Anda di halaman 1dari 82

IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

KARYA AKHIR

PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION KERING TERHADAP

PENYEMBUHAN JARINGAN GASTER PASCA TRAUMA TAJAM DITINJAU

DARI KETEBALAN KOLAGEN DAN JUMLAH FIBROBLAS

(STUDI PADA KELINCI NEW ZEALAND)

Penelitian Prospektif Intervensional

Oleh : Harisma Widhanar, dr.

PROGRAM STUDI ILMU KEDOKTERAN KLINIK JENJANG MAGISTER

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2019

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
ii

LEMBAR PENGESAHAN

Telah menyetujui dan mengesahkan Karya Ilmiah :


Judul : Perbedaan Efek Membran Amnion Kering Terhadap
Penyembuhan Jaringan Gaster Pasca Trauma Tajam Ditinjau Dari
Ketebalan Kolagen Dan Jumlah Fibroblas (Studi Pada Kelinci
Newzealand)
Jenis : Karya Akhir
Penyusun : Harisma Widhanar, dr

Disetujui oleh :

Pembimbing I: Pembimbing II:

Fendy Matulatan, dr., Sp.B-Sp.BA(K) Dr. Eddy Herman Tanggo, dr., SpB (K) Onk

ii

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Lembar Persetujuan Hasil Koreksi Ujian Hasil Penelitian

Nama : Airlangga Witra Nanda Abdillah, dr.


Program Studi : Ilmu Bedah
Judul : Perbedaan Efek Membran Amnion Kering Terhadap
Penyembuhan Jaringan Gaster Pasca Trauma Tajam Ditinjau Dari
Ketebalan Kolagen Dan Jumlah Fibroblas (Studi Pada Kelinci
Newzealand)

Moderator :

Ujian hasil penelitian tanggal 23 April 2019

TIM PENGUJI

1 Ketua dr. Ariandi Setiawan, SpB(K)BA

2 Anggota dr. Fendy Matulatan, SpB(K)BA

3 Penguji I dr. Eddy Herman Tanggo, SpB(K)Onk

4 Penguji II dr. Etty Hary Kusumastuti, SpPA(K)., MIAC

5 Penguji III dr. Josef Eko Wahono, SpS(K) M.Epid.

Surabaya,
Mengetahui,
Ketua Program Studi Ilmu Bedah Peneliti

Edwin Danardono, dr. Sp. B-KBD Harisma Widhanar, dr.

iii

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI


HASIL PENELITIAN KARYA TULIS AKHIR

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui bahwa hasil penelitian


karya-tulis akhir saya berjudul:

PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION KERING TERHADAP


PENYEMBUHAN JARINGAN GASTER PASCA TRAUMA TAJAM
DITINJAU DARI KETEBALAN KOLAGEN DAN JUMLAH
FIBROBLAS
(STUDI PADA KELINCI NEW ZEALAND)

Untuk dipublikasikan atau disampaikan melalui internet atau media lain yaitu
Digital Library Perpustakaan Universitas Airlangga untuk kepentingan akademik
sebatas sesuai dengan Undang-undang Hak Cipta

Demikian pernyataan persetujuan publikasi hasil penelitian akhir ini saya buat
dengan sebenar-benarnya

Surabaya, 14 November 2018

Harisma Widhanar., dr.

iv

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS


HASIL PENELITIAN KARYA TULIS AKHIR

Yang Bertandatangan di bawah ini


Nama : Harisma Widhanar., dr

NIM : 011318076309
Judul Penelitian :

PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION KERING TERHADAP


PENYEMBUHAN JARINGAN GASTER PASCA TRAUMA TAJAM
DITINJAU DARI KETEBALAN KOLAGEN DAN JUMLAH
FIBROBLAS
(STUDI PADA KELINCI NEW ZEALAND)

Dengan ini menyatakan bahwa hasil penelitian ini merupakan hasil karya akhir
sendiri dan benar keaslianya serta berasal dari data dan bukan hasil rekayasa.
Apabila di kemudian hari penelitian ini mengandung plagiasi atau penjiplakan atas
karya orang lain, maka saya bersedia bertanggung jawab

Surabaya, 14 November 2018

Harisma Widhanar, dr

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas segala

karunia dan limpahan rahmat-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan karya akhir

saya dengan judul Perbedaan Efek Membran Amnion Kering Terhadap

Penyembuhan Jaringan Gaster Pasca Trauma Tajam Ditinjau Dari Ketebalan

Kolagen Dan Jumlah Fibroblas (Studi Pada Kelinci New Zealand).

Saya menyadari bahwa dalam penyususnan karya akhir ini masih jauh dari

sempurna, karena itu dengan rasa rendah hati saya mengharapkan kritik dan saran

agar karya akhir ini menjadi lebih baik.

Saya pada kesempatan ini, menyatakan rasa terima kasih sebesar – besarnya

dan penghargaan setinggi – tingginya kepada :

1. Rektor Universitas Airlangga Surabaya, atas kesempatan yang diberikan


kepada saya untuk mengikuti program pendidikan spesialis dalam bidang
studi Ilmu Bedah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.
2. Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, atas
kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti program
pendidikan spesialis dalam bidang studi Ilmu Bedah di Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga Surabaya.
3. Direktur Rumah Sakit Umum Dr. Soetomo Surabaya, atas kesempatan yang
diberikan kepada saya sehingga dapat bekerja sekaligus menimba ilmu di
Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya.
4. Agung Prasmono, dr, SpB(K)TKV, selaku Kepala Departemen Ilmu Bedah
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada awal saya menempuh
pendidikan, dan selaku guru saya yang selalu memberikan motivasi dan
bimbingan selama saya menjalani pendidikan.
5. Dr. Sahudi, dr., SpB(K)KL, selaku Kepala Departemen Ilmu Bedah atas
ketekunan dan kesabaran beliau dalam memberikan arahan dan dorongan

vi

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

semangat dalam menempuh pendidikan Ilmu Bedah semoga senantiasa


sehat dan mendapatkan kebaikan dan kemudahan.
6. DR. Heru Koesbijanto, dr, SpB(K)TKV (alm), selaku Ketua Program Studi
Ilmu Bedah pada saat awal saya masuk PPDS Bedah, yang atas kesabaran
beliau dalam memberikan arahan dan dorongan semangat untuk
menyelesaikan penelitian saya serta menanamkan disiplin yang tinggi dan
nasihat selama saya menempuh pendidikan.
7. Edwin Danardono, dr, SpB(K)BD, selaku penguji penelitian dan Ketua
Program Studi Ilmu Bedah, yang atas kesabaran beliau dalam memberikan
arahan dan dorongan semangat untuk menyelesaikan pendidikan saya serta
menanamkan disiplin yang tinggi dan nasihat selama saya menempuh
pendidikan semoga senantiasa sehat dan mendapatkan kebaikan dan
kemudahan.
8. IGB Adria Hariastawa, dr., Sp.B., SpBA(K), selaku pembimbing utama,
yang atas ketekunan, kesabaran dan ketelitian beliau dalam memberikan
arahan dalam karya akhir saya. Semoga senantiasa diberikan kesehatan dan
kemudahan.
9. Endang Retnowati, dr., MS, Sp.PK(K) (Almarhum), selaku pembimbing II,
yang atas ketekunan, kesabaran dan ketelitian beliau dalam memberikan
arahan dalam karya akhir saya. Walaupun beliau telah dipanggil terlebih
dahulu oleh Sang Maha Kuasa, jasa-jasa beliau tidak akan pernah dapat saya
lupakan. Semoga beliau mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya
10. Heru Purwanto, dr., M.Sc, Sp.B(K)Onk, selaku penguji, yang atas
ketekunan, kesabaran dan ketelitian beliau dalam memberikan arahan dalam
karya akhir saya.
11. Sudjatmiko, dr., SpB.,KBD, selaku penguji, yang atas ketekunan, kesabaran
dan ketelitian beliau dalam memberikan arahan dalam karya akhir saya.
12. Ariandi Setiawan, dr., Sp.B., Sp.BA(K), selaku penguji, yang atas
ketekunan, kesabaran dan ketelitian beliau dalam memberikan arahan dalam
karya akhir saya.

vii
KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

13. Mama Widi dan Papa Narto, selaku orang tua saya yang selalu mendukung
dan mendoakan saya dalam segala kondisi. Berkat doa mereka, saya dapat
menjalani pendidikan saya dengan baik.
14. Abah Burhan dan Umi Burhan, selaku orang tua saya yang selalu
mendukung dan mendoakan saya dalam segala kondisi.
15. Istriku Shinta Ananda serta anak-anakku Ziha Widhanar dan Ziva
Widhanar, yang selalu saya rindukan dan menjadi penyemangat saya
menuntut ilmu.
16. Mas Rieski dan Mbak Nila, selaku saudara-saudara saya yang telah
memberi doa dan dukungan luar biasa kepada saya untuk meraih apa yang
saya cita-citakan sejak kecil.
17. Seluruh keluarga Widhannar Magetan, Keluarga Burhanuddin Bojonegoro
dan Keluarga Mama Nia Lamongan, yang telah memberi doa dan dukungan
luar biasa kepada saya.
18. Teman-teman seperjuangan saya (KID, YHH, BNR, FDR, NUX, INK,
PML) semoga menjadi ahli bedah yang baik dan bermanfaat di masyarakat.
19. Seluruh teman sejawat/rekan residen, paramedik, dan karyawan di
lingkungan Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang telah banyak membantu dalam jalinan
kerjasama yang baik selama masa pendidikan maupun ketika
menyelesaikan penelitian ini.
20. Semua pihak yang membantu kelancaran penelitian ini serta ucapan terima
kasih yang tak terhingga kepada seluruh pasien yang telah memberikan
peranan besar dalam penelitian ini.

Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu dan telah
banyak memberikan bantuan dalam menyelesaikan penelitian ini. Semoga
amal baik yang telah diberikan menjadi pahala serta yang bersangkutan
mendapatkan berkah dan rahmat Allah SWT

viii

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Surabaya, 14 November 2018


Penulis

Harisma Widhanar, dr.

ix
KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.
IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION KERING TERHADAP


PENYEMBUHAN JARINGAN GASTER PASCA TRAUMA TAJAM
DITINJAU DARI KETEBALAN KOLAGEN DAN JUMLAH FIBROBLAS
(STUDI PADA KELINCI NEW ZEALAND)
Harisma Widhanar*, Fendy Matulatan**, Eddy Herman Tanggo**
*Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis I Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Surabaya
**Staf Pengajar Divisi Bedah Anak, Departemen /SMF Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya
***Staf Pengajar Divisi Bedah Onkologi, Departemen /SMF Ilmu Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Surabaya

ABSTRAK

Latar Belakang: Trauma penetrasi pada lambung adalah hal yang cukup banyak
terjadi di unit gawat darurat.. Prostesis telah digunakan sebagai salah satu metode
alternatif untuk penutupan defek. Membran Amnion Kering (MAK) telah terbukti
memiliki potensi untuk membantu dan memfasilitasi penutupan defek jaringan
lambung pasca trauma penetrasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengevaluasi perbedaan jumlah fibroblast dan ketebalan kolagen pada jaringan
lambung pasca trauma penetrasi dengan dan tanpa penggunaan MAK sebagai
penutup biologis.
Metode: Sebuah studi randomized control trial pada kelinci Selandia Baru dengan
luka penetrasi pada lambung dengan ukuran 2 cm x 0,5 cm. Terdapat 2 kelompok
perlakuan dengan masing-masing kelompok terdiri 21 ekor, yaitu kelompok kontrol
tanpa MAK dan perlakuan dengan MAK. Evaluasi mikroskopis spesimen jaringan
lambung dilakukan dengan menggunakan pewarnaan hematoxylin-eosin dengan
pembesaran 400x. Seluruh hewan coba diperlakukan sesuai dengan aturan Animal
Care and Use Committee Universitas Airlangga Airlangga.
Hasil: Rata-rata jumlah fibroblast dalam kelompok tanpa MAK 70.90 ±10.26 dan
dengan MAK 91,00 ± 10,82 (p = 0,000). Ketebalan rata-rata kolagen dalam
kelompok tanpa MAK 3142,48 ± 1271,29 μm dan kelompok dengan MAK 4703,71
± 1807,88 µm (p = 0,006). Hasil ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam
jumlah fibroblast dan kepadatan kolagen ketika cedera penetrasi lambung diobati
dengan penutupan primer dan MAK. Sehingga berdasarkan penelitian ini dan
penelitian lain yang terkait, kami menemukan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan antara penggunaan MAK dan tanpa MAK.
Kesimpulan: Ada perbedaan yang signifikan dalam jumlah fibroblast dan
ketebalan kolagen dalam perbaikan ruptur lambung menggunakan DAM sebagai
pembalut biologis dibandingkan dengan perbaikan primer ruptur lambung tanpa
DAM
Kata Kunci: Membran ambion kering, Fibroblas, Kolagen

