Anda di halaman 1dari 37

PENGARUH SAMPAH PADA LINGKUNGAN

MASYARAKAT

Oleh :

SRI NURBAETI
Kelas XA
N I S. 3107

SMA NEGERI 6 PALU


JALAN PADANJAKAYA
2012

1
HALAMAN PENGESAHAN
Karya Ilmiah yang berjudul “PENGARUH SAMPAH PADA LINGKUNGAN
MAYSARAKAT” ini telah disetujui dan disahkan pada :

Hari : Rabu
Tanggal : 28 MARET 2012

Kepala Sekolah Guru Bidang Studi

Drs.Tasrip Rantenai Drs.Ahmad S.P.D


NIP. 19610214 198903 1 005 NIP.

2
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat meyelesaikan karya
ilmiah ini yang berjudul “PENGARUH SAMPAH PADA LINGKUNGAN MASYARAKAT”
dan Alhamdulillah karya ilmiah ini dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.

Penulis menulis karya ilmiah ini dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh
sampah pada lingkungan masyarakat serta untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh
guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sebagai syarat untuk mendapatkan nilai dari
tugas ini.

Dalam pembuatan karya ilmiah ini terdapat berbagai hambatan namun berkat
bantuan berbagai pihak, karya ilmiah ini dapat penulis selesaikan. Oleh sebab itu,
penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala nikmat kesehatan kepada
penulis.
2. Orang tua penulis yang telah memberikan nasehat, perhatian serta semangat
yang tidak ada henti-hentinya kepada penulis agar selalu terus berusaha pantang
menyerah.
3. Pak Ahmad spd. sebagai guru mata pelajaran Bahasa Indonesia penulis yang
telah mengajari penulis cara membuat karya ilmah yang baik dan benar.
4. Semua pihak yang telah membantu penyelesaian karya ilmiah ini.
Penulis berharap untuk dapat membuat kalian semua bangga.

Penulis menyadari bahwa dalam tulisan ini belum sempurna penulisannya


maupun isi dari karya ilmiah ini. Oleh karena itu penulis memohon kritik dan sarannya
untuk penyempurnaannya dimasa akan datang.

Penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya
bagi para pembaca sendiri. Amin…..

Palu, Maret 2012

Penulis

3
DAFTAR ISI
halaman
Halaman Judul……...……………….……………..……………………......i
Halaman Pengesahan…..…………….……………..……………………......ii
Kata Pengantar…………………….……………...………..………………iii
Daftar Isi…………………………..…..………………..……..….....……...iv
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……..………………………….……..………...............1
1.2 Rumusan Masalah……….………………..….………………………...2
1.3 Tujuan……………………....…….………….…..…....…..………..….2
1.4 Tinjauan Pustaka…………….…..………………………….....……….2
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sampah……….……..……….….………………................4
2.1.1 Jenis-jenis Sampah……….…………...…….………........…......5
2.1.2 Sumber Sampah……….……………...….……......………........8
2.2 Dampak yang Ditimbulkan Sampah Bagi Kehidupan Masyarakat......10
2.2.1 Dampak terhadap Kesehatan………...…….………..………....10
2.2.2 Dampak terhadap Lingkungan……..………..……...........…....10
2.2.3 Dampak terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi………...…....14
2.3 Bahaya Sampah Plastik bagi Kesehatan dan Lingkungan Mayarakat..15
2.4 Pengelolaan Sampah……….………………..…..……………....…....15
2.4.1 Pembuatan Kompos……...........................................................16
2.4.2 Mendaur Ulang Sampah……….……………......….…...……..24
2.4.3 Pembuatan LRB (Lubang Resapan Biopri) …....….………….27
2.5 Cara Untuk Mengatasi Masalah Sampah……….…….......……..……29
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan…………..……….……………………………................31
3.2 Saran……...………………….……...…………………………….…..32

Daftar Pustaka……….………………………...………………..………..……33

4
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan pertambahan penduduk yang setiap tahunnya mengalami
peningkatan yang pesat, juga diiringi dengan jumlah sampah rumah tangga yang setiap
harinya mengalami peningkatan yang tidak diiringi oleh pengolahan sampah yang baik.
Apalagi hampir semua aktivitas yang dijalankan oleh masyarakat pada akhirnya akan
meninggalkan bekas atau sisa kegiatan yang berupa sampah. Sehingga akhir-akhir ini
sampah menjadi masalah besar bagi masyarakat.

Sering dijumpai dipiinggir jalan banyak sampah yang tidak terurus atau dibuang
sembarangan. Kurangnya kesadaran masyarakat dan kontrol sosial menjadi penyebab
utama dari semua masalah tersebut. Selain itu, masyarakat tidak memikirkan dampak
jangka panjang yang ditimbulkan oleh sampah-sampah tersebut. Masalah sampah ini
apabila dibiarkan dan tidak dikelolah dengan cara yang baik dan benar, maka akan
menggangu kesehatan dan lingkungan masyarakat. Sampah juga menjadi salah satu
faktor utama penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Pada akhirnya dapat
merusak kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.

Kondisi ini dirasakan baik didesa maupun dikota. Dipedesaan banyak sampah
yang bertumpuk dan berserakan, diperkotaan lebih-lebih lagi. Tidak semua sampah
yang ada dapat diangkut oleh Kendaraaan Dinas Kebersihan Kota untuk dibuang dan
dimusnahkan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sampah yang tidak terangkut,
menumpuk, dan berserakan dapat menimbulkan masalah baru berupa berbagai macam
penyakit yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Banyak pula masyarakat
yang berusaha memusnahkan sampah dengan cara membakarnya. Akibatnya terjadi
pencemaran udara oleh karbondioksida dan dioksi.

Masalah lingkungan berupa sampah, akhir-akhir ini memang menjadi perhatian.


Sampah juga menjadi masalah yang seakan-akan tidak ada selesainya untuk diatasi.
Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang
sampah. Tempat Pembuangan Akhir Sampah umumnya menjadi sumber masalah
pencemaran, antara lain timbulnya bau tidak sedap, pencemaran perairan, dan menjadi
sumber penyakit yang ditularkan oleh hewan seperti lalat, kecoa, dan tikus.

Oleh karena itu perlulah penelitian yang mendalam mengenai masalah ini agar
masyarakat dapat menetahui bagaimana cara mengatasi masalah sampah yang terjadi.

5
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian yang dikemukakan pada latar belakang tersebut maka permasalahan
yang dapat diamati atau diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.2.1 Apakah yang dimaksud dengan sampah?
1.2.2 Bagaimana dampak yang ditimbulkan sampah bagi kehidupan masyarakat?
1.2.3 Bagaimana bahaya sampah plastik bagi kesehatan dan lingkungan masyarakat?
1.2.4 Bagaimana melakukan Pengelolaan atau pemanfaatan sampah?
1.2.5 Bagaimana cara mengatasi masalah sampah?

1.3 Tujuan
Pengamatan atau penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang
pengaruh sampah pada lingkungan masyarakat agar masyarakat dapat mengatasi
ataupun mengelolah sampah dengan cara yang baik dan benar, sehingga sampah
tersebut tidak menumpuk yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, bau
busuk, serta dapat merusak lingkungan.

