Anda di halaman 1dari 4

Menakar Dampak Pajak UKM 0,5%

Oleh: Rindy Rosandya Sabtu, 07/07/2018

Direktorat Jenderal Pajak memperkirakan potensi penerimaan pajak dari


UMKM akan berkurang hingga Rp1,5 triliun pada 2018. Hal ini imbas
diberlakukannya PP nomor 23/2018 tentang Pajak Penghasilan (PPh) Final
UMKM. Kendati demikian, dampak penurunan itu hanya sementara. Dalam
jangka menengah panjang, kebijakan itu dapat berdampak positif pada
perekonomian.

NERACA

Presiden Jokowi resmi meluncurkan penurunan PPh final UMKM yang


semula 1 persen menjadi 0,5 persen. Penurunan pajak ini dilakukan setelah
melalui revisi Peraturan Pemerintah (PP) No.46 Tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib
pajak yang memiliki peredaran bruto Tertentu.

Presiden Jokowi menegaskan tujuan penurunan pajak UMKM adalah untuk


meringankan biaya agar pelaku usaha UMKM tumbuh. Pelaku usaha mikro
meloncat jadi usaha kecil, usaha kecil naik jadi usaha menengah dan usaha
menengah naik jadi usaha besar.

Namun, Direktorat Jenderal Pajak memperkirakan potensi penerimaan pajak


dari Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) akan berkurang hingga Rp
1,5 triliun pada 2018. Hal ini imbas diberlakukannya Peraturan Pemerintah
(PP) nomor 23 tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan (PPh) Final UMKM.
"Dampaknya ke ekonomi dalam jangka pendek penerimaan akan berkurang
Rp 1 triliun hingga Rp 1,5 triliun di 2018," kata Direktur Jenderal Pajak Robert
Pakpahan.

Penurunan tersebut disebabkan adanya pengurangan tarif PPh Final UMKM


dari 1 persen menjadi 0,5 persen. Kendati demikian, menurut Robert, dampak
penurunan itu hanya sementara. Ia meyakini, dalam jangka menengah
panjang, kebijakan itu dapat berdampak positif pada perekonomian.
Sementara Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyebutkan tiga dari 16
subsektor industri kreatif, yaitu kuliner, fesyen dan kriya paling menikmati
penurunan tarif pajak penghasilan final pelaku UMKM yang semula 1 persen
kini menjadi 0,5 persen. "Tiga jenis subsektor yang paling terdampak positif
penurunan pajak ini adalah kuliner, fesyen dan kriya," kata Kepala Bekraf
Triawan Munaf.

Triawan mendorong pelaku UMKM memanfaatkan momentum tersebut


sehingga insentif pajak itu dapat dialihkan untuk kepentingan pengembangan
usaha atau investasi.

Pelaku UMKM di Bali, lanjut dia, patut berbangga karena ketiga subsektor
tersebut semuanya digarap di Pulau Dewata sehingga peluang memanfaatkan
penurunan tarif tersebut cukup besar.

Dia menyebutkan ekonomi kreatif menyumbang sekitar Rp852,5 triliun atau


7,38 persen terhadap pendapatan domestik bruto tahun 2015.

Apabila dibedah dari tiga subsektor ekonomi kreatif tersebut, Triawan


menyebutkan kuliner menyumbang 46 persen tenaga kerja ekonomi kreatif
dan memanfaatkan 92 persen konten lokal. "Sedangkan total ekspor kuliner
Indonesia tahun 2015 mencapai 1,1 miliar dolar AS," imbuhnya.

Selain kuliner, sektor fesyen atau tata busana merupakan sektor kedua yang
pelaku usahanya dapat menikmati penurunan tarif pajak penghasilan sebesar
0,5 persen itu.

Sekitar 24 persen tenaga kerja di ekonomi kreatif, bekerja di sektor fesyen


tahun 2015 dengan pencatatan kinerja yang tumbuh per tahun mencapai tiga
persen. Sektor ketiga yakni kriya yang mencatatkan kontribusi tenaga kerja
sebanyak 22,8 persen dari total tenaga kerja di ekonomi kreatif.