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DIFFERENCES OF DRY AMNIONTIC MEMBRANE EFFECT ON


HEALING OF GASTER TISSUE POST PENETRATING TRAUMA
REVIEWED FROM COLLAGEN THICKNESS AND AMOUNT OF
FIBROBLAS
(A STUDY ON NEW ZEALAND RABBITS)
Harisma Widhanar*, Fendy Matulatan**, Eddy Herman Tanggo**
* Resident of General Surgery Program, Airlangga Medical Faculty Surabaya
** Teaching Staff of Pediatric Surgery Division, RSUD Dr. Soetomo/Airlangga
Medical Faculty Surabaya
*** Teaching Staff of Oncologic Surgery Division, RSUD Dr.
Soetomo/Airlangga Medical Faculty Surabaya

ABSTRACT

Background: Penetrating injury to gastric tissue is common for trauma that sends
patients to the emergency care. Prosthesis has been used as one of the alternative
methods to close the defect. Dried Amniotic Membrane (DAM) has been shown to
have the potential to help and facilitate goo closure of gastric tissue defect post
penetrating injury trauma. The aim of this research is to evaluate the difference of
fibroblast count and collagen thickness in gastric tissue post penetrating injury
using with and without DAM as biological dressing.
Method: A randomized experimental study on New Zealand rabbit treated to an
artificial gastric penetrating injury with size of 2 cm x 0,5 cm defects. Each group
has 21 rabbits divide into two groups control and treatment, using without and with
DAM, respectively. Microscopic evaluation of the gastric tissue specimen were
done using hematoxylin-eosin staining with 400x magnification. This study was
approve by the Animal Care and Use Committee of Veterinary School of Airlangga
University.
Result: Average fibroblast count in the group without DAM 70.90±10.26 and the
group with DAM 91.00 ± 10.82 (p=0.000). The mean thickness of collagen in the
group without DAM 3142.48± 1271.29 µm and the group with DAM 4703.71 ±
1807.88 µm (p=0.006). These result shows significant difference in fibroblast count
and collagen density when gastric penetrating injury is treated with primary closure
and DAM. So that through this study and in accordance with other studies, we found
that there was a significant relationship between using of DAM.
Conclusion: There was a significant difference in the number of fibroblast and
collagen thickness in the repair of gastric rupture using DAM as biologic dressing
compared with primary repair of gastric rupture without DAM
Keyword: dried amniotic membrane, fibroblast, collagen
Correspondence: Harisma Widhanar Surgery Program, Department of Surgery,
Faculty Of Medicine, University Of Airlangga, Dr. Soetomo Hospital. Phone
Number: 0812305705

xi

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL .................................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN KOREKSI .................................................... iii
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ................................................ iv
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS PENELITIAN ................ v
KATA PENGANTAR .............................................................................. ix
ABSTRAK ................................................................................................ x
ABSTRACT .............................................................................................. xi
DAFTAR ISI ............................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... xv
DAFTAR TABEL .................................................................................... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xvii
DAFTAR SINGKATAN ........................................................................ xviii

BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................... 1


1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................ 3
1.3.1 Tujuan Umum ........................................................................... 3
1.3.2 Tujuan Khusus .......................................................................... 3
1.4 Manfaat Penelitian .............................................................................. 3
1.4.1 Manfaat Teoritis ............................................................................... 3
1.4.2 Manfaat Praktis ................................................................................ 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .............................................................. 4


2.1 Anatomi Lambung .............................................................................. 4
2.2 Histologi Lambung ............................................................................. 4

xii

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

2.3 Ketahanan Mukosa Lambung ............................................................. 5


2.4 Definisi Trauma Tajam Gaster ............................................................ 7
2.5 Epidemiologi Trauma Tajam Gaster ................................................... 7
2.6 Mekanisme Trauma Tajam Gaster ...................................................... 8
2.7 Manifestasi Klinis Trauma Tajam Gaster ........................................... 8
2.8 Penatalaksanaan Trauma Tajam Gaster .............................................. 9
2.9 Penyembuhan Luka ............................................................................ 12
2.9.1 Fase inflamasi .......................................................................... 14
2.9.2 Fase Epitelialisasi ..................................................................... 14
2.9.3 Fase proliferasi atau fibroplasi ................................................. 15
2.9.4 Fase remodeling atau maturasi ................................................. 16
2.10 Membran Amnion dan Rekayasa Jaringan ...................................... 20
2.11 Anatomi dan Histologi Membran Amnion ...................................... 22
2.12 Membran Amnion sebagai Scaffold untuk Rekayasa Jaringan ....... 26
2.13 Pengolahan Membran Amnion ........................................................ 28
2.13.1 Pengambilan ........................................................................... 28
2.13.2 Pengolahan ............................................................................. 29

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS ................. 31


3.1 Kerangka Konseptual ......................................................................... 31
3.2 Konsep ............................................................................................... 32
3.3 Hipotesis ............................................................................................. 33

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN ............................................... 34


4.1 Desain Penelitian ................................................................................ 34
4.2 Populasi dan Besar Sampel Penelitian ............................................... 35
4.2.1 Populasi penelitian ................................................................... 35
4.2.2 Sampel penelitian ..................................................................... 35
4.2.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi ................................................... 35
4.2.4 Besar sampel ............................................................................ 36
4.3 Variabel .............................................................................................. 36

xiii

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

4.3.1 Variabel Bebas ......................................................................... 36


4.3.2 Variabel Tergantung ................................................................ 36
4.4 Definisi Operasional ........................................................................... 36
4.4.1 Membran Amnion .................................................................... 36
4.4.2 Fibroblas .................................................................................. 37
4.4.3 Kolagen .................................................................................... 37
4.5 Alat dan Bahan Penelitian .................................................................. 37
4.6 Prosedur Penelitian ............................................................................. 38
4.7 Prosedur Operasional ......................................................................... 39
4.8 Pengumpulan dan Analisa Data ......................................................... 39
4.9 Kerangka Operasional ........................................................................ 40
4.10 Jadwal Penelitian .............................................................................. 41
4.11 Biaya Penelitian ............................................................................... 41

BAB 5 HASIL PENELITIAN ............................................................... 42


5.1 Karakteristik Sampel Penelitian ......................................................... 42

BAB 6 PEMBAHASAN ......................................................................... 45

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 49


7.1 Kesimpulan ........................................................................................ 49
7.2 Saran ................................................................................................... 49

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 50


LAMPIRAN ............................................................................................ 56

xiv

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Tahapan Penyembuhan Luka .............................................. 13


Gambar 2.2. Skema Penyembuhan Luka ................................................. 17
Gambar 2.3 Hubungan laju sintesis kolagen sampai mendapatkan
kekuatan Tensil pada luka kulit tikus .................................... 18
Gambar 2.4 Proses penyembuhan Luka dan Pembentukan Matriks
Ektraseluler ............................................................................ 19
Gambar 2.5 Waktu dan Tahapan Penyembuhan Luka dengan
Sel Dominan Yang Muncul ................................................... 20
Gambar 2.6 Struktur Membran Amnion secara histologis
pada pewarnaan Hemotoksilin-eosin .................................... 23
Gambar 2.7 Skema Struktur Membran Fetal dengan komponen
Matriks ekstraseluler setiap lapisan ....................................... 24
Gambar 6.1 Grafik Perbandingan Jumlah Fibroblas pada
Sampel Penelitian .................................................................. 47
Gambar 6.2 Grafik Perbandingan Ketebalan Kolagen pada
Sampel Penelitian. ................................................................. 47

xv

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Deskripsi Trauma Gaster .......................................................... 10

Tabel 5.1 Karakteristik Sampel Penelitian ................................................ 42

xvi

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1 Data dasar penelitian ........................................................... 56

LAMPIRAN 2 Hasil Penelitian ................................................................... 58

LAMPIRAN 3 Statistik Deskripsi dan Uji Statistik Penelitian .................... 59

LAMPIRAN 4 ............................................................................................... 64

xvii

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR SINGKATAN

CD Cluster of Differentiation

EGF Epidermal Growth Factor

hAEC human Amnion Epithelial Cells

hAMSC human Amnion Mesenchymal Stromal Cells

HLA Human Leukocyte Antigen

IGF Insulin-like Growth Factor

IL- 1α Interleukin 1 alfa

IL-β Interleukin beta

MAK Membran Amnion Kering

MMP Metalloprotease

MSC Mesenchymal Stem Cells

NK Natural Killer

PDGF Platelet-derived Growth Factor

PG Prostaglandin

PMN Polu Morpho Nuclear

TE Tissue Engineering

TGF-α Transforming Growth Factor alfa

TGF- β Trasnforming Growth Factor beta

TGF- β1 Trasnforming Growth Factor beta 1

WSD Water Sealed Drainage

xviii

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trauma tajam abdomen tetap menjadi salah satu penyebab masuknya pasien

trauma dewasa ke rumah sakit. Luka tajam terjadi tiga kali lebih banyak

dibandingkan dengan trauma tembak, walaupun lebih fatal karena adanya transfer

energi yang lebih tinggi (Butt et al., 2009). Terapi untuk trauma tajam abdomen

terutama pada bagian gaster untuk yang luka tembus terus berkembang, terutama

dengan penggunaan laparotomi dan operasi penutupan akan defek pada gaster

menjadi salah satu terapi utama untuk trauma tajam pada gaster (ATLS, 2012).

Meskipun saat ini teknologi bedah semakin maju, resiko komplikasi akibat

kebocoran jaringan paska penjahitan. Banyak dilakukan penelitian untuk

meningkatkan penyembuhan jaringan, termasuk penggunaan berbagai macam

teknik bedah dan material (teknik bedah yang semakin berkembang, benang operasi

yang berkualitas tinggi, penggunaan stapler, kontrol sepsis dengan persiapan usus

sebelum pembedahan, penggunaan nutrisi parenteral, penggunaan barbagai macam

sealant, fibrin-collagen patch, dll), namun tidak ada yang berhasil mencegah resiko

komplikasi tersebut. Karena itu, penelitian terhadap material yang bisa

diaplikasikan lokal untuk membantu mempercepat penyembuhan atau mengurangi

resiko kebocoran menjadi perhatian khusus (Ozel et al, 2006).

Membran amnion merupakan material yang banyak dipakai untuk membantu

merangsang proses penyembuhan. Membran amnion adalah lapisan paling dalam

dari 3 lapisan yang membentuk plasenta. Membran amnion dibentuk oleh 3 lapisan:

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2

Satu lapisan epitel, membran basalis yang tebal, dan lapisan mesenkima vaskular

(Uludag et al, 2009). Membran amnion mengandung komponen membrane basalis,

faktor pertumbuhan dan proteinase inhibitors (Toda et al, 2007). Penelitian

membuktikan bahwa membran amnion mempunyai sifat antibakterial,

imunogenisitas rendah, dan dapat membantu proses epitelisasi dan penyembuhan

luka, menghambat inflamasi dan pembentukan skar, dan meningkatkan

angiogenesis (Uludag et al, 2009). Membran amnion juga mudah didapat, mudah

diproses dan didistribusikan. Membrane amnion didapatkan pada saat persalinan

dengan operasi cesar elektif dan tidak perlu membunuh embrio manusia untuk

isolasinya, jadi terhindar dari kontroversi seperti penggunaan sel manusia (Toda et

al, 2007).

Membran amnion telah banyak digunakan utnuk tujuan berbeda, tetapi untuk

melindungi repair ruptur gaster belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan

untuk meneliti efek membran amnion pada repair ruptur gaster pada kelinci secara

eksperimental. Hasil penelitian yang diperiksa adalah penyembuhan luka ruptur

gaster dengan biologic dressing yaitu peningkatan fibroblas dan ketebalan kolagen.

1.2 Rumusan Masalah

Apakah terdapat peningkatan jumlah fibroblast dan ketebalan kolagen pada

repair ruptur gaster dengan MAK sebagai biologic dressing dibandingkan dengan

repair primer ruptur lambung tanpa menggunakan MAK pada New Zealand white

rabbit

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
3

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Membuktikan terdapat peningkatan jumlah fibroblast dan ketebalan kolagen

pada repair ruptur gaster dengan MAK sebagai biologic dressing dibandingkan

dengan repair primer ruptur gaster tanpa menggunakan MAK.

1.3.2 Tujuan khusus

1. Mengevaluasi jumlah fibroblast repair gaster dengan MAK.

2. Mengevaluasi jumlah fibroblast repair gaster tanpa MAK.

3. Mengevaluasi ketebalan kolagen repair gaster dengan MAK.

4. Mengevaluasi ketebalan kolagen repair gaster tanpa MAK.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat teoritis

Dengan penelitian ini diharapkan amnion dapat digunakan untuk melindungi

repair ruptur pada gaster.

1.4.2 Manfaat praktis

Dengan penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

pertimbangan dalam penelitian lebih lanjut.

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Lambung

Lambung adalah perluasan organ berongga besar menyerupai kantung dalam

rongga peritoneum yang terletak diantara esofagus dan usus halus. Lambung terdiri

dari antrum kardia (yang menerima esofagus), fundus besar seperti kubah, badan

utama atau korpus dan pylorus (Price & Wilson, 2006)

Perdarahan lambung berasal dari arteri gastrica sinistra dan arteri gastrica

dekstra dengan vena-vena yang mengikuti arteri. Pembuluh limfe lambung

mengikuti arteri sepanjang curvatura mayor dan curvatura gastric minor. (Mattox

et al., 2013).