1.4 Tinjauan Pustaka


Sampah adalah barang atau sesuatu yang tidak dipakai lagi sehingga dibuang.
(Kamus Terbaru Bahasa Indonesia.2008:569)
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil
aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. (Istilah
Lingkungan untuk Manajemen,Ecolink.1996)
Sampah dapat dimaknai sebagai bahan padat sisa proses industri atau sebagai
hasil sampingan kegiatan rumah tangga. (Apriadji.1991:3)
Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau
sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan
sendirinya. (Chandra.2007)
Sampah sebagai suatu benda yang tidak digunakan atau tidak dikehendakidan
harus dibuang, yang dihasilkan oleh kegiatan manusia. (Manik.2004:67)
Sampah adalah bahan sisa atau produk sampingan dari kegiatan manusia yang
sudah tidak berguna dan kemudian dibuang (waste), sehingga bisa menyebabkan
gangguan estetika, kerusakan dan pencemaran lingkungan, atau mengandung unsur
berbahaya, serta dapat mengganggu kelestarian dan kesehatan kehidupan manusia
dan lingkungan. (Nugroho, dkk.2007)

6
Sampah adalah sumber daya yang tidak siap pakai. (Radyastuti, W. Prof.Ir,.1996)
Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau
pemakai semula. (Tandjung Dr. M.Sc., dalam Agung Suprihatin, dkk.1996:7)
Sampah bukanlah sesuatu yang harus dibuang melainkan dapat diolah menjadi
produk baru, sampah juga tidak perlu berkonotasi kotor dan bau bila dikelola dengan
baik. (Tusy Agustin Adibroto.2004:1)
Pencemaran Lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup,
zat energi, dan komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan
lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan
turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau
tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan fungsinya. (UU Pokok Pengelolaan
Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982)
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-
bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam
mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik.
(J.H. Crawford.2003)
Besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi untuk
mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian lingkungan dan
kesejahteraan masyarakat. (Rohendi.2005)
Peran bahan organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas
tukar kation sehingga memengaruhi serapan hara oleh tanaman. (Gaur.1980)

Untuk menurunkan rasio C/N diperlukan perlakuan khusus, misalnya


menambahkan mikroorganisme selulotik. (Toharisman.1991)
Lokasi pertanian seperti kebun, ladang ataupun sawah menghasilkan sampah
berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk,
maupun bahan pembasmi serangga tanaman. (Chandra.2007)
Jenis sampah yang dihasilkan dipemukiman penduduk biasanya berupa sisa
makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage),
sampah kering (rubbsih), perabotan rumah tangga, abu atau sisa tumbuhan kebun.
(Dainur.1995)

7
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Sampah


a. Kamus Terbaru Bahasa Indonesia
Sampah adalah barang atau sesuatu yang tidak dipakai lagi sehingga
dibuang. (Kamus Terbaru Bahasa Indonesia.2008:569)

b. Istilah Lingkungan untuk Manajemen,Ecolink


Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil
aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.
(Istilah Lingkungan untuk Manajemen,Ecolink.1996)

c. Apriadji
Sampah dapat dimaknai sebagai bahan padat sisa proses industri atau
sebagai hasil sampingan kegiatan rumah tangga. (Apriadji.1991:3)
d. Chandra
Sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak
disenangi, atau sesuatu yang dibuang berasal dari kegiatan manusia dan tidak
terjadi dengan sendirinya. (Chandra.2007)

e. Manik
Sampah sebagai suatu benda yang tidak digunakan atau tidak
dikehendakidan harus dibuang, yang dihasilkan oleh kegiatan manusia.
(Manik.2004:67)

f. Nugroho, dkk.
Sampah adalah bahan sisa atau produk sampingan dari kegiatan manusia
yang sudah tidak berguna dan kemudian dibuang (waste), sehingga bisa
menyebabkan gangguan estetika atau keindahan, kerusakan dan pencemaran
lingkungan, atau mengandung unsur berbahaya, serta dapat mengganggu
kelestarian dan kesehatan kehidupan manusia dan lingkungan. (Nugroho,
dkk.2007)

g. Radyastuti, W. Prof.Ir,
Sampah adalah sumber daya yang tidak siap pakai. (Radyastuti, W. Prof.Ir,
1996)

8
h. Tandjung Dr. M.Sc.
Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya
atau pemakai semula. (Tandjung Dr. M.Sc., dalam Agung Suprihatin,
dkk.1996:7)

i. Tusy Agustin Adibroto


Sampah bukanlah sesuatu yang harus dibuang melainkan dapat diolah
menjadi produk baru. Sampah juga tidak perlu berkonotasi kotor dan bau bila
dikelola dengan baik. (Tusy Agustin Adibroto.2004:1)

Sampah biasanya berupa padatan atau setengah padatan yang dikenal dengan
istilah sampah organik disebut sampah basah dan sampah anorganik atau sampah
kering.

Sampah merupakan definisi dari manusia menurut derajat terpakainya, dalam


proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah, yang ada hanya produk-
produk yang dihasilkan setelah dan selama proses alam tersebut berlangsung.Akan
tetapi karena dalam kehidupan manusia didefinisikan konsep lingkungan maka Sampah
dapat dibagi menurut jenisnya dan sumbernya.

2.1.1 Jenis-jenis Sampah


Sampah dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Berdasarkan sumbernya
Berdasarkan sumber dari jenis-jenis samah, sampah dibagi menjadi:
1. Sampah alam; 4. Sampah nuklir;
2. Sampah manusia; 5. Sampah industri;
3. Sampah konsumsi; 6. Sampah Pertambangan.

b. Berdasarkan sifatnya
Berdasarkan sifatnya sampah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Sampah organik
Sampah Organik, yaitu sampah yang mudah membusuk atau
yang dapat diurai (degradable) seperti sisa makanan, sayuran, daun-
daun kering, dan sebagainya. Sampah ini dapat diolah lebih lanjut
menjadi kompos.

9
2. Sampah anorganik
Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk,
atau yang tidak terurai (undegradable) seperti plastik, wadah
pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas
minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya. Sampah ini dapat dijadikan
sampah yang laku dijual dan juga dapat diolah atau didaur ulang
terlebih dahulu untuk dijadikan kerajinan tangan ataupun produk
laiannya. Beberapa sampah anorganik yang dapat dijual adalah
plastik wadah pembungkus makanan, botol dan gelas bekas
minuman, kaleng, kaca, dan kertas, baik kertas koran, HVS, maupun
karton.

c. Berdasarkan bentuknya
Sampah adalah bahan baik padat atau cairan yang tidak
dipergunakan lagi lalu dibuang. Menurut bentuknya sampah dapat
dibagi menjadi :

Sampah Padat

Sampah padat adalah segala bahan buangan selain kotoran


manusia, urin, dan sampah cair. Dapat berupa sampah rumah tangga
seperti sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan lain-
lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah
organik dan sampah anorganik. Sampah organik merupakan sampah
yang berasal dari barang yang mengandung bahan-bahan organik,
seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas, potongan-potongan kayu dari
peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting, rumput pada
waktu pembersihan kebun dan sebagainya.

Berdasarkan kemampuan diurai oleh alam (biodegradability), maka


dapat dibagi menjadi:
1. Biodegradable yaitu sampah yang dapat diuraikan secara sempurna
oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti: sampah dapur,
sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
2. Non-biodegradable yaitu sampah yang tidak bisa diuraikan oleh
proses biologi. Yang dapat dibagi lagi menjadi:
o Recyclable yaitu sampah yang dapat diolah dan digunakan
kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik,
kertas, pakaian, dan lain-lain.

10
o Non-recyclable yaitu sampah yang tidak memiliki nilai ekonomi
dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs,
karbon paper, thermo coal, dan lain-lain.

Sampah Cair

Sampah cair adalah bahan cairan yang telah digunakan dan tidak
diperlukan kembali lalu dibuang ke tempat pembuangan sampah.
o Limbah hitam yaitu sampah cair yang dihasilkan dari toilet. Sampah
ini mengandung patogen yang berbahaya.
o Limbah rumah tangga yaitu sampah cair yang dihasilkan dari dapur,
kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung
patogen.

Sampah dapat berada pada setiap fase materi yaitu padat, cair, atau
gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir,
terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi dapat
dikaitkan dengan polusi.

Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari


aktivitas industri dikenal juga dengan sebutan limbah, misalnya
pertambangan, manufaktur, dan konsumsi. Hampir semua produk
industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah
sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.