Sedangkan sumbangan kriya terhadap PDB ekonomi kreatif secara nasional,


kata dia, mencapai Rp133,8 miliar tahun 2015. "UMKM harus memainkan
persaingan usaha lebih kreatif dan inovatif agar jangan terjebak kenyamanan,"
ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi


Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM), Braman Setyo
menyambut gembira kebijakan penurunan PPh final UMKM menjadi 0,5
persen oleh pemerintah. Braman mengatakan keputusan tersebut sebagai
buah dari perjuangan selama dua tahun terakhir. “Ini perjuangan, karena
memang sudah lama dua tahun lalu kita ketemu dengan Bapak Presiden
dijanjikan bahwa biar ada gerak ekonomi supaya UKM lebih kondusif lagi.
Tentu ini harus diturunkan menjadi 0,5 persen,” kata Braman.

Menurut Braman, keputusan menurunkan pajak UMKM itu juga diambil


setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempertimbangkan keluhan dari
berbagai pelaku usaha tanah air. Harapannya melalui kebijakan tersebut
dapat memicu kompetisi bisnis UMKM lebih bergairah, terutama di sektor
usaha produktif sekaligus mempercepat UMKM naik kelas.

“Harapan kami, para pelaku UKM dengan momentum penurunan pajak ini
akan lebih bergairah lagi bisnis yang dilakukan oleh pelaku UKM yang
bergerak di sektor produktif,” kata dia.

Di samping itu, dengan penurunan pajak UMKM menjadi 0,5 persen ini
diharapkan pula pertumbuhan UMKM di Indonesia akan lebih berkembang
dan bisa memberikan kekuatan untuk bisa berdaya saing dengan gempuran
produk dari luar. Selain itu, diharapkan pula dapat mendorong mitra LPDB-
KUMKM meningkatkan akses pembiayaan dana bergulir.

Cukup Efektif

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Novani Karina Saputri
mengatakan, peningkatan jumlah PDB disebabkan semakin banyaknya
UMKM yang membayar pajak. Penurunan tarif pajak menjadi 0,5 persen akan
menjadi insentif yang cukup efektif untuk pelaku UMKM karena penurunan
terbilang ini cukup besar.

Penurunan pajak dibayar ini juga akan meningkatkan keuntungan bersih


sekaligus meningkatkan kemampuan berusaha UMKM sehingga daya saing
UMKM akan menjadi lebih baik. Insentif yang demikian ini juga diharapkan
bisa mendorong terciptanya semakin banyak UMKM di Indonesia.

Dengan tarif pajak yang tidak memberatkan, diharapkan semakin banyak


orang mau menjalankan UMKM dan berwirausaha. Para pelaku UMKM juga
secara tidak langsung akan didorong untuk menjalankan pembukuan secara
transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Novani mengungkapkan, pemerintah sudah beberapa kali merevisi kebijakan
perpajakan guna menginsentif pelaku bisnis untuk melakukan pembayaran
pajak sesuai dengan kriteria wajib pajak.

Walaupun pada saat pemberlakuan PP No 46 tahun 2013 mengenai Pajak


Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu pertama kali tidak langsung ditanggapi
positif oleh UMKM. "Pelan-pelan dengan revisi yaitu penurunan tarif pajak
dari 1 persen menjadi 0,5 persen kebijakan ini disambut baik,” ungkap
Novani.

Novani menambahkan, saat itu, sistem pembebanan pajak atas omzet masih
menjadi hal yang berat bagi wajib pajak, terutama untuk UMKM yang baru
memulai bisnis. Banyak biaya produksi, biaya usaha lainnya dan kebutuhan
pribadi pelaku usaha yang harus keluarkan sehingga keuntungan yang
diperoleh tidak cukup mendorong pelaku UMKM untuk memenuhi kewajiban
pajak mereka.

Mengenai pajak yang akan diberlakukan untuk usaha yang memiliki basis
online, kebijakan yang diberlakukan seharusnya tidak memberatkan mereka.
Kementerian Keuangan sedang menyusun aturan untuk usaha online berupa
Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Menurut Novani, pajak yang akan berlaku untuk bisnis berbasis digital di
Indonesia harus dipertimbangkan matang-matang. Pajak yang akan
diberlakukan jangan sampai membuat jenis bisnis yang diprediksi akan
berkembang pesat dan menguasai pangsa pasar jual beli malah terbebani
dengan adanya peraturan pajak. "Diharapkan ada kebijakan fiskal yang juga
mendukung pertumbuhan bisnis berbasis digital ini,” jelasnya. (iwan, agus,
rin, dbs)