Persarafan lambung parasimpatis berasal dari truncus vagalis anterior dan

truncus vagalis posterior serta cabangnya. Persarapan simpatis berasal dari segmen

medula spinalis T6-T9 melalui plexus coeliacus dan disebarkan melalui plexus

sekeliling arteria gastrica dan arteria gastro-omentalis (Mattox et al., 2013).

2.2 Histologi Lambung

Lambung adalah organ endokrin-eksokrin campuran yang mencerna

makanan dan mensekresi hormon. Lambung juga membentuk lipase lambung yang

menguraikan trigliserida dengan bantuan lipase lingual. (Junqueira et al., 2007)

Pada pemeriksaan mikroskopis dapat dibedakan menjadi empat daerah:

kardia, fundus, korpus dan pilorus. Bagian fundus dan korpus memiliki struktur

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
5

mikroskopis yang identik, sehingga secara histologi hanya ada tiga daerah. Mukosa

dan submukosa lambung yang tidak direnggangkan tampak makanan, maka lipatan

ini akan merata (Junqueira et al., 2007).

Mukosa lambung terdiri atas epitel permukaan, lamina propia, dan mukosa

muskularis. Permukaan lumen mukosa ditutupi epitel selapis silindris. Epitel ini

juga meluas kedalam dan melapisi foveola gastrica yang merupakan invaginasi

epitel permukaan. Lapisan luar mukosa dibatasi selapis tipis otot polos yaitu

mukosa muskularis yang terdiri atas lapisan sirkuler didalam dan longitudinal

diluar. Berkas serat otot polos dan mukosa muskularis meluas dan terjulur ke dalam

lamina propria diantara kelenjar lambung ke arah epitel permukaan. Submukosa

adalah lapisan tepat dibawah mukosa muskularis. Pada lambung kosong, lapisan ini

meluas sampai ke dalam lipatan atau rugae. Submukosa mengandung jaringan ikat

tidak teratur yang lebih padat dengan lebih banyak serat kolagen dibandingkan

dengan lamina propria. (Junqueira et al., 2007).

2.3 Ketahanan Mukosa Lambung

Menurut Enaganti, ketahanan mukosa lambung (sering disebut sitoproteksi)

memegang peranan untuk mempertahankan integritas mukosa lambung dari bahan

berbahaya (faktor agresif) secara endogen yaitu asam klorida, pepsin dan garam

empedu, maupun secara eksogen seperti obat, alkohol dan bakteri. (Enaganti, 2006)

Pada mukosa lambung dan duodenum diproduksi mukus (glikoprotein) dan

bikarbonat. Lapisan mukus ini melapisi permukaan mukosa dengan tebal 2-3 kali

tinggi sel epitel permukaan. Mukus dan bikarbonat berfungsi melindungi mukosa

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
6

terhadap pengaruh asam dan pepsin, empedu dan zat perusak luar. (Robbins et al.,

2007)

Faktor yang berperan mempertahankan mukosa disini adalah daya regenerasi

sel (cell turn over), potensial listrik membran mukosa dan kemampuan

penyembuhan luka. Kerusakan atau kehilangan sel akan segera dikompensasi

dengan mitosis sel, sehingga keutuhan permukaan mukosa dipertahankan.

(Enaganti, 2006)

Aliran darah mukosa yang menjamin suplai oksigen dan nutrisi yang adekuat

adalah penting untuk ketahanan mukosa. Setiap penurunan aliran darah baik lokal

maupun sistemik akan menyebabkan anoksia sel, penurunan ketahanan mukosa dan

memudahkan terjadinya ulserasi. (Ramakrishnan & Salnas, 2007) Penurunan

perfusi darah pada mukosa lambung memegang peranan penting dalam

patofisiologi ulkus akibat stress (stress ulser) pada syok, sepsis, trauma berat dan

sebagainya. (Toruner, 2007)

Disamping faktor-faktor tersebut diatas, ternyata Prostaglandin (PG) yang

dihasilkan mukosa lambung dan duodenum mempunyai peranan penting dalam

ketahanan mukosa (efek sitoprotektif). Peranan PG tersebut antara lain

meningkatkan sekresi mukus dan bikarbonat, mempertahankan pompa sodium,

stabilisasi membran sel dan meningkatkan aliran darah mukosa. Komponen lain

yang akan memelihara ketahanan mukosa adalah epidermal growth factor (EGF)

dan transforming growth factor alpha (TGF-α). Kedua peptida ini pada lambung

akan meningkatkan produksi mukus dan menghambat produksi asam. (Philipson et

al., 2008)

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
7

2.4 Definisi Trauma Tajam Gaster

Luka tusuk dan luka tembak kecepatan rendah pada gaster yang membuat

kerusakan jaringan dengan mekanisme laserasi dan/atau memotong (ATLS, 2018).

Pada luka tembak kecepatan tinggi memberikan transfer energi kinetik pada organ

viscera abdomen. Trauma tajam ke gaster adalah terjadinya luka tembus ke perut.

Sehingga pada luka tajam gaster lebih sering dikarenakan luka tusuk dan luka

tembak berkecepatan rendah dibandingkan dengan luka tembak berkecepatan

tinggi. (Khan, 2018)

2.5 Epidemiologi Trauma Tajam Gaster

Pada luka tusuk abdomen, lebih sering terkena bagian dan struktur hepar

(40%), usus kecil (30%), diaphragma (20%) dan kolon (15%). Pada luka tembak

terdapat adanya kerusakan jaringan intraabdomen tergantung akan dari arah luka,

besar dari efek kavitasi dan kemungkinan fragmentasi peluru. Pada luka tembak

bagian yang paling sering terkena adalah usus halus (50%), kolon (40%), hepar

(30%) dan struktur vascular abdomen (25%) (ATLS, 2018)

Lokasi anatomi dan ruang yang ditempati oleh organ-organ ini membuat

mereka menjadi target utama setelah cedera karena pisau, luka tembak, luka

senapan, dan instrumen menusuk lainnya. Karena lokasinya yang terdapat pada

bagian depan abdomen dan memiliki tendensi untuk terisi dengan makanan. Luka

tembus pada gaster lebih sering terjadi dibandingkan dengan trauma gaster akibat

trauma tumpul pada gaster (Madiba & Hlophe, 2008). Dari mereka dengan

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
8

penetrasi peritoneum hanya 30% dari pasien dengan luka pisau memiliki cedera

signifikan yang memerlukan operasi, sedangkan lebih dari 80% dari pasien yang

menderita luka tembak memiliki luka yang memerlukan perbaikan bedah. (Mattox,

Moore & Feliciano, 2013)

2.6 Mekanisme Trauma Tajam Gaster

Ketika terjadinya adanya kejadian trauma tajam pada pasien, maka waktu

trauma, tipe senjata yang digunakan (pisau, senjata api laras pendek atau panjang)

jika berupa luka tembak, jarak dari lokasi proyektil jumlah luka tajam/tusuk yang

terjadi dan jumlah perdarahan yang terjadi dilokasi menjadi penting karena menjadi

parameter prognosis dari kerusakan jaringan (Bhimji, 2018).

Sehingga data anamnesis yang akurat dapat menunjang adanya kemungkinan

untuk meentukan adanya kemungkinan trauma intraabdomen yang mungkin terjadi.

Pada pasien yang terkena luka tajam pada pada regio thorakoabdomen kiri,

kerusakan jaringan yang mungkin terjadi adalah trauma gaster dan diagprahgma.

Adanya kebocoran pada bagian dinding gaster memungkinkan adanya rembesan

cairan lambung yang asam yang dapat menginduksi terjadinya chemical peritonitis

yang membutuhkan lapartotomi. Dan adanya keterlambatan dalam penanganan

untuk tindakan terapetik pada peritonitis dapat meningkatkan angka morbiditas dan

mortalitas (Weinberg JA & Croce MA, 2015; Madiba & Hlophe, 2008)

2.7 Manifestasi Klinis Trauma Tajam Gaster

Pasien dengan luka tusuk gaster biasanya datang dengan tanda-tanda

peritoneal akibat adanya iritasi peritoneum karena adanya iritasi akibat kebocoran

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
9

isi gaster yang memiliki pH yang rendah. Aspirat darah pada nasogastric tube atau

adanya udara bebas yang didapat pada thorax foto tegak mungkin merupakan tanda

dari adanya trauma gaster. (Guniganti, 2018; Mattox, Moore & Feliciano, 2013)

2.8 Penatalaksanaan Trauma Tajam Gaster

Secara garis besar pengelolaan penderita dengan trauma tajam gaster adalah

setelah evaluasi awal dan resusitasi pada pasien yang terluka, pasien dengan

kecurigaan atau cedera yang pada abdomen harus segera dioperasi. Dalam sebagian

besar keadaan, abdomen harus dieksplorasi melalui sayatan midline.

Ekstensi paraxyphoid berguna pada paparan perut bagian atas atau luka

esofagus. Pada pasien dengan trauma abdominal tajam traumatis yang besar seperti

luka tembak jarak dekat, defek dinding perut mungkin digunakan untuk akses ke

rongga peritoneum. Biasanya, debridemen dengan ekstensi bedah lebih lanjut dari

defek dinding perut diperlukan. Kadang-kadang, pasien yang stabil dengan defek

besar dan mengeluarkan isi perut atau omentum karena luka tusuk dapat

dieksplorasi melalui ekstensi bedah abdomen pada defek dinding. Setelah kontrol

awal perdarahan yang signifikan, kontaminasi dari saluran GI kemudian ditangani.

Pada pasien dengan perdarahan yang sedang berlangsung sementara dilakukan

kompresi penekanan, ruptur lambung kemudian harus dikontrol dengan cepat.

Hemostasis dan kontrol terhadap tumpahan gastrointestinal adalah yang terbaik

diperoleh dengan penutupan jahitan Vicryl atau Dexon. Ini sangat efektif jika ada

yang signifikan perdarahan dari perut yang terkoyak / usus atau berdekatan

mesenterium. Semua cedera yang diidentifikasi kemudian diperbaiki sebagai

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
10

langkah selanjutnya. dengan menilai cedera abdomen sesuai dengan tingkat

keparahannya (Mattox, Moore & Feliciano, 2013).

Tabel 2.1 Grading Trauma Gaster, Sumber: Mattox, Moore, Feliciano, (eds.) Trauma. New York:

McGraw Hill, 2013

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
11

Mobilisasi gaster sangat penting untuk mendeteksi cedera pada lambung.

Eksposur umumnya lebih mudah jika lambung didekompresi terlebih dahulu oleh

tabung nasogastrik yang ditempatkan dengan benar. Apabila ditemukan nasogastrik

berdarah harus menimbulkan kecurigaan terhadap cedera lambung. Area perut

tertentu lebih sulit menilai: gastroesophageal junction, tinggi di fundus lambung,

kurvatura minor, dan dinding posterior. Dinding posterior abdomen dapat diperiksa

dengan membuka bagian avaskular dari ligamentum gastrokolik di sepanjang

kurvatura mayor. Ketika lubang anterior di perut ditemukan, pencarian lubang

kedua harus dilakukan. Ini biasanya relatif mudah. Namun, ada beberapa area yang

dapat menyembunyikan luka dan harus diperiksa dengan cermat. Ini termasuk

kurvatura mayor dan kurvatura minor dari gaster, dinding gaster posterior

proksimal, dan fundus serta kardia posterior. Jika kecurigaan masih ada setelah

pencarian untuk lubang kedua muncul, tambahan pemeriksaan diagnostik yang

berguna adalah meminta ahli anestesi untuk mengisi perut dengan udara melalui

tabung nasogastrik. Dengan perut terendam cairan saline, jika terdapat kebocoran

gelembung dapat melokalisasi lokasi cedera pada dinding gaster. Terkeadang

diperlukan upaya untuk, memperbesar cedera sehingga bisa memeriksa lambung

dari dalam (intra luminal) untuk mencari cedera lain pada dinding gaster. (Mattox,

Moore & Feliciano, 2013).

Trauma gaster dirawat sesuai dengan tingkat keparahannya. Sebagian besar

hematoma intramural (kelas I dan II) diperbaiki dengan jahitan seromuskuler silk

3-0 interupted setelah dilakukan evakuasi hematoma dan hemostasis. Ruptur grade

I dan II kecil bisa ditutup terutama dalam satu atau dua lapisan. Karena gaster cukup

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
12

vaskular dan sering berdarah, lebih baik penutupan dua lapis dilakukan setelah

hemostasis tercapai. Jahitan terkunci dengan benang yang dapat diserap harus

digunakan untuk lapisan dalam, dan jahitan seromuskuler interupted dengan silk

3,0 atau 4,0 seharusnya digunakan untuk lapisan luar. Cedera besar (tingkat III)

dekat kurvatura mayor bisa ditutup dengan teknik yang sama atau dengan

menggunakan stapler. Luka yang luas (grade IV) mungkin sangat destruktif

sehingga proksimal atau gastrektomi distal diperlukan. Jika cedera diafragma

terjadi terkait dengan ruptur gaster, kontaminasi rongga pleura dengan isi gaster

bisa bermasalah. Dalam sebagian besar keadaan, cukup untuk membersihkan ruang

pleura melalui diafragma setelah penutupan ruptur lambung. Mungkin diperlukan

untuk memperbesar cedera diafragma untuk mencapai evakuasi total dari

kontaminasi pleura. Sistem irigasi yang digunakan dalam operasi laparoskopi

mungkin merupakan metode ideal untuk membersihkan rongga pleura sebelum

dipasang WSD dan penutupan diafragma. Kontaminasi pleura mungkin sangat

parah, terutama jika operasi tertunda, sehingga torakotomi diperlukan untuk

melakukan drainase yang memadai dari ruang pleura. (Mattox, Moore & Feliciano,

2013).