Untuk mencegah sampah cair dari pabrik yaitu pabrik tersebut tidak
membuang limbah sembarangan misalnya membuang keselokan,
kelaut, ataupun kesungai.

Sampah Alam

Sampah yang diproduksi di kehidupan liar diproses melalui proses


daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai
menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat
menjadi masalah, misalnya daun-daun kering di lingkungan
pemukiman.

11
Sampah Manusia

Sampah manusia atau human waste adalah istilah yang biasa


digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan
urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan
karena dapat digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan)
penyakit yang disebabkan virus dan bakteri. Salah satu perkembangan
utama pada dialektika manusia adalah pengurangan penularan
penyakit melalui sampah manusia dengan cara hidup yang higienis dan
sanitasi. Termasuk didalamnya adalah perkembangan teori penyaluran
pipa (plumbing). Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang
misalnya melalui sistem urinoir tanpa air.

Sampah Konsumsi

Sampah konsumsi merupakan sampah yang dihasilkan oleh


manusia pengguna barang, dengan kata lain adalah sampah-sampah
yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum
dipikirkan manusia. Meskipun demikian, jumlah sampah kategori ini pun
masih jauh lebih kecil dibandingkan sampah-sampah yang dihasilkan
dari proses pertambangan dan industri.

Limbah radioaktif

Sampah nuklir merupakan hasil dari fusi nuklir dan fisi nuklir yang
menghasilkan uranium dan thorium yang sangat berbahaya bagi
lingkungan hidupdan juga manusia. Oleh karena itu sampah nuklir
disimpan ditempat-tempat yang tidak berpotensi tinggi untuk melakukan
aktivitas tempat-tempat yang dituju biasanya bekas tambang garam
atau dasar laut (walau jarang namun kadang masih dilakukan).

2.1.2 Sumber Sampah


Menurut Agung Suprihatin, dkk sumber sampah berasal dari :
a. Sampah dari Pemukiman
Umumya sampah rumah tangga berupa sisa pengolahan makanan,
perlengkapan rumah tangga bekas, kertas, kardus, gelas, kain, sampah
kebun atau halaman, dan lain-lain.

12
b. Sampah dari Pertanian dan Perkebunan
Sampah dari kegiatan pertanian tergolong bahan organik, seperti
jerami dan sejenisnya. Sebagian besar sampah yang dihasilkan selama
musim panen dibakar atau dimanfaatkan untuk pupuk. Untuk sampah
ini bahan kimianya seperti pestisida dan pupuk buatan perlu perlakuan
khusus agar tidak mencemari lingkungan. Sampah pertanian lainnya
adalah lembaran plastik penutup tempat tumbuh-tumbuhan yang
berfungsi untuk mengurangi penguapan dan penghambat pertumbuhan
gulma, namun plastik ini bisa didaur ulang.

c. Sampah dari Sisa Bangunan dan Konstruksi Gedung


Sampah yang berasal dari kegiatan pembangunan dan pemugaran
gedung ini bisa berupa bahan organik maupun anorganik. Sampah
Organik, misalnya kayu, bambu, triplek. Sampah Anorganik, misalnya
semen, pasir, batu bata, ubin, besi atau baja, kaca, dan kaleng.

d. Sampah dari Perdagangan dan Perkantoran


Sampah yang berasal dari perdagangan seperti toko, pasar
tradisional, warung, pasar swalayan ini terdiri dari kardus, pembungkus,
kertas, dan bahan organik termasuk sampah makanan dan restoran.
Sampah yang berasal dari lembaga pendidikan, kantor pemerintah dan
swasta biasanya terdiri dari kertas, alat tulis menulis (bolpoint, pensil,
spidol, dll), toner foto copy, pita printer, kotak tinta printer, baterai bahan
kimia dari laboratorium, pita mesin ketik, klise film, komputer rusak, dan
lain-lain. Baterai bekas dan limbah bahan kimia harus dikumpulkan
secara terpisah dan harus memperoleh perlakuan khusus karena
berbahaya dan beracun.

e. Sampah dari Industri


Sampah ini berasal dari seluruh rangkaian proses produksi bahan-
bahan kimia serpihan atau potongan bahan, perlakuan dan
pengemasan produk (kertas, kayu, plastik, kain atau lap yang jenuh
dengan pelarut untuk pembersihan). Sampah industri berupa bahan
kimia yang seringkali beracun memerlukan perlakuan khusus sebelum
dibuang.

13
2.2 Dampak yang Ditimbulkan Sampah Bagi Kehidupan
Masyarakat

2.2.1 Dampak terhadap Kesehatan


Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai atau
pembuangan sampah yang tidak terkontrol merupakan tempat bagi
beberapa organisme dan berbagai binatang seperti lalat, kecoa, dan anjing
yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit yang mudah tersebar
dan menjangkit ke lingkungan masyarakat sekitar. Penyakit-penyakit yang
dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut:
1). Penyakit diare, kolera, dan tifus menyebar dengan cepat karena virus
yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat
bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever)
dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan
sampahnya kurang memadai.
2). Penyakit jamur dapat juga menular misalnya jamur kulit.
3). Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu
contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita
(taenia). Cacing ini sebelumnya masuk kedalam pencernaan binatang
ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan atau sampah.
4). Sampah beracun. Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000
orang meninggal akibat mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi
oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah yang dibuang ke laut
oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.

2.2.2 Dampak terhadap Lingkungan


Adanya pencemaran lingkungan merupakan akibat dari kegiatan
manusia ataupun disebabkan oleh alam misalnya gunung meletus atau gas
beracun. Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya
makluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan
atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh
proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi
lagi sesuai dengan fungsinya (UU Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup
No. 4 Tahun 1982).

14
Pencemaran lingkungan tersebut tidak dapat dihindari. Yang dapat
dilakukan adalah mengurangi pencemaran, mengendalikan pencemaran,
dan meningkatkan kesadaran serta kepedulian masyarakat terhadap
lingkungan agar tidak mencemari lingkungan. Zat atau bahan yang dapat
mengakibatkan pencemaran di sebut polutan. Syarat-syarat suatu zat
disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap
makluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara
berguna bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat
memberikan efek merusak.

Suatu zat dapat disebut polutan apabila :


1. Jumlahnya melebihi jumlah normal.
2. Berada pada waktu yang tidak tepat.
3. Berada di tempat yang tidak tepat.

Sifat polutan antara lain :


1. Merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat
lingkungantidak merusak lagi.
2. Merusak dalam waktu lama. Contohnya Pb tidak merusak bila
konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb
dapat terakumulasi dalam tubuh sampai tingkatyang merusak.

Berdasarkan lingkungan yang mengalami pencemaran, secara garis


besar pencemaran lingkungan dapat dikelompokkan menjadi pencemaran
tanah, air, dan udara.

Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan


manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Pencemaran tanah
yang ditimbulkan oleh sampah misalnya ditinjau dari segi kesehatan
sebagai tempat bersarang dan timbulnya berbagai macam penyakit,
sedangkan ditinjau dari segi keindahan, tentu saja menurunnya estetika
atau tak sedap di pandang mata.

Pencemaran ini biasanya terjadi karena kebocoran limbah cair atau


bahan kimia industri ataupun fasilitas komersial penggunaan pestisida,
masuknya air kepermukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-
permukaan, kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau
limbah, air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri
yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal
dumping).

15
Ketika suatu zat berbahaya atau beracun telah mencemari permukaan
tanah, maka zat tersebut dapat menguap, tersapu air hujan, atau masuk ke
dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap
sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat
berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat
mencemari air tanah dan udara di atasnya.

Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran tanah antara lain :


a. Terganggunya kehidupan organisme terutama mikroorganisme dalam
tanah.
b. Berubahnya sifat kimia atau sifat fisika tanah sehingga tidak baik untuk
pertumbuhan tanaman.
c. Mengubah dan mempengaruhi keseimbangan ekologi.

Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat, energi, unsur,atau


komponen lainnya kedalam air sehingga menyebabkan kualitas
airterganggu. Kualitas air yang terganggu ditandai dengan perubahan
bau,rasa, dan warna.

Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain :


o Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi.
o Sampah organik seperti air comberan menyebabkan peningkatan
kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya mengarah pada
berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh
ekosistem.
o Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya
seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air
limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh
pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.
o Seperti limbah pabrik yg mengalir ke sungai.
o Pencemaran air oleh sampah
o Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan

Selain itu, pencemaran air mempunyai beberapa akibat yaitu :


o Dapat menyebabkan banjir
o Erosi
o Kekurangan sumber air
o Dapat membuat sumber penyakit
o Tanah Longsor
o Dapat merusak Ekosistem sungai
o Kerugian untuk Nelayan

16
Cairan rembesan sampah yang masuk kedalam sungai akan
mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga
beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya
ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang dibuang ke dalam air
akan menghasilkan asam organik dan gas-gas organik, seperti metana.
Selain berbau kurang sedap, gas ini jika dalam konsentrasi yang tinggi
dapat meledak.

Bahan-bahan pencemar yang masuk kedalam air tanah dapat muncul


ke permukaan tanah melalui air sumur penduduk dan mata air, jika bahan
pencemar itu berupa B3 (bahan berbahaya dan beracun) misalnya air raksa
(merkuri), crhom, timbal, cadmium, maka akan berbahaya bagi manusia,
karena dapat menyebabkan gangguan pada syaraf, cacat pada bayi,
kerusakan sel-sel hati atau ginjal.

Sampah jalanan dan rumah tangga sering bertaburan dan jika hujan
turun akan terbawa ke got atau sungai, akibatnya got atau sungai yang
tersumbat dan akan terjadi banjir. Selanjutnya banjir dapat menyebabkan
penyakit, banyak got dimusim hujan menjadi mampet karena masyarakat
membuang sampah disembarang tempat.

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik,


kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan
kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan
kenyamanan, atau merusak properti.

Macam pencemaran udara yang ditimbulkannya oleh sampah misalnya


mengeluarkan bau yang tidak sedap dan debu gas-gas beracun.
Pembakaran sampah dapat meningkatkan karbon monoksida (CO), karbo
dioksida (CO2), nitrogen-monoksida (NO), gas belerang, amoniak dan asap
di udara. Asap di udara, asap yang ditimbulkan dari bahan plastik ada yang
bersifat karsinogen, artinya dapat menimbulkan kanker.

Penyebab utama pencemaran udara yang tejadi adalah akibat adanya


ataupun meningkatnya jumlah kendaraan seperti sepeda motor, mobil, bus,
dan sebagainya.

17
Dampak yang ditimbulkan akibat pencemaran udara ini antara lain :
o Penipisan Ozon
o Pemanasan Global (Global Warming)
o Penyakit pernapasan, misalnya jantung, paru-paru dan tenggorokan
o Terganggunya fungsi reproduksi
o Stres dan penurunan tingkat produktivitas
o Kesehatan dan penurunan kemampuan mental anak-anak
o Penurunan tingkat kecerdasan (IQ) anak-anak.

Kita dapat melakukan upaya penanggulangan pencemaran lingkungan


agar kita dapat mengurangi pencemaran yang terjadi dan tidak berdampak
lebih buruk lagi bagi kesehatan dan lingkungan sekitar kita. Baberapa cara
yang dapat kita lakukan, diantaranya :
1. Membuang sampah pada tempatnya.
2. Penanggulangan limbah industri.
3. Penanggulangan pencemaran udara.
4. Diadakan penghijauan atau penanaman kembali lahan yang gundul.
5. Penggunaan pupuk dan obat pembasmi hama tanaman yang sesuai atau
ramah lingkungan.

2.2.3 Dampak terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi


1) Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan
yang kurang menyenangkan bagi masyarakat, bau yang tidak sedap,
dan pemandangan yang buruk karena sampah bertebaran dimana-
mana.
2) Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
3) Pengeloaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya
tingkat kesehatan masyarakat. Hal pentingnya adalah meningkatnya
pembiayaan secara langsung (untuk mengobati orang sakit) dan
pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja dan rendahnya
produktivitas).
4) Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir
dan akan memberikan dampak buruk bagi fasilitas pelayanan umum
seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
5) Infrastuktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang
tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk
pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak
efisien, masyarakat akan cenderung membuang sampahnya di jalan.
Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan
diperbaiki.

18
2.3 Bahaya Sampah Plastik bagi Kesehatan dan Lingkungan
Mayarakat
Salah satu faktor yang menyebabkan rusaknya lingkungan hidup sampai saat ini
adalah faktor pembuangan sampah plastik. Kantong plastik telah menjadi sampah yang
berbahaya dan sulit dikelola.

Dibutuhkan waktu sekitar 1000 tahun agar plastik dapat terurai oleh tanah dengan
sempurna. Ini adalah sebuah waktu yang sangat lama. Saat terurai, partikel-partikel
plastik akan mencemari tanah dan air tanah. Jika dibakar, sampah plastik akan
menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan apabila proses
pembakaranya tidak sempurna, plastik akan mengurai di udara sebagai dioksin.
Senyawa ini sangat berbahaya bila terhirup manusia. Dampaknya antara lain memicu
penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati, gangguan sistem saraf dan memicu
depresi. Kantong plastik juga penyebab banjir, karena menyumbat saluran-saluran air
dan tanggul. Sehingga mengakibatkan banjir bahkan yang terparah merusak turbin
waduk.

Sejak proses produksi hingga tahap pembuangan, sampah plastik mengemisikan


gas rumah kaca ke atmosfer. Kegiatan produksi plastik membutuhkan sekitar 12 juta
barel minyak dan 14 juta pohon setiap tahunnya. Proses produksinya sangat tidak
hemat energi. Pada tahap pembuangan di lahan penimbunan sampah (TPA), sampah
plastik juga mengeluarkan gas rumah kaca.

2.4 Pengelolaan Sampah


Pengelolaan sampah adalah pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan, pendaur-
ulangan, atau pembuangan dari material sampah yang dihasilkan dari kegiatan
manusia, biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan,
lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan
sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau
radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing-masing jenis zat.

19
Praktek pengelolaan sampah berbeda-beda antara negara maju dan negara
berkembang, berbeda juga antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan,
berbeda juga antara daerah perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah
yang tidak berbahaya dari pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya
menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area
komersial dan industri biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah. Ada dua
tujuan untuk melakukan proses pengelolaan sampah, yaitu :
o Mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis. Pemanfaatan
sampah yang memiliki nilai ekonomis adalah pengomposan atau pembutan kompos,
mendaur-ulang, pembuatan LBR (Lubang Resapan Biopori), pembuatan PLTS
(Pembangkit Listrik Tenaga Sampah).
o Mengolah sampah agar menjadi material yang tidak membahayakan bagi lingkungan
hidup.
Agar kita dapat mengatasi masalah sampah yang berdampak negatif bagi
kesehatan dan lingkungan masyarakat, harus membuang sampah pada tempatnya dan
dalam pembuangan sampah kita dapat memisahkan antara tempat sampah organik
atau sampah yang mudah terurai dengan sampah anorganik atau sampah yang tidak
mudah terurai. Sehingga kita dapat memanfaatkan sampah dengan melakukan
pengomposan dari sampah organik atau mendaur-ulang dari sampah anorganik.
Sebelum melakukan hal tersebut kita harus bisa menumbuhkan kesadaran dalam diri
kita sendiri untuk mulai mengatasi masalah sampah ditempat tinggal kita. Barulah
merealisasikan kelingkungan sekitar tempat tinggal kita seperti lingkungan masyarakat
hingga ketempat yang lebih dan lebih luas lagi. Selain sampah dimanfaatkan untuk
pembuatan kompos dan mendaur ulang, sampah juga dapat dimanfaatkan untuk
membuat LRB (Lubang Resapan Biopri) dan untuk PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga
Sampah).

