
pelapis dengan ukuran partikel yang kecil akan memberikan hasil coating yang
halus, kekuatan adhesi yang baik, ketahanan terhadap air yang cukup baik serta
kestabilan lateks yang cukup lama. Disamping itu ukuran diameter partikel polimer
yang kecil dapat menyebabkan bahan pelapis akan lebih glossy atau transparan

16
karena partikel-partikel polimer dari pelapis akan lebih rapat, jadi tidak ada ruang
untuk ditempati partikel lain.
Karakteristik Polimerisasi Emulsi :
 Ada 2 fasa cair saling bercampur :
Fasa luar = fasa kontinu = medium pendispersi = air
Fasa dalam = fasa terkontinu = medium terdispersi = monomer + polimer
 Inisiator berada dalam fsa cair. Partikel monomer – polimer = 0,1µm
Dispersi cair-cair = emulsi memerlukan stabilisator (emulgator).
Disperse padat-cair = suspensi

Polimerisasi emulsi polimer menghasilkan nilai yang tinggi dengan biaya


rendah, ramah lingkungan proses. Dorongan untuk mengembangkan metode
produksi ramah lingkungan untuk polimer telah mengakibatkan luas dalam
pengembangan dan implementasi dari teknik polimerisasi emulsi. Selain itu, bila
dikombinasikan dengan mekanisme polimerisasi novel proses dapat menimbulkan
berbagai produk polimer dengan polimerisasi properties.Emulsion sangat berguna
adalah proses yang kompleks, diatur oleh interaksi dari kedua kimia dan sifat fisik
termasuk kinetika polimerisasi dan stabilitas dispersi. aplikasi industri yang sukses
bergantung pada pemahaman dan pengendalian properti tersebut.

 Polimerisasi Suspensi

Teknik pada polimerisasi suspensi berlangsung dalam system aqueous


dengan monomer sebagai fase terdispersi sehingga menghasilkan polimer yang
berada fase solid terdispersi. Metode polimerisasi ini digunakan secara komersil
untuk menghasilkan polimer vinil yang keras, contohnya polistirena, polimetil
metaklirat, polivinil klorida serta poliakrilonitril. Contoh teknik polimerisasi
suspense adalah pada proses pembuatan PMMA.

17
Polimerisasi Suspensi :

Diagram alir polimerisasi suspensi untuk pembuatan methyl methacrylate

Dalam polimerisasi suspensi, monomer + inisiator yang terlarut


didispersikan dalam bentuk tetesan kecil ke dalam air yang
mengandung sedikit suspension agent. Begitu polimerisasi berlangsung, tetesan
monomer berubah menjadi kental dan lengket. Hasil akhir reaksi mengandung
polimer 25-50% yang terdispersi dalam air. Jika polimerisasi sudah selesai,
suspensi polimer dialirkan ke blowdown tank atau stripper untuk memisahkan sisa
monomer. Slurry dipompa ke centrifuge atau filter untuk menyaring, mencuci, dan
mengeringkan polimer.Polimer basah (30% air) dikeringkan dengan udara hangat
(66 to 149°C) dalam dryer. Polimer kering dikirim ke storage.

Keuntungan polimerisasi suspensi:

 Penggunaan air sebagai media pertukaran panas lebih ekonomis darpada


solven organik.
 Dengan nilai CP yang besar, pengambilan panas reaksi lebih efektif dan
kontrol terhadap temperatur menjadi lebih mudah.

18
 Pemisahan dan penanganan polimer lebih mudah daripada polimerisasi
emulsi dan larutan.
 Produk lebih mudah dimurnikan.

Polimerisasi suspensi paling banyak digunakan untuk memprodukasi resin


plastic, Semua jenis resin termoplastik :

 Polystyrene, Polymethyl methacrylate, Polyvinyl chloride,


 Polyvinylidene chloride,
 Polyvinyl acetate,
 Polyethylene, Polypropylene

Aplikasi Polimer Sintetis

1. PVC
Poli(vinil klorida) (PVC) yang bersifat lunak digunakan untuk selang air,
jas hujan, dan insulasi listrik. Sedangkan, PVC yang bersifat kaku digunakan untuk
pipa dan pelapis lantai.

2. PS
Polistirena (PS) memiliki beberapa macam bentuk. Polistirena yang
berbentuk kaku dan mudah pecah digunakan untuk kotak kaset, peralatan makan—
sendok, garpu, dan pisau—plastik. Polistirena berbentuk foam, yakni styrofoam,

19
memiliki sifat insulator panas yang baik. Oleh karena itu, styrofoam banyak
digunakan untuk wadah makanan/minuman dan juga gabus penahan benturan
dalam kemasan alat elektronik.