2.9 Penyembuhan Luka

Luka adalah suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan yang disebabkan

oleh berbagai hal. Luka dapat diklasifikasikan sebagai luka akut, luka kronik dan

luka pasca operasi. Luka akut umumnya disebabkan oleh trauma seperti luka tusuk,

potong, aberasi, laserasi, luka bakar dan lainnya. Luka kronik adalah luka yang

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
13

berlangsung lama yang tidak sembuh dalam waktu yang seharusnya atau sering

rekuren seperti pressure sore (ulkus dekubitus), gangren diabet dan lainnya. Pasien

dengan luka kronik biasanya mempunyai masalah multifaktor yang berpengaruh

dalam penyembuhan luka (Perdanakusuma, 2007)

MAK

Gambar 2.1. Tahapan Penyembuhan Luka Sumber:Rubin E, Farber JL. Pathology, 3rd Edition.

Philadelphia: LippincottWilliams & Wilkins, 1999.

Penyembuhan luka adalah suatu bentuk respon seluler terhadap terjadinya

gangguan atau cidera pada jaringan dan melibatkan aktivasi dari keratinosit,

fibroblast, sel endothel, makrofag, dan platelet. Proses ini meliputi migrasi sel yang

terjadi secara teratur dan keterlibatan dari sel endotel untuk terjadinya angiogenesis.

Terdapat berbagai macam faktor pertumbuhan (growth factor) dan sitokin yang

dilepas untuk mempertahankan penyembuhan luka (Diegelmann RF & Evans MC,

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
14

2004).

Setelah hemostasis tercapai, luka akut secara normal akan mengalami fase-

fase yaitu: (Diegelmann RF & Evans MC, 2004).

2.9.1 Fase inflamasi

Fase ini dimulai sejak terjadinya luka sampai hari kelima. Fase ini

juga disebut fase lag karena kekuatan luka umumnya tidak kembali

segera.Segera setelah terjadinya luka, pembuluh darah yang putus

mengalami konstriksi dan retraksi disertai reaksi hemostasis karena

agregasi trombosit yang bersama jala fibrin membekukan darah.

Komponen hemostasis ini akan melepaskan dan mengaktifkan sitokin

yang meliputi Epidermal Growth Factor (EGF), Insulin-like Growth

Factor (IGF), Plateled-derived Growth Factor (PDGF) dan

Transforming Growth Factor beta (TGF-β) yang berperan untuk

terjadinya kemotaksis netrofil, makrofag, mast sel, sel endotelial dan

fibroblas. Keadaan ini disebut fase inflamasi. Pada fase ini kemudian

terjadi vasodilatasi dan akumulasi lekosit Polymorphonuclear (PMN).

Agregat trombosit akan mengeluarkan mediator inflamasi

Transforming Growth Factor beta-1 (TGF 1) yang juga dikeluarkan

oleh makrofag. Adanya TGF 1 akan mengaktivasi fibroblas untuk

mensintesis kolagen (Perdanakusuma, 2007).

2.9.2 Fase Epitelialisasi

Epitelialisasi atau migrasi merujuk kepada proliferasirefers to sel

basal dan migrasi epithelial yang terjadi pada jembatan fibrin didalam

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
15

clot. Proliferasi berlanjut sampai masing-masing sel dikelilingi sel

dengan jenis yang sama. Migrasi akan berhenti bila seluruh lapisannya

telah kembali, umumnya setelah 48 jam. Lapisan superfisial dari

epithelium membentuk barrierterhadap bakteri dan benda asing lain.

(Derby & Hewitson, 2007)

2.9.3 Fase proliferasi atau fibroplasi

Fase ini disebut fibroplasi karena pada masa ini fibroblas sangat

menonjol perannya. Fibroblas mengalami proliferasi dan mensintesis

kolagen. Serat kolagen yang terbentuk menyebabkan adanya kekuatan

untuk bertautnya tepi luka. Pada fase ini mulai terjadi granulasi,

kontraksi luka dan epitelialisasi (Perdanakusuma, 2007)

Fibroblast berasal dari sel mesenkimal lokal dan akan muncul

pada jaringan luka pada 24 jam pertama dan jumlahnya mencapai

kondisi yang optimal pada hari ke-10. Fibroblast akan melekat kepada

matriks fibrin dari clot, bermultiplikasi, membentuk glikoprotein dan

mukopolisakarida, yang akan menjadi substansi dasar.

(Perdanakusuma, 2007)

Fibroblast juga akan membentuk protein kontraktil. Sel kontraktil

ini, yang merupakan cikal bakal miofibroblast akan muncul pada hari

ke-5 dan memiliki karakteristik sel-sel otot polos yang mampu

berkontraksi. Sel miofibroblast akan menghilang melalui apoptosis

sebagai perbaikan yang membentuk jaringan parut atau scar. Gangguan

pada keadaan ini, dapat menyebabkan fibrosis akibat meningkatnya

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
16

sintesis matriks dankontraksi, sehingga membentuk keloid. Fibroblast

juga mensintesis kolagen, struktur protein utama dari tubuh.

(Haukipuro, 1991)

2.9.4 Fase remodeling atau maturasi

Fase ini merupakan fase yang terakhir dan terpanjang pada proses

penyembuhan luka. Terjadi proses yang dinamis berupa remodelling

kolagen, kontraksi luka dan pematangan parut. Aktivitas sintesis dan

degradasi kolagen berada dalam keseimbangan. Fase ini berlangsung

mulai 3 minggu sampai 2 tahun. Akhir dari penyembuhan ini

didapatkan parut luka yang matang yang mempunyai kekuatan 80%

dari jaringan normal (Perdanakusuma, 2007).

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
17

Gambar 2.2. Skema Penyembuhan Luka.

Keterangan: ADP: adenosine diphosphate; TXA2: thromboxane A2; TGF: transforming growth

factor;PDGF: platelet-derived growth factor; PF4: platelet factor 4; TNF-α: tumor necrosis factor

α;FGF: fibroblast growth factor; PAF: platelet-activating factor; KGF: keratinocyte growth factor.

Sumber:Mulholland MW, Maier RV, et al. Greenfield's Surgery ScientificPrinciples and Practice,

4th ed, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia 2006.

Kekuatan tensil dari luka secara langsung berhubungan dengan

jumlah dan ketebalan kolagen (Campos et al, 2008). Kolagen yang tidak

beraturan akan terjadi degradasi dan reformasi, terjadi ikatan kovalen

yang akan meningkatkan kekuatan tensil. Kekuatan maksimal

bergantung kepada hubungan dari masing-masing dari kolagen.

Diperkirakan sekitar 80 persen dari kekuatan asal jaringan didapatkan

setelah 6 minggu tetapi diameter dan morfologi dari serabut kolagen

pada kulit baru akan menyerupai bentuk dan fungsi awal setelah 180

hari. (Campos et al, 2008)

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
18

Gambar 2.3. Hubungan laju sintesis kolagen sampai mendapatkan kekuatan tensil pada

luka kulit tikus.

Sumber: Madden JW, Peacock EE Jr. Studies on the biology of collagen during wound healing. 1.

Rate of collagen synthesis and deposition in cutaneous wounds of the rat. Surgery 1968; 64:288.

Pada gambar 8, dapat dilihat skema pembentukan maktriks

ekstraseluler dengan tahapan: (A) Matriks ektraselular terdeposit pada

luka, clot fibrin akan lisis oleh enzim proteolitik ekstraseluler dan

fagositosis. (B) Bersamaan dengan hilangnya fibrin, matriks temporer

akan terbentuk oleh proteoglikan, glikoprotein, dan kolagen tipe III. (C)

Fase terakhir dimana matriks temporer akan dihilangkan oleh digesti

ekstraseluler dan intraseluler, dan matriks definitif, yang kaya akan

kolagen tipe I. (Haukipuro, 1991)

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
19

Gambar 2.4. Proses penyembuhan Luka dan Pembentukan Matriks Ektraseluler Sumber: Rubin E,

Farber JL. Pathology, 3rd Edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 1999.

Fase-fase penyembuhan luka akan berjalan normal selama tidak

ada gangguan baik faktor luar maupun dalam. Penyembuhan luka dapat

terganggu oleh berbagai macam faktor. Seringkali mekanisme

tertundanya penyembuhan luka bersifat multi-faktorial, namun

beberapa penyebab utamanya adalah sebagai akibat gangguan perfusi

jaringan, gangguan metabolik, sindroma malabsorpsi (Fincham-Gee,

1990). Faktor lokal pada daerah luka seperti langsung akibat infeksi,

stress mekanikal pada daerah luka, senyawa yang bersifat toksik pada

jaringan, serta keberadaan benda asing dapat mempengaruhi secar

langsung maupun tidak langsung kepada penyembuhan luka. Faktor

lain yang juga dapat mempengaruhi penyembuhan luka adalah akibat

faktor sosioekonomi dan psikologis. (Perdanakusuma, 2007)

Penyembuhan luka scara akut memiliki perjalanan yang linear,

dengan awal dan akhir yang sama. Gambar 9 memberikan ilustrasi

tahapan dan lama dari penyembuhan luka. (Perdanakusuma, 2007)

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
20

Gambar 2.5.Waktu dan Tahapan Penyembuhan Luka dengan Sel Dominan Yang Muncul Sumber :

Mulholland MW, Maier RV, et al. Greenfield's Surgery Scientific Principles and Practice, 4th ed,

oLippincott Williams & Wilkins, Philadelphia 2006.

2.10 Membran Amnion dan Rekayasa Jaringan

Tissue Engineering (TE) atau rekayasa jaringan didefinisikan sebagai

pemgembangan subtitusi atau pengganti biologis dengan tujuan mengembalikan,

mempertahankan, atau memperbaiki fungsi dari sebuah jaringan (Langer dan

Vacanti, 1993). Komponen penting dalam rekayasa jaringan adalah matriks

pendukung tempat sel dan jaringan tumbuh, yang biasa dikenal sebagai scaffold.

Scaffold harus dapat berintegrasi dengan jaringan sel induk dan memberikan

lingkungan pertumbuhan yang sempurna bagi pertumbuhan dan diferensiasi sel.

Atas dasar tersebut, desain dan pemilihan biomaterial yang digunakan sebagai

scaffold merupakan tahapan yang sangat penting dalam rekayasa jaringan

(Arrizabalaga, 2018; Mano et al., 2007). Dalam pembentukan jaringan pada

rekayasa jaringan, masuknya sel-sel ke dalam scaffold merupakan langkah perama

dalam perkembangan pembentukan jaringan (Vunjak-Novakovic et al., 1998).

Berhasil atau tidaknya sel masuk ke dalam scaffold bergantung pula kepada tipe

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
21

dan sumber sel dan juga komponen dari scaffold. (Soylu et al, 2018)

Membran amnion telah lama dianggap sebagai sumber potensial bahan

scaffold. Membran amnion yang dimaksud adalah membran yang berasal dari

bagian dalam plasenta dan terdiri atas lapisan epitel, membran dasar yang tebal dan

jaringan stroma yang avaskular. Struktur yang khusus dan viabilitas dari membran

amnion menjadikannya kandidat yang ideal sebagai scaffold pada rekayasa

jaringan. (Arrizabalaga, 2018)

Membran amnion pertama kali digunakan sebagai transplantasi kulit pada

tahun 1910 (Davis, 2010). Dalam perkembangannya, membran amnion didapatkan

memiliki banyak kegunaan dalam penanganan kasus luka bakar, rekonstruksi dari

rongga mulut, buli-buli, vagina, tympanoplasty; arthroplasty dan masih banyak lagi

(Fernandes et al., 2005). Membran amnion juga memiliki kelebihan lain karena

kemampuannya mengurangi pembentukan jaringan parut dan inflamasi,

mempercepat waktu penyembuhan, dan berfungsi sebagai scaffold untuk proliferasi

dan diferensiasi sel. Komponen matriks ekstraseluler dari membran amnion juga

memiliki faktor pertumbuhan, sehingga membran amnion dianggap merupakan

kandidat yang baik sebagai scaffold alami pada rekayasa jaringan. Membran

amnion sendiri merupakan biomaterial yang mudah didapatkan, diproses, dan

mudah dibawa (Niknejad et al. 2008).