2.4.1 Pembuatan Kompos


Kompos adalah hasil penguraian parsial atau tidak lengkap dari
campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh
populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat,
lembap, dan aerobik atau anaerobic, (J.H. Crawford, 2003). Sedangkan
pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian
secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan
bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur
dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih
cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang,
pemberian air yang cukup, mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator
pengomposan.

20
Sampah terdiri dari dua bagian, yaitu bagian organik dan anorganik.
Rata-rata persentase bahan organik sampah mencapai ±80%, sehingga
pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai. Melihat
besarnya sampah organik yang dihasilkan oleh masyarakat, terlihat potensi
untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk organik demi kelestarian
lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. (Rohendi, 2005)

Jika pembuatan kompos dipadukan dengan pemeliharaan cacing tanah,


maka akan dapat diperoleh hasil yang lebih baik. Cacing tanah juga dapat
dijual untuk pakan ternak, sedangkan tanah kompos dapat dijual untuk
pupuk.

Jenis-jenis kompos

o Kompos cacing (vermicompost), yaitu pupuk kompos yang terbuat dari


bahan organik yang dicerna oleh cacing. Yang menjadi pupuk adalah
kotoran cacing tersebut.
o Kompos bagase, yaitu pupuk yang terbuat dari ampas tebu sisa
penggilingan tebu di pabrik gula.
o Kompos bokashi, yaitu pupuk kompos yang dihasilkan dari proses
fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective
Microorganisms 4) yang dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif
singkat dibandingkan dengan cara konvensional.

Manfaat Kompos

Kompos memperbaiki struktur tanah dengan meningkatkan kandungan


bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk
mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang
bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos.
Aktivitas mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari
tanah. Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman
menghadapi serangan penyakit.

Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik


kualitasnya daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misalnya
hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek :

21
Aspek Ekonomi, yaitu :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah.
2. Mengurangi volume atau ukuran limbah.
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya.
Aspek Lingkungan, yaitu :
1. Mengurangi pencemaran atau polusi udara karena pembakaran
limbah dan pelepasan gas metana dari sampah organik yang
membusuk akibat bakteri metanogen di tempat pembuangan
sampah.
2. Mengurangi kebutuhan lahan atau Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) untuk penimbunan.
Aspek bagi tanah atau tanaman, yaitu:
1. Meningkatkan kesuburan tanah.
2. Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah.
3. Meningkatkan kapasitas penyerapan air oleh tanah.
4. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah.
5. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah
panen).
6. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman.
7. Menekan pertumbuhan atau serangan penyakit tanaman.
8. Meningkatkan retensi atau ketersediaan hara di dalam tanah.

Peran bahan organik terhadap sifat fisik tanah diantaranya merangsang


granulasi, memperbaiki aerasi tanah, dan meningkatkan kemampuan
menahan air. Peran bahan organik terhadap sifat biologis tanah adalah
meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang berperan pada fiksasi
nitrogen dan transfer hara tertentu seperti N, P, dan S. Peran bahan
organik terhadap sifat kimia tanah adalah meningkatkan kapasitas tukar
kation sehingga memengaruhi serapan hara oleh tanaman (Gaur.1980).

.Penggunaan kompos bagase dengan pupuk anorganik secara


bersamaan tidak meningkatkan laju pertumbuhan, tinggi, dan diameter dari
batang, namun diperkirakan dapat meningkatkan rendemen gula dalam
tebu.

22
Proses Pengomposan

Proses pengomposan akan segera berlansung setelah bahan-bahan


mentah dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi
menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-
tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah
terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu
tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan
diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga
diatas 50o - 70o C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba
yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang
aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi atau penguraian
bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan
menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO 2, uap
air, dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu
akan berangsur-angsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi
pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu pembentukan komplek liat humus.
Selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun
biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 – 40% dari volume
atau bobot awal bahan.

Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan


oksigen) atau anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan
sebelumnya adalah proses aerobik, dimana mikroba menggunakan oksigen
dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses dekomposisi dapat juga
terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses anaerobik.
Namun, proses ini tidak diinginkan, karena selama proses pengomposan
akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses anaerobik akan
menghasilkan senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti asam-
asam organik (asam asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine),
amonia, dan H2S. Proses pengomposan tergantung pada :
1. Karakteristik bahan yang dikomposkan
2. Aktivator pengomposan yang dipergunakan
3. Metode pengomposan yang dilakukan

23
Faktor yang memengaruhi proses Pengomposan

Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi


lingkungan dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai,
maka dekomposer tersebut akan bekerja giat untuk mendekomposisi
sampah padat organik. Apabila kondisinya kurang sesuai atau tidak sesuai,
maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat lain, atau bahkan
mati. Adapun faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan
antara lain:
Rasio C/N. Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar
antara 30:1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber
energi dan menggunakan N untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara
30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk energi dan N untuk sintesis
protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan kekurangan N untuk
sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.

Umumnya, masalah utama pengomposan adalah pada rasio C/N yang


tinggi, terutama jika bahan utamanya adalah bahan yang mengandung
kadar kayu tinggi (sisa gergajian kayu, ranting, ampas tebu, dsb). Untuk
menurunkan rasio C/N diperlukan perlakuan khusus, misalnya
menambahkan mikroorganisme selulotik (Toharisman.1991), atau dengan
menambahkan kotoran hewan karena kotoran hewan mengandung banyak
senyawa nitrogen.

Ukuran Partikel. Aktivitas mikroba berada di antara permukaan area dan


udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara
mikroba dengan bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat.
Ukuran partikel juga menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas).
Untuk meningkatkan luas permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil
ukuran partikel bahan tersebut.

Aerasi. Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup
oksigen (aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi
peningkatan suhu yang menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang
lebih dingin masuk ke dalam tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh
porositas dan kandungan air bahan(kelembapan). Apabila aerasi
terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang akan menghasilkan bau
yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan pembalikan
atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.

24
Porositas. Porositas adalah ruang di antara partikel di dalam tumpukan
kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi
dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara.
Udara akan mensuplay Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila
rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses
pengomposan juga akan terganggu.

Kelembapan. Kelembapan memegang peranan yang sangat penting dalam


proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung berpengaruh pada
suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik apabila
bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembapan 40 - 60 % adalah
kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembapan di
bawah 40%, aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih
rendah lagi pada kelembapan 15%. Apabila kelembapan lebih besar dari
60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang, akibatnya aktivitas
mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang
menimbulkan bau tidak sedap.

Temperatur atau suhu. Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada


hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen.
Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan
akan semakin cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat
terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar
antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu
yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya
mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi
juga akan membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih
gulma.

pH. Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH


yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5.
pH kotoran ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses
pengomposan sendiri akan menyebabkan perubahan pada bahan organik
dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses pelepasan asam, secara
temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH (pengasaman),
sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung
nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH
kompos yang sudah matang biasanya mendekati netral.

25
Kandungan Hara. Kandungan P dan K juga penting dalam proses
pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari
peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses
pengomposan.

Kandungan Bahan Berbahaya. Beberapa bahan organik mungkin


mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan mikroba.
Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan
yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi
selama proses pengomposan.

Lama pengomposan. Lama waktu pengomposan tergantung pada


karakteristik bahan yang dikomposkan, metode pengomposan yang
dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator
pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu
beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar matang.