3. PE (LDPE dan HDPE)


Polietilena (PE) memiliki beragam bentuk. HDPE (high-density
polyethylene) adalah polietilena dengan sifat lebih kuat dan kaku yang banyak
digunakan untuk botol plastik dan mainan. LDPE (low-density polyethylene)
adalah polietilena dengan sifat lebih plastis dan titik leleh lebih rendah dibanding
HDPE. LDPE banyak digunakan untuk plastik lembaran, kantong plastik, dan
pembungkus kabel.

4. PP
Polipropilena (PP) digunakan untuk botol plastik, tali, karung plastik,
karpet, peralatan laboratorium, dan mainan.

5. PTFE
Politetrafluoroetilena (PTFE) yang dikenal juga dengan nama dagang
Teflon, memiliki sifat kuat, tidak reaktif, dan tahan panas. PTFE digunakan sebagai
gasket, pelapis tangki bahan kimia, dan pelapis panci anti lengket.

20
6. PMMA
Poli(metil metakrilat) (PMMA) yang dikenal juga dengan nama dagang
Plexiglas atau Lucite atau Perspex, memiliki sifat kuat, keras, ringan, dan
transparan. PMMA digunakan untuk alat optik, kaca jendela pesawat terbang,
furnitur, dan glove box.

7. PET
Poli(etilena tereftalat) (PET) yang dikenal juga dengan nama dagang
Dacron atau Terylene, banyak digunakan sebagai serat tekstil. Selain itu, PET juga
banyak digunakan sebagai botol minuman. Dalam bentuk film tipis, PET dengan
nama dagang Mylar bersifat kuat dan tahan terhadap robekan, sehingga digunakan
untuk pita perekam magnetik, layar perahu, dan kemasan barang.

8. Nilon
Nilon merupakan polimer berbentuk serat yang bersifat kuat, ringan, dan
tahan terhadap tegangan. Oleh karena itu, nilon banyak digunakan untuk membuat
tali, jala, parasut, tenda, jas hujan, karpet, dan sebagainya.

21
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Polimerisasi adalah proses bereaksi molekul monomer bersama dalam


reaksi kimia untuk membentuk tiga dimensi jaringan atau rantai polimer.
Polimerisasi digolongkan ke beberapa sistem: sistem adisi-kondensasi dan sistem
pertumbuhan rantai bertahap. Bentuk lain dari polimerisasi adalah polimerisasi
membuka cincin yang serupa dengan polimerisasi rantai.

Jenis-jenis Polimer

a) Jenis polimer berdasarkan sumbernya

 Polimer alam,
 Polimer sintetis,
b) Jenis polimer berdasarkan monomer penyusunnya\
 Homopolimer,
 Kopolimer,
c) Jenis polimer berdasarkan sifatnya
 Termoplas
 Termoset
 Elastomer
d) Berdasarkan jumlah rantai karbonnya

Reaksi pembentukan polimer dari monomernya disebut reaksi polimerisasi.


Reaksi polimerisasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

 Polimerisasi Adisi

Polimerisasi adisi terjadi dalam tiga tahap, yaitu pemicuan, perambatan, dan
pengakhiran. Oleh karena pembawa rantai dapat berupa ion atau radikal bebas maka
polimerisasi adisi digolongkan ke dalam polimerisasi radikal bebas dan
polimerisasi ion.

22
 Polimerisasi Kondensasi

Polimerisasi kondensasi melibatkan penggabungan molekul kecil


membentuk molekul besar melalui reaksi kondensasi. Jika etanol dan asam asetat
dipanaskan dengan sedikit asam sulfat pekat, akan terbentuk ester etil asetat disertai
penyingkiran molekul air. Reaksi esterifikasi akan berhenti, sebab tidak ada gugus
fungsi lagi yang dapat membentuk polimer.

Teknik polimerisasi pada dasarnya, ada dua teknik polimerisasi yang dapat
digunakan untuk memproduksi polimer, yaitu teknik homogen dan teknik
heterogen. Teknik homogen dapat dilakukan secara polimerisasi massa dan larutan,
sedangkan teknik heterogen dilaksanakan secara emulsi dan suspensi.

23
Daftar Pustaka

Billmeyer,F.W, Jr. 1971. Textbook of Polimer Science. New York: John


Wiley and sons

https://www.studiobelajar.com/polimer/

http://rainbowartyasa.blogspot.com/2013/07/v-behaviorurldefaultvmlo.html

https://smk3ae.wordpress.com/2009/05/28/polimerisasi/

http://www.nafiun.com/2013/10/reaksi-polimerisasi-pembentukan-
polimer.html

24