Membran amnion mengandung dua jenis sel yaitu human amnion epithelial

cells (hAEC) yang berasal dari ektoderm embrionik, dan human amnion

mesenchymal stromal cells (hAMSC) yang berasal dari mesoderm embrionik.

Kedua jenis sel ini memiliki kemampuan seperti sel punca. Secara in vitro sel-sel

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
22

ini mampu berdiferensiasi menjadi tiga lapisan germinal, yaitu endoderm,

mesoderm dan ectoderm. Hal ini menunjukkan bahwa amnion memiliki potensi

dalam bidang terapi seluler dan regenerasi jaringan (Diaz-Prado, 2011)

Menurut proposal dari International Society for Cellular Therapy terdapat tiga

kriteria untuk membagi berbagai sel punca, yaitu self-renewal atau dapat

memperbarui dirinya sendiri, multipotentdan memiliki kemampuan pembentukan

jaringan secara in vivo. Karena saat ini belum terdapat marker untuk MSC, kriteria

dasar untuk identifikasi secara mikroskopis adalah morfologi yang menyerupai

fibroblast (fibroblast-like morphology), dan potensi untuk berkembang menjadi sel

yang berasal dari mesoderm secara in vitro. Selain didapatkan dari sumsung tulang,

MSC dapat diisolasi pula dari membran amnion (Diaz-Prado, 2011).

2.11 Anatomi dan Histologi Membran Amnion

Membran amnion berasal dari jaringan ekstra embrional dan terdiri dari

komponen fetal yaitu lempeng korion dan komponen maternal yaitu lapisan

desiduas. Dua bagian ini dipertahankan oleh vili korionik dan berhubungan dengan

cangkang sitotrofoblastik dari kantung korion ke decidua basalis. Komponen fetal

yang terdiri dari membran amnion dan korion fetal, memisahkan fetus dari

endometrium (Fetterolf dan Snyder, 2012, Niknejad et al, 2008).

Membran amniokorionik membentuk batas luar dari kantung yang

melingkupi fetus, sementara lapisan terdalamnya adalah membran amnion.

Membran amnion terdiri dari satu lapisan epitel, basement membrane atau

membran dasar, serta stroma yang bersifat avaskular. Gambar berikut memberikan

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
23

ilustrasi mengenai lapisan dari membran dari fetus yang termasuk didalamnya

terdapat membran amnion. (Arrizabalaga, 2018)

Gambar 2.6. Struktur Membran Amnion secara histologis pada pewarnaan Hemotoksilin-eosin.

AE: Epitel dari amnion.

Sumber: Diaz-Prado S, et al. 2011. Human amniotic membrane as an alternative source of stem

cells for regenerative medicine. Differentiation (2011) 1:162-171.

Membran amnion tidak memiliki pembuluh darah maupun saraf. Nutrien

yang masuk didapatkan melalu difusi dari cairan amnion atau dari lapisan desidua.

Lapisan terdalamnya yang terdekat dengan fetus, disebut dengan amniotic

epithelium dan terdiri atas satu lapis sel yang tersusun secara teratur diatas membran

dasar yang tebal. Membran dasar ini sangat tebal dan kuat dalam mempertahankan

fetus selama masa gestasi. Lapisan matriks jaringan stromal yang berada pada

lapisan setelah membran dasar membentuk kerangka fibrosa dari membran amnion.

Kolagen dari lapisan ini disekresi oleh sel mesenkim yang terletak pada lapisan

fibroblast. Kolagen interstitial tipe I dan III banyak ditemukan pada lapisan ini dan

membentuk lapisan paralel yang mempertahankan itegritas dari membran amnion.

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
24

Kolagen tipe V dan VI membentuk hubungan filamen antara kolagen interstitial dan

epitel pada membran dasar (Fetterolf dan Snyder, 2012).

Lapisan intermediet atau zona spongiosa dari matriks stromal berbatasan

tepat dengan membran korion, dan berisikan proteoglycans dan glikoprotein yang

kaya dan membentuk gambaran seperti sponge atau gabus pada pemeriksaan

histologis, dan mengandung kolagen tipe III. Lapisan spongiosa ini berhubungan

secara longgar pada membran korion, sehingga membran amnion dengan mudah

dapat dipisahkan dari bagian korion dengan diseksi tumpul. (Fetterolf dan Snyder,

2012).

Gambar 2.7. Skema Struktur Membran Fetal dengan komponen Matriks ekstraseluler setiap

lapisan

Sumber: Niknejad H, Peirovi H, Jorjani M, Ahmadiani A, Ghanavi J, Seifalian AM. Properties Of

The Amniotic Membrane For Potential Use In Tissue Engineering. European Cells and

Materials.2008:15;88-99

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
25

Data-data dari berbagai literatur menunjukkan bahwa membran amnion

memiliki kadar MSC yang tinggi. Karena membran amnion berasal dari sel epiblast

sebelum terjadi gastrulasi, beberapa literatur berpendapat bahwa sejumlah sel punca

yang berasal pada masa kehamilan masih bertahan. Bukti pre-klinis maupun klinis

telah menunjukkan bahwa amnion kaya akan sel-sel progenitor. Membran amnion

kemudian dipercaya sebagai alternatif dari sumsum tulang untuk pengobatan

regeneratif. (Arrizabalaga, 2018)

Membran amnion memiliki keistimewaan lain yaitu mengandung growth

factor, sitokin, dan matriks ekstraseluler dalam jumlah yang besar, sehingga

berperan penting dalam penyembuhan luka, dan menjadi bahan dasar atau scaffold

bagi pertumbuhan jaringan baru dan rekayasa jaringan. (Arrizabalaga, 2018)

Secara umum, kelebihan membran amnion lainnya adalah Efek anti

inflamasi, anti mikroba, anti tumorigenik. Efek lainnya adalah mengurangi nyeri,

mencegah jaringan parut, memiliki efek imunogenitas yang rendah bahkan tidak

ada, merangsang penyembuhan luka dan epitelialiasi, serta berfungsi secara

mekanik sebagai pelindung anatomis dan penguapan. Efek anti inflamasinya

bekerja dengan dengan menekan sitokin pro inflamasi IL-1α dan IL-β, serta

memproduksi natural metalloprotease (MMP’s) inhibitor. Penelitian in vitro

menunjukkan bahwa sel yang diisolasi dari amnion tidak merangsang reaksi

allogenik ataupun xenogenik, secara aktif mensupresi proliferasi dari limfosit T dan

menghambat diferensiasi monosit. Membran amnion bertahan lama pada hewan

yang imunokompeten dan sel-sel tumbuh pada berbagai jaringan dan organ.

Amnion mengekspresikan HLA-G yang tidak klasik (class I b) dan kekurangan

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
26

HLA A-B-C- (class I a) yang imunogenitasnya tinggi. (Dua et al., 2004)

Molekul HLA-G menampilkan setidaknya empat kemampuan dalam

menginhibisi respon imun. Yaitu secara langsung mengikat reseptor to inhibitor

pada sel NK dan leukosit lainnya, juga dapat mengikat HLA-e, yang juga akan

menghampat sel NK melalui reseptor CD94/NKg2. Molekul HLA-G juga dapat

merangsang apoptosis dari sel CD8+ serta menghampat proliferasi CD4+. (Dua et

al., 2004).

Lokasi dari sel hAEC dan hAMSC dapat dilihat menggunakan pewarnaan HE

ataupun trikrom dari Masson yang kemudian dilakukan pewarnaan

imunohistokimia. Sel hAEC membentuk selapis epitel ektodermal embrional yang

seragam pada membran basal dan positif pada hAEC positif menggunakan petanda

sitokeratin 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 13, 14, 15, 16 dan 19. Sel hAMSCs berasal dari

mesoderm embrional dan tersebar pada stroma. Pewarnaan imunofloresen

menggunakan CD44, CD90, CD105 CD271 menunjukkan aktivitas stem sel pada

sel ini. (Díaz-Prado et al., 2011)

2.12 Membran Amnion sebagai Scaffold untuk Rekayasa Jaringan

Salah satu persyaratan utama dari pemilihan material untuk scaffold adalah

biokompatibilitas dari materi yang diinginkan. Biokompatibilitas adalah keadaan

suatu materi secara genetik kompatibel atau tidak menimbulkan cidera, tidak

bersifat karsinogenik, toksik, atau menimbulkan respon imun bila diterapkan

kepada jaringan hidup. Scaffold tidak boleh rusak akibat by inflamasi tetapi masih

dapat memberikan respon pada inang secara sesuai. Selain itu, scaffold yang baik

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
27

harus memiliki kemampuan mekanik yang permeabel, stabil, elastis, fleksibel, dan

dapat diresorpsi pada laju yang serupa dengan jaringan yang digantikan (Hasmad

et al, 2018). Scaffold juga harus mampu merangsang adhesi sel dan pengantaran

agen biomodulator seperti growth factor atau faktor pertumbuhan dan materi

genetika (Walgenbach et al., 2001).

Perlekatan sel-sel pada scaffold bergantung kepada komponen matriks

ekstraseluler dari scaffold tersebut. Molekul seperti kolagen, laminin, fibronectin

dan vitronectin pda membran dasar memberikan pengaruh besar dari penempelan

dan pertumbuhan sel-sel. Selain menempel dan bermigrasi, molekul dari matriks

ekstraseluler ini juga berfungsi sebagai ligand adhesi, yang akan mentransmisikan

sinyal melalu interaksi dengan reseptor pada permukaan sel. Sel-sel ini kemudian

akan memberikan respon terhadap berbagai keadaan dari matriks ekstraseluler yang

ada, seperti komposisi dari ligand, kekuatan matriks, dan pembentukan spatial dan

topografi dari scaffold, melalui reseptor permukaan yang disebut integrin

(Sniadecki et al., 2006). Integrin adalah reseptor transmembran yang memiliki sisi

ekstraselulernya terikat pada matriks ekstraseluler, dan sisi intraselulernya

bertautan dengan sitoskeleton. Setelah terjadi pengikatan ligand, reseptor integrin

akan menuju microdomain dari membran sel, yang disebut focal adhesions

(Bacakova et al., 2004). Pada daerah ini, integrin akan berkomunikasi dengan

berbagai struktur dan molekul, berperan pada proses endo dan eksotosis, proliferasi,

differensiasi, dan apoptosis (Moiseeva, 2001; Aplin, 2003). Integrin juga berfungsi

sebagai sensor pada lingkungan matriks ekstraseluler, melakukan regulasi dari

sitoskeleton, dan menjadi pusat dari transduksi sinyal (Burridge, 1996).

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
28

Membran amnion adalah scaffold yang memiliki bagian matriks

ekstraseluler. Sel epitel pada amnion mensekresikan kolagen tipe III dan IV serta

glikoprotein nonkolagen seperti laminin, nidogen, dan fibronektin yang membentuk

membran dasar dari membran amnion sesuai pada gambar. (Arrizabalaga, 2018).

Membran amnion saat ini telah mulai digunakan sebagai metode rekonstuksi

permukaan bola mata untuk penanganan beberapa kondisi seperti intractable

epithelial defects, luka bakar kimiawi, partial limbal cell deficiencies, pemphigoid

ocular cicatricial, dan Stevens-Johnson syndrome (Tseng et al., 1998; Dua et al.,

2004; Sniadecki et al., 2006). Beberapa penelitian eksperimental juga mulai

menggunakan membran amnion sebagai scaffold. Membran amnion merupakan

conduit untuk regenerasi saraf perifer (Mohammad et al., 2000; Mligiliche et al.,

2002). Membran amnion juga dapat digunakan sebagai lapisan tambahan untuk

tumbuhnya sel punca dan dipergunakan untuk diferensiasi neuronal (Miyamoto et

al., 2004; Ueno et al., 2006; Meng et al., 2007). Membran amnion juga diteliti

sebagai pembawa kondrosit, dan saat ini mulai dipercaya bahwa membran amnion

dapat menjadi matriks pembawa untuk regenerasi kartilago (Meng et al., 2007).

2.13 Pengolahan Membran Amnion

2.13.1 Pengambilan

Plasenta yang segar didapatkan secara aseptik dari ruang

bersalin. Sebelum dilakukan pengambilan, dilakukan seleksi donor

dan permintaan persetujuan dari donor. Plasenta diletakkan dalam

wadah steril yang berisi NaCl fisiologis dan membran amnion

dipisahkan dari plasenta secara tumpul. Membran amnion kemudian

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
29

dibilas dengan NaCl fisiologis sampai bersih dan disimpan pada

suhu 4oC paling lama 4 hari sebelum dilakukan pengolahan

2.13.2 Pengolahan

Seluruh proses pengolahan dilakukan secara steril dan setiap

langkah tercatat. Pada akhir proses pengolahan sebelum dikemas,

diambil contoh jaringan dan NaCl dari pembilasan untuk dilakukan

pemeriksaan mikrobiologi.

Membran amnion kemudian direndam dalam Natrium

Hipoklorit 0,05% selama 10 menit lalu dimasukkan ke dalam water

bath saker yang diisi NaCl fisiologis steril dengan suhu setara suhu

ruangan. NaCl diganti setiap 15 menit sebanuak 10 kali. NaCl

terakhir diambil sedikit untuk contoh pemeriksaan mikrobiologis.