Strategi Mempercepat Proses Pengomposan

Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara


umum strategi untuk mempercepat proses pengomposan dapat
dikelompokan menjadi tiga, yaitu:
1. Menanipulasi kondisi atau faktor-faktor yang berpengaruh pada proses
pengomposan.
2. Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses
pengomposan seperti mikroba pendegradasi bahan organik dan
vermikompos (cacing).
3. Menggabungkan strategi pertama dan kedua.

Tahap Pengomposan

1. Pemilahan Sampah
o Pada tahap ini dilakukan pemisahan sampah organik dari sampah
anorganik (barang lapak dan barang berbahaya). Pemilahan harus
dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses
dan mutu kompos yang dihasilkan.
2. Pengecil Ukuran
o Pengecil ukuran dilakukan untuk memperluas permukaan sampah,
sehingga sampah dapat dengan mudah dan cepat didekomposisi
menjadi kompos.

26
3. Penyusunan Tumpukan
o Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecil
ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan.
o Desain penumpukan yang biasa digunakan adalah desain memanjang
dengan dimensi panjang x lebar x tinggi = 2m x 12m x 1,75m.
o Pada tiap tumpukan dapat diberi terowongan bambu (windrow) yang
berfungsi mengalirkan udara di dalam tumpukan.
4. Pembalikan
o Pembalikan dilakuan untuk membuang panas yang berlebihan,
memasukkan udara segar ke dalam tumpukan bahan, meratakan
proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian
air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
5. Penyiraman
o Pembalikan dilakukan terhadap bahan baku dan tumpukan yang
terlalu kering (kelembapan kurang dari 50%).
o Secara manual perlu tidaknya penyiraman dapat dilakukan dengan
memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan.
o Apabila pada saat digenggam kemudian diperas tidak keluar air, maka
tumpukan sampah harus ditambahkan air. sedangkan jika sebelum
diperas sudah keluar air, maka tumpukan terlalu basah oleh karena itu
perlu dilakukan pembalikan.
6. Pematangan
o Setelah pengomposan berjalan 30 – 40 hari, suhu tumpukan akan
semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan.
o Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau
kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari.
7. Penyaringan
o Penyaringan dilakukan untuk memperoleh ukuran partikel kompos
sesuai dengan kebutuhan serta untuk memisahkan bahan-bahan yang
tidak dapat dikomposkan yang lolos dari proses pemilahan di awal
proses.
o Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan
yang baru, sedangkan bahan yang tidak terkomposkan dibuang
sebagai residu.
8. Pengemasan dan Penyimpanan
o Kompos yang telah disaring dikemas dalam kantung sesuai dengan
kebutuhan pemasaran.
o Kompos yang telah dikemas disimpan dalam gudang yang aman dan
terlindung dari kemungkinan tumbuhnya jamur dan tercemari oleh bibit
jamur dan benih gulma dan benih lain yang tidak diinginkan yang
mungkin terbawa oleh angin.

27
Mutu kompos

1. Kompos yang bermutu adalah kompos yang telah terdekomposisi


dengan sempurna serta tidak menimbulkan efek-efek merugikan bagi
pertumbuhan tanaman.
2. Penggunaan kompos yang belum matang akan menyebabkan terjadinya
persaingan bahan nutrien antara tanaman dengan mikroorganisme tanah
yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman
3. Kompos yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
o Berwarna coklat tua hingga hitam mirip dengan warna tanah,
o Tidak larut dalam air, meski sebagian kompos dapat membentuk
suspensi,
o Nisbah C/N sebesar 10 – 20, tergantung dari bahan baku dan derajat
humifikasinya,
o Berefek baik jika diaplikasikan pada tanah,
o Suhunya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan, dan
o Tidak berbau.

2.4.2 Mendaur Ulang Sampah

Daur ulang adalah proses untuk menjadikan suatu bahan bekas


menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah yang dapat
menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan baku yang
baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan lahan,
dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan
barang baru. Daur ulang merupakan salah satu strategi pengelolaan
sampah padat yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan,
pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan produk atau material bekas
pakai, dan komponen utama dalam manajemen sampah modern dan
bagian ketiga adalam proses hierarki sampah 3R (Reuse, Reduce, and
Recycle).

Material yang bisa didaur ulang terdiri dari sampah kaca, plastik, kertas,
logam, tekstil, dan barang elektronik. Meskipun mirip, proses pembuatan
kompos yang umumnya menggunakan sampah biomassa yang bisa
didegradasi oleh alam, tidak dikategorikan sebagai proses daur ulang. Daur
ulang lebih difokuskan kepada sampah yang tidak bisa didegradasi oleh
alam secara alami demi pengurangan kerusakan lahan. Secara garis besar,
daur ulang adalah proses pengumpulan sampah, penyortiran, pembersihan,
dan pemrosesan material baru untuk proses produksi.

28
Pada pemahaman yang terbatas, proses daur ulang harus
menghasilkan barang yang mirip dengan barang aslinya dengan material
yang sama, contohnya kertas bekas harus menjadi kertas dengan kualitas
yang sama, atau busa polistirena bekas harus menjadi polistirena dengan
kualitas yang sama. Seringkali, hal ini sulit dilakukan karena lebih mahal
dibandingkan dengan proses pembuatan dengan bahan yang baru. Jadi,
daur ulang adalah proses penggunaan kembali material menjadi produk
yang berbeda. Bentuk lain dari daur ulang adalah ekstraksi material
berharga dari sampah, seperti emas dari prosessor komputer, timah hitam
dari baterai, atau ekstraksi material yang berbahaya bagi lingkungan,
seperti merkuri.

Daur ulang adalah sesuatu yang luar biasa yang bisa didapatkan dari
sampah. Proses daur ulang alumunium dapat menghemat 95% energi dan
mengurangi polusi udara sebanyak 95% jika dibandingkan dengan
ekstraksi alumunium dari tambang hingga prosesnya dipabrik.
Penghematan yang cukup besar pada energi juga didapat dengan mendaur
ulang kertas, logam, kaca, dan plastik. Dengan mendaur ulang kita dapat
membuat suatu kerajinan tangan dari sampah yang mana hal tersebut
dapat mengurangi tingkat pencemaran lingkungan dimasyarakat.

Material-material yang dapat didaur ulang dalam prosesnya diantaranya


yaitu :
o Bahan bangunan
Material bangunan bekas yang telah dikumpulkan dihancurkan
dengan mesin penghancur, kadang-kadang bersamaan dengan aspal,
batu bata, tanah, dan batu. Hasil yang lebih kasar bisa dipakai menjadi
pelapis jalan semacam aspal dan hasil yang lebih halus bisa dipakai
untuk membuat bahan bangunan baru semacam bata.

o Baterai
Banyaknya variasi dan ukuran baterai membuat proses daur ulang
bahan ini relatif sulit. Mereka harus disortir terlebih dahulu, dan tiap
jenis memiliki perhatian khusus dalam pemrosesannya. Misalnya,
baterai jenis lama masih mengandung merkuri dan kadmium, harus
ditangani secara lebih serius demi mencegah kerusakan lingkungan
dan kesehatan manusia. Baterai mobil umumnya jauh lebih mudah dan
lebih murah untuk didaur ulang.

29
o Barang Elektronik
Barang elektronik yang populer seperti komputer dan handphone
umumnya tidak didaur ulang karena belum jelas perhitungan manfaat
ekonominya. Material yang dapat didaur ulang dari barang elektronik
misalnya adalah logam yang terdapat pada barang elektronik tersebut
(emas, besi, baja, silikon, dll) ataupun bagian-bagian yang masih dapat
dipakai (microchip, processor, kabel, resistor, plastik, dll). Namun tujuan
utama dari proses daur ulang, yaitu kelestarian lingkungan, sudah jelas
dapat menjadi tujuan diterapkannya proses daur ulang pada bahan ini
meski manfaat ekonominya masih belum jelas.

o Logam
Besi dan baja adalah jenis logam yang paling banyak didaur ulang di
dunia. Termasuk salah satu yang termudah karena mereka dapat
dipisahkan dari sampah lainnya dengan magnet. Daur ulang meliputi
proses logam pada umumnya; peleburan dan pencetakan kembali.
Hasil yang didapat tidak mengurangi kualitas logam tersebut. Contoh
lainnya adalah alumunium, yang merupakan bahan daur ulang paling
efisien di dunia. Namun pada umumnya, semua jenis logam dapat
didaur ulang tanpa mengurangi kualitas logam tersebut, menjadikan
logam sebagai bahan yang dapat didaur ulang dengan tidak terbatas.

o Bahan Lainnya
Kaca dapat juga didaur ulang. Kaca yang didapat dari botol dan lain
sebagainya dibersihkan dair bahan kontaminan, lalu dilelehkan
bersama-sama dengan material kaca baru. Dapat juga dipakai sebagai
bahan bangunan dan jalan. Sudah ada Glassphalt, yaitu bahan pelapis
jalan dengan menggunakan 30% material kaca daur ulang.
Kertas juga dapat didaur ulang dengan mencampurkan kertas bekas
yang telah dijadikan pulp dengan material kertas baru. Namun kertas
akan selalu mengalami penurunan kualitas jika terus didaur ulang. Hal
ini menjadikan kertas harus didaur ulang dengan mencampurkannya
dengan material baru, atau mendaur ulangnya menjadi bahan yang
berkualitas lebih rendah.

30
Plastik dapat didaur ulang sama halnya seperti mendaur ulang
logam. Hanya saja, terdapat berbagai jenis plastik di dunia ini. Saat ini
di berbagai produk plastik terdapat kode mengenai jenis plastik yang
membentuk material tersebut sehingga mempermudah untuk mendaur
ulang. Suatu kode di kemasan yang berbentuk segitiga 3R dengan
kode angka di tengah-tengahnya adalah contohnya. Suatu angka
tertentu menunjukkan jenis plastik tertentu, dan kadang-kadang diikuti
dengan singkatan, sehingga dapat mempermudah proses daur ulang.
Misalnya, jenis kode plastik yang umum beredar diantaranya:
 PET (Polietilena tereftalat). Umumnya terdapat pada botol minuman
atau bahan konsumsi lainnya yang cair.
 HDPE (High Density Polyethylene, Polietilena berdensitas tinggi),
biasanya terdapat pada botol deterjen.
 PVC (polivinil klorida), yang biasa terdapat pada pipa, rnitur, dan
sebagainya.
 LDPE (Low Density Polyethylene, Polietilena berdensitas rendah),
biasa terdapat pada pembungkus makanan.
 PP (polipropilena), umumnya terdapat pada tutup botol minuman,
sedotan, dan beberapa jenis mainan.
 PS (polistirena), umum terdapat pada kotak makan, kotak
pembungkus daging, cangkir, dan peralatan dapur lainnya.

2.4.3 Pembuatan LRB (Lubang Resapan Biopori)

Lubang Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk


akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran
tanaman, rayap dan fauna tanah lainya. Lubang-lubang yang terbentuk
akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
Bila lubang-lubang seperti tersebut dapat dibuat dengan jumlah banyak,
maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan semakin
meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan
memperkecil peluang terjadinya bahaya banjir yang mungkin terjadi.

Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik, seperti


sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput, dan sejenisnya.
Bahan organik ini akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam
tanah sehinga aktifitasnya akan meningkat. Dengan meningkatnya
aktifitasnya maka akan semakin banyak biopori yang terbentuk.

31
Cara membuat LRB (Lubang Resapan Biopori), yaitu :
1. Siapkan alat dan bahan
o Bor
o Pipa berdiameter 10-30 cm
o Sampah organik seperti daun, rumput, dan lain-lain.
2. Carilah tempat yang sesuai untuk membuat Lubang Resapan Biopori,
seperti taman, halaman, atau pekarangan rumah.
3. Mulailah membuat lubang berdiameter 10cm sampai 30 cm dengan
kedalaman 100 cm menggunakan bor
4. Setelah terbentuk lubang, masukkan pipa ke dalam lubang.
Pemasangan pipa ini bertujuan untuk mencegah terjadinya longsor di
dalam lubang penampang resapan biopori
5. Masukkan sampah organik ke dalam lubang penampang Biopori.
Sampah organik mengundang datangnya mikroba yang berujung pada
terbentuknya Biopori. Sampah organik juga bisa dipanen sebagai pupuk
kompos setelah beberapa lama dipendam.
6. Tepi lubang dapat dipekuat dengan semen jika perlu.

Manfaat dari pembuatan Lubang Resapan Biopori, antara lain :


1. Untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resapan air dan
agar terjamin persediaan air tanah
2. Untuk mencegah terjadinya erosi dan tanah longsor
3. Dapat mengurangi tingkat pencemaran lingkungan
4. Mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas
rumah kaca (CO2 dan metana).
5. Memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan
mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit
demam berdarah dan malaria.

32
2.5 Cara Untuk Mengatasi Masalah Sampah

Mengatasi permasalahan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab


pemerintah. Peran pemerintah dalam mengatasi masalah sampah memang sangat
penting. Misalnya dengan membuka TPA yang bertujuan untuk menghancurkan
sampah yang ada. Namun sebenarnya itu bukanlah solusi utama. Jika mengatasi
masalah sampah hanya dari sisi tersebut mungkin permasalahan mengenai sampah
sangat sulit untuk diatasi. Ibarat pepatah seperti gali lubang tutup lubang. Produksi
sampah selalu bertambah sedangkan tenaga atau sarana yang ada jumlahnya
terbatas.

Maka dari itu akan sangat efektif jika mengatasi masalah sampah langsung dari
sumbernya yaitu mengubah sikap hidup dan kesadaran masyarakat menjadi lebih naik
lagi. Banyak hal kecil yang bisa dilakukan masyarakat tapi memiliki dampak yang besar
untuk mengatasi masalah sampah. Misalnya membuang sampah pada tempatnya,
mengurangi penggunaan barang-barang yang sampahnya tidak dapat diuraikan secara
alami, dan mendaur ulang sampah-sampah menjadi barang yang mempunyai nilai
ekonomis, atau dengan pembuatan kompos.

Selain dari masyarakat pada tingkat konsumen, kesadaran juga harus diterapkan
pada masyarakat ditingkat produsen. Jika kita dapat mengurangi sampah yang ada
dilingkungan masyarakat kita juga dapat mengurangi terjadinya efek pemanasan global
atau Global Warning. Ada beberapa cara pengurangan sampah yaitu dengan empat
prinsip yang lebih dikenal dengan nama 4R, meliputi:
1. Reduce (Mengurangi). Sebisa mungkin lakukan minimalisasi barang atau
material yang kita pergunakan. Semakin banyak kita menggunakan material,
semakin banyak sampah yang dihasilkan.
2. Reuse (Memakai kembali). Sebisa mungkin pilihlah barang-barang yang bisa
dipakai kembali. Hindari pemakaian barang-barang yang disposable (sekali
pakai, buang). Hal ini dapat memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum
menjadi sampah.
3. Recycle (Mendaur ulang). Sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak
berguna lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun
saat ini sudah banyak industri non-formal dan industri rumah tangga yang
memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
4. Replace (Mengganti). Teliti barang yang kita pakai sehari-hari, gantilah barang-
barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih tahan lama.

33
Juga telitilah agar kita hanya memakai barang-barang yang lebih ramah
lingkungan misalnya, ganti kantong keresek kita dengan keranjang bila
berbelanja, dan jangan pergunakan styrofoam karena kedua bahan ini tidak
bisa didegradasi secara alami.