Membran amnion yang telah dibilas, diregangkan dan

diletakkan di atas kasa steril dengan sisi korion menghadap ke kasa,

kemudia dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Proses ini

dilakukan di dalam laminar air flow cabiner. Membran amnion

kemudian diletakkan dalam tempat steril dan disimpan dalam lemari

pendingin selama 24 jam.

Membran amnion kemudian dilakukan proses Freeze-Drying

dengan sebelumnya dilakukan pencucian menggunakan alkohol

70% lalu didinginkan pada suhu -40oC dengan tujuan mengurangi

kandungan air sampai 6-7%.

Hasil akhir dari membran amnion kemudian dilakukan

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
30

didalam laminar air flow cabinaet dengan menggunakan plastik

polietilen. Penutupan menggunakan plastik dengan vacuum sealer.

Sterilisasi dilakukan dengan metode kimia (etilen oksida) atau

radiasi.

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr.


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB III

KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

31

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
32

3.2 Konsep

Repair gaster menggambarkan beberapa faktor sistemik, lokal, dan operatif

yang bersamaan mempengaruhi rangkaian proses penyembuhan luka. Infeksi

intraperitoneal mengganggu penyembuhan luka dengan memperpanjang fase

inflamasi dan menyebabkan peningkatan ekspresi protease jaringan. Sifat anti

bakteri membran amnion dimungkinkan karena elemen seperti interferon,

lysozyme, transferrin, progresteroen, immunoglobulin, dan globulin B1c/B1a yang

terdapat dalam cairan amnion. MAK juga mengurangi eksudat dengan menempel

rapat pada luka. MAK juga bersifat anti inflamasi karena banyaknya bahan yang

menghambat mediator inflamasi seperti protease. MAK mengandung kolagen dan

Growth Factor dengan molekul tinggi yang dapat memfasilitasi proliferasi sel

epitel, menginduksi deferensiasi epitel dan mencegah apoptosis sel. Efek anti

inflamasi dari MAK menekan sitokin pro inflamasi IL-1α dan IL-β, serta

memproduksi natural metalloprotease (MMP’s) inhibitor. Efek yang secara aktif

mensupresi proliferasi dari limfosit T dan menghambat diferensiasi monosit.

Membrane amnion memiliki inhibitor natural pada matriksnya yang mampu

menstabilkan ekspresi matrix metalloproteinase pada lingkungan inflamasi yang

memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan.

Pada penggunaan MAK sebagai biologic dressing untuk ruptur gaster,

diharapkan proses penyembuhan repair ruptur gaster lebih baik dibandingkan

dengan repair primer ruptur gaster tanpa MAK. Dengan adanya MAK yang

melindungi repair ruptur, akan meningkatkan jumlah fibroblas dan ketebalan

kolagen. Jumlah fibroblast dan ketebalan kolagen ini yang akan dievaluasi secara

32

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
33

kuantitatif dengan kadar hydroxyprolin pada repair ruptur.

3.3 Hipotesis

Ada peningkatan jumlah fibroblas dan ketebalan kolagen pada repair ruptur

gaster dengan MAK sebagai biologic dressing dibandingkan dengan repair primer

ruptur gaster tanpa menggunakan MAK pada kelinci.

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan studi

randomized control trial dengan menggunakan hewan coba kelinci. Pengukuran

variabel dilakukan pada akhir penelitian. Pada awal penelitian dilakukan Control

by Design dengan menghomogenkan sampel penelitian.

Kelinci coba akan dibagi menjadi dua kelompok, kelompok membrane

amnion (PA) dan kelompok anastomosis (P), dengan masing masing jumlah sampel

yang sama. Pada kedua kelompok dilakukan ruptur sepanjang 2 cm dengan lebar

0,5 cm dengan kedalaman seluruh dinding gaster pada corpus gaster dan dilakukan

repair ruptur dengan 4-6 jahitan satu-satu menggunakan benang monofilament

polypropylene 5/0. Pada grup PA, repair ditutup dengan membrane amnion

manusia dengan lebar 4 cm x 2 cm, dengan membran basalis menghadap

permukaan serosa gaster. Membrane amnion difiksasi pada serosa gaster dengan 2-

3 jahitan. Lapisan otot perut dan kulit ditutup terpisah dengan jahitan silk 3/0

jelujur. Setelah operasi, kelinci diberikan larutan PZ 50 cc subktan untuk

kompensasi kehilangan cairan selama operasi. Kelinci diberikan makanan standard

dan air 6 jam setelah operasi. Kelompok PA dan kelompok P dikorbankan pada hari

ke-7 setelah operasi untuk meneliti karakteristik penyembuhan anastomosis.

Kelompok hewan coba dilabeli sebagai PA dan P menurut penggunaan membrane

amnion. Hasil evaluasi yang diteliti adalah penyembuhan secara histopatologi

34

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
35

dengan menggunakan fiksasi formalin.

4.2 Populasi dan Besar Sampel Penelitian

4.2.1 Populasi penelitian

Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah hewan coba jenis New

Zealand White Rabbit di unit hewan coba laboratorium Biokimia Fakultas

kedokteran Universitas Airlangga.

4.2.2 Sampel penelitian

Sampel penelitian adalah kelinci coba jenis New Zealand white rabbit yang

telah dipilih berusia 6-9 bulan dengan berat badan 1900 gram dan diambil dari unit

hewan coba laboratorium biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

4.2.3 Kriteria Inklusi dan Eksklusi

Sebagian kelinci yang diambil dari unit eksperimen telah masuk kriteria

inklusi dan eksklusi:

Kriteria Inklusi:

a. Usia antara 6 sampai 9 bulan

b. Berat badan antara 1900 sampai 2500 gram

c. Tidak didapatkan abnormalitas anatomis yang tampak

Kriteria eksklusi:

a. Tidak dipuasakan selama 12 jam

b. Selama masa puasa 12 jam berperilaku agresif dan menyerang kelinci lain

c. Infeksi selama perlakuan percobaan berlangsung, yang ditandai dengan

respiratory rate >60x/menit, suhu rektal>40o C, luka operasi merah dan

mengeluarkan nanah

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
36

4.2.4 Besar sampel

Untuk menentukan besarnya sampel pada penelitian ini maka rumus yang

dipakai adalah:

Jumlah sampel(n)=(r-1) (t-1) >20

r = replikasi

t = jumlah pengamatan atau intervensi

(r-1) (2-1) >20

(r-1)1>20

r-1>20

r > 21

Penggulangan/replikasi pada penelitian ini sebanyak 21 kelinci. Pada

kelompok P terdapat 21 kelinci yang diperiksa secara histopatologis pada hari ke-

7 (P). Pada kelompok PA terdapat 21 kelinci yang diperiksa secara histopatologis

pada hari ke-7 (PA). Jadi secara keseluruhan ada 42 kelinci yang digunakan pada

penelitian ini. Seluruh hewan coba diperlakukan sesuai dengan aturan Animal Care

and Use Committee Universitas Airlangga.

4.3 Variabel

4.3.1 Variabel Bebas

Membran amnion yang dijahitkan pada repair ruptur gaster.

4.3.2 Variabel Tergantung

Jumlah Fibroblas dan ketebalan kolagen yang dinilai secara histopatologi.

4.4 Definisi Operasional

4.4.1 Membran Amnion

36

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
37

Membran Amnion yang dipergunakan adalah berbentuk fresh-dried

Amnion yang didapatkan dari bank Jaringan RSUD Dr. Soetomo

4.4.2 Fibroblas

Fibroblas adalah sel yang mensintesis matriks ekstra seluler dan kolagen

yang berperan penting dalam penyembuhan luka. Diperiksa menggunakan

pewarnaan hematoxylin-eosin, fibroblast umumnya berkelompok

membentuk garis sejajar dengan sitoplasma berwarna kemerahan dan

jumlahnya dihitung dengan micrometer graticule pada pembesaran 400x.

4.4.3 Kolagen

Kolagen merupakan protein yang terbanyak pada jaringan tubuh, termasuk

kulit. Kolagen yang memungkinkan terbentuk tensile strength pada kulit.

Kolagen di periksa menggunakan pewarnaan HE dan diukur ketebalannya

pada daerah tepi luka dengan micrometer dengan pembesaran 400x.

4.5 Alat dan Bahan Penelitian

 Spuit 5 cc, spuit 10 cc

 Mesh no. 10 dan no. 11

 Meja dan instrumen operasi

 Diethyl eter, Povidone iodine

 Doek steril, sarung tangan steril

 Benang monofilament polypropylene 5/0 dan silk 3/0

 Kandang perawatan di Laboratorium farmakologi Fakultas

Kedokteran Unair

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
38

4.6 Prosedur Penelitian

 Dipilih 42 ekor kelinci (New Zealand white rabbit) yang berusia 9 bulan,

dengan berat badan antara 1900 gram.

 Setelah puasa selama 12 jam, kelinci dibius menggunakan injeksi ketamin

HCL 50 mg/Kg secara intramuskular.

 Cukur perut kelinci dan desinfeksi daerah operasi dengan povidon iodine

10% dan dilanjutkan dengan swab alcohol 70%. Kemudian dilakukan

drapping steril agar daerah operasi tetap steril.

 Dalam kondisi asepsis, lakukan 4 cm laparotomi midline menggunakan

mesh no. 10 dengan membuka lapirsan dinding abdomen satu persatu.

 Pada kedua kelompok dilakukan ruptur gaster sepanjang 2 cm dengan

lebar 0,5 cm dengan kedalaman seluruh dinding gaster pada corpus gaster

menggunakan mesh no. 11 dan dilakukan repair ruptur satu lapis dengan

4-6 jahitan satu-satu menggunakan benang monofilament polypropylene

5/0.

 Pada kelompok PA, anastomosis ditutup dengan membrane amnion

manusia dengan lebar 2 cm x 3 cm, dengan membran basalis menghadap

permukaan serosa gaster. Membrane amnion difiksasi pada serosa gaster

dengan 2-3 jahitan.

 Lapisan otot perut dan kulit ditutup terpisah dengan jahitan silk 3/0.

 Setelah operasi, kelinci diberikan larutan PZ 50 cc subktan untuk

kompensasi kehilangan cairan selama operasi.

 Semua kelinci diberikan makanan standard dan air 6 jam setelah operasi.

38

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
39

4.7 Prosedur Operasional

 Kelinci coba akan dibagi menjadi dua kelompok, dengan masing masing

jumlah sampel yang sama. Pada kedua kelompok dilakukan ruptur gaster

sepanjang 2 cm di corpus gaster dan dilakukan repair ruptur satu lapis

dengan 4-6 jahitan satu-satu menggunakan benang monofilament

polypropylene 5/0. Pada kelompok PA, anastomosis ditutup dengan

membrane amnion kering dengan lebar 2 cm x 3 cm, dengan membran

basalis menghadap permukaan serosa gaster. Membrane amnion difiksasi

pada serosa gaster dengan 2-3 jahitan.

 Dari kedua kelompok tersebut, spesimen akan dikorbankan pada hari ke

7. Segmen repair ruptur sepanjang 5 mm dipotong, dan difiksasi dalam

formaldehyde 10% untuk pemeriksaan histopatologi.

 Pengorbanan kelinci dilakukan dengan memberikan ether dosis tinggi

(overdosis)

 Spesimen dikirim ke bagian patologi anatomi untuk pemeriksaan

histopatologi.

4.8 Pengumpulan dan Analisa Data

Data yang diperoleh merupakan data nominal dalam penelitian kemudian

dicatat dan dianalisis serta dibandingkan dengan kelompok kontrol dan perlakuan

dengan uji nonparametrik Fishers Exact Test. Program pengolahan data statistik

yang digunakan adalah program SPSS 16.

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
40

40

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
41

4.10 Jadwal Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Februari 2019-Maret 2019

4.11 Biaya Penelitian

Penyusunan proposal = Rp. 700.000,-

Kelinci coba (@ Rp. 300.000,-) = Rp. 12.600.000,-

Perawatan kelinci coba = Rp. 1.500.000,-

Persiapan pre op dan anestesi = Rp. 1.500.000,-

Instrumen dan alat operasi = Rp. 1.000.000,-

Membran Amnion = Rp. 3.000.000,-

Penyusunan hasil penelitian = Rp. 1.500.000,-

Administrasi laboratorium = Rp. 400.000,-

Pembuatan dan pembacaan slide PA = Rp. 3.200.000

_______________________________________________

Total biaya penelitian Rp. 24.400.000,-

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB V

HASIL PENELITIAN

5.1 Karakteristik Sampel Penelitian

Sampel penelitian ini melibatkan 42 hewan coba kelinci yang dilakukan

perlukaan (ruptur) sepanjang 2 cm dengan lebar 0,5 cm dengan kedalaman seluruh

dinding gaster pada corpus gaster dan dilakukan repair ruptur dengan 4-6 jahitan

satu-satu menggunakan benang monofilament polypropylene 5/0. Sampel

selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok yaitu sampel dengan kelompok repair

primer ruptur gaster (tanpa menggunakan MAK) dan kelompok dengan

menggunakan MAK. Pada perhitungan sampel didapatkan 21 sampel untuk

kelompok tanpa menggunakan MAK dan 21 sampel untuk kelompok dengan

menggunakan MAK.