Sedangkan menurut Syahputra pola yang dapat dipakai dalam penanggulangan


sampah meliputi Reduce, Reuse, dan Recycle, dan Composting atau 3RC yang
merupakan dasar dari penanganan sampah secara terpadu.

Reduce (mengurangi sampah) atau disebut juga precycling merupakan langkah


pertama untuk mencegah penimbunan sampah.

Reuse (menggunakan kembali) berarti menghemat dan mengurangi sampah


dengan cara menggunakan kembali barang-barang yang telah dipakai. Apa saja barang
yang masih bisa digunakan, seperti kertas-kertas berwarna-warni dari majalah bekas
dapat dimanfaatkan untuk bungkus kado yang menarik. Menggunakan kembali barang
bekas adalah wujud cinta lingkungan, bukan berarti menghina.

Recycle (mendaur ulang) juga sering disebut mendapatkan kembali sumberdaya


(resource recovery), khususnya untuk sumberdaya alami. Mendaur ulang diartikan
mengubah sampah menjadi produk baru, khususnya untuk barang-barang yang tidak
dapat digunakan dalam waktu yang cukup lama, misalnya kertas, alumunium, gelas dan
plastik. Langkah utama dari mendaur ulang ialah memisahkar sampah yang sejenis
dalam satu kelompok.

Composting merupakan proses pembusukan secara alami dari materi organik,


misalnya daun, limbah pertanian (sisa panen), sisa makanan dan lain-lain. Pembusukan
itu menghasilkan materi yang kaya unsur hara, antara lain nitrogen, fosfor dan kalium
yang disebut kompos atau humus yang baik untuk pupuk tanaman. Di Jakarta,
pembuatan kompos dilakukan dengan menggunakan sampah organik

Tentunya cara ini akan lebih baik digunakan dari pada dengan cara pembakaran.
Karena selain mengurangi efek pemanasan global dengan mengurangi volume gas
karbondioksida (CO2 ) yang dihasilkan, cara ini tidak mempunyai efek samping baik
bagi masyarakat ataupun lingkungan. Seperti kata pepatah mencegaha penyakit akan
lebih baik dari pada mengobatinya. Kata bijak ini dapat kita gunakan dalam strategi
penanganan sampah yakni mencegah tertumpuknya sampah lebih baik dari pada
memusnakan sampah. Karena bagaimanapun memusnahkan sampah pasti akan
menghasilkan jenis sampah baru yang mungkin saja lebih berbahaya dari sampah yang
dimusnakan. Jadi mulai sekarang kita dapat memperbaiki diri untuk mengurangi hal-hal
yang dapat membentuk tumpukan sampah.

34
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada Bab 2 maka dapat disimpulkan, Sampah merupakan
material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah
merupakan konsep buatan manusia, dalam proses-proses alam tidak ada sampah,
yang ada hanya produk-produk yang tak bergerak. Sampah dapat berada pada setiap
fase materi yaitu padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang
disebutkan terakhir, terutama gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa
dikaitkan dengan polusi.

Dalam kehidupan manusia, sampah dalam jumlah besar datang dari aktivitas
industri dikenal juga dengan sebutan limbah, misalnya pertambangan, dan konsumsi.
Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu, dengan jumlah
sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah konsumsi.

Namun, dalam mengatasi permasalahan sampah bukan hanya semata-mata


menjadi tanggung jawab pemerintah. Peran pemerintah dalam mengatasi masalah
sampah memang sangat penting. Misalnya dengan membuka TPA yang bertujuan
untuk menghancurkan sampah yang ada. Akan tetapi, sebenarnya itu bukanlah solusi
utama. Jika mengatasi masalah sampah hanya dari sisi tersebut mungkin
permasalahan mengenai sampah sangat sulit untuk diatasi. Ibarat pepatah seperti gali
lubang tutup lubang. Produksi sampah selalu bertambah sedangkan tenaga atau
sarana yang ada jumlahnya terbatas. Maka dari itu akan sangat efektif jika mengatasi
masalah sampah langsung dari sumbernya dengan mengubah sikap hidup dan
kesadaran masyarakat menjadi lebih baik lagi.

Selain dari masyarakat pada tingkat konsumen, kesadaran juga harus diterapkan
pada masyarakat ditingkat produsen. Jika kita dapat mengurangi sampah yang ada
dilingkungan masyarakat maka kita dapat mengurangi terjadinya efek pemanasan
global atau Global Warning. Dan masih banyak hal yang dapat kita lakukan untuk
mengatasi masalah sampah ini yaitu dengan cara melakukan pemanfaatan atau
pengelolaan sampah yang dapat menghasilkan nilai ekonomis dan keuntungan yang
lainnya bagi kita seperti pengelolaan sampah menjadi kompos, mendaur ulang sampah,
dan pembuatan LBR (Lubang Resapan Biopori) yang dapat mencegah atau
mengurangi terjadinya banjir.

35
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan dan seluruh isi karya ilmiah ini penulis ingin memberikan
beberapa saran yaitu kita dapat melakukan cara pengendalian sampah yang paling
sederhana dengan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri untuk tidak merusak
lingkungan dengan membuang sampah disembarang tempat. Banyak hal kecil yang
bisa kita lakukan tapi memiliki dampak yang besar untuk mengatasi masalah sampah.
Misalnya membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan barang-
barang yang sampahnya tidak dapat diuraikan secara alami, dan mendaur ulang
sampah-sampah menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis, melakukan
pembuatan kompos, atau bahkan kita dapan membuat LBR (Lubang Resapan Biopori).
Selain itu diperlukan juga kontrol sosial budaya masyarakat untuk lebih menghargai
lingkungan. Peraturan yang tegas dari pemerintah juga sangat diharapkan karena jika
tidak maka para perusak lingkungan akan terus merusak sumber daya yang ada
sehingga membuat lingkungan tempat tinggal kita mudah rusak dan tercemar.

Keberadaan Undang-Undang persampahan dirasa sangat diperlukan. Undang-


Undang ini dapat mengatur hak, kewajiban, wewenang, fungsi, dan sanksi bagi pihak-
pihak yang melanggar peraturan. Undang-Undang juga akan mengatur soal
kelembagaan yang terlibat dalam penanganan sampah.

Demikian pula pengembangan sumber daya manusia atau SDM. Mengubah


budaya masyarakat soal sampah bukan hal gampang. Tanpa ada transformasi
pengetahuan, pemahaman, kampanye yang kencang. Ini tak bisa dilakukan oleh
pejabat setingkat Kepala Dinas seperti terjadi sekarang. Itu harus melibatkan dinas
pendidikan dan kebudayaan, departemen agama, dan mungkin Depkominfo.

36
Daftar Pustaka
Apriadji, Wied Harry. 1991. Memproses Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Kamus Terbaru Bahasa Indonesia. Dilengkapi dengan Ejaan Yang Disempurnakan


(EYD). 2008. Surabaya: Reality Publisher.

Manik, Karden Eddy Sontang. 2004. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta:


Djambatan

Nugroho, Karyadi, dkk. 2007. Laporan Penelitian: Manajemen Pemilahan Sampah di


Stasiun Tugu Yogyakarta Tahun 2007, dalam
http://uripsantoso.wordpress.com/2008/12/22/pentingnya-pemilahan-sampah/,
diakses tanggal 27 Februari 2010, pukul 14.10.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10086877

http://aditya-pandhu.blogspot.com/2011/12/lubang-resapan-biopori.html

http://www.deptan.go.id/feati/teknologi/BOKASHI.pdf

http://www. Cara Asyik Merayakan Hari Bumi! « BLOGIE.htm

http://id.wikipedia.org/wiki/kompos

http://id.wikipedia.org/wiki/sampah

http://id.wikipedia.org/wiki/pembangkit-listrik-tenaga-sampah-plts

http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_air

http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_udara

http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_lingkungan

http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah

37

Anda mungkin juga menyukai