Tabel 5.1 Karakteristik Sampel Penelitian

Karakteristik Jumlah Sampel Penelitian Uji Statistik

Tanpa menggunakan Dengan menggunakan (p)

MAK (N=21) MAK (N=21)

Usia (bulan) Mean: 7,52 Mean: 7,76 0,416

Median: 8,00 Median: 8,00

SD: 0,93 SD: 0,83

Min: 6 Min: 6

Maks: 9 Maks: 9

42

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
43

Berat Badan Mean: 2171,43 Mean: 2252,38 0,557

(gram) Median: 2200,00 Median: 2300,00

SD: 170,71 SD: 183,36

Min: 1900 Min: 1900

Maks: 2500 Maks: 2500

Jumlah Mean: 70,90 Mean: 91,00 0,000

Fibroblast Median: 70,00 Median: 92,00

SD: 10,26 SD: 10,82

Min: 54 Min: 70

Maks: 92 Maks: 117

Ketebalan Mean: 3142,48 Mean: 4703,71 0,006

Kolagen Median: 2952,00 Median: 4480,00

SD: 1271,29 SD: 1807,88

(μm) Min: 1313 Min: 2160

Maks: 5230 Maks: 7545

Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa rerata usia sampel penelitian

pada kelompok tanpa menggunakan MAK adalah 7,52 ± 0,93 bulan dan kelompok

dengan menggunakan MAK adalah 7,76 ± 0,83 bulan serta berat badan pada

kelompok tanpa menggunakan MAK adalah 2171,43 ± 170,71 gram dan kelompok

dengan menggunakan MAK adalah 2252,38 ± 183,36 gram. Karakteristik sampel

pada data dasar penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna

karakteristik antara variabel Berat Badan dan Usia Kelinci pada kedua kelompok

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
44

sampel dimana p = 0,416 pada variabel Berat Badan Kelinci dan p = 0,557 pada

variabel Usia Kelinci. Hal ini menyatakan bahwa kelinci pada kedua kelompok

bersifat homogen (p>0.05).

Berdasarkan tabel diatas didapatkan bahwa rerata Jumlah Fibroblast pada

kelompok tanpa menggunakan MAK 70,90 ± 10,26 dan kelompok dengan

menggunakan MAK 91,00 ± 10,82 dimana rerata Jumlah Fibroblast pada kelompok

dengan menggunakan MAK lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tanpa

menggunakan MAK. Rerata Ketebalan Kolagen pada kelompok tanpa

menggunakan MAK 3142,48 ± 1271,29 μm dan kelompok dengan menggunakan

MAK 4703,71 ± 1807,88 μm dimana rerata Ketebalan Kolagen pada kelompok

dengan menggunakan MAK lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tanpa

menggunakan MAK.

Karakteristik sampel pada data penelitian menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan bermakna karakteristik Jumlah Fibroblast dan Ketebalan Kolagen pada

kedua kelompok sampel dimana p = 0,000 pada Jumlah Fibroblast dan p = 0,006

(p<0.05). Hal ini menunjukkan bahwa tedapat perbedaan bermakna pada

penggunaan MAK sebagai biologic dressing dibandingkan dengan repair primer

ruptur gaster (tanpa menggunakan MAK) pada hewan coba kelinci.

44

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB VI

PEMBAHASAN

Repair gaster menggambarkan beberapa faktor sistemik, lokal, dan operatif

yang bersamaan mempengaruhi rangkaian proses penyembuhan luka.

Penyembuhan luka adalah suatu bentuk respon seluler terhadap terjadinya

gangguan atau cidera pada jaringan dan melibatkan aktivasi dari keratinosit,

fibroblast, sel endothel, makrofag, dan platelet. Proses ini meliputi migrasi sel yang

terjadi secara teratur dan keterlibatan dari sel endotel untuk terjadinya angiogenesis

(Terdapat berbagai macam faktor pertumbuhan (growth factor) dan sitokin yang

dilepas untuk mempertahankan penyembuhan luka. Setelah homeostasis tercapai,

luka akan mengalami 4 fase penyembuhan yaitu fase inflamasi, fase epitelisasi, fase

proliferasi, dan fase maturasi. Dimana pada fase proliferasi, fibroblast memiliki

peran utama untuk proliferasi jaringan dan sintesis kolagen (struktur protein utama

dari tubuh) (Soylu S., dkk., 2018).

Membran amnion memiliki kelebihan karena mempunyai kemampuan

untuk mengurangi pembentukan jaringan parut dan inflamasi, mempercepat waktu

penyembuhan, dan berfungsi sebagai scaffold untuk proliferasi dan diferensiasi sel.

Komponen matriks ekstraseluler dari membran amnion juga memiliki faktor

pertumbuhan, sehingga membran amnion dianggap merupakan kandidat yang baik

sebagai scaffold alami pada rekayasa jaringan. Membran amnion juga mengurangi

eksudat dengan menempel rapat pada luka dan bersifat sebagai anti inflamasi

karena banyaknya bahan yang menghambat mediator inflamasi seperti protease.

45

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
46

Efek anti inflamasi dari membran amnion menekan sitokin pro inflamasi IL-1α dan

IL-β, serta memproduksi natural metalloprotease (MMP’s) inhibitor. Efek yang

secara aktif mensupresi proliferasi dari limfosit T dan menghambat diferensiasi

monosit. Membrane amnion memiliki inhibitor natural pada matriksnya yang

mampu menstabilkan ekspresi matrix metalloproteinase pada lingkungan inflamasi

yang memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan (Kuper dkk, 2016).

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa terdapat peningkatan

jumlah fibroblast dan ketebalan kolagen pada repair ruptur gaster dengan MAK

sebagai biologic dressing dibandingkan dengan repair primer ruptur gaster tanpa

menggunakan MAK. Pada penelitian ini menggunakan 42 hewan coba kelinci yang

dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 21 sampel untuk kelompok tanpa menggunakan

MAK dan 21 sampel untuk kelompok dengan menggunakan MAK. Pada 42 sampel

penelitian didapatkan rerata usia sampel penelitian pada kelompok tanpa

menggunakan MAK adalah 7,52 ± 0,93 bulan dan kelompok dengan menggunakan

MAK adalah 7,76 ± 0,83 bulan serta berat badan pada kelompok tanpa

menggunakan MAK adalah 2171,43 ± 170,71 gram dan kelompok dengan

menggunakan MAK adalah 2252,38 ± 183,36 gram. Uji statistik menyatakan

bahwa variabel Berat Badan dan Usia Kelinci pada kedua kelompok sampel tidak

memiliki perbedaan bermakna, dimana p = 0,416 pada variabel Berat Badan Kelinci

dan p = 0,557 (keduanya memiliki nilai uji p > 0.05). Hal tersebut menyatakan

bahwa sampel pada kedua kelompok uji bersifat homogen.

46

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
47

Gambar 6.2 Grafik Perbandingan Ketebalan Kolagen pada Sampel Penelitian Hasil

penelitian menyatakan bahwa jumlah fibroblas kelompok tanpa

menggunakan MAK dibandingkan dengan kelompok menggunakan MAK

adalah sebesar 70,90 (±10,26) : 91,00 (±10,82). Ketebalan kolagen kelompok tanpa

menggunakan MAK dibandingkan dengan kelompok menggunakan MAK adalah

sebesar 3.142,48 μm (±1.271,29) : 4.703,71 μm (±1.807,88). Distribusi

perbandingan hasil penelitian kedua variabel tersebut nampak pada gambar 6.1 dan

6.2 diatas. Uji statistik dilakukan untuk mencari perbedaan Jumlah Fibroblast dan

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
48

Ketebalan Kolagen antara kedua kelompok sampel. Jumlah Fibroblast dan

Ketebalan Kolagen pada kedua kelompok sampel memiliki perbedaan bermakna

dimana p = 0,000 pada Jumlah Fibroblast dan p = 0,006 pada Ketebalan Kolagen

(keduanya memiliki nilai uji p<0.05).

Studi dari Forbes dan Fetterrolf membuktikan hubungan signifikan

penggunaan MAK sebagai penyembuhan luka dimana MAK dapat menyediakan

matriks untuk migrasi seluler dan proliferasi, meningkatkan penyembuhan melalui

beragam proses, dan mengandung barier biologis alami terhadap kontaminan

eksternal (Forbes dan Fetterrolf, 2012). Studi lain oleh Zelen dkk menunjukkan

bahwa membran amnion selain berfungsi untuk penyembuhan luka juga untuk

perbaikan jaringan dan terapi regeneratif dimana mengandung faktor pertumbuhan,

seperti epidermal growth factor (EGF), basic fibroblast growth factor (bFGF),

keratinocyte growth factor (KGF), vascular EGF (VEGF), transforming growth

factors (TGFs); nerve growth factor (NGF), dan banyak kemokin yang diketahui

penting untuk penyembuhan luka (Zelen dkk, 2015). Sehingga melalui penelitian

ini (tabel 5.1) dan sesuai dengan studi lainnya, kami dapatkan bahwa terdapat

hubungan yang signifikan antara penggunaan MAK sebagai biologic dressing

dibandingkan dengan repair primer ruptur gaster tanpa menggunakan MAK.

48

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 KESIMPULAN

Terdapat perbedaan yang signifikan pada jumlah fibroblas dan ketebalan

kolagen pada repair ruptur gaster menggunakan MAK sebagai biologic dressing

dibandingkan dengan repair primer ruptur gaster tanpa menggunakan MAK.

7.2 SARAN

1. Penelitian penggunaan MAK sebagai biologic dressing pada kasus ruptur

gaster manusia baik pada perforasi maupun trauma.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan sampel yang

lebih besar, jenis luka yang berbeda serta pemeriksaan mediator

penyembuhan dan inflamasi lainnya.

49

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
50

DAFTAR PUSTAKA

1. American College of Surgeons. 2018. Advanced Trauma Life Support,

American College Surgeons, Chicago. pp. 357-80.

2. Aplin, AE. 2003. ‘Cell adhesion molecule regulation of nucleocytoplasmic

trafficking.’ FEBS Lett, 534, 11-4.

3. Arrizabalaga JH. Nollert MU. 2018. Human Amniotic Membrane: A

Versatile Scaffold for Tissue Engineering. ACS Biomaterials Science &

Engineering. Vol.4(7): 2226-36.

4. Bacakova, L. Filova, E. Rypacek, F. Svorcik, V. Stary, V. 2004 ‘Cell

adhesion on artificial materials for tissue engineering.’ Physiol Res 53 Suppl

1, S35-45.

5. Bhimji SS, Burns B. 2018. Penetrating Abdominal Trauma. In: StatPearls

[Internet]. Treasure Island (FL): Stat Pearls Publishing: Jan 2018.

Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459123/

6. Burridge K, Chrzanowska-Wodnicka M. 1996. Focal adhesions, contractility,

and signaling. Annu Rev Cell Dev Biol 12: 463-518

7. Butt MU. Zacharias N. Velhamos GC. 2009. Penetrating Abdominal Injuries:

Management Controversies. Scandinavian Journal Of Trauma, Resuscitation

and Emergency Medicine. 17:19.

8. Campos ACL. Groth AK. Branco AB. 2008. Assesment and Nutritional

Aspects Of Wound Healing. Current Opinion And Clinical Nutrition and

Metabolic Care. Vol. 11(3): 281-8.

50

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
51

9. Davis, JW. 2010. ‘Skin transplantation with a review of 550 cases at the Johns

Hopkins Hospital.’ Johns Hopkins Med J 15, 307.

10. Derby I,Hewitson. 2007. Fibroblast differentiation in wound healing and

fibrosis. Int Rev Cytol. Vol. 257: 143-79.

11. Diaz-Prado S, et al. 2011. Human Amniotic Membrane as an Alternative

Source of Stem Cells for Regenerative Medicine. Differentiation 1:162- 171

12. Diegelmann, R. F., Evans, M. C. 2004. Wound Healing: An Overview of

Acute, Fibrotic and Delayed Healing. Frontiers in Bioscience. Vol. 9:283-

289.

13. Dua SH, Azuara-Blanco A, 2004. Amniotic Membrane Transplantation. Br.

Journal Opthalmology Vol. 83:748–752

14. Enaganti S. 2006. The Disease And Non-Drug Treatment. Hospital

Pharmacist. 13: 239-42.

15. Fernandes, M. Sridhar, MS. Sangwan, VS. Rao, GN. 2005, ‘Amniotic

membrane transplantation for ocular surface reconstruction.’ Cornea 24, 643-

53

16. Fetterolf, DE. Snyder, RJ. 2012. ‘Scientific and Clinical Support for the Use

of Dehydrated Amniotic Membrane in Wound Management’, Wounds,

24(10), pp. 299–307

17. Fincham-Gee, C. 1990. Nutrition and wound healing. Nursing Vol. 4: 18, 26-

28

18. Guniganti P. Bradenham GH. Raptis C. Menias CO. Mellnick VM. 2018. CT

Of Gastric Emergencies. Radiographics. pp.1909-21.

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
52

19. Hasmad H. Yusof MR. Razi ZR. Idrus RB. Chowdury SR. 2018. Human

Amniotic Membrane With Aligned Electrospun Fiber As Scaffold for

Aligned Tissue Regeneration. Tissue Engineering Part C: Methods.Vol.

24(6): 368-78

20. Haukipuro et al. 1991. Collagen Synthesis In Intact Skin Is Suppressed

During Wound Healing. Ann Surg. Apr; 217(4): 397–403

21. Junqueira L, Carneiro J, Kelly O. 2007. Basic histology: teks and atlas, 13th

edition. Philadelphia: McDraw Hill. pp. 501.

22. Khan, MA. McMonagle M. 2018. Abdominal Trauma. Trauma: Code Red.

p.44-57.

23. Langer R, Vacanti JP. 1993. Tissue engineering. Science. May

14;260(5110):920-6.

24. Madden JW, Peacock EE Jr. 1968. Studies on the biology of collagen during

wound healing. 1. Rate of collagen synthesis and deposition in cutaneous

wounds of the rat. Surgery pp. 64:288.

25. Madiba, TE. Hlophe, M. 2008, Gastric Trauma: A Straightforward Injury, But

No Room For Complacency. SAJS. 46: 10-13.

26. Mano, JF. Silva, GA. Azevedo, HS. Malafaya, PB. Sousa, RA. Silva, SS.

Boesel, LF. Oliveira, JM. Santos, TC. Marques, AP. Neves, NM. Reis, RL.

2007. ‘Natural origin biodegradable systems in tissue engineering and

regenerative medicine: present status and some moving trends.’ J R Soc

Interface 4, 999-1030

27. Mattox, KL. Moore, EE. Feliciano, DV.2013, ‘Trauma.’ McGraw Hill, New

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
53

York. pp. 1125-38.

28. Meng XT, Chen D, Dong ZY, Liu JM. 2007. Enhanced Neural Differentiation

of Neural Stem Cells and Neurite Growth by Amniotic Epithelial Cell Co-

Culture. Cell Biol Int 31(7):691-8

29. Miyamoto K, Hayashi K, Suzuki T, Ichihara S, Yamada T, Kano Y, Yamabe

T, Ito Y. 2004. Human placenta feeder layers support undifferentiated growth

of primate embryonic stem cells. Stem Cells 22: 433-440.

30. Mligiliche, N. Endo, K. Okamoto, K. Fujimoto, E. Ide, C. 2002. ‘Extracellular

matrix of human amnion manufactured into tubes as conduits for peripheral

nerve regeneration.’ J Biomed Mater Res 63, 591- 600

31. Mohammad J, Shenaq J, Rabinovsky E, Shenaq S. 2000. Modulation of

Peripheral Nerve Regeneration: A Tissue-Engineering Approach. The Role

of Amnion Tube Nerve Conduit across a 1-Centimeter Nerve Gap. Plast

Reconstr Surg 105: 660-666

32. Moiseeva EP .2001. Adhesion receptors of vascular smooth muscle cells and

their functions. Cardiovasc Res 52: 372-386.

33. Mulholland MW, Maier RV, et al. 2006. Greenfield's Surgery Scientific

Principles and Practice, 4th ed, Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia.

pp. 388-435.

34. Niknejad, H. Peirovi, H. Jorjani, M. Ahmadiani, A. Ghanavi, J. Seifalian,

AM. 2008. ‘Properties Of The Amniotic Membrane For Potential Use In

Tissue Engineering.’ European Cells and Materials 15, 88-99

35. Ozel SK. Kazez A. Akpolat N. 2006. Does A Fibrin-Collagen Patch Support

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
54

Early Anastomotic Healing In The Colon? An Experimental Study. Tech

Coloproctol. 10:233-6.

36. Perdanakusuma DS. 2007. Anatomi Fisiologi Kulit Dan Penyembuhan Luka,

Plastic Surgery Departement, Airlangga University School of Medicine Dr.

Soetomo General Hospital, Surabaya. Hal. 27-38.

37. Philipson M, Johanson MEV, Henriknas J, Petersson J, Gendler SJ. 2008. The

Gastric Mucus Layers: Constituents And Regulation Of Accumulation. Am J

Physiol Gastrointest Liver Physiol. 295: 806-12.

38. Price SA and Wilson LM. 2006. Pathophysiology: clinical concepts of disease

processes, 6th. New York: Mcgraw Hill. pp. 417-26.

39. Ramakrishnan K and Salnas RC. 2007. Peptic Ulcer Disease. American

Family Physician. 76: 1005-12.

40. Robbins SL, Cotran RS, Kumar V. 2007. Buku ajar patologi edisi ke-7.

Jakarta: EGC. 1(15): 609-63.

41. Rubin E, Farber JL. 1999. Pathology, 3rd Edition. Philadelphia: Lippincott

Williams & Wilkins. pp. 588-90.

42. Sniadecki, NJ. Desai, RA. Ruiz, SA. Chen, CS. 2006. ‘Nanotechnology for

cell-substrate interactions.’ Ann Biomed Eng 34, 59-74

43. Soylu S. Yildiz C. Bozkurt B. Karakus S. Kurt B. Kurt A. 2018. Amniotic

Membrane -Coated Polypropylene Mesh For The Repair of Incisional Hernia:

An Experimental Study In A Rat Model With Abdominal Wall Defect. Iran

Red Crescent Med J. Vol. 20(3) : 1334-7

44. Toda A. Okabe M. Yoshida T. Nikaido T. 2007. The Potential of Amniotic

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
55

Membrane/Amnion-Derived Cells for Regeneration of Various Tissues. J

Pharmacol Sci.105: 215-28

45. Toruner M. 2007. Aspirin and gastrointestinal toxicity. Anatol J Cardiol. 7:

27-30.

46. Tseng SC, Prabhasawat P, Barton K, Gray T, Meller D. 1998. Amniotic

Membrane Transplantation With or Without Limbal Allografts for Corneal

Surface Reconstruction in Patients with Limbal Stem Cell Deficiency. Arch

Ophthalmol 116: 431-441

47. Ueno M et al. 2006. Neural Conversion of ES Cells by an Inductive Activity

on Human Amniotic Membrane Matrix. Proc Natl Acad Sci USA 103: 9554-

48. Uludag M. Citgez B. Ozkaya O. Yetkin G. Ozcan O. Polat N. Isgor A. 2009.

Effect Of Amniotic Membrane On The Healing Of Normal And High-Risk

Colonic Anastomosis In Rats. Int J Colorectal Dis. 24: 809-17.

49. Vunjak-Novakovic, G. Obradovic, B. Martin, I. Bursac, PM. Langer, R.

Freed, LE. 1998. ‘Dynamic cell seeding of polymer scaffolds for cartilage

tissue engineering.’ Biotechnol Prog 14, 193-202

50. Walgenbach, KJ. Voigt, M. Riabikhin, AW. Andree, C. Schaefer, DJ. Galla,

TJ. Bjorn, G. 2001. ‘Tissue engineering in plastic reconstructive surgery.’

Anat Rec 263, 372-8.

51. Weinberg JA. Croce MA. 2015. Penetrating Injuried To The Stomach,

Duodenum, and Small Bowel. Curr Trauma Rep. Vol 1: 107-12

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
56

LAMPIRAN 1

Data Dasar Penelitian

BB BB No Usia Kelompok Kelompok

Kelompok Kelompok Tanpa Amnion Amnion

No Tanpa Amnion (bulan) (bulan)

Amnion (gram) 1 6 9

(gram) 2 7 8

1 1900 2000 3 7 8

2 2200 2100 4 8 8

3 2000 2000 5 7 7

4 2100 2200 6 6 6

5 2200 2400 7 7 7

6 1900 2500 8 8 8

7 2400 2200 9 9 7

8 2300 2400 10 8 8

9 2200 2500 11 7 9

10 2400 2300 12 8 8

11 2100 2300 13 9 7

12 2000 2200 14 8 7

13 2200 2400 15 8 8

14 2400 2100 16 7 7

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
57

15 2500 2000 17 8 7

16 2300 2500 18 7 9

17 2200 1900 19 9 9

18 2100 2400 20 8 8

19 2000 2300 21 6 8

20 2200 2200

21 2000 2400

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
58

LAMPIRAN 2

Hasil Penelitian

Jumlah Fibroblas Ketebalan Kolagen


No Kelompok Kelompok
Sampel Tanpa Amnion Amnion No Kelompok Kelompok
1 92 86 Sampel Tanpa Amnion Amnion
2 83 98 1 2372 3021
3 74 102 2 1774 7021
4 81 70 3 2952 3290
5 64 72 4 1810 2556
6 69 84 5 1517 3021
7 82 96 6 4810 2160
8 63 81 7 2823 2541
9 77 93 8 5089 3199
10 73 83 9 3300 6551
11 59 89 10 5230 6404
12 89 82 11 2023 4783
13 68 86 12 3052 4182
14 70 94 13 3111 6540
15 73 92 14 2778 6906
16 63 88 15 2793 4906
17 71 101 16 4597 4480
18 58 117 17 4005 5620
19 64 98 18 1313 7322
20 62 101 19 3822 3184
21 54 98 20 5161 3546
21 1740 7545

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
59

LAMPIRAN 3

Statistik Deskripsi dan Uji Statistik Penelitian

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
60

Tests of Normality → (distribusi tidak normal)

Kolmogorov-Smirnov(a) Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Usia Tanpa .220 21 .009 .889 21 .021
Amnion
Usia Dengan .232 21 .004 .872 21 .010
Amnion
a Lilliefors Significance Correction

Tests of Normality → (distribusi normal)

Kolmogorov-Smirnov(a) Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Berat Badan .148 21 .200(*) .949 21 .322
Tanpa Amnion
Berat Badan
Dengan Amnion .171 21 .113 .930 21 .136
* This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction

Tests of Normality → (distribusi normal)

Kolmogorov-Smirnov(a) Shapiro-Wilk
Statistic Df Sig. Statistic df Sig.
Fibroblast Tanpa .130 21 .200(*) .968 21 .685
Amnion
Fibroblast Dengan .107 21 .200(*) .970 21 .744
Amnion
* This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction

Tests of Normality → (distribusi tidak normal)

Kolmogorov-Smirnov(a) Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Kolagen Tanpa Amnion .129 21 .200(*) .927 21 .121

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
61

Kolagen Dengan .168 21 .127 .906 21 .046


Amnion
* This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction

Uji Statistik BB dan Jumlah Fibroblas → Distribusi Normal → Parametrik test:

Independent Sample t-test

Group Statistics

Std. Error
Katagori BB N Mean Std. Deviation Mean
BB Tanpa Amnion 21 2171.43 170.713 37.253
Dengan Amnion 21 2252.38 183.355 40.011
Independent Samples t-Test

Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
Std.
Mean Error 95% Confidence
F Sig. t df Sig. (2- Differen Differen Interval of the
tailed) ce ce Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower


BB Equal
variances .350 .557 -1.481 40 .146 -80.952 54.669 -191.442 29.537
assumed
Equal
variances not -1.481 39.798 .147 -80.952 54.669 -191.459 29.555
assumed

Group Statistics

Std. Error
Katagori Fibroblast N Mean Std. Deviation Mean

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
62

Fibroblast Tanpa Amnion 21 70.90 10.261 2.239


Dengan Amnion 21 91.00 10.821 2.361

Independent Samples Test

Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
Std.
Mean Error 95% Confidence
F Sig. t df Sig. (2- Differen Differen Interval of the
tailed) ce ce Difference

Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower Upper Lower


Fibroblas Equal
t variances .023 .880 -6.175 40 .000 -20.095 3.254 -26.672 -13.518
assumed
Equal -6.175 39.888 .000 -20.095 3.254 -26.673 -13.518
variances
not assumed

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
63

Uji Statistik Usia dan Ketebalan Kolagen → Distribusi Tidak Normal → Non

Parametrik test: Mann Whitney U test

Ranks

Katagori Usia N Mean Rank Sum of Ranks

Usia tanpa amnion 21 20.05 421.00


dengan amnion 21 22.95 482.00
Total 42

Test Statistics(a)

Usia

Mann-Whitney U 190.000
Wilcoxon W 421.000
Z -.813
Asymp. Sig. (2-tailed) .416

a Grouping Variable: Katagori Usia

Ranks

Katagori Kolagen N Mean Rank Sum of Ranks


Kolagen Tanpa Amnion 21 16.29 342.00
Dengan Amnion 21 26.71 561.00
Total 42

Test Statistics(a)

Kolagen
Mann-Whitney U 111.000
Wilcoxon W 342.000
Z -2.755
Asymp. Sig. (2- .006
tailed)
a Grouping Variable: Katagori Kolagen

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr


IR - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
64

LAMPIRAN 4

KARYA AKHIR PERBEDAAN EFEK MEMBRAN AMNION… HARISMA WIDHANAR, dr